Anda di halaman 1dari 27

BENTUK LAHAN ASAL VULKANIS

DAN PENGEMBANGAN WILAYAHNYA

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi


Tugas mata kuliah Geomorfologi Umum
yang dibimbing oleh Drs. Sudarno Herlambang M,Si

oleh:
Syafitri Rahmadina : 205351480149
Neni Wahyuningtyas : 205351480156
Dikin Faisol : 205351480157
Elly Mulia : 205351480167
Anna Faizah : 205351484075
Sri Muji Lestari : 205351484083

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
September 2006
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebaran gunungapi yang luas, baik di dunia maupun di Indonesia,
menyebabkan adanya hubungan yang sangat erat dengan manusia dan
lingkungan hidup. Dalam interaksinya, gunung api telah, sedang dan akan
terus memberikan sumberdayanya bagi kelangsungan hidup manusia.
Namun di sisi lain, gunung api sekali waktu dapat menimbulkan bencana
bagi kehidupan di sekitarnya. Disilah dituntut peranan manusia untuk
menyikapinya secara baik dan benar terhadap perilaku gunungapi agar tetap
dapat hidup harmonis berampingan dengan alam gunungapi. Manusia wajib
mengolah sumber daya alam gunungapi untuk dimanfaatkan bagi
kelangsungang hidup secara aman.
Selain itu kejadian yang sangat langka dalam kurun waktu
kehidupan manusia mendorong para ahli mempelajari dan meningkatkan
penelitian baik pengembangan IPTEK khususnya tentang ilmu gunungapi
maupun aplikasi teknologi dari ilmu tersebut untuk menanggulangi bencana
letusan gunungapi maupun memanfaatkan SDA gunungapi. Di Indonesia
sangat banyak dijumpai gunungapi dan batuan gunungapi diantaranya
banyak yang tergolong aktif yang tersebar di kepulauan wilayah Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Makalah ini merumuskan masalah tentang :
1. Bagaimana bentuk dan struktur gunungapi serta sebaran gunungapi di
Indonesia ?
2. Bagaimana proses erupsi gunungapi ?
3. Bagaimana stadia gunungapi ?
4. Bagaimana aplikasi teknologi penanggulangan bencana letusan maupun
pemanfaatan Sumber Daya Alam gunungapi ?
5. Bagaimana aplikasi bentuk lahan vulkanik Gunung Merapi?

1
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Menguraikan bentuk dan struktur gunungapi serta sebaran gunungapi di
Indonesia.
2. Mengetahui proses erupsi gunungapi,
3. Mengetahui stadia gunungapi.
4. Mengaplikasikan teknologi ilmu gunungapi untuk penanggulangan
bencana dan bahaya gunungapi.
5. Mengaplikasikan bentuk lahan vulkanik Gunung Merapi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dasar Vulkanik (gunungapi)


Alzwar dkk (1988) mendefinisikan guungapi dalam buku
Volcanologi, Sutikno Bronto (2001) bahwa gunungapi merupakan tempat
munculnya batuan leleran dan rempah lepas gunungapi yang berasal dari
dalam bumi, jenis atau kegiatan magma yang sedang berlangsung serta
bentuk timbulan dipermukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah
gunungapi.
Definisi yang lain menyatakan bahwa gunungapi ialah tempat
dimana magama keluar kepermukaan bumi.Dari definisi diatas bahwa
bentuk luar dari suatu gunungapi tidak perlu berbentuk kerucut melainkan
dapat berbentuk lain yaitu hanya berupa lubang kepundan saja atau bentuk
lain sebagai rekah memanjang.

2.2 Bentuk, Struktur, serta sebaran gunungapi di Indonesia.


2.2.1 Bentuk dan struktur gunungapi di Indonesia.
Magma yang keluar kepermukaan bumi menghasilkan berbagai
bentuk dan struktur gunungapi. Pengertian bentuk gunungapi di sini
dimaksudkan untuk menguraikan bermacam-macam kenampakan bentang
alam gunungapi. Sedangkan pengertian struktur gunungapi ditekankan pada
kenampakan dalam dari setiap bentuk dan struktur bentang alam gunungapi.
Secara umum dan berdasarkan kegiatannya gunungapi dibagi
menjadi dua kelompok yaitu: gunungapi monogenesa adalah gunungapi
yang terbentuk oleh satu erupsi atau satu fase erupsi saja, sehingga waktu
hidupnya relatif pendek dan ukurannya relatif kecil. Bentuk-bentuk
gunungapi monogenesa antara lain kubah lava, aliran lava, kerucut sinder
dan maar. Gunungapi poligenesa adalah gunungapi yang terbentuk oleh
banyak erupsi, dimana antar erupsi dipisahkan oleh waktu istirahat yang
panjang dan melibatkan berbagai jenis magma. Bentuk-bentuk gunungapi
poligenesa adalah gunungapi komposit, jamak, kompleks gunungapi,
gunungapi kaldera dan gunungapi perisai.

3
2.2.2 Sebaran gunungapi aktif di Indonesia.
Di Indonesia sebaran gunungapi aktif dibagi menjadi empat busur
gunungapi yaitu:
1. Busur gunungapi Sunda, meliputi sebaran gunungapi mulai pulau
Sumatra, Pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara. Dari Pulau
Sumatra ke arah baratlaut sebaran gunungapi berlanjut ke Kepulauan
Andaman.
2. Busur gunungapi Banda, merupakan kelompok gunungapi yang
terdapat di Kepulauan Banda.
3. Busur gunungapi Halmahera, mencakup gunungapi-gunungapi di
Halmahera dan Kepulauan Maluku.
4. Busur gunungapi Sulawesi Utara-Kepulauan Sangihe, merupakan
kelompok gunungapi yang terdapat di Selawesi Utara ke arah utara
hingga Kepulauan Sangir-Talaud atau Kepualauan Sangihe. Busur
gunungapi Halmahera dan Sangihe tersebut berlanjut lebih ke utara
menunju Filipina.
Pembagian gunungapi aktif di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Gunungapi aktif tipe A yaitu gunungapi yang kegiatannya atau
letusannya tercatat dalam sejarah sejak tahun 1600
2. Gunungapi aktif tipe B yaitu gunungapi yang kegiatannya terjadi
pada masa prasejara atau sebelum tahun 1600.
3. Gunungapi aktif tipe C yaitu gunungapi yang merupakan lapangan
panas bumi, yaitui munculnya gas-gas gunungapi, mata air panas,
bualan lumpur panas, lapangan alterasi hidrotermal dan lain-lain.
Sebaran gunungapi berdasarkan tektonik lempeng dibagi menjadi
lima kelompok yaitu:
1. Gunungapi yang muncul dipemekaran kerak tengah samudera.
Gunungapi ini muncul ditengah-tengah samudera berasal dari
pemekaran kerak bumi didasar samudra.
2. Gunungapi yangmuncul dipemekaran kerak benua. Disini diyakini
bahwa kerak benua juga mengalami pemekaran sehingga
menghasilkan kegiatan gunungapi.

4
3. Pulau gunungapi lautan. Gunungapi ini muncul sebagai akibat
menyempitnya kerak samudra, sehingga magma yang berasal dari
selubung bumi (mantle) dengan mudah keluar ke permukaan bumi.
4. Busur gunungapi tepi benua. Busur gunungapi ini muncul di tepi
benua sebagai akibat penujaman kerak samudra (Oceanic crust) ke
bawah kerak benua (Continental crust). Penunjaman tersebut
menimbulkan panas yang mampu meleburkan selubung bumi
sehingga terbentuk magma yang karena sifatnya cenderung bergerak
keatas sehingga keluar sebagai kegiatan gunungapi.

2.3 Proses Erupsi Gunungapi


2.3.1 Definisi erupsi
Erupsi gunungapi adalah proses keluarnya magama dari dalam
bumi kepermukaan. Dari pernyataan proses keluarnya magma diartikan
bahwa magma dapat benar-benar keluar (ekstrusi) kepermukan bumi atau
sebelum mencapai permukaan bumi sudah membeku didalam bumi (intrusi).
Magma yang benar-benar keluar kepermukaan bumi dalam bentuk cair liat
dan pijar setelah membeku dan membentuk batuan ekstrusiva (extrusive
rocks) atau batuan beku luar. Sedangkan magma yang sudah membeku
sebelum mencapai permukaan disebut batuan beku intrusi dangkal atau
batuan beku terobosan di dekat permukaan. Baik proses keluarnya magma
kepermukaan bumi maupun hanya menerobos sampai di dekat permukaan
tersebut digolongkan sebagai erupsi gunungapi. Hal ini dengan
pertimbangan karena keduanya mempunyai kesaman di dalam lokasi
kejadian yaitu di daerah gunungapi.
Awal erupsi yang dimaksud adalah kelahiran gunungapi. Kejadian
permulaan adalah gempa yang dahsyat sehingga permukaan tanah rekah.
Pertama kali gas akan dikeluarkan, terjadi lubang dan batu-batuan akan
dilemparkan ke atas membentuk lubang breksi terbuka. Material yang
dikeluarkan seperti debu, batu apung, fragmen lava.
Suatu ciri khas terjadinya gunungapi ialah bagian bawah sekitar
lubang dijumpai batuan terdahulu yang tertutup oleh fragmen-fragmen dari
hasil kegiatan magma. Apabila ledakan sangat kuat batu apung, debu dan

5
lainnya akan diendapkan di sekitar dan membentuk lapisan tipis. Dengan
demikian gunung api terdiri dari lubang kepundan apabila terisi air maka
disebut maar.
2.3.2 Jenis-jenis erupsi
Jenis erupsi berdasarkan sifatnya erupsi adalah sebagai berikut:
1. Erupsi eksplosif (letusan) terjadi apabila letak dapur magama dalam,
volume gas besar, sifat magma asam. Material yang dikeluarkan
adalah piroklastik dengan kandungan S1O2 tinggi.
2. Erupsi effusif (lelehan), terjadi karena letak dapur magma dngkal,
volume gas kecil, sifat magma basa. Material yang dikeluarkan
berupa lava dengan kandungan S1O2 kecil bentuk volkan yang
dihasilkan adalah rounded cone.
3. Erupsi campuran, terjadi karena adanya variasi letak dapur magma,
volume gas dan sifat magma yang tidak asam dan tidak basa
(intermidier). Sebagian besar erupsi volkan di Indonesia bertipe
campuran dengan material intermidier yang cenderung basa. Bentuk
volkan yang dihasilkan adalah strato (kerucut).
Berdasarkan bentuk dan lokasi kepundan tempat keluarnya magma,
erupsi dibedakan:
1. Erupai celah/linier (fissure eruption), adalah erupsi yang tidak
melalui lubang kepundan gunungapi melainkan mengalir keluar
melalui retakan-retakan batuan. Dengan demikian sifat letusannya
effusif. Lebih banyak magma yang sampai di permukaan bumi
melalui retakan-retakan batuan dibanding melalui pipa kepundan
gunungapi. Karena itu kurang tepat bila vulkanisme diartikan sebagai
aktivitas gunungapi. Hampir 2,6 x 106 km2 permukaan daratan
tertutup dengan lava yang keluar lewat erupsi celah.
2. Erupsi areal (areal eruption), terjadi karena dinding atas/atap
batholith runtuh sehingga magma keluar ke permukaan meliputi
daerah yang luas. Proses ini sering disebut de roofing karena
prosesnya menimpa bagian atap batholith.

6
3. Erupsi pusat/puncak (central eruption/pipe eruption/summit
eruption), terjadi melalui pipa kepundan, pada umumnya
berlangsung singkat. Apabila magma agak kental/kental kadang-
kadang pipa kepundan tersumbat oleh magma yang membeku,
disebut sumbat lava (lava plug). Sumbat lava tersebut akan
menghalangi keluarnya magma. Gas-gas yang menyertai magma
menyusun kekuatan dibawahnya, dan apabila sudah cukup kuat
sumbat lava didobrak ke atas sehingga terjadi erupsi berikutnya.
Berdasarkan penyebabnya erupsi dapat digolongkan menjadi 4
tipe, yaitu:
1. Erupsi magma (magmatic eruption) yaitu erupsi yang menghasilkan
bahan padat langsung berasal dari magma.
2. Erupsi Hidro (hydro eruption) adalah erupsi yang disebabkan oleh
uap yang berasal dari pemanasan air diluar magma.
3. Erupsi phreatik (prheatic eruption) yaitu erupsi yang disebabkan
oleh tekanan uap yang berasal dari air tanah yang mengalami
pemanasan.
4. Erupsi phreato-magmatic (phreato magmatic eruption) adalah
gabungan erupsi magma dan phreatik.
Magma yang tidak sampai kepermukaan membentuk tubuh batuan
beku intrusi dangkal. Dipandang dari bahan padat yang dikeluarkan ke
permukaan bumi maka ada erupsi magmatik, erupsi freatik dan erupsi
freatomagmatik, ditinjau dari sifat kegiatan berupa erusi letusan dan erusi
lelehan, sedang berdasar lokasinya ada erupsi pusat, erupsi lereng
(terminal atau lateral) dan erupsi eksentrik. Erupsi secara meletus
disebabkan oleh adanya gas gunungapi yang bertekanan tinggi. Akumulasi
gas magma dihasilkan oleh proses diferensiasi, atau percampuran magma
basa dengan magma asam. Dalam beberapa hal magma asam hanya keluar
secara meleleh karena adanya proses penghilangan gas (degassing). Di
dalam erupsi secara vertikal besarnya letusan gunungapi ditentukan
dengan nilai indeks letusan gunungapi (VEI) mulai dari 0-8, dan erupsinya
secara berturut-turut diberi nama:

7
a. Tipe Islandia, mempunyai ciri erupsi sangat lemah, magma sangat
cair yang mengalir keluar ke permukaan bumi melalui suatu saluran
kemudian menyebar di permukaan bumi menghasilkan lapisan-
lapisan lava. Erupsi ini biasanya berlangsung berbulan-bulan dan
pada erupsi berikutnya saluran seringkali bergeser tempat.
b. Tipe Hawaii, erupsinya ini juga lemah, magma meleleh keluar karena
magmanya cair dan tekanan gasnya rendah, namun berlangsung
lama. Biasanya dapur magama dangkal.
c. Tipe Stromboli, erpsinya tidak terlalu eksplosif dengan magma agak
cair, tekanan gas sedang dan dapur magma agak dalam. Selain
mengeluarkan lava, juga bahan-bahan pyroklastik sehingga
membentuk kerucut campuran.
d. Tipe Vulkano, erupsinya lebih eksplosif dengan magma agak cair,
tekanan gas sedang dan dapur magma agak dalam. Tipe ini ditandai
dengan awan abu, juga mengeluarkan sedikit lava.
e. Tipe Pele, erupsinya sangat kuat karena magma sangat kental,
tekanan gasnya tinggi dan dapur magma dalam.
Semakin panjang masa istirahat suatu gunungapi maka letusan mendatang
akan mempunyai nilai VEI lebih tinggi. Hal ini berhubungan dengan
proses diferensiasi magma dari komposisi basa ke asam dan akumulasi gas
gunungapi yang semakin lama semakin banyak dan bertekanan sangat
tinggi.
2.3.3 Stadia Gunungapi
Berdasarkan analisa umur batuan gunungapi terutama penarikan
umur secara radiometri menyatakan bahwa seluruh gunungapi yang pernah
meletus antara 50.000 tahun yang lalu hingga sekarang dinyatakan sebagai
gunungapi aktif. Gunungapi yang kegiatannya antara 50.000 tahun dan
100.000 tahun dinyatakan mempunyai potensi aktif kembali sedangkan
gunungapi yang kegitannya lebih tua dari 100.000 tahun yang lalu
dipandang sudah mati atau fosil gunungapi.

8
Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI
menyatakan bahwa gunungapi aktif adalah semua gunungapi yang pernah
meletus sejak tahun 1600, sedangkan gunungapi yang belum pernah
meletus sejak 1600 tetapi masih memperlihatkan kenampakan vulkanisme
serta daerah yang bentuk gunungapinya tidak jelas tetapi masih dijumpai
solfatar dan fumarol. Oleh karena itu gunungapi yang berumur kurang dari
5 juta tahun masih perlu diperhatikan karena kemungkinan terjadi letusan
kembali. Salah satu contoh gunungapi yang dipandang sudah tidak aktif
ttapi setelah beristirahat 14.500 tahun kemudian meletus adalah gunung
Anak Ranakah, di Pulau Flores bagian barat (Abdurrahman dkk, 1988
dalam Sutikno Bronto, Volcanologi 2001)
Secara geomorfologi material penyusun gunungapi dapat
dibedakan menjadi:
1. Endapan vulkanik muda, dengan ciri belum memadat berupa
endapan yang bentuknya
a. medan abu dan pasir. Contoh Segoro Wedi-Bromo,
b. Kerucut atau sinder, merupakan gunungapi fragmental, materi
kasar. Contoh Galunggung.
c. Lahar membentuk dataran dan lereng kaki fluviovulkanik.
2. Batuan vulkanik muda, memadat yang bentuknya:
a. Aliran lava dan medan lava,
b. Kubah lava berupa lava mengental pada pipa kepundan apabila
vulkan mati akan terbentuk sumbat lava.
c. Lava pada kerucut gunungapi strato, setelah erupsi akan
membentuk puncak baru.
3. Formasi volkanik tua yang bentuknya:
a. Abu, lapini, sinder, lahar yang tertumpuk kuat.
b. Endapan breksi, piroklastik terlapuk kuat
c. Endapan vulkanik bercampur dengan sedimen terlapuk.

9
2.4 Aplikasi teknologi penanggulangan bencana letusan serta
pemanfaatan Sumber Daya Alam gunungapi.
2.4.1 Klasifikasi bahaya gunungapi
Secara umum semakin lama suatu gunungapi beristirahat maka
erupsi yang akan datang dapat meletus sangat dahsyat, misalnya letusan
pembentukan kaldera. Ini berarti ancaman bahayanya semakin besar
karena selain mengancam daerah yang lebih luas, selam wktu istirahat
panjang itu pemukiman dan kegiatan manusia terus meningkat dan
cenderung mendekati lokasi sumber bencana sementara pemahaman,
kesadaran dan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya semakin berkurang.
Berdasarkan waktu kejadian, bahaya gunungapi dibagi menjadi
empat golongan, yaitu:
1. Bahaya gunungapi jangka panjang, bila kejadiannya kurang dari 1
kali dalam kurun waktu 100 tahun, sebagaimana contoh G. Agung di
P. Bali.
2. Bahaya gunungapi jangka menengah, jika kejadian letusan paling
tidak satu kali dalam waktu antara 50-100 tahun, umpamanya G. Kie
Besi di Maluku Utara.
3. Bahaya gunungapi jangka pendek, kalau kegiatan gunungapi yang
membahayakan terjadi paling tidak satu kali dalam waktu 10-50
tahun, misalnya G. Kelut di Jawa Timur.
4. Bahaya gunungapi jangka sangat pendek, bila kegiatannya sangat
sering, paling tidak satu kali setiap 10 tahun. Contoh G. Semeru di
Jawa Timur.
Berdasarkan proses kegiatan gunungapi maka bahaya gunungapi
dapat dibagi menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer
adalah bahaya yang timbul secara langsung pada saat terjadi erupsi atau
letusan gunungapi. Bahaya sekunder adalah bahaya yang terjadi secara
tidak langsung atau setelah kegiatan gunungapi berlalu atau sedang
beristirahat.

10
Bahaya primer Bahaya sekunder
1. Awan panas 1. Lahar hujan
2. Lontaran atau hujan batu (pijar) 2. Banjir bandang
3. Longsoran batuan gunungapi 3.Pencemaran air tanah
4. Lahar letusan 4. Kekurangan air bersih
5. Aliran lava 5. Pencemaran air permukaan
6. hujan abu 6. Kelaparan dan penyakit menular
7. Tsunami (gelombang pasang air laut)
8. Gas beracun
9. Gempa bumi
10. Hentakan udara dan petir
11. Deformasi permukaan tanah
12. Anomali geotermal
13. Anomali air tanah
14. Lubang letusan baru
2.4.2 Penanggulangan bencana letusan gunungapi
Menejemen penanggulangan bencana sangat penting dipahami dan
dilaksanakan supaya penanggulangan bencana dapat diorganisir dengan
baik, rapi, tertib dan lancar. Untuk mencegah terulangnya bencana diwaktu
yang akan datang diperlukan usaha pencegahan mitigasi dan kesiap
siagaan.
Usaha-usaha penanggulangan bencana pada tahap pencegahan
antara lain:
¾ pembangunan sabodam untuk mengendalikan lahar dan banjir,
¾ penyusunan peraturan tata guna lahan agar masyarakat tidak
mengembangkan pemukiman di daerah rawan bencana.
¾ Pembuatan terowongan air untuk mengurangi volume air di danau
kawah.
¾ Pembuatan rumah beratap seng dengan kemiringan tajam.
¾ Penelitian bencana gunungapi untuk menilai potensi bahaya yang
akan datang.
¾ Pembuatan peta kawasan rawan bencana gunungapi.
¾ Pemantauan kegiatan gunungapi.
¾ Penyuluhan terhadap masyarakat di kawasan rawan bencana baik
secara langsung maupun melalui media cetak elektronika.

11
Pengertian mitigasi bencana alam gunungapi adalah tindakan untuk
mengurangi dampak bencana pada masyarakat. Seperti penerapan
bangunan standar untuk mengantisipasi gempa bumi, hujan abu dan banjir.
Pengamanan sistim instalasi strategis dan fital seperti pusat PLTA, air
minum dan komunikasi. Pengembangan infrastruktur seperti pembuatan
jalan raya baru yang menjahui rawan bencana.
Tahap kesiap siagaan merupakan tindakan-tindakan yang
mmungkinkan pemerintah, masyarakat maupin perorangan mampu
mengantisipasi segera mungkin dan seefektif mungkin terhadap situasi
kejadian bencana misalnya:
¾ Menyiapkan peralatan penanggulangan bencana untuk digunakan
sewaktu-waktu.
¾ Pelaksanaan efakuasi atau pengungsian.
¾ Menyiapkan sistem peringatan dini (komunikasi darurat).
¾ Melakukan penyuluhan serta memberi informasi tentang
kebencanaan pada masyarakat.
¾ Melakukan pelatihan penanggulangan bencana.

2.4.3 Pemantauan gunungapi


Tujuan utama pemantaun kegiatan gunungapi adalah untuk
memperkirakan besaran letusan yang akan terjadi melalui model erupsi
gunungapi antara lain,
¾ Memperkirakan waktu dan besaran letusan awal.
¾ Mendeteksi adanya peningkatan kegiatan.
¾ Memperkirakan waktu dan besaran letusan berikutnya terutama
letusan puncak.
¾ Memperkirakan lama letusan dan mengidentifikasi penurunan
kegiatan guna memperkirakan luasan dan daerah yang akan terlanda,
jenis ancaman bahaya yang akan terjadi apakah awan panas, lontaran
batu, hujan abu, aliran lava, aliran lahar.

12
2.4.4 Manfaat gunungapi
Secara umum keberadaan gunungapi mempunyai dua manfaat
utama yaitu: manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan manfaat
praktis (terapan) untuk meningkatan dan taraf hidup manusia. Gunungapi
dapat dipandang sebagai laboratorium alam yang dijadikan objek
panelitian secara terus-menerus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
tentang kegunungapian.
Sumberdaya gunungapi adalah bahan atau keadaan di kawasan
gunungapi yang merupakan hasil kegiatan gunungapi baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sumberdaya gunungapi terdiri dari, sumberdaya
energi, sumberdaya lingkungan dan sumberdaya mineral.
Sumberdaya energi gunungapi berupa:
• Uap panas bumi
• Energi air
• Cebakan hidrokarbon dan tenaga nuklir
Sumberdaya lingkungan kawasan gunungapi menyediakan:
• Obyek wisata • Pemukiman
• Kehutanan • Sumber air
• Perkebunan • Olahraga dan pengobatan
• Pertanian
Sumberdaya mineral kawasan gunungapi mengandung mineral
logam dan non logam. Mineral logam terdiri dari biji logam mulia, logam
dasar dan logam tanah jarang. Bahan non logam disebut bahan galian
industri misalnya kuarsa, kaulin, tras, batu apung, andesit, gipsum,
belerang. Pemanfaatan sumberdaya gunungapi hendaknya tetap mengacu
pada prinsip aman, menguntungkan dan tidak merusak lingkungan.

2.5 Aplikasi bentuk lahan vulkanik


Gunung Merapi merupakan aplikasi bentuk lahan vulkanik yang
terdapat di Indonesia.
Koordinat puncak : 70 32’ 29’’ LS dan 1100 26’ 47’’ BT
Ketinggian : 2.975 meter dpl

13
Letak administrasi :
Lereng Utara : Kab. Boyolali Provinsi Jawa Tengah
Lereng Barat : Kab. Magelang Provinsi Jawa Tengah
Lereng Selatan : Kab. Sleman Provinsi DIY
Lereng Timur : Kab. Klaten dan Kab. Boyolali Provinsi Jawa
Tengah
Bentuk lahan

Bentuk lahan yang terbentuk di kompleks Gunung Merapi yaitu;


Kawah aktif, Sumbat lava, Vulcanic neck atau Lecher gunungapi, Lereng
gunungapi, Lembah barranco, Kaki gunungapi, Dataran kaki gunungapi,
Dataran gunungapi, Medan lava dan Teras sungai erosional.

Daerah Bahaya Letusan Gunung Merapi


Terdapat kaitan antara bentuk lahan dengan tingkat kerentanan
terhadap letusan gunungapi. Tingkat kerentanan tiap-tiap bentuklahan
terhadap bencana Gunungapi Merapi dikelaskan ke dalam tiga tingkat,
yaitu sangat rentan, rentan, dan kurang rentan. Masing-masing yaitu
tingkat sangat rentan meliputi Kawah Aktif, Sumbat Lava, dan Medan
Lava, tingkat rentan meliputi Lecher Gunungapi, Lereng Gunungapi,
Lembah Barranco, Teras Sungai Erosional, sedangkan untuk tingkat
kurang rentan meliputi Kaki Gunungapi, Dataran Kaki Gunungapi, dan
Dataran Gunungapi.

Bentuk lahan yang mempunyai tingkat kerentanan sangat rentan


dan rentan pada zonasi daerah bahaya letusan gunungapi dimasukkan ke
dalam daerah bahaya, baik Daerah Terlarang, Daerah Bahaya I, ataupun
Daerah Bahaya II. Daerah-daerah tersebut dominan terdapat di lereng
bagian Barat daya dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk
wilayah Kabupaten Magelang Propinsi Jawa Tengah dan sebagian
kecilnya termasuk wilayah Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.

14
Morfologi Gunung Merapi
Gunung Merapi tumbuh di atas titik potong antara kelurusan
vulkanik Ungaran - Telomoyo - Merbabu - Merapi dan kelurusan
vulkanik Lawu - Merapi - Sumbing - Sindoro - Slamet. Kelurusan
vulkanik Ungaran-Merapi tersebut merupakan sesar mendatar yang
berbentuk konkaf hingga sampai ke barat, dan berangsur-angsur
berkembang kegiatan vulkanisnya sepanjang sesar mendatar dari arah
utara ke selatan. Dapat diurut dari utara yaitu Ungaran Tua berumur
Pleistosen dan berakhir di selatan yaitu di Gunung Merapi yang sangat
aktif hingga saat ini. Kadang disebutkan bahwa Gunung Merapi
terletak pada perpotongan dua sesar kwarter yaitu Sesar Semarang yang
berorientasi utara-selatan dan Sesar Solo yang berorientasi barat-timur.
Secara morfologi tubuh gunung Merapi dapat dibagi menjadi
empat bagian yaitu Kerucut Puncak, Lereng Tengah dan Lereng Kaki
dan Dataran Kaki (Sari,1992). Kerucut puncak dibangun oleh endapan
paling muda berupa lava dan piroklastik. Satuan lereng tengah
dibangun oleh endapan lava, piroklastik dan lahar. Lereng kaki dan
Dataran Kaki tersusun dari endapan piroklastik, lahar dan aluvial. Dari
bentuknya, dibandingkan dengan gunungapi disebelahnya yaitu
Gunung Merbabu, Gunung Merapi nampak jauh lebih runcing. Hal ini
menunjukkan bahwa pertumbuhan bagian puncaknya relatif lebih
cepat. Hal ini didukung pula oleh kenyataan bahwa pada saat ini
produk aktivitas Merapi hanya tersebar pada jarak yang dekat dari
puncak Merapi.
Kerucut puncak Merapi yang sering disebut sebagai Gunung
Anyar merupakan bagian Merapi yang paling muda. Semua aktivitas
Merapi terpusat pada puncak kerucut ini. Kawah utama Merapi saat ini
berupa bukaan berbentuk tapal kuda yang mengarah ke barat-baratdaya.
Morfologi kawah ini terbentuk sesudah letusan tahun 1961. Secara
umum, dataran puncak Merapi tersusun dari kubah-kubah lava yang
tidak terlongsorkan. Beberapa area di dataran puncak Merapi di luar
kawah utama mengeluarkan banyak uap vulkanik yaitu di area Gendol

15
dan Woro, bagian tenggara dataran puncak.
Bagian lereng barat Merapi merupakan daerah aliran guguran
dan piroklastik. Daerah ini merupakan daerah terbuka karena sering
terlanda awanpanas. Daerah lereng timur sebagai bagian dari struktur
Merapi Tua jarang terkena dampak aktivitas Merapi. Lereng ini lebih
banyak tedutup dengan vegetasi. Morfologinya nampak dipisahkan dari
kerucut-Merapi dengan sesar yang berbentuk tapal kuda yang melalui
bawah Gunung ljo, lereng timur Merapi.Lereng kaki Merapi tersusun
dari punggungan-punggungan radial yang diselingi dengan hulu-hulu
sungai. Beberapa sungai penting yang berada di lereng barat yaitu
Batang, Bebeng, Putih, Blongkeng, Sat, Lamat dan Senowo. Alur-alur
pada hulu sungai tersebut yang sering mendapat tambahan material
produk letusan.

Stratigrafi
Penelitian terdahulu dari G. Merapi menunjukkan bahwa
sejarah G. Merapi cukup komplek dan pembagian detail dari sejarah
Merapi sendiri masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Berbagai
penelitian geologi yang dilakukan di Merapi antara lain Wirakusumah
(1989), Berthommier (1990), Newhall & Bronto (1995) dan Newhall et
al (in press). Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2
kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian yang
dilakukan sesudahnya semakin merinci unit-unit stratigraf! di Merapi.
Secara garis besar sejarah G. Merapi dapat dibagi menjadi 4
bagian (Bedhommier, 1990), yaitu :
Pra Merapi (lebih dari 400.000 tahun yang lalu)
Sebelum terbentuk Gunung Merapi, pada masa ini sudah
terdapat apa yang sekarang nampak sebagai Gunung Bibi, gunung
basaltik andesit, yang terletak di lereng timur Merapi, termasuk di
daerah Boyolali. Walaupun sama sepeni lava Merapi berjenis basalt-
andesitik, batuan gunung Bibi berbeda dari batuan Merapi, karena tidak
mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar
2050 meter di atas muka laut. Lokasi ini dapat dicapai melalui desa

16
Cepogo naik ke arah Merapi. Jarak datar antara puncak Bibi dan
puncak Merapi sekitar 2.5 kilometer. Karena umurnya yang jauh lebih
tua darl gunung Merapi bukit ini telah mengalami alterasi yang kuat,
contoh batuan segar sudah sulit sekali ditemukan. Umurnya
diperkirakan sekitar 700.000 tahun.
Merapi Tua (60.000 sampai 8000 tahun yang lalu)
Pada masa ini mulal lahir Gunung Merapi dan merupakan fase
awal dari pembentukannya. Kerucut G. Merapi belum terbentuk
sempurna. Produk erupsinya bervariasi. Ekstrusi awalnya berupa lava
basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur
sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan
komposisi andesit basaltik; dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.
Merapi pertengahan (8000 sampai 2000 tahun yang lalu)
Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit
Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara
Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan
panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan
eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan "debris-
avalanche" (sebagaimana terjadi di Mount St. Helens, dalam skala
kecil), ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan
panjang 7 kilometer, lebar 1-2 kilometer dengan beberapa bukit di
lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.
Merapi baru (2000 sampai sekarang)
Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi
yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar. Aktivitas Merapi terdiri
dari aliran basalt dan andesit lava, awanpanas serta letusan magmatik
dan phreatomagmatik. Kubah lava menjadi pusat aktivitas Gunung
Merapi sampai saat ini.Batuan dasar dari G. Merapi diperkirakan
berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur
sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari G. Merapi terjadi di masa lalu
yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang
terletak + 23 km dari G. Merapi. Newhall et al (in press) juga

17
menyatakan bahwa akibat letusan besar di masa lalu dari G. Merapi,
material hasil letusannya diperkirakan telah membendung K. Progo
yang kemudian membentuk danau. Namun demikian, waktu dari
letusannya masih diperdebatkan.
Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah
menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan
(VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar
terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo
tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu (490 + 100 yrs.
B.P) (MN15 NB-1). Namun demikian, erupsi eksplosif dari G. Merapi
yang teramati diperkirakan masih terjadi lagi pada sekitar 250 tahun
yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Meskipun demikian, letusannya
relatif kecil dibandingkan letusan yang menghasilkan Selokopo tephra.
Berdasarkan pengamatan terhadap jenis endapan dan besar
letusannya, letusan G. Merapi di masa lalu (3000 BP - 1800 AD) dapat
dibedakan menjadi 3 (Andreastuti, 1999) kelompok:
Kelompok 1 letusan kecil menghasilkan satu jenis endapan yang
relatif tipis atau aliran lava.
Kelompok 2 letusan medium menghasilkan endapan tephra yang
menunjukkan asosiasi sederhana dari endapan yang ketebalannya relatif
tipis.
Kelompok 3 letusan besar yang menghasilkan endapan tebal dengan
asosiasi jenis endapan yang komplek.
Pembagian tersebut diatas berlaku untuk kejadian letusan pra-1 800
AD. Bila diterapkan pada letusan sekarang (sesudah-1 800 AD), maka
endapan yang terbentuk dapat digolongkan dalam kelompok 1,
contohnya lava, awanpanas atau endapan surge dan kelompok 2, yaitu
asosiasi endapan awanpanas dan surge.
Endapan hasil letusan yang sekarang berupa awanpanas yang
meskipun cukup tebal (mencapai 8m), namun hanya tersebar di
lembah-lembah tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa letusannya relatif
kecil. Pada letusan pra-1 800, hasil letusan berupa endapan jatuhan

18
yang ketebalannya lebih tipis namun merata di sekitar gunung. Tekanan
internal magma pada letusan yang menghasilkan awanpanas lebih kecil
daripada yang menghasilkan letusan dengan endapan jatuhan.
Dalam perkembangannya, sifat letusan G. Merapi
menunjukkan sifat perubahan komposisi magma yang berulang dari
basa ke asam. Komposisi SiO2 pada sekitar 1000 tahun terakhir
mengalami variasi dengan nilai terendah sekitar 50.5 % sampal 56.5 %.
Tentu saja perubahan komposisi in! akan berpengaruh pada tingkah
laku Merapi. Walaupun perubahan SiO2 berfluktuasi, dalam jangka
panjang terjadi kecenderungan kenaikan komposisi yang jelas. Hal ini
tedilhat baik dari letusan yang sekarang maupun letusan masa lalu
(Andreastuti, 1999). Namun demikian, perubahan sifat letusan dari
eksplosif menjadi efusif pada periode saat ini merupakan perubahan
yang penting, karena berpengaruh pada jenis dan resiko dari letusan.
Dibandingkan dengan letusan masa lampau, letusan masa kini relatif
kecil (VEI 1-3).
Petrografi
Gunung Merapi merupakan gunungapi tipe basalt-andesitik
dengan komposisi SiO2 berkisar antara 50-58 %. Beberapa lava yang
bersifat lebih basa mempunyai SiO2 yang lebih rendah sampal sekitar
48%. Batuan Merapi tersusun dari plagiolklas, olivin, piroksen,
magnetit dan amphibol. Plagioklas merupakan mineral utama pada
batuan Merapi dengan komposisi sekitar 34%. Menurut del Marmol
(1989), lava Merapi mempunyai tingkat kristalinitas 32 58% (fenokris
> 0.2 mm). Sedangkan penelitian dari endapan tephra pra-1800 AD
(Andreastuti, 1999), mengandung fenokris 15-50%.
Asosiasi mineral dari endapan tephra Merapi , yaitu:
a. Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen-hornblende
b. Plagioklas-hornblende-klinopiroksen
Asosiasi mineral (a) merupakan kelompok yang dominan untuk
endapan pra-1800 AD.

19
Sedangkan endapan lava dan tephra sesudah-1800 AD terutama
mempunyai asosiasi mineral:
a. Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen-hornblende-olivin
b. Plagioklas-klinopiroksen-ortopiroksen
Asosiasi mineral (b) adalah umum ditemukan dalam endapan tephra
dan lava sesudah1800 AD.
Batuan Merapi yang bersifat basalt-andesitik dan andesitik
merupakan hasil evolusi dari high-Al basalt sebagai magma asalnya.
Disamping differensiasi kristalisasi, magma Merapi dipengaruhi juga
oleh adanya kontaminasi dari batuan mantel dan kerak bumL Adanya
kontaminasi dari mantel bumi ditunjukkan dengan. adanya asimilasi
antara olivin forsteritik dan high-Al basalt. Xenolith karbonat
merupakan indikasi adanya kontaminasi dari batuan sedimen di kerak
bumL Xenolith gabbro, walaupun tingkat kontaminasinya kecil,
menjadi petunjuk adanya kontaminasi dari batuan tertua yang
ditemukan di pulau Jawa (del Marmol, 1989).
Magma Merapi berasal dari high-Al basalt yang terkumpul di
dapur magma. Magma basalt ini mempunyai kandungan air sekitar 2%
berat. Dari analisis kristalisasi disimpulkan bahwa dapur magma berada
pada suatu kedalaman antara 7-17 kilometer (estimasi petrografik) atau
setara dengan tekanan lithostatik 2 sampai 5 kilobar (del Marmol,
1989). Dapur magma diperkirakan mempunyai volume sekitar 10 kmI.
Nilai volume ini diperoleh dari perhitungan berdasarkan data laju
erupsi, pertumbuhan kristal, ukuran kubah lava.

Karakter dan Gejala Letusan

Sejak awal sejarah letusan Gunung Merapi sudah tercatat bahwa


tipe letusannya adalah pertumbuhan kubah lava kemudian gugur dan
menghasilkan awanpanas guguran yang dikenal dengan Tipe Merapi
(Merapi Type). Kejadiannya adalah kubahlava yang tumbuh di puncak
dalam suatu waktu karena posisinya tidak stabil atau terdesak oleh
magma dari dalam dan runtuh yang diikuti oleh guguran lava pijar.

20
Dalam volume besar akan berubah menjadi awanpanas guguran
(rock avalance), atau penduduk sekitar Merapi mengenalnya dengan
sebutan wedhus gembel, berupa campuran material berukuran debu
hingga blok bersuhu tinggi (>700oC) dalam terjangan turbulensi
meluncur dengan kecepatan tinggi (100 km/jam) ke dalam lembah.
Puncak letusan umumnya berupa penghancuran kubah yang didahului
dengan letusan eksplosif disertai awanpanas guguran akibat hancurnya
kubah. Secara bertahap, akan terbentuk kubahlava yang baru
Hartman (1935) membuat simpulan tentang siklus letusan Gunung Merapi
dalam 4 kronologi yaitu:
Kronologi 1.
Diawali dengan satu letusan kecil sebagai ektrusi lava. Fase utama berupa
pembentukan kubahlava hingga mencapai volume besar kemudian
berhenti. Siklus ini berakhir dengan proses guguran lava pijar yang berasal
dari kubah yang terkadang disertai dengan awanpanas kecil yang
berlangsung hingga bulanan.
Kronologi 2.
Kubahlava sudah sudah terbentuk sebelumnya di puncak. Fase utama
berupa letusan bertipe vulkanian dan menghancurkan kubah yang ada dan
menghasilkan awanpanas. Kronologi 2 ini berakhir dengan tumbuhnya
kubah yang baru. Kubah yang baru tersebut menerobos tempat lain di
puncak atau sekitar puncak atau tumbuh pada bekas kubah yang
dilongsorkan sebelumnya.
Kronologi 3.
Mirip dengan kronologi 2, yang membedakan adalah tidak terdapat kubah
di puncak, tetapi kawah tersumbat. Akibatnya fase utama terjadi dengan
letusan vulkanian disertai dengan awanpanas besar (tipe St. Vincent ?).
Sebagai fase akhir akan terbentu kubah yang baru.

Kronologi 4.
Diawali dengan letusan kecil dan berlanjut dengan terbentuknya
sumbatlava sebagai fase utama yang diikuti dengan letusan vertikal yang

21
besar disertai awanpanas dan asap letusan yang tinggi yang merupakan
fase yang terakhir.

Bahaya Gunung Merapi


Bahaya gunung Merapi dapat dibedakan menjadi bahaya
primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer merupakan bahaya
yang timbul sebagai akibat langsung dari letusan. Sedangkan, bahaya
sekunder merupakan bahaya yang secara tidak langsung disebabkan
oleh letusan atau produk letusan. Bahaya primer yaitu awanpanas
letusan, lemparan material letusan dan abu letusan. Bahaya sekunder
yaitu lahar, kerusakan rumah dan tempat tinggal dan bahkan
kekurangan pangan.
Awanpanas saat ini merupakan kejadian yang paling berbahaya
di Merapi. Suhu yang tinggi, mencapai 3000C merupakan faktor yang
paling berbahaya dari awanpanas. Material panas hancuran dari kubah
lava meluncur menyusuri lereng dengan asap yang membubung tinggi
bergulung-gulung dengan kecepatan luncur yang dapat mencapal 90
kilometer per jam. Sebagai ilustrasi, jarak 5 kilometer dari puncak akan
tercapai oleh awanpanas pada waktu 3-4 menit. Walaupun material
awanpanas mengalir menyusuri alur hulu sungai, asap awanpanas
mengikuti aliran materialnya dan dapat membubung tinggi mencapai 1-
2 kilometer.
Awan panas menyapu dan membakar daerah yang dilaluinya.
Asap yang bergulung-gulung dapat membakar daerah sekitar jalur
aliran. Sebagai aliran suspensi material abu, pasir, kerikil, batu dan gas
yang bertekanan tinggi, awanpanas biasanya lebih tidak berisik dari
pada guguran biasa. Awanpanas dari longsoran kubah lava aktif sangat
berbahaya karena dapat terjadi sewaktu-waktu. Kalau awan panas
sudah atau sedang terjadi penanggulangannya sangat sulit.
Bahaya awanpanas hanya bisa dihindari dengan tidak terlalu
dekat dengan jalur-jalur awanpanas yaitu hulu-hulu sungai yang ada di
lereng Merapi. Karena awan panas Merapi terutama berasal dari kubah
lava maka alur yang paling mungkin terkena adalah daerah yang ada

22
lurus di bawah lidah kubah lava aktif dan disebelah kanan-kiri dari alur.
Sampai saat ini ancaman awanpanas masih ke arah sektor
selatan, barat daya, baratdan barat laut. Kubah lava Merapi mempunyai
orientasi yang bervariasi dari waktu ke waktu sehingga tingkat resiko
bahaya di suatu daerah juga tergantung kondisi kubah pada saat itu.
Lontaran bahan letusan, walaupun saat ini jarang terjadi, juga
berbahaya bagi kampungkampung yang berada pada posisi dekat,
kurang dari 3 kilometer dari Merapi. Lontaran bahan letusan hanya
terjadi pada saat letusan mengarah vertikal atau jenis letusan vulkanian
dan plinian.
Bahaya ini juga mengancam para pendaki yang sedang
melakukan pendakian di G. Merapi pada saat aktivitas Merapi sedang
giat-giatnya. Itulah sebabnya pada saat status Merapi dalam tingkat
"Siaga" dianjurkan untuk tidak melakukan pendakian.
Abu letusan, atau hujan abu, bukan merupakan bahaya yang
besar bagi penduduk. Iritasi tenggorokan merupakan kejadian yang
paling sering dialami oleh penduduk yang terkena hujan abu. Abu pada
beberapa kasus dapat mematikan tanaman pertanian penduduk. Masker
penutup hidung (dari kain) sudah cukup untuk mengurangi dampak
negatif abu vulkanik.Gas beracun di Merapi hampir tidak ada. Namun
demikian bagi para pendaki yang berada di puncak Merapi dan terlalu
dekat dengan solfatara tetap acta resiko untuk terserang keracunan gas
vulkanik. Dianjurkan untuk menggunakan masker gas atau paling tidak
saputangan yang dibasahi air untuk menutup hidung pada saat berada di
daerah solfatara Merapi di puncak.
Lahar merupakan aliran lumpur dan batu dari material hasil
erupsi yang oleh karena adanya tambahan air dari hujan terbawa turun
dan mengalir sebagai aliran pekat. Dua unsur penyusun lahar yaitu
material lahar yang berupa endapan hasil erupsi yang berada di lereng
Merapi dan air yang berasal dari hujan. Material lahar yang sangat
berpotensi adalah material hasil erupsi yang masih baru dan belum

23
terpadatkan. Itulah sebabnya resiko lahar cukup tinggi apabila terjadi
hujan lebat dalam beberapa hari/minggu sesudah letusan.
Selama ini aliran pada umumnya mengalir di alur-alur sungai
yang berhulu di Merapi. Demikian sehingga bahaya lahar mengancam
terutama para penambang pasir di alur sungai di lereng Merapi.
Disamping bahayanya lahar juga bermanfaat karena menurunkan
material pasir ke ketinggian yang lebih rendah. Cara penanggulangan
lahar saat yang paling sederhana adalah dengan menghindari alur
sungai pada saat terjadi hujan lebat di lereng Merapi terutama yang
masih terdapat material.

24
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Bentuk dan struktur lahan vulkanik dibagi menjadi empat menurut
letak kepundan ada gunungapi sentral dan gunungapi rekah. Menurut
genesa erupsi ada dua yaitu: monogenetik dan poligenetik. Berdasarkan
rempah yang dihasilkan ada empat yaitu: gunungapi lava, gunungapi
piroklastik, gunungapi campuran dan gunungapi gas. Berdasarkan bentuk
di permukaan ada lima yaitu: gunungapi kerucut, gunungapi kubah,
gunungapi maar, plato dan baranco.
Bentuk lahan vulkanik ini tersebar di semua benua dan samudra
secara berkelompok yang masing-masing wilayah sebaran gunungapi
paling tidak memiliki gunungapi yang sangat terkenal karena seringnya
terjadi kegiatan proses erupsi dan memiliki stadia yang berbeda.
Pemanfaatan sumberdaya gunungapi sangat diperlukan untuk kehidupan
manusia baik pemanfaatan energi , lingkungan, maupun mineral yang
tidak merusak lingkungan dan memperhatikan keseimbangan alam.
Dengan demikian akan tercipta kehidupan secara harmonis, selaras,
seimbang, dan serasi dengan gunungapi khususnya gunungapi di Indonesia
yaitu G.Merapi.
3.2 Saran
Bentuk lahan vulkanik G.Merapi yang ada di Indonesia sebaiknya
ditingkatkan pemantauan, pemetaan kawasan rawan bencana, penilaian
potensi bahaya, sistem peringatan dini, serta manajemen penanggulangan
bencana termasuk mitigasinya agar bahaya gunungapi dapat
diminimalkan dampaknya, sehingga akan tercipta keseimbangan antara
kehidupan manusia dengan Gunung Merapi tersebut.

25
DAFTAR RUJUKAN

Buranda, 2005. Geologi. Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang: Malang


Bronto, sutikno. 2001. Volkanologi. Direktur Jenderal pendidikan tinggi:
Yogyakarta.
Geologi. (online), (www.vsi.esdm.go.id/gunungapiindonesia/merapi/geologi.html,
diakses 15 September 2006, 13.00)
Herlambang, Sudarno. 2005. Dasar-dasar Geomorfologi. Universitas Negeri
Malang: Malang.
Indomedia. Antisipasi Bahaya Merapi. (online),
(www.Indomedia.com/bernas/2011/15/utama/15uta2.htm, diakses 15
September 2006, 13.00)
Lapanrs. 2003. Informasi Gunung Api Harian. (online), (www. Lapanrs.
com/SMBA/smba.php?hal=3&data_id=ga_hr_20030819_gmr, diakses 15
September 2006, 13.00 )
Santoso, Djoko. 1992. Volkanofisik. ITB: Bandung.
Sejarah Letusan. (online),
(www.vsi.esdm.go.id/gunungapiindonesia/merapi/sejarah.html, diakses 15
September 2006, 13.00)

26