Anda di halaman 1dari 6

PEMBASUHAN KAKI: SATU LAMBANG KASIH

ALLAH
Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun
wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu,
supaya jangan berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yohanes 13:14-15).

Selain Gereja Advent, pada umumnya Gereja-gereja Kristen melakukan Perjamuan Suci
tanpa didahului acara pembasuhan kaki. Memang ada satu-dua sekte Kristen lainnya yang
mempraktekkannya seperti Mennonites; Moravians, tapi hanya Adventlah yang paling menonjol
melakukan acara pembasuhan kaki.

Anehnya, seluruh gereja Kristen telah menerima upacara baptisan dan perjamuan Suci
sebagai satu upacara agama, bahkan upacara-upacara tersebut sampai sekarang masih dijalankan
sebagai suatu lambang: pengampunan serta penebusan. Tetapi mengapa pada umumnya orang-
orang Kristen itu tidak menerima upacara pembasuhan kaki?

Apakah hal ini tidak penting? Apakah ini tidak berdasarkan perintah Alkitab? Atau
apakah upacara ini tidak memiliki makna rohani yang berarti?
Saudara, marilah kita pelajari hal ini berdasarkan nats Alkitab dan Yohanes 13:1-20.

I. Dasar Alkitabiah Acara Pembasuhan kaki


(Yohanes 13:1-20)
Mengherankan sekali, bahwa ternyata dari 4 buku Injil itu, hanya Injil Yohanes saja yang
mencatat tentang upacara pembasuhan kaki itu.
Menurut para pakar dalam “peng-interpretasian”(penafsiran) Alkitab bahwa tidak
dituliskannya hal tersebut di dalam buku Injil Matius, Markus dan Lukas adalah oleh karena
upacara ini tidak perlu! Saudara pendapat ini sama sekali tidaklah benar! Tidak diragukan lagi
bahwa Yohanes berpendapat hal itu sangat penting sekali. Coba kita selidiki tentang buku
Yohanes ini.

Buku Yohanes terdiri dari 21 fatsal, dari ke 21 fatsal tersebut, 9 fatsal berisi catatan-
catatan tentang 3 hari terakhir sebelum Dia meninggal dan dari ke 9 fatsal itu, Yohanes mencatat
½ fatsal khusus tentang acara pembasuhan kaki. Apakah ini tidak menyatakan bahwa upacara
pembasuhan kaki itu sangat penting?

Kemudian kalau kita baca dalam Yohanes 20:30, di sini Yohanes berkata: “Memang
masih banyak tanda yang lain yang dibuat Yesus di hadapan mata murid-muridNya, yang tidak
tercatat dalam kitab ini”. Walau dia berkata begitu, ternyata dia memilih untuk mencatat tentang
acara pembasuhan kaki dalam bukunya ini. Jadi jelaslah bagi Yohanes acara pembasuhan kaki
ini sangat penting.

Bagaimana upacara pembasuhan kaki menurut Roh Nubuat? Apakah Roh Nubuat
mendukung agar acara ini diadakan? Saudara, Ny. White mengomentari ayat Yohanes
13:13-15 ini berkata: “Dalam perkataan ini Kristus bukan saja memerintahkan kebiasaan suka
menerima tamu. Lebih banyak yang dimaksudkan daripada hanya sekedar membasuh kaki para
tamu untuk mengeluarkan debu karena perjalanan. Di sini Kristus sedang menetapkan suatu
upacara agama. Oleh perbuatan Tuhan kita upacara kerendahan hati ini dijadikan suatu upacara
yang disucikan” (KSZ, jld. 2, hal. 287).

2. Arti Pembasuhan Kaki:

Hal yang pertama yang menarik perhatian kita dalam Yohanes 13 ini adalah “dalamnya
kasih Kristus kepada murid-muridNya”, ini dapat kita baca dalam ayat 1: “Sama seperti Ia
senantiasa mengasihi murid-muridNya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka”.

Saudara, ternyata upacara pembasuhan kaki ini dilakukan Yesus pada saat Paskah
hampir, yaitu suatu waktu yang melambangkan bahwa Yesus akan menyerahkan hidupNya untuk
mati bagi manusia. Dalam menjelang Paskah inilah Yesus melambangkan upacara pembasuhan
kaki itu sebagai satu sakramen. Tujuan Yesus untuk mengadakan upacara pembasuhan kaki itu
tidak hanya sekedar untuk mengajarkan kerehandahan hati, sebab kalau hanya untuk
mengajarkan itu saja, Yesus dapat mengadakannya jauh-jauh hari sebelum paskah hampir mulai,
tetapi Ia lakukan itu justru beberapa jam sebelum paskah. Jadi, jelaslah bahwa berdasarkan
penentuan waktu untuk mengadakan upacara pembasuhan kaki ini (yakni menjelang paskah),
dapatlah kita lihat bahwa upacara ini bukan hanya sekedar kewajiban moral, tetapi hal ini
berhubungan erat dengan rencana penebusan.
Ini juga membuktikan bahwa Yesus mengadakan pembasuhan kaki itu bukan hanya
sekedar karena “perselisihan” di antara murid-muridNya tetapi adalah
sehubungan dengan “WAKTUNYA SUDAH TIBA”. Dengan kata lain ini adalah bagian dari
rencana Allah. Pembasuhan kaki itu berhubungan dengan rencana keselamatan.
Oleh karena itu pembasuhan kaki itu sangat berarti. Melambangkan apakah pembasuhan kaki
itu? Apakah artinya?

Hal yang pertama yang dilambangkan oleh pembasuhan kaki itu terdapat dalam
perbuatan Yesus dalam Yohanes 13:4:
(1) Lalu bangunlah Yesus
(2) Menanggalkan jubahNya
(3) Mengambil sehelai kain & mengikat di pinggangnya

Perlu kita catat bahwa ayat ini sesuai dengan Filipi 2:6-8. “Kristus yang walaupun dalam
rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib”.

Saudara, kata-kata dalam Yohanes 13:4 ini dengan indahnya telah menyatakan ide
tentang penjelmaan (inkarnasi), seperti yang dicatat dalam Yohanes 1:1 bahwa Yesus telah ada
lama sebelum adanya dunia ini dan Dia telah menjadi manusia (Yohanes 1:14), dan telah
membayar hutang dosa kita di Golgota.
Jadi dalam hal ini dapatlah kita ambil pelajaran bahwa pembasuhan kaki itu memiliki
konsep dasar yang cukup bahwa Kristus memberikan kita keselamatan, dalam memerdekakan
orang yang berdosa dari perhambaan dosa. Pembasuhan kaki memberikan suatu pandangan bagi
kita, bahwa darah Kristus yang menyucikan itu membuat kita bebas dari hukuman akhir dosa.

Hal kedua yang dilambangkan oleh pembasuhan kaki itu terdapat dalam Yohanes 13:5:
“Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah besi, dan mulai membasuh kaki murid-
muridNya lalu menyeka dengan kain yang terikat pada pinggangnya itu”. Ayat 5 ini sejajar
dengan pelayanan Kristus yang sekarang ini terus siap sedia memberikan pengampunan.
Dalam ayat ini kita juga menemukan 3 tindakan Yesus:
(1) menuangkan air
(2) membasuh kaki
(3) menyeka dengan kain

Tidak diragukan lagi bahwa air adalah lambang dari penyucian. Yesus digambarkan
sebagai yang menyucikan dengan menuangkan air. Kita telah pelajari dari Firman Allah bahwa
Yesus melalui FirmanNya yang hidup, melalui Roh Kudus, sedang memberi kesempatan pada
kita untuk tetap hidup suci. Pada saat Yesus megampuni dosa-dosa kita, Dia juga sedang
memberikan kepada kita kuasa untuk mengalahkan cobaan-cobaan yang di depan kita yang dapat
membuat kita terantuk. Dia yang adalah sumber pengampunan adalah sumber kuasa yang oleh
mana kita boleh selalu suci di hadapan pandangan Allah.

Saudaraku, kita lihat bahwa pembersihan itu bukan hanya dilakukan dengan air saja,
tetapi juga dengan handuk yang terbuat dari linen yang melambangkan pembenaran. Yesus
membungkus kita dengan kebenaranNya, sehinga Dia sanggup menjaga kita agar tetap benar di
hadapan Allah. Dia menyediakan bagi kita kuasa yang sama yang oleh mana Dia telah
mengalahkan dosa, sehingga kita dapat bebas dari kuasa dosa.
Arti ketiga yang dilambangkan oleh upacara pembasuhan kaki ini terdapat dalam
Yohanes 13:12: “Sesudah Dia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaianNya dan kembali
ke tempatNya.

Tindakan Yesus ini adalah menyatakan peristiwa di depan, yakni “kebangkitanNya”,


yang mana Dia akan menerima kemuliaan yang untuk sementara telah ditinggalkanNya pada saat
penjelmaanNya. Tetapi saudara, ada pengertian yang lebih dalam lagi. Bagi kita saat ini hal itu
menunjukkan peristiwa yang akan datang, yakni kemuliaan “kedatanganNya yang kedua” – Saat
mana Dia akan duduk dalam tahta kemuliaanNya untuk menyatakan diriNya kepada umat
manusia. Sedangkan tindakan Yesus untuk duduk kembali ketempat dudukNya semula dalam
ayat 12 ini, kepada kita menyatakan waktunya saat mana umat-umat tebusan akan “makan
bersama” Dia dalam pesta perkawinan anak domba seperti yang terdapat dalam Wahyu 19:7, 9.

Berdasarkan pandangan ini, pembasuhan kaki yang terdapat dalam Yohanes 13 ini
memberikan pandangan yang luas bagi kita perihal “penyucian”. Pembasuhan kaki adalah
merupakan lambang dari penyucian (pertumbuhan Kristiani). Itu adalah lambang pemurnian dan
kesempurnaan melalui kuasa penyucian darah anak domba.
Itulah sebabnya kita perlu mengadakan upacara pembasuhan kaki, kita sedang diajak
untuk membersihkan (memurnikan) serta menyempurnakan tabiat kita. Hal ini mempersiapkan
kita untuk pesta perkawinan besar di surga yang segera akan datang.
3. Pelajaran Praktis dari acara Pembasuhan kaki:
Apakah gunanya acara pembasuhan kaki itu dalam praktek kehidupan kita sehari-hari?
Saudara, kita dapat menemukan pelajaran-pelajaran yang praktis dari upacara
pembasuhan kaki itu melalui
pembicaraan antara Yesus dan Petrus dan juga melalui peristiwa dibasuhnya kaki Yudas oleh
Yesus.

Rasul Paulus menolak ketika Yesus hendak membasuh kakinya. Dia berkata:
“Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” (ayat 6).
Jawab Yesus kepadanya,”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan
mengerti kelak”. (ayat 7)
Kata Petrus kepadaNya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya”.
Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian di dalam
Aku” (ayat 8).

Dalam ayat-ayat ini kita lihat 2 jawaban Petrus yang sangat berhubungan sekali. Reaksi
Petrus yang pertama (ayat 6) adalah merupakan reaksi (sikap) awal dari kekaguman dan rasa
malu murid-murid itu. Mereka merasa heran terhadap tindakan Yesus itu.
Tindakan Petrus ini mirip dengan keengganan orang Yahudi untuk menerima Yesus,
sebab Dia datang bukan sebagai seorang hamba. Orang-orang raja tetapi sebagai seorang hamba.
Orang-orang Yahudi tidak menerima Yesus sebab Yesus tidak sesuai dengan apa yang mereka
harapkan. Singkatnya, mereka dibutakan dengan rencana-rencana mereka sendiri sehingga
mereka tidak mengetahui rencana Allah. Yesus mengetahui bahwa sikap seperti itu akan ada
pada saat ini, sehingga Dia menetapkan upacara pembasuhan kaki itu untuk mengingatkan kita
bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah melalui penyucian darah Anak Domba Allah.
Reaksi Petrus yang kedua, yaitu menolak sekaligus penyucian Yesus. Yesus menjawab
Petrus, “Jika engkau tidak menurut, maka engkau tidak akan mendapat bagian di dalam Aku”.
Nampaknya masalah Petrus di sini adalah “kurang iman” yang sering sekali membawa kita ke
penolakan, tetapi Petrus juga memiliki masalah lain yaitu: “kesombongan”. Dia seakan-akan
menyatakan bahwa dia
telah menghormati Yesus dibanding dengan murid-murid lainnya. Seperti dia sedang berkata:
“Jika mereka membiarkan Engkau membasuh kaki mereka, Engkau tidak akan pernah
membasuh kakiku Tuhan”. Kesetiaannya kepada Yesus dibarengi oleh motif-motif yang lain,
boleh jadi dia berbuat begitu agar Yesus melihat bahwa dialah yang terbesar di antara murid-
murid itu. Tapi saudara, Yesus menjawabnya: “barangsiapa yang menyombongkan diri, tidak
mau menurut, akan kehilangan warisan sorgawi”, mengapa? Ellen White menjelaskan hal ini
dalam buku KSZ jld. 2, hal. 284:

Upacara yang ditolak oleh Petrus melambangkan penyucian yang lebih tinggi. Kristus
telah datang untuk membasuh hati dari dosa. Dalam menolak mengizinkanYesus membasuh
kakinya, Petrus sedang menolak pemberian yang lebih tinggi yang termasuk dalam yang lebih
rendah, sesunguhnya ia sedang menolak Tuhanya.

Manusia haruslah menurut tunduk kehendak Allah supaya Tuhan dapat menyucikannya.
Panggilan untuk menurut, tunduk, menyingkirkan keangkuhan dan cinta diri semuanya terdapat
dalam upacara pembasuhan kaki.

Reaksi Petrus yang ketiga kini telah berubah menjadi positif, yang walaupun memiliki
sedikit kekurangan, “Kata Simon Petrus kepadaNya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi
juga tangan dan kepalaku” (ayat 9).

Reaksi Petrus ini menggambarkan bahwa sebenarnya dia belum sepenuhnya mengerti
makna rohani dari perkara yang dibuat oleh Yesus itu. Pikirannya masih dalam tingkatan
“materi”. Jawaban Yesus menolong kita untuk mengerti pengertian Theologi dari upacara ini.
Jawab Yesus: “Barang siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh
kakinya; karena ia sudah bersih
seluruhnya” (10). Di sini Yesus tidaklah berbicara tentang penyucian rohani.

Yang Yesus maksudkan sebenarnya adalah: “Barangsiapa yang telah mandi melalui
babtisan, tidak perlu mandi lagi, yang perlu dibersihan hanyalah kakinya”.

Prinsip dasar dari penyucian di sini adalah: “dibersihkan dari dosa”.


Baptisan adalah lambang dari penyucian oleh darah Kristus untuk keselamatan dari dosa
sedangkan penyucian kaki adalah lambang dari penyucian dari polusi dosa setiap hari.

Saudara, dicucinya kaki Yudas oleh Yesus memberikan beberapa pelajaran bagi
kehidupan kita. Ungkapan “tidak semua kamu bersih” dalam ayat 11, tidak hanya ditunjukkan
kepada Yudas saja tetapi juga kepada semua murid-murid itu. Hal ini jelas bilamana kita
membaca Matius 26:22 yang mana satu demi satu murid-murid itu bertanya: “apakah aku
Tuhan?”

Saudara, upacara pembasuhan kaki membentuk kita agar memiliki “kehidupan


kerohanian yang tinggi” setiap kali kita melakukan.

Kita juga melihat dari pengalaman Yudas, bahwa Yesus itu bukanlah tipe orang yang
tidak memperdulikan orang lain. Sebenarnya Yesus sudah mengetahui bahwa Yudas akan
menghianati Dia, tetapi walaupun begitu Dia tidak berusaha untuk menyingkirkan Yudas dalam
upacara pembasuhan kaki itu. Perlu diingat bahwa pembasuhan kaki itu tidak membuat Yudas
suci – ini bukan oleh karena dia sudah ditakdirkan untuk tidak suci – tetapi ini terjadi oleh karena
dia tidak mau bertobat.

Pelajaran lainnya dapat kita ambil yakni acara pembasuhan kaki itu bukanlah hanya
untuk “orang-orang yang benar saja”.
Saudara, Yesus hanya melihat bahwa di dalam diri Yudas itu ada potensi untuk menjadi orang
benar bukan untuk menjadi pemberontak.
Pembasuhan kaki haruslah mengingatkan kita agar kita melihat dalam diri orang lain itu
kebaikannya bukan kejahatannya atau kesalahannya.

Kisah penyelamatan itu dengan lengkap dapat terlihat dalam adegan pembasuhan kaki.
Pembasuhan kaki itu adalah lambang pelayanan darah Kristus yang menyucikan kita setiap hari.
Pembasuhan kaki adalah alat pengingat (sarana yang menyatakan) pelanggaran-pelanggaran kita
terhadap Tuhan dan sesama.

Tapi walaupun begitu Allah tidak berkata: “Berbahagialah apabila engkau mengetahui
semuanya ini”. Tapi Dia berkata: “berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya”.