Anda di halaman 1dari 2

Assmualaikum wrhmt

Pertama tama saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kali ini untuk
menjelaskan makalah hukum kewarganegaraan yang ditugaskan kepada saya , adapun judul atau
topic makalah yang saya buat kali ini adalah mengenai, IMPLIKASI PERKEMBANGAN KEBIJAKAN HUKUM
KEWARGANEGARAAN TERHADAP KEDUDUKAN WARGA KETURUNAN TIONGHOA , seperti kita ketahui
Pada saat ini, masalah kewarganegaraan di tanah air sudah memasuki babak baru dengan
disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan. Dimana Aturan hukum
yang pernah mengatur tentang hubungan antara negara dan warga negara di Indonesia ini telah
mengalami beberapa kali pergantian dan perkembangan, salah satunya adalah Undang-Undang Nomor
62 Tahun 1958. Namun undang-undang ini menunjukkan beberapa kelemahan yaitu tidak memenuhi
unsur filosofis, yuridis, maupun sosiologis. Secara filosofis, Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958
belum sejalan dengan falsafah Pancasila karena bersifat diskriminatif dan kurang menjamin
pemenuhan hak asasi dan persamaan antara warga negara. Secara yudiris, landasan konstitusional
pembentukan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 adalah UUDS Tahun 1950 yang sudah tidak
berlaku sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menyatakan kembali lagi ke UUD 1945. Pada saat ini,
UUD 1945 juga telah mengalami beberapa kali amandemen untuk lebih menjamin perlindungan
terhadap hak asasi manusia dan hak warganegara. Secara sosiologis, Undang-Undang Nomor 62 Tahun
1958 sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat Indonesia sebagai bagian
dari masyarakat internasional, yang menghendaki adanya persamaan perlakuan dan kedudukan warga
negara di hadapan hukum.

Salah satu sifat diskriminatif Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 adalah perlakuan terhadap warga
keturunan Tionghoa, yang mensyaratkan menyertakan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik
Indonesia) untuk mengurus paspor atau dokumen sipil lainnya. SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan
Republik Indonesia) ini telah melanggar hak seseorang untuk mendapatkan pengakuan yang sama
sebagai warga negara Indonesia, padahal banyak hal-hal positif yang dimiliki warga keturunan
Tionghoa sebagai warga negara Indonesia. Pemain bulutangkis dari generasi Tan Joe Hoek sampai ke
generasi Chandra Wijaya, Susi Susanti, Haryanto Arbi, Verawati Fajrin, Hendrawan, dan atlet lainnya
adalah warga keturunan Tionghoa yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah
internasional, namun mereka tetap wajib menyertakan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik
Indonesia) atau Surat Pernyataan Keterangan Melepaskan Kewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok
(SMKK-RRT) dalam berbagai urusan yang terkait dengan kewarganegaraan, sedangkan warga negara
yang bukan keturunan cukup menyertakan KTP atau akte lahir . Pasangan pemain bulu tangkis
nasional peraih emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusumah dan Susi Susanti pernah
mengeluhkan proses administrasi pengurusan paspor yang berbelit-belit, padahal mereka harus
mewakili Indonesia menjadi pembawa obor Olimpiade Athena Yunani. Masalah Alan Budikusumah dan
Susi Susanti ini baru dapat diselesaikan setelah diadukan ke Presiden

Bedasarkan latar belakang tersebut makalah ini saya buat , dan diharapkan kita dapat lebih
memahami tentang sejauh mana , IMPLIKASI PERKEMBANGAN KEBIJAKAN HUKUM
KEWARGANEGARAAN TERHADAP KEDUDUKAN WARGA KETURUNAN TIONGHOA yang bermuara pada
Lahirnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang
kembali mempertegas komitmen menyangkut penghapusan diskriminasi antara warga pribumi dan
nonpribumi ditengah-tengah masyarakat maupun pemerintahan.

Secara ringkas, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia
ini mengelompokkan warga negara dalam dua kelompok yaitu (1) Warga Negara Indonesia asli yaitu
orang Indonesia yang menjadi Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima
kewarganegaran lain atas kehendak sendiri, dan (2) orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan
undang-undang sebagai Warga Negara Indonesia melalui proses pewarganegaraan

Undang-undang ini membawa angin segar bagi warga keturunan Tionghoa. Lebih tegas dalam
Penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 disebutkan dimaksud dengan “bangsa
Indonesia asli” adalah orang Indonesia yang menjadi Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan
1
tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri, sehingga dalam undang-undang
ini, warga keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia termasuk orang Indonesia asli yang mempunyai
hak dan kewajiban sama seperti warga negara lainnya. Selain itu, di dalam Penjelasan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2006 juga dinyatakan bahwa “Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal
kewarganegaraan ganda (bipatride)”. Pernyataan tersebut secara jelas dan tegas menghapuskan
kewarganegaraan ganda yang sebelumnya dimiliki warga keturunan Tionghoa yang menyebabkan
timbulnya perlakuan diskriminasi terhadap mereka.

Di dalam Undang-Undang ini Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI) tidak disinggung lagi dan dengan
sendirinya bukti kewarganegaraannya cukup dengan akta lahir dan KTP. Sehingga kedepannya Perlu
ada pemutihan besar besaran kewarganegaraan bagi etnis Tionghoa oleh pemerintah yang secara
turun-temurun tidak punya KTP dan akta kelahiran dengan alas an karena mereka tidak memiliki uang
untuk mengurusnya.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 telah memberikan harapan baru dalam penyelenggaraan
kebijakan hukum kewarganegaraan di Indonesia. Undang-Undang ini memberikan dampak positif bagi
seluruh aspek hukum, social, budaya, ekonomi, dan politik warga keturunan. Dengan berlakunya
Undang-Undang Kewarganegaraan ini, semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan pelayanan
publik tanpa diskriminasi. Hal yang perlu diperhatikan saat ini adalah semua lapisan masyarakat perlu
ikut serta mengawasi implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, sehingga Undang-Undang
Kewarganegaraan yang baru ini dapat berjalan efektif demi terwujudnya suatu kepastian dan keadilan
hukum.

Demikian lah penjelasan yang dapat bisa saya utarakan tentang makalah yang saya buat , semoga
dapat bermanfaat , atas waktu dan tempat nya saya ucapkan terima kasih

Wasalam mualaikum warrohmatullah hiwa barokatu

note

Implikassi : menyimpulkan atau menganalisa