Anda di halaman 1dari 5

[PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA]
 1

Penggunaan Tanda Hubung dan/atau Huruf Kapital:


S1 atau S-2

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/lulus‐kuliah‐s2‐atau‐
s‐2.html
1
Saya mengetikkan kata kunci ‘lulus kuliah’ pada mesin pencari
Google, walhasil ada sekitar 405,000 laman yang memuat kata
kunci tadi. Mungkina Anda (atau anda dengan huruf kecil),
bahkan saya pernah mendengar atau membaca saban perguruan
tinggi menggunakan dua kata ini; jalur skripsi dan jalur portofolio
(risalah/ makalah). Kebijakan ini pada awalnya dikeluarkan untuk
memberi kesempatan kepada mereka (mahasiswa) berkembang
sesuai dengan potensi yang mereka miliki, dengan tidak harus
terhambat oleh teman-teman sekelas yang memiliki kemampuan
biasa (menurut para pemberi kebijakan loh). Oleh karena itu,
kerap kita temukan bahwa ada mahasiswa lulus lebih cepat dari
waktu yang semestinya. Mahasiswa yang mengambil jalur skripsi
adalah mahasiswa yang mempunyai indeks prestasi baik,
sedangkan jalur risalah sebaliknya; kesimpulan ini masih bersifat
asersif.
Di atas hanyalah merupakan pembukaan saja, tidak lebih
dari itu. Kali ini, saya bukan membahas lulus kuliah tepat waktu
atau lulus kuliah dengan waktu tepat. Toh, sejatinya, menurut
hemat saya, bukankah sekolah ataupun kuliah itu sepanjang
hidup, dalam artian proses belajar dimulai sejak kita dilahirkan
sampai tidak bernyawa lagi (baca: liang kubur). Tapi saya ingin
mengulas kembali materi pelajaran yang saya dapatkan dari
laman Pusat Bahasa tentang huruf kapital dan tanda hubung. Dan
saya kira, masih ada hubungan dengan lulus kuliah di atas.
[PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA]
 3

Artikel di bawah ini adalah salinan dari laman Petunjuk Praktis


pada laman Pusat Bahasa daring;

S2 atau S-2?

Pengguna bahasa selama ini tampak tidak seragam dalam


menuliskan jenjang pendidikan strata dua dan strata tiga pada
program pascasarjana.

Di satu pihak, ada yang menuliskannya dengan singkatan S2 dan


S3 (tanpa tanda hubung), di pihak lain ada pula yang
menuliskannya dengan S-2 dan S-3 (dengan tanda hubung).

Manakah penulisan yang benar dengan atau tanpa tanda hubung?

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dijelaskan bahwa— sesuai


dengan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan—
tanda hubung mempunyai beberapa fungsi.

Salah satu fungsi tanda hubung itu adalah untuk merangkaikan


(a) se- dengan kata berikutnya yang diawali dengan huruf kapital,
misalnya se-Jakarta dan se-Indonesia;
(b) ke- dengan angka, misalnya ke-2, ke-I5, dan ke-25;
(c) angka dengan -an, misalnya 2000-an dan 5.000-an;

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/lulus‐kuliah‐s2‐atau‐
s‐2.html
3
(d) singkatan (huruf kapital) dengan imbuhan atau kata, misalnya
di-PHK, sinar-X, atau hari-H;
(e) nama jabatan rangkap, misalnya Menteri-Sekretaris Negara.

Dalam ketentuan (b) dan (c) tersebut tampak bahwa perangkaian


ke dengan angka dan angka dengan -an dilakukan dengan
menggunakan tanda hubung.

Hal itu menunjukkan bahwa perangkaian angka dengan unsur lain


yang tidak sejenis (bukan angka) dilakukan dengan tanda hubung.

Selain itu, pada ketentuan (d) tampak pula bahwa singkatan


berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata juga dirangkaikan
dengan tanda hubung. Hal itu mengindikasikan bahwa singkatan
berhuruf kapital jika dirangkaikan dengan unsur lain yang tidak
sejenis juga ditulis dengan menggunakan tanda hubung.

Sejalan dengan penjelasan tersebut, jenjang akademik strata dua


pada program pascasarjana— jika disingkat— lebih tepat ditulis
dengan menggunakan tanda hubung, yaitu S-2, bukan S2.

Huruf S pada singkatan itu merupakan singkatan berhuruf kapital


yang dirangkaikan dengan unsur lain (angka 2) yang tidak
sejenis. Angka 2 pada singkatan itu juga digabungkan dengan
unsur lain yang tidak sejenis, yaitu S.
[PANDUAN
PRAKTIS
BERBAHASA]
 5

Oleh karena itu, perangkaian kedua unsur yang tidak sejenis itu
lebih tepat menggunakan tanda hubung. Hal yang sama juga
berlaku bagi jenjang strata tiga, yang disingkat menjadi S-3,
bukan S3, dan strata satu, yang disingkat menjadi S-1, bukan S1.

Angka di belakang singkatan S itu tidak menyatakan jumlah


(seperti P4 = 4P). Dengan demikian, angka 1, 2, dan 3 pada S-l,
S-2, dan S-3 bukan berarti 1S, 2S, atau 3S, melainkan
menyatakan tingkat pertama, kedua, dan ketiga.

(Dikutip dari Petunjuk Praktis – Laman Pusat Bahasa)

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/lulus‐kuliah‐s2‐atau‐
s‐2.html
5