P. 1
pengaruh penyuluhan terhadap tingkat kunjungan K4

pengaruh penyuluhan terhadap tingkat kunjungan K4

|Views: 5,205|Likes:
Dipublikasikan oleh norman mahendra

More info:

Published by: norman mahendra on Aug 09, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2014

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, dan dapat dinilai dari derajat kesehatan masyarakat. Padahal situasi derajat kesehatan Indonesia masih rendah. Hal itu bisa dibaca dari peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang masih pada peringkat 107 dari 177 negara berdasarkan penilaian lembaga kependudukan dunia, UNDP tahun 2007, berada di bawah Vietnam. Sekretaris Jenderal Depkes Dr Sjafii Ahmad MPH pada jumpa pers HKN ke-44 di Jakarta , memaparkan, rendahnya derajat kesehatan Indonesia lantaran masih tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka gizi kurang. Dari ketiga masalah tersebut, yang menjadi prioritas tertinggi yaitu angka kematian ibu hamil, karena rawannya masalah kesehatan ibu ini memberikan dampak yang bukan terbatas pada kesehatan ibu saja tetapi berpengaruh secara langsung terhadap kesehatan janin dan bayi. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 – 2003, AKI di Indonesia masih tinggi, yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup. Di dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes RI disebutkan bahwa situasi ini menjadikan AKI di Indonesia tertinggi di ASEAN, sehingga menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas. Sedangkan menurut Profil Kesehatan Kabupaten Jombang 2008, angka kematian ibu maternal ( AKI ) adalah sebesar 94,5 per 100.000 kelahiran hidup. Dirjen Bidang Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan, Dr Azrul Azwar mengatakan, tingginya AKI dapat disebabkan “3 TERLAMBAT”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat membawa ke rumah sakit dan terlambat mendapat pertolongan. Disamping itu akibat “4 TERLALU”, yakni terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu sering hamil dan terlalu sering melahirkan.

1

Masalah tingginya kematian ibu hamil ini dapat kita cegah dengan mengadakan upaya promotif dan preventif, yang dapat dilakukan dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan ibu hamil ke sarana kesehatan, minimal 4 kali selama kehamilan, dimana 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan rutin ini kesehatan ibu dan janin terpantau secara berkesinambungan, dan apabila ada komplikasi dalam kehamilan ibu tersebut dapat ditemukan sedini mungkin dan dilakukan penanganan cepat dari tenaga kesehatan. Dan didapatkan dalam Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) 2001 angka kematian ibu maternal dapat diturunkan sampai 20% hanya dengan pelayanan kesehatan dasar seperti pelayanan antenatal. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Bareng tahun 2008 menunjukkan indikator kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 belum mencapai target yakni hanya 84,06% dari target 94% yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, berarti telah terjadi kesenjangan antara cakupan dengan target sebesar 9,94%, dan hal ini menjadi masalah kesehatan yang terjadi di Kecamatan Bareng, Jombang. Faktor – faktor menurut H.L Blum yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu masalah kesehatan yaitu herediter, lingkungan, sarana pelayanan kesehatan, dan lifestyles. Lifestyles meliputi perilaku ibu hamil untuk datang memeriksakan kehamilan, sebelum seseorang berperilaku maka orang tersebut terlebih dahulu mempunyai sikap dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan pengetahuan yang dialami sebelumnya. Hal tersebut dijadikan dasar dan paradigma untuk bertindak sehingga tingkat pengetahuan merupakan yang urgent dalam menentukan determinan perilaku (Notoatmodjo, 1997). Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ichda Masrianto dan Moh Hakimi tentang Hubungan Pengetahuan, Sikap Ibu Hamil Terhadap Kunjungan Pelayanan Antenatal di Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap kunjungan antenatal.

2

Dari rekapitulasi PWS ( Pemantauan Wilayah Setempat ) KIA untuk 13 desa di wilayah Puskesmas Bareng bulan Januari sampai Desember 2008 didapatkan Desa Karangan memiliki cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang terendah yaitu hanya sebesar 57,14%. Inilah alasan pemilihan Desa Karangan untuk dilakukan penelitian dan terapi komunitas untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, sehingga cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 dapat ditingkatkan pada tahun mendatang. 1.2 Rumusan Masalah Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang pada Januari sampai Mei 2009? 1.3 1.3.1 Manfaat Penelitian Manfaat bagi Peneliti 1. Sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan penelitian khususnya di bidang kesehatan. 2. Sebagai sarana untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 1.3.2 Manfaat bagi Masyarakat 1. Sebagai wacana pengetahuan masyarakat Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. 2. Sebagai sarana memperoleh pengetahuan masyarakat Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang tentang pentingnya memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali ke sarana pelayanan kesehatan. 1.3.3 Manfaat bagi Institusi Kesehatan 1. Sebagai bahan evaluasi terhadap program pemerintah dalam bidang Kesehatan Ibu dan Anak.

3

2. Sebagai sarana untuk membantu meningkatkan persentase cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. 3. Sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan dan penyusunan programprogram Kesehatan Ibu dan Anak.

4

BAB 2 TUJUAN PENELITIAN 2.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil dengan rendahnya cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. 2.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan K4. 2. Mengetahui status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang pada Januari sampai Mei 2009. 3. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang pada Januari sampai Mei 2009.

5

BAB 3 METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan Penelitian Operasional, yang dilakukan melalui tahapantahapan, yaitu : 1. 2. 3. 4. Pengenalan Medan Diagnosa Komunitas Terapi Komunitas Evaluasi

Pada tahap yang pertama, yaitu Pengenalan Medan, Penelitian dilakukan secara observasional, dimana peneliti hanya mengamati dan tidak memberikan tindakan, dan analisa datanya menggunakan metode statistik analitik, dimana peneliti ingin mencari hubungan antara variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan ibu hamil dan variabel tergantung yaitu kunjungan pemeriksaan kehamilan K4. Sedangkan menurut waktu pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan pendekatan secara cross-sectional, karena penelitian ini dilakukan secara langsung dalam satu periode waktu tertantu. Pada tahap yang kedua, yaitu Diagnosa Komunitas, dilakukan sejumlah kegiatan, diantaranya dilakukan lokakarya dengan tujuan untuk menyimpulkan masalah kesehatan yang dijumpai serta mengambil keputusan bersama untuk melakukan program perbaikan untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut. Pada tahap yang ketiga, yaitu terapi komunitas, dilakukan pelaksanaan program yang terpilih dan tersusun untuk mengatasi masalah kesehatan yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosa kesehatan. Pada tahap keempat dan terakhir, yaitu tahap evaluasi dilakukan penilaian dari rangkaian proses pelaksanaan dan hasil program tersebut. 3.1 Lokasi Penelitian Pemilihan lokasi penelitian sesuai dengan penugasan oleh Biro Koordinasi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga kepada kami di Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Adapun tempat yang kami pilih sebagai lokasi penelitian adalah Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 6

3.2

Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2009 hingga 2 Juli 2009. 3.3 Populasi Penelitian Elemen Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang sudah melahirkan pada 1 Januari sampai 31 Mei 2009 yang bertempat tinggal di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 3.4 Sampel Penelitian Sampel penelitian ini adalah total populasi yang terpilih sebagai responden berdasarkan kriteria inklusi, yang disebabkan karena jumlah populasi ibu melahirkan antara 1 Januari – 31 Mei 2009 di Desa Karangan hanya berjumlah 28 orang. Kriteria eksklusi sampel : 1. 2. 3. Ibu yang tidak melahirkan antara 1 Januari – 31 Mei 2009 Ibu yang tidak bersedia diwawancara Ibu yang tidak berada di tempat pada saat dilakukan wawancara

3.5

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah : Variabel 1 Variabel 2 : Tingkat pengetahuan ibu hamil : Kunjungan pemeriksaan kehamilan K4

7

3.5.2

Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian No. A. Variabel Variabel 1 Parameter Instrumen Skala Skor

8

Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan

Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu yang melahirkan antara 1 Januari -31 Mei 2009 tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan

Kemampuan menjawab Kuesioner pertanyaan bagi ibu yang terpilih sebagai responden mengenai : 1. Pengetahuan tentang resiko tinggi saat kehamilan 2. Pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan untuk mendeteksi dini resiko tinggi dalam kehamilan 3. Pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan

Nominal

• Jawaban benar nilai 1 • Jawaban salah nilai 0 Tingkat pengetahuan: 1. Tingkat pengetahuan baik ≥ mean 2. Tingkat pengetahuan kurang < mean

B

Variabel 2

9

Kunjungan pemeriksaan kehamilan K4

Kunjungan ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III

1. Pengalaman Kuesioner ibu melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan pada kehamilan terakhir yang lalu. 2. Frekuensi melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan pada kehamilan terakhir yang lalu Daftar tilik Observasi melihat data kunjungan pemeriksaan kehamilan ibu pada catatan bidan desa di buku kohort ibu dan buku KIA ibu

Nominal

1. Dikatakan K4 bila : ibu hamil melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III 2. Dikatakan tidak K4 bila : a. Ibu hamil tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan, atau b. Ibu hamil melakukan kunjungan pemeriksaan ’kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan < 4kali Ibu hamil yang melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan 4kali tapi tidak 1 kali pada trimester I,1 kali pada trimester II,dan 2 kali pada trimester III.

10

3.6 Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan oleh petugas pengumpul data, yaitu Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, pengalaman ibu serta frekuensi ibu melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan pada kehamilan terakhir yang lalu, serta observasi kunjungan pemeriksaan kehamilan ibu pada kehamilan terakhir yang lalu pada buku kohort ibu dan buku KIA ibu. Setelah data diambil, data diperiksa kelengkapannya agar tidak terjadi kesalahan pengisian dan sedini mungkin dapat diklarifikasi kembali. Daftar nama dan alamat ibu yang telah melahirkan pada 1 Januari sampai 31 Mei 2009 didapat dari data sekunder yaitu buku kohort ibu dari bidan desa Karangan, dan dengan bantuan ibu kader di 5 dusun membantu menemukan alamat responden. 3.7 Uji Validitas dan Reliabilitas Data yang diperoleh dari kuisioner yang dibagikan tanggal 24 Juni 2009 kepada 20 responden di Desa Karangan, dilakukan uji validitas terhadap 17 pertanyaan dalam kuesioner. Uji validitas menggunakan Pearson’s Correlation, didapatkan 13 pertanyanan valid dan 4 pertanyaan tidak valid. Hal ini menunjukkkan dari 17 pertanyaan dalam kuesioner, 13 pertanyaan diantaranya dapat dipahami oleh seluruh responden, sedangkan 4 pertanyaan tidak dapat dipahami. Maka 4 pertanyaan yang tidak valid dihilangkan dari daftar pertanyaan dalm kuesioner. Sementara pada uji reliabilitas didapatkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,792. Nilai ini lebih tinggi daripada nilai alpha 0,6 hal ini berarti bahwa kuisioner ini reliabel atau dapat dipakai oleh orang lain diluar Desa Karangan.

10

Tabel 3.2 Penilaian Uji Validitas
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11 12 13 14 15 16. 17. Pengetahuan tentang Gizi Resiko usia terlalu muda/tua Jarak kehamilan lagi dengan persalinan Resiko punya terlalu banyak anak Akibat tinggi ibu < 145cm Bahaya keguguran Bahaya sungsang Kehamilan beresiko Pemeriksaan kehamilan Manfaat memeriksakan kehamilan Kegunaan pengukuran tinggi rahim Imunisasi saat pemeriksaan kehamilan Jenis imunisasi Obat yang diminum selama hamil Frekuensi datang memeriksakan kehamilan Frekuensi periksa saat trimester I Frekuensi perksa saat trimester II Frekuensi periksa saat trimester III
* Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed) **Correlation is significant at the 0,01 level (1-tailed)

Pearson’s correlation - 0,083 0,298 0,572** 0,289 0,423* 0,384* 0,416* 0,331 0,459* 0,400* 0,622** 0,462* 0,520** 0,393* 0,636* 0,674* 0,466*

Keterangan Tidak Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari data penilaian uji validitas diatas didapatkan 13 pertanyaan yang valid, maka ketigabelas pertanyaan tersebut digunakan untuk pertanyaan kuesioner penelitian kami.

3.8 Pengolahan dan Analisis Data Nilai total pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal adalah jumlah nilai hasil jawaban responden mulai pertanyaan nomer 6 sampai nomor 19 dari kuesioner tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi dalam kehamilan dan kunjungan antenatal. Dari jawaban responden tersebut akan dijumlah, dan dihitung rata – rata (mean) nilai dari seluruh responden. Bila jumlah nilai pengetahuan di bawah nilai mean maka akan dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan kurang, sebaliknya jika jumlah nilai total diatas nilai mean maka akan dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan baik. Kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 dilakukan dengan kuesioner untuk menggali pengalaman ibu hamil melakukan kunjungan antenatal sampai 4 kali

11

selama kehamilan dengan syarat 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III, diperkuat pula dengan observasi melihat data kunjungan antenatal yang telah dilakukan ibu di buku KIA ibu. Dan bila ibu tersebut telah melakukan kunjungan antenatal 4 kali dan dengan syarat 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III, maka akan dikategorikan K4, dan bila Ibu hamil tidak melakukan kunjungan antenatal, atau melakukan kunjungan antenatal ke sarana pelayanan kesehatan < 4 kali, melakukan kunjungan antenatal 4 kali namun tidak 1 kali pada trimester I, dan 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III, maka akan dikategorikan tidak K4. Analisa data dilakukan dengan cara statistik deskriptif untuk menyajikan tabel distribusi frekuensi dan diagram dari masing-masing variabel. Kemudian dilakukan analisa hasil penelitian dengan metode statistik analitik menggunakan program SPSS versi 13.0 dengan skala pengukuran nominal dan nominal . Hubungan korelasi antara variabel bebas dan variabel tergantung akan dianalisa dengan bantuan program SPSS versi 13.0 melalui uji korelasi koefisien kontingensi.

12

BAB 4 JADWAL KERJA 4.1 4.1.1 Rencana Program Lokakarya Puskesmas Man Money Material Method Machine Market Time : Dokter Muda : Iuran Kelompok Dokter Muda : Hasil survei lapangan dan Rencana Terapi Komunitas : Presentasi dilanjutkan diskusi serta brainstorming : Laptop dan LCD Projector : Tenaga kesehatan Puskesmas Bareng : Sebelum pelaksanaan terapi komunitas

Penyuluhan Pada Ibu Hamil dan Kader Man Money Material Method Machine Market Time : Dokter Muda dan Bidan Desa : Iuran Kelompok Dokter Muda : Pesan pentingnya kunjungan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan : Penyuluhan dan Diskusi : Papan Materi : Ibu hamil dan Kader Desa Karangan : Setelah lokakarya puskesmas

Evaluasi Program Man Money Material Method Machine Market Time : Dokter Muda : Iuran Kelompok Dokter Muda : Hasil pelaksanaan terapi komunitas : Presentasi hasil penelitian dan terapi komunitas dan Brainstorming : Laptop dan LCD Projector : Tenaga kesehatan Puskesmas Bareng : Setelah pelaksanaan terapi komunitas

13

Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Penelitian No 1 2 Jenis Kegiatan I-VI Persiapan Usulan Penelitian Orientasi lokasi penelitian dan mengumpulkan 3 4 5 6 survey data sekunder Seminar usulan penelitian Uji coba instrumen Pengumpulan data Pengolahan data dan penyusunan laporan 7 8 9 penelitian Lokakarya Diagnosis Komunitas Penyuluhan kesehatan (Terapi 10 Komunitas) Seminar hasil Penelitan X X X X X X VII Waktu (Hari) VII-X XI-XIII XIV-XVI XX

X

X X X X

X

X

BAB 5 MASALAH KESEHATAN YANG DIPELAJARI

14

5.1

Kerangka Konseptual

FAKTOR PELAYANAN KESEHATAN

FAKTOR PERILAKU Pengetahuan Ibu Hamil

Angka Kematian Ibu Hamil Kunjungan Pemeriksaan V Kehamilan K4

FAKTOR LINGKUNGAN

FAKTOR HEREDITER

KETERANGAN : Variabel yang diteliti : Variabel lain yang mempengaruhi

Gambar 5.1. Kerangka Konseptual 5.2 Ilustrasi Kerangka Konseptual Masalah angka kematian ibu hamil yang tinggi masih menjadi prioritas bagi Indonesia untuk ditangani, kematian ibu hamil sebagian besar disebabkan oleh komplikasi kehamilan, antara lain perdarahan, infeksi, dan eklampsia. Sementara komplikasi kehamilan ini dapat tertangani dengan deteksi dini yang dilakukan dalam kunjungan antenatal oleh karena itu kunjungan antenatal rutin minimal 4 kali selama kehamilan sangat penting untuk dilakukan. Karena dari kunjungan antenatal itu dapat mendeteksi sedini mungkin komplikasi dalam kehamilan sehingga dapat segera memperoleh pelayanan rujukan yang efektif, selain itu dapat mempersiapkan kehamilan yang aman, serta memberikan pendidikan tentang kehamilan kepada ibu hamil. Salah satu yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan masyarakat yaitu angka kematian ibu hamil, 15

yang dapat dinilai dari angka kunjungan pemeriksana kehamilan K4. Menurut teori Blum derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor,yaitu herediter, perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini kami menitikberatkan penelitian kepada faktor perilaku terutama pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan, karena berakar dari pengetahuan ibu tersebut maka akan mempengaruhi sikap dan perilakunya untuk melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan, sedangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 tidak kami teliti. 5.3 Hipotesis Penelitian Hipotesis: • dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang • H1: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang 5.4 5.4.1 Tinjauan Pustaka Resiko Tinggi Dalam Kehamilan Ada 3 kelompok faktor resiko dalam kehamilan menurut kartu skor Poedji Rochjati yaitu : 1. Kelompok Faktor Resiko I Ada – Potensi – Gawat – Darurat (APGO) terdiri dari 7 terlalu dan 3 pernah. Terlalu muda, hamil pertama umur 16 tahun atau kurang (Primi Muda); Terlalu lambat, hamil pertama setelah menikah 4 tahun atau lebih (Primi Tua); Terlalu tua, hamil pertama umur 35 tahun keatas (Primi Tua); Terlalu cepat punya anak lagi, anak terkecil < 2 tahun; Terlalu lama punya anak lagi, anak terkecil 10 tahun atau lebih (Primi Tua Sekunder); Terlalu banyak punya anak 4 atau lebih (Grande Multi); Terlalu tua hamil umur 35 atau lebih; Terlalu pendek : hamil I,II H0 : Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil

16

atau lebih belum pernah melahirkan normal, cukup bulan, hidup (tinggi badan kurang dari 145 cm); Pernah gagal kehamilan, hamil II yang I gagal, hamil III atau lebih 2X gagal, yang terakhir lahir mati (Riwayat Operasi Jelek); Pernah melahirkan dengan tarikan tang atau vacum, Pernah melahirkan dengan uri dirogoh/uri manuil, Perdarahan Post Partum diberi infus (Persalinan yang lalu dengan tindakan Bukan Operasi Sesar); Pernah melahirkan bayi dengan operasi sesar sebelum hamil ini (Bekas Operasi Sesar) 2. Kelompok Faktor Resiko II Ada – Gawat – Obstetrik (AGO) yaitu : Ibu hamil dengan penyakit seperti Kurang darah, Malaria, TBC paru, Penyakit Jantung, Kencing manis (Diabetes), Penyakit Menular Sexual; Keracunan kehamilan Pre eklampsia, bengkak pada muka dan tungkai (ditandai dengan Tekanan Darah yang tinggi, Albumin terdapat dalam air seni); Hamil Kembar, perut ibu sangat membesar dan gerak anak terasa dibanyak tempat; Hidramnion / kembar air, perut ibu sangat membesar, gerak anak tidak begitu terasa; Janin mati dalam kandungan, ibu hamil merasa tidak ada gerakan anak lagi; Hamil lebih bulan / post date / serotinus yaitu ibu hamil 9 bulan lebih 2 minggu belum melahirkan; Letak Sungsang, letak lintang 3. Kelompok Faktor Resiko III Ada – Gawat – Darurat – Obstetri (AGDO) yaitu Perdarahan Antepartum mengeluarkan darah pada hamil ini; Pre eklampsia Berat / Eklampsia terjadi kejang-kejang pada hamil 7 bulan atau lebih pada ibu dengan keracunan kehamilan 5.4.2 Pelayanan Antenatal Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, perawat bidan) pada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang sesuai dengan standar pelayanan minimal pelayanan antenatal meliputi 5 T yaitu Timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur Tekanan darah, imunisasi TT, ukur Tinggi fundus uteri dan pemberian Tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan.

17

Dengan demikian secara operasional pelayanan antenatal yang tidak memenuhi 5 T belum dianggap pelayanan antenatal. Ditetapkan pula frekuensi pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada triwulan pertama dan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan antenatal seharusnya mencakup berbagai jenis pelayanan , komponen penting yang harus ada yaitu : skrining dan pengobatan penyakit anemia, malaria dan penyakit menular seksual, kemudian deteksi dan penanganan komplikasi seperti kelainan letak (malpresentasi), hipertensi, edema, dan preklampsia, serta penyuluhan tentang komplikasi esensial, kapan dan bagaimana cara mendapatkan pelayanan rujukan. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid dapat menurunkan kemungkinan kematian bayi dan mencegah kematian ibu akibat tetanus. Semua ibu hamil harus diberitahukan tentang pemberian 5 suntikan tetanus sesuai dengan program TT seumur hidup. Selain itu ibu hamil juga harus memahami bahwa resiko infeksi tetanus akan berkurang jika persalinannya dibantu oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Setiap ibu hamil yang belum pernah diberikan imunisasi tetanus harus mendapatkannya paling sedikit 2 kali suntikan selama kehamilannya, yaitu pertama pada saat kunjungan antenatal pertama dan kali kedua pada 4 minggu kemudian. Walaupun demikian apabila ada waktu, suntikan ketiga dapat diberikan juga. Untuk mencegah tetanus terhadap bayi baru lahir, dosis terakhir harus diberikan paling lambat 2 minggu sebelum melahirkan Apabila ibu pernah diberikan imunisasi sebelumnya, maka satu kali pemberian serum tambahan masih diperlukan selama kehamilannya. Berikan satu suntikan pada kunjungan antenatal pertama, paling lambat 2 minggu sebelum persalinan

18

Tabel 5.1 Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid Lengkap Imunisasi TT1 TT2 TT3 TT4 TT5 Interval Pada kunjungan antenatal pertama 4 minggu setelah TT1 6 bulan setelah TT2 1 tahun setelah TT3 1 tahun setelah TT4 25 3 5 10 tahun tahun tahun hidup Pemberian tablet besi berguna untuk peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan dan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan janin yang adekuat. Kebutuhan zat besi meningkat seiring dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi kebutuhan ibu hamil dapat minum tablet zat besi, dan makan dengan gizi seimbang. Makanan yang mengandung zat besi adalah daging, hati dan jeroan, telur, polong kering, kacang tanah, kacang-kacangan dan sayur berdaun hijau. Apabila kekurangan zat besi, ibu hamil akan mengalami anemia. Ibu hamil dengan anemia cenderung mengalami kelahiran prematur, mudah jatuh sakit akibat daya tahan tubuh yang lemah, melahirkan bayi dengan berat badan rendah, mengalami perdarahan pasca persalinan dan angka kematian yang tinggi. Ibu hamil yang mengalami anemia banyak dijumpai pada jarak kehamilan yang terlalu dekatt, penderita penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi kronis. Tablet tambah darah diberikan kepada setiap ibu hamil paling sedikit 90 tablet, dengan dosis 1 (satu) tablet setiap hari selama kehmilannya (pada saat minum Fe dianjurkan tidak menggunakan air teh/ kopi dan sangat dianjurkan untuk minum vitamin C). Tablet zat besi mengandung 60 mg zat besi dan 0,25 mg asam folat. Salah satu efek sampng penggunaan zat besi adalah sembelit. Untuk mengatasi sembelit, ibu hamil dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi makanan berserat, banyak minum air putih dan olahraga. tahun / seumur Durasi perlindungan ..

19

5.4.2.1 Tujuan pelayanan antenatal Tujuan pelayanan antenatal antara lain memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu, mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan mempersiapkan ibu agar dapat memberikan ASI secara eksklusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin agar dapat tumbuh kembang secara normal, mengurangi bayi lahir prematur, kelahiran mati, dan kematian neonatal, serta mempersiapkan kesehatan yang optimal bagi janin. 5.4.2.2 Kegiatan dalam pelayanan antenatal Pada kunjungan antenatal pertama, mulai dikumpulkan informasi mengenai ibu hamil yang akan membantu dalam membangun hubungan kepercayaan antara pemberi pelayanan kepada ibu, mendeteksi komplikasi, dan menyusun rencana khusus bila diperlukan. Sedangkan kunjungan berikutnya dikumpulkan informasi mengenai kehamilan untuk mendeteksi komplikasi dan melanjutkan pemberian pelayanan yang diperlukan. Pada kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan kehamilan yang meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik terhadap ibu hamil, diagnosa, prognosa, dan terapi. Anamnesa pada kunjungan pelayanan antenatal pertama ibu hamil, meliputi : 1. Identifikasi ibu ( nama, nama suami, usia, pekerjaan, agama, alamat ibu ), untuk mengenal ibu hamil dan menentukan status sosial ekonominya ) 2. Keluhan utama/apa yang diderita, apakah ibu dating untuk memeriksakan kehamilan/ada masalah lain dalam kehamilannya. 3. Riwayat haid, untuk mengetahui faal alat kandungan 4. Riwayat perkawinan

20

5. Riwayat kehamilan sekarang, antara lain HPHT ( Hari Pertama Haid Terakhir ) untuk membantu menentukan usia kehamilan dengan tepat dan perkiraan tanggal persalinan, gerak janin ( kapan mulai dirasakan apakah ada perubahan ), masalah/tanda – tanda bahaya, keluhan yang lazim pada kehamilan, penggunaan obat – obatan termasuk jamu. Informasi yang didapat digunakan untuk membantu mendeteksi komplikasi kehamilan dan konseling tentang kehamilan. 6. Riwayat kebidanan yang lalu, antara lain berapa kali hamil, anak lahir hidup, persalinan tepat waktu, persalinan dengan tindakan, perdarahan pada kehamilan atau kelahiran, riwayat persalinan yang lalu, riwayat hipertensi, berat lahir janin < 2,5 kg atau > 4 kg, riwayat nifas dan laktasi, kondisi bayi yang dilahirkan, masalah-masalah lain yang dialami 7. Riwayat kesehatan, yaitu penyakit yang pernah diderita seperti penyakit kardiovaskular, TB paru, Diabetes, Hipertensi, PMS, Malaria, Status Imunisasi TT 8. Riwayat Keluarga, seperti riwayat anak kembar, penyakit keturunan 9. Riwayat Sosial Ekonomi dan Budaya, yaitu : status perkawinan, riwayat KB, reaksi orang tua dan keluarga terhadap kehamilan ini, dukungan keluarga, pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan makan dan gizi yang dikonsumsi terutama vitamin A dan zat besi, kebiasaan hidup sehat, meliputi kebiasaan merokok, minum obat/ alcohol/jamu, kegiatan sehari hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan, beban kerja dan kegiatan sehari – hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan. 10. Menentukan Taksiran persalinan Saat persalinan bisa ditentukan saat kunjungan antenatal pertama, dengan anamnesa ataupun dengan klinis seperti melihat besarnya uterus maupun dengan menggunakan ultrasonografi. Dari anamnesa, dapat membantu untuk mengetahui dukungan terhadap ibu dan pengambil keputusan dalam keluarga, sehingga membantu ibu dalam merencanakan persalinan yang lebih baik.

21

Pemeriksaan fisik Dilakukan dengan secermat mungkin dan perlu ketelitian sehingga didapat diagnosa yang tepat, selain itu dapat juga untuk mendeteksi penyulit dan komplikasi kehamilan. 1. Pemeriksaan Luar a. Pemeriksaan Umum Keadaan umum ibu, gizi, kesadaran, anemi, sianosis, ikterus atau dispnoe,keadaan jantung dan paru, suhu badan, tekanan darah, denyut nadi dan pernafasan,oedema, tinggi badan, berat badan, reflek, pemeriksaan laboratorium sederhana (Hb, golongan daran dan urine rutin) b. Pemeriksaan Kebidanan Inspeksi Kepala dan leher : rambut rontok, edema, chloasma di wajah, konjungtiva, sclera, bibir pucat, lidah pucat karies gigi, pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid dan tonsil Dada : bentuk payudara, pigmentasi putting susu, keluar kolostrum Perut : ascites, keadaan pusat, linea alba, ada gerakan anak atau tidak, kontraksi rahim, striae gravidarum dan bekas luka operasi Vulva : keadaan perineum, varices, tanda Chadwick, fluor, condyloma Anggota Bawah : Varices, oedema, luka, sikatrik pada lipat paha Palpasi ( Periksa Raba ) Dilakukan untuk menentukan: Besarnya rahim untuk menentukan tuanya kehamilan Letak anak dalam rahim

Terdiri atas 4 bagian: Leopold I, untuk menentukan tuanya kehamilan dan bagian apa yang terdapat dalam fundus.

22

Leopold II, untuk menentukan letak punggung janin dan letak bagian kecil-kecil janin. Leopold III, untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah rahim dan apakah bagian bawah janin sudah terpegang oleh pintu atas panggul. Leopold IV, untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan berapa jauhnya bagian bawah ini masuk kedalam rongga panggul. Hubungan tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan : Perkiraan usia kehamilan setelah minggu 24, cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan pita ukuran. Ukur tinggi fundus uteri dengan pita ukuran dari simfisis pubis ke fundus uteri. Rumus : tinggi fundus uteri (cm) = tua kehamilan (bulan) 3,5 cm Auskultasi Digunakan stetoskop atau Doppler, untuk mendengar bunyi ajantung janin, bising tali pusat, gerakan janin, bising rahim, bunyi aorta dan bising usus. Pemeriksaan Dalam Dilakukan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan antenatal pada kehamilan muda dan sekali lagi pada kehamilan trimester III untuk menentukan keaadan panggul. Pemeriksaan Antenatal Ulangan Yaitu setiap kunjungan pemeriksaan antenatal yang dilakukan setelah kunjungan pemeriksaan antenatal pertama. Kunjungan ulang lebih diarahkan untuk mendeteksi komplikasi, mempersiapkan kelahiran, dan mendeteksi kegawatdaruratan, pemeriksaan fisik yang terarah serta penyuluhan bagi ibu hamil, meliputi: 1. Riwayat kehamilan sekarang ;

23

a. Gerak janin b. Setiap masalah atau tanda-tanda bahaya c. Keluhan-keluhan lazim dalam kehamilan d. Kekhawatiran-khawatiran lain 2. Pemeriksaan Fisik a. Berat badan b. Tekanan darah c. Pengukuran tinggi fundus uteri (setelah kehamilan 12 minggu dengan palpasi, setelah kehamilan 22 minggu dengan pita ukuran) d. Palpasi abdomen untuk deteksi kehamilan ganda (setelah 28 minggu) e. Manuver Leopold untuk deteksi kedudukan abnormal (setelah kehamilan 36 minggu) f. Bunyi jantung janin (setelah kehamilan 18 minggu) g. Menghitung taksiran berat badan janin 3. Pemeriksaan Laboratorium a. Khususnya terhadap protein dalam urine b. Pemeriksaan laboratorium lainnya, dilakukan bilamana ada indikasi Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik maka dapat ditegakkan diagnosa. Selain iu dapat pula diketahui hamil atau tidak, primi atau multigravida, usia kehamilan, janin hidup atau mati, janin tunggal atau kembar, letak anak, anak intra atau ekstrauterin, keadaan jalan lahir, keadaan umum penderita. Prognosa atau ramalan persalinan dibuat setelah ditegakkan diagnosa. Prognosa pesalinan dapat diperkirakan apakah akan berjalan normal dan lahir spontan atau sulit dan berbahaya. Setelah diagnosa ditegakkan, maka selanjutnya kita melakukan terapi. Tujuan terapi pada ibu hamil adalah untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam kehamilan dan menjelang persalinan. Keluhan yang mengganggu perlu diperlihatkan dan diberi pengobatan. Berikan konseling pada ibu hamil mengenai kehidupan waktu hamil, hygiene dan gizi, pemeriksaan antenatal, tanda-tanda bahaya.

24

Tabel 5.2 Penilaian Kunjungan Antenatal

Tanda-tanda bahaya Tanda-tanda bahaya selama masa kehamilan bila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi oleh ibu hamil dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu harus selalu diwaspadai kemungkinan tanda-tanda bahaya yang terjadi selama kehamilan. Pada setiap kunjungan pemeriksaan antenatal, sebaiknya kepada ibu hamil diberitahukan kondisinya kalau keadaannya normal dan bila ada kelainan. Kepada ibu hamil dan keluarganya perlu diajarkan tanda-tanda bahaya pada ibu

25

hamil, maka ibu hamil harus segera datang memeriksakan diri. Tanda – tanda bahaya telah dirangkum dalam tabel 5.3 di bawah ini. Tabel 5.3 Tanda Bahaya Dalam Kehamilan

26

27

5.4.2.3 Indikator pelayanan antenatal Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan (sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester

28

ketiga). Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil. 5.4.2.4 Perhitungan cakupan kunjungan antenatal K4 Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal K4 Kunjungan ibu hamil K4 = Jumlah sasaran ibu hamil x100%

5.4.3

Teori HL Blum Menurut HL Blum terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu herediter / genetik, lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku / gaya hidup.

Gambar 5.2 Gambar teori HL Blum

29

5.4.4

Pengetahuan Pengetahuan adalah suatu persatuan antara subyek dan obyek dengan mengetahui subyek menjadi manunggal dengan obyek dan obyek menjadi manunggal dengan subyek. Pengetahuan ini merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Dengan pengetahuan subyek yang tadinya tidak mengetahui menjadi mengetahui; obyek yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui. Oleh karena itu pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 1997).

5.4.4.1 Pengertian Pengetahuan

5.4.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Perilaku seseorang merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya. Gejala kejiwaan tersebut diatas, dalam hal ini pengetahuan, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah: 1. Pengalaman Pengalaman adalah totalitas segala pengamatan yang disimpan di dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau (Sudarsono, 2006). Pengalaman sendiri dipengaruhi oleh: a. Usia Pengalaman dapat diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya antara lain melalui proses belajar, sebagian lain seperti yang diperlihatkan oleh beberapa instrumen dasar khusus (bakat) bergantung kepada perkembangan umur yang bersangkutan. Makin bertambah usia seseorang, akan makin banyak pula pengalaman yang ia dapatkan, yang akan berpengaruh juga terhadap pengetahuan yang ia miliki. b. Jumlah Anak Wanita yang sudah memiliki anak umumnya mempunyai pengalaman lebih dibandingkan wanita yang belum mempunyai anak, dengan demikian, kemungkinan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi lebih

30

besar. Banyaknya persoalan yang diselesaikan menambah pula kemampuan untuk mengamalkan pengalamannya dalam penyelesaiannya persoalan yang baru. Dalam hal ini, persoalan yang dimaksud adalah membesarkan anak. Jika wanita sudah mempunyai anak, umumnya akan turut mendorong dirinya untuk mencari informasi demi pertumbuhan anaknya secara optimal. c. Status Keluarga Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat, dan orang tua atau keluarga bukan saja merupakan lingkungan pertama sejak kita dilahirkan tetapi juga merupakan lingkungan yang paling lama dijalani. Hubungan orang tua dan anak harus ditanamkan sejak dini karena proses itu merupakan suatu proses belajar. Dimana individu selalu mencontoh atau mengulangi apa yang pernah didapatkan dalam proses itu. 2. Pendidikan Samuel Soitoe (1982), mengemukakan bahwa pendidikan adalah segala sesuatu yang dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku manusia kearah yang lebih baik yang diharapkan. Arah yang baik berarti proses yang membawa seseorang kepada pengertian dan pelaksanaan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tempat ia hidup. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. 3. Kepercayaan Kepercayaan adalah sikap untuk menerima suatu pernyataan tanpa menunjukkan sikap pro atau anti kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Kepercayaan dapat tumbuh bila berulang kali mendapatkan informasi yang sama (Notoatmodjo, 1997). 4. Fasilitas Sumber Daya Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan perkara atau kelancaran tugas. Fasilitas mencakup orang, waktu, tenaga dan sebagainya.

31

Semua itu berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau kelompok masyarakat. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif. Ada atau tidaknya informasi atau fasilitas kesehatan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. 5. Kebudayaan / Sosial Budaya Masyarakat Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban mengandung pengertian yang luas meliputi perasaan aman, perasaan suatu bangsa yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan pembawaan yang diperoleh dari masyarakat (Nursalam, 2001). 5.4.4.3 Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmojo (1997) mempunyai 6 tingkatan:
1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. 2. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 32

4.

Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. 5. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengetahuan diperoleh dari hasil tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 1997). 5.4.4.4Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku Sebelum seseorang berperilaku maka orang tersebut terlebih dahulu mempunyai sikap dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan pengetahuan yang dialami sebelumnya. Hal tersebut dijadikan dasar dan paradigma untuk bertindak sehingga tingkat pengetahuan merupakan yang urgent dalam menentukan determinan perilaku (Notoatmodjo, 1997). Secara skematis hubungan antara pengetahuan dan perilaku digambarkan sebagai berikut:

33

Pengetahuan

Sikap

Perilaku

Gambar 5.3 Hubungan Antara Pengetahuan Dan Perilaku Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam tindakan seseorang. Sedangkan ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hubungan antara pengetahuan dan perilaku ini terkait dengan adanya 3 prinsip yaitu: 1. gagasan atau isi jiwa itu terbentuk dari asosiasi unsur-unsur yang berupa kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. 2. Behaviorisme yang menetapkan tingkah laku sebagai istilah dasar, yang menunjuk pada kehidupan mental, dan masalah pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan dari proses penanaman kondisi. Dan penghayatan kejiwaan terdiri dari proses sederhana yang terdiri dari rangsang (stimulus) dan disambut dengan tanggapan tertentu (response). 3. Koneksionisme, mempuyai konsep-konsep yang bersifat meningkatkan pandangan dari behaviorisme. Dikatakan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu membentuk tata jawaban (patterns of responses) dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus (S) dan respons (R) (Notoatmodjo, 2001). Asosianisme, yang menyatakan bahwa

34

BAB 6 PENGENALAN MEDAN 6.1 Analisis Situasi Puskesmas Bareng yang merupakan puskesmas perawatan dan puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatologi Esensial Dasar). Secara geografis, kecamatan Bareng merupakan wilayah Kabupaten Jombang dengan wilayah seluas 63,112 Km2 terletak di ketinggian 90m di atas permukaan laut, dengan suhu sekitar 230C– 300C. Terdiri dari 13 desa / 52 Dusun / 115 RW / 306 RT dengan ibukota kecamatan berada di wilayah desa Bareng. Dan yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Bareng adalah seluruh wilayah kecamatan Bareng karena Puskesmas Bareng merupakan satu-satunya Puskesmas di kecamatan Bareng. Puskemas Bareng terletak di jalan raya Dr. Sutomo no 47 Bareng Kabupaten Jombang, yang berjarak + 200 m dari kantor kecamatan, + 30 Km dari ibukota Kabupaten Jombang, dan + 80 Km dari iibukota Propinsi Jawa Timur. Batas wilayah kerja Puskesmas Bareng adalah sebagai berikut : Utara Selatan dan Kecamatan Kandangan Timur Barat : Kecamatan Jatirejo : Kecamatan Ngoro : Kecamatan Mojowarno. : Kecamatan Wonosalam

Peta Wilayah kerja Puskesmas Bareng

35

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bareng Kabupaten Jombang adalah 52.468 jiwa, dengan 15.349 rumah tangga/KK atau rata-rata 3 jiwa per rumah tangga. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 831/km2 dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di desa Banjaragung sebesar 1436 jiwa/km2 sedangkan yang terendah adalah di desa Jenis Gelaran sebesar 413 jiwa/km2. Jumlah sarana kesehatan tahun 2008 yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bareng Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut : Tabel. 6.1 Sarana kesehatan di wilayah kerja Kabupaten Jombang 2008 No 1 2 3 4 5 Sarana Kesehatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Posyandu Polindes Desa siaga Jumlah 1 3 70 9 13

Sumber : Tabel 43 lampiran Profil Kesehatan Puskesmas Bareng Kab. Jombang 2008

6.2

Standar Pelayanan Minimal Standar pelayanan minimal yang telah dilaksanakan Puskesmas Bareng meliputi KIA, KB, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, P2P, gizi.

Tabel 6.2 Data Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Bareng N o Jenis pelayanan Indikator Kerja Standar Pelayanan Minimal Target (%) 1 KIA 1. 2. 3. 4. K4 Neonatus resti Bumil risti oleh masyarakat Kunjungan balita 94 78 89 97 Pencap aian (%) 84,06 79,64 51,21 92,96 Kesenj angan -9,94 1,64 -37,79 -4,04 Keterangan Tidak Tercapai Tercapai Tidak Tercapai Tidak 36

2.

Kesehatan lingkungan

5. 6. 7. 8.

dan atrans di DDTK Kunjungan bayi Linakes persalinan Institusi yang dibina Rumah atau bangunan yang terbebas oleh jentik nyamuk aides aegepty Tempat umum yang memenuhi Cakupan akseptor aktif dibina UCI Penderita DBD yang ditangani Balita dengan diare yang ditangani

89 89 60

92,64 89,5 18

3,64 0,5 -42

tercapai Tercapai Tercapai Tercapai

95

95

0

Tercapai

9. 3. 4. KB P2P 10. 11. 12. 13.

70 80 90 100

68 82,65 92 34

-2 22,65 2 -66

Tidak Tercapai Tercapai Tercapai Tidak tercapai Tercapai Tidak tercapai Tidak tercapai Tidak tercapai Tidak tercapai Tidak tercapai Tercapai Tercapai

1249

2933

1584

5.

Promosi kesehatan

14. 15. 16. 17.

RT sehat Posyandu purnama Penyuluhan napza Bayi yang mendapatkan ASI

50 35 10

18,78 22,4 5

-31,22 -12,6 -5

70

62,8

-7,2

18.

eksklusif Desa dengan garam beryodium 90 33,8 -56,2

6.

Pelayanan gizi

29. 20.

Bumil mendapat 90 tablet Fe Balita mendapat vit.A 2X setahun

80 82

81,4 94,9

+1,4 +12,9

37

21.

Pemberian PASI pada bayi BGM dr 100 100 0 Tercapai Gakin Balita gizi buruk yang mendapat perawatan
Sumber: Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng Tahun 2008

22.

100

100

0

Tercapai

Dari data diatas, dicari masalah kesehatan yang ada pada masyarakat Kecamatan Bareng. Pengertian masalah berarti adanya kesenjangan antara target dengan pencapaian. Dari data diatas dapat diurutkan 10 indikator kerja yang memiliki angka kesenjangan terbesar: Tabel 6.3 Data 10 Indikator Kerja dengan Angka Kesenjangan Terbesar di Puskesmas Bareng Standar Pelayanan Minimal No Indikator Kerja Target (%) Pencapaian (%) Kesenjangan

1

Penderita DBD yang ditangani Desa dengan garam beryodium baik Institusi yang dibina Bumil risti oleh masyarakat RT sehat Posyandu purnama K4 Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif

100

34

-66

2 3 4 5 6 7 8

90 60 89 50 35 94 70

33,8 18 51,21 18,78 22,4 84,06 62,8

-56,2 -42 -37,79 -31,22 -12,6 -9,94 -7,2

38

9 10

Penyuluhan NAPZA Kunjungan balita

10 97

5 92,96

-5 -4,04

Sumber: Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng Tahun 2008

Salah satu indikator kesehatan yang belum tercapai adalah masih rendahnya angka persentase kunjungan antenatal ibu hamil K4. Target yang ditetapkan Dinas Kesehatan sebesar 95 % namun hanya tercapai 51,21 % pada tahun 2008. Pada tabel 4.7 berikut ini akan terlihat cakupan kunjungan antenatal (K4) di desa-desa yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Bareng sejak bulan Januari hingga Desember 2008. Tabel 6.4. Data Rekapitulasi Cakupan Kunjungan Antenatal ( K4 ) Puskesmas Bareng Januari – Desember 2008 DESA Bareng Mj Tengah Tebel Kebondalem Karangan Pakel Mundusewu Ngampungan Jenis Gelaran Pulosari Ngrimbi Nglebak Banjaragung Jumlah Kunjungan 148 61 65 100 40 65 62 70 33 56 56 25 79 Persentase (%) 81,31 92,42 82,27 97,08 57,14 92,85 79,48 100 66 78,87 87,5 69,44 94,04 Sasaran ( jumlah) 182 66 79 103 70 70 78 70 50 71 64 36 84 Peringkat IX V VIII II XIII IV X I XII VII VI XI III

39

Gambar 6.1 Persentase Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan K4 Kecamatan Bareng Januari – Desember 2008 Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa desa yang memiliki persentase kunjungan antenatal keempat ( K4 ) terendah adalah Desa Karangan, yaitu sebesar 57,14 % 6.3 Survei Lapangan Survei lapangan dilakukan dokter muda dalam rangka melakukan penelitian komunitas. Survei lapangan dilakukan di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Desa Karangan terdiri dari 5 dusun yaitu, Dusun Karangan Krajan, Dusun Karangan Wetan, Dusun Karangan Kulon, Dusun Belimbing, dan Dusun Jeruk. Dari kelima dusun tersebut kami mengambil total populasi yaitu semua ibu yang telah melahirkan pada 1 Januari sampai 31 Mei 2008, yang berjumlah 27 orang, karena di lapangan ditemukan 1 responden telah pindah. Kegiatan survei ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 25 Juni 2009. Survei dilakukan pada rumah ibu yang telah melahirkan pada Januari sampai Mei 2009, dimana alamat rumah responden didapat melalui data sekunder di polindes dan panduan oleh ibu bidan.

40

Gambar 6.2 Peta Desa Karangan 6.3.1 Data Lokasi Penelitian Desa Kecamatan Kabupaten Propinsi Luas Wilayah Desa Karangan Batas Wilayah Desa Karangan Batas utara Batas barat Batas timur : Desa Pakel : Desa Kebon Dalem : Desa Galeng Dowo : Karangan : Bareng : Jombang : Jawa Timur : 605.514 Ha :

Batas selatan : Kabupaten Kediri 41

6.3.2

Data Kependudukan Jumlah penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah KK : 3693 jiwa : 1796 orang : 1897 orang : 996

6.3.3

Data Pekerjaan Petani Buruh Tani Wiraswasta PNS Pedagang : 1745 orang : 582 orang : 3 orang : 5 orang : 18 orang

6.3.4

Data Pendidikan Belum Sekolah Tamat SD Sederajat Tamat SLTP Sederajat Tamat SLTA Sederajat Mahasiswa : 261 orang : 2232 orang : 745 orang : 437 orang : 18 orang

6.3.5

Data Penduduk Menurut Usia Usia 0 – 12 Bulan Usia 3 – 4 Tahun Usia 5 – 6 Tahun Usia 7 – 12 Tahun Usia 13 – 15 Tahun Usia 16 – 18 Tahun Usia 19 – 25 Tahun Usia 26 – 35 Tahun Usia 36 – 45 Tahun Usia 46 – 50 Tahun Usia 51 – 60 Tahun : 33 orang : 125 orang : 277 orang : 291 orang : 289 orang : 291 orang : 424 orang : 423 orang : 426 orang : 329 orang : 305 orang

42

Usia 61 - 75 Tahun Usia >75 Tahun

: 315 orang : 165 orang

Gambar 6.3 Survei di Desa Karangan

Gambar 6.4 Survei di Desa Karangan

43

Gamb ar 6.5 Kondisi jalan di Desa Karangan 6.4 Hasil Penelitian 6.4.1 Karakteristik Responden Tabel 6.5 Distribusi usia responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng Usia ( tahun ) 15 – 19 20 -24 25 -29 30 -34 35 – 39 Total
11.11%

6.4.1.1 Distribusi usia responden

Frekuensi 3 11 8 Usia 2 3 27
11.11%

Persentase ( % ) 11,1 40,7 29,6 7,4 11,1 15-19 100,0 20 -24
25-29 30 - 34 35 - 39

7.41%

40.74% 29.63%

44

Gambar 6.6 Diagram lingkaran distribusi frekuensi usia responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang Tabel 6.5 di atas menunjukkan distribusi usia responden dimana mayoritas responden berusia 20 – 24 tahun dengan persentase 40,7 %. Rentang usia tersebut tergolong dalam wanita usia subur. 6.4.1.2 Distribusi tingkat pendidikan responden Tabel 6.6 Distribusi tingkat pendidikan responden di Desa Karangan,Kecamatan Bareng Tingkat pendidikan Tidak tamat SD Tamat SD/sederajat Tamat SLTP/sederajat Tamat SMU/sederajat Perguruan Tinggi Total Frekuensi 0 18 8 1 0 27
Pendidikan Terakhir

Persentase ( % ) 0 66,7 29,6 3,7 0 100,0

Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA
3.7%

29.63%

66.67%

45

Gambar 6.7 Diagram lingkaran distribusi tingkat pendidikan responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng Dari tabel 6.6 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden memiliki latar belakang pendidikan tamat SD/sederajat yaitu sebanyak 66,7 %. Sementara responden yang mencapai tingkat pendidikan tamat SLTP hanya 29,6%, dan yang tamat SMU hanya 3,7%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden di Desa Karangan, Desa Bareng masih rendah. 6.4.1.3 Distribusi pekerjaan responden Tabel 6.7 Distribusi pekerjaan responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Petani Swasta Total Frekuensi 23 3 1 27 Persentase ( % ) 85,2 11,1 3,7 100,0

Pekerjaan Ibu

Ibu Rumah Tangga Petani Swasta
3.7% 11.11%

85.19%

Gambar 6.8 Diagram lingkaran distribusi pekerjaan responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng

46

Dari tabel 6.7 tersebut, responden di Desa Karangan mayoritas tidak bekerja dan dalam kesehariannya hanya mengerjakan aktivitas rumah tangga saja yaitu sebesar 85,2 %. Sebesar 11,1% responden bekerja sebagai petani dan 3,7% responden bekerja sebagai pegawai swasta. 6.4.1.4 Distribusi jarak rumah dengan Puskesmas Tabel 6.8 Distribusi jarak rumah dengan Puskesmas Jarak ( km ) <1 1 –5 >5 Total Frekuensi 0 10 17 27 Persentase ( % ) 0 37 63 100

Jarak Tempat Tinggal

2 - 5 km > 5 km

37.04%

62.96%

Gambar 6.9 Diagram Lingkaran Jarak rumah dengan Puskesmas Pembantu Dari tabel 6.8 di atas mayoritas responden bertempat tinggal > 5 km dari Puskesmas Pembantu, yaitu sebesar 63%, sementara sisanya sebesar 37% bertempat tinggal 1 – 5 km dari Puskesmas. 6.4.2 Deskripsi hasil penelitian 47

6.4.2.1 Distribusi frekuensi kunjungan responden untuk pemeriksaan kehamilan ke Puskesmas/Bidan Desa Tabel 6.9 Distribusi kunjungan responden untuk pemeriksaan kehamilan ke Puskesmas/Bidan Desa Frekuensi kunjungan ≥ 4 kali < 4 kali Total Frekuensi 15 12 27 Persentase ( % ) 55,6 44,4 100,0

SSK4

K4 Tidak K4

44.44% 55.56%

Gambar 6.10 Diagram Lingkaran Distribusi Frekuensi Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan ke Puskesmas/Bidan Desa Dari tabel 6.9 dapat kita ketahui bahwa responden yang melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali sebesar 44,4% dan yang melakukan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali sebesar 55,6%. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara jumlah responden yang melakukan kunjungan < 4 kali dengan yang ≥ 4 kali tidak terlalu besar. 6.4.2.2 Distribusi alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali Tabel 6.10 Distribusi alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali

48

Alasan Tidak tahu harus periksa 4x Tidak ada yang mengurus rumah Terlalu jauh jarak rumah dengan Puskesmas Total

Frekuensi 9 4 2 14

Persentase ( % ) 60,0 26,7 13,3 100,0

Alasan Tidak K4

1 2 3
13.33%

26.67%

60.0%

Gambar 6.11 Diagram lingkaran distribusi frekuensi alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali. Mayoritas alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali, yaitu karena mereka tidak tahu harus melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak minimal 4 kali selama kehamilan sebanyak 60%. Sementara sebesar 26,7% beralasan tidak dapat pergi periksa karena tidak ada yang di rumah mengurus rumah maupun anaknya. Sebesar 13,3% menjawab jarak sebagai alasan mereka memeriksakan kehamilannya kurang dari 4 kali. 6.4.2.3 Distribusi tingkat pengetahuan responden Tabel 6.11 Distribusi tingkat pengetahuan responden tentang pentingnya kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 ) Tingkat pengetahuan Frekuensi Persentase ( % ) 49

Kurang Baik Total

11 16 27

40,7 59,3 100,0

Pengetahuan

Kurang Baik

40.74%

59.26%

Gambar 6.12 Distribusi tingkat pengetahuan responden Tabel 6.11 menunjukkan dari 27 responden, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pentingnya kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester I dan 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III yaitu sebesar 59,3% dan yang memiliki pengetahuan kurang sebesar 40,7%. 6.4.2.4 Tabulasi silang antara jarak tempat tinggal responden dengan Puskesmas dan status kunjungan pemeriksaan kehamilan Tabel 6.12 Tabulasi silang jarak tempat tinggal responden dengan Puskesmas dan status kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 ) Jarak tempat tinggal 1 – 5 km >5 km Total Status K4 Tidak K4 5 (50%) 5 (50%) 10 (58,8%) 7 (41,1%) 15 (55,6%) 12 (44,4%) Total 10 17 27

50

Dari tabel 6.12 di atas kita dapat melihat bahwa dari seluruh responden yang bertempat tinggal 1 – 5 km dari Puskesmas terdapat 50% yang melakukan kunjungan K4 dan 50% tidak melakukan kunjungan K4. Sedangkan dari seluruh responden yang tinggal sejauh > 5 km dari Puskesmas, 58,8% diantaranya melakukan kunjungan K4 dan 41,1% tidak. 6.4.2.5 Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan responden dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 ) Tabel 6.13 Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan responden dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 ) Pengetahuan Kurang Baik Total K4 3 Status Tidak K4 8 (72,7%) 4 (25%) 12 Total 11 16 27

(27,3%) 12 (75%) 15

(55,6%) (4,4%) Dari tabel 6.13 di atas kita dapat mengetahui bahwa dari 27 responden yang memiliki pengetahuan kurang sebesar 27,3% melakukan K4 dan terdapat sebesar 72,7% tidak melakukan K4. Sedangkan yang memiliki pengetahuan baik sebesar 75% melakukan K4 dan terdapat sebesar 25% tidak melakukan K4. 6.4.2.6 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan status

kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 Tabel 6.14 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 Value Approx. Sig. .014

Nominal by Contingency .427 Nominal Coefficient N of Valid Cases 27 a Not assuming the null hypothesis. b Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

51

Dapat dilihat pada tabel 6.14 yaitu p sebesar 0,014, dan karena nilai p < α 0,05 maka Ho ditolak. Dengan nilai 0,427 yang menandakan kekuatan korelasi sedang dan angka yang positif menandakan arah hubungannya positif, artinya semakin tinggi pengetahuan maka semakin baik pula kunjungan pemeriksaan kehamilannya. 6.5 6.5.1 Pembahasan Status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 Cakupan kunjungan antenatal merupakan salah satu indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak. Sebab pemeriksaan kehamilan ini sangat penting dan menjadi usaha promotif dan preventif mencegah kematian ibu hamil, karena dengan melakukan pemeriksaan selama hamil dengan rutin, tenaga kesehatan dapat menemukan masalah dalam kehamilan lebih dini sehingga dapat tertangani lebih cepat. Pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas/Pustu/Bidan Desa/Dokter/Poskesdes) dengan syarat minimal 1 kali selama trimester I dan 1 kali selama trimester II dan 2 kali selama trimester III. Dari hasil survei terhadap 27 ibu yang telah melahirkan pada Januari 2009 sampai Mei 2009 di Desa Karangan, seluruhnya menyatakan melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas/Bidan Desa, sedangkan sebanyak 15 orang ( 55,6% ) ibu melakukan ≥ 4 kali pemeriksaan kehamilan dan sebanyak 12 orang ( 44,4% ) yang melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali. Hal ini menunjukkan responden telah cukup menyadari pentingnya memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Namun, masih banyak responden yang belum mengetahui bahwa pemeriksaan kehamilan minimal dilakukan 4 kali selama kehamilan, dengan syarat 1 kali saaat awal kehamilan sampai usia kandungan 3 bulan, 1 kali saat usia 4 sampai 6 bulan, dan 2 kali saat usia 7 sampai 9 bulan, dan tergambar dalam tabel 6.10, yang menjadi alasan para responden tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali adalah karena mereka tidak mengetahui bahwa mereka harus datang minimal 4 kali selama kehamilan dengan syarat seperti disebutkan di atas.

52

6.5.2

Faktor pengetahuan sebagai penyebab rendahnya frekuensi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan Melalui penelitian yang telah kami lakukan, diperoleh data yang menunjukkan bahwa faktor pengetahuan ibu dapat menyebabkan rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden menggunakan kuesioner di Desa Karangan diperoleh bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan.

6.5.2.1 Faktor jarak Melalui data yang telah didapat dan diolah, faktor jarak termasuk faktor yang cukup berpengaruh terhadap rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan sebagaimana ditunjukkan pada tabel 6.10. Hal ini disebabkan oleh sebaran tempat tinggal penduduk yang cenderung berkelompok dalam dusun dan jarak antar dusun yang cukup jauh, seperti Dusun Jeruk yang berjarak lebih dari 5 km dan sepanjang jalan menuju ke Dusun Jeruk tersebut harus melewati kawasan hutan tanpa peneerangan, dan sarana jalan yang berbatu – batu. Ditambah pula dengan jarak antar rumah di dalam dusun tersebut yang berjauhan dan kontur tanah yang menanjak dengan sarana jalan yang masih terbuat dari tanah liat dan berbatu – batu. Hal ini cukup menyulitkan bagi para penduduk untuk pergi memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan, tergambar dari tabel 6.10 jarak menjadi alasan tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 bagi beberapa responden. 6.5.2.2 Faktor pengetahuan Perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga aspek dasar, yaitu aspek knowledge atau pengetahuan, attitude atau sikap, dan psikomotor atau perilaku. Peneliti mengelompokkan tingkat pengetahuan responden dalam tingkat pengetahuan baik dan kurang. Pada tabel 6.16 dapat dilihat 59,3% responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pemeriksaan kehamilan.

53

Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, pendidikan, kebudayaan, dan sosial budaya. Dari faktor pendidikan, ternyata dari tabel 6.6 sebesar 66,7% responden adalah tamatan SD. Walaupun tingkat pendidikan responden tergolong rendah, namun mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang pemeriksaan kehamilan, artinya faktor – faktor lain yang lebih banyak berperan dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. 6.5.2.3 Hubungan tingkat pengetahuan dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 Setelah data diolah didapatkan hasil uji contingency coefficient untuk hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 didapatkan nilai p sebesar 0,014 yang lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 atau dapat berati bahwa H0 ditolak. Dan dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,427 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mempengaruhi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 sebesar 42% dan angka yang positif menunjukkan hubungan yang positif yaitu semakin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin baik pula kunjungan pemeriksaan kehamilannya. Hal ini berarti bahwa peningkatan atau penurunan pengetahuan akan mengakibatkan peningkatan atau penurunan kunjungan pemeriksaan kehamilan seperti tergambar dalam tabel 6.13 Hal ini sesuai dengan teori perilaku Notoatmodjo, dimana sebelum seseorang berperilaku, maka orang tersebut terlebih dahulu mempunyai sikap dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan pengetahuan yang dialami sebelumnya. Pengetahuan yang dimiliki oleh responden cukup baik serta perilaku responden untuk memeriksakan kehamilannya juga cukup baik.

54

BAB 7 DIAGNOSIS KOMUNITAS 7.1 Latar Belakang Pada tahap pengumpulan informasi dan identifikasi masalah, ditemukan masalah yaitu masih rendahnyan cakupan K4 di Kecamatan Bareng, yaitu hanya 84,06% dari target yang diteapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang sebesar 94% .Khususnya yang menempati peringkat terendah dari 13 desa yang ada di Kecamatan Bareng yaitu Desa Karangan sebesar 57,14%. Inilah alasan pemilihan desa Karangan untuk dilakukan penelitian dan terapi komunitas untuk meningkatkan persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan di tahun mendatang. 7.2 Tujuan Tujuan dari proses ini adalah untuk mendiagnosis masalah-masalah yang ada dalam masyarakat sesuai dari hasil analisis data maupun yang digali dengan metode-metode lain sehingga dapat dihasilkan komitmen bersama dan kesepakatan bersama langkah konkrit yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada. Hasil diagnosis komunitas kemudian juga dapat dipergunakan sebagai acuan oeh institusi kesehatan untuk menyusun program-program kesehatan sehingga benarbenar aplikatif dan tepat sasaran. 7.3 Kegiatan Dalam melakukan proses diagnosis komunitas, peneliti telah melakukan beberapa kegiatan, yaitu: 7.3.1 Depth Interview dengan Pembimbing Operasional dari Puskesmas

Peneliti beberapa kali melakukan diskusi dengan pembimbing operasional dari puskesmas yaitu Bapak Puguh Saneko, SKm tentang permasalahan kesehatan yang ada di Kecamatan Bareng. Dari Depth Interview, peneliti mendapatkan masukan dan arahan untuk membahas masalah persentase kunjungan pemeriksaan

55

kehamilan K4 yang belum memenuhi target di Desa Karangan, Kecamatan Bareng. Rinciannya sebagai berikut : 1. Airlangga. 2. 3. Money Kegiatan ini tidak membutuhkan biaya. Material Data target standar program-program kesehatan di Kecamatan Bareng dan cakupan program yang sudah dilaksanakan 4. 5. Method Peneliti menggunakan metode Depth Interview. Machine Dalam wawancara, peneliti membawa buku catatan dan kamera untuk mencatat data-data yang didapatkan dari hasil wawancara dan mendokumentasikan kegiatan. 6. 7. 8. Market Kepala puskesmas Time and Place Wawancara diselenggarakan pada minggu I dan II tugas di Puskesmas Bareng Result Setelah wawancara dilakukan, peneliti masukan dan arahan untuk meneliti masalah persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng yang memang belum tercapai. Man Wawancara mendalam ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda Universitas

56

Gambar 7.1 Depth Interview Dengan Pihak Puskesmas 7.3.2 Depth Interview dengan Perawat Pustu Karangan 1. Man Wawancara mendalam ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda Universitas Airlangga. 2. Money Kegiatan ini tidak membutuhkan biaya. 3. Material Data kunjungan pemeriksaan kehamilan warga Desa Karangan yaitu data kohort ibu dan faktor – faktor yang menyebabkannya. 4. Method Peneliti menggunakan metode Depth Interview. 5. Machine Dalam wawancara, peneliti membawa buku catatan dan kamera untuk mencatat 6. Market Perawat di Puskesmas Pembantu Desa Karangan 7. Time and Place data-data yang didapatkan dari hasil wawancara dan mendokumentasikan kegiatan.

57

Wawancara diselenggarakan pada minggu I dan II tugas di Puskesmas Pembantu Desa Karangan. 8. Result Dari hasil diskusi, peneliti menyimpulkan ada beberapa kondisi yang menyebabkan rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, yakni : a. Faktor Geografis Secara geografis, Desa Karangan terdiri dari 5 dusun yang terletak berjauhan, seperti Dusun Jeruk yang berjarak lebih dari 5 km dari puskesmas dengan kontur jalan yang menanjak, dikelilingi hutan, dan sarana jalan yang masih berbatu – batu serta tanah liat. b. Faktor Jarak Desa Karangan berjarak 5 km dari Puskesmas Bareng. Hal inilah yang juga menjadi alasan yang dikemukakan yang menjadi salah satu alasan kurangnya memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan. c. Faktor jumlah ibu hamil Kenyataan yang terjadi di Desa Karangan yaitu jumlah ibu hamil yang memang sedikit, selama Januari hingga Mei 2009 dan dari 5 dusun di Desa Karangan hanya terdapat 28 ibu hamil. Kebanyakan penduduk di Desa Karangan baru memiliki anak lagi setelah anak sebelumnya berusia 10 tahunan. Sedangkan angka sasaran yang ditetapkan oleh Puskesmas terlalu tinggi dan disamaratakan dengan desa – desa lain yang jumlah ibu hamilnya lebih banyak, sehingga jika dimasukkan dalam rumus perhitungan K4 akan menghasilkan nilai yang kecil.

58

Gambar 7.2 Depth Interview dengan Perawat Pustu Karangan 7.3.3 Lokakarya Desa (Workshop) 1. Man Acara lokakarya ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda Universitas Airlangga. 2. Money Kegiatan ini menggunakan sumber dana dari iuran peneliti untuk membiayai sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk konsumsi peserta. 59

3. Material Setelah dilakukan survei terhadap 27 responden, data yang didapat diolah dan diperoleh hasil bahwa pengetahuan ibu tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana kesehatan mempunyai hubungan dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4dengan korelasinya yang sedang dan hubungan yang searah, jadi semakin tinggi tingkat pengetahuan, makin baik pula kunjungan pemeriksaan kehamilan K4. Berdasarkan data tersebut diusulkan beberapa alternatif solusi yang kemudian akan dilokakaryakan untuk mendapatkan solusi terpilih. Alternatif solusi dari peneliti yaitu: a. Penyuluhan dengan sasaran utama wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan (tempat diselenggarakannya penyuluhan). b. 4. Method Kegiatan ini dilakukan dengan metode Brain storming yang sebelumnya didahului dengan pemaparan masalah dan alternatif solusi dari peneliti. Brain storming dilakukan untuk menjaring kritik dan saran dari peserta lokakarya tentang solusi yang sebaiknya dilakukan untuk kemudian didiskusikan dan ditentukan solusi terpilih untuk diterapkan untuk mengatasi masalah di Desa Karangan kecamatan Bareng. 5. Machine Dalam pelaksanaan lokakarya, peneliti menyajikan materi dengan menggunakan program power point dan ditampilkan dengan menggunakan LCD proyektor. Peneliti juga menggunakan sound system yang dimiliki oleh Balai Desa Karangan. 6. Market Pihak-pihak yang diikut sertakan dalam lokakarya ini adalah : 1. Para Kader 2. Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 3. Perawat Desa 7. Time and Place Penyuluhan dengan sasaran utama ibu-ibu kader di Desa Karangan Kecamatan Bareng

60

Acara lokakarya dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009 jam 09.00-12.30 bertempat di Balai Desa Karangan Kecamatan Bareng. 8. Result Melalui lokakarya diperoleh solusi terpilih untuk meningkatkan pengetahuan ibu yaitu mengadakan penyuluhan dengan metode ceramah dan pembagian leaflet dengan tema “Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan” dengan sasaran yakni para kader dari 5 dusun di Desa Karangan, perawat di Pustu Karangan serta wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan Kecamatan Bareng. Peserta diatas dipilih karena dalam pembinaan dan edukasi terhadap ibu-ibu memerlukan partisipasi dari semua pihak, tidak hanya dilakukan oleh Perawat Desa atau tenaga dari Puskesmas sendiri. Keterlibatan Perangkat Desa dan tokoh masyarakat juga diperlukan untuk meningkatkan persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan Kecamatan Bareng karena merekalah yang paling mengetahui keadaan penduduk di Desa Karangan, sehingga diharapkan dapat melakukan tindakan-tindakan yang paling tepat dan efektif untuk menindak lanjuti hasil penyuluhan yang telah diberikan. Materi dari penyuluhan difokuskan tentang pengetahuan yang seyogyanya diketahui para ibu tentang pengetahuan resiko tinggi dalam kehamilan dan pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan dengan syarat 1 kali saat trimester I, 1 kali saat trimester II, dan 2 kali saat trimester III. Juga perlu disampaikan pula tentang perlunya partisipasi aktif dari Perawat Desa dan Kader Kesehatan untuk melakukan home visit serta pendampingan pada para wanita usia subur yang berada di sekitar rumah kader tersebut, sehingga 1 kader bertanggungjawab terhadap pemantauan kesehatan kehamilan sejumlah wanita usia subur yang bertempat tinggal di sekitar rumahnya. Dalam pelaksanaan penyuluhan diberikan insentif berupa door prize untuk merangsang partisipasi dari sasaran.

61

Gambar 7.3 Lokakarya Diagnosa Komunitas di Balai Desa Karangan

Gambar 7.4 Lokakarya Diagnosa Komunitas di Balai Desa Karangan 7.4 Diagnosis Komunitas 1. Persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang masih di bawah target, yaitu hanya 84,06% dari target 94% yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang

62

dan merupakan angka terendah dibandingkan desa-desa yang lain di Kecamatan Bareng. 2. Berdasarkan hasil survei untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, didapatkan 16 orang responden dari 27 responden (59,3%) mempunyai pengetahuan yang baik. Dari data tersebut, dibuat rancangan beberapa alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut. 3. Dari hasil lokakarya didapatkan solusi terpilih untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengadakan penyuluhan yang melibatkan beberapa pihak yang terkait yaitu Perangkat Desa, Perawat Desa, Kader Kesehatan, Tokoh Masyarakat dan ibu-ibu yang tinggal di Desa Karangan.

BAB 8 TERAPI KOMUNITAS 8.1 Tujuan 8.1.1 Tujuan Umum Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan lengkap dan rutin minimal 4 kali selama kehamilan. 8.1.2 Tujuan Khusus 1. 2. Meningkatkan pengetahuan ibu dan kader tentang pentingnya Meningkatkan pengetahuan ibu tentang mengenali tanda – tanda pemeriksaan kehamilan lengkap ke sarana kesehatan. bahaya dalam kehamilan dan pentingnya pemeriksaan kehamilan untuk mengenali dini tanda bahaya tersebut. 8.2 Kegiatan 1. Penyuluhan secara langsung kepada masyarakat Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Dibawah ini adalah rincian acara tersebut: 63

Tema Pukul Tempat Pembicara Peserta

: Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan : Pukul 10.00 WIB : Balai Desa Karangan : Dokter Muda Puskesmas Bareng : - Wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan - Perawat Pustu Desa Karangan - Perangkat Desa Karangan

Hari dan Tanggal : Sabtu, 27 Juni 2009

Media Metode Susunan Acara: 10.00 – 10.30

: Poster, leaflet, LCD projector : Ceramah, tanya jawab, quiz Pembukaan, sambutan dari Bapak Puguh Saneko, SKm selaku perwakilan dari Puskesmas Bareng, sambutan Ketua Panitia Penyuluhan

10.30 – 10.45 10.45 – 11.25 11.25 – 12.15 12.15 – 12.30 Keterangan: Pada

Pre test Penyampaian materi penyuluhan tentang “Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan” Diskusi, post test, dan pembagian doorprize Penutup dan doa

penyuluhan

dijelaskan

mengenai

tujuan

pemeriksaan

kehamilan secara rutin, manfaat pemeriksaan kehamilan secara rutin, waktu pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali yaitu 1 kali saat awal kehamilan sampai usia 3 bulan dan 1 kali saat usia 4 sampai 6 bulan dan 2 kali saat usia 7 sampai 9 bulan, cara mengenali tanda bahaya kehamilan. Melalui penyuluhan ini diharapkan ibu-ibu di Desa Karangan menjadi sadar akan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin minimal 4 kali selama kehamilan, mengerti mengenai waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, mengerti tanda – tanda bahaya dalam kehamilan sehingga bila mereka menemukannya dapat segera datang ke sarana

64

kesehatan untuk ditangani dini. Sebelum penyuluhan semua peserta diberikan lembar jawaban dan harus menjawab 10 pertanyaan yang telah disiapkan oleh panitia dan setelah penyuluhan, keseluruhan peserta akan diberikan 10 pertanyaan lagi untuk mengevaluasi apakah materi yang disampaikan saat penyuluhan dapat diserap dan dimengerti dengan baik. Juga disediakan hadiah bagi yang memperoleh nilai post test tertinggi untuk memotivasi ibu – ibu agar mendengarkan penyuluhan dengan seksama. Leaflet yang dibagikan pada para peserta penyuluhan berisi informasi yang perlu dibaca lebih lanjut di rumah agar hal-hal yang dibicarakan pada penyuluhan tidak dilupakan begitu saja. Leaflet ini berisi tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan yang lengkap dan rutin juga cara-cara mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan. Tabel 8.1 Rekapitulasi nilai pre test dan post test peserta penyuluhan di Balai Desa Karangan, Kecamatan Bareng Nama Sarmiati Wati Suparnik Suyanti Suwarni Sunarti A Lia Suwarmi Ita Rina Nuranik Dwi Widya Sunarti Kasonah Yuliani Khusnul Wasi’ah Tumi Patonah Nilai pre test 10 8 9 8 10 9 8 6 8 10 8 9 9 9 9 9 10 7 8 9 Nilai post test 8 9 10 9 9 7 9 9 10 10 10 10 10 10 10 10 10 8 9 10 Keterangan Turun Naik Naik Naik Turun Turun Naik Naik Naik Tetap Naik Naik Naik Naik Naik Naik Tetap Naik Naik Naik

Dari data dalam tabel 8.1 di atas didapatkan 75% peserta penyuluhan mengalami peningkatan nilai, 15% tidak mengalami perubahan nilai dan 10% mengalami penurunan nilai. 65

Gambar 8.1 Penyuluhan di Balai Desa Karangan

66

Gambar 8.2 Penyuluhan di Balai Desa Karangan

67

Gambar 8.3 Pretest penyuluhan di Balai Desa Karangan

Gambar 8.4 Penyerahan door prize di Balai Desa Karangan

68

BAB 9 EVALUASI
9.1 Evaluasi Terhadap Pengenalan Medan Pada saat melakukan survei ke Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, tanggal 22 dan 23 Juni 2009, peneliti mendapati bahwa geografi Desa Karangan dikelilingi oleh hamparan sawah dan sungai yang membelah di sebelah timur desa, melewati Dusun Mindi dan Sumber Agung. Kondisi jalan di Desa Karangan sebagian kecil sudah diaspal sedang sebagian yang lain berupa jalan makadam yang masih bebatu – batu, dan ada beberapa jalan menuju rumah responden yang hanya dari tanah liat dan sangat curam tanjakannya, sehingga kami melewatinya dengan berjalan kaki. Lokasi Desa Karangan, kurang lebih 2 - 5 km dari Puskesmas Bareng, salah satu dusun di Desa Karangan yaitu Dusun Jeruk terletak lebih dari 5 km dengan jalan sempit berbatu yang dikelilingi hutan, kami melewatinya dengan mengendarai sepeda motor. Pada proses pengenalan medan, peneliti mendapatkan bantuan yang berarti dari perawat di Pustu Desa Karangan dan para kader dari masing-masing 5 dusun. Hal tersebut memudahkan peneliti dalam melaksanakan survei dalam mencari alamat rumah responden dan sekaligus mengakrabkan hubungan peneliti dengan penduduk desa setempat, khususnya calon responden yaitu ibu yang telah melahirkan pada 1 Januari sapai 31 Mei 2009. Terdapat sekitar 28 orang responden yang kami temukan dari data kohort ibu di Pustu Karangan, namun dalam kenyataan di lapangan kami hanya menemukan 27 orang responden, dikarenakan 1 orang ibu telah pindah rumah. Peneliti memperoleh data bahwa kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan menenpati peringkat terendah dari 13 desa yang ada di Kecamatan Bareng. Selama proses penelitian terjadi beberapa kendala antara lain : 1. a. Kendala dari Tim Peneliti : Kendala koordinasi penugasan personel yang pergi ke lokasi pengumpulan data. Hal ini disebabkan padatnya jadwal masing-masing personel yang terkadang sering berbenturan satu sama lain. 69

b. dan

Kendala dalam menyamakan persepsi cara pengisian kuesioner pengisian lembar observasi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 oleh tim peneliti.

2.

Kendala dari Responden : a. b. Satu orang responden tidak ditemukan karena yang bersangkutan ternyata sudah pindah rumah ke desa lain. Kesulitan pemahaman bahasa antara responden dan tim peneliti, karena mayoritas responden menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa seharihari sedangkan tidak semua peneliti bisa berbahasa Jawa.

3.

Kendala dari geografi, yaitu rumah responden yang saling berjauhan dengan medan yang cukup sulit karena menanjak dan berbatu, hanya dapat kami tempuh dengan berjalan kaki, serta tidak memiliki nomor rumah, sehingga peneliti kesulitan untuk mendatangi rumah responden. 9.2 Evaluasi Terhadap Diagnosis Komunitas Untuk membuat diagnosis komunitas, peneliti telah melaksanakan kegiatankegiatan yang telah dijelaskan dalam bab 7. Berikut disampaikan evaluasi dari tiap-tiap kegiatan: 1. Puskesmas Bareng Secara umum kegiatan ini efektif dan sangat membantu dalam menentukan diagnosis komunitas. 2. Depth Interview dengan perawat di Puskesmas Pembantu Secara umum kegiatan ini efektif karena peneliti memperoleh data langsung dari sumber yang kompeten. Wawancara juga ditunjang dengan data jumlah dan nama ibu hamil yang cukup akurat. Kami juga memperoleh informasi tentang kebiasaan yang terdapat di masyarakat Desa Karangan sehingga lebih memudahkan kami untuk beradaptasi saat melakukan terapi komunitas. 3. Lokakarya (Pustu) Desa Karangan. Depth Interview dengan pembimbing operasional dari

70

Lokakarya berlangsung cukup lancar dan sukses. Namun karena kegiatan ini dilaksanakan pada jam efektif, maka acara baru dapat dimulai setengah jam lebih lambat dari rencana awal. Peneliti mendapat beberapa masukan dan saran yang bermanfaat dalam pelaksanaan terapi komunitas nantinya. Dimana diharapkan peneliti menggunakan bahasa awam dalam setiap kegiatan yang mengundang masyarakat atau lintas sektoral lainnya sehingga pelaksanaan kegiatan terapi komunitas dapat berjalan dengan lancar dan dukungan penuh dari berbagai pihak terutama sumber daya masyarakat di wilayah sasaran penelitian. Selain itu, dalam akhir lokakarya diagnosa komunitas ini disepakati bahwa kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang rendah di Desa Karangan merupakan masalah bersama dan perlu ditindaklanjuti dengan beberapa tawaran solusi tertentu dari para peserta lokakarya, antara lain penyuluhan ibu, pelatihan kader, perbaikan fasilitas Puskesmas Pembantu di Desa Karangan, supervisi rutin dari Puskesmas Bareng ke Pustu, serta pendampingan setiap kader kepada sejumlah ibu yang tingal di sekitar rumah kader tersebut, sehingga diharapkan terjalin coverage setiap ibu hamil di Desa Karangan yang baik untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil. 9.3 Evaluasi Terhadap Terapi Komunitas Terapi komunitas yang telah dilakukan, yaitu penyuluhan dan pembagian leaflet pada wanita usia subur dengan tema “Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan”. Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para wanita usia subur tentang tanda bahaya yang harus dikenali dan diwaspadai oleh mereka sehingga segera datang ke sarana kesehatan untuk ditangani lebih dini, selain itu untuk meningkatkan pengetahuan para wanita usia subur tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke sarana pelayanan kesehatan. Kami memberikan leaflet agar di rumah mereka dapat mempelajari kembali apa yang telah kami berikan dalam penyuluhan dan informasi tersebut dapat mereka sebarkan ke keluarga maupun tetangga terdekat tentang pentingnya memeriksakan kehamilan. Proses pelaksanaan penyuluhan yang mengundang ibu perawat di Puskesmas Pembantu Desa Karangan, ibu – ibu kader berlangsung dengan

71

lancar dan tepat waktu. Peserta datang tepat waktu, ada beberapa yang dating terlambat dikarenakan jarak rumahnya yang jauh dengan balai desa. Panitia pelaksana melakukan koordinasi yang cukup baik sehingga acara bisa berjalan sesuai rencana, sesuai alokasi waktu yang disediakan. Peserta penyuluhan berusaha memperhatikan dengan baik seluruh isi penyuluhan. Namun karena banyaknya peserta penyuluhan yang membawa balitanya, maka suasana penyuluhan menjadi tidak kondusif, sehingga perhatian peserta mudah teralih. Walaupun demikian antusiasme peserta tetap tinggi. Hal ini terbukti dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab yang isi pertanyaan mencerminkan bahwa mereka benar-benar tertarik dengan materi penyuluhan dan antusiasme peserta dalam menjawab pertanyaan kuis yang diberikan oleh panitia. Dalam pelaksanaan penyuluhan, peneliti juga membagikan pre test dan post test untuk mengetahui efektifitas acara. Dari hasil perbandingan pre test dan post test yang mengandung 10 pertanyaan yang sama dan diberikan pada peserta yang sama, didapatkan peningkatan rata-rata hasil jawaban peserta, yaitu ratarata hasil pre test sebesar 9,1 dan rata-rata hasil post test sebesar 9,35. Dari 20 peserta yang mengerjakan pre test dan post test terdapat 75% peserta mengalami peningkatan nilai dan 15% peserta penyuluhan tidak mengalami perubahan nilai, 10% mengalami penurunan nilai. Hal ini merupakan indikator sementara bahwa peserta dapat menyerap materi penyuluhan dan dengan metode penyuluhan yang sudah dilakukan akan mampu meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Namun hal ini bukan berarti terapi komunitas telah berhasil dengan baik karena penyuluhan ini hanyalah langkah awal yang harus dilanjutkan dengan langkah-langkah konkrit di lapangan oleh seluruh komponen terkait agar terjadi perubahan perilaku ibu dalam pengasuhan balita. Peneliti juga membagikan leaflet berisi keterangan singkat tentang tanda – tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh ibu dan keluarga, dan manfaat pemeriksaan kehamilan dan kapan waktu yang baik untuk memeriksakan kehamilan. Evaluasi terhadap terapi komunitas tidak dapat dilakukan secara sempurna dan berkesinambungan karena adanya keterbatasan waktu yang

72

dimiliki baik dari tim peneliti, pihak petugas Bareng, tenaga kesehatan dan kader dari wilayah Desa Karangan sehingga tim peneliti hanya dapat menyusun rencana evaluasi terhadap terapi komunitas yang telah dilakukan, yang diharapkan dapat disempurnakan dan direalisasikan oleh tim dokter muda Fakultas Kedokteran Unair berikutnya bekerja sama dengan pihak Puskesmas Bareng dan aparat pemerintah daerah.

73

BAB 10 SIMPULAN DAN SARAN
10.1 Simpulan Dari kegiatan komunitas yang dilakukan oleh dokter muda di wilayah Puskesmas Bareng dapat disimpulkan bahwa : 1. 94%. 2. Dari 13 Desa yang terdapat di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Desa Karangan persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang paling rendah yakni 57,14%. 3. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari 27 responden, 40,7% ibu di Desa Karangan, memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemeriksaan kehamilan K4 serta didapatkan 44,4% ibu yang memeriksakan kehamilannya kurang dari 4 kali selama kehamilan dan alasan terbesar yang dikemukakan yaitu 60% responden mengaku tidak mengetahui bahwa mereka harus datang minimal 4 kali (1 kali selama trimester I, 1 kali selama trimester II, dan 2 kali selama trimester III) ke sarana kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya. 4. Berdasarkan hasil uji korelasi contingency coefficient didapatkan p<0,05 yang berarti Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Dan nilai korelasi sebesar 0,427 yang menandakan kekuatan korelasi sedang dan angka yang positif menandakan arah hubungannya positif, artinya semakin tinggi pengetahuan maka semakin baik pula kunjungan pemeriksaan kehamilannya. 5. Terapi komunitas yang dilakukan untuk menindaklanjuti diagnosa komunitas berupa penyuluhan secara langsung kepada wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan, yang disertai dengan pembagian leaflet tentang tanda – tanda bahaya dalam kehamilan, manfaat pemeriksaan kehamilan, waktu yang tepat untuk memeriksakan kehamilan yaitu Persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Kecamatan Bareng sebesar 84,06% tidak memenuhi target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar

74

minimal 1 kali selama trimester I, dan minimal 1 kali selama trimester II, dan minimal 2 kali selama trimester III.

75

10.2

Saran

10.2.1 Saran bagi Puskesmas Bareng 1. Mengadakan penyuluhan pada para wanita usia subur di Kecamatan Bareng secara berkesinambungan. 2. Mengadakan pelatihan dan penyuluhan pada kader mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin dan lengkap serta pengenalan tanda – tanda bahaya dalam kehamilan sehingga mereka dapat segera datang ke sarana kesehatan agar dapat tertangani lebih dini, dan akhirnya angaka kematian ibu hamil dapat dikurangi. 3. Mengadakan temu kader dari wilayah kerja Puskesmas sekurang-kurangnya sekali dalam setahun untuk studi banding dan tukar pikiran. 4. Mengoptimalkan peran sumber daya masyarakat (kader) untuk mengadakan pendampingan terhadap beberapa ibu hamil di sekitar tempat tinggalnya, sehingga setiap kader bertanggungjawab memantau kesehatan beberapa ibu hamil dan selalu membagi pengetahuannya tentang tanda bahaya kehamilan dan mendorong ibu hamil tersebut untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. 5. Memberikan penghargaan bagi ibu hamil yang datang memenuhi syarat K4 yaitu minimal 1 kali selama trimester I, dan minimal 1 kali selama trimester II, dan minimal 2 kali selama trimester III, misalnya tarif berobat atau pemberian obat secara gratis. 6. Melakukan perbaikan fasilitas Puskesmas Pembantu Desa Karangan karena kebersihan dan kelayakan tempatnya telah menurun. 7. Melakukan supervisi rutin dari pihak Puskesmas ke Pustu Karangan setidaknya sebulan sekali untuk memantau perkembangan program Pustu sehingga bila ditemukan ada kendala dalam pelaksanaan program dapat ditangani lebih awal. 10.2.2 Saran bagi Dinas Kesehatan Jombang 1. Pemberian penghargaan kepada Puskesmas yang dapat memenuhi target persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di wilayah kerjanya.

76

2. Melakukan promosi tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan melalui berbagai media massa secara intensif. 10.2.3 Saran bagi bidan desa dan kader kesehatan Desa Karangan
1. Melakukan penyuluhan secara berkala tentang pentingnya pemeriksaan

kehamilan bagi ibu hamil maupun wanita usia subur. 2. Bekerjasama dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk mendukung para ibu agar mau melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke sarana kesehatan. Serta lebih tanggap untuk deteksi dini tanda – tanda bahaya dalam kehamilan segera melaporkan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. 3. Menempelkan poster dan artikel yang menarik tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan, tanda – tanda bahaya yang harus dikenali dan diwaspadai oleh ibu hamil dan keluarga di Pustu, Poskesdes, papan pengumuman desa. 4. Melakukan kunjungan rumah untuk deteksi dini tanda – tanda bahaya dalam kehamilan agar tidak terlambat penanganannya dan dapat merencanakan sejak awal persalinan yang aman. 10.2.4 Saran bagi Dokter Muda Untuk Dokter Muda yang bertugas di Puskesmas Bareng maupun Puskesmas lainnya agar dapat menindaklanjuti terapi komunitas yang telah dilakukan dan melakukan penelitian serupa di desa lainnya agar dapat memperkuat penelitian yang telah ada.

77

DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta, hal. 84-92, 156-172 Notoatmodjo, Soekidjo. 1997. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta : ANDI offset Trihono. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. Jakarta : 2005. Sagung Seto Saifuddin dkk.2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Wiknjosastro dkk. 2006. Buku Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

78

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->