Anda di halaman 1dari 1

Abses hati merupakan masalah kesehatan dan sosial pada beberapa negara yang berk

embang seperti di Asia terutama Indonesia. Prevalensi yang tinggi biasanya berhu
bungan dengan sanitasi yang jelek, status ekonomi yang rendah serta gizi yang bu
ruk. Meningkatnya arus urbanisasi menyebabkan bertambahnya kasus abses hati di d
aerah perkotaan dengan kasus abses hati amebik lebih sering berbanding abses hat
i pyogenik dimana penyebab infeksi dapat disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri
ataupun parasit.
Hampir 10% penduduk dunia terutama penduduk dunia berkembang pernah terinfeksi E
ntamoeba histolytica tetapi 10% dari yang terinfeksi dapat menunjukkan gejala. I
nsidensi penyakit ini berkisar sekitar 5-15 pasien pertahun. Individu yang mudah
terinfeksi adalah penduduk di daerah endemik ataupun wisatawan yang ke daerah e
ndemik dimana laki laki tersering dibanding perempuan dengan rasio 3:1 hingga 22
:1 dan umur tersering pada decade IV.
Patogenesis amebiasis hati belum dapat diketahui secara pasti. Ada beberapa meka
nisme seperti faktor virulensi parasit yang menghasilkan toksin, malnutrisi, fak
tor resistensi parasit, berubah-ubahnya antigen permukaan dan penurunan imunitas
cellmediated. Secara kasar, mekanisme terjadinya amebiasis adalah
1. Penempelan E. Histolytica pada mukus usus
2. Pengrusakan sawar intestinal
3. Lisis sel epitel intestinal serta sel radang disebabkan oleh endotoksin E. Hi
stolytica.
4. Penyebarannya ameba ke hati mulai vena porta. Terjadi fokus akumulasi neutrof
il periportal yang disertai nekrosis dan inflitrasi granulumatosa. Lesi membesar
dan bersatu dan granuloma diganti dengan jaringan nekrotik dimana jaringan nekr
otik dikelilingi kapsul tipis seperti jaringan fibrosa. Hal ini memakan waktu be
rbulan setelah kejadian amebiasis intestinal.
Secara patologis, amebiasis hati ini berukuran kecil sampai besar ( 5L) yang isi
nya berupa bahan nekrotik seperti keju berwarna merah kecoklatan, kehijauan, kek
uningan atau keabuan. Shaikh et al (1989) mendapatkan abses tunggal 85%, 2 abses
6% dan abses multiple 8%. Umumnya lokasinya pada lobus kanan 87%-87,5% karena d
isitu terdapat banyak pembuluh darah portal. Secara mikroskopik di bagian tengah
didapatkan bahan nekrotik dan fibrinous, sedangkan di perifer tampak bentuk ame
boid dengan sitoplasma bergranul serta inti kecil. Jaringan sekitarnya edematous
dengan infiltrasi limfosit dan proliferasi ringan sel kupffer dengan tidak dite
mukan sel PMN. Lesi amebiasis hati tidak disertai pembentukan jaringan parut kar
ena tidak terbentuknya jaringan fibrosis.

Gejala tersering yang dikeluhkan oleh pasien dengan amebiasis hati adalah berupa
nyeri perut kanan atas, demam, hepatomegali dengan nyeri tekan atau nyeri spont
an atau disertai dengan gejala komplikasi. Gejala yang menyertai adalah anoreksi
a, mual muntah, berat badan menurun, batuk, ikterus ringan sampai sedang dan ber
ak darah.
Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia ringan sampai sedang, leukositosis be
rkisar 15.000/ml3 sedangkan kelainan faal hati didapatkan ringan sampai sedang.
Pemeriksaan lain-lain seperti foto toraks dan foto polos abdomen digunakan untuk
mendeteksi kelainan atau komplikasi yang ditimbulkan oleh amebiasis hati. Diagn
osa pasti adalah melalui USG dan CT Scan dimana sensitivitasnya sekitar 85-95%.

http://referatcoass.blogspot.com/2008/07/abses-hepar.html