Anda di halaman 1dari 10

Perang Uhud

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu tanggal 15 Syawal 3 Hijriah. Orang-orang Quraisy
Makkah berambisi sekali membalas kekalahannya pada perang Badar Raya. Dipersiapkannya
suatu pasukan besar dengan kekuatan 3.000 orang serdadu. Dalam pasukan itu terdapat 700
ratus infanteri, 200 orang tentara berkuda (kavaleni) dan 17 orang wanita. Seorang di antara
mereka yang tujuh belas ini adalah Hindun bin Utbah, isteri Abu Sofyan. Ayahnya yang
bernama Utbah telah terbunuh pada perang Badar Raya.Pasukan Quraisy ini dipusatkan di
suatu lembah di pegunungan Uhud, suatu pegunungan yang terletak 2 kilometer sebelah utara
Madinah.Menghadapi tantangan ini, Nabi saw. dan beberapa orang sahabatnya berpendapat
kaum Muslimin tidak perlu menemui musuh-musuh yang sudah siap siaga itu. Sebaliknya
orang-orang Islam tetap siaga di Madinah dengan taktik bertahan (defensif). Akan tetapi
sekelompok orang Islam (Muhajirin dan Anshar) terutama pemuda-pemuda yang tidak ikut
ambil bagian dalam perang Badar mendesak untuk menemui tentara-tentara Quraisy dan
ingin menghajarnya di gunung Uhud. Atas desakan itu Nabi surut dari pendapatnya semula.
Masuklah beliau ke rumahnya, lalu keluar dalam keadaan sudah siap dengan mengenakan
baju besi, menyandang tameng dan memegang tombak serta pedang.

Melihat gelagat Nabi itu, sebagian sahabat yang tadinya sependapat dengan beliau
menyatakan penyesalannya terhadap orang-orang yang memaksakan keinginannya untuk
berperang. Mereka yang memandang tidak perlu meladeni tentara-tentara Quraisy tadi
mengatakan kepada Nabi, “Kami tidak mau mengirimmu. Jika engkau tetap setuju berangkat,
berangkatlah; dan jika akan engkau urungkan, urungkanlah.”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang sudah mengenakan baju
besi untuk menanggalkannya kembali, hingga Allah menetapkan sesuatu baginya dan bagi
musuh.”

Kemudian beliau berangkat bersama lebih kurang 1.000 orang tentara. Dua ratus orang
memakai baju besi dan hanya dua orang tentara berkuda.

Setelah berangkat, Nabi Muhammad kembali menyeleksi pasukannya dan ternyata di


dalamnya terdapat ratusan orang Yahudi yang menggabungkan diri dengan tentara Islam.
Mereka itu dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Nabi bertanya kepada sahabat-
sahabatnya, “Apakah mereka telah masuk Islam?” “Belum,” jawab sahabat. Rasulullah
memerintahkan, “Usir mereka dan perintahkan agar kembali ke Madinah. Kita tidak perlu
bantuan orang-orang Musyrik untuk menghadapi orang-orang Musyrikin.”

Mereka yang berjumlah 300 orang itu pun keluar dari pasukan, dan tinggallah 700 orang
pasukan Nabi. Sesampainya di pegunungan Uhud, segera di lakukan pengaturan pasukan dan
pembagian posisi. Lima puluh personil ditempatkan di sebuah bukit yang terletak di belakang
lereng, di mana pasukan dikonsentrasikan di bawah pimpinan Abdullah bin Jabir Al-Anshary.
Mereka bertugas menghadang pasukan musuh yang akan rnenyerang dari bukit itu.

Rasulullah mengomandokan kepada penjaga bukit ini, “Siagalah kamu semuanya, dan jangan
sampai musuh-musuh kita menyerbu dari belakang. Jika pasukan berkuda mereka naik ke
posisi kamu, hujanilah kuda-kuda itu dengan anak panah. Kuda-kuda itu pasti tidak kuat dan
takut dengan panah. Kita selalu akan unggul, manakala kamu tetap berjaga di atas bukit ini.
Ya Allah, sesungguhnya aku yakin Engkau akan menolong mereka.”
Menurut pendapat lain, ketika itu Nabi mengatakan, “Bila kamu melihat burung-burung
menyambar-nyambar kami yang berada di lereng, maka jangan kamu kosongkan tempat
(bukit) ini, hingga datang perintahku. Dan jika kamu melihat kami dapat mengalahkan atau
dapat menghancurkan mereka sampai terbunuh semuanya, maka janganlah pula kamu
tinggalkan tempat ini.”

Segala sesuatunya telah diatur dan serbuan pun dimulai. Tentara Islam berhasil mengungguli
musuh dan beberapa di antaranya telah terbunuh sementara yang lainnya kocar-kacir
melarikan diri. Tetapi sayang tentara-tentara Islam mulai tergiur untuk mengambil harta
rampasan yang ditinggalkan oleh musuh yang lain itu, tak terkecuali regu pengawal jalur
rawan serbuan yang berada di bagian atas bukit. Tidak kurang dan 40 orang di antaranya
turun ke lereng untuk ikut serta mengambil harta rampasan yang begitu banyak, sehingga
hanya tinggal sepuluh orang saja yang berada di atas bukit. Komandannya, Abdullah bin
Juber, sebelumnya telah mengingatkan mereka yang turun itu, tetapi tidak berhasil
menghalanginya. Malah mereka menyanggah sang kornandan dengan kata-kata, “Tidak perlu
lagi kita bersiaga di sini. Bukankah peperangan telah usai.”

Kelemahan regu pengawal bukit yang hanya berkekuatan sepuluh personal itu dimanfaatkan
Khalid bin Walid yang bertindak sebagai komandan tentara Makkah. Secepat kilat ia
menyerang dan melumpuhkan regu pengawal, dan turun ke lereng gunung seraya menyerbu
habis-habisan dari belakang. Tibalah giliran pasukan Islam kocar-kacir dibuatnya. Pasukan
musuh balik menyerbu mereka dari setiap sektor, sambil mendekati posisi Nabi saw. Dalam
keadaan posisi yang sangat genting itu disiarkan pula psywar yang menyatakan Nabi telah
terbunuh, sehingga tentara Islam semakin porak-poranda.

Pada waktu itu Nabi terkena lemparan batu, sampai jatuh pingsan. Tentu saja semua anak
panah musuh terarah kepada beliau. Muka, lutut, bibir bawahnya luka-luka, sedangkan tutup
kepalanya pecah. Posisi Nabi saw. yang hanya diapit oleh puluhan tentara saja itu, dihujani
musuh dengan anak panah yang memaksa beberapa orang sahabat gugur, karena menghalangi
sampainya anak-anak panah itu ke tubuh Rasulullah saw. Tercatat di antaranya Abu Dajanah,
Saad bin Abi Waqas yang matian-matian bertahan dengan melontarkan hampir seribu buah
anak panah, guna mengusir musuh.

Selain itu dicatat pula seorang wanita, Ummu Imarah Nusaibah Al Anshary. Srikandi ini
mulanya bertugas sebagai perawat tentara Islam yang luka-luka, tetapi demi melihat jiwa
Nabi terancam maut, segeralah ia memagari diri Nabi beserta suami dan dua orang putranya,
sehingga ia sendiri tewas. Atas keberaniannya yang luar biasa itu, Rasulullah berkata
kepadanya, “Semoga Allah memberkahi kamu sekeluarga.”

Lalu Nusaibah minta kepada Nabi berdoa agar dapat bersama-sama masuk surga dengan
angota-anggota keluarga yang tewas pada waktu itu. “Ya Allah, jadikanlah mereka ini
sebagai teman-temanku di surga kelak,” ucap Nabi.

Saat-saat gawat ini diceritakan oleh Nabi saw. kepada sahabat-sahabatnya, “Wanita yang
bernama Nusaibah inilah yang paling sibuk memberikan perlawanan demi membela aku. Ia
menderita dua belas luka terkena panah dan pedang.”

Pada saat kritis tersebut ada seorang tentara Quraisy yang bernama Ubai bin Khalaf
menyerang Nabi dengan pedang terhunus, sehingga tidak ada jalan lain buat Nabi selain
membela diri. Diambilnya sebatang tombak terus dilemparkannya ke tubuh Ubai sehingga
tidak jadi membunuh Nabi, karena telah tewas lebih dahulu. Hanya dalam perang Uhud ini
Rasulullah sempat membinasakan jiwa seseorang dan hanya Ubai bin Khalaf inilah yang mati
terkena tombak Nabi, selama masa peperangannya.

Untunglah Rasulullah saw. masih mampu bangkit dan keluar dan lubang tempatnya
terperosok dengan bantuan Thalhah bin Ubaidillah.

Melihat sekelompok orang-orang Musyrik Makkah masih berada di atas gunung,


diperintahkannya satu regu untuk mengejarnya, seraya berseru kepada seluruh pasukan,
“Mereka itu tidak pantas mengungguli kita. Ya Allah, tiada kekuatan bagi kami kecuali
karena Engkau.”

Sambil bersiap-siap untuk berlari berkatalah Abu Sofyan, “Hari ini adalah hari pembalasan
Perang Badar.”

Perang Uhud ini menelan korban sebanyak 70 orang dari pasukan Islam, dan 23 dan kaum
Musyrikin. Suatu hal yang sangat memiriskan perasaan ialah peristiwa terbunuhnya Syaidina
Hamzah, paman Rasulullah saw. Begitu beliau terkena panah, menari-narilah Hindun isteri
Abu Sofyan, lalu mendatangi tempat tergeletaknya Hamzah dengan maksud melampiaskan
dendam kesumat atas kematian ayahnya pada perang Badar. Dibelahnyalah dada mayat
Hamzah, diambil hatinya, lalu dikunyah-kunyahnya.

Mengenai Perang Uhud ini terdapat beberapa ayat yang berisi nasihat pelipur kesedihan kaum
Muslimin atas kekalahannya dan mengingatkan akan sebab-sebab terjadinya kekalahan itu.
Dalam surat Ali Imran ayat 138 sampai ayat 142 dan ayat 153 dikatakan, “Dan janganlah
kamu lemah semangat dan janganlah bersedih hati, dan kamulah orang-orang yang lebih
tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar beriman. Jika kamu (pada perang uhud) mendapat
luka, maka sesungguhnya kaum kafir itupun mendapatkan luka yang serupa. Demikianlah,
masa kami pergantikan antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran dan supaya Allah
membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir dan supaya sebagian
kamu gugur sebagai syahid. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar
Allah membersihkan orang-orang beriman (dari dosa-dosanya) dan membinasakan orang-
orang yang kafir. Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi
Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
(Ali Imran: 139-142)

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janjiNya kepada kamu, ketika kamu membunuh
mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan
mendurhakai perintah Rasul, sesudah Allah memperlihatkan kepada kamu sesuatu yang kamu
sukai. Di antara kamu ada pula yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan
kamu dari mereka, untuk rnenguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu.
Dan Allah memiliki karunia atas orang-orang beriman. Ingatlah ketika kamu lari dan tidak
menoleh kepada seorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain
memanggil kamu. Karena itulah Allah menimpakan atas kamu kesedihan di atas kesedihan,
supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa-apa yang luput dari sisi kamu dan terhadap apa
yang menimpa kamu. Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu lakukan.” (Ali Imran:
152-153)
Pertempuran Uhud
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan
kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi
kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badr. Tentara Islamberjumlah 700
orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung
oleh Rasulullahsedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan. Disebut Pertempuran
Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan
mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Pendahuluan

Rasulullah menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud di bagian barat. Tentara Islam
berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front kurang lebih 1.000 yard. Sayap
kanan berada di kaki bukit Uhud sedangkan sayap kiri berada di kaki bukit Ainain (tinggi 40
kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan Muslim aman karena terlindungi oleh bukit Uhud,
sedangkansayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari bukit Ainain dan
menyerang dari belakang, untuk mengatasi hal ini Rasulullah menempatkan 50 pemanah di
Ainain dibawah pimpinan Abdullah bin Jubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas
yaitu "Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita.
Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian
meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian
melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami."

Di belakang pasukan Islam terdapat 14 wanita yang bertugas memberi air bagi yang haus,
membawa yang terluka keluar dari pertempuran, dan mengobati luka tersebut. Di antara
wanita ini adalah Fatimah, putri Rasulullah yang juga istri Ali. Rasulullah sendiri berada di
sayap kiri.

Posisi pasukan Islam bertujuan untuk mengeksploitasi kelebihan pasukan Islam yaitu
keberanian dan keahlian bertempur. Selain itu juga meniadakan keuntungan musuh yaitu
jumlah dan kavaleri (kuda pasukan Islam hanya 2, salah satunya milik Rasulullah). Abu
Sufyan tentu lebih memilih pertempuran terbuka dimana dia bisa bermanuver ke bagian
samping dan belakang tentara Islam dan mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengepung
pasukan tersebut. Tetapi Rasulullah menetralisir hal ini dan memaksa Abu Sufyan bertempur
di front yang terbatas dimana infantri dan kavalerinya tidak terlalu berguna. Juga patut dicatat
bahwa tentara Islam sebetulnya menghadap Madinah dan bagian belakangnya menghadap
bukit Uhud, jalan ke Madinahterbuka bagi tentara kafir.
Tentara Quraish berkemah satu mil di selatan bukit Uhud. Abu Sufyan
mengelompokkan pasukan ini menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di
samping. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah
bin Abu Jahl, masing-masing berkekuatan 100 orang. Amr bin Al Aas ditunjuk sebagai
panglima bagi kedua sayap tapi tugasnya terutama untuk koordinasi. Abu Sufyan juga
menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera Quraish dibawa oleh Talha bin Abu
Talha.
Sebab kekalahan dalam Perang Uhud

Kisah ini ditulis di Sura Ali ‘Imran ayat 140-179. Dalam ayat2 di Sura Ali ‘Imran,
Muhammad menjelaskan kekalahan di Uhud adalah ujian dari Allah (ayat 141) – ujian bagi
Muslim mu’min dan munafik (ayat 166-167).

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (ayat 142)?
Bahkan jika Muhammad sendiri mati terbunuh, Muslim harus terus berperang (ayat 144),
karena tiada seorang pun yang mati tanpa izin Allah (ayat 145). Lihatlah para nabi yang tidak
menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah (ayat 146). Para Muslim
tidak boleh taat pada kafir (ayat 149), karena Allah Akan Kami masukkan ke dalam hati
orang-orang kafir rasa takut (ayat 151)."

Ayat2 di atas tidak menunjukkan sebab yang sebenarnya mengapa Muhammad dan Muslim
kalah perang di Uhud. Penjelasan yang lebih lengkap bisa dibaca di Hadis Sahih Bukhari,
Volume 4, Book 52, Number 276

Memang benar bahwa para Muslim hampir saja mampu menghabisi musuh2nya kaum pagan
Quraish ketika kemudian perhatian mereka teralihkan. Ketika tentara Muslim melihat para
wanita Quraish mengangkat bajunya sehingga menampakkan gelang pergelangan kaki dan
kaki2 mereka, mereka mulai berteriak-teriak dan menzalimi mereka. Tanpa peduli akan
perintah2 Muhammad, mereka meninggalkan tempat2 jaga mereka dan lalu mengejar
wanita2 ini – karena itulah Allah mengijinkan kaum pagan membunuhi para Muslim yang
meninggalkan kedudukannya sebagai suatu ujian (ayat 152-153). Tentara Muslim kalah
karena salah mereka sendiri (ayat 165).
. Abdullah bin Ubay

Dalam kisah, Abdullah bin Ubay adalah orang munafik yang menjadi musuh Nabi. Ia berpura-pura sebagai
pengikut Nabi, padahal ia memusuhi nabi dan berniat menghancurkan Islam.

Abdullah bin Ubay memiliki pengikut yang juga orang-orang munafik. Suatu hari berkataAbdullah bin
Ubay pada para pengikutnya:"Kita tidak perlu mengikuti Muhammad dan para sahabatnya. Kita orang-orang
merdeka yang sejak dulu menentukan nasib sendiri. Sekarang ini, kita di bawah pengaruh kaum Muhajirin dan
Muhammad itu."

Adalah Zaid bin Arqam yang ketika mendengarkan ucapan Abdullah bin Ubay diam-diam pergi meninggalkan
tempat itu dan melaporkan hal itu kepada Rasulullah. Umar bin Khathab berang, "Ya, Rasulullah! Izinkan aku
membunuhnya. Abdullah bin Ubay itu musuh Islam yang paling jahat dan berbahaya!"

Namun Rasulullah melarang dengan berkata, "Apa kau senang mendengar Muhammad membunuh pengikutnya
sendiri, wahai Umar?" tanya Rasulullah.

Dikisahkan pula saat maut menjemput, Abdullah bin Ubay meminta Nabi memakaikan jubah yang dipakai Nabi
kepadanya. Dan Nabipun memakaikan jubah tersebut ke tubuh Abdullah bin Ubay sampai Umar bin Khathab
yang pada saat itu menemani Nabi merasa iri; mengapa orang seperti Abdullah bin Ubay yang menjadi musuh
besar Nabi mendapatkan jubah Nabi, padahal orang-orang yang setia seperti sahabat Nabi yang lain belum
tentu mendapat kehormatan seperti itu. Nabi hanya menjawab:

"Sahabatku Umar, engkau jangan berpikiran sempit. Memang Abdullah bin Ubay meninggal dunia dengan
berselimut jubahku. Namun ketahuilah, Abdullah bin Ubay takkan selamat karena memakai jubahku. Sebab
jubahku takkan menyelamatkan siapa-siapa. Manusia hanya akan selamat karena iman dan amal shalihnya."

Orang munafik adalah orang yang bermuka dua. Sikapnya berpura-pura. Orang munafik yang
terkenal bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia berpura-pura memeluk agama Islam.
Padahal, ia memusuhi Islam dan akan menghancurkannya. Abdullah bin Ubay bin Salul
melakukan apa saja untuk menghancurkan Islam. Padahal, ia termasuk sahabat dekat
Rasulullah.

Pada suatu hari Abdullah bin Ubay bin Salul melihat keributan di sebuah sumber air di
Muraisi'. Saat itu, kaum Muslimin baru saja selesai berperang melawan kabilah (suku) Bani
Musthaliq yang menentang Islam.

Keributan terjadi karena pelayan Umar bin Khathab berebut air dengan maula (mantan
budak) Bani Auf. Umar bin Khathab adalah sahabat Rasulullah yang berasal dari Mekah.
Orang-orang Mekah yang hijrah ke Madinah disebut kaum Muhajirin. Adapun kaum Anshar,
suku bangsa yang merupakan penduduk asli Madinah.

Maula Bani Auf mengadu kepada majikannya. Pelayan Umar bin Khathab juga mengadu
kepada tuannya. Keduanya merasa panas. Orang-orang Anshar naik pitam. Orang-orang
Muhajirin juga marah. Dalam keadaan begitu sewaktu-waktu bisa timbul perang saudara.

Abdullah bin Ubay bin Salul berada di tengah kaum Anshar. Memanaskan suasana dan
membakar permusuhan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.

"Di negeri kita Madinah, orang-orang Muhajirin itu akan mengungguli kita," katanya. "Demi
Allah, kalau kita sudah kembali ke Madinah, kita sebagai orang-orang terhormat harus
mengusir mereka, orang-orang yang hina."

Abdullah bin Ubay bin Salul juga punya pengikut. Mereka adalah orang-orang munafik yang
memeluk Islam sekadar kedok belaka. Mereka bersama dengan Abdullah bin Ubay bin Salul
ikut dalam perang melawan Bani Musthaliq. Kata Abdullah bin Ubay bin Salul kepada
pengikutnya, "Kita tidak perlu mengikuti Muhammad dan para sahabatnya. Kita orang-orang
merdeka yang sejak dulu menentukan nasib sendiri. Sekarang ini, kita di bawah pengaruh
kaum Muhajirin dan Muhammad itu."

Ada seorang remaja di dekat Abdullah bin Ubay bin Salul. Remaja itu bernama Zaid bin
Arqam. Ia mendengarkan semua ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul. Diam-diam ia pergi
meninggalkan tempat itu. Dilaporkannya hal itu kepada Rasulullah.

Umar bin Khathab mendengar laporan Zaid bin Arqam. Ia tambah naik pitam.

"Ya, Rasulullah!" katanya. "Izinkan aku membunuhnya. Abdullah bin Ubay bin Salul itu
musuh Islam yang paling jahat dan berbahaya!"

Benar kata Umar. Abdullah bin Ubay bin Salul itu memang sangat jahat dan berbahaya.
Berulang kali ia berbuat semacam itu. Membahayakan persatuan dan kesatuan umat Islam.
Sudah selayaknya ia dijatuhi hukuman mati. Namun, apa kata Rasulullah?

"Apa kau senang mendengar Muhammad membunuh pengikutnya sendiri, wahai Umar?"
tanya Rasulullah.

Jawaban itu berarti Rasulullah tidak mengizinkannya. Bagaimana pun, orang-orang tahu
bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul orang Islam.
Untunglah perang saudara yang hampir pecah itu bisa dihindarkan. Mereka yang hampir
berperang itu sadar telah termakan hasutan orang munafik.

Abdullah bin ubay

Abdullah bin Ubay adalah tokoh masyarakat Medinah yang masuk Islam.
Abdullah bin Ubay adalah orang yang telah berjasa membantu pembebasan orang-orang
Yahudi Qainuqa dari pembantaian massal Muhammad. Setelah pengepungan selama 15 hari
terhadap bani Qainuqa, bani Qainuqa menyerah tanpa syarat kepada Muhammad, tetapi
Abdullah bin Ubay meminta Muhammad mengampuni nyawa mereka dan Muhammad setuju
atas saran Abdullah bin Ubay. Muhammad tidak membantai kaum Yahudi bani Qainuqa,
tetapi mengusir mereka semua ke luar dari kampung halaman mereka jauh dari Medinah
tanpa boleh membawa harta mereka sepeser pun. Dengan demikian, Muhammad memiliki
semua harta kekayaan bani Qainuqa.

Setelah bani Qainuqa terusir dari Medinah, secara berturut-turut Muhammad melenyapkan
satu demi satu 2 suku Yahudi Medinah lainnya yang masih tinggal. Yahudi Bani Nadhir
diusir oleh Muhammad dengan membawa harta benda mereka ke Kaybar (namun di
kemudian hari Muhammad menyerbu Kaybar karena Muhammad menginginkan harta
kekayaan bani Nadhir), dan yang terakhir Yahudi bani Quraidha dihabisi dengan cara
dipenggal kepalanya dan anak-anak serta wanita mereka dijadikan budak. Menurut catatan
Ibnu Hisyam ada 900 orang pria dewasa (yang sudah berbulu kemaluan) yang dipenggal
kepalanya oleh Muhammad dan para pengikutnya, dan pembantaian itu berlangsung selama 1
hari penuh.

Suku Yahudi yang tinggal di luar Medinah, bani Mustaliq, menjadi target penyerangan
Muhammad berikutnya.

Setelah Muhammad menyerbu bani Mustaliq di mata air Al-Muraisi dan berhasil menjarah
harta benda dan menawan wanita dan anak-anak bani Mustaliq, Abdullah bin Ubay yang ikut
serta dalam penyerbuan itu mulai sadar bahwa ADA YANG TIDAK BERES dengan
Muhammad dan agamanya.

Berikut ini adalah kutipan kata-kata Abdullah bin Ubay mengenai Muhammad dan para
pengikutnya:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 255

Abdullah bin Ubay bin Salul yang ketika itu bersama beberapa orang dari kaumnya
naik pitam kemudian berkata, "Sungguh, mereka telah melakukannya. Mereka
mengalahkan dan mengungguli kita di Madinah. Demi Allah, aku tidak
mengibaratkan kita dengan orang-orang gembel Quraisy (maksudnya orang-orang
Muhajirin) tersebut melainkan seperti dikatakan orang-orang tua dulu, 'Gemukkan
anjingmu, niscaya ia memakanmu.' Demi Allah, jika kita tiba di Medinah, orang-
orang mulia di dalamnya pasti akan mengusirorang-orang hina."

Abdullah bin Ubay bin Salul menghadap kepada beberapa orang dari kaumnya yang
ada di tempat tersebut, kemudian berkata kepada mereka, "Inilah yang kalian perbuat
terhadap diri kalian. Kalian menempatkan mereka (Muhammad & pengikutnya) di
negeri kalian dan membagi harta kalian dengan mereka. Demi Allah, jika kalian
tidak memberikan kekayaan kalian kepada mereka, mereka pasti pindah ke
selain negeri kalian."

Dengan demikian, Abdullah bin Ubay bin Salul menyatakan bahwa orang-orang muslim
Muhajirin itu adalah "GEMBEL", "ANJING", "ORANG-ORANG HINA". Dan dia juga
mengingatkan kepada kaumnya kalau PARA GEMBEL itu "RAKUS HARTA", sehingga
dia membuat kalimat sindiran, "Jika kalian tidak memberikan kekayaan kalian kepada
mereka, mereka pasti pindah ke selain negeri kalian."

Dan memang itulah yang dilakukan orang-orang Anshar Medinah, mereka telah berbaik hati
kepada orang-orang muslim yang hijrah (kaum Muhajirin) dengan membagi harta mereka.

Hadist Sahih Bukhari, Volumn 003, Book 034, Hadith Number 265.
Diriwayatkan oleh Anas: Ketika Abdurrahman bin Auf tiba di Medina, Sang Nabi mengikat
tali persaudaraan antara dirinya dengan Sad bin Ar-Rabi al-Ansari. Sad adalah seorang pria
yang kaya, maka dia berkata kepada Abdurrahman, "Aku akan memberimu separuh dari
harta kekayaanku dan akan membantu pernikahanmu." Abdurrahman berkata
kepadanya, "Semoga awloh memberkatimu lewat keluargamu dan kekayaanmu. Antarkan
aku ke pasar." Kemudian Abdurrahman tidak kembali dari pasar sampai dia membeli
beberapa makanan dan minuman.

Abdullah bin Ubay telah melihat segala sepak terjang Muhammad di Medinah apa yang telah
dilakukannya kepada orang-orang Qainuqa, An-Nadhir dan Quraidha, juga perampokan-
perompakannya terhadap karavan Quraisy. Dia mulai menyadari bahwa Muhammad tak lebih
hanyalah seorang KEPALA GENGSTER PERAMPOK yang selalu akan haus harta jarahan.
Abdullah menyebut Muhammad sebagai "GEMBEL QURAISY", "ORANG HINA" dan
"ANJING". Gembel = gelandangan = pengemis, memiliki ciri malas bekerja, tapi
menginginkan harta orang lain. Itulah Muhammad. Abdullah pun menyadari Muhammad
adalah orang yang berbahaya, sehingga Abdullah bin Ubay mengutip
peribahasa, "Gemukkan anjingmu, dia akan memakanmu."