Anda di halaman 1dari 6

Gagal Ginjal Kronis

Posted on 23:09 No Comments


Label: Keperawatan/Nursing Tutorial
Menurut Wolf dan Weltzel, proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan
atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan, dan melaksanakan pelayanan
keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya
seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan,
terus menerus, saling berkaitan, dan dinamis. (Effendi, Nasrul. 1995 : 2)
Proses keperawatan tersebut dalam pelaksanaannya harus berkesinambungan,
karena proses keperawatan ini meliputi beberapa tahap yaitu :
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Data Biografi
Perlu dikaji umur, jenis kelamin, dan pekerjaan
2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien dengan CRF biasanya datang dengan keluhan nyeri pada pinggang, buang air
kecil sedikit, bengkak/edema pada ekstremitas, perut kembung, sesak.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Perlu dikaji riwayat pada perkemihan, riwayat penyakit ginjal sebelumnya, riwayat
menggunakan obat-obatan nefrotoksik, kebiasaan diet, nutrisi, riwayat tidak dapat
kencing, penggunaan hormon.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Perlu dikaji riwayat kesehatan keluarga yang dapat mempengaruhi timbulnya
penyakit CRF seperti hipertensi, diabetes mellitus, sistemik lupus eritematosa,
arthritis dan kanker.

3) Pola Aktivitas Sehari-hari


Pada klien CRF pola aktivitas sehari-hari meliputi pola makan sebelum sakit yang
sering dikonsumsi oleh klien yang merupakan faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya CRF seperti makanan yang tinggi natrium, kalium, kalsium sedangkan
pola makan selama sakit biasanya mengalami penurunan frekuensi dan porsi karena
klien mengalami mual. Pada klien dengan CRF harus dikaji kebiasaan minum yang
kurang dari kebutuhannya dan yang dapat memperberat penyakitnya seperti kopi,
teh dan alkohol, selama sakit biasanya intake dibatasi sesuai output. Eliminasi BAK
biasanya ditemukan BAK yang sedikit sampai ditemukan oliguri sedangkan BAB
biasanya tidak ada perubahan kecuali pada klien dengan penurunan aktivitas.
Sebelum sakit biasanya kebutuhan personal hygiene klien tidak ada perubahan
sedangkan selama sakit personal hygiene klien menjadi terganggu karena adanya
kelemahan.
4) Pemeriksaan Fisik
a) Sistem Pernafasan
Pada klien dengan CRF ditemukan adanya tachipnoe, pernafasan kusmaul, uremic,
halitosis, edema paru dan efusi pleura.
b) Sistem Kardiovaskuler
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya hipertensi, gagal jantung
kongestif, edema pulmoner, perikarditis.
c) Sistem Pencernaan
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya anoreksia, nausea, vomiting,
cegukan, rasa metalik tak sedap pada mulut, ulserasi gusi, perdarahan gusi/tidak,
nyeri ulu hati, distensi abdomen, konstipasi.
d) Sistem Genotiurinaria
Pada klien dengan CRF awal ditemukan adanya poliuri dan nokturi, selanjutnya
berkembang menjado oliguri dan anuri, terdapat proteinuria, hematuria, perubahan
warna urine (kuning pekat, merah, cokelat).
e) Sistem Muskuloskeletal
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan kelemahan otot, kejang otot, nyeri pada
tulang dan fraktur patologis.
f) Sistem Integumen
Penurunan turgor kulit, hiperpigmentasi, pruritis, echimosis, pucat.
g) Sistem Persyarafan
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan letargi, insomnia, nyeri kepala, tremor,
koma.
5) Data Psikososial
Klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya rasa takut, marah, cemas, perasaan
bersalah dan kesedihan. Respon emosional pada klien CRF mungkin disebabkan
karena perubahan body image takut akan terjadinya disfungsi seksual dan ketakutan
akan kematian.
6) Data Spiritual
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan ketidakmampuan beribadah seperti
biasa.
7) Data Penunjang
a) Laboratorium
(1) Urine
(a) Volume biasanya oliguri dan anuri
(b) Warna urine keruh, sedimen kotor atau kecokelatan
(c) Berat jenis menurun
(d) Osmolalitas menurun
(e) Klirens kreatinin menurun
(f) Natrium meningkat
(g) Protein meningkat
(2) Darah
(a) Serum kreatinin meningkat
(b) Blood urea nitrogen meningkat
(c) Kadar kalium meningkat
(d) Hematokrit menurun
(e) Hemoglobin menurun
(f) Natrium, kalsium menurun
(g) Magnesium/posfat meningkat
(h) Protein (khususnya albumin menurun)
(i) pH menurun
b) Pyelogram Retrograd menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter.
c) Arteriogram mengidentifikasi adanya massa
d) Ultrasonoginjal menentukan ukuran ginjal, adanya massa, obstruksi pada saluran
perkemihan bagian atas.
e) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam
basa.
b. Analisa
Analisa data merupakan proses berfikir yang meliputi kegiatan pengelompokkan
data dan menginterpretasikan kelompok data tersebut. Kemudian dibandingkan
dengan standar normal sehingga dapat menentukan masalah. Dalam menganalisa
data harus divalidasi kembali setelah itu dikelompokkan ke dalam data subjektif dan
objektif, kemudian diidentifikasi pada masalah dan penyebab.
c. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang jelas tentang masalah klien dan
penyebabnya. Selain itu harus spesifik berfokus pada kebutuhan klien dengan
mengutamakan prioritas dan diagnosa yang muncul harus dapat diatasi dengan
tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada
Gangguan Sistem Perkemihan : Gagal Ginjal Kronis ( CRF ) menurut Marilynn E.
Doenges, Barbara Engram, dan Brunner and Suddart adalah sebagai berikut :
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet
berlebih dan retensi cairan dan natrium.
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membran mukosa mulut.
3) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialisa.
5) Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,
perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
6) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial, dan
tahanan vaskular sistemik; ketidakseimbangan elektrolit; akumulasi toksin (urea)
7) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi
toksin dalam tubuh, edema/dehidrasi, penurunan aktivitas/mobilisasi
8) Risiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan,
sistem pendukung tidak adekuat

2. Perencanaan
Perencanaan adalah merupakan suatu proses kegiatan merencanakan asuhan
keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan klien dan mengatasi
masalah keperawatan. Pada perencanaan mengandung unsur promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif dengan melibatkan klien dan keluarga. Selain itu dalam
merencanakan suatu tindakan harus berorientasi pada tujuan dan sesuai dengan
etiologi. Sesuai dengan diagnosa yang dirumuskan diatas, maka dapat dirumuskan
pula tujuan dan intervensi keperawatan, yaitu :
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet
berlebih dan retensi cairan dan natrium.
Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.
Hasil yang diharapkan :
- Menunjukkan perubahan-perubahan berat badan badan yang lambat
- Mempertahankan pembatasan diet dan cairan
- Menunjukkan turgor kulit normal tanpa edema
- Menunjukkan tanda-tanda vita normal
- Menunjukkan tidak adanya distensi vena leher
- Melaporkan adanya kemudahan dalam bernafas atau tidak terjadi napas pendek
- Melakukan hygiene oral dengan sering
- Melaporkan penurunan rasa haus
- Melaporkan berkurangnya kekeringan pada membran mukosa mulut

2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,


mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membran mukosa mulut.
Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat

Hasil yang diharapkan :


- Mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi
- Memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam batasan diet
- Mengkonsumsi makanan tinggi kalori dalam batasan diet
- Mematuhi medikasi sesuai jadwal untuk mengatasi anoreksia dan tidak
menimbulkan rasa kenyang
- Menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatasan diet dan hubungannya
dengan kadar kreatinin dan urea
- Mengkonsulkan daftar makanan yang dapat diterima
- Melaporkan peningkatan nafsu makan
- Menunjukkan tidak adanya perlambatan atau penurunan berat badan yang cepat
- Menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin plasma dapat
diterima

3) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan.


Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang
bersangkutan
Hasil yang diharapkan :
- Menyatakan hubungan antara penyebab ginjal dan konsekuensinya
- Menjelaskan pembatasan cairan dan diet sehubungan dengan kegagalan regulasi
ginjal
- Menyatakan hubungan antara gagal ginjal dengan kebutuhan penanganan
menggunakan kata-kata sendiri
- Menanyakan tentang pilihan terapi, yang merupakan petunjuk kesiapan belajar
- Menyatakan rencana untuk melanjutkan kehidupan normalnya sedapat mungkin
- Menggunakan informasi dan instruksi tertulis untuk mengklarifikasi pertanyaan dan
mencari informasi tambahan
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialisa.
Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi
Hasil yang diharapkan :
- Berpartisipasi dalam meningkatkan tingkat aktivitas dan latihan
- Melaporkan peningkatan rasa sejahtera
- Melakukan istirahat dan aktivitas secara bergantian
- Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih

5) Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,


perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
Tujuan : Memperbaiki konsep diri
Hasil yang diharapkan :
- Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin
lagi digunakan akibat penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan obat-
obatan; penggunaan tenaga yang berlebihan)
- Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan
reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan
- Mencari konseling profesional, jika perlu, untuk menghadapi perubahan akibat
gagal ginjal
- Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual

6) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan


ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial, dan
tahanan vaskular sistemik; ketidakseimbangan elektrolit; akumulasi toksin (urea)
Tujuan : Mempertahankan curah jantung
Hasil yang diharapkan :
- Tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal
- Nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler

7) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi


toksin dalam tubuh, edema/dehidrasi, penurunan aktivitas/mobilisasi
Hasil yang diharapkan :
- Mempertahankan kulit utuh
- Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan /cedera kulit

8) Risiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan,


sistem pendukung tidak adekuat
Hasil yang diharapkan :
- Mendemonstrasikan keinginan untuk mengikuti program terapeutik perawatan di
rumah yang dianjurkan
- Mengungkapkan pemahaman tentang instruksi pulang, mendemonstrasikan
kemampuan untuk merawat sisi akses vaskuler

3. Pelaksanaan
Implementasi atau pelaksanaan merupakan perwujudan dari rencana yang sudah
dibuat sendiri dengan masing-masing diagnosa keperawatan, yang sesuai dengan
sarana dan prasarana yang ada. Perawat menerapkan keterampilan, sikap, dan
pengetahuannya sesuai dengan ilmu pengetahuan. Pelaksanaan dilaksanakan
sesuai dengan masalah yang muncul, dapat bersifat dependen maupun kolaboratif.
Adapun pelaksanaan harus memperhatikan :
a. Sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan.
b. Sesuai dengan prioritas tindakan.
c. Pencatatan ditulis dengan jelas, ringkas, istilah baik dan benar serta dengan
menggunakan kata kerja.
d. Mencantumkan paraf/nama jelas dan waktu pelaksanaan tindakan.

4. Evaluasi
Tahap Evaluasi atau tahap penilaian adalah perbandingan yang sistematis dan
terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dilakukan
dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan
lainnya. (Effendi, 1995 : 40)
Evaluasi dikategorikan sebagai formatif dan sumatif. Evaluasi formatif terjadi secara
periodik selama pemberian perawatan; sedangkan evaluasi sumatif terjadi pada
akhir aktivitas, seperti : di akhir penerimaan, pemulangan atau pemindahan ke
tempat lain, atau di akhir kerangka waktu tertentu, seperti di akhir sesi penyuluhan.
Untuk daftar pustaka tgl anda lihat adri mana kutipannya saya dapatkan.