Anda di halaman 1dari 2

Boraks Ada dalam Makanan Kita

http://id.wikipedia.org/wiki/Bleng
http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/03/ragam05.htm

BORAKS merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan,
khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Ia tidak berwarna dan gampang
larut dalam air.

Asal tahu saja, gelas pyrex yang terkenal kuat bisa memiliki performa seperti itu karena dibuat
dengan campuran boraks. Kemungkinan besar daya pengawet boraks disebabkan oleh senyawa
aktif asam borat.

Asam borat (H3BO3) merupakan asam organik lemah yang sering digunakan sebagai antiseptik,
dan dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat (H2SO4) atau asam khlorida (HCl) pada
boraks.

Asam borat juga sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan
asam borat dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater.

Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun,
ingat, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika
terserap masuk dalam tubuh.

Kerupuk Gendar

Ironisnya, boraks sejak lama digunakan masyarakat Indonesia untuk bahan baku pembuatan
gendar nasi, atau kerupuk gendar. Masyarakat Jawa biasa menyebutnya karak atau lempeng. Air
bleng (pijer) yang dipakai dalam pembuatan karak atau gendar ini sejatinya adalah boraks. Jadi,
boraks ada dalam makanan, bahkan termasuk salah satu makanan kesukaan kita.
Bukan hanya gendar, boraks juga banyak dipakai untuk industri makanan lain, seperti pembuatan
mi, lontong, ketupat, bakso, bahkan kecap. Konon, pembuatan bakmi pabrik dan macaroni juga
memakai asam borat murni buatan industri farmasi.

Dalam bentuk tidak murni, sebenarnya boraks sudah diproduksi sejak tahun 1700, dalam bentuk
air bleng. YLKI melalui Warta Konsumen (1991) melaporkan, sekitar 86,49 persen sampel mi
basah yang diambil di Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya mengandung asam borat (boraks).
Lalu 76,9 persen mi basah mengandung boraks dan formalin secara bersama-sama!

YLKI juga melaporkan adanya boraks pada berbagai jajanan di Jakarta Selatan. Padahal
Pemerintah telah melarang penggunaan boraks per Juli 1979, dan dimantapkan melalui SK
Menteri Kesehatan RI No 733/Menkes/Per/IX/1988.

Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tak sertamerta berakibat buruk
terhadap kesehatan. Tetapi boraks yang sedikit ini akan diserap dalam tubuh konsumen secara
kumulatif.

Selain melalui saluran pencernaan, boraks juga bisa diserap melalui kulit. Boraks yang terserap
dalam tubuh ini akan disimpan secara akumulatif di dalam hati, otak, dan testes (buah zakar).

Daya toksitasnya adalah LD-50 akut 4,5-4,98 gr/kg berat badan (tikus). Dalam dosisi tinggi,
boraks di dalam tubuh manusia bisa menyebabkan pusing-pusing, muntah, mencret, kram perut,
dan lain-lain.

Pada anak kecil dan bayi, boraks sebanyak 5 gram di dalam tubuhnya dapat menyebabkan
kematian. Sedangkan kematian pada orang dewasa terjadi jika dosisnya mencapai 10-20 gram
atau lebih.

Bakso Boraks

Seperti dijelaskan di atas, sebagian bakso yang beredar di pasaran juga mengandung boraks.
Tetapi kita bisa membedakan antara bakso yang mengandung boraks atau tidak.

Bakso yang mengandung boraks lebih kenyal daripada bakso tanpa boraks. Bila digigit akan
kembali ke bentuk semula. Ia juga tahan lama dan awet hingga beberapa hari.

Warnanya juga lebih putih. Berbeda dengan bakso tanpa boraks yang berwarna abu-abu dan
merata di semua bagian.

Kalau masih ragu, coba lembar bakso ke lantai. Apabila memantul seperti bola bekel, berarti
bakso itu mengandung boraks.

Padahal pembuatan bakso tidak harus menggunakan berbagai bahan kimia. Bakso dapat
dihasilkan dengan baik tanpa menggunakan boraks.

Kita bisa menggunakan bahan pengawet yang lebih aman, seperti kalium karbonat, natrium
karbonat, karaginan, atau kalsium propionat.

(Susiana, dosen Biologi Fakultas MIPA Undip-32)