Anda di halaman 1dari 6

MEMAHAMI URGENSI KETERAMPILAN BELAJAR

DALAM PENDIDIKAN
Oleh: Iqbal Fahri, Kepala SMP Daar el-Salam, Gunungputri, Bogor

Pengantar

Aktivitas belajar merupakan aktivitas utama yang menjadi fokus dari proses pendidikan
—yang walaupun—istilah pendidikan sendiri didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai
kalangan dan telah banyak dipengaruhi pandangan dunianya (weltanschauung) masing-masing—
namun pada dasarnya, semua pandangan yang berbeda tentang belajar dalam proses pendidikan
tersebut—bertemu dalam semacam kesimpulan awal, bahwa pendidikan adalah suatu proses
penyiapan generasi muda melalui pembelajaran untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi
tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.

Dalam konteks ini, pendidikan dilihat sebagai sebuah proses yang lebih daripada sekedar
pengajaran; dimana yang terakhir ini dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer pengetahuan
belaka, bukan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang
dicakupnya. Dengan demikian pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan para spesialis
yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, yang perhatian dan minatnya lebih
bersifat teknis. Di pihak lain—terkait dengan konteks pernyataan di atas—Azyumardi Azra
(2002: 3) menganalisis bahwa pendidikan yang berlangsung dalam suatu schooling system
cenderung terjebak menjadi suatu proses transfer pengetahuan dan keahlian dalam tekno struktur
yang ada. Akibatnya pendidikan—atau lebih jelasnya pengajaran—kemudian menjadi suatu
komoditi belaka dengan berbagai implikasinya terhadap kehidupan pribadi seseorang dan
kehidupan sosial kemasyarakatan.

Dalam dunia pendidikan dikenal tiga ranah yang perlu dikuasai, ditingkatkan, dan
dikembangkan anak selama bersekolah, yaitu kognitif (berkaitan dengan pengetahuan),
psikomotor (berkaitan dengan keterampilan), dan afektif (berkaitan dengan sikap dan nilai).
Penguasaan ranah kognitif yang mencapai tingkat 'keyakinan' (believe) akan mengendalikan
perilaku dan kebiasaan individu sehari-hari sehingga mampu meningkatkan kecakapan hidup
(life skill) dan menumbuhkan sikap positif. Para ahli pendidikan sependapat bahwa, untuk
meningkatkan penguasaan ranah kognitif ternyata dipengaruhi oleh kepemilikan unsur meta-
kognitif, yang salah satunya berkaitan dengan 'keterampilan belajar' atau 'belajar cara belajar’
(learn how to learn). Kadangkala, kita sering terjebak pada tujuan anak bersekolah. Seolah-olah
tujuan akhir anak bersekolah adalah hanya untuk memahami sepenggal materi dari beberapa
mata pelajaran. Padahal, realita kehidupan anak sering tidak berkaitan langsung dengan materi
yang dipelajari di sekolah. Akibatnya, apa yang dipelajari di sekolah merupakan pengetahuan
yang terisolasi (isolated knowledge) dari apa yang sudah diketahui anak sebelumnya, dan
terisolasi dari permasalahan yang ada di sekitar anak. Akhirnya, apa yang diperoleh dari sekolah
tidak membantu kehidupan sehari-hari anak.

Terkait dengan konteks tersebut, pengembangan keterampilan belajar dari setiap siswa
sebenarnya menjadi salah satu alternatif solusi, namun sistem pendidikan, kompetensi guru,
ataupun kebijakan lembaga yang hanya menitikberatkan pada “penguatan” basic skill—kurang
atau bahkan tidak memberikan kesempatan yang memadai bagi para peserta didik untuk
mengembangkan keterampilan belajar yang benar-benar dapat membantu mereka untuk
memahami berbagai materi pelajaran yang diikutinya. Sehingga pada akhirnya—peserta didik
tersebut menjadi kurang adaptif dan kreatif ketika berhadapan dengan berbagai dimensi lain di
luar materi yang dipelajarinya di lembaga pendidikan formal.

Lebih jauh lagi, kurangnya penguasaan terhadap keterampilan belajar ini akan
menghasilkan dampak yang kurang baik dalam pengembangan intelektualitas, kemampuan
analisis ataupun kemampuan mengelola waktu ketika individu-individu tersebut ke luar dari
dunia pendidikan. Dalam konteks ini konsepsi learning how to learn memberikan satu perspektif
lain dimana belajar bukan lagi sebagai bentuk aktivitas rutin yang hanya didapatkan dalam
lingkup kelembagaan formal saja, akan tetapi merupakan aktivitas yang berlanjut dalam sebuah
proses latihan seumur hidup (life long education). Jerold W. Apps (1978: 1) dalam hal ini
mengatakan bahwa “The underlying assumption of learning how to learn is that you, the
learner, have the ability and the responsibility for planning much of your own learning in all
aspects of your life . Dengan kata lain keterampilan belajar yang dimaksudkan dalam konsepsi
learning how to learn ini mencakup penguasaan dan pelatihan dalam aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik sekaligus.

Keterampilan belajar dalam hal ini merupakan hal yang paling esensial untuk
dikembangkan dalam setiap tahap pendidikan. Hal ini sendiri didasari oleh beberapa alasan
penting lainnya, antara lain:

Pertama, belajar merupakan sebuah aktivitas yang terus menerus dilakukan oleh setiap
individu baik dari semenjak ia lahir ataupun menjelang akhir kehidupannya, dimana yang
menjadi landasan fundamental dalam belajar adalah bahwa “to live is to learn, it’s not a task but
a way to be in the world” (Robinson, 1979) . Dalam konteks ini aktivitas belajar dapat dikatakan
sebagai sebuah proses tanpa henti yang terus dilakukan untuk mendapatkan (acquiring) berbagai
keahlian (skills) yang diperlukan bagi setiap individu dalam segala aspek kehidupannya. Dan
khususnya bagi para peserta didik keterampilan belajar menjadi sangat penting ketika
dihadapkan dalam konteks realita dunia pendidikan ataupun dalam interaksi sosial.

Kedua, belajar dalam perspektif ini dilihat sebagai suatu proses latihan yang
berkesinambungan dan bukan sebagai aktivitas rutin biasa, dimana dalam keseharian seorang
individu, proses ini terkait erat dengan berbagai aspek kehidupan yang dijalaninya. Dalam
learning how to learn, semua panca indera yang dimiliki oleh setiap individu merupakan alat
untuk belajar—namun keterampilan mendengar, membaca, menulis tersebut harus dilatih
menjadi suatu “set” keterampilan belajar yang memadai dan mampu mendukung proses
pembelajaran dalam menguasai materi yang dipelajari (Knowles, 1975) dan (Bergevin, 1967).

Ketiga, konsepsi long life education merupakan salah satu rujukan dan panduan utama
dalam konsep learning how to learn, dimana setiap individu diarahkan agar mampu menjadi
seorang autonomous learner (pembelajar mandiri) yang dapat mengarahkan dirinya (self
directed learning) dalam mempelajari berbagai keahlian dan keterampilan yang diperlukan baik
untuk keperluan belajar di jalur pendidikan formal (institutional learning), dalam kelompok
(collaborative learning) atau untuk dirinya sendiri di berbagai aspek kehidupan. Dalam
perspektif ini belajar merupakan self-seen-as-learner role yang merupakan komponen esensial
dalam learning how to learn (Brundage and MacKreacher, 1980: 35).

Keempat, proses pelatihan keterampilan belajar dalam konsep learning how to learn tidak
terfokus hanya pada pengembangan aspek kognitif saja, akan tetapi juga menyangkut pelatihan
aspek afektif (menghadapi kecemasan dan kegelisahan) dan juga psikomotorik (koordinasi mata
dengan tangan, telinga dengan tangan dan lainnya). Dalam konteks ini, learning how to learn
bukan diarahkan pada proses pelatihan untuk menciptakan manusia-manusia robot, akan tetapi
untuk menghasilkan individu-individu yang mampu belajar dan mengarahkan dirinya sendiri
(self directed learner). Belajar dalam konteks ini mempunyai sisi intuitif dimana ilmu dan
pengetahuan bisa didapatkan dari dalam diri kita sendiri, baik dalam bentuk insight, proses
kreatif ataupun intuisi (Ferguson, 1980: 290).

Kelima, belajar melibatkan proses perubahan dimana sesuatu didapatkan dan sesuatu
yang lainnya dihilangkan—dalam konteks learning how to learn ini yang menjadi fokus utama
adalah reorientasi belajar terutama dalam konteks nilai dan persepsi diri. Dengan kata lain
melibatkan proses transformasi persepsi belajar (Mezirow, 1978) dalam berbagai hal, baik
keahlian belajar dalam basic skills (membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam
menangani rasa takut dan kecemasan (Taylor, 1980: 193) . Transformasi ini—lanjut Taylor—
tidak hanya melatih kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi domain afektif dan
psikomotorik dari setiap orang.

Reorientasi arah dan tujuan belajar dalam hal ini—termasuk didalamnya— adalah dengan
merubah paradigma bahwa proses pembelajaran bukan hanya merupakan tugas dari lembaga
pendidikan saja—baik secara formal ataupun informal. Dalam konteks ini konteks nilai dan
persepsi diri dari setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran (diri, orang lain, dan
lingkungan) pun harus berubah. Hal ini disebabkan karena pentingnya memahami proses belajar
sebagai sebuah proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain—dimana arah,
tujuan, cara dan fokus dari belajar diarahkan oleh individu yang mengalaminya sendiri
(independent and self-directed learning).

Singkat kata, keterampilan belajar merupakan keahlian yang didapatkan (acquired skills)
oleh seorang individu melalui proses latihan yang berkesinambungan dan mencakup aspek
optimalisasi cara-cara belajar baik dalam domain kognitif, afektif ataupun psikomotorik. Namun
demikian—komponen utama latihan keterampilan belajar dalam konsepsi learning how to learn
ini difokuskan pada individu itu sendiri sebagai learner, sehingga setiap individu dilatih untuk
mengembangkan gaya dan karakteristik belajarnya sendiri—dan bukan “dipaksa” untuk
mengikuti gaya belajar yang one size fits for all (satu cara yang sama untuk semua orang).

Pengertian

Keterampilan belajar merupakan keahlian yang didapatkan (acquired skills) oleh seorang
individu melalui proses latihan yang berkesinambungan dan mencakup aspek optimalisasi cara-
cara belajar baik dalam domain kognitif, afektif ataupun psikomotorik. Namun demikian—
komponen utama latihan keterampilan belajar dalam konsepsi learning how to learn difokuskan
pada individu itu sendiri sebagai learner, sehingga setiap individu dilatih untuk mengembangkan
gaya dan karakteristik belajarnya sendiri—dan bukan “dipaksa” untuk mengikuti gaya belajar
yang one size fits for all (satu cara yang sama untuk semua orang).

Secara umum keterampilan belajar menitikberatkan pada strategi pembelajaran untuk


membantu peserta didik menjadi lebih baik dan lebih mandiri dalam belajar. Peserta didik akan
belajar bagaimana mengembangkan dan menerapkan belajar, keterampilan manajemen pribadi,
dan interpersonal dan keterampilan kerja sama tim untuk meningkatkan pembelajaran dan
prestasi di sekolah. Program pembelajaran ini membantu siswa untuk membangun kepercayaan
diri dan motivasi untuk mengejar peluang untuk sukses di sekolah menengah dan jenjang
pendidikan selanjutnya.

Merujuk pada pengertian keterampilan belajar itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat
keterampilan belajar meliputi empat unsur utama yaitu:

1. Transformasi persepsi belajar dalam berbagai hal guna meningkatkan keahlian belajar
dalam basic skills (membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam menangani rasa takut
dan kecemasan. Transformasi ini tidak hanya melatih kemampuan kognitif saja akan tetapi
juga meliputi domain afektif dan psikomotorik dari setiap orang. Sehingga mampu
menunjukkan pemahaman tentang keterampilan dan strategi belajar yang diperlukan untuk
sukses di sekolah.
2. Keterampilan manajemen pribadi. Kemampuan menerapkan pengetahuan keterampilan
belajar dan kekuatan (potensi) belajar yang dimilikinya untuk mengembangkan strategi guna
memaksimalkan dan meningkatkan pembelajaran sehingga dapat meraih kesuksesan belajar di
sekolah menengah.
3. Interpersonal dan keterampilan kerjasama tim. Kemampuan mengidentifikasi dan
menjelaskan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam hubungan
interpersonal dan kerjasama tim. Selain itu, juga menunjukkan kemampuan yang tepat untuk
menerapkan keterampilan interpersonal dan kerjasama tim dalam berbagai lingkungan belajar.
4. Kesempatan Eksplorasi. Mengembangkan portofolio dokumen yang terkait dengan
penilaian diri, penelitian, dan ekplorasi karir yang diperlukan untuk merencanakan jalur
untuk keberhasilan sekolah menengah.

Keempat unsur itu merupakan ciri keterampilan belajar yang utuh yang sebenarnya tidak
dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam proses pembelajaran keterampilan belajar keempat unsur itu diharapkan dapat
muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses internalisasi keterampilan belajar di
dalam sikap belajarnya secara utuh dan sempurna sehingga dapat mengurangi kemungkinan
kebuntuan dalam belajar (learning shutdown).
Tujuan

Tujuan pembelajaran keterampilan belajar adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran

Pembelajaran keterampilan belajar dalam perspektif ini dilihat sebagai suatu proses
latihan yang berkesinambungan dan bukan sebagai aktivitas rutin biasa, dimana dalam
keseharian seorang individu, proses ini terkait erat dengan berbagai aspek kehidupan yang
dijalaninya. Dalam learning how to learn, semua panca indera yang dimiliki oleh setiap individu
merupakan alat untuk belajar—namun keterampilan mendengar, membaca, menulis tersebut
harus dilatih menjadi suatu “set” keterampilan belajar yang memadai dan mampu mendukung
proses pembelajaran dalam menguasai materi yang dipelajari (Knowles, 1975) dan (Bergevin,
1967).

Pembelajaran keterampilan belajar dalam konsep learning how to learn tidak terfokus
hanya pada pengembangan aspek kognitif saja, akan tetapi juga menyangkut pelatihan aspek
afektif (menghadapi kecemasan dan kegelisahan) dan juga psikomotorik (koordinasi mata
dengan tangan, telinga dengan tangan dan lainnya). Dalam konteks ini, learning how to learn
bukan diarahkan pada proses pelatihan untuk menciptakan manusia-manusia robot, akan tetapi
untuk menghasilkan individu-individu yang mampu belajar dan mengarahkan dirinya sendiri
(self directed learner). Belajar dalam konteks ini mempunyai sisi intuitif dimana ilmu dan
pengetahuan bisa didapatkan dari dalam diri kita sendiri, baik dalam bentuk insight, proses
kreatif ataupun intuisi (Ferguson, 1980: 290).

2. Menumbuhkan minat dan motivasi

Belajar melibatkan proses perubahan dimana sesuatu didapatkan dan sesuatu yang
lainnya dihilangkan—dalam konteks learning how to learn ini yang menjadi fokus utama adalah
reorientasi belajar terutama dalam konteks nilai dan persepsi diri. Dengan kata lain melibatkan
proses transformasi persepsi belajar (Mezirow, 1978) dalam berbagai hal, baik keahlian belajar
dalam basic skills (membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam menangani rasa takut dan
kecemasan (Taylor, 1980: 193) . Transformasi ini—lanjut Taylor—tidak hanya melatih
kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi domain afektif dan psikomotorik dari setiap
orang.

Reorientasi arah dan tujuan belajar dalam hal ini—termasuk didalamnya— adalah dengan
merubah paradigma bahwa proses pembelajaran bukan hanya merupakan tugas dari lembaga
pendidikan saja—baik secara formal ataupun informal. Dalam konteks ini konteks nilai dan
persepsi diri dari setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran (diri, orang lain, dan
lingkungan) pun harus berubah. Hal ini disebabkan karena pentingnya memahami proses belajar
sebagai sebuah proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain—dimana arah,
tujuan, cara dan fokus dari belajar diarahkan oleh individu yang mengalaminya sendiri
(independent and self-directed learning).
3. Membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar

Belajar merupakan sebuah aktivitas yang terus menerus dilakukan oleh setiap individu
baik dari semenjak ia lahir ataupun menjelang akhir kehidupannya, dimana yang menjadi
landasan fundamental dalam belajar adalah bahwa “to live is to learn, it’s not a task but a way to
be in the world” (Robinson, 1979) . Dalam konteks ini aktivitas belajar dapat dikatakan sebagai
sebuah proses tanpa henti yang terus dilakukan untuk mendapatkan (acquiring) berbagai
keahlian (skills) yang diperlukan bagi setiap individu dalam segala aspek kehidupannya. Dan
khususnya bagi para siswa keterampilan belajar menjadi sangat penting ketika dihadapkan dalam
konteks realita dunia pendidikan ataupun dalam interaksi sosial.

Konsepsi long life education merupakan salah satu rujukan dan panduan utama dalam
konsep learning how to learn, dimana setiap individu diarahkan agar mampu menjadi seorang
autonomous learner (pembelajar mandiri) yang dapat mengarahkan dirinya (self directed
learning) dalam mempelajari berbagai keahlian dan keterampilan yang diperlukan baik untuk
keperluan belajar di jalur pendidikan formal (institutional learning), dalam kelompok
(collaborative learning) atau untuk dirinya sendiri di berbagai aspek kehidupan. Dalam
perspektif ini belajar merupakan self-seen-as-learner role yang merupakan komponen esensial
dalam learning how to learn (Brundage and MacKreacher, 1980: 35).

Sumber Pustaka:
Website:

1. Yuldan, Facebook, Keterampilan Belajar Sebuah Pemikiran. http://et-


ee.facebook.com/topic.php?uid=74062573842&topic=18492.
2. Drs. H. Saidi Susiono, M.Si, Kepala SMP Negeri 3 Binjai,
http://sensornasional.blogspot.com/2008/07/mengajar-anak-keterampilan-belajar.html
3. http://www.tempo.co.id/edunet/
4. http://cls.coe.utk.edu/
5. www.ballarat.edu.au/learning skills

Anda mungkin juga menyukai