Anda di halaman 1dari 9

Komunikasi Politik

NEW MEDIA, NEW AUDIENCE : RUANG PUBLIK,


DAN POLARISASI WACANA POLITIK

(Article Review)

Pengampu :
Prof. Drs. Pawito, Ph.D

Poundra Swasty Ratu Maharani Serikit


S 220809009

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI PASCASARJANA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
NEW MEDIA, NEW AUDIENCE : RUANG PUBLIK,
DAN POLARISASI WACANA POLITIK

Catatan Penulis :

Tulisan ini merupakan review dari dua artikel yang diterbitkan oleh Routledge
Taylor&Francis Group: The Internet, Public Spheres, and Political Communication:
Dispersion and Deliberation yang ditulis oleh Peter Dahlgren (2005) dan New Media
and the Polarization of American Political Discourse karya Matthew A. Baum dan
Tim Groeling (2008).

Internet, Ruang Publik, Demokrasi

Tidak ada habis-habisnya fenomena yang satu ini diperbincangkan oleh para
sarjana komunikasi selama beberapa dekade terakhir: new media. Salah satu produk
paling mutakhir dari new media, yaitu internet, telah memancing rasa penasaran para ahli
komunikasi untuk menelitinya. Angin perkembangan dan perubahan yang dibawa new
media tidak hanya dapat ditengarai lewat kemajuan teknologi komunikasi atau hard
device nya, melainkan juga meliputi berbagai aspek sosial, atau yang disebut oleh Paul
Levinson (1997) lewat disertasinya sebagai the soft edge. Aspek sosial yang berkaitan
dengan komunikasi melalui new media sungguh sangat menarik dan memiliki banyak
ragam yang dapat diteliti. Berangkat dari media konservatif (radio, televisi, surat kabar),
beragam kemungkinan dan potensi yang kini dibawa oleh new media menimbulkan
beragam implikasi.
Agenda penelitian tentang new media telah lama memasuki arus utama studi
tentang komunikasi politik yang sebelumnya banyak memiliki keterkaitan dengan media
konservatif. Salah satu pertanyaan yang sejak awal tahun 90-an berusaha dijawab, antara
lain apakah internet akan memiliki (atau barangkali telah memiliki) implikasi terhadap
ruang publik, dan atribut yang menyertai implikasi tersebut. Ruang publik itu sendiri
dapat menjelma menjadi suatu wujud perkembangan peta komunikasi politik yang ada di
masyarakat, yang dengan sendirinya sangat terkait dengan keberadaan demokrasi,
sehingga implikasi kehadiran internet terhadap tumbuh-kembang demokrasi menjadi
sangat menarik untuk dipelajari secara lebih mendalam oleh para ahli komunikasi.
Peter Dahlgren (2005) mengatakan terdapat tiga dimensi analisis utama yang
dapat digaris-bawahi dan merupakan elemen kunci dari ruang publik: elemen struktural,
representasional, dan interaksional.1 Sebagai sebuah konstelasi wilayah komunikatif
dalam masyarakat, ruang publik memberikan ruang bagi sirkulasi informasi, ide-ide,
maupun argumen (yang idealnya bebas dan tidak terkekang), sekaligus merangsang
terbentuknya opini publik, maupun bentuk political will lainnya.
Pada kasus new media, bentuk-bentuk interaktivitas maupun ruang gerak yang
tercipta melesat jauh meninggalkan konsep lama coffee shop2 maupun media konservatif.
New media kini secara mengemuka telah terbukti mampu memfasilitasi jalur-jalur
komunikasi antara masyarakat umum dengan para pemegang kekuasaan. Hal ini antara
lain disebabkan oleh popularitas maupun jangkauan audiens pengguna new media yang
terus meluas. Argumen Dahlgren mengenai legitimasi pengaruh keberadaan new media
terhadap stabilitas demokrasi, dan perlunya evaluasi ulang terhadap konsep-konsep lama
tentang ruang publik maupun demokrasi rasanya sangat menarik untuk disimak. Jika pada
tahun 2005 barangkali internet belum “seheboh” sekarang, kaitannya dengan optimalisasi
penggunaan server-web tertentu untuk tujuan kampanye politis3, Dahlgren telah mampu
meramalkan situasi tersebut, hingga terpaksa harus diamini oleh kaum skeptis manapun
pada tahun 2010 ini.
Dalam artikel ilmiahnya yang berjudul The Internet and the Democratization of
Civic Culture (2000), Dahlgren mengemukakan dan menjelaskan secara terperinci tiga
1
Dahlgren, Peter. 2005. The Internet, Public Spheres, and Political Communication: Dispersion
and Deliberation. Political Communication Journal. ISSN : 1058-4609. Routledge: Taylor and francis
Group.
2
Kedai Kopi adalah salah satu forum ruang publik yang diteliti oleh Jurgen Habermas dan
dituangkan dalam bukunya yang tetap menjadi rujukan hingga sekarang, “The Structural
Transformation of Public Sphere” (1989). Lewat penjelajahannya ke dalam berbagai bentuk forum
ruang publik, Habermas mengemukakan elemen-elemen yang menjadikan sebuah ruang publik itu
ideal, dan pandangan kritisnya terhadap media massa, di masa mendatang sebagai sarana yang mampu
menjembatani memfasilitasi tumbuh-kembang ruang publik ideal tersebut. Memindahkan pemahaman
mengenai kedai kopi tersebut ke wilayah maya, yang didukung oleh teknologi new media, rasanya
menjadi topik yang akan selalu in, mengingat keras dan cepatnya perkembangan teknologi itu sendiri,
membawa manusia mampu terus melintasi zaman.
3
Fenomena yang paling nampak adalah pemilihan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama bulan
November 2008. Kampanye Obama dicatat sebagai kampanye politis pertama yang banyak
memanfaatkan teknologi internet, di antaranya penggunaan facebook, twitter, maupun jejaring sosial
lainnya.
elemen kunci ruang publik. Elemen struktural merupakan elemen pertama, yang terkait
dengan fitur institusional-formal dari wilayah tempat berlangsungnya diskusi dalam
ruang publik. Seperti yang dikatakan oleh Dahlgren (2005: 148-149), fitur-fitur tersebut
meliputi “(…) media organization, their political economy, ownership, control,
regulation, issues of their financing, as well as the legal frameworks defining the
freedoms of – and constraints on – communication.4 Organisasi media, ekonomi politik,
kontrol, regulasi, finansial, maupun kerangka legal yang membentuk struktur ruang
publik tertentu, berkaitan erat dengan isu klasik demokrasi, antara lain kebebasan
berpendapat, akses, dan sebagainya. Sehingga realita sosial yang ada menjadi semacam
“ekologi politis” bagi keberadaan politik, memberikan batasan tentang sejauh mana
sirkulasi informasi dapat berlangsung, pun karakteristiknya. Selanjutnya dapat
diasumsikan oleh Dahlgren; bila nilai-nilai demokrasi di suatu habitat sosial tertentu
cenderung lemah, maka kurang mampu untuk mendukung berkembangnya struktur
institusional ruang publik yang sehat.
Dimensi selanjutnya adalah representasional, yang merujuk pada output media.
Pertanyaan yang familiar akan diajukan pada representasi ruang publik oleh media
konservatif kaitannya dengan komunikasi politik; yakni pertanyaan tentang akurasi,
keberimbangan, pluralitas, agenda setting, kecenderungan ideologis, dan sebagainya.
Lantas pada dimensi terakhir sangat menarik untuk dipahami konteks tentang “publik”
yang dikemukakan oleh Habermas (1987), sehubungan dengan prinsip elemen
interaksional ruang publik. Siapakah mereka? Dan sejauh mana kehadiran new media
mampu merombak audiens?

New Media, New Audience

Saat berbicara tentang new media, sifat “kebaruan” yang dimaksud dari media
tersebut bersifat relatif, di mana satu di antara yang paling jelas tampak ialah jika dilihat
dari segi kemajuan teknologi atau hard device-nya. Saat seorang sarjana komunikasi
ditanyai tentang apa yang baru dari new media, maka sesungguhnya dapat dengan mudah

4
Dahlgren, Peter. 2005. The Internet, Public Spheres, and Political Communication: Dispersion
and Deliberation. Political Communication Journal. ISSN : 1058-4609. Routledge: Taylor and francis
Group. Hal. 148-149.
baginya untuk mendaftar jenis-jenis kemajuan teknologi komunikasi. Namun seorang
sarjana komunikasi tidak akan berhenti pada satu titik, melainkan akan terus berusaha
untuk melihat fenomena tersebut dari berbagai perspektif yang berbeda. Ilmu komunikasi
sebagai bagian dari ilmu sosial, kaitannya dengan new media berusaha ingin menjawab
apa yang baru bagi society, sehubungan dengan new media tersebut.
Apa lagi yang baru dari new media? Sonia Livingstone (1999) berusaha
menjawab pertanyaan ini dengan merekomendasikan bagi para peneliti untuk lebih
mendalami new media dari sisi receiver yang kini tidak lagi hanya berperan sebagai
receiver saja. Kehadiran internet mengubah banyak aspek yang sebelumnya telah
dibakukan dalam seperangkat definisi konseptual. Salah satu yang paling terlihat jelas
perbedaannya adalah audiens dari masing-masing media tersebut. Perbedaan karakteristik
media konservatif dan internet, turut mempengaruhi karakteristik audiens-nya. Jika
sebelumnya media bersifat one to many, maka kini lewat kehadiran teknologi baru media,
setiap orang dapat menjadi konsumen, sekaligus produsen pesan.
Menginjak zaman internet, audiens dihadapkan pada konsep-konsep hyperlink
dan meme.5 Menyebabkan mobilitas informasi yang super cepat terjadi, dan memberi
makna baru bagi konsep interaktivitas media. Proses timbal balik terjadi, menyebabkan
batasan antara komunikator dan komunikan menghilang, lebur, di mana antara produsen
pesan dan penerima pesan berganti-ganti dengan siklus yang sangat cepat.
Tidak hanya itu, para audiens baru ini juga memiliki kebebasan yang sebelumnya
tidak terbayangkan sebelum kehadiran media baru. Kebebasan itu terkait dengan
karakteristik media baru yang nyaris tanpa gate keeper, menjadikan siapa saja memiliki
kebebasan untuk mengelola, mengkonsumsi, maupun menyebarkan informasi sesuai
dengan yang diinginkannya. Hal ini menimbulkan suatu wacana baru mengenai apakah
para audiens media baru ini pada akhirnya akan mengerucut ke dalam kantong-kantong
kelompok yang memiliki arah dan cita rasa yang sama, kaitannya dengan penggunaan
ruang maya.
5
Konsep hyperlink dan meme adalah dua konsep yang sangat berhubungan dengan karakteristik
internet. Seringkali konsep ini dikaitkan dengan persebaran informasi secara masif lewat internet.
Secara sederhana, konsep internet meme ini dapat dikatakan sebagai sebuah propagasi terhadap
hyperlink, yang dilakukan lewat metode-metode tertentu di internet, seperti lewat email, blog, forum,
jejaring sosial, dan sebagainya. Bentuk konten dari meme sendiri bervariasi, yang persebarannya
terjadi justru secara sukarela dan dilakukan dari satu peer ke peer lain, secara organis, ketimbang
secara otomatis ditentukan arah persebarannya lebih dulu oleh suatu regulasi atau konsensus.
Sifat sifat audiens baru dari new media ini diungkap oleh Livingstone (1999),
menjadi tema yang menarik dan menimbulkan pertanyaan yang ingin diungkap
jawabannya. Selain dari hal yang telah diuraikan sebelumnya, sesungguhnya kehadiran
audiens media baru ini memberi makna yang sama sekali baru terhadap pola-pola
penggunaan media yang dapat dikaji secara sosial ilmiah. Misalnya suatu hipotesis yang
dikemukakan oleh profesor di bidang teknologi komunikasi Sherly Turkkle (2009),
menyebutkan bahwa berkenaan dengan perkembangan masif new media dengan segala
atributnya, the self has becoming externally manufactured rather than internally
developed: a series of profiles to be sculptured and refined in response to public
opinion.6 Namun tentu saja, ini akan dapat dikembangkan menjadi satu atau jauh lebih
banyak tulisan lagi. Sementara dalam review kali ini, pemaparan tentang audiens baru
berusaha untuk menunjukkan betapa teknologi komunikasi yang telah bersentuhan
dengan kehidupan sosial dapat memberikan implikasi yang teramat besar. Tak terkecuali
dalam mengkonstruksi suatu gejala sosial baru.
Ruang publik dan internet seperti telah dikemukakan di awal, memiliki potensi
sosial yang direkatkan oleh keberadaan audiens baru ini. Yang selanjutnya akan
membawa pembahasan tulisan ini pada artikel selanjutnya yang dituliskan oleh Matthew
A. Baum dan Tim Groeling (2008).

New Media, Ruang Publik, Polarisasi Wacana Politik

Para sarjana komunikasi politik telah lama meneliti seputar topik tersebut di
media dengan memfokuskan pertanyaan mereka pada pilihan-pilihan berita oleh
organisasi media (Lewin, 1947; White, 1950; Sigal, 1973; Gans, 1979). Namun, selama
setidaknya dalam satu dekade terakhir, muncul arbiter kontemporer dari berita yang turut
bergabung dan bahkan telah mampu menanamkan pengaruhnya dalam agenda publik.
Kehadiran new media ini, dan juga audiens barunya, telah memunculkan kelas baru
pembuat keputusan dalam menentukan newsworthiness.

6
Sherly Turkkle berargumentasi dalam bukunya Alone Together (2009) bahwa melalui twitter dan
facebook yang merupakan agen paling mutakhir dari new media, seseorang berusaha untuk
mengekspresikan sesuatu yang sifatnya riil tentang dirinya, namun karena ia juga mencptakan sesuatu
untuk konsumsi orang lain, maka ia akan semakin lama berimajinasi dan bermain untuk “menghibur”
audiens-nya lagi dan lagi.
Untuk mendukung data dan thesisnya, Baum dan Groeling (2008) melakukan
analisis isi terhadap lima sumber berita online, termasuk di dalamnya wire services, berita
kabel, dan situs-situs blog politik. Penelitian yang dilakukannya ini bertujuan untuk
membandingkan news judgements pada bulan-bulan menjelang dan selama pemilihan
midterm tahun 2006. Dua peneliti itu mengambil berita-berita politik utama dari Reuters
dan AP, dan mencari tahu apakah berita-berita tersebut berada dalam kategori yang sama
dengan yang ditampilkan dalam sumber-sumber berita online lain, yaitu blog-blog
partisan DailyKos.com (berhaluan kanan) dan FreeRepublic.com (berhaluan kiri) serta
outlet kabel (FoxNews.com).
Baum dan Groeling (2008) menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa
terdapat filter sifat partisan pada tiga sumber web yang disebutkan terakhir, dan
kepercayaan yang lebih besar terhadap kriteria newsworthiness tradisional pada dua
berita kabel online.
Penelitian Baum dan Groeling (2008) sesungguhnya merupakan pengembangan
dari studi klasik tentang gatekeeper media. Penelitian sejenis sebelumnya dilakukan di
antaranya oleh White (1950) yang berusaha menyelidiki keputusan harian dari para editor
surat kabar. Baum dan Groeling menangkap adanya fenomena menarik dengan
bertumbuh kembangnya media baru, di mana muncul spesies audiens baru yang tidak
hanya sekedar sebagai audiens, melainkan juga dapat segera berubah sebagai produsen
pesan, bahkan saat ia melakukan feedback. Namun demikian, Baum dan Groeling
menduga bahwa terdapat perbedaan mendasar yang dapat ditemui dari berbagai macam
produk media baru itu, kaitannya dengan wacana politik yang dikeluarkannya. Dan benar
saja, lewat penelitiannya, pada tiga media berwujud blog dan outlet kabel, terdapat
bentuk-bentuk sifat partisan yang tidak dapat diabaikan. Dalam konteks wacana politik di
Amerika Serikat, dapat dihipotesiskan oleh keduanya dua tipe media baru : (1) Media
Liberal, yaitu media yang cenderung berpandangan kiri, dan lebih sering menampilkan
berita feature yang menyudutkan Partai Republik dan mendukung Demokrat; (2) Media
Konservatif, yaitu media berhaluan kanan, yang lebih sering menampilkan berita yang
membahayakan bagi Partai Demokrat, dan justru mendukung Partai Republik. Sementara
itu di sisi lain juga terdapat media yang tetap mempertahankan kriteria nilai berita yang
masih bersifat tradisional, atau nonpartisan media.
Sesungguhnya sifat pengkutuban wacana ini telah ada pada media tradisional.
Audiens akan bergerak dan melekat pada kutub-kutub media yang sesuai dengan nilai
dan pandangan yang diyakininya. Sedangkan pada internet, ketika kebebasan yang
demikian luas terbentang, maka sifat polarisasi ini akan jauh lebih kentara. Blog-blog
yang dikelola oleh personal individu banyak sekali jumlahnya, Baum dan Groeling
mengemukakan bahwa akan timbul suatu potensi bagi para pengelola itu untuk menjadi
opinion leader- opinion leader baru, atau kutub-kutub baru yang akan mendapatkan
pengikut masing-masing.
Temuan ini mendukung apa yang dikatakan oleh Dahlgren (2005), yaitu tentang
konsekuensi positif dari internet yang akan mampu memperlebar dan menjamakkan
ruang publik, dan wacana politik yang dimuatkan padanya. Hanya saja Baum dan
Groeling secara lebih jelas menyatakan bahwa perlebaran dan penjamakkan itu nantinya
akan mengelompok pada kutub-kutub tertentu. Ini sangat menarik, kaitannya dengan
konsep ruang publik yang telah sebelumnya dipahami lewat tulisan-tulisan cerdas
Habermas. Sejauh manakah keidealan suatu ruang publik yang digawangi oleh new
media akan dipengaruhi oleh pengkutuban ini. Pertanya itu, dan fenomena seperti
pergerakan kutub-kutub wacana politik di new media, maupun karakteristik dan
pemetaan pola-pola komunikasi politik di dalamnya akan menjadi pekerjaan rumah yang
harus dipikirkan oleh para ahli komunikasi selanjutnya.
BIBLIOGRAFI

A. Baum, Matthew dan Tim Groeling. 2008. New Media and the Polarization of
American Political Discourse. Political Communication Journal. ISSN : 1058-
4609. Routledge: Taylor and Francis Group.
Boyd-Barrett Oliver dan Chris Newbold (Ed). 1995. Approaches to Media: A Reader.
New Tork: Oxford University Press.
Dahlgren, Peter. 2005. The Internet, Public Spheres, and Political Communication:
Dispersion and Deliberation. Political Communication Journal. ISSN : 1058-
4609. Routledge: Taylor and Francis Group.
Drenstein, Peggy. 2010. The Way We Live Now: I Tweet Therefore I am. The New York
Times Online. Akses: 31 Juli 2010. http://www.nytimes.com/2010/08/01
/magazine/01wwln-lede-t.html?th&emc=th
Flew, Terry. 2002. New Media: An Introduction. New York: Oxford University Press
Habermas, Jurgen. 1989. Institutions of the Public Sphere dalam Boyd-Barrett Oliver dan
Chris Newbold (Ed). 1995. Approaches to Media: A Reader. New Tork: Oxford
University Press.
Livingstone, Sonia. 1999. New Media, New Audiences? New Media and Society Journal.
London: LSE Researc Online. http://eprints.lse.ac.uk/archive/00000391
Lull, J. (2000) Media, Communication, Culture: A Global Approach. Cambridge: Polity