Anda di halaman 1dari 3

d486120297e91e

Kunci Hamba Allah Dalam Setiap Malam [ Hikmah ]

Today at 16:04

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhary disebutkan bahwa setiap malam ketika Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam bangun untuk sholat malam beliau menyampaikan sebuah doa
kepada Allah ta’aala yang intinya memohon ampunan Allah ta’aala atas segenap dosa di masa
lalu dan yang akan datang. Namun sangat menarik untuk dicatat bahwa doa tersebut diawali
dengan rangkaian ungkapan pujian yang mengandung pembaruan komitmen Nabi shollallahu
’alaih wa sallam kepada Allah ta’aala dan kepada kehidupan akhirat.

َ ‫حْمُد َل‬
‫ك‬ َ ‫ك اْل‬
َ ‫ن َوَل‬
ّ ‫ن ِفيِه‬
ْ ‫ض َوَم‬ ِ ‫لْر‬ َْ ‫ت َوا‬ ِ ‫سَمَوا‬ّ ‫حْمُد َأْنتَ َقّيُم ال‬ َ ‫ك اْل‬ َ ‫ل الّلُهّم َل‬
َ ‫جُد َقا‬
ّ ‫ل َيَتَه‬ ِ ‫ن الّلْي‬ْ ‫سّلَم ِإَذا َقاَم ِم‬َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ن الّنِب‬
َ ‫َكا‬
ِ‫لْرض‬ َْ ‫ت َوا‬ِ ‫سَمَوا‬ّ ‫ك ال‬ُ ‫ت َمِل‬َ ‫حْمُد َأْن‬ َ ‫ك اْل‬َ ‫ن َوَل‬ّ ‫ن ِفيِه‬ْ ‫ض َوَم‬ ِ ‫لْر‬ َْ ‫ت َوا‬ِ ‫سَمَوا‬ ّ ‫ت ُنوُر ال‬ َ ‫حْمُد َأْن‬ َ ‫ك اْل‬َ ‫ن َوَل‬ّ ‫ن ِفيِه‬ ْ ‫ض َوَم‬ ِ ‫لْر‬ َْ ‫ت َوا‬
ِ ‫سَمَوا‬ ّ ‫ك ال‬ ُ ‫ُمْل‬
‫سّلَم‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬َ ‫حّمٌد‬ َ ‫ق َوُم‬ ّ‫ح‬ َ ‫ن‬ َ ‫ق َوالّنِبّيو‬ ّ‫ح‬َ ‫ق َوالّناُر‬ ّ‫ح‬ َ ‫جّنُة‬ َ ‫ق َواْل‬ّ‫ح‬ َ ‫ك‬َ ‫ق َوَقْوُل‬ّ‫ح‬ َ ‫ك‬ َ ‫ق َوِلَقاُؤ‬ ّ‫ح‬َ ‫ك اْل‬
َ ‫عُد‬ ْ ‫ق َوَو‬ ّ‫ح‬ َ ‫ت اْل‬َ ‫حْمُد َأْن‬َ ‫ك اْل‬
َ ‫َوَل‬
‫ت َوَما‬ُ ‫غِفْر ِلي َما َقّدْم‬ ْ ‫ت َفا‬ُ ‫حاَكْم‬ َ ‫ك‬ َ ‫ت َوِإَلْي‬ُ ‫صْم‬ َ ‫خا‬ َ ‫ك‬ َ ‫ت َوِب‬
ُ ‫ك َأَنْب‬َ ‫ت َوِإَلْي‬ُ ‫ك َتَوّكْل‬
َ ‫عَلْي‬َ ‫ت َو‬ ُ ‫ك آَمْن‬ َ ‫ت َوِب‬ُ ‫سَلْم‬ْ ‫ك َأ‬ َ ‫ق الّلُهّم َل‬ّ‫ح‬ َ ‫عُة‬ َ ‫سا‬ ّ ‫ق َوال‬ ّ‫ح‬َ
َ ‫غْيُر‬
‫ك‬ َ ‫ل ِإَلَه‬َ ‫ت َأْو‬
َ ‫ل َأْن‬ّ ‫ل ِإَلَه ِإ‬
َ ‫خُر‬ ّ ‫ت اْلُمَؤ‬ َ ‫ت اْلُمَقّدُم َوَأْن‬
َ ‫ت َأْن‬
ُ ‫عَلْن‬ ْ ‫ت َوَما َأ‬ ُ ‫سَرْر‬ ْ ‫ت َوَما َأ‬ ُ ‫خْر‬ ّ ‫َأ‬

Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam untuk sholat tahajjud
beliau mengajukan doa berikut: “Ya Allah, bagimu segala puji, Engkau Penegak langit dan bumi
serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya.
BagiMu segala puji, milikMu Kerajaan langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji,
Engkau Cahaya langit dan bumi serta segala isinya. BagiMu segala puji, Engkau Raja langit dan
bumi. BagiMu segala puji, Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan
denganMu benar, firmanMu benar, Surga itu benar, Neraka itu benar, para NabiMu benar, dan
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam benar, Kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepadaMu
aku berserah diri dan beriman, kepadaMu aku bertawakkal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu
aku mengadu, dan kepadaMu aku berhukum. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan
datang, yang tersembunyi dan tampak. Engkaulah Yang terdahulu dan Yang terakhir dan tidak
ada ilah selain Engkau.” (HR Bukhary 1053)

Dari doa di atas jelas terlihat betapa dalamnya perenungan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di
tengah malam. Jika setiap muslim melakukan sholat malam diiringi membaca doa di atas,
niscaya ingatannya terhadap kehidupan akhirat tentu akan menjadi sangat kuat. Coba perhatikan
potongan doa di atas, terutama bagian di bawah ini:

‫ق َوالّناُر‬
ّ‫ح‬
َ ‫جّنُة‬
َ ‫ق َواْل‬
ّ‫ح‬
َ ‫ك‬
َ ‫ق َوَقْوُل‬
ّ‫ح‬
َ ‫ك‬
َ ‫ق َوِلَقاُؤ‬
ّ‫ح‬
َ ‫ك اْل‬
َ ‫عُد‬
ْ ‫ق َوَو‬
ّ‫ح‬
َ ‫ت اْل‬
َ ‫ق َأْن‬
ّ‫ح‬
َ
”... Engkaulah Yang Maha Benar, dan janjiMu benar, perjumpaan denganMu benar, firmanMu
benar, Surga itu benar, Neraka itu benar...”

Subhanallah...! Kalimat di atas merupakan rangkaian pembaruan ungkapan komitmen, laksana


pembaruan bai’at seorang prajurit kepada komandannya. Jika seorang muslim membaca kalimat
di atas setiap malam dengan penghayatan penuh tentulah ia akan menjadi seorang hamba Allah
ta’aala yang berkeyakinan mantap akan kehidupan setelah kematian. Ia akan menjadi
bersemangat mengusahakan segala daya-upaya untuk meraih kenikmatan surga. Demikian pula
ia akan menjadi sangat bersungguh-sungguh menghindari azab neraka Allah ta’aala yang amat
menakutkan. Ia tidak akan pernah menganggap surga dan neraka sekedar sebagai mitos
mengandung hiburan atau ancaman khayali.

Bila seorang muslim sudah yakin akan kehidupan akhirat, niscaya ia akan menjadi sangat
berbeda dengan orang yang pengetahuannya hanya sebatas ruang lingkup dunia fana. Dan Allah
ta’aala memerintahkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam serta ummatnya untuk meninggalkan
golongan manusia seperti itu.

‫ن اْلِعْلِم‬
َ ‫ك َمْبَلُغُهْم ِم‬
َ ‫حَياَة الّدْنَيا َذِل‬
َ ‫ل اْل‬
ّ ‫ن ِذْكِرَنا َوَلْم ُيِرْد ِإ‬
ْ‫ع‬
َ ‫ن َتَوّلى‬
ْ ‫ن َم‬
ْ‫ع‬
َ ‫ض‬
ْ ‫عِر‬
ْ ‫َفَأ‬
”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan
hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat
29-30)

Sungguh sangat berbeda sikap dan prilaku seorang ahli dunia dengan ahli akhirat. Seorang ahli
dunia sangat berambisi mengejar keberhasilan jangka pendek sehingga justru Allah ta’aala cerai-
beraikan urusannya di dunia dan akhirat dan Allah ta’aala jadikan ia selalu dihantui oleh bayang-
bayang kefakiran di dalam kehidupan dunia. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

‫ب َلُه‬
َ ‫ن الّدْنَيا ِإلّ َما ُكِت‬
ْ ‫عْيَنْيِه َوَلْم َيْأِتِه ِم‬
َ ‫ن‬
َ ‫ل َفْقَرُه َبْي‬
َ ‫جَع‬
َ ‫عَلْيِه َأْمَرُه َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫ق ا‬
َ ‫ت الّدْنَيا َهّمُه َفّر‬
ْ ‫ن َكاَن‬
ْ ‫َم‬
“Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan
dijadikan kefakiran di hadapan kedua matanya dan Allah tidak memberinya dari harta dunia ini,
kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)

Sebaliknya seorang beriman yang keinginan dan fokusnya sangat kuat akan kebahagiaan akhirat
malah Allah ta’aala janjikan untuk menata kehidupan dunianya dengan baik, lalu hatinya
senantiasa tenteram di dunia maupun di akhirat kemudian dunia justru bakal mendekati dirinya
dengan cara yang samasekali tidak terfikirkan olehnya sama sekali. Rasulullah shollallahu ’alaih
wa sallam bersabda:

‫غَمٌة‬
ِ ‫ي َرا‬
َ ‫غَناُه ِفي َقْلِبِه َوَأَتْتُه الّدْنَيا َوِه‬
ِ ‫ل‬
َ ‫جَع‬
َ ‫ل َلُه َأْمَرُه َو‬
ُّ ‫جَمَع ا‬
َ ‫خَرُة ِنّيَتُه‬
ِ‫ل‬
ْ ‫تا‬
ْ ‫ن َكاَن‬
ْ ‫َوَم‬
“Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Allah ta’aala kumpulkan baginya
urusannya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia
bagaimanapun keadaannya.” (HR Ibnu Majah 4095)