Anda di halaman 1dari 30

Anggap saja sebagai kata pengantar

Mungkin tak salah jika saya katakan, Idrus bin Harun masih bermain-main dengan kalimat. ia
masih tak begitu serius. dan cenderung remeh pada setiap kata-katanya sendiri.

saya tahu dia dari dekat, karena saya serumah sewa dengan dia. puisi-puisi yang sebagian
kecil terhimpun dalam antologi ini tak seluruhnya mewakili dia sendiri dalam menfsir
realitas. kegamangan masih menyelimuti pikirannya.

pada suatu hari sehabis pulang dari jalan-jalan sore, setelah dalam perjalanan puas memaki
keadaan sekitar, saya melihat ia serius menekuni selembar kertas dalam kamar yang tak
begitu rapi. sesudah beberapa menit saya abaikan keberadaannya, saya mendekatinya dan ia
menyodorkan sebuah sajak yang berjudul Hasbi Burman. saya sadar ia tak puas memaki di
jalan (bahkan saya juga jadi bahan makinnya). ada ruang lain di mana ia bebas dan merdeka
memaki dengan caranya sendiri. untuk selanjutnya. anda dapat menikmati makiannya dalam
beberapa keping puisi berikut.

tak tertanda:
Tapi yang tersisa antara kau dan aku

Mengapa ada semacam kemisteriusan yang tak dapat


kita ubah menjadi percakapan menyenangkan
dalam waktu senggang

Atau dalam sekejap kita sudah menjadi diri


Yang memugar kembali, atau mengganti separuh kealpaan

Tidakkah??
Namun kenapa dan sampai saat ini
Aku belum ingin meminum racun diwaktu senggang itu

300805(lia in memoriam)
Uang receh dan harga cinta

Karena cinta datang pada saat kepala pusing


Maka sikap takabur memuncak

Pasti orang-orang memahami asmara


Walau tanpa bukti ilmiah
Karena linglung menanggapi perasaan yang diaduk-aduk

Setenggak kopi Aceh tak beda jauh


Dengan asmara yang mesum
Hanya saja kita butuh sebatang rokok
Buat menyempurnakan kenikmatan
Sambil buka-buka Koran lokal
Yang penuh dengan iklan

Uhg…cinta begitu murah di tepi krueng* Aceh


Bahkan dihanyutkan begitu saja

Sementara
Calo labi-labi** yang serak berteduh di emperan toko
sambil ngupas minuman kaleng
lalu sibuk menghitung uang receh
dan Polisi di pos jaga terkantuk-kantuk
memijit kening
matahari terus memanggang kota
merampas keteduhan dari mata
pengemis tua

2008

*sungai

**angkot
Jampi penjinak lapar

Ada kehebatan tersendiri mengawinimu

Kita menanggung cinta agak sedikit rumit


Berbekal selimut apak dan koyak di sudutnya
Kita labuhkan malam dalam riak tenang
Dan kau sadar, perutmu keroncongan
Definisi cinta tak sesempurna sajak-sajak di Koran-koran
Diksi-diksi berantakan
Layaknya dapur rumah kita sehabis makan malam
Engkau jarang membersihkannya
Kalau matamu sudah dihipnotis televisi
Televisi mengenyangkanmu
Sinetron-sinetron memberimu energi
Jalan ceritanya mengilhamimu
penuh hikmah dan tak membingungkan
seperti sastra gelap dengan puisinya

“sinetron menyatakan kebenaran-kebenaran,” katamu


“Tapi tak layak untuk pemirsa belum cukup umur”

Kita tak sadar


Sedang menanggung lapar

Banda Aceh, 12-agustus-2009


Menulis puisi di jamban

Syair tentang keuntungan dan bangkrut

Obituary dan penandaan dimulainya hidup

Seperti beristirahat dalam cuaca gerah

Menyembunyikan gelisah bukan perkara gampang

Menenangkan diri pada jam istirahat

Sama sekali tidak lantas benar

Kita yang hari ini sangat terinspirasi

Akan kehilangan waktu

Mungkin saja

Kita akan menggadaikan keadaan pahit

Dan kebahagian dengan setumpuk kalimat

Dan beberapa kilogram semangat

19 maret 2007
Cinta telah masuk mulut orang berbudaya

Bagaimanapun ,
Cinta kita telah masuk jauh
Ke dalam hikayat orang berbudaya
Namun kita menampiknya

Kau penulis,
aku pembacanya
Berhari-hari kita bolak-balik surat kabar
Kita tetap jadi pembingung
Yang tak tau mengarahkan pikiran

Aku masih sendiri


Menyelesaikan tugu ingatan
Di kota kita yang riuh dan bising
Dan tak yakin mengartikannya dengan
Tafsir-tafsir fiktif
Aku pulang selepas magrib
Dan listrik sepanjang jalan mengajariku
Mengenal huruf balok pada neonbox lusuh

Sejak kapan kau kenal cinta


Sejak tape recorder bekas
Rutin kuputarkan lagu qasidah

Aku membenci kegagapan


Membohongi dengan parody yang masuk akal

Ah barangkali jika sudah pulas


Kita akan bergumam ; “ cinta layak disebut budaya “
Karena semua orang fasih mendefinisikan
Maka setiap berita Koran pagi
Tak pernah layak dikonsumsi anak-anak

Tapi becak yang kau tumpangi ke tempat kerja


Mengingatkan aku pada nostalgia
Tentang kepungan asap knalpotnya yang boros
Dan kita harus mabuk, sayang

Sambil belajar mengarang kembali hikayat panjang


Walau itu pura-pura

2006
Deodorant dan keping kenangan

Aku kehilanganmu
saat kota gempita
hari perayaan dengan karnaval panjang

aku lihat halte memanjang


mengukur alasan yang tak masuk akal

becak-becak hias bagai kafilah pengantin


mengimgatkan aku pada perkawinan imajiner

lalu jam tujuh pagi itu


melalui lorong rumah kita
kota mengabari rutinitas yang membosankan

“Aku akan selalu terlihat ingkar dengan pembicaraan picik ini”


Begitu gumammu yang kutangkap
Ketika membaca lembaran budaya Koran lokal

Aku dikotakkan dalam kota paling amis


Yang siapapun coba-coba mengenang masa lalu
Akan menemui ajal

Engkau semata-mata benda, bentuk-bentuk.


Dan kau dapatkan uang kertas setiap selesai kerja

Berapa botol deodorant yang kau habiskan setiap hari


Untuk menyekat gerah dalam ruang ber-AC
Sebab kota kita semakin gerah saja dari sebelumnya
Sesudah aku sadar kau berangkat diam-diam dari lorong itu

29-09-07
07-ramadhan-1428 H
Sarjana

Belikan es krim mewah di toko swalayan

Bangkitkan selera hidup orang kampung

Bawalah perubahan tatakrama orang pendidikan

Dalam jamuan makan siang

Kita adalah tinta-tinta

Yang siap menandatangani kontrak sosial

Ijazah-ijazah palsu dan proyek fiktif

Atau kita belajar lagi menyesuaikan harga diri

Dengan selembar materai pada surat lamaran

Dan calon istri kita akan bangga

2009.banda aceh
Tafsir dan beberapa kesintingan cinta

Biarkan aku bingung


Menetapkan batas-batas pengertian
Sesinting mungkin
Kau tak akan kurugikan
Sembari mengembangkan diri
ke arah yang lebih positif dari biasanya

cinta menjadi keakraban


dan terlihat mengagumkan
dalam acara seremonial
atau malah tak menjanjikan apa-apa samasekali
karena aku punya muka buruk
sebelum memoles cinta di depan cermin
sesudah kumandikan dengan air kembang tujuh rupa

di luar cuaca beraroma kemenyan

2008
pesan dinding

aku menggeser kebenaran ke dalam cahaya

meringkus imaji dari lumpur hina

kau hanya senyum-senyum

mengabaikan suara

bangunlah dari pagimu

dua juta kata berhamburan dari dinding tebing

namun kau buat aku tetap terluka

senyumlah seperti serigala

meskipun besok kau lumat aku

dengan tanpa berdosa

aku mengandung cinta

melahirkannya tanpa bidan

dan orang-orang tercinta

mampuslah

atau melirik saja

maret 2010
Catatan harian

Dari yang termanis sampai wajah-wajah seram

Kita duduk sendiri belajar merekam

Mencari tahu kebosanan

Ini pensil kesekian kali kita raut runcing

Menggambar gelap terang

Ya..tiap hari di buku harian

Kita menggambar rasa sayang sekaligus kebencian

Semangat sekaligus penat

Hari ini mulai menulis yang baru

Besok-besok kita jilid rapi

Tahun depan kita bakar

Sungguh

Arti kenangan tak lebih dari roti panggang hangat

Sebaiknya segera disantap

07. kp keuramat
Kalimat

Engkau kalimat

Menggairahkan mulutku

Untuk berbicara panjang lebar

Engkau kalimat

Terangkai dari pujian dan caci-maki

Engkau kalimat

Buah dari kejujuran

Engkau kalimat

Terinspirasi dari buku bacaan

Dan halaman surat kabar

Engkau kalimat

Pada kertas HVS tak terpakai lagi

Engkau kalimat

Ribuan penyair tertombak

Setelah mabuk sejadi-jadi

Engkau kalimat

Jatuh cinta padamu

Barangkali tak tahan kebingungan

Sampai hari inipun

Mataku berkunang-kunang

Engkau Cuma sebaris kalimat

16 desember 2007, kp-kramat


8998

Suatu hari di tahun 90 an

Tiga orang berseragam seperti kembali ke zaman pra peradaban

Tiga kepala di tenteng , di arak dilapangan

suatu pagi berikutnya ibu-ibu mentah

Melahirkan bayi dari rahim gersang

Tanpa hujan, tanpa sungai

Jutaan sperma berebutan memanggil bapak

Gadis-gadis yang sedianya tak harus mengkhawatirkan apa-apa

Menganyam cita-cita setiap hari

Seperti ibu menganyam tikar

Bapak hilang. Ibu sudah telanjang

Abang dipaksa ngaku melawan

Adik entah dengan apa disayang

Ketika malam menghembuskan nafas kedinginan

Tak ada lagi kain dan pakaian

Semua sudah tak berbekas

Walau diatas tanah liat kau melangkah

Hari ini sudah tanpa bunga dan semerbak

Foto-foto yang terpampang didinding zaman mungkin bisu

Tapi catatan mengulas dengan bijak angka-angka demi angka

Jam-jam ke jam, setiap detik didera kekerasan


Hingga hari ini tanpa terbuka tirai durjana itu

Butuh berapa generasi lagi?????

Pertengahan 2007,kp keuramat


Aceh, Aku mencintaimu ketika :

1. kota mencapai puncak semrawut, dengan angkutan kota parkir sembarangan


sampah-sampah berserakan tanpa bak penampungan

dan kulihat sepasang anjing bercinta dekat selokan sumbat

hari itu , bendera partai berkibar tanpa sungkan

pengemis-pengemis menanti pemilihan umum tanpa banyak berharap

karena perubahan adalah suatu benda yang jatuh dari langit layaknya hujan

kala itu, cintaku padamu mungkin saja tak seburuk partai mencintai audiennya

tapi syukurlah aku buru-buru berjanji menikahimu

2. syariat islam baru saja dideklarasikan, mengganti produk hukum liberal


ke regulasi Tuhan. Antara syukur dan was-was aku melanjutkan cinta padamu

sambil memelihara baik-baik rasa penasaran akan nikmat persenggamaan

menyembunyikan kecurigaan dengan kepolosan khas laki-laki 20-an.

Biarlah ini jadi angan-angan yang tidak bermasalah dengan hukum Tuhan

Aku tidak mau ( lebih tepatnya malu )harus berurusan dengan polisi syariat karena
kedapatan khalwat

Sudahlah, tanpa kukatakan pun cinta antara kita pasti berdiri setan yang rutin menghasut
hasrat seksual binatang. Sehingga pelukan dan dekap semakin erat saat mengendarai
sepeda motor, dan betapa bangganya dapat lolos dari razia jilbab

Begitulah, syariat kita anggap sesuatu yang jenaka dan pantas untuk ditertawakan ketika
pemerintah memberi anjuran-anjuran temporal dan sanksi ringan.

Tanpa menyentuh hal-hal subtansial.

3. Diberlakukan jam malam dan diaktifkan ronda untuk mengantisipasi segala


Bentuk kejahatan. Demi terjaminnya rasa aman, walau setiap hari berita Koran
menyajikan berita yang tak layak dikonsumsi anak-anak. Karena ada saja nyawa
melayang yang katanya untuk tumbal. Aku tak mengerti, sumpah. Politik kala itu tak
ubahnya mesin gergaji yang menebangi pepohonan. Hari-hari panjang merayakan pesta
perang dengan rentet M-16 yang bersahutan. Saat itulah aku mencintaimu, saat tentara
menghalau rasa takut akan mati konyol pada medan gerilya.

4. Kartu tanda penduduk kita dibedakan, dari warna sampai tanda tangan
Yang kelebihan muatan.dan apabila luput kita kantongkan, maka segeralah

menyiapkan kain kafan ( dengan catatan apabila mayat dikembalikan )

kalau memang naas, maka tak ada guna lapor KOMNAS HAM. Karena segala sesuatu
yang berbentuk protes dianggap melawan.

5. sekolah marak dibakar, oleh orang tak dikenal. Yang sebenarnya


orang-orang dekat kita juga yang hobbinya provokasi.

Pantas saja kita kurang lancar dalam beberapa mata pelajaran sehingga hari ini ketika
jadi guru sekolah dasar.

6. hujan di kota kita tak seindah yang kita bayangkan, sungai meluap dan
bendungan tak kuat menahan. Maka banjir sudah menjadi event tahunan yang
membosankan, tapi celakanya seperti tetap dipertahankan.

7. barak-barak pengungsi mulai marak didirikan sepanjang jalan, mereka menjauh dari

Pedalaman, karena tak ada jaminan keamanan dari pihak manapun. Rakyat jadi obyek
pertengkaran politik yang tak tentu arah. Mereka dipaksa terlibat.
Adik perempuanku dan suaminya

Bila hari ini tak ada lagi tempat merebahkan tubuh

Jangan terus menerus menyiksa diri

Sekujur laki-laki hanya mengenal keringat

Makanan empuk matahari

Bila ia pulang dengan menunduk

Tandai mata cekungnya

Sehari penuh barangkali

Pertaruhan kurang menguntungkan

pahamlah

Laki-laki tak ubahnya kuda jantan

Genitkan matamu

Lantaran seharian matanya melotot huruf-huruf kaku tentang nasib

Besok sore mungkin diterimanya surat pemecatan

Lalu tergesa-gesa menjumpaimu

Aku yakin kau berjiwa lapang

Mengenang adik perempuan, 24 Januari 2007


Ijazah kedewasaan

Perasaan tidak nyaman dimulai dari terganggunya keberadaan kita sebagai manusia yang
sadar akan ke-eksklusifan

Dari obrolan yang sudah-sudah

Kenapa kita selalu mendapati argument keliru tentang kesederajatan

Tak ada yang tahu

Dan entah kenapa keteguhan itu memposisikan engkau pada menara gading

Tentu saja aku tak mampu menjangkau

Hari-hari semakin berbahaya

Peringatan dini akan sikap-sikap bertentangan

Kiranya dapat kita setujui, meskipun aliran darah ke ubun-ubun bagai air bah (semoga kita
mampu bijak)

Tapi apalah arti buku bacaan tentang self development

Jika isi perutmu mendaur ulang sikap mementingkan diri terus-menerus

Entahlah, barangkali ini sedikit membingungkan

Karena kita tidak menyepakati hal-hal apa saja

Yang menjadi destinasi keberadaan kita disini

Lalu, siapa kita sekarang

Orang bijak yang jenuh bersabar

Atawa simurah senyum yang sensitive

Barangkali juga serupa tokoh politik yang rata-rata ‘klo prip’


Beberapa orang mencurigai kita sekedar pamer kebijaksanaan

Ah, penganjur kebijaksanaan disekeliling kita hampir melebihi kuota haji Indonesia

Tapi nasib pertemanan tidak banyak berubah dari waktu ke waktu

Ingat teman

Orang depresi sudah menamatkan riwayatnya

Kita masih sekolah demi secarik ijazah kedewasaan

Idrus, juni 08
HARI KE TIGA RATUS

Apabila ia pulang

Suruh ia pergi lagi

Supaya kuat

Dan dapat mengambil keputusan sendiri

dalam keadaan bagaimanapun

katakan padanya

mulai kapan ia jarang mengirimkan surat pendek

sekedar mengabari

aku masih tunggu

sampai senja di negeri kita menjauh

ini sudah bulan ke -10

kutandai hari dengan dawat merah

sebagai kesetiaan

pertanda aku mengandung kenangan

mungkin benar ia kesasar

apalagi kota semakin ramai saja

belum lagi kendaraan lalu lalang

membingungkan mata

maka suruh hubungi aku

ketika akhir tahun


aku ingin membicarakan

tentang ingatannya

yang pura-pura lupa

24 ramadhan 1427

18 oktober 2006

idrus
HASBI BURMAN

Sekeping angin

Kukirim dalam puisi

Kukipas-kipas di beranda

Melepas lelah

Aku terbatuk-batuk

Demam pagi mendesak-desak

Lubang hidung

Menunggu ilham datang

Kubuang ingus

Sebait puisi lahir dengan

Kelegaan kata-kata

Lalu
Di luar sana jalan kota diperlebar

Menambah jam sibuk

Menimbun kebisingan ke desa-desa

Menambal langit dengan papan iklan

Raksasa ekonomi dari kejauhan

Bergemuruh datang dengan petikemas

Barang-barang bekas didiscount

Penyair tua

Mendeklamasikan syair

Menggedor paksa penghuni pekak

Di simpang lima Ia semai bibit puisi

Lalu menyetop labi-labi hendak pulang

Dan berjanji pada tugu bingung itu

Kapan-kapan Ia akan datang lagi


Memanen puisi dan mengobralnya

Di warung kopi

Blang Oi, 2007


PERAS

Engkau lukai matahari

Memeras cahayanya

Kau alirkan pada sungai purba

Dan menyimpan baik dalam amarahku

Kau tidurkan bulan di puncak bukit

Merahasiakan suara jangkrik

Hutan gundul

Kabut pagi hilang begitu saja

Gunung rawan longsor

Setiap detik meneror

Mungkin

Anak cucu tak lagi mengenal

Dedaunan dan ranting


Desir pinus dan siul nyiur

Mereka kelak akan berteduh

Di bawah pepohonan rindang

Berdaun kertas

Berdahan beton

Tunggulah saatnya!

Banda Aceh, 2008


KDRT
izinkan aku untuk beberapa masa

meluangkan diri di hadapan matamu

karena kau wanita

relakan telinga itu

aku ingin mengutukmu dengan kata-kata

yang tak pantas diucapkan orang terpelajar seperti kita

karena kau wanita

menunduk saja

agar lelaki ini tidak terburu-buru

bernafas karena terlalu bersemangat

karena kau wanita

tidak baik menangis menjerit

buruk benar air mata begitu

karena kau wanita

untuk melampiaskan marah

aku tidak berhak mengikutsertakan tangan

14 february 2008
MENCAMBUK KAKILIMA
Kota tak lagi lugu

Seutas cambuk di layangkan ke udara

Mendera kaki binatang

Penghuni pincang

Pada jalan dan trotoar

Api neraka di nyalakan

Memanggang doa-doa setengah matang

Ada yang sempoyongan seketika

Ketika areal kakilima dengan arogan dikosongkan

Lidah matahari menjalari los-los pasar

Tubuh kota berlendir

Dijilat kemiskinan

Banda Aceh, 21Maret 2009


���������������������������������������������������������������������������
���������������������������������������������������������������������������������
�����������������������������������������������������