Anda di halaman 1dari 165

PEDOMAN PENDALAMAN ALKITAB

SEKOLAH SABAT DEWASA

Penuntun guru

Penebusan Dalam Kitab Roma

Oleh
Don F. Neufeld

Juli, Agustus, September

2010

1
Daftar Isi
Alamat Penyunting
Kotak Pos 1188
Bandung 40011
Tlp: (022) 6030392, 8606284
Fax (022) 6027784
1. Paulus dan Kitab Roma E-mail: iph.editor@gmail.com
—26 Juni-2 Juli No. PSS/SSD3/2010
2. Yahudi dan Yunani Penulis Pelajaran
—3-9 Juli Don F. Neufeld
3. Semua Orang Telah Berbuat Dosa Penerjemah
Pdt. Dr. R. A. Sabuin
—10-16 Juli
4. Dibenarkan Oleh Iman Ketua Pengarah
—17-23 Juli J. Lubis
5. Pembenaran dan Hukum Ketua Bidang Usaha
—24-30 Juli A. Ricky
6. Menjelaskan Iman Editor
—31 Juli-6 Agustus R. M. Hutasoit
7. Kemenangan Atas Dosa Editor Pelaksana
—7-13 Agustus S. P. Silalahi
8. Manusia Roma 7 Anggota Redaksi
—14-20 Agustus R. C. A. Raranta
9. Kemerdekaan Dalam Kristus J. Pardede
—21-27 Agustus Pemasaran
10. Penebusan bagi Orang Yahudi S. P. Rakmeni
dan Bangsa Lain Telp. dan Fax.: (022) 86062842
Hp. 085214082639
—28 Agustus-3 September E-mail: sirkulasi_iph@yahoo.com
11. Pemilihan Berdasarkan Kasih Karunia sprakmeni2005@yahoo.com
—4-10 September Penerbit: Yayasan
12. Kasih dan Hukum Taurat Indonesia Publishing House
—11-17 September Jl. Raya Cimindi No. 72
13. Semua yang Lain adalah Komentar Bandung 40184
—18-24 September
Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah
Sabat Dewasa ini disediakan oleh Departe-
men Pedoman Pendalaman Alkitab, Kantor
Hubungi kami di Website: Pusat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Sedunia. Penyediaan penuntun ini berada di
http://www.absg.adventist.org bawah bimbingan umum Komite Evaluasi
Naskah Sekolah Sabat sedunia, di mana para
anggotanya melayani sebagai editor penasihat.
Pedoman yang diterbitkan ini mencerminkan
masukan dari komite tersebut dengan demi-
kian tidak sepenuhnya atau harus mengikuti
pendapat (para) penulis.

2
Daftar Versi Alkitab
Ayat-ayat Alkitab dalam Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat De-
wasa Triwulan III tahun 2010 ini dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (Jakar-
ta LAI, 2000), kecuali diberi tanda sebagai berikut:
NASB. Dari New American Standard Bible, Copyright © oleh Lockman
Foundation, 1960, 1962, 1963, 1968, 1971, 1972, 1973, 1975, 1977. Diguna-
kan dengan izin.
NIV. Ayat-ayat yang diambil dari NIV adalah berasal dari Kitab Suci, New
International Version. Copyright © 1973, 1978, 1984, International Bible So-
ciety. Digunakan dengan izin oleh Zondervan Bible Publishers.
NKJV. Ayat-ayat yang diambil dari NKJV adalah berasal dari New King
James Version. Copyright © 1979, 1980, 1982 oleh Thomas Nelson inc. Digu-
nakan dengan izin. Hak sepenuhnya.
RSV. Ayat-ayat yang dikreditkan kepada RSV berasal dari Alkitab Revised
Standard Version, copyright © 1946, 1952, 1971 oleh Bagian dari Pendidikan
Kristen di National Council of the Churches of Christ di U.S.A. Digunakan de-
ngan izin. Hak cipta dilindungi.

Penebusan Dalam Kitab Roma



Tadinya dia seorang biarawan yang sangat tekun. “Saya adalah seorang bia-
rawan yang sangat alim, dan mengikuti aturan-aturan ordo saya dengan sangat
ketat lebih daripada yang dapat saya ungkapkan. Jika saja seorang biarawan
bisa masuk surga karena perbuatan-perbuatan kebiaraannya, tentu saya layak
mendapatkannya. Jika saya masih bertahan lebih lama lagi, bisa saja saya telah
menjalani penyiksaan diri bahkan sampai kematian.”
Namun demikian, apa pun perbuatan-perbuatan serta penyiksaan diri yang
dilakukannya, biarawan itu tidak pernah merasakan perkenanan Allah, tidak
pernah percaya bahwa dia cukup baik untuk diselamatkan. Keputusasaan pri-
badinya begitu hebat sampai serta merta mulai membinasakannya secara men-
tal dan fisik, karena—percaya dalam kenyataan murka Allah—dia takut pada
kemungkinan bahwa dia harus menghadapinya.
Lagi pula, siapakah yang tidak akan menghadapinya?
Kemudian suatu hari, melalui pendalaman Alkitabnya, sebuah ayat terba-
ca olehnya yang tidak mengubah hidupnya saja tetapi juga sejarah dunia ini.
“Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).
Matanya pun terbuka: perkenanan Allah atasnya bukanlah berdasar pada
perbuatan-perbuatannya, bukan pada penyiksaan diri yang dilakukannya, bukan
pada tindakan-tindakannya melainkan pada jasa Kristus. Setelah itu dia tidak
pernah lagi rapuh terhadap penyesatan-penyesatan sebuah teologi yang menem-

3
patkan harapan keselamatan pada dasar lain selain daripada kebenaran Kristus
yang diberikan kepada orang percaya hanya melalui iman.
Biarawan itu tentu saja adalah Martin Luther, yang digunakan Allah un-
tuk memulai pergerakan keagamaan terbesar dalam sejarah Kristen: Reforma-
si Protestan.
Bagi Luther, semuanya berawal dari Kitab Roma, topik pelajaran triwulan
ini. Tidak mengejutkan bahwa pergerakan Protestan melawan Roma dimulai
dengan kitab Roma (cukup ironis), karena kitab ini telah memainkan sebuah
peran kunci dalam sejarah pemikiran Kristen. Semua pergerakan besar dalam
Kekristenan yang kembali pada Injil yang murni dan kepada tema “pembenar-
an oleh iman” selalu mendapat cikal bakalnya dari surat Paulus kepada orang-
orang Roma. Surat ini berisi sebuah suguhan teologis lengkap dari hal Injil dan
pengharapan yang diberikannya bagi umat manusia yang telah jatuh.
Sementara kita mempelajari Kitab Roma, kita akan mengikuti sebuah atur-
an penting, yaitu: kita akan berusaha menemukan apa yang dimaksudkan oleh
perkataan Alkitab bagi orang-orang untuk siapa perkataan itu pertama kali di-
tujukan. Kita akan mempelajari ayat-ayat tersebut dalam konteksnya saat itu;
kemudian, setelah itu, kita akan menemukan apa maknanya bagi kita sekarang
ini. Ini bukan berarti ada perubahan makna dari ayat-ayat tersebut; sebaliknya,
kebenaran yang diajarkan oleh Firman Allah perlu diaplikasikan pada keadaan-
keadaan masa kini dari orang-orang yang membacanya.
Dengan demikian, pertama-tama kita harus mencari tahu apa makna per-
kataan Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma; Apakah yang dia katakan
pada mereka saat itu, dan mengapa? Paulus mempunyai alasan tertentu untuk
menulis kepada jemaat itu. Ada beberapa isu tertentu yang ia mau jelaskan,
tetapi kebenaran-kebenaran besar yang diajarkannya menjelaskan isu-isu ter-
sebut tidak terbatas pada para pembaca pertama saat itu saja. Sebaliknya, per-
kataan-perkataan tersebut telah menggema melintasi berabad-abad, mengajar-
kan jutaan orang kabar ajaib Injil dan doktrin dasarnya, yaitu pembenaran oleh
iman. Terang inilah, terang dari Kitab Roma, yang telah mengusir kegelapan
yang mengung­kung Luther dan jutaan orang lainnya, terang yang menyatakan
kepada mereka bukan saja kebenaran besar tentang Kristus yang mengampu-
ni orang-orang berdosa tetapi juga tentang kuasa Kristus untuk membersihkan
mereka dari dosa. Terang dari kitab itulah yang pada triwulan ini akan kita pa-
parkan bagi diri kita sementara kita pelajari tema besar keselamatan hanya oleh
iman sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Roma.

Pelajaran triwulan ini didasarkan atas sebuah karya masa lalu oleh Don
Neufeld (1914-1980), yang pernah melayani sebagai wakil editor Adventist
Review selama 13 tahun (1967-1980) dan sebagai salah satu editor seri SDA
Bible Commentary.

4
Pelajaran 1 *26 Juni–2 Juli 2010

Paulus dan Kitab Roma

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Kisah 28:17-31; Roma 1:7;
15:14, 20-27; Efesus1; Filipi 1:12.

Ayat Hafalan: “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allah-
ku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar ten-
tang imanmu di seluruh dunia” (Roma 1:8).

S

eharusnya, dalam mempelajari Kitab Roma, setelah mempelajari latar
belakang sejarahnya, kita mesti mulai dengan Roma 1:1 dan kemudian
dilanjutkan dengan seluruh kitab itu ayat demi ayat. Namun karena waktu
yang diberikan untuk mempelajari kitab ini hanya satu triwulan, kita harus se-
lektif terhadap bagian-bagian yang kita dapat pelajari. Sebenarnya dibutuhkan
waktu empat triwulan untuk mempelajari kitab ini, bukan hanya satu. Itulah
sebabnya, hanya pasal-pasal utama, di mana pekabaran dasar itu terdapat, yang
akan dibahas.
Sangatlah penting bagi seorang pelajar Kitab Roma untuk mengerti latar be-
lakang sejarah kitab ini. Tanpa latar belakang tersebut, akan sulit bagi si pelajar
untuk mengetahui apa yang Paulus sedang katakan. Paulus menulis kepada seke-
lompok orang Kristen tertentu pada saat tertentu untuk alasan tertentu; menge-
tahui sebanyak mungkin alasan tersebut akan sangat menolong kita belajar.
Dalam imajinasi kita, kita harus beranjak ke masa lalu, membawa diri kita
ke Roma, menjadi anggota jemaat di sana, dan kemudian sebagaimana anggota-
anggota jemaat di abad pertama, kita mendengarkan Paulus dan perkataan yang
diberikan Roh Kudus kepadanya pada saat itu.
Ajaibnya, sekalipun dituliskan pada zaman dulu dalam konteks yang sama
sekali berbeda, kitab tersebut mengandung pekabaran-pekabaran yang relevan
bagi umat Allah masa kini, di setiap negeri dan dalam hampir semua situasi.
Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan dengan penuh doa kata-kata yang
tertulis di dalam kitab itu dan menerapkannya dalam kehidupan kita.

*Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 3 Juli.

5
Minggu 27 Juni
Waktu dan Tempat
Roma 16:1, 2 menunjukkan bahwa kemungkinan Paulus menulis Kitab Roma
di Kota Kengkrea, dekat pelabuhan timur Korintus, di Yunani. Disebutkannya Febe,
seorang penduduk di Korintus besar, mengukuhkan tempat itu sebagai kemungkin-
an latar belakang bagi surat kepada orang-orang Roma itu.
Salah satu tujuan menetapkan kota asal dari surat-surat di Perjanjian Baru ada-
lah untuk memastikan waktu penulisan. Karena Paulus banyak mengadakan per-
jalanan, mengetahui di mana dia berada pada suatu saat tertentu memberikan kita
sebuah petunjuk tentang waktu penulisan.
Paulus mendirikan jemaat di Korintus dalam perjalanan misinya yang kedua,
tahun 49-52 M. (lihat Kisah 18:1-18). Pada perjalanannya yang ketiga, tahun 53-58
M., dia mengunjungi lagi Yunani (Kisah 20:2, 3), dan pada saat itu dia menerima
sebuah persembahan bagi umat Tuhan di Yerusalem dekat pada akhir perjalanannya
itu (Roma 15:25, 26). Dengan demikian, surat kepada jemaat di Roma kemungkin-
an besar ditulis pada bulan-bulan pertama tahun 58 M.
Apakah jemaat-jemaat penting lainnya yang telah dikunjungi Paulus da-
lam perjalanan misinya yang ketiga? Kisah 18:23.
Saat mengunjungi jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menemukan bahwa selama
ketidakhadirannya banyak guru palsu yang telah meyakinkan anggota jemaat untuk
menyerahkan diri disunat dan memelihara aturan-aturan hukum Musa. Takut kalau
para penentangnya tiba di Roma sebelum dia tiba, Paulus kemudian menulis sebuah
surat (Kitab Roma) untuk mencegah tragedi serupa terjadi di Roma. Diduga surat
kepada jemaat di Galatia juga ditulis dari Korintus selama Paulus tinggal tiga bulan
dalam perjalanan misinya yang ketiga, kemungkinan tidak lama setelah ia tiba.
“Dalam surat kirimannya kepada orang-orang Roma, Paulus mengemukakan
prinsip-prinsip Injil yang agung itu. Ia menyatakan kedudukannya atas pertanya­an-
pertanyaan yang menghasut kaum Yahudi dan gereja kafir, serta menunjukkan bahwa
pengharapan dan janji-janji yang dikhususkan kepada bangsa Yahudi kini diberikan
juga kepada orang-orang kafir.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 314.
Seperti yang kita katakan, dalam mempelajari kitab apa saja dalam Alkitab,
adalah penting untuk mengetahui mengapa kitab itu ditulis; yakni, situasi apa yang
sedang dibahas di dalamnya. Itu sebabnya, untuk pengertian kita tentang Surat ke-
pada Jemaat di Roma adalah penting untuk mengetahui masalah-masalah apa yang
telah merisaukan jemaat-jemaat Yahudi maupun Yunani. Pelajaran pekan depan
akan membahas masalah-masalah ini.
Masalah-masalah seperti apakah yang sedang merisaukan jemaat Anda
sekarang ini? Apakah ancaman-ancaman itu lebih banyak datang dari dalam
atau dari luar? Peranan apakah yang Anda sedang lakukan dalam masalah-
masalah tersebut? Berapa seringkah Anda berhenti menanyakan peranan, po-
sisi, serta sikap Anda dalam pergumulan apa pun yang sedang Anda hadapi?
Mengapa jenis ujian pribadi seperti ini begitu penting?

6
Senin 28 Juni
Sentuhan Pribadi

Surat atau pun kunjungan pribadi mempunyai perannya tersendiri. Itu se-
babnya Paulus, sekalipun menulis kepada jemaat di Roma, menyatakan dalam
surat itu bahwa ia bermaksud mengunjungi mereka secara pribadi. Dia mau
mereka tahu bahwa dia sedang berusaha datang dan mengapa.

Baca Roma 15:20-27. Alasan-alasan apakah yang Paulus berikan bah-
wa dia tidak mengunjungi Roma lebih awal? Apakah yang membuat dia
memutuskan untuk datang seperti yang ia rencanakan? Berapa penting-
kah misi bagi dia dalam penjelasannya? Apakah yang dapat kita pelajari
tentang misi dan bersaksi dari perkataan Paulus di ayat ini? Pokok pen-
ting apakah yang Paulus berikan dalam ayat 27 tentang orang Yahudi
maupun orang Yunani?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Misionaris kawakan bagi bangsa-bangsa lain itu merasa terus-menerus di-


dorong untuk membawakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum pernah dima-
suki sebelumnya, membiarkan orang lain bekerja di wilayah-wilayah di mana
Injil telah diteguhkan. Pada masa Kekristenan masih muda dan para pekerja
hanya sedikit, bagi Paulus adalah sebuah pemborosan sumberdaya jika seo-
rang misionaris bekerja di wilayah-wilayah yang telah dimasuki. Ia berkata,
“Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa
aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dike-
nal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan
orang lain,” sehingga “mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan menger-
tinya” (Roma 15:20, 21).
Bukanlah tujuan Paulus untuk tinggal di Roma. Tujuannya adalah untuk
menginjili Spanyol. Dia berharap untuk mendapatkan dukungan dari orang-
orang Kristen di Roma bagi rencananya itu.

Prinsip penting apakah yang dapat kita ambil bagi kita tentang pe-
kerjaan Injil dari kenyataan bahwa Paulus meminta bantuan dari jemaat
yang telah berdiri agar bisa mengabar Injil di wilayah baru?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Baca lagi ayat-ayat di Roma 15:20-27. Perhatikan betapa inginnya Pau­


lus melayani; yaitu, kerinduannya yang besar adalah untuk melayani dan
mengabdi. Apakah yang memotivasi Anda dan tindakan-tindakan Anda?
Berapa besarkah Anda miliki hati yang suka melayani?

7
Selasa 29 Juni
Paulus Tiba di Roma

“Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam ru-


mah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya” (Kisah
28:16). Apakah yang ayat ini katakan pada kita tentang bagaimana akhir-
nya Paulus tiba di Roma? Pelajaran apakah yang bisa kita tarik dari hal
ini tentang perkara-perkara yang tidak diharapkan dan tidak diinginkan
yang sering datang menimpa kita?

Hidup bisa saja diwarnai perubahan-perubahan yang aneh. Sering rencana-


rencana kita, bahkan yang sudah kita rancang dengan maksud-maksud yang
terbaik, tidak terjadi seperti yang kita perkirakan dan rencanakan. Memang
benar pada akhirnya Rasul Paulus tiba di Roma, tetapi mungkin tidak seperti
yang dia harapkan.
Pada saat Paulus tiba kembali di Yerusalem di akhir perjalanan misinya yang
ketiga dengan membawa persembahan bagi orang-orang miskin yang dikum-
pulkannya dari jemaat-jemaat di Eropa dan Asia Kecil, peristiwa-peristiwa yang
tak diharapkan telah menantinya. Dia ditangkap dan dirantai. Setelah menjadi
narapidana selama dua tahun di Kaisarea, dia naik banding ke Kaisar. Sekitar
tiga tahun setelah penangkapannya, dia tiba di Roma, dan (bisa kita duga) tidak
dalam cara yang diinginkannya, seperti yang dia tuliskan beberapa tahun sebe-
lumnya kepada jemaat di Roma tentang maksudnya mengunjungi mereka.

Apakah yang ayat-ayat berikut ini katakan tentang waktu Paulus di


Roma? Lebih penting lagi, pelajaran apakah yang dapat kita pelajari dari
ayat-ayat tersebut? Kisah 28:17-31.
________________________________________________________________
______________________________________________________________

“Bukan oleh khotbah Paulus, tetapi oleh belenggunya, sehingga perhatian


pengadilan itu tertarik kepada Kekristenan. Adalah sebagai suatu tawanan se-
hingga ia melepaskan dari begitu banyak jiwa ikatan-ikatan yang telah menahan
mereka dalam perhambaan dosa. Ini belum seluruhnya. Ia menyatakan: ‘Dan
kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenja-
raanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak
takut.’ Filipi 1:14.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 391.

Berapa kalikah Anda mengalami perubahan-perubahan yang tak diha-


rapkan dalam hidup Anda, yang pada akhirnya justru membawa kebaik­
an? (Lihat Filipi 1:12). Bagaimanakah pengalaman-pengalaman itu bisa
dan seharusnya memberikan Anda iman untuk bersandar pada Allah da-
lam hal-hal di mana tak ada tanda-tanda kebaikan bakal muncul?

8
Rabu 30 Juni
Dipanggil Menjadi “Orang-orang Kudus”
Inilah salam Paulus kepada jemaat di Roma: “Kepada kamu sekalian yang
tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-
orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah,
Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (Roma 1:7). Apakah prinsip-prinsip
kebenaran, teologi, dan iman yang bisa kita petik dari perkataan ini?
Dikasihi Allah. Benar bahwa Allah mengasihi dunia ini, namun dalam arti
khusus Allah mengasihi mereka yang telah memilih Dia, mereka yang telah me-
nyambut kasih-Nya.
Hal ini terlihat dalam ruang lingkup manusia. Kita mengasihi secara khusus
mereka yang mengasihi kita; dengan mereka ada pertukaran rasa kasih yang ber-
balas-balasan. Kasih meminta respons. Bila respons tidak ada, kasih itu terbatas
dalam ungkapannya yang paling penuh.
Dipanggil menjadi orang-orang kudus. Dalam beberapa terjemahan anak kali-
mat “menjadi” tertera dalam huruf miring, yang berarti bahwa si penerjemah telah
menambahkan kata-kata tersebut. Tetapi sekalipun dihilangkan, maknanya masih
tetap utuh. Bila dihilangkan, maka ungkapan itu akan bermakna “orang-orang ku-
dus yang terpanggil”; yaitu “orang-orang kudus yang terpilih.”
Orang-orang kudus adalah terjemahan dari kata Yunani hagioi, yang secara
harfiah berarti “orang-orang kudus.” Kudus artinya “dikhususkan.” Orang kudus
adalah seseorang yang telah “diasingkan khusus” oleh Allah. Boleh jadi orang
tersebut masih harus melalui perjalanan panjang penyucian, tetapi fakta bahwa
orang tersebut telah memilih Kristus sebagai Tuhan menentukan dia sebagai seo-
rang kudus dalam makna Alkitabiah tentang istilah tersebut.

Paulus berkata bahwa mereka “dipanggil dan dijadikan orang-orang


kudus.” Apakah ini berarti ada orang yang tidak dipanggil? Bagaimanakah
Efesus 1:4, Ibrani 2:9, dan 2 Petrus 3:9 menolong kita memahami apa yang
dimaksudkan Paulus?
Berita akbar tentang Injil adalah bahwa kematian Kristus bersifat universal;
kematian itu adalah untuk semua umat manusia. Semua orang telah dipanggil un-
tuk diselamatkan di dalam Dia, “dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” bah-
kan sebelum dasar dunia ini diletakkan. Maksud semula Allah adalah agar semua
manusia mendapatkan keselamatan ini dalam Yesus. Api neraka terakhir itu di-
maksudkan hanya bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya (Matius 25:41).Tidak ber-
sedianya beberapa orang untuk menerima apa yang ditawarkan tidak mengurangi
sedikit pun keajaiban pemberian itu bagi seseorang yang dengan penuh rasa lapar
memanfaatkan kelimpahan upah luar biasa yang terdapat di dalamnya.
Pikirkan: Bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan, Allah telah me-
manggil Anda untuk mendapatkan keselamatan di dalam Dia. Mengapa
Anda tidak boleh membiarkan apa pun menghalangi Anda menyambut
panggilan itu?

9
Kamis 1 Juli
Reputasi Dunia
“Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kris-
tus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di selu-
ruh dunia” (Roma 1:8).

Tidak diketahui bagaimana jemaat di Roma didirikan. Tradisi bahwa jemaat


itu didirikan oleh Petrus atau Paulus tidak mempunyai dasar sejarah. Mungkin
kaum awam yang mendirikannya, yaitu orang-orang yang bertobat pada hari
Pentakosta di Yerusalem (Kisah 2) yang mengunjungi dan pindah menetap di
Roma. Atau mungkin saja para petobat periode selanjutnya yang pindah ke Roma
memberikan kesaksian iman mereka di ibu kota dunia tersebut.
Mengejutkan juga bahwa beberapa dasawarsa setelah Pentakosta, satu je-
maat yang tampaknya belum pernah dikunjungi seorang rasul menjadi begitu
terkenal. “Betapapun perlawanan yang ada, dua puluh tahun setelah penyaliban
Kristus, di Roma ada sebuah jemaat yang hidup dan sungguh-sungguh. Jema-
at ini kuat dan bersemangat, dan Tuhanlah yang mendirikannya.”—Komentar
Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1067.
“Iman” di sini bisa saja mencakup pengertian yang lebih luas tentang ke-
setiaan; yaitu kesetiaan kepada cara hidup yang baru yang telah mereka temu-
kan dalam Kristus.

Baca Roma 15:14. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus menggambar-


kan jemaat di Roma?

Ada tiga pokok yang Paulus pilih sebagai hal yang patut dicatat tentang
pengalaman orang-orang Kristen di Roma:
1. “Penuh dengan kebaikan.” Apakah orang akan mengatakan hal yang sama
perihal pengalaman hidup kita? Bilamana mereka bergaul dengan kita, kelim-
pahan kebaikan dalam diri kitakah yang menarik perhatian mereka?
2. “Dengan segala pengetahuan.” Alkitab berulang-ulang menekankan pen-
tingnya pencerahan, informasi, dan pengetahuan. Orang-orang Kristen diharap-
kan belajar Alkitab dan mempunyai informasi yang memadai tentang ajaran-
ajarannya. “Perkataan, ‘kamu akan Kuberikan hati yang baru,’ artinya ‘pikiran
yang baru akan Kuberikan kepadamu.’ Sebuah perubahan hati selalu disertai
dengan sebuah keyakinan yang jelas tentang kewajiban Kristen, sebuah penger-
tian akan kebenaran.”—Ellen G. White, My Life Today, hlm. 24.
3. “Sanggup untuk saling menasihati.” Tak seorang pun dapat bertumbuh seca-
ra rohani jika menjauhkan diri dari sesama umat percaya. Kita perlu bisa memberi
dorongan pada orang lain, dan pada saat yang sama, dikuatkan oleh orang lain.

Bagaimanakah jemaat Anda? Reputasi seperti apakah yang dimilikinya?


Atau, jangan-jangan tidak ada reputasi sama sekali? Apakah yang dicer-
minkan oleh jawaban Anda tentang jemaat Anda? Lebih penting lagi, jika
perlu, bagaimanakah Anda dapat menolong memperbaiki situasi itu?

10
Jumat 2 Juli
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “The Mysteries of the
Bible,” hlm. 706, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; “Keselamatan bagi
Orang Yahudi,” Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 313-321. Baca juga The SDA Bible
Dictionary, hlm. 922; dan The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 467, 468.
“Meskipun tampaknya terpisah dari pekerjaan yang giat, Paulus memberikan
pengaruh yang lebih luas dan lebih tahan lama daripada kalau ia bebas meng-
adakan perjalanan di antara sidang-sidang sebagaimana pada tahun-tahun se-
belumnya. Sebagaimana seorang tahanan Tuhan, ia mempunyai pegangan yang
lebih teguh kepada kasih saudara-saudaranya; perkataannya, yang ditulis oleh
seorang yang terikat untuk nama Kristus, mempunyai perhatian dan kehormatan
yang besar daripada yang mereka punyai bila ia berada dengan mereka secara
pribadi. ”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 382, 383.
“Untuk melihat didirikannya iman Kristen yang teguh di pusat dunia yang besar
dan terkenal itu adalah merupakan salah satu dari harapan-harapan dan rencana-
rencana yang dikasihi dan dihargai. Sidang telah didirikan di Roma, dan rasul itu
rindu untuk bisa bekerja sama dengan umat percaya di sana dalam pekerjaan yang
dilaksanakan di Italia dan di banyak negara lain. Untuk menyediakan jalan bagi
pekerja-pekerja di antara saudara-saudara, banyak di antara mereka yang masih
asing kepadanya, ia mengirimkan surat kepada mereka mengumumkan maksud
dan pengharapannya untuk mengunjungi Roma dan menanamkan standar salib
di Spanyol”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 314.
“Allah yang kekal itu sudah menarik garis perbedaan di antara orang suci
dan orang berdosa, di antara orang yang bertobat dan yang tidak bertobat. Ke-
dua kelompok ini tidak bisa bercampur satu sama lain dengan tidak kelihatan,
seperti warna satu pelangi, melainkan sama nyatanya seperti siang hari dan te-
ngah malam.”—Ellen G. White, Messages to Young People, hlm. 390.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Ulangi pertanyaan di akhir pelajaran hari Kamis. Bagaimanakah cara-
nya kelas Anda menolong meningkatkan reputasi jemaat Anda, jika me-
mang perlu?
oo Dalam kelas, bagikan berbagai pengalaman tentang bagaimana suatu
situasi yang awalnya tampak menakutkan tetapi justru mendatangkan
kebaik­an? Bagaimanakah Anda menggunakan pengalaman-pengalaman
tersebut untuk menolong orang lain yang sedang bergumul dengan ber-
bagai malapetaka yang tidak diharapkan?
pp Renungkan lagi pendapat bahwa kita telah dipanggil untuk memperoleh
keselamatan bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan (lihat juga Titus
1:1, 2; 2 Timotius 1:8, 9). Mengapa pernyataan ini sangat menguatkan? Apa-
kah yang dikatakan hal ini tentang kasih Allah bagi semua manusia? Jika
demikian, mengapa begitu tragis jika orang menolak dan meninggalkan
apa yang telah diberikan kepada mereka dengan cuma-cuma?
11
PENUNTUN GURU 1
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Romans 1:8

Anggota Kelas akan:


¾¾ Mengetahui: Menggambarkan minat Paulus terhadap jemaat di Roma.
¾¾ Merasakan: Menghargai pengaruh setiap jemaat dalam penyebaran Injil.
¾¾ Melakukan: Bertekad untuk mengambil bagian bekerja bersama jemaat
dalam misi sedunianya.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Dipanggil Menjadi Orang-orang Kudus
A. Sekalipun Paulus mengadakan banyak perjalanan, meneguhkan pe-
kerjaan Injil di wilayah-wilayah yang belum dimasuki sebelumnya,
bagaimanakah suratnya kepada jemaat di Roma mencatat kepeduli-
annya bagi satu jemaat yang belum pernah ia kunjungi?
B. Apakah yang ditunjukkan oleh kepedulian Paulus mengenai visi-
nya bagi Injil?

II. Merasakan: Dikenal Karena Iman Mereka


A. Karena Roma adalah pusat kekaisaran, jemaat di Roma memegang
satu peran penting dalam mempengaruhi penyebaran Injil. Karena
jemaat itu telah mapan dalam pengajaran Injil (Roma 15:14), apa-
kah yang telah menggerakkan Paulus sehingga telah menulis su-
rat tersebut?
B. Pengaruh apakah yang kira-kira dimiliki jemaat Anda dalam peker-
jaan Injil sedunia? Pekabaran apakah yang Anda anggap penting un-
tuk menguatkan jemaat Anda dalam perannya itu?

III. Melakukan: Bekerja dengan Leluasa Sekalipun Dirantai


A. Ketika pada akhirnya Paulus datang ke Roma, dia dirantai. Bagai-
manakah keadaannya itu menolong memusatkan perhatian bukan
saja orang-orang Roma tetapi juga sesamanya orang Kristen akan
keunggulan Injil?
B. Bagaimanakah berbagai keadaan kehidupan Anda telah menyang-
gupkan Anda memberi sumbangsih pada pekerjaan gereja?

Rangkuman: Sekalipun Paulus belum pernah mengunjungi Roma


sebelumnya, dia mendapatkan bantuan jemaat itu dalam mendirikan satu
dasar yang baik untuk memajukan Injil ke seluruh kekaisaran.

12
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Seperti Paulus, yang mengkhot-
bahkan Kristus dan kebenaran-Nya melalui surat, secara langsung bahkan
sekalipun dirantai, misi kehidupan kita haruslah kesehatan serta kemajuan
gereja sedunia.

Khusus untuk Guru: Gunakan kegiatan pembuka ini untuk menolong ke-
las Anda mengerti visi global Paulus.

Kegiatan Pembuka:
Perjalanan misi Paulus yang ketiga dari Antiokhia, melalui apa yang kita ke-
tahui sebagai Turki sekarang ini, menuju ke Yunani dan kembali ke Yerusalem,
mencakup sekitar dua ribu tujuh ratus mil (4,350 km) melalui darat dan laut.
Perjalanan itu memakan waktu lebih dari empat tahun, sekalipun tiga tahun di
antaranya dihabiskan di Efesus. Galatia saat itu baru saja ditambahkan ke da-
lam Kekaisaran Roma, sekitar 100 tahun sebelum kitab Roma ditulis pada ta-
hun 57 atau 58 M. Paulus berhenti di banyak tempat dalam perjalanannya yang
penuh semangat itu untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang telah didirikannya
pada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Dia juga menulis sejumlah surat kepa-
da berbagai jemaat selama perjalanannya. Dari Efesus dia menulis surat perta-
ma untuk Jemaat Korintus; dari Makedonia dia menulis surat kedua untuk Je-
maat Korintus; dan, dari Korintus, dia menulis surat kepada jemaat di Galatia
dan di Roma. Kemungkinan besar salah satu alasan dia menulis ke Roma ada-
lah untuk meminta bantuan jemaat itu untuk satu perjalanan yang lebih beram-
bisi lagi ke Spanyol.
Dengan menggunakan peta Indonesia, perkirakan perjalanan Paulus dalam
satu jarak yang dapat dipahami anggota kelas Anda. Contohnya, 2,700 mil itu
kurang lebih sama dengan jarak dari Banda Aceh sampai Jayapura. Dari situs
di bawah ini, cetak beberapa gambar kota kuno Efesus, Korintus, dan Roma,
untuk membantu anggota kelas membayangkan kota-kota besar dan indah na-
mun penuh penyembahan berhala di zaman Paulus:
http://www.cathydeaton.com/Concise%20Bible%20Atlas%209-2006%20
No%2038.htm
http://catholic-resources.org/AncientRome/

Pikirkan: Orang seperti apakah Paulus sehingga bisa menempuh berba-


gai perjalanan dan berusaha mengetahui perkembangan masalah yang ter-
jadi pada semua jemaat Kristen yang tersebar luas di kekaisaran itu? Apa-
kah hasrat yang membara dalam hidupnya? Bagaimanakah hasrat Paulus
menolong kita memahami lebih baik seperti apakah seharusnya hasrat kita
bagi gereja?

13
LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Untuk mengerti tantangan-tantangan yang dihadapi
Paulus dan jemaat-jemaat Kristen yang masih muda yang digembalakan-
nya di Roma, dan juga di wilayah-wilayah lainnya di Kekaisaran Roma,
penting untuk menyelidiki bersama kelas Anda lingkungan budaya di mana
Paulus berada dan bekerja.

Komentar Alkitab
I. Zaman dan Budaya (Baca Roma 16:1, 2 dan Kisah 18:23 bersama kelas Anda).
Efesus, di mana Paulus tinggal selama tiga tahun pada perjalanan misinya
yang ketiga sebelum melanjutkan perjalanan ke Makedonia dan Korintus, ada-
lah sebuah kota besar dan indah karena marmer putihnya. Selama berabad-abad
para jenderal dan pemerintah dari berbagai zaman telah membangun tugu-tugu
dan kuil-kuil bagi dewa-dewi bahkan kaisar-kaisar. Akan tetapi Artemis, dewi
kelahiran, adalah pusat penyembahan berhala yang paling terkenal. Sebuah kuil
bagi Artemis, empat kali lipat Parthenon di Yunani, adalah salah satu dari tujuh
keajaiban dunia saat itu, dan penjualan ilah-ilah bagi peziarah dari seantero du-
nia adalah sebuah sumber pendapatan yang besar. Tidak heran Paulus tinggal
begitu lama di jalan lintas Asia ini, karena minatnya dalam menyebarkan Injil
sampai ke ujung dunia. Keonaran yang ditimbulkan seorang pengrajin perak,
yang merasa bahwa ajaran-ajaran Paulus mengancam perdagangan di kota itu,
sehubungan dengan penyembahan berhala, telah mengakibatkan kepergian Pau­
lus dari Efesus (Kisah 19).
Penyembahan berhala merajalela di setiap kota yang dikunjungi Paulus.
Selain itu ada tantangan-tantangan lain pula. Surat Paulus ke Jemaat Korintus,
ditulis dari Efesus, menyebutkan tentang kebejatan moral yang meluas, bukan
saja dalam masyarakat tetapi juga telah merayap masuk ke dalam jemaat.
Korintus bahkan merupakan satu jalan lintas yang lebih besar lagi bagi ba-
nyak bangsa. Kota itu mempunyai dua pelabuhan dan makmur, penuh dengan
arsitektur yang indah, termasuk sebuah kuil bagi Apollo, dan kebanyakan dihu-
ni oleh para pendatang yang telah mandiri. Paulus tinggal di kota ini selama 18
bulan dan bekerja sebagai seorang pembuat tenda, dan dari sinilah dia menulis
kepada jemaat di Roma. Bila Korintus dan Efesus itu sudah besar, terkenal, dan
indah, Roma bahkan lebih luas dan lebih penting. Roma berpenduduk satu juta
orang dan merupakan pusat perdagangan kekaisaran. Minat Paulus pada jemaat
di Roma paling tidak disebabkan oleh letak serta pengaruh kota tersebut, khu-
susnya karena Paulus telah berencana untuk mengadakan perjalanan melintasi
Roma menuju ke Spanyol untuk menginjil bagian dunia tersebut.

Pikirkan: Keuntungan-keuntungan apakah yang dimiliki jemaat-je-


maat di kota seperti Efesus, Korintus, dan Roma sebagai pusat pekerjaan
Injil sedunia? Tantangan-tantangan khusus apakah yang dihadapi jemaat-
jemaat yang dikelilingi oleh penyembahan berhala serta kebejatan moral
kehidupan kota?

14
II. Sebuah Reputasi yang Baik (Baca Roma 15:14 dengan kelas Anda).
Sementara Paulus belum pernah mengunjungi Roma ataupun mendirikan
gereja di situ, dia telah mendengar tentang reputasi jemaat tersebut. Tidak seper-
ti surat-surat ke Korintus, Paulus tidak memberi teguran-teguran keras kepada
anggota-anggota jemaat di Roma. Dia menyebutkan “kebaikan,” dan “kesang-
gupan,” orang-orang Kristen di Roma, bahwa mereka “penuh dengan segala
pengetahuan” (Roma 15:14).
Paulus berharap agar orang-orang Kristen di Roma akan menerima gagasan-
nya untuk menginjili dunia. Untuk tujuan inilah dia menulis surat kepada jema-
at di Roma, menggambarkan prinsip-prinsip utama Injil. Dengan meyakinkan
dia menyatakan bahwa sebuah penerapan praktis dari Injil telah menghadapi
tantang­an-tantangan yang juga dihadapi oleh jemaat-jemaat Kristen yang dike-
lilingi oleh budaya-budaya kafir, penyembahan berhala dan kebejatan moral.
Karena gereja saat itu masih bayi, ada juga tantangan-tantangan sehubung-
an dengan peralihan dari tradisi Yahudi kepada pola pikir Kekristenan. Tradi-
si Yahudi telah begitu lama berakar pada pola hidup manusia sehingga tujuan
mula-mula mereka yang saleh telah disalahmengerti atau dilupakan oleh banyak
orang. Akan tetapi kepercayaan atau praktik-praktik apa saja yang harus dipe-
lihara atau harus ditiadakan, sehubungan dengan penggenapan lambang dalam
kematian Kristus, selalu tidak jelas. Sebuah penjelasan yang tegas tentang dasar
Injil sangat dibutuhkan bagi pengembangan gereja yang masih muda.
Pikirkan: Sekalipun jemaat di Roma tidak didirikan oleh salah seorang
rasul yang terkenal, jemaat itu sehat dan bertumbuh, dan Allah ada di dalam-
nya. Tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat tanpa tersedianya kepe-
mimpinan yang terlatih? Bagaimanakah tantangan-tantang­an ini diatasi?

III. Melayani Sekalipun Dirantai (Baca Kisah 28:17-31 dengan kelas Anda).
Akhirnya Paulus tiba di Roma tetapi tidak sebagai seorang merdeka. Sekalipun
diborgol, Injil Kristus yang selalu ada dalam hatinya, dan selalu menjadi beban
nasihat yang terus-menerus dalam surat-suratnya, telah dikumandangkan dengan
berani kepada semua orang yang mau mendengar. Dari Romalah dia menulis su-
rat-suratnya kepada jemaat di Efesus, Filipi, Kolose, dan kepada Filemon.
Pikirkan: Bagaimanakah kesukaran-kesukaran mempengaruhi penger-
tian Paulus tentang misi?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Sebagaimana pada zaman Paulus, jemaat-jemaat be-
sar sering terletak di kota-kota metropolitan sehingga mereka harus berbuat
banyak untuk mendukung perkembangan jemaat-jemaat yang lebih muda
dan lebih sedikit anggotanya di wilayah-wilayah yang lebih terpencil. Na-
mun demikian, tantangan-tantangan selalu ada di setiap wilayah. Gunakan-
lah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk menolong kelas Anda me-
mikirkan bukan saja tantangan-tantangan yang dihadapi oleh gereja secara
global tetapi juga peran gereja di dunia secara keseluruhan.

15
Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Kota-kota dan wilayah-wilayah apakah dewasa ini yang paling berpenga-
ruh bukan saja dalam perdagangan materi tetapi juga ekspor gagasan dan
ide-ide yang mempengaruhi dunia? Bagaimanakah gereja dewasa ini me-
manfaatkan posisi dan pengaruh saluran-saluran budaya ini untuk menye-
barkan Injil Kristus ke seluruh dunia? Tantangan-tantangan apakah terhadap
pertumbuhan jemaat-jemaat yang sehat yang ada di kota-kota besar zaman
ini? Tantangan-tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat yang lebih
muda di tempat-tempat terpencil?
¼¼ Penjelasan-penjelasan yang lugas tentang prinsip-prinsip Injil sama pen-
tingnya pada zaman ini sebagaimana bagi jemaat-jemaat di zaman Paulus.
Tantangan-tantangan apakah yang dihadapi jemaat-jemaat yang dapat di-
tanggulangi dengan sebuah pernyataan “demikianlah firman Tuhan?” Apa-
kah sumber-sumber pengetahuan dan dukungan yang telah diberikan Allah
bagi kita di zaman ini?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Sarankan ide-ide berikut ini untuk membantu
anggota kelas Anda mempraktikkan pelajaran pekan ini sepanjang minggu-
minggu atau bulan-bulan mendatang.
»» Rencanakan perjalanan misi Anda sendiri di sekeliling Anda. Siapakah di
antara para tetangga dan anggota masyarakat Anda yang telah Anda renca-
nakan untuk mengenal dan menguatkan imannya? Rencanakan serangkai-
an kunjungan sepanjang beberapa bulan ke depan untuk mengembangkan
kontak menjadi hubungan yang nyata.
¼¼ Kembangkan sebuah pelayanan menulis di mana Anda menggunakan surat-
surat dan kartu-kartu untuk membagikan iman Anda di masyarakat Anda,
dalam pelayanan di penjara, ataupun di seluruh dunia.
½½ Cari tahu rencana-rencana perjalanan misi yang sedang dibuat oleh seko-
lah-sekolah atau kelompok-kelompok jemaat di konferens Anda. ShareHim
(http://global-evangelism.org/php/index.php) adalah salah satu sumber pro-
gram penginjilan internasional di mana Anda bisa terlibat. Anggota-anggota
tertentu di kelas Anda atau kelas itu secara keseluruhan dapat mengikuti se-
buah proyek misi untuk didukung, atau rencanakan proyek Anda sendiri.
¾¾ Sementara Anda merenungkan hasrat untuk menyebarkan Injil yang telah
membakar kehidupan Paulus, pekabaran khusus apakah yang Anda miliki
mengajak Anda mengabdikan hidup Anda? Beri tantangan pada anggota
kelas Anda untuk menyelidiki pasal-pasal kesayangan mereka tentang per-
nyataan misi Paulus dan gunakan ayat-ayat itu untuk merancang pernyata-
an misi mereka sendiri.
¿¿ Bagian-bagian manakah tepatnya dari tulisan-tulisan Paulus yang menggam-
barkan semangatnya yang mendalam untuk misinya? Pilihlah salah satu tu-
lisan itu untuk dibacakan di akhir kelas Sekolah Sabat Anda.

16
Pelajaran 2 *3-9 Juli 2010

Yahudi dan Yunani

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Imamat 23; Matius. 19:17; Ki-
sah 15:1-29; Galatia 1:1-12; Ibrani 8:6; Wahyu 12:17.

Ayat Hafalan: “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, teta-


pi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes
1:17).

O
rang-orang pertama yang bertobat kepada Kekristenan semuanya adalah
orang Yahudi, dan Alkitab Perjanjian Baru tidak memberikan indikasi
bahwa mereka diminta meninggalkan praktik sunat atau mengabaikan
hari-hari raya Yahudi. Tetapi ketika bangsa-bangsa lain mulai menerima Ke-
kristenan, muncullah pertanyaan-pertanyaan penting. Apakah mereka harus
menyerahkan diri untuk disunat? Seberapa jauhkah mereka harus memelihara
hukum-hukum Yahudi lainnya? Akhirnya, sebuah rapat diadakan di Yerusalem
untuk menyelesaikan masalah tersebut (Lihat Kisah 15).
Sekalipun telah dibuat keputusan oleh rapat agar tidak meresahkan mereka
dari bangsa lain dengan berbagai aturan dan hukum, beberapa guru terus saja
mengacaukan jemaat-jemaat dengan memaksakan agar orang-orang yang ber-
tobat dari bangsa-bangsa lain dituntut untuk memelihara aturan-aturan serta
berbagai hukum itu, termasuk sunat.
Dalam beberapa cara, masalah-masalah seperti itu ada di zaman sekarang,
hanya dalam bentuk yang berbeda. Berapa seringkah kita, sebagai umat Advent,
dituduh sebagai pengikut agama Yahudi, atau legalis, karena kesetiaan kita ke-
pada Sepuluh Firman (atau, dalam kenyataannya, kesetiaan kita kepada hukum
Sabat)? Berapa seringkah kita mendengar bahwa kita sekarang berada di bawah
Perjanjian Baru, oleh sebab itu hukum (perintah Sabat) telah dihapuskan?
Di lain pihak, sering kita sebagai suatu gereja ditentang oleh mereka yang
memaksakan kepada kita lebih banyak aturan serta ketetapan-ketetapan dari
Alkitab Perjanjian Lama.
Oleh karena itu, Kitab Roma sudah tentu mempunyai sebuah pekabaran
penting bagi kita zaman ini, sebagaimana juga bagi jemaat di Roma zaman da-
hulu.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 10.

17
Minggu 4 Juli
Janji yang Lebih Tinggi

Baca Ibrani 8:6. Apakah pekabarannya di sini? Apakah yang dimak-


sudkan dengan “janji yang lebih tinggi” itu?

Mungkin perbedaan terbesar antara agama Perjanjian Lama dengan agama


Perjanjian Baru adalah kenyataan bahwa era Perjanjian Baru didahului oleh ke-
datangan Mesias, Yesus dari Nazaret. Dia diutus Allah untuk menjadi Juruse-
lamat. Manusia tidak bisa mengabaikan Dia lalu berharap untuk diselamatkan.
Hanya melalui pendamaian yang disediakan-Nya dosa-dosa mereka bisa diam-
puni. Hanya oleh diperhitungkannya kepada mereka hidup-Nya yang sempurna
itulah mereka sanggup berdiri di hadapan Allah tanpa hukuman. Dengan kata
lain, keselamatan adalah melalui kebenaran Yesus, bukan yang lain.
Orang-orang kudus Perjanjian Lama melihat ke depan kepada berkat-berkat
zaman Mesias dan janji keselamatan itu. Di masa Perjanjian Baru, banyak orang
dihadapkan dengan pertanyaan, Apakah mereka mau menerima Yesus dari Na-
zaret yang telah diutus Allah sebagai Mesias, Juruselamat mereka? Jika mereka
percaya kepada-Nya—yaitu, jika mereka menerima Dia sebagaimana adanya Dia
dan menyerahkan diri mereka kepada-Nya—mereka akan diselamatkan melalui
kebenaran yang diberikan-Nya kepada mereka dengan cuma-cuma.
Sementara itu, tuntutan-tuntutan moral tetap tidak berubah dalam Perjanji-
an Baru, karena semua itu didasarkan atas tabiat Allah dan Kristus. Penurutan
kepada hukum moral Allah adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru seba-
gaimana juga Perjanjian Lama.

Baca Matius 19:17; Wahyu 12:17, 14:12; dan Yakobus 2:10, 11. Apa-
kah yang dikatakan ayat-ayat ini kepada kita tentang hukum moral da-
lam Perjanjian Baru?

Pada saat bersamaan, dihentikanlah keseluruhan hukum ritual dan upacara


yang khusus untuk orang Israel, yang terikat kepada sistem Perjanjian Lama,
yang kesemuanya itu menunjuk pada Yesus dan kematian serta pelayanan-Nya
sebagai Iman Besar, gantinya sebuah aturan baru diperkenalkan, yaitu yang ber-
dasarkan atas “janji yang lebih tinggi.”
Menolong baik orang Yahudi maupun bangsa lain untuk mengerti apa yang
terlibat dalam peralihan dari Yudaisme kepada Kekristenan adalah salah satu
tujuan utama Paulus dalam kitab Roma. Peralihan tentu saja membutuhkan
waktu.

Apakah janji-janji kesukaan Anda dalam Alkitab? Berapa seringkah


Anda menuntutnya? Pilihan-pilihan apakah yang Anda sedang buat yang
bisa menjadikan janji-janji tersebut digenapi dalam hidup Anda?

18
Senin 5 Juli

Berbagai Hukum dan Aturan Yahudi

Jika waktu mengizinkan, telusurilah kitab Imamat. (Lihat, contohnya, Ima-


mat 12, 16, 23). Pokok-pokok apakah yang muncul di benak Anda sementara
membaca semua aturan, ketetapan, dan tatacara itu? Mengapa banyak di
antaranya yang mustahil diterapkan di masa Alkitab Perjanjian Baru?

Kita bisa mengelompokkan hukum-hukum Alkitab Perjanjian Lama ke da-


lam beberapa kategori: (1) hukum moral, (2) hukum upacara, (3) hukum sipil,
(4) berbagai ketetapan dan pertimbangan, dan (5) hukum-hukum kesehatan.
Pengelompokan ini sedikit dipaksakan, karena kenyataannya, beberapa dari
kategori ini berkaitan satu sama lain, dan ada cukup banyak tumpang tindih.
Orang zaman dulu tidak melihat hukum-hukum itu terpisah dan berbeda.
Hukum moral dirangkum oleh Sepuluh Perintah (Keluaran 20:1-17). Hu-
kum ini merangkum ketetapan-ketetapan moral bagi umat manusia. Kesepuluh
titah ini dijabarkan dan diterapkan dalam berbagai ketetapan dan pertimbangan
di seluruh lima kitab pertama Alkitab. Penjabaran-penjabaran tersebut menun-
jukkan apa arti memelihara hukum Allah dalam berbagai keadaan. Yang juga
berkaitan adalah hukum-hukum sipil. Hukum-hukum tersebut juga didasarkan
atas hukum moral. Hukum-hukum tersebut mengatur hukuman seorang warga
negara dengan pemerintah sipil dan dengan sesama warga negara. Di dalamnya
juga disebutkan sanksi-sanksi bagi berbagai pelanggaran.
Hukum upacara mengatur tatacara di bait suci, menguraikan berbagai ma-
cam persembahan dan tanggung jawab setiap warga negara. Hari-hari raya juga
dirinci dan cara pemeliharaannya dijelaskan.
Hukum-hukum kesehatan tumpang tindih dengan hukum-hukum yang lain.
Berbagai hukum yang mengatur tentang kenajisan menjelaskan arti kenajisan
dalam kerangka upacara, namun lebih dari itu mencakup juga prinsip-prinsip
higienis dan kesehatan. Hukum tentang daging binatang yang haram dan halal
juga didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan jasmani.
Bilamana mungkin seorang Yahudi berpikir bahwa keseluruhan hukum ini
adalah sebuah paket, karena semuanya berasal dari Allah, orang itu harus mem-
buat perbedaan-perbedaan tertentu dalam pikirannya. Sepuluh Perintah itu di-
ucapkan Allah langsung kepada umat itu. Hukum ini harus diasingkan secara
khusus dan penting. Hukum-hukum yang lain diberikan melalui Musa. Tatacara
dalam bait suci bisa dipelihara hanya ketika sebuah bait suci masih berfungsi.
Hukum-hukum sipil, paling tidak sebagian besar, tidak bisa lagi dipaksa-
kan setelah orang-orang Yahudi kehilangan kemerdekaan mereka dan berada
di bawah kendali sipil bangsa lain. Banyak dari ketetapan-ketetapan upacara
tidak bisa lagi dipelihara setelah bait suci itu dihancurkan. Juga, setelah Mesi-
as datang, banyak dari lambang-lambang itu telah mendapat penggenapannya
sehingga tidak lagi mempunyai keabsahan.

19
Selasa Juli 6
“Apakah yang Harus Aku Perbuat, Supaya Aku Selamat?”

Baca Kisah 15:1. Apakah isu yang menyebabkan pertikaian? Menga-


pa ada orang yang percaya bahwa hal ini bukan hanya untuk bangsa Ya-
hudi? Lihat Kejadian 17:10.
Sementara para rasul bersatu dengan para pelayan dan anggota-anggota je-
maat di Antiokhia dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk memenangkan
banyak jiwa bagi Kristus, beberapa orang percaya dari kalangan Yahudi yang
berasal dari Yudea “dari golongan Farisi” berhasil dalam mengetengahkan se-
buah pertanyaan yang begitu menyebarluaskan pertentangan dalam jemaat dan
membawa kegundahan bagi orang-orang percaya dari bangsa lain. Dengan begi-
tu meyakinkan para guru ini menegaskan bahwa untuk diselamatkan seseorang
harus disunat dan harus memelihara seluruh hukum upacara. Lagi pula, orang-
orang Yahudi selama ini selalu menyombongkan diri atas upacara-upacara me-
reka yang memang ditentukan Allah, dan banyak dari mereka yang telah berto-
bat kepada iman akan Kristus masih merasa bahwa oleh karena Allah yang dulu
dengan jelas menjabarkan tata ibadah orang Ibrani, maka tidaklah mungkin Dia
akan mengesahkan sebuah perubahan sekalipun dalam hal-hal yang rinci. Me-
reka ngotot bahwa hukum-hukum Yahudi adalah upacara-upacara yang harus
diikutsertakan dalam ritus agama Kristen. Mereka lamban untuk melihat bahwa
semua persembahan korban hanyalah melambangkan kematian Anak Allah, di
mana lambang telah digenapi oleh yang dilambangkannya, dan setelah itu se-
mua ritus dan upacara agama di zaman Musa tidak lagi mengikat.
Baca Kisah 15:2-12. Bagaimanakah perselisihan itu diselesaikan?
“Sementara dia mencari tuntunan langsung daripada Allah, dia selalu meng-
akui kekuasaan tetap berada dalam tubuh orang-orang percaya yang telah diper-
satukan dalam persekutuan sidang. Dia merasakan kebutuhan nasihat, dan bila
hal-hal yang penting timbul, dia dengan gembira menghadapkannya di muka
sidang dan bersatu dengan saudara-saudara dalam memohon kebijaksanaan sur-
ga untuk mengambil keputusan-keputusan yang benar.”—Ellen G. White, Alfa
dan Omega, jld. 7, hlm. 169, 170.
Hal yang menarik bahwa Paulus, yang sering berbicara tentang panggil-
an kenabiannya dan bagaimana Yesus telah memanggil dia dan mengamanat-
kan misi yang harus dilaksanakannya, begitu rela bekerja dengan tubuh jemaat
yang lebih besar. Artinya, apa pun panggilannya, dia sadar bahwa dirinya ada-
lah bagian dari jemaat secara keseluruhan dan bahwa dia perlu bekerja sama
sedapat mungkin.
Apakah sikap Anda terhadap kepemimpinan gereja? Seberapa beker-
ja samakah Anda? Mengapa kerja sama begitu penting? Bagaimanakah
pekerjaan berfungsi baik jika masing-masing melakukan hanya apa yang
diinginkannya, terpisah dari tubuh yang lebih besar itu?
20
Rabu 7 Juli
“Jangan Menanggungkan Beban yang Lebih Besar”

Baca Kisah 15:5-29. Keputusan apakah yang diambil oleh rapat terse-
but, dan apakah alasan mereka?

Keputusan itu ternyata berlawanan dengan tuntutan para penganut agama


Yahudi. Orang-orang ini memaksakan para petobat dari bangsa lain untuk disu-
nat serta memelihara seluruh hukum upacara, dan agar “hukum-hukum Yahudi
dan upacara-upacaranya harus dimasukkan ke dalam tatacara agama Kristen.”—
Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 160.
Hal menarik untuk melihat dalam ayat 10 bagaimana Petrus menyebut hukum-
hukum lama ini sebagai sebuah “kuk” yang tidak sanggup mereka pikul. Akan-
kah Tuhan, yang menetapkan hukum-hukum tersebut, menjadikannya sebuah kuk
pada umat-Nya? Tentu saja tidak. Melainkan, sudah bertahun-tahun beberapa pe-
mimpin, melalui tradisi-tradisi lisan mereka, telah mengubah banyak hukum, yang
tadinya dimaksudkan untuk menjadi berkat, justru menjadi beban. Rapat tersebut
berusaha untuk mengecualikan bangsa-bangsa lain dari berbagai beban itu.
Perhatikan juga, bahwa tidak disebutkan dan tidak ada pertanyaan apakah
bangsa lain tidak perlu menurut Sepuluh Firman. Lagi pula, bisakah kita ba-
yangkan rapat tersebut yang meminta mereka tidak makan darah, tetapi mem-
perkenankan mereka melalaikan perintah-perintah menentang perzinaan atau
pembunuhan dan sejenisnya?

Peraturan-peraturan apakah yang diwajibkan pada orang-orang perca-


ya dari bangsa lain (Kis. 15:20, 29), dan mengapa harus hal tertentu itu?

Walaupun orang-orang percaya dari kalangan Yahudi tidak memaksakan


aturan-aturan serta tradisi mereka kepada bangsa-bangsa lain, rapat itu ingin
memastikan bahwa bangsa-bangsa lain tidak melakukan hal-hal yang justru me-
nyinggung orang-orang Yahudi yang telah dipersatukan dengan mereka di da-
lam Yesus. Itulah sebabnya para rasul dan penatua setuju untuk memerintahkan
bangsa-bangsa lain dalam sebuah surat untuk menahan diri dari daging yang
telah dipersembahkan kepada berhala, dari percabulan, dari binatang yang mati
dicekik, dan dari darah. Ada yang berkata bahwa karena pemeliharaan hari Sa-
bat tidak secara rinci disebutkan, maka hari itu bukan untuk bangsa-bangsa lain
(tentu saja, perintah-perintah menentang dusta dan pembunuhan juga tidak di-
sebutkan secara rinci, dengan demikian argumen itu omong kosong belaka).

Dapatkah kita, dalam beberapa hal, sedang meletakkan beban-beban


pada banyak orang yang sebenarnya tidak penting tetapi hanya merupa-
kan tradisi dan bukannya perintah Ilahi? Jika ya, bagaimana? Bagikan
pendapat Anda dengan kelas pada hari Sabat).

21
Kamis 8 Juli
Ajaran Sesat di Galatia

Walaupun petunjuk itu telah begitu jelas, masih saja ada orang yang beru-
saha bertindak semaunya dan terus mempertahankan bahwa mereka yang dari
bangsa-bangsa lain harus memelihara berbagai tradisi dan hukum Yahudi. Bagi
Paulus, ini suatu hal yang serius; artinya, itu bukanlah suatu hal sepele terhadap
pokok-pokok penting iman. Sebaliknya hal itu telah menjadi sebuah penyang-
kalan akan Injil Kristus itu sendiri.

Baca Galatia 1:1-12. Berapa seriuskah Paulus melihat isu yang sedang
dihadapinya di Galatia? Apakah yang kita pelajari tentang pentingnya
masalah tersebut?

Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, situasi di Galatialah yang paling ba-


nyak mencetuskan isi surat kepada jemaat di Roma. Dalam surat kepada jemaat
di Roma, Paulus lebih lanjut mengembangkan tema surat Galatia. Para peng-
anut agama Yahudi menegaskan bahwa hukum yang telah diberikan Allah ke-
pada mereka melalui Musa adalah penting dan harus dipelihara oleh para pe-
tobat dari bangsa lain. Paulus sedang berusaha untuk menunjukkan tempat dan
fungsi yang sebenarnya dari hukum itu.
Adalah satu hal yang terlalu sederhana untuk bertanya apakah di Kitab Ga-
latia dan Roma, Paulus sedang berbicara tentang hukum upacara atau hukum
moral. Dari tinjauan sejarahnya, argumennya adalah apakah para petobat dari
bangsa lain harus diwajibkan untuk disunat dan memelihara hukum Musa atau-
kah tidak perlu. Rapat di Yerusalem telah menjawab pertanyaan ini, tetapi ma-
sih ada yang menolak untuk mengikuti keputusan rapat.
Ada yang membaca dalam surat-surat Paulus kepada jemaat Galatia dan
Roma bukti bahwa hukum moral, Sepuluh Perintah (atau, sebenarnya, hanya
perintah keempat), tidak lagi berlaku bagi orang Kristen. Namun, mereka kehi-
langan makna pokok surat-surat itu, kehilangan konteks sejarahnya dan isu-isu
yang Paulus kemukakan. Paulus, sebagaimana yang akan kita lihat, menekan-
kan bahwa keselamatan adalah hanya oleh iman dan bukan oleh memelihara
hukum, sekalipun hukum moral—namun tidak berarti hukum moral tidak harus
dipelihara. Penurutan kepada Sepuluh Perintah tidak pernah dipermasalahkan;
mereka yang mempersalahkannya sedang memasukkan isu zaman sekarang ini
kepada naskah Alkitab, padahal Paulus tidak membahas hal tersebut.

Apakah jawaban Anda terhadap mereka yang menuntut bahwa Sabat


tidak lagi berlaku bagi orang-orang Kristen? Bagaimanakah Anda me-
nunjukkan kebenaran Sabat sedemikian rupa tanpa menawar-nawar ke-
utuhan Injil?

22
Jumat 9 Juli
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Yahudi dan Kafir,” hlm.
159-170; “Kemurtadan di Galatia,” hlm. 322-326, dalam Alfa dan Omega, jld. 7;
“Hukum Diberikan kepada Israel,” hlm. 354-370; “Hukum dan Perjanjian,” hlm.
430-444, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Umat Pilihan,” 23-27, dalam Alfa dan
Omega, jld. 5.
“Tetapi jikalau perjanjian Abraham itu berisi janji penebusan, mengapakah per-
janjian yang lain itu diadakan di Sinai. Di dalam perbudakan mereka bangsa itu se-
begitu jauh telah kehilangan pengetahuan akan Allah dan tentang prinsip-prinsip
daripada perjanjian Abraham. . . .
“Bangsa itu tidak menyadari kekejian hati mereka, dan bahwa tanpa Kristus
adalah mustahil bagi mereka untuk menurut hukum Allah; dan dengan mudah me-
reka mengadakan perjanjian dengan Allah.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega,
jld. 1, hlm. 440, 441.
“Melalui pengaruh dari guru-guru palsu yang bangkit dari antara orang-orang
percaya di Yerusalem, perpecahan, aliran yang bertentangan, orang-orang yang ber-
nafsu memperoleh tempat di antara orang-orang percaya di Galatia. Guru-guru pal-
su ini mencampuradukkan tradisi-tradisi Yahudi dengan kebenaran-kebenaran In-
jil. Tanpa menghiraukan keputusan sidang umum di Yerusalem, mereka mendesak
orang-orang kafir yang bertobat untuk memelihara hukum keupacaraan.”—Ellen
G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 322.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Dalam kelas, bahas kembali jawaban Anda terhadap pertanyaan hari Rabu.
Dalam cara apakah jemaat Anda, ataupun Anda dalam rumah tangga, atau-
pun diri Anda sendiri meletakkan beban yang tidak sepantasnya pada orang
lain (atau pada diri Anda sendiri)? Bagaimanakah kita mengetahui jika kita
sedang melakukan hal tersebut? Atau mungkinkah kita sedang ada dalam
bahaya telah melangkah terlalu jauh justru sebaliknya? Maksudnya, bagai-
manakah kita mengetahui bahwa kita telah menjadi begitu longgar dalam
gaya hidup dan standar-standar kita sampai kepada titik di mana hidup kita
tidak mencerminkan panggilan luhur yang kita miliki dalam Kristus?
oo Sanggahan apakah yang biasanya digunakan orang untuk menyatakan bah-
wa Sepuluh Perintah tidak lagi berlaku bagi orang Kristen zaman ini? Ba-
gaimanakah kita menjawab mereka? Mengapakah pernyataan-pernyataan
seperti itu sungguh sangat salah, dan mengapakah sering kehidupan me-
reka yang mengeluarkan pernyataan itu tidak menunjukkan seakan-akan
mereka percaya bahwa Sepuluh Firman itu tidak lagi mengikat?
pp Baca Galatia 1:12. Perhatikan bagaimana Paulus begitu tak berkompro-
mi, tegas dan sungguh-sungguh dalam hal pemahamannya tentang Injil?
Apakah yang dikatakan hal itu tentang bagaimana seharusnya kita berdiri
teguh tak tergoncang dalam ajaran tertentu, khususnya di zaman plural-
isme dan relativisme? Bagaimanakah hal ini menunjukkan bahwa beberapa
ajaran tertentu memang tidak bisa dikompromikan dalam cara apa pun?

23
PENUNTUN GURU 2
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Yohanes 1:17

Anggota Kelas akan:


¾¾ Mengetahui: Menjelaskan perbedaan besar antara legalisme dan kebe-
naran oleh iman dalam gereja mula-mula sebagaimana juga dalam gereja
dewasa ini.
¾¾ Merasakan: Menghargai pembelaan berapi-api Paulus serta para pemimpin
gereja lainnya akan kebenaran oleh iman.
¾¾ Melakukan: Menguji kehidupan akan adanya bukti terang dan kuasa kasih
karunia, serta karunia penurutan.

Garis Besar Pelajaran:


1. Mengetahui: Tergelincir kepada Perbuatan.
A. Sebagian orang Kristen Yahudi menekankan aturan-aturan dan tra-
disi-tradisi Yahudi sebagai hal yang harus diikuti oleh para petobat
dari bangsa lain, sementara yang lain menekankan keselamatan ha-
nya oleh iman sebagai hal yang penting bagi orang Yahudi maupun
bangsa lain. Apa sajakah akibatnya?
B. Bagaimanakah Paulus dan para pemimpin gereja lainnya mengha-
dapi perpecahan yang pertama kali terjadi dalam gereja?
II. Merasakan: Janji-janji yang Lebih Baik
A. Mengapakah Paulus dan para pemimpin lain dalam gereja begitu
tegas untuk tidak membenani orang-orang Kristen dengan tradisi-
tradisi agama yang berlebihan?
B. Apakah yang diberikan oleh “janji-janji yang lebih baik” (Ibrani 8:6)
bagi orang-orang percaya? Apa sajakah aturan-aturan yang dirasakan
jemaat saat itu penting sebagai hal yang masih berlaku?
III. Melakukan: Komitmen pada Kasih Karunia
A. Apakah pendirian Anda mengenai tradisi-tradisi agama dan kebe-
naran oleh iman?
B. Sepenting apakah penurutan pada hukum Allah dalam hidup
Anda?
C. Bagaimanakah Anda mengutamakan pentingnya kasih karunia da-
lam hidup Anda, dan juga dalam kesaksian Anda?
Rangkuman: Sebagaimana pada gereja Kristen mula-mula, masih ada
sekarang kecenderungan untuk fokus pada apa yang kita lakukan lebih
daripada bergantung sepenuhnya pada korban pendamaian Kristus serta
janji-Nya untuk menanamkan kehidupan-Nya dalam diri kita.

24
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Perdebatan pada gereja mula-
mula tentang apakah—atau seberapa banyak—orang-orang Kristen harus me-
nuruti hukum-hukum Perjanjian Lama mencerminkan usaha-usaha kita zaman
ini untuk menentukan sebuah keseimbangan antara hukum dan kasih karunia
dalam kehidupan rohani kita.
Khusus untuk Guru: Dalam pelajaran pekan ini kita mendiskusikan isu-
isu yang dihadapi gereja mula-mula sehubungan dengan peran hukum dan ka-
sih karunia bagi keselamatan seseorang.
Seorang penulis kesohor Amerika, Ambrose Bierce, mendefinisikan seorang
Kristen sebagai “seorang yang percaya bahwa Perjanjian Baru adalah sebuah
buku yang diilhami Ilahi yang begitu cocok bagi kebutuhan-kebutuhan rohani
sesamanya.” Satu hal yang bisa kita cermati dari definisi ini adalah bahwa Bierce
belum pernah mengenal seorang Kristen yang benar. Tetapi, sebagaimana dalam
banyak omong kosong, tetap ada sebutir kebenaran di dalamnya.
Mungkin yang dimaksudkan Bierce adalah berbagai orang munafik yang
percaya bahwa mengasihi sesama, memperhatikan yang terkecil di antara me-
reka, dan sebagainya, adalah sebuah beban yang harus dipikul oleh orang lain
dan bukan oleh diri sendiri. Seperti yang disarankan Lukas 11:46, aliran paham
ini mempunyai sebuah sejarah panjang.
Akan tetapi ada satu aspek lain yang tersirat dalam ucapan jenaka Bierce
yang perlu juga diperhatikan. Kebanyakan kita yakin bahwa Perjanjian Baru
mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia dan tidak ada yang
dapat kita lakukan untuk diselamatkan. Tetapi bila Anda mengatakan “kita” bu-
kankah itu termasuk Anda? Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Anda di-
selamatkan oleh iman, atau apakah Anda membebani diri Anda dengan hal-hal
yang harus Anda perbuat agar berkenan? Apakah Injil itu memang untuk Anda,
ataukah itu hanya sesuatu yang sangat cocok bagi sesama Anda?
Pertimbangkan: Dalam Matius 11:30, Yesus berkata bahwa “Kuk yang Ku-
pasang itu enak, dan beban-Ku pun ringan.” Mengapakah sering Anda me-
rasa perlu membuatnya lebih berat bagi diri Anda dan bagi orang lain?

LANGKAH 2—Menyelidiki
Komentar Alkitab
I. Hukum Sebagaimana Yesus Melihatnya, dan Hukum Sebagaimana Kita
Melihatnya Dalam Yesus (Ulangi bersama kelas Anda Matius 5:17, 18, dan
Matius 22:34-40).
Di awal pelayanan-Nya, Yesus menyatakan dengan jelas bahwa tujuan-Nya
bukanlah untuk meniadakan atau memusnahkan hukum yang tertulis dalam Per-

25
janjian Lama, melainkan untuk menggenapinya. Sesuai dengan tujuan ini, orang
Kristen mula-mula memperhatikan hukum dengan sungguh-sungguh.
Dua hal mendasar dalam teologi Kristen tentang hukum Allah adalah: Ajar-
an Yesus tentang hukum dan penggenapan Yesus akan hukum dalam hidup, ke-
matian dan kebangkitan-Nya.
Pertama, ajaran Yesus tentang hukum bermaksud untuk menampilkan un-
sur-unsur hakikinya. Dalam Matius 22:34-40, ketika seorang Farisi bertanya
kepada-Nya manakah perintah yang paling besar, Yesus membawa pertanya-
an itu pada unsur-unsur utama hukum itu: mengasihi Allah dan mengasihi se-
sama manusia. Dengan itu, Yesus memberi para pengikut-Nya–sekarang dan
selanjutnya–suatu dasar untuk mempertimbangkan dan menilai segala perbu-
atan, pikiran dan sikap mereka, bahkan semua yang tampak secara luar sesuai
dengan hukum tetapi mungkin mempunyai motif yang salah ataupun yang me-
rusak bagi orang lain.
Kedua, Yesus berusaha dalam hidup dan pelayanan-Nya untuk mengarah-
kan murid-murid-Nya jauh dari legalisme orang-orang Farisi yang keras kepala
dan orang lain yang berusaha menurut hukum dengan kekuatan mereka sendiri.
Pelajaran ini relevan bagi kita dewasa ini. Sementara penurutan pada hukum
itu penting dan perlu, keselamatan datang hanya oleh memandang pada Yesus:
teladan-Nya dan pekerjaan-Nya yang telah tuntas bagi kepentingan kita.
Pertimbangkan: Apakah yang dapat dilihat seseorang tentang inti ajar-
an Yesus tentang hukum, dan bagaimanakah orang-orang Farisi Kristen
dalam Kisah 15:5 merendahkannya, bahkan mungkin saja tampak masuk
akal dan logis?

II. Orang Yahudi, Bangsa Lain, dan yang Lainnya (Baca kembali Kisah 15
bersama kelas Anda).
Sejak zaman dulu, sunat adalah satu tanda yang mendasari hubungan ter-
sendiri antara orang Israel/Yahudi dengan Allah. Penyunatan semua laki-laki
dalam rumahnya mengesahkan perjanjian Abraham dengan Tuhan.
Orang yang disunat secara lahiriah juga diwajibkan untuk disunat dalam hal
pikiran dan hati, sebagaimana yang diperintahkan dalam Ulangan 10:16, dan
Yeremia 4:4. Orang yang disunat pikiran dan hatinya adalah seorang yang siap
menyambut panggilan dan tuntutan Allah, seseorang yang telah sepenuhnya me-
ninggalkan sesuatu untuk mengikut Allah. Sunat lahiriah biasanya menyakitkan
bagi seorang pria dewasa, dan orang-orang dari bangsa lain yang menjalaninya
serta menjadi petobat penuh kepada agama Yahudi sangatlah dihormati.
Namun, pada saat yang sama, sunat yang sejati adalah sunat hati (Roma 2:29).
Pertimbangkan: Semua hukum Allah, bahkan hukum yang tampaknya su-
kar dan menyakitkan, dimaksudkan untuk menjadi satu berkat bagi mereka
yang menaatinya dengan semangat yang benar. Sebaliknya, bagaimanakah
hukum-hukum yang sama ini menjadi sebuah beban yang tak terpikul bah-
kan bagi mereka yang dengan sungguh-sungguh berniat mengikut Allah?

26
III. Orang-orang Farisi Kristen” (Baca kembali bersama kelas Anda Kisah
15:5).
Orang-orang Farisi Kristen. Untuk kebanyakan pembaca Perjanjian Baru,
istilah ini paradoks, bahkan mungkin bertentangan, seperti “para pendamai pe-
ngembangan nuklir.” Namun begitulah orang-orang itu digambarkan dalam
Kisah 15:5—mereka orang Kristen, dan mereka juga orang Farisi. Kebanyak-
an terjemahan menggambarkan mereka sebagai “dari golongan Farisi yang te-
lah menjadi percaya.” Dengan demikian, mereka percaya bahwa Yesus adalah
Kristus. Keberatan mereka agar para petobat baru harus disunat dan taat ke-
pada hukum-hukum Musa dianggap serius oleh gereja tetapi akhirnya ditolak
dan ditiadakan.
Sebagaimana orang-orang Farisi, kita semua datang kepada Kristus dengan
membawa berbagai persoalan hidup. Bisa saja berupa kebiasaan-kebiasaan buruk.
Atau kepercayaan-kepercayaan yang salah atau tidak perlu tentang Allah, orang
lain, diri kita, atau alam semesta secara keseluruhan. Allah menerima kita seba-
gaimana kita ada—demikian juga seharusnya gereja—tetapi Dia mau menolong
kita bertumbuh melebihi hal-hal ini. Yang penting bagi kita adalah kerelaan un-
tuk mendengar, merelakan hati dan telinga kita disunat. Pada titik tertentu, kita
harus memutuskan bawaan-bawaan apa sajakah yang penting bagi kita.

Pertimbangkan: Dalam hal apa sajakah Anda, sebagaimana “orang-orang


Farisi Kristen,” bersandar pada kepercayaan-kepercayaan, tradisi-tradisi,
atau kebiasaan-kebiasaan yang salah atau yang tidak lagi berguna untuk
perjalanan Anda dengan Allah?

LANGKAH 3—Praktikkan
Khusus untuk Guru: Dorong anggota kelas Anda menggunakan pertanya­
an-pertanyaan ini untuk memikirkan tentang harapan Kristen yang berhu-
bungan dengan kehidupan mereka dan kepada dunia secara keseluruhan.

Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Apakah yang membedakan Sepuluh Perintah—atau hukum moral—dari hu-
kum-hukum upacara, sipil dan kesehatan? Dalam menanggapi orang yang
menuduh orang-orang Advent sebagai legalis, mengapakah penting bahwa
perintah Sabat adalah salah satu dari yang sepuluh itu?

¼¼ Apakah akar dari isu sunat dan pembebanan hukum-hukum Perjanjian Lama
lainnya yang dengan jelas diperuntukkan hanya untuk orang-orang Israel
sebelum zaman Kristus? Mengapakah Paulus begitu keras menentang me-
reka yang terus-menerus mengkhotbahkan sunat dan bentuk-bentuk legal-
isme lainnya? Mengapakah isu-isu itu tidak bisa dianggap semata sebagai
perkara “setuju untuk tidak setuju?”

27
Pertanyaan-pertanyaan Penerapan:
»» Penyelesaian masalah tentang diwajibkan atau tidaknya sunat serta pemeli-
haraan hukum Yahudi bagi para petobat dari bangsa lain jelas dalam bebe-
rapa hal merupakan sebuah kompromi. Ada catatan di mana Paulus berkata
bahwa memakan daging yang telah dipersembahkan pada berhala, dalam
hal memakannya itu sendiri, adalah tidak penting. (1 Kor. 8:4). Mengapa-
kah Paulus, yang begitu tidak berkompromi dalam hal-hal lain, mau mene-
rima kompromi ini? Adakah di sini satu garisan bagi kita tentang kapankah
diperbolehkan untuk berkompromi?
¼¼ Pencobaan untuk membiarkan beberapa bentuk legalisme adalah lazim. Apa-
kah legalisme yang sangat menarik bagi kita? Apakah selalu mudah untuk
membedakan antara legalisme—atau keinginan untuk mencapai keselamat-
an melalui usaha seseorang oleh menaati hukum dengan teliti—dan sebuah
kerinduan yang murni untuk melakukan yang terbaik bagi Allah?
½½ Apakah kita menghadapi situasi-situasi legalistik di gereja kita dewasa ini,
mirip seperti yang dihadapi Paulus, di saat kita memperkenalkan para pe-
tobat kepada iman? Bagaimanakah kita bisa lebih baik menyesuaikan para
petobat baru kepada lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan
pada saat yang sama menekankan harapan kita pada mereka dalam hal keu-
angan (persepuluhan)? Makanan? Praktik kesehatan (contohnya, tidak me-
rokok, tidak minum minuman beralkohol)? Pemeliharaan Sabat? Selain itu,
bagaimanakah kita menyesuaikan mereka pada tuntutan-tuntutan ini semen-
tara, pada saat yang sama, melindungi mereka dari orang-orang yang akan
memberikan pada mereka informasi yang salah tentang tuntutan-tuntutan
tersebut yang lebih berdasar pada pendapat atau kesukaan pribadi daripa-
da pada Alkitab?

LANGKAH 4—Terapkan
Khusus untuk Guru: Pekan ini kita telah menelusuri cara-cara melalui
mana hukum Allah dihubungkan dengan iman Kristen sebagaimana yang
terjadi di abad pertama dan bagaimana penerapannya dewasa ini pada pe­
ngalaman kita sebagai orang-orang Kristen dan orang-orang Advent.
Perhatikan kitab-kitab Musa, seperti Imamat, Bilangan, Ulangan, dsb., di
mana kita dapati kumpulan hukum-hukum Perjanjian Lama. Tuliskan pada
kartu-kartu indeks hukum-hukum itu satu persatu dan di mana tertulis. Sedia-
kan cukup kartu agar setiap anggota kelas mendapatkan satu. Mulailah dengan
urutan apa saja yang Anda pilih, biarlah setiap anggota membaca dengan keras
apa yang tertulis di kartunya. Tanyakan apakah hukum tersebut adalah hukum
moral, upacara, sipil, ataukah kesehatan, dan bagaimana bisa mengetahuinya.
Mungkin Anda juga mau menyelidiki kemungkinan aplikasi-aplikasi rohani
dari hukum-hukum yang termasuk kategori hukum upacara atau sipil. Prinsip-
prinsip apakah yang ada di belakang hukum-hukum tersebut?

28
Pelajaran 3 *10-16 Juli 2010

Semua Orang Telah Berbuat Dosa

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 1:16, 17, 22-32; 2:1-10,
17-23; 3:1, 2, 10-18, 23.

Ayat Hafalan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah
kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

K
ecuali seorang mengakui bahwa dia tidak benar, orang itu tidak akan
merasa perlu pembenaran (deklarasi Allah bahwa seorang berdosa benar
di hadapan-Nya). Dengan demikian, bagi Paulus langkah pertama dalam
pembenaran adalah seorang mengakui dirinya orang berdosa yang tak berdaya
dan tak ada harapan. Dalam membangun argumen ini, Paulus pertama-tama
mengemukakan kejatuhan luar biasa dari bangsa-bangsa lain. Mereka telah
tenggelam begitu dalam karena mereka telah menyingkirkan Allah dari pikiran
mereka. Kemudian Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi juga sama
parahnya, dengan kata lain tidak ada seorang pun dapat menyelamatkan dirinya
oleh perbuatan baik mereka.
Ellen G. White menjelaskan: “Janganlah seorang pun menerima pandang-
an yang terbatas dan sempit bahwa perbuatan manusia dapat menolong walau
dalam kemungkinan yang paling kecil untuk membayar utang pelanggarannya.
Ini adalah sebuah penyesatan yang fatal. Jika Anda mau memahaminya, Anda
harus berhenti memaksakan gagasan-gagasan kesayangan Anda, dan dengan
rendah hati mencari pendamaian.
“Hal ini sangat sedikit dipahami sehingga beribu-ribu orang yang mengaku
sebagai anak-anak Allah sebenarnya adalah anak-anak si jahat, karena mereka
bergantung pada perbuatan mereka sendiri. Allah selalu meminta perbuatan baik,
hukum juga menuntut hal itu, tetapi karena manusia menempatkan dirinya dalam
dosa di mana segala perbuatan baiknya tidak bernilai, maka kebenaran Yesus sa-
jalah yang dapat bertahan. Kristus sanggup menyelamatkan mereka yang paling
berdosa karena dia selalu hidup untuk melakukan pengantaraan bagi kita.”—Ko-
mentar Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1071.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 17.

29
Minggu 11 Juli
Keyakinan yang Kokoh dalam Injil

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil [Kristus,


NKJV], karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap
orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yu-
nani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman
dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hi-
dup oleh iman’” (Roma 1:16, 17). Apakah makna ayat ini bagi Anda? Ba-
gaimanakah Anda telah mengalami janji-janji serta pengharapan yang
terdapat di dalamnya?

Beberapa kata kunci dalam ayat di atas:


1. Injil. Kata ini adalah terjemahan dari kata Yunani yang secara harfiah
berarti “kabar baik” atau “berita baik.” Jika berdiri sendiri, kata ini bisa ber-
arti kabar baik apa saja; tetapi jika dilengkapi dengan “Kristus” sebagaimana
dalam ayat di atas, artinya adalah “kabar baik tentang Mesias” (Kristus adalah
peralihan huruf dari kata Yunani yang berarti “Mesias”). Kabar baiknya adalah
bahwa Mesias telah datang dan manusia bisa diselamatkan oleh percaya kepa-
da-Nya. Di dalam Yesus dan di dalam kebenaran-Nya yang sempurna—dan
bukan dalam diri kita, ataupun dalam hukum Allah sekalipun—seorang bisa
memperoleh keselamatan.
2. Kebenaran. Kata ini adalah menunjuk pada kualitas menjadi “benar”
dengan Allah. Sebuah arti khusus dari kata ini telah dikembangkan dalam ki-
tab Roma, yang akan kita pelajari selanjutnya. Perlu diperhatikan bahwa da-
lam Roma 1:17 kata ini dilengkapi dengan “Allah.” Itu adalah kebenaran yang
berasal dari Allah, sebuah kebenaran yang hanya Allah sendiri yang sediakan.
Sebagaimana akan kita pelajari, inilah satu-satunya kebenaran yang bisa mem-
bawa kita kepada hidup kekal.
3. Iman. Dalam bahasa Yunani kata-kata yang diterjemahkan “percaya”
dan “iman” dalam ayat di atas adalah dalam bentuk kata kerja dan kata benda
dari satu kata yang sama: pisteuo (percaya) dan pistis (kepercayaan atau iman).
Arti iman sehubungan dengan keselamatan akan diungkapkan sementara kita
melanjutkan pelajaran kita tentang Kitab Roma.

Pernahkah Anda bergumul tentang kepastian? Apakah ada saat-saat di


mana Anda mempertanyakan apakah Anda selamat atau tidak, atau apa-
kah Anda bisa diselamatkan? Apakah yang menimbulkan ketakutan seper-
ti ini? Apakah dasar ketakutan seperti ini? Mungkinkah ketakutan Anda
berdasar pada sebuah kenyataan? Artinya, apakah Anda sedang menja-
lani sebuah gaya hidup yang menyangkal pengakuan iman Anda? Jika me-
mang demikian, pilihan-pilihan apakah yang Anda harus buat agar mem-
peroleh janji-janji serta kepastian bagi Anda di dalam Yesus?

30
Senin 12 Juli
Keadaan Manusia

Baca Roma 3:23. Mengapakah pekabaran ayat ini begitu mudah untuk
kita sebagai orang Kristen? Pada saat yang sama, apakah yang menyebab-
kan sebagian orang mempertanyakan kebenaran ayat ini?

Cukup mengherankan, sebagian orang nyata-nyata menentang ajaran tentang


keberdosaan manusia, mereka berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik.
Namun masalahnya berakar dari kurangnya pengertian tentang apa kebaikan
sejati itu. Manusia dapat membandingkan diri mereka dengan orang lain dan
merasa diri mereka lebih baik. Bahkan penjahat ulung Al Capone adalah seo-
rang kudus jika dibandingkan dengan Adolph Hitler. Namun, bila kita datang
membandingkan diri kita dengan Allah, dan dengan kekudusan dan kebenaran
Allah, tidak seorang pun kita yang akan kembali membawa sesuatu selain da-
ripada dipenuhi dengan perasaan diri enggan dan jijik.
Ayat di atas juga berbicara tentang “kemuliaan Allah.” Istilah ini telah di-
tafsirkan bermacam-macam. Mungkin tafsiran paling sederhana adalah dengan
memberi istilah tersebut makna yang dikandungnya dalam 1 Korintus 11:7, RSV,
“Ia [manusia] adalah gambaran dan kemuliaan Allah.” Dalam Bahasa Yunani,
kata “kemuliaan” bisa dianggap hampir serupa dengan kata “gambaran/citra.”
Dosa telah mengaburkan gambaran Allah dalam manusia. Manusia berdosa su-
dah sangat jauh dari mencerminkan gambaran kemuliaan Allah.

Baca Roma 3:10-18. Apakah ada yang berubah hari ini? Manakah dari
penjelasan ayat ini yang paling tepat menggambarkan diri Anda, atau su-
dah menjadi seperti apakah Anda sekiranya Kristus tidak ada dalam hi-
dup Anda?

Betapapun buruknya kita, situasi kita bukan tanpa harapan. Langkah pertama
adalah kita harus mengakui keadaan kita yang penuh dosa dan juga ketidakber-
dayaan kita dalam dan oleh diri kita sendiri untuk berbuat sesuatu mengatasi-
nya. Adalah pekerjaan Roh Kudus untuk membawa kesadaran seperti ini. Jika
orang berdosa itu tidak menolak-Nya, Roh Kudus akan memimpin orang ber-
dosa itu untuk merobek topeng pertahanan diri, kemunafikan, dan pembenaran
diri dan akan menghempaskannya di atas Kristus, memohon kemurahan-Nya:
“Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini!” (Lukas 18:13).

Kapankah saat terakhir Anda dengan jujur melihat ke dalam diri Anda,
motif-motif Anda, perbuatan-perbuatan Anda, dan perasaan-perasaan
Anda? Tentu sebuah pengalaman yang menyulitkan bukan? Apakah satu-
satunya harapan Anda?

31
Selasa 13 Juli
Dari Abad Pertama Hingga KeduaPuluh Satu

Saat beranjak ke abad keduapuluh, orang hidup dengan gagasan bahwa ma-
nusia semakin baik, dan moralitas akan bertambah dan pengetahuan serta tek-
nologi akan menolong mengantar pada sebuah tempat yang sempurna (utopia).
Umat manusia saat itu diyakini sedang berada pada jalan menuju kesempurnaan;
yakni, melalui jenis pendidikan dan latihan moral yang tepat, manusia secara
luar biasa dalam memperbaiki diri dan masyarakat mereka. Semua ini disang-
ka mulai terjadi saat itu, secara keseluruhan, ketika manusia memasuki dunia
baru nan berani, abad keduapuluh.
Sayangnya, hal itu tidak terjadi seperti demikian, bukan? Abad keduapuluh
adalah salah satu abad yang paling keras dan brutal sepanjang sejarah, ironis-
nya itu terjadi pada saat ada perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, yang
lebih memungkinkan manusia membunuh sesamanya dengan cara yang hanya
dapat dimimpikan oleh orang-orang jahat di masa sebelumnya.
Apakah masalahnya saat itu?

Baca Roma 1:22-32. Hal-hal apakah yang tertulis di sana yang terja-
di pada abad pertama, namun sedang terjadi juga zaman ini di abad dua
puluh satu?
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Pada saat umat manusia kehilangan pandangan akan Allah, gerbang banjir
besar dosa dan kesalahan serta kemerosotan terbuka. Zaman ini, masing-ma-
sing kita, sedang menjalani akibat-akibat masalah tersebut. Kenyataannya, ke-
cuali kita setiap saat berserah kepada Allah, kita akan menjadi bagian dari ma-
salah itu juga.

Fokus khususnya pada Roma 1:22, 23. Bagaimanakah kita melihat


prinsip ini sedang nyata zaman ini? Oleh menolak Allah, apakah yang te-
lah disembah dan dipuja oleh manusia di abad kita ini? Dan, oleh mela-
kukan hal ini, bagaimanakah mereka telah menjadi bodoh? Bagikan ja-
waban Anda di kelas pada hari Sabat.
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

32
Rabu 14 Juli
Orang-orang Yahudi dan Bangsa Lain

Dalam Roma 1, Paulus membahas secara khusus dosa-dosa bangsa lain, yak-
ni orang-orang kafir, yang kehilangan pandangan akan Allah sejak lama dan aki-
batnya mereka jatuh dalam praktik-praktik yang sangat merosot.
Tetapi Paulus tidak bermaksud membiarkan orang-orang sebangsanya luput
dari mata kail. Walau dengan segala keuntungan yang diberikan kepada mereka
(Roma 3:1, 2), mereka juga adalah orang-orang berdosa, yang dijatuhi hukuman
oleh hukum Allah, dan memerlukan kasih karunia Kristus yang menyelamat-
kan. Dalam hal ini, sebagai orang-orang berdosa yang telah melanggar hukum
Allah, dan membutuhkan kasih karunia Ilahi untuk keselamatan, orang-orang
Yahudi dan bangsa-bangsa lain adalah sama.
Baca Roma 2:1-3, 17-24. Apakah yang ditentang Paulus di sini? Peka-
baran apakah yang semua kita, Yahudi atau bangsa lain, ambil dari amar-
an tersebut?

"Janganlah kamu berpikir bahwa kamu lebih baik dari orang lain, dan ja-
ngan angkat dirimu sebagai hakim mereka. Sedang kamu tidak dapat melihat
motif, engkau tidak sanggup menghukumkan orang lain. Di dalam mengritik
dia, kamu mengundang hukuman atasmu; karena nyatalah kamu turut campur
dengan Setan, penuduh saudara-saudaramu itu."—Ellen G. White, Alfa dan
Omega, jld. 5, hlm. 335
Sering sangat mudah untuk melihat dosa-dosa orang lain dan menyatakan-
nya. Namun betapa seringkah kita bersalah dalam pelanggaran-pelanggaran yang
sama, bahkan lebih parah? Masalahnya di sini adalah kita cenderung melihat
diri kita dengan mata yang buta, atau membuat diri kita merasa lebih baik oleh
melihat betapa buruknya orang lain dibandingkan dengan diri kita.
Paulus tidak punya sifat seperti itu. Dia juga memperingatkan orang-orang se-
bangsanya untuk tidak tergesa-gesa menghakimi bangsa-bangsa lain, karena mere-
ka juga, yakni orang-orang Yahudi—bahkan sebagai umat pilihan—adalah orang-
orang berdosa, malahan dalam beberapa hal mereka lebih bersalah daripada orang
kafir yang mereka hakimi begitu cepat, karena sebagai orang-orang Yahudi mereka
telah diberikan lebih banyak terang daripada orang-orang dari bangsa lain.
Inti ajaran Paulus dalam semuanya ini adalah tidak seorang pun kita yang
benar, tidak seorang pun yang memenuhi standar Ilahi, tidak seorang pun kita
yang pada dasarnya baik atau berpembawaan suci. Yahudi atau bukan Yahudi,
laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, takut akan Allah atau menolak Allah
kita semua terhukum, dan jika bukan karena kasih karunia Allah, sebagaimana
yang dinyatakan dalam Injil, tidak akan ada harapan bagi siapa pun kita.
Seberapa munafikkah Anda? Artinya, berapa seringkah Anda walau
hanya dalam benak Anda, menghukum orang lain atas perkara-perkara
yang Anda sendiri pun bersalah? Bagaimanakah Anda, oleh memperhati-
kan apa yang Paulus telah tuliskan di sini, bisa berubah?
33
Kamis 15 Juli

Pertobatan

Seorang anak usia lima tahun mendorong adiknya perempuan hingga jatuh,
dan orangtua memaksanya minta maaf. Dia tidak mau melakukannya, dan dari
sisi mulutnya, tanpa kesungguh-sungguhan dan mata melihat ke bawah, dia ber-
guman dingin, “Maaf.” Tentu saja itu bukan pertobatan sejati.

Sambil mengingat cerita itu, bacalah ayat ini: “Maukah engkau meng-
anggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan
hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah
menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2:4). Apakah pekabaran
dari ayat ini untuk kita?

Kita harus perhatikan bahwa kemurahan Allah menuntun, tidak memaksa


orang-orang berdosa kepada pertobatan. Tentunya sebuah pertobatan yang di-
paksakan akan menghancurkan tujuan keseluruhan pertobatan itu sendiri, bu-
kan? Jika Allah memaksakan pertobatan, maka tidak ada seorang pun yang akan
selamat, karena mengapa dia memaksa sebagian orang untuk bertobat semen-
tara yang lain tidak?

Apakah yang akan menimpa mereka yang menolak kasih Allah, meno-
lak untuk bertobat, dan tetap dalam ketidaktaatan? Roma 2:5-10.
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Dalam ayat-ayat di atas, dan sering di seluruh Kitab Roma, Paulus mene-
kankan peranan perbuatan baik. Pembenaran oleh iman tanpa penurutan kepada
hukum tidak boleh ditafsirkan bahwa perbuatan baik tidak mempunyai tempat
dalam kehidupan Kristen. Contohnya, dalam ayat 7, keselamatan digambarkan
sebagai hal yang diperoleh mereka yang mencarinya “dengan tekun berbuat
baik.” Sekalipun usaha manusia tidak dapat membawa keselamatan, itu meru-
pakan bagian dari pengalaman keselamatan. Sukar untuk melihat bagaimana
seseorang dapat membaca Alkitab lalu mendapatkan gagasan bahwa usaha dan
perbuatan tidak bermanfaat sama sekali. Pertobatan sejati, yakni yang datang
dengan sukarela dari hati, selalu diikuti dengan sebuah tekad untuk mengalah-
kan dan mengesampingkan segala hal yang darinya kita perlu bertobat.

Berapa seringkah Anda berada dalam sikap pertobatan? Apakah itu


sungguh-sungguh, atau Anda hanya cenderung untuk menghilangkan ke-
salahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, dan dosa-dosa Anda? Jika
memang karena itu, bagaimanakah Anda bisa berubah? Mengapa Anda
harus berubah?

34
Jumat 16 Juli
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, "Kebun Anggur Tuhan," hlm.
217-236, dalam Membina Kehidupan Abadi; "Kasih Allah Kepada Manusia," hlm. 9-16;
"Keperluan Orang Berdosa," hlm. 17-24, dalam Kebahagiaan Sejati; "Hubungan dengan
Orang Lain," hlm. 449-462, dalam Membina Keluarga Sehat; "Agents of Satan," hlm.
146, 147, dalam Testimonies for the Church, vol. 5.
“Banyak yang tertipu sehubungan dengan keadaan hati mereka. Mereka tidak me-
nyadari bahwa hati alamiah adalah penipu di atas segala perkara, dan benar-benar jahat.
Mereka membungkus diri mereka sendiri dengan kebenaran mereka sendiri, dan telah
merasa puas dengan mencapai standar tabiat manusia mereka sendiri; tetapi betapa fa-
talnya mereka gagal bilamana mereka tidak mencapai standar Ilahi, dan dari diri me-
reka sendiri mereka tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan Allah.”—Ellen G. White,
Selected Messages, jilid 1, hlm. 320.
“Sebuah gambaran menakutkan tentang kondisi dunia ini telah ditunjukkan kepada
saya. Kejatuhan moral merajalela. Sifat asusila adalah dosa khusus di zaman ini. Tidak
pernah perbuatan jahat menegakkan kepalanya dengan begitu berani seperti sekarang ini.
Orang tampaknya dibuat mati rasa, dan mereka yang mencintai kebajikan dan kebaikan
sejati hampir ditawarkan oleh keberanian, kekuatan, dan tersebarnya kejahatan. Kefasik-
an yang merajalela tidak semata-mata terbatas pada orang yang tak beriman dan pengejek
saja. Seandainya saja demikian, tetapi kenyataannya tidak. Banyak orang yang mengakui
agama Kristus, juga bersalah. Bahkan sebagian orang yang mengaku sedang menantikan
kedatangan-Nya sudah tidak lebih bersedia daripada Setan untuk peristiwa itu. Mereka ti-
dak membersihkan diri mereka dari segala kecemaran. Mereka sudah begitu lama melayani
hawa nafsu mereka sehingga wajarlah jika pikiran mereka tidak suci dan imajinasi mereka
rusak.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 346.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Di kelas, ulangi jawaban-jawaban Anda untuk pertanyaan hari Selasa. Bagaima-
nakah kita lihat bahwa prinsip ini sedang nyata dalam masyarakat zaman ini?
oo Lihat kutipan kedua dari Ellen G. White dalam pelajaran hari Jumat. Jika
ternyata diri Anda termasuk di sana, apakah jawabannya? Mengapa begitu
penting untuk tidak menyerah sekalipun dalam kecewa melainkan menuntut
janji-janji Allah—pertama, pengampunan; kedua, pembersihan? Siapakah dia
yang mau supaya Anda berkata selalu dan seterusnya, “Tidak ada guna. Saya
sudah begitu rusak. Saya tidak akan pernah bisa diselamatkan, jadi sebaiknya
saya menyerah saja?” Apakah Anda mendengarkan oknum itu ataukah Yesus,
yang akan berkata kepada kita, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah,
dan jangan berbuat dosa lagi?” Yohanes 8:11.
pp Mengapakah penting bagi kita sebagai orang Kristen untuk mengerti keberdo-
saan dan kebejatan manusia yang sangat mendasar? Apakah yang akan terjadi
jika kita kehilangan pandangan terhadap hal yang menyedihkan namun meru-
pakan sebuah kenyataan hakiki? Kepada kesalahan-kesalahan apakah kita bisa
digiring oleh kesalahpahaman kita tentang keadaan kita yang sebenarnya?

35
PENUNTUN GURU 3
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 3:23.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Menggambarkan dalamnya kejatuhan baik orang-orang kafir
maupun orang-orang yang mengaku Kristen tanpa Kristus.
¾¾ Merasakan: Kebutuhan luar biasa akan hubungan yang menyelamatkan
dengan Kristus.
¾¾ Melakukan: Datang pada Kristus dalam pengakuan kehancuran total kita
serta kuasa-Nya dan kerelaan-Nya untuk menyelamatkan.

Garis Besar Pelajaran:


1. Mengetahui: Tidak Ada Harapan Tanpa Kristus
A. Mengapa kita harus pertama-tama mengakui kehancuran kita ser-
ta kemustahilan memperoleh harapan dan pertolongan di luar kua-
sa Kristus yang menyelamatkan?
B. Bagaimanakah mereka yang telah diberkati dengan suatu pengeta-
huan akan Allah tetapi tidak akrab dengan Dia bisa saja berada da-
lam kesukaran yang lebih dalam daripada mereka yang tidak me-
ngenal Allah?
II. Merasakan: Memandang ke Atas
A. Pada saat kita merasakan kengerian akan kejatuhan kita serta kebu-
tuhan kita yang besar akan Allah, kita dapat memilih untuk hilang
dalam perasaan tawar hati dan putus asa, atau kita dapat menjatuh-
kan diri kita pada kebaikan Allah. Apakah yang telah kita alami da-
lam hidup kita yang menunjukkan kebutuhan kita yang besar akan
Allah serta kebutuhan kita sehari-hari akan Seorang Juruselamat?
B. Apakah yang telah kita alami yang menunjukkan kasih Allah yang
besar serta belas kasihan-Nya terhadap kita?
III. Melakukan: Bersandar pada Kristus
A. Bagaimanakah kita menyambut bukti yang begitu banyak tentang
sifat dosa kita?
B. Bagaimanakah kita mengungkapkan setiap hari, di dalam doa, bu-
kan saja kenyataan kebutuhan kita tetapi juga penerimaan kita akan
jasa-jasa Kristus bagi keselamatan kita?
Rangkuman: Orang-orang Kristen dan orang-orang kafir sama-sama
harus mengakui kebutuhan utama mereka serta bersandar sepenuhnya pada
kuasa Kristus untuk menyelamatkan mereka dari sifat-sifat dosa mereka.

36
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama bagi Pertumbuhan Gereja: Hanyalah melalui kasih karunia
Allah kita menerima pemberian keselamatan itu.

Khusus untuk Guru: Dalam pelajaran pekan ini, kita membahas dan me-
nyelidiki fakta bahwa kebaikan manusia fana tidak bisa dibandingkan de-
ngan kebenaran Allah.

Pada abad delapan belas orang-orang pandai mulai melihat pada masyara-
kat Barat dan menyadari bahwa, sekalipun ada keinginan terhadap Kekristen-
an dan moralitas, orang tetap tidak baik. Kenyataannya, mereka sangat buruk,
dan mungkin peradaban—tentu saja termasuk gereja—berada dalam kesalahan.
Apakah mungkin, mereka bertanya, bahwa orang yang berada pada apa yang
disebut “keadaan alami” pada dasarnya baik, dan bahwa gereja, negara, dan
masyarakatlah yang membuat orang itu tampaknya buruk?
Pada waktu para penjelajah kembali dari berbagai wilayah dengan laporan
tentang berbagai kelompok masyarakat yang tampaknya hidup begitu serasi de-
ngan alam, para pemikir ini menjadikan laporan-laporan tersebut sebagai satu
pembuktian atas kecurigaan mereka. Dari perkawinan antara ketidakpuasan yang
kuat atas status quo dengan pengertian yang sangat kurang serta penyamarataan
semua keadaan masyarakat, maka lahirlah konsep kebiadaban yang mulia.
Sejak saat itu, berbagai ideologi dan falsafah telah berusaha mengembalikan
manusia kepada keadaannya yang alami, berbudi luhur, serta bahagia. Keba-
nyakan dari usaha-usaha itu berakhir dengan kekecewaan atau bencana. Morali­
tas pribadi atau sosial tampaknya sedang mengalami terjun bebas. Jika masya-
rakat membuat kita buruk dan alam juga membuat kita buruk, apakah harapan
yang ada? Baca terus!

Pertimbangkan: Mengapakah kenyataan sifat dosa kita begitu sulit untuk


kita terima?

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab
I. Keyakinan yang Kokoh Dalam Injil (Baca bersama kelas Anda, Roma
1:16, 17 dan 1 Korintus 1:23).
Di zaman Paulus, sebagaimana sekarang, ada banyak suara yang berkhot-
bah tentang berbagai macam Injil. Beberapa di antaranya adalah “orang Kris-
ten,” dan satu hal lainnya. Mungkin itu merupakan beberapa bentuk legalisme
yang diwariskan dari orang-orang Farisi. Atau mungkin itu sebuah campuran
ajaran Kristus ditambah dengan ilmu-ilmu alam yang unik serta petunjuk-pe-

37
tunjuk tentang kehidupan alam baka yang menyanggupkan seseorang bisa ma-
suk surga sedikit lebih cepat. Semua ini disajikan sebagai “Injil” yang disebut
mempunyai lebih banyak kuasa.
Dengan semua pilihan ini, mengapakah calon-calon orang percaya mau me-
nerima Injil Paulus, yang sederhana tentang Kristus yang disalibkan dan dibang-
kitkan? Sangat sederhana! Terlalu sederhana. Atau bisa saja tampaknya orang
bisa melihat itu tanpa mata iman.
Kenyataannya, Injil Paulus itulah Injil sebenarnya. Injil itu bukan berasal
dari Paulus, melainkan dari Kristus. Dan Injil tersebut tidak membutuhkan tam-
bahan dari berbagai bentuk legalisme yang tidak berguna serta ilmu-ilmu alam
yang bersifat spekulasi. Injil tersebut tidak membutuhkan lebih banyak kuasa;
Injil itu sendiri adalah kuasa Allah. Dan inilah hal yang sangat menggemparkan:
Injil itu bukan saja tidak membutuhkan tambahan “sesuatu yang lain”; Injil itu
tidak bisa ada bersama-sama dengan “sesuatu yang lain.” Namun sebenarnya,
ada hal lainnya: iman, indera baru yang diberikan Allah agar kita sanggup me-
lihat segala perbuatan-Nya yang ajaib. Bagi orang yang tak punya iman, Injil
itu hal murahan dan tak masuk akal. Bagaimanakah mungkin kematian sese-
orang dalam sejarah di sebuah tempat yang terpencil dalam Kekaisaran Roma
memberikan keselamatan bagi saya? Pemikiran semacam ini bertolak belakang
dengan sistem-sistem agama dan falsafah—dulu dan sekarang—yang meyakin-
kan pendengarnya dengan logika yang kuat, rayuan, serta penjelasan-penjelasan
rumit tentang makna hidup.
Injil Paulus—dan Kristus—mungkin tampak lemah dan bodoh bagi orang-
orang pintar di zaman dulu, sebagaimana juga bagi banyak orang di masa mo-
dern sekarang ini; namun kuasanya yang sejati dapat dilihat dalam kehidupan
mereka yang mengizinkan Allah memberikan mereka indera baru yang dikenal
sebagai iman dan mengubah mereka melalui iman. Kita semua mau menjadi
lebih baik dari kita sekarang ini, tetapi hanya Allah yang dapat melakukannya
bagi kita, dan Injil adalah sarana-Nya.

Pertimbangkan: Mengapakah semua yang kita perlukan cukuplah Injil


Kristus yang telah disalibkan namun dibangkitkan?

II. Menuntun pada Pertobatan (Baca bersama kelas Anda, Roma 2:4-12).
Dalam ayat-ayat ini Paulus sedang berbicara kepada orang-orang yang per-
caya bahwa mereka dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan mereka, dan meng-
anggap rendah orang-orang yang dianggap kurang benar daripada mereka
(yang sebenarnya hanya kurang pengetahuan saja), namun mereka gagal men-
capai standar mereka sendiri. Kita dapat bayangkan mereka mencari banyak
alasan—memberi diri mereka peluang yang tidak mereka berikan bagi orang
lain—karena toh mereka adalah kesayangan Allah. Mereka pikir Allah akan
melalaikan pelanggaran-pelanggaran mereka yang kecil, karena mereka telah
menjadi teladan.
Secara tepat Paulus menunjukkan bahwa pelanggaran-pelanggaran mereka
bukanlah kecil, dan bahwa mereka sebenarnya melakukan semua yang mereka

38
tuduhkan pada orang lain. Dengan menganggap bahwa mereka dikecualikan
dari hukuman, sebenarnya mereka sedang mempertentangkan teologi mereka
sendiri, serta menghukum diri mereka sendiri, bukan orang lain. Kenyataan-
nya, mereka lebih buruk daripada seorang yang tidak tahu apa-apa yang mem-
punyai suatu pertimbangan sempurna akan apa yang benar dan salah dan ber-
usaha hidup dengan itu.
Hal lain adalah sementara kita semua adalah orang berdosa dan gagal me-
melihara hukum, kegagalan kita tidak boleh kita anggap sepele. Semua orang
berdosa, tetapi tidak ada keselamatan dalam angka-angka. Penurutan pada hu-
kum diwajibkan, dan jika kita gagal, kita dihukum. Allah telah menebus kita
melalui kasih karunia-Nya, tetapi harga yang mahal adalah kematian berdarah
dari Anak-Nya, yang menderita, dan sendirian.

Pertimbangkan: Mengapakah Paulus, dalam membahas upah dan hukuman


dari ketaatan atau ketidaktaatan terhadap hukum, menekankan bahwa hal-
hal tersebut akan datang “pertama-tama pada orang Yahudi dan juga orang
Yunani?” (Roma 2:9).

LANGKAH 3—Praktikkan
Khusus untuk Guru: Dorong anggota kelas Anda menggunakan pertanya­
an-pertanyaan ini untuk memikirkan tentang harapan orang Kristen sehu-
bungan dengan kehidupan mereka sendiri dan dunia ini secara keseluruhan.

Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Paulus menekankan satu hal oleh menyebutkan “Injil Kristus” di Roma 1:16,
dan juga kemudian di 1 Korintus 9:16-18. Bagi kebanyakan kita, hanya ada
satu Injil saja, yaitu Injil Yesus Kristus. Tetapi jelas, Paulus berpikir bahwa
ada Injil lainnya, injil-injil tandingan (palsu). Dia membuat hal ini lebih je-
las lagi dalam Galatia 1:6-9. Pada beberapa dekade belakangan ini kita telah
melihat bahwa hal ini memang benar dalam bentuk penemuan “injil-injil”
yang terutama menggunakan Kristus sebagai pendukung beberapa doktrin
atau ide tertentu. Injil-injil palsu apakah yang ada dewasa ini?

¼¼ Telah dikhotbahkan dari mimbar bahwa “Anda tidak perlu menjadi baik un-
tuk diselamatkan, tetapi Anda harus diselamatkan agar menjadi baik.” Se-
tuju atau tidak setujukah Anda? Mengapa? Apakah mungkin untuk menja-
di baik tanpa diselamatkan, dan jika demikian, apakah yang dimaksudkan
dengan “baik” dalam konteks ini?

Pertanyaan-pertanyaan Penerapan:
»» Mengapakah begitu sulit untuk meyakinkan orang pada dewasa ini perihal
keadaan dosa manusia? Mengapakah penerimaan akan Kristus yang menye-
lamatkan itu penting? Bagaimanakah Anda dengan bijaksana menyajikan
konsep ini kepada mereka yang tidak mengerti atau menerima hal ini?

39
¼¼ Apa sajakah bahaya dari satu pandangan yang terlalu tajam tentang dosa-
dosa orang lain? Lihat Roma 2.

LANGKAH 4—Terapkan
Khusus untuk Guru: Pekan ini kita telah pelajari bahwa tak satu pun kita
berkenan di mata Allah tanpa pengantaraan Kristus. Tetapi dalam rahmat-
Nya yang tak terbatas Allah Bapa menerima pengorbanan Kristus yang su-
karela, dan melalui persembahan ini kita diterima seakan-akan kita tidak
pernah berbuat dosa. Tekankan bahwa sama seperti semua orang sama-sa-
ma berdosa karena perbuatan mereka, semua orang juga sama-sama benar
jika mereka menerima pengorbanan Kristus demi kepentingan mereka.

Untuk menekankan tingkatan kekudusan yang kita harus capai agar berke-
nan kepada Allah dengan usaha kita sendiri, lakukan yang berikut ini: Isilah
satu timba dengan air. Beri tanda dengan huruf cetak yang besar “Air Hampir
Murni.” Sediakan beberapa cangkir. Tentu saja mereka cenderung bertanya apa
yang membuat air itu hampir murni dan bukan murni. Katakan bahwa air itu
mengandung 1 persen pestisida, serta sampah kimia yang tak diketahui, tetapi
99 persen terdiri dari air yang paling murni dan sehat. Tanya lagi jika ada yang
mau minum air itu. Kemungkinan mereka tidak mau.
Tanamkan bahwa demikian juga kita hampir baik di hadapan Allah. Sekali-
pun kita 99 persen benar—kemungkinan tidak—kita juga 1 persen racun. Agar
air itu bisa diminum, haruslah disaring atau dimurnikan untuk menyingkirkan
yang kotor. Yesuslah penyaring dan pemurni kita.

40
Pelajaran 4 *17-23 Juli 2010

Dibenarkan Oleh Iman

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 3:19-28.

Ayat Hafalan: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan


karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” (Roma
3:28).

D
alam pelajaran ini kita tiba pada tema dasar kitab Roma: pembenaran
oleh iman. Ini adalah sebuah gambaran berdasarkan hukum. Si pelang-
gar hukum datang menghadap seorang hakim dan dijatuhi hukuman
mati karena pelanggaran-pelanggarannya. Tetapi seorang pengganti muncul
dan menanggung kesalahan si pelanggar itu, dengan demikian membebaskan
si pelanggar, yang—oleh menerima si pengganti itu—berdiri di hadapan hakim
dengan bukan saja dinyatakan tidak bersalah tetapi juga dianggap tidak pernah
melakukan kejahatan yang telah membawa dia ke pengadilan itu. Dan itu terjadi
karena si pengganti—yang mempunyai sebuah catatan sempurna—memberikan
kepada si pelanggar yang telah diampuni itu penurutannya yang sempurna ke-
pada hukum. Dengan demikian, orang yang bersalah berdiri di hadapan hakim
sebagai orang yang tidak pernah melanggar.
Tidak ada yang mengatakan bahwa orang tersebut tidak bersalah. Sebalik-
nya, kesalahannya sudah diketahui. Kabar baiknya adalah apa pun kesalahan-
nya dia telah diampuni.
Dalam rencana keselamatan, masing-masing kita adalah seorang penjahat.
Sang Pengganti, Yesus, mempunyai sebuah catatan hidup yang sempurna, dan
Dia berdiri di pengadilan itu sebagai ganti kita, kebenaran-Nya diterima meng-
gantikan kefasikan kita. Dengan demikian, kita dibenarkan di hadapan Allah,
bukan karena perbuatan-perbuatan kita melainkan karena Yesus, yang kebe-
naran-Nya menjadi kebenaran kita bila kita menerimanya “oleh iman.” Demi-
kianlah artinya istilah “pembenaran oleh iman.” Bagaimana pun masa lalu kita,
bila kita menerima Yesus, kita berdiri di hadapan Allah dalam kebenaran-Nya,
satu-satunya kebenaran yang dapat menyelamatkan kita.
Bicarakan tentang kabar baik! Nyatanya, tidak ada kabar yang lebih baik
daripada itu.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 24.

41
Minggu 18 Juli
Perbuatan-perbuatan Hukum Taurat

Baca Roma 3:19, 20. Apakah yang Paulus katakan tentang hukum Tau-
rat, tentang apa dibuat dan tidak dibuat atau tidak bisa dibuatnya? Me-
ngapakah hal ini sangat penting untuk dipahami semua orang Kristen?
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Paulus sedang menggunakan istilah hukum Taurat dalam arti yang luas se-
bagaimana orang Yahudi di zamannya memahaminya. Membaca istilah Torah
(kata Ibrani untuk “hukum Taurat”), bahkan seorang Yahudi di zaman ini pun
berpikir secara khusus tentang instruksi Allah dalam lima buku Musa dan juga
secara umum seluruh Alkitab Perjanjian Lama. Hukum moral, ditambah dengan
penjabarannya dalam berbagai aturan dan ketetapan, demikian juga ketentuan-
ketentuan upacara, adalah bagian dari instruksi ini. Oleh sebab itu, kita boleh
mengartikan hukum Taurat dalam hal ini sebagai sistem Yudaisme.
Berada di bahwa hukum Taurat artinya berada di bawah wilayah kekuasa-
annya. Namun demikian, hukum Taurat menyatakan kekurangan-kekurangan
dan kesalahan seseorang di hadapan Allah. Hukum itu tidak bisa menghapus-
kan kesalahan; yang bisa dibuatnya adalah menuntun si pendosa untuk men-
cari obat bagi dosanya.
Bila kita terapkan Kitab Roma di zaman kita, di mana hukum Yahudi bukan
lagi sebuah faktor, kita mengartikan hukum Taurat itu sebagai hukum moral. Hu-
kum ini tidak bisa menyelamatkan kita sebagaimana sistem Yudaisme tidak bisa
menyelamatkan orang Yahudi. Menyelamatkan orang berdosa bukanlah fung-
si hukum. Fungsinya adalah untuk menyatakan tabiat Allah dan menunjukkan
pada kita dalam hal apa kita gagal mencerminkan tabiat Allah itu.
Apa pun hukum Taurat itu—moral, upacara, sipil, atau semuanya—pemeli-
haraan pada salah satu ataupun semuanya tidak akan membuat kita seorang yang
benar di pemandangan Allah. Nyatanya, hukum Taurat tidak pernah dimaksud-
kan untuk berfungsi seperti itu. Sebaliknya, hukum Taurat berperan menunjuk-
kan kekurangan-kekurangan kita dan memimpin kita kepada Kristus.
Hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan sama seperti gejala-gejala sebuah
penyakit tidak bisa menyembuhkan penyakit itu. Gejala tidak menyembuhkan
melainkan menunjukkan keperluan akan kesembuhan. Demikianlah peranan
hukum Taurat.

Sudah seberapa berhasilkah usaha Anda dalam memelihara hukum?


Apakah yang seharusnya dikatakan oleh jawaban Anda tentang sia-sianya
berusaha untuk diselamatkan oleh menuruti hukum Taurat?

42
Senin 19 Juli
Iman dan Kebenaran

“Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyata-


kan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi”
(Rm. 3:21). Bagaimanakah pemahaman kita tentang makna ayat ini?

Kebenaran yang baru ini bertentangan dengan kebenaran hukum Taurat, ke-
benaran yang lazim bagi orang Yahudi. Kebenaran yang baru ini disebut “ke-
benaran Allah”; yaitu sebuah kebenaran yang berasal dari Allah, sebuah kebe-
naran yang disediakan Allah, dan satu-satunya yang Dia terima sebagai kebe-
naran sejati.
Tentu saja ini adalah kebenaran yang Yesus hidupkan dalam hidup-Nya se-
bagai seorang manusia, sebuah kebenaran yang Dia tawarkan kepada semua
yang mau menerimanya oleh iman, yang mau memintanya bagi diri mereka,
bukan karena mereka layak mendapatkannya melainkan karena mereka me-
merlukannya.

“Kebenaran adalah penurutan kepada hukum Taurat. Hukum me-


nuntut kebenaran, dan inilah kewajiban utang orang berdosa kepada hu-
kum itu; tetapi ia tidak sanggup untuk melakukannya. Satu-satunya cara
ia bisa mendapatkan kebenaran adalah melalui iman. Oleh iman dia bisa
membawa kepada Allah jasa-jasa Kristus, dan Allah menempatkan penu-
rutan oleh Anak-Nya kepada catatan orang berdosa tersebut. Kebenaran
Kristus diterima sebagai ganti kejatuhan manusia, dan Allah menerima,
mengampuni, serta membenarkan orang yang bertobat, jiwa yang perca-
ya, dan memperlakukannya seakan-akan dia benar adanya, dan menga-
sihinya sebagaimana Dia mengasihi Anak-Nya.”—Ellen G. White, Select-
ed Messages, jilid 1, hlm. 367. Bagaimanakah Anda bisa belajar menerima
kebenaran ajaib ini bagi diri Anda? (Lihat juga Roma 3:22).
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Ayat ini berbicara tentang iman dalam Yesus Kristus. Pada perannya dalam
kehidupan orang Kristen, iman lebih dari sekadar pengakuan dalam pikiran; itu
lebih dari sekadar pengakuan fakta-fakta tertentu tentang kehidupan dan kema-
tian Kristus. Sebaliknya, iman yang sejati dalam Yesus Kristus adalah menerima
Dia menjadi Juruselamat, Pengganti, Kepastian, dan Tuhan. Itu artinya memilih
jalan hidup-Nya. Itu berarti percaya pada-Nya dan oleh iman berusaha untuk
hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya.

43
Selasa 20 Juli
Kasih Karunia dan Pembenaran

Mengingat apa yang sudah kita pelajari sejauh ini tentang hukum Tau-
rat dan apa yang tak dapat dilakukannya, baca Roma 3:24. Apakah yang
Paulus katakan di sini? Apakah artinya bahwa penebusan itu ada dalam
Yesus?

Apakah yang dimaksud dengan “dibenarkan” dalam ayat di atas? Kata Yu-
nani dikaio, yang diterjemahkan “membenarkan,” bisa berarti “membuat be-
nar,” “menyatakan benar” atau “menganggap benar.” Kata itu terbentuk dari
akar yang sama dengan kata dikaiosun, “kebenaran,” dan juga kata dikaioma,
“tuntutan yang benar.” Jadi, ada kaitan erat antara “pembenaran” dan “kebenar-
an,” sebuah kaitan yang sering tidak tampak dalam berbagai versi terjemahan.
Kita dibenarkan pada saat kita “dinyatakan benar” oleh Allah.
Sebelum pembenaran ini, seorang masih tidak benar, dan dengan demikian
tidak berkenan kepada Allah; setelah pembenaran, orang tersebut dianggap be-
nar, dan berkenanlah dia kepada Allah.
Hal ini terjadi hanya melalui kasih karunia Allah. Kasih karunia berarti
perkenanan. Bila seorang berdosa berbalik kepada Allah memohon keselamat-
an, adalah pekerjaan kasih karunia untuk menganggap atau menyatakan orang
tersebut benar. Itu sebuah belas kasihan tanpa mengandalkan jasa, dan orang
yang percaya dibenarkan tanpa jasanya sendiri, tanpa satu pun yang bisa di-
hadapkan pada Allah demi orang tersebut kecuali ketidakberdayaannya yang
mutlak. Orang tersebut dibenarkan melalui penebusan yang ada dalam Kristus
Yesus, penebusan yang Yesus berikan sebagai pengganti serta kepastian bagi
orang berdosa itu.
Pembenaran dijelaskan dalam Kitab Roma sebagai sebuah tindakan sesaat;
artinya, hal itu terjadi pada satu titik waktu. Suatu saat orang berdosa itu bera-
da di luar, tidak benar, dan tidak berkenan; saat berikutnya, setelah pembenar-
an, orang tersebut berada di dalam, berkenan, dan benar.
Orang yang ada dalam Kristus melihat pada pembenaran sebagai sebuah tin-
dakan masa lalu, yang terjadi pada saat dia menyerahkan diri sepenuhnya kepada
Kristus. “Dibenarkan” (Roma 5:1), secara harfiah berarti “telah dibenarkan.”
Tentu saja, jika orang berdosa yang telah dibenarkan itu jatuh dan kemu-
dian kembali lagi pada Kristus, pembenaran terjadi lagi. Juga, jika pertobatan
kembali dianggap sebagai sebuah pengalaman setiap hari, dalam pengertian ini
pembenaran bisa dianggap sebuah pengalaman yang berulang-ulang.

Sekalipun kabar baik keselamatan itu begitu indah, mengapa sampai


ada orang yang tetap tidak mau menerimanya? Dalam hidup Anda, hal
apa sajakah yang mencegah Anda menerima segala sesuatu yang Allah te-
lah janjikan dan tawarkan bagi Anda?

44
Rabu 21 Juli
“Kebenaran-Nya”

Dalam Roma 3:25, Paulus menjelaskan lebih jauh tentang kabar akbar ke-
selamatan. Dia menggunakan sebuah istilah menarik, propisiasi (jalan penda-
maian). Kata Yunani untuk itu, hilasterion, terdapat di Perjanjian Baru hanya
di ayat ini dan di Ibrani 9:5, diterjemahkan sebagai tutup pendamaian. Sebagai-
mana digunakan Roma 3:25 untuk menjelaskan pemberian pembenaran dan pe-
nebusan melalui Kristus, propisiasi tampaknya menggambarkan penggenapan
segala sesuatu yang dilambangkan oleh tutup pendamaian di bait suci Perjan-
jian Lama. Yang dimaksudkan di sini adalah oleh kematian pengorbanan-Nya,
Yesus telah ditetapkan sebagai sarana keselamatan dan ditampilkan sebagai Dia
yang menyediakan propisiasi tersebut. Singkatnya, hal ini berarti Allah telah
melakukan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan kita.
Ayat di atas juga berbicara tentang “remisi dosa-dosa” [KJV]. Dosa-dosa
kitalah yang membuat kita tidak berkenan kepada Allah. Tidak ada yang dapat
kita lakukan untuk membatalkan dosa-dosa kita. Tetapi dalam rencana pene-
busan, Allah telah menyediakan sebuah jalan agar dosa-dosa tersebut bisa men-
dapat remisi melalui iman dalam darah Yesus.
Remisi dalam Bahasa Yunani adalah paresis, yang secara harfiah berarti “me-
lewatkan” atau “melalukan.” “Melewatkan” sama sekali tidak berarti melalaikan
dosa-dosa. Allah dapat melewatkan dosa-dosa di masa lalu, karena melalui kematian-
Nya, Yesus telah membayar hukuman bagi semua dosa manusia. Dengan demikian,
siapa saja yang mempunyai “iman dalam darah-Nya” bisa mendapatkan pengam-
punan dosa-dosanya, karena Kristus telah mati bagi mereka (1 Kor. 15:3).

Baca Roma 3:26, 27. Apakah yang Paulus katakan di sini?

Kabar baik yang Paulus rindu bagikan dengan semua yang mau mendengar
adalah bahwa ada tersedia bagi manusia “kebenaran-Nya [kebenaran Allah],”
dan bahwa itu diberikan pada kita bukan oleh usaha, bukan oleh jasa kita, me-
lainkan oleh iman dalam Yesus dan apa yang sudah diperbuat-Nya bagi kita.
Oleh karena salib Golgota, orang berdosa dapat dinyatakan benar oleh Allah
dan dianggap adil dan benar di mata alam semesta. Setan tidak bisa lagi meng-
acungkan jari dakwaannya kepada Allah, karena Surga telah membuat sebuah
pengorbanan tertinggi. Tadinya Setan telah menuduh Allah menuntut manusia
lebih daripada yang Dia rela berikan. Namun Salib mematahkan dakwaan ini.
Setan berharap Allah membinasakan dunia ini setelah menjadi berdo-
sa; gantinya, Allah telah mengutus Yesus untuk menyelamatkannya. Apa-
kah yang hal ini katakan tentang tabiat Allah? Bagaimanakah pengetahu-
an kita tentang tabiat-Nya mempengaruhi hidup kita? Apakah perubahan
yang akan Anda buat dalam waktu 24 jam ini yang berkaitan langsung de-
ngan hasil pengetahuan Anda tentang tabiat Allah?

45
Kamis 22 Juli

Iman dan Perbuatan

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bu-
kan karena ia melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28). Apakah ini berarti
kita tidak diwajibkan untuk menurut hukum, sekalipun itu tidak menye-
lamatkan kita? Jelaskan jawaban Anda.
Dalam konteks sejarahnya, Paulus sedang berbicara dalam Roma 3:28 ten-
tang hukum dalam arti yang luas, yakni sistem Yudaisme. Sesadar apa pun se-
orang Yahudi berusaha hidup di bawah sistem ini, jika dia gagal menerima Ye-
sus sebagai Mesias, orang itu tidak bisa dibenarkan.
Ayat ini adalah kesimpulan Paulus dari pernyataannya bahwa hukum iman
mengesampingkan sifat bermegah. Jika seorang dibenarkan oleh perbuatannya
sendiri, tentu dia bisa bermegah atasnya. Tetapi jika ia dibenarkan oleh karena
Yesus adalah sasaran imannya, maka sudah jelas pujian itu milik Allah, yang
telah membenarkan orang berdosa.
Ellen G. White memberikan jawaban menarik kepada pertanyaan: “Apakah
pembenaran oleh iman?” Dia menuliskan: “Itu adalah pekerjaan Allah dalam
menguburkan kemuliaan manusia dalam debu, dan melakukan untuk manusia
apa yang oleh kuat daya upayanya tidak bisa ia lakukan bagi dirinya sendiri.”—
Ellen G. White, Testimonies to Ministers and Gospel Workers, hlm. 456.
Perbuatan-perbuatan hukum Taurat tidak bisa menebus dosa-dosa masa lalu.
Pembenaran tidak bisa diusahakan. Itu hanya bisa diterima oleh iman dalam kor-
ban pendamaian Kristus. Dengan demikian, dalam hal ini, perbuatan-perbuatan
hukum tidak bisa mengusahakan pembenaran. Dibenarkan tanpa usaha artinya
dibenarkan tanpa apa pun dalam diri kita yang melayakkan pembenaran.
Tetapi banyak orang Kristen telah salah kaprah dan salah menerapkan ayat ini.
Mereka berkata bahwa semua yang seseorang harus lakukan hanyalah percaya, na-
mun merendahkan perbuatan atau penurutan, bahkan penurutan terhadap hukum
moral. Oleh berlaku seperti itu, mereka salah mengerti Paulus sama sekali. Dalam
Kitab Roma, dan di kitab mana saja, Paulus menekankan pentingnya memelihara
hukum moral. Demikian juga Yesus sendiri, sebagaimana halnya Yakobus dan Yo-
hanes (Mat. 19:17; Rm. 2:13; Yak. 2:10, 11; Why. 14:12). Inti ajaran Paulus ada-
lah, sekalipun penurutan pada hukum bukanlah sarana pembenaran, orang yang
dibenarkan oleh iman tetap memelihara hukum Allah, dan itulah satu-satunya cara
orang tersebut dapat memelihara hukum. Orang yang tidak lahir kembali yang be-
lum dibenarkan tidak akan pernah bisa memenuhi kewajiban hukum tersebut.
Mengapakah begitu mudah terperangkap dalam jerat pemikiran bah-
wa karena hukum tidak menyelamatkan kita, kita tidak perlu risau untuk
memeliharanya? Pernahkah Anda memaafkan perbuatan dosa atas nama
pembenaran oleh iman? Mengapa itu sebuah pendapat yang sangat berba-
haya? Sementara itu, seperti apakah jadinya kita tanpa janji keselamatan
itu, atau bahkan di saat kita tergoda untuk melecehkannya?
46
Jumat 23 Juli
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “The Righteousness of Christ
in the Law,” hlm. 236–239; “Come and Seek and Find,” hlm. 331–335; “Perfect
Obedience Through Christ,” hlm. 373, 374, dalam Selected Messages, jld. 1; "Yang
Baru dan Yang Lama," hlm. 91-99, dalam Membina Kehidupan Abadi.
“Tabiat Kristus menggantikan tempat tabiat Anda, maka Anda berkenan di
hadapan Allah seakan-akan Anda tidak pernah berbuat dosa.” —Ellen G. White,
Steps to Christ, hlm. 62.
“Kasih karunia adalah sebuah pemberian bukan karena jasa. Para malaikat,
yang tidak tahu menahu tentang dosa, tidak mengerti apa artinya pemberlakuan
kasih karunia terhadap mereka; tetapi keberdosaan kita membutuhkan pember-
lakuan kasih karunia dari Allah yang Mahamurah.—Ellen G. White, Selected Mes-
sages, jld. 1, hlm. 331, 332.
“Iman adalah sebuah kondisi di mana Allah dipandang mampu menjanjikan
pengampunan bagi orang berdosa; bukan karena ada jasa dalam iman di mana
keselamatan diberikan, melainkan karena iman dapat berpegang pada jasa-jasa
Kristus, penawar yang disediakan bagi dosa. Iman dapat menghadapkan penurut-
an Kristus yang sempurna sebagai ganti pelanggaran dan kekurangan orang ber-
dosa. Pada saat seorang berdosa percaya bahwa Kristus adalah Juruselamatnya
pribadi, maka, sesuai janji-janji-Nya yang tak pernah gagal, Allah mengampuni
dosanya, dan membenarkan dia secara cuma-cuma. Jiwa yang bertobat menya-
dari bahwa pembenarannya terjadi karena Kristus, sebagai pengganti dan jamin-
annya, telah mati bagi dia, dan menjadi pendamaian dan kebenarannya.”—Ellen
G. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 366, 367.
“Sekalipun hukum tidak bisa membatalkan hukuman karena dosa bahkan se-
baliknya menuntut orang berdosa atas segala utangnya, Kristus telah menjanji-
kan ampunan yang limpah kepada semua orang yang bertobat serta percaya pada
rahmat-Nya. Kasih Allah diberikan secara limpah kepada jiwa yang bertobat dan
percaya. Cap dosa pada orang tersebut dapat dihilangkan hanya melalui darah
Korban pendamaian itu... yaitu Dia yang setara dengan Bapa. Pekerjaan Kristus—
hidup, kehinaan, kematian, dan pengantaraan-Nya bagi manusia yang binasa—
mengagungkan hukum dan membuatnya dihormati.”—Ellen G. White, Selected
Messages, jilid, hlm. 371.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:
nn Baca kembali ayat-ayat untuk pekan ini dan dengan kata-katamu sendi-
ri, tuliskan sebuah alinea merangkum apa yang dikatakan ayat-ayat itu.
Bagikan tulisan Anda itu satu sama lain di kelas.
oo Pikirkan tentang harga penyelamatan kita: kematian Anak Allah. Apa-
kah yang dikatakan kenyataan itu tentang betapa buruknya dosa? Na-
mun demikian, jika kita berhenti berbuat dosa dan tidak pernah mela-
kukannya lagi, mengapa itu belum cukup untuk membuat kita benar di
hadapan Allah? Bagaimanakah kenyataan ini membantu kita termotivasi
melawan pencobaan untuk berbuat dosa?
pp Oleh cara-cara apakah seorang dapat tergoda untuk melecehkan kabar
ajaib tentang keselamatan ini? Ke dalam jerat apakah seorang yang ter-
tambat dalam pemikiran seperti ini sedang terperosok? (Lihat 2 Petrus
3:16, 1 Yohanes 3:7).

47
Penuntun guru 4
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 3:28.

Anggota Kelas akan:


¾¾ Mengetahui: Membedakan peran hukum dan peran iman dalam pembe-
naran.
¾¾ Merasakan: Mengakui tubir-tubir yang dalam ke mana Allah datang untuk
memikul pada diri-Nya akibat-akibat dosa kita.
¾¾ Melakukan: Menerima kematian Kristus bagi kita, yang membuat kita
benar di hadapan Allah.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Hukum dan Kasih
A. Bagaimanakah hukum menciptakan bagi kita satu gambaran tentang
kesempurnaan Allah? Mengapakah kesempurnaan itu hanya bisa di-
dapatkan melalui iman pada Kristus?
B. Jelaskan bagaimana kematian Kristus adalah sebuah pengakuan
akan tuntutan-tuntutan yang besar dari hukum sebagai sesuatu yang
menjadi utang kita tetapi tak bisa dibayar dan bagaimana Allah me-
nawarkan untuk menerima kehidupan dan kematian Kristus untuk
membayar utang itu.
C. Bagaimanakah seharusnya kita menghubungkan hukum Allah dan
kasih Allah sebagaimana digambarkan oleh Salib?
II. Merasakan: Dasar-dasar Hukum dan Kasih
A. Bagaimanakah Raja alam semesta sanggup menegakkan dasar-dasar
alam semesta dan pada saat yang sama mengulurkan kasih, peng-
harapan, dan rahmat bagi mereka yang berbeda pendapat dalam hal
prinsip-prinsip penting itu?
B. Dalam hal apa sajakah hati harus terentang saat Anda mencoba me-
nyerap tinggi dan dalamnya jangkauan Allah?
III. Melakukan: Sambutan Kita
Bagaimanakah seharusnya sambutan kita setiap hari saat kita mema-
hami tuntutan-tuntutan yang benar dari hukum Allah serta ketergan-
tungan kita pada Kristus sebagai kebenaran kita?
Rangkuman: Hukum Allah itu sempurna, dan manusia tidak pernah
dapat menjangkau standar ini; tetapi bila kita menerima kebenaran Kris-
tus, yang diberikan sebagai ganti ketidaksempurnaan kita, Allah mem-
perhitungkan kita benar.

48
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama bagi Pertumbuhan Rohani: Allah akan menggunakan segala sa-
rana dalam kuasa-Nya untuk membawa kita kembali ke dalam keluarga-Nya.

Khusus untuk Guru: Dalam pelajaran pekan ini kita membahas dan men-
dalami iman sebagai satu-satunya sarana kita untuk rekonsiliasi dengan
Allah.

Kita semua adalah penjahat residivis. Kita bahkan tidak bisa mengingat
kapan kita mulai melakukan kejahatan. Hal itu terjadi secara alami. Lagipula,
kita bertumbuh bersama dengan para penjahat lainnya, beberapa di antaranya
mengajar kita—secara sengaja ataupun tidak—bagaimana melakukan kejahat-
an yang lebih banyak dengan lebih baik.
Kita mengetahui perbedaan antara benar dan salah, jadi kita tidak bisa me-
ngatakan kita sakit jiwa. Semua kejahatan kita diketahui sang hakim, dan su-
dah jelas kita tidak ada status tak bersalah sampai kita terbukti bersalah, karena
toh semua orang tahu bahwa kita bersalah. Penyesalan tak menolong kita. Kita
menghadapi hukuman seumur hidup yang berturut-turut yang bisa dilampaui
hanya oleh hukuman mati yang terus-menerus.
Tidak ada harapan. Tidak ada pengacara yang cukup handal untuk membe-
baskan Anda, atau sekadar mengurangi hukuman Anda. Tetapi tunggu! Di sini
tampil seorang yang Anda sudah pernah dengar. Bagaimanakah Anda menggam-
barkannya? Dia adalah sebuah kombinasi sifat-sifat yang terbaik dari Gandhi,
Ibu Teresa, Mozart, dan Stephen Hawking, namun lebih baik lagi. Dia adalah
calon terbaik menerima banyak hadiah Nobel; tetapi gantinya, dia memutus-
kan untuk datang ke pengadilan Anda. Singkat cerita, dia menerima hukuman
yang sepatutnya menjadi bagian Anda dan memberi Anda hormat yang sepa-
tutnya menjadi bagian-Nya. Di manakah Anda dapati ini di buku hukum mana
pun? Tiba-tiba Anda sudah dalam perjalanan menuju Stockholm, dan dia da-
lam perjalanan menuju tempat hukuman. Apakah yang Anda rasakan dengan
gambaran ini?

Pertimbangkan: Sebagai manusia kita mempunyai satu kesulitan untuk


mengampuni orang lain. Bagaimanakah seharusnya kita menyambut tin-
dakan pengampunan Allah yang luar biasa?

LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab
I. Dosa: Ditutupi atau Dihapuskan? (Baca kembali dengan anggota kelas
Anda, Kejadian 3, Amsal 28:13, Roma 3:25, Ibrani 9:5, Keluaran 25:18-21).

49
Sebaik dan sebenar apa pun kita, hidup kita penuh dosa. Kita tahu kebenar-
an, dan sambutan alami kita adalah untuk menutupi dosa kita. Reaksi ini meng-
ulang kembali yang di Taman Eden, ketika Adam dan Hawa menyadari bahwa
mereka telanjang dan membuat jubah dari dedaunan (Kej. 3:7). Dalam hal ter-
tentu, sambutan ini sangat masuk akal. Dosa kita memisahkan kita dari Allah
serta bagian-bagian terbaik dari diri kita. Hal ini perlu ditutupi, sehingga kita
dapat berhubungan dengan Allah yang suci dan menemukan menjadi orang se-
perti apakah kita yang dikehendaki Allah. Tetapi dapatkah kita melakukan hal
ini dengan diri kita sendiri?
Amsal 28:13 berkata bahwa “Siapa menyembunyikan pelanggarannya ti-
dak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan di-
sayangi.” Dengan kata lain, kita tidak dapat menutupi dosa-dosa kita sendiri
dan berharap semua itu akan tetap tertutup. Apakah yang terjadi bila kita men-
coba menutupi sendiri sifat alami kita yang berdosa? Pertama, motif-motif kita
tidak suci; pada saat kita menyembunyikan dosa-dosa kita, sering kita dimoti-
vasi oleh keinginan untuk tampak baik di mata orang lain. Allah tidak bisa di-
bodohi, dan di lubuk hati kita, kita mengetahui ini.
Kedua, menutupi dosa kita tidak tak ada gunanya. Lambat atau cepat, diri
dosa yang sebenarnya akan muncul di sekeliling topeng kita. Ingatlah jubah
daun yang dibuat Adam dan Hawa. Apakah yang terjadi pada dedaunan begitu
Anda memetiknya dari pohonnya? Mereka akan menjadi kering, dan di situlah
Anda, masih telanjang dengan jubah tersebut.
Allah mau menyembunyikan sedapat mungkin dosa Anda seperti yang Anda
mau—bahkan lebih lagi. Dia bukan saja mau menyembunyikannya; Dia mau
menghapuskannya. Hanya Dia saja yang dapat melakukannya dengan berha-
sil. Baca kembali Kejadian 3. Ketika Allah menemukan Adam dan Hawa dan
menjelaskan apa yang telah terjadi, Dia membuat jubah dari kulit hewan untuk
menutupi ketelanjangan mereka. Apakah perbedaan antara jubah mereka dan ju-
bah Allah? Itulah perbedaan antara daun dan kulit. Dan itulah perbedaan antara
kegagalan dan pengampunan. Dalam konteks ini penting untuk dicatat bahwa
istilah pendamaian atau propisiasi dalam kebanyakan terjemahan Bahasa Ing-
gris untuk Ibrani 9:5 dihubungkan dengan tutup pendamaian pada peti perjan-
jian. Tutup ini sebenarnya bukan “sebuah kursi” seperti yang kita bayangkan,
melainkan sebuah lempengan yang menutupi peti perjanjian. Di atas lempeng-
an ini ada dua kerub dengan sayap yang membentang. Pada tutup pendamai-
an itu dosa-dosa kita dihapuskan dan dimusnahkan dari pemandangan Allah.
Kata-katanya dalam Bahasa Ibrani lebih dekat maknanya pada penutupan itu
sendiri daripada pada tindakan hukum untuk pendamaian. Kita mau dosa-dosa
kita tidak kelihatan. Hanya Allah, melalui pekerjaan Anak-Nya Yesus Kristus,
yang dapat memusnahkannya.

Pertimbangkan: Apakah Anda percaya Allah menutupi dan menghapus-


kan dosa-dosa Anda, atau apakah Anda masih berusaha untuk melakukan-
nya sendiri? Bila masih, apakah yang membuat Anda berhenti memohon
pengampunan dan belas kasihan Allah?

50
II. Dibenarkan oleh Iman (Baca dengan anggota kelas Anda Roma 3:28).
Allah mau mengampuni, menutupi dan menghapuskan dosa-dosa kita, dan
kita mau agar dosa-dosa kita diampuni, ditutupi serta dihapuskan. Bagaimana-
kah kita, yang tidak suci serta najis ini, dapat menghampiri Allah yang bertolak
belakang dengan semua keadaan kita ini?
Sekali lagi, mari kita lihat gagasan tentang iman. Dalam keadaan kita seka-
rang ini, kita tidak dapat secara tepat mengerti Allah jika kita terus berada da-
lam keadaan kita. Jadi Allah memberikan kepada kita secara cuma-cuma sarana
komunikasi dengan Dia. Sarana ini disebut iman. Iman bukan sekadar keper-
cayaan. Dalam konteks Kristen, iman mencakup kepasrahan. Bersandar pada
Allah sebagai satu pribadi. Percaya bahwa Allah itu nyata dan Dia sedang be-
kerja demi kepentingan kita.
Iman bukan sekadar sebuah emosi. Kita tidak selalu merasakan kehadir-
an Allah, atau juga merasakan “setia” atau penuh iman. Setiap manusia sela-
lu mempunyai saat-saat ragu, saat-saat di mana dia sedang berjalan dan tiba-
tiba bertanya, “Apakah ini sungguh-sungguh? Atau apakah saya hanya sedang
membodohi diri saya?” Iman juga bukan sesuatu yang dapat dipahami dengan
logika. Ia melebihi logika, emosi, dan segala kategori manusia lainnya, karena
iman berasal dari Allah.
Pada saat Allah memberikan kita iman, kita dapat menyadari dan mening-
galkan kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia. Kita dapat bersandar pada
Allah untuk menghapuskan dosa-dosa kita dan mengetahui bahwa Dia telah me-
lakukannya dengan cara yang melebihi pengetahuan dan pengertian kita. Sete-
lah itu, kita menerima kuasa untuk menjadi satu umat yang Allah inginkan dan
melakukan perkara-perkara yang dilakukan oleh umat tersebut.

Pertimbangkan: Bagaimanakah iman kita mengubah cara kita menjalani


hidup kita dalam cara-cara yang nyata dan dapat diamati?

LANGKAH 3—Praktikkan
Khusus untuk Guru: Tekankan pada anggota kelas bahwa kita diselamat-
kan bukan atas dasar kebaikan kita melainkan oleh kasih karunia dan keba-
ikan Allah yang menyelamatkan.

Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Apakah kesetaraan, jika ada, bagi substitusi Kristus bagi kita dalam hu-
kum atau keadilan manusia? Apakah yang hal ini katakan pada kita tentang
bagaimana hukum Allah itu sangat lebih tinggi daripada hukum manusia?
Apakah makna hal ini sehubungan dengan tujuan hukum Allah dibanding-
kan dengan hukum manusia, yang lebih berpusat terutama pada disiplin
dan hukuman?

¼¼ Dalam hal apa sajakah kebenaran hukum dan kebenaran Allah itu identik
atau saling melengkapi?

51
½½ Bagaimanakah manusia diselamatkan sebelum Yesus datang ke bumi untuk
hidup dan mati? Jika mereka diselamatkan dengan cara yang sama, menu-
rut Anda apakah mereka memahami konsep keselamatan seperti yang kita
pahami? Mengapa? Demikian juga, hal apa sajakah tentang keselamatan
yang mungkin kita tidak pahami sekarang tetapi akan lebih memahaminya
kemudian?

Pertanyaan-pertanyaan Penerapan:
»» Secara konsep, pada umumnya kita dapat menerima bahwa dosa adalah dosa
dan tidak ada seorang berdosa pun yang lebih baik daripada yang lainnya.
Namun di sisi lain, kebanyakan kita lebih suka hidup dekat dengan seorang
munafik atau penggosip ketimbang dengan seorang pembunuh massal. Ma-
syarakat juga menghina atau menghukum beberapa dosa lebih daripada dosa
lainnya. Jadi, dalam pengertian seperti ini, apakah semua dosa sama?

¼¼ Pengorbanan Kristus meniadakan tuntutan hukum dosa-dosa kita, tetapi kita


sering menghadapi keadaan-keadaan yang berakar dari tindakan-tindakan
di masa lalu. Bagaimanakah kita bisa menjadikan perkenanan Allah pada
kita nyata dalam hidup kita?

½½ Hanya melalui pengorbanan dan substitusi Kristus bagi kita maka kita dapat
memelihara hukum. Bagaimanakah itu dan mengapa? Apakah karena kita
mempunyai lebih banyak motivasi? Apakah kita mempunyai akses kepada
kuasa supra alami yang kita tidak miliki sebelumnya? Jelaskan.

LANGKAH 4—Terapkan
Khusus untuk Guru: Pekan ini kita telah mempelajari bahwa sekalipun
kita tidak layak untuk keselamatan, Allah telah menyediakannya bagi kita.
Mengapakah kita masih suka hidup seperti biasanya?

Satu konsep utama dalam pelajaran ini adalah konsep korban pengganti
(substitusi). Catatan ketaatan Kristus yang sempurna kepada hukum menggan-
tikan catatan ketidaktaatan kita, penurutan yang serampangan, atau penurutan
dengan motif yang salah. Sebaliknya, kita boleh menggantikan kebenaran kita
yang semu itu dengan kebenaran yang datang hanya dari Allah.
Untuk menggambarkannya, tekankan konsep substitusi. Di dalam dunia
kita, ada berbagai jenis pengganti untuk segala hal, yang lain lebih bagus, yang
lainnya kurang bagus dibanding dengan yang asli. Beberapa contoh jenis yang
menguntungkan: madu ganti gula, kedelai ganti daging, dsb. Yang lain berba-
haya: skandal susu di Asia, contohnya, di mana pabrik-pabrik menggantikan
protein dalam produk hewan dengan melamine, yang menyebabkan penyakit
dan kematian. Tanyakan contoh lainnya pada anggota kelas. Bersedialah untuk
menarik pelajaran-pelajaran rohaninya.

52
Pelajaran 5 *24-30 Juli 2010

Pembenaran dan Hukum

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Kejadian 15:6; 2 Samuel 11,
12; Roma 3:20-23, 31; 4:1-17; Galatia 3:19; 1 Yohanes 3:4.

Ayat Hafalan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum


Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguh-
kannya” (Roma 3:31).

D
alam banyak hal, Roma 4 menyediakan dasar ajaran Alkitabiah tentang
keselamatan hanya oleh iman. Oleh menggunakan Abraham—teladan
kesucian dan kebajikan—sebagai sebuah contoh seorang yang butuh
diselamatkan oleh kasih karunia tanpa perbuatan hukum Taurat, Paulus tidak
memberikan ruang bagi para pembacanya untuk salah mengerti. Bila perbuatan-
perbuatan orang terbaik serta penurutannya kepada hukum tidak cukup untuk
membenarkan dia di hadapan Allah, harapan apakah lagi yang dimiliki orang
lain? Jika bagi Abraham pun harus oleh kasih karunia, sama halnya bagi yang
lain pun, baik orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain.
Dalam Roma 4, Paulus menyatakan tiga tahap utama dalam rencana kese-
lamatan: (1) janji berkat Ilahi (janji kasih karunia); (2) sambutan manusia pada
janji itu (respons iman); dan terakhir, (3) pernyataan benar yang diperhitung-
kan bagi mereka yang percaya (pembenaran). Begitulah yang terjadi dengan
Abraham, dan begitulah yang terjadi dengan kita.
Penting untuk diingat bahwa bagi Paulus, keselamatan adalah oleh kasih
karunia; itu adalah sesuatu yang diberikan kepada kita, betapapun kita tidak
layak. Jika kita layak mendapatkannya, maka itu adalah piutang kita, dan jika
itu adalah piutang kita, itu adalah sebuah pembayaran utang dan bukan sebu-
ah pemberian.
Untuk membuktikan pokok ajarannya tentang keselamatan hanya oleh iman,
Paulus menyinggung kembali Kitab Kejadian, mengutip Kejadian 15:6—“Lalu
percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran.” Di sini pembenaran oleh iman disebutkan da-
lam halaman-halaman pertama Alkitab.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Juli 31.

53
Minggu 25 Juli
Hukum Diteguhkan

Baca Roma 3:31. Apakah maksud Paulus di sini? Mengapa hal ini pen-
ting bagi kita sebagai orang Advent?

Dalam ayat ini, Paulus menyatakan dengan tegas bahwa iman tidak memba-
talkan hukum Allah. Bahkan mereka yang memelihara hukum, sekalipun selu-
ruh kumpulan hukum di Perjanjian Lama, tidak pernah diselamatkan olehnya.
Agama Perjanjian Lama, sebagaimana juga Perjanjian Baru, selalu bertumpu
pada kasih karunia Allah yang diberikan kepada orang berdosa oleh iman.

Baca Roma 4:1-8. Bagaimanakah ditunjukkan oleh ayat ini bahwa se-
kalipun dalam Perjanjian Lama, keselamatan adalah oleh iman dan bu-
kan oleh melakukan hukum Taurat?

Berdasarkan cerita Perjanjian Lama ini, Abraham diperhitungkan benar ka-


rena dia “percaya pada Allah.” Jadi, Perjanjian Lama sendiri mengajarkan ke-
benaran oleh iman. Dengan demikian, kesan bahwa iman “membatalkan” (kata
Yunani, katargeo, “menjadikan tak berguna,” “membatalkan keabsahan”) hu-
kum adalah salah; keselamatan oleh iman benar-benar bagian dari Perjanjian
Lama. Kasih karunia diajarkan di seluruh Perjanjian Lama. Contohnya, apakah
keseluruhan tatacara bait suci itu jika bukan sebuah lambang bagaimana orang
berdosa diselamatkan, bukan oleh usaha mereka sendiri melainkan oleh kema-
tian seorang pengganti yang menggantikan tempat mereka?
Juga, apa lagi yang dapat menerangkan bagaimana Daud diampuni setelah
perselingkuhan kotornya dengan Batsyeba? Tentu saja bukan penurutan pada
hukum yang telah menyelamatkan dia, karena dia telah melanggar begitu ba-
nyak prinsip hukum yang dengan sendirinya menghukum dia atas banyak per-
kara. Jika memang Daud bisa diselamatkan oleh hukum, maka sudah tentu dia
tidak akan diselamatkan sama sekali.
Paulus menampilkan pemulihan Daud kepada perkenanan Ilahi sebagai se-
buah contoh pembenaran oleh iman. Pengampunan adalah sebuah tindakan ka-
sih karunia Allah. Maka ini adalah sebuah contoh lagi dari Perjanjian Lama pe-
rihal kebenaran oleh iman. Sebenarnya, betapapun orang Israel menjadi legal-
istik, agama Yahudi selalu merupakan sebuah agama kasih karunia. Legalis­me
adalah sebuah penyimpangan, bukan dasar dari agama tersebut.

Renungkan beberapa saat dosa Daud dan pemulihannya (2 Samuel 11,


12; Mazmur 51). Harapan apakah yang bisa Anda peroleh bagi diri Anda
dari kisah sedih itu? Apakah di dalamnya ada pelajaran bagaimana seha-
rusnya di dalam jemaat kita memperlakukan mereka yang telah jatuh?

54
Senin 26 Juli
Kasih Karunia atau Utang

Masalah yang Paulus sedang perbincangkan di sini lebih dari sekadar teolo-
gi. Hal ini terkait langsung dengan inti keselamatan dan hubungan kita dengan
Allah. Jika seorang percaya bahwa dia harus mengusahakan perkenanan Allah,
bahwa dia harus mencapai satu standar kesucian tertentu sebelum dibenarkan
dan diampuni, maka dengan sendirinya ia akan melihat ke dalam dirinya dan
perbuatan-perbuatannya. Agama bisa menjadi sangat berpusat pada diri, satu-
satunya yang dibutuhkan hanyalah diri sendiri.
Sebaliknya, jika seorang mengerti kabar baik bahwa pembenaran adalah se-
buah pemberian dari Allah, sama sekali tidak pantas dan tidak layak, betapakah
lebih mudah dan lebih cenderung orang tersebut mengalihkan fokusnya pada
kasih dan rahmat Allah gantinya pada diri sendiri?
Dan pada akhirnya, siapakah yang lebih cenderung mencerminkan kasih
dan tabiat Allah—orang yang berpusat pada diri ataukah orang yang berpusat
pada Allah?

Baca Roma 4:6-8. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus mengembang-


kan tema pembenaran oleh iman?

“Orang berdosa harus datang dalam iman kepada Kristus, mengandalkan


jasa-jasa-Nya, meletakkan dosa-dosanya pada Sang Penanggung dosa, dan me-
nerima pengampunan-Nya. Untuk alasan inilah Kristus telah datang ke dunia
ini. Dengan demikian kebenaran Kristus ditanamkan pada orang yang bertobat,
orang berdosa yang percaya. Dia pun menjadi anggota keluarga kerajaan.”—
Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 215.
Kemudian Paulus melanjutkan dengan menerangkan bahwa keselamatan oleh
iman bukan saja bagi orang Yahudi tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain (Roma
4:9-12). Kenyataannya, kalau Anda mau cermati, Abraham bukanlah seorang
Yahudi; dia berasal dari keturunan orang kafir (Yos. 24:2). Perbedaan antara
bangsa lain dan Yahudi tidak ada pada zamannya. Pada saat Abraham dibenar-
kan (Kej. 15:6), dia bahkan belum disunat. Dengan demikian, Abraham adalah
bapa baik bagi orang yang tak bersunat maupun juga yang bersunat, sekaligus
menjadi satu contoh besar yang Paulus gunakan untuk menekankan ajarannya
tentang keselamatan yang universal. Kematian Kristus adalah bagi setiap orang,
apa pun ras atau bangsanya (Ibrani 2:9).

Menyadari khasiat Salib yang universal, mengetahui apa yang Salib nya-
takan tentang nilai setiap umat manusia, mengapa prasangka dalam hal ras,
suku, dan bangsa merupakan hal yang mengerikan? Bagaimanakah kita bisa
belajar mengakui adanya prasangka buruk dalam diri kita, dan melalui ka-
sih karunia Allah membersihkan prasangka itu dari pikiran kita?

55
Selasa 27 Juli
Janji dan Hukum Taurat

“Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abra-
ham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena ke-
benaran, berdasarkan iman” (Roma 4:13).

Dalam ayat ini, “janji” dan “hukum Taurat” dibedakan. Paulus berusaha me-
letakkan dasar dari Perjanjian Lama bagi ajarannya tentang kebenaran oleh iman.
Dia menemukan satu contoh pada Abraham, sosok yang diterima kalangan Yahudi
sebagai nenek moyang mereka. Perkenanan atau pembenaran diterima Abraham
terlepas dari hukum Taurat. Allah mengikat sebuah janji dengan Abraham bahwa
dia akan “memiliki dunia.” Abraham percaya janji tersebut; dengan kata lain, dia
menerima peran yang terkandung dalam janji itu. Hasilnya, Allah berkenan atas
dirinya dan bekerja melalui dia untuk menyelamatkan dunia. Ini tetap merupakan
sebuah contoh luar biasa bagaimana kasih karunia bekerja bahkan di Perjanjian
Lama, sehingga tak diragukan lagi, Paulus menggunakan contoh itu.

Baca Roma 4:14-17. Bagaimanakah dalam ayat ini Paulus terus me-
nunjukkan bahwa keselamatan oleh iman adalah pusat Alkitab Perjanji-
an Lama? Lihat juga Galatia 3:7-9.

Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, penting untuk diingat kepada


siapa Paulus menulis suratnya. Orang-orang percaya dari kalangan Yahudi ini
sudah sangat menyatu dengan hukum Taurat Perjanjian Lama, dan banyak yang
percaya bahwa keselamatan mereka bergantung pada seberapa baik mereka me-
melihara hukum Taurat, sekalipun bukan itu yang diajarkan Perjanjian Lama.
Dalam usahanya memperbaiki konsep yang salah ini, Paulus berargumenta-
si bahwa Abraham, jauh sebelum hukum Taurat di Sinai, telah menerima janji-
janji itu, bukan oleh perbuatan-perbuatan hukum Taurat (yang adalah sangat
sukar, karena hukum Taurat—yakni keseluruhan sistem upacara itu—belum
dijalankan) melainkan oleh iman.
Jika yang Paulus maksudkan dalam ayat ini adalah hanya hukum moral,
yang secara prinsip sudah ada bahkan sebelum Sinai, masalahnya tetap sama.
Bahkan mungkin lebih lagi! Berusaha menerima janji-janji Allah melalui hu-
kum Taurat, katanya, membatalkan iman, bahkan membuat iman tak berguna.
Memang penyataan itu cukup tegas, tetapi maksud Paulus di sini adalah bahwa
iman menyelamatkan, dan hukum Taurat menghukum. Paulus berusaha meng-
ajarkan bahwa kekonyolan mencari keselamatan melalui sarana yang justru
menuntun pada penghukuman, karena kita semua, baik Yahudi maupun bukan,
telah melanggar hukum, dan dengan demikian kita semua membutuhkan hal
yang sama seperti yang dibutuhkan Abraham: kebenaran Yesus yang menyela-
matkan diperhitungkan kepada kita oleh iman.

56
Rabu 28 Juli
Hukum dan Iman

Dalam pelajaran kemarin, Paulus menunjukkan bahwa perlakuan Allah ter-


hadap Abraham membuktikan bahwa keselamatan terjadi melalui janji kasih
karunia dan bukan melalui hukum Taurat. Jadi, jika orang Yahudi mau disela-
matkan, mereka harus meninggalkan pengandalan perbuatan-perbuatan mereka
untuk keselamatan dan menerima janji bagi Abraham, yang kini digenapi oleh
datangnya Mesias. Demikian jugalah halnya bagi setiap orang, Yahudi atau bu-
kan, yang menyangka bahwa perbuatan-perbuatan “baik” mereka adalah sega-
lanya yang membuat mereka berkenan kepada Allah.

“Asas yang mengatakan bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya


oleh jasa-jasanya sendiri, menjadi dasar setiap agama kafir.... Di mana saja
asas tersebut dipegang, manusia tidak mempunyai penghalang terhadap
dosa.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 32. Apakah maksud
pernyataan ini? Mengapa gagasan bahwa kita dapat membenarkan diri
sendiri melalui usaha kita justru membuat kita terbuka pada dosa?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Bagaimanakah Paulus menjelaskan hubungan antara hukum dan iman


dalam kitab Galatia? Gal. 3:21-23.
_______________________________________________________________
______________________________________________________________

Jika memang ada sebuah hukum yang dapat memberi kehidupan, maka pas-
tilah itu hukum Allah. Akan tetapi, Paulus berkata bahwa tidak ada hukum, bah-
kan hukum Allah sekalipun, yang dapat memberikan kehidupan, karena semua
orang telah melanggar hukum itu, dan dengan demikian semua orang telah di-
nyatakan salah oleh hukum itu sendiri.
Tetapi janji iman, yang lebih sempurna dinyatakan melalui Kristus, membe-
baskan semua orang yang percaya dari berada “di bawah hukum Taurat”; yaitu,
dari keadaan terhukum dan terbebani oleh berusaha memperoleh keselamatan
melalui hukum Taurat. Hukum itu menjadi sebuah beban bilamana ditampil-
kan tanpa iman, tanpa kasih karunia—karena tanpa iman, tanpa kasih karunia,
tanpa kebenaran yang datang oleh iman, berada di bawah hukum Taurat berarti
berada di bawah beban dan hukuman dosa.

Seberapa utamakah kebenaran oleh iman bagi perjalanan kehidupan


Anda bersama Allah? Artinya, apakah yang dapat Anda lakukan untuk
memastikan ajaran tersebut tidak dikaburkan oleh aspek-aspek kebenar-
an lainnya sampai pada titik di mana Anda kehilangan pandangan akan
ajaran penting ini?
57
Kamis 29 Juli
Hukum dan Dosa
Sering kita dengar bahwa dalam sistem Perjanjian Baru hukum telah dihapus-
kan, dan mereka mengutip ayat-ayat yang dipercayai membuktikan ajaran tersebut.
Akan tetapi ajaran tersebut tidak tepat, baik menurut logika maupun teologi.
Baca 1 Yohanes 2:3-6; 3:4 dan Roma 3:20. Apakah yang ayat-ayat ini ka-
takan tentang hubungan antara hukum dan dosa?
Beberapa ratus tahun lalu, seorang penulis Irlandia bernama Jonathan Swift
menulis: “Tetapi apakah setiap orang akan berkata bahwa jika kata-kata minum,
licik, bohong, mencuri oleh keputusan Parlemen telah dikeluarkan tiba-tiba dari
bahasa Inggris serta kamus-kamus bahasa Inggris, maka besok pagi kita semua
harus bangun tidak mabuk, jujur dan adil, serta mengasihi kebenaran? Apakah ini
sebuah konsekuensi yang adil?”—Jonathan Swift, A Modest Proposal and Other
Satires, (New York: Prometheus Books, 1995), hlm. 205.
Demikian juga halnya, jika hukum Allah telah dihapuskan, lalu mengapa dus-
ta, membunuh, dan mencuri tetap merupakan dosa atau kesalahan? Jika hukum
Allah telah diubah, maka definisi dosa harus diubah juga. Atau jika hukum Allah
telah ditiadakan, maka dosa juga harus ditiadakan, dan siapakah yang percaya hal
tersebut? (Lihat juga 1 Yohanes 1:7 -10; Yakobus 1:14, 15.)
Dalam Perjanjian Baru, hukum dan Injil tampil bersama. Hukum menunjukkan
apa itu dosa; dan Injil menunjuk pada penawar bagi dosa itu, yaitu kematian dan
kebangkitan Yesus. Jika tidak ada hukum, maka tidak ada dosa, lalu dari apakah
kita diselamatkan? Hanya dalam ruang lingkup hukum serta keabsahannya yang
berkesinambunganlah Injil mempunyai fungsi.
Sering kita dengar bahwa Salib telah membatalkan hukum. Ini justru ironis,
karena Salib menunjukkan bahwa hukum tidak dapat dibatalkan ataupun diu-
bah. Jika Allah tidak membatalkan atau bahkan mengubah hukum sebelum Kris-
tus mati di atas salib, mengapa harus melakukannya justru setelah itu? Mengapa
tidak meninggalkan hukum setelah manusia jatuh dalam dosa dengan demikian
membebaskan manusia dari hukuman akibat pelanggaran terhadap hukum terse-
but? Dengan jalan demikian, Yesus tidak harus mati. Kematian Yesus menunjuk-
kan bahwa jika hukum bisa diubah atau dibatalkan, maka itu seharusnya sudah
dilakukan sebelum Salib, bukan sesudahnya. Oleh sebab itu, tidak ada yang bisa
menunjukkan keabsahan hukum yang berkesinambungan lebih daripada yang di-
tunjukkan oleh kematian Yesus, suatu kematian yang terjadi justru karena hukum
tidak bisa diubah. Jika saja hukum bisa diubahkan agar menyelamatkan kita dari
keadaan berdosa ini, bukankah hal itu telah bisa menjadi sebuah solusi lebih baik
bagi masalah dosa lebih daripada Yesus harus mati?
Jika saja tidak ada hukum Ilahi menentang perzinaan, apakah tindakan
zina akan mengakibatkan lebih sedikit kepedihan dan luka hati daripada yang
terjadi sekarang pada para korban perzinaan? Bagaimanakah jawaban Anda
menolong memahami mengapa hukum Allah masih berlaku? Apakah penga-
laman Anda sendiri dengan akibat-akibat dari pelanggaran hukum Allah?

58
Jumat 30 Juli
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Christ the Center of the Mes-
sage,” hlm. 388, dalam Selected Messages, jld. 1; “Panggilan kepada Abraham,” hlm.
136-144; “Hukum dan Perjanjian,” hlm. 430-444, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Khot-
bah di Atas Bukit,” dalam Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 317-335; “Pertentangan,” hlm.
227-237; “Sudah Selesai,” hlm. 410-418, dalam Alfa dan Omega, jld. 6.
“Di dalam zaman kasta, di mana hak manusia sering tidak diketahui, Paulus
mengemukakan kebenaran yang besar dari persaudaraan manusia, menerangkan
bahwa Allah ‘telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami
seluruh muka bumi.’ Pada pemandangan Allah semua dijadikan sama”—Ellen G.
White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 201.
“Agar diselamatkan, dan supaya kewibawaan hukum tetap terpelihara, maka
perlu bagi Anak Allah untuk menyerahkan diri-Nya sebagai korban karena dosa.
Dia yang tidak mengenal dosa telah menjadi dosa bagi kita. Dia mati untuk kita di
Golgota. Kematian-Nya menunjukkan kasih ajaib Allah bagi manusia, dan ketidak-
berubahan hukum.”—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 240.
“Kebenaran adalah penurutan pada hukum. Hukum mewajibkan adanya kebe-
naran, dan dalam hal ini orang berdosa berutang pada hukum; tetapi ia tidak sang-
gup membayarnya. Satu-satunya jalan dia bisa memperoleh kebenaran adalah me-
lalui iman. Oleh iman dia dapat membawa kepada Allah jasa-jasa Kristus, dan Tu-
han menempatkan penurutan Anak-Nya pada orang berdosa tersebut.”—Ellen G.
White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 367.
“Jika Setan berhasil menuntun manusia mengandalkan usaha-usahanya sendiri
sebagai perbuatan-perbuatan jasa dan kebenaran, dia tahu bahwa dia dapat menga-
lahkan manusia itu oleh pencobaan-pencobaannya, dan menjadikan dia korban dan
mangsa . . . . Bubuhi ambang-ambang pintu dengan darah Anak Domba Golgota,
dan engkau selamat.”—Ellen G. White, Review and Herald, 3 Sept., 1889.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Mengapa penting untuk memahami keselamatan hanya oleh iman tanpa
perbuatan hukum Taurat? Terhadap kesalahan seperti apakah kita dilin-
dungi oleh pengetahuan itu? Apakah bahaya-bahaya yang mengintai me-
reka yang kehilangan pandangan akan pentingnya ajaran Alkitabiah ini?
oo Alasan-alasan lain apakah yang dapat Anda berikan untuk mendukung ke-
sinambungan keabsahan hukum Allah, sementara kita juga tahu bahwa hu-
kum dan penurutan pada hukum itu bukanlah yang menyelamatkan kita?
pp Renungkan lagi gagasan bahwa karena Salib semua manusia sederajat.
Mengapakah sering orang Kristen, dengan Salib di hadapan mereka, tam-
paknya lupa pada kebenaran penting ini dan bersalah dalam hal prasang-
ka buruk rasisme, sukuisme atau bahkan nasionalisme?
qq Sebagai orang-orang berdosa yang telah dibenarkan, kita telah dijadikan
penerima kasih karunia dan rahmat Allah, terhadap Siapa kita telah ber-
dosa. Bagaimanakah kenyataan ini mempengaruhi perlakuan kita terhadap
orang lain? Bagaimanakah kita harus penuh kasih karunia dan bermurah
hati terhadap mereka yang bersalah kepada kita, yang sebenarnya tidak
layak mendapatkan pengampunan dan belas kasihan kita?
59
Penuntun GURU 5

Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 4:1, 2.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Menjelaskan mengapa sebuah pemahaman tentang iman dalam
persediaan Allah bagi kebenaran kita telah menjadi dasar sebuah hubungan
yang benar dengan Dia, baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru.
¾¾ Merasakan: Merasakan berkat-berkat pembenaran oleh iman.
¾¾ Melakukan: Meninggalkan usaha-usaha kita sendiri dan menaruh seluruh
percaya kita pada apa yang Kristus telah lakukan.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Iman Abraham
A. Mengapakah Abraham, bapa orang yang bersunat maupun tidak
bersunat, diperhitungkan benar? Apakah manfaat mengetahui bah-
wa perhitungan ini telah terjadi lama sebelum ada perbedaan anta-
ra orang Yahudi dan bangsa lain, pemberian hukum Musa, ataupun
kematian Kristus di atas salib?
B. Mengapakah pembenaran oleh iman, bukannya pemeliharaan hu-
kum, yang telah menjadi satu kepercayaan penting bagi semua orang
di segala zaman?

II. Merasakan: Berkat-berkat Pembenaran


A. Sekalipun Daud berdosa begitu keji, bagaimanakah Allah sanggup
mengampuni dia?
B. Apakah berkat-berkat yang datang dari dibenarkan oleh iman?
(Roma 4:6-8).

III. Melakukan: Meninggalkan Diri Demi Kristus


A. Oleh karena hukum tidak memberi hidup atau kebenaran melainkan
hanya membedakan antara kebenaran dan dosa, apakah yang Anda
lakukan untuk menjadi benar dan memperoleh hidup kekal?
B. Bagaimanakah sikap orang yang diselamatkan oleh pengorbanan
Kristus terhadap hukum?

Rangkuman: Semua orang di segala zaman telah menghadapi ke-


butuhan yang sama untuk meninggalkan segala unsur usaha bagi kesela-
matan oleh mengikuti aturan-aturan atau upacara-upacara. Keselamatan
terjadi hanya oleh mengizinkan Allah membenarkan kita melalui darah
yang dicurahkan bagi kita dalam Yesus Kristus.

60
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama bagi Pertumbuhan Rohani: Allah adalah sumber keadilan da-
lam hukum-Nya dan kasih karunia dalam kematian pendamaian Yesus Kristus
yang menyelamatkan kita dari dosa.

Khusus untuk Guru: Dalam pelajaran pekan ini, kita membahas dan men-
dalami hubungan antara hukum Allah dan kasih karunia-Nya.

Bayangkan Anda sedang berada di satu sekolah yang menawarkan dua ang-
ka saja: lulus atau gagal. Masalah satu-satunya adalah bahwa untuk lulus, Anda
perlu sebuah angka sempurna pada setiap kuis, setiap ujian, setiap tugas. Satu
jawaban yang salah saja, hanya satu, akan menghancurkan kesempatan untuk
lulus. Dengan kata lain, Anda dapat menjawab semua pertanyaan dengan be-
nar, setiap saat, lalu kemudian pada pertanyaan terakhir di ujian terakhir Anda
salah, dan Anda akan mendapatkan nilai gagal yang sama seperti yang dipero-
leh seseorang yang menjawab semua pertanyaan dengan salah.
Dalam hal ini, seperti itulah keselamatan. Kita perlu sebuah nilai sempur-
na untuk keselamatan, kesucian yang mutlak sempurna, penurutan yang mut-
lak sempurna pada hukum Allah. Kurang sedikit saja dari hal itu akan meng-
akibatkan sebuah nilai gagal. Orang suci yang paling hebat yang mempunyai
kesalahan yang paling kecil sekalipun berada dalam satu kelompok dengan
seorang penjahat yang paling sadis dan bobrok. Tanpa kebenaran mutlak, kita
binasa. Kini, andaikan di sekolah itu ada seorang mahasiswa yang bukan saja
mempunyai nilai sempurna tetapi juga menawarkan untuk berbagi nilai itu de-
ngan Anda. Artinya, nilainya yang sempurna itu menjadi milik Anda, dan itu-
lah satu-satunya cara Anda lulus.
Demikianlah halnya dengan Injil. Tak satu pun kita yang mempunyai ni-
lai lulus. Semua kita telah salah menjawab lebih dari satu pertanyaan, karena
kita semua telah melanggar hukum. Hanya Yesus yang mempunyai kebenaran
sempurna, dan kabar baik Injil itu adalah bahwa Dia menawarkan kebenaran
sempurna itu kepada semua yang mau memintanya dengan sungguh-sungguh
oleh iman.

Pertimbangkan: Hukum Allah berasal dari kebenaran dan kebaikan serta


kasih karunia-Nya. Oleh sebab itu, mengapakah tidak masuk akal jika Dia
harus meniadakannya, sebagaimana yang diyakini banyak orang Kristen?

61
LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab
I. Abraham (Baca kembali bersama kelas Anda, Kejadian 15:6 dan Roma 4).
Sebagai manusia kita cenderung memuji orang lain, kadang dengan sung-
guh-sungguh! Hal ini sama benarnya dengan bagaimana kita orang Kristen
menilai para tokoh Alkitab dan pahlawan-pahlawan iman lainnya. Kita lupa
bahwa mereka adalah para pahlawan iman. Mereka menjadi seperti itu karena
mereka mempunyai iman pada apa yang Allah dapat lakukan melalui dan bagi
mereka, bukan karena mereka dilahirkan dengan gen kesucian yang istimewa
yang tidak ada pada kita.
Coba pikirkan Abraham. Abraham dihormati oleh tiga agama dunia yang
mempunyai sedikit kesamaan pandangan. Di zaman dulu orang kafir pun meng-
anggap Abraham sebagai satu tokoh yang pantas dihormati. Kaisar Roma kafir
Alexander Severus (yang memerintah dari tahun 222-235 Masehi), menekan-
kan hal ini dengan luar biasa dan semarak, membuat sebuah patung setengah
badan Abraham—bersama dengan patung Musa, Yesus, Orpheus, dan Apollo-
nius dari Tyana—di kapel pribadinya.
Namun, di manakah letak kebesaran Abraham? “Lalu percayalah Abraham
kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenar-
an,” sebagaimana dinyatakan dalam Roma 4:3, dikutip dari Kejadian 15:6.
Abraham harus mempunyai kebenaran yang diperhitungkan kepadanya, ka-
rena dirinya sendiri tidak benar. Dia membuat banyak kesalahan. Kadang dia
mendasari keputusan-keputusannya pada ketakutan dan ketidaksetiaan. Con-
tohnya, baca Kejadian 12:10-20, di mana dia menyangkal Sarah sebagai istri-
nya dan membiarkannya diambil oleh Firaun sebagai seorang gundik, dan dia
mengulangi kembali kesalahan itu sehubungan dengan Abimelekh di Kejadian
20. Lalu, ada juga keputusannya, dalam Kejadian 16, untuk menolong Allah da-
lam menggenapi janji Allah untuk memberinya seorang anak. Singkatnya, jika
dicermati, masa lalu Abraham diwarnai dengan kegagalan-kegagalan sama se-
perti masa lalu kita juga, dan kegagalannya itu dicatat dalam Alkitab.
Keturunan Abraham juga tidak ada yang suci, sekalipun orang Yahudi di
zaman Paulus membanggakan diri sebagai keturunan Abraham. Abraham ada-
lah keturunan Nuh, sama seperti semua orang lain yang mendiami bumi. Seka-
lipun orang-orang yang paling jahat sebelum Air Bah sudah mati, dengan tidak
meninggalkan keturunan, keturunan Nuh segera membuktikan bahwa mereka
juga mempunyai bibit menyangkal dan mengecewakan Allah. Mereka itulah
nenek moyang Abraham.
Baik kecondongan Abraham kepada kebaikan dan kesuciannya, ataupun wa-
risannya, tidak ada yang secara khusus patut diperhatikan, namun Abraham isti-
mewa, sama seperti setiap kita juga bisa menjadi istimewa: dia percaya bahwa
Allah dapat mengubah dia, bekerja melalui dirinya, dan memberkati dunia ini
melalui dia. Dia percaya kepada Allah dan Allah menerima dia sebagai orang
benar, dan Allah menjadikan dia layak menerima kebenaran.

62
Pertimbangkan: Sama seperti Allah memaksudkan Abraham menjadi ber-
kat bagi seluruh dunia terlepas dari kelemahan-kelemahan pribadinya, Allah
juga mau memberkati seluruh dunia ini melalui kita semua. Bagaimanakah
cerita Abraham mengilhami Anda untuk percaya kepada Allah sebagaima-
na Dia juga percaya dengan Anda?

II. Karena Kasih Karunia, oleh Iman (Baca kembali dengan anggota kelas
Anda, Roma 4:13-16 dan Efesus 2:8).
Kasih karunia dan iman adalah kata-kata yang biasanya ditemukan berka-
itan erat dalam Perjanjian Baru. Efesus 2:8 mengatakan bahwa “Karena kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman.” Iman adalah satu-satunya jalan kita bisa
menjangkau Allah. Tetapi iman itu akan sia-sia jika Allah tidak terlebih dahulu
menjangkau kita. Tindakan Allah dalam menjangkau kita adalah sebuah tindak-
an kasih karunia, atau sebuah rahmat yang tak pantas kita dapatkan.
Dalam Perjanjian Lama kata yang biasanya diterjemahkan kasih karunia
berkaitan dengan perkenanan seseorang terhadap orang lain, sering tanpa mo-
tif atau alasan yang tampak. Digunakan secara teologis dalam Perjanjian Lama,
artinya masih tetap sama, hanya saja itu berasal dari Allah yang melihat kita dan
mengasihi kita karena apa adanya Dia dan yang Dia lakukan.
Di samping kasih karunia, ada hukum Allah. Allah memberikan kita perin­
tah-perintah-Nya, dan yang harus kita lakukan adalah menaatinya. Lagipula
hanya ada 10 perintah. Kita berusaha keras, namun kenyataannya adalah bah-
wa terpisah dari Allah kita tidak mempunyai kesanggupan untuk menaati 10
kebenaran sederhana itu.
Dapatkah Allah begitu saja meniadakan semua atau beberapa dari tuntutan-
tuntutan hukum itu? Tidak bisa tanpa kompromi atas keadilan dan kesucian-
Nya. Tetapi Allah dapat dan bahkan mengulurkan lebih banyak kasih karunia
kepada kita, yang kita tanggapi dan sambut oleh iman. Atas dasar kehidupan
yang sempurna dan korban pendamaian Anak-Nya, Allah memperhitungkan
kita menerima kebenaran Kristus.

Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menghidupkan iman pemberian Allah


itu untuk menerima kasih karunia-Nya yang menyelamatkan?

LANGKAH 3—Praktikkan
Khusus untuk Guru: Ajak anggota kelas Anda untuk menggunakan per-
tanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk berpikir tentang hubungan antara
kasih karunia dan hukum Allah.

Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Banyak orang di zaman Paulus yang bingung perihal hubungan antara hukum
dan kasih karunia. Ada yang percaya bahwa penting untuk taat pada hukum
agar layak menerima kasih karunia. Yang lain berpikir bahwa mungkin saja

63
untuk taat pada hukum tanpa ada kasih karunia, sehingga keselamatan itu
dikumpulkan sedikit demi sedikit sama seperti piutang yang bisa ditagih.
Apakah hubungan yang benar antara kasih karunia dan hukum?

¼¼ Salah satu alasan hukum tidak bisa diubah atau dihapus adalah karena prin-
sip-prinsip pentingnya yang melambangkan kemauan dan tabiat Allah, dan
dengan demikian, hukum itu tetap berlaku. Bagaimanakah Anda menggam-
barkan prinsip-prinsip itu dalam dua atau tiga kalimat?

½½ Mengapakah kepercayaan bahwa seseorang masuk ke surga atau mendapat-


kan keselamatan melalui perbuatan baiknya masih saja merajalela, bahkan
di kalangan orang-orang Kristen?

Pertanyaan-pertanyaan Penerapan:
»» Bahkan dengan pengetahuan bahwa kita diselamatkan karena kasih karu-
nia, kita cenderung menjadi terobsesi oleh penampilan kita sendiri. Apa-
kah bahaya-bahaya dari obsesi ini? Bagaimanakah kita bisa kembali fokus
pada kasih karunia?

¼¼ Sekalipun Paulus dan para penulis lain Perjanjian Baru menekankan kese-
lamatan dari Kristus yang universal, bagaimanakah kita masih—bahkan di
dalam gereja Kristen—menaruh halangan-halangan yang sebenarnya tidak
penting?

½½ Abraham percaya pada janji-janji Allah, dan tanda dari percayanya itu ada-
lah sunat. Apakah tanda-tanda luar/lahiriah oleh mana kita menyatakan iman
kita dewasa ini?

LANGKAH 4—Terapkan
Khusus untuk Guru: Pekan ini kita telah pelajari bahwa hukum Allah ma-
sih berlaku karena (bukan sekalipun) keselamatan dari dosa yang kita teri-
ma di dalam Yesus Kristus.

Hukum Allah tidak berubah-ubah. Kita dapat melihat hal ini khususnya da-
lam Sepuluh Perintah, yang merangkum aturan-aturan bagi tingkah laku ma-
nusia terhadap Allah dan terhadap sesama. Bahkan mereka yang percaya pada
penghapusan hukum oleh Perjanjian Baru tidak mau hidup dalam satu masya-
rakat di mana orang mengabaikan atau menganggap hanya sebagai satu pilihan
saja prinsip-prinsip yang ada dalam Sepuluh Perintah itu.
Tuliskan satu atau lebih dari Sepuluh Perintah itu di papan tulis. Minta salah
satu anggota kelas untuk membaca dengan nyaring. Tanyakan prinsip apa yang
ada di belakang perintah itu dan bagaimana seseorang dapat menerapkannya.

64
Pelajaran 6 *31 Juli–6 Agustus 2010

Menjelaskan Iman

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 5.

Ayat Hafalan: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman,
kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan
kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman
kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan
kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”
(Roma 5:1, 2).

P
aulus telah menegakkan ajaran bahwa pembenaran, atau perkenanan Allah,
diperoleh hanya melalui iman dalam Yesus Kristus, karena kebenaran-Nya
saja cukup untuk membenarkan kita dengan Tuhan kita. Atas dasar kebe-
naran besar itu, kini Paulus menjelaskan lebih jauh tentang tema ini. Dengan
menunjukkan bahwa keselamatan haruslah oleh iman dan bukan oleh usaha,
sekalipun untuk seseorang yang “benar” seperti Abraham, Paulus seakan be-
ranjak balik untuk melihat gambaran menyeluruh—pada sebab musabab dosa
dan penderitaan serta maut dan bagaimana solusi didapatkan dalam Kristus dan
apa yang telah dilakukan-Nya bagi umat manusia.
Melalui kejatuhan satu manusia, Adam, semua manusia menghadapi hu-
kuman, pengasingan, dan kematian; melalui kemenangan satu manusia, Yesus,
seluruh dunia ditempatkan pada sebuah tempat baru di hadapan Allah, di mana
melalui iman dalam Yesus, catatan dosa-dosa mereka, serta hukuman dosa-dosa
tersebut dapat dihapuskan, dapat diampuni dan dimaafkan selama-lamanya.
Paulus membandingkan Adam dan Yesus, menunjukkan bagaimana Kristus
datang untuk memulihkan apa yang telah dibuat Adam dan dengan iman para
korban dosa Adam dapat diselamatkan oleh Yesus, Sang Juruselamat. Dasar
dari semuanya adalah salib Kristus serta kematian-Nya sebagai pengganti di
atas salib itu—yang membuka jalan bagi semua manusia, Yahudi atau bangsa
lain, untuk diselamatkan oleh Yesus, yang dengan darah-Nya membawa pem-
benaran bagi semua orang yang menerima Dia.
Sesungguhnya inilah tema yang pantas dijelaskan lebih jauh, karena itulah
dasar segala pengharapan kita.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, Agustus 7.

65
Minggu 1 Agustus
Sebab Itu, kita yang Dibenarkan
Baca Roma 5:1-5. Pada deretan garis di bawah ini, rangkumkanlah pe-
kabaran Paulus. Pelajaran apakah yang dapat Anda terapkan sekarang
dari pekabaran tersebut?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

“Dibenarkan” secara harfiah berarti “telah dibenarkan.” Kata kerjanya da-


lam Bahasa Yunani menggambarkan sebuah tindakan yang telah tuntas. Kita
telah dinyatakan benar, atau dianggap benar, bukan melalui perbuatan hukum
apa pun melainkan melalui penerimaan kita akan Yesus Kristus. Kehidupan
sempurna yang Kristus jalankan di atas bumi ini, penurutan-Nya yang sempur-
na terhadap hukum, telah diperhitungkan kepada kita.
Pada saat yang sama, semua dosa kita telah diletakkan pada Yesus. Allah
telah memperhitungkan bahwa Yesuslah yang telah melakukan dosa-dosa itu,
bukan kita, dan dengan jalan itu kita bisa dibebaskan dari hukuman yang sepan-
tasnya kita tanggung. Hukuman itu dijatuhkan pada Kristus bagi kita, demi ke-
pentingan kita, sehingga kita tidak akan pernah menghadapinya sendiri. Berita
apakah lagi yang lebih indah bagi orang berdosa daripada berita ini?
Kata Yunani yang diterjemahkan “bermegah” di ayat 3 juga diterjemahkan
“bermegah” (atau dalam versi lain, “bersukacita”) di ayat 2. Dengan demikian
hubungan antara ayat 2 dan 3 terlihat jelas. Orang-orang yang dibenarkan ber-
megah/bersukacita dalam kesengsaraan karena mereka telah mengarahkan iman
dan percaya mereka dalam Yesus Kristus. Mereka mempunyai keyakinan bahwa
Allah mengatur segala sesuatu untuk kebaikan. Mereka akan menganggap suatu
kehormatan untuk menderita karena Kristus. (Lihat 1 Petrus 4:13).
Perhatikan juga urutan berikutnya dalam ayat 3 hingga 5.
1. Ketekunan. Kata Yunani hupomone berarti “ketekunan yang tetap.” Ini
adalah jenis ketekunan yang terbangun oleh kesengsaraan dalam diri seseorang
yang memelihara iman dan tidak kehilangan pandangan pada pengharapan yang
dimilikinya dalam Kristus bahkan di tengah-tengah berbagai kesukaran dan pen-
deritaan yang bisa membuat hidup terkadang sangat mengerikan.
2. Tahan Uji. Arti harfiah kata Yunani dokime adalah “mutu yang telah terbuk-
ti,” yaitu, “tabiat,” atau khususnya “tabiat yang telah teruji.” Orang yang dengan
tekun bertahan dalam kesukaran dapat membangun sebuah tabiat yang teruji.
3. Pengharapan. Ketekunan dan tahan uji dengan sendirinya menimbulkan
pengharapan, yaitu pengharapan yang didapatkan dalam Yesus dan janji kesela-
matan di dalam Dia. Selama kita bersandar pada Yesus dalam iman, pertobatan,
dan penurutan, kita mempunyai pengharapan dalam segala sesuatu.
Satu hal apakah dalam hidup Anda yang Anda harapkan lebih daripa-
da segala sesuatu? Bagaimanakah pengharapan itu dapat digenapi dalam
Yesus? Atau dapatkah itu digenapi? Jika tidak, apakah Anda yakin untuk
menaruh pengharapan yang besar dalam hal tersebut?

66
Senin 2 Agustus
Allah Mencari Manusia

Baca Roma 5:6-8. Apakah yang ayat ini katakan tentang tabiat Allah,
dan mengapa pekabarannya penuh dengan pengharapan bagi kita?

Pada waktu Adam dan Hawa dengan memalukan dan tak ada alasan melang-
gar tuntutan Ilahi, Allah mengambil langkah-langkah awal untuk pendamaian.
Sejak saat itu, Allah telah mengambil inisiatif dalam menyediakan sebuah ja-
lan keselamatan dan dalam mengundang manusia untuk menerimanya. “Tetapi
setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” (Gal. 4:4).

Roma 5:9 berkata bahwa kita dapat diselamatkan dari murka Allah
melalui Yesus. Bagaimanakah kita memahami makna ini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Sama seperti darah pada ambang pintu orang-orang Israel di Mesir di ma-
lam keberangkatan mereka telah melindungi setiap anak sulung dari murka yang
menimpa anak-anak sulung Mesir, demikian juga darah Yesus Kristus menjamin
bahwa orang yang telah dibenarkan dan tetap dalam status itu akan dilindungi
pada saat murka Allah pada akhirnya membinasakan dosa di akhir zaman.
Beberapa orang sulit memahami gagasan bahwa Allah yang mengasihi juga
mempunyai murka. Tetapi justru karena kasih-Nyalah maka ada murka terse-
but. Bagaimanakah Allah, yang mengasihi dunia ini, tidak mempunyai murka
terhadap dosa? Jika memang Ia acuh tak acuh kepada kita, tentu Dia tidak akan
peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini. Lihatlah sekeliling di dunia ini dan
lihat apa yang dosa telah lakukan terhadap ciptaan-Nya. Bagaimanakah mung-
kin Allah tidak murka terhadap dosa dan kejahatan?

Apakah alasan lainnya bagi kita untuk bersukacita? (Roma 5:10, 11).
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Beberapa komentator telah melihat di ayat 10 sebuah catatan sehubungan de-


ngan kehidupan yang dijalani Kristus di bumi ini, yang dijalankan-Nya dengan
tabiat sempurna yang kini Dia tawarkan untuk diperhitungkan kepada kita. Meski­
pun tentu saja inilah yang telah dilakukan oleh kehidupan Yesus yang sempurna,
tampaknya Paulus menekankan fakta bahwa sekalipun Kristus mati, Dia telah
bangkit kembali dan hidup selama-lamanya (lihat Ibrani 7:25). Karena Dia hidup,
maka kita diselamatkan. Jika Dia tetap dalam kubur, pengharapan kita akan bina-
sa bersama Dia. Ayat 11 melanjutkan alasan-alasan bagi kita untuk bersukacita di
dalam Tuhan, dan itu karena apa yang Yesus telah perbuat untuk kita.

67
Selasa 3 Agustus
Maut Ditelan

Maut adalah suatu musuh, musuh paling utama. Pada waktu Allah mencip-
takan keluarga manusia, Dia merancang agar anggota-anggotanya akan hidup
selama-lamanya. Kecuali sebagian kecil, kebanyakan umat manusia tidak mau
mati; mereka yang mau mati, menginginkannya setelah menghadapi penderi-
taan dan sengsara yang paling hebat. Maut bertentangan dengan tabiat alami
kita. Itulah sebabnya, sejak semula kita telah diciptakan untuk hidup selama-
lamanya. Maut bukanlah sesuatu yang harus kita ketahui.
Baca Roma 5:12. Apakah yang Paulus gambarkan di sini? Apakah yang
dijelaskan ayat ini?
Para komentator telah banyak berdebat tentang ayat Alkitab ini lebih dari-
pada yang lainnya. Mungkin sebabnya adalah, sebagaimana dicatat dalam SDA
Bible Commentary, jld. 6, hlm. 529, bahwa para komentator ini “berusaha un-
tuk menggunakan ayat ini untuk tujuan-tujuan yang berbeda dari yang dimak-
sudkan Paulus.”
Satu hal yang didebat mereka adalah: dalam hal apakah dosa Adam diterus-
kan kepada keturunannya? Apakah keturunan Adam mewarisi kesalahan dari
dosa Adam, ataukah mereka bersalah di hadapan Allah karena dosa mereka sen-
diri? Sekalipun banyak orang berusaha memberi jawaban terhadap pertanya-
an yang timbul dari ayat ini, itu bukanlah pokok yang sedang dibahas Paulus.
Ada hal lain yang berbeda sama sekali dalam pikirannya. Dia sedang menekan-
kan kembali apa yang sudah dinyatakannya, “Semua orang telah berbuat dosa”
(Roma 3:23). Kita perlu mengetahui bahwa kita adalah orang-orang berdosa,
karena hanya dengan jalan itu kita menyadari kebutuhan kita akan seorang Ju-
ruselamat. Di sini Paulus berusaha meyakinkan para pembacanya untuk menya-
dari betapa buruk dosa itu dan apa yang telah diakibatkannya terhadap dunia
ini melalui Adam. Kemudian dia menunjukkan apa yang Allah tawarkan pada
kita di dalam Yesus sebagai satu-satunya obat penawar terhadap tragedi yang
ditimpakan pada dunia kita melalui dosa Adam.
Namun, ayat ini hanya mengemukakan masalah, maut di dalam Adam—bukan
solusi, hidup dalam Kristus. Salah satu hal terindah dalam Injil adalah bahwa
maut telah ditelan oleh kehidupan. Yesus telah melalui pintu kubur dan meng-
hancurkan rantai pengikatnya. Dia berkata, “[Akulah] Dia Yang Hidup. Aku telah
mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang
segala kunci maut dan kerajaan maut” (Wahyu 1:18). Karena Yesus mempunyai
kunci itu, musuh tidak bisa lagi menahan korbannya di dalam kubur.
Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda dengan kenyataan dan tragedi
kematian? Mengapa, menghadapi musuh yang tak berpengasihan itu, haruskah
kita menaruh pengharapan pada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita
ataukah yang lebih besar dari segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini?

68
Rabu 4 Agustus
Hukum Menyadarkan Kebutuhan

“Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu
tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguh pun demikian maut
telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka,
yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh
Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang” (Roma 5:13, 14).
Apakah yang sedang dibicarakan Paulus di sini? Anak kalimat “sebelum hu-
kum Taurat ada” sejajar dengan pernyataan “dari zaman Adam sampai kepada
zaman Musa.” Dia sedang membicarakan tentang kurun waktu di dunia dari pen-
ciptaan sampai Sinai, sebelum aturan-aturan dan hukum-hukum dalam sistem
Israel diperkenalkan secara resmi, yang mencakup tentunya Sepuluh Firman.
“Sebelum hukum Taurat ada” berarti sampai dirincinya tuntutan-tuntutan
Allah dalam berbagai hukum yang diberikan kepada Israel di Sinai. Dosa telah
ada sebelum Sinai. Bagaimana tidak? Apakah berdusta, membunuh, berzina, dan
menyembah berhala bukan dosa sebelum Sinai? Tentu saja semua itu dosa.
Ayat-ayat manakah yang menunjukkan kenyataan dosa bahkan sebe-
lum Sinai?
Memang benar bahwa sebelum Sinai umat manusia pada umumnya hanya mem-
punyai wahyu Allah secara terbatas, tetapi jelas pengetahuan mereka cukup untuk
diminta pertanggungjawaban. Allah benar dan tidak akan menghukum seseorang
dengan tidak adil. Manusia di dunia sebelum Sinai telah mati, sebagaimana yang
Paulus tunjukkan di sini. Maut menjadi bagian semua manusia. Sekalipun mereka
belum berbuat dosa menentang suatu perintah yang dinyatakan secara gamblang,
mereka telah berbuat dosa. Mereka mempunyai penyataan [wahyu] Allah melalui
alam, yang tidak mereka turuti dan membuat mereka bersalah. “Sebab apa yang
tidak nampak dari pada-Nya, . . . dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya se-
jak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20).
Untuk tujuan apakah Allah menyatakan diri-Nya lebih lengkap di da-
lam “hukum?” Roma 5:20, 21.
Instruksi yang diberikan di Sinai mencakup hukum moral, sekalipun itu te-
lah ada sejak sebelumnya. Namun, inilah pertama kali, menurut Alkitab hukum
itu dituliskan dan dikumandangkan secara luas.
Ketika orang Israel mulai membandingkan diri mereka dengan tuntutan-
tuntutan Ilahi, mereka temukan bahwa mereka mempunyai banyak kekurangan.
Dengan kata lain, “pelanggaran” semakin banyak. Tiba-tiba mereka menyadari
banyaknya pelanggaran mereka. Tujuan penyataan [wahyu] seperti itu adalah
untuk menolong mereka melihat kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat
dan mendorong mereka untuk menerima kasih karunia yang diberikan Allah
secara cuma-cuma. Sebagaimana ditekankan di atas, iman menurut versi sebe-
narnya dari Perjanjian Lama bukanlah legalistik.

69
Kamis 5 Agustus
Adam Kedua

“Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh
penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang
beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan
satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh
ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Roma 5:18, 19).
Perbandingan apakah yang ditampilkan di sini? Apakah harapan yang di-
tawarkan kepada kita di dalam Kristus?

Sebagai manusia, kita tidak menerima apa-apa dari Adam kecuali hukuman
mati. Namun demikian, Kristus tampil dan melewati jalan di mana Adam telah
jatuh, bertahan dalam setiap ujian demi kepentingan manusia. Dia telah mene-
bus kegagalan dan kejatuhan Adam yang memalukan itu, dan dengan demikian,
sebagai Pengganti kita, Dia telah menempatkan kita pada sebuah tempat yang
menguntungkan bersama Allah. Demikianlah Yesus menjadi “Adam Kedua.”
“Adam kedua adalah satu sosok moral yang bebas, bertanggung jawab atas
tingkah lakunya sendiri. Dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh gencar yang me-
nyesatkan namun tak kelihatan, Dia ditempatkan pada suasana yang kurang
menguntungkan daripada Adam pertama untuk mempunyai kehidupan tanpa
dosa. Namun di tengah-tengah orang-orang berdosa Dia menepis setiap penco-
baan untuk berbuat dosa, dan memelihara kemurnian-Nya.”—Ellen G. White
Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1074.

Bagaimanakah tindakan Adam dan Kristus dibandingkan dalam Roma


5:15-19?

Perhatikan hal-hal yang berlawanan di sini: maut, hidup; ketidaktaatan, pe-


nurutan; hukuman, pembenaran; dosa, kebenaran. Yesus datang dan meralat
semua yang telah dilakukan Adam!
Cukup menarik, kata “kasih karunia” terdapat lima kali dalam ayat 15 sam-
pai 17. Lima kali! Intinya sederhana: Paulus sedang menekankan bahwa pem-
benaran tidak diusahakan; itu diberikan sebagai sebuah karunia. Itu bukan me-
rupakan jasa kita, sesuatu yang kita tidak pantas terima. Sama seperti semua
pemberian, kita harus mengulurkan tangan untuk menerimanya, dan dalam hal
ini, dengan karunia ini, kita menerimanya oleh iman.

Apakah pemberian terbaik yang pernah diberikan pada Anda? Apakah


yang membuatnya begitu baik dan istimewa? Bagaimanakah fakta bah-
wa itu merupakan sebuah pemberian, bukannya sesuatu yang diusahakan,
membuat Anda lebih menghargainya? Namun, bagaimanakah pemberian
itu bisa dibandingkan dengan apa yang kita miliki di dalam Yesus?

70
Jumat 6 Agustus
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Pertolongan dalam Kehidup-
an Sehari-hari,” hlm. 473-448, dalam Membina Keluarga Sehat; “Christ the Center
of the Message,” hlm. 383, 384, dalam Selected Messages, jld. 1; “Penggodaan dan
Kejatuhan,” hlm. 46-61, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; “Justification,” hlm. 712-
714, dalam The SDA Encyclopedia.
“Banyak yang sesat sehubungan dengan keadaan hati mereka. Mereka tidak sadar
bahwa hati alamiah itu paling menyesatkan di atas segala sesuatu, dan benar-benar
jahat. Mereka membungkus diri mereka dengan kebenaran mereka sendiri, dan puas
oleh mencapai standar tabiat manusia mereka sendiri.”—EGW, 1SM, hlm. 320.
“Ada kebutuhan besar agar Kristus harus dikhotbahkan sebagai satu-satunya
pengharapan dan keselamatan. Bilamana ajaran pembenaran oleh iman disampaikan.
. . , kepada banyak orang itu bagaikan air yang diberikan bagi seorang musafir yang
dahaga. Pemikiran bahwa kebenaran Kristus ditanamkan kepada kita, bukan karena
jasa atau bagian apa pun dari kita, melainkan sebagai sebuah pemberian cuma-cuma
dari Allah, merupakan sebuah pemikiran berharga.”—EGW, 1SM, hlm. 360.
“Ujian adalah sebagian dari pendidikan yang diberikan dalam sekolah Kristus, un-
tuk menyucikan anak-anak Allah dari kotoran keduniawian. Adalah sebab Allah me-
mimpin anak-anak-Nya sehingga pengalaman-pengalaman yang berat datang kepada
mereka. Ujian dan halangan adalah cara yang dipilih Allah untuk mendisiplin, dan cara
yang ditentukan-Nya bagi kemajuan. Ia yang membaca hati manusia mengetahui ke-
lemahan mereka lebih baik daripada mereka sendiri mengetahuinya. Ia melihat bahwa
beberapa orang mempunyai kecakapan, yang jika dijalankan dengan betul, dapat di-
pergunakan untuk memajukan pekerjaan-Nya.”— Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 442.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:
nn Bagaimanakah iman Anda telah menopang Anda melalui berbagai kesu-
karan yang menakutkan? Hal apakah yang telah Anda pelajari dari kesu­
karan-kesukaran itu tentang diri Anda dan tentang Allah? Juga, apakah
yang sudah Anda pelajari yang bisa menolong orang-orang lain yang bo-
leh jadi sedang melalui masa-masa sulit sendiri?
oo Renungkanlah kenyataan tentang maut, apakah yang telah dibuatnya bukan
saja bagi kehidupan tetapi juga bagi makna kehidupan itu sendiri. Banyak
penulis dan filsuf menyesali puncak hidup yang tanpa makna karena hidup
telah berakhir dengan kematian abadi. Bagaimanakah kita sebagai orang-
orang Kristen menanggapi mereka? Mengapakah pengharapan yang kita mi-
liki dalam Yesus adalah satu-satunya jawaban bagi kesia-siaan tersebut?
pp Sama seperti kejatuhan Adam menurunkan sebuah sifat dosa dalam diri kita,
kemenangan Yesus memberikan janji hidup kekal bagi semua kita yang me-
nerimanya dengan iman, tanpa kecuali. Dengan jalan keluar indah yang dise-
diakan bagi kita, apakah yang membuat banyak orang tidak mau menggapai
dan memintanya bagi diri mereka sendiri? Bagaimanakah masing-masing
kita menolong mereka yang sedang berusaha mengerti lebih baik apa yang
Kristus tawarkan dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka?

71
PENUNTUN GURU 6
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 5:1, 2.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Memahami bahwa sekalipun semua anak Adam telah ber-
dosa, kita semua bisa menjadi anak-anak Kristus dan bagian dari keluarga
kerajaan pada saat kita menerima apa yang telah dilakukan-Nya untuk me-
nyelamatkan dunia ini.
¾¾ Merasakan: Bersukacita dalam damai sejahtera yang kita miliki apa pun
kesukaran kita, karena pengharapan dan kasih yang dicurahkan melalui
Roh Kudus.
¾¾ Melakukan: Menerima pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Kristus
untuk menjalani kehidupan seseorang yang telah dibenarkan di hadapan
Allah.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Dosa Melalui Adam, Kasih Karunia Melalui Kristus
A. Seluruh umat manusia telah dijatuhi hukuman mati karena bapa kita
Adam. Mengapakah tindakan kebenaran Kristus, demi kepentingan
kita, memungkinkan kita menjadi bagian dari keluarga Allah?
B. Jika kematian Kristus mendamaikan kita kepada Bapa, apakah yang
terlebih lagi dilakukan hidup-Nya demi kepentingan kita?

II. Merasakan: Bersukacita dalam Pengharapan dan Kasih


A. Kristus hidup dan mati bagi kita, tetapi kita masih ada dalam dunia
yang penuh dengan penderitaan dan kematian. Namun, mengapakah
kita boleh bersukacita dalam penderitaan-penderitaan kita?
B. Apakah yang dicurahkan Roh ke dalam hati kita yang menolong
kita menghidupkan sebuah kenyataan yang berbeda sekarang, ke-
nyataan hidup kekal?

III. Melakukan: Pemberian yang Murni


A. Apakah artinya bahwa pemberian kasih karunia itu lebih besar da-
ripada paket dan ancaman maut?
B. Oleh kegiatan sehari-hari apakah kita menyatakan bahwa kita ber-
sukacita dalam kasih karunia Allah?

Rangkuman: Sekalipun semua orang menderita akibat dosa, kita da-


pat memilih sebuah rangkaian akibat yang berbeda, yaitu damai sejahtera,
pengharapan, dan kasih, yang adalah hasil dari kebenaran Kristus.

72
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Karena Allah telah menerima
kita ke dalam keluarga-Nya, kita mempunyai akses kepada aset-aset surga
yang tak terkira, yang tersedia bagi setiap orang Kristen yang ingin menjadi
seperti Yesus.

Keinginan manusia akan satu penerimaan tampaknya tak pernah habis-ha-


bisnya. Milyaran telah dihabiskan untuk kosmetik, perawatan rambut, dan be-
dah kosmetik untuk membuat orang berterima bagi orang lain—belum lagi sifat
berlebihan dalam berpakaian, rancang rumah, serta mobil. Anak-anak remaja
merengek pada orangtua meminta pakaian-pakaian hasil rancangan terkenal
(satu keharusan agar tidak dianggap rendah secara sosial) dan “kebutuhan-ke-
butuhan” lainnya karena begitu kuatnya ketakutan tidak berterima.
Sedihnya, banyak yang tidak pernah mengalahkan ketakutan tersebut. Apakah
mengherankan bahwa banyak orang mendapati mustahil untuk percaya bahwa
ada satu Allah yang menerima kita sebagaimana kita ada, “tanpa satu syarat?”
Jadi, sikap kita dibentuk bukan oleh satu keinginan untuk melakukan apa yang
benar melainkan oleh satu ketakutan bahwa Allah akan mengabaikan kita jika
kita gagal “masuk barisan.” Berapa banyak orang yang ketakutan yang telah me-
narik orang lain dari Allah oleh memberitahukan mereka bahwa Dia tidak dapat
menerima mereka jika mereka makan ini atau mengenakan rok di atas lutut atau
melakukan satu kecerobohan? Lebih penting, bagaimanakah kita meyakinkan
orang yang telah begitu terluka, bahwa Allah bukanlah seperti itu dan Dia de-
ngan rela menerima setiap orang yang menerima undangan salib Kristus—Salib
yang menawarkan kita sebuah keanggotaan keluarga kekal?

Kegiatan pembuka: Bagikan lembaran kertas, minta anggota kelas


membuat secara jujur sebuah daftar hal-hal yang mereka lakukan agar
berterima pada orang lain. Ini bisa mencakup hal-hal yang mereka dapat-
kan dengan uang, tetapi bisa juga mencakup hal-hal yang mereka lakukan,
contohnya, setuju dengan orang lain sekalipun mereka sebenarnya tidak
setuju, dan sebagainya. Berikut, minta kelas Anda untuk membuat secara
jujur satu daftar hal-hal yang telah mereka buat agar berkenan kepada
Allah. Akhirnya, minta anggota-anggota kelas untuk membagikan salah
satu hal yang “aman” dalam daftar mereka kepada seluruh kelas.

Bahas: Bandingkan beban untuk mendapatkan penerimaan dengan kebe-


basan diterima tanpa syarat

73
LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab.
I. Sebab itu, Kita Dibenarkan (Baca kembali Roma 5:1-5 dengan kelas
Anda).
Pelajaran kita dengan jelas menyatakan bahwa “dibenarkan” lebih tepat di-
terjemahkan “setelah dibenarkan.” Sebuah tindakan yang tuntas. Paulus memilih
menggunakan lambang-lambang hukum dalam kitab Roma untuk menjelaskan
perkenanan kita terhadap Allah. Karena Paulus dan para penulis lain Perjanjian
Baru menggunakan beragam lambang untuk menjelaskan konsep keselamatan,
mungkin saja pada zaman kita ini dia akan menggunakan sebuah model keluar-
ga. Jika demikian, boleh saja kita gambarkan ungkapan kepada jemaat di Roma,
“secara hukum kamu telah dibebaskan” seperti “kamu telah diterima sebagai ba-
gian dari keluarga Allah.” Karena ini adalah sebuah kenyataan yang telah terca-
pai, jelaslah bahwa tidak ada satu pun yang dapat kita lakukan untuk membuat itu
terjadi. Itu telah terjadi. Karena secara hukum kita telah dibebaskan dan diterima
ke dalam keluarga Allah, kita mempunyai akses kepada sarana-sarana yang dita-
warkan Allah pada kita sehingga kita bisa menjadi lebih menyerupai Yesus.
Mungkin saja kita tidak langsung gembira saat melihat sarana-sarana Allah
tersebut. Yang pertama yang disebutkan di sini adalah penderitaan (masalah-
masalah dan berbagai kesukaran). Kayu dan paku mungkin saja melawan keras
tindakan gergaji dan palu! Tetapi melalui alat-alat itulah, di tangan Tukang Kayu
Utama, sesuatu yang berguna dan indah dapat dibangun. Penderitaan mengajar-
kan kita untuk bergantung pada Yesus dan melindungi kita terhadap pencobaan
kesombongan dan kepentingan diri. Yang lebih mengejutkan adalah ketegasan
Paulus (lihat Roma 8:17) bahwa penderitaan menjadikan kita sahabat-sahabat
Kristus. Mereka yang mau mendapatkan kemuliaan Kristus harus juga mau ber-
bagi penderitaan-Nya (lihat juga 1 Petrus 4).
Kesukaran-kesukaran, oleh memaksa kita untuk melatih otot iman kita, mem-
bangun ketahanan. Para pelari terbaik menggunakan banyak waktu untuk berla-
tih di bukit-bukit karena mereka tahu bahwa lahan yang lebih curam menjanjikan
hasil-hasil yang paling menguntungkan, sekalipun bukan latihan yang paling mu-
dah. Ketekunan menghasilkan tabiat yang kuat. Tidak mengejutkan, para pela-
ri jauh yang berdedikasi mengatakan bahwa keberhasilan mereka dalam bidang
akademik, pekerjaan dan bahkan hal-hal sosial adalah berkat disiplin yang mere-
ka pupuk melalui lari secara sistematis. Demikian juga orang-orang Kristen yang
tekun berkata bahwa keberhasilan rohani mereka adalah hasil disiplin yang dipu-
puk dalam menghadapi berbagai kesukaran dalam kebersamaan mereka dengan
Yesus. Berikutnya, tabiat yang kuat mendukung “pengharapan yang pasti.” Pada
saat permainan sedang berlangsung, pelatih yang bijaksana menaruh harapan ke-
menangan pada pundak para pemain yang berpengalaman dan bukan pada para
pemula. Mereka itulah yang telah melalui pengalaman jatuh bangun dan sebagai
hasilnya telah mengembangkan sebuah keyakinan kokoh. Sebuah kehidupan yang
dipenuhi dengan tindakan Allah melawan bukit-bukit kecil memberikan keyakin-
an akan dukungan-Nya bilamana menghadapi gunung-gunung.

74
Pertimbangkan: Bagaimanakah penderitaan telah menyanggupkan Anda
hidup lebih dekat dengan Yesus? Apakah penderitaan telah membuat Anda
meragukan status Anda sebagai anggota keluarga Allah, atau adakah penga-
laman itu justru memastikan bahwa Anda berada pada pihak Allah? Apakah
kesaksian Anda bagi Kristus akan lebih hebat jika Anda telah mengalami
kehidupan yang mudah, atau apakah akan lebih berkhasiat jika Anda telah
berjalan bersama Kristus melalui banyak kesukaran?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Sementara Alkitab mengajarkan dengan jelas bah-
wa keselamatan dan kebersamaan dengan Allah adalah satu karunia, ba-
nyak orang Kristen, sebagaimana juga orang Israel zaman dahulu, berlaku
seakan-akan itu sebuah hak. Kajilah situasi-situasi berikut ini dan tanyakan,
“Bagaimanakah saya bisa menolong orang lain melihat bahwa Allah tidak
berutang apa-apa pada kita, namun telah memberikan kita segalanya?
Kegiatan: Bahaslah apa yang Anda bisa katakan untuk menolong orang
lain bersukacita dalam situasi-situasi berikut ini:
nn Karlita tidak dapat percaya bahwa Allah telah menerima dia. Dia meng-
idap kanker yang mematikan, berperan sebagai orangtua tunggal bagi
tiga orang anak yang masih di bawah 10 tahun. Tantenya, seorang yang
mengaku pendeta, telah mengatakan padanya bahwa jika memang dia
benar-benar anak Allah, pastilah Allah menyembuhkan dia jika saja
dia menghidupkan iman yang cukup. Dokter memberi dia waktu enam
hingga dua belas bulan.
oo Buce baru saja dilepaskan dari penjara, di mana dia telah habiskan
setengah dari hidupnya karena tuduhan pembunuhan. Dia menyesali
dosa-dosanya tetapi oleh karena masa lalunya, dia tidak bisa percaya
bahwa Allah sanggup menyelamatkan dia.
pp Marlina getir karena dia telah melakukan segala sesuatu sebisanya.
Dia kehilangan pekerjaan karena menolak bekerja pada hari Sabat.
Dia meninggalkan banyak makanan kesukaannya karena mau “me-
nguduskan bait tubuhnya.” Dia mengusir teman-teman judi suaminya
dari rumahnya agar teladan buruk mereka tidak akan merusak anak-
anaknya. Suaminya juga sudah keluar rumah dan anak-anaknya mau
mengikuti suaminya. Pengacaranya berkata bahwa dengan tidak ada-
nya pendapatan, pengadilan bisa saja membiarkan anak-anak itu. Dia
ingin tahu mengapa Allah membiarkannya terjerembab.

Pertanyaan-pertanyaan Renungan:
»» Apakah menuntut janji-janji Allah berarti Allah akan selalu menolong se-
suai cara yang kita harapkan?
¼¼ Bagaimanakah kesukaran dan penderitaan membentuk kita sesuai citra
Kristus?

75
½½ Bagaimanakah kita mengembangkan keyakinan yang kuat dan berpengha-
rapan pada Allah sehingga kesukaran-kesukaran tidak akan menggoda kita
untuk meragukan perkenanan kita pada Allah?

Bersaksi: Bertumbuh besar, salah satu motivasi Dan untuk hidup “benar”
adalah satu keinginan untuk tidak melakukan apa pun yang membuat malu
orangtuanya (paling tidak, tidak tertangkap melakukan hal-hal itu!). Sebagai
seorang cucu dari pekerja tani yang migrasi, dia menghargai usaha-usaha yang
dikembangkan orangtuanya untuk meningkatkan standar kehidupan serta me-
nyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi keluarga itu. Dalam be-
berapa hal dia terima, sekalipun tidak selamanya dengan senang hati, pertim-
bangan-pertimbangan serta kesukaan-kesukaan orangtuanya demi kehormatan
mereka (kita tidak bicarakan di sini tentang masalah kata hati atau moral). Na-
mun, haruslah dimengerti bahwa tidak ada tekanan-tekanan luar yang diterap-
kan orangtuanya untuk penurutan. Itu adalah satu keputusan sukarela didasar-
kan atas penerimaan dalam keluarga. Hubungan Dan dengan Allah terbentuk
dengan keadaan yang sama. Sering tindakan-tindakan yang tidak benar dicegah
karena dia merasa bahwa menyerah dalam pencobaan akan memberi Setan satu
kesempatan untuk mempermalukan Allah sebagai tidak berkemurahan kepada
mereka yang tidak layak. Dia dapati kasih Allah sebagai motivasi yang lebih
kuat untuk hidup benar dibandingkan dengan ancaman-ancaman dibakar dalam
neraka, pemecatan gereja, atau dipermalukan di muka umum.
Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menentukan apakah motif kita untuk
tingkah laku yang benar adalah takut terhadap Allah atau karena kita telah
diterima-Nya?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Hasrat hati manusia untuk menyelamatkan dirinya
telah menuntun hampir semua agama dunia untuk mendirikan sistem-
sistem kebenaran yang bergantung pada sifat manusia untuk satu penerima­
an. Hanya Kekristenan yang berkata bahwa penerimaan bergantung pada
tindakan Allah dan bukan tindakan kita. Karena Allah telah menerima kita
dan mengasihi kita melampaui segala batas, Dia memberikan kita segala
kesempatan untuk menjadi sama seperti Kristus dan tidak menahan pende-
ritaan dari kita. Melalui penderitaan kita bergabung dengan Kristus dalam
kepedihan-kepedihan hidup ini, namun juga sama pastinya dalam hidup
mulia yang telah disediakan-Nya bagi kita.
Kegiatan: Menggunakan cerita-cerita bagaimana Allah telah menuntun
anggota-anggota kelas Anda melalui kesukaran dan perjuangan menuju keya-
kinan yang kokoh tentang kedudukan mereka sebagai anak-anak Allah, buatlah
sebuah pamplet untuk digunakan kelas Anda sebagai alat bersaksi untuk diba-
gikan kepada para sahabat, tetangga, rekan sekerja, karyawan, dan sanak sau-
dara (dan masih banyak lagi).

76
Pelajaran 7 *7-13 Agustus 2010

Kemenangan Atas Dosa

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 6; 1 Yohanes 1:8-2:1.

Ayat Hafalan: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa,
karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah
kasih karunia” (Roma 6:14).

S
etelah menjelaskan tentang pembenaran oleh iman, bukan oleh perbuatan-
perbuatan hukum, Paulus melanjutkan menjawab pertanyaan yang jelas
muncul: Jika perbuatan tidak bisa menyelamatkan kita, mengapa kita harus
terusik oleh semua itu? Mengapa tidak terus berbuat dosa saja?
Pasal 6 adalah jawaban Paulus terhadap pertanyaan penting ini. Di sini Pau­
l­us membahas apa yang umumnya dimengerti sebagai “penyucian,” proses oleh
mana kita mengalahkan dosa dan terus semakin mencerminkan tabiat Kristus.
Namun, kata penyucian itu sendiri tidak terdapat dalam kitab Roma. (Kata “di-
sucikan” terdapat satu kali, di Roma 15:16).
Apakah ini berarti Paulus tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang di-
pahami sebagai penyucian? Tidak sama sekali. Dia hanya tidak menyebutkan
langsung istilah tersebut.
Dalam Alkitab, “menyucikan” berarti “menyerahkan khusus,” biasanya ke-
pada Allah. Jadi, disucikan sering digambarkan sebagai sebuah tindakan yang
telah tuntas terjadi. Contohnya, “semua orang yang telah dikuduskan-Nya” (Ki-
sah 20:32). Orang-orang yang telah disucikan dalam pengertian ini adalah me-
reka yang telah diserahkan khusus bagi Allah.
Tetapi penggunaan kata “menguduskan” dari sudut pandang Alkitabiah ini
tidak menyangkal pentingnya ajaran penyucian atau fakta bahwa penyucian ada-
lah pekerjaan seumur hidup. Alkitab dengan tegas mendukung ajaran ini, tetapi
biasanya menggunakan istilah-istilah lain untuk menjelaskannya.
Pekan ini kita akan melihat sisi lain keselamatan oleh iman, satu hal yang
mudah disalahmengerti, yaitu: janji-janji kemenangan atas dosa dalam diri se-
seorang yang telah diselamatkan oleh Yesus.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 14 Agustus.

77
Minggu 8 Agustus
Kasih Karunia Berlimpah-limpah
Dalam Roma 5:20, Paulus membuat sebuah pernyataan dahsyat: “dan di
mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.”
Maksudnya adalah betapapun banyaknya dosa atau betapa mengerikan sekali-
pun akibat-akibat dosa, kasih karunia Allah cukup untuk mengatasinya. Beta-
pa sebuah pengharapan bagi masing-masing kita, khususnya pada saat tergoda
untuk merasa bahwa dosa-dosa kita sudah terlalu besar untuk diampuni! Da-
lam ayat berikutnya, Paulus menunjukkan bahwa sekalipun dosa telah menun-
tun pada maut, kasih karunia Allah melalui Yesus telah mengalahkan dosa dan
dapat memberi kita hidup kekal.
Baca Roma 6:1. Logika apakah yang sedang dibahas Paulus di sini, dan
bagaimanakah dalam ayat-ayat selanjutnya Paulus menanggapi jenis pe-
mikiran seperti itu? Roma 6:2-11.
Paulus mengikuti sebuah garis argumen menarik dalam pasal 6 tentang me-
ngapa seorang yang telah dibenarkan tidak seharusnya berbuat dosa. Ia meng-
awali oleh mengatakan kita tidak seharusnya berbuat dosa karena kita telah mati
terhadap dosa. Kemudian dia menjelaskan apa yang dimaksudkannya.
Baptisan dengan diselamkan dalam air melambangkan penguburan. Apakah
yang dikuburkan? “Manusia lama” dosa—yaitu, tubuh yang melakukan dosa,
tubuh yang dikuasai atau diperintah oleh dosa. Sebagai akibatnya, “tubuh dosa”
ini dibinasakan, sehingga kita tidak lagi melayani dosa. Dalam Roma 6 dosa di-
umpamakan sebagai seorang majikan yang memerintah atas hamba-hambanya.
Begitu “tubuh dosa” yang melayani dosa dibinasakan, penguasaan dosa atas tubuh
itu berhenti. Orang yang bangkit dari kuburan air itu tampil sebagai seorang ma-
nusia baru yang tidak lagi melayani dosa. Dia kini berjalan dalam hidup baru.
Kristus, setelah mati, hanya mati satu kali untuk selamanya, tetapi Ia kini
hidup selama-lamanya. Maut tidak lagi berkuasa atas-Nya. Jadi, orang Kristen
yang dibaptiskan telah mati terhadap dosa sekali dan untuk selamanya dan ti-
dak boleh lagi berada kembali dalam penguasaannya.
Tentu saja, sebagaimana yang diketahui setiap orang Kristen yang telah di-
baptiskan, dosa tidak dengan sendirinya sirna dari kehidupan kita begitu kita
keluar dari air. Tidak diperintah oleh dosa tidak berarti kita tidak harus bergu-
mul dengannya. Kita mempunyai peperangan setiap hari, setiap saat, untuk terus
menganggap diri kita telah mati terhadap dosa dan hidup untuk Kristus. Seka-
lipun ada janji-janji kemenangan, kita harus memintanya—oleh iman. Kita ha-
rus selalu mengingat juga bahwa kasih karunia Allah berlimpah-limpah, bahkan
pada waktu kita berbuat dosa. Jika tidak, pengharapan apakah yang ada pada
kita, bahkan setelah kita dibaptiskan?
Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda dengan kuasa dosa dalam hi-
dup Anda, bahkan setelah baptisan? Pilihan-pilihan apakah yang Anda sedang
buat yang telah membiarkan dosa berkuasa atas Anda yang seharusnya tidak bo-
leh terjadi, sekalipun dalam Alkitab ada banyak janji kemenangan atas dosa?

78
Senin 9 Agustus
Doa Diibaratkan

Nasihat apakah yang diberikan bagi kita dalam Roma 6:12?


Kata berkuasa menunjukkan bahwa “dosa” di sini diumpamakan sebagai
seorang raja. Kata Yunani yang diterjemahkan “berkuasa” secara harfiah berarti
“menjadi seorang raja” atau “berfungsi sebagai raja.” Dosa begitu suka berkua-
sa sebagai raja atas tubuh fana kita dan mendikte tingkah laku kita.
Bila Paulus berkata “hendaklah dosa jangan berkuasa lagi,” dia mengisya-
ratkan bahwa orang yang telah dibenarkan dapat memilih untuk mencegah
dosa mengukuhkan dirinya sebagai raja dalam hidupnya. Di sinilah tindakan
kemauan diperlukan.
“Apa yang perlu dipahami ialah tenaga kemauan yang sejati. Inilah kuasa yang
memerintah di dalam tabiat manusia, kuasa mengambil keputusan, atau kuasa me-
milih. Segala sesuatu tergantung atas perbuatan kemauan yang benar. Kuasa untuk
memilih Allah telah diberikan kepada manusia; inilah yang harus digunakan oleh
manusia. Anda tidak dapat mengubah hatimu, dengan dirimu sendiri Anda tidak
dapat menyerahkan kepada Allah segala keinginan hati itu; namun Anda dapat me-
milih untuk melayani Dia. Anda dapat menyerahkan kemauan pada-Nya, lalu Dia
akan bekerja di dalam dirimu dan mengerjakannya sesuai dengan keridlaan-Nya.
Dengan demikian semua tabiatmu akan diarahkan kepada pimpinan Roh Kristus;
keinginan-keinginanmu akan dipusatkan pada-Nya, pikiran-pikiranmu akan seja-
lan dengan Dia.”—Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 53, 54.
Kata Yunani dalam Roma 6:12 yang diterjemahkan “keinginan” berarti “has-
rat.” Keinginan bisa saja untuk hal yang baik atau juga yang buruk; bila dosa me-
merintah, itu akan membuat kita menginginkan yang buruk. Hasrat itu akan begi-
tu kuat, bahkan tidak bisa ditolak sekalipun kita berusaha melawan dengan usaha
sendiri. Dosa bisa menjadi sebuah pemerintah yang kejam, yang tidak pernah puas
dan selalu meminta lebih. Hanya melalui iman, hanya melalui menuntut janji-janji
kemenangan, kita bisa mencampakkan majikan yang tak kenal lelah ini.
Kata tersebut dalam ayat ini sangat penting. Itu ada hubungannya dengan
yang sudah dibahas sebelumnya, khususnya dengan yang disebutkan dalam ayat
10 dan 11. Orang yang sudah dibaptis kini hidup “bagi Allah.” Artinya, Allah
adalah pusat kehidupannya yang baru. Orang itu kini melayani Allah, melaku-
kan apa yang menyukakan Allah dan, dengan demikian, tidak dapat melayani
dosa pada saat yang sama. Dia kini “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”
Pelajari kembali kutipan dari Ellen G. White dalam pelajaran hari ini.
Perhatikan betapa pentingnya konsep kebebasan kemauan itu. Sebagai insan
moral, kita harus memiliki sebuah kebebasan kemauan, kuasa untuk memi-
lih yang benar dan yang salah, baik dan jahat, Kristus atau dunia. Dalam 24
jam ke depan ini, cobalah secara sadar telusuri bagaimana Anda mengguna-
kan kebebasan moral untuk memilih ini. Apakah yang dapat Anda pelajari
tentang cara Anda menggunakan atau menyalahgunakan karunia suci ini?

79
Selasa 10 Agustus
Di Bawah Hukum Taurat?

Baca Roma 6:14. Bagaimanakah kita mengerti ayat ini? Apakah mak-
sudnya bahwa Sepuluh Perintah itu tidak lagi mengikat kita? Jika tidak,
mengapa?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Roma 6:14 adalah salah satu pernyataan kunci dalam kitab Roma. Dan ini
sering kita dengar, biasanya dikutip dalam konteks orang menuding kita orang-
orang Advent bahwa Sabat hari ketujuh telah dicabut.
Namun jelas bukan ini maksud ayat tersebut. Seperti yang kita tanyakan se-
belumnya, bagaimanakah bisa hukum moral dihapuskan dan dosa masih me-
rupakan sebuah kenyataan, padahal justru hukum morallah yang menyatakan
apa dosa itu? Jika Anda baca ayat-ayat sebelumnya dalam kitab Roma, seka-
lipun hanya pasal 6, sukar untuk mengerti bagaimana di tengah-tengah semua
pembahasan tentang realitas dosa, Paulus tiba-tiba mengatakan, “Di samping
itu, hukum moral, Sepuluh Perintah itu, yang menyatakan dosa, telah dihapus-
kan.” Tidak masuk akal.
Paulus sedang berkata kepada orang-orang Roma bahwa orang yang hi-
dup “di bawah hukum Taurat”—yaitu, di bawah aturan Yahudi sebagaimana
praktik saat itu, dengan segala peraturan dan ketetapan buatan manusia—akan
diperin­tah oleh dosa. Sebaliknya, seorang yang hidup di bahwa kasih karunia
akan memperoleh kemenangan atas dosa, karena hukum itu tertulis dalam ha-
tinya dan Roh Allah dibiarkan menuntun langkahnya. Menerima Kristus Yesus
sebagai Mesias, dibenarkan oleh Dia, dibaptiskan dalam kematian-Nya, dibina-
sakannya “manusia lama,” bangkit untuk hidup baru—semua inilah yang akan
menurunkan dosa dari takhta kehidupan kita. Ingatlah, inilah konteks keselu-
ruhan di mana ayat ini muncul, konteks janji kemenangan atas dosa.
Kita tidak boleh mengartikan “di bawah hukum Taurat” terlalu sempit. Orang
yang seharusnya hidup “di bawah kasih karunia” tetapi tidak taat pada hukum Al-
lah tidak akan menemukan kasih karunia melainkan hukuman. “Di bawah kasih
karunia” artinya melalui kasih karunia Allah yang dinyatakan dalam Yesus, hu-
kuman bagi orang berdosa yang tak bisa dielakkan akibat dosa telah ditiadakan.
Demikianlah, begitu bebas dari hukuman maut yang dibawa oleh hukum Taurat,
kita hidup dalam “hidup baru,” suatu hidup yang ditandai dan dinyatakan melalui
fakta bahwa, setelah mati terhadap diri, kita bukan lagi hamba-hamba dosa.

Bagaimanakah Anda telah mengalami kenyataan hidup baru dalam


Kristus? Bukti nyata apakah yang dapat Anda tunjukkan yang menyata-
kan apa yang telah Kristus perbuat bagimu? Hal-hal apakah yang Anda
tidak rela lepaskan, dan mengapa mereka harus dilepaskan?

80
Rabu 11 Agustus
Dua Tuan yang Bertentangan

Baca Roma 6:16. Apakah yang Paulus ajarkan? Mengapa argumenta-


sinya begitu tegas antara yang hitam dan putih? Artinya, harus pilih sa-
lah satu, tidak ada jalan tengah. Pelajaran apakah yang harus kita ambil
dari perbedaan nyata ini?

Paulus mengulangi kembali pokok pikiran bahwa hidup baru dalam iman
tidak menjamin kebebasan untuk berbuat dosa. Hidup dalam iman membuat ke-
menangan atas dosa itu mungkin; kenyataannya, hanya melalui iman saja kita
bisa memperoleh kemenangan yang dijanjikan pada kita.
Setelah mengibaratkan dosa sebagai seorang raja yang memerintah rakyatnya,
Paulus kini kembali kepada figur dosa sebagai seorang majikan yang menuntut
penurutan dari hamba-hambanya. Paulus menunjukkan bahwa seorang bisa me-
milih tuannya. Orang itu dapat melayani dosa yang menuntun pada maut, atau
melayani kebenaran yang menuntun pada hidup kekal. Paul­us tidak meninggal-
kan kita suatu jalan tengah atau ruang untuk kompromi. Harus pilih salah satu,
karena pada akhirnya kita menghadapi hidup kekal atau kematian kekal.

Baca Roma 6:17. Bagaimanakah Paulus mengembangkan apa yang di-


katakannya di ayat 16?
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Perhatikan, cukup menarik, bagaimana penurutan dikaitkan dengan doktrin


yang benar. Kata Yunani untuk “doktrin” di sini berarti “ajaran.” Orang-orang
Kristen di Roma telah diajarkan prinsip-prinsip iman Kristen, yang kini mere-
ka turuti. Dengan demikian, bagi Paulus, doktrin yang benar, ajaran yang be-
nar, bila dituruti “dengan segenap hati,” menolong orang-orang Roma menjadi
“hamba kebenaran” (ayat 18). Kadang kita mendengar bahwa doktrin tidak jadi
masalah, selama kita menunjukkan kasih. Ini sebuah ungkapan sangat seder-
hana dari sesuatu yang tidak sederhana. Sebagaimana dinyatakan dalam pela-
jaran sebelumnya, Paulus sangat prihatin pada ajaran palsu yang telah dianut
oleh orang Galatia. Jadi, kita perlu berhati-hati dengan pernyataan-pernyataan
yang merendahkan pentingnya ajaran yang benar.

Hamba-hamba dosa, hamba-hamba kebenaran: suatu kontras yang sa-


ngat jelas. Jika, setelah baptisan, kita berdosa, apakah ini berarti kita be-
nar-benar diselamatkan? Baca 1 Yohanes 1:8-2:1. Bagaimanakah ayat-ayat
ini menolong kita mengerti apa artinya menjadi seorang pengikut Kristus
tetapi masih bisa jatuh?

81
Kamis 12 Agustus
Buah Yang Membawa Kepada Kekudusan

Sambil mengingat apa yang sudah kita pelajari sejauh ini dalam Roma 6,
bacalah ayat-ayat selanjutnya (19-23). Rangkumkan pada baris di bawah ini
inti dari yang dikatakan Paulus. Terlebih penting, tanyakan diri Anda bagai-
mana Anda bisa wujudkan dalam diri Anda kebenaran-kebenaran yang sedang
dibahas Paulus. Tanyakan juga apakah pokok yang sedang dibahas di sini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Kata-kata Paulus di sini menunjukkan bahwa dia sepenuhnya mengerti sifat
alami manusia yang sudah jatuh. Dia berbicara tentang “kelemahan dalam tu-
buhmu.” Kata Yunani untuk “kelemahan” berarti juga “kekurangan.” Dia tahu
apa yang dapat dilakukan sifat alami manusia yang sudah jatuh jika dibiarkan
sendiri. Makanya sekali lagi dia menyebutkan kuasa memilih—kuasa yang ada
pada kita untuk memilih menyerahkan diri kita dan sifat daging yang lemah ini
kepada majikan yang baru, Yesus, yang akan menyanggupkan kita untuk me-
nerapkan sebuah hidup yang benar.
Roma 6:23 sering dikutip untuk menunjukkan bahwa ganjaran atas dosa—
yaitu, pelanggaran terhadap hukum—adalah maut. Yang pasti ganjaran dosa
adalah maut. Tetapi selain melihat maut sebagai sebuah ganjaran dosa, kita ha-
rus melihat dosa sebagaimana yang dijabarkan Paulus dalam Roma 6—sebagai
seorang tuan yang menguasai hamba-hambanya, mengeruk mereka dan mem-
bayar kembali dengan upah maut.
Perhatikan juga, bahwa dalam pembahasannya tentang dua orang majikan­
itu, Paulus menarik perhatian kepada fakta bahwa pengabdian kepada satu ma-
jikan berarti kebebasan dari pengabdian terhadap majikan lainnya. Kembali kita
melihat pilihan yang jelas: yang satu atau yang lainnya. Tidak ada jalan tengah.
Pada saat yang sama, sebagaimana kita semua tahu, dibebaskan dari penguasa-
an dosa bukan berarti tanpa dosa, bukan berarti kita tidak bergumul dan bahkan
sering jatuh. Sebaliknya, itu berarti kita tidak lagi dikuasai oleh dosa. Akan te-
tapi kenyataannya dosa tetap ada dalam kehidupan kita dan seharusnyalah kita
menuntut janji-janji kemenangan atasnya.
Dengan demikian, ayat ini menjadi sebuah ajakan penuh kuasa kepada seti-
ap orang yang masih mengabdi pada dosa. Raja lalim ini tidak menawarkan apa-
apa kecuali maut sebagai upah melakukan hal-hal yang memalukan; jadi, orang
yang berakal sehat seharusnya menginginkan kemerdekaan dari raja lalim ini. Di
lain pihak, mereka yang mengabdi pada kebenaran melakukan hal-hal yang be-
nar dan patut dipuji, bukan dengan pengertian bahwa dengan cara itulah mereka
mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai buah dari pengalaman baru mere-
ka. Jika mereka melakukannya demi memperoleh keselamatan, mereka sedang
kehilangan seluruh ajaran Injil, seluruh inti keselamatan, dan seluruh alasan me-
ngapa mereka membutuhkan Yesus.

82
Jumat 13 Agustus
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Kemenangan Ditentukan,”
hlm. 96, 97, dalam Amanat kepada Orang Muda; “Tujuan Pelayanan yang Sebe-
narnya,” hlm. 91-116, dalam Khotbah di Atas Bukit; “Appeal to the Young,” hlm.
365, dalam Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 1074, 1075; dalam The SDA
Bible Commentary, jld. 6.
“Ia [Yesus] tidak menyetujui dosa. Sedikit pun Ia tidak memikirkan hendak me-
nyerah kepada penggodaan. Demikian juga halnya dengan kita. Kemanusiaan Kristus
dipersatukan dengan Keilahian; Ia dilayakkan untuk pergumulan itu oleh tinggalnya
Roh Kudus di dalam hati-Nya. Dan Ia datang untuk membuat kita mengambil bagian
dalam sifat-sifat Ilahi itu. Selama kita dipersatukan dengan Dia oleh iman, dosa tidak
lagi menguasai kita. Allah mengulurkan tangan-Nya hendak mencapai tangan iman
kita agar olehnya kita berpegang teguh pada Keilahian Kristus, supaya kita dapat men-
capai kesempurnaan tabiat.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 118
“Saat dibaptis, kita telah berjanji untuk memutuskan sebuah hubungan dengan
Setan dan agen-agennya, dan menaruh hati dan pikiran kita pada pekerjaan perlu-
asan kerajaan Allah.... Bapa, Anak, dan Roh Kudus berikrar untuk bekerja sama de-
ngan sarana manusia yang telah disucikan.”—Komentar Ellen G. White, The SDA
Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1075.
“Sebuah pengakuan Kekristenan belaka tanpa menghubungkan iman dan perbu-
atan tak ada faedahnya sama sekali. Tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan.
Anak-anak si jahat adalah hamba-hamba tuannya sendiri; kepada siapa mereka me-
nyerahkan diri untuk taat sebagai hamba-hamba, mereka adalah hamba-hambanya,
dan mereka tidak bisa menjadi hamba-hamba Allah sebelum mereka meninggalkan
Iblis dan segala pekerjaannya. Tidak mungkin tanpa bahaya bila hamba-hamba Raja
surga melibatkan diri dalam kepelesiran dan hiburan yang dinikmati hamba-hamba
Setan, sekalipun mereka sering menekankan bahwa hiburan-hiburan seperti itu ti-
dak berbahaya. Allah telah menyatakan kebenaran-kebenaran suci dan kudus un-
tuk memisahkan umat-Nya dari mereka yang tidak saleh serta menyucikan mereka
bagi diri-Nya. Orang-orang Advent harus menghidupkan iman mereka.”—Ellen G.
White, Testimonies for the Church, jld. 1, hlm. 404.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Sekalipun kita memiliki semua janji indah kemenangan atas dosa, kenyata-
annya adalah kita semua—bahkan orang-orang Kristen sejak lahir—menya­
dari betapa kita sudah jatuh, betapa berdosanya kita, betapa rusaknya hati
kita. Apakah ada kontradiksi dalam hal ini? Jelaskan jawaban Anda.
oo Di kelas, beri kesaksian tentang apa yang Kristus telah lakukan dalam diri
Anda, kepada perubahan yang telah Anda alami, kepada hidup baru yang
Anda peroleh dalam Dia.
pp Betapapun pentingnya agar kita selalu mengingat bahwa keselamatan kita ter-
letak hanya dalam apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, bahaya-bahaya
apakah yang muncul jika kita terlalu menekankan kebenaran indah tersebut
dan mengesampingkan bagian lain dari keselamatan: yakni apa yang Yesus
lakukan dalam diri kita, untuk mengubah kita kepada citra-Nya? Mengapa-
kah kita perlu mengerti dan menekankan kedua aspek keselamatan ini?

83
PENUNTUN GURU 7
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 6:11.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Membandingkan dan membedakan berada di bawah hukum
Taurat dan melayani tuan dosa, dengan hidup di bawah kasih karunia dan
menurut Tuhan kebenaran.
¾¾ Merasakan: Memelihara sikap dan perasaan orang yang hidup untuk Allah
dan mati terhadap dosa.
¾¾ Melakukan: Memilih menyerahkan kemauan kita pada Allah setiap hari.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Taat kepada Dosa atau Kasih Karunia
A. Saat kita mengambil bagian dalam kematian Kristus melalui baptis-
an, kita mati terhadap dosa dan dibangkitkan kepada kehidupan sama
seperti Kristus hidup, penurutan kepada Allah. Mengapakah kita ha-
nya bisa menjalani kehidupan itu oleh kasih karunia Allah?
B. Kita hanya bisa mempunyai satu tuan. Apakah mungkin menjalani
kehidupan kasih karunia ini tetapi juga tunduk pada pemerintahan
dosa? Mengapa, atau mengapa tidak?

II. Merasakan: Hidup untuk Dosa atau Allah


A. Apakah artinya hidup untuk dosa? Sebaliknya, apakah artinya hi-
dup untuk Allah?
B. Bagaimanakah melayani sifat alami dosa kita mencakup perasaan
dan keinginan terhadap hal-hal yang bertentangan dengan cara hi-
dup Allah? Apa sajakah hal-hal tersebut?
C. Bilamana kita mati terhadap dosa dan hidup untuk Allah, perasaan-
perasaan dan keinginan-keinginan apakah yang kita miliki?

III. Melakukan: Pilihlah Hari Ini


A. Sementara kita tidak bisa mengubah hati kita, bagaimanakah kita
bisa memilih untuk menyerahkan kemauan kita kepada Allah?
B. Pilihan-pilihan apakah yang dapat kita buat pekan ini yang mem-
bawa kita sepenuh hati ke dalam satu kehidupan sepenuhnya pada
pihak Allah, sama sekali tidak mengikuti Iblis?

Rangkuman: Jika kita dibaptiskan ke dalam kematian Kristus dan


bangkit untuk hidup di dalam Dia, dipenuhi dengan kasih karunia dan ke-
benaran-Nya, Dia memberkati kita dengan kesucian dan hidup kekal.

84
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Kasih karunia Allah meluap se-
hingga menutupi setiap dosa dan memberikan kita satu kuasa yang tak dapat
ditaklukkan pencobaan apa pun.

Adakah satu waktu di mana kasih karunia Allah lebih dibutuhkan daripa-
da di zaman ini? Tingkat kejahatan mencengangkan kita. Jika tingkat kejahat-
an ini dibatasi pada satu wilayah saja, mungkin kita bisa mempersalahkan ku-
rangnya pendidikan, kemiskinan, atau beberapa keadaan yang dapat diperbaiki.
Tetapi, kemerosotan yang mendunia tidak memberi ruang untuk alasan-alasan
murahan. Jawaban terhadap kemerosotan masyarakat pastilah terdapat pada
hal lain. Ketamakan, korupsi, dan skandal seks, pada tingkat-tingkat pemerin-
tahan tertinggi dan masyarakat, menjadi berita utama hanya dalam semalam
dan menunjukkan bahwa dosa tidak mengenal kasta atau posisi sosial. Penya-
lahgunaan obat-obatan merajalela di antara orang kaya maupun miskin. Masa-
lahnya lebih dalam dan meresap daripada yang dapat dimengerti para politik-
us dan pakar kemasyarakatan. Dosa berkuasa. Hikmat manusia yang tak me-
madai tidak dapat membalikkan aliran menuju kekacauan dan menyelamatkan
kita dari jurang moral.
Kita butuh pertolongan! Syukur pada Allah karena ada pertolongan! Yesus
telah mengalahkan dosa di salib, dan Roh Kudus menyalurkan berkat-berkat
kemenangan tersebut kepada semua yang mau mengalahkan pencobaan dosa.
Kita mempunyai Seorang Sekutu yang tidak dapat gagal!

Kegiatan Pembuka: Bahas pernyataan Charles Spurgeon berikut ini:


“Pertolongan-Nya [Allah] lebih dari sekadar pertolongan, karena Dia
menanggung semua beban dan menyediakan segala kebutuhan. ‘Tuhan
adalah penolongku, aku tidak akan takut pada yang dapat dilakukan manu-
sia padaku.’ Karena Dia telah menjadi penolong kita, kita yakin padanya
untuk masa sekarang dan masa depan. Doa kita adalah, ‘Tuhan jadilah
penolongku’; pengalaman kita adalah, ‘Roh juga menolong kelemahan-
kelemahan kita.’”—Charles Spurgeon, Faith’s Check Book (Springdale,
Penn.: Whitaker House, 1992), hlm. 14.

Pertanyaan untuk Diskusi: Apakah yang dimaksudkan Spurgeon bahwa


Allah menanggung semua beban dan menyediakan segala kebutuhan? Bagai-
manakah pengertian ini menolong kita mengartikan kasih karunia?

85
LANGKAH 2—Selidiki
Komentar Alkitab
I. Dosa Diumpamakan Manusia (Baca kembali Roma 6:12 bersama anggota
kelas Anda).
Bagaimanakah kita membedakan keinginan-keinginan yang suci dan yang
jahat? Perbedaannya tidaklah sederhana. Kata Yunani, epithumia, sering diter-
jemahkan “hawa nafsu,” adalah kata untuk “keinginan” dan bisa bersifat netral
(Mrk. 4:19), atau bermakna baik, seperti ketika Paulus berbicara tentang epithu-
mia untuk menjadi sama seperti Kristus (Flp. 1:23). Namun, para penerjemah
hampir semuanya menganggap epithumia di Roma 6:12 itu mempunyai mak-
na negatif (KJV, NKJV, NASB—hawa nafsu; NIV—keinginan-keinginan jahat;
NLT—Keinginan-keinginan penuh hawa nafsu; RSV, NRSV, dan MLB menerje-
mahkan nafsu; [sementara merupakan satu istilah netral, kata ini bisa mengarti-
kan konotasi romantis keinginan seksual yang terlarang]; TEV, CEV, dan NEV
menggunakan istilah netral keinginan). Tentunya, para penerjemah mengguna-
kan konteks untuk menentukan corak makna yang mereka berikan untuk kata
tersebut. Perbedaan antara keinginan yang suci dan yang jahat harus dikaitkan
dengan kehendak Allah yang dinyatakan. Keinginan seksual adalah satu nalu-
ri pemberian Allah, suci kecuali digunakan di luar kehendak Allah; lapar ada-
lah keinginan alami, suci kecuali sampai makan berlebihan; bahkan keinginan
akan kekayaan tidaklah jahat kecuali menjadi ketamakan. Keinginan telah me-
nyimpang dari maksud semula Allah kepada beberapa tingkah laku yang ber-
lebihan dan merusak. Allah memberikan kita Alkitab supaya kita bisa melihat
manakah kehendak-kehendak-Nya.
Begitu Roh Kudus menuntun kita untuk mengetahui maksud-maksud Allah,
ada kabar baik; kita tidak ditinggalkan sendiri dan tak berdaya! Pengorbanan
Kristus membebaskan kita dari kuasa dosa dan memberi kita kuasa untuk hidup
suci—jika kita memilihnya. Melalui teman karibnya Geraldine, komedian Flip
Wilson mengukir sebuah ungkapan “Setan yang membuat saya melakukannya”
sehingga terkenal di dunia; tetapi tak seorang pun yang dengan sah boleh me-
maafkan dosa atas dasar ungkapan tersebut, karena Iblis tidak pernah memaksa
kita melakukan sesuatu. Dia berdiri tidak berdaya bilamana kita telah memilih
untuk membiarkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita. Di situlah terletak
peperangan sebenarnya: Maukah kita menyerahkan kendali pada Allah, atau
akankah kita berusaha menarik kendali-kendali kehidupan jauh dari Dia?
Pertimbangkan: Bagaimanakah rencana Allah untuk menyucikan keingi-
nan-keinginan dan motif-motif saya? Bagaimanakah kita kadang-kadang
masuk pada jalan tujuan-tujuan Ilahi-Nya?

II. Di Bawah Hukum Taurat? (Baca Roma 6:14 bersama anggota kelas Anda).
Sebagian komentator menegaskan bahwa Paulus meniadakan Sepuluh Fir-
man dalam ayat-ayat ini. Betapa ganjil bila Paulus harus mengatakan sesuatu
yang bertentangan dengan pernyataan Kristus (Mat. 5:17-19) tentang hukum
Taurat! Jika kita mengikuti nalar Paulus, kita tidak akan tiba pada kesimpulan

86
yang salah seperti itu. Argumen Paulus adalah hukum Taurat itu menyatakan
mana yang benar dan salah, yaitu mengajarkan kita apa dosa itu. Orang yang
melanggar hukum berada di bawah wewenang hukum. Orang yang tidak me-
langgar hukum (tidak berbuat dosa) tidak berada di bawah wewenang hukum.
Seorang polisi akan menangkap saya (menuntut saya dengan hukum) bilamana
saya melewati batas kecepatan. Jika saya tidak ngebut, dia tidak akan menaruh
saya di bawah hukum. Sebaliknya, kenyataan bahwa saya tidak sedang ngebut
bukan berarti tidak ada batas-batas kecepatan. Fakta bahwa oleh kasih karunia
Allah saya tidak lagi berada di bawah kuasa dosa bukan berarti tidak ada Se-
puluh Firman. Paulus tidak pernah berkata bahwa tidak ada hukum; dia hanya
menegaskan bahwa kita tidak berada lagi di bawah hukum karena, oleh kuasa
Ilahi, kita tidak berbuat dosa. Dosa menempatkan kita di bawah hukum; bila
kita berhenti melanggar hukum itu, kita tidak lagi di bawahnya.
Pertimbangkan: Bagaimanakah kita akan tahu apa dosa itu jika tidak ada
hukum? Bagaimanakah rancangan Allah untuk menolong kita keluar dari
bawah hukum (yaitu berhenti berbuat dosa)?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Bahkan di antara mereka yang sistem keyakinan-
nya mengajarkan bahwa kasih karunia Allah yang melimpah cukup untuk
mengampuni dan memberi kuasa, kadang-kadang ada satu kerenggangan
emosional antara apa yang kita percaya dan apa yang kita rasakan. Bagai-
manakah kita membuat keterkaitan itu sehingga keyakinan dan perasaan
dipadukan? Mintalah dua orang yang sukarela membawa dialog di bawah
ini dan membahasnya:

Kegiatan:
Sarah : Mengapa saya terus saja jatuh dengan beberapa laki-laki ini? Apakah
saya ini seorang pecundang atau wanita seperti apa?
Nina : Sarah, jangan menghukum diri kamu seperti itu.
Sarah : Maksud saya, seharusnya ditulis di tubuh saya . . . apakah di belakang
atau di dahi saya? “GADIS BODOH—MANFAATKAN!”
Nina : Sarah, hentikan!
Sarah : Itulah masalahnya, saya tidak bisa berhenti. Saya terus melakukan
kesalahan-kesalahan bodoh berulang-ulang. Apakah yang salah dengan
saya? Apakah saya akan terus belajar?
Nina : Kamu boleh mulai sekarang.
Sarah : Ah! Saya rasa ada sesuatu. Ini bisikan Allah, bukan? “Oh Sarah, Allah
dapat mengampuni apa saja!” Tetapi saya sudah menghabiskan jatah
pengampunan saya sejak lama.
Nina : Jangan berpikir seperti itu. Perempuan di sumur Yakub itu mempunyai
setengah lusin laki-laki dan—
Sarah : (menyela) Jadi kamu bilang bahwa saya sedang bersaing dengan dia, hah?
Nina : Bukan itu maksud saya.

87
Sarah: Maksud saya, mengapa Allah tidak menghentikan saya melakukan
hal-hal bodoh itu?
Nina : Seperti yang barusan saya katakan, Yesus mengampuni perempuan itu
dan Dia juga mau mengampuni kamu. Tetapi kamu harus mau mene-
rima pengampunan itu.
Sarah: Ya, ya. Saya tahu kamu benar; tetapi mengapakah saya tidak bisa me-
rasakannya? Mengapakah saya tidak merasa diampuni?

Pertanyaan Penerapan:
»» Bagaimanakah saya dapat menolong orang lain (atau diri saya) mendapatkan
keyakinan penuh akan janji pengampunan dan kekuatan dari Allah?
¼¼ Bagaimanakah saya menghadapi kegagalan yang berulang-ulang?
½½ Bagaimanakah saya katakan TIDAK pada pencobaan?

Bersaksi:
Jimmy yang kecil pergi bermain sepatu roda di gelanggang pemuda pada
satu malam ketika loket gratis menyelenggarakan isi ulang minuman tak terba-
tas. Karena sudah dibayar, Jimmy terus saja mengisi ulang gelasnya sampai dia
tidak tahan lagi, dan akhirnya dia mengalami satu kecelakaan. Banyak orang
Kristen tampaknya menunjukkan sikap yang sama terhadap kasih karunia Allah
yang tak terbatas itu. Karena penebusan terhadap dosa telah dilakukan, mere-
ka beralasan untuk melatih pengendalian diri, merasa dapat kembali kapan saja
untuk “isi ulang pengampunan.” Sayangnya, banyak orang Kristen telah men-
derita “kecelakaan-kecelakaan” yang tidak perlu karena falsafah ini. Tampak-
nya di zaman Paulus ada orang yang menganjurkan bahwa berbuat dosa lebih
banyak akan membuat Allah kelihatan lebih berkemurahan!
Diskusikan: Bagaimanakah kita mawas terhadap kesalahan membatasi ka-
sih karunia Allah dan juga menyalahgunakannya?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Inti Injil diucapkan dalam Roma 6. Karena pengor-
banan Kristus, Allah menyelamatkan serta memberi kuasa bagi jiwa-jiwa
yang berserah untuk mengalahkan pencobaan. Kegiatan penutup yang di-
anjurkan ini menuntut persiapan sebelumnya tetapi memberikan penga-
laman visual yang tahan lama mengenai konsep-konsep yang dipelajari.
Kegiatan: Ketika kelas hampir berakhir bawalah seorang yang diikat de-
ngan beberapa lapis tali, mulut disumbat, tangan diikat, mata ditutup, dan di-
rantai. Minta kelas membebaskan narapidana itu.
Diskusikan: Bagaimanakah pengalaman ini menggambarkan dengan jelas
cara Kristus membebaskan kita dari dosa? Apakah yang kita pelajari ten-
tang kuasa-Nya untuk menyelamatkan kita sepenuhnya?

88
Pelajaran 8 *14-20 Agustus 2010

Manusia Roma 7

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 7.

Ayat Hafalan: “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum


Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga
kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan
dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat” (Roma 7:6).

S
edikit saja pasal Alkitab yang telah menimbulkan pertentangan lebih da-
ripada Roma 7. Tentang hal ini, SDA Bible Commentary berkata: “Arti
dari ayat 14-25 telah menjadi salah satu persoalan yang paling diperbin-
cangkan dalam seluruh kitab itu. Yang menjadi pertanyaan-pertanyaan utama
adalah apakah gambaran pergumulan moral yang intensif tersebut adalah ber-
sifat autobiografi, dan jika demikian, apakah ayat-ayat tersebut merujuk pada
pengalaman Paulus sebelum atau sesudah dia bertobat. Kenyataan bahwa Paulus
sedang berbicara tentang pergumulan pribadinya sendiri dengan dosa tampak
jelas dari makna paling sederhana dari kata-katanya (lihat ayat 7-11; Ellen G.
White, Steps to Christ, hlm. 19; Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 457).
Adalah juga sangat benar bahwa dia sedang menggambarkan sebuah konflik
yang rata-rata dialami oleh setiap jiwa yang dihadapkan dan disadarkan oleh
tuntutan-tuntutan rohani hukum Allah yang suci.”—The SDA Bible Commen-
tary, jld. 6, hlm. 553.
Para pelajar Alkitab berbeda pendapat apakah Roma 7 adalah pengalam-
an Paulus sebelum atau sesudah pertobatannya. Apa pun pendapat seseorang,
yang penting dalam hal ini adalah kebenaran Yesus menutupi kita dan di da-
lam kebenaran-Nya kita berdiri sempurna di hadapan Allah, yang berjanji un-
tuk menyucikan kita, memberikan kita kemenangan, dan menyelaraskan kita
dengan “gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Inilah hal-hal penting yang perlu
kita ketahui dan alami sementara kita berusaha menyebarkan “Injil Kekal” ke-
pada “semua bangsa, dan suku, dan bahasa, dan kaum” (Wahyu 14:6).

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 21 Agustus.

89
Minggu 15 Agustus
Terikat kepada Hukum?

Baca Roma 7:1-6. Ilustrasi apakah yang Paulus gunakan di sini untuk
menunjukkan pada pembacanya hubungan mereka dengan hukum, dan
pelajaran apakah yang dia buat dengan ilustrasi itu?

Ilustrasi Paulus dalam Roma 7:1-6 seakan rumit, tetapi sebuah analisa cer-
mat terhadap ayat-ayat tersebut akan menolong kita mengikuti penalarannya.
Dalam konteks keseluruhan suratnya, Paulus sedang membahas sistem ibadah
yang didirikan di Sinai; yang sering dimaksudkannya dengan kata hukum. Orang-
orang Yahudi sukar menerima kenyataan bahwa sistem ini, yang diberikan kepada
mereka oleh Allah, harus berakhir dengan datangnya Kristus. Inilah yang dibahas
oleh Paulus—orang-orang Yahudi yang percaya masih belum siap meninggalkan
apa yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Intinya, ilustrasi Paulus adalah sebagai berikut: seorang perempuan telah
menikah dengan seorang laki-laki. Hukum mengikat dia terhadap laki-laki itu
selama laki-laki itu hidup. Selama kehidupannya, perempuan itu tidak boleh
menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Tetapi bila suaminya sudah mati, dia
bebas dari hukum yang mengikat dia kepada suaminya itu (ay. 3).

Bagaimanakah Paulus menerapkan ilustrasi hukum pernikahan ini ke-


pada sistem Yudaisme? Roma 7:4, 5.

Sebagaimana kematian suaminya membebaskan perempuan itu dari hukum


suaminya, demikian juga kematian hidup lama dalam daging, melalui Yesus
Kristus, membebaskan orang-orang Yahudi dari hukum yang selama ini harus
mereka pelihara sampai Kristus menggenapi segala lambangnya.
Kini orang-orang Yahudi bebas untuk “menikah lagi.” Mereka diundang un-
tuk menikah dengan Kristus yang telah bangkit dan dengan jalan itu mengha-
silkan buah untuk Allah. Ilustrasi ini merupakan satu lagi perangkat yang Paul­
us gunakan untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bebas untuk
meninggalkan sistem kuno itu.
Sekali lagi, dengan segala sesuatu yang Paulus dan Alkitab katakan tentang
penurutan kepada Sepuluh Perintah itu, tidaklah masuk akal untuk menegas-
kan di sini bahwa Paulus sedang mengajarkan orang-orang Yahudi yang telah
percaya bahwa Sepuluh Perintah tidak lagi mengikat. Mereka yang mengguna-
kan ayat-ayat ini untuk menekankan hal tersebut—bahwa hukum moral telah
ditiadakan—sebenarnya bukan mau menekankan seluruh hukum itu; apa yang
sesungguhnya mereka mau katakan adalah bahwa hanya Sabat hari ketujuh yang
telah dihapuskan, bukan seluruh hukum tersebut. Memahami ayat-ayat tersebut
sebagai ajaran bahwa perintah keempat telah dihapuskan atau diatasi atau di-
gantikan dengan hari Minggu berarti memberi ayat-ayat tersebut suatu makna
yang tidak pernah dimaksudkan.
90
Senin 16 Agustus
Apakah Hukum Taurat itu Dosa?
Jika Paulus sedang berbicara tentang seluruh sistem hukum di Sinai, bagaima-
nakah dengan Roma 7:7, di mana secara khusus dia sebutkan salah satu dari Se-
puluh Perintah itu? Bukankah ini mematahkan gagasan yang disepakati kemarin
bahwa Paulus bukan membicarakan tentang penghapusan Sepuluh Perintah itu?
Jawabnya adalah Tidak. Kembali kita harus mengingat bahwa kata hukum itu
bagi Paulus adalah seluruh sistem yang diperkenalkan di Sinai, yang mencakup
hukum moral tetapi bukan terbatas pada hal itu saja. Dengan demikian, Paulus bisa
saja mengutip dari Sepuluh Perintah itu, sebagaimana juga dari bagian lain selu-
ruh sistem Yahudi, untuk menekankan maksudnya. Namun demikian, pada saat
sistem itu telah berakhir pada kematian Kristus, hal itu tidak mencakup hukum
moral, yang telah ada bahkan sebelum Sinai dan juga tetap ada sesudah Golgota.
Baca Roma 7:8-11. Apakah yang dikatakan Paulus di sini tentang hu-
bungan antara hukum dan dosa?
Allah menyatakan diri-Nya kepada orang Yahudi, dan mengatakan secara rinci
apa yang benar dan apa yang salah dalam hal moral, sipil, tatacara, dan kesehatan.
Dia juga menjelaskan hukuman akibat pelanggaran hukum tersebut. Pelanggaran
terhadap kehendak Allah yang dinyatakan dalam ayat ini disebut dosa.
Makanya, Paulus menerangkan, dia tidak akan mengetahui bahwa mengi-
ngini itu dosa tanpa lebih dulu mendapat informasi tentang fakta tersebut oleh
“hukum.” Karena dosa adalah pelanggaran akan kehendak Allah yang dinyata-
kan, bila kehendak yang dinyatakan itu tidak diketahui, maka tidak ada kesadar-
an akan dosa. Bila kehendak yang dinyatakan itu diberitahukan kepada seseo-
rang, orang itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang berdosa dan berada
di bawa hukuman dan maut. Dalam pengertian ini, orang itu mati.
Dalam alur argumentasi Paulus di ayat-ayat ini, Paulus berusaha memba-
ngun sebuah jembatan yang menuntun orang Yahudi—yang mengandalkan
“hukum”—untuk melihat Kristus sebagai kegenapannya. Dia sedang menun-
jukkan bahwa hukum itu diperlukan tetapi fungsinya terbatas. Hukum dimak-
sudkan untuk menunjukkan perlunya keselamatan; tidak pernah dimaksudkan
sebagai sarana mendapatkan keselamatan tersebut.
“Rasul Paulus, dalam menyampaikan pengalamannya, menyajikan sebuah
kebenaran penting tentang usaha yang dilakukan dalam pertobatan. Dia berka-
ta, ‘Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat’—dia tidak merasa tidak ada peng-
hukuman, ‘akan tetapi sesudah datang perintah itu,’ pada waktu hukum Allah
ditanamkan pada hati nuraninya, ‘dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.’ Lalu
dia melihat dirinya sebagai seorang berdosa, dipersalahkan oleh hukum Ilahi.
Perlu dicatat, Pauluslah yang mati, bukan hukum itu.”—Ellen G. White Com-
ments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1076.
Dalam hal apakah Anda telah “mati” di hadapan hukum itu? Bagaima-
nakah dalam konteks tersebut Anda dapat mengerti apa yang Yesus telah la-
kukan bagi Anda oleh memberikan Anda suatu hidup baru di dalam Dia?

91
Selasa 17 Agustus
Hukum yang Kudus

Baca Roma 7:12. Bagaimanakah kita mengerti ayat ini dalam konteks
apa yang sudah dibahas Paulus?
Oleh karena orang Yahudi memelihara hukum, Paulus meninggikannya da-
lam berbagai cara. Hukum itu baik dalam apa yang dilakukannya, tetapi hu-
kum tidak bisa melakukan apa yang tidak pernah dicanangkan untuk dilaku-
kannya, yaitu menyelamatkan kita dari dosa. Untuk itu kita perlu Yesus, karena
hukum—entah itu seluruh hukum Yahudi atau khususnya hukum moral—tidak
bisa memberikan keselamatan. Yang bisa hanya Yesus dan kebenaran-Nya, yang
datang kepada kita oleh iman.
Apakah yang Paulus persalahkan dari keadaan “maut” nya, dan apa-
kah yang dia bela? Mengapa perbedaan itu penting? Roma 7:13.
Dalam ayat ini, Paulus menampilkan “hukum” dalam makna yang sebaik
mungkin. Dia memilih untuk mempersalahkan dosa, bukan hukum, untuk keadaan
dosanya yang mengerikan; yaitu, yang membangkitkan dalam dirinya “rupa-rupa
keinginan” (ay. 8). Hukum itu baik, karena itu adalah standar Allah­untuk perila-
ku, tetapi sebagai seorang berdosa, Paulus berdiri terhukum di hadapannya.
Mengapa dosa begitu berhasil menyatakan Paulus sebagai seorang yang
sangat berdosa? Roma 7:14, 15.

Karnal berarti bersifat daging. Jadi, Paulus membutuhkan Yesus ­Kristus.


Hanya Yesus Kristus yang dapat menyingkirkan hukuman itu (Roma 8:1). Ha-
nya Yesus Kristus yang dapat membebaskan dia dari perhambaan dosa.
Paulus menggambarkan dirinya sebagai “terjual di bawah kuasa dosa. Dia
adalah seorang hamba dosa. Dia tak punya kemerdekaan. Dia tidak dapat me-
lakukan apa yang dia ingin lakukan. Dia coba melakukan apa yang dikatakan
padanya oleh hukum yang baik itu, tetapi dosa tidak mengizinkannya.
Oleh ilustrasi ini, Paulus berusaha menunjukkan pada orang Yahudi kebu-
tuhannya akan Kristus. Dia telah menunjukkan bahwa kemenangan dimung-
kinkan hanya di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Pemikiran yang sama ini
ditekankan kembali dalam Roma 7. Hidup di bawah “hukum Taurat” berarti
perhambaan terhadap dosa, tuan yang tak berbelas kasihan.

Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda sendiri dengan bagai-


mana dosa itu memperhamba? Pernahkah Anda coba bermain-main de-
ngan dosa, menyangka bahwa Anda dapat mengendalikannya semau Anda,
tapi justru mendapati diri Anda berada di bawah majikan yang kejam dan
tak berbelas kasihan itu? Selamat datang pada kenyataan! Jika demiki-
an, mengapa Anda harus menyerah kepada Yesus, dan mati terhadap diri
setiap hari?

92
Rabu 18 Agustus
Manusia Roma 7

“Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetu-
jui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Roma 7:16, 17). Per-
gumulan apakah yang ditampilkan dalam ayat-ayat ini?
Menggunakan hukum sebagai sebuah cermin, Roh Kudus meyakinkan seseo-
rang bahwa dia sedang tidak berkenan pada Allah oleh tidak memenuhi tuntutan-
tuntutan hukum. Melalui usaha-usaha untuk memenuhi tuntutan-tuntutan terse-
but, orang berdosa tersebut menunjukkan dia setuju bahwa hukum itu baik.
Pokok-pokok penting apakah yang telah dibuat Paulus yang ditekan-
kannya lagi? Roma 7:18-20.
Untuk meyakinkan seseorang perihal kebutuhannya akan Kristus, Roh Ku-
dus sering menuntun orang tersebut melalui sebuah tipe pengalaman “perjanjian
lama.” Ellen G. White melukiskan pengalaman Israel sebagai berikut: “Bangsa itu
tidak menyadari kekejian hati mereka, dan bahwa tanpa Kristus adalah mustahil
bagi mereka untuk menurut hukum Allah; dan dengan mudah mereka mengada-
kan perjanjian dengan Allah. Merasa bahwa mereka sanggup untuk meneguhkan
kebenaran mereka sendiri, mereka berkata, ‘Segala firman Tuhan akan kami laku-
kan dan akan kami dengarkan.’ Keluaran 24:7. . . tetapi baru saja beberapa pekan
berlalu mereka telah melanggar janji mereka dengan Allah, dan bersujud untuk
menyembah satu patung tuangan. Mereka tidak dapat mengharapkan pengasihan
Allah melalui satu perjanjian yang telah mereka langgar; dan sekarang, menya-
dari akan kekejian hati mereka dan kebutuhan mereka akan keampunan, mereka
dituntun untuk merasakan kebutuhan Juruselamat yang dinyatakan dalam perjan-
jian Abraham.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld.1, hlm. 441, 442.
Sayangnya, dengan gagal memperbarui penyerahan mereka setiap hari ke-
pada Kristus, banyak orang Kristen yang, kenyataannya, sedang melayani dosa,
sekalipun mereka benci untuk mengakuinya. Mereka berdalih bahwa, sebenar-
nya mereka sedang melalui sebuah pengalaman normal penyucian, hanya saja
mereka masih harus menempuh perjalanan panjang. Demikianlah, gantinya
mengakui dosa kepada Kristus serta meminta Dia memberikan kemenangan
atas dosa-dosa itu, mereka bersembunyi di belakang Roma 7, yang menurut
mereka, mengatakan pada mereka bahwa tidak mungkin untuk berbuat benar.
Kenyataannya, pasal ini berkata bahwa adalah tidak mungkin untuk melaku-
kan kebenaran bila seseorang diperbudak dosa, tetapi kemenangan itu mung-
kin di dalam Kristus.
Apakah Anda sedang memiliki kemenangan terhadap diri dan dosa se-
bagaimana dijanjikan Kristus pada kita? Jika tidak, mengapa? Pilihan-pi-
lihan salah apakah yang Anda, dan hanya Anda, sedang buat?

93
Kamis 19 Agustus
Dilepaskan dari Maut

Baca Roma 7:21-23. Pernahkah Anda mengalami pergumulan yang


sama dalam kehidupan Anda, bahkan sebagai seorang Kristen?

Dalam ayat ini, Paulus menyamakan hukum dalam anggota-anggota (tu-


buhnya) dengan hukum dosa. “Dengan tubuh insaniku,” kata Paulus, dia mela-
yani “hukum dosa” (Roma 7:25). Tetapi melayani dosa dan menuruti hukum-
nya berarti maut (lihat ayat 10, 11, 13). Jadi, tubuh insaninya—yang sementara
berfungsi dalam penurutan kepada dosa—dengan tepat dapat disebut sebagai
“tubuh maut ini.”
Hukum akal budi adalah hukum Allah, penyataan Allah akan kehendak-Nya.
Setelah diyakinkan Roh Kudus, Paulus memusatkan diri pada hukum ini. Akal
budinya bertekad untuk memeliharanya, tetapi pada waktu ia coba, ia tidak bisa,
karena tubuh insaninya ingin melakukan dosa. Siapakah yang tidak merasakan
pergumulan yang sama? Dalam akal budimu Anda tahu apa yang harus Anda
lakukan, tetapi sifat daging Anda menuntut hal lainnya.

Bagaimanakah kita bisa dibebaskan dari situasi sulit di mana kita be-
rada? Roma 7:24. 25.____________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Beberapa orang bertanya mengapa, setelah mencapai puncak gemilang da-
lam ucapan “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus Tuhan kita,” Paulus ha-
rus sekali lagi menyebutkan pergumulan diri dari mana dia telah dilepaskan.
Ada yang memahami ungkapan syukur itu sebagai sebuah seruan sisipan bela-
ka. Mereka percaya bahwa seruan seperti itu mengikuti secara wajar pertanya-
an, “Siapakah yang melepaskan?” Mereka beranggapan bahwa sebelum lanjut
dengan diskusi panjang tentang kelepasan gemilang (Roma 8), Paulus merang-
kumkan apa yang telah dikatakannya dalam ayat-ayat sebelumnya dan meng-
akui sekali lagi adanya konflik melawan kuasa-kuasa dosa.
Ada yang berpendapat bahwa yang Paulus maksudkan “aku sendiri” adalah
“berusaha sendiri, tidak melibatkan Kristus.” Bagaimanapun ayat-ayat itu di-
mengerti, satu hal yang harus tetap jelas: jika ditinggal sendiri, tanpa Kristus,
kita tak berdaya melawan dosa. Bersama Kristus kita mempunyai hidup baru
di dalam Dia, hidup di mana—sekalipun diri masih terus muncul—janji-janji
kemenangan menjadi milik kita jika kita memilih untuk memintanya. Sama se-
perti tak seorang pun dapat bernapas untuk Anda atau batuk serta bersin untuk
Anda, demikian juga tak seorang pun dapat memilih bagi Anda untuk berserah
kepada Kristus. Hanya Anda yang dapat membuat pilihan itu. Tidak ada cara
lain untuk mendapatkan bagi diri Anda kemenangan-kemenangan yang telah
dijanjikan kepada kita di dalam Yesus.

94
Jumat 20 Agustus
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “The Perfect Law,” hlm.
212–215; “A Divine Sin Bearer,” hlm. 308–310, dalam Selected Messages, jld.1;
“Penyembuhan Jiwa,” hlm. 59-76; “Pentingnya Mencari Pengetahuan yang
Benar,” hlm. 417-424, dalam Membina Keluarga Sehat; “Christ’s Victory as
Complete as Adam’s Failure,” hlm. 323, dalam My Life Today.
“Tidak ada keamanan ataupun ketenangan serta pembenaran dalam pelang-
garan terhadap hukum. Manusia tidak bisa berharap untuk berdiri tanpa salah di
hadapan Allah, dan berdamai dengan Dia melalui jasa-jasa Kristus, sementara dia
terus hidup dalam dosa.”—Ellen G. White, Selected Messages, jld. 1, hlm. 213.
“Paulus ingin saudara-saudaranya melihat bahwa kemuliaan besar Jurusela-
mat yang mengampuni dosa telah memberikan makna kepada seluruh masyarakat
Yahudi. Dia ingin mereka melihat juga bahwa pada waktu Kristus datang ke du-
nia ini, dan mati sebagai korban manusia, lambang-lambang telah digenapi.
“Setelah Kristus mati di salib sebagai korban penghapus dosa, maka hukum
upacara itu tidak berdaya lagi. Namun hukum upacara itu berkaitan dengan hukum
moral, dan mulia adanya. Padanya ada cap Ilahi, dan menyatakan kesucian, keadil-
an, dan kebenaran Allah. Dan jika pelayanan dispensasi yang dihapuskan itu adalah
mulia, betapa lebih mulialah kenyataan itu seharusnya, ketika Kristus dinyatakan,
memberikan Roh-Nya yang memberi hidup, menyucikan, kepada semua orang yang
percaya.”—Ellen G. White Comments, SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1095.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Siapakah menurut Anda manusia di Roma 7? Paulus, sebelum atau
setelah pertobatan? Atau apakah pasal ini berbicara tentang sesuatu
yang sama sekali berbeda? Apakah alasan jawaban Anda? Diskusikan
jawaban-jawaban yang diberikan di kelas.
oo Bagaimanakah Anda menerangkan kenyataan bahwa orang Kristen
yang telah dibaptis dan lahir baru pun masih bergumul dengan dosa?
Bukankah seharusnya secara otomatis kita mengalahkan segala sesua­
tu? Atau akankah kita terus berdosa? Atau apakah jawabannya ada di
antara dua hal tersebut?
pp Potensi bahaya-bahaya apakah yang timbul dari pandangan bahwa ba-
gaimanapun juga sebagai orang-orang Kristen kita akan terus berdosa,
terus jatuh, serta terus melanggar hukum Allah? Di sisi lain, potensi ba-
haya apakah yang muncul dari pandangan bahwa sebagai orang-orang
Kristen, bagaimanapun juga, kita harus mengalahkan setiap perbuatan
salah dalam hidup kita, setiap pikiran yang salah, setiap kecenderung-
an yang salah—jika tidak kita tidak diselamatkan?
qq Akhirnya, apa pun pendapat orang tentang manusia di Roma 7, janji-
janji apakah yang bisa kita ambil dari Roma 7 untuk diri kita, yang
menolong kita mengerti apa artinya menjadi pengikut Yesus?

95
PENUNTUN GURU 8
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 7:22, 23.

Anggota kelas akan:


¾¾ Mengetahui: Mengakui bahwa sifat dosa kita menghasilkan peperangan
melawan hukum Allah dan bahwa kita harus mati terhadap sistem lama
aturan-aturan yang mati yang fokus pada usaha kita dan bukan pada peker-
jaan Kristus.
¾¾ Merasakan: Merasakan ketidakberdayaan kita dalam melakukan kebaikan
tanpa campur tangan Kristus.
¾¾ Melakukan: Mati terhadap keinginan-keinginan lama yang dibangkitkan
oleh dosa agar kita hidup dengan bebas menurut Roh.

Garis Besar Pelajaran:
I. Mengetahui: Peperangan dengan Sifat Alami Dosa Kita
A. Sifat alami dosa kita sedang bertempur dengan keinginan kita untuk
hidup selaras dengan hukum Allah. Mengapa kita harus mati terha-
dap sifat alami diri kita yang berdosa supaya hidup menurut Roh?
B. Sikap-sikap apakah, turunan atau kebiasaan, yang merupakan con-
toh “melakukan apa yang datang secara alami?” Dalam hal apakah
sikap-sikap ini merupakan buah sifat alami dosa kita?

II. Merasakan: Tidak Berdaya Berbuat Baik


A. Jika kita tidak dapat melakukan kebaikan yang kita mau lakukan,
siapakah atau apakah yang sebenarnya mengendalikan kehidupan
kita? Diskusikan.
B. Apakah satu-satunya penawar bagi keadaan kita yang tak berdaya
dan lepas kendali?

III. Melakukan: Hidup Bebas


A. Dalam hal apakah kita “mati” terhadap keinginan-keinginan dosa
kita?
B. Bagaimanakah kita “dikuburkan” bersama Kristus?
C. Kebebasan-kebebasan apakah yang diberikan oleh hidup dalam
Roh, dan apakah yang harus kita lakukan untuk menjalani jenis ke-
hidupan ini?

Rangkuman: Hanya kematian terhadap keadaan alami diri kita yang


penuh dosa serta keinginan-keinginannya yang memungkinkan sebuah
cara hidup baru di dalam Kristus.

96
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Melalui hukum saja kita tidak
dapat menemukan keselamatan—hanya melalui Kristus sajalah kita dapat di-
selamatkan.

Khusus untuk Guru: Kegiatan berikut ini dirancang untuk memperkenal-


kan konsep-konsep berikut: Hukum menunjukkan kepada kita kehendak
Allah dan, olehnya, juga menyatakan dosa. Tanpa hukum, kita tidak akan
mengetahui apa itu dosa. Hukum itu baik dan benar, tetapi hukum sendiri
bukanlah sarana kita menuju keselamatan. Keselamatan diperoleh melalui
kasih karunia Kristus.

Kegiatan Pembuka: Permainan Peraturan. Anda perlu pena dan kartu


catatan, jam dapur, dan “hadiah-hadiah” kecil (kismis, kue, permen, dan
lain-lain) untuk diberikan pada mereka yang tidak “keluar” saat alarm jam
berbunyi. Anda, sebagai guru, adalah wasit permainan ini.
Minta setiap anggota kelas untuk menuliskan satu peraturan yang
menurut mereka sangat sukar untuk dituruti dalam lima menit ke depan
(seperti: tidak boleh berkedip, tidak boleh bicara, berdiri satu kaki terus-
menerus, memegang Lagu Sion dengan mengulurkan satu tangan selama
lima menit, dan lain-lain).
Permainan ini sederhana. Turuti peraturan-peraturan itu dan hadiah
diterima. Gagal menurut membuat Anda keluar dari permainan, dan Anda
tidak pantas menerima hadiah itu.
Ambil dua atau tiga peraturan dari usulan-usulan yang bisa dilaksana-
kan secara bersamaan. Bacakan peraturan itu pada kelas. Setel waktu lima
menit. Mereka yang “berdosa” karena gagal mengikuti peraturan-peraturan
itu dianggap “keluar.”
Anda, sebagai wasit peraturan itu, mempunyai kesanggupan untuk
“mengampuni” mereka yang “keluar” dan mengembalikan mereka pada
permainan, tetapi mereka harus terus mengikuti peraturan-peraturan itu.
Juga, ingatkan mereka tentang peraturan-peraturan tersebut.
Dapat dipastikan dalam waktu singkat setiap orang di kelas itu akan
“keluar” paling sedikit satu kali, bahkan yang lain beberapa kali. Terus
amati waktu dan pastikan setiap orang telah “diampuni” dalam kurun
waktu tersebut agar menerima hadiah bila waktu habis. Berikan setiap
orang dalam kelas itu sebuah hadiah.

97
Pertanyaan untuk Diskusi:
Dengan mengangkat tangan, tanyakan, berapa banyak yang “keluar” paling
tidak satu kali. Upah dosa adalah maut. Sebagai budak hukum, mereka seharus-
nya pantas mati, bukan? Apakah mereka yang “keluar” lebih dari yang lainnya
“mati” lebih banyak dari mereka yang gagal hanya satu atau dua kali? Apakah
mereka yang gagal lebih sedikit mendapatkan hadiah lebih banyak? Bagaima-
nakah jawaban-jawaban ini menolong menggambarkan bahwa kita tidak dapat
diselamatkan oleh usaha-usaha kita sendiri?

LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Dalam terang pengorbanan, kasih karunia dan peng-
ampunan Kristus, nilai apakah yang dimiliki hukum? Apakah fungsi hu-
kum sekarang ini?

Komentar Alkitab
I. Maksud Hukum (Baca kembali Roma 7:7 dan Roma 7:9-12 bersama ang-
gota kelas Anda).
Hukum Allah sama perlunya sekarang dengan saat di surga sebelum manusia
diciptakan. Karena tanpa prinsip-prinsip hukum yang menuntun, bagaimanakah
manusia dapat mengetahui sepenuhnya kehendak dan tabiat suci Allah?
Namun demikian, memelihara hukum tidak dapat menyelamatkan kita. Ke-
selamatan oleh perbuatan adalah agama yang mati dan sebuah beban bagi orang
percaya. Dalam Kisah 15:10 Petrus menggemakan gagasan ini saat menyebut-
kan hukum sebagai “suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek mo-
yang kita maupun oleh kita sendiri.” Paulus menerangkan konsep ini lebih jauh
oleh menyatakan bahwa “perintah yang seharusnya membawa kepada hidup,
ternyata bagiku justru membawa kepada kematian” (Rm. 7:10), demikian ia
mengungkapkan dosanya.
Jadi jelas jika hukum tidak dapat menyelamatkan kita, apakah yang dapat
dilakukannya? Pertama dan terutama, hukum berguna untuk mengatakan pada
kita apa yang benar dan salah. Paulus menyatakan hal ini sangat jelas dalam
Roma 7:7: “Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Ka-
rena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengata-
kan: ‘Jangan mengingini!’”
Kedua, hukum membawa satu hukuman atas pelanggaran terhadapnya dan
ini mengisyaratkan dibutuhkannya seorang Pembela, seorang Juruselamat, un-
tuk membela kasus kita di pengadilan surga—Seorang Pengacara yang dapat
menggugurkan penghukuman itu demi kita. Kebutuhan akan kemurahan kare-
na hukuman atas pelanggaran hukum tidak dapat dilebih-lebihkan. Hukuman-
hukuman sipil karena hukum-hukum tertentu berbeda di setiap negara, tetapi
puncak hukuman atas dosa adalah maut.
Tetapi syukur karena kematian Yesus telah membayar hukuman maut itu.
Dia mati ganti kematian yang pantas untuk kita supaya kita beroleh hidup ke-
kal, dan kematian tersebut memenuhi tuntutan-tuntutan keadilan dari hukum-

98
Nya. Jelaslah, hukum itu sendiri tidak pernah dimaksudkan untuk menyucikan
kita. Tidak juga dimaksudkan untuk menjadi sarana keselamatan. Oleh sebab
itu, hukum terbatas dalam fungsinya. Hanya melalui kasih karunia Kristus kita
dapat diselamatkan.

Pertimbangkan: Mengapakah Allah memberikan hukum-Nya pada manu-


sia? Apakah bahaya terlalu teliti secara harfiah dengan hukum itu sehingga
Anda melupakan roh/motivasi hukum itu?

yy Apakah keterbatasan-keterbatasan hukum itu? Dengan kematian Yesus mem-


bayar tebusan dosa kita, apakah maksud hukum itu?

Diskusikan: Mengapakah memelihara hukum tidak dapat menyelamatkan


kita? Mengapakah pengorbanan Kristus adalah satu-satunya sarana seja-
ti keselamatan?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Ingatkan kelas Anda permainan yang dimainkan di
pembukaan. Ajak mereka memikirkannya dalam konteks usaha untuk me-
nuruti hukum Allah, tetapi selalu memakan korban melakukan dosa setiap
hari.

Tak diragukan, semua anggota kelas akan setuju bahwa dari tuntutan perma-
inan itu mereka ingin mengikuti peraturan-peraturan itu, bukan? Secara alami,
mereka mau menerima hadiah. Sangat diragukan bahwa ada yang mau ikut ber-
main dengan tujuan keluar dari permainan. Kita semua tadinya hidup sebagai
budak-budak dosa tetapi pengorbanan Kristus telah membebaskan kita.

Pertanyaan untuk Penemuan:


»» Bagaimanakah hukum menolong kita mengartikan apa itu kehendak Allah
dan apa itu dosa?
¼¼ Tanpa hukum, atau jika hukum tidak diketahui, apakah ada dosa? Jelaskan
jawaban Anda.
½½ Sama seperti pada permainan tadi, jika kita tidak mengetahui hukum, bagai-
mana kita bisa mengetahui apa dosa itu? Apakah ada cara bagi Allah untuk
bersikap adil tanpa memberikan kita hukum itu? Jelaskan.
¾¾ Hanya karena ada pengampunan, mengapakah itu bukan surat izin untuk
melanggar hukum?
¿¿ Bahas apakah peraturan-peraturan itu yang menyanggupkan para pemain
menerima hadiah ataukah pengampunan dan kasih karunia yang telah mem-
bebaskan mereka dari hukuman, ataukah hal lainnya.

99
ÀÀ Tanyakan jika ada peraturan-peraturan yang dapat mereka turuti jika saja
mereka mendapatkan pertolongan dari wasit. Dalam hal apakah konsep ini
menolong kita mengerti bahwa hanyalah melalui pertolongan Kristus kita
dapat mengalahkan dosa?
ÁÁ Langkah-langkah apakah yang perlu kita tempuh sebagai orang Kristen un-
tuk mencegah terperangkap dalam lingkaran legalisme dan dengan sung-
guh-sungguh memegang pemberian Kristus akan pengampunan dan kasih
karunia?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Roma 7 memberikan bagi setiap anggota kelas Anda
satu titik awal untuk periksa diri. Dorong mereka untuk menguji bagai-
mana secara pribadi mereka menjelaskan tentang hukum dan bagaimana
ajaran-ajaran Paulus tentang hukum mempengaruhi kehidupan rohani me-
reka. Akhirnya, ajak mereka berpikir tentang cara mereka menghargai ren-
cana keselamatan Allah.

Kegiatan:
Hal-hal apakah yang Anda gumuli secara pribadi yang dapat digunakan se-
bagai satu ilustrasi tentang apa yang Paulus telah katakan mengenai hukum,
mati terhadap dosa, dan kasih karunia?
Pikirkan dua hal yang Anda mau usahakan bersama Kristus dalam hal ini.
Upayakan tujuan-tujuan ini dalam kehidupan doa Anda setiap hari. Undang-
lah Allah dalam hidup Anda khususnya dalam hal-hal ini dan minta pertolong-
an dan tuntunan-Nya setiap hari untuk dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Min-
ta pertolongan Allah untuk membebaskan Anda dari rantai-rantai dosa. Minta
Allah menolong Anda setiap hari untuk mati terhadap dosa dan hidup dalam
kasih karunia melalui pengorbanan Kristus, sehingga dengan pertolongan-Nya
Anda dapat bebas dari hukuman hukum itu sendiri.

100
Pelajaran 9 *21-27 Agustus 2010

Kemerdekaan Dalam Kristus


Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 8:1-17.

Ayat Hafalan: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman


bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan me-
nurut daging, melainkan menurut Roh.” (Roma 8:1, KJV).

R
oma 8 adalah jawaban Paulus untuk Roma 7. Dalam Roma 7 Paulus
berbicara tentang frustrasi, kegagalan, dan penghukuman; dalam Roma
8, penghukuman tidak ada lagi, digantikan dengan kemerdekaan dan
kemenangan melalui Yesus Kristus.
Paulus berkata dalam Roma 8 bahwa jika Anda menolak untuk menerima
Yesus Kristus, pengalaman celaka dalam Roma 7 akan menjadi bagianmu. Anda
akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melakukan apa yang Anda pilih untuk
lakukan. Dalam Roma 8 dia berkata bahwa Kristus menawarkan Anda kelepas-
an dari dosa dan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan yang Anda ingin la-
kukan namun tubuh dagingmu tidak izinkan.
Paulus melanjutkan, menjelaskan bahwa kemerdekaan ini dibeli dengan harga
tak ternilai. Kristus putra Allah menjadi manusia, satu-satunya cara Dia bisa ber-
hubungan dengan kita, dapat menjadi teladan sempurna kita, dan dapat menjadi
Pengganti yang mati menggantikan kita. Dia datang “serupa dengan daging yang
dikuasai dosa” (ay. 3). Hasilnya, tuntutan-tuntutan benar hukum itu dapat digenapi
dalam diri kita (ay. 4). Dengan kata lain, Kristus membuat kemenangan atas dosa
serta penggenapan tuntutan-tuntutan positif hukum itu hal yang mungkin.
Karena keterbatasan halaman, kita akan membahas hanya 17 ayat pertama
dari Roma 8. Bila waktu mengizinkan, baca sisa pasal itu, yang dipenuhi dengan
jaminan-jaminan indah kasih Allah. Ayat-ayat ini secara luar biasa menunjuk-
kan kita pada pengharapan yang kita harus miliki sebagai umat yang “lebih da-
ripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ay. 37)
dan yang karena kasih itu “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang
menyerahkan-Nya bagi kita semua” (ay. 32).

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 28 Agustus.

101
Minggu 22 Agustus
Kemerdekaan dari Penghukuman

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di


dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan menurut daging melainkan menurut
Roh.” (Rm. 8:1, KJV). Apakah artinya “tidak ada penghukuman?” Tidak ada
penghukuman dari apa? Dan mengapakah ini merupakan kabar baik?
“Dalam Kristus Yesus” adalah sebuah anak kalimat yang lazim dalam tulisan-
tulisan Paulus. Seseorang ada “dalam” Kristus Yesus berarti dia telah menerima
Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang tersebut percaya pada-Nya secara mutlak
dan telah mengambil keputusan untuk menjadikan pola hidup Kristus sebagai pola
hidupnya. Hasilnya adalah sebuah kesatuan pribadi yang erat dengan Kristus.
“Dalam Kristus Yesus” bertentangan dengan “dalam daging.” Keadaan ini
juga bertentangan dengan pengalaman yang dirinci dalam pasal 7, di mana Paul­
us menggambarkan orang yang di bawah penghukuman sebelum penyerahan
dirinya kepada Kristus itu sebagai karnal, artinya dia adalah seorang hamba
dosa. Orang itu ada di bawah penghukuman maut (ay. 11, 13, 24). Dia mela-
yani “hukum dosa” (ay. 23, 25). Orang ini ada dalam sebuah keadaan celaka
yang sangat mengerikan (ay. 24).
Tetapi kemudian orang tersebut berserah kepada Yesus, sebuah perubahan
yang segera telah terjadi dalam pilihannya terhadap Allah. Sebelumnya terhu-
kum sebagai seorang pelanggar hukum, tapi kini orang tersebut berdiri sempur-
na di hadapan Allah, berdiri seakan-akan dia tidak pernah berbuat dosa, karena
kebenaran Yesus Kristus sepenuhnya membungkus dia. Tidak ada lagi penghu-
kuman, bukan karena orang itu tidak bersalah, tanpa dosa, atau layak menda-
patkan hidup kekal (bukan karena dia!), melainkan karena catatan kehidupan
Yesus yang sempurna mengambil tempat orang tersebut; itulah sebabnya, tidak
ada lagi penghukuman. Tetapi kabar baik itu tidak berakhir di situ.
Apakah yang membebaskan seseorang dari perhambaan dosa? Roma 8:2.
“Roh, yang memberi hidup” di sini berarti rencana Kristus untuk keselamatan
manusia, bertentangan dengan “hukum dosa dan hukum maut,” yang dijabarkan
dalam pasal 7 sebagai hukum yang memerintah atas dosa, yang akhirnya adalah
maut. Sebaliknya, hukum Kristus membawa kehidupan dan kemerdekaan.
“Setiap jiwa yang enggan menyerahkan dirinya kepada Allah adalah di ba-
wah pengendalian kuasa yang lain. Ia bukanlah milik-Nya sendiri. Ia mungkin
berbicara tentang kemerdekaan, tetapi ia berada dalam perhambaan yang paling
hina. . . . Meskipun ia memuji dirinya bahwa ia sedang mengikuti bisikan kal-
bu dari pertimbangannya sendiri, namun ia menaati kehendak putra kegelapan.
Kristus datang untuk memutuskan belenggu perhambaan dosa dari jiwa.”
—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 80.
Apakah Anda seorang hamba ataukah orang merdeka dalam Kristus?
Bagaimanakah Anda bisa mengetahuinya dengan pasti?
102
Senin 23 Agustus
Apa yang Hukum Tak Dapat Lakukan

Betapapun baiknya, “hukum” itu (hukum upacara, hukum moral, atau bah-
kan kedua-duanya) tidak dapat melakukan bagi kita apa yang paling kita bu-
tuhkan, yaitu menyediakan bagi kita jalan keselamatan, sebuah sarana untuk
menyelamatkan kita dari penghukuman maut yang dibawa dosa. Untuk hal ter-
sebut, kita membutuhkan Kristus.
Baca Roma 8:3, 4. Apakah yang telah Kristus lakukan, yang pada ha-
kikatnya tidak dapat dilakukan oleh hukum itu?
Allah menyediakan sebuah penawar dengan “jalan mengutus Anak-Nya sen-
diri dalam daging,” dan Dia “menghukum dosa di dalam daging.” Penjelma-
an Kristus adalah sebuah langkah penting dalam rencana keselamatan. Adalah
wajar untuk meninggikan Salib, tetapi dalam pelaksanaan rencana keselamat-
an, kehidupan Kristus “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” adalah hal
yang mutlak penting juga.
Sebagai hasil dari apa yang Allah telah lakukan dalam mengutus Kristus,
kini telah menjadi mungkin bagi kita untuk memenuhi tuntutan benar dari hu-
kum itu; yaitu, untuk melakukan hal-hal yang benar yang diwajibkan oleh hu-
kum. “Di bawah hukum Taurat” (Roma 6:14), hal ini mustahil; “dalam Kris-
tus” hal ini mungkin.
Namun, kita harus ingat bahwa melakukan apa yang diwajibkan hukum bu-
kan berarti memelihara hukum dengan cukup baik untuk mendapatkan kesela-
matan. Itu bukan sebuah pilihan—tidak pernah. Secara sederhana hal ini berarti
menghidupkan kehidupan yang disanggupkan Allah untuk kita jalani; ini ber-
arti sebuah hidup penurutan, kehidupan yang di dalamnya kita telah “menya-
libkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Gal. 5:24), satu
kehidupan yang di dalamnya kita memantulkan tabiat Kristus.
“Hidup [berjalan]” dalam ayat 4 adalah sebuah ungkapan kiasan yang berarti
“berperilaku.” Kata daging di sini menunjukkan seorang yang belum lahir kem-
bali, entah sebelum ataupun sesudah penghukuman. Hidup di dalam daging ber-
arti dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri.
Sebaliknya, hidup [berjalan] di dalam Roh berarti memenuhi kewajiban-ke-
wajiban benar dari hukum itu. Hanya melalui pertolongan Roh Kudus kita dapat
memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Terpisah dari Kristus, tidak ada kemerdekaan
seperti itu. Orang yang diperhamba dosa mendapati mustahil untuk melakukan
kebaikan yang dia pilih untuk lakukan (lihat Roma 7: 15, 18).
Seberapa baikkah Anda dalam memelihara hukum? Mengesampingkan
gagasan memperoleh keselamatan oleh hukum, apakah kehidupan Anda
merupakan satu kehidupan di dalam mana tuntutan-tuntutan benar hu-
kum itu dipenuhi? Jika tidak, mengapa? Alasan-alasan pincang apakah
yang Anda sedang gunakan untuk memaafkan sikap Anda?

103
Selasa 24 Agustus
Daging Lawan Roh

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang


dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang
dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh ada-
lah hidup dan damai sejahtera (Roma 8: 5, 6). Renungkan ayat ini. Peka-
baran dasar apakah yang datang dari ayat ini? Apakah yang dikatakan-
nya pada Anda tentang bagaimana seharusnya Anda hidup?
“Menurut,” di sini, digunakan dalam pengertian “sesuai dengan” (Yunani
kata). “Memikirkan” di sini berarti menetapkan pikiran. Sekelompok orang me-
netapkan pikiran mereka untuk memuaskan keinginan-keinginan daging; yang
lain menetapkan pikiran mereka pada hal-hal yang dari Roh, mengikuti perin-
tah-Nya. Oleh karena pikiran menentukan tindakan; kedua kelompok berbeda
dalam hidup dan tindakan mereka.
Apakah yang tak bisa dilakukan oleh pikiran daging? Roma 8:7, 8.
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Kenyataannya, menetapkan pikiran untuk memuaskan keinginan-keinginan
daging berarti berada dalam permusuhan melawan Allah. Orang yang pikiran-
nya seperti itu tidak peduli dengan melakukan kehendak Allah. Dia bahkan se-
dang berada dalam pemberontakan melawan Dia, secara terang-terangan men-
cemooh hukum Allah. Secara khusus Paulus mau menekankan bahwa, terpisah
dari Kristus, adalah mustahil untuk memelihara hukum Allah. Berulang-ulang
Paulus kembali kepada tema yang sama ini; betapa keras sekalipun usaha sese-
orang, jika terpisah dari Kristus maka dia tidak bisa menurut hukum.
Tujuan khusus Paulus adalah untuk meyakinkan orang Yahudi bahwa mereka
membutuhkan lebih daripada “hukum Taurat.” Oleh tingkah laku yang telah me-
reka tunjukkan, sekalipun telah menerima penyataan Ilahi, mereka bersalah da-
lam melakukan dosa-dosa yang sama yang dilakukan bangsa lain juga (Roma 2).
Pelajaran dari semua ini adalah mereka membutuhkan Mesias. Tanpa Dia mereka
akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melepaskan diri dari kekuasaannya.
Inilah jawaban Paulus terhadap orang Yahudi yang tidak dapat memahami
mengapa apa yang Allah telah berikan pada mereka dalam Perjanjian Lama
sudah tidak lagi cukup untuk keselamatan. Paulus mengakui bahwa apa yang
mereka telah lakukan selama ini semuanya baik, tetapi mereka juga perlu me-
nerima Mesias yang kini telah datang.

Lihat kembali ke 24 jam yang lalu. Apakah perbuatan-perbuatan Anda


berasal dari Roh atau dari daging? Apakah yang jawaban Anda katakan
tentang siapa diri Anda? Jika dari daging, perubahan-perubahan apakah
yang harus Anda buat, dan bagaimanakah Anda membuat perubahan-pe-
rubahan tersebut?
104
Rabu 25 Agustus
Roh Di Dalam Kita

Paulus melanjutkan temanya, membandingkan dua kemungkinan yang di-


hadapi orang dalam cara hidup mereka: apakah menurut Roh, yaitu, Roh Ku-
dus Allah, yang dijanjikan kepada kita, ataukah menurut sifat dosa dan daging
mereka. Yang satu menuntun kepada hidup kekal, yang lainnya kepada maut
kekal. Tidak ada wilayah netral. Atau, sebagaimana Yesus katakan: “Siapa tidak
bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku,
ia mencerai-beraikan” (Mat. 12:30). Sukar untuk disampaikan lebih jelas lagi,
atau lebih hitam-putih dari pernyataan tersebut.

Baca Roma 8:9-14. Apakah yang dijanjikan kepada mereka yang me-
nyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus?
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Hidup “dalam daging” dibandingkan dengan hidup “dalam Roh.” Hidup


“dalam Roh” dikendalikan oleh Roh Allah, yakni Roh Kudus. Dalam pasal ini
Dia disebut Roh Kristus, mungkin dalam arti Dia sebagai seorang wakil Kris-
tus, dan melalui Dia Kristus tinggal dalam orang percaya (ay. 9, 10).
Dalam ayat-ayat yang sama, Paulus kembali kepada suatu kiasan yang dia
telah gunakan dalam Roma 6:1-11. Secara kiasan, dalam baptisan “tubuh dosa,”
yakni tubuh yang melayani dosa, dibinasakan. “Manusia lama kita telah turut
disalibkan [dengan dia]” (ay. 6). Tetapi, sebagaimana dalam baptisan, tidak
hanya ada penguburan tetapi juga sebuah kebangkitan, sehingga orang yang
dibaptis bangkit untuk berjalan dalam hidup baru. Ini berarti mematikan diri
yang lama itu, sebuah pilihan yang kita sendiri harus lakukan setiap hari, seti-
ap saat. Allah tidak membinasakan kebebasan manusia. Bahkan setelah manu-
sia lama dosa itu dibinasakan, masihlah mungkin untuk berbuat dosa. Kepada
jemaat di Kolose Paulus menuliskan, “Matikanlah dalam dirimu segala sesua-
tu yang duniawi” (Kol. 3:5).
Demikianlah, setelah pertobatan masih akan ada pergumulan melawan dosa.
Bedanya adalah orang yang di dalamnya Roh berdiam kini memiliki kuasa Ilahi
untuk menang. Lebih jauh, karena orang itu telah secara mukjizat dimerdekakan
dari perhambaan dosa, dia diwajibkan untuk tidak pernah melayani dosa lagi.

Renungkanlah kembali gagasan bahwa Roh Allah, yang telah mem-


bangkitkan Yesus dari kematian, adalah Roh yang sama yang tinggal da-
lam kita. Pikirkan tentang kuasa yang tersedia bagi kita! Apakah yang
masih saja menghalangi kita untuk berserah pada kuasa itu sebagaima-
na seharusnya?

105
Kamis 26 Agustus
Adopsi Lawan Perhambaan

Bagaimanakah Paulus menggambarkan hubungan yang baru di dalam


Kristus? Roma 8:15. Pengharapan apakah yang ditemukan dalam janji ini
bagi kita? Bagaimanakah kita menjadikannya nyata dalam hidup kita?

Hubungan yang baru ini digambarkan sebagai kemerdekaan dari ketakut-


an. Seorang hamba terikat dalam perhambaan. Dia hidup dalam keadaan yang
takut terus-menerus akan tuannya. Dia bertahan untuk tidak mendapatkan apa-
apa selama tahun-tahun pelayanannya yang panjang.
Tidak demikian dengan orang yang menerima Yesus Kristus. Pertama, dia
melakukan pelayanan sukarela. Kedua, dia melayani tanpa takut, karena “kasih
yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh. 4:18). Ketiga, diangkat sebagai
anak, dia menjadi ahli waris dari warisan yang bernilai tak terhingga.
“Roh perhambaan ditandai dengan usaha untuk hidup sesuai dengan aga-
ma hukum, melalui perjuangan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hukum de-
ngan kekuatan kita sendiri. Pengharapan ada pada kita hanya jika kita datang
di bawah perjanjian Abraham, yang adalah perjanjian kasih karunia oleh iman
dalam Yesus Kristus.”—Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commen-
tary, jld. 6, hlm. 1077.

Apakah yang memberi kita jaminan bahwa Allah sesungguhnya telah


menerima kita sebagai anak-anak-Nya? Roma 8:16.

Kesaksian batiniah oleh Roh memastikan penerimaan kita. Sementara ti-


daklah aman untuk mengandalkan perasaan semata-mata, mereka yang dengan
pemahaman mereka yang terbaik telah mengikuti terang Firman itu akan men-
dengar sebuah suara pembuktian dalam batinnya yang memastikan bahwa me-
reka telah diterima sebagai anak-anak Allah.
Sesungguhnya, Roma 8:17 mengatakan pada kita bahwa kita adalah ahli-ahli
waris; yakni, kita adalah bagian dari keluarga Allah dan, sebagai ahli-ahli waris,
sebagai anak-anak, kita menerima warisan yang indah dari Bapa kita. Kita tidak
mengusahakannya; itu diberikan kepada kita berdasarkan status baru kita dalam
Allah, sebuah status yang diberikan kepada kita melalui kasih karunia-Nya, yang
dimungkinkan bagi kita karena kematian Yesus demi kepentingan kita.

Berapa dekatkah Anda kepada Tuhan? Apakah Anda benar-benar


menge­nal-Nya, atau hanya sekadar tahu tentang Dia? Perubahan-perubah­
an apakah yang harus Anda buat dalam hidup Anda untuk mempunyai
sebuah hidup yang lebih dekat dengan Pencipta dan Penebus Anda? Apa-
kah yang menahan Anda, dan mengapa?

106
Jumat 27 Agustus
Pelajari selanjutnya: Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris yang Muncul
Kemudian,” Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 256-276; “Yesus Dibaptiskan,” hlm.101.
“Di Kapernaum,” hlm. 261-272, dalam Alfa dan Omega, jld. 5; “Janganlah Gelisah
Hatimu,” Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 304; “Seumpama Ragi,” Membina Kehidup-
an Abadi, hlm. 66; “Letters to Physicians,” hlm. 126-129, dalam Testimonies for
the Church, jld. 8.
“Rencana keselamatan tidak menawarkan bagi orang percaya sebuah kehidupan
yang bebas dari penderitaan dan kesukaran di atas dunia ini. Sebaliknya, rencana
tersebut memanggil mereka untuk mengikuti Kristus pada jalan penyangkalan diri
dan celaan. . . . Melalui kesukaran dan penganiayaanlah tabiat Kristus dihasilkan
dan dinyatakan dalam umat-Nya. . . . Oleh ambil bagian dalam penderitaan Kristus
kita dididik dan didisiplin serta dipersiapkan untuk turut ambil bagian dalam kemu-
liaan yang akan datang.”—The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 568, 569.
“Rantai yang telah diulurkan dari takhta Allah cukup panjang untuk menjang-
kau jurang-jurang yang paling dalam sekalipun. Kristus sanggup untuk mengang-
kat orang yang paling berdosa dari dalam lubang kemerosotan, dan menempatkan
mereka di tempat di mana mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah, ahli-ahli
waris bersama Kristus dari warisan yang baka.”—Ellen G. White, Testimonies for
the Church, jld. 7, hlm. 229.
“Dia yang paling dihormati di seluruh surga telah datang ke dunia ini untuk
mengambil sifat manusia, menjadi manusia, memberi kesaksian kepada malaikat-
malaikat yang sudah jatuh serta kepada penduduk dunia-dunia yang tidak jatuh da-
lam dosa bahwa melalui pertolongan Ilahi yang telah disediakan, setiap orang bisa
berjalan di jalan penurutan terhadap perintah-perintah Allah. . . .
“Tebusan kita telah dibayar oleh Juruselamat kita. Tidak ada yang perlu di-
perhamba oleh Setan. Kristus berdiri di hadapan kita sebagai penolong kita yang
mahakuasa.”—Ellen G. White, Selected Messages, jilid 1, hlm. 309.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Baca kembali kutipan-kutipan dari Ellen G. White di atas. Pengharapan
apakah yang kita bisa ambil dari kutipan-kutipan tersebut bagi diri kita?
Lebih penting, bagaimanakah kita bisa menjadikan janji-janji kemenang-
an ini nyata dalam hidup kita? Mengapakah, dengan begitu banyak yang
ditawarkan kepada kita di dalam Kristus, kita masih sangat kurang dari-
pada yang sebenarnya kita bisa capai?
oo Apakah cara-cara praktis sehari-hari oleh mana pikiran kita “memikir-
kan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5). Apakah artinya? Apakah yang di-
inginkan oleh Roh? Apakah yang Anda tonton, baca, atau pikirkan yang
menyulitkan Anda sukar mencapai hal itu dalam hidup Anda?
pp Renungkan tentang gagasan bahwa kita harus berada di pihak yang satu atau
pihak yang lain dalam pertentangan besar ini, dengan tidak ada netral. Apa-
kah implikasi dari kenyataan yang sebenarnya itu? Bagaimanakah seharus-
nya kesadaran akan kebenaran penting ini mempengaruhi cara kita hidup
dan membuat pilihan, bahkan dalam hal-hal yang “kecil” sekalipun?

107
PENUNTUN GURU 9
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 8:1.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Membuat garis besar sarana yang digunakan Kristus untuk
membebaskan kita dari hukuman dosa dan menuntun kita menjadi anak-anak
Allah melalui kehidupan dalam Roh-Nya.
¾¾ Merasakan: Menjelaskan perasaan yang menyebabkan kita berseru: Abba,
Bapa (Roma 8:15), juga bagaimana dan melalui siapa kita bisa memanggil
demikian.
¾¾ Melakukan: Mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, dan juga dalam
kemuliaan-Nya.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Bebas dari Penghukuman
A. Pada saat Kristus menjadi korban penghapus dosa kita, tuntutan-
tuntutan keadilan hukum itu telah dipenuhi. Kita bukan saja dibe-
narkan, tetapi ketika kita berserah pada Roh-Nya, pikiran dan tubuh
kita dikendalikan oleh Dia. Apakah arti berada sepenuhnya di bawah
pengendalian Kristus, pikiran dan tubuh dan roh?
B. Apakah yang dilakukan Roh untuk menyanggupkan kita hidup se-
bagai anak-anak Allah?
II. Merasakan: Abba, Bapa
A. Roh Kudus bukan saja menjadikan pikiran dan tubuh kita lebih se-
perti Kristus ketimbang penuh dosa, Dia juga membentuk kembali
hubungan kita menjadi hubungan antara anak-anak Allah, dengan
suatu keakraban yang menyerukan pengakuan hubungan kita yang
dekat dengan Dia. Pengharapan apakah yang diberikan oleh penga-
kuan ini saat kita datang pada Allah setelah kita jatuh?
B. Menggunakan hubungan-hubungan akrab yang lazim bagi Anda, hu-
bungan seperti apakah dengan Allah yang Anda harap untuk rasakan?
III. Melakukan: Penderitaan dan Kemuliaan
A. Mereka yang akrab satu sama lain berbagi dalam penderitaan mau-
pun saat-saat bahagia. Dalam hal apakah kita juga berbagi dalam
celaan dan penyangkalan diri Kristus?
B. Bagaimanakah kita lebih daripada pemenang melalui Kristus di te­
ngah-tengah penderitaan dan kesukaran kita?
Rangkuman: Pada saat kita mati bersama Kristus, kita dibangkitkan
untuk hidup seperti Dia hidup, dengan demikian kita hidup sebagai anak-
anak Allah, dikendalikan oleh Roh.

108
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Tidak ada usaha manusia yang
dapat memberikan damai dan kebebasan yang Kristus berikan bagi kita mela-
lui pekerjaan Roh-Nya.
Pada saat seorang narapidana menerima pengampunan, ada satu masa anta-
ra pernyataan pengampunan itu dan pembebasannya. Setelah pembebasan ada
juga satu masa penyesuaian di mana narapidana tersebut memulai transisi dari
penjahat yang dipenjarakan menjadi warga yang dipulihkan. Selama masa ini
penjahat tersebut belajar kembali cara-cara dan kiat-kiat menjadi orang bebas.
Dalam keadaan pembebasan bersyarat, pengadilan pada umumnya menunjuk
satu pegawai untuk membantu mantan penjahat tersebut membuat pilihan-pi­
lihan sebagai pelindung untuk tidak kembali berbuat jahat dan memastikan sua­
tu penyesuaian yang mantap menuju kebebasan.
Kita telah menggunakan banyak waktu mempelajari proses oleh mana Allah,
Hakim Kekal kita, memberikan kita kemerdekaan. Kita telah melihat pernya-
taan Allah dan korban yang memungkinkan pengampunan tersebut. Kita telah
pelajari berbagai pemahaman yang keliru tentang sistem pengadilan Ilahi. Kita
bahkan telah membahas pergumulan yang dilalui oleh penjahat tersebut. Kini
waktunya bukan sekadar untuk menyatakan narapidana itu bebas, tetapi juga
secara nyata membebaskan narapidana itu. Kita fokuskan perhatian kita pada
bagaimana orang yang dipenjarakan dalam kematian rohani melepaskan rantai-
rantai belenggu dan menemukan hidup kekal.

Kegiatan:
Pilihan A: Jika Anda mengenal seseorang yang pernah dipenjarakan dan mau
membagikan pengalamannya, wawancarai orang tersebut sebelumnya dan guna-
kan wawancara itu untuk membuka kelas Anda. Batasi diskusi pada pengalaman
pemenjaraan orang tersebut (kehilangan kontak dengan keluarga, kegiatan rutin
yang harus dilakukan setiap hari; makanan yang tidak pantas, kurangnya pela-
yanan kesehatan, dan lain-lain; terkungkung dalam sel sempit; dan seterusnya),
jangan dulu bahas penyebab pemenjaraan tersebut untuk melindungi rahasia orang
itu. Cakupkan juga para penjahat lainnya, atau para penjahat perang. Bandingkan
situasi saat penahanan dengan kebebasan yang dialami sekarang.
Pertimbangkan: Apakah yang terjadi pada seorang yang ditahan? Ke-
bebasan-kebebasan apa sajakah yang dibatasi? Bagaimanakah pengalam-
an orang ini menolong kita mengerti bagaimana dosa telah menahan dan
mengikat kita?

Pilihan B: Minta anggota kelas membuat daftar pribadi tentang hal-hal yang
membatasi kebebasan mereka (seperti keuangan, cacat tubuh, kesehatan yang
terganggu, serta tuntutan-tuntutan waktu, dan lain-lain).

109
Pertimbangkan: Minta anggota kelas memaparkan bagaimana kehidupan
mereka akan berbeda jika mereka bebas dari segala keterbatasan tersebut.

LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Imam besar Kayafas pernah menyatakan bahwa le-
bih baik satu orang mati untuk satu bangsa. Dia hanya memikirkan tentang
politik, bukan keselamatan; tetapi ironisnya adalah kematian Kristus telah
menyediakan keselamatan bagi Israel, dan para penulis Alkitab melihatnya
dengan pengertian rohani yang Kayafas tidak pernah maksudkan. Demikian
juga, kita dapat melihat kembali pada mantera Janis Joplin dalam lagunya
“Me and Bobby McGee,” yang mengatakan, “kemerdekaan hanyalah kata
lain untuk tak ada lagi yang tersisa untuk hilang,” dan melihat kebenar-
an yang kemungkinan tak pernah disadarinya. Dalam konteks aslinya, lirik
lagu ini adalah satu ungkapan kekecewaan, tetapi bagi orang Kristen ini
adalah satu pernyataan kenyataan. Sesungguhnya kemerdekaan berarti tidak
ada lagi yang tersisa untuk hilang. Diri kita telah dikosongkan dan dengan
demikian tidak akan mengalami kehilangan lagi. Ironisnya, pengakuan akan
kekosongan inilah yang mengizinkan Roh Kudus untuk mengisi kita dan
memberikan kita damai sejahtera serta kemerdekaan. Setelah kita hilang,
akhirnya kita bebas dalam Kristus. Pertanyaan utama kita adalah, “Bagai-
manakah saya bisa mengalami kemerdekaan yang diberikan Yesus?”

Komentar Alkitab
I. Kemerdekaan dari Penghukuman (Baca kembali bersama anggota kelas
Anda, Roma 8:1-6).
Sekilas info—tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang hidup dalam
Yesus. Tetapi siapakah mereka? Di sini Paulus memperkenalkan satu metafora
kunci yang telah dipaparkan dalam setengah bagian awal dari Roma 8. Mere-
ka yang ada dalam Yesus adalah mereka yang berjalan menurut Roh, bukan
menurut daging. Reformer Inggris William Tyndale, yang dikutip dalam buku
John Stott tentang kitab Roma, menulis di tahun 1526: “Kini, hai pembaca. . .
ingatlah bahwa Kristus tidak membuat pendamaian ini agar engkau boleh ma-
rah terhadap Allah lagi; tidak juga Dia mati untuk dosa-dosamu agar engkau
masih boleh hidup di dalamnya; tidak juga Dia membersihkanmu agar engkau
boleh kembali (seperti seekor babi) pada kubanganmu yang dulu; akan tetapi
agar engkau menjadi ciptaan baru dan mengalami hidup baru menurut kehendak
Allah dan bukan menurut daging.”—John Stott, Romans (Downers Grove, Ill.:
InterVarsity Press, 1994), hlm. 182. Daging adalah satu metafora untuk satu ke-
hidupan yang terpisah dari Kristus. Itu menggambarkan hidup yang sesungguh-
nya terpisah dari Allah—segala hasil keinginan, minat, hasrat, dan nafsu kita.
“Daging” mencakup segala aspek hidup kita yang fokus dan berpusat pada diri
(bukan hanya dimensi seksual, seperti yang dipahami oleh paham Victorian).
Roh adalah lawan dari daging, menggambarkan diri yang kosong yang telah
diisi dengan Allah. Orang yang dipenuhi Roh menginginkan satu hidup baru dari

110
sudut pandang standar kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Seka-
lipun belum memiliki tabiat sempurna, orang ini didorong oleh satu keinginan
untuk menyenangkan Allah dan bukan diri. Mukjizat di atas segala mukjizat,
ini berarti apa yang dituntut oleh hukum dapat dengan tuntas tercapai dalam
diri kita. Kita tidak lagi “harus” memukul pasangan kita, berbohong di depan
umum, merendahkan anak-anak kita, tidak jujur dalam hal pajak, membunuh,
mencuri, atau berbuat zina! (Atau gosip, fitnah, suka menguasai, memaksakan
keinginan sendiri, dan sebagainya). Kita telah dibebaskan dari sikap tersebut
di dalam Yesus. Kunci terhadap hidup yang diubahkan ini terletak pada pilih­
an-pilihan yang kita buat dalam pikiran kita. Kata Yunani phrono, “pikiran”
(Roma 8:5) berarti lebih dari sekadar pikiran pasif, menekankan maksud dan
fokus. Orang yang berpikiran rohani fokus pada kehendak Allah yang dinyata-
kan, sementara orang yang dikuasai daging menerima posisi “lama” yaitu “la-
kukan apa saja yang saya suka.” Orang yang pertama mempunyai tujuan Ilahi;
orang kedua tidak memilikinya. Kita menjadi apa yang kita fokus. Oleh fokus
pada Yesus, kita menjadi lebih seperti Dia.

Pertimbangkan: Bagaimanakah orang Kristen bisa membedakan apakah


mereka sedang hidup dalam daging atau dalam Roh? Apakah perbedaan-
nya, jika ada, antara “manusia daging” yang berbuat dosa dan seorang per-
caya yang berbuat dosa? Apakah buktinya bahwa hukum ini dapat dipenuhi
dalam diri kita?

II. Adopsi Lawan Perbudakan (Baca kembali bersama anggota kelas Anda
Roma 8:15-17).
Di sini Paulus memperkenalkan satu pasang metafora yang baru—anak dan
hamba. Meninggalkan lambang-lambang lain yang digunakan dalam kupasan
sebelumnya, Paulus kini menggunakan lambang keluarga untuk merangkum
pendapatnya. Kemungkinan pergantian ini menandakan juga peralihan dari
kepala ke hati.
Dahulu, baik anak-anak maupun hamba adalah anggota resmi keluarga. Na-
mun, peran keduanya sangat berbeda. Anak-anak mewarisi kekayaan keluarga,
sementara peran hamba adalah menaati perintah majikannya.
“Manusia daging” berfungsi sebagai seorang budak, melakukan dengan ke-
takutan dan keharusan apa yang dinyatakan hukum. Sebaliknya, orang perca-
ya menuruti Orangtua surgawi mereka dengan kasih, melihat jalan-jalan Allah
sebagai kerinduan-Nya yang mulia dan bukannya pembatasan-pembatasan ke-
jam. Di sini bahasa Paulus mencerminkan surat sebelumnya kepada jemaat di
Galatia dalam pasal 4, di mana dia membandingkan hamba-hamba dan anak-
anak. Dia bersukacita (ay. 7) karena “kamu bukan lagi hamba, melainkan anak;
. . . ahli-ahli waris.”

Pertimbangkan: Apakah perjalanan rohani Anda adalah “perjalanan ham-


ba” ataukah “perjalanan ahli waris?” Apakah Anda melihat bahwa jalan-jalan
Allah itu pembatasan ataukah memerdekakan? Mengapa?

111
LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Perhatikan bahwa ayat 2 adalah satu-satunya ayat
dalam Roma 8 di mana Paulus menggunakan orang pertama tunggal (me-
merdekakan aku). Kemerdekaan ini adalah sesuatu yang dialami Paulus
secara pribadi, bukanlah gambaran teoritis yang dia gemborkan demi ar-
gumen belaka. Demikian juga seharusnya kita. Ada dua pilihan untuk pe-
nerapan. Jika Anda tadinya tidak menggunakan penuntun guru di triwu-
lan dua, coba lihat bagian Terapkan dalam pelajaran 2 (Kuasa Memilih).
Gambar “Boneka dan Angin” didasarkan atas Roma 8. (Catatan: Pelajaran
ini sangat baik sebagai materi tambahan untuk pelajaran sekarang.) Pilih-
an lain digambarkan di bawah ini. Apa pun yang Anda gunakan, fokuslah
pada hal-hal yang memerdekakan kita.
Kegiatan:
Peperangan bagi pikiran adalah juga peperangan bagi diri kita. Apa yang kita
pikirkan menjadi apa kita nantinya. Buatlah daftar metode-metode praktis yang
digunakan anggota kelas untuk fokus pada hal-hal rohani. Daftar ini bisa men-
cakup hal-hal seperti doa, mendengarkan musik Kristen, menyanyi, membaca/
menghafal Alkitab, mendaki di alam, perjalanan misi, membagikan iman, dan
sebagainya.
Pertanyaan Renungan:
»» Jika kita menjadi apa yang kita pikirkan, mungkinkah pornografi mendu-
kung pernyataan bahwa porno itu tidak membahayakan?
¼¼ Bagaimanakah kita menggantikan kecenderungan untuk fokus pada hal-hal
duniawi dengan satu fokus pada hal-hal rohani?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Pekabaran bahwa Roh Allah memenuhi kita dengan
damai sejahtera dan memerdekakan kita tidak bisa dirahasiakan. Seperti
perempuan di pinggir perigi itu, kita didorong untuk membagikan kabar
tersebut. Aktivitas berikut ini bertujuan ganda, menyediakan ilustrasi visu-
al tentang kemerdekaan dan satu kesempatan untuk kesaksian praktis.
Kegiatan:
Belilah 100 buah balon yang dapat terurai (biodegradable). Dalam setiap balon,
sisipkan satu kertas dengan pesan: Saya adalah jantung sebuah balon. Tadinya
saya diikat dengan rasa takut, kegagalan, kecemasan, ketidaklayakan, dihina,
dan digantung; tetapi suatu hari angin kencang memutuskan tali saya dan
membebaskan saya untuk melayang. Jika Anda mau bebas, tulis surat kepada
saya (tulis alamat Anda), dan saya akan kirimkan padamu pelajaran-pelajaran
tentang kiat menjadi merdeka/bebas. Kembungkanlah balon-balon itu dengan
helium, ikatkan dengan tali, dan lepaskan mereka secara bersamaan. Anjuran:
Setelah acara kebaktian, adakan makan malam bersama dengan kelas Anda yang
disusul dengan kegiatan ini.

112
Pelajaran 10 *28 Agust–3 Sept. 2010

Penebusan bagi Orang


Yahudi dan Bangsa Lain

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 9.

Ayat Hafalan: “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang


dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-
Nya” (Roma 9:18).

S
eperti ada tertulis, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ . . .
Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan . .
. dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati’”
(Roma 9:13, 15).
Apakah yang dibicarakan Paulus di sini? Bagaimanakah dengan kuasa kemau-
an dan kebebasan memilih, yang tanpa itu hanya sedikit makna dari apa yang kita
percayai? Bukankah kita bebas untuk memilih atau menolak Allah, atau apakah
ayat-ayat ini mengajarkan bahwa ada orang-orang tertentu yang dipilih untuk di-
selamatkan dan yang lain untuk binasa, apa pun pilihan pribadi mereka?
Seperti biasa, jawabannya didapatkan oleh melihat gambaran yang lebih be-
sar dari apa yang Paulus sedang katakan. Paulus sedang menyusuri sebuah alur
argument di mana dia mencoba menunjukkan hak Allah untuk memilih mere-
ka yang mau digunakan-Nya sebagai orang-orang yang “terpilih.” Lagi pula,
Allahlah yang memikul tanggung jawab utama dalam menginjili dunia. Jadi,
mengapa Ia tidak dapat memilih sebagai agen-agen-Nya siapa saja yang Dia
kehendaki? Selama Allah tidak memutuskan seorang pun dari kesempatan ke-
selamatan, tindakan seperti yang dilakukan Allah itu tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip kebebasan kehendak. Bahkan lebih penting lagi, itu tidak berten-
tangan dengan kebenaran besar bahwa Kristus telah mati bagi semua manusia,
dan kerinduan-Nya adalah agar setiap orang memperoleh keselamatan.
Selama kita mengingat bahwa Roma 9 bukan membahas keselamatan priba-
di dari mereka yang disebutkannya melainkan dengan panggilan mereka untuk
mengemban tugas tertentu, tidak ada yang sukar dalam pasal ini.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 4 September.

113
Minggu 29 Agustus
Beban Paulus

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.
Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Kel.
19:6).

Allah membutuhkan satu umat misionaris untuk menginjili dunia yang teng-
gelam dalam kekafiran, kegelapan, dan penyembahan berhala. Dia tadinya me-
milih orang Israel dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Dia telah berenca-
na agar mereka menjadi sebuah bangsa teladan dan dengan demikian menarik
orang lain kepada Allah yang benar. Adalah maksud Allah agar oleh penyataan
tabiat-Nya melalui Israel, dunia akan ditarik kepada-Nya. Melalui ajaran tata-
cara korban, Kristus seharusnya ditinggikan di hadapan bangsa-bangsa, dan se-
mua yang mau memandang pada-Nya akan hidup. Saat jumlah Israel bertambah,
begitu berkat-berkat mereka makin melimpah, seharusnya mereka meluaskan
batas-batas mereka hingga kerajaan mereka bisa merangkul dunia ini.

Baca Roma 9:1-12. Apakah pokok yang Paulus tekankan di sini ten-
tang kesetiaan Allah di tengah kegagalan manusia?
________________________________________________________________
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Paulus sedang membangun sebuah garis argumen di mana dia akan menun-
jukkan bahwa janji yang dibuat bagi orang Israel tidak gagal sepenuhnya. Ada
satu umat sisa melalui siapa Allah masih bertekad untuk bekerja. Untuk mene-
gakkan keabsahan gagasan tentang umat sisa, Paulus masuk kembali ke dalam
sejarah Israel. Dia menunjukkan bahwa Allah selama ini selalu selektif: (1) Al-
lah tidak memilih semua benih Abraham untuk menjadi perjanjian-Nya, hanya
dari garis keturunan Ishak. (2) Dia tidak memilih semua keturunan Ishak, ha-
nya yang dari Yakub saja.
Adalah juga penting untuk melihat bahwa keturunan, ataupun nenek mo-
yang, tidak menjamin keselamatan. Anda bisa saja dari keturunan yang benar,
keluarga yang benar, bahkan dari gereja yang benar, tetapi tetap hilang, tetap
berada di luar janji itu. Imanlah, yakni suatu iman yang bekerja oleh kasih, yang
menyatakan mereka yang benar-benar “anak-anak perjanjian” (Roma 9:8).

Perhatikan anak kalimat di Roma 9:6: “Karena tidak semua orang yang
berasal dari Israel adalah orang Israel.” Pekabaran penting apakah yang
kita dapati di sini bagi diri kita, sebagai orang-orang Advent, yang dalam
banyak hal memainkan peran yang serupa di zaman kita ini seperti yang
dijalankan juga oleh Israel dulu di zaman mereka?

114
Senin 30 Agustus
Terpilih

“Dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak
yang muda.’ Seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi memben-
ci Esau’” (Roma 9:12, 13).
Sebagaimana dinyatakan dalam pendahuluan pelajaran pekan ini, adalah mus-
tahil untuk memahami Roma 9 dengan semestinya sebelum seseorang mengakui
bahwa Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi. Di sini dia se-
dang membahas tentang peran-peran khusus yang diembankan Allah pada orang-
orang tertentu untuk dijalankan. Allah mengingini Yakub menjadi leluhur satu umat
yang akan menjadi agen-Nya yang khusus untuk pekabaran Injil di dunia ini. Ti-
dak ada petunjuk dalam ayat ini bahwa Esau tidak bisa diselamatkan. Allah mau
dia diselamatkan sebesar keinginannya agar semua orang diselamatkan.
Baca Roma 9:14, 15. Bagaimanakah kita memahami kalimat ini dalam
konteks apa yang sudah kita baca?
Sekali lagi, Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi, ka-
rena dalam hal itu Allah mengulurkan kemurahan bagi semua orang, karena Dia
“menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1 Tim. 2:4). “Karena kasih
karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11).
Tetapi Allah bisa memilih bangsa-bangsa untuk memainkan sebuah peranan,
dan sekalipun mereka bisa menolak menjalankan peran tersebut, mereka tidak
bisa mencegah pilihan Allah. Betapapun kerasnya kemauan Esau, dia tidak bisa
menjadi leluhur dari Mesias ataupun nenek moyang umat pilihan.
Pada akhirnya, bukanlah pilihan serampangan Allah, bukan juga sebuah de-
kret Ilahi, oleh mana keselamatan tertutup bagi Esau. Pemberian kasih karunia-
Nya melalui Kristus adalah cuma-cuma bagi semua orang. Kita semua telah
dipilih untuk diselamatkan, bukan binasa (Efesus 1:4, 5; 2 Petrus 1:10). Pilih-
an kita sendirilah, bukan pilihan Allah, yang menghalangi kita dari janji hidup
kekal dalam Kristus. Yesus telah mati bagi setiap manusia. Namun, Allah te-
lah menyatakan dalam Firman-Nya syarat-syarat oleh mana setiap orang akan
dipilih untuk hidup kekal: iman dalam Kristus, yang menuntun orang berdosa
yang sudah dibenarkan menuju pada penurutan.

Anda, hanya Anda, seakan tidak pernah ada orang lain, telah dipilih di da-
lam Kristus bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan, untuk memperoleh
keselamatan. Ini adalah panggilan Anda, pilihan Anda, semua diberikan pada
Anda, oleh Allah, melalui Yesus. Betapa kesempatan istimewa, betapa sebu-
ah pengharapan! Mengapa, dengan semua yang ada, segala sesuatu menjadi
suram dibandingkan dengan janji akbar ini? Mengapa akan menjadi tragedi
paling dahsyat untuk membiarkan dosa, diri, dan perbuatan daging meram-
pas dari Anda semua yang telah dijanjikan pada Anda dalam Yesus?

115
Selasa 31 Agustus
Rahasia-rahasia

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukan-


lah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari
bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku
dari rancanganmu” (Yes. 55:8, 9).

Baca Roma 9:17-24. Dengan apa yang sudah kita baca sejauh ini, ba-
gaimanakah kita memahami pokok ajaran Paulus di ayat ini?

Dalam memperlakukan Mesir di zaman Keluaran sebagaimana yang telah


diperbuat-Nya, Allah sedang bekerja bagi keselamatan umat manusia. Penya-
taan Allah akan diri-Nya dalam malapetaka di Mesir dan kelepasan umat-Nya
telah dirancang untuk menyatakan kepada orang Mesir, demikian juga bangsa-
bangsa lain, bahwa Allah Israel sesungguhnya Allah yang benar. Itu dirancang
untuk menjadi sebuah undangan bagi rakyat berbagai bangsa untuk meninggal-
kan allah-allah mereka dan datang menyembah Dia.
Firaun dengan jelas telah membuat keputusan melawan Allah, sehingga da-
lam mengeraskan hatinya Allah tidak sedang memutuskan dia dari kesempatan
keselamatan. Pengerasan hatinya adalah terhadap imbauan untuk membiarkan
Israel pergi, dan bukan terhadap panggilan Allah bagi Firaun untuk menerima
keselamatan pribadi. Kristus telah mati bagi Firaun, sama seperti halnya bagi
Musa, Harun, dan seluruh Bangsa Israel.
Pokok penting dalam semua ini adalah bahwa sebagai manusia yang telah
jatuh dalam dosa, kita mempunyai pandangan sempit terhadap dunia, dan ter-
hadap Allah serta bagaimana Dia bekerja di dunia ini. Bagaimanakah bisa kita
berharap untuk memahami semua rancangan Allah sementara dunia alami ini,
ke segala arah kita memandang, menyimpan berbagai rahasia yang kita tidak da-
pat mengerti? Lagipula, baru seratus lima puluh tahun atau dua ratus tahun lalu
para dokter mendapati bahwa adalah gagasan baik untuk mencuci tangan me-
reka sebelum melakukan pembedahan! Demikianlah selama ini kita tenggelam
di dalam kepongahan. Dan siapa tahu, jika waktu mengizinkan, masih banyak
hal lain lagi yang akan kita temukan di masa mendatang yang akan menyatakan
betapa kita terlalu tenggelam di dalam kebodohan kita hari ini?

Tentu saja, kita tidak selalu memahami jalan-jalan Allah, tetapi Yesus
telah datang untuk menyatakan pada kita seperti apa Allah itu (Yoh. 14:9).
Jika demikian, mengapakah di tengah rahasia-rahasia kehidupan serta
peristiwa-peristiwa yang tak terduga, sangat penting bagi kita untuk me-
renungkan tabiat Kristus dan apa yang telah dinyatakan-Nya kepada kita
tentang Allah dan kasih-Nya bagi kita? Bagaimanakah pengenalan akan
tabiat Allah menolong kita tetap setia di tengah-tengah berbagai kesukar-
an yang tampaknya tidak benar dan tidak adil?
116
Rabu 1 September
Ami: “Umat-Ku”

Dalam Roma 9:25, Paulus mengutip Hosea 2:22, dan di ayat 26 dia mengu-
tip Hosea 1:10. Latar belakangnya adalah Allah memerintahkan Hosea untuk
mengambil “seorang perempuan sundal” (Hos. 1:2) sebagai sebuah ilustrasi hu-
bungan Allah dengan Israel, karena bangsa itu telah mengikuti allah-allah asing.
Anak-anak yang lahir dari pernikahan ini diberikan nama-nama yang menanda-
kan penolakan dan hukuman Allah atas Israel yang menyembah berhala. Anak
ketiga dinamakan Lo-Ami (Hos. 1:9), yang arti harfiahnya “bukan umat-Ku.”
Namun di tengah semua ini, Hosea menubuatkan harinya akan datang di
mana, setelah menghukum umat-Nya, Allah akan memulihkan nasib mereka,
menghancurkan allah-allah palsu mereka, dan mengikat sebuah perjanjian de-
ngan mereka. (Lihat Hos. 2:11-19). Pada titik ini mereka yang tadinya Lo-Ami,
“bukan umat-Ku,” akan menjadi Ami, “umat-Ku.”
Di zaman Paulus, Ami adalah “bukan hanya dari antara orang Yahudi, teta-
pi juga dari antara bangsa-bangsa lain” (Roma 9:24). Betapa sebuah penyaji-
an Injil yang jelas dan berkuasa, suatu Injil yang sejak awalnya dimaksudkan
bagi seluruh dunia. Tidak heran sebagai orang-orang Advent kita ambil bagian
dalam panggilan kita berdasarkan ayat ini: “Dan aku melihat seorang malaikat
lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk di-
beritakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bang-
sa dan suku dan bahasa dan kaum” (Wahyu 14:6). Zaman ini, sebagaimana di
zaman Paulus, dan sebagaimana di zaman Israel dulu kala, kabar baik kesela-
matan itu harus disebarluaskan ke seluruh dunia.

Baca Roma 9:25-29. (Perhatikan berapa banyak Paulus mengutip Per-


janjian Lama untuk menekankan ajarannya tentang apa yang terjadi di
zamannya). Apakah pekabaran dasar yang ditemukan dalam ayat-ayat ini?
Pengharapan apakah yang ditawarkan kepada pembacanya?

Fakta bahwa beberapa sanak saudara Paulus telah menolak panggilan Injil
membuat dia “berdukacita dan selalu bersedih hati” (Roma 9:2). Tetapi sedi-
kitnya ada satu umat sisa. Janji-janji Allah tidak gagal, sekalipun manusia ga-
gal. Pengharapan yang bisa kita peroleh adalah, pada akhirnya, janji-janji Allah
akan digenapi, dan jika kita menuntut janji-janji itu bagi diri kita, hal itu akan
dipenuhi dalam diri kita juga.

Berapa seringkah orang tidak memenuhi janji pada Anda? Berapa se-
ringkah Anda gagal memenuhi janji pada diri sendiri dan juga pada orang
lain? Mungkin lebih dari yang bisa Anda hitung, bukan? Pelajaran-pelajar­
an apakah yang dapat Anda pelajari dari kegagalan-kegagalan tersebut
dan di mana seharusnya Anda menaruh kepercayaan Anda?

117
Kamis 2 September
sandungan

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-
bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu
kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum
yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Me-
ngapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman” (Roma 9:30-
32). Apakah pekabaran ayat ini, dan, lebih penting lagi, bagaimanakah kita
mengerti pekabaran ini, yang dituliskan pada satu waktu dan tempat terten-
tu, serta menerapkan prinsip-prinsipnya pada kita di zaman ini? Bagaimana-
kah kita bisa mencegah diri melakukan kesalahan-kesalahan yang sama da-
lam konteks kita seperti yang dilakukan orang Israel di zaman mereka?
Dengan kata-kata yang tidak bisa disalahmengerti, Paulus menerangkan ke-
pada orang sebangsanya mengapa mereka kehilangan sesuatu yang Allah mau
mereka miliki, dan lebih daripada itu, sesuatu yang sebenarnya sedang mereka
kejar tetapi tidak tercapai.
Menariknya, orang-orang bangsa lain yang telah diterima Allah tidak ber-
juang keras untuk perkenanan tersebut. Mereka selama ini telah mengejar ke-
pentingan dan tujuan mereka sendiri pada saat pekabaran Injil itu datang kepa-
da mereka. Memahami nilai Injil itu, mereka menerimanya. Allah menyatakan
mereka benar karena mereka menerima Yesus Kristus sebagai Pengganti me-
reka. Ini adalah sebuah transaksi iman.
Masalah Israel adalah mereka tersandung pada sebuah batu sandungan (li-
hat Rm. 9:33). Beberapa, tidak semua (lihat Kisah 2:41), telah menolak untuk
menerima Yesus dari Nazaret sebagai Mesias yang diutus Allah. Ia tidak me-
menuhi harapan-harapan mereka dari Seorang Mesias; makanya, pada saat Dia
datang, mereka menolak Dia.
Sebelum pasal ini berakhir, Paulus mengutip lagi sebuah ayat Perjanjian Lama:
“Seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuh-
an dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan
dipermalukan’” (Roma 9:33). Dalam ayat ini Paulus kembali menunjukkan beta-
pa pentingnya iman yang sejati itu di dalam rencana keselamatan (lihat juga 1 Pet
2:6-8). Sebuah batu sandungan? Namun, barangsiapa percaya kepada-Nya tidak
akan mendapat malu? Ya, bagi banyak orang, Yesus adalah sebuah batu sandung-
an, tetapi bagi mereka yang mengenal-Nya, dan mengasihi-Nya, Dia adalah suatu
jenis lain batu karang, “Gunung Batu Keselamatanku” (Mzm. 89:27).

Pernahkah Anda dapati Yesus sebagai suatu “batu sentuhan” atau sua-
tu “batu sandungan”? Jika ya, dalam cara apa? Maksudnya, apakah yang
Anda sedang lakukan yang menggiring Anda pada situasi tersebut? Ba-
gaimanakah Anda keluar dari keadaan itu, dan apakah yang telah Anda
pelajari sehingga diharapkan Anda tidak akan pernah lagi mendapati diri
Anda dalam jenis hubungan yang bertentangan dengan Yesus?
118
Jumat 3 September
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris yang
Muncul Kemudian,” dalam Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 256-276; “Faith and Works,”
hlm. 530, 531, dalam The SDA Encyclopedia; Komentar Ellen G. White, hlm. 1099,
1100, dalam The SDA Bible Commentary, jld. 1.
“Ada suatu pemilihan individu-individu dan suatu umat, satu-satunya pemilih-
an yang terdapat dalam firman Allah, di mana manusia dipilih untuk diselamatkan.
Banyak orang pada akhirnya melihat, menyangka mereka pasti terpilih untuk mem-
peroleh sukacita surgawi; tetapi ini bukanlah pemilihan yang dinyatakan Alkitab.
Manusia dipilih untuk mengerjakan keselamatannya sendiri dengan takut dan gentar.
Ia terpilih untuk mengenakan perlengkapan senjata untuk melakukan peperangan
iman yang baik. Ia terpilih untuk menggunakan sarana yang telah ditempatkan Allah
pada jangkauannya untuk berperang melawan semua hawa nafsu yang tidak suci,
sementara Setan sedang berusaha mempermainkan keselamatan jiwanya. Ia terpilih
untuk berjaga dan berdoa, untuk menyelidiki Alkitab, dan untuk menghindar masuk
dalam pencobaan. Ia terpilih untuk terus-menerus memiliki iman. Ia terpilih untuk
menurut setiap firman yang keluar dari mulut Allah, supaya ia bukan hanya menja-
di pendengar tetapi juga pelaku firman. Inilah pemilihan menurut Alkitab.”—Ellen
G. White, Testimonies to Ministers and Gospel Workers, hlm. 453, 454.
“Tidak ada pikiran fana yang dapat memahami sepenuhnya akan tabiat atau ha-
sil karya Yang Mahakekal. Dengan mencari kita tidak dapat menemukan Allah. Bagi
pikiran yang berbudaya paling kuat dan paling tinggi, juga bagi pikiran yang paling
lemah dan paling dungu, Oknum kudus itu harus tetap terselubung dalam rahasia. Te-
tapi walaupun ‘awan dan ke­kelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah
tumpuan takhta-Nya’ (Maz­mur 97:2). Sejauh ini kita dapat mengerti pemeliharaan-
Nya bagi kita dengan melihat pengasihan-Nya yang tidak ter­hingga disatukan dengan
kuasa yang ke­kal.”—Ellen G. White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 155.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:
nn Beberapa orang Kristen mengajarkan bahwa, bahkan sebelum kita lahir,
Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian orang
untuk binasa. Jika umpamanya Anda adalah salah seorang yang telah dite-
tapkan oleh Allah, dengan kasih dan hikmat-Nya yang tidak terbatas, un-
tuk binasa, maka apa pun pilihan yang Anda buat, Anda telah ditetapkan
untuk binasa, yang menurut banyak orang artinya adalah dibakar dalam
neraka selama-lamanya. Dengan kata lain, bukan melalui pilihan Anda
sendiri, melainkan hanya melalui penentuan Allah, ada orang yang telah
ditakdirkan untuk hidup tanpa ada satu hubungan keselamatan dengan Ye-
sus pada kehidupan di dunia ini, dan akan menjalani satu kehidupan beri-
kutnya dengan terbakar selama-lamanya dalam api neraka. Apakah yang
salah dengan gambaran ini? Bagaimanakah pandangan ini bertentangan
dengan pemahaman kita tentang pokok-pokok ajaran ini?
oo Bagaimanakah Anda melihat Gereja MAHK dan panggilannya di dunia
pada zaman ini sejajar dengan peranan Israel dulu kala di zamannya?
Apakah persamaan dan perbedaannya? Dalam hal apakah kita lebih baik?
Atau lebih buruk? Beri alasan untuk jawaban Anda.
119
Penuntun guru 10
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 9:21.

Anggota kelas akan:


¾¾ Mengetahui: Membahas keadilan Allah dalam memilih bagaimana dan
melalui siapa Dia melaksanakan kehendak-Nya.
¾¾ Merasakan: Merasakan besar dan unggulnya keadilan Allah yang, melalui
sarana yang diketahui maupun rahasia, bekerja untuk menawarkan kesela-
matan bagi setiap orang.
¾¾ Melakukan: Bertekad untuk menjadi bagian dari umat sisa yang percaya dan
taat, yang dapat digunakan Allah untuk menunaikan maksud-maksud-Nya.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Bekerja Sesuai Pilihan Allah
A. Sekalipun Allah memilih untuk melaksanakan rencana keselamat­
an-Nya melalui Israel, rencana itu tidak terlaksana sesuai dengan
yang direncanakan Allah semula. Apakah akibat-akibat keputusan
Israel untuk bergantung pada kebenaran mereka sendiri lebih dari-
pada kebenaran Allah?
B. Apakah rencana mula-mula Allah bagi Israel, dan mengapakah me-
reka gagal melaksanakannya?
II. Merasakan: Gambaran Luas
Sementara boleh saja kita tidak mengerti gambaran luas cara Allah
bekerja, apakah yang memberikan kita keyakinan bahwa setiap hal
rinci rencana Allah itu adil dan berbelas kasihan?
III. Melakukan: Bejana Buatan Allah
A. Menjadi jenis bejana apa kita dibentuk Allah, itu terserah kita untuk
mengizinkan-Nya, oleh iman, untuk menjadikan kita anak-anak yang
benar serta menggunakan kita sekehendak-Nya dalam pekerjaan-Nya.
Metode-metode apakah yang digunakan Allah, Ahli Tembikar itu,
untuk membentuk kita menjadi bejana bagi pekerjaan-Nya?
B. Kesalahan-kesalahan apakah yang dilakukan oleh anak-anak Israel,
sebagai umat sisa Allah, yang perlu kita hindari?
C. Bagaimanakah kita bisa mempunyai cerita yang berbeda daripada
Israel sebagai umat sisa Allah?
Rangkuman: Bilamana kita mau menjadi anak-anak perjanjian, kita
tidak mengandalkan jasa kita sendiri. Oleh iman, kita harus menerima
persediaan Allah, bagi keselamatan kita serta bekerja sama dengan Dia
dalam rencana-Nya.

120
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Allah telah menyediakan pene-
busan bagi semua orang, apa pun ras, kasta, suku, warna, atau jenis kelamin
mereka.

Jelas terlihat adanya ketegangan etnis di jemaat Roma—tidak mengejutkan


bagi sebuah ibukota yang telah menjadi wajan campuran kekaisaran itu. Tak
pelak lagi jemaat mencerminkan beragam penduduk kota itu. Namun demiki-
an, pertentangan paling gigih adalah antara penduduk Yahudi dan kelompok-
kelompok lainnya (bangsa-bangsa lain atau orang-orang kafir). Seperti sering
terjadi, ketegangan-ketegangan ini muncul antara berbagai suku dan kelompok
bangsa yang berbeda.

Kegiatan:
Ke dalam beberapa wadah air ukuran seperempat, isilah air, tambahkan pewarna
makanan dengan campuran: (1) merah dan biru, (2) kuning dan biru, (3) kuning
dan merah. Tanyakan: “Apakah kita masih melihat merah, kuning, dan biru?”
Tentu saja sekarang kita lihat ungu, hijau, dan oranye. Intinya adalah pada saat
jemaat berbaur bersama dengan sempurna, kita tidak lagi melihat “kita” dan
“mereka,” karena dalam Kristus kita semua akan menjadi sesuatu yang sama
sekali berbeda—satu manusia baru.

Diskusikan: Langkah-langkah apakah yang perlu ditempuh untuk menca-


pai tujuan persatuan?

LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Dalam menyampaikan masalah sifat tidak berbaur,
Paulus pertama-tama menampilkan (Roma 1-3) bahwa tidak ada alasan un-
tuk bermegah, karena setiap orang sama-sama telah hilang. Jika kita semua
telah ditentukan untuk neraka, hanya ada sedikit motivasi untuk berteng-
kar menuntut hak-hak. Namun demikian, Paulus mau kita mengetahui bah-
wa Allah mempunyai satu rencana keselamatan yang tersedia bagi semua
orang. Jadi, serangan keduanya untuk sifat tidak berbaur didasarkan atas
kesempatan universal. Tidak ada ruang untuk bermegah, karena kita semua
sama-sama telah ditebus oleh rahmat Allah yang sama yang menunjukkan
tidak ada pandang bulu (Roma 4-8). Sama seperti karunia-karunia roha-
ni, Allah memilih sebagian orang untuk berbagai peran pelayanan dalam
rencana keselamatan-Nya. Namun demikian, penerimaan karunia itu tidak
boleh menjadi alasan bermegah melainkan sebuah kesempatan untuk ke-
rendahan hati yang diungkapkan melalui melayani orang lain.

121
Komentar Alkitab
I. Terpilih (Baca kembali Roma 9:1-15 bersama anggota kelas Anda).
Dalam masyarakat demokrasi, secara otomatis kita mengaitkan pemilihan
dengan pungut suara. Dalam urusan Ilahi, hanya satu suara yang diperlukan—
Suara Allah. Pilihan-pilihan-Nya tidak bergantung pada perubahan manusia.
Bilamana umat manusia mencoba menggagalkan maksud-maksud Allah, maka
Allah tidak pernah kalah; hanya ketidaktaatan manusia yang bisa mengalahkan-
nya. Jadi, bila Allah memilih untuk menyelamatkan dunia kita, hasilnya tidak
pernah diragukan. Mereka yang berusaha menggagalkan maksud inilah yang
menjadi pecundang (yang kalah).
Sebagian orang mempunyai kesulitan memahami pilihan agung Allah. Me-
reka melihatnya sebagai gangguan bagi kebebasan manusia. Namun Alkitab
sangat jelas (lihat Roma 8:28-30), bahwa takdir menurut Alkitabiah adalah se-
suai dengan pra pengetahuan Allah.
“Allah bisa melihat sebelumnya pilihan yang akan dibuat setiap orang, teta-
pi pra pengetahuan-Nya tidak menentukan pilihan tersebut. . . . Takdir menurut
Alkitab terdiri dari maksud efektif Allah bahwa semua yang memilih untuk per-
caya pada Kristus akan diselamatkan (Yoh. 1:12; Ef. 1:4-10). . . . Tetapi penge-
tahuan Allah tentang apa yang akan dilakukan setiap orang tidak mengganggu
apa yang sebenarnya mereka pilih untuk lakukan sama seperti pengetahuan se-
orang sejarawan tentang apa yang manusia lakukan di masa lalu tidak mempe-
ngaruhi tindakan-tindakan mereka. Sama seperti sebuah kamera merekam suatu
pemandangan tetapi tidak mengubahnya, pra pengetahuan melihat masa depan
tanpa mengubahnya.”—Seventh-day Adventists Believe . . . (Hagerstown, Md.:
Review and Herald® Publishing Association, 1988), hlm. 21, 22.
Lebih jauh, bilamana Allah memilih untuk menjalankan maksud Ilahi-Nya,
keputusan itu tidak takluk pada penilaian manusia. Allah memilih Musa, bu-
kan Korah; Daud, bukan Yonatan; Yakub, bukan Esau. Pengaruh dari pilihan-
pilihan ini tentulah jelas bagi orang-orang Yahudi: Jika rencana penebusan ada
sepenuhnya pada tangan Allah, siapakah mereka, manusia biasa, sehingga bisa
mengecualikan bangsa-bangsa lain dari kerajaan Allah? Allah bebas memi-
lih siapa yang diinginkan-Nya, dan Dia mau semua orang, termasuk bangsa-
bangsa lain, untuk diselamatkan (1 Tim. 2:4). Alasan Petrus dalam Kisah 10
untuk melayani bangsa lain pada dasarnya sama: Jika melayani kelompok ini
memang direstui Ilahi, bagaimanakah kita menentang kehendak Allah? Paulus
memahami argumen tersebut dengan kutipan-kutipan dari Hosea dan Yesaya
yang menunjukkan bahwa Allah telah menarik bangsa-bangsa lain ke dalam
keluarga-Nya (Roma 9:25-29).
Berbagai interpretasi tentang ayat-ayat ini telah menghasilkan beberapa
pendekatan terhadap penginjilan. Ada yang mengusulkan bahwa Allah secara
acak telah memilih beberapa orang untuk binasa dan yang lain untuk selamat.
Jadi, mereka mempertanyakan mengapa usaha-usaha diperluas untuk menjang-
kau yang hilang. Jika itu telah ditakdirkan, apa gunanya? Namun, mereka yang
mengerti bahwa Allah telah mengundang semua orang yang belum menerima
Dia sebelumnya, telah memacu mereka menanggung berbagai kesukaran dan

122
bahkan kematian demi penyebaran Injil. Sebelum Salib, semua manusia—apa
pun ras, kasta, status dan suku—adalah sama. Betapa pentingnya agar orang-
orang Kristen tidak melupakan hal ini.

Pertimbangkan: Bagaimanakah oleh menerima pekabaran Paulus mencipta-


kan keserasian antar ras dalam gereja? Jebakan-jebakan apakah yang meng-
intai usaha penginjilan gereja? Bagaimanakah pekabaran Paulus melindungi
kita terhadap pencobaan untuk menganggap diri lebih unggul di antara umat
percaya? Bagaimanakah keamanan rohani terusik bila kita gagal mengguna-
kan karunia-karunia rohani Allah dalam penginjilan dan pelayanan?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Betapa pekabaran mulia yang telah ditugaskan ke-
pada kita untuk kita sampaikan: mereka yang tadinya bukan umat Allah
sekarang menjadi umat-Nya! Kita biasanya rayakan adopsi, kewarganega-
raan yang didapatkan, dan berbagai jenis kepemilikan. Apakah yang kita
lakukan dengan pengalaman terbesar keselamatan—meluaskan undangan
bagi orang lain untuk bergabung dengan keluarga Allah? Langkah-langkah
praktis apakah yang kita ambil untuk memastikan bahwa semua kelompok
orang dalam masyarakat kita mendapatkan kesempatan untuk menikmati
terang Ilahi dalam Roma 9?

Kegiatan:
Buat daftar semua kelompok orang dalam masyarakat Anda. Buat dalam bentuk
kolom vertikal, menyisakan banyak spasi ke arah kanan daftar itu untuk catatan
tambahan. Setelah membuat daftar tersebut, bahas setiap kelompok, catat dalam
spasi yang kosong apa yang gereja sedang lakukan untuk menjangkau setiap
kelompok. Tulis dengan rinci. Apakah ada kelompok-kelompok yang tidak di-
perhatikan atau terlalaikan? Ciptakan ide-ide untuk menjangkau mereka. Apakah
yang kita tahu tentang kebutuhan, kebudayaan, bahasa, sejarah, dan pengalam-
an nasional mereka? Apakah yang kelas kita dapat lakukan untuk menjangkau
paling tidak satu kelompok di luar suku atau budaya kita?

Pertanyaan Penerapan:
»» Informasi apakah yang harus saya kumpulkan tentang kelompok-kelompok
orang lainnya supaya saya bisa menjadi suatu alat efektif di tangan Allah
untuk membagikan Injil?
¼¼ Karunia-karunia rohani, keterampilan, dan kesanggupan alami apakah yang
telah Allah berikan untuk kelas saya dengan mana itu dapat diabdikan untuk
menyelamatkan yang hilang?
½½ Mengapakah ada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat kita yang
terlalaikan?
¾¾ Bagaimanakah gereja kita mengembangkan benih kesaksian Kristen?

123
LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Buatlah satu sarana untuk menyampaikan peka-
baran Injil kepada satu kelompok yang dibahas di atas. Karena ada un-
sur pengetahuan untuk pertobatan, usahakanlah mendapatkan bahan-bahan
yang tersedia bagi usaha ini. Dalam tugas militer, pengatur penyerangan
mempertimbangkan senjata-senjata apa yang dibutuhkan untuk mengatasi
halangan-halangan antara pasukan penyerang dengan target. Penilaian ini
bukanlah satu jenis untuk semua. Demikian juga, orang-orang Kristen ha-
rus dengan cermat memilih alat-alat terbaik yang cocok bagi penyerangan
di wilayah Setan.

Kegiatan: Bahas metode-metode yang akan digunakan kelas Anda untuk


menyerang wilayah Setan. Buat tabel waktu. Contoh: rencana target: SMU se-
tempat. Bulan pertama: buat stan di kampus pada hari raya tertentu untuk meng-
undang siswa-siswi bergabung dalam drama jemaat Anda, klub bersepeda, tim
sepakbola, dan lain-lain. Bulan kedua: prakarsai majalah pertarakan untuk per-
pustakaan. Bulan ketiga: prakarsai penampilan musik gratis pada pertandingan
basket (tentu saja musik Kristen yang berterima).

124
Pelajaran 11 *4-10 September 2010

Pemilihan Berdasarkan
Kasih Karunia

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 10, 11.

Ayat Hafalan: “Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah
menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang
Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin” (Roma 11:1).

P
elajaran pekan ini mencakup Roma 10 dan 11, dengan satu fokus khusus
pada pasal 11. Adalah penting untuk membaca kedua pasal secara kese-
luruhan agar dapat terus mengikuti alur pikiran Paulus.
Kedua pasal ini telah dan tetap menjadi pokok dari banyak pembahasan. Na-
mun, satu hal jelas terlihat dari kedua pasal ini, yaitu kasih Allah bagi manusia
serta kerinduan-Nya yang besar untuk melihat semua manusia diselamatkan.
Tidak ada penolakan bersama terhadap siapa pun bagi keselamatan. Roma 10
dengan jelas berkata “tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yu-
nani” (Roma 10:12)—semua orang berdosa dan membutuhkan kasih karunia
Allah yang diberikan kepada dunia melalui Yesus Kristus. Kasih karunia ini
datang bagi semua orang—bukan berdasarkan kebangsaan, bukan karena ke-
lahiran, dan bukan oleh perbuatan-perbuatan hukum melainkan melalui iman
dalam Yesus, yang telah mati sebagai Pengganti bagi orang-orang berdosa di
mana saja. Peran boleh saja berubah, tetapi rencana dasar keselamatan tidak
pernah berubah.
Paulus melanjutkan tema ini di pasal 11. Di sini juga, sebagaimana dinyata-
kan sebelumnya, adalah penting untuk mengerti bahwa ketika Paulus berbicara
tentang pemilihan dan panggilan, intinya bukanlah pemilihan dan panggilan un-
tuk keselamatan melainkan untuk peran dalam rencana Allah untuk menjang-
kau dunia. Tidak ada kelompok yang telah ditolak bagi keselamatan; hal ini
tak pernah dibahas. Gantinya, setelah Salib, dan setelah diperkenalkannya Injil
kepada bangsa-bangsa lain, khususnya melalui Paulus, maka pergerakan awal
orang-orang percaya—baik orang Yahudi maupun bangsa lain—mengambil
tanggung jawab menginjili dunia ini.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 11 September.

125
Minggu 5 September
Kegenapan Hukum Taurat

Baca Roma 10:1-4. Dengan mengingat apa yang telah dibahas sebe-
lumnya, apakah pekabaran dalam ayat ini? Bagaimanakah kita pada za-
man ini bisa berada dalam bahaya oleh berusaha mendirikan “kebenar-
an kita sendiri?”
Legalisme bisa muncul dalam banyak bentuk, sebagian lebih halus dari
yang lainnya. Mereka yang mengandalkan diri mereka sendiri, perbuatan baik
mereka, pola makan mereka, cara mereka memelihara Sabat dengan ketat, se-
mua hal buruk yang mereka tidak lakukan, atau hal-hal baik yang telah mereka
capai—bahkan dengan maksud-maksud yang terbaik sekalipun—sedang jatuh
dalam perangkap legalisme. Dalam kehidupan kita setiap saat, kita harus me-
nempatkan kesucian Allah di hadapan kita yang begitu berbeda dengan keber-
dosaan kita; itulah jalan paling pasti untuk melindungi diri kita dari cara ber-
pikir yang menuntun banyak orang untuk mengusahakan “kebenaran mereka
sendiri,” yang sangat berlawanan dengan kebenaran Kristus.
Roma 10:4 adalah satu ayat penting yang merangkum inti seluruh peka-
baran Paulus kepada orang-orang Roma. Pertama, kita perlu mengetahui kon-
teksnya. Banyak orang Yahudi yang “berusaha untuk mendirikan kebenaran
mereka sendiri” (Roma 10:3) dan mencari “kebenaran karena hukum Taurat”
(Roma 10:5). Tetapi dengan datangnya Mesias, jalan kebenaran yang sebenar-
nya ditampilkan. Kebenaran ditawarkan kepada semua orang yang mau me-
mancangkan iman mereka di dalam Yesus. Mesiaslah yang ditunjukkan oleh
sistem upacara dulu kala.
Bahkan jika seseorang mencakupkan Sepuluh Perintah dalam definisi hukum,
hal itu tidak berarti Sepuluh Perintah itu telah dihapuskan. Hukum moral menun-
jukkan dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita, kekurangan-kekurangan kita, dan
dengan demikian menuntun kita kepada kebutuhan kita akan seorang Juruselamat,
kebutuhan kita akan pengampunan, kebutuhan kita akan kebenaran, yang semua-
nya terdapat hanya pada Yesus. Dalam pengertian ini, Kristus adalah “kegenap-
an” hukum Taurat, yang artinya hukum Taurat menuntun kita kepada kebenaran
dan kebenaran-Nya. Kata Yunani untuk “kegenapan” adalah telos, yang bisa juga
diterjemahkan “tujuan” atau “maksud.” Kristus adalah tujuan final hukum Taurat
itu, dengan kata lain hukum Taurat itu menuntun kita kepada Yesus.
Melihat ayat ini sebagai satu ajaran bahwa Sepuluh Perintah—khususnya
perintah keempat (ini sebenarnya maksud banyak orang)—kini telah ditiada-
kan adalah sama saja dengan membuat kesimpulan yang sangat bertentangan
dengan apa yang Paulus dan Perjanjian Baru ajarkan.
Pernahkah Anda dapati diri Anda sombong dengan kebaikan Anda,
khususnya dibandingkan dengan orang lain? Boleh jadi Anda “lebih baik,”
tetapi apakah begitu? Bandingkan diri Anda dengan Kristus, dan kemu-
dian pikirkanlah seberapa “baik” diri Anda sebenarnya.
126
Senin 6 September
Pemilihan Berdasarkan Kasih Karunia

Baca Roma 11:1-7. Ajaran umum apakah yang dengan jelas dan mut-
lak disangkal oleh ayat-ayat ini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Pada bagian pertama dari jawabannya terhadap pertanyaan “Adakah Allah
mungkin telah menolak umat-Nya?” Paulus menunjuk pada suatu umat sisa,
yang dipilih berdasarkan kasih karunia, sebagai bukti bahwa Allah tidak me-
nolak umat-Nya. Keselamatan terbuka bagi semua orang yang menerimanya,
baik orang Yahudi maupun bangsa lain.
Haruslah diingat bahwa orang-orang yang pertama kali bertobat kepada
Kekristenan adalah orang-orang Yahudi—contohnya, kelompok orang yang
ditobatkan pada hari Pentakosta. Dibutuhkan satu penglihatan dan mukjizat
khusus untuk meyakinkan Petrus bahwa bangsa-bangsa lain mempunyai akses
yang sama kepada kasih karunia Kristus (Kisah 10; bandingkan dengan Kisah
15:7-9) dan bahwa Injil ini harus disampaikan kepada mereka juga.

Baca Roma 11:7-10. Apakah Paulus sedang berkata bahwa Allah de-
ngan sengaja telah membutakan sebagian orang Israel yang menolak Ye-
sus, kepada keselamatan? Apakah yang salah dengan ajaran ini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Dalam ayat-ayat ini, Paulus mengutip dari Perjanjian Lama, yang diterima
mempunyai wewenang oleh orang Yahudi. Ayat-ayat yang Paulus kutip menam-
pilkan Allah yang memberikan kepada Israel satu roh yang membuat mereka
tertidur, mencegah mereka melihat dan mendengar. Apakah Allah membuta-
kan mata umat ini untuk mencegah mereka melihat terang yang akan menun-
tun mereka kepada keselamatan? Tidak pernah! Ayat-ayat ini harus dimengerti
atas dasar penjelasan kita tentang Roma 9. Paulus tidak sedang berbicara ten-
tang keselamatan secara individu, karena Allah tidak menolak satu kelompok
pun secara serempak untuk mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, yang diba-
has di sini, yang memang adalah pusat pembahasan Paulus sejauh ini, adalah
peranan yang dimainkan oleh umat tersebut dalam pekerjaan-Nya.

Apakah yang begitu salah dengan gagasan bahwa Allah telah meno-
lak sekaligus satu umat manusia dalam hal keselamatan? Mengapa hal itu
bertentangan dengan seluruh ajaran Injil, yang pada intinya menunjuk-
kan bahwa Kristus telah mati untuk menyelamatkan semua umat manu-
sia? Bagaimanakah gagasan ini telah menuntun kepada hasil-hasil yang
tragis, contohnya seperti yang dialami orang-orang Yahudi?

127
Selasa 7 September
Cabang yang Dicangkokkan

Baca Roma 11:11-15. Harapan besar apakah yang Paulus suguhkan


dalam ayat-ayat ini?
Dalam ayat-ayat ini, kita temukan dua pernyataan yang sejajar: (1) “kesempurnaan
mereka [orang Israel]” (ay. 12), dan (2) “penerimaan mereka [orang Israel]” (ay. 15).
Paulus melihat pengurangan dan penolakan tersebut hanyalah sementara dan akan diikuti
dengan kesempurnaan dan penerimaan. Inilah jawaban kedua Paulus kepada pertanyaan
yang ditimbulkan di awal pasal ini, “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?”
Apa yang tampaknya seperti penolakan, katanya, hanyalah satu situasi sementara.

Baca Roma 11:16-24. Apakah yang dikatakan Paulus kepada kita da-
lam ayat ini?

Paulus mengibaratkan umat sisa yang setia di Israel dengan sebatang pohon
zaitun, yang beberapa cabangnya telah dipatahkan (mereka yang tidak percaya)—
sebuah ilustrasi yang digunakannya untuk membuktikan bahwa “Allah tidak
menolak umat-Nya” (ay. 2). Akar dan batangnya masih ada.
Kepada pohon ini orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain telah dicang-
kokkan. Tetapi mereka mengisap sari makanan dan kehidupan mereka dari akar
dan batang pohon itu, yang melambangkan orang Israel yang percaya.
Apa yang terjadi pada mereka yang menolak Yesus dapat juga terjadi pada
bangsa-bangsa lain yang telah percaya. Alkitab tidak mengajarkan doktrin “sekali
selamat tetap selamat.” Sebagaimana keselamatan ditawarkan dengan cuma-cuma,
maka itu juga dapat ditolak dengan cuma-cuma. Sekalipun kita harus berhati-hati
untuk berpikir bahwa setiap kita jatuh kita berada di luar keselamatan, atau bahwa
kecuali kita sempurna kita tidak diselamatkan, kita perlu mencegah ajaran yang
sebaliknya juga—gagasan bahwa sekali kasih karunia Allah melingkupi kita, ti-
dak ada yang dapat kita lakukan, tidak ada pilihan yang dapat kita buat, yang akan
merebut dari kita jaminan keselamatan itu. Pada akhirnya, hanya mereka yang
“tetap dalam kemurahan-Nya” (ay. 22) yang akan diselamatkan.
Janganlah seorang percaya pun bermegah dalam kebaikannya atau merasa
lebih tinggi dari sesamanya. Keselamatan kita bukanlah didapatkan dengan usa-
ha; itu adalah sebuah pemberian. Di hadapan Salib, di hadapan standar kesuci-
an Allah, kita semua setara: orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia
Ilahi, orang berdosa yang membutuhkan kesucian yang bisa menjadi milik kita
hanya di dalam Yesus dan apa yang sudah dilakukan-Nya bagi kita oleh datang
ke dunia ini dalam tubuh manusia, menderita segala celaka kita, mati karena
dosa-dosa kita, memberikan kita satu contoh bagaimana seharusnya kita hidup,
dan menjanjikan kita kuasa untuk menjalankan kehidupan seperti itu. Dalam se-
muanya itu, kita mutlak bergantung pada-Nya, karena tanpa Dia kita tidak akan
memiliki pengharapan melebihi yang ditawarkan dunia ini.

128
Rabu 8 September
Suatu Rahasia Diungkapkan

Baca Roma 11:25-27. Peristiwa-peristiwa besar apakah yang diramal-


kan Paulus di sini?

Orang-orang Kristen tengah mendiskusikan dan mendebatkan beberapa


ayat ini selama berabad-abad. Beberapa hal memang jelas. Sebagai pendahu-
luan, hal paling jelas di sini Allah berusaha menjangkau orang-orang Yahudi.
Apa yang dikatakan Paulus adalah jawaban terhadap pertanyaan yang muncul
di awal pasal ini, “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Jawab-
nya sudah tentu tidak, dan penjelasannya adalah (1) kebutaan itu (kata Yunani
porosis, “ketegaran”) hanyalah “sebagian,” dan (2) itu hanya bersifat sementa-
ra, “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.”
Apakah artinya “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain?” Banyak yang
melihat penggalan kalimat ini sebagai satu ungkapan kegenapan amanat Injil,
di mana seluruh dunia mendengarkan Injil. “Jumlah yang penuh dari bangsa-
bangsa lain” tercapai pada saat Injil diberitakan di mana-mana. Iman orang Is-
rael, yang diwujudkan dalam Yesus, disebarluaskan. Injil telah dikhotbahkan
kepada seluruh dunia. Kedatangan Yesus sudah dekat. Pada titik inilah banyak
orang Yahudi mulai datang kepada Yesus.
Hal sulit lainnya adalah arti dari “seluruh Israel akan diselamatkan” (ay. 26).
Sebutan ini jangan ditafsirkan bahwa semua orang Yahudi pada akhirnya akan
mendapatkan keselamatan oleh satu dekret Ilahi. Alkitab tidak pernah meng-
khotbahkan keselamatan universal, baik bagi seluruh umat manusia ataupun
bagi satu kelompok tertentu. Paulus berharap bisa menyelamatkan “beberapa
orang dari mereka” (ay. 14). Ada yang menerima Mesias, ada juga yang meno-
lak, dan ini terjadi pada semua kelompok manusia.
Mengomentari Roma 11, Ellen White berbicara tentang satu waktu “Dalam pe-
nutupan pemberitaan Injil” bila “kebanyakan orang Yahudi... oleh iman akan me-
nerima Kristus sebagai Penebus mereka.”— Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 320.
“Ada pekerjaan besar yang harus dikerjakan di dunia kita. Tuhan telah me-
nyatakan bahwa bangsa-bangsa lain harus dikumpulkan, dan bukan hanya me-
reka saja, melainkan juga orang-orang Yahudi. Ada banyak di antara orang Ya-
hudi yang mau ditobatkan, yang melalui mereka kita akan melihat keselamatan
dari Allah tampil sebagai satu pelita yang menyala. Ada orang Yahudi di mana-
mana, dan kepada mereka terang kebenaran zaman ini harus dibawakan. Ada
banyak di antara mereka yang mau datang kepada terang itu, dan yang akan
mengumandangkan dengan kuasa luar biasa hukum Allah yang tak terubahkan
itu.”—Ellen G. White, Evangelism, hlm. 578.
Ambil waktu untuk memikirkan iman Kristen yang berakar dari un-
sur Yahudi. Bagaimanakah satu studi tertentu tentang agama Yahudi da-
pat menolong Anda mengerti lebih baik iman Kristen Anda?

129
Kamis 9 September
Keselamatan Orang-orang Berdosa

Kasih Paulus bagi bangsanya sendiri nampak jelas dalam ayat-ayat ini. Sa-
ngatlah sukar tentunya bagi Paulus melihat sebagian teman sebangsanya tampil
melawan dia dan kebenaran Injil. Namun, di tengah semua itu, dia tetap perca-
ya bahwa banyak akan menerima Yesus sebagai Mesias.

Baca Roma 11:28-36. Bagaimanakah Paulus menunjukkan kasih Allah,


bukan hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi seluruh manusia?
Bagaimanakah dalam ayat ini dia mengungkapkan kuasa ajaib dan raha-
sia dari kasih karunia Allah?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Di seluruh ayat di atas, sekalipun ada ditampilkan perbedaan antara orang


Yahudi dan bangsa lain, ada satu hal yang jelas: kemurahan dan kasih serta
anugerah Allah dicurahkan ke atas orang-orang berdosa. Bahkan sebelum da-
sar dunia ini, rencana Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dan meng-
gunakan orang lain, bahkan bangsa-bangsa lain, sebagai alat pada tangan-Nya
untuk memenuhi kehendak Ilahi.

Baca dengan teliti dan penuh doa ayat 31. Pokok penting apakah yang ha-
rus kita ambil dari ayat ini tentang kesaksian kita, bukan saja kepada orang
Yahudi tetapi juga kepada semua manusia yang pernah kita temui?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Tak diragukan, sepanjang berabad-abad, jika saja gereja Kristen telah mem-
perlakukan orang Yahudi dengan lebih baik, tentu sudah lebih banyak dari mere-
ka yang datang kepada Mesias mereka. Kemurtadan besar-besaran di abad-abad
permulaan setelah Kristus, serta pengkafiran luar biasa pada Kekristenan—ter-
masuk penolakan Sabat hari ketujuh demi hari Minggu—tentu tidak memudah-
kan seorang Yahudi yang seharusnya sudah bisa ditarik kepada Kristus.
Dengan demikian sangatlah penting agar semua orang Kristen, dengan me-
nyadari kemurahan yang telah diberikan kepada mereka di dalam Yesus, me-
nunjukkan kemurahan itu kepada orang lain. Jika kita tidak lakukan hal itu kita
tidak bisa disebut orang Kristen (lihat Matius 18:23-36).

Adakah seseorang kepada siapa Anda perlu tunjukkan kemurahan,


orang yang mungkin tidak layak untuk itu? Mengapa tidak menunjuk-
kan pada orang ini kemurahan tersebut, sekalipun hal itu sukar? Bukan-
kah itu yang telah Yesus buat bagi kita?

130
Jumat 10 September
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Di Hadapan Sanhedrin,”
hlm. 65-72; “Dari Penganiaya menjadi Murid,” hlm. 95-104; “Dikirim dari Roma,”
hlm. 396-409, dalam buku Alfa dan Omega, jld. 7; “Reaching Catholics,” hlm. 573-
577, dalam Evangelism; “What to Preach and Not to Preach,” hlm. 155, 156, dalam
Selected Messages, jilid 1.
“Meskipun kegagalan Israel sebagai suatu bangsa, namun masih tinggal di anta-
ra mereka suatu umat yang sisa seperti itu yang akan diselamatkan. Pada waktu ke-
datangan Juruselamat itu ada pria dan wanita yang setia yang telah menerima dengan
suka hati pekabaran Yohanes Pembaptis, dan dengan demikian telah dituntun untuk
mempelajari kembali nubuatan mengenai Mesias. Bila gereja Kristen yang mula-mu-
la didirikan, itu telah disusun dari antara orang-orang Yahudi yang setia yang menge-
tahui Yesus orang Nazaret sebagai seorang yang kedatangan-Nya telah lama dinanti-
nantikan.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 317.
“Di antara orang-orang Yahudi ada beberapa, yang sama seperti Saulus dari Tar-
sus, perkasa dalam Alkitab, dan orang-orang ini akan memasyhurkan dengan kuasa
yang ajaib bagaimana kekalnya hukum Allah itu . . . . Sementara hamba-hamba-Nya
bekerja dengan setia bagi mereka yang telah lama dilupakan dan disiksa, keselamat­
an-Nya akan dinyatakan.”—Idem, hlm. 320, 321.
“Dalam penutupan pemberitaan Injil itu, bila pekabaran khusus telah dilakukan
bagi golongan-golongan yang terlewatkan sampai pada saat itu, Allah mengharapkan
jurukabar-jurukabar-Nya untuk mengambil perhatian khusus kepada umat Yahudi yang
mereka temukan di seluruh muka bumi. Sementara tulisan-tulisan Perjanjian Lama di-
satupadukan dengan Perjanjian Baru dalam suatu penjelasan maksud Allah yang aba-
di ini akan jadi seperti suatu fajar kejadian baru bagi kebanyakan orang Yahudi, suatu
kebangkitan jiwa. Sementara mereka melihat Kristus tergambar dalam tulisan-tulisan
Perjanjian Lama, dan merasa betapa jelasnya Perjanjian Baru menerangkan yang lama,
segala kesanggupan mereka yang tertidur akan dibangkitkan, dan mereka akan menge-
nal Kristus sebagai Juruselamat dunia. Banyak yang oleh iman akan menerima Kristus
sebagai Penebus mereka.”—Idem, hlm. 320.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


nn Di zaman akhir, di saat hukum Allah, khususnya Sabat, menjadi perten-
tangan tajam, bukankah masuk akal bahwa orang-orang Yahudi—banyak
di antara mereka yang bersungguh-sungguh dalam hal Sepuluh Perintah itu
sebagaimana orang Advent—akan mempunyai satu peranan dalam mem-
bantu meluruskan beberapa persoalan di hadapan dunia ini? Lagipula, bila
tiba pada hal memelihara Sabat, orang-orang Advent, lain halnya dengan
orang-orang Yahudi, adalah “anak-anak pendatang baru.” Diskusikan.
oo Mengapa dari antara semua gereja, Adventlah seharusnya yang paling ber-
hasil menjangkau orang Yahudi? Apakah yang Anda atau jemaat lakukan
dalam usaha menjangkau orang Yahudi di masyarakat Anda, jika ada?
pp Apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan-kesalahan banyak orang
di Israel dahulu kala? Bagaimanakah kita dapat mencegah melakukan hal
yang sama zaman ini?

131
Penuntun guru 11
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 11:5, 6.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Menyadari bahwa jika Allah dapat mencangkokkan orang
lain pada penggenapan rencana-Nya, Dia juga siap menggantikan semua
carang yang tidak taat dengan pokok yang asli yang belajar untuk menurut;
keselamatan bagi semua adalah rencana utama-Nya.
¾¾ Merasakan: Merasakan tujuan utama Allah yaitu menunjukkan rahmat dan
menyelamatkan semua yang dapat diselamatkan-Nya.
¾¾ Melakukan: Mengulurkan rahmat dan belas kasihan kepada bangsa-bangsa
lain dan juga orang Yahudi, seperti yang Allah lakukan.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Pokok atau Cangkok
A. Mengapakah kita, Yahudi atau bukan, harus mengakui bahwa sta-
tus kita dengan Allah terletak pada penerimaan kita akan pekerjaan
Allah dan meninggalkan jalan-jalan kita sendiri?
B. Bagaimanakah sepatutnya kita, yang dicangkokkan sebagai anak-
anak perjanjian, menyambut janji yang memberikan kita status se-
bagai anak-anak Allah?
C. Bagaimanakah sepatutnya kita memperlakukan mereka kepada sia-
pa janji itu pertama kali diberikan?

II. Merasakan: Rahmat


A. Mengapakah kita semua, Yahudi atau bukan, sama-sama tidak
layak akan keselamatan dari Allah dan sama-sama diberkati oleh
rahmat-Nya? Lebih jauh, apakah yang diajarkan kebenaran ini ten-
tang bagaimana kita berlaku terhadap satu sama lain?

III. Melakukan: Menjadi Bejana Rahmat Allah


A. Bagaimanakah pengalaman kita dengan rahmat Allah menolong
kita mengulurkan rahmat bagi orang lain?

Rangkuman: Pada akhirnya, baik orang Yahudi maupun bangsa lain


telah dipanggil untuk membagikan Injil kepada dunia.

132
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Kunci Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Kasih karunia Allah cukup untuk
memulihkan kita pada saat kita gagal memenuhi maksud dan tujuan-Nya.

Kegiatan:
Baca perumpamaan ini dan bahas: Suatu malam, sementara sang Tukang
Kayu sedang bepergian, kotak alat terbuka, dan alat-alat tersebut mulai mem-
bahas keberadaan dan tujuan mereka. Obeng mengeluh karena dia tidak terlalu
digunakan dan jarang diperhatikan. Gergaji juga merasa kecewa dengan fung-
sinya, karena gergaji lainnya digunakan sebagai instrumen musik dan tidak ha-
rus bermain debu gergaji. Kunci Inggris bersungut karena berkilap melebihi ba-
nyak perhiasan dan merasa direndahkan saat digunakan untuk bekerja dengan
banyak mur. Palu omong besar karena dipasangkan pada gagang kayu terbaik
serta besi baja. Tetapi mengapa dia harus terus kontak dengan besi biasa yang
ada pada paku? Alat-alat lain juga berbicara tentang keunggulan mereka atau
bagaimana sang tukang kayu menyukai mereka. Namun, tidak ada yang mau
digunakan sesuai fungsi yang sudah ditetapkan. Akhirnya banyak alat berse-
kongkol untuk melarikan diri. Pagi itu, si tukang kayu perhatikan banyak alat
tukangnya yang hilang. Tentu saja, ini memperlambat pekerjaannya. Bebera-
pa bulan berlalu. Sedikit demi sedikit si tukang kayu menemukan alat-alatnya.
Palu sudah berkarat. Gergaji tumpul, dan obeng bengkok. Kunci Inggris tidak
pernah ditemukan. Sementara itu, si tukang kayu sudah mengganti beberapa
alat yang hilang tetapi tidak mau membuang yang sudah berkarat, bengkok, dan
tumpul. Dengan susah payah diperbaikinya. Suatu malam, terdengar percakap-
an di antara alat-alat itu. Ada kesedihan karena kunci Inggris tidak pernah dite-
mukan lagi, tetapi ada lebih banyak sukacita karena si tukang kayu yang telah
memperbaiki alat lainnya sehingga berguna lagi.

Pertimbangkan: Apakah ciri-ciri agama legalistik? Bagaimanakah legalis-


me mengganggu penginjilan? Penghalang-penghalang apakah yang harus
disingkirkan agar Allah dapat memulihkan maksud-Nya yang semula?

LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Orang-orang yang membangun kebenaran mereka
sendiri, mengganggu dan bukannya melancarkan tujuan Allah untuk me-
nyelamatkan. Bagaimanakah kita mencegah baik perangkap-perangkap le-
galisme maupun falsafah yang leluasa “melakukan apa saja?”

133
Komentar Alkitab
I. Kegenapan Hukum Taurat (Baca kembali Roma 10:1-4 bersama anggota
kelas).
Ayat-ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah menghapuskan Sepuluh Perintah
atau Perjanjian Lama. Kata Yunani untuk “kegenapan” berarti akhir dalam artian
“garis akhir” atau “tujuan” ke arah mana sesuatu bergerak, juga “hasil akhir.”
Dengan kata lain ajaran Hukum Taurat (kitab-kitab Musa), termasuk Sepuluh
Hukum, menuntun kita menuju garis akhir, yaitu Kristus. Jauh dari pengerti-
an menuntun kepada kebebasan—“melakukan semau Anda karena Allah telah
menghapuskan Sepuluh Perintah”—Paulus meneguhkan nilai hukum Taurat,
khususnya, dan Perjanjian Lama, umumnya, dalam menunjuk pada Kristus.

Pertimbangkan: Dapatkah ide bahwa Sepuluh Perintah telah dihapuskan


diselaraskan dengan kesaksian Yesus dalam Matius 5:17-24? Beri alasan
jawaban Anda.

II. Carang yang Dicangkokkan (Baca kembali Roma 11:11-24 bersama ang-
gota kelas Anda)
Mengetahui bahwa hati ini licik, Paulus mengamarkan orang-orang percaya
dari bangsa lain. Dia tidak mau mereka terjerat oleh sikap angkuh saudara-sau-
dara mereka Yahudi. Untuk mencegah kekhilafan ini, dia mengingatkan mereka
bahwa mereka adalah carang-carang yang dicangkokkan; carang-carang Yahu-
di telah dipotong karena satu alasan—ketidaktaatan. Jelaslah, bangsa-bangsa
lain dapat juga disingkirkan dengan alasan yang sama. Hal penentu bagi semua
adalah percaya. Mereka yang terus percaya ada “di dalam” dan mereka yang
berhenti percaya ada “di luar,” apa pun latar belakang suku mereka. Sekali lagi
Paulus mengikis sikap angkuh karena kelayakan mereka yang telah memecah
belah jemaat Roma.

Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menghadapi sikap merasa layak (“saya


lakukan menurut cara saya—saya adalah anggota Advent generasi kelima”)
yang masih merusak jemaat-jemaat? Bagaimanakah pertobatan sejati dan
kegiatan penginjilan memangkas kecenderungan manusia terhadap sikap
eksklusif?

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Bahkan dengan maksud-maksud terbaik sekalipun,
kita dapat kehilangan pandangan pada tujuan jemaat, melihat diri sendiri,
dan bersandar pada kebaikan kita dan bukannya pada kebaikan Allah. Pada
titik ini kita perlu kasih karunia Allah lebih daripada sebelumnya, dan Dia
menjanjikannya! Sementara Allah berjanji untuk memulihkan kita bila kita
berbalik dari penyimpangan kita, bagaimanakah kita dapat terus setia ke-
pada misi sejak awal?

134
Kegiatan: Baca percakapan berikut ini antara Truk Pengangkut (TP) dan Ken-
daraan Hias (KH) dan bahas bagaimana “tetap berada di jalur yang benar.”

KH : Hai, anak kecil, mau bergabung dengan parade akbar?


TP : Apa?
KH : Parade.
TP : Oh . . . . Mengapa?
KH : Ya, untuk pamer diri. Bagaimanakah menurutmu? Coba lihat, apa kamu
sekarang ini?
TP : Saya truk pengangkut . . . . Kamu tahu, saya mengantar barang-barang
yang dibutuhkan orang.
KH : Oh ya? Tetapi siapakah yang perhatikan? Saya bukannya mau mengri-
tik tetapi roda-rodamu sudah hampir gundul, kacamu berdebu, tempat
dudukmu pun berantakan. Pantaskah?
TP : Benar, banyak orang tidak menghargai para pengantar barang; tetapi
kadang-kadang kamu bertemu dengan keluarga-keluarga yang tidak
bisa hidup tanpa paket kiriman tertentu, dan itu sangat berharga!
KH : Kedengaran satu pekerjaan yang baik. Hai, lihat, saya tinggal di garasi
yang ada pemanas dengan jendela-jendela kaca, dan ada pegawai yang
khusus memelihara saya mengkilap dan siap tampil. Yang perlu saya
lakukan hanyalah menarik kendaraan hias beberapa kali di hadapan orang
banyak yang kagum. Saya bukan sombong, tetapi itu satu fakta—ada
banyak sekali tepukan tangan. Mau ikut?
TP : Saya tidak tahu. Tampaknya satu beban yang berat untuk menarik.
KH : Oh tidak, kawan! Memang tampaknya begitu, tetapi itu tidak berat. Ada
bingkai yang ditutupi kawat ringan yang membuatnya kelihatan besar.
Ujung-ujung kawat yang muncul ditutupi dengan kembang sehingga
tampaknya indah. Masalahnya adalah kembang-kembang tersebut layu
setelah dua hari, dan kelihatannya busuk dan bau.
TP : Lalu apakah yang kamu buat?
KH : Kami sembunyikan itu di bengkel dan kemudian memperbaikinya.
Waktu orang lihat sudah kelihatan cantik lagi. Mereka tidak pernah
mengetahui perbedaannya.
TP : Tampaknya membutuhkan banyak kerja untuk mempertahankan pe-
nampilan.
KH : Ya, tetapi berapa banyak pita kelas juara yang kamu terima dari gadis-
gadis cantik dalam pekerjaan kamu? Coba periksa catatan saya!
TP : Terima kasih, tetapi saya tidak mau.
KH : (malu dan terdiam) Kamu tau, saya juga tadinya truk pengangkut. Ke-
mudian saya bertemu dengan parade dan pameran ini . . . saya memang
rindu tampil asli. Dulu bukan saya yang diutamakan melainkan paket
kiriman . . . . Tetapi mungkin sudah tidak bisa kembali lagi.
TP : Kamu tidak pernah tahu itu, teman. Saya pikir bos saya masih mencari
truk-truk yang suka tampil asli seperti kamu.

135
Pertanyaan Renungan:
»» Bagaimanakah kita mencegah sikap Farisi yang fokus pada pencapaian dan
penampilan kita?
¼¼ Mengapakah keinginan untuk dipuji sering lebih kuat dari panggilan un-
tuk melayani?
½½ Bagaimanakah semangat menginjil dibakar kembali begitu kita telah me-
ninggalkan misi Allah?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Ada saat-saat untuk bertindak. Pada saat kita memi-
kirkan misi jemaat, kita biasanya berpikir tentang tindakan. Namun, seka-
lipun dalam konteks penginjilan kita perlu merenungkan untuk bercermin
pada diri kita sendiri. Tutup pelajaran ini dengan saat teduh di mana ang-
gota kelas bertanya pada diri sendiri berapa banyak waktu telah diabdikan
untuk menjaga penampilan dan bukannya menyampaikan pekabaran.

Kegiatan: Karena ini adalah kegiatan individu, bisa diselesaikan di rumah.


Minta anggota kelas untuk membuat daftar kegiatan mingguan dan rencana serta
mimpi masa depan. Minta mereka mengkategorikan mana yang untuk penam-
pilan diri dan mana yang untuk pekabaran Injil. Minta mereka untuk merenung-
kan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi tersebut.

136
Pelajaran 12 *11-17 September 2010

Kasih dan Hukum Taurat

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 12, 13.

Ayat Hafalan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia


ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan
kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

S
elain Paulus berusaha untuk membujuk jemaat di Roma tentang pandang­
an-pandangan mereka yang salah tentang hukum, dia juga mengajak
orang-orang Kristen menuju sebuah penurutan standar tinggi. Penurutan
ini berasal dari sebuah perubahan batin di dalam hati dan pikiran kita, sebuah
perubahan yang datang hanya melalui kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang
yang berserah kepada-Nya.
Kitab Roma tidak memberi petunjuk bahwa penurutan ini terjadi secara oto-
matis. Tuntutan-tuntutannya perlu dijelaskan kepada orang Kristen; orang terse-
but harus mau menuruti tuntutan-tuntutan tersebut; dan, akhirnya, orang Kristen
tersebut harus meminta kuasa yang tanpanya penurutan itu mustahil.
Maksudnya di sini adalah perbuatan merupakan bagian iman Kristen. Pa-
ulus tidak pernah bermaksud merendahkan perbuatan; dalam pasal 13 sampai
15 dia sangat menekankan hal tersebut. Hal ini bukan sebuah penyangkalan
terhadap apa yang telah dibahas sebelumnya tentang pembenaran oleh iman.
Sebaliknya, perbuatan adalah ungkapan sebenarnya dari makna hidup oleh
iman. Seseorang bahkan bisa mendebat bahwa karena penyataan yang ditam-
bahkan setelah Yesus datang, tuntutan-tuntutan Perjanjian Baru lebih sukar da-
ripada apa yang dituntut dalam Perjanjian Lama, di mana orang-orang percaya
telah diberikan sebuah teladan tingkah laku moral yang sebenarnya dalam Ye-
sus Kristus. Hanya Yesuslah, dan tidak ada yang lain, teladan yang kita harus
ikut. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasa-
an yang terdapat juga”—bukan pada Musa, bukan Daniel, bukan Daud, bukan
Salomo, bukan Henokh, bukan Debora, bukan Elia—melainkan “dalam Kris-
tus Yesus” (Filipi 2:5).
Tidak ada lagi standar yang lebih tinggi dari ini.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 18 September.


137
Minggu 12 September
Kurban yang Hidup

Bagian doktrin dari kitab Roma berakhir di pasal 11. Pasal 12 hingga 16
menyajikan instruksi praktis dan catatan-catatan pribadi. Namun demikian,
pasal-pasal penutup ini sangat penting, karena di situ ditunjukkan bagaimana
kehidupan iman itu dihidupkan.
Iman bukanlah pengganti penurutan, seakan iman meniadakan kewajiban kita
untuk menurut Tuhan. Peraturan-peraturan moral masih berlaku; dijelaskan, dan
bahkan diuraikan dalam Perjanjian Baru. Juga, tidak ada indikasi diberikan bahwa
orang-orang Kristen akan dengan mudah mengatur hidupnya dengan peraturan-
peraturan moral tersebut. Sebaliknya, kita diberitahukan bahwa ada saat-saat pe-
nurutan itu sukar, karena pertempuran dengan diri dan dengan dosa itu selalu su-
kar (1 Ptr. 4:1). Orang Kristen diberi janji kuasa Ilahi dan kepastian bahwa ke-
menangan itu mungkin, tetapi kita masih ada di dalam dunia si musuh dan harus
melakukan banyak peperangan melawan pencobaan. Kabar baiknya adalah jika
kita jatuh, jika kita tersandung, kita tidak tercampak melainkan kita mempunyai
seorang Imam Besar yang menjadi pengantara demi kita (Ibrani 7:25).

Baca Roma 12:1. Bagaimanakah ibarat [analogi] yang disajikan di ayat


ini menyatakan bagaimana kita sebagai orang-orang Kristen harus hidup?
Bagaimanakah Roma 12:2 cocok dengan kita?

Dalam Roma 12:1, Paulus sedang menyinggung kurban-kurban Perjanjian


Lama. Sebagaimana pada zaman dulu binatang-binatang dipersembahkan bagi
Allah, demikian juga sekarang orang-orang Kristen harus menyerahkan tubuh
mereka kepada Allah, bukan untuk dibunuh melainkan sebagai kurban-kurban
yang hidup yang diserahkan bagi pelayanan-Nya.
Di zaman Israel kuno, semua persembahan yang dibawa sebagai kurban di-
periksa dengan teliti. Jika ditemukan ada cacat pada binatang itu, maka akan
ditolak; karena Allah telah memerintahkan bahwa persembahan itu harus tidak
bercacat cela. Demikian juga, orang-orang Kristen diminta untuk mempersem-
bahkan tubuh mereka “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah.” Untuk melakukan hal ini, segala kekuatan mereka ha-
rus dijaga dalam kondisi yang sebaik mungkin. Walau tak satu pun kita yang
tidak bercela, yang penting di sini adalah kita harus berusaha untuk hidup tan-
pa cacat cela dan sesetia mungkin.

Selalu saja mudah untuk mengemukakan berbagai alasan maaf untuk


dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, bukan? Apakah alasan maaf Anda
yang paling umum di saat jatuh ke dalam hal yang sama berulang-ulang?
Bukankah sudah waktunya untuk mulai mengesampingkan alasan-alasan
tersebut dan menuntut janji-janji Allah, karena bukankah kuasa Allah le-
bih besar daripada alasan-alasan tersebut?
138
Senin 13 September
Memikirkan Orang Lain

Kita telah membicarakan sebuah pokok penting pada triwulan ini tentang
kekekalan hukum moral Allah, dan telah menekankan berulang-ulang bahwa
pekabaran Paulus dalam kitab Roma bukanlah mengajarkan bahwa Sepuluh
Perintah itu telah ditiadakan dan digugurkan karena iman.
Namun, mudah untuk terperangkap dalam huruf-huruf hukum itu sehingga
kita lupa pada motivasi inti di balik hukum tersebut, dan motivasi itu adalah—
kasih akan Allah dan kasih pada sesama. Sementara siapa saja dapat mengaku
punya kasih, menyatakan kasih itu dalam kehidupan setiap hari adalah hal yang
sama sekali berbeda.

Baca Roma 12:3-21. Bagaimanakah kita menyatakan kasih pada orang


lain?

Sebagaimana dalam 1 Korintus 12 dan 13, setelah membahas tentang karu-


nia Roh, Paulus meninggikan kasih. Kasih (Agape dalam Yunani) adalah jalan
yang paling sempurna. “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Jadi, kasih menggam-
barkan tabiat Allah. Mengasihi berarti bertindak terhadap orang lain sebagai-
mana Allah telah bertindak terhadap mereka dan memperlakukan mereka se-
bagaimana Allah telah memperlakukan mereka.
Di sini Paulus menunjukkan bagaimana kasih harus diungkapkan dalam cara
praktis. Dari sini muncul satu prinsip penting, yaitu kerendahan hati pribadi, ke-
relaan seseorang untuk tidak “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang
patut kamu pikirkan” (Roma 12:3), suatu kerelaan untuk “saling mengasihi seba-
gai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (ay. 10), dan suatu
kerelaan untuk tidak “menganggap dirimu pandai” (ay. 16). Perkataan Kristus
tentang diri-Nya, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena
Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29) merangkum semuanya.
Dari semua orang, umat Kristen haruslah yang paling rendah hati. Lagipula,
lihatlah betapa tak berdayanya kita, lihatlah betapa jatuhnya kita, lihatlah betapa
kita, bukan saja bergantung pada suatu kebenaran di luar kita untuk keselamat-
an tetapi juga pada satu kuasa yang bekerja di dalam kita untuk mengubah kita
dalam cara-cara yang kita tidak pernah bisa untuk mengubah diri kita. Apakah
yang harus kita andalkan, apakah yang harus kita sombongkan, apakah dalam
dan dari diri kita yang harus kita sombongkan? Tidak ada sama sekali. Beranjak
dari titik awal kerendahan hati pribadi ini, bukan saja di hadapan Allah tetapi
juga di hadapan orang lain, kita harus hidup seperti yang dinasihatkan Paulus
kepada kita dalam ayat-ayat di atas.

Baca Roma 12:18. Seberapa baikkah kita menerapkan nasihat ini da-
lam hidup kita? Apakah Anda membutuhkan penyesuaian sikap agar da-
pat melakukan apa yang diperintahkan Firman itu pada kita?
139
Selasa 14 September
Hubungan dengan Pemerintah

Baca Roma 13:1-7. Prinsip-prinsip dasar apakah yang dapat kita ambil
dari ayat ini tentang hubungan kita dengan kuasa pemerintahan sipil?

Yang membuat perkataan Paulus menarik adalah bahwa dia menulis pada
saat suatu kekaisaran kafir sedang memerintah dunia, pemerintahan yang bo-
leh jadi sangat brutal, pemerintahan yang pada intinya bobrok, dan tidak me-
ngetahui sama sekali tentang Allah yang benar, dan yang dalam beberapa ta-
hun akan memulai suatu penganiayaan massal terhadap mereka yang mau me-
nyembah Allah itu. Kenyataannya, Paulus dihukum mati oleh pemerintah ini!
Namun, sekalipun dengan semua ini, Paulus menasihatkan agar orang-orang
Kristen menjadi warga-warga negara yang baik, bahkan di bawah suatu peme-
rintahan seperti itu?
Ya. Dan itu karena ajaran tentang pemerintah itu sendiri terdapat dalam selu-
ruh Alkitab. Konsep dan prinsip tentang pemerintah itu ditetapkan Allah. Umat
manusia perlu hidup dalam satu masyarakat dengan peraturan-peraturan dan
ketetapan-ketetapan serta standar-standar. Anarkhi bukanlah konsep Alkitab.
Namun, itu bukan berarti Allah merestui segala bentuk pemerintahan atau cara
berbagai pemerintahan ini dijalankan. Justru sebaliknya. Seorang tidak perlu me-
lihat terlalu jauh, entah dalam sejarah atau dalam dunia masa kini, untuk melihat
adanya beberapa rezim yang brutal. Akan tetapi, sekalipun dalam keadaan-keadaan
seperti ini, umat Kristen harus sedapat mungkin menurut hukum-hukum negeri.
Orang-orang Kristen harus memberi dukungan setia kepada pemerintah selama
tuntutan-tuntutannya tidak bertentangan dengan Allah. Seorang harus memper-
timbangkan dengan cermat dan penuh doa, dan dengan nasihat orang lain, sebe-
lum mengambil jalan yang membuat dia bertentangan dengan pemerintah. Kita
tahu dari nubuatan bahwa suatu hari nanti seluruh pengikut setia Allah akan di-
hadapkan melawan kuasa-kuasa-kuasa politik yang mengendalikan dunia (Wah-
yu 13). Sebelum itu terjadi, kita harus melakukan apa saja yang bisa kita lakukan
di hadapan Allah, sebagai warga negara di mana kita berada.
“Kita harus mengakui pemerintahan manusia sebagai suatu peraturan yang
ditentukan Ilahi, dan mengajarkan penurutan kepadanya sebagai suatu kewa-
jiban yang suci, dalam lingkungannya yang sah. Tetapi bila tuntutannya berla-
wanan dengan tuntutan Allah, kita harus menurut Allah lebih daripada manusia.
Perkataan Allah harus diakui melebihi segala undang-undang manusia.
“Kita tidak dituntut untuk menentang kekuasaan. Perkataan kita, apakah
dikatakan atau ditulis, harus dipertimbangkan dengan teliti, supaya jangan kita
menempatkan diri sendiri pada catatan sebagai mengucapkan sesuatu yang
akan membuat kita bertentangan dengan undang-undang atau peraturan. Ja-
nganlah kita mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan menutup jalan
kita.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 58

140
Rabu 15 September
Hubungan dengan Orang Lain

“Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hen-
daklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya
manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Roma 13:8). Bagaimana-
kah kita memahami ayat ini? Apakah artinya bahwa jika kita mengasihi,
maka kita tidak wajib lagi menurut hukum Allah?
Sebagaimana Yesus dalam Khotbah di Atas Bukit, Paulus di sini mengurai-
kan aturan-aturan hukum tersebut, menunjukkan bahwa kasih harus menjadi
kuasa pendorong di belakang segala yang kita lakukan. Karena hukum adalah
tulisan tabiat Allah, dan Allah adalah kasih, maka mengasihi berarti menggenapi
hukum itu. Namun, Paulus tidak sedang menggantikan aturan-aturan rinci yang
tepat dari hukum itu dengan standar kasih yang tidak jelas, sebagaimana dinya-
takan oleh sebagian orang Kristen. Hukum moral masih mengikat, karena, se-
kali lagi, itulah yang menunjukkan dosa—dan siapakah yang bisa menyangkal
realitas dosa? Namun demikian, hukum itu benar-benar dapat dipelihara hanya
dalam konteks kasih. Ingatlah, sebagian orang yang menyalibkan Yesus juga
kemudian kembali ke rumahnya untuk memelihara hukum!
Perintah-perintah yang manakah yang Paulus singgung sebagai contoh
untuk menggambarkan prinsip kasih dalam memelihara hukum? Menga-
pa perintah-perintah tersebut secara khusus? Roma 13:9, 10.
Menariknya, faktor kasih bukanlah sebuah prinsip yang baru diperkenalkan.
Oleh mengutip Imamat 19:18, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri,” Paulus menunjukkan bahwa prinsipnya adalah sebuah bagian terpadu
dari sistem Perjanjian Lama. Kembali Paulus merujuk kepada Perjanjian Lama
untuk mendukung khotbah Injilnya. Ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini
bahwa Paulus sedang mengajarkan bahwa hanya beberapa perintah yang dise-
butkan di sini saja yang masih berlaku. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa
orang-orang Kristen boleh tidak menghormati orangtua mereka, menyembah
berhala, dan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak.
Perhatikan, Paulus sedang membahas bagaimana bersikap satu sama lain. Dia
sedang membahas tentang hubungan antar pribadi, itulah sebabnya dia menye-
butkan khusus perintah-perintah yang berpusat pada hubungan ini. Argumennya
tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan perintah lainnya dari
hukum itu. (Lihat Kisah 15:20; 1 Tes. 1:9; 1 Yoh. 5:21). Lagipula, sebagaimana
para penulis Perjanjian Baru tunjukkan, oleh menunjukkan kasih kepada orang
lain, kita menunjukkan kasih kepada Allah (Mat. 25:40; 1 Yoh. 4:20, 21).
Pikirkan tentang hubungan Anda dengan Allah dan bagaimana itu mencer-
minkan hubungan Anda dengan orang lain. Berapa besarkah faktor kasih da-
lam hubungan tersebut? Dapatkah Anda belajar mengasihi orang lain sebagai-
mana Allah mengasihi kita? Apakah yang menghalangi Anda melakukannya?

141
Kamis 16 September
Lebih Dekat Daripada Waktu Kita Menjadi Percaya

“Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan wak-
tu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari
tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada
waktu kita menjadi percaya” (Roma 13:11).
Sebagaimana yang sudah dinyatakan sebelumnya, Paulus mempunyai satu fo-
kus khusus dalam surat kepada jemaat di Roma, yaitu untuk menjelaskan kepada
jemaat di Roma, khususnya kepada orang-orang Yahudi yang percaya, peranan
iman dan perbuatan dalam konteks Perjanjian Baru. Pekabarannya adalah kese-
lamatan dan bagaimana seorang berdosa dinyatakan benar dan kudus di hadapan
Tuhan. Untuk menolong mereka yang penekanannya hanya pada hukum, Paulus
menempatkan hukum pada peran dan konteksnya yang benar. Sekalipun sebenar-
nya agama Yahudi bahkan dalam zaman Perjanjian Lama adalah satu agama kasih
karunia, legalisme telah muncul dan menimbulkan banyak kehancuran. Betapa
berhati-hatinya kita sebagai gereja agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Baca Roma 13:11-14. Peristiwa apakah yang Paulus bicarakan di sini,
dan bagaimanakah seharusnya kita bertindak untuk mengantisipasi pe-
ristiwa tersebut?
Betapa mencengangkan bahwa Paulus di sini sedang berbicara kepada umat
percaya, mengajak mereka untuk bangun dan bersatu karena Yesus akan datang
kembali. Fakta bahwa ini dituliskan hampir dua ribu tahun lalu tidak menjadi ma-
salah. Kita harus selalu hidup dalam antisipasi terhadap dekatnya kedatangan Kris-
tus. Sejauh itu menyangkut diri kita, dan pengalaman pribadi kita masing-masing,
Kedatangan Kedua sudah dekat sama dengan potensi kapan saja kematian kita.
Apakah minggu depan atau 40 tahun, kita tutup mata dalam kematian, dan apakah
kita tidur hanya empat hari atau 400 tahun—tidak ada bedanya bagi kita. Hal beri-
kut yang kita ketahui adalah kedatangan Yesus yang kedua kali. Dengan kematian
yang kapan saja bisa terjadi pada diri kita, waktu ini sesungguhnya singkat, dan
keselamatan kita sudah lebih dekat daripada ketika kita menjadi percaya.
Sekalipun Paulus tidak banyak membahas tentang Kedatangan Kedua da-
lam kitab Roma, dalam kitab Tesalonika dan Korintus dia membahasnya jauh
lebih rinci. Lagipula, itu adalah satu tema penting dalam Alkitab, khususnya
dalam Perjanjian Baru. Tanpa tema itu, serta pengharapan yang ditawarkannya,
maka iman kita sesungguhnya tak berarti. Lagipula, apakah arti “pembenaran
oleh iman” tanpa Kedatangan Kedua yang menjadikan kebenaran penting itu
membuahkan hasil yang penuh?
Jika Anda telah ketahui pasti bahwa Yesus akan datang bulan depan, apa-
kah yang mau Anda ubah dalam hidup Anda, dan mengapa? Sekarang, jika
Anda percaya bahwa Anda perlu mengubah hal-hal itu satu bulan sebelum
Yesus datang, mengapa tidak mengubahnya sekarang? Apakah bedanya?

142
Jumat 17 September
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “An Explanation of Early
Statements,” hlm. 66-69, dalam Selected Messages, jld. 1; “Practical Godliness,”
hlm. 540, 541, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; “Our Attitude Toward
the Civil Authorities,” hlm. 394, 395, dalam Testimonies for the Church, jld. 6;
“Bait Suci dan Upacara-upacara,” hlm. 406-423, dalam Alfa dan Omega, jld. 1;
“Makna Rohani Hukum Allah,” hlm. 55-90, dalam Khotbah di Atas Bukit.
“Dalam Alkitab kehendak Allah dinyatakan. Kebenaran-kebenaran Firman Al-
lah adalah ucapan Yang Mahatinggi. Dia yang menjadikan kebenaran-kebenaran
ini sebagai bagian dalam hidupnya akan menjadi satu ciptaan baru dalam segala
aspek. Dia tidak diberikan suatu kuasa mental yang baru, tetapi kegelapan yang
melalui kebodohan dan dosa telah mengaburkan pengertiannya akan disingkir-
kan. Perkataan, ‘Hati yang baru akan Kuberikan juga kepadamu,’ berarti, ‘Satu
pikiran yang baru akan Kuberikan kepadamu.’ Suatu perubahan hati selalu diser-
tai dengan satu keyakinan yang jelas akan kewajiban Kristen, sebuah pemahaman
akan kebenaran. Dia yang menaruh perhatian yang tekun dan penuh doa pada Al-
kitab akan mendapatkan pemahaman yang jernih serta pertimbangan yang sehat,
seakan-akan oleh berbalik kepada Allah dia telah mencapai satu tahap kecerdasan
yang lebih tinggi.—Ellen G. White, My Life Today, hlm. 24.
“Tuhan . . . datang segera, dan kita harus bersedia dan menantikan kedatang­an-
Nya. Oh, betapa mulianya nanti untuk melihat Dia dan disambut sebagai orang-
orang tebusan-Nya! Kita telah menanti lama, tetapi pengharapan kita tidak pu-
dar. Jika kita dapat melihat Sang Raja dalam keindahan-Nya kita akan diberkati
selama-lamanya. Saya merasa seakan harus berseru nyaring: “Sudah dekat ke ru-
mah!” Kita sedang mendekati waktu di mana Kristus akan datang dalam kuasa dan
kemuliaan yang besar untuk membawa orang-orang tebusan-Nya kepada rumah
kekal mereka.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 253.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:
nn Dalam kelas, ulangi pertanyaan di akhir pelajaran hari Kamis. Apa saja-
kah jawaban yang diberikan anggota kelas, dan apa alasan mereka?
oo Pertanyaan tentang bagaimana kita bisa menjadi warga negara yang baik
dan orang Kristen yang baik sering sangat rumit. Jika seorang datang
pada Anda meminta nasihat tentang prinsipnya dalam apa yang dia yakini
sebagai kehendak Allah, sekalipun itu akan membuat dia bertentangan
dengan pemerintah, apakah yang akan Anda katakan? Nasihat apakah
yang akan Anda berikan? Prinsip-prinsip apakah yang harus Anda ikut?
Mengapa ini yang harus ditindaklanjuti dengan pertimbangan yang pa-
ling sungguh-sungguh dan juga doa? (Lagipula, tidak semua orang yang
dilemparkan ke lubang singa keluar dengan tak tergores).
pp Menurut Anda manakah yang lebih sulit dilakukan: memelihara de-
ngan ketat pada setiap huruf hukum Allah ataukah mengasihi orang
lain tanpa pamrih? Atau, apakah Anda berpendapat bahwa pertanyaan
ini menyajikan satu perbedaan yang salah? Jika ya, mengapa?

143
Penuntun guru 12
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 13:10.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Menggambarkan hasil-hasil iman dalam hidup, dicerminkan
oleh cara kita memperlakukan orang lain.
¾¾ Merasakan: Memupuk rasa hormat dan kasih persaudaraan satu sama lain.
¾¾ Melakukan: Menggunakan karunia-karunia rohani kita dalam pelayanan
tubuh Kristus.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Karunia Rohani untuk Pelayanan
A. Mengapakah hidup kita harus menjadi persembahan harian dari iba-
dah dan penurutan kita kepada Dia yang telah memberikan hidup-
Nya bagi kita?
B. Dalam cara apakah persembahan ibadah penurutan kepada Allah di-
nyatakan dalam sikap kita sehari-hari?
C. Mengapakah penting bagi kita untuk memelihara tubuh umat per-
caya dalam Kristus?
D. Dalam hal apakah cara kita bergaul satu sama lain merupakan satu
pertumbuhan iman dalam apa yang Allah telah lakukan bagi kita?
II. Merasakan: Kasih Menggenapi Hukum
A. Bagaimanakah perasaan kasih kepada orang lain berkaitan dengan
tindakan kasih?
B. Bagaimanakah memperlakukan orang lain dengan kasih mengge-
napi hukum Taurat?
C. Dalam konteks ini, apakah kaitan kasih dan iman?
III. Melakukan: Melayani Tubuh Kristus
A. Dalam hal apakah masing-masing kita telah diberikan satu karunia
untuk melayani dan membangun tubuh Kristus?
B. Karunia-karunia apakah yang paling kita butuhkan di jemaat kita?
C. Bagaimanakah kita menggunakan karunia-karunia kita dengan ka-
sih, sementara menghargai kontribusi orang lain juga?

Rangkuman: Cara kita menghargai, memelihara, dan melayani orang


lain adalah suatu tindakan ibadah rohani. Sebagaimana halnya iman, kita
menerima karunia rahmat Allah; kita ulurkan kasih dan rahmat Allah ke-
pada orang lain dan dengan demikian memenuhi tuntutan-tuntutan hukum
untuk mengasihi satu sama lain.

144
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Kunci Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Hasil satu hubungan yang baik
dengan Allah adalah sebuah hubungan yang memberi kepuasan hati dengan
ciptaan Allah.

Dalam membahas penyebab utama perpecahan di jemaat Roma, Paulus te-


lah menuliskan uraiannya yang paling lengkap tentang sifat penebusan. Tidak
ada dasar untuk lebih unggul dalam jemaat, karena setiap orang, Yahudi atau
bukan, menerima keselamatan dengan cara yang sama—percaya pada peker-
jaan lengkap Kristus di Kalvari untuk pendamaian dosa-dosa. Tidak ada jalan
lain ke surga, dan tidak ada jumlah harta dunia yang dapat membeli kesela-
matan. Pemahaman tentang penebusan ini mendasari bagian akhir buku Roma
di mana Paulus menggambarkan hasil kerja praktis kasih karunia Allah dalam
hidup kita. Dia membahas sifat hubungan kita dengan umat percaya lainnya,
musuh-musuh kita, dan pemerintah dunia. Kasih, faktor penentu, adalah penya-
ring melalui mana semua pilihan tentang hubungan harus disaring. Kasih adalah
standar oleh mana setiap pilihan dinilai. Hukum bisa menentukan tingkah laku
di permukaan yang selalu tampak, tetapi hanya kasih yang menilai hati.

Kegiatan Pembuka: Bawa dua mobil mainan ke kelas. Yang satu punya
roda yang berfungsi tetapi tidak ada mesin. Yang satunya lagi adalah mobil
yang bisa dikendalikan dari jauh. Sangat baik jika mobil-mobil itu punya
ukuran yang sama. Pertama, bahas persamaan bentuk penampilan mereka.
(Contohnya, keduanya ada roda, ada sasis, kaca depan, bamper, dan lain-
lain). Dari luar mereka kelihatan sama. Kedua, bahas perbedaan-perbedaan
mereka. (Contohnya, yang satu ada mesin, yang lain tidak; yang satu ada
sumber tenaga, yang lain tidak; yang satu dapat dikendalikan dari jauh,
dan sebagainya). Kini minta anggota kelas Anda untuk membandingkan
warga negara yang baik dengan orang Kristen yang dikendalikan Roh.
Pertama, bahas persamaan penampilan dan perbuatan mereka. Kemudian
bahas perbedaan-perbedaan mereka.

Pertimbangkan: Sementara kita menghargai perbuatan-perbuatan baik


orang-orang yang tidak bertobat, apakah yang dimiliki orang Kristen yang tidak
dimiliki mereka? Bilamana jalan itu mudah (turun gunung), mobil yang tak ber-
mesin dapat bergerak maju sama seperti mobil yang dikendalikan; tetapi hanya
mobil yang mempunyai mesin yang bisa bergerak di jalan datar atau menanjak.
Keuntungan apakah yang dimiliki oleh orang Kristen yang dikendalikan Roh
melebihi warganegara yang baik bilamana jalan menjadi sukar?

145
LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Tidak seperti ajaran mitos yang ada di zaman dulu,
ajaran Alkitab selalu memberi tujuan-tujuan praktis. Ajaran itu hadir un-
tuk perubahan dan bukan untuk menghibur. Penebusan adalah sarana men-
dorong untuk perubahan hidup. Berbagai hubungan manusia bukan saja
diperbaiki—tetapi ditemukan kembali. Paulus melanjutkan dengan me-
neguhkan standar-standar yang menentukan tujuan-tujuan ke mana setiap
orang Kristen berjuang. Pencapaian-pencapaian yang mustahil tanpa kuasa
dan kendali Roh yang dijanjikan Allah kini menjadi pencapaian yang diha-
rapkan bagi setiap orang percaya yang sungguh-sungguh. Bagaimanakah
dunia ini akan berbeda jika orang-orang Kristen di mana-mana menerima
nasihat-nasihat ini? Seberapa menarikkah Kekristenan jadinya jika hidup
kita mencerminkan nilai-nilai ini?

Komentar Alkitab
I. Korban yang Hidup (Baca kembali Roma 12:1,2 bersama anggota kelas Anda).
Sebagian orang menyatakan adanya unsur dualisme dalam tulisan-tulisan
Paulus, menganggap bahwa penekanannya akan hukuman bagi tubuh dan peng-
angkatan bagi Roh menunjukkan suatu hinaan terhadap aspek-aspek jasmani
manusia. Tidak ada yang boleh melampaui kebenaran. Ayat-ayat ini menekankan
pentingnya tubuh kita. Tentu saja ayat-ayat ini mencerminkan upacara-upacara
korban di bait suci di mana seekor binatang yang tak bercacat cela disembelih
dan dipersembahkan kepada Tuhan. Kini Paulus menasihatkan para pembaca-
nya untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “persembahan yang hi-
dup.” Jelas bahwa penekanan khusus Paulus pada kata tubuh (daging), secara
metafora menggambarkan keseluruhan keberadaan manusia tanpa Allah, tidak
dimaksudkan untuk mengecilkan makna rohani dari tubuh. Tubuh, menjadi tem-
pat kesanggupan-kesanggupan mental, sosial, fisik, emosional, dan rohani kita,
diserahkan sepenuhnya kepada Allah—“dikorbankan.” Namun, korban yang hi-
dup, bukan korban yang mati, yang diminta dari orang-orang Kristen.

Pertimbangkan: Apakah makna-makna rohani dari menjadi “korban yang hi-


dup?” Dalam hal apakah persembahan diri kita kepada Allah adalah pelayanan
kita yang logis, rasional atau masuk di akal? Ciri-ciri apakah dari korban yang
hidup dalam Alkitab—Kristus dan Ishak—yang dapat disamakan?

II. Memikirkan Diri Sendiri (Baca kembali Roma 12:3-21 bersama anggota ke-
las Anda).
Setelah sebelumnya menyampaikan dasar perpecahan jemaat, Paulus bera-
lih kepada solusinya, yang mencakup kerendahan hati dalam pelayanan. Mem-
bandingkan dengan surat Korintus, kita temukan penekanan-penekanan yang
mirip; persatuan dan pentingnya berbagai bagian tubuh serta pemberian Ilahi
akan karunia-karunia rohani yang diberikan kepada orang-orang percaya untuk
menyanggupkan mereka melayani dengan kasih (1Kor. 12:12-31). Pelayanan

146
yang lebih dari sekadar ramah tamah kepada orang-orang percaya mencakup
kebaikan yang berkorban terhadap para penganiaya orang-orang Kristen. Ti-
dak diragukan, Paulus mengingat penganiayaan yang dilakukannya terhadap
orang-orang percaya dan kebaikan mereka terhadap dirinya. Kesanggupan-ke-
sanggupan ini diberikan, bukan untuk kemuliaan diri melainkan untuk mem-
bangun dan memperluas kerajaan Allah.

Pertimbangkan: Apakah pengaruh yang diberikan oleh sikap rendah hati


dan pelayanan kasih terhadap jemaat yang terbagi-bagi? Dari manakah da-
tangnya sikap seperti itu? Apakah pandangan Allah terhadap orang-orang
percaya yang gagal menggunakan karunia-karunia rohani mereka?

III. Hubungan dengan Pemerintah (Baca kembali Roma 13:1-7 bersama


anggota kelas Anda).
Tanggung jawab Kristen mencakup hubungan dengan pemerintah. Ingat
“berikanlah kepada Kaisar” (Mat. 22:21). Ada cerita tentang seorang ahli hu-
kum Texas yang berseru, “Pemerintah tidak ada urusan dengan kita!” Semoga
pendetanya berkhotbah tentang ayat ini dan memperbaiki sikap pemberontak-
annya. Pemerintah-pemerintah diurapi Ilahi. Pemerintah-pemerintah yang tak
berguna cenderung bersikap anarki.
Bekerja sama dengan para penguasa pemerintahan (termasuk bayar pajak
dengan jujur) tercakup dalam mandat etika Kristen. Jelaslah ini tidak termasuk
kompromi dalam nilai-nilai rohani atau melanggar perintah-perintah Ilahi.

Pertimbangkan: Bagaimanakah kita menentukan keadaan-keadaan di mana


melayani nasihat Ilahi dan kepentingan nasional tidak selaras? Apakah si-
kap kita yang pantas dalam situasi seperti itu?

IV. Lebih Dekat Daripada Ketika Kita Menjadi Percaya (Baca kembali
Roma 13:11-14 bersama anggota kelas Anda).
Menarik untuk diperhatikan bahwa kedekatan dengan pemberi hukum men-
dorong sikap tunduk! Setiap pengendara motor pembantu polisi akan mengurangi
kecepatan bila bertemu polisi. Demikian juga kedekatan kita dengan “pemberi
kasih” mendorong sikap mengalah “paling tidak pada saat masa pacaran!). Pau-
lus menampilkan “kedekatan,” kedatangan Yesus yang tidak lama lagi, sebagai
satu motivasi untuk hidup benar. Jadi, “janganlah ambil bagian dalam kegelap-
an pesta-pesta liar dan kemabukan, atau dalam seks bebas serta hidup amoral,
atau pertikaian dan kecemburuan” (ay. 13, NLT).

Pertimbangkan: Manakah yang memberikan motivasi lebih kuat untuk


mempraktikkan hidup Kristen—kedatangan Kristus kedua kali atau kehadir­
an-Nya setiap hari dalam hidup kita?

147
LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Tugas manusia untuk memuliakan Allah dan hidup
selaras dengan ciptaan Allah dirangkum dalam satu kata: kasih. Perilaku
manusia, dipengaruhi oleh banyak faktor, gagal menyatakan dengan sem-
purna isi hatinya (lihat Matius 7:22, 23). “Penampilan-penampilan” yang
bagus sekali sering dimotivasi oleh kepentingan diri, tujuan-tujuan egois.
Perilaku dan penampilan haruslah diungguli oleh agama hati yang mur-
ni. Kecuali kesalehan kita melebihi kepura-puraan orang Farisi, kita tidak
akan pernah masuk kerajaan surga. Apa pun yang ada di bawah standar
kasih yang murni tidaklah memuaskan Allah maupun kita. Bandingkan ke-
murnian dan kepura-puraan dalam dialog di bawah ini.

Kegiatan:
Baca percakapan antara mobil dengan alat kontrol (MK) dan mobil tanpa
mesin (TM).

TM: Hai, berita baru, tuan, saya sama bagusnya dengan kamu kapan saja.
Kamu pikir kamu satu-satunya yang akan tampil di museum mobil
keren?
MK: Maaf . . . saya harus mohon maaf. Percayalah, apa pun saja yang saya
katakan tidak bermaksud menyinggung kamu.
TM: Begitu? Saya kebetulan dengar percakapan kamu dengan Austin-Healy
Kamis lalu . . . . Sesuatu tentang sebuah proses konversi dan pemasang-
an mesin serta antena gratis.
MK: Benar.
TM: Hai teman, saya kelihatan sama indahnya dengan kamu sekalipun tanpa
bagasi tambahan . . . . Saya memang tidak membutuhkan “barang.”
MK: Yah, tentang saya sendiri, saya pernah mencapai titik bawah pada saat
jatuh. Saya capek kelihatan bagus tetapi kosong di dalam. Bergerak sa-
ngat mudah bila jalan menurun, tetapi sudahlah kalau jalan menanjak—
bahkan jalan rata sekalipun. Pada saat itu saya dengar tentang adanya
tawaran mesin gratis, baterai isi ulang gratis, dan antena gratis. Saya
coba cek dan sejak itu saya berubah.
TM: Tapi tidak membuat kamu lebih baik dari saya. Kita sama ukuran bah-
kan saya lebih mengkilap.
MK: Saya tidak mau debat tentang itu. Tetapi kita mobil diciptakan bukan
hanya untuk kelihatan bagus. Kita dibuat untuk bergerak! Sebelum
mesin dan kotak baterai saya dipasang, saya betul-betul kosong di da-
lam. Kini pabrik menuntun setiap gerakan saya melalui signal-signal
antena. Belum pernah saya merasa sepuas ini sebelumnya.

148
TM: (Terdiam) Apa kamu pikir ada harapan untuk merombak model Chevette
seperti saya? Keadaan krisis sekarang ini membuat segalanya sulit.
MK: Ingat, gratis! Cuma-cuma! Gratis, tuan!
TM: Kedengarannya cukup murah.
MK: Sebenarnya mahal . . . . Tetapi harganya sudah dibayar. Tetapi yah,
semua kekuatan dalam diri saya, diarahkan, didorong oleh si perancang
itu sendiri.
TM: Tolong daftarkan saya. Kamu baik sekali.
MK: Ya, benar, DIA baik.

Pertanyaan untuk Renungan:


»» Bagaimanakah orang Kristen diisi ulang?
¼¼ Bagaimanakah dia menerima arahan-arahan si Perancang?
½½ Pengalaman apakah yang menggantikan agama yang kosong dan hanya pe-
nampilan saja?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Bagaimanakah kasih menggenapi hukum Allah
dalam pengalaman kita sehingga hidup kita memuaskan Allah dan juga
kita? Bahas karunia-karunia rohani dalam konteks pertanyaan di atas un-
tuk memperkenalkan kegiatan terakhir. Bagaimanakah Allah disenangkan
pada saat kita menggunakan karunia-karunia itu bagi kemuliaan-Nya? Ba-
gaimanakah penggunaan kesanggupan-kesanggupan kita membawa kepu-
asan pribadi?

Kegiatan: Baca kembali Roma 12:6-8; daftarkan berbagai karunia yang di-
sebutkan. Undang anggota kelas untuk mengambil gambar kegiatan-kegiatan
selama minggu mendatang yang mereka rasa menggambarkan daftar karunia-
karunia itu dan bawa foto-foto itu ke kelas pekan depan.

149
Pelajaran 13 *18-24 September 2010

Semua yang Lain adalah Komentar

Sabat Petang
Baca untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 14-16.

Ayat Hafalan: “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi


saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab
kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah” (Roma 14:10).

S
eseorang mendekati seorang rabi tersohor tentang zaman kuno dan me-
minta dia menjelaskan arti keseluruhan dari Taurat sambil berdiri dengan
satu kaki. “Jangan lakukan kepada orang lain,” kata rabi itu di atas satu
kaki, “apa yang tampaknya bisa melukai Anda; itulah isi seluruh Taurat. Semua
yang lain hanya komentar.”
Entah seorang setuju atau tidak dengan pernyataan ini, si rabi ada benar-
nya. Beberapa aspek iman kita sangat hakiki dan yang lain hanya sekadar “ko-
mentar.” Pelajaran pekan ini melihat beberapa “komentar” tersebut. Maksud-
nya adalah segala sesuatu yang muncul tanpa dibahas mendalam sebelumnya
dalam prinsip-prinsip dasar keselamatan. Apakah peran hukum—entah itu se-
luruh sistem Perjanjian Lama atau hanya Sepuluh Perintah—dalam hal kese-
lamatan? Paulus perlu membuat batasan yang jelas sebagai dasar Allah mene-
rima seseorang. Mungkin keseluruhannya dapat dirangkum dalam pertanyaan
kepala penjara yang kafir itu, “Apakah yang harus aku perbuat supaya aku se-
lamat?” (Kisah 16:30).
Dengan penjelasan itu, Paulus kini membahas beberapa “komentar.” Seka-
lipun sangat kuat dalam beberapa ajaran, Paulus ambil sikap lebih bebas dalam
hal-hal lainnya. Ini karena hal-hal tersebut tidaklah mendasar, berupa “komen-
tar,” karena memang demikianlah. Namun pada saat yang sama, sekalipun hal-
hal tersebut tidak terlalu mendasar, sikap orang-orang Kristen terhadap satu
sama lain dalam membahas hal-hal ini sangatlah penting.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 25 September.

150
Minggu 19 September
Saudara yang Lemah

Dalam Roma 14:1-3, masalahnya adalah tentang makan daging yang boleh
jadi telah dipersembahkan kepada berhala-berhala. Rapat di Yerusalem (Kisah
15) telah mengatur bahwa orang-orang dari bangsa lain yang bertobat harus me-
nahan diri dari menggunakan makanan seperti itu. Tetapi selalu ada pertanyaan
apakah daging yang dijual di pasar-pasar umum berasal dari binatang-binatang
yang telah dipersembahkan kepada berhala-berhala (lihat 1 Kor. 10:25). Seba-
gian orang Kristen tidak peduli sama sekali dengan hal itu; yang lain, sekali-
pun hanya dengan sedikit keraguan, memilih untuk makan sayur-sayuran saja.
Hal ini tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah vegetarisme serta hi-
dup sehat. Paulus juga tidak menyinggung dalam ayat ini bahwa perbedaan an-
tara daging yang halal dan haram telah dihapuskan. Ini bukanlah pokok yang
sedang dibahas. Jika perkataan “ia boleh makan segala jenis makanan” (Roma
14:2) diartikan bahwa kini segala jenis binatang, halal ataupun tidak, dapat di-
makan, maka kalimat ini telah disalahtafsir. Perbandingan dengan ayat-ayat lain
di Perjanjian Baru bertentangan dengan penerapan tersebut.
Sementara itu, “menerima” seorang yang lemah dalam iman berarti mem-
beri dia keanggotaan penuh serta status sosial. Orang tersebut bukan untuk di-
debat melainkan diberikan hak atas pendapatnya.

Jika demikian, prinsip apakah yang harus kita petik dari Roma 14:1-3?

Adalah penting juga untuk menyadari bahwa Paulus dalam ayat 3 tidak ber-
bicara negatif tentang orang yang “lemah iman.” Dia juga tidak memberi nasihat
bagi orang tersebut bagaimana menjadi kuat. Dari sudut pandang Allah, orang
Kristen yang terlalu takut salah seperti itu (dinyatakan terlalu takut salah tentu
saja bukan oleh Allah melainkan oleh rekan sesama Kristen) berkenan pada-
Nya. Allah “telah menerima orang itu.”

Bagaimanakah Roma 14:4 menjelaskan apa yang baru saja kita pelajari?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Sekalipun kita perlu ingat prinsip-prinsip yang dipelajari dalam pela-


jaran hari ini, adakah saat-saat serta tempat di mana kita perlu campur
tangan dan menghakimi, jika bukan hati seseorang, paling tidak tindakan-
tindakannya? Apakah kita harus mundur serta tidak berkata dan berbuat
apa-apa dalam segala sesuatu? Yesaya 56:10 menggambarkan para penja-
ga sebagai “anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak.” Bagaimanakah kita
bisa mengetahui kapan berbicara dan kapan berdiam diri? Bagaimana-
kah kita menemukan keseimbangan dalam hal ini?

151
Senin 20 September
Dengan Ukuran yang Kamu Gunakan

Baca Roma 14:10. Alasan apakah yang diberikan Paulus di sini bagi
kita agar berhati-hati dalam menghakimi orang lain?
Kita cenderung menghakimi orang lain dengan kasar, dan sering dalam hal
yang sama yang kita juga lakukan. Namun demikian, betapa sering apa yang kita
lakukan tampaknya tidak terlalu buruk bagi kita dibanding jika hal yang sama di-
lakukan oleh orang lain. Kita boleh saja menipu diri kita oleh kemunafikan kita,
tetapi tidak dengan Allah, yang memperingatkan kita: “Jangan kamu menghakimi,
supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk
menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur,
akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata sauda-
ramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah
engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu
dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu” (Matius 7:1-4).
Apakah makna pernyataan dari Perjanjian Lama yang diperkenalkan
Paulus di sini? Roma 14:11.

Kutipan dari Yesaya 45:23 mendukung pemikiran bahwa semua orang harus
menghadap pengadilan. “Setiap lutut” dan “setiap lidah” membuat panggilan
itu bersifat individu. Implikasinya adalah setiap orang harus mempertanggung-
jawabkan kehidupan dan perbuatan-perbuatannya (ay. 12). Tidak seorang pun
dapat menjawab untuk orang lain. Dalam pengertian penting ini, kita bukanlah
penjaga saudara kita.
Dengan konteks tersebut, bagaimanakah Anda memahami apa yang
Paulus katakan dalam Roma 14:14?
Pembahasannya masih tentang makanan yang dipersembahkan kepada berha­
la-berhala. Masalahnya jelas bukan perbedaan antara makanan halal dan haram.
Paulus berkata bahwa tidak ada yang salah dalam memakan makanan itu sendiri
sekalipun telah dipersembahkan kepada berhala. Lagipula, apakah suatu berhala?
Bukan apa-apa (lihat 1 Kor. 8:4), jadi apakah urusannya jika ada orang kafir yang
mempersembahkan makanan ke patung seekor kodok ataupun seekor banteng?
Jangan membuat seorang melanggar hati nuraninya, bahkan jika hati nuraninya
itu sangatlah peka. Kenyataan inilah yang tampaknya tidak dipahami saudara-sau-
dara yang “kuat.” Mereka menganggap remeh perasaan peka dari saudara-saudara
yang “lemah” dan menaruh batu-batu sandungan pada jalan mereka.
Bisakah Anda, dalam semangat Anda bagi Tuhan, berada dalam ba-
haya yang diamarkan Paulus di sini? Mengapakah kita harus berhati-ha-
ti agar tidak berusaha menjadi hati nurani bagi orang lain, betapa baik
pun maksud kita?

152
Selasa 21 September
Tidak Membuat Tersinggung

Baca Roma 14:15-23 (lihat juga 1 Kor. 8:12, 13). Rangkumkan di bawah
ini inti pekabaran Paulus. Prinsip apakah yang dapat kita ambil dari ayat-
ayat ini yang dapat diterapkan dalam segala segi kehidupan kita?

Dalam ayat 17-20 Paulus menampilkan berbagai aspek Kekristenan ke dalam


sudut pandang yang sebenarnya. Sekalipun makanan itu penting, orang-orang Kris-
ten tidak boleh bertengkar tentang pilihan sebagian orang yang hanya mau ma-
kan sayur-sayuran gantinya daging yang boleh jadi sudah dipersembahkan pada
berhala. Sebaliknya, mereka harus fokus pada kebenaran, damai sejahtera, dan
sukacita di dalam Roh Kudus. Bagaimanakah kita dapat menerapkan gagasan ini
pada masalah-masalah tentang makanan di gereja kita sekarang? Betapapun ba-
nyaknya pekabaran kesehatan, khususnya ajaran-ajaran tentang pola makan, bisa
menjadi berkat bagi kita, tidak semua orang melihat pokok ini dengan pendapat
yang sama, dan kita perlu menghormati perbedaan-perbedaan tersebut.

Dalam ayat 22, di tengah pembicaraan tentang membiarkan orang


mengikuti hati nuraninya, Paulus menambahkan satu amaran penting:
“Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa
yang dianggapnya baik untuk dilakukan.” Peringatan apakah yang Paul­
us berikan di sini? Bagaimanakah hal ini menyeimbangi hal lainnya yang
ia bahas dalam konteks ini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________

Pernahkah Anda mendengar seorang berkata, “Bukan urusan siapa pun apa
yang saya makan atau apa yang saya pakai atau jenis hiburan yang saya suka?”
Benarkah demikian? Tak satu pun kita hidup dalam kehampaan. Tindakan, per-
kataan, perbuatan, bahkan pola makan kita dapat mempengaruhi orang lain, en-
tah untuk hal yang baik ataupun buruk. Tidak sukar untuk mengetahuinya. Jika
seorang yang menghormati Anda melihat Anda sedang melakukan sesuatu yang
“salah,” dia dapat dipengaruhi oleh teladan Anda untuk melakukan hal yang
sama. Kita membodohi diri kita jika kita berpikir sebaliknya. Untuk beralasan
bahwa Anda tidak memaksa orang tersebut tidaklah tepat. Sebagai orang-orang
Kristen, kita mempunyai tanggung jawab satu sama lain, dan jika teladan kita
dapat menyesatkan seseorang, kita layak dipersalahkan.

Teladan apakah yang Anda tunjukkan? Apakah Anda merasa nyaman


melihat bagaimana orang lain, khususnya orang muda atau orang yang
baru bertobat, mengikuti teladan Anda dalam segala hal? Apakah yang
dikatakan jawaban Anda tentang diri Anda?

153
Rabu 22 September
Pemeliharaan Hari-hari
Dalam pembahasan tentang tidak menghakimi orang lain yang boleh jadi mem-
punyai penilaian berbeda dari kita, dan tidak menjadi batu sandungan kepada orang
lain yang mungkin tersinggung oleh tindakan kita, Paulus menyinggung juga masalah
hari-hari khusus yang dipelihara oleh sebagian orang dan orang lain tidak.

Baca Roma 14:4-10. Bagaimanakah kita memahami apa yang Paul­us ka-
takan di sini? Apakah ayat ini berkaitan dengan perintah keempat? Jika ti-
dak, mengapa?

Tentang hari apakah Paulus berbicara? Apakah ada pertentangan di gereja mu-
la-mula mengenai memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu? Tampak-
nya begitu. Ada petunjuk bagi kita tentang pertentangan itu dalam Galatia 4:9, 10, di
mana Paulus menegur keras umat Kristen Galatia dalam memelihara “hari-hari ter-
tentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Sebagaimana kita lihat
dalam pelajaran 2, beberapa orang di jemaat itu telah membujuk orang-orang Kris-
ten Galatia untuk disunat dan memelihara aturan-aturan hukum Musa. Paulus takut
jika gagasan-gagasan ini bisa membahayakan jemaat Roma juga. Tetapi mungkin di
Roma orang-orang Kristen Yahudilah yang meyakinkan diri mereka bahwa mereka
tidak perlu lagi memelihara upacara-upacara Yahudi. Di sini Paulus berkata, Laku-
kanlah seperti yang kalian ingin dalam hal ini, yang penting janganlah menghakimi
mereka yang melihat hal ini berbeda dari yang kamu lihat. Beberapa orang Kristen,
tampaknya, agar berada dalam posisi aman, memutuskan untuk memelihara satu atau
beberapa hari raya Yahudi. Nasihat Paulus adalah, Biarkan mereka lakukan itu, jika
mereka yakin harus melakukannya.
Untuk menempatkan Sabat mingguan dalam Roma 14:5, sebagaimana dikemuka-
kan sebagian orang, tidaklah tepat. Dapatkah Paulus menganjurkan sikap bertentangan
terhadap perintah keempat? Sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya, Paulus sa-
ngat menekankan penurutan pada hukum, jadi tentu saja dia tidak akan menempatkan
perintah Sabat dalam kategori yang sama sebagaimana yang dilakukan mereka yang
terlalu ketat dalam hal makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Namun
demikian pada umumnya ayat-ayat ini digunakan sebagai contoh untuk menunjuk-
kan bahwa Sabat hari ketujuh sudah tidak lagi berlaku, padahal bukan itu maknanya.
Ayat-ayat ini digunakan sebagai satu contoh utama dari yang diamarkan Petrus ten-
tang yang dilakukan oleh banyak orang dengan tulisan-tulisan Paulus: “Hal itu dibu-
atnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam
surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak
memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebina-
saan mereka sendiri.” (2 Ptr. 3:16).

Apakah pengalaman Anda selama ini dengan Sabat? Apakah itu telah menja-
di berkat seperti yang dimaksudkan? Perubahan apakah yang dapat Anda buat
untuk mengalami lebih penuh apa yang Allah tawarkan dalam hari Sabat?

154
Kamis 23 September
Doa Berkat Yang Tepat

Baca Roma 15:1-3. Kebenaran Kristen penting apakah yang terda-


pat dalam ayat-ayat ini? Dalam hal apakah ayat-ayat ini menyatakan de-
ngan jelas makna menjadi seorang pengikut Yesus? Ayat-ayat lain mana-
kah yang mengajarkan hal yang sama? Terlebih penting, bagaimanakah
Anda secara pribadi menghidupkan prinsip ini?
________________________________________________________________
______________________________________________________________
Sementara Paulus mulai menutup surat ini, ucapan-ucapan berkat apa-
kah yang disampaikannya? Rm. 15:5, 6, 13, 33.
Allah yang panjang sabar artinya Allah yang menolong anak-anak-Nya untuk
terus-menerus tabah. Kata untuk “kesabaran” hymomone, berarti “tabah,” “ke-
tekunan yang tetap.” Kata untuk “penghiburan” bisa juga diterjemahkan “pene-
guhan hati.” Allah sumber keteguhan hati adalah Allah yang memberi keteguhan
hati. Allah pengharapan adalah Allah yang telah memberikan pengharapan bagi
manusia. Demikian juga, Allah damai sejahtera adalah Allah yang memberikan
damai sejahtera dan di dalam-Nya kita memperoleh damai sejahtera.
Betapa suatu ucapan berkat dalam sebuah surat yang tema utamanya adalah
pembenaran oleh iman—keteguhan hati, pengharapan, damai sejahtera! Dunia
kita sekarang ini sangat membutuhkan hal-hal tersebut.
Setelah sejumlah salam pribadi, bagaimanakah Paulus menutup su-
ratnya? Roma 16:25-27.

Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan pujian pada Allah. Yai­
tu Allah yang di dalam-Nya orang-orang Kristen di Roma, dan semua orang
Kristen, dapat dengan aman menaruh percaya mereka untuk memastikan posi-
si mereka sebagai anak-anak tebusan Allah, dibenarkan oleh iman dan kini di-
tuntun oleh Roh Allah.
Paulus digetarkan untuk menjadi jurukabar berita mulia ini. Dia menyebut
berita ini “Injilku.” Yang dimaksudkannya adalah Injil yang dikabarkannya. Te-
tapi apa yang dikhotbahkannya telah diteguhkan oleh khotbah Yesus dan peka-
baran para nabi. Itu adalah rahasia, bukan karena Allah tidak mau manusia me-
ngetahuinya, melainkan karena manusia menolak terang dari surga, mencegah
Allah memberikan mereka terang selanjutnya. Selain itu, ada beberapa aspek
dari rencana itu yang tidak dapat dimengerti oleh manusia hingga Mesias da-
tang dalam rupa manusia. Dia memberikan satu pertunjukan bukan saja seperti
apa Allah itu tetapi juga apa jadinya manusia oleh berpegang pada kuasa Ilahi.
Jenis kehidupan yang baru ditandai dengan “ketaatan iman”; yaitu, penurutan
yang bersumber dari iman dalam Tuhan, yang melalui kasih karunia membenar-
kan orang-orang berdosa oleh kebenaran yang diberikan kepada semua orang
yang mau memintanya bagi diri mereka.
155
Jumat 24 September
Pelajari selanjutnya: Baca Ellen G. White, “Unity and Love in the
Church,” hlm. 477, 478; “Love for the Erring,” hlm. 604-606, dalam Testimonies for
the Church, jld. 5; “Menolong yang Tergoda,” hlm. 137, dalam Membina Keluarga
Sehat, dan halaman 719 dalam The SDA Bible Commentary, jld. 6.
“Kepada saya ditunjukkan bahaya mengancam umat Allah dalam melihat pada Sau­
dara dan Saudari White dan menyangka bahwa mereka harus datang kepada kami de-
ngan beban-beban mereka dan meminta nasihat kepada kami. Janganlah kiranya seperti
itu. Umat Allah diundang oleh Juruselamat mereka yang penuh belas kasihan dan ka-
sih untuk datang kepada-Nya, bila mereka letih lesu dan berbeban berat, dan Dia akan
melegakan mereka. . . . Banyak yang datang kepada kami dengan pertanyaan: Apakah
saya harus lakukan ini? Apakah saya harus terlibat dalam urusan ini? Atau, dalam hal
pakaian, apakah saya harus menggunakan potongan ini atau itu? Saya jawab mereka:
Kamu mengaku sebagai murid-murid Kristus. Pelajari Alkitabmu. Baca dengan cermat
dan penuh doa tentang kehidupan Juruselamat terkasih kita pada waktu Dia tinggal di
antara manusia di atas bumi ini. Tirulah hidup-Nya, dan kamu tidak akan didapati me-
nyimpang dari jalan yang sempit itu. Kami sama sekali menolak untuk menjadi hati nu-
rani bagi kamu. Jika kami mengatakan pada kamu apa yang harus kamu lakukan, kamu
akan berharap pada kami untuk menuntun kamu, gantinya kamu sendiri langsung datang
pada Yesus.” —Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 118, 119.
“Tetapi jangan hendaknya kita memindahkan tanggung jawab kewajiban kita
kepada orang lain, dan menunggu mereka mengatakan kepada kita apa yang harus
kita lakukan. Kita tidak boleh bergantung mengharapkan nasihat manusia. Tuhan
akan mengajarkan kewajiban kita kepada kita sama relanya seperti Ia mau mengajar
orang lain . . . . Mereka yang memutuskan tidak berbuat apa-apa dalam hal apa pun
yang tidak menyenangkan Allah, akan mengetahui, sesudah menyampaikan perso-
alan mereka di hadapan-Nya, jalan mana yang harus ditempuh.”—Ellen G. White,
Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 310.
“Masih ada orang di dalam sidang yang tetap cenderung kepada kebebasan pri-
badi. Mereka tampaknya belum sanggup untuk menyadari bahwa kebebasan roh
akan cenderung untuk memimpin umat manusia kepada banyak kepercayaan diri
sendiri dan untuk mempercayakan pertimbangannya sendiri daripada menghormati
nasihat dan menghargai setinggi-tingginya pertimbangan saudara-saudaranya.”—
Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 139

Pertanyaan-pertanyaan untuk Diskusi:


Dengan tema sepanjang pekan ini, bagaimanakah kita sebagai orang-
orang Kristen menemukan keseimbangan yang tepat dalam:
nn Setia pada apa yang kita percaya, namun tidak menghakimi orang lain
yang melihat sesuatu berbeda dengan yang kita lihat?
oo Setia pada hati nurani kita sendiri dan tidak berusaha menjadi hati
nurani bagi orang lain, sementara dalam waktu yang sama berusaha
menolong orang lain yang kita yakini sedang berada dalam kesalahan?
Kapankah kita berbicara dan kapankah kita harus berdiam diri? Ka-
pankah kita patut dipersalahkan jika kita berdiam diri?
pp Merdeka dalam Tuhan namun tetap menyadari tanggung jawab kita
menjadi teladan yang baik bagi mereka yang menghormati kita?

156
Penuntun Guru 13
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Roma 15:5.

Anggota Kelas Akan:


¾¾ Mengetahui: Menjelaskan pentingnya mengajak setiap orang mengikuti
kehendak Allah sebaik yang diketahuinya, sementara pada saat yang sama
peka terhadap pengaruh tindakan-tindakan kita terhadap orang lain di se-
keliling kita.
¾¾ Merasakan: Menghargai kesatuan kita dengan Kristus sebagai satu prinsip yang
memberitahu kita akan ketergantungan kita pada-Nya dan satu sama lain.
¾¾ Melakukan: Melakukan apa saja yang memberi damai dan membangun
tubuh Kristus.

Garis Besar Pelajaran:


I. Mengetahui: Bersatu dalam Keragaman
A. Sementara masing-masing kita mungkin saja mempunyai satu pe-
mahaman yang berbeda tentang apa yang Allah mau kita lakukan,
mengapa kita harus menerima dan menguatkan satu sama lain da-
lam mengikuti kata hati kita masing-masing dan rela belajar dari
satu sama lain?
B. Apa sajakah perbedaan yang muncul bila anggota-anggota jemaat
mengikuti kata hati mereka dalam menuruti Allah?
C. Bagaimanakah perbedaan-perbedaan ini membawa pada perpecah-
an, dan bagaimanakah perbedaan yang sama membawa pada per-
tumbuhan?
II. Merasakan: Menghargai Satu Sama Lain
A. Sekalipun penting untuk mengikuti kata hati masing-masing, me-
ngapakah kita juga harus sensitif terhadap hal-hal yang kita buat
yang bisa mempengaruhi orang lain?
B. Bagaimanakah kita bersikap dengan anggota-anggota jemaat yang
mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap gaya hidup atau tin-
dakan-tindakan kita atau atas perbedaan-perbedaan dengan kita da-
lam hal-hal rohani?
III. Melakukan:
A. Bagaimanakah kita bisa mengembangkan satu roh kesatuan di
kalangan umat percaya yang berbeda dalam banyak hal?
Rangkuman: Sekalipun kita mempunyai perbedaan-perbedaan dalam
pemahaman kita akan tugas kita terhadap Allah, bilamana kita memupuk
penerimaan dan rasa hormat serta belajar dari satu sama lain, sebagai ha-
silnya kita akan menjadi lebih dekat satu sama lain.

157
Langkah Belajar

LANGKAH 1—Motivasi
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Orang-orang percaya bisa saja
sepakat dalam prinsip-prinsip Alkitab tetapi berseberangan dalam metode-
metode menghidupkan prinsip-prinsip itu. Dalam kasus seperti itu, kasih karu-
nia dan pengertian harus ditempatkan lebih tinggi daripada sifat menghakimi
dan menghukum.
Karena Roma adalah sebuah wajan pencampuran, tidak mengejutkan bila
berbagai latar belakang umat percaya menuntun pada pemahaman yang berbeda
tentang kehidupan Kristen. Sementara orang-orang Kristen Yahudi dan bang-
sa lain sama-sama berserah kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, budaya
bawaan mereka mempengaruhi sedikit banyaknya ketegangan bilamana kedua
kelompok itu berusaha untuk menghidupkan komitmen mereka. Majelis Yeru-
salem (Kisah 15) adalah satu usaha untuk menyelesaikan perselisihan antara
kedua kelompok; tetapi fakta bahwa kitab Roma ditulis beberapa tahun kemu-
dian membuktikan sulitnya mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut.
Jika jemaat mula-mula, yang paling dekat dengan masa Kristus hidup di
dunia ini, mempunyai kesulitan-kesulitan ini, haruskah kita terkejut bilama-
na jemaat-jemaat sekarang ini berusaha untuk hidup selaras? Apakah jemaat
Anda mempunyai berbagai kelompok suku? Bagaimanakah jemaat mengga-
bungkan kekuatan-kekuatan tersebut? Apakah keragaman telah menghasilkan
ketidakselarasan?
Usia adalah satu faktor yang sering memecah jemaat. Para ahli sosial bahkan
berbicara tentang budaya orang muda seakan-akan itu adalah satu unsur tersen-
diri, yang membungkus berbagai nilai, pola-pola sosial, dan bahasa. Apakah in-
teraksi selaras antara berbagai kelompok usia terjadi dalam jemaat Anda? Apa-
kah peperangan budaya meletus karena selera musik, pemeliharaan Sabat, dan
metode penginjilan? Bilamana orang-orang Kristen tidak selaras, bagaimanakah
perbedaan-perbedaan bisa diatasi—perpecahan jemaat, pertikaian sengit, perka-
taan yang menghakimi? Mungkin pengertian, pikiran terbuka, mendengar dengan
belas kasihan, serta fleksibilitas adalah ciri khas jemaat Anda. Berbahagialah me-
reka yang telah mengalami keharmonisan dan bukannya percekcokan.
Setelah meletakkan dasar teologi yang umum, Paulus kini menyinggung
perbedaan-perbedaan budaya dalam praktik yang mengancam terjadinya ke-
retakan jemaat.
Kegiatan: Bawa sebuah wadah kaca transparan untuk diisi. Pertama, isi
wadah itu dengan batu-batu yang besar. Tanya, Apakah wadah ini sudah pe-
nuh? Tentu orang akan menjawab, “penuh.” Kemudian ambillah kantong pasir
yang Anda sembunyikan, tuangkan ke dalam wadah itu. Tanya apakah wadah
itu sudah penuh. Harapkan jawaban yang tegas, sekalipun sebagian ragu kare-
na telah terbukti salah jawab. Kemudian keluarkan botol air yang Anda sem-
bunyikan dan isi lagi wadah itu.

158
Diskusikan: Bagaimanakah kegiatan ini dengan jelas menggambarkan pen-
tingnya berpikiran terbuka dan kreatif dalam pendekatan kita terhadap peker-
jaan Allah? Mengapa harus selalu ada tempat yang tersedia bagi ide-ide serta
metode-metode baru selain konsep-konsep lama?

LANGKAH 2—Selidiki
Khusus untuk Guru: Para pakar intelektual sering mengajukan skema-
skema besar yang justru ambruk dalam kegagalan-kegagalan yang lebih
besar lagi setelah diuji oleh keadaan-keadaan dunia nyata. Dapatkah teologi
Paulus bertahan menghadapi panas dunia nyata dari lingkaran api budaya?
Medan perang ini adalah sebuah lahan tambang yang siap diledakkan! Ba-
gaimanakah para pemimpin jemaat memfasilitasi penyembuhan dan perda-
maian bila perselisihan meletus di tengah-tengah orang-orang percaya?

Komentar Alkitab
I. Saudara yang Lemah (Baca Roma 14:1-4 bersama anggota kelas Anda).
Begitu banyak keputusan tentang beragam pilihan gaya hidup dibuat setiap
hari. Orang-orang Kristen percaya bahwa tidak ada keputusan yang tidak pen-
ting, karena keberadaan mereka sepenuhnya berada dalam kepemilikan Kristus.
Orang-orang Kristen juga hidup dalam masyarakat; jadi, paham isolasi tidak
mungkin dipegang. Apakah yang terjadi bilamana standar-standar yang berbeda
serta perselisihan tentang praktik Kekristenan terjadi di kalangan orang percaya?
Sayangnya, satu pilihan yang tak berterima muncul terlalu sering—mengecil-
kan pilihan-pilihan yang saksama. Orang-orang sezaman Paulus bergumul da-
lam hal makanan yang telah dipersembahkan pada berhala dan pemeliharaan
berbagai Sabat upacara. Orang-orang Advent dewasa ini berdebat hal-hal yang
serupa—pola makan, pakaian yang berkenan, pemeliharaan Sabat yang benar,
pernikahan antar suku, pilihan-pilihan musik. Mandat dan pedoman Ilahi kadang
ditafsirkan berbeda-beda, tetapi sering debat terjadi tentang hal-hal yang tidak
dengan jelas dibahas dalam Alkitab. Kasus-kasus ini bukannya tidak penting,
dan orang-orang percaya memperhitungkan prinsip-prinsip dari Alkitab untuk
menuntun pengambilan keputusan mereka tentang berbagai teknologi yang ma-
rak dan perbedaan-perbedaan budaya yang bermunculan.
Tentu saja amaran harus diberikan untuk mencegah kesimpulan pada dua
sisi yang salah. Sisi pertama adalah membayangkan bahwa Alkitab disampai-
kan secara langsung untuk situasi budaya mana pun. Kedua adalah percaya
dengan naif bahwa Alkitab tidak ada kaitannya dengan situasi-situasi terse-
but. Belajar prinsip-prinsip Alkitabiah dengan penuh doa, di bawah tuntunan
Ilahi, telah melepaskan gereja dari perpecahan sepanjang sejarah Kristen. Na-
mun, apakah orang-orang percaya yang teliti dengan hal-hal kecil harus diang-
gap rendah oleh sesama orang Kristen karena tidak sanggup menerima hal-hal
tertentu dengan hati nurani mereka? “Tidak,” kata Paulus. Orang yang lemah
pun tidak boleh menghakimi mereka yang dengan hati nuraninya mempunyai
pandangan berbeda.

159
Orang-orang Kristen tidak boleh seenaknya berkompromi dalam hal-hal
yang dengan jelas diatur dan dibahas dalam Alkitab. Mereka harus mengakui
bahwa kebanyakan keputusan yang dibuat setiap hari tidak termasuk dalam ka-
tegori ini. Umat percaya harus dengan rendah hati dan doa menghampiri Allah
memohon hikmat untuk mengetahui perbedaannya.
Semua budaya telah dicemari dosa. Umat percaya tidak dipaksa untuk me-
nerima materialisme Barat ataupun praktik-praktik jimat orang kepulauan kare-
na semua itu dicap sebagai budaya. Mempertahankan praktik-praktik atas dasar
budaya saja tidaklah memadai. Allah mengharapkan standar yang lebih tinggi.
Namun, mempersalahkan praktik-praktik budaya atas dasar budaya saja juga
sama-sama tidak dapat dipertahankan.

Pertimbangkan: Bagaimanakah orang-orang Kristen yang bersikap hati-


hati menghadapi sesama umat percaya yang mempraktikkan iman mereka
secara berbeda? Apakah yang biasanya terjadi bila umat percaya memper-
salahkan/menghukum orang-orang Kristen yang berpikiran berbeda? Ba-
gaimanakah umat percaya menentukan mana dasar Injil yang tidak bisa di-
tawar-tawar dan manakah yang berdasarkan pada pilihan? Bagaimanakah
umat percaya bereaksi bilamana anggota-anggota yang angkuh mengang-
gap remeh mereka?

II. Dengan Ukuran yang Kamu Pakai (Baca kembali Roma 14:10 bersama
anggota kelas Anda).
Roma 14:10 dapat digambarkan sebagai kartu truf Paulus. Bagi pembaca
yang tidak teryakinkan prinsip ini adalah sangat mendasar: hakimi orang lain
dengan sengit dan penghakiman Ilahi akan menimpa kamu dalam cara dan
ukuran yang sama (lihat Matius 7:1-4). Sebaliknya, mereka yang dengan ren-
dah hati mendekati perbedaan-perbedaan pendapat dalam hal-hal yang bisa di-
perdebatkan, yang menggunakan sikap penuh belas kasihan, dapat menerima
belas kasihan pada hari pertanggungjawaban mereka.

Pertimbangkan: Bagaimanakah Roma 14:10-12 berkaitan dengan Matius


6:14, 15? Dapatkah orang-orang Kristen teguh dan tidak berkompromi, te-
tapi juga tidak suka mengritik dan menghakimi?

III. Tidak Menyinggung (Baca kembali Roma 14:15-23 bersama anggota kelas
Anda).
Pengaruh manusia adalah tanggung jawab kita. Kita bertanggung jawab atas
pengaruh kita pada orang lain. Bagaimanakah bisa seorang Kristen dengan en-
teng melalaikan tanggung jawab ini sementara itu berpengaruh besar dalam na-
sib kekal seseorang yang lain? Manakah yang harus lebih penting—keselamatan
kekal orang itu ataukah menjalankan kebebasan Kristen saya? Prinsip tanggung
jawab pribadi tidak melarang kita menolong mereka yang lemah, memberitahu
hati nurani mereka tentang kebebasan Kristen, tetapi ada amaran agar kita ti-
dak dengan angkuh melalaikan perasaan mereka. Berdasarkan pembahasan ini,

160
pertimbangkan situasi berikut ini. Yonatan mendengar rumah makan Frederik
membuat salad terbaik di kotanya. Sekalipun dia tidak pernah meneguk minu-
man keras, dia tahu bahwa rumah makan Frederik juga mempunyai reputasi di
kota itu sebagai tempat mangkal para pemabuk. Itu sebabnya dia makan di ru-
mah makan Dominik. Apakah makan di rumah makan Frederik “berdosa?” Ti-
dak. Apakah makan di rumah makan Dominik mungkin lebih baik?

Pertimbangkan: Apakah prinsip ini memberikan pada anggota-anggota


yang lebih “konservatif” pengaruh yang tidak pantas? Jika kita punya “hati
nurani yang lebih konservatif,” bagaimanakah kita dapat menghindar mem-
buat orang lain merasa “gelisah?”

LANGKAH 3—Terapkan
Khusus untuk Guru: Pilih satu atau lebih dari situasi kehidupan berikut
ini dan bahas bagaimana prinsip-prinsip dalam Roma 14 dan 15 diterap-
kan. Bagaimanakah umat percaya menjadikan dunia mereka lebih berprin-
sip dan toleran dalam waktu yang sama?

Kegiatan:
Baca kedua cerita berikut ini:
A. Adoniah dibesarkan dalam rumah tangga yang konservatif yang ditandai
dengan pakaian sederhana, pemeliharaan Sabat yang ketat, dan sekolah rumah.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah, dia berencana masuk sebuah “lem-
baga” mandiri karena orangtuanya merasa perguruan-perguruan tinggi Advent
terlalu duniawi. Namun demikian, dia mendaftar juga karena dia mau menja-
di arsitek dan tidak ada jurusan itu di lembaga mandiri tersebut. Paling tidak,
pikirnya, universitas Advent kurang duniawi dibandingkan dengan universitas
pemerintah. Begitu senangnya dia saat mendapati satu kelompok teman-teman
konservatif di universitas Advent itu. Satu Sabat, sebelum ujian akhir, dia dan
tujuh orang muda lainnya mengunjungi sebuah danau kecil di pegunungan yang
dikelilingi oleh suatu ruas jalan. Setelah mendaki setengah jalan, salah seorang
temannya mengusulkan agar mereka berenang menyeberangi danau itu untuk
menyejukkan diri yang telah berkeringat. Adoniah terkejut karena teman-teman
yang konservatif mau melakukan hal itu, karena dia pikir bahwa berenang pada
hari Sabat adalah dosa. Bagaimanakah mengatasi situasi ini?

B. Juanita menjadi anggota gereja tiga tahun lalu. Dia menjadi sangat aktif
dalam memenangkan jiwa dan baru-baru ini membawa Petra tetangganya ke
gereja selama tiga Sabat berturut-turut. Juanita mengatakan pada Petra bahwa
pada Sabat keempat setiap bulan ada makan malam bersama, tetapi tidak per-
nah menyangka bahwa Petra akan membawa sesuatu. Petra merasa berterima
di keluarga gereja baru ini dan dia mau menyumbangkan sesuatu untuk makan
malam itu, dan dia pun menyediakan resep istimewa keluarganya. Ketika Hel-
en, kepala dapur gereja, melihat ayam dan kue-kue bola, dia hampir saja marah.

161
(Ada satu peraturan tak tertulis bahwa makan di gereja harus murni vegetaris).
Dia
menarik Juanita keluar dari ruang makan itu ke dapur untuk memarahinya
secara
langsung. Bagaimanakah mengatasi situasi ini?

Pertanyaan Renungan:
Peran apakah yang sistem pendidikan kita mainkan dalam mengembangkan
kepekaan, toleransi, dan belas kasihan?

LANGKAH 4—Ciptakan
Khusus untuk Guru: Semangat Paulus melihat satu jemaat yang bersatu
dalam mengabarkan Injil kemerdekaan dalam Kristus harus ditiru oleh ge-
nerasi kita. Dialog tentang hal-hal praktis sangat berguna; pertikaian tidak
ada faedahnya.

Kegiatan: Tuliskan satu lagu baru yang menekankan tema-tema persaha-


batan, toleransi, dan pengorbanan diri Kristen dalam konteks pelajaran ini; atau
baca/nyanyikan Adventist Hymnal no. 353. Katakan apa rencana Anda untuk
menghidupkan tema-tema kedua lagu itu dalam beberapa bulan ke depan.

162
Januari ❍ 17 Bil. 17, 18, 19
❍ 1 Kej. 1, 2, 3 ❍ 18 Bil. 20, 21
❍ 2 Kej. 4, 5, 6, 7 ❍ 19 Bil. 22, 23, 24
❍ 3 Kej. 8, 9, 10, 11 ❍ 20 Bil. 25, 26, 27
❍ 4 Kej. 12, 13, 14, 15 ❍ 21 Bil. 28, 29, 30
❍ 5 Kej. 16, 17, 18, 19 ❍ 22 Bil. 31, 32
❍ 6 Kej. 20, 21, 22 ❍ 23 Bil. 33, 34
❍ 7 Kej. 23, 24, 25 ❍ 24 Bil. 35, 36
❍ 8 Kej. 26, 27 ❍ 25 Ul. 1, 2, 3
❍ 9 Kej. 28, 29, 30 ❍ 26 Ul. 4, 5, 6
❍ 10 Kej. 31, 32, 33 ❍ 27 Ul. 7, 8, 9
❍ 11 Kej. 34, 35, 36 ❍ 28 Ul. 10, 11, 12
❍ 12 Kej. 37, 38, 39
❍ 13 Kej. 40, 41, 42 Maret
❍ 14 Kej. 43, 44, 45 ❍ 1 Ul. 13, 14, 15, 16
❍ 15 Kej. 46, 47 ❍ 2 Ul. 17, 18, 19
❍ 16 Kej. 48, 49, 50 ❍ 3 Ul. 20, 21, 22
❍ 4 Ul. 23, 24, 25 Alkitab telah menginspirasikan
❍ 17 Kel. 1, 2, 3, 4 pengharapan kepada jutaan orang
❍ 18 Kel. 5, 6, 7, 8 ❍ 5 Ul. 26, 27, 28
❍ 6 Ul. 29, 30, 31 sepanjang zaman. Alkitab mengang-
❍ 19 Kel. 9, 10, 11 kat roh kita, menguatkan hati kita,
❍ 20 Kel. 12, 13 ❍ 7 Ul. 32, 33, 34
❍ 8 Yos. 1, 2, 3, 4 dan menyegarkan jiwa kita.
❍ 21 Kel. 14, 15
❍ 22 Kel. 16, 17 ❍ 9 Yos. 5, 6, 7, 8 Sementara saudara memulai
❍ 23 Kel. 18, 19, 20 ❍ 10 Yos. 9, 10, 11, 12, 13 suatu perjalanan rohani yang baru
❍ 11 Yos. 14, 15, 16, 17 dengan pendalaman Alkitab harian,
❍ 24 Kel. 21, 22, 23 ❍ 12 Yos. 18, 19, 20, 21
❍ 25 Kel. 24, 25, 26, 27 ❍ 13 Yos. 22, 23, 24 saudara sedang bersatu dengan umat
❍ 26 Kel. 28, 29 ❍ 14 Hak. 1, 2, 3 percaya seluruh dunia. Roh Kudus
❍ 27 Kel. 30, 31 ❍ 15 Hak. 4, 5 akan menjamah saudara ketika saudara
❍ 28 Kel. 32, 33 ❍ 16 Hak. 6, 7, 8 membaca Firman Allah setiap hari.
❍ 29 Kel. 34, 35, 36 ❍ 17 Hak. 9, 10
❍ 30 Kel. 37, 38 ❍ 18 Hak. 11, 12
❍ 31 Kel. 39, 40 ❍ 19 Hak. 13, 14, 15, 16
❍ 20 Hak. 17, 18, 19
Februari ❍ 21 Hak. 20, 21
❍ 1 Im. 1, 2, 3, 4 ❍ 22 Rut
❍ 2 Im. 5, 6, 7 ❍ 23 1 Sam. 1, 2, 3
❍ 3 Im. 8, 9, 10 ❍ 24 1 Sam. 4, 5, 6
❍ 4 Im. 11, 12 ❍ 25 1 Sam. 7, 8, 9, 10
❍ 5 Im. 13, 14 ❍ 26 1 Sam. 11, 12, 13 Mintalah Dia menyatakan
❍ 6 Im. 15, 16 ❍ 27 1 Sam. 14, 15, 16 kehendak-Nya bagi hidupmu se-
❍ 7 Im. 17, 18, 19 ❍ 28 1 Sam. 17, 18, 19 mentara Anda membaca. Anda
❍ 8 Im. 20, 21, 22 ❍ 29 1 Sam. 20, 21, 22, 23 akan merasakan kehadiran-Nya
❍ 9 Im. 23, 24, 25 ❍ 30 1 Sam. 24, 25, 26, 27 dan mengalami kasih-Nya dengan
❍ 10 Im. 26, 27 ❍ 31 1 Sam. 28, 29, 30, 31
❍ 11 Bil. 1, 2, 3 cara yang baru dan menakjubkan.
❍ 12 Bil. 4, 5, 6 April
❍ 13 Bil. 7, 8 ❍ 1 2 Sam. 1, 2, 3, 4 General Conference of
❍ 14 Bil. 9, 10, 11 ❍ 2 2 Sam. 5, 6, 7 Seventh-day Adventists, 12501
❍ 15 Bil. 12, 13, 14 ❍ 3 2 Sam. 8, 9, 10 Old Columbia Pike, Silver
❍ 16 Bil. 15, 16 ❍ 4 2 Sam. 11, 12 Spring, MD 20904, USA.

163
❍ 5 2 Sam. 13, 14 ❍ 23 Ezra 4, 5, 6 ❍ 4 Mzm. 111, 112, 113, 114,
❍ 6 2 Sam. 15, 16, 17 ❍ 24 Ezra 7, 8, 9, 10 115, 116, 117, 118
❍ 7 2 Sam. 18, 19 ❍ 25 Neh. 1, 2, 3, 4 ❍ 5 Mzm. 119
❍ 8 2 Sam. 20, 21 ❍ 26 Neh. 5, 6, 7, 8 ❍ 6 Mzm. 120-134
❍ 9 2 Sam. 22, 23, 24 ❍ 27 Neh. 9, 10, 11 ❍ 7 Mzm. 135, 136, 137, 138, 139
❍ 10 1 Raj. 1, 2 ❍ 28 Neh. 12, 13 ❍ 8 Mzm. 140, 141, 142, 143, 144
❍ 11 1 Raj. 3, 4 ❍ 29 Ester 1, 2, 3, 4 ❍ 9 Mzm. 145, 146, 147,
❍ 12 1 Raj. 5, 6 ❍ 30 Ester 5, 6, 7 148, 149, 150
❍ 13 1 Raj. 7, 8 ❍ 31 Ester 8, 9, 10 ❍ 10 Ams. 1, 2, 3
❍ 14 1 Raj. 9, 10 ❍ 11 Ams. 4, 5, 6, 7
❍ 15 1 Raj. 11, 12 Juni ❍ 12 Ams. 8, 9, 10, 11
❍ 16 1 Raj. 13, 14 ❍ 1 Ayub 1, 2 ❍ 13 Ams. 12,13, 14, 15
❍ 17 1 Raj. 15, 16 ❍ 2 Ayub 3, 4, 5 ❍ 14 Ams. 16, 17, 18, 19
❍ 18 1 Raj. 17, 18, 19 ❍ 3 Ayub 6, 7 ❍ 15 Ams. 20, 21, 22, 23, 24
❍ 19 1 Raj. 20, 21 ❍ 4 Ayub 8, 9, 10 ❍ 16 Ams. 25, 26, 27
❍ 20 1 Raj. 22; 2 Raj. 1 ❍ 5 Ayub 11, 12, 13, 14 ❍ 17 Ams. 28, 29, 30, 31
❍ 21 2 Raj. 2, 3 ❍ 6 Ayub 15, 16, 17 ❍ 18 Pkh. 1, 2, 3, 4
❍ 22 2 Raj. 4, 5 ❍ 7 Ayub 18, 19 ❍ 19 Pkh. 5, 6, 7, 8
❍ 23 2 Raj. 6, 7, 8 ❍ 8 Ayub 20, 21 ❍ 20 Pkh. 9, 10, 11, 12
❍ 24 2 Raj. 9, 10, 11 ❍ 9 Ayub 22, 23, 24 ❍ 21 Kid. 1, 2, 3, 4
❍ 25 2 Raj. 12, 13, 14 ❍ 10 Ayub 25, 26, 27, 28 ❍ 22 Kid. 5, 6, 7, 8
❍ 26 2 Raj. 15, 16, 17 ❍ 11 Ayub 29, 30, 31 ❍ 23 Yes. 1, 2, 3, 4
❍ 27 2 Raj. 18, 19 ❍ 12 Ayub 32, 33, 34 ❍ 24 Yes. 5, 6, 7
❍ 28 2 Raj. 20, 21 ❍ 13 Ayub 35, 36, 37 ❍ 25 Yes. 8, 9, 10
❍ 29 2 Raj. 22, 23 ❍ 14 Ayub 38, 39, 40, 41, 42 ❍ 26 Yes. 11, 12, 13, 14
❍ 30 2 Raj. 24, 25 ❍ 15 Mzm. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9❍ 27 Yes. 15, 16, 17, 18, 19
❍ 16 Mzm. 10, 11, 12, 13, 14, ❍ 28 Yes. 20, 21, 22, 23
Mei 15, 16, 17 ❍ 29 Yes. 24, 25, 26
❍ 1 1 Taw. 1, 2, 3 ❍ 17 Mzm. 18, 19, 20, 21, 22 ❍ 30 Yes. 27, 28, 29
❍ 2 1 Taw. 4, 5, 6 ❍ 18 Mzm. 23, 24, 25, 26, 27, ❍ 31 Yes. 30, 31, 32, 33
❍ 3 1 Taw. 7, 8, 9 28 29, 30
❍ 4 1 Taw. 10, 11, 12 ❍ 19 Mzm. 31, 32, 33, 34, 35 A g u s t u s
❍ 5 1 Taw. 13, 14, 15, 16 ❍ 20 Mzm. 36, 37, 38, 39 ❍ 1 Yes. 34, 35, 36, 37
❍ 6 1 Taw. 17, 18, 19, 20 ❍ 21 Mzm. 40, 41, 42, 43, 44, 45 ❍ 2 Yes. 38, 39, 40
❍ 7 1 Taw. 21, 22, 23, 24 ❍ 22 Mzm. 46, 47, 48, 49, 50 ❍ 3 Yes. 41, 42, 43, 44
❍ 8 1 Taw. 25, 26, 27 ❍ 23 Mzm. 51, 52, 53, 54, 55 ❍ 4 Yes. 45, 46, 47, 48
❍ 9 1 Taw. 28, 29 ❍ 24 Mzm. 56, 57, 58, 59, 60, 61 ❍ 5 Yes. 49, 50, 51
❍ 10 2 Taw. 1, 2, 3, 4 ❍ 25 Mzm. 62, 63, 64, 65, 66, 67 ❍ 6 Yes. 52, 53, 54, 55
❍ 11 2 Taw. 5, 6, 7 ❍ 26 Mzm. 68, 69, 70, 71 ❍ 7 Yes. 56, 57, 58
❍ 12 2 Taw. 8, 9 ❍ 27 Mzm. 72, 73, 74, 75, 76, 77 ❍ 8 Yes. 59, 60, 61, 62
❍ 13 2 Taw. 10, 11, 12, 13 ❍ 28 Mzm. 78, 79, 80 ❍ 9 Yes. 63, 64, 65, 66
❍ 14 2 Taw. 14, 15, 16 ❍ 29 Mzm. 81, 82, 83, 84, 85 ❍ 10 Yer. 1, 2, 3
❍ 15 2 Taw. 17, 18, 19, 20 ❍ 30 Mzm. 86, 87, 88, 89 ❍ 11 Yer. 4, 5, 6
❍ 16 2 Taw. 21, 22, 23 ❍ 12 Yer. 7, 8, 9
❍ 17 2 Taw. 24, 25 Juli ❍ 13 Yer. 10, 11, 12, 13
❍ 18 2 Taw. 26, 27, 28 ❍ 1 Mzm. 90, 91, 92, 93, 94, ❍ 14 Yer. 14, 15, 16
❍ 19 2 Taw. 29, 30, 31 95, 96, 97, 98, 99 ❍ 15 Yer. 17, 18, 19
❍ 20 2 Taw. 32, 33 ❍ 2 Mzm. 100, 101, 102, 103, ❍ 16 Yer. 20, 21, 22, 23
❍ 21 2 Taw. 34, 35, 36 104, 105 ❍ 17 Yer. 24, 25, 26
❍ 22 Ezra 1, 2, 3 ❍ 3 Mzm. 106, 107, 108, 109, 110 ❍ 18 Yer. 27, 28, 29

164
❍ 19 Yer. 30, 31, 32 ❍ 4 Ulangi: Perjanjian Lama ❍ 14 Kis. 24, 25, 26
❍ 20 Yer. 33, 34, 35 berisi 39 buku dibagi atas ❍ 15 Kis. 27, 28
❍ 21 Yer. 36, 37, 38 5 bagian: Hukum, Sejarah, ❍ 16 Rm. 1, 2, 3, 4
❍ 22 Yer. 39, 40, 41 Puisi, Nabi Besar, dan Nabi ❍ 17 Rm. 5, 6, 7
❍ 23 Yer. 42, 43, 44 Kecil. Beri satu judul untuk ❍ 18 Rm. 8, 9, 10
❍ 24 Yer. 45, 46, 47, 48 tiap buku; Mis. Kejadian, ❍ 19 Rm. 11, 12, 13
❍ 25 Yer. 49, 50 “Permulaan,” Imamat, “Hukum,” ❍ 20 Rm. 14, 15, 16
❍ 26 Yer. 51, 52 Mazmur, “Pujian.” ❍ 21 1 Kor. 1, 2, 3, 4
❍ 27 Ratapan ❍ 5 Mat. 1, 2, 3, 4 ❍ 22 1 Kor. 5, 6, 7
❍ 28 Yeh. 1, 2, 3 ❍ 6 Mat. 5, 6, 7 ❍ 23 1 Kor. 8, 9, 10
❍ 29 Yeh. 4, 5, 6, 7 ❍ 7 Mat. 8, 9, 10 ❍ 24 1 Kor. 11, 12, 13
❍ 30 Yeh. 8, 9, 10 ❍ 8 Mat. 11, 12, 13 ❍ 25 1 Kor. 14, 15, 16
❍ 31 Yeh. 11, 12, 13 ❍ 9 Mat. 14, 15, 16 ❍ 26 2 Kor. 1, 2, 3, 4
❍ 10 Mat. 17, 18, 19, 20 ❍ 27 2 Kor. 5, 6, 7
September ❍ 11 Mat. 21, 22, 23 ❍ 28 2 Kor. 8, 9, 10
❍ 1 Yeh. 14, 15, 16, 17 ❍ 12 Mat. 24, 25, 26 ❍ 29 2 Kor. 11, 12, 13
❍ 2 Yeh. 18, 19, 20 ❍ 13 Mat. 27, 28 ❍ 30 Gal. 1, 2, 3
❍ 3 Yeh. 21, 22, 23 ❍ 14 Mrk. 1, 2, 3
❍ 4 Yeh. 24, 25, 26 ❍ 15 Mrk. 4, 5, 6 Desember
❍ 5 Yeh. 27, 28, 29 ❍ 16 Mrk. 7, 8, 9 ❍ 1 Gal. 4, 5, 6
❍ 6 Yeh. 30, 31, 32 ❍ 17 Mrk. 10, 11, 12 ❍ 2 Ef. 1, 2, 3
❍ 7 Yeh. 33, 34, 35 ❍ 18 Mrk. 13, 14 ❍ 3 Ef. 4, 5, 6
❍ 8 Yeh. 36, 37, 38 ❍ 19 Mrk. 15, 16 ❍ 4 Filipi
❍ 9 Yeh. 39, 40, 41 ❍ 20 Luk. 1, 2 ❍ 5 Kolose
❍ 10 Yeh. 42, 43, 44 ❍ 21 Luk. 3, 4, 5 ❍ 6 1 Tesalonika
❍ 11 Yeh. 45, 46, 47, 48 ❍ 22 Luk. 6, 7, 8 ❍ 7 2 Tesalonika
❍ 12 Dan. 1,2, 3 ❍ 23 Luk. 9, 10, 11 ❍ 8 1 Timotius
❍ 13 Dan. 4, 5, 6 ❍ 24 Luk. 12, 13, 14 ❍ 9 2 Timotius
❍ 14 Dan. 7, 8, 9 ❍ 25 Luk. 15, 16, 17 ❍ 10 Titus
❍ 15 Dan. 10, 11, 12 ❍ 26 Luk. 18, 19, 20 ❍ 11 Filemon
❍ 16 Hos. 1, 2, 3, 4 ❍ 27 Luk. 21, 22 ❍ 12 Ibr. 1, 2, 3
❍ 17 Hos. 5, 6, 7, 8, 9 ❍ 28 Luk. 23, 24 ❍ 13 Ibr. 4, 5, 6
❍ 18 Hos. 10, 11, 12, 13, 14 ❍ 29 Yoh. 1, 2, 3 ❍ 14 Ibr. 7, 8, 9
❍ 19 Yoel ❍ 30 Yoh. 4, 5, 6 ❍ 15 Ibr. 10, 11
❍ 20 Amos 1, 2, 3, 4 ❍ 31 Yoh. 7, 8, 9 ❍ 16 Ibr. 12, 13
❍ 21 Amos 5, 6, 7, 8, 9 ❍ 17 Yakobus
❍ 22 Obaja, Yunus November ❍ 18 1 Petrus
❍ 23 Mikha 1, 2, 3, 4 ❍ 1 Yoh. 10, 11 ❍ 19 2 Petrus
❍ 24 Mikha 5, 6, 7 ❍ 2 Yoh. 12, 13 ❍ 20 1 Yoh.
❍ 25 Nahum ❍ 3 Yoh. 14, 15 ❍ 21 2 Yoh., 3 Yoh., Yudas
❍ 26 Habakuk ❍ 4 Yoh. 16, 17, 18 ❍ 22 Why. 1, 2, 3
❍ 27 Zefanya ❍ 5 Yoh. 19, 20, 21 ❍ 23 Why. 4, 5, 6
❍ 28 Hagai ❍ 6 Kis. 1, 2, 3 ❍ 24 Why. 7, 8, 9
❍ 29 Zakh. 1, 2, 3, 4 ❍ 7 Kis. 4, 5, 6 ❍ 25 Why. 10, 11
❍ 30 Zakh. 5, 6, 7, 8 ❍ 8 Kis. 7, 8, 9 ❍ 26 Why. 12, 13, 14
❍ 9 Kis. 10, 11, 12 ❍ 27 Why. 15, 16, 17
Oktober ❍ 10 Kis. 13, 14, 15 ❍ 28 Why. 18, 19
❍ 1 Zakh. 9, 10, 11 ❍ 11 Kis. 16, 17, 18 ❍ 29 Why. 20, 21, 22
❍ 2 Zakh. 12, 13, 14 ❍ 12 Kis. 19, 20, 21 ❍ 30 Tinjau Perjanjian Baru
❍ 3 Maleakhi ❍ 13 Kis. 22, 23 ❍ 31 Tinjau Perjanjian Lama

165