Anda di halaman 1dari 79

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, dan
dapat dinilai dari derajat kesehatan masyarakat. Padahal situasi derajat kesehatan
Indonesia masih rendah. Hal itu bisa dibaca dari peringkat Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) Indonesia yang masih pada peringkat 107 dari 177 negara
berdasarkan penilaian lembaga kependudukan dunia, UNDP tahun 2007, berada di
bawah Vietnam. Sekretaris Jenderal Depkes Dr Sjafii Ahmad MPH pada jumpa pers
HKN ke-44 di Jakarta , memaparkan, rendahnya derajat kesehatan Indonesia
lantaran masih tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka gizi
kurang.

Dari ketiga masalah tersebut, yang menjadi prioritas tertinggi yaitu angka
kematian ibu hamil, karena rawannya masalah kesehatan ibu ini memberikan
dampak yang bukan terbatas pada kesehatan ibu saja tetapi berpengaruh secara
langsung terhadap kesehatan janin dan bayi. Menurut Survei Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2002 – 2003, AKI di Indonesia masih tinggi, yaitu 307 per
100.000 kelahiran hidup. Di dalam buku Pedoman Pelayanan Antenatal Direktorat
Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes RI disebutkan bahwa situasi ini menjadikan
AKI di Indonesia tertinggi di ASEAN, sehingga menempatkan upaya penurunan
AKI sebagai program prioritas. Sedangkan menurut Profil Kesehatan Kabupaten
Jombang 2008, angka kematian ibu maternal ( AKI ) adalah sebesar 94,5 per
100.000 kelahiran hidup. Dirjen Bidang Kesehatan Masyarakat, Departemen
Kesehatan, Dr Azrul Azwar mengatakan, tingginya AKI dapat disebabkan “3
TERLAMBAT”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat membawa ke
rumah sakit dan terlambat mendapat pertolongan. Disamping itu akibat “4
TERLALU”, yakni terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu sering hamil dan
terlalu sering melahirkan.

1
Masalah tingginya kematian ibu hamil ini dapat kita cegah dengan
mengadakan upaya promotif dan preventif, yang dapat dilakukan dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan ibu hamil ke sarana kesehatan, minimal 4 kali selama
kehamilan, dimana 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2
kali pada trimester ketiga. Dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan rutin ini
kesehatan ibu dan janin terpantau secara berkesinambungan, dan apabila ada
komplikasi dalam kehamilan ibu tersebut dapat ditemukan sedini mungkin dan
dilakukan penanganan cepat dari tenaga kesehatan. Dan didapatkan dalam Survei
Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) 2001 angka kematian ibu maternal dapat
diturunkan sampai 20% hanya dengan pelayanan kesehatan dasar seperti pelayanan
antenatal.

Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Bareng tahun 2008


menunjukkan indikator kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 belum mencapai
target yakni hanya 84,06% dari target 94% yang ditetapkan Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang, berarti telah terjadi kesenjangan antara cakupan dengan target
sebesar 9,94%, dan hal ini menjadi masalah kesehatan yang terjadi di Kecamatan
Bareng, Jombang.

Faktor – faktor menurut H.L Blum yang dapat mempengaruhi terjadinya


suatu masalah kesehatan yaitu herediter, lingkungan, sarana pelayanan kesehatan,
dan lifestyles. Lifestyles meliputi perilaku ibu hamil untuk datang memeriksakan
kehamilan, sebelum seseorang berperilaku maka orang tersebut terlebih dahulu
mempunyai sikap dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan pengetahuan
yang dialami sebelumnya. Hal tersebut dijadikan dasar dan paradigma untuk
bertindak sehingga tingkat pengetahuan merupakan yang urgent dalam menentukan
determinan perilaku (Notoatmodjo, 1997).

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ichda Masrianto dan Moh Hakimi
tentang Hubungan Pengetahuan, Sikap Ibu Hamil Terhadap Kunjungan Pelayanan
Antenatal di Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga memperoleh hasil
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil
terhadap kunjungan antenatal.

2
Dari rekapitulasi PWS ( Pemantauan Wilayah Setempat ) KIA untuk 13 desa
di wilayah Puskesmas Bareng bulan Januari sampai Desember 2008 didapatkan
Desa Karangan memiliki cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang
terendah yaitu hanya sebesar 57,14%. Inilah alasan pemilihan Desa Karangan untuk
dilakukan penelitian dan terapi komunitas untuk mengetahui hubungan pengetahuan
ibu hamil terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, sehingga cakupan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 dapat ditingkatkan pada tahun mendatang.

1.2 Rumusan Masalah


Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten
Jombang pada Januari sampai Mei 2009?

1.3 Manfaat Penelitian


1.3.1 Manfaat bagi Peneliti
1. Sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan penelitian khususnya
di bidang kesehatan.
2. Sebagai sarana untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu
yang telah diperoleh di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

1.3.2 Manfaat bagi Masyarakat


1. Sebagai wacana pengetahuan masyarakat Desa Karangan, Kecamatan
Bareng, Kabupaten Jombang.
2. Sebagai sarana memperoleh pengetahuan masyarakat Desa Karangan,
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang tentang pentingnya memeriksakan
kehamilannya minimal 4 kali ke sarana pelayanan kesehatan.

1.3.3 Manfaat bagi Institusi Kesehatan


1. Sebagai bahan evaluasi terhadap program pemerintah dalam bidang
Kesehatan Ibu dan Anak.

3
2. Sebagai sarana untuk membantu meningkatkan persentase cakupan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng, Kabupaten Jombang.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan dan penyusunan program-
program Kesehatan Ibu dan Anak.

4
BAB 2
TUJUAN PENELITIAN

2.1 Tujuan Umum


Mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil dengan rendahnya cakupan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan Bareng,
Kabupaten Jombang.

2.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan
kehamilan K4.
2. Mengetahui status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa
Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang pada Januari sampai
Mei 2009.
3. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng, Kabupaten Jombang pada Januari sampai Mei 2009.

5
BAB 3
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Operasional, yang dilakukan melalui tahapan-


tahapan, yaitu :
1. Pengenalan Medan
2. Diagnosa Komunitas
3. Terapi Komunitas
4. Evaluasi
Pada tahap yang pertama, yaitu Pengenalan Medan, Penelitian dilakukan secara
observasional, dimana peneliti hanya mengamati dan tidak memberikan tindakan, dan
analisa datanya menggunakan metode statistik analitik, dimana peneliti ingin mencari
hubungan antara variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan ibu hamil dan variabel
tergantung yaitu kunjungan pemeriksaan kehamilan K4. Sedangkan menurut waktu
pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan pendekatan secara cross-sectional,
karena penelitian ini dilakukan secara langsung dalam satu periode waktu tertantu.
Pada tahap yang kedua, yaitu Diagnosa Komunitas, dilakukan sejumlah
kegiatan, diantaranya dilakukan lokakarya dengan tujuan untuk menyimpulkan masalah
kesehatan yang dijumpai serta mengambil keputusan bersama untuk melakukan
program perbaikan untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut.
Pada tahap yang ketiga, yaitu terapi komunitas, dilakukan pelaksanaan program
yang terpilih dan tersusun untuk mengatasi masalah kesehatan yang telah ditetapkan
dalam tahap diagnosa kesehatan.
Pada tahap keempat dan terakhir, yaitu tahap evaluasi dilakukan penilaian dari
rangkaian proses pelaksanaan dan hasil program tersebut.

3.1 Lokasi Penelitian


Pemilihan lokasi penelitian sesuai dengan penugasan oleh Biro
Koordinasi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga kepada kami di
Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Adapun tempat yang kami pilih sebagai lokasi penelitian adalah Desa Karangan,
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

6
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2009 hingga 2 Juli 2009.

3.3 Populasi Penelitian


Elemen Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang sudah melahirkan pada 1
Januari sampai 31 Mei 2009 yang bertempat tinggal di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

3.4 Sampel Penelitian


Sampel penelitian ini adalah total populasi yang terpilih sebagai responden
berdasarkan kriteria inklusi, yang disebabkan karena jumlah populasi ibu
melahirkan antara 1 Januari – 31 Mei 2009 di Desa Karangan hanya berjumlah 28
orang.

Kriteria eksklusi sampel :


1. Ibu yang tidak melahirkan antara 1 Januari – 31 Mei 2009
2. Ibu yang tidak bersedia diwawancara
3. Ibu yang tidak berada di tempat pada saat dilakukan wawancara

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


3.5.1 Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :
Variabel 1 : Tingkat pengetahuan ibu hamil
Variabel 2 : Kunjungan pemeriksaan kehamilan K4

7
3.5.2 Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi
No. Variabel Parameter Instrumen Skala Skor
Operasional
A. Variabel 1

8
Tingkat Pengetahuan yang Kemampuan menjawab Kuesioner Nominal • Jawaban benar nilai 1
pengetahuan ibu dimiliki oleh ibu pertanyaan bagi ibu yang • Jawaban salah nilai 0
hamil tentang yang melahirkan terpilih sebagai
kunjungan antara 1 Januari -31 responden mengenai :
pemeriksaan Mei 2009 tentang 1. Pengetahuan Tingkat pengetahuan:
kehamilan ke pentingnya tentang resiko 1. Tingkat pengetahuan
sarana melakukan tinggi saat baik ≥ mean
pelayanan pemeriksaan kehamilan
kesehatan kehamilan ke tenaga 2. Pengetahuan ibu 2. Tingkat pengetahuan
kesehatan hamil tentang kurang < mean
pentingnya
melakukan
pemeriksaan
kehamilan untuk
mendeteksi dini
resiko tinggi
dalam kehamilan
3. Pengetahuan ibu
hamil tentang
kunjungan
pemeriksaan
kehamilan

B Variabel 2

9
Kunjungan Kunjungan ibu 1. Pengalaman Kuesioner Nominal 1. Dikatakan K4 bila :
pemeriksaan hamil minimal 4 kali ibu melakukan ibu hamil melakukan
kehamilan K4 selama kehamilan kunjungan kunjungan pemeriksaan
yaitu 1 kali pada pemeriksaan kehamilan ke sarana
trimester I, 1 kali kehamilan pada pelayanan kesehatan
pada trimester II, kehamilan minimal 4 kali, yaitu 1
dan 2 kali pada terakhir yang kali pada trimester I, 1
trimester III lalu. kali pada trimester II,
2. Frekuensi dan 2 kali pada
melakukan trimester III
kunjungan
pemeriksaan 2. Dikatakan tidak K4
kehamilan pada bila :
kehamilan a. Ibu hamil tidak
terakhir yang melakukan kunjungan
lalu Daftar tilik pemeriksaan kehamilan,
atau
Observasi melihat data b. Ibu hamil melakukan
kunjungan pemeriksaan kunjungan pemeriksaan
kehamilan ibu pada ’kehamilan ke sarana
catatan bidan desa di pelayanan kesehatan <
buku kohort ibu dan buku 4kali
KIA ibu Ibu hamil yang
melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan
4kali tapi tidak 1 kali
pada trimester I,1 kali
pada trimester II,dan 2
kali pada trimester III.

10
3.6 Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan oleh petugas pengumpul data, yaitu Dokter
Muda Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Instrumen yang digunakan
untuk pengumpulan data adalah kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu
hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, pengalaman ibu serta
frekuensi ibu melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan pada kehamilan
terakhir yang lalu, serta observasi kunjungan pemeriksaan kehamilan ibu pada
kehamilan terakhir yang lalu pada buku kohort ibu dan buku KIA ibu. Setelah data
diambil, data diperiksa kelengkapannya agar tidak terjadi kesalahan pengisian dan
sedini mungkin dapat diklarifikasi kembali.
Daftar nama dan alamat ibu yang telah melahirkan pada 1 Januari sampai
31 Mei 2009 didapat dari data sekunder yaitu buku kohort ibu dari bidan desa
Karangan, dan dengan bantuan ibu kader di 5 dusun membantu menemukan alamat
responden.

3.7 Uji Validitas dan Reliabilitas


Data yang diperoleh dari kuisioner yang dibagikan tanggal 24 Juni 2009
kepada 20 responden di Desa Karangan, dilakukan uji validitas terhadap 17
pertanyaan dalam kuesioner. Uji validitas menggunakan Pearson’s Correlation,
didapatkan 13 pertanyanan valid dan 4 pertanyaan tidak valid. Hal ini
menunjukkkan dari 17 pertanyaan dalam kuesioner, 13 pertanyaan diantaranya
dapat dipahami oleh seluruh responden, sedangkan 4 pertanyaan tidak dapat
dipahami. Maka 4 pertanyaan yang tidak valid dihilangkan dari daftar pertanyaan
dalm kuesioner. Sementara pada uji reliabilitas didapatkan nilai Cronbach’s alpha
sebesar 0,792. Nilai ini lebih tinggi daripada nilai alpha 0,6 hal ini berarti bahwa
kuisioner ini reliabel atau dapat dipakai oleh orang lain diluar Desa Karangan.

10
Tabel 3.2 Penilaian Uji Validitas

No Pengetahuan tentang Gizi Pearson’s correlation Keterangan


1. Resiko usia terlalu muda/tua - 0,083 Tidak Valid
2. Jarak kehamilan lagi dengan persalinan 0,298 Tidak Valid
3. Resiko punya terlalu banyak anak 0,572** Valid
4. Akibat tinggi ibu < 145cm 0,289 Tidak Valid
5. Bahaya keguguran 0,423* Valid
6. Bahaya sungsang 0,384* Valid
7. Kehamilan beresiko 0,416* Valid
8. Pemeriksaan kehamilan 0,331 Tidak Valid
9. Manfaat memeriksakan kehamilan 0,459* Valid
10. Kegunaan pengukuran tinggi rahim 0,400* Valid
11 Imunisasi saat pemeriksaan kehamilan 0,622** Valid
12 Jenis imunisasi 0,462* Valid
13 Obat yang diminum selama hamil 0,520** Valid
14 Frekuensi datang memeriksakan 0,393* Valid
kehamilan
15 Frekuensi periksa saat trimester I 0,636* Valid
16. Frekuensi perksa saat trimester II 0,674* Valid
17. Frekuensi periksa saat trimester III 0,466* Valid
* Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed)
**Correlation is significant at the 0,01 level (1-tailed)

Dari data penilaian uji validitas diatas didapatkan 13 pertanyaan yang valid,
maka ketigabelas pertanyaan tersebut digunakan untuk pertanyaan kuesioner
penelitian kami.

3.8 Pengolahan dan Analisis Data


Nilai total pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal adalah
jumlah nilai hasil jawaban responden mulai pertanyaan nomer 6 sampai nomor 19
dari kuesioner tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi dalam
kehamilan dan kunjungan antenatal. Dari jawaban responden tersebut akan
dijumlah, dan dihitung rata – rata (mean) nilai dari seluruh responden. Bila jumlah
nilai pengetahuan di bawah nilai mean maka akan dikategorikan sebagai tingkat
pengetahuan kurang, sebaliknya jika jumlah nilai total diatas nilai mean maka akan
dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan baik.
Kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 dilakukan dengan kuesioner untuk
menggali pengalaman ibu hamil melakukan kunjungan antenatal sampai 4 kali

11
selama kehamilan dengan syarat 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan
2 kali pada trimester III, diperkuat pula dengan observasi melihat data kunjungan
antenatal yang telah dilakukan ibu di buku KIA ibu. Dan bila ibu tersebut telah
melakukan kunjungan antenatal 4 kali dan dengan syarat 1 kali pada trimester I, 1
kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III, maka akan dikategorikan K4,
dan bila Ibu hamil tidak melakukan kunjungan antenatal, atau melakukan
kunjungan antenatal ke sarana pelayanan kesehatan < 4 kali, melakukan kunjungan
antenatal 4 kali namun tidak 1 kali pada trimester I, dan 1 kali pada trimester II, dan
2 kali pada trimester III, maka akan dikategorikan tidak K4.
Analisa data dilakukan dengan cara statistik deskriptif untuk menyajikan
tabel distribusi frekuensi dan diagram dari masing-masing variabel. Kemudian
dilakukan analisa hasil penelitian dengan metode statistik analitik menggunakan
program SPSS versi 13.0 dengan skala pengukuran nominal dan nominal .
Hubungan korelasi antara variabel bebas dan variabel tergantung akan dianalisa
dengan bantuan program SPSS versi 13.0 melalui uji korelasi koefisien
kontingensi.

12
BAB 4
JADWAL KERJA

4.1 Rencana Program


4.1.1 Lokakarya Puskesmas
Man : Dokter Muda
Money : Iuran Kelompok Dokter Muda
Material : Hasil survei lapangan dan Rencana Terapi Komunitas
Method : Presentasi dilanjutkan diskusi serta brainstorming
Machine : Laptop dan LCD Projector
Market : Tenaga kesehatan Puskesmas Bareng
Time : Sebelum pelaksanaan terapi komunitas

Penyuluhan Pada Ibu Hamil dan Kader


Man : Dokter Muda dan Bidan Desa
Money : Iuran Kelompok Dokter Muda
Material : Pesan pentingnya kunjungan antenatal minimal 4 kali
selama kehamilan
Method : Penyuluhan dan Diskusi
Machine : Papan Materi
Market : Ibu hamil dan Kader Desa Karangan
Time : Setelah lokakarya puskesmas

Evaluasi Program
Man : Dokter Muda
Money : Iuran Kelompok Dokter Muda
Material : Hasil pelaksanaan terapi komunitas
Method : Presentasi hasil penelitian dan terapi komunitas dan
Brainstorming
Machine : Laptop dan LCD Projector
Market : Tenaga kesehatan Puskesmas Bareng
Time : Setelah pelaksanaan terapi komunitas

13
Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

No Jenis Kegiatan Waktu (Hari)


I-VI VII VII-X XI-XIII XIV-XVI XX
1 Persiapan Usulan
X
Penelitian
2 Orientasi lokasi
penelitian dan
X
mengumpulkan
survey data sekunder
3 Seminar usulan
X
penelitian
4 Uji coba instrumen X X
5 Pengumpulan data X
6 Pengolahan data dan
penyusunan laporan X X
penelitian
7 Lokakarya X
8 Diagnosis
X X
Komunitas
9 Penyuluhan
kesehatan (Terapi X
Komunitas)
10 Seminar hasil
X
Penelitan

BAB 5
MASALAH KESEHATAN YANG DIPELAJARI

14
5.1 Kerangka Konseptual

FAKTOR PELAYANAN
KESEHATAN

Angka Kematian Ibu


Hamil FAKTOR
FAKTOR LINGKUNGAN
PERILAKU Kunjungan Pemeriksaan
V
Kehamilan K4
Pengetahuan Ibu
Hamil

FAKTOR
HEREDITER

KETERANGAN
: Variabel yang diteliti
: Variabel lain yang mempengaruhi

Gambar 5.1. Kerangka Konseptual

5.2 Ilustrasi Kerangka Konseptual


Masalah angka kematian ibu hamil yang tinggi masih menjadi prioritas
bagi Indonesia untuk ditangani, kematian ibu hamil sebagian besar disebabkan
oleh komplikasi kehamilan, antara lain perdarahan, infeksi, dan eklampsia.
Sementara komplikasi kehamilan ini dapat tertangani dengan deteksi dini yang
dilakukan dalam kunjungan antenatal oleh karena itu kunjungan antenatal rutin
minimal 4 kali selama kehamilan sangat penting untuk dilakukan. Karena dari
kunjungan antenatal itu dapat mendeteksi sedini mungkin komplikasi dalam
kehamilan sehingga dapat segera memperoleh pelayanan rujukan yang efektif,
selain itu dapat mempersiapkan kehamilan yang aman, serta memberikan
pendidikan tentang kehamilan kepada ibu hamil. Salah satu yang digunakan
untuk menilai derajat kesehatan masyarakat yaitu angka kematian ibu hamil,

15
yang dapat dinilai dari angka kunjungan pemeriksana kehamilan K4. Menurut
teori Blum derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor,yaitu
herediter, perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini
kami menitikberatkan penelitian kepada faktor perilaku terutama pengetahuan
ibu hamil tentang pentingnya memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama
kehamilan, karena berakar dari pengetahuan ibu tersebut maka akan
mempengaruhi sikap dan perilakunya untuk melakukan kunjungan pemeriksaan
kehamilan, sedangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kunjungan
pemeriksaan kehamilan K4 tidak kami teliti.

5.3 Hipotesis Penelitian


Hipotesis:
• H0 : Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil
dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan,
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang
• H1: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan,
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang

5.4 Tinjauan Pustaka


5.4.1 Resiko Tinggi Dalam Kehamilan
Ada 3 kelompok faktor resiko dalam kehamilan menurut kartu skor Poedji
Rochjati yaitu :
1. Kelompok Faktor Resiko I
Ada – Potensi – Gawat – Darurat (APGO) terdiri dari 7 terlalu dan 3 pernah.
Terlalu muda, hamil pertama umur 16 tahun atau kurang (Primi Muda); Terlalu
lambat, hamil pertama setelah menikah 4 tahun atau lebih (Primi Tua); Terlalu
tua, hamil pertama umur 35 tahun keatas (Primi Tua); Terlalu cepat punya anak
lagi, anak terkecil < 2 tahun; Terlalu lama punya anak lagi, anak terkecil 10
tahun atau lebih (Primi Tua Sekunder); Terlalu banyak punya anak 4 atau lebih
(Grande Multi); Terlalu tua hamil umur 35 atau lebih; Terlalu pendek : hamil I,II

16
atau lebih belum pernah melahirkan normal, cukup bulan, hidup (tinggi badan
kurang dari 145 cm); Pernah gagal kehamilan, hamil II yang I gagal, hamil III
atau lebih 2X gagal, yang terakhir lahir mati (Riwayat Operasi Jelek); Pernah
melahirkan dengan tarikan tang atau vacum, Pernah melahirkan dengan uri
dirogoh/uri manuil, Perdarahan Post Partum diberi infus (Persalinan yang lalu
dengan tindakan Bukan Operasi Sesar); Pernah melahirkan bayi dengan operasi
sesar sebelum hamil ini (Bekas Operasi Sesar)

2. Kelompok Faktor Resiko II


Ada – Gawat – Obstetrik (AGO) yaitu : Ibu hamil dengan penyakit seperti
Kurang darah, Malaria, TBC paru, Penyakit Jantung, Kencing manis (Diabetes),
Penyakit Menular Sexual; Keracunan kehamilan Pre eklampsia, bengkak pada
muka dan tungkai (ditandai dengan Tekanan Darah yang tinggi, Albumin
terdapat dalam air seni); Hamil Kembar, perut ibu sangat membesar dan gerak
anak terasa dibanyak tempat; Hidramnion / kembar air, perut ibu sangat
membesar, gerak anak tidak begitu terasa; Janin mati dalam kandungan, ibu
hamil merasa tidak ada gerakan anak lagi; Hamil lebih bulan / post date /
serotinus yaitu ibu hamil 9 bulan lebih 2 minggu belum melahirkan; Letak
Sungsang, letak lintang
3. Kelompok Faktor Resiko III
Ada – Gawat – Darurat – Obstetri (AGDO) yaitu Perdarahan Antepartum
mengeluarkan darah pada hamil ini; Pre eklampsia Berat / Eklampsia terjadi
kejang-kejang pada hamil 7 bulan atau lebih pada ibu dengan keracunan
kehamilan

5.4.2 Pelayanan Antenatal


Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh
tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, perawat
bidan) pada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang sesuai dengan standar
pelayanan minimal pelayanan antenatal meliputi 5 T yaitu Timbang berat badan
dan ukur tinggi badan, ukur Tekanan darah, imunisasi TT, ukur Tinggi fundus
uteri dan pemberian Tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan.

17
Dengan demikian secara operasional pelayanan antenatal yang tidak
memenuhi 5 T belum dianggap pelayanan antenatal. Ditetapkan pula frekuensi
pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada triwulan
pertama dan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan antenatal
seharusnya mencakup berbagai jenis pelayanan , komponen penting yang harus
ada yaitu : skrining dan pengobatan penyakit anemia, malaria dan penyakit
menular seksual, kemudian deteksi dan penanganan komplikasi seperti kelainan
letak (malpresentasi), hipertensi, edema, dan preklampsia, serta penyuluhan
tentang komplikasi esensial, kapan dan bagaimana cara mendapatkan pelayanan
rujukan.
Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid dapat menurunkan kemungkinan
kematian bayi dan mencegah kematian ibu akibat tetanus. Semua ibu hamil
harus diberitahukan tentang pemberian 5 suntikan tetanus sesuai dengan
program TT seumur hidup. Selain itu ibu hamil juga harus memahami bahwa
resiko infeksi tetanus akan berkurang jika persalinannya dibantu oleh tenaga
kesehatan yang terlatih.
Setiap ibu hamil yang belum pernah diberikan imunisasi tetanus harus
mendapatkannya paling sedikit 2 kali suntikan selama kehamilannya, yaitu
pertama pada saat kunjungan antenatal pertama dan kali kedua pada 4 minggu
kemudian. Walaupun demikian apabila ada waktu, suntikan ketiga dapat
diberikan juga. Untuk mencegah tetanus terhadap bayi baru lahir, dosis terakhir
harus diberikan paling lambat 2 minggu sebelum melahirkan
Apabila ibu pernah diberikan imunisasi sebelumnya, maka satu kali
pemberian serum tambahan masih diperlukan selama kehamilannya. Berikan
satu suntikan pada kunjungan antenatal pertama, paling lambat 2 minggu
sebelum persalinan

18
Tabel 5.1 Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid Lengkap
Imunisasi Interval Durasi perlindungan
TT1 Pada kunjungan antenatal ..
pertama
TT2 4 minggu setelah TT1 3 tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun / seumur
hidup

Pemberian tablet besi berguna untuk peningkatan volume darah yang


terjadi selama kehamilan dan untuk memastikan pertumbuhan dan
perkembangan janin yang adekuat. Kebutuhan zat besi meningkat seiring
dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi kebutuhan ibu hamil dapat minum
tablet zat besi, dan makan dengan gizi seimbang. Makanan yang mengandung
zat besi adalah daging, hati dan jeroan, telur, polong kering, kacang tanah,
kacang-kacangan dan sayur berdaun hijau.
Apabila kekurangan zat besi, ibu hamil akan mengalami anemia. Ibu
hamil dengan anemia cenderung mengalami kelahiran prematur, mudah jatuh
sakit akibat daya tahan tubuh yang lemah, melahirkan bayi dengan berat badan
rendah, mengalami perdarahan pasca persalinan dan angka kematian yang
tinggi. Ibu hamil yang mengalami anemia banyak dijumpai pada jarak
kehamilan yang terlalu dekatt, penderita penyakit malaria, cacing tambang dan
infeksi kronis.
Tablet tambah darah diberikan kepada setiap ibu hamil paling sedikit 90
tablet, dengan dosis 1 (satu) tablet setiap hari selama kehmilannya (pada saat
minum Fe dianjurkan tidak menggunakan air teh/ kopi dan sangat dianjurkan
untuk minum vitamin C). Tablet zat besi mengandung 60 mg zat besi dan 0,25
mg asam folat.
Salah satu efek sampng penggunaan zat besi adalah sembelit. Untuk
mengatasi sembelit, ibu hamil dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi makanan
berserat, banyak minum air putih dan olahraga.

19
5.4.2.1 Tujuan pelayanan antenatal
Tujuan pelayanan antenatal antara lain memantau kemajuan kehamilan
untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu, mengenali dan
mengurangi secara dini adanya penyulit atau komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman
dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas
berjalan normal dan mempersiapkan ibu agar dapat memberikan ASI secara
eksklusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
janin agar dapat tumbuh kembang secara normal, mengurangi bayi lahir
prematur, kelahiran mati, dan kematian neonatal, serta mempersiapkan
kesehatan yang optimal bagi janin.

5.4.2.2 Kegiatan dalam pelayanan antenatal


Pada kunjungan antenatal pertama, mulai dikumpulkan informasi
mengenai ibu hamil yang akan membantu dalam membangun hubungan
kepercayaan antara pemberi pelayanan kepada ibu, mendeteksi komplikasi, dan
menyusun rencana khusus bila diperlukan. Sedangkan kunjungan berikutnya
dikumpulkan informasi mengenai kehamilan untuk mendeteksi komplikasi dan
melanjutkan pemberian pelayanan yang diperlukan.
Pada kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan kehamilan yang
meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik terhadap ibu hamil, diagnosa, prognosa,
dan terapi.
Anamnesa pada kunjungan pelayanan antenatal pertama ibu hamil, meliputi :
1. Identifikasi ibu ( nama, nama suami, usia, pekerjaan, agama, alamat ibu ),
untuk mengenal ibu hamil dan menentukan status sosial ekonominya )
2. Keluhan utama/apa yang diderita, apakah ibu dating untuk memeriksakan
kehamilan/ada masalah lain dalam kehamilannya.
3. Riwayat haid, untuk mengetahui faal alat kandungan
4. Riwayat perkawinan

20
5. Riwayat kehamilan sekarang, antara lain HPHT ( Hari Pertama Haid
Terakhir ) untuk membantu menentukan usia kehamilan dengan tepat dan
perkiraan tanggal persalinan, gerak janin ( kapan mulai dirasakan apakah ada
perubahan ), masalah/tanda – tanda bahaya, keluhan yang lazim pada
kehamilan, penggunaan obat – obatan termasuk jamu. Informasi yang
didapat digunakan untuk membantu mendeteksi komplikasi kehamilan dan
konseling tentang kehamilan.
6. Riwayat kebidanan yang lalu, antara lain berapa kali hamil, anak lahir hidup,
persalinan tepat waktu, persalinan dengan tindakan, perdarahan pada
kehamilan atau kelahiran, riwayat persalinan yang lalu, riwayat hipertensi,
berat lahir janin < 2,5 kg atau > 4 kg, riwayat nifas dan laktasi, kondisi bayi
yang dilahirkan, masalah-masalah lain yang dialami
7. Riwayat kesehatan, yaitu penyakit yang pernah diderita seperti penyakit
kardiovaskular, TB paru, Diabetes, Hipertensi, PMS, Malaria, Status
Imunisasi TT
8. Riwayat Keluarga, seperti riwayat anak kembar, penyakit keturunan
9. Riwayat Sosial Ekonomi dan Budaya, yaitu : status perkawinan, riwayat KB,
reaksi orang tua dan keluarga terhadap kehamilan ini, dukungan keluarga,
pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan makan dan gizi yang
dikonsumsi terutama vitamin A dan zat besi, kebiasaan hidup sehat, meliputi
kebiasaan merokok, minum obat/ alcohol/jamu, kegiatan sehari hari, tempat
melahirkan dan penolong yang diinginkan, beban kerja dan kegiatan sehari –
hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan.
10. Menentukan Taksiran persalinan
Saat persalinan bisa ditentukan saat kunjungan antenatal pertama, dengan
anamnesa ataupun dengan klinis seperti melihat besarnya uterus maupun
dengan menggunakan ultrasonografi.

Dari anamnesa, dapat membantu untuk mengetahui dukungan terhadap ibu dan
pengambil keputusan dalam keluarga, sehingga membantu ibu dalam
merencanakan persalinan yang lebih baik.

21
Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan secermat mungkin dan perlu ketelitian sehingga didapat
diagnosa yang tepat, selain itu dapat juga untuk mendeteksi penyulit dan
komplikasi kehamilan.
1. Pemeriksaan Luar
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum ibu, gizi, kesadaran, anemi, sianosis, ikterus
atau dispnoe,keadaan jantung dan paru, suhu badan, tekanan
darah, denyut nadi dan pernafasan,oedema, tinggi badan,
berat badan, reflek, pemeriksaan laboratorium sederhana (Hb,
golongan daran dan urine rutin)
b. Pemeriksaan Kebidanan
Inspeksi
Kepala dan leher : rambut rontok, edema, chloasma di wajah,
konjungtiva, sclera, bibir pucat, lidah pucat karies gigi,
pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid dan tonsil
Dada : bentuk payudara, pigmentasi putting susu, keluar
kolostrum
Perut : ascites, keadaan pusat, linea alba, ada gerakan anak
atau tidak, kontraksi rahim, striae gravidarum dan bekas luka
operasi
Vulva : keadaan perineum, varices, tanda Chadwick, fluor,
condyloma
Anggota Bawah : Varices, oedema, luka, sikatrik pada lipat
paha
Palpasi ( Periksa Raba )
Dilakukan untuk menentukan:
- Besarnya rahim untuk menentukan tuanya kehamilan
- Letak anak dalam rahim
Terdiri atas 4 bagian:
Leopold I, untuk menentukan tuanya kehamilan dan bagian
apa yang terdapat dalam fundus.

22
Leopold II, untuk menentukan letak punggung janin dan letak
bagian kecil-kecil janin.
Leopold III, untuk menentukan apa yang terdapat di bagian
bawah rahim dan apakah bagian bawah janin sudah terpegang
oleh pintu atas panggul.
Leopold IV, untuk menentukan apa yang menjadi bagian
bawah dan berapa jauhnya bagian bawah ini masuk kedalam
rongga panggul.
Hubungan tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan :
Perkiraan usia kehamilan setelah minggu 24, cara yang paling
efektif adalah dengan menggunakan pita ukuran. Ukur tinggi
fundus uteri dengan pita ukuran dari simfisis pubis ke fundus
uteri.
Rumus : tinggi fundus uteri (cm) = tua kehamilan (bulan)
3,5 cm

Auskultasi
Digunakan stetoskop atau Doppler, untuk mendengar bunyi
ajantung janin, bising tali pusat, gerakan janin, bising rahim,
bunyi aorta dan bising usus.
Pemeriksaan Dalam
Dilakukan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan
antenatal pada kehamilan muda dan sekali lagi pada
kehamilan trimester III untuk menentukan keaadan panggul.

Pemeriksaan Antenatal Ulangan


Yaitu setiap kunjungan pemeriksaan antenatal yang dilakukan setelah
kunjungan pemeriksaan antenatal pertama. Kunjungan ulang lebih diarahkan
untuk mendeteksi komplikasi, mempersiapkan kelahiran, dan mendeteksi
kegawatdaruratan, pemeriksaan fisik yang terarah serta penyuluhan bagi ibu
hamil, meliputi:
1. Riwayat kehamilan sekarang ;

23
a. Gerak janin
b. Setiap masalah atau tanda-tanda bahaya
c. Keluhan-keluhan lazim dalam kehamilan
d. Kekhawatiran-khawatiran lain
2. Pemeriksaan Fisik
a. Berat badan
b. Tekanan darah
c. Pengukuran tinggi fundus uteri (setelah kehamilan 12 minggu dengan palpasi,
setelah kehamilan 22 minggu dengan pita ukuran)
d. Palpasi abdomen untuk deteksi kehamilan ganda (setelah 28 minggu)
e. Manuver Leopold untuk deteksi kedudukan abnormal (setelah kehamilan 36
minggu)
f. Bunyi jantung janin (setelah kehamilan 18 minggu)
g. Menghitung taksiran berat badan janin
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Khususnya terhadap protein dalam urine
b. Pemeriksaan laboratorium lainnya, dilakukan bilamana ada indikasi

Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik maka dapat


ditegakkan diagnosa. Selain iu dapat pula diketahui hamil atau tidak, primi atau
multigravida, usia kehamilan, janin hidup atau mati, janin tunggal atau kembar,
letak anak, anak intra atau ekstrauterin, keadaan jalan lahir, keadaan umum
penderita.
Prognosa atau ramalan persalinan dibuat setelah ditegakkan diagnosa.
Prognosa pesalinan dapat diperkirakan apakah akan berjalan normal dan lahir
spontan atau sulit dan berbahaya.
Setelah diagnosa ditegakkan, maka selanjutnya kita melakukan terapi.
Tujuan terapi pada ibu hamil adalah untuk mencapai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya dalam kehamilan dan menjelang persalinan. Keluhan yang
mengganggu perlu diperlihatkan dan diberi pengobatan. Berikan konseling pada
ibu hamil mengenai kehidupan waktu hamil, hygiene dan gizi, pemeriksaan
antenatal, tanda-tanda bahaya.

24
Tabel 5.2 Penilaian Kunjungan Antenatal

Tanda-tanda bahaya
Tanda-tanda bahaya selama masa kehamilan bila tidak dilaporkan atau
tidak terdeteksi oleh ibu hamil dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu
harus selalu diwaspadai kemungkinan tanda-tanda bahaya yang terjadi selama
kehamilan. Pada setiap kunjungan pemeriksaan antenatal, sebaiknya kepada ibu
hamil diberitahukan kondisinya kalau keadaannya normal dan bila ada kelainan.
Kepada ibu hamil dan keluarganya perlu diajarkan tanda-tanda bahaya pada ibu

25
hamil, maka ibu hamil harus segera datang memeriksakan diri. Tanda – tanda
bahaya telah dirangkum dalam tabel 5.3 di bawah ini.

Tabel 5.3 Tanda Bahaya Dalam Kehamilan

26
27
5.4.2.3 Indikator pelayanan antenatal
Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran
besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4
adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu
hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan (sekali pada
trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester

28
ketiga). Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan
kesehatan ibu hamil.

5.4.2.4 Perhitungan cakupan kunjungan antenatal K4

Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh


pelayanan antenatal K4
Kunjungan ibu hamil K4 = x100%
Jumlah sasaran ibu hamil

5.4.3 Teori HL Blum


Menurut HL Blum terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kesehatan,
yaitu herediter / genetik, lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku / gaya
hidup.

Gambar 5.2 Gambar teori HL Blum

29
5.4.4 Pengetahuan
5.4.4.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu persatuan antara subyek dan obyek dengan
mengetahui subyek menjadi manunggal dengan obyek dan obyek menjadi
manunggal dengan subyek. Pengetahuan ini merupakan hasil dari tahu, dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Dengan pengetahuan subyek yang tadinya tidak mengetahui menjadi
mengetahui; obyek yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui. Oleh karena
itu pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 1997).

5.4.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Perilaku seseorang merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan
seperti pengetahuan, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya. Gejala
kejiwaan tersebut diatas, dalam hal ini pengetahuan, dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah:
1. Pengalaman
Pengalaman adalah totalitas segala pengamatan yang disimpan di dalam
ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan sesuai
dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau (Sudarsono, 2006).
Pengalaman sendiri dipengaruhi oleh:
a. Usia
Pengalaman dapat diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya
antara lain melalui proses belajar, sebagian lain seperti yang
diperlihatkan oleh beberapa instrumen dasar khusus (bakat) bergantung
kepada perkembangan umur yang bersangkutan. Makin bertambah usia
seseorang, akan makin banyak pula pengalaman yang ia dapatkan, yang
akan berpengaruh juga terhadap pengetahuan yang ia miliki.
b. Jumlah Anak
Wanita yang sudah memiliki anak umumnya mempunyai pengalaman
lebih dibandingkan wanita yang belum mempunyai anak, dengan
demikian, kemungkinan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi lebih

30
besar. Banyaknya persoalan yang diselesaikan menambah pula
kemampuan untuk mengamalkan pengalamannya dalam penyelesaiannya
persoalan yang baru.
Dalam hal ini, persoalan yang dimaksud adalah membesarkan anak. Jika
wanita sudah mempunyai anak, umumnya akan turut mendorong dirinya
untuk mencari informasi demi pertumbuhan anaknya secara optimal.
c. Status Keluarga
Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting
didalam masyarakat, dan orang tua atau keluarga bukan saja merupakan
lingkungan pertama sejak kita dilahirkan tetapi juga merupakan
lingkungan yang paling lama dijalani. Hubungan orang tua dan anak
harus ditanamkan sejak dini karena proses itu merupakan suatu proses
belajar. Dimana individu selalu mencontoh atau mengulangi apa yang
pernah didapatkan dalam proses itu.
2. Pendidikan
Samuel Soitoe (1982), mengemukakan bahwa pendidikan adalah segala
sesuatu yang dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk mengubah tingkah
laku manusia kearah yang lebih baik yang diharapkan. Arah yang baik
berarti proses yang membawa seseorang kepada pengertian dan pelaksanaan
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tempat ia hidup.
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima
informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
Sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
3. Kepercayaan
Kepercayaan adalah sikap untuk menerima suatu pernyataan tanpa
menunjukkan sikap pro atau anti kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan
tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Kepercayaan dapat tumbuh bila
berulang kali mendapatkan informasi yang sama (Notoatmodjo, 1997).
4. Fasilitas Sumber Daya
Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan perkara atau
kelancaran tugas. Fasilitas mencakup orang, waktu, tenaga dan sebagainya.

31
Semua itu berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau kelompok
masyarakat. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif
maupun negatif. Ada atau tidaknya informasi atau fasilitas kesehatan akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
5. Kebudayaan / Sosial Budaya Masyarakat
Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban mengandung pengertian
yang luas meliputi perasaan aman, perasaan suatu bangsa yang kompleks
meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan
pembawaan yang diperoleh dari masyarakat (Nursalam, 2001).

5.4.4.3 Tingkatan Pengetahuan


Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmojo
(1997) mempunyai 6 tingkatan:
1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari


sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan
materi secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,
dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini
dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

32
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan
(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan
sebagainya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan
kriteria-kriteria yang telah ada.

Pengetahuan diperoleh dari hasil tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo, 1997).

5.4.4.4Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku


Sebelum seseorang berperilaku maka orang tersebut terlebih dahulu
mempunyai sikap dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan
pengetahuan yang dialami sebelumnya. Hal tersebut dijadikan dasar dan
paradigma untuk bertindak sehingga tingkat pengetahuan merupakan yang
urgent dalam menentukan determinan perilaku (Notoatmodjo, 1997).
Secara skematis hubungan antara pengetahuan dan perilaku digambarkan
sebagai berikut:

33
Pengetahuan Sikap Perilaku

Gambar 5.3 Hubungan Antara Pengetahuan Dan Perilaku

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat


penting dalam tindakan seseorang. Sedangkan ada pendapat lain yang
menyatakan bahwa hubungan antara pengetahuan dan perilaku ini terkait
dengan adanya 3 prinsip yaitu:
1. Asosianisme, yang menyatakan bahwa
gagasan atau isi jiwa itu terbentuk
dari asosiasi unsur-unsur yang berupa kesan-kesan yang berasal dari
pengamatan.
2. Behaviorisme yang menetapkan tingkah laku sebagai istilah dasar, yang
menunjuk pada kehidupan mental, dan masalah pengetahuan yang tidak
dapat dipisahkan dari proses penanaman kondisi. Dan penghayatan
kejiwaan terdiri dari proses sederhana yang terdiri dari rangsang
(stimulus) dan disambut dengan tanggapan tertentu (response).
3. Koneksionisme, mempuyai konsep-konsep yang bersifat meningkatkan
pandangan dari behaviorisme. Dikatakan bahwa manusia dalam
kehidupannya selalu membentuk tata jawaban (patterns of responses)
dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus
(S) dan respons (R) (Notoatmodjo, 2001).

34
BAB 6
PENGENALAN MEDAN

6.1 Analisis Situasi


Puskesmas Bareng yang merupakan puskesmas perawatan dan
puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatologi Esensial Dasar).
Secara geografis, kecamatan Bareng merupakan wilayah Kabupaten Jombang
dengan wilayah seluas 63,112 Km2 terletak di ketinggian 90m di atas
permukaan laut, dengan suhu sekitar 230C– 300C. Terdiri dari 13 desa / 52
Dusun / 115 RW / 306 RT dengan ibukota kecamatan berada di wilayah desa
Bareng. Dan yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Bareng adalah seluruh
wilayah kecamatan Bareng karena Puskesmas Bareng merupakan satu-satunya
Puskesmas di kecamatan Bareng. Puskemas Bareng terletak di jalan raya Dr.
Sutomo no 47 Bareng Kabupaten Jombang, yang berjarak + 200 m dari kantor
kecamatan, + 30 Km dari ibukota Kabupaten Jombang, dan + 80 Km dari
iibukota Propinsi Jawa Timur.

Batas wilayah kerja Puskesmas


Bareng adalah sebagai berikut :
Utara : Kecamatan Mojowarno.
Selatan : Kecamatan Wonosalam
dan

Kecamatan
Kandangan
Timur : Kecamatan Jatirejo
Barat : Kecamatan Ngoro

Peta Wilayah kerja Puskesmas Bareng

35
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bareng Kabupaten
Jombang adalah 52.468 jiwa, dengan 15.349 rumah tangga/KK atau rata-rata 3
jiwa per rumah tangga. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 831/km2 dengan
tingkat kepadatan penduduk tertinggi di desa Banjaragung sebesar 1436
jiwa/km2 sedangkan yang terendah adalah di desa Jenis Gelaran sebesar 413
jiwa/km2.
Jumlah sarana kesehatan tahun 2008 yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Bareng Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut :

Tabel. 6.1 Sarana kesehatan di wilayah kerja Kabupaten Jombang 2008

No Sarana Kesehatan Jumlah


1 Puskesmas 1
2 Puskesmas Pembantu 3
3 Posyandu 70
4 Polindes 9
5 Desa siaga 13
Sumber : Tabel 43 lampiran Profil Kesehatan Puskesmas Bareng Kab. Jombang

2008

6.2 Standar Pelayanan Minimal


Standar pelayanan minimal yang telah dilaksanakan Puskesmas Bareng
meliputi KIA, KB, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, P2P, gizi.

Tabel 6.2 Data Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Bareng


N Jenis
Standar Pelayanan Minimal
o pelayanan
Indikator Kerja Pencap Kesenj
Target Keterangan
aian angan
(%) (%)
1 KIA 1. K4 Tidak
94 84,06 -9,94
Tercapai
2. Neonatus resti 78 79,64 1,64 Tercapai
3. Bumil risti oleh Tidak
89 51,21 -37,79
masyarakat Tercapai
4. Kunjungan balita 97 92,96 -4,04 Tidak

36
dan atrans di DDTK tercapai
5. Kunjungan bayi 89 92,64 3,64 Tercapai
6. Linakes persalinan 89 89,5 0,5 Tercapai
2. Kesehatan 7. Institusi yang dibina
60 18 -42 Tercapai
lingkungan
8. Rumah atau
bangunan yang
terbebas oleh jentik 95 95 0 Tercapai
nyamuk aides
aegepty
9. Tempat umum yang Tidak
70 68 -2
memenuhi Tercapai
3. KB 10. Cakupan akseptor
80 82,65 22,65 Tercapai
aktif dibina
4. P2P 11. UCI 90 92 2 Tercapai
12. Penderita DBD yang Tidak
100 34 -66
ditangani tercapai
13. Balita dengan diare
yang ditangani 1249 2933 1584 Tercapai

5. Promosi 14. RT sehat Tidak


50 18,78 -31,22
kesehatan tercapai
15. Posyandu purnama Tidak
35 22,4 -12,6
tercapai
16. Penyuluhan napza Tidak
10 5 -5
tercapai
17. Bayi yang
Tidak
mendapatkan ASI 70 62,8 -7,2
tercapai
eksklusif
18. Desa dengan garam
Tidak
beryodium 90 33,8 -56,2
tercapai

6. Pelayanan 29. Bumil mendapat 90


80 81,4 +1,4 Tercapai
gizi tablet Fe
20. Balita mendapat
82 94,9 +12,9 Tercapai
vit.A 2X setahun

37
21. Pemberian PASI
pada bayi BGM dr 100 100 0 Tercapai
Gakin
22. Balita gizi buruk
yang mendapat 100 100 0 Tercapai
perawatan
Sumber: Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng Tahun 2008

Dari data diatas, dicari masalah kesehatan yang ada pada masyarakat
Kecamatan Bareng. Pengertian masalah berarti adanya kesenjangan antara target
dengan pencapaian. Dari data diatas dapat diurutkan 10 indikator kerja yang
memiliki angka kesenjangan terbesar:

Tabel 6.3 Data 10 Indikator Kerja dengan Angka Kesenjangan Terbesar di


Puskesmas Bareng

Standar Pelayanan Minimal

No Target Pencapaian
Indikator Kerja Kesenjangan
(%) (%)

1 Penderita DBD yang ditangani 100 34 -66

Desa dengan garam beryodium


2 90 33,8 -56,2
baik
3 Institusi yang dibina 60 18 -42

4 Bumil risti oleh masyarakat 89 51,21 -37,79

5 RT sehat 50 18,78 -31,22

6 Posyandu purnama 35 22,4 -12,6

7 K4 94 84,06 -9,94
Bayi yang mendapatkan ASI
8 70 62,8 -7,2
eksklusif

38
9 Penyuluhan NAPZA 10 5 -5

10 Kunjungan balita 97 92,96 -4,04


Sumber: Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng Tahun 2008

Salah satu indikator kesehatan yang belum tercapai adalah masih


rendahnya angka persentase kunjungan antenatal ibu hamil K4. Target yang
ditetapkan Dinas Kesehatan sebesar 95 % namun hanya tercapai 51,21 % pada
tahun 2008.
Pada tabel 4.7 berikut ini akan terlihat cakupan kunjungan antenatal (K4)
di desa-desa yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Bareng sejak bulan
Januari hingga Desember 2008.

Tabel 6.4. Data Rekapitulasi Cakupan Kunjungan Antenatal ( K4 )


Puskesmas Bareng Januari – Desember 2008
Jumlah Sasaran
DESA Persentase (%) Peringkat
Kunjungan ( jumlah)
Bareng 148 81,31 182 IX
Mj Tengah 61 92,42 66 V
Tebel 65 82,27 79 VIII
Kebondalem 100 97,08 103 II
Karangan 40 57,14 70 XIII
Pakel 65 92,85 70 IV
Mundusewu 62 79,48 78 X
Ngampungan 70 100 70 I
Jenis Gelaran 33 66 50 XII
Pulosari 56 78,87 71 VII
Ngrimbi 56 87,5 64 VI
Nglebak 25 69,44 36 XI
Banjaragung 79 94,04 84 III

39
Gambar 6.1 Persentase Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan K4 Kecamatan Bareng
Januari – Desember 2008
Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa desa yang memiliki persentase
kunjungan antenatal keempat ( K4 ) terendah adalah Desa Karangan, yaitu
sebesar 57,14 %

6.3 Survei Lapangan


Survei lapangan dilakukan dokter muda dalam rangka melakukan
penelitian komunitas. Survei lapangan dilakukan di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng, Kabupaten Jombang. Desa Karangan terdiri dari 5 dusun yaitu, Dusun
Karangan Krajan, Dusun Karangan Wetan, Dusun Karangan Kulon, Dusun
Belimbing, dan Dusun Jeruk. Dari kelima dusun tersebut kami mengambil total
populasi yaitu semua ibu yang telah melahirkan pada 1 Januari sampai 31 Mei
2008, yang berjumlah 27 orang, karena di lapangan ditemukan 1 responden telah
pindah. Kegiatan survei ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 25 Juni 2009.
Survei dilakukan pada rumah ibu yang telah melahirkan pada Januari sampai
Mei 2009, dimana alamat rumah responden didapat melalui data sekunder di
polindes dan panduan oleh ibu bidan.

40
Gambar 6.2 Peta Desa Karangan

6.3.1 Data Lokasi Penelitian


Desa : Karangan
Kecamatan : Bareng
Kabupaten : Jombang
Propinsi : Jawa Timur
Luas Wilayah Desa Karangan : 605.514 Ha
Batas Wilayah Desa Karangan :
Batas utara : Desa Pakel
Batas barat : Desa Kebon Dalem
Batas timur : Desa Galeng Dowo
Batas selatan : Kabupaten Kediri

41
6.3.2 Data Kependudukan
Jumlah penduduk : 3693 jiwa
Laki-laki : 1796 orang
Perempuan : 1897 orang
Jumlah KK : 996

6.3.3 Data Pekerjaan


Petani : 1745 orang
Buruh Tani : 582 orang
Wiraswasta : 3 orang
PNS : 5 orang
Pedagang : 18 orang

6.3.4 Data Pendidikan


Belum Sekolah : 261 orang
Tamat SD Sederajat : 2232 orang
Tamat SLTP Sederajat : 745 orang
Tamat SLTA Sederajat : 437 orang
Mahasiswa : 18 orang

6.3.5 Data Penduduk Menurut Usia


Usia 0 – 12 Bulan : 33 orang
Usia 3 – 4 Tahun : 125 orang
Usia 5 – 6 Tahun : 277 orang
Usia 7 – 12 Tahun : 291 orang
Usia 13 – 15 Tahun : 289 orang
Usia 16 – 18 Tahun : 291 orang
Usia 19 – 25 Tahun : 424 orang
Usia 26 – 35 Tahun : 423 orang
Usia 36 – 45 Tahun : 426 orang
Usia 46 – 50 Tahun : 329 orang
Usia 51 – 60 Tahun : 305 orang

42
Usia 61 - 75 Tahun : 315 orang
Usia >75 Tahun : 165 orang

Gambar 6.3 Survei di Desa Karangan

Gambar 6.4 Survei di Desa Karangan

43
Gamb
ar 6.5 Kondisi jalan di Desa Karangan

6.4 Hasil Penelitian


6.4.1 Karakteristik Responden
6.4.1.1 Distribusi usia responden
Tabel 6.5 Distribusi usia responden di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng
Usia ( tahun ) Frekuensi Persentase ( % )
15 – 19 3 11,1
20 -24 11 40,7
25 -29 8 29,6
Usia
30 -34 2 7,4
35 – 39 3 11,1
15-19
Total 27 100,0 20 -24
25-29
30 - 34
11.11% 11.11% 35 - 39

7.41%

40.74%
29.63%

44
Gambar 6.6 Diagram lingkaran distribusi frekuensi usia responden di Desa
Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang

Tabel 6.5 di atas menunjukkan distribusi usia responden dimana


mayoritas responden berusia 20 – 24 tahun dengan persentase 40,7 %. Rentang
usia tersebut tergolong dalam wanita usia subur.

6.4.1.2 Distribusi tingkat pendidikan responden


Tabel 6.6 Distribusi tingkat pendidikan responden di Desa Karangan,Kecamatan
Bareng
Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase ( % )
Tidak tamat SD 0 0
Tamat SD/sederajat 18 66,7
Tamat SLTP/sederajat 8 29,6
Tamat SMU/sederajat 1 3,7
Perguruan Tinggi 0 0
Total 27 100,0

Pendidikan Terakhir

Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
3.7%

29.63%

66.67%

45
Gambar 6.7 Diagram lingkaran distribusi tingkat pendidikan responden di Desa
Karangan, Kecamatan Bareng

Dari tabel 6.6 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden


memiliki latar belakang pendidikan tamat SD/sederajat yaitu sebanyak 66,7 %.
Sementara responden yang mencapai tingkat pendidikan tamat SLTP
hanya 29,6%, dan yang tamat SMU hanya 3,7%. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan responden di Desa Karangan, Desa Bareng masih rendah.

6.4.1.3 Distribusi pekerjaan responden


Tabel 6.7 Distribusi pekerjaan responden di Desa Karangan, Kecamatan Bareng
Pekerjaan Frekuensi Persentase ( % )
Ibu Rumah Tangga 23 85,2
Petani 3 11,1
Swasta 1 3,7
Total 27 100,0

Pekerjaan Ibu

Ibu Rumah Tangga


Petani
Swasta
3.7%

11.11%

85.19%

Gambar 6.8 Diagram lingkaran distribusi pekerjaan responden di Desa


Karangan, Kecamatan Bareng

46
Dari tabel 6.7 tersebut, responden di Desa Karangan mayoritas tidak
bekerja dan dalam kesehariannya hanya mengerjakan aktivitas rumah tangga
saja yaitu sebesar 85,2 %. Sebesar 11,1% responden bekerja sebagai petani dan
3,7% responden bekerja sebagai pegawai swasta.

6.4.1.4 Distribusi jarak rumah dengan Puskesmas


Tabel 6.8 Distribusi jarak rumah dengan Puskesmas
Jarak ( km ) Frekuensi Persentase ( % )
<1 0 0
1 –5 10 37
>5 17 63
Total 27 100

Jarak Tempat Tinggal

2 - 5 km
> 5 km

37.04%

62.96%

Gambar 6.9 Diagram Lingkaran Jarak rumah dengan Puskesmas Pembantu

Dari tabel 6.8 di atas mayoritas responden bertempat tinggal > 5 km dari
Puskesmas Pembantu, yaitu sebesar 63%, sementara sisanya sebesar 37%
bertempat tinggal 1 – 5 km dari Puskesmas.

6.4.2 Deskripsi hasil penelitian

47
6.4.2.1 Distribusi frekuensi kunjungan responden untuk pemeriksaan kehamilan
ke Puskesmas/Bidan Desa
Tabel 6.9 Distribusi kunjungan responden untuk pemeriksaan kehamilan ke
Puskesmas/Bidan Desa
Frekuensi kunjungan Frekuensi Persentase ( % )
≥ 4 kali 15 55,6
< 4 kali 12 44,4
Total 27 100,0

SSK4

K4
Tidak K4

44.44%

55.56%

Gambar 6.10 Diagram Lingkaran Distribusi Frekuensi Kunjungan Pemeriksaan


Kehamilan ke Puskesmas/Bidan Desa

Dari tabel 6.9 dapat kita ketahui bahwa responden yang melakukan
pemeriksaan kehamilan < 4 kali sebesar 44,4% dan yang melakukan
pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali sebesar 55,6%. Hal ini menunjukkan bahwa
perbedaan antara jumlah responden yang melakukan kunjungan < 4 kali dengan
yang ≥ 4 kali tidak terlalu besar.

6.4.2.2 Distribusi alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan kurang


dari 4 kali
Tabel 6.10 Distribusi alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan
kurang dari 4 kali

48
Alasan Frekuensi Persentase ( % )
Tidak tahu harus periksa 4x 9 60,0
Tidak ada yang mengurus 4 26,7
rumah
Terlalu jauh jarak rumah 2 13,3
dengan Puskesmas
Total 14 100,0

Alasan Tidak K4

1
2
3

13.33%

26.67%
60.0%

Gambar 6.11 Diagram lingkaran distribusi frekuensi alasan responden


melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali.

Mayoritas alasan responden melakukan pemeriksaan kehamilan kurang


dari 4 kali, yaitu karena mereka tidak tahu harus melakukan pemeriksaan
kehamilan sebanyak minimal 4 kali selama kehamilan sebanyak 60%.
Sementara sebesar 26,7% beralasan tidak dapat pergi periksa karena tidak ada
yang di rumah mengurus rumah maupun anaknya. Sebesar 13,3% menjawab
jarak sebagai alasan mereka memeriksakan kehamilannya kurang dari 4 kali.

6.4.2.3 Distribusi tingkat pengetahuan responden


Tabel 6.11 Distribusi tingkat pengetahuan responden tentang pentingnya
kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 )
Tingkat pengetahuan Frekuensi Persentase ( % )

49
Kurang 11 40,7
Baik 16 59,3
Total 27 100,0

Pengetahuan

Kurang
Baik

40.74%

59.26%

Gambar 6.12 Distribusi tingkat pengetahuan responden

Tabel 6.11 menunjukkan dari 27 responden, mayoritas responden


memiliki pengetahuan yang baik tentang pentingnya kunjungan pemeriksaan
kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada
trimester I dan 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III yaitu sebesar
59,3% dan yang memiliki pengetahuan kurang sebesar 40,7%.

6.4.2.4 Tabulasi silang antara jarak tempat tinggal responden dengan Puskesmas
dan status kunjungan pemeriksaan kehamilan
Tabel 6.12 Tabulasi silang jarak tempat tinggal responden dengan Puskesmas
dan status kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 )
Status
Jarak tempat tinggal Total
K4 Tidak K4
1 – 5 km 5 (50%) 5 (50%) 10
>5 km 10 (58,8%) 7 (41,1%) 17
Total 15 (55,6%) 12 (44,4%) 27

50
Dari tabel 6.12 di atas kita dapat melihat bahwa dari seluruh responden
yang bertempat tinggal 1 – 5 km dari Puskesmas terdapat 50% yang melakukan
kunjungan K4 dan 50% tidak melakukan kunjungan K4.
Sedangkan dari seluruh responden yang tinggal sejauh > 5 km dari
Puskesmas, 58,8% diantaranya melakukan kunjungan K4 dan 41,1% tidak.

6.4.2.5 Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan responden dengan status


kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 )
Tabel 6.13 Tabulasi silang antara tingkat pengetahuan responden dengan status
kunjungan pemeriksaan kehamilan ( K4 )
Status
Pengetahuan Total
K4 Tidak K4
Kurang 3 8 11
(27,3%) (72,7%)
Baik 12 4 16
(75%) (25%)
Total 15 12 27
(55,6%) (4,4%)
Dari tabel 6.13 di atas kita dapat mengetahui bahwa dari 27 responden
yang memiliki pengetahuan kurang sebesar 27,3% melakukan K4 dan terdapat
sebesar 72,7% tidak melakukan K4. Sedangkan yang memiliki pengetahuan baik
sebesar 75% melakukan K4 dan terdapat sebesar 25% tidak melakukan K4.

6.4.2.6 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan status


kunjungan pemeriksaan kehamilan K4
Tabel 6.14 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan status
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4

Value Approx. Sig.


Nominal by Contingency
.427 .014
Nominal Coefficient
N of Valid Cases 27
a Not assuming the null hypothesis.
b Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

51
Dapat dilihat pada tabel 6.14 yaitu p sebesar 0,014, dan karena nilai p <
α 0,05 maka Ho ditolak. Dengan nilai 0,427 yang menandakan kekuatan korelasi
sedang dan angka yang positif menandakan arah hubungannya positif, artinya
semakin tinggi pengetahuan maka semakin baik pula kunjungan pemeriksaan
kehamilannya.

6.5 Pembahasan
6.5.1 Status kunjungan pemeriksaan kehamilan K4
Cakupan kunjungan antenatal merupakan salah satu indikator
keberhasilan program kesehatan ibu dan anak. Sebab pemeriksaan kehamilan ini
sangat penting dan menjadi usaha promotif dan preventif mencegah kematian
ibu hamil, karena dengan melakukan pemeriksaan selama hamil dengan rutin,
tenaga kesehatan dapat menemukan masalah dalam kehamilan lebih dini
sehingga dapat tertangani lebih cepat. Pemeriksaan kehamilan dilakukan
minimal 4 kali selama kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan
(Puskesmas/Pustu/Bidan Desa/Dokter/Poskesdes) dengan syarat minimal 1 kali
selama trimester I dan 1 kali selama trimester II dan 2 kali selama trimester III.
Dari hasil survei terhadap 27 ibu yang telah melahirkan pada Januari
2009 sampai Mei 2009 di Desa Karangan, seluruhnya menyatakan melakukan
pemeriksaan kehamilan di Puskesmas/Bidan Desa, sedangkan sebanyak 15
orang ( 55,6% ) ibu melakukan ≥ 4 kali pemeriksaan kehamilan dan sebanyak 12
orang ( 44,4% ) yang melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali. Hal ini
menunjukkan responden telah cukup menyadari pentingnya memeriksakan
kehamilannya ke tenaga kesehatan. Namun, masih banyak responden yang
belum mengetahui bahwa pemeriksaan kehamilan minimal dilakukan 4 kali
selama kehamilan, dengan syarat 1 kali saaat awal kehamilan sampai usia
kandungan 3 bulan, 1 kali saat usia 4 sampai 6 bulan, dan 2 kali saat usia 7
sampai 9 bulan, dan tergambar dalam tabel 6.10, yang menjadi alasan para
responden tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali
adalah karena mereka tidak mengetahui bahwa mereka harus datang minimal 4
kali selama kehamilan dengan syarat seperti disebutkan di atas.

52
6.5.2 Faktor pengetahuan sebagai penyebab rendahnya frekuensi kunjungan
pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan
Melalui penelitian yang telah kami lakukan, diperoleh data yang
menunjukkan bahwa faktor pengetahuan ibu dapat menyebabkan rendahnya
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden menggunakan kuesioner
di Desa Karangan diperoleh bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa
Karangan.

6.5.2.1 Faktor jarak


Melalui data yang telah didapat dan diolah, faktor jarak termasuk faktor
yang cukup berpengaruh terhadap rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan
K4 di Desa Karangan sebagaimana ditunjukkan pada tabel 6.10. Hal ini
disebabkan oleh sebaran tempat tinggal penduduk yang cenderung berkelompok
dalam dusun dan jarak antar dusun yang cukup jauh, seperti Dusun Jeruk yang
berjarak lebih dari 5 km dan sepanjang jalan menuju ke Dusun Jeruk tersebut
harus melewati kawasan hutan tanpa peneerangan, dan sarana jalan yang berbatu
– batu. Ditambah pula dengan jarak antar rumah di dalam dusun tersebut yang
berjauhan dan kontur tanah yang menanjak dengan sarana jalan yang masih
terbuat dari tanah liat dan berbatu – batu. Hal ini cukup menyulitkan bagi para
penduduk untuk pergi memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan,
tergambar dari tabel 6.10 jarak menjadi alasan tidak melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan K4 bagi beberapa responden.

6.5.2.2 Faktor pengetahuan


Perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga aspek dasar, yaitu aspek
knowledge atau pengetahuan, attitude atau sikap, dan psikomotor atau perilaku.
Peneliti mengelompokkan tingkat pengetahuan responden dalam tingkat
pengetahuan baik dan kurang. Pada tabel 6.16 dapat dilihat 59,3% responden
memiliki pengetahuan yang baik tentang pemeriksaan kehamilan.

53
Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia,
pendidikan, kebudayaan, dan sosial budaya. Dari faktor pendidikan, ternyata
dari tabel 6.6 sebesar 66,7% responden adalah tamatan SD. Walaupun tingkat
pendidikan responden tergolong rendah, namun mereka memiliki pengetahuan
yang cukup baik tentang pemeriksaan kehamilan, artinya faktor – faktor lain
yang lebih banyak berperan dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan
seseorang.

6.5.2.3 Hubungan tingkat pengetahuan dengan status kunjungan pemeriksaan


kehamilan K4
Setelah data diolah didapatkan hasil uji contingency coefficient untuk
hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status kunjungan pemeriksaan
kehamilan K4 didapatkan nilai p sebesar 0,014 yang lebih kecil dari 0,05 yang
menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 atau dapat berati bahwa H0 ditolak. Dan
dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,427 menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan mempengaruhi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 sebesar 42%
dan angka yang positif menunjukkan hubungan yang positif yaitu semakin tinggi
tingkat pengetahuan maka semakin baik pula kunjungan pemeriksaan
kehamilannya. Hal ini berarti bahwa peningkatan atau penurunan pengetahuan
akan mengakibatkan peningkatan atau penurunan kunjungan pemeriksaan
kehamilan seperti tergambar dalam tabel 6.13
Hal ini sesuai dengan teori perilaku Notoatmodjo, dimana sebelum
seseorang berperilaku, maka orang tersebut terlebih dahulu mempunyai sikap
dan persepsi yang didapatkan dari pengalaman dan pengetahuan yang dialami
sebelumnya. Pengetahuan yang dimiliki oleh responden cukup baik serta
perilaku responden untuk memeriksakan kehamilannya juga cukup baik.

54
BAB 7
DIAGNOSIS KOMUNITAS

7.1 Latar Belakang


Pada tahap pengumpulan informasi dan identifikasi masalah, ditemukan
masalah yaitu masih rendahnyan cakupan K4 di Kecamatan Bareng, yaitu hanya
84,06% dari target yang diteapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang
sebesar 94% .Khususnya yang menempati peringkat terendah dari 13 desa yang ada
di Kecamatan Bareng yaitu Desa Karangan sebesar 57,14%.
Inilah alasan pemilihan desa Karangan untuk dilakukan penelitian dan
terapi komunitas untuk meningkatkan persentase kunjungan pemeriksaan
kehamilan K4 di Desa Karangan di tahun mendatang.

7.2 Tujuan
Tujuan dari proses ini adalah untuk mendiagnosis masalah-masalah yang
ada dalam masyarakat sesuai dari hasil analisis data maupun yang digali dengan
metode-metode lain sehingga dapat dihasilkan komitmen bersama dan kesepakatan
bersama langkah konkrit yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada.
Hasil diagnosis komunitas kemudian juga dapat dipergunakan sebagai acuan oeh
institusi kesehatan untuk menyusun program-program kesehatan sehingga benar-
benar aplikatif dan tepat sasaran.

7.3 Kegiatan
Dalam melakukan proses diagnosis komunitas, peneliti telah melakukan
beberapa kegiatan, yaitu:

7.3.1 Depth Interview dengan Pembimbing Operasional dari Puskesmas


Peneliti beberapa kali melakukan diskusi dengan pembimbing operasional
dari puskesmas yaitu Bapak Puguh Saneko, SKm tentang permasalahan kesehatan
yang ada di Kecamatan Bareng. Dari Depth Interview, peneliti mendapatkan
masukan dan arahan untuk membahas masalah persentase kunjungan pemeriksaan

55
kehamilan K4 yang belum memenuhi target di Desa Karangan, Kecamatan Bareng.
Rinciannya sebagai berikut :
1. Man
Wawancara mendalam ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda Universitas
Airlangga.
2. Money
Kegiatan ini tidak membutuhkan biaya.
3. Material
Data target standar program-program kesehatan di Kecamatan Bareng dan cakupan
program yang sudah dilaksanakan
4. Method
Peneliti menggunakan metode Depth Interview.
5. Machine
Dalam wawancara, peneliti membawa buku catatan dan kamera untuk mencatat
data-data yang didapatkan dari hasil wawancara dan mendokumentasikan kegiatan.
6. Market
Kepala puskesmas
7. Time and Place
Wawancara diselenggarakan pada minggu I dan II tugas di Puskesmas Bareng
8. Result
Setelah wawancara dilakukan, peneliti masukan dan arahan untuk meneliti masalah
persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan, Kecamatan
Bareng yang memang belum tercapai.

56
Gambar 7.1 Depth Interview Dengan Pihak Puskesmas

7.3.2 Depth Interview dengan Perawat Pustu Karangan


1. Man
Wawancara mendalam ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda
Universitas Airlangga.
2. Money
Kegiatan ini tidak membutuhkan biaya.
3. Material
Data kunjungan pemeriksaan kehamilan warga Desa Karangan yaitu data
kohort ibu dan faktor – faktor yang menyebabkannya.
4. Method
Peneliti menggunakan metode Depth Interview.
5. Machine
Dalam wawancara, peneliti membawa buku catatan dan kamera untuk
mencatat data-data yang didapatkan dari hasil wawancara dan
mendokumentasikan kegiatan.
6. Market
Perawat di Puskesmas Pembantu Desa Karangan
7. Time and Place

57
Wawancara diselenggarakan pada minggu I dan II tugas di Puskesmas
Pembantu Desa Karangan.
8. Result
Dari hasil diskusi, peneliti menyimpulkan ada beberapa kondisi yang
menyebabkan rendahnya kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa
Karangan, yakni :
a. Faktor Geografis
Secara geografis, Desa Karangan terdiri dari 5 dusun yang terletak
berjauhan, seperti Dusun Jeruk yang berjarak lebih dari 5 km dari
puskesmas dengan kontur jalan yang menanjak, dikelilingi hutan, dan
sarana jalan yang masih berbatu – batu serta tanah liat.
b. Faktor Jarak
Desa Karangan berjarak 5 km dari Puskesmas Bareng. Hal inilah yang
juga menjadi alasan yang dikemukakan yang menjadi salah satu alasan
kurangnya memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan.
c. Faktor jumlah ibu hamil
Kenyataan yang terjadi di Desa Karangan yaitu jumlah ibu hamil yang
memang sedikit, selama Januari hingga Mei 2009 dan dari 5 dusun di
Desa Karangan hanya terdapat 28 ibu hamil. Kebanyakan penduduk di
Desa Karangan baru memiliki anak lagi setelah anak sebelumnya berusia
10 tahunan. Sedangkan angka sasaran yang ditetapkan oleh Puskesmas
terlalu tinggi dan disamaratakan dengan desa – desa lain yang jumlah ibu
hamilnya lebih banyak, sehingga jika dimasukkan dalam rumus
perhitungan K4 akan menghasilkan nilai yang kecil.

58
Gambar 7.2 Depth Interview dengan Perawat Pustu Karangan

7.3.3 Lokakarya Desa (Workshop)


1. Man
Acara lokakarya ini dilakukan oleh peneliti yaitu Dokter Muda Universitas
Airlangga.
2. Money
Kegiatan ini menggunakan sumber dana dari iuran peneliti untuk membiayai
sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk konsumsi peserta.

59
3. Material
Setelah dilakukan survei terhadap 27 responden, data yang didapat diolah
dan diperoleh hasil bahwa pengetahuan ibu tentang kunjungan pemeriksaan
kehamilan ke sarana kesehatan mempunyai hubungan dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan K4dengan korelasinya yang sedang dan hubungan
yang searah, jadi semakin tinggi tingkat pengetahuan, makin baik pula
kunjungan pemeriksaan kehamilan K4. Berdasarkan data tersebut diusulkan
beberapa alternatif solusi yang kemudian akan dilokakaryakan untuk
mendapatkan solusi terpilih. Alternatif solusi dari peneliti yaitu:
a. Penyuluhan dengan sasaran utama wanita usia subur ( 15 – 35
tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan (tempat
diselenggarakannya penyuluhan).
b. Penyuluhan dengan sasaran utama ibu-ibu kader di Desa
Karangan Kecamatan Bareng
4. Method
Kegiatan ini dilakukan dengan metode Brain storming yang sebelumnya
didahului dengan pemaparan masalah dan alternatif solusi dari peneliti.
Brain storming dilakukan untuk menjaring kritik dan saran dari peserta
lokakarya tentang solusi yang sebaiknya dilakukan untuk kemudian
didiskusikan dan ditentukan solusi terpilih untuk diterapkan untuk mengatasi
masalah di Desa Karangan kecamatan Bareng.
5. Machine
Dalam pelaksanaan lokakarya, peneliti menyajikan materi dengan
menggunakan program power point dan ditampilkan dengan menggunakan
LCD proyektor. Peneliti juga menggunakan sound system yang dimiliki oleh
Balai Desa Karangan.
6. Market
Pihak-pihak yang diikut sertakan dalam lokakarya ini adalah :
1. Para Kader
2. Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
3. Perawat Desa
7. Time and Place

60
Acara lokakarya dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009 jam
09.00-12.30 bertempat di Balai Desa Karangan Kecamatan Bareng.
8. Result
Melalui lokakarya diperoleh solusi terpilih untuk meningkatkan pengetahuan
ibu yaitu mengadakan penyuluhan dengan metode ceramah dan pembagian
leaflet dengan tema “Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan” dengan sasaran
yakni para kader dari 5 dusun di Desa Karangan, perawat di Pustu Karangan
serta wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar
Balai Desa Karangan Kecamatan Bareng. Peserta diatas dipilih karena dalam
pembinaan dan edukasi terhadap ibu-ibu memerlukan partisipasi dari semua
pihak, tidak hanya dilakukan oleh Perawat Desa atau tenaga dari Puskesmas
sendiri. Keterlibatan Perangkat Desa dan tokoh masyarakat juga diperlukan
untuk meningkatkan persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di
Desa Karangan Kecamatan Bareng karena merekalah yang paling
mengetahui keadaan penduduk di Desa Karangan, sehingga diharapkan
dapat melakukan tindakan-tindakan yang paling tepat dan efektif untuk
menindak lanjuti hasil penyuluhan yang telah diberikan. Materi dari
penyuluhan difokuskan tentang pengetahuan yang seyogyanya diketahui
para ibu tentang pengetahuan resiko tinggi dalam kehamilan dan pentingnya
melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan dengan
syarat 1 kali saat trimester I, 1 kali saat trimester II, dan 2 kali saat trimester
III. Juga perlu disampaikan pula tentang perlunya partisipasi aktif dari
Perawat Desa dan Kader Kesehatan untuk melakukan home visit serta
pendampingan pada para wanita usia subur yang berada di sekitar rumah
kader tersebut, sehingga 1 kader bertanggungjawab terhadap pemantauan
kesehatan kehamilan sejumlah wanita usia subur yang bertempat tinggal di
sekitar rumahnya. Dalam pelaksanaan penyuluhan diberikan insentif berupa
door prize untuk merangsang partisipasi dari sasaran.

61
Gambar 7.3 Lokakarya Diagnosa Komunitas di Balai Desa Karangan

Gambar 7.4 Lokakarya Diagnosa Komunitas di Balai Desa Karangan

7.4 Diagnosis Komunitas


1. Persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa Karangan
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang masih di bawah target, yaitu hanya
84,06% dari target 94% yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang

62
dan merupakan angka terendah dibandingkan desa-desa yang lain di
Kecamatan Bareng.
2. Berdasarkan hasil survei untuk mengetahui pengaruh tingkat
pengetahuan ibu dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4, didapatkan 16
orang responden dari 27 responden (59,3%) mempunyai pengetahuan yang
baik. Dari data tersebut, dibuat rancangan beberapa alternatif solusi untuk
mengatasi masalah tersebut.
3. Dari hasil lokakarya didapatkan solusi terpilih untuk mengatasi masalah
tersebut yaitu mengadakan penyuluhan yang melibatkan beberapa pihak yang
terkait yaitu Perangkat Desa, Perawat Desa, Kader Kesehatan, Tokoh
Masyarakat dan ibu-ibu yang tinggal di Desa Karangan.

BAB 8
TERAPI KOMUNITAS

8.1 Tujuan
8.1.1 Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan lengkap dan rutin minimal 4 kali selama kehamilan.

8.1.2 Tujuan Khusus


1. Meningkatkan pengetahuan ibu dan kader tentang pentingnya
pemeriksaan kehamilan lengkap ke sarana kesehatan.
2. Meningkatkan pengetahuan ibu tentang mengenali tanda – tanda
bahaya dalam kehamilan dan pentingnya pemeriksaan kehamilan untuk
mengenali dini tanda bahaya tersebut.

8.2 Kegiatan
1. Penyuluhan secara langsung kepada masyarakat Desa Karangan,
Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.
Dibawah ini adalah rincian acara tersebut:

63
Tema : Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan
Hari dan Tanggal : Sabtu, 27 Juni 2009
Pukul : Pukul 10.00 WIB
Tempat : Balai Desa Karangan
Pembicara : Dokter Muda Puskesmas Bareng
Peserta : - Wanita usia subur ( 15 – 35 tahun ) yang bertempat
tinggal di sekitar Balai Desa Karangan
- Perawat Pustu Desa Karangan
- Perangkat Desa Karangan
Media : Poster, leaflet, LCD projector
Metode : Ceramah, tanya jawab, quiz
Susunan Acara:
10.00 – 10.30 Pembukaan, sambutan dari Bapak Puguh Saneko, SKm
selaku perwakilan dari Puskesmas Bareng, sambutan
Ketua Panitia Penyuluhan
10.30 – 10.45 Pre test
10.45 – 11.25 Penyampaian materi penyuluhan tentang “Pentingnya
Pemeriksaan Kehamilan”
11.25 – 12.15 Diskusi, post test, dan pembagian doorprize
12.15 – 12.30 Penutup dan doa

Keterangan:
Pada penyuluhan dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan
kehamilan secara rutin, manfaat pemeriksaan kehamilan secara rutin, waktu
pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali yaitu 1 kali saat awal kehamilan
sampai usia 3 bulan dan 1 kali saat usia 4 sampai 6 bulan dan 2 kali saat usia
7 sampai 9 bulan, cara mengenali tanda bahaya kehamilan.
Melalui penyuluhan ini diharapkan ibu-ibu di Desa Karangan menjadi
sadar akan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin minimal 4 kali
selama kehamilan, mengerti mengenai waktu yang tepat untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan, mengerti tanda – tanda bahaya dalam kehamilan
sehingga bila mereka menemukannya dapat segera datang ke sarana

64
kesehatan untuk ditangani dini. Sebelum penyuluhan semua peserta
diberikan lembar jawaban dan harus menjawab 10 pertanyaan yang telah
disiapkan oleh panitia dan setelah penyuluhan, keseluruhan peserta akan
diberikan 10 pertanyaan lagi untuk mengevaluasi apakah materi yang
disampaikan saat penyuluhan dapat diserap dan dimengerti dengan baik.
Juga disediakan hadiah bagi yang memperoleh nilai post test tertinggi untuk
memotivasi ibu – ibu agar mendengarkan penyuluhan dengan seksama.
Leaflet yang dibagikan pada para peserta penyuluhan berisi
informasi yang perlu dibaca lebih lanjut di rumah agar hal-hal yang
dibicarakan pada penyuluhan tidak dilupakan begitu saja. Leaflet ini berisi
tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan yang lengkap dan rutin juga
cara-cara mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan.
Tabel 8.1 Rekapitulasi nilai pre test dan post test peserta penyuluhan di Balai Desa
Karangan, Kecamatan Bareng
Nama Nilai pre test Nilai post test Keterangan
Sarmiati 10 8 Turun
Wati 8 9 Naik
Suparnik 9 10 Naik
Suyanti 8 9 Naik
Suwarni 10 9 Turun
Sunarti A 9 7 Turun
Lia 8 9 Naik
Suwarmi 6 9 Naik
Ita 8 10 Naik
Rina 10 10 Tetap
Nuranik 8 10 Naik
Dwi 9 10 Naik
Widya 9 10 Naik
Sunarti 9 10 Naik
Kasonah 9 10 Naik
Yuliani 9 10 Naik
Khusnul 10 10 Tetap
Wasi’ah 7 8 Naik
Tumi 8 9 Naik
Patonah 9 10 Naik

Dari data dalam tabel 8.1 di atas didapatkan 75% peserta penyuluhan mengalami
peningkatan nilai, 15% tidak mengalami perubahan nilai dan 10% mengalami
penurunan nilai.

65
Gambar 8.1 Penyuluhan di Balai Desa Karangan

66
Gambar 8.2 Penyuluhan di Balai Desa Karangan

67
Gambar 8.3 Pretest penyuluhan di Balai Desa Karangan

Gambar 8.4 Penyerahan door prize di Balai Desa Karangan

68
BAB 9
EVALUASI

9.1 Evaluasi Terhadap Pengenalan Medan


Pada saat melakukan survei ke Desa Karangan, Kecamatan Bareng,
Kabupaten Jombang, tanggal 22 dan 23 Juni 2009, peneliti mendapati bahwa
geografi Desa Karangan dikelilingi oleh hamparan sawah dan sungai yang
membelah di sebelah timur desa, melewati Dusun Mindi dan Sumber Agung.
Kondisi jalan di Desa Karangan sebagian kecil sudah diaspal sedang sebagian
yang lain berupa jalan makadam yang masih bebatu – batu, dan ada beberapa jalan
menuju rumah responden yang hanya dari tanah liat dan sangat curam
tanjakannya, sehingga kami melewatinya dengan berjalan kaki. Lokasi Desa
Karangan, kurang lebih 2 - 5 km dari Puskesmas Bareng, salah satu dusun di Desa
Karangan yaitu Dusun Jeruk terletak lebih dari 5 km dengan jalan sempit berbatu
yang dikelilingi hutan, kami melewatinya dengan mengendarai sepeda motor.
Pada proses pengenalan medan, peneliti mendapatkan bantuan yang berarti
dari perawat di Pustu Desa Karangan dan para kader dari masing-masing 5 dusun.
Hal tersebut memudahkan peneliti dalam melaksanakan survei dalam mencari
alamat rumah responden dan sekaligus mengakrabkan hubungan peneliti dengan
penduduk desa setempat, khususnya calon responden yaitu ibu yang telah
melahirkan pada 1 Januari sapai 31 Mei 2009. Terdapat sekitar 28 orang
responden yang kami temukan dari data kohort ibu di Pustu Karangan, namun
dalam kenyataan di lapangan kami hanya menemukan 27 orang responden,
dikarenakan 1 orang ibu telah pindah rumah.
Peneliti memperoleh data bahwa kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di
Desa Karangan menenpati peringkat terendah dari 13 desa yang ada di Kecamatan
Bareng.
Selama proses penelitian terjadi beberapa kendala antara lain :
1. Kendala dari Tim Peneliti :
a. Kendala koordinasi penugasan personel yang pergi ke lokasi
pengumpulan data. Hal ini disebabkan padatnya jadwal masing-masing
personel yang terkadang sering berbenturan satu sama lain.

69
b. Kendala dalam menyamakan persepsi cara pengisian kuesioner
dan
pengisian lembar observasi kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 oleh
tim peneliti.
2. Kendala dari Responden :
a. Satu orang responden tidak ditemukan karena yang bersangkutan
ternyata sudah pindah rumah ke desa lain.
b. Kesulitan pemahaman bahasa antara responden dan tim peneliti, karena
mayoritas responden menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-
hari sedangkan tidak semua peneliti bisa berbahasa Jawa.
3. Kendala dari geografi, yaitu rumah responden yang saling berjauhan dengan
medan yang cukup sulit karena menanjak dan berbatu, hanya dapat kami tempuh
dengan berjalan kaki, serta tidak memiliki nomor rumah, sehingga peneliti
kesulitan untuk mendatangi rumah responden.

9.2 Evaluasi Terhadap Diagnosis Komunitas


Untuk membuat diagnosis komunitas, peneliti telah melaksanakan kegiatan-
kegiatan yang telah dijelaskan dalam bab 7. Berikut disampaikan evaluasi dari
tiap-tiap kegiatan:
1. Depth Interview dengan pembimbing operasional dari
Puskesmas Bareng
Secara umum kegiatan ini efektif dan sangat membantu dalam
menentukan diagnosis komunitas.
2. Depth Interview dengan perawat di Puskesmas Pembantu
(Pustu) Desa Karangan.
Secara umum kegiatan ini efektif karena peneliti memperoleh data
langsung dari sumber yang kompeten. Wawancara juga ditunjang dengan data
jumlah dan nama ibu hamil yang cukup akurat. Kami juga memperoleh
informasi tentang kebiasaan yang terdapat di masyarakat Desa Karangan
sehingga lebih memudahkan kami untuk beradaptasi saat melakukan terapi
komunitas.
3. Lokakarya

70
Lokakarya berlangsung cukup lancar dan sukses. Namun karena kegiatan
ini dilaksanakan pada jam efektif, maka acara baru dapat dimulai setengah jam
lebih lambat dari rencana awal. Peneliti mendapat beberapa masukan dan
saran yang bermanfaat dalam pelaksanaan terapi komunitas nantinya. Dimana
diharapkan peneliti menggunakan bahasa awam dalam setiap kegiatan yang
mengundang masyarakat atau lintas sektoral lainnya sehingga pelaksanaan
kegiatan terapi komunitas dapat berjalan dengan lancar dan dukungan penuh
dari berbagai pihak terutama sumber daya masyarakat di wilayah sasaran
penelitian. Selain itu, dalam akhir lokakarya diagnosa komunitas ini disepakati
bahwa kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang rendah di Desa Karangan
merupakan masalah bersama dan perlu ditindaklanjuti dengan beberapa
tawaran solusi tertentu dari para peserta lokakarya, antara lain penyuluhan ibu,
pelatihan kader, perbaikan fasilitas Puskesmas Pembantu di Desa Karangan,
supervisi rutin dari Puskesmas Bareng ke Pustu, serta pendampingan setiap
kader kepada sejumlah ibu yang tingal di sekitar rumah kader tersebut,
sehingga diharapkan terjalin coverage setiap ibu hamil di Desa Karangan yang
baik untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil.

9.3 Evaluasi Terhadap Terapi Komunitas


Terapi komunitas yang telah dilakukan, yaitu penyuluhan dan pembagian
leaflet pada wanita usia subur dengan tema “Pentingnya Pemeriksaan
Kehamilan”. Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para
wanita usia subur tentang tanda bahaya yang harus dikenali dan diwaspadai oleh
mereka sehingga segera datang ke sarana kesehatan untuk ditangani lebih dini,
selain itu untuk meningkatkan pengetahuan para wanita usia subur tentang
pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke sarana pelayanan
kesehatan. Kami memberikan leaflet agar di rumah mereka dapat mempelajari
kembali apa yang telah kami berikan dalam penyuluhan dan informasi tersebut
dapat mereka sebarkan ke keluarga maupun tetangga terdekat tentang
pentingnya memeriksakan kehamilan.
Proses pelaksanaan penyuluhan yang mengundang ibu perawat di
Puskesmas Pembantu Desa Karangan, ibu – ibu kader berlangsung dengan

71
lancar dan tepat waktu. Peserta datang tepat waktu, ada beberapa yang dating
terlambat dikarenakan jarak rumahnya yang jauh dengan balai desa. Panitia
pelaksana melakukan koordinasi yang cukup baik sehingga acara bisa berjalan
sesuai rencana, sesuai alokasi waktu yang disediakan. Peserta penyuluhan
berusaha memperhatikan dengan baik seluruh isi penyuluhan. Namun karena
banyaknya peserta penyuluhan yang membawa balitanya, maka suasana
penyuluhan menjadi tidak kondusif, sehingga perhatian peserta mudah teralih.
Walaupun demikian antusiasme peserta tetap tinggi. Hal ini terbukti dari
banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab yang isi
pertanyaan mencerminkan bahwa mereka benar-benar tertarik dengan materi
penyuluhan dan antusiasme peserta dalam menjawab pertanyaan kuis yang
diberikan oleh panitia.
Dalam pelaksanaan penyuluhan, peneliti juga membagikan pre test dan
post test untuk mengetahui efektifitas acara. Dari hasil perbandingan pre test dan
post test yang mengandung 10 pertanyaan yang sama dan diberikan pada peserta
yang sama, didapatkan peningkatan rata-rata hasil jawaban peserta, yaitu rata-
rata hasil pre test sebesar 9,1 dan rata-rata hasil post test sebesar 9,35. Dari 20
peserta yang mengerjakan pre test dan post test terdapat 75% peserta mengalami
peningkatan nilai dan 15% peserta penyuluhan tidak mengalami perubahan nilai,
10% mengalami penurunan nilai. Hal ini merupakan indikator sementara bahwa
peserta dapat menyerap materi penyuluhan dan dengan metode penyuluhan yang
sudah dilakukan akan mampu meningkatkan pengetahuan ibu tentang
pentingnya pemeriksaan kehamilan. Namun hal ini bukan berarti terapi
komunitas telah berhasil dengan baik karena penyuluhan ini hanyalah langkah
awal yang harus dilanjutkan dengan langkah-langkah konkrit di lapangan oleh
seluruh komponen terkait agar terjadi perubahan perilaku ibu dalam pengasuhan
balita. Peneliti juga membagikan leaflet berisi keterangan singkat tentang tanda
– tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh ibu dan keluarga, dan manfaat
pemeriksaan kehamilan dan kapan waktu yang baik untuk memeriksakan
kehamilan.
Evaluasi terhadap terapi komunitas tidak dapat dilakukan secara
sempurna dan berkesinambungan karena adanya keterbatasan waktu yang

72
dimiliki baik dari tim peneliti, pihak petugas Bareng, tenaga kesehatan dan
kader dari wilayah Desa Karangan sehingga tim peneliti hanya dapat menyusun
rencana evaluasi terhadap terapi komunitas yang telah dilakukan, yang
diharapkan dapat disempurnakan dan direalisasikan oleh tim dokter muda
Fakultas Kedokteran Unair berikutnya bekerja sama dengan pihak Puskesmas
Bareng dan aparat pemerintah daerah.

73
BAB 10
SIMPULAN DAN SARAN

10.1 Simpulan
Dari kegiatan komunitas yang dilakukan oleh dokter muda di wilayah
Puskesmas Bareng dapat disimpulkan bahwa :
1. Persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Kecamatan Bareng
sebesar 84,06% tidak memenuhi target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar
94%.
2. Dari 13 Desa yang terdapat di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang,
Desa Karangan persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 yang paling
rendah yakni 57,14%.
3. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari 27 responden, 40,7% ibu di
Desa Karangan, memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemeriksaan
kehamilan K4 serta didapatkan 44,4% ibu yang memeriksakan kehamilannya
kurang dari 4 kali selama kehamilan dan alasan terbesar yang dikemukakan yaitu
60% responden mengaku tidak mengetahui bahwa mereka harus datang minimal 4
kali (1 kali selama trimester I, 1 kali selama trimester II, dan 2 kali selama trimester
III) ke sarana kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya.
4. Berdasarkan hasil uji korelasi contingency coefficient didapatkan p<0,05 yang
berarti Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di Desa
Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Dan nilai korelasi sebesar
0,427 yang menandakan kekuatan korelasi sedang dan angka yang positif
menandakan arah hubungannya positif, artinya semakin tinggi pengetahuan maka
semakin baik pula kunjungan pemeriksaan kehamilannya.
5. Terapi komunitas yang dilakukan untuk menindaklanjuti diagnosa
komunitas berupa penyuluhan secara langsung kepada wanita usia subur ( 15 – 35
tahun ) yang bertempat tinggal di sekitar Balai Desa Karangan, yang disertai
dengan pembagian leaflet tentang tanda – tanda bahaya dalam kehamilan, manfaat
pemeriksaan kehamilan, waktu yang tepat untuk memeriksakan kehamilan yaitu

74
minimal 1 kali selama trimester I, dan minimal 1 kali selama trimester II, dan
minimal 2 kali selama trimester III.

75
10.2 Saran
10.2.1 Saran bagi Puskesmas Bareng
1. Mengadakan penyuluhan pada para wanita usia subur di Kecamatan Bareng
secara berkesinambungan.
2. Mengadakan pelatihan dan penyuluhan pada kader mengenai pentingnya
pemeriksaan kehamilan secara rutin dan lengkap serta pengenalan tanda –
tanda bahaya dalam kehamilan sehingga mereka dapat segera datang ke
sarana kesehatan agar dapat tertangani lebih dini, dan akhirnya angaka
kematian ibu hamil dapat dikurangi.
3. Mengadakan temu kader dari wilayah kerja Puskesmas sekurang-kurangnya
sekali dalam setahun untuk studi banding dan tukar pikiran.
4. Mengoptimalkan peran sumber daya masyarakat (kader) untuk mengadakan
pendampingan terhadap beberapa ibu hamil di sekitar tempat tinggalnya,
sehingga setiap kader bertanggungjawab memantau kesehatan beberapa ibu
hamil dan selalu membagi pengetahuannya tentang tanda bahaya kehamilan
dan mendorong ibu hamil tersebut untuk rutin melakukan pemeriksaan
kehamilan.
5. Memberikan penghargaan bagi ibu hamil yang datang memenuhi syarat K4
yaitu minimal 1 kali selama trimester I, dan minimal 1 kali selama trimester
II, dan minimal 2 kali selama trimester III, misalnya tarif berobat atau
pemberian obat secara gratis.
6. Melakukan perbaikan fasilitas Puskesmas Pembantu Desa Karangan karena
kebersihan dan kelayakan tempatnya telah menurun.
7. Melakukan supervisi rutin dari pihak Puskesmas ke Pustu Karangan
setidaknya sebulan sekali untuk memantau perkembangan program Pustu
sehingga bila ditemukan ada kendala dalam pelaksanaan program dapat
ditangani lebih awal.

10.2.2 Saran bagi Dinas Kesehatan Jombang


1. Pemberian penghargaan kepada Puskesmas yang dapat memenuhi target
persentase kunjungan pemeriksaan kehamilan K4 di wilayah kerjanya.

76
2. Melakukan promosi tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan melalui
berbagai media massa secara intensif.

10.2.3 Saran bagi bidan desa dan kader kesehatan Desa Karangan
1. Melakukan penyuluhan secara berkala tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan bagi ibu hamil maupun wanita usia subur.
2. Bekerjasama dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk
mendukung para ibu agar mau melakukan pemeriksaan kehamilan secara
rutin ke sarana kesehatan. Serta lebih tanggap untuk deteksi dini tanda –
tanda bahaya dalam kehamilan segera melaporkan ke tempat pelayanan
kesehatan terdekat.
3. Menempelkan poster dan artikel yang menarik tentang pentingnya
pemeriksaan kehamilan, tanda – tanda bahaya yang harus dikenali dan
diwaspadai oleh ibu hamil dan keluarga di Pustu, Poskesdes, papan
pengumuman desa.
4. Melakukan kunjungan rumah untuk deteksi dini tanda – tanda bahaya
dalam kehamilan agar tidak terlambat penanganannya dan dapat
merencanakan sejak awal persalinan yang aman.

10.2.4 Saran bagi Dokter Muda


Untuk Dokter Muda yang bertugas di Puskesmas Bareng maupun
Puskesmas lainnya agar dapat menindaklanjuti terapi komunitas yang telah
dilakukan dan melakukan penelitian serupa di desa lainnya agar dapat
memperkuat penelitian yang telah ada.

77
DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta:


Rineka Cipta, hal. 84-92, 156-172
Notoatmodjo, Soekidjo. 1997. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Yogyakarta : ANDI offset
Trihono. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. Jakarta : 2005. Sagung
Seto
Saifuddin dkk.2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wiknjosastro dkk. 2006. Buku Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

78