Anda di halaman 1dari 1

Dia Adalah Aku

Aku tidak menyadari apakah yang aku katakan, yang aku pikirkan, dan yang aku perbuat itu
salah? Aku merasa aku sudah melakukan hal yang benar, aku tidak merugikan orang lain, tapi
mengapa aku bisa seperti ini? Perasaanku, pikiranku, selalu tak pernah seperti ini sebelumnya. Orang
bijak mengatakan “ Turutilah kata hatimu karena hati akan menuntunmu ke arah yang lebih baik”.
Aku sudah melakukan itu sebelumnya. Tapi, mengapa sekarang aku tak dapat menentukan kata
hatiku? Apa yang harus aku lakukan?

Seperti biasa, di malam yang gelap dengan bintang – bintang yang menghiasi langit bagai
penerang jagat raya di malam hari yang gelap dan dingin, aku dan adik kembarku, Eli sedang berada
di kamar kami masing-masing. Hanya ada Aku, Eli, Mbok Ketut (pembantu dan pengasuh kami) dan
Pak Wayan (sopir pribadi keluarga kami) yang berada di rumah. Ibu kami sudah lama menginggal
ketika kami berusia 5 tahun karena penyakit leukemia yang dideritanya. Ayah kami adalah seorang
pria yang sangat sibuk. Dia hampir tidak pernah berada di rumah karena urusan kerjanya. Dia adalah
seorang pengusaha. Tapi, walaupun dia sangat sibuk, dia sangat menyayangi kami. Dia selalu
mengirimkan uang untukku dan Eli. Tapi, Eli tidak puas akan hal itu. Dia selalu menelpon ayah agar
dia segera pulang. Dia adalah seorang anak yang sangat cerewet. Mirip ibu-ibu. Dia selalu
menasihatiku, ayah, bahkan teman-temanku. Terkadang aku kesal terhadap perlakuannya.

Di kamar, aku sedang membaca komik kesukaanku. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Aku kesal karena ada yang mengganggu waktuku untuk membaca komik kesukaanku. Setelah aku
buka pintu kamarku, ternyata Eli yang masuk. Dia memperingatkanku untuk segera belajar. Aku
sangat kesal dan tanpa sengaja aku membentak Eli. Eli pergi ke kamarnya dengan air mata yang
membasahi wajahnya. Esok harinya, aku terbangun dari tidurku dan tiba-tiba aku teringat bahwa
sekarang ada ulangan matematika dan aku lupa untuk belajar. Aku buru-buru untuk pergi ke sekolah.
Tapi sampai di sekolah teman-temanku mengajakku untuk pergi ke kantin untuk sarapan. Seakan-
akan aku melupakan ulangan matematika yang menyeramkan itu. Rosy, Rani, dan Mira adalah
sahabat terbaikku. Kita adalah empat orang yang sangat terkenal di sekolah. Tidak ada siswa yang
tidak mengenal kita. Tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan tiba-tiba pula aku teringat tentang ulangan
matematika itu. Aku merasa takut. Tetapi setelah aku melihat Eli menampakkan wajahnya yang
tenang, aku merasa lega karena Eli akan bisa aku manfaatkan.

Di kelas, Pak Adi guru matematika yang galak sudah datang. Dia berdiri di depan kelas dengan
tatapan seramnya. “Nah, anak-anak sekarang waktunya ulangan. Tutup dan masukkan semua buku
kalian. Yang ada di atas meja hanya alat tulis dan selembar kertas.” Aku sangat gugup. Selama
ulangan, aku tidak bisa melakukan apapun. Tiba-tiba Pak Adi mengatakan “Lisa, apa yang kamu
lakukan? Saya sudah memberimu kertas ulangan. Tapi kenapa kamu tidak mengerjakannya sama
sekali?” Gawat, Pak Adi memanggil namaku. Aku langsung menyahutnya, “Ya pak, saya sedang
mencari pulpen saya.” Tak lama kemudian, bel keluar berbunyi. Aku tidak dapat mengerjakan satu
soal pun. Tiba-tiba, Eli tersenyum ke arahku dan berkata “Tenanglah kakak, aku sudah buat 1
jawaban lebih untukmu.” Aku tidak mempedulikannya, dan aku pergi. Di kantin, Rosy, Rani, dan Mira
datang ke arahku dan berkata “