Anda di halaman 1dari 10

Album Photo ABC – Ahmad Salman Al-Farisi

gembok dulu, baru tawakkal..............

Dalam foto ini: Mang Acil (foto | Hapus tanda), Kuat Subarjo (foto | Hapus tanda ), Tina Daryani (foto | Hapus
tanda), Marsudi Fitro Wibowo (foto | Hapus tanda), Muhammad Yayat Ruhiyat (foto | ), Tina Kristiningrum (foto | Hapus
tanda ), Ahmad Salman Al-Farisi (foto | Hapus tanda ), Sri Setyasih (Hapus tanda), Yeni Susanti Wibowo (foto | Hapus
tanda ), Ika Herawati (foto | Hapus tanda ), Trio Harnoto (foto | Hapus tanda ), Tri Prayitno (foto | Hapus tanda ), Yayah
Rochayah (foto | Hapus tanda ), Asep Nurdin Arranirie (foto | Hapus tanda ), Ustadz-Pink Al- Koetai (foto | Hapus tanda
), Zhein Almutaqien (foto | Hapus tanda ), ELin Nami Abdi Teh (foto | Hapus tanda ), Hilmi Zaidan(foto | Hapus
tanda ), Beny Iben (foto | Hapus tanda ), Firman Juliansyah (foto | Hapus tanda ), Indah Yuliningrum (foto | Hapus
tanda ), Euis Ratna Komara (foto | Hapus tanda ), Jendral Ahmad Jayani(foto | Hapus tanda ), Susi Amatul
Qudus (Hapus tanda ), Imam Badrutamam (foto | Hapus tanda ),Hadian Fitriadi (foto | Hapus tanda ), Im-Im
Risma (foto | Hapus tanda ), Silmi Dzakiyyah Imutzz (foto | Hapus tanda ), Thobary Syadzily ‫( ألبنتني‬foto | Hapus tanda
), Hanie Afiati Syihab (foto | Hapus tanda ), Salma Maziyyah Munawaroh (foto | Hapus tanda ), Zen Hasbi
Mubarok (foto | Hapus tanda )
Ditambahkan pada 03 Juli 2010· Komentari · Suka

Tri Prayitno, Jendral Ahmad Jayani, Imam Badrutamam dan 3 lainnyamenyukai ini.

Marsudi Fitro Wibowo Siip, hehehe....


Kebayang ga kalo kuda/keledai/unta di gembok kakinya...???! :-)
Tawakal saja, dijamin ngamuk...Kwkwkwkw
04 Juli jam 13:32 · Suka · Hapus

o Ahmad Salman Al-Farisi ‎.


ha ha ha :D......., te baleG pa ustadmah.....!
lain Cokorna nu dicangcang atuuuuuuuuh.........,
tp taLI kekangnya yg disankutkan atw dikaitken kana halikuBter tuluy
bawa ngapung..................... gk gk gk gk......
.
04 Juli jam 13:39 · Suka · Hapus
Yeni Susanti Wibowo naonna nu di gembok teh pak ustadz.. abdi
kirang ngartos ???

04 Juli jam 19:58 · Suka · Hapus

Ahmad Salman Al-Farisi ‎.


panto gerbang Teh...........! maenya cokor onta nu di gembok!
wk wk wk wk.......

ieu ana aya di tempatna si Om Abdul Hakim,


mangga Teh Yen, siapken cai haneut, salman rek mawa sajen ker pa
Ustad Bowo. .........
.
04 Juli jam 20:02 · Suka · Hapus

Yeni Susanti Wibowo waahhh can ge diwaleur.. Eeh simkuring srg


mas Bowo tos kasumpingan tamu special ti Tamansari.. Pak Ustadz
Salman hehehe.. :-) Bagea sobat..
04 Juli jam 20:33 · Suka · Hapus

Ahmad Salman Al-Farisi ‎.


hatur thank kiyu kana teh tubrukna......; meni pass pait-amis-na;
ma'nyUs.......!
.
04 Juli jam 23:34 · Suka ·

Marsudi Fitro Wibowo Sami2, nuhun oge uwis mampir ka rorompok


Sim Uiiing plus sasajenna hehehe :-)

Menurut al-Ghazali, Tawakal wazan-nya tafa`ul, dari asal kata


wikâlah, artinya perwakilan. Orang yang bertawakal (mutawakkil)
kepada seseorang, berarti menganggapnya sebagai wakil dalam
segala urusan dan menjamin memperbaiki dirinya. Karena sudah ada
wakil, maka muwakkil (yang mewakilkan) tidak perlu turut
mengerjakan, tidak bimbang dan tidak dipaksakan. Jadi, tawakal
berarti mempercayakan (mewakilkan, menyerahkan) atau
menyadarkan kepada Allah. (Al-Ghazâliy, Minhâj al-`Âbidîn, hlm. 104)

Ini berarti tawakal adalah mengharapkan segala sesuatu hanya


kepada Allah bukan kepada siapapun. Dan jika seseorang telah
menyadari hal itu, menyandarkan segalanya hanya kepada Allah, serta
memutuskan harapannya kepada orang lain, berarti ia benar-benar
tawakal kepada Allah.

"...dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu


benar-benar orang yang beriman." (QS Al-Mâ„idah‎[5]‎:‎23)

"...dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu,


berserah diri." (QS Ibrâhîm [14] : 12)

"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan


mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan yang (dikehendaki)Nya..." (QS Al-Thalâq [65] : 3)

"...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal


kepada-Nya." (QS Âli `Imrân [3] : 159)

Ayat-ayat ini ditafsirkan oleh Al-Ghazâliy sebagai‎berikut,‎“Betapa‎


agung kedudukan orang yang mendapatkan cinta Allah, yang
menggantungkan dirinya pada karunia Allah. Allah akan memberikan
kecukupan, cinta, dan perhatian padanya. Ia telah mendapatkan
keuntungan yang agung, karena orang yang dicintai Allah tidak akan
disiksa, tidak dijauhi Allah, dan tidak ada penghalang antara dirinya
dengan‎Allah.”‎(Al-Ghazâliy,‎Ihyâ„‎`Ulûm‎al-Din, vol 4, hlm. 208.).

Wallahu A'lam.
05 Juli jam 0:07 · Tidak Suka · ♥ 2 orang · Hapus

Ahmad Salman Al-Farisi ‎.


makaciiiih Mas Bowo atas share ilmunya......, semoga bermanfaat
khususnya buat Salman, Mas Bowo & Teh Yeni, umumnya kepada
siapa saja yang baca.

smoga Qita smua mendapatkan petunjuk dan kekuatan untuk


mengamalkannya saat ini dan hari esok....... Amiiin.
04 Juli jam 23:34 · Suka · Hapus

Marsudi Fitro Wibowo


Afwan, Allohumma Amiiin... :-)
05 Juli jam 0:50 · Suka · Hapus

Im-Im Risma Alah gening ustad hungkul. . . Hatr nuhun ku elmuna.


......
05 Juli jam 5:58 · Suka ·

Imam Badrutamam ‎* Milarian gembok anu merekna sami dareng


dina foto weleh teu mendak. Kenging timana eta gembok teh. Bade
pesen ah.
* Eta anu digembok teh naon nya? Rupina mah sabangsaning panto
pager. Wios lah naon wae oge, nu penting mah sanes cokor sabangsa
onta.
* Biasanya (Campur Melayu nya) yang digembok itu kebanyakan
sabangsaning pintu (kecuali pintu hati). Tujuannya untuk menjaga
harta agar tidak ada yang mencuri (takut rizkinya lepas lagi). Juga
agar tidak mengganggu ketenangan yang punya rumah kalau yang
dikuncinya pintu pagar rumah waktu siang hari.
* Pesan yang ingin disampaikan Oleh foto ini sepertinya begini : Inilah
yang namanya Tawakkal (This is Tawakkal) bukan sebaliknya
membiarkan pintu terbuka sebagaimana pendapat sebagian orang,
malah bukan tidak mungkin komentar Mas Bowo diatas juga (..
Karena sudah ada wakil, maka muwakkil (yang mewakilkan) tidak
perlu turut mengerjakan,..) ditafsirkan seperti itu.
* Kata kebanyakan ulama aqidah, Tawakkal itu adalah amalan
hati/bathin bukan amalan dzohir perbuatan. Siapa yang tahu hati
orang kecuali Alloh dan dirinya sendiri? Apakah orang memasang
gembok seperti itu bisa diartikan Tawakkal? Belum tentu.Bisa tawakkal
bisa tidak. Malah bisa disangka orang pelit, cap jahe, meregehese.
Ulama Aqidah malah mengartikan tawakal lebih specifik lagi ke urusan
Rizki. Urusan selain rizki dinamakan Tafwidh. Tawakkal adalah hati
percaya dan yakin bahwa Alloh yang menanggung rizki, tidak ada satu
makhlukpun yang tidak diberi rizki oleh Alloh, sebagaimana firman
Alloh dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 6. Tafwidh ialah berserah diri
kepada Alloh dalam segala urusan, bukan hanya dalam urusan rizki
saja.
Adapun bekerja cari rizki, menggembok pintu, mengerjakan
administrasi pembukuan dll itu urusan amalan anggota tubuh,
motivasi dan dasar hukumnya berbeda. Bisa tawakkal bisa tidak,
tergantung hatinya. Orang yang tawakkal hatinya yakin bahwa Alloh
yang menanggung rizki, adapun cari nafkah diniatkan sebagai
melaksanakan kewajiban yang disyariatkan oleh Alloh berdasarkan
ilmu syariat. Dan ketika bekerja tidak lupa kepada Alloh, tidak lupa
kepada perintah dan larangan Alloh. Ketika sibuk bekerja tiba waktu
sholat fardu maka segera pergi sholat. Kalaupun karena sesuatu hal
tidak bisa sholat diawal waktu bisa jama'. Atau kalau dipabrik ada
mesin yang kalau distop bisa berbahaya, maka bergantian dengan
teman sehingga melepas fadilah sholat diawal waktu ada alasannya.
Misal lagi ketika sedang ngaji/tholab ilmu, di pesantren misalnya, yang
dimulai ba'da maghrib, ketika datang waktu Isya bisa melepaskan
fadilah sholat diawal waktu untuk mengejar tholab ilmu yang fardlu
ain.
* Bilih aya anu lepat mangga lereskeun.
05 Juli jam 8:39 · Suka · ♥ 2 orang

Muhammad Yayat Ruhiyat berapa harganya ? lumayan buat


gembok syetan............
05 Juli jam 9:37 · Suka · Hapus

Marsudi Fitro Wibowo @ Pak Imam: Sepakat. :-)


Ya, sepakat Pak, seperti apa yg dikatakan oleh al-Qusyairi dlm al-
Risalahnya bahwa tempat tawakal itu dalam hati. Gerakan yang
dilakukan dengan anggota lahir tidak akan meniadakan tawakal yg
dilakukan dengan anggota hati. Lebih-lebih seorang hamba yang
menyatakan bahwa ketentuan hidup semata-mata dari Allah SWT.
Apabila ada sesuatu yang sulit, maka itu karena ketentuan-Nya.
Apabila sesuatu itu relevan, maka itu karena kemudahan-Nya. Adapun
faktor kondisi spiritual yang menjadi pendorong (al-nâsyi„)‎
pengetahuan tentang tawakal adalah perasaan akan kergantungan
kalbu kepada Allah dan perasaan tentram karena adanya Allah, juga
tidak bergemingnya kalbu karena penyandraannya kepada Allah.
Kewajiban hamba yang telah mengetahui definisi dan kondisi spiritual
(hâl) tawakkal tidak lain adalah menahan diri dari berbagai jalan yang
dilarang oleh Allah (al-mahzhûrat). (Abû al-Qâsim `Abd al-Karîm ibn
Hawâzin al-Qusyayriy, al-Risalah al-Qusyairiyah, hlm. 227)

Dalam maqâm al-Tawakkul ini di dalam Minhâj-nya, Al-Ghazâliy


membagi tiga macam bagian yakni :
a). Tawakal mengenai nasib (al-qismah). Yakni percaya kepada Allah.
Sebab, takdir yang telah ditentukan oleh Allah buat kita tidak akan
salah, dan pasti akan kita terima, karena keputusan Allah tidak
berubah, karena yang sudah digariskan Allah dalam lawh al-mahfûdz
buat kita, pasti benar;
b). Tawakal dalam hal pertolongan Allah (al-nashrah). Misalnya, kita
sedang berperang, dan Allah telah menjanjikan pertolongan bagi kita.
Maka hal itu pasti terjadi dan benar. Jadi, dalam berjuang, kita harus
percaya adanya pertolongan Allah. Atau dengan kata lain, jika kita
berjuang benar-benar untuk Allah, maka pasti Allah menolong kita.
Hal itu sesuai dengan janji Allah:
"Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya.”‎(QS‎Âli‎`Imrân‎[3]‎:‎159)
c). Tawakal dalam hal rezeki dan kebutuhan (al-rizq wa al-hâjah). Hal
ini karena Allah SWT. telah menjamin hamba-Nya dengan bekal yang
mencukupi guna beribadah kepada Allah SWT. Dan berkat jaminan ini,
pasti kita dapat menjalankan ibadah.
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya...." (QS Al-Thalâq [65] : 3). (Al-
Ghazâliy, Minhâj al-`Âbidîn, hlm. 104).

Dengan demikian bahwa tawakal adalah salah satu sifat manusia yang
beriman dan ikhlas. Bahkan tawakal adalah salah satu tanda orang-
orang bijaksana, yakni berserah diri hanya kepada Allah SWT.
05 Juli jam 15:33 · Suka · Hapus
Imam Badrutamam Alhamdulillah, komentar saya disepakati mas
Bowo. Dan ilmu saya ditambahi oleh mas Bowo. Jazakalloh. Barokalloh
fikum.
06 Juli jam 6:52 · Tidak Suka · ♥ 1 orang ·

Marsudi Fitro Wibowo atur nuhun sami2 Pak Imam... :-)

Adapun di dalam Ihyâ-nya Al-Ghazâliy memberikan derajat atau


tingkatan (maqâm) tawakal terbagi dalam tiga jenis, yakni :
a). Derajat pertama, yaitu keyakinan seseorang akan tanggungan dan
pemeliharaan Allah sama dengan keyakinannya terhadap tangan
kanannya (baca : orang kepercayaannya);
b). Derajat kedua, yaitu derajat yang lebih tinggi dan derajat pertama.
Memposisikan diri di hadapan Allah seperti posisi seorang bayi di
hadapan ibunya. Bayi ini tidak tahu orang lain selain ibunya, tidak
mengeluh selain kepada ibunya, dan tidak bergantung kepada selain
ibunya. Barangsiapa hati, pandangan, dan ketergantungannya (pada
Allah) sama dengan ketergantungan bayi kepada ibunya, maka Allah
akan memperlakukannya seperti bayi di hadapan ibunya. Inilah cara
tawakal yang hakiki;
Apa perbedaan tawakal derajat kedua dengan pertama? Orang pada
derajat kedua hatinya tidak memperhatikan tawakal dan hakikat
tawakal. Yang ditujunya adalah Dzat yang menjadi tempat ia
bergantung dan berserah diri. Dalam hatinya tidak ada yang lain selain
Dzat yang menjadi tempat bergantung. Orang pada derajat pertama
bertawakal sambil bekerja keras. Ia tidak menyatu dalam Dzat yang
menjadi tempat berserah diri. Ia tetap melakukan upaya yang
membuatnya lupa pada Dzat yang menjadi tempat berserah diri.
c). Derajat ketiga, yaitu yang tertinggi; memposisikan di hadapan
Allah ibarat posisi mayit di hadapan orang yang memandikannya.
Hanya saja, berbeda dengan mayit, ia tahu dirinya adalah sebongkah
mayit yang digerakkan oleh kekuasaan azâliy sebagaimana tangan
pemandi menggenakkan mayit. Derajat ini meniscayakan seseorang
untuk‎„meninggalkan‟‎doa‎dan‎menghentikan‎sikap‎meminta-minta
pada Allah, karena ia percaya kemurahan Allah akan memberinya rezki
meski tanpa diminta. Karena Allah secara dasar lebih suka memberi
tanpa dimintai. Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepada
seorang hamba sebelum hamba tersebut meminta dan berdoa
kepada-Nya. Derajat kedua tidak mengharuskan seseorang
meninggalkan doa kepada Allah. Orang pada derajat kedua hanya
dituntut untuk tidak meminta kepada selain Allah. (Al-Ghazâliy,‎Ihyâ„‎
`Ulûm al-Dîn, ditahqiq oleh Shudqiy Muhammad Jamîl al-`Ath-thâr,
(Beyrut: Dâr al-Fikr, 2003), vol. 4, hlm. 223).

Berdasarkan pada uraian di atas, orang pada derajat tawakal yang


pertama tetap melakukan usaha. Sementana orang pada derajat
kedua tidak melakukan upaya, tetapi ia tetap berdoa dan meminta
kepada Allah. Orang pada derajat ketiga, selain tidak melakukan
usaha, ia juga tidak meminta dan tidak berdoa kepada Allah. Derajat
ini adalah yang tertinggi. Akan Tetapi menurut Al-Ghazâliy—tersebut
di atas—ajaran Islam menyuruh kita berserah diri pada Allah, tetapi
tetap melakukan usaha dan kerja.

Allah Ta`ala berfirman :


"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung." (QS Al-Jumu`at [62] : 10.
06 Juli jam 12:04 · Suka · Hapus

Jendral Ahmad Jayani Syri'at dan Haqikat..... Insya Allah Sunnah


Waljama'ah......... nuhun Syeikh........
06 Juli jam 20:00 · Suka · Hapus
Ahmad Salman Al-Farisi
aduuuuuuuuuu......,
hampunten abdi nembe hadir......,
kumargi sampean pabeulit sareng cokor onta.

@ Im-Im Risma
saur saha ustad hungkul...........????
itu aya Ibu UStadzah Yeni Susanti

@ Bapak Imam Badrutamam


justru eta....., salman pun sedang mencari gembok tersebut,
harganya memang murah, tapi....
yang jadi masalah gembok itu dibawa kabur onta.....,
ontana nu mahalmah...... he3

Untuk kesekian kalina Salman ucapkan terima kasih,


Umumnya kepada para pembaca,
khususnya kepada Bapak Imam Badrutamam, Mas Bowo & Teh Yeni,
Im-Im, Muhammad Yayat Ruhiyat, dan BapaK Jenderal.
yang telah bersedia 'rurumpahen' 'mengunjungi' gambar "gembok
dulu, baru tawakkal...... "
dan tidak segan-segan untuk memberikan petuah tentang TAWAKKaL

hanya satu kata! "TAWAKKAL"


tapi penjabarannnya lebih dari satu kata;
mengamalkkannnnyaaaa................?
bukan perkara yang mudah!

semoga Kita semua diberikan petunjuk dan kekuatan untuk slalu


mengamalkan TAWAKKAL dalam hati dan mengamalkannya dalam
segala perbuatan Kita termasuk Ucapan Kita..... Amiiin

@ MAs Bowo
BeNul eta teh Cuy.......!
sapamadegan...... !
bahkan............, kita yang tiada di'ada'kan dengan tujuan,
".....siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya......" (Al-Mulk: 2)

@ Muhammad Yayat.
panga0snamah mirah, HANYA dua puluh juta-an....
beli gembok dapat bonus Onta......,
lumayaaan atuuuuh kulitna Om, sakalian bisa ngangkat nama kota
garut:
nu tadina kota Dodol jadi Kota Dorokdok Onta

@ Bapak Jenderal.
MERDEKA.....!
.
06 Juli jam 21:47 · Suka · Hapus

Thobary Syadzily ‫تعلق القدرة بالحادث المقدور ألبنتني‬


19 Juli jam 12:34 · Suka · Hapus

Marsudi Fitro Wibowo Asma wash shifat...?


Ana belum faham, katanya qudrah ada dua ta'alluq & mana yg
berubah dan tidak antara maqdur dan qudrah..?
20 Juli jam 0:38 · Suka · Hapus
Imam Badrutamam Barangkali ini yang dimaksud :
Ta'alluq Qudlrot Qobdloh kedua (tingkat keempat dari Ta'alluq Marotib
Sifat Qudlrot), yaitu Qudlrotillah yang digunakan untuk menggenggam
(menetapkan) sesuatu dalam keberadaannya, setelah diproses oleh
Tanjizi Hadits pertama. Dan keberadaan sesuatu itu tidak lepas dari
genggaman Alloh (Qudlrotillah).
Qobdloh kedua dalam proses manusia adalah keberadaan manusia
didunia (hidupnya), dan merupakan tempat ujian untuk menentukan
nasibnya di qobdloh ketiga dan keempat.
Firman Alloh yang ada hubungannya dengan rizki adalah firman Alloh
dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqoroh ayat 245 :
Allohu yaqbidlu wa yabsuthu wa ilaihi turja'uun. (ma'af tulisan
'Arabnya lagi error).
Artinya : Dan Alloh menyempitkan dan melapangkan rizki , dan
kepada-Nya kamu dikembalikan.
20 Juli jam 10:43 · Suka · ♥ 1 orang · Hapus

Imam Badrutamam Makna Ar-Razzaq menurut M.Quraish Shihab


dalam buku "Menyingkap Tabir Ilahi, Asma Al-Husna Dalam perspektif
al-Qur'an :
Ar-Razzaq Maha Pemberi Rizki.
Kata Ar-Razzak, terambil dari akar kata "Razaqo" atau "Rizq" yakni
rezeki, yang pada mulanya - sebagaimana ditulis oleh pakar bahasa
'Arab Ibnu Faris- berarti "pemberian untuk waktu tertentu". Disini
terlihat perbedaannya dengan "alhibah" dan disini pula dapat difahami
perbedaan antara "Ar-Razzaq" dan "Al-Wahhaab". Namun demikian
arti asal ini berkembang, sehingga rezeki antara lain diartikan sebagai
pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan dan lain-lain, bahkan
sedemikian luas dan berkembang pengertiannya sehingga "anugrah
kenabian" pun dinamai rezeki. Nabi Syuaib yang berkata kepada
kaumnya, "Wahai kaumku bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai
bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya
rezeki yang baik? (yakni kenabian)". Q.s.Hud 11 : 88)...(bersambung)
21 Juli jam 12:07 · Suka · ♥ 2 orang · Hapus

Imam Badrutamam Lanjut 1 Arrozzaaq:


Dalam Al-Qur'an kata Arrozzaaq hanya ditemukan sekali, yakni pada
Q.s. Az-Zariyat 51 : 58, tapi bertebaran ayat-ayat yang menggunakan
akar kata ini, yang menunjuk kepada Alloh SWT.
Arrozzaaq adalah Alloh yang berulang-ulang dan banyak sekali
memberi rezeki kepada makhluk-makhluk-Nya. Imam Ghozali ketika
menjelaskan arti Arrazzaaq menulis bahwa, "Dia yang menciptakan
rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang
mengantarnya kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab
sehingga mereka dapat menikmatinya".
Rezeki oleh sementara pakar hanya dibatasi pada pemberian yang
bersifat halal, sehingga yang haram tidak dinamai rezeki. Tetapi
pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama dan karena itulah - Alqur'an
dalam beberapa ayat menggunakan istilah "rizqan hasanan" (rezeki
yang baik), untuk mengisyaratkan bahwa ada rezeki yang "ridak baik"
yakni yang haram. Berdasar keterangan diatas , dapat dirumuskan
bahwa "rezeki" adalah "segala pemberian yang dapat dimanfa'atkan,
baik material maupun spiritual".
...bersambung.
22 Juli jam 1:27 · Tidak Suka · ♥ 1 orang · Hapus

Ahmad Salman Al-Farisi:


Ooohhh...., seperti nyerempet perkataan orang Arab:
‫خير مالك ما نفعك‬
"Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu."
Hatur Nuhun ka Bapak Imam Bandrutamam atas share ilmunya,
mangga urang bandungan kalanjutanna......,
tapi ingat! tidak cukup dengan hanya membacanya....,
karena ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon yg tak berbuah.
.
22 Juli jam 11:55 · Suka · Hapus

Imam Badrutamam ‎@Cep Salman : Punten urang lajengkeun


seratan Pak Quraish Shihab, mudah-mudahan bermanfa'at (Pak Imam
mah mung sakadar penyambung tulisan. Ngahaja ditungtut sakedik-
sakedik. Upami disakalikeun mah sok hoream macana. Utamina mah
ngetikna oge pegel) :
Seriap makhluk telah dijamin Alloh rezeki mereka. Yang memperoleh
sesuatu secara tidak sah/haram dan memnfaatkannya pun telak
disediakan oleh Alloh rezekinya yang halal, retapi ia enggan
mengusahakannya atau tidak puas dengan perolehannya, atau
terhalangi oleh satu dan lain hal sehingga tidak dapat meraihnya.
Karena itu, agama menekankan perlunya berusaha dan bila tidak
dapat karena terhalangi oleh satu dan lain sebab, maka manusia
diperintahkan berhijrah.Disisi lain manusia juga harus mempunyai sifat
"qanaa'ah" , tetapi ini bukan sekedar berarti "puas dengan apa yang
telah diperoleh", tetapi kepuasan tersebut harus didahului oleh tiga
hal. 1) Usaha maksimal yang halal, 2) Keberhasilan memiliki hasil
usaha maksimal itu, 3) Dengan suka cita menyerahkan apa yang telah
dihasilkan karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya.
Dengan demikian usaha maksimal tanpa keberhasilan serta
kemmpuan kepemilikan, belum lagi mengantar seseorang memiliki
sifat yang dianjurkan agama ini. Lebih-lebih jika ia tidak dengan suka
hati menyerahkan apa yang telah dihasilkannya itu.
Selanjutnya jaminan rezeki yang dijanjikan Alloh kepada makhluk-Nya
bukan berarti memnerimanya tanpa usaha.
...bersambung lagi, bobo heula ah..
23 Juli jam 0:13 · Tidak Suka · ♥ 2 orang · Hapus

Imam Badrutamam Lanjut Arrozzaaq :


Selanjutnya, jaminan rezeki yang dijanjikan Alloh kepada makhluk-Nya
bukan berarti memberinya tanpa usaha. Kita harus sadar bahwa yang
menjamin itu adalah Alloh yang menciptakan makhluk dan
kehidupannya. Bukankah manusia telah terikat dengan hukum-hukum
yang telah diciptakan-Nya? Kemampuan tumbuh-tumbuhan untuk
memperoleh rezekinya, serta organ-organ yang menghiasi tubuh
manusia dan binatang, insting yang mendorongnya untuk hidup dan
makan, semuanya adalah bagian dari jaminan dezeki Alloh. Kehendak
manusia, instingnya, perasaan dan kecenderungannya, selera dan
keinginannya, rasa lapar dan hausnya sampai kepada naluri
mempertahankan hidupnya, adalah bagian dari jaminan rezeki Alloh
kepada makhluk-Nya. Karena tanpa itu semua, maka tidak akan ada
dalam diri manusia dorongan untuk mencari makan, tidak pula akan
terdapat pada manusia dan binatang pencernaan, kelezatan,
kemampuan membedakan rasa dan sebagainya.
...Tos siang bade ka sawah heula. Insya Alloh bade diteraskeun...
24 Juli jam 7:55 · Tidak Suka · ♥ 2 orang · hapus

Ahmad Salman Al-Farisi ‎:

Imam Badrutamam Cep Salman : Amin. Syukron.


Mas Bowo : Terimakasih.
Saya dapat rezeki ingin membagikannya kepada teman-teman, yaitu
buku yang sebagian isinya sedang saya sampaikan. Buku ini saya
pinjam dari perpustakaan mesjid. Dulu pernah saya dipinjami buku ini
oleh adik ipar yang di Malangbong. Saya fikir diantara teman-teman
juga ada yang sudah baca, atau malah punya bukunya. Saya
beruntung mendapat kesempatan duluan untuk menulisnya. Mudah-
mudahan mendapat berkah sebagaimana do'anya Cep Salman. ,
dlomir mukhotob itu khususnya untuk saya kan umumnya untuk
semuanya. Amin.
25 Juli jam 7:53 · Suka · Hapus

Imam Badrutamam anjut Arrozzaaq :


Alloh sebagai Arrozzaaq , juga menjamin rezeki dengan
menghamparkan bumi dan langit dengan segala isinya. Dia
menciptakan seluruh wujud dan melengkapinya dengan apa yang
mereka butuhkan sehingga mereka dapat memperoleh riz...ki yang
dijanjikan Alloh itu. Rezeki dalam pengertiannya yang lebih umum
tidak lain kecuali upaya makhluk untuk meraih kecukupan hidupnya
dari dan melalui makhluk lain. Semua makhluk yang membutuhkan
rezeki diciptakan Alloh dengan kebutuhan atas makhluk lain untuk
dimakannya agar dapat melanjutkan hidupnya, demikian sehingga
rezeki dan yang diberi rezeki selalu tidak dapat dipisahkan. setiap
yang mendapat rezeki dapat menjadi rezeki untuk yang lain, dapat
makan dan menjadi makanan bagi yang lain ( nyamuk jadi rezekinya
katak, katak jadi rezekinya ular, ular jadi rezekinya Elang, -Imam-).
Jarak antara rezeki dan manusia, lebih jauh dari jarak rezeki dengan
binatang, apalagi tumbuhan. Ini bukan saja karena adanya aturan-
atiran hukum dalam cara perolehan dan jenis yang dibenarkan bagi
manusia, tetapi juga karena seleranya yang lebih tinggi. Oleh sebab
itu manusia dianugerahi Alloh sarana yang lebih sempurna, akal, ilmu,
pikiran dan sebagainya, sebagai bagian dari jaminan rezeki Alloh.
Tetapi sekali-kali jaminan rezeki Alloh bukan berarti memberinya tanpa
usaha.
Dah dulu, mau ngoment yang lain..Bersambung..
25 Juli jam 8:20 · Tidak Suka · ♥ 1 orang · Hapus

Imam Badrutamam Mas Bowo : Titip salam buat keluarga


almarhum Aki Agus Suja'i di NKS. Nyi Deuis sareng kang Ujangna. Nyi
Ai sareng kang Adena.
25 Juli jam 8:35 · Tidak Suka · ♥ 1 orang · Hapus

Marsudi Fitro Wibowo ‎@ Pak Imam: Hatur nuhun atas tambahan


ilmunya yg sangat bermanfaat sekali.. :-) Insya Alloh Pak, salamna di
dugikeun.... Upami Pak Imam ka NKS, mampir ka rormpok abdi... :-)
25 Juli jam 13:34 · Tidak Suka · ♥ 1 orang · Hapus

Ahmad Salman Al-Farisi


@ Pa Imam.
Muhun Pak Mampir sajaH ka rumah Mr. Bowo, Beliau pinter
menghormat tamu..., yaQinkan ada sajen complete....

@ Mang Bowo
pami aya Pa Imam mampir ka rumh Antum, tolong kabari ana.
.
25 Juli jam 17:27 · Suka · Hapus

Imam Badrutamam ‎@Mas Bowo : Sama-sama terimakasih.


Barokalloh fikum. Insya Alloh kalau ke NKS. Neng Yeni tos ngandeg
teu acan? Sing sararehat. Amin.
Eta saur Cep Salman ada sajen complete, wios teu kedah diaya-
ayakeun. Saayana we. Atuh aya pais gurame wios. Aya sate teu
janten pamengan. Eeh banyol ieu mah. Piraku teu kana manah.
heheh.
@Cep Salman : Insya-Alloh. Mudah-mudahan urang tiasa tepang.
Amin.
26 Juli jam 10:46 · Suka · Hapus

Imam Badrutamam Lanjut Arrozzaaq :


Jarak antara rezeki bayi dengan orang dewasapun berbeda. Jaminan
rezeki Alloh berbeda dengan jaminan rezeki orang tua kepada bayi-
bayi mereka. Bayi menunggu makanan yang siap dan menanti untuk
disuapi. Manusia dewasa tidak demikian. Alloh menyiapkan sarana dan
manusia diperintahkan mengolahnya, "Dia yang menjadikan bagi
kamu bumi itu mudah (untuk dimanfa'atkan) dan berjalanlah disegala
penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya" (Q.s. Al-Mulk 67:15).
Karena itu ketika Alloh Ar-Rozzaaq itu menguraikan pemberian rezeki-
Nya dikemukakannya dengan menyatakan bahwa, "Nahnu
narzuqukum Wa Iyyaahum" (Kami memberi rezeki kepada kamu dan
kepada mereka anak-anak kamu" (Q.s.Al-An'am 6:151). Penggunaan
kata Kami -sebagaimana pernah diuraikan sebelum ini- adalah untuk
menunjukkan keterlibatan selain Alloh dalam pemberian/perolehan
rezeki itu. Dalam hal ini adalah keterlibatan makhluk-makhluk yang
bergerak itu mencarinya.
03 Agustus jam 8:35 · Suka · Hapus

Bagikan foto ini dengan siapa saja, dengan cara mengirim tautan publik ini
kepadanya:http://www.facebook.com/photo.php?pid=143404&l=f7d10e40a0&id=100000775546500