Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya merupakan upaya

penyelenggaraan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi

setiap penduduk untuk dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat

yang optimal, yaitu sempurnanya kesehatan fisik dan mental. Pembangunan

kesehatan itu merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan

pembangunan nasional yang harus dicapai oleh Bangsa Indonesia seperti

yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Upaya pembangunan bidang kesehatan tidak hanya terfokus pada

upaya penyembuhan saja, tetapi juga berkembang kearah promotif,

preventif dan rehabilitatif. Salah satu upaya pembangunan bidang kesehatan

diwujudkan dalam usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan para ibu

post partum karena banyaknya komplikasi yang ditimbulkan setelah

melahirkan diantaranya yaitu perdarahan, infeksi puerperalis, endometritis,

mastitis, trombosis, embol dan post partum depresi. Dimana perdarahan

merupakan penyebab terbanyak kematian wanita selama periode post

partum.

Berdasarkan penelitian diperoleh informasi bahwa angka kematian ibu

di Indonesia karena perdarahan post partum mempunyai peringkat yang

tinggi, salah satu penyebab perdarahannya adalah Atonia uteri atau tidak

1
2

adanya kontraksi pada uterus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60%

kematian ibu akibat kehamilan setelah terjadi persalinan dan 50% kematian

nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Bobak, 2004).

Sehingga untuk mencegah dan menangani komplikasi yang timbul,

maka diperlukan pemantauan khusus dalam pemberian asuhan keperawatan

yang komprehensif.

Asuhan masa nifas dilakukan untuk menemukan kondisi tidak normal

dan masalah-masalah kegawatdaruratan pada ibu dan perlu tidaknya rujukan

terhadap keadaan kritis yang terjadi (Saefudin, 2002).

Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dalam

menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.

D dengan Post Partum Normal Di Kelurahan Wonosari”.

B. Identifikasi masalah

Berdasrkan uraian yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka

diperoleh rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Asuhan

Keperawatan Pada Ny. D dengan Post Partum Normal Di Kelurahan

Wonosari”.
3

C. Tujuan umum dan khusus

1. Tujuan umum

Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mendapatkan

gambaran dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. D dengan post

partum normal.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui dan menerapkan melalui hasil pengkajian pada Ny. D

dengan post partum normal.

b. Mengetahui dan menentukan prioritas masalah keperawatan pada Ny.

D dengan post partum normal.

c. Mengetahui dan menyusun rencana keperawatan pada Ny. D dengan

post partum normal.

d. Mengetahui dan melakukan tindakan keperawatan pada Ny. D dengan

post partum normal.

e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. D dengan post partum

normal.

D. Manfaat

1. Bagi rawat inap

Agar lebih bisa meningkatkan kwalitas pelayanannya khususnya pada ibu

post partum.
4

2. Peneliti

Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam penelitian serta

menerapkan ilimu yang telah didapat selama studi, khususnya

metodologi penelitian dalam rangka menganalisa masalah maternitas

khususnya tentang post partum normal.

3. Instalasi pendidikan

Sebagai bahan wacana diperpustakaan dan refrensi awal penelitian

selanjutnya bagi perpustakaan di instalasi pendidikan.

4. Bagi masyarakat

Agar masyarakat terutama bagi para ibu dapat menambah

pengetahuannya tentang post partum normal.


5

BAB II

TIJAUAN TEORI

A. Pengertian

Persalinan adalah suatu proses fisiologis yang memungkinkan

serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan

janinnya melalui jalan lahir (Hacker, 2001).

Persalinan normal adalah proses alamiah yang dialami aleh setiap

manita hamil cukup bulan dengan kehamilan normal.

Persalinan tidak normal adalah jika bayi dilahirkan sebelum waktu

(prematur), lewat waktu (postmatur) atau dengan bantuan alat, seperti

forseps, ekstrasi vakum, atau bisa juga lewat pembedahan (bedah caesar)

(Edjun, 2004)

Masa nifas atau post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari

persalinan selesai sampai dengan pulihnya alat-alat reproduksi sampai

keadaan sebelum hamil, berlangsung 6-8 minggu.

Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan

berakhir setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi seluruh alat genital baru

pulih kembali seperti sebalum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.

Ada yang membagi nifas dalam 3 periode :

1. Puerperium dini yaitu masa pemulihan dimana dimana ibu telah

diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.


6

2. Puerperium intermedial adalah pemulihan menyeluruh alat-alat genitalia

yang lamanya 6-8 minggu.

3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan

mempunyai komplikasi.

B. Etiologi

Penyebab mulainya persalinan.

Penyebab persalinan belum diketahui tetapi ada beberapa faktor yang turut

berperan dan saling berkaitan.

1. Perubahan kadar hormon

Perubahan kadar hormon mungkin disebabkan oleh penuaan plasenta dan

terjadi sebagai berikut :

a. Kadar progesteron menurun (relaksasi otot menghilang).

b. Kadar esterogen dan prostaglandin meninggi.

c. Oksitosin pituitari dilepaskan (pada kebanyakan kehamilan, produksi

hormon ini akan disupresi).

2. Distensi uterus

Distensi uterus menyebabkan terjadinya hal berikut :

a. Serabut ototyang teregang sampai batas kemampuan nya akan

bereaksi dengan mengadakan kontraksi.

b. Produksi dan pelepasan prostagladin F miometrium.


7

c. Sirkulasi plasenta mungkinterganggu sehingga menimbulkan

perubahan hormonal (seperti atas).

3. Tekanan janin

Kalau janin sudah mencapai batas pertumbuhannya didalam uterus, ia

akan menyebabkan :

a. Peningkatan tekanan dan ketegangan pada dinding uterus.

b. Stimulasi dinding uterus yang tegang tersebut sehingga timbul

kontraksi.

4. Faktor-faktor lain

a. Penurunan tekanan secara mendadak ketika selaput amnion pecah.

b. Gangguan emosional yang kuat (lewat rantai korteks-hipotalamus

hipofise) dapat menyababkan pelepasan oksitosin.

C. Manifestasi klinis

1. Adapun tanda-tanda persalinan yaitu :

a. Lightening atau pengosongan

Penurunan secara bertahap, wanita akan merasa lebih lega dan lebih

mudah bernafas. Tetapi akibat pergeseran ini terjadi peningkatan

tekanan pada kandung kemih sehingga akan lebih sering berkemih.

b. Persalinan palsu

Selama 4 sampai 8 minggu akhir masa kehamilan rahim menjalani

kontraksi tak teratur dan bersifat sporadik. Pada bulan terakhir

kehamilan, kadang-kadang setiap 10 sampai 20 menit dengan


8

intensitas lebih besar. Mengeluh merasa nyeri yang menetap pada

punggung bagian bawah dan tekanan pada sakroiliaka. Kadang-

kadang mengalami kontraksi yang kuat, sering (braxton hicks).

c. Pembukaan serviks

Serviks sering dirasakan melunak akibat peningkatan kandung air dan

lisis kolagen. Pembukaan secara serentak, atau penipisan sementara

serviks itu melebar ke dalam segmen bawah uterus. Lendir vagina

yang keluar semakin banyak akibat besarnya kongesti selaput lendir

vagina. Lendir serviks berwarna kecoklatan atau bercak darah (bloody

show) keluar. Serviks menjadi lunak (matang), sebagian menipis dan

berdilatasi ketuban pecah dengan spontan (jensen, 2005).

Faktor-faktor yang terlibat dalam persalinan :

1. Power yaitu kontraksi dan retraksi otot-otot rahim plus kerja otot-otot

volunter dari ibu yaitu kontraksi otot perut dan diafrakma sewaktu ibu

mengejan atau meneren.

2. Passage bagian tulang punggul, serviks, vagina dan dasar panggul

(displacement).

3. Passager terutamam janin (secara khusus bagian kepala janin) plus

plasenta, selaput dan cairan ketuban/amnion.

Gambar jalannya persalinan secara klinis ditemukan sebagai berikut :

1. Tanda persalinan sudah dekat

a. Terjadinya lightening.

b. Terjadinya his permulaan (palsu).


9

2. Tanda persalinan

a. Terjadinya his persalinan.

b. Terjadinya pengeluaran pembawa tanda.

c. Terjadinya pengeluaran cairan.

3. Pembagian waktu persalinan

a. Kala I = sampai pembukaan lengkap.

b. Kala II = pengusiran janin.

c. Kala III = pengeluaran uri.

d. Kala IV = observarsi 2 jam.

4. Pimpinan persalinan

Sikap menghadapi setiap pembagian waktu persalinan.

5. Perawatan diruang inap

Konsep rawat gabung dan mobilisasi dini.

D. Komplikasi

Komplikasi post partum (Varly, 2000: 267-273)

1. Infeksi puerpeural, yang disebabkan oleh persalinan lama, KPD dan

teknik aseptik yang tidak dipatuhi.

2. Trauma traktus genitourinarius yang terinfeksi.

3. Endometritis

4. Mastitis

5. Tromboflebitis

6. Emboli pulmonal
10

7. Perdarahan post partum

8. Depresi pasca partum

E. Pemeriksaan pengunjung

a. Hemoglobin

b. Hematokrit

c. Golongan darah

d. Luekosit

F. Adaptasi fisiologis dan psikologis post partum

1. Adaptasi fisologis

a. Tanda-tanda vital

Suhu 24 jam pertama meningkat kurang dari 38°C akibat adanya

dehidarasi dan perubahan hormonal, relaksasi otot, normal kembali

dalam 24 jam pertama, bila kenaikan suhu lebih dari 2 hari maka

pasien menunjukan adanya sepsis peurpeural infeksi traktus

urinarius, endometriasis, mastistis pembengkakan payudara pada hari

kedua ketiga dapat menyebabkan peningkatan suhu pasien.

b. Sistem kardiovoskuler

Dapat terjadi bradikardi setelah persalinan, takhikardi bisa terjadi

merefleksikan atau menunjukan adanya kesulitan dalam proses

persalinan atau persalinan lama, perdarahan yang berlebihan

(hemorogie post partum).


11

c. Tekanan darah normal setelah melahirkan, penambahan sistolok 30

mmHg atau penambahan diastolik 15mmHg khususnya bila diseratai

adanya sakit kepala atau gangguan pengelihatan.

d. Laktasi

Produk ASI mulai hari ke-4 post partum, pembesaran payudara,

puting susu menonjol, kolostrum berwarna kuning keputihan, areola

mamae berwarna hitam dan kembali normal setelah minggu pertama.

e. Sistem gastrointestinal

Pengendalian fungsi defekasi lambat dalan minggu pertama,

peristaltik usus terjadi penurunan segera setelah bayi lahir.

f. Sistem muskulo skeletal

Terjadi peregangan dan penekanan otot, oedema ekstremitas bahwa

akan berkurang dalam minggu pertama.

g. Sistem perkemihan

Kandung kemih oedema dan sensitifitas menurun sehingga

menimbulkan overdestension.

h. Sistem reproduksi

Terjdi proses involusio uteri dimana terjadi perubahan penebalan alat

genetalia interna dan eksterna ang berangsur-angsur pulih kembali

seperti keadaan sebelum hamil (Wiknjosastro, 2000:237).

Macam-macam lochea atau darah niifas adalah :

(1)Lochea rubra : berwarna merah pada hari pertama sampai hari

kedua paska persalinan.


12

(2)Lochea sanguinolenta : berwarna merah kecoklatan pada hari

ketiga sampai hari ketujuh paska persalinan.

(3)Lochea serosa : berwarna merah kekuningan pada hari ketujuh

sampai hari keempat belas paska persalinan.

(4)Lochea alba : berwarna putih setelah dua minggu paska persalinan.

i. Sistem indokrin

Mengalami perubahan secara tiba-tiba dalam kala IV persalinan.

Setelah plasenta lahir terjadi penurunan estrogen dan progesteron.

Prolaktin menurun pada wanita yang tidak meneteki bayinya dan akan

meningkat pada wanita yang meneteki. Menstruasi biasanya setelah

12 minggu post partum pada ibu yang tidak menyusui dan 36 minggu

pada ibu yang menyusui.

j. Induksi oksitosin

Sifat farmakologi oksitosin adalah kontraksi bersifat ritmik, sedikit

bersifat deuritik, waktu paruh sangat singkat (3 menit) dan awal kerja

5 menit. Syarat pemberian oksitosin, kelahiran aterm, ada kemunduran

his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi, sefalopelvik, janin

presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai

mendatar dan mulai membuka). Induksi persalinan kemungkinan

besar akan berhasil bila skor bishop lebih dari 8.

k. Payudara bengkak (Engorgement)

Payudara terasa lebih penuh / tegang dan nyeri sekitar hari ketiga atau

keempat sesudah melahirkan akibat statis di vena dan pembuluh limfe,


13

tanda bahwa ASI mulai banyak di sekresi. Sering terjadi pada

payudara yang elastissitasnya kurang. Bila tidak dikeluarkan , ASI

menumpuk dalam payudara sehingga areola menjadi menonjol, puting

lebih datar dan sukar diisap bayi. Kulit payudara nampak lebih merah

mengkilap, ibu demam, dan payudara terasa nyeri sekali.

Untuk pencegahan susukan bayi setelah lahir bila memungkinkan

tanpa dijadwal (on demand) keluarkan ASI dengan tangan.

l. Prolaktin

Pada kehamilan, prolaktin serum mulai meningkat pada trimester

pertama dan meningkat secara progresif sampai aterm. Secara umum

diyakini bahwa walaupun semua unsur hormontal (estrogen,

progesteron, tiroid, insulin dan kartisol bebas) yang diperlukan untuk

pertambuhan payudara dan produksi susu terdapat dalam kadar yang

meningkat selama kehamilan kadar estrogen yang tinggi menghambat

pengikatan prolaktin pada jaringan. Sehingga menghambat efek

proloktin pada epitel target.

m. Estrogen

Estrogen merupakan faktor yang mempengaruhi :

1. Pertumbuhan uterus.

2. Pertumbuhan payudara.

3. Retensi air dan natrium.

4. Pelepasan hormon hipofise.


14

n. Progesteron

Progesteron mempengaruhi tubuh ibu melalui :

1. Relaksasi otot polos.

2. Relaksasi jaringan ikat.

3. Kenaikan suhu.

4. Perkembangan duktus laktoferus dan alveoli.

5. Perubahan sekretonik dalam payudara.

2. Adaptasi psikologis ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua.

Setelah melahirkan secara bertahap.

a. Fase taking in

Terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan. Ibu

membutuhkan perlindungan dan pelayanan, memfokuskan energi pada

bayi yang menyebabkan persepsi penyempitan dan kemampuan

menerima informasi kurang.

b. Fase taking hold

Mulai dari hari ketiga setelah melahirkan. Pada minggu keempat

sampai kelima ibu siap menerima peran barunya dalam belajar tentang

hal-hal baru.

c. Fase letting go

Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan. Anggota keluarga

telah menyesuaikan diri dengan lahirnya bayi.


15

G. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan (Dongoes, 2000:338).

Tujuan : nyeri berkurang.

Kriteria hasil : mengungkapkan hilang nya nyeri setelah dilakkukan

tindakan, dibuktikan dengan pasien mengatakan nyeri berkurang.

Intervensi :

a. Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri.

b. Beri informasi mengenai penyebab nyeri.

c. Kaji suhu dan nadi.

d. Ajarkan teknik relaksasi.

e. Kolaborasi pemberian analgetika.

2. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan bayi berhubungan

dengan kurangnya informasi (Doenges, 2000).

Tujuan : pasien dapat mendemonstrasikan dan mengungkapkan

pemahaman diri post partum.

Kriteria hasil :

a. Pasien paham cara-cara perawatan diri dan bayi.

b. Pasien mampu mendemonstrasikan.

Intervensi :

a. Kaji tingkat pengetahuan pasien.

b. Beri informasi tentang perawatan diri dan dan bayi.

c. Beri pendidikan kesehatan.

d. Dorong pasien untuk melakukan sendiri.


16

e. Libatkan keluarga ketika memberi pendidikan kesehaatan.

3. Perubahan pola eliminasi: BAB (konstipasi) berhubungan dengan

penurunan otot abdomen, penurunan peristaltik usus (Doenges, 2000).

Tujuan : pola eliminasi normal.

Kriteria hasil : pasien bila BAB dengan konstipasi lembek.

Intervensi :

a. Anjurkan klien untuk tidak menahan BAB.

b. Berikan cairan per-oral 6-7gelas perhari.

c. Observasi penyabab gangguan eliminasi BAB.

d. Ajarkan untuk ambulasi dini sesuai toleransi.

e. Kolaborasi pemberian obat pencahar.

f. Kolaborasi pemberian diit tinggi serat.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (Doenges,

2000).

Tujuan : infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil :

a. Luka episiotomi membaik.

b. Tidak ada tanda infeksi.

Intervensi :

a. Monitor tanda vital terutama suhu.

b. Observasi tanda-tanda infeksi .

c. Lakukan perawatan luka.

d. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.


17

e. Kolaborasi tentang pemberian antibiotik.

f. Jaga kebersihan sekitar luka.

5. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan pendarahan pasca

partum.

Tujuan : tidak terjadi kekurangan volume cairan.

Kriteria hasil :

a. Individu akan mempertahankan masukan cairan dan elektrolit.

b. Mengidentifikasi cairan yang abnormal dan mengganti cairan sesuai

dengan kebutuhan.

c. Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal.

Intervensi :

a. Beritahu pasien tentang jumlah lochea yang normal.

b. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila pengeluaran lochea

berlebihan.

c. Hindari masase yang tak perlu pada fundus, yang dapat menyebabkan

relaksasi uterus dan hemoragic.

d. Ppertahankan cairan parenteral sesuai instruksi.

e. Ukur intake dan output cairan.

6. Perubahan proses keluarga, parenting berhubungan dengan kelahiran

anak I, harapan tidak realistik dan stresor (Doenges, 2001).

Tujuan : klien dan pasangan menceritakan perasaan berkenaan dengan

menjadi orang tua dan secara aktual melakukan tugas perawatan bayi.
18

Intervensi :

a. Kaji usia status perkawinan, ketersediaan sumber pendukung dan latar

belakang budaya.

b. Dorongan untuk menceritakan kesulitan mmenjadi orang tua .

c. Beri informasi tentang kebutuhan dan perawatan bayi.

d. Biarkan orang tua mengawasi perawat saat merawat anak.

e. Beri dorongan orang tua untuk ikut serta dalam perawatan.


19

H. Pathway
20

BAB III

RESUME KEPERAWATAN

A. Pengkajian umum

Pengkajian dilakukan pada tanggal 29 Mei 2010 pukul 15.00 WIB di

Kelurahan Wonosari, dlanggu, klaten.

1. Biodata

Nama Ny. H 20 tahun, perempuan, islam, SMU, karyawati, Wonosari,

Dlanggu, Klaten. Penanggung jawab Tn. Y 21 tahun, laki-laki, islam,

SMU, karyawan, Wonosari, Dlanggu, Klaten.

2. Keluhan utama : pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan.

3. Riwayat kesehatan

Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan setelah melahirkan anak

pertamanya yang mempunyai BB 3700 gram dan pasien mengatakan

kurang paham tentang perawatan payudara. Pasien mengatakan belum

pernah mondok di rumah sakit. Tidak mempunyai riwayat penyakit

jantung, DM (Diabetes Mellitus), Hipertensi dan Asma. Didalam anggota

keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit keturunan

maupun alergi. Pasien menarche pada usia 13 tahun, lama haid 7 hari,

warna haid merah segar, siklus haid 28 hari, jumlah pembalut 2 pembalut

dalam 1 hari, dan tidak ada keluhan. Menikah pada waktu usia 19 tahun,

lama pernikahan sudah 1 tahun, pernikahan yang pertama, memiliki 1

anak. G1P1A0, melahirkan pd tanggal 24 mei 2010, tidak mengalami


21

komplikasi/penyulit, melahirkan dengan normal, di tolong oleh Bidan

dengan melahirkan seorang bayi laki-laki dengan BB 3700 gram dengan

keadaan sehat dan baik. Pasien mengatakan belum pernah KB.

4. Pola pemenuhan kebutuhan sehari hari :

a. Nutrisi

Pasien mengatakan makan 3kali sehari dan memperbanyak sayuran

hijau, pasien mengatakan lebih banyak makan sayuran dan buah-

buahan, pasien mengatakan minum 7-8 gelas perhari dan diselingi

minum susu, pasien mengatakan tidak ada keluhan.

b. Eliminasi

Pasien mengatakan selama hamil BAK lebih sering terutama pada

trimester ke 3 yaitu 7-9 kali dalam sehari, setelah melahirkan pasien

mengatakan BAK 5-6 kali dalam sehari, dan pasien mengatakan BAB

1 kali dalam sehari, pasien mengatakan tidak ada keluhan.

c. Istirahat

Selama hamil pasien mengatakan tidur selama 6-7 jam pada malam

hari dan tidak pernah tidur siang karena bekerja, setelah melahirkan

pasien mengatakan tidur selama 7-8 jam pada malam hari dan sering

terbangun untuk menyusui bayinya, jika ada waktu senggang pasien

lebih sering menggunakannya untuk berkumpul sambil nonton tv

bersama keluarga, pasien mengatakan tidak ada keluhan.


22

d. Aktifitas

Selama hamil pasien mengatakan selama hamil masih bekerja tapi

dengan hati-hati dan tidak terlalu capek, setelah melahirkan pasien

mengatakan untuk sementara cuti dari pekerjaannya dulu dan

mengurangi kegiatannya dan juga tidak banyak bergerak karena masih

takut dengan luka jahitannya, pasien mengatakan masih takut untuk

bergerak karena masih merasakan nyeri pada luka jahitannya.

e. Hygiene

Pasien mengatakan selama hamil dan setelah melahirkan mandi 2 kali

sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas 1 kali dalam 2 hari dan ganti

pakaian 2 kali sehari, pasien mengatakan tidak ada keluhan.

f. Riwayat psikologis dan spiritual

Pasien mengatakan sangat senang sekali dengan kelahiran anak

pertamanya ini, pasien mengatakan jika keluarganya sangat senang

sekali dengan kelahiran anak pertamanya ini, pasien beragama islam

dan rajin menunaikan sholat 5 waktu dan rajin berdoa.

g. Riwayat sosial budaya

Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya cukup harmonis,

pasien mengatakan hubungan dengan tetangganya cukup baik, pasien

mengatakan selama masa nifas dilarang mertuanya untuk tidak

mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu.


23

h. Pengetahuan ibu

Pasien mengatakan selama masa nifas harus memperbanyak makan

sayuran hijau seperti daun katub untuk memperlancar pangeluaran

ASI, pasien mengatakan ASI sangat baik untuk bayinya, untuk

pertumbuhan dan perkembangan bayinya dan juga untuk kekebalan

tubuh bayinya, pasien mengatakan sedikit paham tentang makanan

untuk bayinya, pasien mengatakan akan memberikan ASI eksklusif

bagi bayinya selama beberapa bulan kedepan dan jika sudah mulai

bekerja akan tetap memberikan ASI eksklusif tapi diselingi dengan

susu formula, pasien mengatakan kurang begitu paham tentang

perawatan payudara yang benar, pasien mengatakan dalam perawatan

bayinya masih dibantu oleh keluarganya.

5. Pemeriksaan fisik

a. Hasil tanda-tanda vital

Keadaan umum pasien baik, kesadaran pasien composmentis, status

emosional stabil, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 84 kali/menit,

respirasi 24 kali/menit, suhu 36,8° C, berat badan 49 kg, tinggi badan

158 cm.

b. Keadaan umum

Kepala mesochepal tidak ada benjolan, rambut hitam lurus, muka

simetris bersih, mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak

ikterik, hidung simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret,

telinga simetris, bersih, pendengaran baik, mulut mukosa lembab, gigi


24

bersih, leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroyd, bagian dada pada

jantung inspeksi ictus kordis tidak tampak, palpasi ictus cordis tidak

tampak, perkusi redup, auskultasi regular, pada paru-paru inspeksi

pengembangan dada kanan kiri sama, palpasi tidak terdapat nyeri

tekan, perkusi sonor, auskultasi vesikuler, mamae putting susu

menonjol, aerola hiperpigmentasi, ASI dapat keluar, payudara lunak

tidak bengkak, abdomen inspeksi terdapat linea nigra, tidak ada nyeri

tekan, palpasi tinggi fundus uteri 3 jari dibawah pusat, kontraksi kuat,

perkusi tympani, genetalia lochea sangoelenta, warna merah

kecoklatan, jumlah pembalut 2 kali dalam 1 hari, ekstremitas atas

bawah dapat berfungsi dengan baik tidak ada oedema, tidak ada

varises, perenium dan anus terdapat 1 jahitan pada perenium, keadaan

luka kering, tidak ada tanda radang.

c. Pemeriksaan penunjang

Tidak ada pemeriksaan laboratorim yang menunjang.

d. Obat-obatan yang sudah didapat

Amphicilin 500 mg 3 kali 1 tablet, sf 3 kali 1 tablet, antalgin 500 mg 3

kali 1 tablet.
25

B. Data fokus

1. Data subyektif :

Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan, pasien mengatakan nyeri saat

bergerak pada luka jahitan, pasien mengatakan skala nyeri 4, pasien

mengatakan kurang begitu paham tentang perawatan payudara.

2. Data obyektif :

Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak berhati-hati ketika

bergerak, pasien tidak begitu paham tentang perawatan payudara, pasien

menggeleng saat di tanya, keadaan luka jahitan kering, terdapat 1 jahitan,

tanda-tanda vital tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,8°C, respirasi 84

kali/menit, nadi 24 kali/manit.

C. Analisa data pasien

1. Data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan, pasien

mengatakan skala nyeri 4, data obyektif keadaan luka kering, terdapat 1

jahitan, etiologi : adanya luka insisi perineum, problem : resiko tinggi

infeksi.

2. Data subyektif psien mengatakan nyeri saat bergerak pada luka jahitan,

data obyektif pasien tampak menahan nyeri , skala nyeri 4, tiologi :

inkontinuitas jaringan, problem : gangguan rasa nyaman.

3. Data subyektif pasien mengatakan kurang begitu paham tentang

perawatan payudara, data obyektif pasien menggelengkan kepala saat


26

ditanya tentang perawatan payudara, etiologi : kurang informasi, problem

: kurang pengetahuan.

D. Prioritas masalah

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

perineum/episiotomy.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas

jaringan.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang

perawatan payudara.

E. Rencana keperawatan

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

perineum/episiotomy.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan

infeksi tidak terjadi, dengan criteria hasil luka insisi perineum membaik,

tidak ada tanda-tanda infeksi.

Dengan intervensi monitor tanda-tanda vital, observasi tanda-tanda

infeksi, jaga kebersihan sekitar luka, kolaborasi dalam pemberian

analgetik.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas

jaringan.
27

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama2x24 jam diharapkan

nyeri berkurang dengan criteria hasil pasien tampak rileks, skala nyeri 1,

pasien mengatakan nyeri berkurang.

Dengan intervensi monitor tanda-tanda vital, kaji tingkatan nyeri, ajarkan

teknik relaksasi, beritahu penyebab nyeri, beri posisi yang nyaman,

kolaborasi pemberian analgetik.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang

perawatan payudara.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit diharapkan

pasien mengerti tentang cara perawatan payudara dengan criteria hasil

pasien tahu tentang perawatan payudara, pasien tahu manfaat perawatan

payudara.

Dengan intervensi jelaskan tujuan dan manfaat tentang perawatan

payudara, mendemontrasikan perawatan payudara, jelaskan manfaat ASI,

ajarkan cara menyusui yang benar.

F. Implementasi keperawatan

Pada tanggal 29 mei 2010 dengan diagnose “Resiko tinggi infeksi

berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy” implementasi

yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien

mengatakan mau diperiksa, respon obyektif tekanan darah 120/80 mmHg,

suhu 36,8°C, respirasi 24 kali/menit, nadi 84 kali/menit, kemudian mengkaji

tanda-tanda infeksi dengan respon subyektif pasien mengatakan nyeri pada


28

luka jahitan, respon obyektif keadaan luka kering, terdapat 1 jahitan, pada

tanggal 30 mei 2010 dengan diagnose “Resiko tinggi infeksi berhubungan

dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy” implementasi yang

dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien

mengatakan mau diperiksa, respon obyektif tekanan darah 120/80 mmHg,

suhu 36,5°C, respirasi 24 kali/menit, nadi 84 kali/menit, kemudian menjaga

kebersihan sekitar luka dengan respon pasien mengatakan nyeri berkurang,

respon obyektif luka kering, kemudian melakukan perawatan luka dengan

respon subyektif pasien mengatakan mau dilakukan perawatan luka, respon

obyektif luka kering, untuk diagnose yang ke 2 “Gangguan rasa nyaman

nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” implementasi yang

dilakukan memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien

mengatakan ingin istirahat dengan nyaman, respon obyektif pasien tampak

nyaman, kemudian mengkaji tingkatan nyeri respon subyektif pasien

mengatakan nyeri berkurang, respon obyektif skala nyeri 2, dan pada

tanggal 31 mei 2010 dengan diagnose “Gangguan rasa nyaman nyeri

berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” implementasi yang dilakukan

mengkaji tingkatan nyeri dengan respon subyektif pasien mengatakan skala

nyeri 1, respon obyektif skala nyeri 1, kemudian mengajarkan atau

memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien

mengatakan ingin istirahat lebih nyaman, respon obyektif pasien tampak

rileks, kemudian untuk diagnose yang ke 3 “Kurang pengetahuan

berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan payudara”


29

implementasi yang dilakukan menjelaskan tujuan dan manfaat perawatan

payudara dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin tahu tentang

perawatan payudara, respon obyektif pasien tampak memperhatikan,

kemudian mengajarkan tentang cara perawatan payudara dengan respon

subyektif pasien ingin tahu caranya, respon obyektif pasien dapat

mempraktekkan caranya, kemudian menjelaskan manfaat ASI respon

subyektif pasien mengatakan ingin mengetahui manfaatnya, respon obyektif

pasien tampak memperhatikan.

G. Evaluasi tindakan

Pada tanggal 29 mei 2010 untuk diagnose yang pertama “Resiko tinggi

infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy”

dengan hasil evaluasi subyek pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan,

obyektif luka kering, skala nyeri 4, assesement masalah belum teratasi,

planning intervensi dilanjuutkan, pada tanggal 30 mei 2010 dengan

diagnoasa yang pertama “Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya

luka insisi perinenum/episiotomy” dengan hasil evaluasi subyektif pasien

mengatakan nyeri berkurang, obyektif luka kering, assesement masalah

teratasi, planning intervensi dihentikan , pada diagnose yang ke 2

“Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan”

dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang,

obyektif skala nyeri 2, assesement masalah teratasi sebagian, planning

intervensi dilanjutkan, kemudian pada tanggal 31 mei 2010 dengan


30

diagnose yang ke 2 “Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan

inkontinuitas jaringan” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan

nyeri berkurang, obyektif skala nyeri 1, assesement masalah teratasi,

planning intervensi dihentikan, kemudian untuk diagnose yang ke 3

“Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang

perawatan payudara” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan

sudah paham tentang perawatan payudara, obyektif pasien dapat

mempraktekkan tentang cara perawatan payudara, assesement masalah

teratasi, planning intervensi dihentikan.


31

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pada pembahasan laporan ini penulis melakukan pengkajian menggunakan

metode wawancara dan pengamatan/observasi. Kekuatan dari metode

wawancara adalah dapat dilakukan tanpa bantuan alat apapun. Dilakukan

secara langsung. Kelemahannya jika dalam perbincangan tidak terarah akan

membutuhkan waktu yang lama. Kekuatan metode pengamatan adalah

kriteria yang diamati jelas. Kelemahan membutuhkan jangka waktu yang

lama.

B. Diagnosa

1. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul adalah :

a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

perinium/episiotomy.

Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu

beresiko terserang agen oportunistik atau patogenik (virus, jamur,

bakteri, protozoa dan parasit) dari beberapa sumber baik dari dalam

maupun dari luar tubuh (Carpenito, 2000). Resiko infeksi adalah

peningkatan resiko untuk terinvasi oleh organism pathogen (Nanda,

2006). Resiko infeksi adalah suatu kondisi individu yang mengalami

peningkatan resiko terserang organism patogenik (Wilkinson, edisi 7).


32

Resiko tinggi infeksi dapat ditegakkan bila ada kata mendukung yaitu

kemerahan pada kulit sekitar luka, nyeri, oedema eksudat,

peningkatan suhu, nadi dan sel darah putih (Doenges, 2000).

Diagnosa tersebut ditegakkan karena didapatkan data subyektif,

pasien mengatakan ada luka yang dijahit pada perineum. Data

obyektif yaitu terdapat 1 jahitan, keadaan luka kering. Suhu tubuh

36,8° C .

Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa pertama.

Karena bila perawatan luka pasien tidak menggunakan teknik aseptik

yang benar dan kondisi daya tahan tubuh yang kurang baik, maka

akan terjadi infeksi ( Doenges, 2000).

b. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan.

Nyeri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami

perasaan yang tidak nyaman dan berespon terhadap stimulus yang

berbahaya (Carpenito, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori serta

emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya

kerusakan jaringan yang actual atau potensial, digambarkan dalam

istilah seperti kerusakan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas

ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat

diramalkan dan durasinya kurang dari 6 bulan (Wilkinson, edisi 7).

Nyeri adalah pengalaman emosional atau sensori yang tidak

menyenangkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara actual

atau potensial atau menunjukkan adanya kerusakan : serangan


33

mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang dapat

diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan (Nanda,

2006). Nyeri ditegakkan bila ada data yang mendukung yaitu

melaporkan nyeri insisi, kram, nyeri tekan pada abdomen, perilaku

melindungi, wajah kemerahan (Doenges, 2000).

Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data-data yang

mendukung yaitu data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka

jahitan saat bergerak. Data obyektif, pasien tampak menahan nyeri

saat bergerak, skala nyeri 4.

Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa kedua

karena berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien saat itu dan apabila

masalah tersebut tidak segera diatasi akan menimbulkan

ketidaknyamanan pasien, mengganggu aktivitas klien dan apabila rasa

nyeri sudah ditransmisikan oleh syaraf ke otak, maka akan terjadi

nyeri hebat dan bisa menyebabkan syok neuroginik.

c. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan

dengan kurangnya informasi.

Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau

kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau

ketrampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana

tindakan pengobatan (Carpenito, 2001). Kurang pengetahuan adalah

tidak ada atau kurang informasi kognitif berhubungan dengan topic

yang spesifik (Nanda, 2006).


34

Alasan diagnosa ini diangkat menjadi diagnosa ketiga karena

berdasarkan keluhan pasien saat itu (Doenges, 2000). Dengan data

subyektif, pasien mengatakan tidak tahu cara merawat payudara dan

manfaat dari perawatan payudara. Data obyektif, pasien menggeleng

saat ditanya tentang perawatan payudara, puting susu terlihat kotor.

Penulis memprioritaskan masalh ini karena bila tidak diangkat

akan menimbulkan masalah-masalah dalam laktasi seperti payudara

bengkak, abses payudara.

2. Diagnosa yang tidak muncul dalam kasus adalah :

a. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan pasca

partum.

Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seseorang

yang tidak makan dan minum peroral mempunyai resiko terjadinya

dehidrasi vaskuler, intertisial, atau interseluler (Carpenito,2000).

Kekurangan volume cairan adalah penurunan cairan intravascular,

interstisial dan atau intraseluler, mengarah kepada dehidrasi,

kehilangan cairan tanpa perubahan sodium (Nanda, 2006). Resiko

kekurangan volume cairan adalah resiko untuk mengalami dehidrasi

intraseluler, seluler atau veskuler (Nanda, 2006). Resiko kekurangan

volume cairan adalah kondisi seorang individu yang beresiko

mengalami dehidrasi vaskuler atau intraseluler (Wilkinson, edisi 7).

Ditandai dengan tidak adanya keseimbangan antara masukan

dan haluaran, membran mukosa kering atau kulit kering, berat


35

badanberkurang, turgor kulit menurun, haus/mual/anoreksia. Batasan

karakteristik kekurangan volume cairan adalah mengalami kelemahan,

haus, penurunan turgor kulit/lidah, membrane mucus/kulit kering, nadi

meningkat, tekanan darah menurun, volume/tekanan nadi menurun,

dll (Nanda, 2006). Sedangkan pada pengkajian penulis tidak

menemukan data-data yang mendukung seperti diatas.

b. Perubahan pola eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan

penurunan tonus otot abdomen, peristaltik menurun.

Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang individu

mengalami atau beresiko tinggi atau mengalami statis pada usus besar

mengakibatkan jarang BAB, feses keras dan kering (Carpenito, 2000).

Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi dengan diikuti

kesulitan atau pengeluaran feces yang tidak tuntas atau feces kering

dan keras (Nanda, 2006). Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi

defekasi yang normal pada seseorang, disertai dengan kesulitan

keluarnya feces yang tidak lengkap atau keluarnya feces yang sangat

keras dan kering (Wilkinson, edisi 7).

Untuk menegakkan diagnosa harus ada data yang mendukung

adalah data mayor yaitu feses keras dan defekasi kurang dari 3

minggu. Data minor yaitu menurunnya bising usus keluhan rektal

penuh. Keluhan mengejan dan nyeri pada saat defekasi, perasaaan

pengosongan tidak kuat. Sedangkan pada kasus diatas, penulis tidak

menemukan data yang mendukung seperti diatas.


36

c. Perubahan proses keluarga, parenting berhubungan dengan kelahiran

anak pertama, harapan tidak realistik dari stresor (Doenges,2001).

Perubahan proses keluarga adalah keadaan dimana terdapat

resiko terhadap gangguan proses interaksi antara orang tua/pemberi

asuhan utama dan bayi (Carpenito, 2000). Perubahan proses keluarga

adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga

(definisi Nanda tidak menjelaskan suatu masalah secara mendasar,

definisi yang lebih jelas mungkin : kondisi disfungsi yang dialami

suatu keluarga dan biasaya berfungsi efektif) (Wilkinson, edisi 7). Hal

ini disebabkan karena adanya faktor situasional yang berhubungan

dengan harapan yang tidak realistik, kehilangan tidak dikehendaki dan

faktor maturasional seperti usia remaja (Carpenito, 2000). Hal ini

tidak terjadi karena pasien menerima kehadiran bayi nya dengan

senang hati dan pasien tergolong orang dewasa.

C. Intervensi

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

perineum/episiotomy dengan rencana tindakan : monitor vital sign

dengan rasional jika ditemukan peningkatan suhu, nadi, diduga terjadi

infeksi (Doenges, 2000). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik

dengan rasional membantu mencegah dan menghalangi penyebaran

infeksi dan membantu proses penyembuhan luka (Doenges, 2000). Cuci

tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dengan rasional


37

menurunkan kontaminasi silang (Doenges, 2000). Anjurkan untuk

menjaga kebersihan luka dan rasional lingkungan yang lembab

merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, bakteri dapat

berpindah melalui aliran kapiler ke luka insisi (Doenges, 2000).

Kolaborasi pemberian antibiotik dengan rasional dapat mencegah infeksi

dan penyebaran kejaringan sekitar aliran darah asalkan baik cara dan

dosis sesuai dengan keadaan klien (Doenges, 2000). Pantau tanda/gejala

infeksi (misalnya suhu tubuh, denyut jantung, pembuangan, penampilan

luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, lesi kulit, keletihan dan

malaise) (Wilkinson, edisi 7). Informasikan untuk menjaga hygiene

pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi (Wilkinson, edisi 7).

Ajarkan pasien cara mencuci tangan yang benar (Wilkinson, edisi 7).

Berikan terapi antibiotic bila diperlukan (Wilkinson, edisi 7 ).

2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan dengan rencana

tindakan : kaji karakteristik, lokasi intensitas dan skala nyeri dengan

rasional membantu dalam mengidentifikasi derajat kenyamanan dan

kebutuhan untuk keefektifan analgesik (Doenges, 2000). Berikan

informasi mengenai penyebab nyeri dengan rasional untuk meningkatkan

pemecahan masalah, membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges, 2000).

Atur posisi klien senyaman mungkin denganrasional memperlancar

peredaran darah serta menurunkan nyeri (Doenges, 2000). Ajarkan teknik

relaksasi dengan teknik nafas dalam bila nyeri muncul dengan rasional

keadaan rileks meningkatkan kesenganan pasien (Doenges, 2000).


38

Pemberian analgesic (Wilkinson, edisi 7). Penatalaksanaan nyeri :

meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyaman yang

dapat diterima oleh pasien (Wilkinson, edisi 7).

3. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan

kurangnya informasi dengan rencana tindakan : jelaskan pentingnya

perawatan payudara dengan rasional membantu mencegah puting pecah

dan luka, menjamin supali susu adekuat, memberikan kenyamanan dan

pembuat peran ibu menyusui (Doenges, 2000). Kaji tingkat pengetahuan

pasien tentang perawatan payudara dengan rasional menhindari

penyampaian informasi yang tidak afektif dan dapat mengetahui

seberapa dalam pengetahuan pasien (Doenges, 2000). Lakukan breast

care dengan rasional peragaan secara langsung dapat gambaran nyata

tentang informasi yang kita berikan (Doenges, 2000). Anjurkan pasien

untuk menyusui bayinya setelah melahirkan dengan rasional menghindari

terjadinya bingung puting pada bayi (Doenges, 2000). Jelaskan kegunaan

ASI dengan rasional membantu pasien mengetahui keuntungan ASI

(Doenges, 2000).

D. Implementasi

1. Resiko tinggi infeksi berhungan dengan adanya luka insisi

perineum/episiotomy.

Tindakan yang dilakukan adalah monitoring tanda-tanda vital

rasionalnya jika ditemukan adanya peningkatan suhu, nadi, diduga terjadi


39

infeksi (Doenges, 2000). Melakukan perawatan luka rasional dapat

membantu penyembuhan atau penurunan resiko terjadinya infeksi

(Doenges, 2000).

Kekuatan pasien mau mengikuti : anjuran perawat untuk menjaga

lukanya agar tetap kering. Kelemahannya bisa terjadi cross infeksi, biaya

akan meningkat karena perawatan bertambah.

2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan.

Tindakan yang dilakukan adalah observasi tanda-tanda vital

rasional pada kebanyakan pasien yang mengalami nyeri menyebabkan

gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat (Doenges, 2000).

Memberitahu pasien penyebab nyeri rasional untuk meningkatkan

pemecahan masalah, membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges, 2000).

Memberikan posisi yang nyaman rasional memperlancar peredaran darah

serta menurunkan nyeri (Doenges, 2000). Menganjurkan pasien untuk

tarik nafas dalam jika nyeri menurunkan ketegangan emosional dan dapat

meningkatkan perasaan kontrol sebagai mekanisme koping pasien

(Doenges, 2000).

Kekuatan dari pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik

karena adanya keterlibatan pasien yang kooperatif dan mematuhi anjuran

tim kesehatan. Kelemhannya pasien kurang yakin tindakan tersebut dapat

mengatasi nyeri karena disebabkan nyeri masih timbul.


40

E. Evaluasi

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka insisi

perineum/episiotomy.

Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang, luka

kering, tidak ada pus, masalah teratasi dan tindakan dihentikan.

2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan.

Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang, skala

nyeri 1, pasien tampak tenang nyaman. Masalah teratasi dan rencana

tindakan dihentikan.

3. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan

kurang informasi.

Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan sudah tahu tentang

perawatan payudara. Masalah teratasi dan rencana tindakan dihentikan.


41

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan uraian-uraian dari bab sebelumnya maka penulis menarik beberapa

kesimpulan dan memberikan saran sebagai berikut :

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengertian diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan

bahwa post partum normal adalah masa nifas atau masa pulih kembali,

mulai dari persalinan selesai yang dialami oleh setiap wanita hamil cukup

bulan dengan kehamilan normal sampai dengan pulihnya alat-alat

reproduksi sampai keadaan sebelum hamil, berlangsung 6-8 minggu.

Asuhan keperawatan pada pasien post partum normal adalah suatu tindakan

keperawatan yang diberikan pada ibu post partum mulai dari pengkajian

data, menentukan diagnose yang muncul, membuat rencana tindakan,

mengimplementasikan dan terakhir melakukan evaluasi tindakan yang telah

dilakukan. Dari hasil tindakan yang telah dilakukan pada Ny. D dapat

ditegakkan tiga masalah keperawatan yaitu resiko tinggi infeksi, gangguan

rasa nyaman nyeri dan kurangnya pengetahuan mengenai perawatan

payudara dapat teratasi dan intervensi dhentikan.


42

B. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan study kasus

mengenai post partum normal adalah :

1. Kepada masyarakat umumnya dan kepada pasien post partum dan

keluarga khususnya agar selalu memeriksakan kondisi bayi dan kondisi

ibunya setelah melahirkan agar tidak terjadi kondisi kritis.

2. Kepada tenaga kesehatan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik

bagi pasiennya agar pasien mendapatkan kepuasan terhadap pelayanan

yang telah diberikan.


43

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Jual. 2000. Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa Monica

Sster, S.Kp. Jakarta:EGC.

Carpenito, Lynda Jual. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Alih

Bahasa Yasmin Asih. Edisi 10. Jakarta:EGC.

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Alih Bahasa I

Made Kariasi, S.Kp. Ni Made Sumawarti, S.Kp. Jakarta:EGC.

Doenges, Marilynn E. 2001.

Hacker, Moore. 2001. Essensial Obstetri dan Ginekologi. Alih Bahasa

Yunita Cristina. Edisi 2. Jakarta:Hipokrates.

Nanda. 2006. Panduan Diagnosa keperawatan. Alih Bahasa Budi Santoso.

Prima Medika.

Oxorn, Harry. 2003. Patofiologi dan Fisiologi Persalinan Human Labor and

Birth. Alih Bahasa Dr Mohammad Hakimi, Ph. D. Jakarta:Yayasan

Essentia Medica.

Omo, Abdul Madjid. Soekir, Soekaemi et all. Asuhan Persalinan Normal

dan Insiasi Menyusui Dini. 2008. Jakarta:Jaringan Nasional Pelatihan

Klinik (JNPK-KR).

Siswosudarmo, Risanto. Ova Emilia. 2009. Obstetri Fisiologi. Editor dr

Sinta Aji Arirukmi. Yogyakarta:Pustaka Cendekia.


44

Wilkinson, Judith M. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi

NIC dan Kriteria Hasil NOC. Alih Bahasa Waidyawati, S.Kp, M.Kes.

Syahirul Alimi, S.Kp. Elsi Dwihapsari, S.Kp. Intan Sari Nurjanah,

S.Kp. Edisi 6. Jakarta: EGC.

http://www.scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diakses pada

tanggal 14 Juni 2010.

http://www.scribd.com/doc/32931258/ASUHAN-KEBIDANAN-NIFAS

diakses pada tanggal 14 Juli 2010.

http://www.scribd.com/doc/21899776/BAB-I diakses pada tanggal 14 Juli

2010.

http://www.scribd.com/doc/16287636/ASUHAN-KEPERAWATAN-

MATERNITAS diakses pada tanggal 14 Juli 2010.


45