Anda di halaman 1dari 52

BAB V

HUBUNGAN

GERBANG LOGIKA
DAN

KONTAK-COIL LOGIKA

5.1. TUJUAN
 Menyebutkan tujuh tipe gerbang dasar digital logika, menggambarkan symbol
dan menjelaskan fungsi masing masing gerbang.
 Menggambarkan hubungan logika kontak-coil relay dan diagram ladder PLC.
 Merancang sistem digital, program PLC dan rangkaian relay dari deskripsi
sebuah proses.
 Merubah program dari tiga bentuk sistem menjadi dekripsi operasi proses,
Diagram relay logik, diagram PLC logik dan diagram gerbang logika.
 Menulis dan memahami persamaan Boolean.

Syaprudin – te-pnj - 2005 65


5.2. PENDAHULUAN
Sistem pemogramman PLC yang lebar mempergunakan tipe monitor tidak
membutuhkan prinsif gerbang logika digital, pemogramman biasa dikerjakan
dengan mengetik dalam baris, hubungan node, kontak dan coil atau fungsi fungsi
yang lain. Kebanyakan pemogramman skala kecil mempergunakan alat
pemogramman gegam, dipergunakan simbol simbol digital.
Pemogramman sederhana akan mempunyai simbol gerbang logika digital
seperti AND, OR, NOT dan lain-lain. Pada bab ini akan dipelajari bagaimana
hubungan antara gerbang logika digital dengan relay logic dan PLC logic. Apabila
prinsif-prinsif logika digital telah dipahami maka untuk pemogramman PLC akan
lebih mudah dan praktis.
Ada alasan alasan untuk mempelajari pemogramman logika digital,
beberapa komputer trainer pemogramman PLC yang terbaik mempergunakan
sistem logika digital.
Simbol lain yang muncul pada kalimat pemogramman adala symbol titik (.),
tambah (+), kurang (-) dan sama dengan (=), ini merupakan symbol Aljabar
Booelan yang merupakan cara stenografi dari tulisan diagram gerbang digital.

5.3. GERBANG DIGITAL LOGIKA.


Pemahaman dan aplikasi dari gerbang digital logika sangat diperlukan dalam
pemogramman PLC, Gambar 5.1. menunjukan tujuh tipe dasar gerbang digital
logika. Semua gerbang mempunyai satu output yang dapat berupa besaran
tegangan 0 Volt, atau OFF, atau “0” atau low dan tegangan +5 Volt, atau ON,
atau “1”atau high, yang tergantung dari status inputnya.
Gerbang NOT hanya memiliki satu input masukan, gerbang Exclusive OR
dan Exclusive NOR hanya memiliki dua input masukan, tipe tipe lainnya dapat
memliki 2 atau lebih input masukan, sinyal input ON sebesar +5V DC dan OFF
0V,
Masing masing chip IC gerbang digital memiliki dua terminal sumber
tegangan (Ground danVcc) sebesar untuk tipe TTL sebesar +5V dan CMOS
sebesar +15V.

Syaprudin – te-pnj - 2005 66


IN1 IN1
IN1
OUT 12
IN2 OUT 1 OUT 12
IN2
IN2

AND IN22 NAND


EXOR OUT
63

IN1 IN1 IN1

OUT 12 OUT 1 NOT OUT 12


IN2 IN2
IN2

OR NOR
EXNOR

Gambar 5.1. Simbol simbol Gerbang Digital Logika.

Gerbang AND, bentuk diagram relay logika dan diagram ladder PLC ditunjukan
pada gambar 5.2. Bila input semua berlogic satu atau high maka output akan
berlogic satu atau high, apabila tidak terpenuhi maka OUT12 berlogic 0. Untuk
tipe pemogramman dengan keyboard digital rangkaian operasi kunci adalah
1,and,2,=,12.

OUTPUT
RELAY
12
SW 1 SW 2 IN1 IN2 OUT 12
IN1
LD IN1
AND IN2
OUT 12 OUT 12
IN2

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 5.2. Rangkaian dan Code Gerbang AND

Gerbang OR, bentuk diagram relay logika dan diagram ladder PLC ditunjukan
pada gambar 5.3. Bila input semua berlogic satu atau high maka output akan
berlogic satu atau high, dan sebaliknya bila semua input berlogic nol maka output
berlogic nol, apabila salah satu input berlogic nol maka OUT17 berlogic 1. Untuk
tipe pemogramman dengan keyboard digital rangkaian operasi kunci adalah
1,or,2,or,=,17.

Syaprudin – te-pnj - 2005 67


OUTPUT
RELAY
SW 1 17 IN1
IN1 OUT 17

IN2
SW 2
OUT 17
IN2
LD IN1
OR IN2
OUT 17

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 5.3. Rangkaian dan Code Gerbang OR

Gerbang NOT, bentuk diagram relay logika dan diagram ladder PLC ditunjukan
pada gambar 5.4. Bila input berlogic satu atau high maka output akan berlogic nol
atau low, dan sebaliknya Bila input berlogic nol atau low maka output akan
berlogic satu atau high, Untuk tipe pemogramman dengan keyboard digital
rangkaian operasi kunci adalah menyisipkan titik (.) yang tepat pada program.
Logic
SW22 Relay

IN22 OUT
+ LR

OUTPUT
IN22

62 LD IN22
63 RELAY OUT CR62
LR
63
LDNOT CR62
CR62 OUT 63
63

Gate Logic Relay Logic


-
Gambar 5.4. Rangkaian dan Code Gerbang NOT
PLC Logic Mnemonic

Gerbang EXCLUSIVE OR, bentuk diagram relay logika dan diagram ladder
PLC ditunjukan pada gambar 5.5. Bila IN1 sama dengan IN2 memiliki berlogic
satu atau nol maka OUT1 akan berlogic nol, untuk situasi yaitu IN1 tidak sama
dengan IN2, maka OUT1 berlogic 1. Untuk tipe pemogramman dengan keyboard
digital gerbang EXCLUSIVE OR jarang digunakan..
SW 1 SW 2

OUTPUT
RELAY IN1 IN2 OUT 1
LD IN1
IN1 1 ANDNOT IN2
OUT 1
LDNOT IN1
IN2
IN2 IN1 AND IN2
ORB
OUT 1

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 5.5. Rangkaian dan Code Gerbang EXOR

Syaprudin – te-pnj - 2005 68


Gerbang EXCLUSIVE NOR, bentuk diagram relay logika dan diagram ladder
PLC ditunjukan pada gambar 5.6. Bila IN1 sama dengan IN2, memiliki logic satu
atau nol maka OUT1 akan berlogic satu, untuk situasi yaitu IN1 tidak sama
dengan IN2, maka OUT1 berlogic nol. Untuk tipe pemogramman dengan
keyboard digital gerbang EXCLUSIVE NOR jarang digunakan..
SW 1 SW 2

OUTPUT
RELAY IN1 IN2 OUT 1
IN1
LD IN1
1 AND IN2
OUT 1
LDNOT IN1
IN2 IN2 IN1 ANDNOT IN2
ORB
OUT 1

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 5.6. Rangkaian dan Code Gerbang EXCLUSIVE NOR

Gerbang NAND, adalah rangkaian kombinasi dua buah gerbang AND dan NOT,
bentuk diagram relay logika dan diagram ladder PLC ditunjukan pada gambar 5.7.
Bila input semua berlogic satu atau high maka output akan berlogic nol atau low,
dan sebaliknya. Untuk situasi logic IN1 tidak sama dengan IN2 maka OUT27
berlogic 1. Untuk tipe pemogramman dengan keyboard digital rangkaian operasi
kunci adalah 1,nand,2,=,27.
Logic Relay IN1 IN2 CR62
SW 1 SW 2 LR

IN1
LD IN1
AND IN2
OUT 27
IN2 LR
OUT CR01
OUTPUT RELAY
CR62 OUT 27 LDNOT CR01
27 OUT 27

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 5.7. Rangkaian dan Code Gerbang NAND

Gerbang NOR, adalah rangkaian kombinasi dua buah gerbang OR dan NOT,
bentuk diagram relay logika dan diagram ladder PLC ditunjukan pada gambar 5.8.
Bila input semua berlogic satu atau high maka output akan berlogic nol atau low,
dan sebaliknya. Untuk situasi logic IN1 tidak sama dengan IN2 maka OUT62
berlogic 0. Untuk tipe pemogramman dengan keyboard digital rangkaian operasi
kunci adalah 1,nor,2,=,62.

Syaprudin – te-pnj - 2005 69


SW 1 Logic Relay IN1 CR05
LR

IN1
SW 2 IN2
LD IN1
OR IN2
IN2 OUT 62 OUTPUT
OUT CR03
RELAY OUT 62 LDNOT CR03
LR CR05
62 OUT 62

Gate Logic Relay Logic PLC Logic Mnemonic

Gambar 58. Rangkaian dan Code Gerbang NOR

Untuk lebih memahami gerbang digital logika maka pada tabel 5.1. diperjelasa
situasi yang mungkin terjadi pada input.

Tabel 5.1. Daftar kebenaran Gerbang logika.

AND OR EXOR NOT


IN1 IN2 OUT IN1 IN2 OUT IN1 IN2 OUT IN OUT

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0

1 0 0 1 0 1 1 0 1

1 1 1 1 1 1 1 1 0

NAND NOR EXNOR

IN1 IN2 OUT IN1 IN2 OUT IN1 IN2 OUT

0 0 1 0 0 1 0 0 1

0 1 1 0 1 0 0 1 0

1 0 1 1 0 0 1 0 0

1 1 0 1 1 0 1 1 1

Syaprudin – te-pnj - 2005 70


5.4. ALJABAR BOOELAN.
Aljabar Booelan adalah sebuah metode stenografi dari bentuk lain symbol
gerbang logika, Diagram rangkaian gerbang logika yang komplek dapat dianalisa
dengan mudah dengan penulisan dengan Aljabar Booelan. Pada tabel 5.2.
menjelaskan bentuk dari symbol Aljabar Booelan, definisi, contoh penggunaan
dan pengertian. Contoh penggunaan dan arti dari perubahan bentuk gerbang
digital menjadi bentuk Aljabar Boolean juga ditunjukan pada tabel 5.3.

Tabel 5.2. Simbol Aljabar Boolean.

SIMBOL DEFINISI CONTOH PENGGUNAAN PENGERTIAN

 And C.D.E C and D and E

+ Or 11+12 11 or 12

- Not M Not M

 Invert Change

= Results in F.G=L L ON jika F dan G ON

Tabel 5.3. persamaan Aljabar Boolean Untuk Gerbang logika


SIMBOL ARTI BOOLEAN

A
X
AND AB = X
B

F
G Y OR F+G = Y

Z NOT R=Z
R

S 106
T
NAND ST =106

11
14 N NOR 11+14 = N

Syaprudin – te-pnj - 2005 71


5.5. SOAL-SOAL LATIHAN.
Untuk latihan 1 s/ d 4, terjemahkan kalimat agar menjadi rangkaian sbb:
a. Gerbang logic
b. Relay logic.
c. PLC logic
d. Code Mnemonic.
1. Saklar 8 AND saklar 11, kemudian saklar 22 OR saklar 34 semua saklar aktif
untuk OUT 67 aktif.
2. Untuk OUT 7 aktif, IN 6 = 0 AND IN 8 = 1, OR IN 9 = 1.
3. OUT H aktif, IN A = 1, IN C dan IN D masing masing 0.
4. Empat stasion mengontrol sebuah kipas angin, masing masing stasion
memiliki tombol start-stop. Sebelum kipas aktif ada dua pintu yang harus
ditutup, Dapat mengaktifkan dan mengnonaktifkan kipas angin dari salah satu
stasion.
5. Desain dan gambarkan gerbang logic, relay logic, PLC logic dan code
mnemonik untuk kasus berikut ini:
 SW1 {NO} bila ditekan output lampu 1 menyala
 SW2 {NO} bila ditekan output lampu 2 menyala
 SW3 {NO} bila ditekan output lampu 1 dan lampu 2 mati
 SW4 {NO} bila ditekan output lampu 1 dan lampu 2 menyala kembali.

6. Ubahlah kombinasi Gerbang logika menjadi bentuk:


 Diagram Relay
 Diagram Ladder
 Code Mnemonic

I
N
1
Out
02
I
N
2

Syaprudin – te-pnj - 2005 72


BAB VI

MERANCANG
DIAGRAM LADDER

6.1. TUJUAN
 Membuat diagram ladder dengan panduan langkah operasional suatu proses
kontrol.
 Menyusun langkah langkah dalam pembuatan program PLC untuk proses
kontrol didalam industri.
 Menggambarkan materi dari setiap langkah langkah pembuatan program.
 Membuat flowchart dari proses kontrol.

Syaprudin – te-pnj - 2005 73


6.2. PENDAHULUAN
Membuat perencanaan tanpa disertakan tidakkan adalah membuang waktu
dan uang, melakukan tindakan tanpa ada rencana dapat membuat kegagalan,
dalam pembahasan bab ini mengariskan beberapa rencana yang diperlukan untuk
membuat program PLC yang baik dan benar. Dapat bekerja, mudah dilacak, aman
dan tanpa kegagalan.

6.3. DAFTAR URUTAN KERJA DIAGRAM LADDER


Diagram ladder merupakan diagram yang paling umum dipergunakan untuk
merancang rangkaian kontrol non-elektronik, terkadang disebut dengan diagram
dasar atau diagram baris.
Ada dua tipe diagram ladder yang digunakan dalam sistem kontrol yaitu
diagram kontrol ladder dan diagram power ladder, gambar 6.1. menunjukan dua
dasar diagram control ladder yang pertama (a) untuk switch tunggal yang
mengendalikan output relay (CR5) ON-OFF, (b) diagram fungsi tunggal dengan
line parallel untuk kontrol dan line parallel untuk output, salah satu atau kedua
saklar mengendalikan output dan sebuah pilot lamp.

L1 SW CR 5 L2
1
3
(a) OUTPUT

L1 SW 1 CR 5 L2

3
OUTPUT
(b)
SW 2
PL 1

Gambar 6.1. Diagram Dasar Kontrrol Ladder

Syaprudin – te-pnj - 2005 74


L1 SW 1 CR 7 L2
LINE
10
1 3 OUTPUT 1

SW 2

2
CR7-1 SW 3 CR 8

11 12
3 OUTPUT 2

PL 1

Gambar 6.2. Diagram Kontrol Ladder Dua Fungsi

Didalam penggambaran yang umum untuk format diagram kontrol ladder


diilustrasikan pada gambar 6.2. diagram kontrol ladder memiliki dua fungsi line
aktif, Beberapa format penggambaran sebagai berikut:
 Semua coil. Pilot lamp dan output output berada disebelah kanan.
 Satu line input dapat mengendalikan lebih dari satu output, dihubungkan
parallel.
 Saklar kontak dan peralatan lain dapat disisipkan di line ladder mulai dari kiri.
 Saklar kontak dan peralatan lain dapat dipasang parallel, seri atau parallel-seri.
 Line di tandai dengan nomor di sebelah kiri, berurutan dari atas ke bawah.
 Setiap simpul diberi nomor indentifikasi yang berbeda.
 Fungsi output diberi keterangan pada sebelah kanan.
 Simpangan sistem kontrol coil relay (CR7) di indentifikasi dengan tanda line
yang dituju diberi keterangan pada sebelah kanan.
 Kontak relay diindentifikasi oleh nomor coil relay ditambah nomor urut
rangkaian. contoh: coil CR7 mengendalikan kontak CR7-1 dan kontak CR7-2.

Cara kerja diagram kontrol ladder gambar 6.2. sebagai berikut:


Urutan kerja yang benar.

Syaprudin – te-pnj - 2005 75


Semua saklar terbuka untuk start, kedua coil dalam kondisi off.
SW1 dan SW2 ditutup, CR7 aktif.
Di line 3 CR7-1 tertutup. Mengaktifkan line 3, (CR8 masih off).
SW3 ditutup, CR8 aktif dan pilot lamp PL1 menyala.
SW1 dan SW2 dibuka, menyebabkan semua off

Pilihan urutan yang memungkinkan.


SW1 dan SW2 tertutup SW3 ditutup, tidak ada yang dapat diaktifkan.????
SW1 dan SW2 tertutup SW3 terbuka, semua non aktif.

Gambar 6.3. adalah diagram ladder yang keliru, dimana menggunakan komponen
yang sama dengan gambar 6.2. apakah rangkaian tersebut dapat bekerja ?, Apabila
semua saklar tertutup, tegangan sampai ke poin 13, setiap coil hanya mendapatkan
1/3 tegangan, kemungkinan coil coil tidak akan aktif normal dan tidak mampu
untuk membuat kontak tertutup.

L1 SW 1 CR 7 – 1 SW 3 CR 7 CR 8 PL 1 L2
11 12 13 14 15

SW 2

Gambar 6.3. Diagram Kontrol Ladder Yang Keliru.

Tambahan persyaratan rangkaian mungkin diperlukan pada konstruksi dari


penambahan line kontrol ladder, modifikasi yang mungkin dapat ditambahkan
pada diagram ladder gambar 6.2. sebagai berikut:
SW4 harus ON untuk mengaktifkan CR7.
CR7 harus ON untuk mengaktifkan CR8
CR9 dinyalakan oleh CR7, CR8 dan SW3

Syaprudin – te-pnj - 2005 76


Kerja dari diagram power ladder dalam gambar 6.4. adalah ketika power
dari coil kontaktor diaktifkan, kontak power tertutup, dan motor akan bekerja.
Perhatikan bahwa pengawatan pada power ladder diagram ditunjukan oleh line
yang lebih tebal untuk membedakan dengan line kontrol rangkaian.

. Power Ladder
Gambar 6.4. Diagram

Penggambaran pengembangan diagram ladder ditunjukan dalam gambar 6.5.


perhatikan ada sebuah garis putus putus antara dua kontak SW3, garis putus putus
mengindikasikan saklar tunggal dengan dua kontak .
L1 SW 1 SW 4 CR 7 L2

LINE 10 11
1 3. 5. OUTPUT 1

SW 2

CR 7 - 1 SW 3 CR 8

12 13
3 5. OUTPUT 2

PL 1

CR 7 - 2 SW 3 CR 8 -1 CR 9
5 14 15 16
OUTPUT 3

Gambar 6.5. Pengembangan Diagram Kontrol Ladder.gambar 6.2.

Syaprudin – te-pnj - 2005 77


Sebauah rangkaian tambahan untuk operasi dapat digambarkan pada line diagram
ladder, seperti yang ditunjukan pada gambar 6.6. Rangkaian tambahan
berdasarkan penambahan line disertakan denganCR& atau CR8 atau keduanya
ditambahkan LS12 dan CR9 mengaktifkan relay CR10.

L1 CR 7 - 3 LS 12 CR 9- 1 CR 10 L2

17 18 19
6 OUTPUT 4

CR 8 - 2

Gambar 6.6. Line Tambahan Untuk Diagram Kontrol Ladder gambar 6.5.

6.4. KONTRUKSI PROSES DIAGRAM LADDER


Beberapa langkah dalam merencanakan diagram ladder untuk suatu proses
yang besar adalah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan masalah.
2. Membuat sketsa dari proses operasi.
3. Membuat daftar urutan langkah kerja untuk proses.
4. Tambahkan sensor didalam gambar sesuai yang dibutuhkan, untuk
menghasilkan kontrol sekuensial.
5. Tambahkan kontrol manual untuk memulai proses atau pemeriksaan
operasional.
6. Perhatikan keamanan dari operator dan buatlah penambahan atau penyesuaian
yang diperlukan.
7. Tambahkan tombol stop utama untuk menghentikan operasi secara aman.
8. Buatlah diagram ladder logicyang akan dipergunakan sebagai dasar dari
pemogramman PLC.
9. Perhatikan apa yang akan terjadi jika ?… ., dimana proses yang berurutan
berjalan dibagian yang tepat.

Syaprudin – te-pnj - 2005 78


Beberapa langkah lain yang diperlukan didalam merencanakan program yang
tidak termasuk dalam perencanaan antara lain:
 Mencari dan memperbaiki penyebab kerusakan operasi prose yang tidak
berfungsi.
 Mendaftar kompenen sensor, relay dll.
 Diagram pengawatan termasuk terminal I/O.

Untuk mengilustrasikan sembilan langkah urutan perencanaan, dipergunakan


konsef dasar masalah kontrol industri. Dan melakukan proses kreasi untuk
mengilustrasikan setiap langkah dari proses perencanaan.
Langkah–1. Mendefinisikan masalah. Membuat sistem kontrol proses pengecatan
komponen dengan spray. Sebuah benda kerja diletakkan di mandrel ( sebuah
piringan yang berfungsi menahan benda kerja selama operasi). Ketika benda kerja
telah siap, tombol start ditekan lalu mandrel dinaikan, setelah benda kerja berada
diatas dan berada dalam kubah, cat disemprotkan selama 6 detik, setelah 6 detik
mandrel diturunkan, benda kerja yang telah dicat dipindahkan dengan tangan (cat
telah mengering dengan cepat).
Langkah–2. Membuat sketsa proses. (lihat gambar 6.7.)

KUBAH
PELINDUNG

PERSEDIAN
VALVE CAT CAT
dan
POMPA
MANDREL

START dan STOP

VALVE PNEUMATIC

Gambar 6.7. Sketsa Proses Sistem Spray

Langkah–3. Membuat daftar urutan langkah kerja untuk proses. Daftar urutan
langkah langkah operasional harus dibuat dengan detail. Urutan langkah langkah

Syaprudin – te-pnj - 2005 79


harus dianalisa berkali kali sehingga apabila ada langkah yang tertinggal dapat
diketahui kemudian dan dapat ditambahkan. Berikut ini adalah urutan langkah
langkah proses.
1. Menjalankan pompa cat dan supply udara pneumatic.
2. Menjalankan sistem, ini membutuhkan tombol selain tombol utama.
3. Meletakan benda kerja di mandrel, sensor mengindikasikan benda kerja telah
ditempatkan di mandrel.
4. Menekan dua tombol start utama, dengan menekan tombol oleh kedua tangan
dapat mengurangi kemungkinan kecelakaan tangan operator dengan naiknya
mandrel.
5. Mandrel dinaikan dengan silinder pneumatic yang memperoleh energi dari
pembukaan valve udara secara elektrik, ketika tombol start utama ditekan.
Catatan: mandrel akan kembali turun karena pengaruh grafitasi dan gaya tekan
pegas kebawah, ketika valve tertutup kembali. Ketika benda kerja naik
bersama mandrel sensor dibawahnya tidak turut naik sehingga menjadi non-
aktif.
6. Ketika benda kerja sampai diatas dan berada dibawah kubah, mandrel berhenti
karena tekanan udara, sensor mengindikasikan bahwa benda kerja telah
mencapai puncak.
7. Timer mulai menghitung selama 6 detik.
8. Selama perioda 6 detik cat disemprotkan oleh sprayer.
9. Setelah 6 detik pengecatan berhenti, dan mandrel beserta benda kerja turun.
10. Sensor pada bagian atas dinon-aktifkan ketika mandrel beserta benda kerja
turun.
11. Ketika mandrel sampai dibawah memberi mengaktifkan sensor yang ada
dibawah.
12. Benda kerja yang sudah dicat dipindahkan dari mandrel.
13. Sistem direset, srhingga proses dapat dimulai dari langkah-3.

Langkah–4. Tambahkan sensor didalam gambar sesuai yang dibutuhkan, untuk


menghasilkan kontrol sekuensial. Pertama membuat daftar urutan, tentukan sensor

Syaprudin – te-pnj - 2005 80


apa yangdiperlukan oleh mesin untuk mengindikasi status proses. Dibutuhkan
sensor penempatan benda kerja yaitu limit switch placement (LSP) untuk
memastikan benda kerja telah diletakan pada mandrel, juga dibutuhkan sensor
untuk menunjukan mandrel sudah sampai diatas yaitu limit switch up (LSU).
Kemungkinan dibutuhkan sensor untuk memastikan apakah sprayer cat telah
mengecat dan untuk memastikan apakah tangan operator sudah keluar dari jalur
penyemprotan. Gambar 6.8. ditunjukan dua sensor LSP dan LSU dan
penempatannya, juga ditampilkan penempatan tombol start dan stop.

LSP
LSU

START START
Control STOP STOP
Relay KIRI KANAN
START Dan
STOP Timer
UTAMA Kabinet

Gambar 6.8. Lokasi Sensor dan Pushbutton.

Langkah–5. Tambahkan kontrol manual untuk memulai proses atau pemeriksaan


operasional. Kemungkinan dibutuhkan tombol manual untuk menaikan mandrel
ke atas untuk memulai, tombol ini dibutuhkan ketika akan mengatur tekanan spray
gun untuk daya sebar cat yang optimum, didalam diagram ladder dapat
ditambahkan bagian push button up (PBU) untuk memenuhi syarat kontrol
manual.
Langkah–6. Perhatikan keamanan dari operator dan buatlah penambahan atau
penyesuaian yang diperlukan. Menyadari masalah keamanan operator mesin,
salah satu cara yang peling mendasar untuk menjaga tangan jauh dari proses,
dengan menggunakan dua buah tombol start. Sehingga kedua tangan harus jauh
dari proses untuk menekan kedua tombol.Hal lainyang perlu dingat kemungkinan

Syaprudin – te-pnj - 2005 81


mengaktifkan kipas untuk menyebarkan angin selama penyemprotan cat atau
mungkin sebuah fotocell sebagai sensor utuk menghentikan mesin.
Langkah–7.Tambahkan tombol stop utama untuk menghentikan operasi secara
aman. Tambahan saklar untuk keadaan berbahaya dan saklar stop utama yang
dibutuhkan untuk keamanan operator. Hal ini kemungkinan terlihat seperti dalam
langkah–6, karena pembahasan masalah keamanan operator, ini merupakan
kelanjutan dari subyek keamanan, tetapi saklar stop keadaan bahaya sangat
penting karena dibutuhkan sebagai kesadaran khusus tentang langkah tambahan.
Langkah–8. Buatlah diagram ladder logic yang akan dipergunakan sebagai dasar
dari pemogramman PLC. Diagram ini dibuat untuk mengaplikasikan langkah
langkah proses dari langkah pertama sampai ketujuh. Dan bentuk diagram ladder
ditunjukan pada gambar 6.9.
Langkah–9. Perhatikan “apa yang akan terjadi jika?”, dimana proses yang
berurutan berjalan dibagian yang tepat. Jawablah arti dari “apa yang akan terjadi
jika?”, atau daerah promlem yang potensial.Setelah duagramladder terpenuhi,
semua kemungkinan situasi dan keadaan baya harus dibuat daftarnya. Dalam
contoh ini beberapa dari hal tersebut adalah:
 Apakah yang terjadi jika tidak ada benda kerja yang diletakan ketika tombol
star ditekan.
 Apakah yang terjadi jika tegangan hilang pada saat benda kerja naik, waktu
pengecatan.
 Bagaimana Akibatnya jika alat penyemprot keluar dari cat?.
 Bagaimana Akibatnya jika part yang sama ditinggalkan dari dobel coat?
 Bagaimana Akibatnya jika tombol utama stop ditekan? Apakah tombol stop
benar-benar menghentikan keseluruhan proses, atau dapat mandrel bergerak
dan menghasilkan suatu masalah tentang keselamatan setelah tombol stop
tertekan. itu dapat terjadi.
Semua jenis pertanyaan diatas harus dijelaskan hingga urutan terakhir dan
dengan diagram tangga. Penjelasan ulang dari diagram tangga pada gambar 6-9
tutup sebagian dari gambar masih belum jelas, namun ini hanya beberapa tidak

Syaprudin – te-pnj - 2005 82


semuanya. Modifikasi - modifikasi selanjutnya akan diperlukan untuk melengkapi
suatu penjelasan yang belum dapat ditentukan.

L1 Emergency Stop L2
Nomor
Langkah
Program Control Voltage
LINE REF FUNGSI
1, 2 Tertutup Bila Aktif

Master Stop Stop Master Pompa Tekanan


Stop Kanan Kiri Start Cat Udara CR 1

3, 4
A B, C Sistem
Master
CR 1 - 1 Relay

B Kontak
Relay
Enable Mandrel Start Start
CR 1-2 LSP Kanan Kiri CR 2

4, 5
C D, E, G Relay UP

CR 2-1 CR 3-1

D kontak
Relay

CR 2-2 SU

6, 7
E solenoin
Naik
Manual UP

F Manual
UP
CR 2- 3 LSU Benda Kerja Sampai Ke Puncak TR 1
7, 8
G J Timer
TR 2
Pengecatan
6 secon
8
H K Timer
Turun 7 s
TR 1 – 1 PS
9, 10, 11 J Mulai
Mengecat
TR 2 – 1 CR 3
12 K C Reset.

Gambar 6.9. Diagram Ladder Proses Pengecatan


.

Syaprudin – te-pnj - 2005 83


6.5. FLOWCHART METODE PEMOGRAMMAN.
Telah dibahas pada awal, salah satu dari langkah langkah dalam
perencanaan suatu proses digambarkan dalam diagram ladder, metod lain untuk
menjelaskan langkah langkah proses dapat menggunaka flowchart atau diagram
arus. Dimana merupakan penggambaran dari program logika. Flowchart dapat
dipergunakan pada awal rancangan untuk memudahkan pengembangan program
yang besar dan rumit. Flowchart menunjukan poin poin keputusan, operasi yang
sebenarnya dan urutan penyelesaian masalah. Umumnya flowchart menggunakan
empat lambing dasar, yaitu oval, diamond, rectangle dan parallelogram, sebagai
tambahan panah penghubung, keempat lambang ditunjukan pada gambar 6.10.
Lambang oval menyatakan start program dan end program, lambang diamond
menyatakan kondisi pernyataan yes atau no, lambing rectangle menyatakan
tempat proses terjadi. Lambing parallelogram menandai adanya input dan output,
hal itu dipergunakan untuk memasukan informasi kedalam sistem atau untuk
mengambil informasi keluar. Flowchart, gambar 6.11. merupakan proses
penyemprotan benda kerja.

OVAL

DIAMOND

RECTANGLE

PARALLELOGRAM

PENGHUBUNG

Gambar 6.10.bang Perangkat Flowchart

Syaprudin – te-pnj - 2005 84


START

NO
Apakah Benda Kerja
Sudah di Puncak

Operator mengaktifkan
Pompa Dan Pneumatic
mensupply udara
YES

Benda Kerja di cat


Selama 6 secon

Operator mengaktifkan
SISTEM

Mandrel dan Benda Keja


bergerak Turun

NO
Apakah Mandrel dan
Operator Meletakan Benda Kerja Sudah
Benda Kerja Ke Mandrel turun

YES

NO
Apakah Benda Kerja
Sudah Diletakan NO
Apakah Mandrel dan
Benda Kerja Sudah
dibawah

YES

Operator menekan kedua YES


Tombol start utama

Operator Mengambil
Benda Kerja dari Mandrel

Mandrel bergerak naik

Sistem Restart

Gambar 6.11. Flowwchart Sistem Proses Alat Semprot.

Syaprudin – te-pnj - 2005 85


6.6. SOAL SOAL LATIHAN
Memecahkan permasalahan berikut dengan menggunakan kesembilan langkah
perencanaa.
1. Membuat diagram ladder untuk urutan berikut:
 SW1 tertutup, CR1 terbuka
 Setelah CR1 terbuka, SW2 memungkinkan CR2 terbuka.
 CR2 terbuka, PL1 nonaktif.
2. Susunlah urutan langkah langkah Diagram ladder gambar 6.12.
3. Gambarkan Flowchart untuk diagram ladder gambar 6.12.
4. Suatu benda kerja ditempatkan pada sebuah conveyor, benda kerja secara
otomatis bergerak sepanjang conveyor. Pada pertengahan conveyor benda
kerja berhenti, alat penyemprot mengecat untuk beberapa waktu, setelah
selesai di cat benda kerja kembali bergerak mencapai ujung conveyor,
conveyor berhenti dan benda kerja dipindahkan. Diasumsikan hanya ada satu
benda kerja yang ada diatas conveyor, sketsa bentuk mesin ditunjukan pada
gambar 6.13.
SW 1 SW 2 CR 12

SW 3

CR 12 - 1 LS 1 CR 13

CR 13 – 1 LS 2 CR 14

CR 12 - 2 CR 14- 1 SW 4 CR 15

SPRAY

Gambar 6.12. Digram Ladder Soal


START STOP

Gambar 6.13. Sketsa Mesin Conveyor Pengecatan.

Syaprudin – te-pnj - 2005 86


BAB VII

REGISTER DASAR

7.1. TUJUAN
 Mendaftar lima jenis register dasar yang ada di PLC.
 Menjelaskan dan menggambarkan masing masing fungsi dari 5 jenis register.
 Menjelaskan bagaimana ke lima jenis register yang digunakan PLC.

Syaprudin – te-pnj - 2005 87


7.2. PENDAHULUAN
Pada bab bab terdahulu telah dipahami sistem PLC secara lengkap dan
mempelajari elemen elemen PLC, perangkat luar input dan output dan bagaimana
cara operasi kerja, memahami dan mendaftar prosedur pemogramman, program
aplikasi input ON-OFF menghasilkan output ON-OFF, program start-stop,
membuat diagram ladder untuk sebuah proses permasalahan. Sedangkan pada bab
ini akan dijelaskan pengertian register register yang ada di PLC CPU, untuk
membantu dan mempermudah dalam pelajaran selanjutnya yaitu fungsi timer dan
fungsi counter yang banyak dipergumakan pada setiap permasalahan.

7.3. KARAKTERISTIK UMUM REGISTER.


Dalam CPU PLC regieter berada di dua lokasi, mikroprosessor memiliki
register internal, umunya tidak dapat diakses secara langsung oleh pemakai.
Register ini memiliki ukuran 4, 8, 16, 32 atau 64 bit, tergantung pada tipe
microprosessor, dan bekerja membantu unit kontrol, unit aritmatic dan unit logika
didalam prosessor untuk menyelesaikan suatu proses. Register akumulator,
register data, register indek, register kode kondisi, scratch pad register dan register
instruksi semua bekerja untuk menyimpan data sementara, yang akan
dipergunakan untuk meyelesaikan fungsi fungsi program.
Didalam register masing masing lokasi bit berisi angka “1” dan “0”, isi
register dapat dilihat dengan menggunaka VDT dengan memanggil register pada
keyboard, beberapa sistem dapat membaca dan mencetak isi register,.
Penggunaan register biasanya dengan menyebutkan angka register yang
ditentukan, seperti HR256 merupakan Holding Register 256, atau OG2
merupakan Output Group register 2. salah satu model PLC memiliki alamat
register 130 sampai 217 ditugaskan untuk kegiatan pengaturan waktu dan
penghitungan (Timer dan Counter). Alamat pada register PLC menjadi penting
karena ini merupakan kerja manual dalam pemogramman.
Dalam gambar 7.1. diperlihatkan 5 blok sistem penyimpanan sementara
yang dipergunakan untuk manipulasi data didalam mikroprosessor PLC.

Syaprudin – te-pnj - 2005 88


Input Holding Output
Register Register Register
Atau
Working
Spesific Spesific
Input Output

8 –12 100 –1000 8 –12


Typically Typically Typically

Gambar 7.1. PLC register.

7.4. HOLDING REGISTER (Register Penyimpan).


Holding atau working, register (HR) hold berisi muatan kalkulasi, arithmetic
atau logic, didalam CPU register ini berada ditengah lihat gambar 7.1. Untuk PLC
ukuran kecil holding register tidak dapat secara langsung diakses oleh input atau
output. Input dan output register (single atau group) merupakan interface holding
register dengan perangkat luar. Data sinyal dari spesifik input yang pertama
disimpan dalam format 0 dan 1 pada input register, kemudian data tersebut
dimanipulasi oleh mikroprosessor dan disimpan didalam holding register, sebelum
isi dari holding register mempengaruhi peralatan luar, ditransfer dahulu ke output
register, keluaran register 0 dan 1 mengendalikan perangkat interface seperti
optoisolator. Untuk mengambarkan proses sinyal pada holding register digunakan
fungsi pengatur waktu (timer) dan penghitung (counter).
Dalam operasi artimetic sebuah holding register dapat berisi operand
pertama, holding register lain berisi operand kedua dan sebuah holding register
terakhir berisi hasil manipulasi matematik. Lihat gambar 7.2.
Enable Overflow
Input Indicator
Operand 1
HR 0075
Data Input
Operand 2
Data Input
HR 0076
Output
Hasil Sum
HR 007

Gambar 7.2. Operasi Arithmetic Didalam Register.

Syaprudin – te-pnj - 2005 89


Pada fungsi timer, nilai preset pewaktu ditempatkan pada register yang
ditunjuk, dan holding register tempat manipulasi berlangsung, lihat pada gambar
7.3a. Pada fungsi counter, nilai preset penghitungan ditempatkan pada register
yang ditunjuk, dan holding register tempat dimana perhitungan berlangsung, lihat
pada gambar 7.3b.
Register yang dituju 014
Tempat di mana Nilai waktu
Disetting

PRESET TS
014 017

REGISTER
HR 101

Register yang dituju HR 101


(a) Timer Tempat di mana Hasil Perhitungan
disimpan

Register yang dituju 021


Tempat di mana Nilai Hitungan
Disetting

PRESET DC10
021 7

REGISTER
HR 102

Register yang dituju HR 102


(b) Counter Tempat di mana Hasil Perhitungan
disimpan

Gambar 7.3. Operasi HR pada Timer dan Counter

Jumlah holding register pada PLC ukuran kecil 16, dan pada sistem yang
besar kemungkinan memiliki holding register dalam ratussan, semuanya dapat
diakses untuk pemogramman, manipulasi dan analisa visual.

Syaprudin – te-pnj - 2005 90


7.5. INPUT REGISTER (Single dan Group)
Input register pada dasarnya mempunyai karakteristik yang sama dengan
holding register, kecuali input register dapat mengakses terminal modul input atau
port. Jumlah dari input register pada PLC biasanya 1/10 dari holding register.
Input group register (IG) seperti input register, perbedaanya untuk input
register masing masing dari 16 bit secara individu mengakses satu input port,
sedangkan satu input group register menerima data dari 16 input port secara
berurutan. Gambar 7.4. menggambarkan bagaimana IG register bekerja.
Keuntungan dari sistem IG register yaitu hanya satu register yang memerlukan
layanan 16 input port, tanpa sistem IG register dibutuhkan 16 register untuk
melayani 16 input dan dibutuhkan banyak ruang memori untuk menjalankan
program. Terminal modul input berhubungan dengan satu bit IG register, masing-
masing IG register mengendalikan satu status bit. Bilamana input port
memungkinkan, atau terpasang, maka menghasilkan bit slot ‘1’, bilamana input
port off menghasilkan bit slot ‘0’, gambar 7.5. menunjukan jumlah nomor input
group dan input port.

Gambar 7.4. Skema Input Group Register

Syaprudin – te-pnj - 2005 91


Tabel 7.1. Jumlah Nomor Input Group dan Input Port.
Jumlah Sistem Control Input Sistem Control Input
Input Group Register 8 Bit 16 Bit
1 1 –8 1 –16
2 9 –16 17 –32
3 17 –40 33 –48
4 41 –48 49 –64
5 49 –56 65 –80
6 57 –64 81 –96
7 65 –72 97 –102
dst dst dst

7.6. OUTPUT REGISTER (Single dan Group)


Output register, input register pada dasarnya mempunyai karakteristik yang
sama dengan holding register, kecuali output register dapat mengakses terminal
modul output atau port. Jumlah dari output register sama dengan input register.
Output group (OG) register serupa dengan input group (IG) register, gambar
7.5. menunjukan fungsi OG register, satu OG register dapat mengontrol 16 output,
bila posisi pada bit 1, maka output akan on dan bila 0 maka output akan off
Posisi Status
Output Untuk
HR 276

Memberikan
Perintah
Untuk menstransfer
HR 276 ke OG 2
Mneuju
Output Group

OG 1 Dari 1 –16
OG 3 Dari 33 - 48

Gambar 7.5. Output Group Register.

Syaprudin – te-pnj - 2005 92


7.7. SOAL SOAL LATIAHN.
1. Susun lima dasar tipe register, gunakan diagram blok untuk menunjukan
masing masing tipe dalam operasi PLC.
2. Bagaimana IG register yang terlihat pada ketiga status input modul, yang
ditunjukan pada gambar 7.6.?. Berapa jumlah nomor tiap tiap IG register?,
Berapakah nilai dalam binar didalam register.?
3. Bagaimana status output untuk empat output dan IG register yang ditunjukan
pada gambar 7.7. ? Berapaka jumlah nomor output untuk OG dan IG register
yang ditunjukan.
A B C
No Input Status No Input Status No Input Status
49 ON 105 ON 209 OFF
50 ON 106 OFF 210 ON
51 OFF 107 ON 211 OFF
52 ON 108 OFF 212 ON
53 OFF 109 ON 213 OFF
54 OFF 110 OFF 214 ON
55 ON 111 OFF 215 OFF
56 ON 112 ON 216 ON
57 ON 217 ON
58 OFF 8 bit PLC 218 OFF
59 ON 219 OFF
60 OFF 220 OFF
61 ON 221 OFF
62 ON 222 ON
63 OFF 223 ON
64 ON 224 OFF

Gambar 7.6. Diagram Untuk Soal 2

A 0011 1100 1010 0111 OG 0007

B 1010 0110 OG 0008

C 0101 1111 0000 0110 IG 0011

D 1100 1011 1011 1000 OG 0021

Gambar 7.7. Diagram Untuk Soal 3

Syaprudin – te-pnj - 2005 93


BAB VIII

FUNGSI TIMER PLC

8.1. TUJUAN
 Menguraikan fungsi timer yang bersifat menyimpan (retentive) dan
pengaturan waktu tunda (delay timer).
 Mendaftar dan menguraikan delapan fungsi timer, yang digunakan dalam
rangkaian proses.
 Menerapkan kedelapan fungsi timer pada rangkaian PLC, untuk
mengendalikan proses.
 Menerapkan fungsi timer didalam berbagai permasalahan mempergunakan
kombinasi dua timer atau lebih.
 Menerapkan fungsi timer untuk pengontrollan didalam proses industri.

Syaprudin – te-pnj - 2005 94


8.2. PENDAHULUAN
Perangkat lunak proses yang umum digunakan setelah kontak dan coil
adalah timer (pengatur waktu). Fungsi timer yang paling umum adalah TIME ON
DELAY (TON) yang merupakan fungsi dasar. Ada beberapa bentuk konfigurasi
timer, yang diperoleh dari pengembangan fungsi TON, PLC mempunyai banyak
kemampuan untuk memanipulasi fungsi timer. Dalam bab ini diilustrasikan fungsi
TON dan tujuh fungsi lainnya. Fungsi dasar yang kedua adalam TIME OFF
DELAY (TOF)

8.3. TIMER DASAR


Fungsi timer yang perlu diketahui selain dari tipe TON dan TOF, ada
beberapa tipe fungsi timer diantaranya:

8.3.1. Timer satu Input.


Timer satu input disebut non-retentive timer, digunakan dalam beberapa
PLC, ditunjukan dalam gambar 8.1. bila IN001 diberi energi maka kontak akan
tertutup, maka timer TS017 akan mulai menghitung untuk 4 detik, setelah 4 detik
output akan ON. Jika IN001 energinya hilang dan kontak terbuka, maka timer
akan mereset kembali seperti kondisi awal dan output akan OFF. Bilamana IN001
terbuka diantara interval waktu (missalnya pada saat 2 detik) maka timer akan
mereset kembali menjadi nol.

IN001 TS017

4 det

Gambar 8.1. Timer Satu Input

8.3.2. Timer Dua Input.


Tipe timer satu input mempunyai kelemahan yaitu kembali mereset pada
saat input kehilangan energi. Gambar 8.2. tipe dengan format blok, dilengkapi
dengan line enable/ reset, timer akan bekerja apabila diberi energi. Apabila energi
hilang akan tetap menghitung sampai nol atau reset pada saat nol. Line IN001

Syaprudin – te-pnj - 2005 95


menyebabkan timer berjalan, ketika enable, bilamana input enable terus diberi
energi timer akan terus bekerja berulang ulang, bilamana input enable kehilangan
energi timer akan bekerja sampai 0 dan berhenti tidak mereset 0, catatan, ketika
IN001 terbuka dan IN002 tertutup timer serupa dengan gambar 8.1. contoh lain,
IN002 tertutup, IN001 diatur ON setelah 6 detik, IN001 terbuka atau Off, timer
mempertahankan hitungan ke 6, tidak mencapai hitungan yang ditetapkan 14
detik, dan output timer masih tetap Off, timer tidak akan mereset kecuali IN002
terbuka, apabila IN001 kembali ON, hitungan dimulai sampai ke 8 dan output
timer akan ON.

Preset adalah tempat nilai


waktu yang di set
Atau Register yang ditunjuk

IN001 TS 017

RUN Preset
014

IN002
Enable/
Reset

Reg
HR 101

Reg. adalah tempat


menghitungi waktu yang di set

Gambar 8.2 Format Blok Dengan Dua Input

Gambar 8.3. dengan diagram format coil, keduanya memiliki input masukan
energi dan input reset/ enable, merupakan pilihan lain, IN7 untuk pengatur waktu
RT31=RN, dan IN8 enamble RT31=RS, ketika timer menjadi ON, output 31
(internal) mengatur output 78 menjadi ON. Penghitungan dalam register tidak
digambarkan, di dalam beberapa PLC nilai preset waktu sudah tetap misalnay
timer 5 detik, timer 10 detik dst.

Syaprudin – te-pnj - 2005 96


IN 7 RN
31
RUN RT

Run
IN 8 RS Timer
31 Reset
Enable/ RT
Reset

31 Timer 14
78
Output
O
Timer Output 78

Gambar 8.3. Format Coil

Gambar 8.4. menunjukan timer dengan tiga input dimana input reset/ enable
dipisah masing masing memiliki saluran input yang berbeda, ini banyak
digunakan pada kasus kasus khusus. Ilustrasi gambar merupakan timer untuk
kasus spesial, dimana line reset dan enable terpisah menjadi dua, konfigurasi ini
digunakan untuk program spesial pengaturan kebutuhan yang tersedia,

IN001 TS 017

RUN Preset
014

IN002
Enable

IN003 Reg
Reset HR 101

Gambar 8.4. Format Blok Dengan Pemisahan Enable - Reset

8.3.3. Timer yang bersifat menyimpan (Retentive Timer ON), RTO.


Timer RTO dibuat tetap mempertahankan nilainya, ini berarti bahwa walaupun
kondisi input dimatikan (Off) nilai terakhir yang masuk dalam timer akan
disimpan (rententive), sehingga bila input diaktifkan lagi (ON), maka timer akan
mulai menghitung dari nilai terakhir pada saat timer dimatikan. Gambar 8.5.(a)

Syaprudin – te-pnj - 2005 97


menunjukan diagram ladder RTO, bilamana input 1:012 ON, timer mulai
menghitung dengan nilai mertambah, setiap 1 detik pada T4:10, apabila input
1:012 Off pada hitungan ke 40, maka angka terakhir akan disimpan. Bilaman
1.012 ON kembali hitungan dilanjutkan mulai dari nilai 40 sampai selesai 180,
dan timer direset, seandainya pada hitungan 120 direset maka timer diangkap
selesai menghitung kembali 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 8.5
(b) diagram waktu.

1:012t
RTO
Timer T4: 10 EN
Time Base 1.0
10 Preset 180
Accumlator 0 DN

1:017 T4: 10

res
12

Gambar (a ) Diagram Ladder RTO

(b) Timing Diagram RTO

Gambar 8.5. Retentive Timer ON (Allen Bradley format)

Syaprudin – te-pnj - 2005 98


8.4.CONTOH CONTOH FUNGSI TIMER.
Beberapa fungsi timer yang dipergunakan adalah:
Contoh 1. Timer Delay ON (TON)
Contoh 2. Timer Delay OFF, TOF.
Contoh 3. Limit On Time.
Contoh 4. Repeat Cicle.
Contoh 5. Opersai One Shoot.

Contoh 1. Timer Delay ON, TON.


Pada gambar 8.6. diperlihatkan diagram Ladder TON, output A (LT1) ON
selama waktu setting (8 det) yang diberikan baru kemudian output B (LT2)
menjadi ON, bilaman output A kembali Off maka output B akan mengikuti Off.
iagram Dasar Relay Logic Diagram Pengawatan
L1 L2
L1 TDR L2
SW 1 8 det
SW 1

LT 1

TDR - 1 LT 2 LT 1 LT 2
TDRt

Bentu di monitor PLC Logic Diagram Pengawatan


IN001 CR0017 INPUT OUTPUT

TS Com Com
CR0017 TS0018 1 17 LT 1
2 P 18
8 det SW 1 L
3 19
4 C 20
R017 LT 2
Count 5 21
HR 001
6 22

LT 1 / CR017

Diagram Waktu 8 de

LT 2 / CR018

SW 1 - IN001 SW 1 - IN001
ON OFF

Gambar 8.6. Time Delay ON.

Syaprudin – te-pnj - 2005 99


Contoh 2. Timer Delay OFF, TOF.
Pada gambar 8.7. diperlihatkan diagram Ladder TOF, output M (CR017)
ON dan output P (CR019) menjadi ON, bilaman output M kembali Off maka
selama waktu preset (20 det) yang diberikan baru kemudian output P akan Off.

Diagram Waktu

IN001 CR0017
MOTOR

IN001 TS CR0018
Preset
20 20 det
Reg LOGIC
IN001 HR 161

IN001 CR018 CR019


POMPA

CR0019

SW 1 - IN001 SW 1 - IN001
ON OFF

Gambar 8.7. Diagram Ladder Time Delay Off.

Contoh 3. Limit On Time.


Pada gambar 8.8. diperlihatkan diagram Ladder time interval on start, output
A dan B sama sama ON, pada selang waktu 4,6, detik output B akan Off dan
output A tetap ON.

Diagram Waktu

IN001 CR020

Output A

IN001 TT CR021
Run Logic TT
Preset
Timer
046
4,6 det
IN002
Reg
ENABL
E HR 053 4,6
det
IN001 CR021 CR022
Output B

IN001 ON IN001 OFF

Gambar 8.8. Diagram Ladder Limit On Time.

Syaprudin – te-pnj - 2005 100


Contoh 4. Repeat Cicle.
Pada gambar 8.9. diperlihatkan diagram Ladder Pengaturan waktu pulsa
berulang, Output TT013 akan ON sesaat dan Off pada interval waktu yang tetap
(0,5 detik), selama IN005 aktif.
Diagram Waktu

IN005 TT013 0,5 det 1,0 det

Preset
5 IN005
TT 013 Scan
Reg Timer
Output
OR11 TT013

Gambar 8.9. Diagram Ladder Repeat Cicle.

Contoh 5. Opersai One Shoot.


Pada gambar 8.10. diperlihatkan diagram Ladder Operasi One Shoot, input
akan aktif sesaat atau lebih, dan output CR0040 akan ON selama interval waktu
(17 detik) yang ditentuka.

IN001 TS 31 CR0030

IN001 ON

CR0030
CR0030

CR0030 TS 0031 17 det

Preset CR0031
017
IN0011
Actual
HR0107

CR0030 CR0031 CR0040


OUTPUT

Gambar 8.10. Diagram Ladder One Shoot.

Syaprudin – te-pnj - 2005 101


8.5. APLIKASI PROSES TIMER DI INDUSTRI
Masalah stasiun pemanas dan pendingin berikut memerlukan beberapa
pemogramman timer, dan kontak , coil logic. Dimana sistem ini menyelesaikan
proses pengerasan permukaan pada cincin baja, pengerasan dilakukan dengan
memanaskan cincin baja pada suhu tinggi, kemudian segera mendinginkan dengan
cepat.
Proses pemanasan dilakukan dengan tidak ada sentuhan dengean elemen
pemanas, arus listrik yang tinggi, diberikan pada coil penghantar elemen pemanas
yang berbentuk lingkaran, oleh karena itu cincin baja yang ditempatkan, ditengah
tengah lingkaran memanas dengan cepat. Coil mempunyai sistem air pendingin
untuk menjaga pemanasan yang berlebihan atau meleleh., air pendingin dengan
cepat dipompakan melalui bagian dalam coil penghantar. Menyemprokan pada
bagian cincin baja dengan air dingin ,elalui banyak lubang pada bagian dalam coil
dan menghasilkan pendinginan yang cepat, dimana menghasilkan sustu
permukaan cincin baja yang keras. Layout mekanik dari sistem proses pemanasan
dan pendinginan diperlihatkan pada gambar 8.11.
PEMANAS
LSU

AIR
UP-DN
PENDINGIN
MANDREL

LSPP BENDA KERJA

KIRI KANAN

Up Up

Dn Dn
SILINDER
PNEUMATIC
UP

ON OFF
GRAVITASI
PEGAS
DOWN

Gambar 8.11. Layout Stasiun Pemanas/ pendingin.

Syaprudin – te-pnj - 2005 102


Urutan proses sistem sebagai berikut:
1. Tekan tombol utama, sistem aktif.
2. Cincin baja diletakkan pada mandrel. Limit switch (LSPP) aktif memberi
indikasi bahwa benda kerja telah diletakan.
3. Tekan tombol star kiri dan kanan bersamaan.
4. Tombol stop dapat setiap saat menghentikan semua proses.
5. Mandrel diangkat dengan tekanan udara pneumatic, pada saat ini limit switch
tidak terangkat berarti limit switch menjadi terbuka atau tidak aktif.
6. Mandrel sampai puncak, dan limit switch (LSU) memberi indikasi cincin baja
sampai di atas.
7. Pemanas hidup selama 10 detik kemudian mati.
8. Pendinginan hidup selama 8 detik kemudian mati.
9. Mandrel kembali kebawah karena gaya gravitasi dan pegas. LSU menjadi
tidak aktif ketika mandrel turun.
10. Mandrel sampai bawah, LSPP menjadi aktif kembali.
11. Cincin baja dipindahkan.
12. Sistem berulang.

Beberapa tampilan pilihan tidak terdapat pada urutan proses diatas yaitu:
 Jika diasumsikan pemanas dan pendingin keduanya aktif, pemasangan harus
ditambahkan untuk menyatakan berjalan sepanjang proses.
 Bagian cincin yang sama dapat diproses lebih dari satu kali, misalnya di
inginkan cincin akan dipindahkan setelah 12 kali proses.
 Apakah suhu yang sesuai telah tercapai?. Suatu sensor thermocouple dapat
dipasangkan untuk memonitor suhu.
 Penambahan control manual untuk setting yaitu atas, panas dan dingin.
 Perlengkapan keselamatan dapat ditambahkan seperti pelindung keselamatan.
 Perlengkapan lain yang diperlukan.

Langkah berikut merupakan penomoran input output untuk menugaskan register


PLC atau address. Ditunjukan pada tabel 8.1.

Syaprudin – te-pnj - 2005 103


Tabel 8.1. Penomoran Input Output.

INPUT OUTPUT
0001 Master Stop 0019 Valve solenoid naik
0002 Master Start 0021 Saklar coil panas ON
0003 Stop kiri naik 0023 Solenoid air pendingin menyemprot
0004 Stop kiri turun 0017 Sistem ON
0005 Stop kanan naik 0018 Mesin bekerja.
0006 Stop kanan turun
0007 Tombol limit switch bawah
0008 Tombol limit switch atas

Membuat dan menyelesaikan diagram ladder, seperti gambar 8.12. dan


menyelesaikan diagram pengawatan perangkat input dan output ke terminal PLC.
Seperti ditunjukan pada gambar 8.13.

IN001 IN002 CR017

CR017

CR017 IN003 IN005 IN004 IN006 IN007 CR018

CR018 CR024

CR018 CR019

IN008 TS CR020

Preset
10 det
CR018

Reg
HR 037

Syaprudin – te-pnj - 2005 104


IN008 CR020 CR018 CR021

CR020 TS CR022

Preset
8 det
CR018
Reg
HR 030
CR020 CR022 CR023

CR022 TS CR024
Preset
1 det
CR018

Reg
HR 040

Gambar 8.12. Diagram Ladder Mesin Pemanas dan Pendingin.

INPUT OUTPUT

Com Com

Master Stop
1
17 ON
Start 2 P
Stop 18 RUN
Kiri 3 L
Start 19 Solenoid
4
Stop C 20
UP
5
Kanan
Start 21
6
Heat Coil
22
LSU
7 23

LSPP 8
Solenoid
Pendingin

Gambar 8.13. Diagram Pengawatan PLC, Input dan Output Modul.

 Langkah terakhir perencanaan pengembangan dan modifikasi yang


diperlukan.

Syaprudin – te-pnj - 2005 105


8.6. SOAL SOAL TROUBLESHOOTING (TS)
PLC yang telah diprogram untuk dapat beroperasi, bagaimanapun memiliki
kelemahan dan kekeliruan dimisalkan salah instruksi program, atau factor lain
yang menyebabkan trouble.

TS 1. Pada gambar 8.6.


1. Waktu timer kurang dari 1 detik.
2. Timer tidak akan mereset ketika IN001 diputus.
TS 2. Pada gambar 8.7.
1. Pompa peminyakan bekerja pada saat motor hidup,
2. Pompa peminykan mati bersamaan dengan motor.
3. Pompa peminyakan tidak pernah mati.

8.7. SOAL SOAL LATIHAN


Gambarkan Program PLC untuk soal soal dibawah ini, masukan program ke
dalam PLC, lalu uji program .
1. Timer menyalakan saklar kipas selama 8.6 detik setelah saklar di dinding
dinyalakan . Jika saklar di dinding mati selama waktu interval 8.6 detik, timer
mereset selam 0 detik. Jadi ketika saklar di dinding kembali menyala, terjadi
penundaan selama 8.6 detik.
2. Ketika saklar menyala, C langsung menyala dan D akan menyala setelah 9
detik, dan kedua saklar antara C dan D mati bersamaan.
3. E dan F menyala karena saklar. Ketika saklar mati E langsung mati.
sedangkan F mati setelah 7 detik.
4. G dan H hidup ketika diberikan input. G mati setelah 4 detik. H tetap hidup
sampai pemutusan daya. Jika input tidak ada maka output juga mati.
5. Dua penghasil pulsa aktif pada waktu yang sama. Output pulsa J akan
memberikan pulsa setiap 12 detik. Output pulsa K memberikan pulsa setiap 4
detik.
6. Ketika L menyala, M hidup 11 detik kemudian, dan menyala selam 11 detik,
walaupun L tetap menyala.

Syaprudin – te-pnj - 2005 106


7. A. Dua lampu menyala dan mati pada interval yang berbeda. Lampu 1
menyala selama 5 detik dan mati selama 5 detik. Lampu 2 menyala selama 8
detik dan mati selama 8 detik. B. Dua lampu berkedip secara berurutan, yang
pertama selama 5 detik dan yang kedua selama 8 detik.
8. Ada empat output ;R,S,T, dan U,R langsung menyala ketika diberikan input.
S menyala setelah 4 detik. T menyala setelah 5 detik setelah S. U menyala
setelah 1.9 dari S. Satu saklar mematikan semua output.
9. Ulangi latihan 7 untuk mematikan penundaan yang aktif. S mati 4 detik
setelah R. T mati 6 detik setelah R. U mati 2.5 detik setelah S.
10. Pulsa output V bergerak 3.5 detik setelah input W hidup. Interval waktu hidup
V yang berlangsung 7.5 detik. V bergerak kembali 3 detik 3 detik kemudian
selama 5.3 detik.
11. Ada tiga pencampuran alat dalam memproses garis ;A,B, dan C. setelah
proses dimulai. Pencampuran A bekerja setelah 7 detik berlalu. Lalu,
pencampur B bekerja 3.6 detik setelah A. Pencampur C bekerja 5 detik setelah
B. Semua keadaan tetap sampai saklar utama dimatikan.
12. Ketika tombol Start ditekan, M aktif . 5 detik kemudian N aktif . Ketika Stop
ditekan , maka keduanya mati. Sebagai tambahan, setelah 5 detik M dan N
mati, kipas F yang sebelumnya mati lalu menyala. F terus menyala sampai
tombol Start kembali ditekan.
13. Gergaji kayu W, sebuah kipas F, dan alat pemberi minyak pelumas pompa,
semunya aktif ketika tombol Start ditekan. Tombol Stop hanya menghentikan
kerja gergaji saja. Kipas akif selam 5 detik. Pemberi minyak aktif selama 8
detik setelah W mati. Sebagai tambahan, jika gergaji aktif lebih dari 1 menit,
kipas harus menyala terus. Kipas dapat mati dengan menekan bagian tombol
reset kipas. Jika gergaji bekerja kuarang dari satu menit. Pompa harus mati
ketika gergaji mati. Waktu penundaan untuk mati selama 8 detik berpengaruh
untuk waktu kurang dari 1 menit.

Syaprudin – te-pnj - 2005 107


BAB IX

FUNGSI COUNTER PLC

9.1. TUJUAN
 Menjelaskan fungsi-fungsi counter pada PLC
 Menyusun dan merencanakan instruksi penghitungan dengan counter
bilamana dipergunakan pada rangkaian proses.
 Menerapkan fungsi counter PLC dan menghubungkan rangkaian untuk proses
kontrol.
 Menerapkan kombinasi dari counter dan timer untuk proses kontrol.

Syaprudin – te-pnj - 2005 108


9.2. PENDAHULUAN
Fungsi pemogramman counter pada PLC adalah berupa format pengatur
waktu. Terminal input pada counter dapat lebih dari satu, yang pertama
merupakan input penghitungan pulsa (clock), dan lainnya enable/ reset. Sebagai
pilihan dapat juga enable dan reset terpisah, tergantung pada kebutuhan. Counter
konvensional sudah banyak diganti dengan fungsi counter PLC, counter
konvensional dapat berupa mesin listrik, dan jenis elektronik. Contoh tipe counter
tersebut banyak ditemukan dalam berbagai peralatan manual.
Fungsi yang umum dari counter adalah up dan down atau kombinasi up-
down. Tipe yang lebih khusus adalah counter kecepatan tinggi untuk menghitung
frekuensi tinggi, Up counter menghitung dari 0 sampai nilai preset, dan down
counter menghitung dari nilai preset sampai 0.

9.3. DASAR DAN KONFIGURASI COUNTER.


Empat konfigurasi tipe counter PLC yaitu fungsi dasar up atau down
counter, kombinasi up-down counter, high speed counter dan counter yang
dilengkapi dengan enable / reset.
9.3.1 Counter Naik atau Turun (Up or Down)
Gambar 9-1a. menunjukan format blok merupakan acauan dasar gambar
fungsi counter PLC, nilai hitungan ditempatkan pada register yang ditunjuk yaitu
preset dengan nilai 21. Counter up bekerja sebagai berikut, input clock pertama
IN001 aktif counter akan menghitung satu dan hasil hitungan disimpan pada reg
HR102, dan seterusnya untuk clock berikutnya sampai hitungan akhir yaitu 21,
output UC017 akan ON dan bilaman input reset IN002 aktif maka counter akan
kembali 0, kebalikan dari up counter adalah down counter yang menghitung dari
nilai preset 21 sampai 0. Gambar 9.1b merupakan format coil.
DC017
atau
IN001 UC017

COUNT Preset
021
IN002
Reg
ENABLE / HR 102
RESET

(a) Format Blok.

Syaprudin – te-pnj - 2005 109


IN1 32

Count UC
Count 21

IN2 32

ENABLE / UC
RESET

32 74
Output
OT 74
Output Counter

(b) Format Coil

Gambar 9.1. Counter Up atau Down

9.3.2. Counter Kombinasi Up dan Down.


Gambar 9.2. menunjukan counter tiga input dimana masing masing memiliki
input clock up dan down, yang ketiga input enable/ reset.
IN001 UDC 017

Count UP Preset
021
IN002
Count Down

IN003 Reg
ENABLE / HR 102
RESET

Gambar 9.2. Counter Kombinasi Up dan Down

9.3.3. Counter Kecepatan Tinggi (High Speed)


Gambar 9.3. merupakan counter dengan kecepatan tinggi dipergunakan untuk
menghitung pulsa clock yang memiliki frekuensi tinggi sekitar 7 KHz (tergantung
dari jenis PLC)

IN001 HSC 017

COUNT Preset
… ..
IN002
Reg
ENABLE / ……
RESET

Gambar 9.3. Counter Kecepatan Tinggi

Syaprudin – te-pnj - 2005 110


9.3.4. Counter dengan Enable-Reset Terpisah.
Gambar 9.4. menunjukan counter tiga input dimana bila semua input tebuka
counter tidak bekerja, input enable dan reset aktif high atau berfungsi bilaman
input ON. UD 017
atau
IN001 UC 017
COUNT Preset
021
IN002

ENABLE
IN003
Reg
HR 102
RESET

Gambar 9.4. Counter Enable Reset Terpisah

9.4. CONTOH APLIKASI FUNGSI COUNTER.


Enam contoh penggunaan counter PLC, pertama sebagai aplikasi dasar
untuk menhitung kejadian, kedua dan ketiga contoh kegunaan lebih dari satu
counter untuk proses control penghitung . keempat fungsi counter yang
berhubungan dengan fungsi timer.
Contoh 1. Menghitung langsung suatu proses, output counter bekerja setelah
penghitungan selesai, setelah jumlah tertentu dari penghitungan yang terjadi.
Output akan bekerja. Output dapat digunakan sebagai supply peralatan indikator
atau digunakan sebagai loncatan pada rung didalam diagram ladder. Fungsi
counter ditunjukan pada gambar 9.5. merupakan diagram up-counter dan down-
counter, keduanya mempunyai fungsi yang sama. Counter akan berfungsi setelah
batas preset tercapai atau setelah perhitungan input menerima pulsa clock
sebanyak 18 pulsa, output akan ON.

UC DC
IN004 CR 021 IN008 CR 022

COUNT Preset COUNT Preset


018 018

IN006 IN011
Reg Reg
ENABLE / HR037 ENABLE / HR046
RESET RESET

Up Counter Down Counter

Gambar 9.5. Operasi Dasar Counter PLC

Syaprudin – te-pnj - 2005 111


Contoh 2. Dua counter digunakan untuk menghasilkan penjumlahan dua hitungan
yang berbeda. Gambar 9.6. menunjukan diagram ladder kombinasi dua buah
counter, output akan aktif ON bilamana penghitungan dari kedua bagian A = 6
dan B = 8 telah selesai, A merupakan input IN002 dan B merupakan input IN003,
untuk mengulang proses matikan IN001 dan mengaktifkan lagi IN001.

IN001 CR017
Sistem
Master
IN002 UC Relay
CR018
Logic 6
Preset Count
PART A
006
IN001
Reg
HR075
UC to IN003
IN003 CR019 to IN002

Logic 8
PART B Preset
Count
008
IN004
Reg
HR076
IN001 CR018 CR019 CR020 Pilot
Lamp Conveyor
Output
A+B

Gambar 9.6. Aplikasi Dua Counter

Contoh 3. Dua counter digunakan untuk menghasilkan selisih dua hitungan yang
berbeda, gambar 9.7a. menunjukan kombinasi dua counter yang menggunakan
register yang sama reg HR101 untuk counter UP preset diatur maksimum 999
dimana IN002 akan menghitung benda kerja yang masuk ke conveyor dan counter
down preset diatur 0, dimana IN003 akan menghitung benda kerja yang keluar
dari conveyor. Hasil perhitungan ditampilkan dalam mode monitor, diasumsikan
tidak ada benda kerja yang hilang atau bertambah maka penunjukan counter sama
nol. Apabila counter yang dipergunakan Up-Down Counter seperti yang
ditunjukan pada gambar 9.7b. memungkinkan untuk dipergunakan dimana operasi
kerjanya sama.

Syaprudin – te-pnj - 2005 112


IN001 CR017

Sistem

UC
IN002 CR018 Part ON
Count IN001 CR017
Preset
999 Sistem
IN001 IN002 UDC 018
Reg Count
HR101 Logic
UP Preset
Part IN003
DC OFF Count
IN003 CR019 Count Down
Reg
Preset IN001 HR 101

Set
IN001
Reg Inisial
HR101 Count

(a) (b)
Gambra 9.7. Display Counter

Contoh 4. Proses penghitungan dan interval waktu. Gambar 9.8. menunjukan


program yang menyelesaikan penghitungan dan interval waktu, output CR087
akan aktif ON, setelah counter UC001 selesai menghitung sampai 15 kali dtambah
dengan waktu timer selama 25 detik.

IN007 UC001
Count akan
Count COUNT ON setelah
15 Hitungan 15
IN008

Enable/ Reset Reg


HR051

UC001 TS002
Timer ON
Timer TIMER
Setelah
25
25 detik
UC001
Enable/ Reset Reg
HR052

UC001 TS002 CR087 Spray ON


Logic Timer dan
Counter ON

Gambar 9.8. Counter dan Timer Program.

Syaprudin – te-pnj - 2005 113


9.5. SOAL SOAL TROUBLE SHOOTING (TS)
TS 1. Pada gambar 9.5.
 Counter menghitung 1 dan merest seperti input yang hidup kemudian off.
TS 2. Pada gambar 9.6.
 Lampu pilot CR020 tidak pernah menyala, meskipun perhitungan yang
dirancang telah ditetapkan.
 Lampu pilot CR020 tidak bias padam.
TS 3. Pada gambar 9.7.
 Saat proses sedang berjalan, penghitungan display mode monitor pada
HR101 tidak berubah.
 Display mode monitor penghitungan negatif.
TS 4. Pada gambar 9.8.
 Output CR087 aktif pada saat rangkaian control berjalan.
 Output CR087 tidak aktif setelah interval 25 detik.

9.6. SOAL SOAL LATIHAN


Rencanakan rangkaian dan uji rangkaian PLC untuk proses berikut:
1. Lampu inkator menyala saat perhitungan mencapai 3. kemudian akan mati
saat perhitungan mencapai 31.
2. Sebuah mesin M diharapkan akan menyala saat penghitung A mencapai 21
atau saat penghitung B mencapai 16. untuk mereset seluruh proses digunakan
sebuah pushbutton.
3. Sebuah kitab F diharapkan akan menyala saat penghitung F menghitung dari 7
ke 0 dan juga saat penghitung M menuju 14 atau penghitung N belum berjalan
sepanjang 14 ke 0. Untuk me-reset seluruh proses digunakan sebuah switch.
4. Sebuah solenoid, S diharapkan bekerja saat penghitung C mencapai 22, dan
saat penghitung D turun dari 37 ke 0, dan saat penghitung E menuju 8.
Selanjutnya, jika penghitung F turun dari 17 ke 0 dalam keadaan apapun,
maka solenoid tetap bekerja.
5. Ulangi latihan 3 kecuali saat F turun dari 17 ke 0, seluruh proses diharapkan di
reset oleh sistem.

Syaprudin – te-pnj - 2005 114


6. Proses pembotolan untuk 12 botol beroperasi sebagai berikut :
Botol dihitung hingga kedua belas botol ada pada tempat pengisian. Saat
posisinya ada pada slot, ke-12 botol diisi bersamaan selama 60 detik. Setelah
pengisian, ada jeda selama 3,8 detik untuk menurunkan busa. Kemudian ke-12
tutup botol dipasang sebanyak botol yang ada. Lalu solenoid mendorang ke-12
botol yang telah selesai pada tempat pembawa. Sistem me-reset proses untuk
grup yang baru ( di start ulang secara manual ) dengan sebuah switch yang
mengindikasikan bahwa botol sebelumnya telah keluar dari posisinya dan ada
pada pembawa.
7. Sebuah sistem pengepakan dan penjilidan (S) memerlukan suatu pengatur
jarak setelah 14 lembar telah tertumpuk. Setelah lebih dari 14 (total 28),
tumpukan diharapkan disampaikan. Tambahkan sensor dan asumsikan
komponen output yang diperlukan
8. Dari latihan no 2 dan ditambah langkah tambahan yang tertera pada proses.
Setelah penjilidan telah selesai, ada jeda selama 2 detik pada penjilid untuk
meneliti kembali. Lalu sebuah tanda identifikasi menyala dalam waktu 4 detik.
9. Dua buah penyampai (F1 dan F2) memisahkan bagian ke penyampai utama.
Suatu alat berdekatan pada tiap ujung pembawa. Kemudian tiap counter
menunjukan perhitungan dari bagian – bagian yang sedang diletakan pada
penyampai utama sebagai tambalan. Kembangkan program agar memiliki
register tunggal yang menunjukkan nilai perhitungan dari bagian-bagian dari
penyampai.

Syaprudin – te-pnj - 2005 115


DAFTAR PUSTAKA.

1. Webb W. John, “Programmable Logic Controllers”California, Prentice


Hall, 1999
2. Honeycutt Richard, “Electromecanical Devices”, Upper Saddle River, NJ,
Printice Hall, 1986
3. Moloney Timothy J, “Industrial Solid State Electronic-Devices and
Systems”, Upper Saddle River , NJ, Prentice Hall, 1986
4. Floyd. Thomas, “Digital Fundamentals”, 5thed, Indianapolis IN,
Macmillan, 1994

Syaprudin – te-pnj - 2005 116