Anda di halaman 1dari 9

STUDI KELAYAKAN SISTEM SCADA

DI PT. PLN ( PERSERO ) CABANG GORONTALO

I. LATAR BELAKANG

Kebutuhan tenaga listrik untuk menunjang sektor industri, bisnis,


maupun perumahan terus meningkat tidak saja dari segi jumlah kVA
tersambung tetapi juga mutu dan keandalan, hal ini menurut PLN untuk
meningkatkan pelayanannya.

Dari segi teknis peningkatan mutu dan keandalan penyaluran


tenaga lstrik dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sistem
SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang kini banyak
tersedia di pasaran.

Sistem SCADA dipakai sebagai alat bantu dalam melakukan


operasi, pemantauan serta pengontrolan parameter kelistrikan dan
komponen sistem jaringan listrik secara jarak jauh dan terpusat. Sistem
SCADA bisa menampilkan informasi yang diperlukan seperti posisi/status
peralatan pemisah, posisi/status pemutus daya, matering beberapa besaran
ukur (Amp, MW, MVAR dan KWH), serta parameter penunjang lainnya
seperti fault recorder dan alarm mulai dari pembangkit hingga ke Gardu
Hubung tegangan menengah 20 kV dan peralatan distribusi lainnya dengan
jaringan yang dianggap perlu.

Adi Kurniawan OJT – 2010


II. PERMASALAHAN

Permaslahan yang timbul apabila sistem distribusi belum


menggunakan sistem SCADA :

1. Kesulitan petugas dalam melokalisir gangguan pada penyulang –


penyulang dengan jumlah personil yang terbatas.
2. Keandalan sistem jadi terganggu karena seringnya terjadi gangguan
dan lamanya penanganan gangguan.
3. KWH tidak terjual PLN menjadi lebih tinggi karena waktu padam yang
relatif lama.
4. Untuk proses manuver beban pada saat terjadi gangguan atau
pemeliharan membutuhkan koordinasi yang dilakukan melalui
beberapa petugas lapang yang memerlukan waktu relatif lama.

III. PRA ANGGAPAN

5. Dengan adanya sistem SCADA, maka penanganan gangguan akan


lebih cepat pengerjaannya.
6. Jika pengerjaan gangguan pada jaringan dapat ditangani dengan cepat,
maka jumlah jam padam pelanggan akan dapat dikurangi.
7. Jika jumlah jam padam pelanggan dapat dikurangi maka KWH tidak
terjual PLN dapat berkurang dan keandalan sistem penyaluran energi
dapat terjaga.
8. Dengan adanya sistem SCADA proses manuver beban pada saat terjadi
gangguan atau pemeliharaan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Adi Kurniawan OJT – 2010


IV. FAKTA YANG MEMPENGARUHI

Sistem SCADA secara terus menerus (24 jam perhari, 7 hari per
minggu) mengumpulkan informasi dan kejadian penting yang terjadi di
lapangan. Informasi tersebut diproses dan dievaluasi kemudian disajikan
kepada operator untuk mendukung operasionalnya.

Fungsi SCADA dalam pengendali suatu sistem distribusi antara


lain:

• Menyediakan informasi jaringan seperti topologi, arus, maupun


tegangan.
• Mendukung operator mendeteksi dan melakukan isolasi gangguan.
• Mendukung operator dalam melakukan manuver jaringa apabila terjadi
gangguan.
• Membantu operator dalam merestorasi gangguan.
• Menyediakan informasi untuk keperluan perencanaan, operasi, dan
pembuatan laporan.

Dengan adanya fungsi tersebut akan diperoleh manfaat seperti


dipercepatnya deteksi, isolasi gangguan dan restorasi sehingga waktu
pemadaman sebagai akibat adanya gangguan dan perbaikan dapat
dipersingkat waktunya. Hal ini akan meningkatkan availability, operasi,
dan meningkatkan revenue dan mutu pelayanan kepada pelanggan.

Table 4.1 Perbandingan Waktu Penanganan Waktu Gangguan


berikut ini menunjukan perbandingan waktu penanganan gangguan dengan
tanpa bantuan SCADA.

Adi Kurniawan OJT – 2010


Waktu yang Diperlukan (menit)
No. Jenis Kegiatan
Tanpa SCADA Dengan SCADA
1. Menerima panggilan adanya pemadaman 30 12
dan waktu perjalanan Gerdu Induk
Menerima panggilan adanya pemadaman
2. dan waktu yang diperlukan untuk perjalanan 60 12
ke Lokasi
3. Waktu yang diperlukan untuk sampai dari 9,6 0
satu Gerdu ke Gerdu lainnya
4. Waktu yang diperlukan untuk sampai dari 12 0
satu Gerdu ke Gerdu lainnya untuk sistem
spot network.
5. Memeriksa indikator gangguan 49,8 0
6. Membuka/menutup pemutus tenaga atau 15 3
menutup kembali
7. Membuka/menutup saklar beban atau 9 3
pemisah
8. Memperbaiki kawat penghantar udara 180 180
9. Mengganti atau memperbaiki pemutus 600 600
tenaga, saklar beban penutup kembali atau
saklar pemisah
10. Mengganti penyambung kabel (bulusan) 900 900
untuk kabel berisolasi kertas
11. Mengganti trafo distribusi 600 600
12. Mengganti pelindung 600 600
13. Mengganti atau memperbaiki bus tegangan 600 600
rendah
Total Waktu yang diperlukan untuk perbaikan 3665,4 3510
Perbedaan Waktu Perbaikan (menit) 155,4
Perbedaan Waktu Perbaikan (%) 4,23 %

Adi Kurniawan OJT – 2010


V. PEMBAHASAN

Kerangka Pembahasan :

1 Sistem kelistrikan, pembangkit, dan jaringan distribusi PLN cabang


Gorontalo (area kerja, banyak ranting, pembangkit, penyulang, Gardu
hubung, LBS)

2 Rancangan SCADA

a. gambar konfigurasi SCADA media komunikasi menggunakan PLC


b. Lokasi yang akan dikontrol
c. Perkiraan biaya pembangunan SCADA

3 Analisa Kelayakan

a. Asumsi – tarif jual, pengurangan waktu ada SCADA, umur SCADA,


pemeliharaan
b. analisa manfaat – besar KWH yang terselamatkan dihitung dengan
rupiah dalam jangka waktu umur sistem SCADA, manfaat lain seperti
kepuasan pelanggan meningkat dengan pelayanan gangguan semakin
cepat, mempermudah perluasan jaringan akan berpengaruh kepada
benefit PLN, mempermudah pengaturan sistem,

Lampiran

a. Tipikal dari teleinformation plan untuk pembangkit


b. Tipikal dari teleinformation plan untuk Gardu hubung
c. Tipikal dari teleinformation plan untuk LBS
d. Rupiah kWH terselamatkan

Adi Kurniawan OJT – 2010


Sistem Kelistrikan, Pembangkit, dan Jaringan Distribusi PLN Cabang
Gorontalo
Untuk melayani pelanggan-pelanggan selama ini PT. PLN
Cabang Gorontalo mempunyai 3 sistem. Dimana Sistem tersebut mengacu
pada pembangkit. Untuk sistem Gorontalo didukung Pembangkit milik
sendiri (PLTD Telaga) dan Pembangkit milik swasta (PLTD Sewatama),
untuk sistem Marisa didukung pembangkit PLTD Marisa dan PLTD
Tilamuta, sistem Boroko didukung pembangkit PLTD Boroko dan PLTD
Mongango. Selain itu juga mempunyai kelengkapan sistem Pengatur
Kebutuhan listrik disupply dari 5 pembangkit dan 2 pembangkit (isolated),
dengan 9 Gardu Hubung dan 17 Penyulang 20 kV.

Berikut adalah jumlah pembangkit dan Gardu Hubung yang ad adi PLN
Cabang Gorontalo

Pembangkit :

• PLTD Telaga
• PLTD Marisa
• PLTD Tilamuta
• PLTD Boroko
• PLTD Mongango
• PLTD Lemito (Isolated)
• PLTD Tolinggula (Isolated)

Gardu Hubung

• GH Saronde
• GH Tamalate
• GH Pohe
• GH Limboto

Adi Kurniawan OJT – 2010


• GH Isimu
• GH Kwandang
• GH Atinggola
• GH Paguyamaan
• GH Tilamuta

Seluruh kontrol yang ada di Pembangkit dan Gardu Hubung masih


menggunakan kontrol konvensional dan belum dilengkapi dengan fasilitas
untuk kontrol jarak jauh (remote). Sehingga untuk pengoprasian masih
dilakukan secara local. Selain itu terdapat pula peralatan Pemutus yang
terpasang pada JTM, dimana pada umumnya peralatan pemutus ini tidak
dilengkapi dengan fasilitas yang memungkinkan untuk kontrol jarak jauh.

Rancangan SCADA

Gambar rancangan Konfigurasi sistem SCADA PLN Cabang


Gorontalo adalah sebagai berikut.

Lokasi yang akan dimonitor atau dikontol adalah Sistem Telaga kemudian
baru Gardu Hubung yang diperkirakan mempunyai beban besar atau
memberikan pelayanan kepada daerah yang dianggap penting dan
sejumlah peralatan pemutus di jaringan yang dianggap sebagai key-point
untuk melakukan maneuver.

Lokasi peralatan yang akan dikontrol tersebut adalah sebagai berikut :

Pembangkit :

Adi Kurniawan OJT – 2010


• PLTD Telaga

Gardu Hubung

• GH Saronde
• GH Tamalate
• GH Pohe
• GH Limboto
• GH Isimu
• GH Kwandang
• GH Atinggola
• GH Paguyamaan
• GH Tilamuta

LBS (Key-Point)

• Batudaa
• Sidomulyo
• Kabila
• Paguat
• Dll

Rancangan Input/Output (I/O Pints) di Pembangkit, Gardu Hubung


dan Key-point Sistem SCADA PLN ditunjukan Lampiran … Kebutuhan
Input Output.

Biaya pembangunan sistem SCADA PLN Cabang Gorontalo


diperkirakan sebesar Rp. … dengan rincian seperti pada Lampiran
Perkiraan Biaya Pembangunan SCADA Sistem Distribusi Kota Gorontalo.

Adi Kurniawan OJT – 2010


Adi Kurniawan OJT – 2010