Anda di halaman 1dari 28

DRA.

 KASMIYATI,  MSc  
DEPUTI  LATBANG  BKKBN  

MATERI DISAMPAIKAN PADA KONGGRES NASIONAL (KONAS) KE 11


IKATAN AHLI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA (IAKMI)
BANDUNG, 3-5 AGUSTUS 2010
PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA 330 JUTA
(JUTA)
300.00
285 JUTA
275.00
KELAHIRAN
KELAHIRAN
250.00 TERCEGAH
TERCEGAH
100 JUTA
225.00 80 JUTA 230 JT
200.00 205 JT
175.00

150.00

125.00

100.00

75.00

50.00 40.2

25.00 10.8 14.2 18.3

0.00
1600 1700 1800 1900 2000 2009
PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
1950 - 2005
248
250.00
234
225.00 219
PENDUDUK LIPAT DUA 206
200.00 DALAM 30 – 40 TAHUN
180
175.00

150.00 148

125.00 119 PDDK LIPAT DUA DLM:


100.00
97 70
77 TAHUN
75.00 LPP
50.00

25.00

0.00
1950 1961 1971 1980 1990 2000 2005 2010 2015

PROYEKSI
Sumber: Hasil Sensus & Supas, BPS
SITUASI  …..  
Perkembangan  tingkat  kelahiran  di  Indonesia  

Sumber SDKI 2002-2003 dan 2007


KB  dan  IMPLIKASI  BAGI  
PENDUDUK  
Proyeksi
BPS, 248
juta (2015)

Jml pddk saat ini

TAMBAHAN
PENDUDUK
PERMASALAHAN    
dan  
TANTANGAN  
1.  Laju  pertumbuhan  dan  jumlah  pertambahan  penduduk  masih  
tinggi  
 Laju pertumbuhan penduduk (LPP) cenderung menurun, namun secara absolut
pertumbuhan jumlah penduduk masih terus meningkat, yaitu sekitar 3 juta jiwa
per tahun. Data sensus menunjukan LPP menurun dari 1,49% menjadi 1,27%,
sedangkan jumlah penduduk meningkat dari dari 205,8 juta menjadi 234,2 juta
dan terus meningkat menjadi 245,0 juta (SP 2000 & Proyeksi 2005-2025).
 Besarnya jumlah penduduk tsb, maka Indonesia termasuk dalam negara dengan
jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia setelah Cina, India, & Amerika Serikat.

Sumber/Source : Sensus penduduk (1971,1980,1990,2000), Supas 2005, dan Proyeksi Penduduk Berdasarkan Supas 2005

Tantangan: mengendalikan TFR, yang merupakan faktor dominan dalam


mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah pertambahan penduduk di Indonesia.
8  
2. Disparitas Total Fertility Rate (TFR) masih tinggi
Masih tingginya disparitas angka kelahiran total (TFR) antarprovinsi, tingkat
pendidikan, tingkat kesejahteraan, dan wilayah desa-kota
TFR

Rata-­‐rata  
Nasional  
=  2,3  

Keterangan SDKI 2002/03 SDKI 2007


Indeks Kesejahteraan
(Quintile)
Q1 (Terendah) 3,0 3,0
Q2 2,6 2,5
Q3 2,7 2,8
Q4 2,5 2,5
Q5 (Tertinggi) 2,2 2,7
Pendidikan
Tidak Sekolah 2,6 2,4
Tidak Tamat SD 2,7 2,8
Tamat SD 2,7 2,8
Tidak Tamat SMP 2,5 2,7
Tamat SMP atau lebih 2,5 2,5
Desa - Kota
Desa 2,7 2,8
Kota 2,4 2,3
Sumber: SDKI 2007 (adjusted) Total 2,6 2,6

Tantangan : upaya meningkatkan kesertaan ber-KB dan akses terhadap pelayanan KB di daerah dengan TFR
tinggi serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin dan rentan lainnya. 9  
3. Pemakaian kontrasepsi masih rendah
CPR tidak meningkat secara signifikan dalam 5 tahun terakhir, yaitu hanya naik sebesar
1,1% dan 0,7 persen (semua cara & modern), dan masih terjadinya disparitas CPR
antarprovinsi, tertinggi Prov. Bengkulu dan terendah di Prov. Maluku dan Papua.
CPR  Per  PROVINSI,  SDKI  Tahun  2007  

Tantangan: Upaya meningkatkan kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah, meningkatkan
pemakaian kontrasepsi jangka panjang, dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB
10  
4. Unmet Need masih tinggi
 Jumlah PUS yang tidak terpenuhi kebutuhan ber-KB dikarenakan ingin menunda kehamilan atau tdk
ingin tambah anak (Unmet Need) meningkat dari 8,6% menjadi 9,1%. Kemudian juga masih tingginya
disparitas angka unmetneed antarprovinsi, tingkat pendidikan, dan wilayah desa-kota.

Unmet Need Menurut Desa-Kota dan


Tingkat Pendidikan

Unmet Need Antarprovinsi

Rata-rata
Nasional =
9,1%

Tantangan: upaya intensifikasi advokasi


dan KIE serta peningkatan akses dan
kualitas pelayanan KB di daerah
galciltas dan daerah dengan unmet need
tinggi

Sumber: SDKI (2007)   11  


5.   Pengetahuan   dan   kesadaran   remaja   dan   pasangan   usia  
subur  tentang  KB  dan  kesehatan  reproduksi  masih  rendah    
  Hasil  Survei  Kesehatan  Reproduksi  Remaja  Indonesia  
(SKRRI)  2007:    
  Masih  terdapatnya  persepsi  remaja  yang  menyetujui  
hubungan  seksual  pra-­‐nikah  
  Survei  Demografi  dan  Kesehatan  Indonesia  (SDKI)  2007:  
  Proporsi  wanita  kawin  yang  tidak  ingin  menambah  anak  lagi:
-­‐  60  persen  dengan  2  anak  hidup  
  -­‐  75  persen  dengan  3-­‐4  anak  hidup  
  -­‐  80  persen  dengan  5  atau  lebih  anak  hidup        

Tantangan: Upaya peningkatan KIE dan penyediaan layanan KB dan


kesehatan reproduksi bagi remaja dan PUS.
12  
6. Partisipasi   keluarga   dalam   pengasuhan   dan  
pembinaan   tumbuh   kembang   anak   dan   remaja  
belum  optimal  
  Data BKKBN  :
Menurunnya jumlah kelompok Bina Keluarga Balita (BKB):
- Tahun 2005 terdapat 106.755 kelompok
- Tahun 2006 terdapat 81.635 kelompok
- Tahun 2007 terdapat 69.573 kelompok
    Menurunnya jumlah kelompok Bina Keluarga Remaja
(BKR):
- Tahun 2005 terdapat 43.752 kelompok
- Tahun 2006 terdapat 32.279 kelompok
- Tahun 2007 terdapat 29.248 kelompok

Tantangan:   Meningkatkan akses keluarga terhadap informasi


pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja
7. Pembinaan  dan  kemandirian  peserta  KB  belum  optimal.
Peningkatan   jumlah   peserta   KB   baru   menemui   hambatan  
pada   saat   CPR   telah   mencapai   di   atas   50   persen.   Hal   ini  
disebabkan   oleh   PUS   yang   belum   ber-­‐KB   pada   umumnya  
adalah   kelompok-­‐kelompok   sulit   yang   tersebar   di   daerah-­‐
daerah   terpencil,   tertinggal,   kelompok   miskin,   dan  
berpendidikan  rendah.  Untuk  mencapai  kelompok-­‐kelompok  
tersebut,   diperlukan   upaya   inovatif   yang,   antara   lain,   dapat  
dilakukan   melalui   pembinaan   kelompok-­‐kelompok   kegiatan  
(poktan)  di   tingkat  akar   rumput,  dengan   menyediakan  akses  
terhadap  sumber  permodalan.

Tantangan: meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang


ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan
kesertaan ber-KB

14
8. Kapasitas  kelembagaan  Program  KB  masih  terbatas.
Sampai   dengan   akhir   tahun   2009,   bentuk   kelembagaan   KB   bervariasi  
antardaerah   yang   menunjukkan   komitmen   pemerintah   daerah   yang  
rendah
  81,95  persen  kelembagaan  KB  di  kabupaten/kota  berbentuk  badan,    
  16,08  persen  berbentuk  kantor,    
  1,96  persen  berbentuk  dinas,  
  90,87  persen  digabungkan  dengan  1  atau  2  bidang  lain  yang  kurang  relevan,    
  9,13  persen  yang  utuh  dan  masih  terdapat  beberapa    kabupaten/kota  yang  tidak  
memiliki    institusi  untuk  melaksanakan  program  KB  
  Jumlah   pengawas   PLKB   (PPLKB)   dan   petugas   lapangan   KB   (PLKB)   atau  
penyuluh  KB  (PKB)    menurun  menjadi  75%  dari  jumlah  sebelum  desentralisasi  

Tantangan: meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang


pentingnya program KB, dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga
pengelola serta pelaksana program KB di daerah.

15  
9. Kebijakan  Pengendalian  Penduduk  belum  Sinergis.
  Belum   konsistennya   kebijakan   kependudukan   yang   terkait   dengan   kuantitas,  
kualitas,  dan  mobilitas,  baik  secara  vertikal  maupun  horizontal    
  Masih   terdapat   kebijakan   pembangunan   lainnya   yang   kurang   mendukung  
kebijakan  pengendalian  kuantitas  penduduk,    

Tantangan: menyerasikan kebijakan kependudukan agar konsisten dan


berkesinambungan.

10. Ketersediaan  dan  Kualitas  Data  dan  Informasi  


Kependudukan  masih  terbatas.
Data  registrasi  belum  dapat  dimanfaatkan  secara  optimal:    
  masih  rendahnya  cakupan  daerah  dan  kejadian  yang  dilaporkan,  
  kurangnya  jumlah  dan  rendahnya  kualitas  tenaga  pencatat    
  rendahnya   kesadaran   masyarakat   dalam   melaporkan   perubahan   atas   peristiwa  
penting  yang  dialaminya,    
Hal   tersebut   dikarenakan   kurangnya   informasi   tentang   kewajiban   masyarakat   untuk  
melapor  dan  terbatasnya  jangkauan  masyarakat  ke  tempat  pelayanan  

Tantangan: meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya


melaporkan kejadian vital, serta meningkatkan cakupan dan kualitas data
kependudukan dari berbagai sumber.
16  
TAHAPAN PEMBANGUNAN BIDANG KEPENDUDUKAN
DALAM RPJP 2005-2025

RPJM 4
(2020-2024)
RPJM 3 Bertahannya
(2015-2019) kondisi
RPJM 2 Tercapainya penduduk
RPJM 1 (2010-2014) kondisi tumbuh
(2005-2009) Terkendalinya penduduk seimbang
jumlah dan laju tumbuh
Mengendalikan
pertumbuhan
jumlah dan laju
penduduk seimbang
pertumbuhan
penduduk
1   Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
2   Pendidikan
3   Kesehatan
4   Penanggulangan Kemiskinan
5   Ketahanan Pangan
11  Prioritas  Nasional  
Kabinet  Indonesia  Bersatu  II     6   Infrastruktur
2009-­‐2014   7   Iklim Investasi dan Iklim Usaha
8   Energi
9   Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana

10   Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi


11   Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik

12   Bidang Politik, Hukum dan Keamanan


Prioritas  Lainnya   13   Bidang Perekonomian
14   Bidang Kesejahteraan Rakyat
SASARAN dalam RPJMN 2010-2014
Sasaran Status  Awal Target  2014
1.      Menu  runnya  rata-­‐rata  laju  pertumbuhan  penduduk   1,3   1,1
tingkat  nasional  (persen  per  tahun) (Supas  2005)

2.      Menurunnya  TFR  per  perempuan  usia  reproduksi 2,3   2,1


(Adjusted  SDKI  2007)

3          Meningkatnya  CPR  cara  modern  (persen) 57,4   65,0


(SDKI  2007)
4.      Menurunnya  kebutuhan  ber-­‐KB  tidak  terlayani/ 9,1   5,0
unmet  need  dari  jumlah  pasangan  usia  subur   (SDKI  2007)
(persen)  
5.          Menurunnya  ASFR  15−19  tahun  per  1.000   35   30
perempuan (Adjusted  SDKI  2007)  

6.      Meningkatnya  median  usia  kawin  pertama   19,8   21


perempuan  (tahun) (SDKI  2007)
7.      Menurunnya  disparitas  TFR,  CPR  dan  unmet  need  antarwilayah  dan  antartingkat  sosial  ekonomi
8.      Meningkatnya  keserasian  kebijakan  pengendalian  penduduk
9.      Meningkatnya  ketersediaan  dan  kualitas  data  dan  informasi  kependudukan,  yang  bersumber  dari  sensus,  
survei,  dan  registrasi  vital  kependudukan

19  
ARAH  KEBIJAKAN    
&    
STRATEGI  
RPJMN  2010-­‐2014  
 VISI  :    
 PENDUDUK    TUMBUH  SEIMBANG    
2015  

 MISI  :    
 Mewujudkan  Pembangunan  yang  
Berwawasan  Kependudukan  dan  
Mewujudkan  Keluarga  Kecil  Bahagia  
Sejahtera    

RENSTRA BKKBN 2010-2014 8/4/10 21


Tiga Prioritas:
I.  Revitalisasi Program KB
1.  Pembinaan dan peningkatan kemandirian keluarga
berencana;
2.  Promosi dan penggerakan masyarakat;
3.  Peningkatan dan pemanfaatan sistem informasi manajemen
(SIM) berbasis teknologi informasi;
4.  Pelatihan, penelitian dan pengembangan program
kependudukan dan KB; dan
5.  Peningkatan kualitas manajemen program

22  
(2)

II. Penyerasian Kebijakan Pengendalian Penduduk


1.  Penyusunan peraturan perundangan pengendalian
penduduk;
2.  Perumusan kebijakan kependudukan yang sinergis
antara aspek kuantitas, kualitas dan mobilitas; dan
3.  Penyediaan sasaran parameter kependudukan yang
disepakati semua sektor terkait.

23  
(2)

III. Peningkatan Ketersediaan Dan Kualitas Data dan


Informasi Kependudukan Yang Memadai, Akurat, Dan
Tepat Waktu
1.  Penyusunan peraturan perundangan pengendalian
penduduk;
2.  Perumusan kebijakan kependudukan yang sinergis
antara aspek kuantitas, kualitas dan mobilitas; dan
3.  Penyediaan sasaran parameter kependudukan yang
disepakati semua sektor terkait.

24  
   Alat/obat  kontrasepsi  gratis  untuk  
pasangan  usia  subur    yang  miskin.    
   Untuk  Kondom  dan  IUD  gratis  untuk  
semua  PUS  
   Untuk  provinsi-­‐provinsi  tertentu  alat/
obat  kontrasepsi  gratis  bagi  semua  
PUS,  yaitu  Provinsi  Papua,  Papua  
Barat,  N.T.T,  Maluku,    Maluku    Utara,  
dan  Aceh.  
Terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk yang ditandai TFR
2,1 & NRR = 1
dengan :
NO SASARAN STATUS  AWAL TARGET  2014

1. Meningkatnya  CPR  cara  modern  (%) 57,4  ** 65,0

2. Menurunnya  kebutuhan  ber  KB  tidak  terlayani  /  unmet   9,1  ** 5,0
need  dari  pasangan  usia  subur  (%)

3. Menurunnya  ASFR  15-­‐19  tahun  per  1000  perempuan 35  ** 30  **


4. Meningkatnya  median  usia  kawin  pertama  perempuan   19,8  ** 21
(tahun)

5 Menurunnya  kehamilan  tidak  diinginkan 19,7 15

6. Meningkatnya  PB  pria  dari  3,6  %  menjadi  5  %

7. Meningkatnya  kesertaan  ber  KB  PUS  KPS  dan  KS  I  anggota  kelompok  usaha  ekonomi  
produktif  (dari  85,7%  menjadi  87  %)  dan  Bina  Keluarga  menjadi  70%

8. Meningkatnya  partisipasi  keluarga    mempunyai  anak  &  remaja  dalam  BKB  dan  BKR
26
RENSTRA BKKBN 2010-2014
NO SASARAN  

9. Menurunnya  disparitas  TFR,  CPR  dan  unmet  need  antar  wilayah  dan  
antar  sosial  ekonomi  (tingkat  pendidikan  dan  ekonomi)  

10. Meningkatnya  keserasian  kebijakan  pengendalian  penduduk  dengan  


pembangunan  lainnya    

11. Terbentuknya  BKKBD  di  435  Kabupaten/Kota  

12. Meningkatnya  jumlah  Klinik  KB  yang  memberikan  pelayanan  KB  sesuai  
SOP  (informed  consent)  dari  20  persen  menjadi  sebesar  85  persen.  

• Sumber data : SUPAS 2005 *


SDKI 2007**

Anda mungkin juga menyukai