Anda di halaman 1dari 6

MATRIKS AKTIVITAS PELAKSANAAN PPK DAN POTENSI MASALAH YANG DAPAT TERJADI

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

PENGELOLAAN DANA PPK

 
     

1. Rekening tujuan kurang jelas dan tidak spesifik.

1

Tahap Pencairan dari KPPN

Rekening Kolektif BPPK

2. Rekayasa saldo rekening dengan cara memindahkan saldo ke rekening lain sehingga pencairan dari KPPN yang selanjutnya dapat dilakukan karena telah memenuhi syarat pencairan di mana 90% dari dana sebelumnya telah digunakan.

Biaya Operasional UPK (dicatat pada buku kas harian operasional)

Adanya biaya pencairan ke KPPN yang terlalu besar. Hal ini biasanya digunakan untuk membiayai akomodasi orang-orang yang terlibat dalam pencairan seperti pengurus UPK, PjOK dan FK. Ada pula kemungkinan digunakan untuk pengeluaran yang bersifat ceremonial bahkan uang pelicin kepada oknum KPPN.

     

1. Tidak ada rekening khusus yang merupakan rekening kolektif.

2. Specimen tidak sesuai dengan aturan PPK.

Rekening Kolektif BPPK dan Buku Bank BPPK (Specimen Tanda Tangan, Bunga Rekening), Buku Kas Harian Kolektif, Selisih Dana

3. Rekening kolektif hanya untuk penampungan sementara, setelah itu saldo rekening dipindahkan ke rekening pribadi.

2

Pengelolaan Dana Kolektif BPPK

4. Penggunaan bunga rekening tanpa melalui persetujuan forum kecamatan.

 

5. Ada selisih antara dana kolektif yang telah diterima UPK dari KPKN serta yang telah disalurkan ke desa dengan posisi saldo baik yang ada di rekening maupun yang berupa uang tunai.

Alokasi Dana Kegiatan (Alokasi per desa ditetapkan dengan SPC, pencatatan pencairan ke desa dilakukan pada buku kas harian kolektif BPPK dan Laporan Penyaluran Dana), KW-2 (bukti penyaluran dana dari UPK ke desa).

1. Pola penyaluran ke desa tidak sesuai dengan kebutuhan desa tapi berdasarkan persentase.

2. Pengeluaran dari UPK tidak sama dengan yang diterima oleh desa. Adanya pemotongan dana oleh pihak kecamatan.

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

     

1. Tidak ada Rencana Penggunaan Dana (RPD) dan Laporan Penggunaan Dana (LPD) sebagai syarat penyaluran dana ke desa.

Alokasi Dana untuk Kegiatan Sarana Prasarana (RAB, LPD, RPD, Bukti transaksi, Bukti

2. LPD disesuaikan dengan RAB, bukan berdasarkan realisasi pengeluaran yang benar-benar telah dilakukan oleh desa. Saat pelaporan LPD tidak menyatakan rekapan pembelian (pengeluaran) sebagai contoh telah dibeli semen sejumlah 100 sak dengan harga Rp.25,000/sak pada uraian di kolom LPD, dan hanya menuliskan jenis kegiatan

Penerimaan Barang, Laporan Pertanggungjawaban)

yang dikerjakan seperti contoh MCK dengan nilai Rp.20 juta.

3. Tidak ada bukti transaksi yang kuat seperti nota pembelian yang disahkan oleh supplier bahan,bukti penerimaan barang yang ditandatangai oleh TPK, hanya berupa kuitansi tanda terima uang. Begitu pula untuk pembayaran upah pekerja seringkali tidak ditandatangani oleh pekerja dan tidak sesuai dengan realisasi yang diterima.

4. Tidak ada laporan pertanggungjawaban pengelolaan dana di desa kepada masyarakat.

 

1. Adanya pemanfaat fiktif.

Alokasi Dana untuk UEP (Kartu/Buku Kredit Kelompok, Bukti Transaksi serah terima uang dari UPK langsung ke pemanfaat)

2. Realisasi pinjaman bukan uang tunai tapi berupa benda. Pembelian barang (biasanya hewan ternak) dilakukan oleh pihak kecamatan dengan harga disesuaikan dengan usulan pemanfaat.

3. Pembatalan pemberian pinjaman, biasanya dilakukan oleh pemanfaat tapi dana tidak dikembalikan ke UPK.

 

4. Dana tidak sampai ke pemanfaat langsung dan bukti tanda terima uang hanya dari ketua kelompok.

3

Pengelolaan Dana Operasional UPK 2%

Rekening Operasional UPK, Rencana Anggaran Biaya Operasional UPK, Buku Kas Harian Operasional UPK, Bukti Transaksi berupa nota

1. Tidak ada rekening dana operasional dan specimen tidak sesuai aturan PPK.

2. Tidak ada/tidak dibuat rencana anggaran

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

   

pembelian atau kuitansi, Selisih Dana

biaya operasional UPk untuk setiap periode.

3. Adanya penggunaan diluar tujuan untuk operasional UPK bahkan untuk yang tidak diperbolehkan, misalnya pinjaman pribadi, pinjaman kepada pihak lain untuk tujuan pengembangan dana.

4. Tidak ada bukti transaksi yang menguatkan suatu transaksi. Kalau ada penyimpanannya tidak tertib atau hanya berupa tanda terima uang.

5. Adanya pemborosan untuk kegiatan-kegiatan yang kurang menunjang kegiatan PPK.

6. Penggunaan bunga rekening tidak transparan.

7. Ada selisih antara dana operasional yang telah diterima UPK serta telah digunakan oleh UPK dengan posisi saldo baik yang ada di rekening maupun yang berupa uang tunai.

4

Pengelolaan Dana Operasional Desa 3% oleh TPK di Desa

Buku Kas Harian TPK, Bukti transaksi

Kurang transparan dalam penggunaan dana tersebut dan tidak jelas peruntukkannya. Tidak ada catatan yang jelas mengenai penggunaannya.

     

1. Tidak ada rekening khusus untuk menampung dana pengembalian pinjaman dari desa atau kalau ada specimen tidak sesuai aturan.

2. Dana pengembalian dari desa tidak tercatat seluruhnya, terdapat perbedaan yang disetor

Pengelolaan Dana Bergulir

Rekening UEP/SPP/Perguliran, Buku Kas Harian UEP/SPP, Buku/Kartu Kredit Kelompok Peminjam

5

(Pengembalian dari UEP dan SPP)

ke UPK menurut catatan di desa dengan yang dicatat UPK.

3. Adanya pencatatan penerimaan pengembalian pinjaman fiktif (tanpa penerimaan uang secara fisik).

 

4. Adanya penggunaan penggunaan untuk hal lain diluar perguliran seperti untuk biaya operasional UPK tanpa melalui persetujuan forum kecamatan. Bahkan adanya penggunaan untuk hal-hal yang tidak boleh

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

     

seperti dana pembinaan kecamatan, investasi oleh UPK, pinjaman pribadi oleh pelaku PPK, dll.

5. Penggunaan bunga rekening UEP/SPP tidak transparan.

6. Ada selisih antara dana pengembalian UEP/SPP yang telah diterima UPK serta telah digunakan baik untuk perguliran maupun biaya operasional dengan posisi saldo baik yang ada di rekening maupun yang berupa uang tunai.

     

1. Pengelola DOK dan specimen rekening tidak sesuai aturan.

6

Rencana Penggunaan DOK dan Realisasi Penggunaan DOK, Rekening DOK dan Specimen, Buku Bank DOK dan Buku Kas Harian DOK

2. DOK yang dikeluarkan oleh pengelola DOK (UPK atau Wakil Masyarakat yang ditunjuk dalam MAD) sesuai dengan buku kas harian DOK tidak sama dengan yang diterima desa.

Pengelolaan Dana Operasional Kegiatan (DOK)

3. Selisih dana karena jumlah yang dianggarkan dalam rencana anggaran lebih besar dari jumlah realisasi yang digunakan, dalam penggunaannya seringkali tidak transparan dan tidak jelas peruntukkannya.

PENGELOLAAN KEGIATAN PPK

 
     

1. Beberapa tahapan kegiatan kadang tidak dilalui seperti :

1. Dokumen-dokumen perencanaan, diantaranya : Peta Sosial, Berita Acara dan

Pembuatan peta sosial untuk penggalian gagasan : terkadang peta sosial hanya sekedar formalitas yang di buat oleh FD atau bahkan hanya peta wilayah desa.

Musyawarah khusus perempuan

1

Tahap Perencanaan (Selain Aspek Keuangan)

Notulen Hasil Forum-forum Perencanaan, Daftar usulan hasil MD, MAD dan SPC, RKTL

2. Klarifikasi pelaksanaan kegiatan apakah sudah dilakukan sesuai dengan prinsip dan prosedur PPK

Survey harga bersama TPK sebelum penyusunan RAB

Tidak adanya keterlibatan TPK dalam penyusunan RAB, sehingga kadang dalam pelaksanaan kegiatan akan banyak dilakukan revisi karena selain dilihat dari aspek teknis, masyarakatlah yang lebih tahu kebutuhan dan kondisi wilayahnya.

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

     

Banyak di temukan penyusunan RAB di dominasi dan di buat sendiri oleh FK.

Tidak dilakukan verifikasi dan validasi RAB oleh KM.

Dll.

2. Kompetisi kadang tidak berjalan

Memotong/mengurangi usulan agar semua desa terdanai. Terkadang konsultan tidak ingin adanya konflik di masyarakat sehingga jika alokasi dana tidak mencukupi untuk semua usulan dan masyarakat menuntut agar desanya juga terdanai ( meskipun ranking bawah) maka di lakukan dengan cara memotong usulan baik secara volume maupun kualitas. Hal ini bisa di lihat dari tidak sesuainya usulan yang ada di MD II dengan usulan yang terdanai.

Membatasi jumlah usulan dari desa atau nominal usulan. Hal ini juga dilakukan untuk pemerataan agar semua desa dapat terdanai.

Usulan kegiatan UEP dan Prasana tidak dikompetisikan secara bersamaan. Usulan UEP dikompetisikan secara terpisah atau bahkan usulan UEP langsung terdanai dengan alokasi tertentu seperti kegiatan SPP. Baru kemudian sisa dananya untuk dikompetisikan di kegiatan prasarana.

3. Tidak sesuai dengan RKTL: Kurangnya pengendalian kegiatan, RKTL tidak di jadikan sebagai acuan dan pengendalian kegiatan.

4. Adanya intervensi dalam usulan kegiatan.

   

RAB, prosedur pengadaan bahan

1. Tidak dilakukan musyawarah pengadaan bahan. Pengadaan bahan dilakukan langsung oleh TPK saja, tanpa musyawarah dan melibatkan masyarakat desa

2. Tidak dilakukan lelang sesuai prinsip dan

2

Tahap Pelaksanaan

Dokumen lelang : undangan, penawaran, BA proses lelang, kontrak suplier

Berita acara : Revisi, Musdes Pertanggungjawaban setiap tahapan.

No

BENTUK KEGIATAN

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

POTENSI MASALAH

     

prosedur/tata cara pelelangan

Disusun RAB dengan menjadi RAB detail per sub kegiatan sehingga nilai bahan kurang dari Rp15 juta

Pengajuan RPD dilakukan tidak melebihi nilai Rp15 juta sehingga tidak perlu melakukan lelang.

Adanya pemahaman barang pabrikasi tidak perlu dilakukan proses lelang

Pelelangan dilakukan sekedar formalitas sehingga terkadang pelaksanaanya tidak transparan, tidak mendapatkan harga yang layak dan kualitas yang tidak sesuai dengan yang direncanakan.

Lelang hanya diinformasikan secara terbatas.

3. Tidak melibatkan Tim 18 dalam proses pelaksanaan kegiatan.

4. Revisi kegiatan, perubahan kegiatan (volume, desain, kualitas) tidak dilakukan dengan musyawarah. Bahkan terkadang TPK tidak mempunyai RAB, pekerjaan tidak mengacu kepada RAB dan Desain hanya berdasarkan pengalaman saja.

   

Kualitas pekerjaan, dokumen laporan akhir seperti berita acara MDST, laporan realisasi akhir termasuk realisasi volume dan realisasi biaya, asbuilt drawing, sertifikasi oleh FKT, dll.

1. Seringkali musyawarah desa serah terima sudah dilakukan tapi dokumen akhir belum dibuat.

3

Tahap Akhir/Penyelesaian

2. Adanya pengelolaan dana pembuatan laporan akhir yang diserahkan untuk dikelola oleh konsultan.