P. 1
kontrol konvensional

kontrol konvensional

|Views: 766|Likes:
Dipublikasikan oleh Muharmy Kuniawan

More info:

Published by: Muharmy Kuniawan on Aug 17, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2013

pdf

text

original

LAPORAN BENGKEL OTOMATISASI INDUSTRI

PENGONTROLAN ARAH PUTARAN MOTOR DC MENGGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK
Sebagai Syarat Menyrlesaika Mata Kuliah Bengkel Otomatisasi Industri

Oleh : Muharmy Kurniawan 76564/2006 Yuri Anto 76565/2006

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2009

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Batasan Masalah 3. Tujuan dan Manfaat BAB II LANDASAN TEORI 1. Dioda 2. Transistor 3. Trandurer Ultrasonik 4. Comparator 5. Catu daya BAB III RANCANGAN 1. Blok Diagram Sistem ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… …………………………………….… ……………………………………… ....…………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… i iii iv 1 1 2 2 3 3 5 9 11 12 14 14 14 15 16 16

A. Rangkaian Pemancar ……………………………………… B. Rangkaian Penerima ……………………………………… 2. Prinsip Kerja Sistem ………………………………………

A. Rangkaian Pemancar ………………………………………

i

B. Rangkaian Penerima ………………………………………. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ……………………………………… ……………………………………….

17 18 19

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Simbol dioda ....................................................................................... Gambar 2. Karakteristik Dioda ………………………………………………… Gambar 3. Pemberian Bias pada Dioda ………………………………………… Gambar 4. Simbol dan Kontruksi Transistor …………………………………… Gambar 5. Diagram Rangkaian Common-emiter ……………………………… Gambar 6. Karakteristik Transistor NPN ……………………………………… Gambar 7. Transistor Sebagai Saklar dalam Suatu Rangkaian ………………… Gambar 8. Penampang Tranduser Ultrasonik …………………………………... Gambar 9. Comparator …………………………………………………………. Gambar 10. Skema Rangkaian Catu daya ……………………………………… Gambar 11. Blok Diagram Rangkaian Pemancar (TX) ……………………….. Gambar 12. Blok Diagram Rangkaian Penerima (RX) ……………………….. 3 3 4 5 6 7 7 10 11 13 14 15

iii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Komponen 1. Rangkaian Pemancar 2. Rangkaian Penerima 3. Rangkaian Catu Daya Lampiran 2. Skema Rangkaian 1. Rangkaian Pemancar (TX) ………………………………………. 2. Rangkaian Penerima (RX) 3. Rangkaian H – Bridge 4. Rangkaian Catu Daya Lampiran 3. Data Sheet IC LM301A ………………………………………. ………………………………………. ………………………………………. ………………………………………. 22 23 24 25 26 ………………………………………. ………………………………………. ………………………………………. ………………………………………. 20 20 20 21

iv

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Pada saat sekarang motor DC sudah banyak diterapkan dalam berbagai aplikasi seperti ; pemutar optical drive, pemutar kaset, mobil trolley, marine hoist, forklift trucks, dan pengontrolan kaki – kaki robot. Motor DC dipilih karena memiliki akselarasi yang tinggi, berefesiensi tinggi dan memiliki respon dinamik yang cepat selain itu untuk mengubah arah putaran motor DC juga lebih mudah dari pada motor induksi satu fasa. Untuk mengubah arah putaran motor DC biasanya digunakan saklar DPDT (Double Pole – Double Throw), namun saat ini beraneka macam sensor yang ada dipasaran dan dapat digunakn untuk mengontrol arah putaran motor mulai dari sensor inframerah, sensor cahaya (LDR), sensor suhu (Thermistor, NTC/PTC), sensor ultrasonik, dan sebagainya. Berdasarkan hal diatas maka timbul keinginan penulis untuk mengangkat judul “ Pengontrolan Arah Putaran Motor DC Menggunakan Sensor Ultrasonik “ sebagai Proyek Mini pada mata kuliah Bengkel Otomatisasi Industri.

1

2. Batasan Masalah Dalam perancangan pembuatan alat pengontrolan arah putaran motor DC menggunakan sensor ultrasonik ini penulis membatasi ruang lingkup pada : a. Perrancangan dan analisa rangkaian. b. Pengaturan sensitifitas jarak sensor ultrasonik. c. Pembahasan karakteristik komponen – komponen yang digunakan hanya terbatas pada komponen yang diperlukan saja. 3. Tujuan dan Manfaat a. Tujuan Merancang rangkaian kontrol pembalik arah putaran motor DC Melakukan pengontrolan arah putaran motor DC menggunakan sensor ultrasonik. Menjelaskan prinsip kerja dari blok – blok diagram rangkaian b. Manfaat Adapun manfaat dari pembuatan Proyek Mini ini adalah membuat suatu alat yang dapat mengatur/mengontrol arah putaran motor DC menggunakan sensor ultrasonik dan dapat dikembangkan lebih luas lagi dalam pemakaiannya.

2

BAB II LANDASAN TEORI
Teori – teori yang mendasari proyek ini adalah 1. Dioda Dioda merupakan, komponen elektronika yang terdiri atas sambungan dua bahan semikonduktor (silikon jenis n dan jenis p). Komponen ini mampu dialiri oleh arus secara mudah dalam satu arah (anoda ke katoda) tetapi amat sukar dalam arah kebalikan (katoda ke anoda). ANODA KATODA

Gambar 1. Simbol Dioda
(Sutrisno: 1986,84)

Karakteristik dioda yang diberi tegangan arah maju dan mundur dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Karakteristik Dioda (Malvino : 1994, 33)
3

Tegangan jatuh (on) pada dioda Ada pada 0,7V untuk Silikon (Si) dan 0,3 untuk Germanium (Ge). Sedangkan bias balik dari jenis dioda tergantung dari jenis dioda itu sendiri. Jadi apabia dioda diberi tegangan maju lebih dari0,7V (Si) atau 0,3 (Ge) maka dioda akan bekerja (on). Apabila dioda diberi tegangan sumber sedemikian rupa, sehingga kutup positif sumber tegangan dihubungkan ke sisi anoda, maka arus listrik akan mengalir dari sisi anoda ke sisi katoda. Cara pemberian tegangan seperti ini disebut dengan forward bias (arus maju), sedangkan reversed bias (arus mundur) adalah kebalikannya yaitu mundur yang mengakibatkan dioda tidak akan mengalirkan arus, seperti terlihat pada gambar 3 di bawah ini:

(a)

(b)

Gambar 3. Pemberian Bias pada Dioda (a) Forward Bias (b) Reverse Bias
(Malvino: 1994, 29)

Di dalam rangkaian proyek akhir, dioda berfungsi sebagai pengaman terhadap Q3 (transistor) dengan cara menghindari arus balik yang terjadi pada saat transistor dalam keadaan on (menghantar) dan cutoff.

4

2. Transistor Transistor merupakan komponen elektronika yang memiliki tiga terminal seperti yang terlihat pada gambar 4. Setelah, bahan semikonduktor dasar tersebut diolah, terbentuklah bahan semikonduktor jenis P dan jenis N. pada dasarnya, transistor merupakan tiga lapis gabungan kedua jenis bahan di atas, yaitu NPN dan PNP. Transistor yang dibicarakan di sini adalah transistor NPN. Kolektor dan emitor merupakan bahan N sedangkan lapisan diantaranya merupakan jenis P.

Gambar 4. Simbol dan Konstruksi Transistor
(Sutrisno: 1986, 120)

a. Karakteristik Statis Transistor Ada tiga konfigurasi yang dapat dilakukan pada transistor NPN; commoncolector, common-base, common-emitter tapi konfigurasi common emitterlah yang paling banyak digunakan pada penerapan sebagai saklar, ditunjukkan oleh gambar 5 di bawah ini.

5

Gambar 5. Diagram Rangkaian Common-emitter
(Sutrisno: 1986, 140)

Daerah kerja transistor meliputi: daerah cutoff, daerah aktif dan daerah jenuh (saturation), seperti yang ditunjukkan pada gambar 6. Daerah kerja cut off transistor “off” atau pada saat ini arus base tidak cukup untuk memberi keadaan ‘on’ dan ke dua junction atau persambungan dalam bias mundur. Daerah kerja aktif, transistor bekerja sebagai amplifier atau (reverse biased) penguat, di mana arus collector IC diperbesar dengan penguatan. (gain) dan tegangan collector-emitter VCE berkurang oleh arus base IB. Persambungan collector-base (CBJ) akan bias mundur (reverse biased), dan persambungan base-emitter (BEJ) akan bias maju (forward biased). Daerah kerja jenis, IB cukup tinggi, tapi tegangan collector-emitter VCE rendah dan disini transistor bekerja sebagai saklar (switch). Kedua persambungan (CBJ dan BEJ) dalam keadaan bias maju.

6

Gambar. 6 Karakteristik Transistor NPN
(Sutrisno: 1986, 141)

b. Transistor sebagai sebuah saklar. Transistor dapat di buat agar beroperasi seperti saklar. Arus dalam rangkaian transistor mengalir lewat kaki collector, arus konvensional mengalir lewat terminal positif baterai mengelilingi rangkaian dan kembali ke terminal negatif. Sewaktu transistor berfungsi sebagai saklar, dia akan mengalir atau menggantikan aliran arus. Transistor dapat mengalirkan arus (on), apabila pada kaki base, diberi sinyal yang menyebabkan timbulnya tegangan base-emitter (VBE). Tetapi apabila tegangan antara base-emitter tidak ada, maka transistor tidak akan bekerja (off).

Gambar 7. Transistor sebagai saklar dalam suatu rangkaian
(Wasito: 1994, 73)

7

c. Transistor sebagai penguat Transistor sebagai penguat terdiri dari penguat emitor ditanahkan dan penguat kolektor ditanahkan. 1) Penguat emitor ditanahkan Pada penguat emitor ditanahkan tegangan masuk melalui basis dan emitor dihubungkan dengan tanah, sedangkan keluar diambil dari kolektor. Penguat emitor ditanahkan mempunyai impedansi masukan kali lebih besar dari pada

penguat basis ditanahkan dan impedansi keluaran transistor (1-α) lebih kecil dari pada penguat basis ditanahkan. Impedansi masukan yang tak terlalu besar dan impedansi keluaran yang tak terlalu kecil membuat penguat emitor ditanahkan sangat baik digandengkan dalam beberapa tahap tanpa banyak kesesuaian impedansi pada perubahan tegangan dari satu tahap ke tahap berikutnya. 2) Penguat kolektor ditanahkan Pada penguat kolektor ditanahkan, kolektor transistor dihubungkan langsung dengan Vcc. Tegangan yang masuk melalui basis dan emitor dihubungkan dengan suatu tahanan ke tanah dan tegangan keluarnya diambil pada emitor. Penguat kolektor ditanahkan juga disebut pengikut emitor (emitter follower). Penguat kolektor ditanahkan mempunyai penguat tegangan kurang dari satu (Kv ≡ 1), mempunyai impedansi masukan tinggi dan impedansi keluaran rendah. Penguat kolektor ditanahkan terutama digunakan sebagai penyanggah untuk mengatasi ketidaksesuaian pada perubahan tegangan.

8

3. Tranduser Ultrasonik (Sensor Ultrasonik) Transduser merupakan sebuah alat yang bila digerakkan oleh energi di dalam sebuah sistem transmisi berupa sinyal suara, menyalurkan energi dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang berlainan ke sistem transmisi ke dua. Transmisi energi ini bisa listrik, mekanik, kimia, optik (radiasi) atau termal (panas). Sebagai contoh, definisi transduser yang luas mencakup alat-alat yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga (getaran) mekanik (atau tenaga bunyi). Transduser berguna untuk menimbulkan bunyi ultrason yang mengandung kristal besar. Bentuk dan volume kristal ini berubah-ubah olah pengaruh medan listrik, transduser ini disebut piezoelektrik. Beberapa jenis bahan dapat menimbulkan potensial listrik jika mengalami regangan mekanis, dan sebaliknya dapat berubah dimensinya jika dikenai tegangan listrik, ini diketahui sebagai efek piezoelektrik di antara bahan ini yang perlu dicatat ialah kuartz, garam Rochelle (potassium sodium tartarat), barium litanat yang dipolarisasi secara tepat, ammonium dihidrogen fosfat kristal kwarsa, kristal tourmaline, dan bahkan gula biasa. Dari semua bahan yang menunjukkan efek ini, tidak satupun yang mempunyai semua sifat-sifat yang dikehendaki, misalnya stabilitas, keluaran yang tinggi, tidak peka terhadap suhu dan kelembaban yang ekstrem dan kemampuan untuk dibentuk ke bentuk yang dikehendaki. Garam Rochelle memberikan keluaran yang tinggi, tetapi memerlukan potensi terhadap kelembaban di udara dan tidak dapat digunakan pada suhu di atas 450C (1150F). Kuartz merupakan bahan yang paling stabil, meskipun keluarannya rendah. Kuartz sering dibentuk menjadi piringan tipis dengan kedua permukaannya dilapisi perak untuk tempat menempelkan elektroda. Tebal plat dibentuk sedemikian rupa sampai
9

mencapai dimensi yang memberikan frekuensi resonansi secara mekanis yang sesuai dengan frekuensi listrik yang dikehendaki. Kristal ini kemudian disatukan dengan rangkaian elektronik yang sesuai yang mengontrol frekuensinya. Kristal perlu dikopelkan secara mekanik kepada material yang hendak diuji. Juga diperlukan sambungan-sambungan guna memberikan medan listrik. Karena itu kristal perlu dipasang pada suatu pegangan (holder). Kristal direkatkan di antara dua keping logam ini berfungsi sebagai sambungan listriknya. Tebal keping ini sama dengan setengah panjang gelombang kristalnya (frekuensinya adalah 40 KHz). Karena ruang dibelakang keping yang dalam berisi udara, maka tenaga bunyi yang hilang ke arah itu akan sedikit. Keping yang depan dikopelkan langsung kepada material yang hendak diukur. Bentuk berkas bunyi ditentukan oleh besarnya keping penggetar (membrane). Kalau luas keping ini kecil terhadap panjang gelombang, maka bunyi akan terpencar ke segala arah.

Gambar 8. Penampang Tranduser Ultrasonik
(Wasito: 1981, 250)

10

Jika diregang secara mekanis, piozoelektrik akan menimbulkan suatu muatan, yang sementara disimpan dalam kapasitor. Sebagaimana seluruh kapasitor, muatan akan mengecil sesuai dengan waktu karena kebocoran, suatu fakta yang membuat alat-alat piezo sangat berguna jika digunakan untuk pengukuran mekanik. Transduser piozoelektrik digunakan untuk mengukur kekasaran, regangan, gaya dan torsi, tekanan, gerakan dan bunyi serta kebisingan. 4. Comparator Cara yang termudah untuk menggunakan suatu penguat operatif adalah loop terbuka (tidak ada resistor umpan balik), seperti pada gambar 10a. karena penguatan yang tinggi dari penguat operatif tegangan kesalahan yang sedikit (secara tipikal dalam microvolt) menimbulkan ayunan (swing) output maksimum.

Gambar 9. Comparator (a) Simbol Comparator (b) Karakteristik Comparator
(Malvino: 1984, 530)

11

Misalnya jika V1 lebih besar dari V2, tegangan kesalahan adalah positif dan tegangan output menuju ke harga positif maksimumnya secara tipikal 1 sampai 2 V kurang dari tegangan catu. Dipihak lain jika V1 kurang dari V2, tegangan output perayun ke harga negatif maksimum. Gambar 10b meringkaskan gerak tersebut. Tegangan kesalahan positif mendorong output ke + VSAT. Harga positif maksimum dari tegangan output. Tegangan kesalahan negatif menimbulkan tegangan output – VSAT. Jika sebuah penguat operatif digunakan seperti ini, maka disebut comparator karena semua yang dapat dilakukannya adalah membandingkan V1 dengan V2 yang menghasilkan output positif atau negatif jenuh, tergantung pada apakah V1 lebih besar atau lebih kecil dari V2. 5. Catu Daya Catu daya dibutuhkan pada sebuah sistem kontrol sebagai penggerak (Suppy Power). Catu daya yang dipakai mengeluarkan tegangan +12 volt, 0 volt dan -12 volt yang telah distabilkan. Catu daya bekerja dengan tiga fungsi utama yaitu: a. Menurunkan tegangan Yaitu menurunkan tegangan listrik dari jala-jala PLN (220 VAC) menjadi tegangan lebih kecil. Ini dilakukan dengan menggunakan trafo step down dengan lilitan sekunder memakai Centre Tap (CT) 12V – 0 – 12V b. Penyearah gelombang Pada catu daya ini digunakan penyearah gelombang penuh yang masing-masing dioda akan memotong ½ siklus gelombang negatif. Ini sudah dapat menghasilkan tegangan DC namun masih dengan Ripple yang besar. Untuk memperkecil Ripple digunakan kondensator C1 sebagai filter.
12

c. Penstabilan tegangan Agar tegangan yang keluar pada catu daya konstan tanpa dipengaruhi oleh penaikan atau penurunan tegangan input. Disini digunakan IC 78L12 untuk keluaran tegangan konstan +12 VDC dan 79L12 untuk tegangan konstan -12 VDC.
12V

0V 220VAC

1

IN

GND 2

OUT

3

+12V

7812 12V
D1 - D4

C1

0V

C2 7912
1 2 IN GND OUT 3

-12V

Gambar 10. Skema Rangkaian Catu Daya Prinsip kerja dari rangkaian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: Trafo step down menurunkan tegangan 220V dari jala-jala PLN dan akan menghasilkan tegangan 12V – 0 – 12V pada lilitan sekunder. Kemudian gelombang sinus ini akan disearahkan oleh dioda yang membentuk sistem penyearah gelombang penuh. Untuk meratakan hasil penyearah ini digunakan elektrolit kondensator (C1 dan C2). Dari elektrolit kondensator juga diambil masukan ke IC 78L12 dan IC 79L12 keluaran ini akan menghasilkan tegangan DC +12V, 0V, -12V

13

BAB III PERANCANGAN
1. Blok Diagram Sistem A. Rangkaian Pemancar

Gambar 11. Blok Diagram Rangkaian Pemancar (TX) 1) Osilator Osilator merupakan pembangkit gelombang atau sinyal yang akan dipancarkan oleh transmitter. 2) Amplifier Amplifier digunakan sebagai penguat sinyal yang dibangkitkan oleh osilator, pada rangkaian ini digunakan amplifier non inverting artinya fase output dan inputnya sama, sementara polaritasnya terbalik. 3) Tranduser pemancar (Transmitter) Tranduser pemancar merupakan pemancar gelombang ultrasonik yang ditimbulkan oleh osilator dan frekuensinya ditentukan oleh karakteristik tranduser.

14

B. Rangkaian Penerima

Gambar 12. Blok Diagram Rangkaian Penerima (RX) 1) Tarnduser penerima (receiver) Tarnduser penerima akan memerima gelombang ultrasonik dari pesawat pemancar yang outputnya berupa tegangan. 2) Referensi Referensi pada rangkaian ini adalah tegangan yang terdapat pada kaki positif, dan dapat diatur melalui resistor variable, referensi pada rangkaian ini digunakan untuk mengatur jarak sensitifitas sensor. 3) Comparator (Pembanding) Comparator digunakan sebagai pembanding tegangan antara tegangan referensi dengan tegangan receiver. 4) Regulator Regulator berfungsi untuk mencegah agar fluktuasi tegangan catu jangan mentriger unit. 5) Amplifier Amplifier berguna sebagai penguat yang akan menguatkan keluaran dari pesawat penerima berupa tegangan yang diterima dari pesawat pemancar.
15

6) Driver Driver merupakan rangkaian pengendali yang akan mengendalikan polaritas tegangan masukan pada motor DC, pada rangkaian ini penulis menggunakan rangkaian H-Bridge sebagai pembalik polaritas yang akan masuk ke motor DC.

2. Prinsip Kerja Sistem A. Rangkaian Pemancar Merupakan suatu osilator yang frekuensinya ditentukan oleh karakteristik tranduser. Kurva impedansi tranduser adalah serupa dengan kurva dari sebuah Kristal dengan minimum resonansi (seri) pada 39,8 KHz diikuti dengan maksimum resonansi (parallel) pada 41,5 KHz. Didalam rangkaian kedua transistor digunakan untuk membentuk sebuah amplifier non inverting (fase output dan input sama) dan feedback positif disedikan melelui tranduser, R6 dan C3. Pada frekuensi resonansi seri, feedback ini cukup kuat untuk membangkitkan suatu osilasi. Kapasitor C1 dan C4 digunakan untuk mencegah rangkaian berisolasi harmonik ke tiga atau overtone (nada kelipatan) sejenis, sedangkan C5 digunakan untuk menggeser titik resonansi seri ke atas sampai 500 Hz atau lebih untuk penyesuaian dengan pesawat penerima. B. Rangkaian Penerima Output dari tranduser merupakan suatu tegangan AC yang sebanding dengan sinyal yang dideteksi (hanya 40 KHz). Oleh karena levelnya kecil sekali, maka sinyal ini diperkuat sekitar 70 dB oleh Q1 dan Q2. Stabilisasi DC pada tingkatan

16

ini di set oleh R1 dan R3, sedangkan C1 menutup jalur feedback ini ke sinyal AC 40 KHZ. Output dari Q2 disearahkan oleh D` dan tegangan pada kaki no. 2 dari IC1 akan menjadi lebih negatif dengan meningkatnya sinyal input. Bila sinyal input kuat, maka amplifier akan dengan sendirinya memotong amplitude bentuk gelombang output, yang pada waktu sinyal yang kuat sekali akan bentuk suatu gelombang persegi dengan amplitude berayun diantara selisih potensial catu. IC1 digunakan sebagai koparator dan mengecek tegangan pada kaki no. 2, ialah level suara, terhadap tegangan pada kaki no. 3, yang merupakan level referensi. Bila kaki no. 2 berada pada tegangan lebih rendah dari kaki no. 3, output IC1 akan akan menjadi tinggi dan ini akan mentriger kaki IC3, output pada IC3 akan positif, sedangkan output IC2 akan menadi negatif karena salah satu kaki IC2 meneriama sinyal positif dari IC3. Dengan positifnya output kaki IC2 dan output kaki IC3 negatif maka transistor Q4 dan Q5 yang aktif akan off sebaliknya transistor Q6 dan Q7 yang akan aktif.

17

DAFTAR PUSTAKA
Malvino. 1994. Prinsip – Prinsip Elektronika Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta. Erlangga. Malvino. 1994. Prinsip – Prinsip Elektronika Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta. Erlangga. Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya. Bandung. ITB S, Wasito. 1994. Vademekum Elektronika. Jakarta. Gramedia. www.datasheetcatalog.com

18

DAFTAR KOMPONEN
1. Rangkaian Pemancar R1 ………………… R2 ………………… R3 ………………… R4 ………………… R5 ………………… R6 ………………… C1 ………………… 120K 6K8 100K 8K2 1K 2,7 1nF C2 ………………… C3 ………………… C4 ………………… C5 ………………… C6 ………………… D1 ………………… Q1, 2………………… 10nF 47nF 560pF 2n2F 100µF/25V 1N4002 BC548

Pemancar Tranduser Ultarsonik 40 KHz 2. Rangkaian Penerima R1, 4 ……………….. R2, 6, 8 …………….. R3 …………………. R5, R12 – R14 …… R7 ………………… R9 ………………… R10 ……………….. R11 ……………….. VR ………………… C1 …………………. 10K 100K 100 2K2 68K 1M 4K7 1K 50K 1µF/25v C2 …………………. C3 …………………. D1 ………………… D2 – D6 ………….... Q1, Q2 ……………. Q3 – Q6 …………… IC1 ………………… IC2 ………………… IC3 ………………… 47nF 1000µ/25v 1N4148 1N4002 BC548 TIP31 LM301A CD4093 CD4081

Penerima Tramduser Ultrasonik 40 Khz

19

3. Rangkaian Catu Daya T1 ……………… D1,D2 …………… C1, 2, 3 ………….. C4, 5, 6 ………….. C7,8 ……………… IC1, 3 ……………. IC2 ……………… 1A/CT S4VB (Bridge Dioda) 2200µF/25V 100nF 47µF/25V 7812 7912

20

Amplifier

D1 +12V

R2

R3 R5

C2 C1 C7 Tranduser Q2 C6

R1

Q1

R4

C5 R6

0V

C4 Osilator

FT UNP Rangkaian Pemacar (TX) 01 17 - 03 - 2009 3 LDK

D2 +12V R9

R2
+12V

R4 R8 13 2 D1 IC 1 4 3 Q2 Comparator

C2

R6

VR1

11 IC 2 A

6 12

7

+

C3

-12V

Q1

1 R3 2 IC 3 3 B

R1

Tranduser R5 R7 R11 Driver (A)

C1

0V

Amplifier

Referensi

FT UNP Rangkaian Penerima (RX) 02 17 - 03 - 2009 3LDK

+12V

R12 Q3 D3 D5 Q5

R14

A

M
R15 Q6 D6 D4 Q4

R13

B

Driver (B) 0V

FT UNP Rangkaian H - Bridge 03 17 - 03 - 2009 3LDK

12V

6V
1 IN GND 2 OUT 3

220 VAC IC1 D1 C1 C4 C7

0V +12 VDC

6V

12V

0 VDC

Catu Daya Untuk Rangkaian

C2 IC2
1 2 IN GND OUT 3

C5

C8

-12 VDC

1 IN

GND 2

OUT

3

+12 VDC IC3

D2

C3

C6

Catu Daya Untuk Motor
0 VDC

FT UNP Rangkaian Catu Daya 04 17 - 03 - 2009 3LDK

LM301A, LM201A, LM201AV Non Compensated Single Operational Amplifiers
A general purpose operational amplifier that allows the user to choose the compensation capacitor best suited to his needs. With proper compensation, summing amplifier slew rates to 10 V/ms can be obtained.
Features http://onsemi.com

• Low Input Offset Current: 20 nA Maximum Over Temperature • • • • •
Range External Frequency Compensation for Flexibility Class AB Output Provides Excellent Linearity Output Short Circuit Protection Guaranteed Drift Characteristics Pb−Free Packages are Available
VEE Inverting Input Non− Inverting Input Balance 10 MW VCC Output + Freq Compen 30 pF Balance 5.1 MW VEE 8 1 PDIP−8 N SUFFIX CASE 626

8 1

SOIC−8 D SUFFIX CASE 751

PIN CONNECTIONS
Balance Inputs VEE
1 2 8 7 6 5

Compensation VCC Output Balance

20 k

3 4

Figure 1. Standard Compensation and Offset Balancing Circuit

(Top View)

ORDERING INFORMATION
VUT VCC + VO VI MZ4622 or Equiv. 3.9 V *For additional information on our Pb−Free strategy and soldering details, please download the ON Semiconductor Soldering and Mounting Techniques Reference Manual, SOLDERRM/D.
See detailed ordering and shipping information in the package dimensions section on page 2 of this data sheet.

VEE VCC

DEVICE MARKING INFORMATION
VLT VO VO = 4.8 V for VLT ≤ VI ≤ VUT VO = −0.4 V VI < VLT or VI > VUT
See general marking information in the device marking section on page 3 of this data sheet.

VEE

(Pins Not Shown Are Not Connected)

Figure 2. Double−Ended Limit Detector

© Semiconductor Components Industries, LLC, 2004

1

May, 2004 − Rev. 9

Publication Order Number: LM301A/D

LM301A, LM201A, LM201AV

Balance

Compensation VCC

Inputs + 500 25 50 Output

450 40 k 40 k 80 k

5k

20 k 250

10 k Balance

1.0 k VEE

Figure 3. Representative Circuit Schematic

ORDERING INFORMATION
Device LM301AD LM301ADG LM301ADR2 LM301ADR2G LM301AN LM201AD LM201ADR2 LM201AN LM201AVDR2 Package SOIC−8 SOIC−8 (Pb−Free) SOIC−8 SOIC−8 (Pb−Free) PDIP−8 SOIC−8 SOIC−8 PDIP−8 SOIC−8 2500 Tape & Reel 50 Units/Rail 98 Units/Rail 2500 Tape & Reel 50 Units/Rail 2500 Tape & Reel 98 Units/Rail Shipping†

†For information on tape and reel specifications, including part orientation and tape sizes, please refer to our Tape and Reel Packaging Specifications Brochure, BRD8011/D.

http://onsemi.com
2

LM301A, LM201A, LM201AV

MARKING DIAGRAMS

PDIP−8 N SUFFIX CASE 626 8 LMx01AN AWL YYWW 1 1 8

SOIC−8 D SUFFIX CASE 751

LMx01 ALYWA

x A WL, L YY, Y WW, W

= 2 or 3 = Assembly Location = Wafer Lot = Year = Work Week

MAXIMUM RATINGS
Value Rating Power Supply Voltage Input Differential Voltage Input Common Mode Range (Note 1) Output Short Circuit Duration Power Dissipation (Package Limitation) Plastic Dual−In−Line Package Derate above TA = +25°C Operating Ambient Temperature Range Storage Temperature Range TA Tstg Symbol VCC, VEE VID VICR tSC PD 625 5.0 −25 to +85 625 5.0 −40 to +105 −65 to +150 625 5.0 0 to +70 mW mW/°C °C °C LM201A ±22 LM201AV ±22 ±30 ±15 Continuous LM301A ±18 Unit Vdc V V

Maximum ratings are those values beyond which device damage can occur. Maximum ratings applied to the device are individual stress limit values (not normal operating conditions) and are not valid simultaneously. If these limits are exceeded, device functional operation is not implied, damage may occur and reliability may be affected.

http://onsemi.com
3

LM301A, LM201A, LM201AV
ELECTRICAL CHARACTERISTICS (TA = +25°C, unless otherwise noted.) Unless otherwise specified, these specifications apply
for supply voltages from ± 5.0 V to ± 20 V for the LM201A and LM201AV, and from ± 5.0 V to ±15 V for the LM301A. LM201A / LM201AV Characteristic Input Offset Voltage (RS ≤ 50 kW) Input Offset Current Input Bias Current Input Resistance Supply Current VCC/VEE = ± 20 V VCC/VEE = ±15 V Large Signal Voltage Gain (VCC/VEE = ±15 V, VO = ±10 V, RL > 2.0 kW) Input Offset Voltage (RS ≤ 50 kW) Input Offset Current Avg Temperature Coefficient of Input Offset Voltage (Note 2) TA(min) ≤ TA ≤ TA (max) Avg Temperature Coefficient of Input Offset Current (Note 2) +25°C ≤ TA ≤ TA (max) TA(min) ≤ TA ≤ 25°C Input Bias Current Large Signal Voltage Gain (VCC/VEE = ±15 V, VO = ±10V, RL > 2.0 kW) Input Voltage Range VCC/VEE = ± 20 V VCC/VEE = ±15 V Common Mode Rejection (RS ≤ 50 kW) Supply Voltage Rejection (RS ≤ 50 kW) Output Voltage Swing (VCC/VEE = ±15 V, RL = ±10 kW, RL > 2.0 kW) Supply Currents (TA = TA(max), VCC/VEE = ± 20 V) Symbol VIO IIO IIB ri ICC,IEE − − AV 50 1.8 − 160 3.0 − − − − 25 − 1.8 160 − 3.0 − V/mV Min − − − 1.5 Typ 0.7 1.5 30 4.0 Max 2.0 10 75 − Min − − − 0.5 LM301A Typ 2.0 3.0 70 2.0 Max 7.5 50 250 − Unit mV nA nA MW mA

The following specifications apply over the operating temperature range. VIO IIO DVIO/DT − − − − − 3.0 3.0 20 15 − − − − − 6.0 10 70 30 mV nA mV/°C

DIIO/DT − − IIB AVOL VICR −15 − CMR PSR VO ICC,IEE 80 80 ±12 ±10 − − − 96 96 ±14 ±13 1.2 +15 − − − − − 2.5 − −12 70 70 ±12 ±10 − − − 90 96 ±14 ±13 − − +12 − − − − − − 25 0.01 0.02 − − 0.1 0.2 100 − − − − 15 0.01 0.02 − − 0.3 0.6 300 −

nA/°C

nA V/mV V

dB dB V mA

1. For supply voltages less than ±15 V, the absolute maximum input voltage is equal to the supply voltage. 2. Guaranteed by design.

http://onsemi.com
4

LM301A, LM201A, LM201AV
VOR, OUTPUT VOLTAGE RANGE ( ±V) 20 VIR , INPUT VOLTAGE RANGE (V) 16 Applicable to the Specified Operating Temperature Ranges 20 16 Applicable to the Specified Operating Temperature Ranges

12 Positive 8.0 4.0 0 Negative LM201A only

12 8.0 4.0 0 Minimum RL = 10 k Minimum RL = 2.0 k 0 5.0 10 15 VCC, ( −VEE), SUPPLY VOLTAGE (V) 20 LM201A only

0

5.0 10 15 VCC, ( −VEE), SUPPLY VOLTAGE (V)

20

Figure 4. Minimum Input Voltage Range

Figure 5. Minimum Output Voltage Swing

100 94 A V , VOLTAGE GAIN (dB) 88 82 76 70 0 5.0 10 15 20 VCC, ( −VEE), SUPPLY VOLTAGE (V) LM201A only I CC , I EE , SUPPLY CURRENTS (mA) Applicable to the Specified Operating Temperature Ranges

2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 TA = +25°C LM201A only

0

5.0

10

15

20

VCC, ( −VEE), SUPPLY VOLTAGE (V)

Figure 6. Minimum Voltage Gain

Figure 7. Typical Supply Currents

180 160 140 A V , VOLTAGE GAIN (dB) 120 100 80 60 40 20 0 −20 1.0 C1 = 30 pF Gain C1 = 3.0 pF Phase Single−Pole Compensation 315 270 225 180 135 90 45 0 10 100 1.0 k 10 k 100 k 1.0 M 10 M VOR, OUTPUT VOLTAGE RANGE ( ±V) Single−Pole Compensation 15

10 C1 = 3.0 pF

5.0 C1 = 30 pF

0 1.0 k

10 k

100 k f, FREQUENCY (Hz)

1.0 M

10 M

f, FREQUENCY (Hz)

Figure 8. Open Loop Frequency Response

Figure 9. Large Signal Frequency Response

http://onsemi.com
5

LM301A, LM201A, LM201AV
10 VIR , VOR, VOLTAGE RANGE ( ±V) 8.0 6.0 4.0 2.0 0 −2.0 −4.0 −6.0 −8.0 −10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 t, TIME (ms) Input Output Single−Pole Compensation 140 120 A V, VOLTAGE GAIN (dB) 100 80 60 40 20 0 −20 10 100 1.0 k 10 k 100 k 1.0 M 10 M 100 M Gain Phase Feedforward Compensation 180 135 90 45 0 0 PHASE LAG (DEGREES) 9.0 225

f, FREQUENCY (Hz)

Figure 10. Voltage Follower Pulse Response

Figure 11. Open Loop Frequency Response

18 VOR, OUTPUT VOLTAGE RANGE ( ±V) VOR, OUTPUT VOLTAGE RANGE ( ±V) 16 12 Feedforward Compensation

10 8.0 6.0 4.0 2.0 0 −2.0 −4.0 −6.0 −8.0 −10 1.0 M f, FREQUENCY (Hz) 10 M 0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 t, TIME (ms) 6.0 7.0 8.0 Input Feedforward Compensation Output

8.0 4.0 0 100 k

Figure 12. Large Signal Frequency Response

Figure 13. Inverter Pulse Response
C2

R2 7 2 6 R3 3 + 4 1 VEE Balance C1 8 Frequency Compensation C1 ≥ R1 Cs R1 +R2 R3 C1 150 pF VO VI VCC R1 2 3 + 1 R2 7 VCC 6 4 Balance C2 = 1 2πfoR2 VEE VO

R1 −VI +VI

Cs = 30 pF

fo = 3.0 MHz

Figure 14. Single−Pole Compensation

Figure 15. Feedforward Compensation

http://onsemi.com
6

LM301A, LM201A, LM201AV
PACKAGE DIMENSIONS
PDIP−8 N SUFFIX CASE 626−05 ISSUE L
NOTES: 1. DIMENSION L TO CENTER OF LEAD WHEN FORMED PARALLEL. 2. PACKAGE CONTOUR OPTIONAL (ROUND OR SQUARE CORNERS). 3. DIMENSIONING AND TOLERANCING PER ANSI Y14.5M, 1982. DIM A B C D F G H J K L M N MILLIMETERS MIN MAX 9.40 10.16 6.10 6.60 3.94 4.45 0.38 0.51 1.02 1.78 2.54 BSC 0.76 1.27 0.20 0.30 2.92 3.43 7.62 BSC −−− 10_ 0.76 1.01 INCHES MIN MAX 0.370 0.400 0.240 0.260 0.155 0.175 0.015 0.020 0.040 0.070 0.100 BSC 0.030 0.050 0.008 0.012 0.115 0.135 0.300 BSC −−− 10_ 0.030 0.040

8

5

−B−
1 4

F
NOTE 2

−A− L

C −T−
SEATING PLANE

J N D K
M

M T A B

H

G 0.13 (0.005)
M M

http://onsemi.com
7

LM301A, LM201A, LM201AV
SOIC−8 D SUFFIX CASE 751−07 ISSUE AB
−X− A
8 5 NOTES: 1. DIMENSIONING AND TOLERANCING PER ANSI Y14.5M, 1982. 2. CONTROLLING DIMENSION: MILLIMETER. 3. DIMENSION A AND B DO NOT INCLUDE MOLD PROTRUSION. 4. MAXIMUM MOLD PROTRUSION 0.15 (0.006) PER SIDE. 5. DIMENSION D DOES NOT INCLUDE DAMBAR PROTRUSION. ALLOWABLE DAMBAR PROTRUSION SHALL BE 0.127 (0.005) TOTAL IN EXCESS OF THE D DIMENSION AT MAXIMUM MATERIAL CONDITION. 6. 751−01 THRU 751−06 ARE OBSOLETE. NEW STANDARD IS 751−07. MILLIMETERS MIN MAX 4.80 5.00 3.80 4.00 1.35 1.75 0.33 0.51 1.27 BSC 0.10 0.25 0.19 0.25 0.40 1.27 0_ 8_ 0.25 0.50 5.80 6.20 INCHES MIN MAX 0.189 0.197 0.150 0.157 0.053 0.069 0.013 0.020 0.050 BSC 0.004 0.010 0.007 0.010 0.016 0.050 0 _ 8 _ 0.010 0.020 0.228 0.244

B
1 4

S

0.25 (0.010)

M

Y

M

−Y− G C −Z− H D 0.25 (0.010)
M SEATING PLANE

K

N

X 45 _

0.10 (0.004)

M

J

Z Y

S

X

S

DIM A B C D G H J K M N S

SOLDERING FOOTPRINT*

1.52 0.060 7.0 0.275 4.0 0.155

0.6 0.024

1.270 0.050
SCALE 6:1 mm inches

*For additional information on our Pb−Free strategy and soldering details, please download the ON Semiconductor Soldering and Mounting Techniques Reference Manual, SOLDERRM/D.

ON Semiconductor and are registered trademarks of Semiconductor Components Industries, LLC (SCILLC). SCILLC reserves the right to make changes without further notice to any products herein. SCILLC makes no warranty, representation or guarantee regarding the suitability of its products for any particular purpose, nor does SCILLC assume any liability arising out of the application or use of any product or circuit, and specifically disclaims any and all liability, including without limitation special, consequential or incidental damages. “Typical” parameters which may be provided in SCILLC data sheets and/or specifications can and do vary in different applications and actual performance may vary over time. All operating parameters, including “Typicals” must be validated for each customer application by customer’s technical experts. SCILLC does not convey any license under its patent rights nor the rights of others. SCILLC products are not designed, intended, or authorized for use as components in systems intended for surgical implant into the body, or other applications intended to support or sustain life, or for any other application in which the failure of the SCILLC product could create a situation where personal injury or death may occur. Should Buyer purchase or use SCILLC products for any such unintended or unauthorized application, Buyer shall indemnify and hold SCILLC and its officers, employees, subsidiaries, affiliates, and distributors harmless against all claims, costs, damages, and expenses, and reasonable attorney fees arising out of, directly or indirectly, any claim of personal injury or death associated with such unintended or unauthorized use, even if such claim alleges that SCILLC was negligent regarding the design or manufacture of the part. SCILLC is an Equal Opportunity/Affirmative Action Employer. This literature is subject to all applicable copyright laws and is not for resale in any manner.

PUBLICATION ORDERING INFORMATION
LITERATURE FULFILLMENT: Literature Distribution Center for ON Semiconductor P.O. Box 5163, Denver, Colorado 80217 USA Phone: 303−675−2175 or 800−344−3860 Toll Free USA/Canada Fax: 303−675−2176 or 800−344−3867 Toll Free USA/Canada Email: orderlit@onsemi.com N. American Technical Support: 800−282−9855 Toll Free USA/Canada Japan: ON Semiconductor, Japan Customer Focus Center 2−9−1 Kamimeguro, Meguro−ku, Tokyo, Japan 153−0051 Phone: 81−3−5773−3850 ON Semiconductor Website: http://onsemi.com Order Literature: http://www.onsemi.com/litorder For additional information, please contact your local Sales Representative.

http://onsemi.com
8

LM301A/D

This datasheet has been download from: www.datasheetcatalog.com Datasheets for electronics components.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->