Anda di halaman 1dari 2

30 Persen Serangan Jantung Gejalanya Seperti

Maag

TEMPO/Dwi Narwoko

TEMPO Interaktif, Lelaki itu tak menyangka terserang penyakit jantung koroner
(PJK). Sjahrulsjah, nama lelaki itu, merasa hidupnya sehat sehat saja. Bapak usia
53 tahun itu rajin berolah raga, pola makan sehat, tidak diabetes dan kadar
kolesterolnya bagus. Awal Mei lalu, ulu hati Sjahrul nyeri. Dia menyangka terkena
maag. Namun dia merasa lemas nyaris pingsan. Istrinya segera melarikan ke RS
Pondok Indah, Jakarta. Dari diagnosa dokter, dia bukan terkena maag, tapi PJK.

PJK berkembang secara perlahan. waktunya bertahun-tahun tanpa disadari.


Kadang, penderita merasa bukan terserang PJK, tapi sakit maag, karena disertai
rasa nyeri di ulu hati.

Menurut dokter spesialis jantung dari RS.Pondok Indah, Dr. Taufik Pohan, SpJP,
FIHA, FESC, sekitar 30 persen serangan jantung memiliki keluhan mirip dengan
gejala sakit maag. "Gejala jantung juga dapat menimbulkan nyeri di ulu hati,"
kata Taufik dalam acara workshop media di rumah sakit itu Rabu pekan lalu. Hal
itu disebabkan karena pembuluh darah ke hati tersumbat. Biasanya, jika tak
diperiksa, dokter mengira pasien terkena sakit maag.

Gejala lain yang umum adalah nyeri di dada. "Nyerinya melebar dan menjalar
menembus ke lengan kiri," ujar Taufik. Selain itu ada juga yang tertidur sebentar,
bangun dan tertidur lagi. "Ini karena aliran darah ke jantung terganggu dan
pompa darah ke otak berkurang." Untuk itu, jika merasa gejala di atas, perlu
pemeriksaan awal PKJ.

Untuk deteksi dini, biasanya dilakukan latihan uji jantung berbeban berupa tes
treadmill. Tes ini pun hanya direkomendasikan untuk mereka yang diyakini aman
melakukannya. Tes lain adalah prosedur elektrokardiogram, evaluasi struktur dan
fungsi jantung dengan echocardiografi doppler dan tes lainnya. Jika ditemukan
gejala PJK, maka dokter segera mencari letak penyempitan pembuluh darah.
Kini, pencarian pembuluh yang menyempit biasa dilakukan dengan prosedur sinar
X (angiografi koroner). Prosedur ini dianggap sebagai standar emas karena
memiliki tingkat akurasi tinggi. Selain itu, dengan angiografi tak perlu bedah
jantung (by pass), penanganan berlangsung cepat dengan bius lokal. "Pasien
juga dalam kondisi sadar," kata dia. Persiapan penanganannya juga ringkas.
Pasien akan dites darah, diperiksa fungsi ginjalnya dan diberi obat pengencer
darah, lalu ditangani.

Pada pembuluh darah yang menyempit kemudian dipasang cincin (stent) -- untuk
membuka pembuluh yang menyempit itu. "Ini aman dan masa berlakunya
seumur hidup," Taufik menjelaskan. Teknologi stent kini sudah ada yang berlapis
obat (drug eluting stent). Jadi stent yang ditanam itu tertutup obat. "Obatnya
untuk menanggulangi penolakan tubuh atas stent," Taufik melanjutkan.

Menurut dia, dengan stent berlapis obat ini, kemungkinan penyempitan kembali
sangat kecil. "Sekitar 1-4 persen." Jika sudah dipasang, penanganan kelar.
Prosesnya sekitar 30 menit. Selain itu, pasien juga tak perlu berpekan-pekan
menginap di rumah sakit. "Cukup 2-3 hari," ujar Taufik.

Namun karena peralatan dan bahannya masih impor, tarif penanganan dengan
angiografi dan stent masih cukup tinggi. Untuk penanganan perlu sekitar Rp 7
juta. Sedangkan untuk tiap stent, harganya mencapai belasan juta rupiah. "Tapi
ini masih lebih murah dibanding bedah jantung," tutur Dr. Yanwar Hadiyanto,
chief of business, marketing and customer management rumah sakit tersebut.
Untuk bedah jantung, kata dia, minimal butuh Rp 120 juta. NUR ROCHMI