Anda di halaman 1dari 11

Panduan
Praktis
Berbahasa
1

Keklisean Berbahasa; sudah renyuk- busuk

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
1
klise /klisé/ n 1 gambar negatif pd film potret; 2 gambar yg agak
menonjol pd pelat (keping logam) cetak; 3 gagasan (ungkapan)
yg kuno dan terlalu sering dipakai; 4 ki tiruan;hasil meniru;
mengklise v meniru; menirukan: para pemain itu terbentur pd
keharusannya ~ sutradara;
keklisean v keadaan atau sifat klise; keadaan meniru begitu saja:
perlu diperhatikan ~ yg berasal dr bahasa asing yang merusak
bahasa kita

stereotip 1 a berbentuk tetap; berbentuk klise: pernyataan yg --;


2 n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan
prasangka yg subjektif dan tidak tepat

mencetak v 1 membuat tulisan atau gambar dr klise pd kertas


dng melumas klise itu dng tinta lalu ditekankan pd kertas;
mencap: ~ buku; 2 mencap (kain dsb); 3 membuat sesuatu dng
acuan; menuang logam (besi dsb) dl acuan; 4 mencapai
kemenangan dl (pertandingan); 5 memasukkan gol (dl sepak
bola); 6 mendapat (keuntungan dsb);
mencetakkan v 1 menyuruh cetak; mencetak sesuatu untuk; 2
menerbitkan buku dsb;
cetakan n 1 sesuatu yg dicetak; hasil mencetak; 2 penerbitan
(buku dsb); 3 acuan (kue dsb); 4 ki sesuatu yg sudah jadi;
bentukan;
pencetak n 1 orang yg pekerjaannya mencetak buku dsb; tukang
Panduan
Praktis
Berbahasa
3

cetak; 2 (orang, perusahaan) yg mencetak; 3 alat dsb untuk


mencetak;
pencetakan n perbuatan (hal dsb) mencetak;
percetakan n tempat (perusahaan) cetak- mencetak (buku dsb);
kantor cetak;
ketercetakan n kemudahan kertas untuk dicetak dengan baku
mutu yang tinggi dengan beloboran sekecil-kecilnya

kumal a renyuk dan kotor (pakaian dsb); berkerut-kerut (spt


kertas direnyuk); lusuh: bantalnya -- spt tempat duduk mobil yg
sudah tua;
mengumalkan v merenyukkan; menggumalkan

lusuh a 1 kumal; renyuk dan kotor (tt pakalan); 2 kabur; pudar;


tidak jelas lagi warnanya (tt pakalan, kain, dsb);
melusuh v menjadi lusuh;
melusuhkan v membuat menjadi lusuh;
kelusuhan n perihal lusuh

(1)luti a kumal, hampir lusuh (tt pakaian dsb);


meluti v mengumal, merenyuk-renyuk (kertas dsb)

remas, meremas v 1 mengepal-ngepal dan memerah-merah

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
3
(kelapa, adonan, dsb): ~ tepung; 2 memulas dan memerah (kain
basah dsb); memeras: ~ kain basah; 3 merenyukkan;
mengumalkan: ia ~ surat itu, lalu dibuangnya ke keranjang
sampah;
4 memijit-mijit; mengurut: ia ~ kakinya yg keram itu dng
tangannya; ~ bibir (mulut) menggasak; menghajar; ~ jantung
(perut) ki (membikin) sebal; mendongkol; marah dl hati;
peremas n 1 orang yg meremas; 2 alat untuk meremas

remoh /rémoh/ a kepang-kepot; renyuk

renyek a renyuk; kumal

(1)renyuk a kumal; berkerumuk: kertas yg telah --; merenyuk v


mengumalkan
(2)renyuk a rajuk; merenyuk v merajuk
(3)renyuk a sentak; rentak: dng -- ia berbangkit, dng cepat
(seakan-akan disentak) ia berbangkit; rasa dan pikiran yg lapang
longgar itu ditahan dng --, dng mendadak sontak;
merenyuk v lekas-lekas berdiri (krn marah dsb);
merenyukkan v 1 menyentak (merenggut, merengkuh) kuat-
kuat; 2 memberikan dng marah; 3 merenyuk;
serenyuk adv sesentakan (yg kuat lagi cepat): tiba-tiba angin
bertiup ~
Panduan
Praktis
Berbahasa
5

ronyok a renyuk; kumal; berkerut-kerut;


meronyok v mengumalkan (kertas dsb): sengaja dia ~ kertas-
kertas di laci saya itu

gumal a renyuk; berkerut-kerut (spt kertas direnyuk);


menggumalkan v merenyukkan

(1)kedut n lipatan pd kulit, kain, dsb; renyukrenyuk (pd kertas


dsb); kerut;
berkedut v berlipat-lipat (tidak halus); berkerut
(2)kedut v, mengedut v merenggut; merebut; mengambil dng
paksa
(3)kedut, kedutan v bergetarnya urat-urat pd kelopak mata dsb
(yg dianggap sbg alat); matanya ~

keruduk, berkeruduk a gumal; renyuk: kopiahnya yg sempit itu


~ menutup kepalanya;
mengerudukkan v merenyukkan: kertas ke dalam keranjang
sampah

bernas a 1 berisi penuh (tt butir padi, susu, bisul, dsb); bisulnya -
-, hampir pecah; 2 ki banyak isinya (tt pidato, petuah, ceramah,
dsb); 3 dapat dipercaya: janjinya selalu --

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
5
(1)bidal n peribahasa atau pepatah yg mengandung nasihat,
peringatan, sindiran, dsb
(2)bidal ark n sarung jari dr logam (dipakai sbg tudung ujung
jari)

dialektika /dialéktika/ n 1 peribahasa dan penalaran dng dialog


sbg cara untuk menyelidiki suatu masalah; 2 ajaran Hegel yg
menyatakan bahwa segala sesuatu yg terdapat di alam semesta itu
terjadi dr hasil pertentangan dua hal dan yg kemudian
bertentangan dng yg lain sehingga menimbulkan hal lain lagi

epigram /épigram/ n 1 syair atau ungkapan pendek yg


mengandung gagasan atau peristiwa dan yg diakhiri dng
pernyataan yg menarik yg biasanya merupakan sindiran; 2
peribahasa yg padat dan penuh kearifan dan sering mengandung
paradoks

(1)mamang a 1 kabur matanya (krn hendak pingsan dsb); 2


bingung; ketakutan
(2)mamang n nama tumbuhan, daunnya kadang-
kadang dibuat acar dan boleh dipakai untuk obat pening,
Gynandropsis
gynandra
(3)mamang n peribahasa yg mengandung nasihat
(4)ma.mang n 1 paman; pak kecil; 2 panggilan kpd laki-laki
Panduan
Praktis
Berbahasa
7

dewasa

sastra n 1 bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yg dipakai dl kitab-


kitab (bukan bahasa sehari-hari); 2 kesusastraan; 3 kitab suci
Hindu; kitab ilmu pengetahuan; 4 kl pustaka; primbon (berisi
ramalan, hitungan, dsb); 5 kl tulisan; huruf; -- rakyat kategori
sastra yg mencakupi lagu rakyat, balada, dongeng, ketoprak,
peribahasa, teka-teki, legenda (banyak yg termasuk tradisi lisan);
kesastraan n perihal sastra (maknanya lebih luas dp
kesusastraan)

ucap n kata (kalimat) yg dilisankan; ujar;


berucap v berkata: ayah pernah ~ akan membelikan kami
hadiah;
mengucapi ark v menyebutkan (memanggil) nama orang;
mengucapkan v 1 menyebutkan (kata atau perkataan yg sudah
tentu spt doa, semboyan, dan sumpah); 2 melisankan; melafalkan;
3 mengatakan; 4 menyatakan;
terucapkan v dapat dikatakan;
ucapan n 1 perkataan yg diucapkan (dilisankan, disebutkan);
ujar; 2 cara mengucapkan; 3 pernyataan; ~ bahasa ungkapan
(peribahasa);

ujar-ujar n nasihat, ajaran (dr nenek moyang); peribahasa;


pepatah;

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
7
perumpamaan n 1 cara berumpama; perbandingan; ibarat; 2
peribahasa yg berupa perbandingan;
seumpama n seandainya

adagium n pepatah; peribahasa: sebuah -- Latin berbunyi “Ubi


societas ibi justicia”, artinya di mana ada masyarakat dan
kehidupan di sana ada hukum (keadilan)

perbahasa n perkataan atau kalimat tertentu yg mengandung


maksud yg khas
(kiasan); perbahasaan; peribahasa;

surat anonim surat buta; surat kaleng;


anonim a tanpa nama; namanya tidak diketahui
anonimus a anonim

Rentetan kata di atas merupakan hasil pencarian saya pada


Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), PUSAT BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2008. Sebelumnya saya membaca artikel
yang berjudul “Ah, Klise” pada laman daring Majalah Tempo,
dengan datum 05 Desember 2005, ditulis oleh Hasif Amini.
Semoga penulisan kembali (oleh) saya ini tidak menjadi sebuah
keklisean di kemudian hari. Kalaupun ini bersifat klise, pastilah
(untuk) saya sendiri, tidak lebih dari itu.
Panduan
Praktis
Berbahasa
9

Ah, Klise

Berakit-rakit ke hulu. Air beriak. Ada udang. Badai pasti.


Tong kosong. Tak ada rotan. Tak ada gading. Habis manis.

Dalam wujud kalimat, sebuah klise gampang dikenali. Jika


separuh kalimat disebut, separuh sisanya langsung bisa ditebak.
Dalam wujud yang lebih ringkas— frase atau kata— seketikalah
ia tampak dalam keseluruhannya: unsur yang dimaksud untuk
mengesankan meski ternyata hanya membosankan. Sebuah klise
memang bisa memudahkan orang menyampaikan dan memahami
maksud, sekaligus seakan bergaya dengan ungkapan yang
berkuntum warna. Tetapi kuntum yang dipetik dan disuntingkan
itu sebetulnya sudah layu, tak punya lagi kesegaran dan
keharuman, bahkan mungkin sudah renyuk, dan busuk. Adapun
prinsip pemakai klise tetap saja: "Kalau bisa tinggal mencomot,
kenapa mesti repot mencari?"

Ya, apa salahnya menggunakan klise? Apa dosanya


membubuhkan (sebutlah) "semoga" di akhir risalah, menyisipkan
"bibirnya padat merekah" di kolom gosip, "laris manis" dalam
tinjauan buku, atau "selamat jalan..." di ujung obituari? Tentu—
salah dan dosa itu— banyak.

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
9
Salah satu yang terpenting: klise mengembangbiakkan
kemalasan dalam laku berpikir dan berbahasa, lalu melumpuhkan
dua kemampuan itu pelan-pelan. Penulis yang malas
merumuskan pikirannya dalam rangkaian kata yang segar dan
bernas, pembaca yang tak membiasakan diri menikmati daya
rangsang dan daya gugah bahasa, sesungguhnya tengah asyik
merayakan kebebalan. Hadirnya sebuah klise, yakni perulangan
sepotong ungkapan untuk kesekian ribu/juta kali, membuat
kemungkinan penciptaan melalui bahasa sejenak berhenti. Dan
jika yang sejenak itu demikian sering terjadi dalam sebuah
bahasa, maka para penggunanya niscaya terancam bahaya
kehilangan cara yang cerdas dan otentik untuk menyatakan diri.
Mereka jadi terlatih dan akan tangkas sekali meniru apa saja yang
umum berlaku.

Dalam paragraf pembuka di atas, penggalan sejumlah klise itu


hampir semua berasal dari khazanah peribahasa. Itu bukan
kebetulan. Peribahasa yang anonim (sebagaimana sastra yang
bertanda tangan) adalah pohon tempat berkembangnya bunga-
bunga kata yang cemerlang. Ia menyampaikan segugus gagasan
melalui kiasan. Tetapi kiasan, sesegar apa pun pada mulanya,
akan lapuk juga setelah begitu sering digunakan. Seperti halnya
sepatah kata akan terasa hilang makna dan tinggal bunyi jika
diujarkan berulang-ulang, demikian pun sebuah kalimat, pun
dalam bentuk tertulis. Riwayat sebuah klise adalah kisah
Panduan
Praktis
Berbahasa
11

perjalanan kata-kata menjadi aus akibat pemakaian terus-


menerus, kisah mekar hingga luruhnya segerumbul bunga
menjadi seonggok sampah yang perlu disapu segera.

Ah, tapi jangan-jangan kita tak bisa sepenuhnya


membebaskan diri dari klise— apalagi, misalnya, ketika berada
di bawah kuasa yang tak bisa diganggu gugat bernama tenggat.
Bahasa, bagaimanapun, terdiri atas pelbagai pengulangan
sejumlah besar unsur-unsurnya (di samping sederet panjang
variasi, tentu). Karena itu, barangkali ada baiknya kita tak berdiri
terlalu tegang menghadapi tebaran klise yang bagaikan virus flu
di sekitar kita. Seraya memperkuat kekebalan diri terhadap
serangannya, dengan banyak menghirup bahasa yang segar dari
karya-karya tulis terbaik dari segala penjuru, kita mungkin bisa
juga bermain-main dengan klise, bersikap sadar sekaligus ironis
di hadapannya. Dengan demikian, jika "buruk muka", cukuplah
"cermin dijual atau dihibahkan" saja. Sebab, seperti kata sebuah
klise, bukankah masing-masing orang dan setiap hal selalu punya
sisi lebih dan kurangnya sendiri-sendiri? Ingat saja, misalnya,
pesan pendek dari sebuah nomor tak dikenal ini (0815196xxxx):
"Cinta itu buta, tapi ternyata pintar juga memijit dan bermain
piano".
(Dikutip dari rubrik bahasa, Majalah Tempo Daring)

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/keklisean‐berbahasa‐
sudah‐renyuk‐busuk.html
11