Anda di halaman 1dari 7

CELOTEH PEMBUKA BULETIN

BONGKAR
Salam Perjuangan!!
Fata sua haben labelli;
setiap upaya punya cerita
di baliknya. Begitu halnya
buletin BONGKAR ini.
Gelisah & resah yang
mendera segelintir kami,
SULUH KAOEM MOEDA INDONESIA
segera membuncah EDISI PERDANA, 17 MEI 2010
menjadi SADAR akan
MERDEKA. Dengan
menggamit ungkapan; INSAN CITA “MENGGUGAT” ZAMAN
verba valent scripta
manent, maka hadirlah ke Oleh : Muna Ayusta Ningrum
hadapan pembaca
sekalian goresan-goresan
kecil tapi bermakna dari In statuta, mahasiswa seakan memiliki
kami sebuah altar dengan privilege tersendiri di antara strukturasi sosial
nama; BONGKAR yang ada. Betapa tidak, mereka (baca:
mahasiswa) acap kali dianggap sebagai agent of
Bagi kami, jika menulis itu social change dan lain sebagainya. Kiprah mereka
identik dengan selalu dinanti oleh masyarakat.
Tidak tanggung-tanggung, Mereka lebih ngeh memajang
“membongkar” terhadap
bahkan setiap pendulum sejarah adrenalinnya dalam berbusana bak
segala bentuk penindas- yang terjadi di negeri ini pun selalu parade selibritis. Mereka pun
an & ketidakadilan, maka disumbu oleh perjuangan tanpa sungkan bergonta-ganti
bahasa perlawanan adalah mahasiswa. Era 1908, 1925, 1928, mode demi memuaskan hasrat
jenis “kelamin” yang kami 1945, 1965, 1974, 1978, dan 1998 untuk dianggap modis, gaul dan
anut. Sebab, berkata-kata adalah sebuah altar (baca: panggung) necis, tetapi mengosongkan “isi
saja tak akan memadai dimana mahasiswa memainkan kepala” mereka layaknya keledai
dan akan segera hilang, peran-peran strategis bagi terjadinya yang dungu. Mereka pun amat
tapi menulis pasti abadi! perubahan yang dicita. “rakus” seperti babi dalam
Lebih-lebih menulis untuk Era dimana Tan Malaka, mengejar kenikmatan sesaat serta
melawan! Soekarno, Hatta, Syahrir, Soe Hok Gie, semu. Mereka serba instan dan
Ahmad Wahib dan lain-lainnya hidup teramat absurd dari realita. Itulah
serta berjuang tentu saja sudah fenomena hedonisme dan
Maka, kepada mereka
berakhir. Namun, tidak sepantasnya konsumerisme yang tengah
yang masih memper- jika era kekinian mahasiswa menjangkiti sendi kehidupan
TUHAN-kan kebenaran & menyembulkan noktah-noktah kelam mahasiswa yang permisif saat ini.
keadilan; yang mengingkari spirit generasi Parahnya lagi, saat gejala
Kepada mereka yang terdahulu. aktivisme merasuk ke dalam alam
masih sadar bahwa kita Kini, mahasiswa kerap terjerem- pikir mereka, idealism bukanlah
masih terjajah; bab pada hedonisme, konsumerisme, menjadi dasar tiap-tiap gerakan
Kepada mereka yang dan bahkan pragmatisme yang yang mereka lakukan. Mereka
masih meyakini dalam sengaja dipajang oleh antek-antek sering “bergerak-juang” mengatas-
hati & jiwanya, bahwa; kapitalisme global. Mahasiswa namakan rakyat, tapi (pada
penindasan & sekarang lebih senang dianggap kenyataannya) semata-mata untuk
modis, gaul dan necis. bersenggama pada kekuasaan.
ketidakadilan harus
dilawan.
RUBRIK BONGKAR EDISI PERDANA
Kepada merekalah buletin OPINI 1) Muna Ayusta, 2) Agung el-Pasha. RESENSI IM Singodimedjo.
BONGKAR ini terhadirkan. PUSAKA (Puisi Sastra Kita) Atick Hinata el-Khoss. RUANG PUBLIK oleh
Selamat Membaca!! Pimred. TESTIMONI oleh PU
Maka, mencari jaringan saja. Menjadi modis, gaul dan necis Sikap ”mengamini” terhadap
(mobiltas vertical) secara pribadi bukanlah kesalahan, asal dibarengi realitas ini, tentu merupakan
segera menjadi “TUHAN” bagi dengan upaya-upaya ”penyadaran” sikap ahistoris bagi kiprah dan
gerakan yang mereka ejawantah. dari pihak-pihak terkait, demi perjalanan panjang sejarah
Layaknya binatang pengerat terciptanya sebuah kehidupan gerakan (baca: perjuangan)
berwujud Tikus; serta binatang kemahasiswaan yang dinamis. Rasa mahasiswa. Akan tetapi,
penjilat berwatak Anjing; sikap emoh dan ogah-ogahan terhadap menghadirkan kembali; spirit
mereka yang penuh syahwat organisasi kemahasiswaan yang Insan Cita dalam relung
menjadi hamba (baca: budak) cenderung pragmatis, pun harus kesadaran mahasiswa juga
bagi tahta (kekuasaan) itu, tentu diretas dengan cara membuka bukan sebuah kerja (ikhtiar)
saja telah mengotori misi suci ”katup” selebar-lebarnya yang yang gampang untuk dilakukan.
(sacred mission) pergerakan selama ini sengaja dibungkam secara Pada konteks inilah maka,
mahasiswa. Lantas, upaya saling sistemik. Organisasi kemahasiswaan gugatan terhadap zaman pantas
sikut dan saling sikat terhadap yang ada dan telah dikenal selama dikedepankan. Mereka (baca:
sesama elemen gerakan ini amatlah mandul, sehingga tak mahasiswa) sudah seharusnya
mahasiswa yang penuh parodi mampu melahirkan benih-benih diperkenalkan pada spirit Insan
serta dibumbui oleh intrik nan yang kelak akan melahirkan Cita sejak mereka memasuki
busuk, pun segera menjadi perubahan yang dicita oleh semua bangku perkuliahan, agar
tontonan. Pragmatisme inilah pihak. anugerah (terbesar) itu tidak
yang telah menggelayuti hampir kian terlupakan.
di setiap level elemen gerakan Spirit Insan Cita; Anugerah yang Karena itu, titik awal untuk
mahasiswa, baik itu gerakan Terlupakan? menjadi ”mahasiswa sejati”
yang ber-locus ekstra universiter Pasca tumbangnya Rezim haruslah dimulai dengan
maupun intra universiter. Soeharto pada 1998 lampau, mengenal dan memahami makna
Sungguh ironis! gerakan mahasiswa seakan dari; ”INSAN CITA”. Maka,
Kendati demikian, bukanlah kehilangan arah (disoreintasi) dalam menjadi mahasiswa berarti
berarti bahwa; segurat asa bagi setiap jengkal gerakan dan menjadi ”INSAN CITA”, yakni;
membuncahnya sebuah gerakan perjuangannya. Penyebab utamanya manusia merdeka yang
moral (moral force) yang adalah; hilangnya spirit Insan Cita senantiasa mengejawantah
dipelopori mahasiswa menjadi dari relung kesadaran kaum terdidik pikiran dan tindakannya atas
sirna lan ilang kerta ing bumi, (baca: mahasiswa) itu. dasar nilai-nilai kebenaran
alias raib begitu saja. Sebab, Mereka gamang pada semangat universal yang idealis. Tanpa ini
harapan pasti masih ada. Entah zaman yang tak tentu arah. Di antara (baca: Spirit INSAN CITA) jangan
itu esok, lusa atau nanti. tuntutan (baca: pilihan) untuk harap perubahan akan muncul.
Apatisme serta sikap skeptis memenuhi pelbagai asa orang tua, Akhirnya, dengan menukil
jelas bukan katarsis yang solutif. keluarga dan juga masyarakat yang pepatah Latin; tempora mutantur
Impian demi menjadi harus mereka ejawantah selepas et nos mutamur illis; ”waktu itu
”mahasiswa sejati” tentu menjadi kuliah; dengan idealisme pribadi terus bergulir, dan kita manusia
niscaya adanya. Ekspektasi ini yang selalu mereka pikul, mereka (baca: mahasiswa) pun ikut
haruslah dibarengi dengan pun semakin limbung dengan berubah di dalamnya, menjadi
ikhtiar yang maksimal. Cara yang pilihan-pilihan tersebut. Lambat keniscayaan yang tak dapat
ditempuh adalah dengan laun tapi (hampir) pasti, mereka ditawar. Bukankah manusia
mengurai ”benang kusut” makin melupakan spirit Insan Cita (baca: mahasiswa) itu dikutuk
pelbagai problematika yang dalam setiap nafas kehidupannya untuk selalu berubah dan
menggelayuti dinamika dunia sebagai kaum terdidik. Akhirnya beranjak ke arah yang lebih baik?
mahasiwa. Sebab, mereka tidak Insan Cita pun sirna lan ilang kerta (Penulis adalah Koresponden
pantas untuk disalahkan begitu.. ing bumi. Buletin BONGKAR)

UNGKAPAN BIJAK
Anugerah paling berharga yang diturunkan Tuhan ke dunia adalah
pemoeda-pemoeda pemberontak. Sebab, jangan-jangan, karena itu
Tuhan menjadi ”ada” di dunia.
(Awang K. Aditya, 1998)
ANTARA NALAR PROFETIK DAN AGAMA SEBAGAI CANDU
(Sebuah Refleksi Terhadap Religiusitas Mahasiswa Era Kekinian)
Oleh : Agung el-Pasha
dan bertanggung jawab terhadap setiap
Banyak mahasiswa menjadikan agama yang telah dikerjakan. Sebagai contoh
sebagai candu hidup. Agama hanya sampai ketika seorang pelajar terkena suatu
pada tahap memuaskan diri dan lupa akan kasus hukum, maka orang tuanyalah
tanggung jawab terhadap masyarakat. Padahal yang secara langsung ikut bertanggung
peduli terhadap masyarakat luas adalah tugas jawab terhadap perilaku anaknya.
utama manusia sebagai representasi Tuhan Namun setelah mahasiswa maka semua
(baca: khalifah fil ardhi) di muka bumi. Akankah menjadi tanggung jawab masing-
makhluk yang mencandukan agama layak untuk masing.
mendapatkan ganjaran atau malah akan Bicara tentang mahasiswa religius,
mendapat siksa yang pedih? Ini harus kita tentunya akan banyak pandangan yang
telisik secara elegan, kritis dan komprehensif. berbeda. Katakanlah saat bicara
Membatasi kehidupan dengan “mengamal- tentang Islam, maka akan terkait
kan ajaran agama Tuhan” (katanya), merupakan langsung dengan berbagai macam hal,.
sebuah keharusan yang dipeluk oleh umat yang karena pada dasarnya tidak ada satupun ini karena yang kaya semakin kaya, dan
yang miskin semakin miskin. Sebab,
yang kaya semakin berpotensi untuk
“masuk” surga karena mereka
berkesempatan untuk memikirkan ritual
ibadahnya agar lebih baik. Sedang yang
miskin peluang ke surga semakin
terkubur, karena mereka hanya sempat
untuk mencari makan. Lantas, inikah
arti religius yang kita damba dan kita
cari?
Kegelisahan demi kegelisahan
menghantui para pemeluk agama, serta
juga para pengamat agama. Ini
disebabkan oleh tereduksinya agama
menjadi kumpulan sampah sabda yang
tidak membumi dan meresap di jiwa
manusia. Yang akhirnya membuat
taat pada ajaran Nabi. Begitu pula yang dianut manusia yang mampu menafsirkan manusia “kering” akan pesan-pesan
mahasiswa. Tetapi persoalannya, agama Islam yang sebenarnya itu seperti apa? agama.
kemudian dibengkokkan sedemikian rupa Banyak masyarakat kita yang terlalu Beragama ataupun penghayat-an
sehingga menjadi “alat pembunuh” yang paling sibuk dengan dirinya sendiri sehingga keagamaan bukanlah sesuatu yang harus
efektif demi merampas harta dan hak orang sering melupakan ranah kehidupan dihindari, tetapi malah merupakan
lain. sosial, dan lebih sering terlibat dalam keniscayaan setiap orang yang meyakini
Adakalanya mereka memakai agama sebagai perdebatan fiqh yang tidak ada adanya tuhan. Akan tetapi, saya haqqul
hiasan jiwa-jiwa yang busuk penuh dengan gunanya. yaqin, bahwa tuhan pasti Maha Tahu
kebohongan dan kepalsuan. Adakalanya juga Dalam hidupnya mereka selalu dengan kepalsuan-kepalsuan yang
mereka memakai jubah agama untuk menutupi terlibat dalam forum diskusi dalam senantiasa terjulur dari lidah para
dosanya. Ada juga yang memakai agama masjid kampus, dengan tujuan yang pendo’a yang mendusta agamanya.
sebagai alat pengeruk kekayaan, bahkan sering sedikit banyak mengandung egoisme Akhirnya, dengan menyitir kata-
melampaui batas kepemilikannya. Yang paling semata karena tidak lain hanya kata bijak yang pernah diungkap
mengheran-kan, ada juga perilakunya yang bertujuan meningkatkan ibadah Feurbach; requiem eternam deo; “biarlah
seperti ular yang mengibas-ngibaskan ekor ritualitas semata, yang akhirnya tuhan beristirahat dalam kedamaian
agamanya hanya untuk menarik perhatian bermuara pada surga. abadi”. Maka, jangan sekali-kali
lawan jenisnya. Tanpa peduli dengan pesan Inikah yang dinamakan mengatasnamakan Tuhan untuk
tersurat agama yang penuh kesucian. mahasiswa religius? Kalau iya, maka mengisi perutmu dan memenuhi hasrat
Fenomena mahasiswa yang mengakui bersiaplah menuai kehancuran negeri seksualmu. Wallahu a’lam
dirinya tidak paham soal agama, kemudian
mereka membebek begitu. Inilah sebuah potret SELAMAT ATAS TERBITNYA
singkat pilihan hidup manusia beragama. EDISI PERDANA BULETIN BONGKAR
Pertanyaannya, apakah hal ini merupakan
tujuan Tuhan menurunkan agamanya.
SEMOGA SUKSES SELALU
Kehidupan mahasiswa tidaklah sama Dto
dengan kehidupan sebelumnya yaitu pada ranah PENGURUS KOMISARIAT
pelajar. Mahasiswa senantiasa telah diberi
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
kebebasan untuk menentukan langkahnya -
INSAN CITA TULUNGAGUNG
RESENSI
(Merajut Ma’rifah Menjelajah Cakrawala)
KETIKA MARX MENJADI “GURU”
BAGI PERJUANGAN KELAS
Dalam banyak hal, Oleh : IM Singodimedjo
Karl Marx lebih dipersoni- JUDUL BUKU : Metode Pendidikan Marxis- Sosialis
fikasikan sebagai tokoh PENULIS : Nurani Soyomukti
ekonomi-politik serta pejuang PENERBIT : AR-Ruzz Media, Yogyakata
kaum buruh. Selama ini, TERBIT : Desember 2008
kajian-kajian ilmiah hanya TEBAL : 316 Halaman
menyoroti teori sejarah per- Institusi pendidikan hari ini
tentangan kelas antara kaum borjuis
tidak jauh beda dengan pasar.
dan proletar” yang merupakan titik
Bedanya, kalau pasar menjual bahan
pijak pemikiran Marx. Jarang kita
sembako domistik dan kebutuhan
menjumpai diskursus yang
rumah tangga yang lain, sementara
menyandingkan pemikiran Marx
perguruan tinggi menjual jasa
dengan dunia pendidikan.
pendidikan. Mulai dari tenaga pengajar
Padahal, sebagaimana
(Dosen), mata kuliah (SKS), sampai
diungkap dalam buku ”Metode
fasilitas-fasilitas kampus yang serba
Pendidikan Marxis- Sosialis” ini, Karl counter part atas pendidikan
glamur dan seper canggih. Kampus
Marx bukan hanya pemikir ekonomi- “kapitalisme” yang selama ini
akan melakukan apa saja, termasuk
politik, tapi juga seorang pemikir menjadi ideologi sistem pendidikan
memper-“solek” lingkungan demi
pendidikan kenamaan. Bahkan, internasional.
merekrut peserta didik sebanyak-
menurut Nurani Soyomukti, penulis Ideologi pendidikan yang
banyaknya. Karena, semakin banyak
karya ini, Marx adalah pelopor dan digagas marx adalah bentuk gugatan
kuantitas peserta didik, semakin besar
peletak teori pendidikan kritis dan atas merasuknya budaya kapitalisme
penghasilan kampus.
pembebasan, bukan Paulo Freire dan pragmatisme dalam tubuh
Secara historis, benih-benih
sebagaimana diyakini banyak pendidikan. Hal ini bisa dipahami,
kapiatalisme dan pragmatisme
kalangan. karena Marx adalah satu-satunya
pendidikan di Indonesia sudah
Dalam konteks pendidikan, pemikir besar yang mengidealkan
menyeruak pada zaman Soeharto
Marx meramalkan “basis dari gerak tumbangya budaya kapitalisme
(Orde Baru). Ketika itu, yang menjadi
sejarah sistem pendidikan dunia dimuka bumi ini.
panglima (ideologi) pendidikan adalah
ditentukan oleh basis kapital Dalam kacamata pendidikan
“pembangunan” (developmentalisme).
(ekonomi)”. Teori ini disebut dengan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan
Pertumbuhan pembangunan dikejar
“diteminisme ekonomi”. Tampaknya, (ideologi) pendidikan itu adalah
habis-habisan tanpa memedulikan
ramalan Marx itu memiliki makna membangun karakter (character
aspek kemanusiaan. Tak pelak,
relevansi dalam dunia pendidikan, building) manusia yang tercerahkan;
Identitas lembaga pendidikan pun
khususnya di Indonesia. Buktinya, suatu kondisi mental yang
sebagai media memanusiakan manusia
regulasi kebijakan pendidikan dibutuhkan untuk membangun suatu
dan penjaga gawang terakhir atas
pemerintah, dalam hal ini Undang- masyarakat yang berkarakter
munculnya kaum-kaum terdidik dan
Undang Badan Hukum Pendidikan (UU progresif, egaliter, demokratis,
bermoral terpasung.
BHP), tidak lain merupakan berkeadilan dan berpihak terhadap
Pragmatisme pendidikan
penjelmaan penselingkuhan antara kaum-kaum tertindas (the
adalah malapetaka besar bagi masa
dunia pendidikan dengan kepentingan oppressed).
depan kemanusiaan. Jelas, kalau pola
kapital. UU BHP membuka akses Dus, bagi siapa pun yang
pikir pragmatisme menghinggapi anak
selebar-lebarnya atas bercokolnya memiliki jiwa-jiwa pejuang, demi
didik, bisa dipastikan anak didik tidak
praktek kapitalisme (komersialisasi) tegaknya keadilan dalam dunia
munkin lagi peka terhadap bobroknya
ditubuh pendidikan. pendidikan, maka buku ini layak
realitas kebangsaan, apalagi berjuang
Lembaga pendidikan saat ini untuk dibaca. Wallahu a’lam.
dan melakukan advokasi terhadap
sudah tidak lagi menjadi media
pemberdayaan kaum-kaum marjinal
transformasi nilai dan instrumen
(tertindas). Sebaliknya, yang ada dalam
memanusiakan manusia (humanisasi)
benak anak didik hanyalah bagaimana
melainkan menjadi “lahan basah” bagi
anak didik cepat mendapatkan gelar
antek-antek kapitalis demi mengeruk
sarjana dan memperoleh profesi yang
keuntungan finansial sebanyak-
bergengsi. Sebuah ironi ditengan
sebanyaknya. Status birokrat kampus,
bobroknya realitas kebangsaan di
Rektor dan staf-stafnya, tidak ubahnya
berbagai level.
investor yang hanya memikirkan
Buku ini berusaha menggagas
bagaimana kampus mendapatkan laba
dan menjabarkan metode pendidikan
sebesar-besar dari peserta didik.
berbasis Marxis-Sosialis yang menjadi
PUSAKA
Puisi Sastra Kita

Menghisap sebatang lisong Sajak Sebatang Lisong


Melihat Indonesia Raya
Mendengar 130 juta rakyat,
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang
Protes-protes yang terpendam
Berak di atas kepala mereka Terhimpit di bawah tilam
Matahari terbit, fajar tiba,
Aku bertanya, tetapi pertanyaanku;
Dan aku melihat delapan juta kanak-
Membentur jidat penyair-penyair salon yang
kanak. Tanpa pendidikan bersajak tentang anggur dan rembulan
Aku bertanya.
Sementara ketidakadilan terjadi di
Tapi pertanyaan-pertanyaanku
sampingnya
Membentur meja kekuasaan Dan delapan juta kanak-kanak tanpa
yang macet. Dan papan-papan tulis para pendidikan
pendidik yang terlepas dari persoalan
Termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
kehidupan.
Bunga-bunga bangsa tahun depan.
Delapan juta kanak-kanak Berkunang-kunang pandang matanya.
Menghadapi satu jalan panjang
Di bawah iklan berlampu neon
Tanpa pilihan. Tanpa pepohonan
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
Tanpa dangau persinggahan,
Menjadi gemalau suara yang kacau
Tanpa ada bayangan ujungnya…
Menjadi karang di bawah muka samodra
Menghisap udara yang disemprot
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus
deodorant. Aku melihat sarjana-sarjana asing
menganggur berpeluh di jalan raya; Aku Diktat-diktat hanya boleh memberi metode
melihat wanita bunting. Antri uang Tetapi kita sendiri mesti merumuskan
pensiun.
keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Dan di langit, para teknokrat berkata; Keluar ke desa-desa
Bahwa bangsa kita adalah malas. Mencatat sendiri semua gejala
Bahwa bangsa mesti dibangun.
Dan menghayati persoalan yang nyata
Bahwa bangsa mesti di-up grade.
Disesuaikan dengan teknologi yang
Inilah sajakku
diimpor. Pamflet masa darurat
Apakah artinya kesenian
Gunung-gunung menjulang
bila terpisah dari derita lingkungan
Langit pesta warna di dalam senjakala.
Apakah artinya berfikir
Dan aku melihat;
bila terpisah dari masalah kehidupan

Sajak dari ”Si Burung Merak” ini (WS Rendra, 19 Agustus 1977)
kembali dinukil oleh Atick Hinata
el-Khoss.

Bagi kawan-kawan yang demen dengan dunia sastra (puisi, cerpen, karikatur dll) dan ingin
mempublikasikan kreativitasnya, silakan mengirimkan hasil karya tersebut ke buletin BONGKAR
(Dewan Redaksi)
RUANG PUBLIK OLEH FITROH MAHWA AL-KATIRI

Assalamu’kum wr.wb Mbak, saya udah beberapa itu bukanlah semata-mata kewajiban, tapi juga
tahun ini kuliah, tapi saya bingung mo masuk sebuah bentuk dari kesadaran diri sebagai makhluk.
organisasi apa? Menurut mbak, organisasi itu Bukankah Tuhan telah memberi Anugerah yang luar
penting nggak? (Fahmi Sahab, Smt IV STKIP biasa untuk manusia yaitu berupa NURANI? Nah,
Tulungagung, 085736888XXX) dari situ kamu pasti akan digerakkan atau
diarahkan untuk berbuat kebajikan dan peduli
BONGKAR: Ya pentinglah de’, Kamu pasti ingat, terhadap sesama. Jadi, solusinya ada pada diri Teja
bahwa bangsa ini tidak akan berdiri kalau tidak ada sendiri. Cobalah untuk peka dan peduli tehadap
organisasi, tepatnya Organisasi Pemoeda, Semua NURANI Teja. Sebab, yang pasti NURANI selalu

SMS/TELEPON DI 08983458113. ATAU HUBUNGI VIA


DAN KONSULTASI, SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA
organisasi mahasiswa itu baik. Tapi menurut menyeru untuk berbuat kebajikan dan peduli

BAGI KAWAN –KAWAN YANG INGIN SHARING


sepengetahuan saya, organisasi mahasiswa yang terhadap sesama. Masalah Teja yang cuma peduli
baik itu adalah organisasi yang mengusung spirit dengan diri sendiri .. kita kembalikan aja pada diri
insan cita. Kalo ada kesempatan, bergabunglah kita sendiri, kita hidup di dunia tidak sendiri kita
dengan mereka. masih butuh orang lain, matipun kita masih butuh
orang lain utuk mengurus pemakaman dan masih
Sebelumnya saya ingin ucapakan selamat atas banyak lagi selain itu, jadi kenapa kita harus
terbitnya bulletin Bongkar edisi Perdana. Klo boleh tanggung-tanggung apabila ingin berbuat kebajikan
tahu, dari mana ide awal ditebitkanya buletin ini?

EMAIL fitrohmahwa@gmail.com
dan menolong sesama. Gimana Teja yang baik budi?
Sebab, saya lihat bulletin Bongkar ini kreatif banget.
(Sofyan Setiawan, Smt IV, STIKES Kediri, Selamat ya buat BONGKAR atas edisi perdananya.
085648818XXX) Btw, Aku mo tanya, menurut BONGKAR gimana sih
jadi perempuan ideal yang gak bertentangan
BONGKAR: Trimakasih ya atas ucapan selamat dari dengan Islam, tapi tetap mengikuti pekembagan
saudara Sofyan Setiawan, Buletin Bongkar ini zaman? (Sofa Marwah Ustina Verawati, Smt II,
berawal dari kegelisahan dan keresahan kami. STKIP Trenggalek, 081234887XXX)
Kebetulan kami sering “olah fikir” alias diskusi
dengan beberapa teman. Lantas keadaan itu kian BONGKAR: Trimaksih ya de’ Sofa atas ucapan
membuncah di dalam relung kesadaran kami. selamatnya, Gini lho, perempuan ideal itu dapat
Dengan secuil keberanian yang kami miliki, kami pun dikatagorikan sebagai perempuan yang sempurna
segera mengupas segala persoalan sosial yang ada baik fisik ataupun hatinya. Tapi apa perlu kita
di sekitar kita melalui buletin ini. Ekspektasi kami, mengejar kesempurnan yang terlalu menggebu-
semoga buletin Bongkar ini dapat bermanfaat. Dan gebu, yang kadang-kala hal itu malah bisa bikin kita
suatu kebanggaan yang luar biasa apabila kami gak nyaman? Menurut kami, perempuan ideal itu
dinilai kreatif, dan itu bisa jadi semangat bagi kami adalah perempuan yang mampu memposisikan
untuk ke depan. Makasih… dirinya dan keinginannya dengan seimbang, baik hak
maupun kewajiban secara kodrat maupun gender.
Assalamu’kum wr.wb. BONGKAR ada gak ya solusi Jadi Ideal itu bisa dicapai bila kita bisa
buat aku yang sering malas melakukan suatu menempatkan posisi sebagai wanita Anugrah Tuhan
kebajikan dan bahkan aku jarang memperdulikan yang paling sexy dan elegant hatinya. Barangkali klo
orang. Aku cuma peduli dengan diriku, gimana? de’ Sofa punya waktu dan kesempatan, kita dapat
(Teja Kusuma Pradani, Smt VI, Unisba Blitar, membincang masalah-masalah keperempuan
085736448XXX) secara komprehensif dan holistik. Mungkin kajian
yang tengah berjalan di secretariat kami, dapat
BONGKAR: Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Wah, kok Teja membantu de’ Sofa secara diskursif tentang
jadi curhat gini sama Bongkar? hehehehe … Tapi masalah keperempuanan. Gimana, bisa gabung toh?
gpp kok. Teja yang baik budi… melakukan kebajikan (Dewan Redaksi)
OLEH : ANAM KHOIRUL AZAM

Pemimpin telah mati di negeri ini. rakat yang mempunyai taraf kemakmuran
Penindasan terhadap kaum mustad’afin telah ekonomi yang berkecukupan; masyarakat yang
merajalela di negeri ini. Masayarakat buruh mempunyai kebebasan dalam menikmati segala
dan tani telah menjadi obyek ketidakadilan hasil alam bumi ini; serta hidup bebas tanpa
itu. Kaum pemodal serta kaum aristokrat korupsi, kolusi dan nepotisme; masyarakat yang
telah menginjak-injak kepala masyarakat merdeka dari hantu bernama ”kleptokratis” yang
tani dan buruh. Lantas, mana keadilan di bertopeng manipulasi. Sebuah wujud; ”Indonesia
negeri ini yang setiap saat didengungkan tanpa kepalsuan.”
oleh para penegak keadilan. Melihat realitas ”Wahai saudaraku, saatnya kita bangkit dan
itu, sudah saatnya kaum kaum muda melawan terhadap mereka yang menindas rakyat
intelektual negeri ini bangkit dan melawan Indonesia. Yakinlah, penindas pasti binasa!”
terhadap penindasan yang dilakukan oleh ”Tiada kejayaan negara di muka bumi ini
mereka yang tak mempunyai hati nurani tanpa (pengorbanan) darah dan air mata. Itu
tersebut. Negeri ini harus diselamatkan! adalah sebuah keniscayaan yang harus ada demi
Demi masayarakat adil dan makmur; masya- terwujudnya kedamaian dan keadilan.”

SUSUNAN REDAKSI BULETIN BONGKAR


Pimpinan Umum : Anam Khoirul Azam
Pimpinan Redaksi : Fitroh Mahwa al-Katiri
Redaktur Ahli : Saivoel Hang Tuah, Agung el-Pasha, Awang Aditya, IM Singodimedjo, Musa de la Moses
Sekretaris Redaksi : Atick Hinata el-Khoss
Manajer Pemasaran : Alfa Robbi del Castro
Manajer Keuangan : Uswatun Hasanah
Manajer Pemberitaan : Zainal Arifin
Manajer Artistik : Luckman el-Hakim
Wartawan : Hindun el-Mujahidah, Arif el-Sirodj, Aries K. Ozora, Mega Bintang
Koresponden : Ayusta Ningrum, Isti Merdekawati
Diterbitkan oleh : IC Press 2010