Anda di halaman 1dari 22

ARUS SEARAH

(DIRECT CURRENT)

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Rangkaian Elektronika

Oleh :
Ayu Dwi Suprianti (0902161)
Faisal Agus Tri Putra (0900411)
Trimans Yogiana (0902261)

PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


BANDUNG
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sedalam-dalamnya kami panjatkan kehadirat Allah SWT,


yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Adapun isi dari makalah ini merupakan kumpulan data yang berdasarkan
informasi yang kami dapatkan baik dari kampus ataupun dari media-media lain.
Akhirnya segala urusan kita kembalikan kepada Allah, mohon maaf atas
segala kesalahan dan kesejahteraan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pada pembaca dan semoga menjadi tambahan ilmu bagi kita semua.
Amin ya Rabbal Alamin.

Bandung, Februari 2010

Penulis

Halaman i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH .................................................................. 1
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN ........................................................................... 1
1.3 RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 2
BAB II ARUS SEARAH (DIRECT CURRENT) .............................................................. 3
2.1 KUAT ARUS ............................................................................................. 3
2.2 ARUS SEARAH ......................................................................................... 4
2.3 RANGKAIAN SETARA............................................................................... 5
2.3.1 RangkaianSetara Thevenin .......................................................... 6
2.3.2 Rangkaian Setara Norton .......................................................... 13
2.4 ARUSTRANSIEN .................................................................................... 14
BAB III PENUTUP ................................................................................................ 18
3.1 KESIMPULAN ........................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 19

Halaman ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam era teknologi seperti yang tengah kita alami, elektronika memegang
peranan yang amat penting. Didalam rumah tangga, elektronika muncul dalam
bentuk alat-alat hiburan seperti perekam kaset audia dan video, radio dan pesawat
penerima televise, tilpon, dan lain-lain.
Dalam elektronika ada beberapa pengertian dasar yang benar-benar perlu
dikuasai. Dalam pembahasan ini akan kami bahas dua pengertian, yaitu rangkaian
setara dan arus transien.
Dengan menggunakan rangkaian setara, kita dapat melakukan pengukuran
pada masukan dan keluaran suatu piranti elektronik tanpa mengetahui rangkaian di
dalamnya. Ada dua macam rangkaian setara yang lazim digunakan orang, yakni
rangkaian setara Thevenin dan rangkaian setara Norton.
Pengertian yang berhubungan dengan arus searah dan banyak digunakan
dalam elektronika adalah pengisian dan pemrosesan muatankapasitor. Arus ini juga
terjadi pada rangkaian searah yang menggunakan inductor.
Dalam pekerjaan dibidang elektronika kita perlu pengukuran tegangan, arus,
dan sering kalijuga pengukuran hambatan. Dalam pembahasan ini juga dibahas alat
ukur searah, yaitu amper-meter, voltmeter dan ohm-meter.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

1. Mengetahui tentang arus searah


2. Mengetahui tentang rangkaian setara
3. Mengetahui tentang Arus transien

Halaman 1
1.3 RUMUSAN MASALAH

Di makalah ini akan dijelaskan tentang definisi arus searah , fungsi, manfaat
dan implementasi arus searah dalam kehidupan sehari-hari serta beberapa
rangkaian yang berhubungan dengan arus searah.

Halaman 2
BAB II

ARUS SEARAH (DIRECT CURRENT)

2.1 KUAT ARUS

Kuat Arus adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu.
Muatan listrik bisa mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya. Secara
metematis, dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana I adalah arus listrik, Q adalah muatan listrik, dant adalah waktu (time).
Syarat terjadinya arus listrik adalah:
1. Adanya partikel bermuatan listrik sebagai pembawa muatan.
2. Adanya beda potensial atau tegangan listrik diantara ujung-ujung rangkaian.
3. Adanya rangkaian tertutup.
Kuat arus yang mengalir dalam suatu rangkaian dapat diukur dengan
menggunakan amperemeter. Caranya adalah dengan memasang seri alat
tersebut terhadap sumber tegangan. Untuk mengukur tegangan (V) dalam suatu
rangkaian dapat digunakan alat yang disebut voltmeter. Caranya adalah dengan
memasang paralel alat tersebut terhadap sumber tegangan: yaitu dengan
menghubungkan ujung-ujung titik terminal rangkaian.
Pada zaman dulu, Arus konvensional didefinisikan sebagai aliran muatan
positif, sekalipun kita sekarang tahu bahwa arus listrik itu dihasilkan dari aliran
elektron yang bermuatan negatif ke arah yang sebaliknya.
Pada dasarnya dalam kawat penghantar terdapat aliran elektron dalam
jumlah yang sangat besar, jika jumlah elektron yang bergerak ke kanan dan ke
kiri sama besar maka seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun jika ujung

Halaman 3
sebelah kanan kawat menarik elektron sedangkan ujung sebelah kiri
melepaskannya maka akan terjadi aliran elektron ke kanan (tapi ingat, dalam hal
ini disepakati bahwa arah arus ke kiri). Aliran elektron inilah yang selanjutnya
disebut arus listrik.

2.2 ARUS SEARAH

Arus searah (bahasa Inggris direct current atau DC) adalah aliran elektron
dari suatu titik yang energi potensialnya tinggi ke titik lain yang energi
potensialnya lebih rendah. Sumber arus listrik searah biasanya adalah baterai
(termasuk aki dan Elemen Volta) dan panel surya. Arus searah biasanya
mengalir pada sebuah konduktor, walaupun mungkin saja arus searah mengalir
pada semi-konduktor, isolator, dan ruang hampa udara.

Gambar 2.1 Arus searah


Baterai yang kita gunakan untuk saat ini / sumber tegangan menghasilkan
tegangan langsung , yang berarti bahwa hanya mengalir dalam satu arah
merupakan salah satu sumder tegangan dc. Misalkan kita membahas baterai
yang dihubungkan bola lampu, jumlah elektron yang mengalir ditentukan oleh
jenis dan ukuran baterai serta ukuran dan jenis bola lampu. Kita dapat
membalik polaritas pada baterai dengan beralih kontak (kabel), dan pada saat
ini akan mengalir ke arah dan bohlam masih terang.

Halaman 4
Selama baterai terhubung ke sirkuit, saat ini hanya dapat mengalir dalam
satu arah. Langsung sekarang (DC) juga dapat dihasilkan dengan cara lain selain
baterai. Solar sel, sel bahan bakar, dan bahkan beberapa jenis DC generator
dapat memberikan itu sekarang.
Arus searah dulu dianggap sebagai arus positif yang mengalir dari ujung
positif sumber arus listrik ke ujung negatifnya. Pengamatan-pengamatan yang
lebih baru menemukan bahwa sebenarnya arus searah merupakan arus negatif
(elektron) yang mengalir dari kutub negatif ke kutub positif. Aliran elektron ini
menyebabkan terjadinya lubang-lubang bermuatan positif, yang "tampak"
mengalir dari kutub positif ke kutub negatif.
Penyaluran tenaga listrik komersil yang pertama (yang dibuat oleh Thomas
Edison di akhir abad ke 19) menggunakan listrik arus searah. Karena listrik arus
bolak-balik lebih mudah digunakan dibandingkan dengan listrik arus searah
untuk transmisi (penyaluran) dan pembagian tenaga listrik, di zaman sekarang
hampir semua transmisi tenaga listrik menggunakan listrik arus bolak-balik.

2.3 RANGKAIAN SETARA

Tentu anda telah paham mengenai pengertian hambatan setara atau


hambatan ekuivalen. Dua buah resistor dengan nilai hambatan R1 dan R2 yang
dihubungkan pararel, dapat digantikan dengan sebuah resistor bernilai R3 = (R1
R2)/(R1+ R2). Hambatan R3 disebut hambatan setara daripada R1 dan R2 dan
biasa ditulis sebagai R3 = R1 // R2.
Pengertian hambatan setara tidak hanya digunakan untuk dua hambatan
pararel saja, akan tetapi untuk segala macam hubungan antara beberapa buah
hambatan.
Dalam hal suatu rangkaian listrik yang mengandung sumber tegangan atau
sumber arus, atau kedua-duanya, serta mengandung hambatan, kapasitor,

Halaman 5
dioda, transistor, transformator, dan sebagainya, kita dapat menggunakan
pengertian rangkaian setara untuk mempermudah kita membahas perilaku
rangkaian dalam hubungannya dengan beban atau dengan rangkaian lain.
Ada dua bentuk dasar rangkaian setara, yakni rangkaian setara Thevenin dan
rangkaian setara Norton.Rangkaian setara Thevenin menggunakan sumber
tegangan tetap, yakni suatu sumber tegangan ideal dengan tegangan keluaran
yang tak berubah, berapapun besarnya arus yang diambil darinya. Rangkaian
setara Norton menggunakan sumber arus teta, yang dapat menghasilkan arus
tetap, berapapun besar hambatan yang dipasang pada pengeluarannya.

2.3.1 RANGKAIANSETARA THEVENIN

Gambar 1.1 Rangkaian pembagi tegangan. (a) tanpa beban, (b) diberi beban
RL, sehingga ditarik arus IL..

Kita bayangkan rangkaian listrik ini sebagai suatu alat elektronik dengan
keluaran antara titik a danb. Rangkaian ini dikatakan mepunyai dua buah
ujung (terminal), yaitu a dan b. Kedua ujung ini membentuk suatu gerbang,
dalam hal ini gerbang keluaran. Secara umum rangkaian di atas dikatakan
mempunyai gerbang tunggal, yaitu gerbang keluaran, atau disebut juga
rangkaian dua ujung.

Pada gambar 1.1a rangkaian listrik ini dikatakan mempunyai keluaran terbuka,
oleh karena dari gerbang keluaran a dan btidak diambil arus. Pada keadaan ini

Halaman 6
tegangan keluaran disebut tegangan keluaran terbuka yang kita sebut V0,b
(baca: V0, buka).

Dari gambar 1.1a jelas tegangan keluaran terbuka

Rangkaian pada gambar 1.1a disebut pembagian tegangan.

Pada gambar 1.1b ujung a dan b dihubungkan dengan suatu hambatan beban,
RL. sekarang marilah kita hitung tegangan keluaran rangkaian tersebut bila
diberi hambatan beban RL = 1 K Ω. Dengan adanya hambatan beban RL, arus
dalam lingkaran (loop) menjadi:

Dengan diambil arus beban atau dibebani, rangkaian pembagi


teganganternyata mengalami penurunan atau jatuh tegangan. Tanpa beban,
nilai tegangan V0 = V0,b = 6 V; sedangkan diberi beban RL = 1K tegangan
keluaran menjadi V0 = 4 V. Dikatakan, rangkaian pembagi tegangan ini
terbebani, sehingga terjadijatuh tegangan sebesar 2 V.

Sekarang misalkan hambatan R1 dan R2 pada gambar 1.1a kita beri nilai 100Ω
Tegangan keluaran terbuka.

Hasilnya sama seperti R1 dan R2 = 1K.

Halaman 7
Marilah kita lihat apa yang terjadi bila rangkaian yang baru ini diberi beban
RL=1 KΩ. Dengan memperhatikan gambar 1.1b kita hitung arus

dan

Tampak bahwa dengan R1 = R2 = 100Ω terjadi jatuh tegangan sebesar V0,b –


V0 = (6 – 5,71) V = 0,29 V.

Kita dapat membahas perilaku di atas dengan menggunakan pengertian


rangkaian setara, yaitu suatu rangkaian sederhanayang berperilaku sama
seperti rangkaian yang diselidiki dengan menggunakan rangkaian setara kita
dapat membahas suatu alat elektronik berdasarkan pengukuran pada keluaran
tanpa mengetahui rangkaian didalamnya.

Gambar 1.2 (a) suatu kotak hitam berisi rangkaian elektronik dengan dua
terminal.(b) Rangkaian setara Thevenin.

Sekarang kita bahas rangkaian secara Thevenin yang merupakan penjelmaan


dari Thevenin yang merupakan penjelmaan dalil Thevenin. Dalil ini
menyatakan: setiap rangkaian dua ujung, atau gerbang tunggal, dapat
digantikan dengan suatu sumber tegangan tetap atau suatu gaya gerak listrik
(ggl) dan suatu hambatan seri dengan ggl tersebut.

Halaman 8
Jika kedua ujung membentuk gerbang keluaran, hambatan setara RTh disebut
hambatan keluaran dan dinyatakan dengan Ro. sebaliknya jika kedua terminal
membentuk gerbang masukan maka RTh disebut hambatan masukan,
dinyatakan dengan R1. Ini ditunjukan pada gambar 1.3.

Gambar 1.3 Rangkaian setara untuk rangkaian dengan dua gerbang.

2.3.1.1 Hambatan keluaran


Pada rangkaian setara Thevenin (gambar 1.2b), εTh dan RTh dapat kita
tentukan sebagai berikut.

Jika rangkaian ada dalam keadaan terbuka,

V0 = εTh – I.RTh = εTh, oleh karena arus I = 0.

Nyatalah bahwa εTh = V0,b, yakni tegangan keluaran terbuka. Jika rangkaian
diberi beban, seperti gambar 1.4, maka

V0 = εTh – ILR0< Vo,b

Nyatalah pula bahwa jatuh tegangan oleh adanya arus beban terjadi pada R0,
sebesar ILRo.

Suatu rangkaian dengan hambatan keluaran besar yang mudah terbebani.


Suatu sumber tegangan tetap mempunyai R0 = 0, sehingga jika ditarik arus
beban berapa pun besarnya tegangan keluaran tidak akan jauh.

Halaman 9
Batu baetrai yang masih baru mempunyai hambatan keluaran R0 kecil
sehingga dapat ditarik arus yang relatif besar tanpa jauh tegangan. Inilah
penyebab batu baterai yang baru dapat menyalakan lampu dengan terang.

Batu baterai yang telah lama dipakai akan menunjukkan tegangan yang sama
dengan batu baterai yang baru bila diukur dengan voltmeter, oleh karena
pengukuran voltmeter menyatakan tegangan terbuka Vo,b = εTh. Namun batu
baterai lama ini mempunyai hambatan keluaran R0 yang besar. Bila diberi
beban akan terjadi jatuh tegangan yang cukup besar. Oleh karena itu batu
baterai yang telah lama dipakai tak dapat lagi menyalakan lampu dengan
terang.

Gambar 1.4 Rangkaian dengan keluaran diberi beban RL.

Dalam rangkaian secara Thevenin mudah dipahami bahwa hambatan setara


Thevenin RTh dapat dihitung dengan menentukan hambatan setara
rangkaian dilihat dari ujung yang bersangkutan, yaitu dengan menggantikan
sumber tegangan dengan hubungan singkat. Hal ini ditunjukan pada gambar
1.5.

Halaman 10
Gambar 1.5. Hubungan dilihat dari ujung ab, didapat dengan menggantikan
εTh(a) dengan hubungan singkat (b).

Marilah kita gunakan pengertian di atas untuk menentukan rangkaian setara


bagi rangkaian pembagi tegangan seperti pada gambar 1.1. Ini ditunjukan
pada gambar 1.6.

Gambar 1.6 (a)Rangkaian pembagi tegangan, (b) Rangkaian untuk


menentukan RTh (c) Rangkaian setara Thevenin.

Pada gambar 1.6b untuk menghitung RTh sumber tegangan tetap ε telah kita
gantikan dengan suatu hubungan singkat, dan kita peroleh RTh = R1 // R2.

Jika R1=R2=1KΩ, dan ε=12V maka εTh=6V dan RTh=(100Ω//100Ω)=50Ω

Dalam hal pertama. Jika diambil arus sebesar IL = 10mA, tegangan keluaran
akan jatuh sebesar:

Halaman 11
∆V0 = RTh IL = (500Ω)(10mA) = 5 V, menjadi

V0 = (6 - 5) V = 1V.

Sedangkan pada hal yang kedua, bila ditarik arus beban IL = 10 mA, tegangan
keluaran akan sebesar:

∆V0 = RTh IL = (50Ω)(10mA) = 0,5 V, sehingga

V0 = (εTh - ∆V0) = (6 – 0,5) = 5,5 V.

Ternyata dengan R1 = R2 = 1 KΩ, rangkaian lebih mudah dibebani daripada


bila R1 = R2 = 100 Ω.

2.3.1.2 Mengukur εTh dan RTh


Dengan melakuakan pengukuran pada keluaran suatu alat atau rangkaian,
kita dapat menentukan εTh dan RTh atau hambatan keluaran alat tersebut.
Dengan menggunakan voltmeter, εTh dapat ditentukan dengan mengukur
tegangan keluar dengan keadaan terbuka. Voltmeter yang digunakan
hendaknya mempunyai hambatan-dalam jauh lebih besar daripada R0
sehingga tak membebani rangkaian yang diukur.

Suatu pengukuran yang sekaligus dapat menentukan εTh dan R0 adalah dari
lengkungan pembebanan, yaitu dengan menggunakan grafik yang

menunjukan hubungan antara V0 dengan kuat arus IL = . Ini dapat dilihat

pada gambar 1.7.

Halaman 12
Gambar 1.7 (a) Rangkaian setara Thevenin, (b)Lengkung pembebanan.

Dalam mengubah RL kita dapat mengubah arus IL. Untuk tiap nilai arus IL
tegangan keluaran V0 diukur dan dibuat grafiknya seperti pada gambar
1.10b.

Persamaan grafik ini adalah:

Vo = εTh - IL Ro ......................................................................................... (1.1)

Yaitu suatu garis lurus memotong sumbu IL = 0 pada nilai V0 = εTh, dan
mempunyai kemiringan = R0. Jadi dengan lengkung pembebanan kita
sekaligus dapat menentukan εTh dan R0.

2.3.2 RANGKAIAN SETARA NORTON

Suatu piranti atau rangkaian dengan hambatan keluar yang amat besar
berperilaku sepertu suatu sumber arus tetap, yaitu suatu piranti yang
menghasilkan arus keluaran yang tak bergantung pada hambatan beban yang
dipasang. Ini ditunjukkan pada gambar 1.8.

Gambar 1.8 Sumber arus tetap.

Jika Ro RL, maka IL = .

Akibatnya untuk setiap nilai RL, asalkan R0 RL, akan kita dapatkan arus IL
yang boleh dikata tetap. Memang V0 akan berubah dengan nilai RL oleh
karena V0 = IL RL. suatu sumber arus tetap mempunyai R0 = ∞.

Halaman 13
Beberapa piranti yang bersifat sebagai sumber arus misalnya tabung Geiger,
tabung foto, antenna radio, keluaran transistor, dsb.

Suatu rangkaian setara yang juga sering digunakan adalah rangkaian setara
Norton. Rangkaian ini terdiri dari suatu sumber arus tetap IN pararel dengan
suatu hambatan R0, seperti ditunjukkan pada gambar 1.9. G0 menyatakan
konduktasi.

Gambar 1.9 (a) Rangkaian setara Norton, (b) Rangkaian setara Thevenin.

Kita dapat menghubungkan antara IN dengan εTh sebagai berikut. Jika kedua
ujung keluaran rangkaian Norton kita hubungkan singkat, seluruh arus IN
akan mengalir melalui keluaran. Arus ini harus sama dengan arus yang
mengalir bila kedua ujung rangkaian Thevenin dihubungkan singkat. Dalam
hal ini

I0,s = = IN ............................................................................................ (1.2)

I0,s adalah arus keluaran jika dihubungkan singkat.

(I0,s = Ikeluaran, singkat).

2.4 ARUSTRANSIEN

Peristiwa pengisian dan pengosongan muatan kapasitor memegang peranan


penting dalam elektronika. Arus yang berhubungan dengan ini mengecil dengan
waktu sehingga disebut arus transien, yang berarti arus yang hanya timbul
sebentar. Jadi bukan arus tetap. Peristiwa ini digunakan untuk mengubah

Halaman 14
denyut, mengolah denyut dalam televisi, penundaan waktu, menghasilkan
pengapitan tegangan, dsb. Peristiwa ini ditunjukkan pada gambar 1.10.

Telah kita ketahui bahwa suatu kapasitor terbuat dari dua pelat kondukter
yang dipisahkan oleh suatu isolator atau dielektrik. Jika luas pelat = A, jarak
antara pelat = d, dan permitivitas dielektrik = ε, maka nilai kapasitansinya

C= ...................................................................................................... (1.3)

Jika kapasitor dengan kapasitansi C dihubungkan dengan suatu sumber


tegangan V, maka setelah beberapa waktu, di dalam kapasitor akan terkumpul
muatan sebanyak

q =CV ......................................................................................................(1.4)

Gambar 1.10 Pengisian kapasitor.

Setelah muatan ini tercapai, dikatakan kapasitor sudah terisi penuh. Isi
muatan akan tetap tersimpan dalam kapasitor selama tak ada kebocoran
muatan yang satu ke yang lain. Pada gambar 1.10 jika scalar S dihubungkan,
kapasitor C tidaklah langsung terisi penuh, akan tetapi memerlukan waktu.

q (t) = dt .........................................................................................(1.5)

beda tegangan pada kapasitor sebesar

Vc (t) = = ............................................................................(1.6)

Sedangkan beda tegangan antara kedua ujung resistor R menjadi

Halaman 15
Vab = ε – Vc (t)

Vab = ε - = i R ..........................................................................(1.7)

Oleh karena Vc (t) terus bertambah, Vab akan terus berkurang, sehingga arus
I (t) pun akan terus berkurang.

Jika kita ambil diferensial terhadap waktu pada persamaan (1.7) kita peroleh

= , atau

..........................................................................................(1.8)

Dengan melakukan integrasi pada persamaan 1.8, kita peroleh

i=A .............................................................................................(1.9)

Pada t = 0, kapasitor belum terisi sehingga Vc (t) = 0 dan I = , dan

persamaan 1.9 menjadi

i (t) = .........................................................................................(1.10)

yang berarti arus I (t) turun secara eksponensial. Perubahan arus I terhadap t
di tunjukkan pada gambar 1.11.

Gambar 1.11 Perubahan arus i(t) pada pengisian kapaitor.

untuk t=RC, maka

i (t=RC) = ............................................................................................(1.11)

Halaman 16
e adalah bilangan natural; e = 2,712. Waktu t = RC ini disebut tetapan waktu,
dan dinyatakan dengan τ, sehingga τ = RC.

Untuk menyelidiki bagaimana tegangan kapasitor bertambah dengan waktu


ketika kapasitor diisi, kita gunakan persamaan (1.6)

VC (t) = = , sehingga kita peroleh

VC (t) = - ε ( = ε (1 - ..................................................(1.12)

Grafik perubahan tegangan kapasitor Vc terhadap t adalah seperti pada


gambar 1.12.

Gambar 1.12 (a)Perubahan tegangan kapasitor dengan waktu, (b) makin


besar τ = RC. Makin lama mencapai Vc = ε.

Tampak makin besar RC, makin lama waktu yang diperlukan untuk mengisi
kapasitor hingga penuh. Secara fisis ini dapat diterangkan sebagai berikut.
Jika R besar, arus untuk mengisi kapasitor kecil. Ini sama seperti kalau kita
mengisi bak air dengan aliran yang kecil, tentu akan diperlukan waktu yang
lama. Begitu pula jika C besar, diperlukan pula waktu lama untuk mengisi
hingga penuh. Ini dapat disamakan bak air dengan volume yang besar.

Halaman 17
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Arus searah (bahasa Inggris direct current atau DC) adalah aliran elektron
dari suatu titik yang energi potensialnya tinggi ke titik lain yang energi
potensialnya lebih rendah. Pada dasarnya dalam kawat penghantar terdapat
aliran elektron dalam jumlah yang sangat besar, jika jumlah elektron yang
bergerak ke kanan dan ke kiri sama besar maka seolah-olah tidak terjadi apa-
apa. Namun jika ujung sebelah kanan kawat menarik elektron sedangkan ujung
sebelah kiri melepaskannya maka akan terjadi aliran elektron ke kanan (tapi
ingat, dalam hal ini disepakati bahwa arah arus ke kiri). Aliran elektron inilah
yang selanjutnya disebut arus listrik.
Sumber arus listrik searah biasanya adalah baterai (termasuk aki dan
Elemen Volta) dan panel surya. Arus searah biasanya mengalir pada sebuah
konduktor, walaupun mungkin saja arus searah mengalir pada semi-konduktor,
isolator, dan ruang hampa udara.
Dengan menggunakan rangkaian setara, kita dapat melakukan pengukuran
pada masukan dan keluaran suatu piranti elektronik tanpa mengetahui
rangkaian di dalamnya. Ada dua macam rangkaian setara yang lazim digunakan
orang, yakni rangkaian setara Thevenin dan rangkaian setara Norton.
Pengertian yang berhubungan dengan arus searah dan banyak digunakan
dalam elektronika adalah pengisian dan pemrosesan muatankapasitor. Arus ini
juga terjadi pada rangkaian searah yang menggunakan induktor.

Halaman 18
DAFTAR PUSTAKA

-. (2010). Arus Searah [Online]. Tersedia:


http://id.wikipedia.org/wiki/Arus_searah [22 Februari 2010].
-. (2010). Arus Lisrik [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Arus_listrik
[22 Februari 2010].
Anggun, Gumilar dkk.(2010). “Arus Searah”.Makalah pada Mata Kuliah
Rangkaian Elektronika Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer Universitas
Pendidikan Indonesia.
Nurul Mu'min, Akhmad. (2010). Arus Searah [Online]. http://problem-
fisika.blogspot.com/2009/04/arus-searah-dc.html
Sutrisno. (1986). Elektronika Teori Dasar dan Penerapannya. Bandung. Penerbit
ITB.

Halaman 19