Anda di halaman 1dari 9

Panduan
Praktis
Berbahasa
1

Penalaran Berbahasa atau Adat Berbahasa

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/penalaran‐
berbahasa‐atau‐adat‐berbahasa.html
1
Panduan
Praktis
Berbahasa
3

akibat n 1 sesuatu yg menjadi kesudahan (peristiwa, kejadian,


perbuatan, dsb): -- huru hara itu, banyak gedung pertokoan dan
perkantoran yg terbakar; 2 karena; sebab: -- kurang hati-hati, ia
jatuh; berakibat v ada akibatnya berakhir dng; berkesudahan:
membuang limbah pabrik sembarangan ~ tidak baik bagi
lingkungan dan kesehatan; mengakibatkan v menyebabkan
terjadinya suatu peristiwa atau keadaan: hujan lebat ~ banjir di
berbagai tempat; akibatnya n hasilnya; akhirnya; kesudahannya:
setiap perbuatan pasti ada ~

sebab 1 n hal yg menjadikan timbulnya sesuatu; lantaran; karena;


(asal) mula; mengapa; apa lantarannya; apa mulanya; 2 p oleh
krn; terjadi krn; sbg akibat; bersebab v ada sebabnya
(lantarannya): menyebabkan v 1 mendatangkan (menimbulkan,
menerbitkan) adanya suatu hal; menjadikan sebab; 2 memberi
(menjadi) lantaran; tersebab v disebabkan (oleh); terjadi krn: ~
oleh keadaan ibunya yg sedang sakit kritis serta tidak mempunyai
uang, ia menjadi perampok; penyebab n yg menyebabkan

(1)tegal kl p karena; sebab; alah bisa -- biasa, pb sesuatu menjadi


biasa, dan tidak terasa sukar lagi; pengalaman praktik lebih baik
dp teori; -- itulah krn itulah

Kata ‘akibat’, ‘sebab’, dan ‘tegal’ di atas, saya salin dari Kamus
Besar Bahasa Indonesia, PUSAT BAHASA DEPARTEMEN

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/penalaran‐
berbahasa‐atau‐adat‐berbahasa.html
3
PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA, 2008, merupakan buku
rujukan yang memuat khazanah kata bahasa Indonesia. Selain
kosakata umum bahasa Indonesia, kamus ini memuat berbagai
istilah dari bidang ilmu yang pasti akan sangat bermanfaat bagi
saya yang notabane adalah pembaca (teks) berbahasa Indonesia.

Karena saya suka membaca ‘Rubrik Bahasa’ Majalah Tempo


versi daring yang selalu terbit saban minggu itu, tentu saja saya
mengharapkan sesuatu yang baru tentang bagaimana berbahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan pedoman EYD.
Saya bukanlah ahli bahasa seperti penulis-penulis dalam rubrik
tersebut, saya hanya suka membaca. Saya ingin belajar dari
mereka dan saya kagum dengan penalaran mereka yang di atas
rata-rata itu.

Di bawah ini merupakan artikel yang membahas tentang


“Logika Berbahasa”, yang memiliki kata kunci sebagai berikut:
Awalan me-, patriarki— subyek kalimat yang mempunyai
makna ‘jantan’, rasa bahasa atau adat berbahasa, kata dasar, adat
kebiasaan, penalaran berbahasa, serta tata bahasa. Ini hanyalah
kesimpulan saya (masih bersifat asersif; bisa dibilang masih
amatiran) setelah membaca artikel tersebut. Toh, saat menulis
(baca: menyalin) kembali artikel di bawah ini, saya belum bisa
menganalisa ini-itu, karena pemahaman saya tentang filsafat
logika belum mumpuni. Coba ‘perhatikan’ artikel di bawah ini:
(Semoga masih bermanfaat)
Panduan
Praktis
Berbahasa
5

Datum, 28 November 2005


Judul artikel: Pelukis Merupakan Celeng
Ditulis oleh: Nirwan Dewanto
Sumber: Majalah Tempo Daring

Pelukis Merupakan Celeng

Datang pada penghujung sebuah pesta kecil ulang tahun,


seorang perempuan kulit putih berkata, "Maaf, saya terlambat
karena saya harus meniduri bayi saya." Saya tahu, sudah
bertahun-tahun ia berbahasa Indonesia.

Konon, bahasa kita adalah bahasa yang mudah. Juga bagi


penutur asing. Berlainan dengan bahasa-bahasa Barat, bahasa
Indonesia yang tak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan
kala peristiwa maupun jenis subyek adalah bahasa yang gampang
dipelajari dan diamalkan. Ternyata tidak sama sekali. Lihatlah,
misalnya, kiprah awalan "me-".

Mestinya si perempuan berucap "menidurkan", bukan


"meniduri". Pun ia harus tahu, kata yang terakhir ini berlumur
patriarki, yaitu bahwa subyek kalimat pastilah jantan.

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/penalaran‐
berbahasa‐atau‐adat‐berbahasa.html
5
Ia belum masuk benar ke rasa bahasa atau adat berbahasa,
meski mungkin ia menguasai tata bahasa. "Menidurkan" adalah
membuat si obyek (ter-)tidur. Tetapi "meniduri orang" sama
sekali tak mengandung kondisi tidur si subyek maupun si obyek.
Kata kerja yang terakhir ini tidak bisa berarti lain kecuali
menyetubuhi, mungkin sekali dengan kasar atau tak senonoh.
Itulah arti yang diberikan oleh lingkungan budaya, oleh adat
berbahasa, bukan oleh tata bahasa.

Demikian pula dengan, misalnya, "menggauli istri", yang


Anda sudah tahu artinya: menyetubuhi istri, siapa tahu kali ini
dengan sedikit sopan. Tak pernah ada "menggaulkan", meski
boleh-boleh saja kelak kita, dengan agak nakal, menggunakan—
atau mempergunakan?— kata itu untuk menunjuk bahwa si
obyek lebih giat daripada si subyek dalam melepaskan gairah
berahi.

Lihatlah bagaimana "me-" dalam "meniduri", "menyetubuhi",


"menggauli", dan "menggagahi" mengubah sama sekali arti yang
dikandung kata dasar. Betapa awalan ini memihak kaum jantan.

Namun sepak terjang "me-" ternyata lebih membingungkan


daripada yang kita duga selama ini.
Panduan
Praktis
Berbahasa
7

Ambillah "menguliti", misalnya, yang dalam pemakaian


umum kini hanya tunggal— arti, yaitu mengelupas kulit dari
tubuh. Semestinya ada arti kedua, paling tidak menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, yaitu memberi kulit kepada benda
tertentu, jok mobil misalnya tapi siapa lagikah yang masih
menggunakannya? Untuk yang kedua ini, saya kira
"mengulitkan" lebih tepat, namun saya belum pernah mendengar
atau membaca bentuk ini terpakai. Oh, kita terikat pada adat
berbahasa.

Pernah kepada seorang Indonesianis saya berkata bahwa


Amir Hamzah mengawali puisi modern Indonesia. Tetapi ia
menangkap "mengawali" sebagai "mengawal" atau "menjaga".
Maksud saya tentulah bahwa si penyair adalah sang pemula atau
perintis. Namun, dari segi tata bahasa (dan juga semantika),
jelaslah si ilmuwan asing tak keliru. Sebab, "mengawali"—
dengan kata dasar "kawal"— berarti juga "mengawasi". Tapi
mungkinkah penyair yang wafat pada 1946 itu mengawasi puisi
yang lahir setelah masanya?

Pun betapa ganjil bahwa pada akhirnya "merupakan" menjadi


sekadar sinonim "adalah". Namun, itulah kenyataannya. Kenapa
kata kerja itu tak lagi bisa berarti lain, misalnya "membuat rupa"
atau "membuat lebih berupa"? Maka, suatu hari saya menulis,
"Pelukis Djoko Pekik merupakan celeng." Lihatlah, saya sedang

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/penalaran‐
berbahasa‐atau‐adat‐berbahasa.html
7
mencoba bertindak kreatif sekaligus mengamalkan tata bahasa
baku. Tentulah maksud saya begini: si pelukis mengangkat
bentuk babi hutan ke kanvasnya sebagai sesindiran politik.
Sejenak kemudian saya ragu: mana yang benar "merupakan"
ataukah "merupai"? Yang pasti, si pelukis tak menyerupai babi
hutan.

Nah, bukankah "me-" kian pelik saja adanya? Bukan saya


yang membuatnya begitu, melainkan adat berbahasa. "Orang itu
baru saja meninggal" jelaslah keliru dari sudut tata bahasa, tapi
kita semua pastilah berkali-kali mengatakan kalimat seperti itu,
sebab kita yakin akan kebenaran— atau kebetulan?— yang
dikandungnya. Yang salah pun menjadi benar karena dilazimkan
oleh dan bagi semua orang. "Meninggal" adalah pemendekan
yang sewenang-wenang dari "meninggalkan dunia".

Seumur hidup saya, mungkin juga sepanjang sejarah


Indonesia, "mengakibatkan" selalu sama dengan "menyebabkan".
Bila arti dua kata itu adalah "membuat akibat" dan "membuat
sebab", sesungguhnya keduanya bertolak belakang. Bila kita
bersepakat dengan penjelasan ini, maka kita tak dapat lagi
berkata, misalnya, "hujan lebat semalaman menyebabkan banjir
di mana-mana" tetapi "banjir di mana-mana menyebabkan hujan
semalaman". Anda bingung? Kalau ya, Anda pasti berpegang
pada adat kebiasaan, bukan pada nalar, pada tata bahasa.
Panduan
Praktis
Berbahasa
9

(Dikutip dari rubrik bahasa, Majalah Tempo Daring)

http://babang‐juwanto.blogspot.com/2010/08/penalaran‐
berbahasa‐atau‐adat‐berbahasa.html
9