Anda di halaman 1dari 8

Sebuah Perenungan Kemerdekaan

“ 17 Agustus tahun 45.. Itulah hari kemerdekaan kita... Hari Merdeka,


nusa dan bangsa.. Hari lahirnya bangsa Indonesia... Merdeka!...”
Lagu yang bernuansa megah dan membangkikan rasa patriotisme ini
seakan melekat di kepalaku malam ini, satu malam sebelum negaraku merayakan
hari ulang tahunnya yang ke 65. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak.
Merdeka, katanya. Ini yang membuatku bimbang. Aku merasa terusik. Begitu
banyak masyarakat yang menganggap dirinya ataupun negara ini sebenarnya
belum merdeka. Benarkah demikian? Apakah kemerdekaan Indonesia itu
sebenarnya? Apa saja tugas-tugas generasi muda zaman sekarang untuk mengisi
kemerdekaan tersebut? Saya ingin menguraikan satu persatu jawabannya dalam
tulisan saya yang singkat ini.
Merdeka atau mati!! Begitu keras dan radikalnya ungkapan para pejuang
kemerdekaan ini. Semuanya berjuang dengan satu keyakinan, satu tujuan:
Merdeka! Kata merdeka sendiri mulai dipopulerkan oleh organisasi Perhimpunan
Indonesia yang didirikan di Belanda pada tahunn 1920-an yang berani
menerbitkan majalah dengan naman Indonesia Merdeka. Majalah ini beredar di
kalangan pimpinan pemuda, terutama di Jawa. (Asvi Warman Adam, 2007). Pada
masa itu, kemerdekaan dipercaya akan membawa kehidupan yang lebih baik
untuk rakyat dan negara. Tidak ada lagi namanya penindasan manusia,
kolonialisme, imperialisme. Seluruh rakyat bersatu padu demi melenggangkan
berdirinya sebuah negara tempat mereka bebas menentukan nasibnya sendiri
tanpa didikte oleh negara lain. Karena itulah, perjuangan-perjuangan pun
dilakukan dengan berbagai cara, baik diplomasi maupun perjuangan fisik. Setiap
perjuangan dilakukan dengan mental baja dengan keyakinan penuh terhadap
perwujudan kemerdekaan.
Budi Utomo, Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, maupun organisasi-
organisasi kebangsaan lain, seperti Partai Komunis Indonesia, Partai Nasional
Indonesia dibentuk, di dalam maupun luar negeri. Perbedaan ideologi tak
menghalangi mereka untuk berjuang demi bangsa. Dari sana, pemimpin-
pemimpin besar yang menentukan arah kebijakan bangsa pun lahir.
Tjokroaminoto, Sukarno, Semaun, Tan Malaka, H. Agus Salim, Moh. Hatta, KH.
Ahmad Dahlan, Sudirman hingga DN Aidit bahu membahu memberikan apa yang
mereka punya kepada kepentingan bangsa.
Ada yang terlupakan dalam sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Ternyata, kelompok pemuda Komunis memiliki andil yang cukup besar dalam
terjadinya Proklamasi.
“Terdapat sesuatu yang tidak jelas ketika persiapan-persiapan proklamasi
berlangsung. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada sejumlah kader komunis yang
bekerja keras untuk melicinkan jalannya proklamasi. Aidit merupakan salah satu
utusan pemuda yang mendesak Ir. Sukarno dan Hatta memproklamasikan
kemerdekaan bersama-sama dengan grup Menteng 31..... Demikian pula Wikana
(grup Kaigun Komunis), salah seorang yang menjadi kurir antara grup Angkatan
Laut (Maeda) dan grup pemuda penculik Sukarno-Hatta di Rengasdengklok.
Tanpa Wikana dan juga Mr. Soebardjo jalannya proklamasi tidak akan begitu
lancar...” (Soe Hok Gie, 2005). Sejarah ini untuk membuka mata kita bahwa
proklamasi itu adalah hasil kerja keras semua golongan, baik nasionalis, agamais,
maupun komunis. Jadi tidak seharusnya ada golongan terlarang di negeri ini.
17 Agustus 1945. Kemerdekaan itu pun tiba. Meskipun hanya diwakili
dengan Proklamasi 2 alinea, namun dapat membangkitkan semangat rakyat
menjadi berlipat-lipat. Apa yang dinanti-nanti telah tiba. Proklamasi saat itu telah
membuka pintu kemerdekaan, semakin meningkatkan harapan akan adanya
sebuah kehidupan yang lebih baik.
Menurut sang konseptor Proklamasi sekaligus Presiden I RI, Ir. Sukarno,
pada pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, merdeka merupakan political
independence", politieke onafhankelijkheid. Kemerdekaan tak lain dan tak bukan
ialah jembatan emas. Bahwa di seberangnya itulah kita sempurnakan kita punya
masyarakat, begitu katanya. Menurut saya sendiri, merdeka itu merupakan sebuah
pencapaian tertinggi seorang manusia sebagai manusia. Maksudnya, bagaimana
seorang manusia memanusiakan dirinya sendiri, mendapatkan hak-haknya sebagai
manusia, dan menjalankan kewajibannya sebagai manusia. Dan kewajiban
manusia pada hakikatnya adalah untuk membangun kehidupan dengan manusia
lainnya, tidak individualistis.
Pada saat itu, Sukarno memberi contoh keadaan di Soviet. Ia berkata
demikian: Saat Soviet Rusia didirikan oleh Lenin, masyarakatnya bahkan belum
bisa membaca dan menulis. Di seberang jembatan emas yang diadakan Lenin
itulah, Lenin baru mengadakan radio- station, baru mengadakan sekolahan, baru
mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprostoff!
Nah, jadi kemerdekaan Indonesia itu sebenarnya hanyalah sebuah
jembatan emas. Jembatan berarti penghubung. Di seberangnya jembatan itulah
kita akan mengisi segala sesuatunya. Kita mengisinya dengan pendidikan, dengan
kegiatan-kegiatan ekonomi, dengan ideologi-ideologi. Ada yang mengatakan
bahwa sebuah merdeka berarti tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itu
adalah penyataan yang sama sekali tidak tepat. Jika kita menunggu hingga tiap-
tiap rakyat dari berjuta-juta penduduk Indonesia harus merdeka terlebih dahulu
dalam hatinya, menurut Sukarno, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia
Merdeka.
Memerdekakan rakyat itu dilakukan di dalam Indonesia yang merdeka.
Tidaklah kita bisa memerdekakan rakyat, jika negara kita belum merdeka adanya.
Inilah yang dinamakan ‘jembatan’ tersebut. Menurut Sukarno, di seberang
jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat
Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi. Itulah kemerdekaan
Indonesia. Membuat setiap rakyat di Indonesia mendapatkan hak-haknya sebagai
manusia dan menjalankan kewajibannya juga sebagai manusia yang bebas dalam
hubungannya dengan masyarakat
Jadi, apakah sekarang kita sudah merdeka? Tidaklah kita bisa menjawab
pertanyaan ini jika kata ‘kita’ tidak diuraikan terlebih dahulu. Jika kata ‘kita’
maksudnya adalah negara Indonesia, jawabannya sudah jelas: ‘Ya, kita, Indonesia,
telah merdeka.’ Namun, apakah negara telah berhasil memerdekakan rakyatnya
dalam Indonesia yang merdeka ini? Apakah rakyat kita telah menjadi gagah, kuat,
sehat, kekal, dan abadi seperti yang diharapkan sang Proklamator? Pertanyaan-
pertanyaan inilah yang cukup mengusik. Marilah kita mencoba mengurai
jawabnnya.
Pasca kemerdekaan hingga tahun 1965, perjuangan rakyat belum selesai.
Bahkan, cenderung semakin berat karena yang menjadi lawan bukan hanya musuh
dari luar, tetapi juga musuh dari dalam. Belum lagi keadaan ekonomi yang masih
morat-marit akibat masa peralihan dan pembentukan sistem perekonomian yang
baru. Hal-hal ini menyebabkan angka kemiskinan masih tinggi. Salah satu hal
positif yang ada adalah rasa kebangsaan dan nasionalisme yang sangat tinggi pada
masa itu. Pergolakan-pergolakan ideologi yang terjadi pada masa itu membuat
bangsa ini makin kaya. Sukarno yang terpilih menjadi presiden memiliki visi dan
misi yang jelas, yaitu menyelesaikan revolusi. Revolusi itu sendiri, menurut
Sukarno terdiri atas 2 bagian, yaitu Revolusi Nasional, setelah itu dilanjutkan
degan Revolusi Sosial, dengan dasar Sosialisme Indonesia.
Kabinet berganti-ganti, begitu pula sistemnya. Dari Republik Indonesia,
berganti ke Republik Indonesia Serikat tahun 1949, hingga kembali lagi menjadi
Negara Kesatua Republik Indonesia tahun 1955. Tetapi, tetap saja kesejahteraan
rakyat masih belum tercapai. Ya, tujuan revolusi masih belum tercapai. Itulah
sebabnya Sukarno sering mengatakan bahwa Revolusi kita belum selesai. masih
dalam proses. Revolusi Nasional itu berhasil jika rasa memiliki bangsa, rasa
memiliki satu tujuan kebangsaan tertanam dalam benak setiap rakyat. Jika ini
sudah tercapai, maka kita akan menuju masa dimana masyarakat akan terbentuk
menjadi kolektif, dari masyarakat untuk masyarakat. Saat dimana kesejahteraan
dan keadilan masyarakat tercapai. Inilah yang dinamakan Revolusi Sosial. Pada
masa-masa ini pula lahir ideologi bangsa yang dijadikan dasar negara, yaitu
Pancasila.
Saat Sukarno masih berjuang untuk menyelesaikan revolusi untuk
memerdekakan rakyatnya, pada akhir Septembr 1965, ia diturunkan dari
jabatannya secara paksa. Sebuah percobaan ‘kudeta merangkak’ untuk mengakhiri
kekuasaan Sukarno dan membentuk sebuah rejim baru dibawah kendali negara
kapitalis terjadi dalam satu malam. Para Jenderal yang setia pada Sukarno
dibunuh, dan peristiwa ini kemudian dijadikan alasan seorang ‘jenderal keras
kepala’ (Sukarno sendiri yang memberikan ungkapan ini) untuk mengambi alih
keadaan dan memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa Partai Komunis
Indonesialah yang bertanggung jawab. Pasca kejadian tersebut, beratus ribu
hingga berjuta rakyat yang dituduh komunis maupun yang menjadi anggota salah
satu partai terbesar di Indonesia tersebut dibantai dan sisanya dibuang ke Pulau
Buru tanpa proses peradilan yang jelas. Semua rangkaian yang menghancurkan
setiap aspek kemanusiaan manusia Indonesia itu berpuncak pada tanggal 11 Maret
1966, dimana keluar sebuah surat perintah untuk mengendalikan situasi dari
Presiden kepada Suharto, yang kemudian kembali disalahgunakan untuk
mengambil alih kekuasaan oleh nama yang disebut terakhir, seorang ‘smiling
jenderal’ yang penuh intrik licik..
Dari sinilah, saya berani mengatakan bahwa usaha-usaha Sukarno untuk
memerdekakan rakyatnya itu telah tercederai. Rejim orde baru telah membuka
keran kapitalisasi dan neo-imperialisme, yang sangat dihindari pada masa
Sukarno, dibiarkan masuk dengan membabi buta. Akibatnya terasa hingga
sekarang. Hutang dimana-mana, negara kehilangan kuasa atas usaha-usaha yang
menyangkut hajat hidup orang banyak, dan sudah bisa disimpulkan, jumlah rakyat
miskin dari tahun ke tahun semakin bertambah. Pada masa ini, negara Indonesia
berubah dari negara yang pernah terjajah, menjadi negara penjajah yang merebut
wilayah Timor Timur mulai 7 Desember 1975. Di saat ini pula Pancasila berada
pada titik terendah. Pancasila tidak lagi menjadi ideologi dan dasar negara, namun
menjadi ideologi yang mengatur pribadi-pribadi bangsa. Pancasila dijadikan
sebuah pandangan mistik yang dibuat untuk melenggangkan kekuasaan rejim.
Era reformasi yang katanya membawa perubahan pun ternyata hanya
‘mengganti kulit’ orde baru, tetapi ‘jeroannya’ tetap sama. Sistem tetap pada
pakem orde baru, dan kemerdekaan untuk rakyat itu belum juga terwujud. Modal
asing datang dan pergi tanpa ada sedikitpun dampaknya bagi rakyat, terutama
rakyat miskin. Kelaparan meningkat, yang diikuti dengan meningginya angka
kriminalitas dan kematian. Kesehatan semakin sulit dijangkau rakyat miskin,
padahal jumlah penduduk Indonesia semakin lama semakin tinggi. Pada tahun
2010 ini saja jumlah penduduk Indonesia sekitar 234,2 juta jiwa, meningkat dari
tahun 2009 yang berjumlah 231 juta jiwa. Jumlah penduduk miskinnya hingga
Maret 2010 mencapai 31,02 juta jiwa (13,33% dari jumlah penduduk), yang
katanya berkurang dibandingkan jumlah pada Maret 2009 yang sebesar 32,53 juta
(detikfinance.com). Saya tidak yakin apakah pengurangan ini memang akibat
perbaikan tingkat ekonominya atau karena kematian penduduk miskin yang
tinggi.
Belum lagi ditambah hilangnya wibawa negara di hadapan negara lain. Di
kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, Indonesia terkenal sebagai negara
pembantu karena banyaknya TKI dan TKW yang mengais rejeki di sana. Namun
apa yang didapat, bukan Real atau kesejahteraan, sebagian dari mereka pulang
dengan rasa malu akibat diperkosa majikan, hampir gila, disiksa, atau yang lebih
parah pulang tinggal mayat. Belum lagi kasus penyiksaan dan penganiayaan TKI
dan TKW di Malaysia, Hongkong. Semua itu tanpa sikap dan penyelesaian yang
tegas dari pemerintah. Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin negara-negara
tersebut semakin ‘sepele’ dengan negara kita.
Mau ditambah lagi?? Masalah kedaulatan wilayah, terutama wilayah laut,
yang masih belum jelas terutama dengan Singapura dan Malaysia.
Mengambangnya masalah ini hanya akan memicu semakin banyaknya konflik
perbatasan yang memanaskan suhu hubungan bilateral.
Hal-hal ini menunjukkan kita belum memiliki karakter sebagai bangsa,
sebagai negara merdeka. Proses pembentukan karakter yang disebut Sukarno
sebagai Nation and Character Building ini tidak lagi menjadi prioritas saat orde
baru dan rejim-rejim setelahnya. Akibatnya kebanggaan sebagai bangsa perlahan-
lahan memudar. Bangsa ini berubah dari bangsa yang revolusioner, menjadi
bangsa yang reksioner. Dan ini tentunya sangat merugikan.
Kesimpulannya adalah Indonesia belum berhasil memerdekakan
bangsanya dalam Indonesia yang merdeka. Inilah yang mungkin bisa menjadi
bahan perenungan kita pada hari-hari kemerdekaan ataupun untuk hari-hari ke
depan. Bangsa ini memerlukan persatuan dari seluruh masyarakat untuk tetap
tegak berdiri dan bersama melewati semua permasalahan yang menerpa. Dunia
saat ini sedang mengalami guncangan-guncangan. Negara-negara dengan
ekonomi kuat memperebutkan pengaruh di kawasan dunia ketiga yang diisi
negara-negara sedang berkembang. Amerika Serikat dengan sekutunya, Cina
dengan sekutunya, Eropa dengan sekutunya, dan Timur Tengah dengan sekutunya,
tengah terlibat dalam sebuah persaingan besar. Jika dahulu pada tahun 1947
terjadi Perang Dingin antara blok barat dan timur yang memperebutkan pengaruh
ideologi, yang terjadi sekarang adalah peperanga merebut pengaruh ekonomi,
pengaruh pasar. Di sini seharusnya Indonesia memiliki pendirian yang tegas dan
tidak ikut dalam arus yang tak menentu. Sekali lagi, Kemerdekaan Indonesia itu
dipertaruhkan.
Saya rasa, pandangan Sukarno tentang revolusi masih sangat relevan
untuk keadaan bangsa yang sekarang. Tembok-tembok neo-(kapitalisme,
imperialisme, dan liberalisme) yang mengelilingi bangsa ini harus segera
dihancurkan. Negara ini bukan hanya untuk milik para pemodal. Negara ini juga
milik rakyat, terutama rakyat miskin. Semuanya berhak mendapatkan rejeki dari
kekayaan negara. Pancasila harus ditegakkan dan dikembalikan ke posisi
tertingginya sebagai dasar negara. Hilangkan Amademen-amandemen UUD 1945
yang jelas-jelas memperkosa hak rakyat. Kembalikan Indonesia ke hadiratnya
yang dulu, yang dicita-citakan para pendiri bangsa (sebelum kejadian tahun 1965
tentunya).
Teman saya mengatakan bahwa sebelum kita merubah masyarakat, kita
harus merubah diri sendiri. Itu benar. Tapi bagaimana caranya? Sebagai generasi
muda, tugas kita adalah belajar. Ya, belajar. Semua proses pembalajaran akan
membawa kita ke dalam sebuah perubahan, baik untuk diri sendiri maupun orang
lain. Jangan pernah meninggalkan sejarah!. Janganlah pula kita menutup mata
terhadap setiap perubahan yang terjadi. Tidak masalah adanya perbedaan
pandangan ataupun ideologi sepanjang itu berdampak baik untuk masyarakat.
Pergunakanlah ilmu bukan hanya untuk diri kita sendiri, namun juga untuk
masyarakat. Sudah saatnya kita menyingkirkan semua doktrin yang menyatakan
bahwa belajar itu untuk sukses dan sukses itu hanya untuk diri sendiri. Semua
pembelajaran dan ilmu tidaklah berguna jika tidak diberdayakan dalam
masyarakat. Berjuanglah untuk kesejahteraan masyarakat dengan ilmu yang kita
miliki. Berjuanglah dengan cara kita masing-masing, namun dengan satu tujuan:
demi kesejahteraan dan keadilan untuk seluruh manusia Indonesia. Mewujudkan
Indonesia seperti apa yang dikatakan Sukarno dalam konsep Tri Saktinya:
1. Berdaulat politik
2. Berkepribadian dalam kebudayaan
3. Berdikari ekonomi
MERDEKA!!
Sumber-sumber:
Adam, Asvi Warman. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit
Ombak.
Gie, Soe Hok. 2005. Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Bandung: Pnerbit
Bentang
Salinan Pidato Ir. Sukarno tentang Pancasila dalam rapat dengan Dokuritu Zyunbi
Tyoosakai 1 Juni 1945
www.detikfinance.com; diunduh pada 16 Agustus 2010.

Semarang, 16 Agustus 2010


Michael Teguh Adiputra Siahaan