Anda di halaman 1dari 23

2010

NORMALISASI SUNGAI
CIKAPUNDUNG
Perencanaan Komprehensif Dengan Pendekatan Partisipatif
yang Melibatkan Multi Stake Holder

oleh
Kelompok 4
- Mela Reika Indrasari (25209003)
- Astri Anindya Sari (25209026)
- Wanda Yovita (25209029)

AR 5241 PERENCANAAN DI NEGARA BERKEMBANG


AR 5241 perencanaan di negara berkembang

NORMALISASI SUNGAI CIKAPUNDUNG


Perencanaan Komprehensif Dengan Pendekatan Partisipatif yang
Melibatkan Multi Stake Holder

ABSTRAK
Fenomena degradasi lingkungan pada daerah aliran sungai Cikapundung dan sekitarnya
merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak pihak didalamnya. Daerah
aliran sungai Cikapundung pada area Lebak Siliwangi sampai Pajajaran merupakan wilayah
pusat kota yang dekat dengan universitas dan berbagai fungsi publik lain. Lokasi strategis
tersebut merupakan faktor penarik bagi masyarakat dan mahasiswa, sehingga kawasan tersebut
menjadi padat dan akhirnya menyebabkan daya dukung lingkungan yang menurun untuk
kebutuhan permukiman di atasnya. Pemerintah, universitas, swasta dan masyarakat merupakan
pihak-pihak yang terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung atas pengaruh langsung
maupun tidak langsung mereka terhadap pencemaran sungai Cikapundung. Oleh karena itu
dibutuhkan penanganan yang melibatkan multi-stakeholder dan kerjasama di antara mereka.
Tulisan ini membahas tentang strategi dan teknis bagaimana normalisasi sungai Cikapundung.
Perencanaan awal merupakan pengembalian kualitas lingkungan sungai Cikapundung dengan
pembuatan talud dan pembebasan lahan di sisi sungai akan tetapi perbaikan yang komprehensif
terkait dengan aspek-aspek lain seperti relokasi hunian yang ada di tepi sungai, perencanaan
yang berkesinambungan, pemberdayaan masyarakat dan bagaimana peran setiap pihak yang
terlibat dalam normalisasi sungai Cikapundung.
Kata kunci: Cikapundung, partisipatif, degradasi lingkungan, multi stake holder

PENDAHULUAN
Sungai Cikapundung merupakan anak sungai Citarum yang membelah kota Bandung di bagian
pusat kota. Fungsi yang ada di riparian sungai Cikapundung sangat beragam. Salah satu fungsi
yang paling dominan adalah perumahan baik perumahan formal maupun informal. Kelurahan
Taman Sari atau khususnya arah tepi sungai Cikapundung antara jalan Siliwangi hingga jalan
Padjajaran merupakan bagian sisi sungai Cikapundung yang terpadat dari tutupan lahan
maupun penduduknya. Lokasinya yang berada di pusat kota dan terkait dengan berbagai fungsi
lain menyebabkan perkembangan permukiman di daerah ini semakin tak terkendali.
Universitas-universitas dengan skala nasional seperti ITB, Unisba, Unpas, pusat perbelanjaan
di jalan Cihampelas, pertokoan di jalan Merdeka merupakan faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi lonjakan populasi di daerah sekitarnya khususnya daerah yang bersisian dengan
sungai Cikapundung. Kepadatan yang semakin tinggi ini berimplikasi terhadap lingkungan di
sekitar sungai yang mengalami degradasi. Limbah padat dan cair rumah tangga yang berasal
dari permukiman di sekitar sungai Cikapundung memberi beban lingkungan pada sungai
Cikapundung. Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah di sungai Cikapundung maupun
penyaluran air limbah kamar mandi baik black water maupun grey water tanpa pengolahan
terlebih dahulu mencemari sungai Cikapundung. Tidak hanya oleh masyarakat yang memiliki
rumah di sisi sungai Cikapundung akan tetapi masyarakat Bandung lain yang berkegiatan di
sekitar sungai Cikapundung juga berkontribusi mencemari sungai Cikapundung dengan
sampah.

2
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

BATASAN DAN LINGKUP PEMBAHASAN


Laporan ini membahas tentang strategi dalam normalisasi sungai Cikapundung yaitu
pengembalian sungai Cikapundung menjadi kondisi lingkungan yang lebih baik dan
berkelanjutan. Dalam membahas strategi terhadap masalah utama yaitu pembebasan lahan
dalam rangka membangun talud yang membutuhkan pembebasan lahan dan normalisasi sungai
agar tidak menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga maka permasalahan ini terkait
dengan aspek lain seperti perbaikan sistem sanitasi perumahan, revitalisasi daerah tepi sungai
dan penyediaan ruang terbuka untuk uang hijau agar kesehatan lingkungan tetap berkelanjutan.
Walaupun tidak bisa dipungkiri, masalah sungai Cikapundung membutuhkan penyelesaian
yang komprehensif dan tidak parsial yang di mulai dari daerah hulu hingga hilir sungai
Cikapundung akan tetapi laporan ini membatasi pembahasan hanya pada ruas sungai dari jalan
Siliwangi hingga jalan Padjajaran. Strategi perbaikan yang dilakukan pada lapran ini
diharapkan mampu menjadi pemicu perbaikan lingkungan di sepanjang sungai Cikapunung
lainnya. Tidak hanya konsep-konsep akan tetapi strategi normalisasi sungai Cikapundung
membutuhkan implementasi yang nyata. Laporan ini membatasi pada bagaimana grand design,
perencanaan dan solusi-solusi terhadap normalisasi Cikapundung dan tidak merancang secara
mendetail terhadap bangunan. Asumsi-asumsi dilakukan seperti semua pihak terlibat dan
setuju terhadap diagram alir yang direncanakan sehingga proyek perbaikan dan pembangunan
dapat berjalan sesuai dengan tahapan perencanaan yang ditawarkan.

FENOMENA LOKASI PROYEK


Dualisme kebutuhan dan beban
Permasalahan permukiman di riparian sungai Cikapundung merupakan masalah yang
melibatkan banyak kepentingan, pihak, aspek sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain. Kepadatan
populasi dan lingkungan yang dialami permukiman ini merupakan dampak dari beban oleh
fungsi di sekitarnya seperti fungsi pendidikan dan komersil. Selain penduduk asli yang telah
beberapa dekade tinggal di daerah tersebut, permukiman ini menampung sejumlah migran dari
berbagai daerah dengan profesi sebagai karyawan dan mahasiswa yang bekerja atau belajar di
Bandung. Selain itu berkembangnya fungsi-fungsi informal yang mendukung keberlangsungan
kegiatan oleh universitas, perkantoran atau pusat perbelanjaan yang dikembangkan oleh
masyarakat, semakin memperumit permasalahan yang ada di permukiman tersebut.
Permukiman ini menjadi pendukung bagi kegiatan universitas, perkantoran dan pusat
perbelanjaan secara tidak langsung tetapi memberikan beban lingkungan kepada sungai
Cikapundung dan kota Bandung. Pembangunan rumah secara illegal hingga tepi sungai, tidak
adanya perencanaan terkait pengaturan pembangunan rumah dan pembuangan limbah, tidak
adanya daerah resapan dan ruang terbuka sesuai dengan standar pengadaan perumahan
membuat permukiman ini rawan terhadap banjir, masalah kesehatan dan lain-lain.

3
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Diagram 1. Fenomena permasahan daerah aliran sungai


cikapundung yang melibatkan banyak pihak (multi stake holder)

Deskripsi Lokasi
Wilayah studi merupakan daerah aliran sungai Cikapundung dari daerah Lebak Siliwangi
hingga Pajajaran.

4
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Strength
Aspek lokasi merupakan kekuatan paling signifikan yang mempengaruhi perkembangan lokasi
ini. Lokasi yang strategis dan di pusat kota yang selalu berkembang mampu meningkatkan
nilai lahan dari masa ke masa. Berbagai fungsi dapat ditampung di daerah sungai
Cikapundung khususnya di daerah studi. Hal ini merupakan nilai positif sekaligus pemicu
tumbuh pesatnya kegiatan ekonomi di kawasan permukiman.
Weakness
Populasi masyarakat yang tinggal di daerah ini sudah terlalu padat sehingga penataan
kembali permukiman akan menjadi permasalahan yang sangat rumit. Kepadatan populasi ini
juga mempengaruhi secara langsung degradasi lingkungan yang tidak mampu menampung
beban permukiman yang ada di atasnya. Pencemaran sungai akibat sampah dan limbah rumah
tangga merupakan pencemar utama di ruas sungai ini. Implikasi dari pencemaran ini adalah
lingkungan yang tidak sehat dan rawan bencana seperti banjir dan longsor. Di daerah ini
hampir tidak ada uang tersisa untuk keperluan ruang hijau dan ruang terbuka sebagai temapat
amenitas masyarakat. Masyarakat bersosialisasi dengan tetangganya di jalan-jalan lingkungan
atau di depan rumah.
Opportunity
Penduduk yang tinggal di daerah riparian sungai Cikapundung ini kebanyakan merupakan
penduduk yang telah tinggal lama dan lebih dari satu dekade. Kekerabatan yang terjalin di
antara penghuni telah terjalin erat dalam berbagai paguyuban seperti pengelompokan RT,
pengajian, DKM, arisan dan lain-lain. Hal demikian merupakan nilai positif dari permukiman
informal semacam ini untuk pengorganisasian pembangunan selanjutnya. Selain itu
kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara swadaya melalui
mata pencaharian formal maupun informal, merupakan salah satu kesempatan untuk perbaikan
wilayah ini. Untuk pekerjaan di sektor formal, masyarakat bekerja sebagai karyawan dengan
tempat bekerja yang dekat dengan lokasi tempat tinggalnya seperti di jalan Cihampelas, jalan
Taman Sari, jalan H.Djuanda dan lain-lain. Sedangkan untuk sector informal, masyarakat yang
tinggal di daerah ini bekerja sebagai seperti pedagang pasar atau kuliner, membuka usaha
penyewaan kamar atau fotokopi dan alat tulis yang terkait dengan kebutuhan mahasiswa dan
masyarakat pada umumnya. Ruang-ruang kosong yang ada di bawah jalan layang Pasopati
digunakan oleh anak-anak penduduk di sisi sungai Cikapundung. Daerah ini tidak dikelola
dengan baik sehingga pemanfaatannya tidak efektif. Seharusnya ruang yang kosong yang
berada di tengah lahan padat penduduk ini dapat menjadi potensi yang sangat baik untuk
dikembangkan.
Threat
Area permukiman yang sangat padat ini tentu memiliki berbagai hambatan apabila akan
dikembangkan untuk hal yang lebih baik. Masalah yang kerap muncul adalah tidak
tersedianya lahan untuk keperluan fasilitas di sekitar permukiman yang terus berkembang.
Pembangunan yang dilakukan selalu vertikal yang menambah beban lingkungan, biaya dan
kepadatan. Area kosong di bawah jembatan pasopati juga dapat menjadi masalah seperti
timbulnya squatter apabila tidak dikelola dengan baik.

5
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

STRATEGI PROGRAM - KETERLIBATAN MULTI STAKE HOLDER


Pembiayaan, pendampingan, pelaksanaan, pengelolaan dan evaluasi
Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan pada lokasi di sepanjang sungai
Cikapundung, maka diketahui bahwa masalah utama yang terjadi di daerah ini adalah
menurunnya daya dukung lingkungan yang disebabkan oleh tingginya kepadatan penduduk
dan kurangnya kepedulian penduduk terhadap lingkungan yang mengakibatkan penumpukan
sampah, eksploitasi sungai sebagai sarana pembuangan limbah rumah tangga dan MCK,
sekaligus dimanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari, dan kurangnya penghijauan.
Keseluruhan masalahn yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan pemerintah,
universitas, pihak swasta yang memanfaatkan lokasi untuk usahanya, dan tentu saja
masyarakat.
Dari pemetaan masalah dan potensi yang ada pada kondisi eksisting, maka ide-ide untuk
normalisasi sungai Cikapundung difokuskan pada perencanaan yang sustainable dengan
keterlibatan multi stake holder untuk memaksimalkan potensi dan merubah masalah
menjadi potensi, dengan basis partisipasi masyarakat melalui organisasi berbasis
komunitas. Program-program yang direncanakan meliputi perbaikan sistem persampahan dan
sanitasi serta pengelolaannya secara terpadu, pembuatan dan perbaikan talud, penghijauan,
pembangunan rusunawa dan rusunami, dan pemanfaatan sempadan sungai sebagai lokasi
wisata kuliner yang dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan stake holder terkait.
Seluruh stake holder yang bertanggung jawab (pemerintah, swasta, universitas, maupun
masyarakat) dilibatkan dalam pelaksanaan program-program untuk normalisasi Cikapundung
secara partisipatif sesuai kapasitasnya masing-masing. Hubungan antar stake holder dan
perannya dalam pelaksanaan program dapat dilihat pada diagram berikut.

Diagram 2. Strategi program normalisasi


sungai Cikapundung dengan keterlibatan
multi stake holder

6
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

- Pemerintah, sebagai pengelola lingkungan dan pembuat kebijakan berperan sebagai


penyandang dana dan pengawas program yang berjalan. Pemerintah bersama
universitas juga melakukan evaluasi-evaluasi atas proses dan hasil program yang
dilaksanakan.
- Swasta (developer mall Balubur dan Ciwalk), sebagai pihak yang turut memanfaatkan
potensi lokasi, dan berperan dalam penurunan daya dukung lingkungan melalui
pembiayaan program terutama program perbaikan sistem sanitasi.
- Universitas, berperan melakukan pendampingan dan sosialisasi pada masyarakat
setempat. Mendampingi pembentukan organisasi berbasis komunitas, mendampingi
dalam masyarakat pelaksanaan program dan output yang dihasilkan.
- Masyarakat setempat, melalui koordinasi dari organisasi berbasis komunitas yang
dibentuk, berperan secara langsung sebagai pelaksana program, sekaligus pengelolaan
output-output yang dihasilkan, dengan pendampingan dari universitas dan pengawasan
dari pemerintah. Hasil dari pengelolaan output, seperti rusunawa, pengelolaan sampah
dan limbah, serta wisata kuliner dimanfaatkan secara bagi hasil untuk mengembalikan
biaya program dari pemerintah dan dimanfaatkan bersama oleh masyarakat untuk
perbaikan ekonomi mereka.
Pendekatan partisipatif dengan melibatkan multi stake holder (pemerintah-swasta-universitas-
masyarakat setempat) dipilih selain karena pertimbangan tanggung jawab atas lingkungan, juga
karena perencanaan ini yang dipandang paling sesuai dan dapat menjamin keberhasilan dan
sustainabilitas proyek. Selain itu perencanaan ini dipandang akan memberikan manfaat bagi
setiap stake holder yang berperan, yaitu:
- Bagi pemerintah: menjamin keberhasilan dan sustainabilitas proyek dengan
meminimalisir gejolak sosial, karena sejak awal masyarakat telah dirangkul untuk
bersama-sama menentukan program-program apa yang sesuai, dan mengkompromikan
ide-ide masyarakat dalam realisasi program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sebagai
tenaga pelaksana proyek dan output yang dihasilkan akan menghemat biaya proyek
yang harus dikeluarkan pemerintah. Pemasukan dari pengelolaan output proyek dapat
mengembalikan modal awal pemerintah yang telah dikeluarkan untuk pembiayaan
proyek ini.
- Bagi swasta: merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial pada lingkungan.
- Bagi universitas: program pendampingan yang dilakukan pada pelaksanaan program-
program normalisasi sungai Cikapundung ini merupakan laboratorium nyata yang dapat
berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan memberikan pengalaman bagi mahasiswa
dan dosen yang terlibat.
- Bagi masyarakat: partisipasi dalam program-program normalisasi Cikapundung ini
selain membuka lapangan pekerjaan, juga sebagai sarana pembelajaran yang akan
mengembangkan kondisi sosial dan ekonomi di masa mendatang. Output yang
dihasilkan juga akan dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat setempat, dan
hasil pengelolaannya juga dapat dimanfaatkan bersama.

7
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

ALUR PELAKSANAAN PROGRAM


Program yang dirancang untuk normalisasi sungai Cikapundung difokuskan pada perencanaan
yang sustainable dengan keterlibatan multi stake holder untuk memaksimalkan potensi dan
merubah masalah menjadi potensi, dengan basis partisipasi masyarakat melalui organisasi
berbasis komunitas. Ide-ide pokoknya adalah menyelesaikan permasalahan sampah dan limbah
melalui perbaikan sistem persampahan dan sanitasi dengan pengelolaannya secara terpadu,
penataan dan pembebasan lahan pada sempadan sungai, pembuatan dan perbaikan talud,
penghijauan, pembangunan rusunami untuk relokasi warga, dan rusunawa yang merespon
kebutuhan lingkungan akan rumah sewa, serta pemanfaatan open space pada sempadan sungai
untuk lokasi wisata kuliner. Alur pelaksanaan program dapat dilihat pada diagram berikut:

GOAL PROGRAM AWALAN PROGRAM YANG BERJALAN OUTPUT


(BASIS) SECARA PARALEL

Penentuan
zona

pengelolaan

Diagram 3. Alur pelaksanaan program

Keseluruhan program dirancang dengan menggunakan pendekatan partisipatif dengan


keterlibatan multi stake holder yaitu pemerintah yang berperan utama dalam pembiayaan dan
pengawasan, universitas dengan peran utamanya sebagai pelaksana pendamping masyarakat,
dan masyarakat sebagai subyek atau pelaku utama pelaksana program sekaligus pengelola
output yang dihasilkan.
Karena menggunakan pendekatan partisipatif dengan masyarakat setempat sebagai pelaku
utama, maka pada awal pelaksanaan setiap program selalu didahului dengan adanya
pendekatan kepada masyarakat dan pendampingan sebagai dasar pelaksanaan yang
memastikan adanya partisipasi dari masyarakat dan bahwa pelaksanaan program akan
membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Lebih lanjut mengenai program pendekatan
pada masyarakat akan dibahas dalam sub bab selanjutnya mengenai pemberdayaan masyarakat
setempat.
Untuk mensistematisasi dan mempermudah pelaksanaan program, dilakukan pembagian
wilayah menjadi dua zona besar, dengan batas fisik jembatan layang pasupati. Zona A,
meliputi wilayah dari lebak siliwangi hingga tamansari, melibatkan ITB sebagai universitas
pendamping masyarakat. Zona B, meliputi tamansari hingga pajajaran, melibatkan Unisba dan

8
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Unpas sebagai universitas pendamping. ITB, Unisba, dan Unpas dilibatkan sebagai
pendamping masyarakat dalam pelaksanaan program karena dipandang sebagai salah satu
faktor penarik utama migrasi (terutama mahasiswa) pada wilayah studi. Artinya universitas-
universitas tersebut memiliki peranan dalam permasalahan lingkungan pada wilayah studi.
Diantara program-program yang direncanakan, pengelolaan sampah merupakan program yang
tidak terkait atau harus didahului oleh pembebasan lahan dan penataan sempadan. Karenanya
program pengolahan sampah dapat dilaksanakan secara paralel dengan pembebasan lahan dan
penataan sempadan (Diagram 1). Sementara sebelum diadakan pembebasan lahan untuk
sempadan, masyarakat yang semula tinggal di daerah sempadan sungai harus terlebih dulu di
relokasi pada rusunami yang dibangun pada tahapan awal (keterangan pentahapan lebih lanjut
pada sub bab rusunami dan rusunawa). Dengan demikian program lanjutan dari pembebasan
lahan dan penataan sempadan yang meliputi perbaikan talud, perbaikan sistem sanitasi,
penghijauan, serta pembangunan rusun, akan dapat berjalan seiring dengan program perbaikan
dan pengelolaan sampah.

PARTISIPASI MASYARAKAT SETEMPAT


Organisasi berbasis komunitas sebagai penggerak masyarakat
Masyarakat setempat merupakan unsur utama yang akan selalu berhubungan dengan proyek
normalisasi Cikapundung ini, baik sebagai subyek, obyek, maupun pengguna utama yang
nantinya akan memanfaatkan dan menjaga keberlangsungan hasil-hasilnya sehingga tetap
sustainable. Partisipasi dan dukungan dari masyarakat setempat merupakan jaminan
keberhasilan proyek ini, karenanya langkah pertama yang dilakukan adalah pendekatan dan
sosialisasi pada masyarakat dengan tujuan melibatkan partisipasi masyarakat dalam
keseluruhan proses proyek. Langkah-langkahnya digambarkan dalam diagram berikut;

KONSEP STRATEGI TEKNIS OUTPUT


Keterangan:
*) partisipasi masyarakat melalui koordinasi dari organisasi berbasis komunitas, berupa:
- pelaksana tiap item program, misalkan sebagai tenaga kerja pembangunan rusun, penyediaan bibit dan
penanaman pohon utk penghijauan, dll – konsep SELF HELP, mengurangi biaya
- sebagai pengelola dari output tiap program yang dihasilkan, misal biogas dan rusunawa – pengelolaan dengan
kerjasama pemerintah dan organisasi masyarakat  akan memberikan pemasukan pada pemerintah 
mengembalikan modal

Diagram 4. Partisipasi masyarakat setempat

9
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Partisipasi masyarakat setempat direalisasikan dengan program pendekatan kepada


masyarakat, melalui dua langkah utama yaitu:
1. Sosialisasi program
Sosialisasi dilakukan dengan memberikan pemaparan pada masyarakat tentang ide-ide
yang akan dilakukan untuk normalisasi sungai Cikapundung. Dalam sosialisasi dilakukan
pula diskusi dua arah, untuk mengetahui dan mengkompromikan ide-ide dari masyarakat
dan perencana. Tujuan sosialisasi adalah untuk mengetahui pendapat masyarakat,dan
menghindari serta mengantisipasi adanya protes atau gejolak sosial yang akan
mempengaruhi keberhasilan proyek.
2. Pendataan
Pendataan dilakukan untuk memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dan
keadaan permukiman eksisting. Kondisi sosial ekonomi masyarakat diantaranya meliputi
pendidikan, pekerjaan, jumlah keluarga, dan penghasilan. Kondisi permukiman eksisting
mencakup jumlah toko, rumah sewa, dan usaha lain misal fotokopi, lebar jalan, lokasi
drainase, saluran limbah, sanitasi, dan lainnya. Pemetaan ini dilakukan bersama-sama
dengan masyarakat setempat untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap
mempermudah penyusunan tahapan atau langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan.
Dilakukan pendataan dan pemetaan mengenai, jumlSelain itu dari pemetaan akan
diketahui potensi-potensi yang ada dalam masyarakat setempat yang akan mempermudah
proses pendampingan dan pembentukan organisasi berbasis komunitas.
Hasil dari diskusi-diskusi yang dilakukan pada proses sosialisasi, berikut hasil pendataan akan
dimanfaatkan dalam proses selanjutnya yakni pendampingan yang memiliki fungsi utama
untuk membentuk organisasi masyarakat berbasis komunitas yang merupakan penggerak
dan inti dari keseluruhan konsep pertama (pendekatan pada masyarakat) ini.
Organisasi masyarakat berbasis komunitas dibentuk dengan pendampingan dari universitas
sesuai zona yang telah ditentukan (ITB, Unisba, dan Unpas). Ditentukan dua zona utama
dengan batas jembatan pasupati. Zona A dari lebak siliwangi hingga tamansari, dibawah
pendampingan ITB, dan zona B dari taman sari hingga pajajaran dibawah pendampingan dari
Unisba dan Unpas. Universitas yang bertanggung jawab dalam pendampingan merupakan
universitas yang dianggap merupakan push factor masyarakat migran datang dan memadati
zona yang bersangkutan sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Dari dua organisasi
masyarakat inti yang dibentuk perzona, kemudian dipecah kembali menjadi organisasi pada
tingkat masyarakat yang lebih kecil, misalkan RW. Dua organisasi utama bertindak sebagai
koordinator yang menghubungkan organisasi dibawahnya dengan stake holder lain yaitu
pemerintah dan pendamping.
Organisasi masyarakat memiliki peran penting dalam pelaksanaan program direncanakan
secara partisipatif. Peranan organisasi masyarakat meliputi mengorganisir, mengatur, dan
menggerakkan masyarakat sesuai potensinya masing-masing untuk berperan serta dalam
pelaksanaan tiap program kegiatan, baik itu penghijauan, pembangunan rusun, pengolahan
sampah, maupun menghimpun ide-ide dari warga untuk lokasi rumah susun yang dirasa sesuai,
memusyawarahkan desain rusunami sesuai kebutuhan warga, serta mendampingi warga dalam
pembebasan lahan untuk sempadan, dan relokasi. Pada output yang dihasilkan, misalkan

10
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

reaktor biogas dan pengolahan sampah terpadu, organisasi masyarakat akan berperan dalam
pengelolaan sehingga akan menghasilkan pemasukan yang dapat digunakan bagi kepentingan
bersama masyarakat setempat. Pada output berupa rusunawa untuk mahasiswa dan karyawan,
pengelolaannya akan dipegang oleh organisasi masyarakat dan pemerintah. Pemasukan
awalnya dapat mengembalikan modal pemerintah, selanjutnya setelah modal dikembalikan,
penghasilan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan lingkungannya.
Pengelolaan output yang dihasilkan oleh masyarakat akan didampingi oleh universitas terkait,
hingga masyarakat dapat mengelolanya secara mandiri, dengan demikian akan tercapai
sustainabilitas dari hasil-hasil program yang telah dilakukan.

TEKNIS PEMBANGUNAN NORMALISASI SUNGAI CIKAPUNDUNG


Perencanaan awal pada normalisasi Sungai Cikapundung adalah perbaikan lahan di tepi sungai
untuk pembangunan talud. Akan tetapi pembangunan talud ini tentu harus komprehensif
dengan hal lain seperti relokasi penghuni, perbaikan lingkungan secara keseluruhan,
pemanfaatan ruang sisi sungai, dan lain -lain. Berikut ini merupakan teknis pembangunan
normalisasi sungai Cikapundung yang meliputi aspek pembersihan dan pengolahan
sampah, pembangunan talud, perbaikan MCK umum, IPAL dan biogas, penghijauan,
pembangunan rusunami dan rusunawa dan perencanaan wisata kuliner tepi sungai.
Hal yang menjadi latar belakang perlunya normalisasi khusunya di aspek lingkungan sungai
Cikapundung adalah karena daerah ini sudah mengalami degradasi lingkungan yang sangat
signifikan. Degradasi ini kerap membawa bencana seperti banjir, wabah penyakit saat hujan
dan lain-lain. Banjir pada sungai Cikapundung terjadi karena perubahan karakteristik Daerah
Aliran Sungai (DAS) di hulu dan maupun di hilir. Perubahan utama yang terjadi di hulu sungai
adalah berkurangnya luas tutupan lahan (land covering) akibat perubahan fungsi lahan. Lahan
yang semula hutan, ditebang untuk dijadikan permukiman, area wisata, industri, dan lain-lain.
Perubahan lain adalah meningkatnya curah hujan. Perubahan ini sifatnya cenderung alami dan
tidak bisa dikontrol oleh manusia.
Di daerah hilir, perubahan yang meningkatkan potensi banjir adalah pendangkalan sungai dan
atau penyempitan lebar sungai. Pendangkalan sungai terjadi karena sedimentasi, yang
meskipun alami, diperkuat intensitasnya oleh hilangnya land covering di hulu. Adapun
penyempitan lebar sungai, selain karena sedimentasi, kini semakin sering terjadi akibat
penggunaan bantaran sungai untuk permukiman.
Secara umum penyebab terjadinya banjir dipicu oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. hujan deras yang terus menerus dalam beberapa hari, sehingga debit air sungai meningkat
2. permukaan tanah tidak dapat menyerap air, karena jenuh atau karena diplester.
3. permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, di mana tidak terdapat saluran-
saluran pembuangan air yang berfungsi untuk memindahkan air ke lokasi lain
menyeberangi daerah sekitarnya yang lebih tinggi
4. permukaan tanah yang lebih rendah dari permukaan laut yang sedang pasang

Adapun Faktor penyebab terjadinya Banjir luapan Sungai Cikapundung seperti terlihat dalam
skema berikut :

11
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Penyempitan Budaya Masyarakat


/Pendangkalan Membuang Sampah baik
Sungai masyarakat sekitar
maupun masyarakat di
luar lingkungan

Faktor
terjadinya Sedimentasi /
An Normali
luapan Sungai pengendapan -sasi
Organik
Cikapundung dan
Sampah
Organik Revitali
-sasi
Tersumbatnya Sungai
saluran Limbah Manusia Cikapun
dung
Limbah
Pabrik
Masyarakat
setempat sebagai
pelaku

Diagram 5. Faktor penyebab banjir pada daerah aliran sungai Cikapundung

1. Perbaikan dan Pembuatan Talud Sungai Cikapundung


Hal yang paling utama dalam pembuatan Talud pada kawasan ini adalah dengan melakukan
pembebasan lahan selebar 3 - 5 meter sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor
02 Tahun 2004 (RTRW) Kota Bandung dan sesuai dengan Per Men PU No 63 Tahun 1993
tentang Kriteria jalur sempadan sungai yaitu : sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar
sepanjang kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki
tanggul di dalam kawasan perkotaan. Dalam hal ini, Sungai Cikapundung yang mempunyai
lebar 20 meter, jika diambil 3 meter, maka tidak diperbolehkan adanya bangunan rumah dalam
radius 3 meter.

Gambar 1. Detail Talud

12
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Pada Kawasan Cikapundung khususnya Antara Jalanan Siliwangi dan Jalan Pajajaran, dalam
penataan dan perbaikan talud berproses melalui sosialisasi masyarakat dengan pembentukan
organisasi berbasis komunitas. Masyarakat yang lahannya dalam proses pembebasan lahan
untuk sempadan sungai di relokasikan dalam rumah susun dengan berberapa tahapan. Selain
itu dilakukan pengerukan agar aliran Sungai Cikapundung kembali normal.
Konsep talud. Pembangunan talud dilakukan dengan mengecilkan sedikit lebar sungai akan
tetapi menambah kedalamannya. Diperkirakan sungai Cikapundung kerap banjir di musim
hujan terjadi pendangkalan pada sungai akibat lumpur maupun sampah. Apabila lebarnya
diperkecil dan kedalaman sungai di tambah maka volume sungai tetap demikian dan mampu
menampung aliran air. Pengerukan lumpur dan penyaringan sampah dilakukan secara
berkelanjutan dengan pengelolaan masyarakat dan bantuan dari pemerintah.

2. Penghijauan dan penyimpanan air tanah


Untuk pelestarian Kawasan Ruang Terbuka Hijau, diatas Talud tersebut dan di lingkungan
perumahan eksisiting serta kawasan rusunami/rusunawa direncanakan penanaman pohon,
penggunaan teknik biopori untuk penyimpanan air tanah, pengolahan sampah dan pencegahan
banjir serta penarapan rain water garden, seperti terlihat pada skema berikut :

Diagram 6. Sistematisasi program penghijauan

Perencanan Ruang Terbuka Hijau di Daerah Sungai Cikapundung terutama dari Jalan
Siliwangi hingga Jalan Pajaran ditujukan agar tidak terjadi penurunan kuantitas dan kualitas air
bersih, polusi udara, dan mencegah suhu udara yang cenderung memanas akibat kurangnya
pepohonan dan resapan air sebagai dampak tingginya pertumbuhan penduduk. Dalam
perenncanaannya ruang terbuka hijau ini ditempatkan di diatas talud, selebar 1 meter, serta
dilakukan pada daerah permukiman eksisting dan pada rusunami dan rusunawa.

Teknis program yang diusulkan untuk dilaksanakan meliputi:


a. Penanaman pohon di daerah Sungai Cikapundung, selain untuk mencegah banjir, juga
diharapkan dapat menghidupkan ruang terbuka hijau. Pohon-pohon yang ditanam
merupakan jenis pohon peneduh yang berakar kuat dan dimaksimalkan penanamannya
pada open space, terutama pada sempadan (di area wisata kuliner) pada jarak-jarak
tertentu.

13
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

b. Penggunaan biopori , sebagai sistem resapan air atau teknik dalam penyimpanan air tanah,
selain itu berguna dalam penyimpanan air tanah, pengelolaan sampah serta pencegahan
banjir.
Biopori merupakan salah satu cara efektif digunakan sebagai alternatif penyimpanan air
tanah pada daerah dengan kepadatan tinggi seperti pada lokasi studi, dimana luasan lahan
tak tertutup perkerasan sudah semakin sempit. Biopori akan meningkatkan kemampuan
tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan
tanah, sekaligus sarana pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Pada lokasi studi, biopori direncanakan dibuat pada setiap sirkulasi pada permukiman
eksisting, juga pada setiap hunian yang ada. Hal ini dimungkinkan karena pembuatannya
tidak menuntut biaya dan luas lahan yang besar, serta dapat dilakukan dengan muda.
Langkah membuat Biopori adalah membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang-lubang
tersebut selanjutnya diisi dengan bahan organik seperti sampah-sampah organik rumah
tangga, potongan rumput dan vegetasi lainnya. Bahan organik ini dijadikan sumber energi
bagi organisme di dalam tanah, sehingga aktivitas dalam tanah meningkat. Semakin
meningkat aktivitas organisme dalam tanah, maka akan semakin memperbanyak biopori
yang terbentuk.
c. Pembuatan rainwater garden atau pemanfaatan air hujan yang dimaksimalkan pada bagian-
bagian dari rumah susun yang dirancang, pada tiap hunian masyarakat secara mandiri, juga
pada area sempadan sungai. Dengan demikian, air hujan dapat dimanfaatkan sehingga
pengambilan air tanah dapat dikurangi.

Rain water garden merupakan sebuah teknologi yang meliputi sistem pengumpulan,
penyimpanan dan pemanfaatan hujan. Penampungan hujan dilakukan dengan membuat bak-
bak (tandon) penampungan. Pengoperasian sistem dilakukan dengan sistem pemipaan
secara khusus. Teknologi pemanfaatan hujan ini disusun berdasarkan fungsi-fungsi seperti
pengumpulan hujan, penyimpanan hujan, penentuan syarat hujan, pendistribusian,
pengaliran hujan yang berlebih dan pengisian bak penampungan di musim kering. Dengan
teknologi pemanfaatan hujan ini, masyarakat dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan
airnya. Tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian sirkulasi air alami, serta
menciptakan keharmonisan antara penataan lingkungan perkotaan dan curah hujan.
Teknis pelaksanaan dan pembiayaan
Pelaksanaan program penghijauan dilakukan oleh masyarakat setempat melalui koordinasi dari
organisasi berbasis komunitas. Agar dapat dilakukan dan dikelola dengan baik, maka dalam
pelaksanaannya masyarakat didampingi oleh universitas terkait. Program yang dipilih
merupakan teknologi tepat guna yang tidak membutuhkan banyak biaya dalam
pelaksanaannya. Dalam penyediaan dan pemilihan bibit tanaman, masyarakat dibantu oleh
universitas.

14
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

3. Perbaikan sistem persampahan dan pengelolaannya secara terpadu


Sampah merupakan sesuatu yang sudah tidak mempunyai nilai. "Sampah adalah sesuatu yang
tidak berguna lagi, dibuang oleh pemilikya atau pemakai semula" (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982).
Berdasarkan bentuknya sampah dibagi menjadi sampah padat dan cair.
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair.
Sampah padat ini berupa sampah rumah tangga seperti : sampah dapur, sampah kebun, plastik,
metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah
organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari barang
yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-
potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu
pembersihan kebun dan sebagainya. Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan
dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Limbah hitam adalah sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen
yang berbahaya. Limbah rumah tangga adalah sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar
mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
Konsep Pengelolaan Sampah. Dilakukan sosialisasi dan pendampingan pada masyarakat
mengenai teknis pengolahan dan pengelolaan sampahnya masing-masing. Untuk pengelolaan
sampah diharapkan adanya kesadaran dari masyarakat setelah berpartisipasi dalam sosialisasi
mengenai Normalisasi dan Revitalisasi Kawasan Sungai Cikapundung khususnya yang berada
antara jalan Siliwangi hingga jalan Pajajaran berupa :
1. Penyediaan Bak Sampah pada masing-masing satuan unit rumah
2. Dibuang ke tempat Pembuangan Sampah Sementara yang disediakan oleh Pemerintah
Daerah atau partisipasi masyarakat
3. Dibuang ke tempat Pembuangansampah Akhir (TPA) atau dimusnahkan
4. Mendaur Ulang sampah anorganik
5. Pengomposan yaitu pemanfaatan ulang sampah organik melalui proses pembusukan.

Pengolahan sampah ini berkelanjutan dengan kerjasama antar penduduk dalam komunitas.
Sampah ini dapat menjadi potensi dan sumber penghasilan alternatif masyarakat. Hasil dari
pengomposan atau daur ulang dapat dijual oleh masyarakat secara komunitas dan kegiatan ini
merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Lokasi untuk TPS direncanakan dekat dengan
lingkungan masyarakat bermukim. Untuk TPA dan pengelolaan sampah yang telah tersedia
pada kompleks Sabuga, dimaksimalkan penggunaannya.

4. Pembangunan Rusunami dan Rusunawa


Keadaan permukiman di bantaran sungai Cikapundung pada daerah studi merupakan daerah
yang padat penduduk.Lokasi studi merupakan bagian dari kelurahan Cipaganti dan kelurahan
Taman Sari. Terkait dengan perbaikan sungai Cikapundung, maka dibutuhkan pembebasan
lahan di sepanjang sisi sungai Cikapundung. Pembebasan lahan ini tentu mengakibatkan
tersingkirnya permukiman-permukiman yang ada di sepanjang sisi sungai. Relokasi perumahan
ini diperlukan karena daerah awal hunian mereka di tepi sungai merupakan daerah yang rawan
banjir dan bahaya longsor. Tahap awal perbaikan lokasi ini adalah dengan pendekatan dan
sosialisasi program perbaikan pada masyarakat. Dari pendekatan ini dapat dilakukan pendataan

15
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

dan pemetaan potensi dan kondisi masyarakat. Dalam perencanaan ini sangat dibutuhkan
partisipasi masyarakat sebagai subjek sekaligus objek revitalisasi Cikapundung. Untuk ini
tentu dibutuhkan kontribusi pihak-pihak yang merupakan salah satu penyebab eksternal
terjadinya pemadatan penduduk di daerah studi. Pihak universitas seperti ITB, Unisba dan
Unpas dibutuhkan untuk mendampingi masyarakat dalam sosialisasi dan pendekatan karena
bagaimanapun ada hubungan saling ketergantungan antara masyarakat dan universitas tersebut.

Diagram 7. Sistematisasi pelaksanaan program rusunami dan rusunawa

Alternatif yang ditawarkan adalah pembuatan rusun sebagai salah satu solusi perumahan
dengan kepadatan tinggi. Pembangunan rumah susun ini dilakukan secara bertahap mulai dari
daerah permukiman di sekitar jalan Siliwangi. Tahap pertama adalah pembebasan lahan untuk
rusunami oleh pemerintah. Pada lokasi studi, lokasi pertama yang coba ditawarkan adalah
pembebasan lahan di daerah kolam renang di jalan Cihampelas oleh pemerintah untuk
keperluan membangun rumah susun sederhana milik bagi masyarakat yang rumahnya di
relokasi. Setelah lahan ini dibebaskan, kemudian perencanaan pembangunan rusunami oleh
dengan subsidi dari pemerintah dan pihak universitas yang dibantu dengan partisipasi
masyarakat. Tahap selanjutnya adalah pembangunan rusunami dengan partisipasi masyarakat
dalam aspek perencanaan, tenaga kerja, dan pengadaan material. Kemudian dilakukan relokasi
masyarakat yang tinggal di sepanjang sisi permukiman ke rusunami paralel dengan
penghijauan dan penataan saluran. Pembangunan ini dilakukan setahap demi setahap hingga
seluruh permukiman di pinggir sungai dapat dibenahi sesuai dengan lahan yang dibebaskan.
Selanjutnya dibutuhkan pembangunan rusunawa yang diperuntukan bagi kaum migran yang
banyak memenuhi permukiman yang berprofesi sebagai karyawan atau mahasiswa.

16
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Pentahapan relokasi dan pembangunan rusun

Abstrak

Gambar 2. Proses pentahapan


pembebasan lahan, relokasi, dan
pembangunan rusun. Berawal dari
lahan kosong pada bekas kolam
renang Ciwalk, dan
perkembangannya berjalan ke utara-
selatan hingga seluruh sempadan
sungai berhasil dibebaskan

Selanjutnya adalah pembangunan rusunawa yang dialokasikan bagi kelompok migran yang
turut memperpadat permukiman di sepanjang sisi sungai Cikapundung. Jumlah mahasiswa
yang belajar di universitas seperti ITB, Unpas dan Unisba sebagian adalah kaum pendatang
dari kota-kota lain. Kelompok ini memiliki jumlah yang signifikan yang terus berkembang
setiap tahun dengan daya dukung permukiman di sekitar kawasan universitas yang tidak
seimbang. Secara tidak langsung peran universitas-universitas tersebut dibutuhkan dalam
penanganan masalah ini. Demikian juga denan karyawan-karyawan dari luar kota yang tinggal
di permukiman di sekitar lokasi studi umumnya bekerja di dekat tempat hunian sewa mereka.
Kelompok pendatang ini dapat tinggal di tipe hunian rumah susun sederhana sewa yang
dikelola oleh masyarakat di sekitar kawasan studi di bawah pemerintah.

17
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Gambar 3. Konsep bangunan pada rusun

Konsep bangunan. Bangunan menggunakan sistem modular pada struktur kolom, sehingga
dibentuk ruang-ruang yang modular. Rumah susun yang dibangun ditahap awal adalah bagian
kerangka dan kulit luar bangunan. Kemudian komunitas masyarakat mengatur pembagian
ruang antara sesama pemilik dalam rumah susun sesuai besaran stardar minimum. Rumah
susun direncanakan sebagai rumah susun yang dapat dikembangkan sendiri oleh pemiliknya.
Denah interiornya berupa open lay-out dengan satu kamar mandi dan pembatas antar ruang
yang diusahakan sendiri oleh pemiliknya. Material yang digunakan sebisa mungkin
memanfaatkan material yang ada di lokasi eksisting, seperti pasir dan batu kali dari sungai
yang didapat dari hasil pengerukan pada saat pembuatan talud, sehingga dapat menghemat
biaya.
Pembiayaan rusunami. Rusunami didanai oleh subsidi pemerintah berupa pembangunan
rumah inti pada rumah susun. Pembangunan pada tahap awal hanya berupa sistem struktur
dasar yang terdiri dari kolom, plat lantai, atap dinding luar bangunan dan kamar mandi.
Selanjutnya masyarakat mengembangkan sendiri ruang-ruang di dalamnya. Dalam
mengembangkan rumah susun ini penghuni bergabung dengan komunitas masyarakat dalam
hal pendanaan. Rumah susun memiliki konsep dapat dikembangkan dengan material yang
sanggup dibeli oleh masyarakat seperti papan triplek atau gipsum. Masyarakat mencicil harga
rumah inti kepada pemerintah dengan kredit bunga yang rendah dan memiliki sertifikat milik
atas ukuran luas rumah susun. Hal ini sebagai pengganti rumah mereka yang direlokasi dari
daerah yang tidak layak bangun di tepi sungai.
Pembiayaan rusunawa. Pemerintah bersama masyarakat menerapkan sistem bagi hasil
terhadap pengelolaan rumah susun sederhana sewa yang ditujukan oleh mahasiswa dengan
bantuan dari universitas. Pemerintah dan koperasi masyarakat bekerjasama dalam proses
perencanaan, masa konstruksi hingga post occupancy hunian tersebut. Sementara itu
universitas mendampingi pembangunan rumah susun ini dalam hal desain, sosialisasi dengan
masyarakat dan pelatihan masyarakat dalam teknik konstruksi.

5. Perbaikan MCK umum, IPAL dan biogas.


Limbah rumah tangga merupakan penyebab utama tercemarnya sungai Cikapundung. Untuk
mengurangi pencemaran terhadap sungai ini tentu diperlukan teknologi yang tepat guna, murah

18
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

dan efisien. Saat ini limbah cair dari kamar mandi penduduk yang tinggal di permukiman di
tepi sungai langsung dialirkan ke sungai Cikapundung tanpa pengolahan lebih lanjut. Dengan
pembebasan lahan sempadan sungai maka lahan tersebut dapat digunakan untuk keperluan
pengolahan limbah.

Diagram 8. Sistematisasi pelaksanaan program perbaikan


saluran sanitasi dan pengolahan limbah secara terpadu

Beberapa hunian di lokasi studi tidak memiliki kamar mandi pribadi sehingga mereka
menggunakan kamar mandi umum. Hal ini dapat menjadi potensi untuk penghematan lahan
dan pengelolaan hasil limbah yang lebih mudah dan kompak. Sedangkan untuk rumah yang
tetap berdiri di lokasi studi maka dilakukan revitalisasi terhadap sistem sanitasi rumah tangga
tersebut. Sedangkan untuk pembangunan rusunawa dan rusunami yang mengalami proses
perencanaan yang lebih matang maka pengelolaannya lebih terpadu. Dari ketiga aspek
pengelolaan limbah yang telah terpadu ini maka pengolahan selanjutnya dilakukan pada IPAL
yang dibangun di sisi sungai Cikapundung yang lahannya telah dibebaskan.
Konsep pengelolaan dan pengolahan limbah. Limbah rumah tangga yang tadinya dibuang
langsung akan diolah terlebih dahulu melalui septik tank. Sebelumnya beberapa penemuan
teknologi sederhana yang tepat guna ternyata dapat menjadikan limbah rumah tangga ini
sebagai potensi yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat. Pada normalisasi sungai
Cikapundung ini, limbah tinja dan kamar mandi terlebih dahulu diolah dengan teknologi yang
disebut anaerobic digester yang dapat menghasilkan biogas. Pengelolaan ini dilakukan secara
komunitas agar lebih mudah dan efektif dan penggunaan biogasnya diatur oleh komunitas yang
keuntungannya materinya dapat digunakan oleh masyarakat agar teknologi ini dapat
berkelanjutan. Selanjutnya material sisa pengolahan biogas ini diolah lebih lanjut dengan
sistem septic tank yang dapat meminimalisasi pencemaran sungai Cikapundung.
Umumnya pengolahan limbah dapat dilakukan dengan berbagai tipe, yang secara sederhana
dapat digambarkan dalam proses primer, sekunder dan tersier. Proses ini berbeda-beda
tergantung dari tingkat pencemaran dan bagaimana pemanfaatan yang akan dilakukan pada
produk keluaran masing-masing proses. Pada proses primer, limbah padat ditampung dari
aliran rumah dan mengalami proses pemisahan antara air dan kotoran/lumpur. Kemudian
bagian padat akan dikumpulkan dibuang baik untuk landfill atau dibakar di incinerator. Proses
sederhana ini terjadi seperti halnya yang terjadi di sistem septic tank konvensional dan mampu

19
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

memisahkan material organik, bakteri maupun lumpur dari kandungan air sehingga apabila
tidak dilakukan pengolahan lanjutan, maka air dapat diklorinisasi untuk melumpuhkan bakteri
yang tersisa dan dapat digunakan kembali. Sedangkan pada proses sekunder, untuk
menghilangkan material organik dan kandungannya, digunakan bekteri yang akan
mengkonsumsi kandungan limbah yang mengalir melalui tangki aerasi. Cara ini mampu
memisahkan 90% kotoran padat dan material organik dari air buangan. Proses tersier
merupakan pengolahan limbah tingkat lanjut dengan menggunakan bahan kimia untuk
menghilangkan fosfor dan nitrogen dari air dan atau penyaring. Air yang telah disaring
kemudian diberi klorin untuk membunuh bakteri yang tersisa.
(http://home.howstuffworks.com). Pada proses sekunder, salah satu varian teknologi yang
dapat digunakan pada hunian dengan skala komunitas agar pembiayaan dan pengelolaan lebih
efektif adalah Anaerobik Baffle Reactor (ABR). Sistem inilah yang diterapkan dalam teknik
dan strategi noemalisasi sungai Cikapundung. Output dari sistem ini adalah air yang layak
dialirkan tetap melalui sungai Cikapundung dengan tingkat pencemaran yang sangat rendah.
Air sisa ini tetap dialirkan ke Cikapundung karena apabila digunakan sistem pembuangan ke
riol kota maka pembiayaan yang dibutuhkan akan lebih besar dan tidak efektif sedangkan
apabila dialirkan ke sungai Cikapudung maka akan lebih hemat tempat dan efektif karena
pengalirannya dapat hanya dengan menggunakan gaya gravitasi ke sungai.

Gambar 4. Konsep
pengolahan limbah
terpadu

Untuk perumahan eksisting, maka perbaikan sistem sanitasi dapat dilakukan di jalan-jalan atau
gang lingkungan permukiman mereka. Berdasarkan survey dan pengamatan yang dilakukan,
salah satu lahan yang masih dapat dilakukan untuk intervensi perbaikan sistem sanitasi adalah
jalan-jalan tersebut yang merupakan milik umum. Pemipaan dapat dilakukan di bawah gang
lingkungan tersebut sehingga dapat meminimalisasi pembongkaran rumah yang dapat berujung
pada gejolak sosial.

Gambar 5. Konsep perletakan sistem IPAL

20
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Konsep pembiayaan. Hampir seluruh pihak yang tinggal atau berusaha di sisi sungai
Cikapundung memiliki andil dalam pencemaran sungai Cikapundung. Peran pihak swasta
seperti Ciwalk dan pasar Balubur dibutuhkan dalam pengadaan IPAL sebagai tanggung jawab
atas lingkungan atas pembangunan fungsi komersil mereka. Selanjutnya masyarakatlah yang
mengelola IPAL yang ada di sepanjang tepi sungai Cikapundung dengan memanfaatkan
potensi seperti biogas untuk kebutuhan mereka. Unsur akademis seperti pelatihan dan
bimbingan dalam pengadaan dan pengelolaan Ipal ini dibantu oleh pihak universitas yang ada
disekitarnya.

6. Wisata Kuliner
Wisata kuliner merupakan suatu program lanjutan yang dilaksanakan setelah keseluruhan
program (pembebasan lahan sempadan, pembangunan rusunawa dan rusunami, pembersihan
sungai, dan penghijauan) berhasil dilakukan. Kegiatan pemanfaatan ruang terbuka pada
sempadan sungai untuk wisata kuliner ini direncanakan untuk mewadahi kegiatan ekonomi
masyarakat setempat, yang memiliki mata pencaharian utama sebagai penjual makanan. Selain
itu, adanya kegiatan ini juga memfasilitasi kebutuhan warga pendatang (mahasiswa dan
karyawan) yang tinggal di daerah studi. Karenanya kegiatan wisata kuliner dialokasikan pada
sempadan sungai yang berada dekat dengan rusunawa maupun rusunami.
Teknis Pembiayaan. Payung-payung serta perlengkapan untuk para pedagang diusahakan
secara mandiri oleh masyarakat dan organisasi yang dibentuknya. Biaya diperoleh dari
sebagian hasil pengelolaan output-output yang dihasilkan sebelumnya seperti pengelolaan
sampah. Masing-masing warga yang berjualan pada lokasi wisata kuliner, wajib membayar
iuran kepada organisasi masyarakat, dan hasil dari iuran tersebut sebagian akan dikembalikan
kepada pemerintah sebagai pajak distribusi, yang dapat salah satu pemasukan bagi pemerintah
yang berfungsi mengembalikan modal yang telah dikeluarkan untuk keseluruhan program
normalisasi sungai Cikapundung.
Perencanaan Lokasi. Kegiatan wisata kuliner direncanakan pada sempadan sungai yang dekat
dengan rumah susun, sehingga jarak tempuhnya cukup dekat baik bagi masyarakat pembeli
maupun penjual. Selain itu program wisata kuliner dibuka setelah program lainnya seperti
pembersihan sungai dan pengolahan sampah sukses dilakukan, sehingga sungai yang bersih
dapat menjadi daya tarik wisata.

Gambar 6.Tampak atas lokasi wisata kuliner

21
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

Gambar 7. Perspektif dan potongan lokasi wisata kuliner

KESIMPULAN
Normalisasi sungai Cikapundung merupakan strategi perbaikan lingkungan yang terkait
dengan aspek-aspek lain. Penanganan perbaikan lingkungan sungai Cikapundung terkait erat
dengan perbaikan permukiman di sekitarnya. Selain menyangkut aspek fisik lingkungan, aspek
sosial juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam strategi dan teknis normalisasi sungai
ini, oleh karena itu strategi ini membutuhkan partisipasi semua pihak yang terlibat.
Keterlibatan masyarakat sebagai subjek sekaligus objek penanganan lingkungan ini perlu
diperhatikan semenjak awal sehingga tidak terjadi gejolak sosial yang tiba-tiba atas perubahan
yang dilakukan. Pemanfaatan sumber daya lokal seperti tenaga kerja dan material untuk
pembangunan; dan pengelolaan yang melibatkan masyarakat demi kepentingan mereka sendiri
dan kepentingan bersama merupakan strategi yang digunakan untuk pembangunan yang
berkelanjutan.
Pengadaan dana merupakan salah satu permasalahan perencanaan di negara berkembang.
Dalam normalisasi sungai Cikapundung, hal ini diupayakan berasal dari pemerintah berupa
pembiayaan untuk perbaikan daerah sempadan sungai. Sedangkan untuk bangunan seperti
rusunami dan rusunawa, pemerintah memberikan pinjaman kepada masyarakat dan sistem bagi
hasil untuk rusunawa. Universitas memberikan kontribusi berupa pendampingan dan pelatihan
masyarakat saat perancangan, konstruksi hingga post-occupancy rusunami dan rusunawa.
Diharapkan dengan terealisasinya normalisasi Sungai Cikapundung dapat mengembalikan
fungsi kawasan tersebut menjadi salah satu Kawasan Perlindungan Sumber Air (Cikapundung)
serta mengembalikan fungsi ekologis lingkungan dan dapat memfasilitasi perkembangan
masyarakat di sekitarnya.

22
AR 5241 perencanaan di negara berkembang

DAFTAR PUSTAKA
Harun, Ismet Belgawan, et al.2009, Laporan Akhir, Revitalisasi Permukiman kota :
Pengembangan Pola-Pola Baru Penataan Permukiman Kota Berbasisi Penyediaan dan
Penggunaan Air secra Berkelanjutan. LPPM ITB
PERDA NO 02 TAHUN 2004 TENTANG RTRW KOTA BANDUNG
PERMEN PU NO 63 TAHUN 1993 TENTANG SEMPADAN SUNGAI
Unescap dan UN HABITAT Tahun 2008,. Perumahan Bagi Kau Miskin di Kota-Kota Asia,
Organisasi berbasis Komunitas : Kaumm Miskin sebagai Agen Pembangunan,
www.un-habitat.org
www. dimsum.its.id
http://anafio.multiply.com/reviews/item/3
http://eryemeb.wordpress.com/2007/06/13/membuat-sistem-pengelolaan-air-hujan/
http://home.howstuffwork.com
http://www.biopori.com/

23