Anda di halaman 1dari 49

PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI

TELAAHAN STAF

NAMA

: NUR FAJAR F.U.

NID

: MKS / ES / 063

BIDANG PEMELIHARAAN

Proyeksi Jabatan :

Assistant Engineer ASSESMENT & DIAGNOSA TRAFO & KOMPENSATOR

Judul : ANALISA PENGUKURAN PARTIAL DISCHARGE DAN PARTIKEL GERAK BERDASARKAN HASIL PENGUJIAN KUALITAS GAS SF6 ASSESMENT GIS BANGIL

TAHUN 2010

LEMBAR PENGESAHAN TELAAHAN STAF

: NUR FAJAR F.U/ MKS-ES-063 : ASSISTANT ENGINEER ASSESMENT &

DIAGNOSA TRAFO & KOMPENSATOR JUDUL TELAAHAN STAF : ANALISA PENGUKURAN PARTIAL DISCHARGE DAN PARTIKEL GERAK BERDASARKAN HASIL PENGUJIAN KUALITAS GAS SF6 ASSESMENT GIS BANGIL

NAMA/ NO. TES PROYEKSI JABATAN

SURABAYA, MEI 2010

Menyetujui,

Mentor,

SUGIARTO

Manajer RJTB

TRI AGUS CAHYONO

Mengetahui

Peserta OJT

NUR FAJAR F. U.

DM SDMAD

TAUFIQ DERMAWAN

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah Telaah Staff dengan Judul ” Analisa Pengukuran

Partial Discharge dan Partikel Gerak Berdasarkan Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Assesment GIS Bangil ” yang merupakan syarat kelulusan Siswa On The Job Training PT. PLN (Persero) P3B di Region Jawa Timur dan Bali. Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada :

1. Bpk. Tri Agus Cahyono, selaku Manager Region Jawa Timur dan Bali

2. Bpk. Taufik Dermawan, selaku DM SDM sekaligus Penanggung jawab OJT

3. Bpk. Sugiarto, selaku DM Pemeliharaan sekaligus Mentor OJT

4. Bpk. Bisner Manik, selaku Supervisor Assesment & Diagnosa sekaligus Pembimbing OJT

5. Seluruh Staff HAR

6. Seluruh rekan-rekan OJT PT. PLN (Persero)

Yang telah memberikan bimbingan berupa saran dan diskusi berbagai masalah sistem tenaga listrik yang terjadi Region Jawa Timur dan Bali. Penulis menyadari bahwa Telaah Staff ini belum banyak berarti bagi perusahaan, akan tetapi setidaknya untuk saat ini mempunyai arti yang besar bagi penulis yang kelak akan menjadi bekal pada saat menjalankan tugas perusahaan. Kritik dan saran membangun akan penulis terima untuk perbaikan disaat

mendatang. Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Sidoarjo, 30 Maret 2010 Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR GAMBAR

v

DAFTAR TABEL

vi

ABSTRAK

vii

BAB I

PENDAHULUAN

8

I.1

Latar Belakang

8

I.2

Maksud dan Tujuan

8

I.3

Batasan Masalah

8

I.4

Metodologi Penulisan

9

I.5

Sistematika Penulisan

9

BAB II

PERMASALAHAN

10

BAB III

PRA ANGGAPAN

11

BAB IV

LANDASAN TEORI

13

IV.1

Gardu Induk SF6

13

IV.2

Kualitas Gas SF6

15

IV.3

Partial Discharge

16

BAB V

PEMBAHASAN

20

V.1

Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6

21

V.2

Analisa Hasil Pengukuran Partial Discharge

22

V.3

Analisa Akhir

35

BAB VI

PENUTUP

36

VI.1

Kesimpulan

36

VI.2

Saran

36

REFERENSI

37

LAMPIRAN

38

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Reaksi Kimia Terbentuknya Decomposition Product

11

Gambar 2 Gardu Induk SF6

14

Gambar 3 Trending Kegagalan GIS (CIGRE 23-102 1998)

17

Gambar 4 Rangkaian Alat Ukur AIA

18

Gambar 5 Continous Mode Untuk Background Noise

23

Gambar 6 Continous Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1

23

Gambar 7 Pulse Measuring Mode Untuk Background Noise

25

Gambar 8 Pulse Measuring Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1

25

Gambar 9 Phase Measuring Mode Untuk Background Noise

26

Gambar 10 Phase Measuring Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1 . 26

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Decomposition Product untuk Gas SF6

16

Tabel 2 Trending Kegagalan GIS (CIGRE 23-102 1998)

17

Tabel 3 Nama Bay, Pembuatan, dan Operasi Pada GIS Bangil 150 KV

20

Tabel 4 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Penghantar

21

Tabel 5 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Trafo

21

Tabel 6 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Kopel Bus

21

Tabel 7 Spesifikasi Teknis Peralatan

22

Tabel 8 Instrumen Peralatan

23

Tabel 9 Tabel Distribusi Amplitudo Vs Waktu Elevasi

26

Tabel 10 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier 1

28

Tabel 11 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier 2

28

Tabel 12 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro 1

29

Tabel 13 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro 2

29

Tabel 14 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 1

30

Tabel 15 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 2

30

Tabel 16 Hasil Pengukuran AIA Bay Buduran

31

Tabel 17 Hasil Pengukuran AIA Bay Waru

31

Tabel 18 Hasil Pengukuran AIA Bay Lawang

32

Tabel 19 Hasil Pengukuran AIA Bay Bulu Kandang

32

Tabel 20 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 1

33

Tabel 21 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 2

33

Tabel 22 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 3

34

Tabel 23 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 4

34

Tabel 24 Hasil Pengukuran AIA Bay Kopel Bus

35

ABSTRAK

Partial Discharge dapat terjadi pada bahan isolasi padat, bahan isolasi cair maupun bahan isolasi gas. Mekanisme kegagalan pada bahan isolasi padat meliputi asasi ( intrinsik ), elektro mekanik, streamer, thermal dan kegagalan erosi. Kegagalan pada bahan isolasi cair disebabkan oleh adanya kavitasi, adanya butiran pada zat cair dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi gas mekanisme townsend dan mekanisme streamer merupakan penyebab kegagalan. Kegagalan isolasi pada peralatan tegangan tinggi yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kontinyuitas sistem menjadi terganggu. Pengukuran Partial Discharge pada peralatan tegangan tinggi merupakan hal yang sangat penting, karena dari data-data yang diperoleh dan intepretasinya dapat ditentukan reliability suatu peralatan yang disebabkan oleh penuaan (aging) dan resiko kegagalan dapat dianalisa. Dalam kompartemen Gas Insulated Switchgear (GIS) kadar kemurnian gas SF6 tidak mungkin mencapai 100%, hal ini disebabkan oleh adanya kontaminan yang dapat bersumber dari salah satunya karena electric discharge (corona, spark dan arching) sehingga gas SF6 dapat terurai dan membentuk produk turunannya. Dari senyawa-senyawa yang timbul tersebut ada senyawa yang hasil dari penelitian menjadi indikasi terjadinya suatu proses indikasi partial discharge seperti senyawa SOF4. Dengan terjadinya penurunan kualitas gas SF6 hendaknya perlu dilakukan pengukuran Partial Discharge untuk mengetahui aktivitas partial discharge.

Kata Kunci : Partial Discharge, GIS, Gas SF6.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB I PENDAHULUAN

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Partial Discharge dapat terjadi pada bahan isolasi padat, bahan isolasi cair maupun bahan isolasi gas. Mekanisme kegagalan pada bahan isolasi padat meliputi asasi ( intrinsik ), elektro mekanik, streamer, thermal dan kegagalan erosi. Kegagalan pada bahan isolasi cair disebabkan oleh adanya kavitasi, adanya butiran pada zat cair dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi gas mekanisme townsend dan mekanisme streamer merupakan penyebab kegagalan. Kegagalan isolasi pada peralatan tegangan tinggi yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kontinyuitas sistem menjadi terganggu. Pengukuran Partial Discharge pada peralatan tegangan tinggi merupakan hal yang sangat penting, karena dari data- data yang diperoleh dan intepretasinya dapat ditentukan reliability suatu peralatan yang disebabkan oleh penuaan (aging) dan resiko kegagalan dapat dianalisa.

I.2

Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari penulisan Telaah Staff ini adalah sebagai

berikut :

1. Persyaratan kelulusan siswa Pra-Jabatan PT. PLN (Persero) Angkatan XIV yang telah melaksanakan On the Job Training (OJT) di masing- masing unit PT. PLN (Persero).

2. Mempelajari dan memahami prinsip kerja pengukuran partial discharge dengan peralatan pengukuran AIA pada sistem GIS.

3. Mengetahui kondisi GIS di Region Jawa Timur dan Bali sehingga dapat mencegah terjadinya kegagalan sistem.

I.3 Batasan Masalah Dalam laporan Telaah Staff ini penulis hanya membatasi masalah pada pengukuran partial discharge Assesment GIS Bangil yang terdapat di Region

Jawa Timur dan Bali berdasarkan standar pengujian serta implementasi pembacaan hasil pengukuran.

I.4 Metodologi Penulisan Metodologi penulisan yang digunakan dalam penyusunan Telaahan Staff ini adalah menggunakan studi literature baik melalui buku-buku referensi maupun search engine di internet serta pengambilan data dari pengukuran partial discharge yang telah dilakukan di Region Jawa Timur dan Bali.

I.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan Telaah Staff dengan judul “Analisa Pengukuran

Partial Discharge dan Partikel Gerak Berdasarkan Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Assesment GIS Bangil. ” terdiri dari :

BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, maksud dan tujuan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan. BAB II PERMASALAHAN Bab ini berisi tentang permasalahan yang diambil dalam penulisan Telaah Staff.

BAB III

PRA ANGGAPAN

BAB IV

Bab ini berisi beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan beberapa alasan ataupun anggapan yang berkaitan dengan permasalahan yang muncul. LANDASAN TEORI Pada bab ini diuraikan tentang teori-teori penunjang yang dapat digunakan sebagai referensi dalam melakukan analisa.

BAB V PEMBAHASAN Bab ini berisi analisa-analisa berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan serta memberikan masukan atau rekomendasi terhadap peralatan GIS yang di analisa.

BAB VI

PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB II PERMASALAHAN

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB II PERMASALAHAN Dalam Telaah Staff
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB II PERMASALAHAN Dalam Telaah Staff

BAB II PERMASALAHAN

Dalam Telaah Staff ini permasalahan yang ditampilkan yaitu assesment peralatan tentang pengukuran Partial Discharge dengan melihat hasil pengujian kualitas gas SF6 sebagai acuan untuk memonitoring kondisi GIS. Pengukuran Partial Discharge ini memiliki berbagai kelebihan dibandingkan teknologi pengukuran lainnya, yaitu pengukurannya bersifat non intrusive dan non destructive sehingga dapat dilakukan dalam keadaan online. Kelebihan lainnya yaitu dapat dilakukan pengukuran secara terus menerus sepanjang waktu dan dari jarak yang jauh. Dalam pengembangan pengukuran PD ini, dilakukan juga implementasi pembacaan hasil pengukuran yang dianalisa dari hasil sinyal yang terbentuk pada modus pengukuran dan data pembanding dengan metode pengujian yang lain atau data statistic (trending). Untuk interpretasi perlu diperhatikan bahwa besaran amplitude pC/nC tidak dapat disetarakan dengan µV/mV yang diperoleh dari satuan gelombang akustik pada Acoustic Emission. Dan yang harus diperhatikan adalah pertumbuhan dan intensitas PD serta jenis sumber PD (tiap sumber tingkat resikonya berlainan).

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB III PRA

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB III PRA ANGGAPAN Dalam kompartemen
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB III PRA ANGGAPAN Dalam kompartemen

BAB III PRA ANGGAPAN

Dalam kompartemen GIS kadar kemurnian gas SF6 pada setiap kompartemen tidak mungkin mencapai 100 %, hali ini disebabkan oleh adanya kontaminan yang dapat bersumber salah satunya dari penguraian gas SF6 karena elektrik discharge yang menyebabkan gas SF6 terurai dan membentuk produk turunannya. Hasil turunan gas SF6 dapat diakibatkan suhu yang tinggi yang disebabkan adanya elektrik discharge seperti korona, spark dan arching. Dalam jumlah yang besar bersifat korosif dan beracun. Senyawa-senyawa ini beracun, reaktif, dan bersifat korosif terhadap metal dan gelas jika berada di lingkungan yang lembab.

metal dan gelas jika berada di lingkungan yang lembab. Gambar 1 Reaksi Kimia Terbentuknya Decomposition Product

Gambar 1 Reaksi Kimia Terbentuknya Decomposition Product

Dari senyawa-senyawa di atas yang timbul ada senyawa yang dari hasil penelitian menjadi indikasi terjadinya suatu proses, sebagai berikut :

1. Senyawa SOF4 mengindikasikan bahwa aktivitas partial discharge (peluahan muatan sebagian) telah terjadi.

2. Senyawa SOF2 menunjukkan bahwa telah terjadi spark sebagai pemicu terurainya SF6.

3. Senyawa CF4 sering digunakan sebagai media diagnostic kehadiran decomposition product di gas SF6.

4. Senyawa WF6 mengindikasikan telah terjadinya erosi pada kontak.

5. Senyawa karbon (CO2, CO, COS, dan CF4) mengindikasikan telah terjadi busur api pada material yang mengandung karbon.

Dengan terjadinya penurunan kualitas gas SF6 hendaknya perlu dilakukan pengukuran Partial Discharge untuk mengetahui aktivitas partial discharge yang mungkin timbul akibat pembentukan senyawa-senyawa yang dapat membahayakan peralatan pada GIS.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB IV LANDASAN

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB IV LANDASAN TEORI IV.1 Gardu
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB IV LANDASAN TEORI IV.1 Gardu

BAB IV LANDASAN TEORI

IV.1 Gardu Induk SF6 GIS merupakan sebuah switchgear yang menggunakan gas SF6 bertekanan sebagai material isolasi elektrik dan pemadam busur api. GIS saat ini banyak digunakan karena memberikan tingkat keandalan serta keamanan yang tinggi. Di samping itu GIS membutuhkan ruang yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan switchgear konvensional. GIS memiliki tingkat keandalan yang tinggi dikarenakan bagian-bagian yang bertegangan (konduktor) terdapat di dalam sebuah lapisan metal yang diisolasi oleh gas SF6 yang memiliki kekuatan dielektrik hampir 2,3 kali udara yaitu sebesar 8,9 kV/mm (IEEE Std C37.122.1-1993 IEEE Guide for Gas- Insulated Substations). Dalam hal ini bermacam jenis peralatan seperti : pemutus tenaga, busbar, pemisah, pemisah tanah, trafo arus dan trafo tegangan ditempatkan didalam modul metalenclosed yang terpisah-pisah dan diisi gas SF 6 . Gas SF 6 melengkapi isolasi antara fasa dengan tanah. Karena gas SF6 mempunyai kuat dielektrik lebih tinggi dari pada udara ,maka jarak konduktor yang diperlukan akan lebih kecil. Dengan demikian maka ukuran masing-masing peralatan dan seluruh gardu induk dapat dikurangi. Modul yang bermacam-macam itu, dirakit dan diisi isolasi gas SF 6 di pabrik, selanjutnya dikirim ke lokasi untuk perakitan akhir. Dengan demikian GIS adalah kompak (tersusun rapat) dan dapat dipasang dengan baik pada suatu lantai multi-storeyed building atau gardu induk dibawah tanah. Karena GIS dirakit di pabrik,pada intinya waktu pemasangannya dapat dikurangi. Dengan demikian instalasi GIS lebih disukai pemasangannya pada kota cosmopolitan dan industri dimana biaya tanah lebih tinggi dari pada biaya GIS yang memberikan alasan penghematan dengan mengurangi area lantai yang diperlukan.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) • Keuntungan a.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) • Keuntungan a. Compactness (kepadatan) Ruangan
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) • Keuntungan a. Compactness (kepadatan) Ruangan

Keuntungan a. Compactness (kepadatan)

Ruangan yang dibutuhkan untuk switchgear SF 6 hanya kurang lebih 10% dari pada gardu induk konvensional pasangan luar. Biaya yang tinggi sebagian dikompensasi dengan menghemat biaya tempatnya.

sebagian dikompensasi dengan menghemat biaya tempatnya. Gambar 2 Gardu Induk SF 6 b. Aman dari polusi
sebagian dikompensasi dengan menghemat biaya tempatnya. Gambar 2 Gardu Induk SF 6 b. Aman dari polusi

Gambar 2 Gardu Induk SF6

b. Aman dari polusi

Lembab, polusi dan debu mempunyai dampak yang kecil pada instalasi GIS. Walaupun demikian fasilitas untuk pemasangan dan pemeliharaan, misalnya switchgear dipasang didalam gedung yang kecil. Konstruksi bangunan tidak perlu sangat kuat seperti konvensional power house.

c. Pemeliharaan yang sederhana Kecuali untuk memeriksa secara visual, sistem monitoring gas SF6, dengan demikian gardu induk SF 6 adalah bebas pemeliharaan.

d. Waktu pemasangannya sedikit

Pada prinsipnya konstruksi blok bangunan mengurangi waktu instalasi sampai beberapa minggu. Sedangkan gardu induk konvensional memerlukan waktu untuk menginstalasi beberapa bulan.

e. Superior Arc Interuption Pada gardu induk SF 6 gas digunakan sebagai pemadam busur listrik. Jenis pemutus ini dapat memutus arus tanpa timbul tegangan lebih dan dengan waktu busur yang minimum. Umur kontak akan lebih lama dan pemutus tenaga bebas pemeliharaan.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) f. Tekanan Gas

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) f. Tekanan Gas Tekanan gas 4
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) f. Tekanan Gas Tekanan gas 4

f. Tekanan Gas Tekanan gas 4 kg/cm 2 adalah relatif rendah,dan tidak memberikan masalah kebocoran gas yang serius.

g. Keamanan

Karena encloser merupakan potensial tanah, tidak ada kemungkinan untuk terjadi kecelakaan pada personel dengan bagian bertegangan.

Kekurangan

a. Biayanya tinggi jika dibandingkan dengan gardu konvensional.

b. Banyak peralatan terjadi kerusakan jika terjadi gangguan dalam (internal fault).

Periodenya lama untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan sulit dilokalisasi.

c. Memerlukan kebersihan yang sangat kuat. Debu dan kelembaban dapat menyebabkan gangguan dalam. d. Gardu induk umumnya pasangan dalam, memerlukan gedung terpisah Umumnya tidak memerlukan gardu induk konvensional pasangan luar.

e. Untuk mendapatkan dan memasok gas ke lokasi gardu adalah masalah. Persediaan gas yang cukup harus diatur

IV.2 Kualitas Gas SF6 Sampai dengan saat ini, kualitas gas SF6 yang dapat terukur oleh alat pengukuran dan pengujian yang tersedia antara lain untuk purity, dew point (moisture content), dan decomposition product.

IV.2.1 Purity Purity atau kemurnian dinyatakan dengan persentase jumlah gas SF6 murni dalam suatu kompartemen GIS. Semakin tinggi persentase ini maka semakin sedikit zat lain dalam isolasi gas SF6. Untuk gas SF6 baru, nilai kemurnian yang disyaratkan adalah > 99,7% (IEC Standard 60376).

IV.2.2 Dew Point Dew point atau titik embun menunjukkan titik dimana gas berubah menjadi air. Hal ini terkait dengan tingkat kelembaban gas SF6, yaitu berapa banyak partikel air yang terkandung dalam isolasi gas SF6. Nilai dew point ini

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) sangat dipengaruhi oleh

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama

sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama suhu. Semakin tinggi suhu maka semakin tinggi kandungan uap air yang berada di dalamnya (CIGRE 15/23- 1 Diagnostic Methods for GIS Insulating System, 1992).

IV.2.3 Decomposition Product Decomposition product atau produk hasil dekomposisi terjadi karena ketidaksempurnaan pembentukan kembali gas SF6. Hal ini dapat terjadi karena adanya pemanasan berlebih, percikan listrik serta busur daya (IEEE Std C37.122.1-1993 IEEE Guide for Gas-Insulated Substations). Jika decomposition product ini terjadi dalam jumlah yang besar, maka kekuatan dielektrik dari isolasi gas SF6 akan mengalami penurunan. Beberapa decomposition product yang terjadi pada gas SF6 serta sumber penyebabnya, dapat dilihat pada tabel 1

Tabel 1 Decomposition Product untuk Gas SF6

Gas

Senyawa

Sumber

Udara

N 2 , O 2

Bocor/intrusi dari luar

Moisture

H

2 O

Bocor/intrusi dari luar

Hydrofluoric Acid

HF

Terbentuk di SF6 jika ada arc

Sulfur Dioxide

SO 2

Terbentuk jika SOF 2 bereaksi dengan air

Sulfur Diflouride

SF 2

Mudah bereaksi

Sulfur Tetraflouride

SF 4

Mudah bereaksi

Thionil Flouride

SOF 2

Jika ada arcing dan air

Sumber: IEEE Std C37.122.1-1993 IEEE Guide for Gas-Insulated Substations.

IV.3 Partial Discharge Partial discharge atau peluahan sebagian adalah peluahan elektrik pada medium isolasi yang terdapat diantara dua elektroda berbeda tegangan, dimana peluahan tersebut tidak sampai menghubungkan kedua elektroda secara sempurna. Peristiwa seperti ini dapat terjadi pada bahan isolasi padat. Sedangkan pada bahan isolasi gas, partial discharge terjadi disekitar elektroda yang runcing. Partial discharge di sekitar suatu elektroda dalam gas biasanya disebut korona.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Adanya aktivitas partial

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Adanya aktivitas partial discharge di dalam
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Adanya aktivitas partial discharge di dalam

Adanya aktivitas partial discharge di dalam kompartemen menandakan adanya defect dalam kompartemen. Sumber partial discharge tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

Partikel bebas

Partikel bebas yang menempel pada permukaan

Tonjolan atau ketidakrataan permukaan (protrusion)

Elektroda yang mengambang (floating electrode)

Gelembung udara (void)

Tabel 2 Trending Kegagalan GIS (CIGRE 23-102 1998)

Deskripsi

Rasio Kegagalan (%)

Breakdown antara/sepanjang inti

18,8

Breakdown ke tanah (Isolasi Padat)

18

Breakdown ke tanah (Isolasi Gas)

15,3

Partial Discharge

5,2

Kebocoran Gas SF6

12,4

Kegagalan Switch Peralatan

9,4

Kegagalan Fungsi Mekanis

7,3

Lock pada posisi terbuka atau tertutup

1,4

Kegagalan pressure relief

4

Kebakaran melalui enclosure

0,7

Kegagalan arus

2

Other

5,6

enclosure 0,7 Kegagalan arus 2 Other 5,6 Gambar 3 Trending Kegagalan GIS (CIGRE 23-102 1998) Nur

Gambar 3 Trending Kegagalan GIS (CIGRE 23-102 1998)

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Partial discharge merupakan

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Partial discharge merupakan salah satu penyebab
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Partial discharge merupakan salah satu penyebab

Partial discharge merupakan salah satu penyebab kerusakan pada bahan isolasi gas SF6. Oleh karena itu pengukuran aktivitas partial discharge adalah hal yang sangat penting dalam peralatan tegangan tinggi. Diharapkan dengan memonitor aktivitas partial discharge dengan kontinyu dapat diketahui kerusakan isolasi secara dini sehingga tidak sampai merusak sistem atau peralatan secara keseluruhan.

IV.3.1 Acoustic Insulation Analyzer (AIA)

keseluruhan. IV.3.1 Acoustic Insulation Analyzer (AIA) Gambar 4 Rangkaian Alat Ukur AIA Instrument AIA-1

Gambar 4 Rangkaian Alat Ukur AIA

Instrument AIA-1 menganalisa sinyal elektrik dari sensor ultrasonik. Sensor ini dapat mendeteksi signal akustik yang dipancarkan dari partikel bergerak pada GIS (Gas Insulated Substations) dan partial discharge pada terminasi/transmisi dan pemasangan kabel. Untuk melakukan pengukuran dengan instrument AIA-1, kita tidak perlu menginstall apa-apa ke dalam GIS. Hanya perlu menggunakan 1 sensor external atau sensor genggam. Untuk pengukuran pada terminasi/transmisi kabel digunakan tongkat fibreglass stick (“hot stick”).

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Cacat pada system

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Cacat pada system isolasi GIS dapat
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Cacat pada system isolasi GIS dapat

Cacat pada system isolasi GIS dapat dihasilkan dari proses produksi dan/atau perakitan dari pabrik atau mungkin juga terjadi pada operasi normal yaitu partikel yang dihasilkan oleh earthing switch atau disconnector switch.

Apabila defects (cacat) ini ditemukan (contoh : korona atau partikel melompat dalam enkapsulasi), mereka akan memancarkan signal akustik ke dalam enkapsulasi. AIA-1 mengukur signal akustik tersebut dan mengidentifikasi jenis cacatnya berdasarkan analisa dari parameter yang diperoleh dari sinyal. Lokasi defect (cacat) didapatkan dengan cara mencari lokasi dengan level sinyal tertinggi pada GIS.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB V PEMBAHASAN

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB V PEMBAHASAN GIS 150 kV
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) BAB V PEMBAHASAN GIS 150 kV

BAB V PEMBAHASAN

GIS 150 kV Bangil beroperasi sejak tahun 1992 dan menjadi wilayah kerja Unit Transmisi dan Gardu Induk (UTRAGI) Bangil yang merupakan bagian dari Sektor Malang. Sejak tahun 2000, dengan adanya perubahan struktur organisasi, maka GIS 150 kV Bangil menjadi bagian wilayah kerja UPT Malang di bawah naungan Region Jawa Timur dan Bali. GIS 150 kV Bangil adalah merk Nissin tipe GT-14 dengan tahun pembuatan 1991. Untuk sistem penggerak menggunakan sistem pneumatik. GIS 150 kV Bangil adalah 1 (satu) pole yang artinya satu kompartemen merupakan gabungan dari 3 (tiga) phasa. GIS 150 kV Bangil terdiri dari beberapa bay utama seperti diperlihatkan pada tabel 3

Tabel 3 Nama Bay, Pembuatan, dan Operasi Pada GIS Bangil 150 KV

NO

NAMA BAY

PHASA

PEMBUATAN

OPERASI

 

1 Pier 1

RST

1995

1995

 

2 Pier 2

RST

1995

1995

 

3 Bumi Cokro 1

RST

1995

1996

 

4 Bumi Cokro 2

RST

1995

1996

 

5 Gondang Wetan 1

RST

1991

1992

 

6 Gondang Wetan 2

RST

1991

1992

 

7 Buduran

RST

1991

1992

 

8 Waru

RST

1991

1992

 

9 Lawang

RST

1991

1992

 

10 Bulu Kandang

RST

1991

1992

 

11 Trafo 1

RST

1991

1992

 

12 Trafo 2

RST

1991

1992

 

13 Trafo 3

RST

1991

1992

 

14 Trafo 4

RST

1991

1992

 

15 Kopel

RST

1991

1992

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.1 Hasil Pengujian

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.1 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.1 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF

V.1 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Hasil pengujian kualitas gas terdiri dari Purity, Moisture Content, Dew Point, dan Decomposition Product. Hasil pengujian ini kemudian dimasukkan dalam tabel yang akan mengkalkulasikan dengan standar yang digunakan.

V.1.1

Bay Penghantar

Tabel 4 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Penghantar

Tabel 4 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Penghantar V.1.2 Bay Trafo Tabel 5 Hasil Pengujian

V.1.2

Bay Trafo

Tabel 5 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Trafo

Trafo Tabel 5 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Trafo V.1.3 Bay Kopel Tabel 6 Hasil

V.1.3

Bay Kopel

Tabel 6 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Kopel Bus

Gas SF6 Bay Trafo V.1.3 Bay Kopel Tabel 6 Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Bay Kopel
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Berdasarkan hasil pengujian

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Berdasarkan hasil pengujian kualitas gas SF
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Berdasarkan hasil pengujian kualitas gas SF

Berdasarkan hasil pengujian kualitas gas SF6, diketemukan bahwa terdapat tiga belas kompartemen yang hasil moisture content dan dew pointnya tidak normal terutama pada kompartemen PMS bus B. Untuk langkah selanjutnya maka dilakukan pengukuran partial discharge untuk kompartemen PMS Bus B dengan mengambil satu contoh dengan nilai moisture content dan dew point yang paling tinggi. Terjadinya penurunan kadar kemurnian gas SF6 dapat disebabkan oleh adanya kontaminan yang dapat bersumber salah satunya akibat elektrik discharge yang menyebabkan terjadinya penguraian gas SF6 dan membentuk produk turunannya seperti senyawa SOF4 yang mengindikasikan bahwa aktivitas partial discharge telah terjadi.

V.2 Analisa Hasil Pengukuran Partial Discharge Pada Telaah Staf ini, peralatan yang jadi objek penelitian adalah kompartemen PMS Bus B bay Gondang Wetan 1 di GIS Bangil yang beroperasi sejak tahun 1992. Pada table 7 diperlihatkan spesifikasi teknis kompartemen PMS Bus B bay Gondang Wetan 1 sedangkan Tabel 8 diperlihatkan instrument peralatan pengukuran AIA.

Tabel 7 Spesifikasi Teknis Peralatan

Merk

Nissin

Type

GT - 14

Nomor Seri

91 - 7147

Jenis

GCB/ACB/VCB/ABB/OCB

Breaking Capacity

31.5 KA

Arus Nominal

1250 Amp

Teg. Kerja

170

KV

Jenis Media Gas/Oil

Gas SF 6

Tgl Pengujian

12/02/2010

Substation

GIS Bangil

Bay

Gondang Wetan 1

Unit

PMS Bus B

Phase

R-S-T

Teg. Operasi

150

KV

Arus Beban

330

Amp

Tek. Gas

4.4 Kgf/cm2

Number of Pulses

1000

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Tabel 8 Instrumen

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Tabel 8 Instrumen Peralatan Signal Source
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Tabel 8 Instrumen Peralatan Signal Source

Tabel 8 Instrumen Peralatan

Signal Source

BNC Input 1 x

Trig.ref.level

22

µV

Gain

3000

x

Trig.ref.time const.

1

ms

Lower Rolloff Freq

10

kHz

Trig. ref. gain

1

x

Upper Rolloff Freq

50

kHz

Pulse gating time

150

µs

Smoothing

 

µs

Pulse blocking time

2

ms

Envelope Curve

330

µs

Frequency 1

50

Hz

Volume

7

Frequency 2

100

Hz

Output A

Amplifier

Periodik gating time

25

ms

Output B

Envelope Curve

 

V.2.1

Modus Pengukuran Berkelanjutan (Continous Mode)

  V.2.1 Modus Pengukuran Berkelanjutan (Continous Mode) Gambar 5 Continous Mode Untuk Background Noise Gambar 6

Gambar 5 Continous Mode Untuk Background Noise

Mode) Gambar 5 Continous Mode Untuk Background Noise Gambar 6 Continous Mode Untuk PMS Bus B

Gambar 6 Continous Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Modus ini merupakan

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Modus ini merupakan modus yang paling
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Modus ini merupakan modus yang paling

Modus ini merupakan modus yang paling utama digunakan. Modus ini menunjukkan nilai RMS dan nilai puncak dari sinyal yang diukur selama satu periode waktu, konten “frequency 1“ korelasi 50/60 Hz dan konten “frequency 2“ korelasi 100/120 Hz dalam empat bar mendatar di layar. Pada gambar ini diberikan informasi dalam 4 kolom horizontal proporsional dalam ukuran konten sinyal.

Sinyal RMS dalam satu siklus frekuensi daya.

Sinyal puncak / maksimum dalam satu siklus frekuensi daya.

Tingkat modulasi dengan siklus daya.

Tingkat modulasi dengan 2 kali siklus daya.

Adapun beberapa aturan dasar yang dapat diaplikasikan pada kolom

tersebut adalah untuk menentukan jenis sinyal apa yang sedang diukur oleh AIA :

1. Partikel gerak memberikan nilai puncak / periodik maksimum yang lebih tinggi ke rasio nilai RMS dibandingkan partial discharge.

2. Partikel gerak memberikan nilai puncak / periodik maksimum yang sangat berfluktuasi (berubah-ubah).

3. Partial discharge (tonjolan) memberikan komponen 50 (60) Hz.

4. Partial yang berasal dari shield yang longgar memberikan sinyal yang relatif tinggi dengan komponen 100 (120) Hz, tapi beberapa juga menghasilkan 50 Hz.

Setiap cacat (defect) yang aktif akan memberikan nilai RMS dan nilai periodik puncak yang lebih besar dari nilai background noise, sedangkan pada gambar di atas nilai RMS dan nilai periodik puncak memiliki nilai yang sama. Pada saat kita mengamati nilai konten frekuensi 1 dan 2, nilai antara background noise dan pengukuran memiliki sinyal yang kecil dan nilai normal. Hanya ada getaran kecil pada kedua kolom. Jika ada indikasi pada modus berkelanjutan (Continous Mode) maka kita beralih ke modus pengukuran pulsa (Pulse Measuring Mode) untuk analisa lebih lanjut, tetapi dari hasil analisa pada modus

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) berkelanjutan ( Continous

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) berkelanjutan ( Continous Mode ) nilai
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) berkelanjutan ( Continous Mode ) nilai

berkelanjutan (Continous Mode) nilai antara background noise dan pengukuran memiliki nilai yang sama dan tidak berfluktuasi sehingga kita berkeimpulan tidak ada indikasi Partial Discharge. Akan tetapi untuk meyakinkan hasil pengukuran maka kita beralih ke modus pengukuran pulsa (Pulse Measuring Mode) untuk mendapatkan hasil interpretasi yang baik.

V.2.2

Modus Pengukuran Pulsa (Pulse Measuring Mode)

baik. V.2.2 Modus Pengukuran Pulsa ( Pulse Measuring Mode ) Gambar 7 Pulse Measuring Mode Untuk

Gambar 7 Pulse Measuring Mode Untuk Background Noise

) Gambar 7 Pulse Measuring Mode Untuk Background Noise Gambar 8 Pulse Measuring Mode Untuk PMS

Gambar 8 Pulse Measuring Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1

Setelah mengidentifikasi sinyal yang disebabkan oleh partikel, pengukuran pulsa dilakukan. Hal ini dilakukan dengan menekan tombol “New”. Modus ini memplot sinyal amplitude dengan elevation time (waktu elevasi) untuk partikel gerak. Jika terdapat partikel gerak dalam GIS, pola parabolik yang berbeda akan muncul pada modus pengukuran ini. Jika terdapat 2 atau lebih partikel gerak, mereka akan saling menghalangi. Pada saat kita mengamati sinyal pulsa pada background noise dan pengukuran memiliki pola yang sama dan tidak terjadi pola karakteristik yang khas di mana pola yang ditunjukkan terhubung erat dengan

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) karakteristik perilaku partikelnya.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) karakteristik perilaku partikelnya. Berdasarkan tabel
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) karakteristik perilaku partikelnya. Berdasarkan tabel

karakteristik perilaku partikelnya. Berdasarkan tabel distribusi di bawah, nilai amplitude minimum 0.25 mV dan maksimum 1.17 mV sedangkan untuk waktu elevasi minimum 2.15 ms dan maksimum 3.51 ms di mana nilai amplitude yang terbentuk masih di dalam batas standar. Sehingga kita berkesimpulan bahwa tidak diketemukannya partikel gerak pada pengukuran tersebut.

Tabel 9 Tabel Distribusi Amplitudo Vs Waktu Elevasi

V.2.3

Tabel 9 Tabel Distribusi Amplitudo Vs Waktu Elevasi V.2.3 Modus Pengukuran Fasa ( Phase Measuring Mode
Tabel 9 Tabel Distribusi Amplitudo Vs Waktu Elevasi V.2.3 Modus Pengukuran Fasa ( Phase Measuring Mode

Modus Pengukuran Fasa (Phase Measuring Mode)

Elevasi V.2.3 Modus Pengukuran Fasa ( Phase Measuring Mode ) Gambar 9 Phase Measuring Mode Untuk

Gambar 9 Phase Measuring Mode Untuk Background Noise

) Gambar 9 Phase Measuring Mode Untuk Background Noise Gambar 10 Phase Measuring Mode Untuk PMS

Gambar 10 Phase Measuring Mode Untuk PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Jika ada indikasi

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Jika ada indikasi terdapatnya part ial
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) Jika ada indikasi terdapatnya part ial

Jika ada indikasi terdapatnya partial discharge (konten frekuensi 1 dan konten frekuensi 2) pada modus continous, kita sebaiknya beralih ke modus pengukuran fasa (Phase Measuring Mode) untuk analisa selanjutnya. Modus ini memplot sinyal amplitude dengan waktu antara tegangan frekuensi daya dan waktu terjadinya partial discharge. Dengan cara ini, korelasi partial discharge 50/60 Hz atau 100/120 Hz dapat dengan mudah dilihat. Untuk partikel gerak, korelasinya lebih lemah. Selain itu modus ini memberikan informasi yang sangat penting tentang di mana letak partial discharge atau tumbukan pada siklus daya yang terbentuk. Akan tetapi modus pengukuran ini hanya kita gunakan apabila terdapat indikasi partial discharge dan untuk memeriksa korelasi dengan satu peride gelombang tegangan. Dari hasil analisis dari ketiga modus pengukuran di atas, maka didapat hasil interpretasi sebagai berikut :

Nilai RMS dan nilai periodik puncak pada background noise maupun pengukuran memiliki nilai yang sama, sama halnya dengan nilai konten frekuensi 1 dan 2 pada background noise maupun pengukuran.

Tidak terbentuk pola karakteristik seperti lintasan parabola antara sinyal pada background noise maupun pengukuran. Nilai amplitude yang terbentuk masih di kisaran normal dengan nilai rata-rata (average) 0.34

mV.

Berdasarkan hasil pengukuran, dapat disimpulkan bahwa kompartemen PMS Bus B Bay Gondang Wetan 1 dalam kondisi normal atau tidak ada indikasi partial discharge meskipun terjadi penurunan kualitas gas SF6 dilihat dari nilai moisture content dan dew point yang tinggi.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4 Hasil Pengukuran

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4 Hasil Pengukuran Partial Discharge V.2.4.1
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4 Hasil Pengukuran Partial Discharge V.2.4.1

V.2.4

Hasil Pengukuran Partial Discharge

V.2.4.1 Bay Pier 1

Tabel 10 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier 1

Bay Pier 1 Tabel 10 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier 1 V.2.4.2 Bay Pier 2 Tabel

V.2.4.2 Bay Pier 2

Tabel 11 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier 2

Pengukuran AIA Bay Pier 1 V.2.4.2 Bay Pier 2 Tabel 11 Hasil Pengukuran AIA Bay Pier
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.3 Bay Bumi

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.3 Bay Bumi Cokro 1 Tabel
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.3 Bay Bumi Cokro 1 Tabel

V.2.4.3 Bay Bumi Cokro 1

Tabel 12 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro 1

Bumi Cokro 1 Tabel 12 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro 1 V.2.4.4 Bay Bumi Cokro

V.2.4.4 Bay Bumi Cokro 2

Tabel 13 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro 2

Bumi Cokro 1 V.2.4.4 Bay Bumi Cokro 2 Tabel 13 Hasil Pengukuran AIA Bay Bumi Cokro
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.5 Bay Gondang

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.5 Bay Gondang Wetan 1 Tabel
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.5 Bay Gondang Wetan 1 Tabel

V.2.4.5 Bay Gondang Wetan 1

Tabel 14 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 1

Wetan 1 Tabel 14 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 1 V.2.4.6 Bay Gondang Wetan 2

V.2.4.6

Bay Gondang Wetan 2

Tabel 15 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 2

Wetan 1 V.2.4.6 Bay Gondang Wetan 2 Tabel 15 Hasil Pengukuran AIA Bay Gondang Wetan 2
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.7 Bay Buduran

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.7 Bay Buduran Tabel 16 Hasil
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.7 Bay Buduran Tabel 16 Hasil

V.2.4.7

Bay Buduran

Tabel 16 Hasil Pengukuran AIA Bay Buduran

Bay Buduran Tabel 16 Hasil Pengukuran AIA Bay Buduran V.2.4.8 Bay Waru Tabel 17 Hasil Pengukuran

V.2.4.8

Bay Waru

Tabel 17 Hasil Pengukuran AIA Bay Waru

Hasil Pengukuran AIA Bay Buduran V.2.4.8 Bay Waru Tabel 17 Hasil Pengukuran AIA Bay Waru Nur
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.9 Bay Lawang

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.9 Bay Lawang Tabel 18 Hasil
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.9 Bay Lawang Tabel 18 Hasil

V.2.4.9

Bay Lawang

Tabel 18 Hasil Pengukuran AIA Bay Lawang

V.2.4.9 Bay Lawang Tabel 18 Hasil Pengukuran AIA Bay Lawang V.2.4.10 Bay Bulu Kandang Tabel 19

V.2.4.10

Bay Bulu Kandang

Tabel 19 Hasil Pengukuran AIA Bay Bulu Kandang

AIA Bay Lawang V.2.4.10 Bay Bulu Kandang Tabel 19 Hasil Pengukuran AIA Bay Bulu Kandang Nur
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.11 Bay Trafo

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.11 Bay Trafo 1 Tabel 20
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.11 Bay Trafo 1 Tabel 20

V.2.4.11

Bay Trafo 1

Tabel 20 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 1

Bay Trafo 1 Tabel 20 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 1 V.2.4.12 Bay Trafo 2 Tabel

V.2.4.12

Bay Trafo 2

Tabel 21 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 2

AIA Bay Trafo 1 V.2.4.12 Bay Trafo 2 Tabel 21 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 2
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.13 Bay Trafo

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.13 Bay Trafo 3 Tabel 22
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.13 Bay Trafo 3 Tabel 22

V.2.4.13

Bay Trafo 3

Tabel 22 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 3

Bay Trafo 3 Tabel 22 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 3 V.2.4.14 Bay Trafo 4 Tabel

V.2.4.14

Bay Trafo 4

Tabel 23 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 4

AIA Bay Trafo 3 V.2.4.14 Bay Trafo 4 Tabel 23 Hasil Pengukuran AIA Bay Trafo 4
PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.15 Kopel Tabel

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.15 Kopel Tabel 24 Hasil Pengukuran
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) V.2.4.15 Kopel Tabel 24 Hasil Pengukuran

V.2.4.15

Kopel

Tabel 24 Hasil Pengukuran AIA Bay Kopel Bus

V.2.4.15 Kopel Tabel 24 Hasil Pengukuran AIA Bay Kopel Bus V.3 Analisa Akhir Setelah dilakukan pengukuran

V.3 Analisa Akhir Setelah dilakukan pengukuran PD masing-masing bay pada kompartemen GIS Bangil dan analisa hasil pengukuran kompartemen PMS Bus bay Gondang Wetan 1 berdasarkan hasil pengujian kualitas gas SF6 dengan nilai moisture dan dew point yang tinggi diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada aktivitas partial discharge di mana nilai amplitude normal dan sinyal yang terbentuk hampir sama dengan background noise serta tidak membentuk pola yang khas seperti lintasan parabola. Dengan hasil pengujian kualitas gas SF6 yang menunjukkan penurunan maka perlu dilakukan reklamasi/penggantian gas SF6.

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) VI.1 Kesimpulan BAB

PT PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB)

(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) VI.1 Kesimpulan BAB VI PENUTUP 1.
(PERSERO) P3B JAWA BALI REGION JAWA TIMUR DAN BALI (RJTB) VI.1 Kesimpulan BAB VI PENUTUP 1.

VI.1 Kesimpulan

BAB VI

PENUTUP

1. Optimalisasi penggunaan peralatan pengukuran PD.

2. Adanya aktivitas partial discharge di dalam kompartemen menandakan adanya defect dalam kompartemen. Sumber partial discharge tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : partikel bebas, partikel bebas yang yang menempel pada permukaan, tonjolan atau ketidakrataan permukaan (protrusion), elektroda yang mengambang (floating electrode) dan gelembung udara (void).

3. Pengukuran partial discharge secara online memiliki kekurangan, yaitu besarnya noise (derau) masih bersifat kualitatif (hanya untuk mengetahui keberadaan partial discharge).

4. Berdasarkan hasil pengujian kualitas gas SF6, diketemukan bahwa terdapat tiga belas kompartemen yang hasil moisture content dan dew pointnya tidak normal terutama pada kompartemen PMS bus B. Akan tetapi, analisa hasil pengukuran AIA menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi partial discharge sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadinya

penurunan kualitas gas SF6 bukan akibat partial discharge.

VI.2 Saran 1. Seyogyanya perlu dilakukan pengukuran partial discharge yang terintegrasi dan berkesinambungan dengan menggunakan metode lain, misalnya dengan menggunakan pengujian kualitas gas SF6 sebagai pembanding. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh intepretasi yang lebih baik dari hasil pengukuran yang dilakukan. 2. Dalam melakukan pengukuran partial discharge, jika kita menemukan sumber sinyal hendaknya dilakukan dengan memonitor level sinyal pada continous mode dan memindahkan sensor sedikit demi sedikit sepanjang enclosure sampai tempat dengan sinyal tertinggi ditemukan.

REFERENSI

Cigre SC 15, WG 15.03: “Diagnostic methods for GIS insulating systems”, CIGRE Session 1992, paper no 15/23-01.

E. Colombo, W. Koltunowicz, A. Pigini: “ Sensitivity of electrical and acoustic methods for GIS diagnostics with particular reference to On-Site testing”, Cigre symposium on diagnostic and maintenance techniques, paper no. 130. 13, Berlin

1993.

Cigre, WG 33/23-12, Insulation Co.ordination of GIS: Return of experience, on site tests and diagnostic techniques” Paper to be published in ELECTRA.

L.E. Lundgaard, M. Runde, and B. Skyberg, “ Acoustic diagnosis of gas insulated substations”, IEEE Trans. Power Delivery, vol.5, 1990, pp.1751-1758.

A.G. Sellars, O. Farish, and B.F. Hampton, “ Assessing the risk of failure due to particle contamination of GIS using the UHF technique”, IEEE Trans. Dielect. Electr. Insulation, vol.1, 1994, pp. 323-331.

LAMPIRAN

Hasil Pengujian Kualitas Gas SF6 Assesment GIS Bangil

1. Bay Pier 1

LAMPIRAN • Hasil Pengujian Kualitas Gas SF 6 Assesment GIS Bangil 1. Bay Pier 1 2.

2. Bay Pier 2

LAMPIRAN • Hasil Pengujian Kualitas Gas SF 6 Assesment GIS Bangil 1. Bay Pier 1 2.

3. Bay Bumi Cokro 1

LAMPIRAN • Hasil Pengujian Kualitas Gas SF 6 Assesment GIS Bangil 1. Bay Pier 1 2.

4.

Bay Bumi Cokro 2

4. Bay Bumi Cokro 2 5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2 7.

5. Bay Gondang Wetan 1

4. Bay Bumi Cokro 2 5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2 7.

6. Bay Gondang Wetan 2

4. Bay Bumi Cokro 2 5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2 7.

7. Bay Buduran

4. Bay Bumi Cokro 2 5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2 7.

8.

Bay Waru

8. Bay Waru 9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang 11. Bay Trafo 1

9. Bay Lawang

8. Bay Waru 9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang 11. Bay Trafo 1

10. Bay Bulu Kandang

8. Bay Waru 9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang 11. Bay Trafo 1

11. Bay Trafo 1

8. Bay Waru 9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang 11. Bay Trafo 1

12.

Bay Trafo 2

12. Bay Trafo 2 13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4 15. Bay Kopel

13. Bay Trafo 3

12. Bay Trafo 2 13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4 15. Bay Kopel

14. Bay Trafo 4

12. Bay Trafo 2 13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4 15. Bay Kopel

15. Bay Kopel

12. Bay Trafo 2 13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4 15. Bay Kopel

Hasil Pengukuran AIA Assesment GIS Bangil

1. Bay Pier 1

• Hasil Pengukuran AIA Assesment GIS Bangil 1. Bay Pier 1 2. Bay Pier 2

2. Bay Pier 2

• Hasil Pengukuran AIA Assesment GIS Bangil 1. Bay Pier 1 2. Bay Pier 2

3.

Bay Bumi Cokro 1

3. Bay Bumi Cokro 1 4. Bay Bumi Cokro 2

4. Bay Bumi Cokro 2

3. Bay Bumi Cokro 1 4. Bay Bumi Cokro 2

5.

Bay Gondang Wetan 1

5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2

6. Bay Gondang Wetan 2

5. Bay Gondang Wetan 1 6. Bay Gondang Wetan 2

7.

Bay Buduran

7. Bay Buduran 8. Bay Waru

8. Bay Waru

7. Bay Buduran 8. Bay Waru

9. Bay Lawang

9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang

10. Bay Bulu Kandang

9. Bay Lawang 10. Bay Bulu Kandang

11.

Bay Trafo 1

11. Bay Trafo 1 12. Bay Trafo 2

12. Bay Trafo 2

11. Bay Trafo 1 12. Bay Trafo 2

13.

Bay Trafo 3

13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4

14. Bay Trafo 4

13. Bay Trafo 3 14. Bay Trafo 4

15. Kopel

15. Kopel