Anda di halaman 1dari 4

JASADKU telah lama terbujur di sana.

Terkapar di atas aspai yang dingin dan sedikit becek


karena hujan tadi sore. Malam terasa kian lambat merangkak menjemput pagi. Gemerisik daun
dari pepohonan pinggir jalan seperti kumandang lirih di malam sepi, sekali-sekali dipadu suara
cengkerik yang tak bervariasi.

Sudah lewat tengah malam. Aku. Seorang diri melayang-layang dalam kepekatan. Sungguh
iba melihat jasadku yang kaku, tergeletak tepat di tengah jalan tanpa seorang pun tahu. Aku
bisa melihat kepalaku yang pecah dengan darah segar masih mengalir dari kedua lubang
telinga, tangan kanan yang melintang ke atas, mata yang setengah terbuka, dan juga senyum
menyeringai dari bibir yang pucat Betapa aku menjadi ngeri melihat wajahku serupa itu.
Kedukaan dan rasa nyeri seperti menyatu. Menjelma menjadi sebuah seringai yang
menyedihkan. Aku ingin sekali bisa menarik tubuh itu ke tepi jalan, agar tak terlalu lama
berkubang dalam darah yang mengental. Tapi, aku seperti tak kenal lagi grafitasi. Melayang-
layang bagai seorang astronot yang ingin berpijak di buian. Terasa mengawang dalam ruangan
kosong dan miskin suara.

Sedangkan kakiku tak lagi berpijak di bumi. Mengapa tak ada rnobil lain, atau paiing tidak
seseorang yang lewat menernui jasadku. Untuk kemudian membawanya ke tempat yang lebih
hangat dan nyaman daripada membiarkannya dalam kedinginan yang membekukan? apakah
memang mobil pick up yang telah menghantam tubuhku itu satu-satunya mobil yang
ditakdirkanNya untuk melalui jalan ini ?

Agaknya sia-sia bulan dan bintang bercengkerama mengirimkan cahaya, sementara tak se-
orang pun menampakkan diri untuk menyelamatkannya dari kedinginan yang menusuk
kalbu.

Serta-merta aku ingat Pojiah, istriku. Ingat sanggul kecil dan kebaya merahnya. Ingat Disan ,
dan Siti, buah hati kami berdua. Penyesalan pun tiba-tiba menyergap. Barangkali lebin
nyaman bila kutemani saja istri dan anak-anakku di rumah, daripada harus kutunggui
tubuhku yang bisu. Di sini, seolah-oiah aku menjadi boneka, dengan bibir yang terkatup sia-
sia. Aku jadi ingin menangis. Cuma air mataku tak ada. Ingin berteriak. Suaraku lenyap. Ingin
menggendong jasadku ke tempat yang hangat, tenaga seperti telah habis. Dan aku tak bisa
kembali. Tidak bisa lagi!

Lantas pertengkaranku dengan Pojiah seperti menjelma di hadapanku. Lolongan Pojiah yang
memaki-maki ketakmampuanku. Karena aku tak bisa lagi menambah biaya belanja setiap
bulannya. Beras yang sebelum tanggal dua puluh telah habis. Uang sekolah si Disan yang
tertunggak, lantas rengekan si bungsu yang minta dibelikan sepatu,

Benar-benar membuat kepalaku pening. Barangkali aku telah gagal menjadi kepala keluarga.
Entahlah. Aku cuma merasa begitu kecewa, mengapa Pojiah tak juga mau mengerti kesulitan-
kesulitanku. Aku kan cuma buruh kecil. Setiap hari menempuh perjalanan jauh dengan
berjalan kaki intuk mencapai pabrik,lantaran rumah gubukku terletak jauh dipelosok
kampong. Seyogyanya aku beristirahat dengan tenang begitu tiba dirumah. Tapi nyata-
nyatanya ledakan-ledakan amarah Poijah sudah menghadang lebih dulu. Dan itu
menghabiskan kesabaranku.

"Lebih baik pindah ke kota. Di sana banyak kerjaan. Segalanya bisa jadi uang"! Berondong
Pojiah waktu itu.
"Kau pikir semudah itu?"
"Tapi lihat di Genuk, Paimo, dan entah siapa lagi. Masih ingat'kan sewaktu mereka kembali
dulu? Pakaiannya bagus-bagus, kopornya besar-besar...."
"Kau juga jangan lupa dengan si Jito yang jadi gelandangan!"
"Pokoknya kita harus ke kota!" bentak Pojiah.
"Tidak!" suaraku tak kalah keras.
"Lantas kau mau apa sekarang? Beras sudah habis. Ayo! Mau kasih makan apa keluargamu?
Batu? Pasir?"
Beri aku kesempatan !.

"Dari dulu cuma bisa minta kesempatan. Mau memperbanyak hutang lagi? Mau membiarkan
saja si Disan diolok-olok teman- temannya gara-gara tunggakan uang sekolah?!"
"Pojiah!"

"Bosan aku!"
Brak! Tanganku menggebrak meja. Meja itu bergetar. Gelas yang ada di atasnya turut bergetar.
Mata Pojiah terbelalak. Bola matanya bersinar-sinar.

"Kau pikir aku ini pengangguran!" teriakku marah, dan bergegas keluar rumah sambil
membanting pintu.
Lamat-lamat kudengar tangisan Pojiah. Lalu suara si Siti yang keluar dari kamar. Aku
mencoba menarik napas. Tapi kepalaku sudah terlampau panas. Aku harus pergi
meninggalkan ramah ini. Harus kucari ketenangan itu di luar. Di malam yang pekat dan
dingin ini.

Maka kemudian kakiku melangkah menyusuri jalanan. Satu-satunya jalan kampung yang
telah beraspal. Arahnya menuju pabrik Lama aku menyusuri jalan itu, sambil mencoba
menyurutkan kemarahan. Sekali dua kali aku menyeberang. Kucoba merenungi pertengkaran-
pertengkaran itu. Kucari maknanya, kupilih jalan keluarnya. Tapi. Entah kenapa pada saat itu
aku sudah benar-benar kesai pada Pojiah. Dan lantas. Ketika aku hernial menyeberangi jalan
sekali lagi sambil mengumpat-umpat seorang diri, suara deru rnobil yang melaju kencang tiba-
tiba membelah malam. Aku tepat berada di tengah jalan, separuh menyeberang. Tak sempat
lagi untuk mengelak. Aku terpelanting ke udara, kemudian terjerembab ke aspal yang keras.
Jiwaku melompat keluar dari jasadnya, termangu-mangu menyadari bahwa mobil itu telah
kabur meninggalkanku sendirian. Jalanan suram dan sunyi.

Kini, entah sudah berapa lama aku melayang-layang di udara. "Menanti seseorang yang mau
perduli pada jasadku. Kuputuskan untuk menunggu hingga subuh nanti. Menunggu para
gadis kampung, yang kalau pagi biasa lewat jalan ini untuk mencuci dikali.

Malam terus merangkak, kokok ayam jantan mulai terdengar . Dari kejauhan ,tawa riang
gadis-gadis itu telah sampai. Dan aku menjadi begitu bahagia ketika mendengar pekikan
mereka. Seolah-olah baru kudapatkan seorang teman yang telah lama pergi. Salah seorang
dari mereka kulihat berlari kecil, kembali ke kampung. Sementara lainnya merubung jasadku
sambil berbisik-bisik. Wajah mereka penuh iba. Mata mereka memandang penuh kengerian.
Ada yang menutup wajahnya. Ada yang cuma hidungnya saja. Bahkan ada pula yang
matanya berkaca-kaca.

Tak lama penduduk kampung berlarian ke tempat kejadian. Berkumpul, berdesak-desak,


dan , kulihat Pojiah di antara mereka. Mukanya pucat. Matanya merah. Lalu tiba-tiba dia
memekik. Meronta. Menjambak-jambak rambutnya. Beberapa orang mencoba memegang
tangannya. Tanganku sendiri menggapai-gapai. Pojiah, Pojiah.... Dan di pinggir jalan, kulihat
Disan dan Siti berangkulan.

Jasadku kini telah mereka angkat Mereka naikkan ke atas pedati yang ditarik dua ekor kuda
; Pojiah masih juga meronta-ronta. Sementara jiwaku makin melayang-layang. Makin ke atas
dan entah terus ke mana. Dari jauh kupanggil-panggil Disan dan Siti yang tengah
sesenggukan. Tapi mereka tak mendengar, barangkali tuli, atau mungkin tak perduli.
Entahlah. Tanganku 'pun melambai-lambai……….

End

Demikian adanya perasaan seseorang sa'at jiwa meninggalkan jasadnya„ Mati.


Mati jasad bukan berarti mati juga jiwanya. (J.H)

Cerpen Winny G. Wardani

Kiriman Sdr J.Hong (Alm.)


Jln.Nakula 73 bandung 40173
8 Sept.1987