Anda di halaman 1dari 2

Aug 27, '07 9:01 AM

Dua Waktu Tidur yang Dibenci


for everyone

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu
‘alaihi wasallam bersabda :

”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu
Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).

Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan
waktu dengan tidur, dimana beliau berkata : “Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu
orang shalig – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu
adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali
mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun
mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut
hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia
merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari
itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal
tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang
terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’

Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu


‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR.
Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab
itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya
tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi
keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-
hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di
bulan Ramadlan saja”.

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat
adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk
shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu
shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah
kekhawatiran terlewatnya waktu shalat”.
Tidur yang Dibenci, tidak mendapat rahmat, dan rejeki tersendat

Selepas menunaikan sholat shubuh merupakan waktu yang sangat untuk bersantai sejenak.
Sehingga tidak mengherankan waktu ini sering digunakan oleh banyak orang untuk tidur
barang sebentar. Memang hawa kantuk yang luar biasa akan semakin mempermudah dan
mempernikmat siapapun juga untuk tidur.Akan tetapi berhati-hatilah saudaraku, kalau engkau
memiliki kebiasaan seperti ini. Yaitu tidur setelah Shubuh. Ibnu Qayyim AL Jauziah
mengatakan,”Diantara tidur yang dibenci adalah tidur diantara sholat Shubuh dengan terbit
matahari” karena orang yang tidur pada saat itu adalah orang yang menghindari mendapatkan
berkah dari Allah. Selain itu Abudllah Abbas juga mengatakan, bahwa tidur ada tiga macam:
1. Tidur yang menimbulkan kebingungan dan kemalasan, yaitu tidur selepas Shubuh 2. Tidur
karena tuntutan fitrah 3. Tidur yang menimbulkan kebodohan, tidur pada waktu Isya. Waktu
shubuh adalah waktu yang penuh berkah karena nabi SAW berdoa untuk kita,”Ya Allah
berkahilah untuk ummatku di pagi hari mereka.