Anda di halaman 1dari 5

PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA
 1


“…istilah Salah Kaprah itu sendiri sudah Keliru Kaprah,”


tulis Jaya Suprana.

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/istilah‐salah‐kaprah‐
itu‐sendiri‐sudah.html
1
Menurut Jaya Suprana, Ketua Umum Pusat Studi Kelirumologi,
kekeliruan yang paling parah adalah kekeliruan yang sudah
terlanjur mengaprah yaitu kekeliruan yang tidak disadari. Kalimat
di atas amat menarik untuk ditelisik dimensi waktu, ruang, dan
sosial terhadap pernyataan Jaya Suprana tersebut. Bagaimana
tidak, menurut dia, sesuatu kekeliruan yang tidak disadari bahwa
keliru mustahil akan ditelaah karena diangap bukan kekeliruan.
Maka, kesadaran bahwa sesuatu adalah kekeliruan menjadi
penting bahkan vital untuk upaya penelaahannya. Tanpa
kesadaran mustahil ada penelaahan dan lebih mustahil lagi ada
upaya mencari kebenaran melalui jalur koreksi. (Dikutip dari kata
pengantar buku Salah Kaprah, Rancu Pikiran, Rancu Tindakan,
penulis DR. Maufur & Adi Ekopriyono)
Di bawah ini merupakan artikel bagus dari rubrik Bahasa
Majalah Tempo yang saya salin dari (dalam jaringan) internet.
Amat bermanfaat untuk saya pribadi!
PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA
 3


Judul: Seronok Canggih


Ditulis oleh: Amarzan Loebis
Sumber: Majalah Tempo Daring, datum 14 November 2005

Seronok Canggih

Sebagai pemakai bahasa Melayu-asal, bingung nian saya


ketika pada sekitar 1980-an akhir membaca berita tentang sebuah
perkumpulan pemuda muslim yang memprotes panggung musik
dangdut di perayaan Sekatenan di alun-alun utara Yogyakarta
karena... para biduannya berpakaian seronok! Alamak, pikir saya,
kalau sudah tak boleh berpakaian seronok, apa lagi yang mau
dipertahankan di republik ini?
Beberapa hari kemudian, setelah berhasil menemukan foto-
foto biduan dangdut yang diprotes itu, makin bingung saya.
Betapa tidak: perempuan-perempuan muda dengan rias ndak
karu-karuan itu ternyata cuma memakai rok sangat ketat sehingga
mirip-mirip –maaf— cawat, dan di dadanya hanya tersampir
sesuatu yang bersifat kutang tersengal-sengal. Lalu mana yang
berpakaian seronok itu?
Perjalanan bahasa memang luar biasa. Apalagi bahasa yang
sangat berambisi untuk menjadi bahasa persatuan, seperti halnya
bahasa Indonesia. Seronok ini, misalnya. Semua pemakai bahasa
Melayu-asal mafhumlah sangat bahwa kata itu, seperti yang
diterangkan berulang-ulang dalam Kamus Besar Bahasa

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/istilah‐salah‐kaprah‐
itu‐sendiri‐sudah.html
3
Indonesia, tiada lain daripada berarti "menyenangkan hati";
"sedap dilihat (didengar dsb)". Keterangan seperti ini sudah
tercantum nian bahkan sejak Kamus Umum Bahasa Indonesia,
W.J.S. Poerwadarminta, 1985.
Bagaimana "seronok" kemudian berubah makna menjadi
sesuatu yang kecabul-cabulan, nah, di sinilah (bukan disinilah!)
masalahnya. Pada tingkat pertama tentu ada kesembronoan—atau
mungkin lebih tepat disebut keabaian— dalam mengambil sikap
kebahasaan yang tepat. Karena merasa diri "orang Indonesia"
sejak dari sononya, tipis sekali perasaan tanggung jawab untuk
mencari rujukan ketika harus berurusan dengan bahasa Indonesia,
yang adalah "memang bahasa kita".
Pendekatan diakronis berkali-kali menunjukkan betapa,
sepanjang perjalanan waktu, sebuah kata atau istilah mengalami
pergeseran makna. Contohnya "canggih". Sejak Kamus Umum
Bahasa Indonesia sampai Kamus Besar Bahasa Indonesia,
"canggih" selalu dimaknakan sebagai "suka mengganggu (ribut,
bawel dsb.)", "banyak cakap" atau yang seperti itulah. Hanya
Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Drs Peter Salim dan
Yenny Salim, 1991, yang mencantumkan tambahan makna
"modern dan rumit".
Kini "canggih" sudah tak terselamatkan. Ia sudah telanjur
menjadi padanan "sophisticated" seraya, dalam bentuk kata kerja,
para pemakai umumnya lebih menyukai "sofistikasi" ketimbang
"pencanggihan". Tak pernah jelas mengapa, pada awalnya, para
PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA
 5


pemakai memilih "canggih" yang artinya "ribut", "bawel", "suka


mengganggu", "banyak cakap" itu sebagai padanan
"sophisticated", yang semula diangkat dari "sophist", istilah
Yunani Purba untuk "guru filsafat yang dibayar".
Di antara perangkat aktif yang bermain ketika manusia
mempertukarkan informasi lewat bahasa, terdapatlah daya ilokusi
(illocutionary force), yaitu akibat yang diinginkan oleh pembicara
agar ujarannya mencapai efek maksimal bagi lawan bicara.
Dengan asosiasi tekanan tertentu yang diambil dari kata –maaf—
"...nok" yang lain, barangkali, lalu terangkatlah kata "seronok"
untuk menggambarkan hal yang sebetulnya tidak senonoh jauh
sekali dari makna asalnya.
Berbeda dengan "canggih", yang sudah sangat telanjur
bercanggih-canggih, "seronok" tampaknya masih bisa
diselamatkan. Dalam upaya penyelamatan ini, seyogianyalah
media massa, dan terutama para pekerjanya, berada di barisan
terdepan, mendudukkan kembali "seronok" pada maknanya yang
benar.

(Dikutip dari Majalah Tempo Daring, datum 14 September 2005)

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/istilah‐salah‐kaprah‐
itu‐sendiri‐sudah.html
5

Anda mungkin juga menyukai