Anda di halaman 1dari 11

PENGEMBANGAN KEMITRAAN PEMERINTAH DAN SWASTA

DALAM BIDANG INFRASTRUKTUR


Oleh : Ir. Moch. Yasin Kurdi

nfrastruktur merupakan prasarana publik paling primer dalam


mendukung kegiatan ekonomi suatu negara, dan ketersediaan infrastruktur
sangat menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan ekonomi.
Pembangunan infrastruktur adalah merupakan Public Service Obligation,
yaitu sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban Pemerintah. Keberadaan
infrastruktur sangat penting bagi pembangunan, sehingga pada tahap awal
pembangunan disuatu negara hal tersebut akan dipikul sepenuhnya oleh
Pemerintah hal ini yang dibiayai dari APBN murni.

Pada saat itupun infrastruktur masih bersifat sebagai pure public


good, dengan dua ciri pokok yaitu non-rivalry (masyarakat pengguna tidak
saling bersaing) dan non-excludable (siapapun dapat menggunakannya,
tidak hanya sekelompok masyarakat tertentu). Pada tahap selanjutnya akan
berkembang menjadi semi public good (sudah mulai bersaing). Data empiris
menunjukkan hubungan yang kuat antara ketersediaan infrastruktur dasar
dengan pendapatan per kapita masyarakat di berbagai negara. Dan
permintaan terhadap pelayanan infrastruktur akan meningkat pesat seiring
dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Permasalahannya justru
peningkatan permintaan ″diimbangi″ dengan penurunan kemampuan
Pemerintah.

Sejalan dengan Visi dan Misi Jawa Barat telah tersusun suatu
konsep dalam mengarahkan seluruh potensi dalam dimensi pembangunan
di Jawa Barat, dan dengan telah ditetapkan Perda Propinsi Jawa Barat No. 1
Tahun 2001 tentang Rencana Strategis (Renstra) Propinsi Jawa Barat Tahun
2001-2005 yang mengacu pada PROPEDA (Program Pembangunan Daerah).
Selanjutnya Renstra tersebut dijadikan bahan rujukan oleh Perangkat
Daerah dalam menyusunnya masing-masing.

Posisi Propinsi Jawa Barat secara geografis sangat strategis karena


berbatasan dengan Ibukota Negara DKI Jakarta. Posisi geografis serta
sumber daya yang ada menjadikan Propinsi Jawa Barat mempunyai daya
tarik bagi tumbuhnya kegiatan pembangunan. Kebijakan pembangunan
Jawa Barat didasarkan pada pencapaian visi dan misi Jawa Barat 2010,
dengan prioritas pengembangan pada 6 (enam) kegiatan utama, ini akan
mempengaruhi substansi, kedudukan, fungsi, dan legalitas RTRW Propinsi
Jawa Barat. Di dalam perkembangannya, kegiatan pembangunan di Jawa
Barat yang dihadapkan pada berbagai masalah, baik masalah sosial,
ekonomi maupun lingkungan. Permasalahan tersebut antara lain adalah
tingginya pertumbuhan (pengembangan SDM, Industri Manufaktur, Industri
Jasa, Agribisnis, Bisnis Kelautan dan Pariwisata) dan 14 (empat belas)
indikator keberhasilan pembangunan yang diterjemahkan dalam dimensi
ruang sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya.

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat akan berakibat pada


semakin meningkatnya kebutuhan prasarana dan sarana social ekonomi,
kekurang mampuan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang
dapat mengakibatkan banyak nya kerugian antara lain :
- kemacetan lalu lintas
- polusi lingkungan
- ketidak nyamanan hidup
- persaingan usaha, dll
Yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan fisik
kawasan perkotaan. Pertumbuhan perekonomian yang cepat akan membawa
ketersediaan prasarana dan sarana perkotaan yang diperlukan.

Sumbangan ekonomi perkotaan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)


Nasional cukup tinggi dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu,
kegiatan ekonomi di perkotaan telah menggerakan 40-50 % PDB nasional.

Dari hasil studi BAPPENAS bahkan diperkirakan pada tahun 2000 yang lalu
mencapai 60-70 % PDB Nasional yang digerakan dari kegiatan di perkotaan,
hal ini jelas mengakibatkan peningkatan permintaan prasarana dan sarana.

Dengan nuansa dan semangat yang baru serta diawali dari


motivasi untuk lebih menyerap aspirasi Kabupaten/Kota dan masyarakat
serta setelah mengalami proses yang panjang dan telaahan yang mendalam
dari berbagai pihak terkait dalam dialog-dialog interaktif, maka
diformulasikan visi Jawa Barat yaitu :

Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Propinsi Termaju


Di Indonesia dan Mitra terdepan Ibukota Negara Tahun 2010

Potensi infrastruktur Jawa Barat yang dapat dilaksanakan/ ditawarkan


kepada swasta diantaranya :
- sektor Jalan
- sektor Kelistrikan
- sektor Perhubungan/ Telekomunikasi
- sektor Air Bersih
- sektor Sanitasi (persampahan, air limbah)
- dll.

Laporan Pembangunan Bank Dunia tahun 1995 memberikan gambaran


kondisi ketersediaan infrastruktur di beberapa negara sebagai berikut :

Listrik Telkom Jalan aspal Air bersih


Negara
(kWh/org) (tlp/ribu-org) (km/juta-org) (%org memp akses)
Singapura 6.352 415 11 100
Hongkong 6.051 485 22 100
Korea Selatan 996 487 1.090 78
Malaysia 1.612 112 160 78
Muangthai 1.000 31 841 72
Filipina 419 10 242 81
Indonesia 233 8 160 42
Irigasi Pel. & Bandara
USD 3 Milyar USD 3 Milyar
Jalan Raya & KA
USD 21 Milyar Air Bersih
USD 6 Milyar

Telekomunikasi
USD 7 Milyar

Pembangkit Listrik Transmisi Listrik


USD 17 Milyar USD 8 Milyar

Kebutuhan Infrastruktur Indonesia 1994-1999


(Sumber : Repelita VI, Jasa Marga, World Bank, Peregrine, Asian Infrastructure Fund)

16.000 MW
KAPASITAS TERPASANG
15.000 MW

14.000 MW
KAPASITAS EFEKTIF

13.000 MW

12.000 MW BEBAN PUNCAK

11.000 MW

10.000 MW
KAPASITAS CADANGAN

9.000 MW

Januari 1999 – Juni 2002


Krisis Tenaga Listrik Jaringan Jawa-Bali
(Sumber : Semiloka “Mencari Solusi Komprehensif Krisis Tenaga Listrik”, Jakarta 29-30 Oktober 2002)
ecara ideal, seluruh infrastruktur ekonomi seharusnya dibangun oleh
negara, rakyat tidak dibebankan biaya pemakaian. Tetapi kemudian menjadi
dilematis lagi yaitu antara kebutuhan pembangunan infrastruktur untuk
percepatan pembangunan ekonomi dan keterbatasan APBN dan APBD, untuk
membiayai pembangunan infrastruktur tersebut. Dalam mengatasi dilema inilah
kehadiran swasta diperlukan melalui pola Public-Private Partnership yang
seharusnya dimotivasi melalui berbagai insentif, seperti tax holiday, tarif yang
layak, dsb. Disamping itu, yang sangat mempunyai arti strategis adalah
selayaknya Pemerintah memberikan kepastian hukum dan keamanan bagi peran
swasta.
Agar konsep privatisasi manajemen proyek infrastruktur bisa berjalan
maka harus berlaku prinsip cost-recovery, yaitu investasi yang ditanamkan bisa
kembali (pay back). Hal ini harus disosialisasikan dan idealnya menjadi
kesepakatan segenap Stakeholders, karena sifat swadana sebagaimana diuraikan
didepan. Kondisi cost-recovery harus dipandang secara proporsional dengan
manfaat ganda yang ditimbulkan dari langkah Public-Private Partnership ini yaitu
:
1) Tidak membebani bukan pengguna infrastruktur yang bersangkutan,
misalnya seperti sumber dana berasal dari general taxes
2) Tidak membebani sumberdaya (keuangan maupun manajemen)
Pemerintah yang makin terbatas, sehingga bisa lebih berkonsentrasi
ke sektor lainnya
3) Memberdayakan asset (swasta) nasional dalam bidang pembangunan
infrastruktur yang juga bisa berkarya di tingkat regional /
internasional

Kebutuhan kebutuhan PPP (Public Private Partnership)

alam 3 dan 5 tahun kedepan sejumlah kota-kota Metropolitan di


Indonesia seperti, Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar dan Banjarmasin
berpandangan sama bagaimana mengatasi masalah terbatasnya penyediaan
infrastruktur bagi daerahnya, dengan terbatas pula dari sisi pembiayaan
pemeintah daerah.

Hal tersebut tentunya dapat diupayakan secara komperhensif dengan


memobilisasi pendekatan pembiayaan investasi dari swasta melalui PPP, yang
akan didukung oleh peraturan dan aturan yang ada.
Sekalipun nantinya swasta akan memperoleh kesempatan bekerjasama dalam
pembangunan infrastruktur yang merupakan utilitas umum perlu dikendalikan
oleh Pemerintah, maka rambu-rambu bagi penyelenggaraan kerjasama pun perlu
diatur agar tidak merugikan kedua belah pihak, serta tidak mengurangi hak-hak
penguasaan Pemerintah dalam penyelenggaraan kepentingan bagi harkat hidup
orang banyak.

Pola kerjasama pun dapat dicari, setelah dilakukan kajian terhadap


pengalaman beberapa negara dalam melakukan kerjasama pembangunan dengan
pihak swasta, yaitu dapat berupa BOT (Built Operate, Transfer) dipandang cocok
diterapkan dalam investasi jangka panjang, selama masa konsesinya dengan
membiayai, membangun dan mengoperasikan. Bentuk badan usaha yang akan
melakukan kerjasama tersebut bisa dilakukan dalam bentuk Joint Venture (usaha
patungan) atau Joint Operation (kerjasama operasi gabungan). Biaya pengadaan
tanah / lahan yang dibutuhkan ditanggung oleh Pemerintah atau sekaligus oleh
pihak Swasta yang akan diperhitungkan dalam masa konsesi, hal tersebut telah
dilakukan sejak tahun 1994 karena terbatasnya dana APBN/ APBD.

Beberapa contoh alur inisiasi proyek infrastruktur diuraikan berikut ini. Contoh
pertama adalah dalam sub-sektor jalan tol, yaitu sebagai berikut :

Pernyataan
minat dari Letter of Intent (Pernyataan
calon Investor Minat) & Company Profile

Pra Seleksi Evaluasi berdasarkan


calon Investor Kriteria Pra Seleksi

Seleksi calon Evaluasi berdasarkan


Investor Kriteria Seleksi

Keputusan/Pe-
nunjukan In-
vestor terpilih

Proses Pemilihan Investor Jalan Tol

Contoh kedua adalah dalam sub-sektor ketenagalistrikan, yaitu khusus


bagi investasi pembangkitan listrik karena transmisi dan distribusi masih menjadi
monopoli PT PLN (Persero), yang membuka kemungkinan sama besar baik untuk
solicited maupun untuk un-solicited.

Harga jual listrik dituangkan dalam perjanjian berupa PPA (Power


Purchase Agreement) yang dihitung atas dasar perhitungan biaya terhindar
(prinsip ″Avoided Cost″) dari biaya produksi, yang diperlukan dalam rangka
memenuhi pertumbuhan keperluan tenaga listrik apabila pembangkit swasta
tersebut harus dibangun sendiri oleh PLN, dengan :
- Kapasitas pembangkitan yang sama
- Sumber dan persyaratan pendanaan yang serupa seperti kalau dibangun
oleh swasta, karena dana Pemerintah / PLN terbatas
- Selain itu juga bagi PLN masih mungkin menjual listrik listrik untuk
kepentingan masyarakat sesuai TDL yang berlaku
SOLICITED PROJECT Pra Seleksi UN-SOLICITED
calon Investor PROJECT

Aanwijzing & Studi


Site Visit Kelayakan

Business Plan Business Plan


Proposal Proposal

Seleksi/Nego Seleksi/Nego
calon Investor calon Investor

Penunjukan Penunjukan
Investor Investor
terpilih terpilih

Power Pur- Power Pur-


chase Agree- chase Agree-
ment (PPA) ment (PPA)

Proses Pemilihan Investor Pembangkit Listrik


Fungsi dan Kebijakan Instansi Terkait dalam KPS

Pemerintah Pusat
- Kebijakan Startegi secara
nasional
- Dukungan dalam penyusunan
kerangka kerja
- Fasilitas dukungan teknis,
administrasi dan keuangan
- Penciptaan iklim yang kondusif

Pemerintah Propinsi Pemerintah Kab/ Kota


- Koordinasi antar PemKab/ PemKota - Persiapan rencana
(masalah tanah, air baku) pembangunan
- Dukungan terhadap penyelesaian - Usulan untuk KPS
persoalan di Daerah - Pengawasan pelakssanaan KPS
- Keseimbangan pelayanan
- Bertindak atas nama Pem. Pusat
sebagai fungsi dekonsentrasi

Dukungan terhadap pelaksanaan


KPS oleh Instansi terkait

ANALISA SWOT

Dalam pemilihan calon investor dapat dilakukan terlebih dahulu


analisa SWOT, dimana dengan maksud untuk mengetahui kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman, dalam pemilihan tersebut diawali dari
perencanaan dalam KPS/ PPP.

Pada analisa yang dilakukan adalah analisa TWOS, atau yang biasa
disebut sebagai analisa SWOT. Dimaksudkan dengan analisa TWOS ini
adalah dilakukannya terlebih dahulu analisa Threat (Ancaman) relatif
terhadap Weakness (Kelemahan), baru kemudian analisa Opportunity
(Peluang) relatif terhadap Strength (Kekuatan). Dengan kata lain,
Kelemahan yang tidak mendapat Ancaman bukanlah Kelemahan yang
aktual, demikian juga halnya dengan Kekuatan yang tidak mendapat
Peluang bukanlah Kekuatan yang Aktual. Pada tahap awal ini dicoba untuk
melakukan analisa TWOS pendahuluan secara garis besar, yaitu untuk
point-point penting yang berkaitan seperti dibawah ini.

Threat Ä Ä Ä Weakness Opportunity Ä Ä Ä Strength

- 12 12 -

Kelambatan lobby komersial - 11 11 - Arus kas yang menarik investasi

Ketergantungan adanya kebijakan - 10 10 - Otonomi Daerah bidang tertentu

Mengandalkan dukungan luar - 9 9 - bantuan luar negeri

Jaringan informasi terbatas - 8 8 - Kompetensi pemegang saham

Sumber kemampuan proyek terbatas - 7 7 - Potensi wilayah Jawa Barat

Sumber pendanaan terbatas - 6 6 - Potensi menarik mitra strategis

Pengalaman proyek terbatas - 5 5 - Dukungan kerjasama dengan mitra lain

Kompetensi SDM terbatas - 4 4 - Dukungan pelatihan/ pendidikan terkait

Jumlah SDM terbatas - 3 3 - Rekuiment tenaga terampil

Modal kerja awal terbatas - 2 2 - Dukungan Lembaga keuangan & Bank

Modal peralatan kerja terbatas - 1 1 - Dukungan mitra swasta lain

Weakness (internal) Strength (internal)

Threat (external) Opportunity (external)


Kebutuhan biaya pra-ops (overhead) tinggi - 1 1 - Kebutuhan program infrastruktur yang
tinggi

Lambatnya perolehan pemasukan / laba - 2 2 - Pengamanan/pengadaan tanah sesuai


RTRW

Kompetitor yang full-team - 3 3 - Jaminan regulasi daerah & akurasi tata


ruang

Kompetitor yang proffesional - 4 4 - Peluang pengembangan kawasan

Capital intensive - 5 5 - Potensi daerah yang semakin berperan

Slow yieding (BEP lama) - 6 6 - Tender investasi yang sangat kompetitif

Ketidakpastian RoR tinggi - 7 7 - Jaminan untuk pendanaan (fund raising)

Informasi sangat terbatas & cepat - 8 8 - Peluang membentuk aliansi strategis

Kesetaraan BUMN-BUMD-BUMS - 9 9 - Pengembangan kawasan / property

Asas transparansi : harus pelelangan - 10 10 - Perijinan bisnis terkait/turunan di daerah

Lobby yang harus cepat dan costly - 11 11 - Ketersediaan dana yang over-liquid

- 12 12 -
Setelah dilakukan inventarisasi unsur-unsur TW dan OS,
selanjutnya dipergunakan dalam penyusunan matriks guna analisa rencana
aksi strategis terhadap unsur-unsur T – W – O dan S tersebut.

Internal factors Strength Weakness


• Dukungan Pemda & instansi terkait • Modal kerja awal & asset Swasta

• Potensi menarik mitra strategis • Sumber pendanaan proyek

• Potensi wilayah Jawa Barat • Jumlah & kompetensi SDM

• Arus kas proyek yg menarik investor • Kelambatan lobby komersial

• Kompetensi pemilik proyek • Informasi potensi proyek

• Wewenang Pemda bidang tertentu • Mengandalkan dukungan birokrasi

External factors • •

Opportunity SO – Strategy WO – Strategy


• Kebutuhan infrastruktur • Identifikasi kawasan potensial • Identifikasi proyek fast yielding
• Pengembangan kawasan • Konsep pengembangan kawasan • MoU untuk membentuk JV atau JO
• Kemitraan melalui aliansi strategis • Informasi program infrastruktur • Konsep proposal yang kompetitif
• Ketersediaan dana over-liquid • •
• Tender terbuka yang kompetitif • •
• Bisnis terkait/turunan di daerah • •
• Usulan untuk KPS • •

Threat ST – Strategy WT – Strategy


• Overhead (biaya pra ops) tinggi • Aliansi dengan mitra strategis • Fungsi sebagai arranger yang efisien
• Slow yielding (BEP lama) • Subsidi pengembangan kawasan • Menggali potensi Daerah / Pemda
• Ketidakpastian hukum, keamanan • Konsep percepatan pembangunan • Proyek dengan sustainable income
• Aspek transparansi dgn pelelangan • •
• Kesetaraan BUMN-BUMD-BUMS • •
• Capital intensive • •
• • •

Setelah dilakukan pengukuran dengan analisa dan matrik dari TWOS


ini kita akan mengetahui prioritas kemampuan dari investor yang mampu
menangani suatu proyek.

Pengertian :

Pengertian kemitraan Pemerintah, Swasta dan Masyarakat adalah


bahwa kewenangan kepemilikan asset masih dimiliki oleh Pemerintah,
sedangkan untuk kerjasama Swastanisasi asset menjadi milik Swasta.
Bentuk – bentuk kemitraan dapat berupa peran serta Sektor Swasta
(Private Sector Participation/ PSP), kerjasama Pemerintah – Swasta
(Public Private Partnership/ PPP), dan Peranserta Pemerintah, Swasta dan
Masyarakat (Public-Private-Community Partnership/ PPCP).
PSP merupakan jenis kemitraan yang pada umumnya tidak padat
modal, sector Swasta melakukan pengadaan dan operasionalisasi
prasarana sedangkan Pemerintah sebagai penyedia prasarana.yang sesuai
dengan kebijakannya. Dalam hal ini Pemerintah tetap sebagai pemilik
asset dan pengendali pelaksana kerjasama.

PPP merupakan kemitraan Pemerintah – Swasta yang


melibatkan investasi yang besar/ padat modal dimana sector swasta
membiayaai, membangun, dan mengelola prasarana dan sarana,
sedangkan pemerintah sebagai mitra yang menangani pengaturan
pelayanan, dalam hal ini tetap sebagai pemilik asset dan pengendali
pelaksanaan kerjasama.

PEMERINTAH

BADAN
REGULATOR MASYARAKAT
SWASTA

Tujuan partisipasi sector swsta dibidang infrastruktur adalah :

- Mencari modal swasta untuk menjembatani modal pembiayaan yang besar


dibutuhkan investasi infrastruktur pelayanan umum
- Memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan sarana pelayanan
- Mengimpor alih teknologi
- Memeperluas dan mengembangkan layanan bagi pelanggan
- Meningkatkan effesiensi operasi

Untuk mendorong sektor swasta agar meningkatkan investasinya


diperlukan pengembangan kerangka Hukum, Peraturan, Institusi dan
Keungan yang kondusif.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan kerjasama anatara


Pemerintah dan Swasta antara lain adalah :

ƒ Penting bagi semua pihak untuk saling memahami, misi, fungsi dan
tugas, hak, kewajiban masing-masing sebagai pelaku
pembangunan.
ƒ Melakukan persepsi dalam negoisasi kegiatan kemitraan, sangat
diperlukan keterbuakaan, komitmen dari para pelaku
pembangunan dengan dicapainya hasil yang saling
menguntungkan.
ƒ Perlunya keterlibatan langsung seluruh pihak, terutama Pemerintah
Daerah, DPRD, Masyarakat, Karyawan dll.
ƒ Keberadaan dan akses data yang relevan, mudah, benar dan
konsisten.
ƒ Dukungan yang jelas dan benar kepada pemberi keputusan baik
tingkat Pusat, Propinsi ataupun Daerah (Kabupaten/ Kota).
ƒ Kriteria persyaratan lelang/ negoisasi yang jelas, transparan dan
konsisten.
ƒ Struktur dan tugas Tim Negoisasi yang jelas dan kemampuan
dalam penguasaan materi bidang Hukum, Teknis dan Keungan.

KEBUTUHAN DANA INVESTASI

• kebutuhan dana investasi sangat besar


• Masalah :
- dana pembangunan terbatas
- sukar memperoleh hutang jangka panjang
- kapasitas pinjaman terbatas
- pasar modal belum berkembang

Dengan demikian penulis hanya memberikan gambaran bahwa


kemitraan sudah waktunya kita fikirkan bersama, karena keterbatasan
pembiayaan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, sehingga
untuk dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang
akuntabel.***