Anda di halaman 1dari 65

> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010 >>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010 >>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG
> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010 >>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG
Pornografi Dalam Arus Literasi Media Literasi Informasi, Masyarakat dan Media Baru Wacana Masyarakat Informasi dan Dinamika
Pornografi Dalam Arus Literasi
Media
Literasi Informasi,
Masyarakat dan Media Baru
Wacana Masyarakat
Informasi dan Dinamika
Teknologi Media
Dinamika Informasi Dan
Hukum Di Dunia Maya
Pembangunan ICT Yang Mem-
berdayakan Ekonomi Kerakyatan
Menuju Masyarakat Informasi
Kebijakan Afirmatif Untuk
Transformasi Kultural Menuju
Masyara kat Informasi
Gerakan Literasi Televisi
Menuju Masyarakat Informasi
> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010 >>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG

Kementerian Komunikasi dan Informatika

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

2010

> Edisi 11 /Agustus /Tahun IV / 2010 >>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Jurnal “DIALOG” Kebijakan Publik Pornografi Dalam

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal “DIALOG”

Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Jurnal “DIALOG” Kebijakan Publik Pornografi Dalam

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Jurnal “DIALOG” Kebijakan Publik Pornografi Dalam

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Tim Redaksi

Pengarah

:

Ir. H. Tifatul Sembiring

Redaktur Pelaksana

:

Hafida Riana, SH, Msi

 

(Menteri Komunikasi dan Informatika)

Anggota Dewan Redaksi

:

1. Drs. Supomo, MM

Dr. Ir. Basuki Yusuf, MA

 

2.

Drs. Ismail Cawidu, M.Si

(Sekretaris Jenderal)

 

3.

Drs. Isa Anshary, M.Sc.

Ahmad Mabruri Mei Akbar, MA (Staf Khusus Menkominfo)

Koordinator Tenaga Ahli

:

Dr. Gati Gayatri, MA Dr. Sugeng Bayu Wahyono

4.

Penanggungjawab

:

Drs. Freddy H Tulung, MUA

-

Anggota

:

1. Lambang Trijono, MA

 

(Kepala Badan Informasi Publik)

 

2.

Murti Kusuma Wirasti, M.Si

Pemimpin Umum

:

Dr. Suprawoto, SH, MSi

3.

Drs. M. Abduh Sandiah

 

(Staf

Ahli

Bid.

Sosbud

dan

Peran

Sekretariat

:

1. Sugiarto

Masyarakat)

   

2.

Hasnelita

Pemimpin Redaksi

:

Drs. Bambang Wiswalujo, MPA

3.

Lucy Tri Amintasari

 

(Kapus. P2U)

4.

Dimas Aditya Nugraha, M.Si

 

Desain Grafis/ilustrasi

:

Farida Dewi Maharani, Amd GRF, SE

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Jurnal “DIALOG” Kebijakan Publik Pornografi Dalam

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 D aftar Isi Daftar Isi iv Salam

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

  • D aftar Isi

Daftar Isi

iv

Salam Redaksi

v

Literasi Informasi, Masyarakat dan Media Baru: Wacana Masyarakat Informasi dan Dinamika Teknologi Media

1

  • A. Pra Wacana

1

  • B. Informasi: Karakteristik dan Hambatan yang Muncul

2

  • C. Masyarakat Informasi dan Literasi Informasi: Telaah Prinsip dan Konsekuensi

3

 
  • D. Teknologi, Industri Media Dan Masyarakat Informasi

5

Dinamika informasi Dan hukum Di Dunia Maya

8

  • A. Informasi Memiliki Resiko

8

  • B. Informasi: Dari Dunia Nyata ke Dunia Maya

10

 

12

  • C. Hukum Cyber dan Komunikasi Hukum

Kebijakan Afirmatif Untuk Gerakan Literasi Televisi Menuju Masyarakat Informasi

17

  • A. Latar Belakang

18

  • B. Pengertian Literasi

19

  • C. Urgensi Gerakan Literasi

20

  • D. Menjadikan Gerakan Kultural

21

  • E. Tipe dan Bentuk Kebijakan

24

 
  • F. Penutup

25

Pembangunan ICT Yang Memberdayakan Ekonomi Kerakyatan Menuju Masyarakat Informasi

26

  • A. Pendahuluan

26

 
  • B. Ekonomi-Politik Masyarakat Informasi

28

  • C. ICT Untuk Membangun Ekonomi Rakyat

31

Transformasi Kultural Menuju Masyarakat Informasi

35

  • A. Makna Transformasi Kultural dan Arti Masyarakat Informasi

35

  • B. Proses Transformasi Kultural Menuju Masyarakat Informasi

37

 
  • C. Aktor Transformasi Kultural Menuju Masyarakat Informasi

39

  • D. Keharusan dan Kepatutan Transformasi Kultural Menuju Masyarakat Informasi

40

Laporan Studi Lapangan:

Hambatan Sosio - Kultural Dalam Menuju Masyarakat Informasi

45

  • A. Pendahuluan

45

  • B. Denpasar

47

  • C. Malang

49

  • D. Ambon

51

  • E. Pontianak

52

 
  • F. Sragen

53

  • G. Penutup

54

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 D aftar Isi Daftar Isi iv Salam

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi dalam Hubungannya dengan Peran Media

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi dalam Hubungannya dengan Peran Media

Pornografi dalam Hubungannya

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi dalam Hubungannya dengan Peran Media

dengan Peran Media dan

Perkembangan Teknologi dan Budaya

Ruang publik kita kembali

digemparkan kasus pornografi.

Meski beredar di dunia maya, atau ruang publik maya, mela- lui sirkulasi internet, video dan tilpun pribadi, tetapi dunia

maya kini sudah semakin sulit dipisahkan dengan dunia pub- lik nyata. Sehingga, membuat komunitas publik pun dibuat resah dengan beredarnya kasus

pornografi, dalam situs dan tayangan pornografi beredar

melalui teknologi informasi

dan media di ruang publik kita. Perkembangan teknologi informasi kini memang demi- kian pesat berkembang, mem- buat kehidupan pribadi dan publik sulit dipisahkan, kedua- nya bercampur disatukan oleh sirkulasi informasi melalui teknologi media komunikasi.

Sajian pornografi yang semula

diperkirakan hanya terbatas beredar di ranah pribadi, atau

private, kini bisa diakses siapa saja, oleh jutaan orang tidak padang usia dan lokasi geogra-

fis manusia.

Jurnal Dialog Kebijakan Publik kita kali ini mengang- kat masalah ini untuk men- jadi perhatian dan kepedulian publik. Kasus beredarnya situs

dan tayangan pornografi di

media ini membuat kita tersa- darkan, bagaimana mengatur dan mengelola informasi dan

tayangan berisi pornografi ber­

edar di ruang publik. Ruang publik adalah tempat pemben- tukan pribadi-pribadi warga negara. Tanpa pengaturan,

sensorsip, atau pembatasan akses terhadap peredaran

situs dan tayangan pornografi,

kita khawatir perkembangan ini akan merusak pribadi,

ruang publik bahkan karakter bangsa. Beberapa paparan anali-

sis kita kemukakan disini untuk membahas masalah ini;

mulai dari masalah pornografi

dalam hubungannya dengan peran media dan perkem-

bangan teknologi, teknologi

dan pornografi, pornografi

dan pembingkaian media,

hingga masalah pornografi atau

seksualitas dari sudut pandang budaya.

Dalam paparan ‘Pornografi,

Media dan Teknologi’, Masduki

melihat masalah pornografi dari

sudut pandang perkembangan

media dan teknologi komuni- kasi dan bagaimana regulasi dilakukan untuk membatasi beredarnya pornografi. Si- tus dan tayangan pornografi

berkembang sebagai kon- sekuensi dari perkembangan industri media dan teknologi komunikasi menekankan pemuasan konsumen. Logika pasar, yang penting laku, atau digemari publik, mendominasi pemberitaan atau penyebaran informasi. Logikanya, karena pornografi dan berita sensasi di- gemari publik, maka media dan

industri teknologi komunikasi suka menjajakannya. Regulasi dibuat, menurut Masduki, perlu diletakkan dalam konteks ini. Terdapat beberapa pilihan model dalam

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi dalam Hubungannya dengan Peran Media

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 hal ini, apakah menekankan sensorsip pribadi- pribadi,

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

hal ini, apakah menekankan sensorsip pribadi-

pribadi, atau kontrol diri dan kedewasaan warga negara, ataukah model kontraktual sosial, sensor normatif, sanksi moral, ataukah dengan peratu- ran hukum dan perundangan. Kombinasi perlu dibuat, selain menekankan pada hukum juga penting menggunakan sanksi pribadi dan moral sosial. Di sisi lain, menekankan pada solusi tek- nologi, dalam pemaparan tentang ‘Teknologi

dan Pornografi’, Heru Sutadi melihat karakter

perkembangan teknologi informasi, dengan segala kecangihan dimiliki sekarang, sebagai pijakan untuk mengatasi masalah ini. Teknologi

informasi berkembang begitu pesat, menyebar- kan dan melakukan sirkulasi informasi, gam-

bar dan tayangan pornografi, bersifat publik.

Berpijak dari sini, Heru Sutanto menekankan

pentingnya mengontrol perkembangan ini untuk membatasi sirkulasi pornografi dan mengubah- nya sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan

informasi. Internet cerdas, misalnya, merupakan salah satu solusi menjadikan sirkulasi informasi lebih sehat bagi kehidupan publik. Dalam tulisan ‘Media dan Pornografi, Pem- bingkaian Media On-Line dalam Pemberitaan Tentang Seks dan Pelajar’, Agoeng Noegroho dan Chusmeru menekankan pentingnya pema- haman atas pembikaian media dalam masalah

pornografi. Mengambil kasus pemberitaan

media tentang seks dan pelajar, Noegroho dan

Chusmeru menemukan pemberitaan media merupakan konstruksi sosial bagaimana pela- jar ditempatkan dalam urusan seks. Meskipun

media dalam pengungkapan kasus dimaksudkan sebagai kritik sosial, tetapi hal itu tidak disertai dengan solusi pemberitaan bersifat memper- baiki atau bersifat mendidik. Karena itu, fungsi pendidikan dan pembentukan karakter penting ditekankan dalam setiap pemberitaan dilakukan media. Berikutnya, dalam paparan ‘Seksualitas dalam Kosmologi Jawa’, Purwadi menekankan pentingnya kembali ke nilai luhur budaya

mengatasi masalah pornografi. Dalam budaya

Jawa, Purwadi menekankan, seksualitas ditem- patkan sebagai masalah luhur tidak bisa dibuka begitu saja mengikuti selera umum. Penempatan nilai budaya demikian bisa membatasi berkem-

bangnya masalah pornografi, dengan tentu saja

ditambah dengan kepekaan pada kesetaraan

gender, sebagaimana dituntut publik sekarang, karena budaya lokal umumnya menjadikan tubuh perempuan sebagai objek pengaturan dan kontrol sosial. Selanjutnya, dalam paparan Purwadi hendak

memberikan elaborasi sekitar pornografi dalam

kaitannya dengan agama dan kekuasaan. Tidak

dipungkiri pornografi seringkali mengundang

kontroversial diantara pihak-pihak. Satu sisi pihak kaum agamawan (pendekatan normatif keagamaan), sementara dipihak lainnya adalah soal keindahan (estetika) dan seni yang ber- hubungan dengan tubuh manusia yang menjadi objek seni. Menurut Purwadi sebagian orang pornogragfi menjadi kabur setelah dijelaskan se- cara detail teoritik, tetapi untuk sementara orang

lainnya, pornografi semakin dibahas dianggap

semakin memperkeruh situasi sehingga tidak lebih baik untuk dibahas oleh kalangan manusia. Pembahasan ini memperkaya pemahaman kita atas masalah pornografi berkembang seka- rang, yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan atas masalah ini. Selain melakukan pengaturan hukum, beberapa opsi pendukung lain perlu dilakukan, antara lain fungsi kontrol sosial, pembentukan moral publik dan kontrol politik ekonomi atas perkem- bangan industri teknologi media yang hanya menekankan pasar atau konsumen. Penggunaan teknologi informasi media secara cerdas men- jadikannya berfungsi sebagai sarana pendidikan, pencerdasan, pembentukan moral publik dan ka- rakter bangsa penting ditekankan dalam penen- tuan kebijakan dan pengembangan publik kita.

Redaksi

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 hal ini, apakah menekankan sensorsip pribadi- pribadi,

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

Oleh: Masduki, M.Si, MA

1

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Oleh: Masduki, M.Si, MA 1 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi,

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Pornografi, Media Massa dan Teknologi

Pornografi tiba-tiba menjadi buah bibir, ‘hantu seksi’ yang misterius, menakutkan, mengundang penasaran dan sekaligus menggelikan. Sepanjang Mei hingga Juli 2010, kontroversi soal pornografi berkecamuk lagi, dipicu tayangan video seks selebriti dan mengingatkan kita pada fenomena serupa saat RUU yang mengatur pornografi akan disahkan DPR. Begitu banyak pihak yang terlibat dalam perdebatan tersebut, menunjukkan begitu banyaknya pihak yang terkait dalam ‘industri pornografi’ di Indonesia. Intinya, industri sex, industri pornografi, prostitusi, dan human traficking, adalah ‘lingkaran setan’ yang memiliki perputaran uang sangat cepat. Industri syahwat ini berkembang marak, khususnya melalui media massa. Bahkan laporan invesatigasi yang dirilis kantor berita asing Associated Press tahun 2008 menempatkan Indonesia sebagai surga industri pornografi terbesar di dunia, setelah Rusia.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Oleh: Masduki, M.Si, MA 1 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Pornografi,

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Akhir Oktober 2008 menjadi catatan sejarah penting

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Akhir Oktober 2008 menjadi catatan sejarah penting bagi pemberantasan pornografi di Indonesia.

Setelah melewati masa pembahasan hampir 8 tahun, RUU Pornografi (sebelumnya diberi nama RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi atau APP) sah berlakuan. Kontroversi seputar perlu tidaknya UU yang

berlangsung sengit di berbagai propinsi, mencapai klimaks melalui keputusan politik di parlemen yang harus diterima semua pihak. Kini, agenda lebih lanjut pasca pengesahan menunggu untuk dirumuskan. Agenda tersebut adalah implementasi UU, yang tidak hanya mengamanatkan, menuntut kinerja regulator terkait, tetapi peran serta masyarakat. Tulisan ini ingin menguraikan kembali kompleksitas

persoalan pornografi dan regulasinya di Indonesia dikaitkan dengan media massa, khususnya teknologi

komunikasi mutakhir yang beroperasi di Indonesia, negara muslim terbesar di dunia. Tulisan singkat

ini juga ingin mengajak pembaca menelisik pornografi dan relasinya dengan media analog dan digital,

terutama dalam konteks regulasi yang mengacu kepentingan publik.

>> ----

Media, Teknologi dan Pornografi

Dalam konteks peredaran pornografi, selain melalui foto dan gambar bergerak, teknologi short messages service atau SMS dalam 5 tahun terakhir menjadi ruang publikasi dan distribusi konten pornografi yang amat massif. Bersamaan dengan fenomena peredaran SMS rumor, SMS kampanye politik dan terorisme, beredar pula SMS yang bernada promosi kegiatan pornografi, promosi pelayanan foto porno dengan sistem tarif pulsa premium.

Mobile technology in Southeast Asia asso- ciated with piracy, pornography and political

violence. Perkembangan teknologi komunikasi bergerak atau seluler di Asia Tenggara identik den-

gan peredaran perangkat lunak palsu dan ilegal,

peredaran konten pornografi dan kejahatan poli- tik. Demikian ditulis Bart Barendregt dari Lei- den University pada artikel berjudul “Between

m-governance and mobile anarchies: Porno- aksi and the fear of new media in present day Indonesia” (2006). Lebih jauh Barendregt me- nulis, ketiga identifikasi tersebut terkait dengan

fenomena seluler sebagai media identitas mo- dern kaum urban di Asia Tenggara terutama In- donesia sepanjang era tahun 2000-an. Kebebas- an akses, distribusi dan konsumsi konten seluler dan internet telah booming yang mengakibatkan saluran komunikasi digital internet dan seluler tidak sekedar ruang personal atau domestik yang tertutup bagi mayoritas konsumen, tetapi men- jadi perangkat media yang terbuka. Pasar gelap (black markets), pemalsuan merek (cannibalized cellphones) dan pengrusakan (hackers) tumbuh subur sebagai bagian dari perilaku anarki kon- sumen dalam menyambut eforia kebebasan berteknologi.

Dalam konteks peredaran pornografi, selain

melalui foto dan gambar bergerak, teknologi short messages service atau SMS dalam 5 tahun terakhir menjadi ruang publikasi dan distribusi

konten pornografi yang amat massif. Bersamaan

dengan fenomena peredaran SMS rumor, SMS kampanye politik dan terorisme, beredar pula

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Akhir Oktober 2008 menjadi catatan sejarah penting

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin

Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin meluasnya jaringan media massa, diversifikasi dan ekstensifikasi dalam format penyajian, isi, distribusi hingga pola konsumsi media oleh khalayak.

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin

SMS yang bernada promosi kegiatan pornografi,

promosi pelayanan foto porno dengan sistem tarif pulsa premium. Penyedia konten memasang iklan di televisi secara reguler, setiap hari. Kon-

sumen tinggal mengetik REG spasi apa dan sia-

pa, maka ia memperoleh konten pornografi yang

diinginkan, bahkan kemudian dapat bertransaksi langsung pada waktu dan lokasi yang disepakati bersama. Pornografi adalah “saudara tua” dari media massa dan teknologi (the old friend of technol- ogy). Kesimpulan ini dipopulerkan oleh banyak pelaku bisnis dan pengamat industri media baru, khususnya internet dan telepon seluler. Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin me- luasnya jaringan media massa, diversifikasi dan ekstensifikasi dalam format penyajian, isi, distri- busi hingga pola konsumsi media oleh khalayak.

Pornografi yang beredar melalui media massa

seperti Video Compact Disk (VCD), Digital Vi- deo Disk (DVD) telah menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik itu penyedia atau

produsen segala jenis gambar, teks dan video

pornografis maupun operator pengelola media.

Terjadi simbiosis mutualisme antara pertumbuh- an bisnis akses data di intenet, telepon seluler

dengan aksi­aksi pornografi sebagai industri

massal. Data-data berikut ini menggambarkan dengan baik situasi tersebut, baik di Indonesia

maupun ditingkat global. Survei yang dilakukan oleh Topten Reviews.

Com tahun 2005 dan 2006 menunjukkan saluran peredaran pornografi terbesar dapat diurutkan

sebagai berikut: (1) Video (DVD, VCD), (2)

Internet, (3) Telepon Seluler, (5) Majalah dan Novel. Data tahun 2006 menunjukkan keuntung-

an bisnis peredaran konten pornografi melalui

penjualan dan sewa DVD/VCD mencapai 3.62

milyar dollar AS. Menyusul internet dengan ke- untungan mencapai 2.84 milyar dollar dan televi-

si kabel dan layan an telepon komunikasi seksual mencapai 2.19 milyar dollar AS. Pangsa pasar

bisnis pornografi di intenet dan seluler setiap

tahun diprediksi akan terus menanjak. Menurut lembaga riset yang berpusat di Inggris, Informa Telecom and Media, angka pertumbuhan bisnis

pornografi di dunia pada tahun 2010 diprediksi

mencapai 2,34 milyar US dollar, dan jumlah peng- guna mencapai 112,5 juta orang. Prediksi serupa yang dilakukan Strategic Analytics menunjukkan keuntungan yang tumbuh mencapai 5 milyar dol-

lar AS tahun 2010 untuk bisnis “konten dewasa”

yang beredar melalui teknologi seluler. Secara global, hingga tahun 2006, sekitar 12 persen atau sekitar 420 juta halaman dari total website yang ada di internet merupakan web

pornografi, 89 persen diantaranya berasal dari

dan atau diproduksi warga Amerika, khususnya Amerika Serikat, menyusul Eropa, Australia dan

Asia. Di AS setiap empat menit muncul atau la-

hir web pornografi baru. Sedangkan ditingkat

global, sekitar 260 situs porno baru lahir dalam

setiap harinya. Meskipun konsumen yang perta-

makali mengakses pornografi berumur sekitar 11

tahun, tetapi umur 35 sampai 49 tahun merupa-

kan konsumen terbesar pornografi yang tersebar

melalui media internet. Data lain yang mence-

ngangkan adalah: rata-rata satu detik sekitar 18 juta US dollar dihabiskan penduduk dunia untuk

kegiatan pornografi di internet. Sekitar 42 persen

dari mereka adalah konsumen aktif atau minimal menyaksikan konten porno secara tidak sengaja di internet. Keyword sex mempunyai permintaan pada search engine mencapai 75,608,612 di ikuti adult dating 30,288,325, adult DVD dengan jum- lah pencarian per-tahun 13,684,718. Bagaimana di Indonesia? Statistik 2007 menunjukkan jumlah desa di Indonesia menca- pai 72.000 buah dan 31.000 diantaranya sudah tersentuh telekomunikasi berbasis kabel (wired) dan nir-kabel (wireless). Dengan kata lain, pene- trasi internet dan seluler cukup besar di pelosok pedesaan. Jumlah Warung internet hingga tahun 2001 mencapai 2.500 buah, berkembang tiga kali lipat menjadi 6.500 tahun 2004. Jumlah penduduk yang memiliki personal computer (PC) mencapai 2,5 juta tahun 2001 dan tumbuh mencapai ang-

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Peredaran pornografi sangat diuntungkan oleh semakin

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 ka 5,8 juta tahun 2005. Sementara itu

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

ka 5,8 juta tahun 2005. Sementara itu jumlah pengguna internet tahun 2001 mencapai 2 juta orang, berkembang menjadi 18 juta orang tahun 2007. Pada sektor teknologi seluler, jika jumlah pelanggan tahun 1996 baru mencapai 563 ribu, maka sepuluh tahun kemudian atau tahun 2006 sudah menjadi 54.370 atau tumbuh sekitar 62 %. Data serupa dapat dilihat pada table berikut ini:

Pengguna Internet di Indonesia (APJII, May, 2008)

YEAR

Users

Population

% Pen.

 

GDP

Usage Source

p.c.*

 
  • 2000 2,000,000

206,264,595

1.0

%

US$ 570

ITU

 
  • 2007 20,000,000

224,481,720

8.9

%

U

S

$

ITU

 

1,280

 
  • 2008 25,000,000

237,512,355

10.5 %

U

S

$

APJII

1,925

Note: Per Capita GDP in US dollars, source: UNDSEA

Di Indonesia, teknologi seluler tumbuh pesat sebagai industri komersial pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998. Internet dan seluler sekaligus menandai era keterbukaan politik, ekonomi dan sosial. Bagi mayoritas pubik di Indonesia, telepon seluler memberikan identitas dan fasilitas untuk

menjadi modern. Bagi kaum muda diperkotaan, memiliki dan mengakses konten apapun melalui internet dan seluler adalah gaya hidup (mobile lifestyle) termasuk ketika mengakses situs dan gambar pornografis. Sebagai negara yang memiliki kontradiksi kelas sosial, kota dan desa, miskin dan kaya

dan sebagainya, penetrasi seluler dan internet di Indonesia turut mengurai kontradiksi itu. Hasilnya:

pornografi ada dimana­mana.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 ka 5,8 juta tahun 2005. Sementara itu
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 ka 5,8 juta tahun 2005. Sementara itu

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Prestasi yang menarik tahun 2006 adalah

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Prestasi yang menarik tahun 2006 adalah ketika masuknya Indonesia dalam 10 besar negara user pencari kata sex di internet. Selengkapnya urutan negara tersebut adalah Pakistan, India, Mesir, Turki, Algeria, Maroko, Indonesia, Vietnam, Iran, Kroasia. Publikasi yang dikeluarkan oleh situs Asiamedia yang berpusat di Bangkok tahun 2006 menyebutkan peredaran pornografi di Indonesia sudah amat parah. Sebagai illustrasi, pornografi melalui DVD/VCD dapat dengan mudah dan murah ditemukan di pasar-pasar terbuka, baik tradisional maupun modern di kota-kota besar. Harganya Rp. 10.000 untuk tiga buah VCD/DVD sekaligus. Siapa saja dapat membelinya dengan bebas, termasuk anak-anak. Di Indonesia hingga tahun 2007, ditaksir sekitar 3 milyar rupiah menguap untuk kegiatan akses video cabul. Estimasi ini merupakan akumulasi dari rata-rata biaya sewa internet satu jam Rp. 5000 dikalikan jumlah pengguna 600 ribu orang. Angka ini terus bertambah tiap hari. Ketika heboh skandal seks yang melibatkan anggota DPR Yahya Zaini dan penyanyi dangdut Maria Eva tahun 2006, menurut catatan situs http:// www.fastdrive.com, setiap hari 10.000 pengguna Internet di Indonesia men­download file Maria Eva-Yahya Zaini dari server mereka. Search Engine terpopuler: Yahoo dan Google mencatat

sedikitnya 50.000 pengakses internet setiap hari

mencari kata kunci : Maria Eva. Tidak hanya orang Indonesia saja yang tertarik mengkoleksi

file­file video cabul buatan Indonesia, situs­

situs seks komersial di AS dan Eropa telah pula bekerjasama melibatkan jutaan konsumen di seluruh dunia. Sekitar satu juta orang perhari men- download file­file video cabul yang “diekspor” dari Indonesia.

Publikasi lain terkait pornografi dirilis

oleh Asiamedia bulan Januari 2006: Di pasar elektronik terbesar Glodok Jakarta, konsumen

dengan mudah menemukan konten pornografi,

tidak hanya melalui kepingan VCD/DVD yang dijual bebas, akan tetapi dalam bentuk surat kabar

kuning, tabloid, majalah,novel bahkan poster- poster seronok. Harga per-poster sangat murah, yaitu hanya Rp. 1.000, lebih murah daripada harga sekeping VCD/DVD. Data-data tersebut telah lama memicu keprihatinan dan memasuki akhir bulan Oktober 2008, disahkannya regulasi

pemberantasan pornografi setingkat UU jelas membawa “angin segar.” Masalahnya, apakah

regulasi ini bisa diterapkan efektif? Untuk menjawabnya, penulis mengajak pembaca untuk mencermati kembali kompleksitas regulasi

pornografi.

>> ----

Kompleksitas Regulasi Pornografi

Pengaturan peredaran media dan konten

pornografi, terutama yang terdistribusi melalui

teknologi komunikasi di Indonesia dan atau di banyak negara berkembang tidak semudah peng- aturan sektor lain di masyarakat. Beberapa alasan dapat dikemukakan berikut:

1. Multimedia-globally produced-distrib- uted. Pornografi diproduksi dan didistribusikan secara global melalui jaringan multimedia. Pela- rangan yang hanya berpusat di suatu kawasan dunia tidak akan efektif apabila di kawasan lain

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Prestasi yang menarik tahun 2006 adalah

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Para penolak regulasi atas pornografi cenderung berargumen

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Para penolak regulasi atas pornografi cenderung berargumen

Para penolak regulasi atas pornografi cenderung berargumen telah ada regulasi serupa di UU lain sebelumnya, seperti UU no. 32/2002 tentang Penyiaran dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. UU no.32/2002 tentang Penyiaran pasal 36 ayat (5) misalnya telah menyebutkan: Isi siaran dilarang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika; atau mempertentangkan suku, agama, ras dan antar golongan.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Para penolak regulasi atas pornografi cenderung berargumen

tidak terjadi hal serupa. Pelarangan hanya pada pornografi gambar (visual pornography) tidak akan efektif jika tidak bersamaan dengan pela- rangan untuk format konten lainnya.

  • 2. Network system: producer, supplier, re-

tailer, consumer-adoption. Pornografi merupakan bisnis yang berbentuk jaringan, tidak melokal

atau satu kelompok. Sejak diproduksi, didistribusi

hingga dikonsumsi, pornografi melibatkan mata

rantai sejumlah pihak yang bersinergi, sehingga

pelarangan peredarannya harus ditujukan kepada semua pihak tersebut, tidak hanya produsen.

  • 3. Open to public vs. close “black” market.

Pemasaran konten pornografi amat bervariasi,

mulai dari yang bersifat terbuka atas nama “ke- bebasan pers” melalui majalah atau VCD/DVD

yang dapat dijual bebas hingga yang bersifat ter-

tutup, hanya dari orang ke orang seperti halnya peredaran Narkoba.

  • 4. Content-media-technology-actor. Peng-

aturan pornografi tidak hanya terkait konten,

tetapi juga jenis media distribusi, media displai

dan para aktor konsumen-produsen-distributor yang sangat melek teknologi komunikasi. Dalam

bisnis pornografi di Internet, ada tujuh pihak yang

bertanggungjawab: pengguna internet, operator

telekomunikasi, internet service provider, server, packager, produser dan author.

  • 5. Political-economy and cultural inter-

est. Belajar dari kasus pembahasan RUU APP dan RUU Pornografi, kontroversi muncul karena

adanya kombinasi kepentingan yang tidak sa ling sinkron, antara kepentingan politik regulator,

kepentingan ekonomi pelaku usaha pornografi

dan media dan kepentingan kultural masyarakat, baik di propinsi yang menolak maupun menduku- ng UU. Salah satu pusat kontroversi pembahasan

UU adalah pada definisi pornografi. Perumusan definisi yang ada ibarat melukis diatas air, mu- dah hilang atau dihilangkan. UU diperlukan un- tuk melindungi moralitas anak muda dan krisis

akhlak bangsa, terutama melalui media. Namun, definisinya memicu kontroversi hingga men- jelang disahkan. Dalam UU yang disahkan 30 Oktober 2008 disebutkan: Pornografi adalah ma- teri seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pe-

san komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat sek- sual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perse­

orangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, ra- dio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang ce-

takan lain. Apakah definisi ini dapat dimengerti

terus-menerus oleh semua pihak?

Para penolak regulasi atas pornografi

cenderung berargumen telah ada regulasi se- rupa di UU lain sebelumnya, seperti UU no.

32/2002 tentang Penyiaran dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. UU no.32/2002 ten- tang Penyiaran pasal 36 ayat (5) misalnya telah

menyebutkan: Isi siaran dilarang bersifat fitnah,

menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; me- nonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika; atau memperten- tangkan suku, agama, ras dan antar golongan. Hanya saja, UU ini berlaku terbatas untuk media penyiaran.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Para penolak regulasi atas pornografi cenderung berargumen

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik PP No. 7/1994 tentang Lembaga Sensor

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

PP No. 7/1994 tentang Lembaga Sensor Film pasal 19 ayat (3) mengatur bagian-bagian yang

perlu dipotong atau dihapus dalam suatu film dan

reklame adalah: adegan seorang pria atau wanita dalam keadaan atau mengesankan telanjang bu- lat, baik dilihat dari depan, samping, atau dari belakang; close up alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup atau tanpa pe- nutup; adegan ciuman yang merangsang, baik oleh pa sangan yang berlainan jenis maupun se- sama jenis yang dilakukan dengan penuh birahi, adegan, gerak an atau suara persenggamaan atau yang memberikan kesan persenggamaan, baik oleh manusia atau hewan, dalam sikap bagaima- napun, secara terang-terangan atau terselubung; gerakan atau perbuatan onani, lesbian, homo atau oral sex; adegan melahirkan, baik manusia atau hewan yang dapat menimbulkan birahi. Alasan-

nya jelas, karena semua itu bersifat pornografis.

Kompleksitas regulasi tersebut menyebab-

kan implementasi UU Pornografi dalam tiga

hingga sepuluh tahun mendatang masih memer-

lukan kerja keras, baik dari regulator maupun pendukung regulasi, khususnya ummat Islam. Sebagai illustrasi, saat pemberlakuan UU Infor- masi dan Transaksi Elektronik bulan Maret 2008, para pengelola Warung Internet memang meng- alami sweeping, akan tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap user. Menurut riset Saru Arifin di Yogyakarta (2008), responden kadang­ kadang masih dapat membuka situs pornografi

baik deng an mencoba sendiri, bertanya kepada

rekan, dibantu oleh operator Warnet. Kreatifitas

user dalam mensiasati pemblokiran justru lebih canggih.

>> ----

Kompleksitas Regulasi Pornografi

Dalam konteks kontroversi pornografi dan regulasinya, sikap mayoritas publik Indonesia

sesungguhnya jelas, yaitu mendukung. Regulasi yang bersifat formal antara lain UU diperlukan setelah

melihat realitas destruksi yang timbul akibat perilaku pornografis. Tindakan terhadap pornografi secara

spiritual dikorelasikan sebagai bentuk antisipasi kutukan, yang dapat dialami Indonesia, seperti pernah

terjadi di masa lalu, atau pada zaman Nabi Luth AS (dalam Islam). Perilaku pornografis adalah sepadan

dengan perilaku menyimpang lainnya.

Regulasi terhadap pornografi harus bersifat komprehensif dan apabila kita cermati lebih mendasar

lagi, ia sesungguhnya tidak selalu harus mempergunakan aturan selevel UU. Sejumlah pilihan lain yang bersifat kultural dapat dicermati dalam tabel berikut ini!

Table : Regulatory framework

Regulator

Substantive Rules

Sanctions

Mechanism

  • 1. The actor him/herself

Personal ethics

Self-sanction

Self

  • 2. Second party controllers (i.e., the

Contractual

Various self-help

PICS, RSACi,

person acted upon)

provisions

mechanisms

filter software

3.Nonhierarchically organized social forces

Social norms

Social sanctions

Code of Conduct

4.Hierarchically organized

Organization rules

Organization

Industry self-

nongovernmental organizations

sanctions

regulation

  • 5. Governments

Law

State enforcement,

Law

coercive sanctions

Adapted from Ellickson (1991) dalam Peng Hwa Ang (NTU, 2008).

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik PP No. 7/1994 tentang Lembaga Sensor

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Dalam pengamatan Peng Hwa, negara-negara Eropa dan

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Dalam pengamatan Peng Hwa, negara-negara Eropa dan Amerika yang lebih memiliki tradisi

kebebasan media umumnya mengadopsi instrumen satu sampai tiga. Sedangkan negara-negara Asia dan kawasan lain yang relatif rendah tradisi kebebasan medianya memilih pendekatan empat dan

lima. Indonesia memilih pendekatan kelima melalui pembentukan UU Pornografi dan sejumlah UU terkait lainnya. Pasca berlakunya UU Pornografi dengan dimotori kaum muslimin mestinya memilih

kemungkinan yang mengkombinasikan sejumlah instrumen hukum diatas, untuk mengantisipasi lambannya implementasi UU.

Catatan Akhir

“Kata kunci” yang dapat dipegang oleh publik dalam kerangka implementasi UU Pornografi

adalah pada konteks peran serta masyarakat. Pasal 21 UU Pornografi mengenai peran serta masyarakat

menyebutkan, masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan,

penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. Peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan cara:

a. melaporkan pelanggaran Undang-Undang ini; b. melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan;

c. melakukan sosialisasi peraturan perundang­undangan yang mengatur tentang pornografi; dan d.melakukan pembinaan kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak pornografi. Ketentuan peran

serta masyarakat ini dilaksanakan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Kabar baik datang dari sebuah survei terhadap 223 remaja di Yogyakarta (Kompas Online, 2005) yang menemukan bahwa situs porno bukanlah situs yang paling banyak dibuka. Siswa SMA dan perguruan tinggi di semester awal lebih suka mengunjungi search engine dan pada peringkat selanjutnya adalah situs-situs jaringan sosial seperti friendster dan email. Sedang mereka yang berada di SMP paling banyak mengunjungi game online. Berdasarkan temuan ini, penting mendekati remaja, konsumen aktif teknologi komunikasi dengan regulasi. Kecenderungan yang tinggi untuk mencari kawan dan membangun jaringan sosial pada remaja yang diindikasikan dengan minat pada situs jaringan sosial, email, dan juga game online bisa menjadi informasi awal yang mengalihkan budaya

akses pornografi. Ada atau tidak ada regulasi, arah industri pornografi dfi Indonesia dimasa mendatang akan semakin marak menyusul popularitas media jejaring social seperti Facebook dan Twitter. Tanpa upaya pemberantasan yang komprehensif (struktural dan kultural), tren migrasi distribusi konten pornografi

dari media lama ke media baru (new media) membuat UU Pornografi atau aturan lain yang diinisiasi pemerintah hanya ‘macan diatas kertas’.

Daftar Pustaka

  • 1. Bart Barendregt. 2006. “Between m-governance and mobile anarchies: Pornoaksi and the fear of new media in present day Indonesia”, http://www.media-anthropology.net/workingpapers.htm

  • 2. Peng Hwa, Ang and Berlinda Nadarajan.2008. Censorship and the Internet: A Singapore Perspective. Communications of the ACM, Vol. 39, No. 7, p. 72-78.

  • 3. Kompas online, 10 Mei 2008

  • 4. Masduki, Regulating IT Porn, Seminar DPPM UII Mencari Jalan Tengah Solusi RUU Pornografi, Kampus UII Demangan, 29 Oktober 2008

  • 5. Saru Arifin, Dilema Warnet dalam Pusaran Pornografi, Seminar DPPM UII Mencari Jalan Tengah Solusi RUU Pornografi, Kampus UII Demangan, 29 Oktober 2008

  • 6. http://www.asiamediaforum.org/node/412

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Dalam pengamatan Peng Hwa, negara-negara Eropa dan

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Heru Sutadi 2 Teknologi dan

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Oleh: Heru Sutadi

2

Teknologi dan Pornografi

Diskursus mengenai pornografi di internet saat sedang ramai, dan bahkan akan terus menjadi bahan diskusi yang menarik mengingat masalah pornografi sama tua-nya dengan peradaban manusia di muka bumi. Hanya saja, memang akan terjadi pasang surut pembahasan mengenai pornografi ini, yang terkadang adem-ayem tapi bahkan bisa laksana tsunami bila ada kasus-kasus pornografi yang begitu menyita perhatian publik. Dan jika pem bahasan pornografi akhir-akhir ini juga begitu menghangat, itu tentunya juga tak bisa dilepaskan dari kehadiran video mesum yang diduga dilakukan artis papan atas negeri ini, yang begitu menyita perhatian publik.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Heru Sutadi 2 Teknologi dan

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Terkait dengan pornografi, sesungguhnya selain persoalan ini

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Terkait dengan pornografi, sesungguhnya

selain persoalan ini bukan persoalan baru, juga

sebab jangan-jangan hal itu kemudian akan dila-

rang. Di tengah pro dan kotra, namun akhirnya RUU tersebut kemudian disahkan menjadi UU

No. 44/2008 tentang Pornografi. Pengaturan pornografi dalam UU tersebut

meliputi (1) pelarangan dan pembatasan pem- buatan, penyebarluasan, dan penggunaan por-

nografi; (2) perlindungan anak dari pengaruh pornografi; dan (3) pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi,

termasuk peran serta masyarakat dalam pence- gahan. UU ini juga menetapkan secara tegas tentang bentuk hukuman dari pelanggaran per- buatan, penyebarluasan, dan penggunaan por- nografi yang disesuaikan dengan tingkat pe- langgaraan yang dilakukan, serta memberikan pemberatan terhadap perbuatan pidana yang melibatkan anak. UU No. 44/2008 juga mencoba mengikuti

perkembangan terkini dari pemanfaatan tek- nologi informasi dimana pada Pasal 5 dinyata- kan bahwa setiap orang dilarang mengunduh

pornografi. Sebab sebagaimana diketahui,

perkembangan teknologi infomasi saat ini be- gitu cepat. Bahkan Indonesia termasuk negara yang terdepan dalam penggunaan telepon se- luler, media jejaring sosial seperti Facebook, maupun penggunaan telepon cerdas semisal Blackberry. Deng an perkembangan teknologi informasi, proses pembuatan, rekayasa maupun penyebaran menjadi lebih cepat dan meluas. Dalam kasus video porno yang masih ra- mai dibicarakan dan menyangkut artis terkenal Indonesia tersebut, proses pembuatan, editing maupun penyebarannya menggunakan kema- juan teknologi informasi. Bahkan informasi ini menyeruak ke publik juga dari media jeja- ring sosial. Tentu saja hal itu berdampak bagi masyarakat, terutama anak-anak, yang kemu- dian dikeluhkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) karena dengan konvergensi, pemberitaan mengenai hal itu tidak saja didapat melalui media internet, tapi juga ke media cetak, televisi dan radio.

batasan-batasan mana yang porno dan mana yang tidak terkadang kabur. Sehingga, ketika DPR membahas RUU Pornografi
batasan-batasan mana yang porno dan mana yang
tidak terkadang kabur. Sehingga, ketika DPR
membahas RUU Pornografi dan Pornoaksi, pro
dan kontra pun mengemuka. Bahkan ada salah
satu propinsi yang mengancam akan hengkang
dari NKRI jika RUU tersebut disahkan. Yang
pro mengemukakan bahwa pornografi dan por-
noaksi harus dienyahkan karena merusak moral
bangsa, mengancam kehidupan dan tatanan sosial
masyarakat Indonesia. Sementara yang kontra,
selain mengemukakan bahwa pornografi dan por-
noaksi ada dipikiran manusia sendiri, juga melihat
batasan pornografi dan pornoaksi yang ada kurang
jelas, dan ini bisa berdampak luas. Misalnya saja,
di beberapa daerah, seni dan budaya kita yang ek-
sotis jika disalahartikan bisa menjadi bagian dari
pornografi maupun pornoaksi. Daerah­daerah
tujuan wisata yang sering didatangi turis manca
negara dengan pakaian minim pun menjadi resah
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Terkait dengan pornografi, sesungguhnya selain persoalan ini

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Masalah pornografi bukan hanya menyangkut artis
>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Masalah pornografi bukan hanya menyangkut artis

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Masalah pornografi bukan hanya menyangkut artis terkenal saja tapi kini juga sudah melibatkan anak- anak sekolah, mahasiswa bahkan tokoh-tokoh politik maupun pemer- intahan. Dan semua itu, suka atau tidak suka, dipengaruhi oleh peman- faatan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari beberapa kasus yang mengemuka terkait

dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam pornografi, ada beberapa isu yang dapat dikede- pankan: kemudahan proses produksi, manipulasi, penyebaran dan pemanfaatan TI sebagai sarana

akses pornografi maupun transaksi seks, serta

bagaimana kita menyikapinya. Dalam hal pembuatan, dengan perubahan dari analog ke digital, proses pembuatan hal-hal porno menjadi kian mudah. Dengan kamera digital atau kini dengan telepon seluler, proses dokumentasi menjadi begitu mudah dilakukan. Tiap saat foto maupun video dapat diabadikan, dari hal-hal yang biasa sampai hal yang sangat privasi. Bu- kan hanya secara sengaja diabadikan, namun juga ada pihak-pihak yang secara iseng dengan hidden camera mengambil gambar maupun video orang lain di tempat-tempat umum maupun secara

tersembunyi. Namun dalam banyak kasus pula, terjadi rekayasa foto maupun video, sehingga seolah-olah foto dan video adalah orang-orang— lebih sering artis-artis—tertentu. Misalnya saja, wajahnya artis X, tapi tubuhnya diambil dai foto lain yang seksi, menarik, maupun menghebo- hkan. Hanya saja, dengan kemudahan rekayasa komputer, tak berarti memang semua foto mau- pun video porno yang kemudian beredar dan tersebar ke masyarakat adalah hasil rekayasa tek- nologi. Persoalan rekayasa teknologi komputer, hendaknya dilihat kasus per kasus. Ketika kasus video yang dikenal dengan kasus VCD Kamar Mandi, dimana artis-artis terkenal—di antaranya Sarah Azhari dan Femmy Permatasari, diam- bil gambarnya ketika sdang berganti pakaian di kamar mandi saat hendak audisi produk tertentu. Ini bukan merupakan rekayasa. Video tersebut benar-benar ada. Hal itu pula yang menyebabkan lima artis kemudian menggugat Budi Han, pemi- lik studio. Hal lainnya juga terkait dengan video hidden camera yang terakhir ini terjadi di sebuah salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Tentu cukup banyak contoh bahwa foto dan video yang beredar bukan sebagai hasil rekayasa teknologi, tapi juga merupakan foto dan video nyata, yang dibuat dengan kesadaran dari pelaku mau- pun dilakukan pihak lain se- cara diam-diam. Sebenarnya, banyak pula memang foto dan video porno yang me- mang sengaja dibuat untuk dikomersialkan. Dan yang ini, sesung- guhnya, walaupun pem- beritaannya tidak seheboh video yang dibuat bukan un- tuk komersial, namun secara jumlah jauh lebih banyak, dan dapat dijumpai di mana- mana—dari lapak tukang DVD pinggir jalan hingga situs-situs di internet. Bukan

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Masalah pornografi bukan hanya menyangkut artis

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Masalah pornografi bukan hanya menyangkut artis

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 cuma itu, bahkan film­film barat pun secara

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

cuma itu, bahkan film­film barat pun secara teran- gan-terangan maupun halus tersembunyi menebar

pornografi dan pornoaksi. Dan juga bukan film

barat, namun film lokal dalam sejarah perjalanan- nya juga tidak bebas melepaskan diri dari hal-hal yang terkait dengan paha dan dada. Selain persoalan pembuatan yang kian mu- dah, proses distribusi juga tak kalah mudahnya. Dengan hadirnya situs-situs internet, semua bisa diunggah ke Youtube misalnya, dengan mudahn- ya. Bukan hanya Youtube, situs-situs lokal terkait dengan erotika juga cukup banyak, yang bahkan ada situs dimana untuk mengaksesnya haruslah berbayar seperti Exoticazza. Perkembangan teknologi informasi makin mempermudah itu semua dengan adanya email serta hadirnya telepon seluler yang membuat penyebaran gambar dan video porno begitu cepat

dengan hadirnya infra red maupun bluetooth, se-

hingga file berpindah begitu cepat hanya dalam

hitungan detik. Apalagi dengan kehadiran smartphone, informasi dengan cepat menyebar antarponsel semisal dengan Blacberry Mes- sanger maupun tersosialisasi dengan aplikasi yang menempel dalam ponsel cerdas seperti Facebook maupun Twitter. Ini yang juga mem- buat proses konsumsi juga menjadi tak kalah mudahnya. Dengan kemajuan teknologi infor-

masi, semua hal terkait dengan pornografi su- dah tersedia di depan mata, yang kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, bisa diakses dengan gampangnya.

Bukan hanya penyebaran pornografi, saat

ini internet juga telah digunakan sebagai media transaksi seks. Bahkan beberapa situs menjadi etalase dan pemberi informasi para penjaja seks, baik perempuan maupun lelaki. Untugn saja, beberapa kali pihak kepolisian RI telah berhasil

membongkar mafia prostitusi online ini.

>> ----

Aturan Hukum

UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) merupakan bentuk dukungan pemerintah akan pengembangan teknologi informasi melalui infrastuktur hukum dan pengaturannya.

Dengan perkembangan terbaru dinamika yang terjadi di masyarakat sebagai akibat pemanfaatan teknologi informasi, agar pemanfaatan teknologi informasi dilakukan secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia, maka kemudian lahirnya UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ini merupakan dukungan pemerintah akan pengembangan teknologi informasi melalui infrastuktur hukum dan pengaturannya. Salah satu pengaturan tentunya terkait dengan

pornografi. Aturan ini ada di Pasal 27 ayat (1), yang

berbunyi “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa

hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang

memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”.

Terkait pelanggaran pasal ini, sanksi pidana menanti. Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 45 ayat (1), setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Dengan aturan ini, hal-hal yang terkait dengan pendistribusian, transmisi maupun hal

yang membuat dapat diaksesnya hal-hal yang

terkait pornografi kini ada aturan yang lebih

tegas dan jelas. Dengan begitu, aturan hukum

pornografi menjadi lebih kuat. Selain Pasal 282

Kitab Undang-Undnag Hukum Pidana (KUHP), juga ada UU No. 44/2008 tentang Pornografi. Sehingga, baik pornografi “lama” (offline) maupun secara online kini dapat diproses secara

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 cuma itu, bahkan film­film barat pun secara

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hukum, apakah itu pembuatan, penyebaran maupun

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

hukum, apakah itu pembuatan, penyebaran maupun pengaksesannya. Aturan-aturan hukum tersebut tentu saja perlu diuji keampuhannya. Dan suka tidak suka, nampaknya kasus yang melibatkan penyebaran video mesum yang ditengarai melibatkan artis Nazril Irham atau dikenal dengan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari, akan menjadi kasus pertama yang akan menjadi batu ujian, terutama untuk implementasi UU ITE dalam hal pelanggaran kesusilaan mengingat kasus ini menyebar dengan cepat dan meluas diakibatkan adanya pemanfaatan teknologi informasi untuk mengunggah video mesum tersebut.

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hukum, apakah itu pembuatan, penyebaran maupun
>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hukum, apakah itu pembuatan, penyebaran maupun

Penapisan Internet terhadap mate- rial pornografi sebenarnya dapat dilakukan dengan beberapa perang- kat lunak (software) yang membuat pengguna tidak bisa mengunjungi situs porno. Salah satunya adalah dengan Content Advisor pada browser Microsoft Internet Explorer (MSIE). Cara lain tentunya adalah filtering kata.

Bisakah pornografi di internet ditapis? Perta­

nyaan yang sederhana, namun cukup kompleks untuk menjelaskannya. Penapisan Internet terha- dap material pornografi sebenarnya dapat dilaku- kan dengan beberapa perangkat lunak (software) yang membuat pengguna tidak bisa mengunjungi situs porno. Salah satunya adalah dengan Content Advisor pada browser Microsoft Internet Explor- er (MSIE). Dengan fasilitas ini, dapat diatur sen- diri jenis situs yang dapat dikunjungi berdasarkan tingkatan penggunaan bahasa, kepornoan gambar dan aktivitas seks serta kekerasan didalamnya. Fasilitas juga dapat mengatur situs yang bisa atau tidak untuk dikunjungi. Selain dengan MSIE,

perangkat lunak lain yang bisa digunakan adalah Netnanny.

Karena dimungkinkan mengakses pornografi

di luar rumah, untuk menapis materi ini diharap-

kan pihak Internet Service Provider (ISP) mem-

bantu. Namun, dengan kondisi ISP yang begitu

banyak, dan banyak jalur­jalur “tikus” yang

bisa dilalui, penapisan secara nasional menjadi persoal an yang tidak mudah. Sebab begitulah memang sifat dari internet.

Internet dikembangkan sebagai jawaban men- jelang Perang Dunia III. Jika semua jalur komu- nikasi putus, maka diharapkan internet akan menjawab tantangan tersebut. Ibarat tikus yang dimasukkan ke labirin, dan tikus akan mencari jalan keluar sendiri, begitu juga dengan internet.

Jika jalur depan diblok, maka bisa pornografi bisa

masuk melalui jalur belakang. Misalnya saja, kita memblok satu situs, maka bisa saja diakses mela- lui situs lain. Seperti membuka Yahoo Messanger atau Facebook, melalui e-Buddy. Bahkan kini juga jejaring sosial bisa terkoneksi dengan SMS. Dengan hadirnya media sosial seperti blog maupun jejaring sosial, tingkat penapisan juga

makin rumit. Jika satu blog atau akun jejaring so-

sial mengandung pornografi, maka tidak mungkin

misalnya wordpress.com, blogger.com maupun satu situs Facebook diblok. Ibarat menangkap tikus di lumbung padi, dengan membakar lum- bung padi tersebut. Pemblokiran tentunya perlu kerja sama dengan pengembang situs-situs terse- but, untuk menutup akun tertentu. Cara lain tentunya adalah filtering kata. Di beberapa negara Islam, kata­kata “porno” ter- blok, sehingga pengguna tidak bisa mengakses situs-situs yang di dalamnya mengandung kata

“porno”. Cara ini bisa efektif, tapi bisa juga tidak.

Jika memang tidak ada kata lagi yang dipakai

pengunggah selain kata “porno”, maka cara ini

efektif. Namun, jika ada kata lain selain “porno”

namun isi situsnya mengandung hal-hal porno, ini keefektifannya dipertanyakan.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hukum, apakah itu pembuatan, penyebaran maupun
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010
Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik
>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Misalnya saja, saat ini, video mesum yang

ditengarai dilakukan Ariel, Luna Maya maupun Cut Tari, jika ada kata “porno” di file­file mau- pun situs-situs yang menyebarkan video tersebut,

maka file maupun situs yang ada dapat ditapis. Dan uniknya, file­file maupun dari situs yang ada, sudah tidak lagi menggunakan kata “porno,

namun langsung ke nama artis-artis tersebut. Se hingga penapisan menjadi tidak mudah. Me-

mang bisa saja, semua kata seperti “Ariel”, “Luna

Maya” maupun “Cut Tari” ditapis, namun itu arti- nya menghilangkan semua rekam jejak mereka, baik yang positif maupun negatif. Seolah-olah, tidak pernah ada sejarah nama-nama tersebut di

muka bumi. Persoalan lainnya terkait dengan penyebaran

pornografi adalah perkembangan pemanfaatan

tek nologi informasi seperti telepon seluler. De-

ngan cukup beberapa orang saja yang mengunduh

file berisi pornografi, file­file tersebut bisa cepat

mudah tersebar dari satu orang ke orang lainnya

dengan fasilitas yang ada di ponsel—selain email atau instant messanger, seperti infra red maupun

bluetooth, yang tanpa biaya. Yang lebih menarik, saat ini, ada sekitar 180 juta pengguna seluler yang artinya ada sekitar 180 juta ponsel atau sekitar 78 persen dari jumlah penduduk di tanah

air ini, dimana angka itu jauh lebih tinggi dari pengakses internet yang baru pada angka sekitar 45 juta.

Jika pornografi di internet ingin ditapis dan

diblok, yang juga jadi pertanyaan adalah bagaim-

ana dengan DVD ‘blue’ yang secara kasat mata juga bertebaran sebagai dagangan di kakilima? Lalu bagaimana pula dengan media massa lain yang juga menampilkan gambar-gambar perem- puan yang mengundang birahi? Dari kenyataan

seperti itu, keinginan ‘memberangus’ pornografi

sesungguhnya harus dilakukan secara menye- luruh. Meski menghilangkan persoalan terse- but menyangkut peradaban yang lebih luas, ini merupakan tantangan bagi semua pihak. Di sisi lain, walau dunia digital Indonesia masih men- galami ke senjangan yang lebar, perlu penelitian yang le bih dalam apakah memang pemanfaat- an internet di Indonesia untuk mengakses situs

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Misalnya saja, saat ini, video mesum yang

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik porno jauh lebih besar daripada untuk

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

porno jauh lebih besar daripada untuk hal lain- nya. Sebab dalam penelitian Masyarakat Internet Indonesia (Master), akses pornografi di internet, sebelum kasus video mesum yang melibatkan artis-artis, sangat kecil dibanding akses ke jejar- ing sosial, mesin pencari maupun media online.

Dimana pertemanan (31 persen), mencari infor- masi (27 persen) serta baca berita (15 persen) dan nge-blog (14 persen), jauh lebih besar dibanding

akses pornografi.

Sementara dari catatan trafik Alexa.com, situs

yang utama diakses masyarakat Indonesia adalah situs jejaring sosial Facebook. Yang kemudian di- ikuti, Google, Yahoo, Blogger.com, Kaskus.com, Youtube, Wordpress, Detik.com kemudian Twit- ter dan lain­lain. Pornografi memang mungkin diakses melalui Youtube maupun blog, tapi situs pertemanan dan pencarian nampaknya masih le- bih dimintai.

>> ----

Aturan Hukum

Selain penapisan konten pornografi, yang

bisa dtawarkan untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi adalah dengan memberdayakan masyarakat dengan mengusung ide internet cerdas. Maksudnya adalah, agar masyarakat secara cerdas dapat memanfaatkan teknologi informasi, khusus internet, yang

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik porno jauh lebih besar daripada untuk

yakinlah jika ada foto maupun video yang pribadi, maka itu bisa tersebar dengan cepat. Beberapa kasus sudah membuktikan hal itu. Bahkan tidak harus hilang maupun tercuri, ketika ponsel kita dipinjam maupun PC/laptop dipakai orang lain,

perpindahan file dari tangan satu ke tangan lain

begitu cepat terjadi tanpa kita sadari. Kedua, terkait dengan

pornografi anak. Terkadang

orang tua tidak sadar dan hanya

Terkait dengan penyebaran pornografi, cara yang pertama perlu dikedepankan adalah agar berhati-hati dengan makin maju dan mudahnya proses produksi foto dan video.

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik porno jauh lebih besar daripada untuk

menganggap hal yang lucu dan unik ketika mendokumentasikan anak-anaknya yang di bawah 18 tahun—apalagi di usia Balita, saat sedang mandi ataupun kondisi tanpa busana. Sebaiknya hal itu tidak dilakukan lagi, mengingat

berfungsi sebagai alat untuk membuat masyarakat itu sendiri makin cerdas, sehat, mandiri dan sejahtera.

Terkait dengan penyebaran pornografi, cara

yang pertama perlu dikedepankan adalah agar berhati-hati dengan makin maju dan mudahnya proses produksi foto dan video. Artinya, tidak

hal ini merupakan pornografi anak. Bukan

cuma UU No. 11/2008 yang melindungi anak

dari pornografi, namun secara internasional ini

dilarang. Sehingga tidak heran, beberapa tahun lalu, Kejaksaan Agung Amerika Serikat sampai

mengejar pelaku pornografi anak ke Indonesia.

Ketiga, perlunya memutus mata rantai dari

semua hal-hal privasi bisa dengan leluasa didokumentasikan melalui handycam, view cam laptop maupun ponsel berkamera. Memang ponsel maupun laptop adalah barang pribadi sehingga foto maupun video pribadi pada satu saat aman, namun waspadalah sebab suatu saat mungkin saja ponsel hilang maupun laptop, PC ataupun external harddisk tercuri. Jika itu terjadi, dengan kemajuan teknologi informasi pula,

pornografi. Dalam hal ini, jika kita menerima dari orang lain file­file yang berisi pornografi, hendaknya tidak menyebarkan file­file tersebut—

termasuk memberi tahu alamat situs porno— ke orang lain lagi. Upaya ini akan membuat

pornografi tidak tersebar lebih jauh ke banyak

orang. Jika kesadaran ini ditanamkan, maka efek

bola salju pengakses pornografi tidak ada terjadi

dan hanya tersebra ke beberapa orang saja.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik porno jauh lebih besar daripada untuk

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagai-

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagai- mana kita dapat menggunakan internet secara cerdas. Sebab terkadang pengguna internet lupa bahwa penggunaan internet adalah sebuah tujuan, bukan alat. Padahal sesungguhnya, internet adalah alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan masyarakat itu sendiri bahkan sebagai alat transformasi peradaban menuju ke- hidupan yang lebih baik. Untuk dapat memanfaatkan internet secara optimal, berikut adalah tips bagaimana menggu- nakan internet secara cerdas, bukan cuma sekadar sehat:

  • 1. Internet adalah gudang ilmu, harus digu-

nakan semaksimal mungkin untuk mencari infor-

masi yang menunjang pelajaran, kuliah, penelitian, pekerjaan dan hal-hal yang mencerdaskan lainnya,

daripada mengakses situs­situs pornografi.

  • 2. Jangan mengumbar atau memberikan

data diri Anda dengan mudah di Internet, sebab

data diri Anda bisa saja disalahgunakan pihak lain.

  • 3. Internet bersifat anonimous, mengaku

perempuan tapi lelaki, bernama X tapi ternyata Y, tinggal di kota A tapi sesungguhnya di B, sehingga jangan percaya begitu saja akan informasi yang

disampaikan.

  • 4. Jejaring sosial seperti Facebook, Friends-

ter, Twitter, My Space dan sebagainya baik untuk

mempererat tali silaturahmi, berdiskusi akan ba- nyak hal, tapi gunakanlah secara bijak, atur waktu mengakses agar tetap produktif dan jangan sem-

barangan menerima ajakan ”kopi darat”/bertemu

dengan orang yang belum dikenal.

  • 5. Internet mempermudah transaksi bisnis,

perbankan maupun jual-beli barang, untuk itu

gunakan transaksi dengan tingkat security yang

aman, berhati-hati dengan nomor kartu kredit, PIN e-banking, sebab penjahat internet siap mengintai setiap saat.

  • 6. Bagi orang tua, dampingi putra-putri saat

mengakses internet dan berikan penjelasan serta

batasan apa saja yang boleh diakses.

  • 7. Untuk membatasi putra-putri yang di ba-

wah umur mengakses situs pornografi­pornoaksi,

gunakan program­program filter (seperti net nanny, K9 web protection) di komputer sehingga akses in- ternet dapat terbatasi untuk situs-situs yang aman saja.

  • 8. Saat ini, koneksi internet Indonesia

yang terhubung ke luar negeri memerlukan ka-

pasitas lebar pita yang besar, untuk itu utamakan membuat dan mengakses konten-konten lokal dan tidak mendownload file-file yang tidak perlu dari situs di luar negeri.

  • 9. Selalu log out setelah Anda log in suatu

aplikasi maupun transaksi apapun. Keadaan tetap log in beresiko jika ada pihak lain yang ke- mudian melanjutkan aplikasi maupun transaksi terutama untuk akses internt di tempat umum seperti Warnet.

  • 10. Bahasa tulis berbeda dengan bahas

lisan, sehingga gunakanlah tata bahasa yang baik dan tidak menimbulkan salah pengertian pihak lain. Kalaupun dirasa ada yang tidak pas dengan bahasa yang tertulis, pemakluman diperlukan mengingat tingkat pendidikan dan pengalaman

yang berbeda ataupun kesulitan dalam mener- jemahkan bahasa lisan ke tulisan, apalagi internet terutama dengan booming jejaring sosial, masih

merupakan ”mainan’ baru bagi kita semua.

  • 11. Internet bukan wilayah bebas tanpa hu-

kum, dimana kejahatan yang dilakukan secara

off line (tradisional) kemudian beralih dengan memanfaatkan teknologi informasi (online)

kini juga dapat diproses secara hukum. Penja-

hat cyber seperti cracker, carder, pencuri data/ informasi elektronik kini juga dapat dijerat se- cara hukum. Begitu juga bagi pihak-pihak yang melakukan penipuan, pemerasan, atau penghi- naan/pencemaran nama baik secara online.

  • 12. Perhatikan soal hak cipta saat menyalin

(copy-paste) maupun menyebarkan tulisan, gam-

bar atau video dari pihak/situs lain agar tidak ada tuntutan dikemudian hari.

  • 13. Tidak memproduksi maupun menye-

barkan spam, virus, HOAX, termasuk juga gam- bar/foto pornoaksi dan pornografi, terutama por- nografi anak.

  • 14. Karena akses internet berbiaya, teru-

tama yang menggunakan waktu (seperti dial up ataupun di warnet-warnet) maupun volume,

maka gunakan internet seperlunya agar biaya tidak membengkak. Kalaupun bersifat unlim- ited, tetap matikan akses jika sudah tidak dipakai agar jika ada pengguna lain yang ingin meng- gunakan, mendapatkan kualitas layanan yang seperti diharapkan.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagai-

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik 3 Oleh : Agoeng Noegroho dan

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

3

Oleh : Agoeng Noegroho dan Chusmeru

Media dan Pornografi:

Pembingkaian Media On-line dalam Pemberitaan Tentang Seks dan Pelajar di Indonesia

Artikel ini akan mengupas tentang media dan pronografi, khususnya pembingkaian media on-line dalam pemberitaan tentang seks dan pelajar di Indonesia. Fenomena perilaku pelajar SMP dan SMU dalam berpacaran yang dikemas menjadi fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media massa versi on-line, dari kurun waktu tahun 2008-2010 ternyata ditemukan sangat banyak dan menunjukan pada tingkat yang dapat disebut mencemaskan. Teori Kebenaran Korespondensi menurut Louis O. Kattsoff, (1989:183) akan menjadi sarana untuk membuktikan kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan, apa yang yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-faktanya. Oleh karena itu dengan memaparkan sejumlah pemberitaan tentang pelajar dan seks di media on- line menjadi dasar tentang kesesuaian antara pernyataan dengan faktanya bahwa perilaku berpacaran pelajar di Indonesia sudah yang pada tingkat yang mencemaskan. Kata Kunci: perilaku berpacaran, pelajar, seks, media on-line

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik 3 Oleh : Agoeng Noegroho dan
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik
Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Fenomena perilaku remaja dalam berpacaran yang dikemas menjadi fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media massa baik versi cetak maupun on-line, dari kurun waktu tahun 2008-2010, ternyata sangat banyak dan menunjukan pada tingkat yang dapat disebut mencemaskan.

Sebuah peristiwa yang telah membuat warga Pasangkatu geger karena seorang siswi kelas II Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat yang melahirkan di sekolah pada tanggal 26 Februari 2010 telah di-upload dalam SUARA MERDEKA CyberNews. Namun belum hilang dari ingatan peristiwa tersebut, pada hari Selasa 27 Juli 2010 para pelajar Indonesia dikagetkan kembali oleh ulah seorang siswi bernama Ika (15) pelajar kelas 1-X SMA Negeri 12 Surabaya yang melahirkan di sebuah kamar mandi sekolah dan tega menghabisi nyawa buah hatinya tersebut setelah malahirkannya. Fenomena perilaku remaja dalam berpacaran yang dikemas menjadi fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media massa baik versi cetak maupun on-line, dari kurun waktu tahun 2008- 2010, ternyata sangat banyak dan menunjukan pada tingkat yang dapat disebut mencemaskan. Fakta dan data bahwa sebagian para remaja secara aktif melakukan seks, tingginya angka remaja putri yang hamil, meningkatnya angka dispensasi permohonan menikah pada anak di bawah umur, banyak bayi terlahir dari rahim remaja, dan banyak kasus yang lain berkenaan dengan aborsi, proses bayi lahir prematur, dan tingkat kematian bayi. Teen pregnancy setidaknya itulah masalah

yang sedang dihadapi tidak hanya Indonesia namun juga negara-negara maju saat ini. Masalah seksualitas remaja di Indonesia per- sis seperti gambaran gunung es di tengah lautan, banyak kasus yang terjadi di masyarakat namun yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil saja. Dalam BKKBN online tanggal 22 Januari 2010, menyatakan bahwa remaja di Indonesia kini sudah berani bereksplorasi dengan seksua- litas. Dengan segala kemudahan akses terhadap media massa baik cetak maupun elektronik dan atau memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada saat ini, para remaja menjadi sangat leluasa mendapatkan berbagai ragam informasi dan ber- eksplorasi untuk memenuhi segala hasrat rasa ingin tahunya tentang banyak hal, termasuk di- antaranya hal-hal yang berkaitan dengan seks. Para remaja dapat membeli majalah, tabloid untuk pria/wanita dewasa yang dijual bebas di agensi-agensi, mall, toko-toko, atau langsung pada para pengecer di pinggir jalan. Cara lain remaja dalam bereksplorasi ten- tang seks adalah beramai-ramai mengakses si- tus-situs porno dan mengunduh foto atau video

adegan “erotis­seks”. Fenomena yang sedang

marak baru baru ini pada bulan Juli 2010 adalah

seperti yang diberitakan di Okezone.com yang bertajuk: Gawat 7 dari 8 Remaja Simpan Video Porno ‘Ariel’. Banyak para remaja beramai-ra- mai mengunduh video tersebut melalui warnet, atau internet pada handphone. Untuk penye- barannya pun juga sangat mudah yakni meng- gunakan fasilitas bluetooth antar handphone. Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku seksual merupakan akibat langsung dari pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonad). Hal ini menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian karena masanya terjadi pergaulan so- sial remaja, maka sangat dimungkinkan ia ber- temu dan berusaha mendekati lawan jenisnya. Hasrat untuk mencintai dan dicintai akan terus memotivasi para remaja untuk mencari teman yang dipandang dapat mengerti keadaannya dan dapat dijadikan teman berbagi keluh kesah dan gembiranya. Setelah dirasa dapat meme-

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Fenomena perilaku remaja dalam berpacaran yang dikemas

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik nuhi harapannya, maka sepasang sejoli itu

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

nuhi harapannya, maka sepasang sejoli itu ber- sepakat untuk melanjutkan hubungan yang lebih dari sekedar teman, yakni pacaran. Membaca banyak kasus yang terjadi tentang remaja dan seks ternyata perilaku pacaran remaja kita sudah mencemaskan. Ketika sebagian orang tua meng- anggap pernyataan tersebut sebagai hal biasa

karena bingkai pikirannya menggunakan sistem gaya hidup modern, namun sebagian lagi yang lain mulai khawatir prihal pernyataan tersebut. Apa benar adanya? Fakta-fakta apa yang dapat membuktikan perilaku pacaran remaja kita sudah mencemaskan?

>> ----

Tinjauan Pustaka:

Kebenaran Korespondensi

Menurut Alfred Tarski (2004) dalam tulisannya yang berjudul The Semantic Conception of Truth and the Foundations of Semantics menjelaskan bahwa predikat kebenaran (true) kadangkala digunakan dalam fenomena psikologikal sebagai penilaian (judgments) atau keyakinan, kadangkala juga teruju pada obyek fisik, ekspresi

linguistik berupa kalimat, dan kadangkala tertuju

pada entitas ideal yang disebut proposisi. Kata

“kebenaran” seperti kata­kata pada umumnya

yang kita pakai dengan bahasa sehari-hari, tertuju pada sesuatu yang tidak ambigu. Merujuk

pada konsepsi Aristotelian tentang kebenaran:

“To say of what is that it is no, or of what is not

that it is, is false, while to say of what is that it

is, or of what is not that it is not, is true” (Tarski,

2004:117)

Dalam istilah filsafat modern, kita dimungkinkan mengarahkan pembuktian sebuah konsepsi kebenaran dengan formula: “The true

of sentence consists in its agreement with (or correspondence to) reality” (Tarski, 2004:117)

Oleh karenanya setiap pembuktian proposisi yang mendasarkan pada formula tersebut sering dinamakan Teori Kebenaran Korespondensi. Eksponen utama dari teori korespondensi adalah Bertrand Russell, 1872-1970. Bagi para penganut teori kebenaran korespondensi, suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan

tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya Ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta, pernyataan ini benar karena pernyataan ini berhubungan dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta memang ibu kota negara Republik Indonesia. (Suriasumantri, 1985: 57) Sebuah pernyataan benar jika apa yang diung- kapkannya merupakan fakta, contohnya pernya-

taan “di luar hawanya panas” maka hal itu benar

jika di luar sungguh-sungguh hawanya panas atau jika keadaan panasnya di luar merupakan fakta. Paham korespondensi yang pada umumnya orang mengatakan bahwa suatu pernyataan benar, jika makna yang dikandungnya sungguh-sungguh merupakan halnya. Menurut Louis O. Kattsoff, (1989:183) kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan, apa yang yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-faktanya. Berbicara tentang kebenaran atau keadaan benar, dibuktikan bila terdapat suatu kesesuaian. Lalu apa yang sesuai? Bagaimanakah sebuah makna yang merupakan ide dapat sesuai dengan sebuah fakta?

• Pertama; Kesesuaian di antara esensi­esensi.

Penganut realisme kritis Amerika, K. Rogers menjawab: keadaan-keadaan terletak dalam

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik nuhi harapannya, maka sepasang sejoli itu

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik kesesuaian antara esensi atau makna yang kita berikan dengan esensi atau makna

kesesuaian antara esensi atau makna yang

kita berikan dengan esensi atau makna yang terdapat di dalam obyeknya

• Kedua; Kesesuaian di antara bentuk­bentuk

kata. Filsuf Britanian Bertrand Russell :

kesesuaian tersebut terdapat di antara kata-

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

kata yang telah ditentukan, dengan kata-kata sebagai reaksi yang dihasilkan oleh subyek. Artinya makna yang dikandung oleh kata- kata yang diucapkan sama dengan makna yang dikandung oleh kata-kata yang telah ditentukan. Kattsoff, (1989:183-184)

>> ----

Psikologi Remaja dan Seksualitas

Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku seksual merupakan akibat langsung dari pertumbuhan kelenjar- kelenjar seks. Hal ini menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian karena pada saat terjadi pergaulan sosial remaja, maka dimungkinkan ia bertemu dan berusaha mendekati lawan jenisnya.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik kesesuaian antara esensi atau makna yang kita berikan dengan esensi atau makna

Pelajar yang duduk di bangku SMP dan SMU termasuk dalam kategori remaja. Sementara itu remaja adalah masa peralihan ke masa dewasa, maka banyak hal yang harus mereka siapkan menuju kehidupan dewasa, termasuk dalam aspek seksualnya. Perilaku-perilaku remaja berkenaan dengan seksual didorong oleh hasrat seksual baik terhadap lawan jenisnya ataupun sesama jenis. Bentuk-bentuknya dapat beragam, seperti mulai dari perasaan tertarik karena paras cantiknya atau gantengnya, badannya yang atletis dan berisi, kemudian sampai pada tingkah laku berkenalan dan berkencan, bercumbu, serta kalau tidak direm dapat melakukan senggama atau making love (ML) kata para remaja sering menyebutnya. Namun perilaku seksual sering terjadi juga di kalangan remaja dikala kesendirinannya atau dengan pasangannya, melalui fantasi seksual ia menikmati hasrat seksnya dengan melakukan masturbasi. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa perkembangan pada diri remaja dicirikan dengan mulai matangnya organ-organ kelamin, masa

pubertas dan perkembangan fisik yang tampak

dari luar seperti dada, pinggul dan daerah- daerah lain. Pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonad) remaja merupakan proses yang terjadi di dalam tubuh, dan para ahli berpendapat bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks inilah yang justru menimbulkan penonjolan perkembangan jasmani luar.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik kesesuaian antara esensi atau makna yang kita berikan dengan esensi atau makna

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku seksual merupakan akibat langsung dari pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks. Hal ini menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian karena pada saat terjadi pergaulan sosial remaja, maka dimungkinkan ia bertemu dan berusaha mendekati lawan jenisnya. Remaja putra mulai tergerak untuk mendekati remaja putri, dan remaja putripun seolah-olah memiliki magnet dengan menunjukan kemolekan dan keharuman tubuhnya, dan aktif menanggapi pendekatan yang dilakukan remaja putranya. Benih-benih cinta telah tumbuh di hati para remaja. Ketegangan yang berkaitan dengan nafsu seks, sering menghinggapi diri para remaja. Peri- laku-perilaku seksual yang telah disebutkan sebe- lumnya seperti berkencan, berpelukan, bercium- an, meraba organ-organ vital, dan melakukan hubung an badan atau senggama, tentu menjadi keputusan yang sulit dan harus mengalami ke- tegangan yang serius di dalam batinnya. Perten- tangan hati nurani, antara takut dosa, takut hamil, kehormatan diri dan keluarga, serta hasrat seks- nya yang sangat kuat. Menurut Simkins, 1984 dalam Sarwono (2010:175) sebagian dari tingkah laku tersebut memang tidak berdampak apa-apa, terutama

jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat

ditimbulkan, akan tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya bisa cukup serius, seperti perasaan bersalah, berdosa, depresi, marah dan bagi para gadis dapat menggugurkan kandungannya. Kemudian akibat psikososial lainnya adalah ketegangan mental, dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah jika seorang gadis tiba-tiba hamil. Cemoohan dan penolakan dari masyarakat tentunya akan ia rasakan, dan berakibat putus sekolah. Akibat lainnya adalah terganggunya kesehatan dan resiko kehamilan serta kematian bayi yang tinggi. (Sanderowitz & Paxman dalam Sarwono, 2010:175) Dari berbagai studi dapat disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja menurut Sarwono, (2010:187) timbul karena faktor-faktor berikut, yaitu:

1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membu-

tuhkan penyaluran dalam tingkah laku seksual tertentu.

  • 2. Penyaluran itu tidak dapat segera

dilakukan karena adanya undang-undang tentang

perkawinan yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

  • 3. Sementara usia kawin ditunda, norma-

norma agama tetap berlaku dimana seseorang di- larang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya berkembang lebih jauh kepada tingkah laku yang lain seperti ber- ciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang tidak

dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.

  • 4. Kecenderungan palanggaran makin

meningkat oleh karena adanya penyebaran infor- masi dan rangsangan seksual melalui media mas- sa yang dengan adanya teknologi canggih (video kaset, foto kopi, satelit, vcd, telpon genggam, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung

lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan inginmencoba akan meniru apa yang di- lihat atau didengarnya dari media massa, khusus- nya karena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.

  • 5. Orang tua sendiri, baik karena

ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang

masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini.

  • 6. Di pihak lain, tidak dapat diingkari

adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehinga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Dalam masa remaja awal, perkembangan perilaku

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pemaparan sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pemaparan sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pemaparan sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Pemaparan sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan SMU dalam berpacaran yang dikemas menjadi fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media massa versi on-line, dari kurun waktu tahun 2007-2010 menjadi dasar tentang kesesuaian antara pernyataan dengan faktanya bahwa perilaku berpacaran pelajar di Indonesia sudah yang pada tingkat yang mencemaskan. Berikut ini fakta pemberitaan dalam media on-line yang dapat membuktikan perilaku pacaran remaja kita sudah mencemaskan. Menurut Rita Damayanti saat menyampaikan hasil penelitiannya untuk meraih gelar doktor pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), di Depok, Jawa Barat yang di up load dalam BKKBN on-line 15 Februari 2007, bahwa perilaku dari 8941 remaja berpacaran yang tersebar di 119 sekolah menengah atas (SMA) pada lima area di Jakarta tergambar pada tabel berikut:

Tabel Perilaku Remaja Berpacaran Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta

Perilaku pola pacaran

Perempuan

Laki-Laki

Total (%)

(%)

(%)

Ngobrol, Curhat

97,1

94,5

95,7

Pegangan tangan

70,5

65,8

67,9

Berangkulan

49,8

48,3

49,0

Berpelukan

37,3

38,6

38,0

Berciuman pipi

43,2

38,1

40,4

Berciuman bibir

27,0

31,8

20,5

Meraba-raba dada

5,8

20,3

13,5

Meraba alat kelamin

3,1

10,9

7,2

Menggesek kelamin

2,2

6,5

4,5

Melakukan seks oral

1,8

4,5

3,3

Hubungan seks

1,8

4,3

3,2

Sumber : Hasil Penelitian Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rita Damayanti (2006) (rdg@cbn.net.id)

Survei lain berdasarkan data dari Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam BKKBN online periode akhir Desember 2008 menunjukkan bahwa sebesar 63% remaja di kota-kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah, dan sebagian besar meyakini hubungan seks yang mereka lakukan tidak menyebabkan kehamilan.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pemaparan sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Daftar Pemberitaan di Media On-line: No

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Daftar Pemberitaan di Media On-line:

No

 

Judul

 

Waktu

Alamat situs/sumber

1

Foto Bugil Anak SMU Beredar, Polisi

13

Februari 2008

Padang Ekspres dalam http://

Razia HP Siswa

   

padangnewswartakota.

 

blogspot.com/

 

2

Sepasang Siswa SMA Berfoto Bugil

 

09

Pebruari 2008

http://www.tribunbatam.co.id

3

Tiga Pasang Siswa SMP Berpesta Seks di

22

Oktober 2008

Sumber:

kepritoday.

Hotel

 

com

Dalam

http://www.

lintasberita.com

4

Kasus pernikahan di bawah umur atau

08

Juli 2009

TEMPO Interaktif

 

pernikahan dini di Purwokerto menunjukan

   

angka peningkatan

 

5

Foto Bugil Siswi SMP di Palembang

4

Februari 2009

Sriwijaya

Post

3/2/2009

beredar via Handphone

 

dalam Heboh.Mampir.Net™

6

Video

Mesum

Siswi

SMP

di

Palu

15

Desember

Palu (ANTARA News)

Hebohkan Warga

 

2009

7

Puluhan

Warnet

di

Purwokerto

Jadi

03

Desember

Republika Newsroom

 

Tempat Mesum

 

2009

8

Siswa Mesum di Hotel, Dipergoki Ayah

14

Nov 2009

www.riauinfo.com

 

Sedang Bugil

     

9

63%

Siswa

SLTP Sudah

Berhubungan

7

Januari 2009

http://www.vhrmedia.com

Seks

10

25%

Siswa

SMU

Sudah

Berhubungan

 

http://cybernews.com

 

Seks

 

11

Hot! Lulus Unas, 9 Siswa Pesta Seks

 

17

Juni 2009

Sumber : smcn dalam www.

   

beritajatim.com

 

12

Seks.Dulu Lalu.Tidak.Ikut.UN

..

 

27

April 2009

sumber:http://regional.

   

kompas.com/read/

xml/2009/04/27/17282318/

13

Tinggi, Angka Pernikahan Dini di Malang

10

February 2009

BKKBN-online

 

14

Kondom Bukan Pembenaran Seks Bebas

22

Januari 2009

Sumber:

Media

Indonesia

 

Online

15

Video Siswi SMP Mesum Beredar Luas

Diakses 2010

www.berita86.com

 

16

Berzina Direndam Setengah Bugil

 

24

Januari 2010

http://pakarbisnisonline.

   

blogspot.com/

 

2010/01/

berzina-direndam-setengah-

bugil.html

17

Siswa SMP Tertangkap di Kamar Mandi

12

Januari 2010

www.suaramerdeka. com

Berhubungan Seks

   

18

Siswi kelas II Sekolah Menengah Atas

26

Februari 2010

www.suaramerdeka. com

Negeri (SMAN) melahirkan di sekolah

 

19

Siswi SMA Negeri 12 Surabaya melahirkan

17

Juli 2010

www.inilah.com

 

di sebuah kamar mandi sekolah

     

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Daftar Pemberitaan di Media On-line: No

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Menyimak banyaknya kasus yang terjadi pada remaja

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Menyimak banyaknya kasus yang terjadi pada remaja dan perilaku seksualnya yang mengarah pada

yang negatif, sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhinya: seperti keterbatasan akses terhadap

informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja tidak berimbang dengan jenis risiko

kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD),

pengguguran kandungan (aborsi), penyakit menular seksual (PMS), dan kekerasan seksual. Pilihan dan

keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada ketahanan mental yang mereka miliki

untuk bicara “tidak untuk seks” serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka,

baik formal maupun informal mengenai kesehatan reproduksi remaja.

Oleh karena itu peran media diharapkan lebih dari hanya sekedar memberitakan kasus-kasus seks

di masyarakat pada umumnya atau remaja pada khususnya, namun juga mengkampanyekan perlunya

kesehatan reproduksi bagi remaja dengan slogan “Say No to ML (Making Love)” atau “Say No to Sex

Before Merriage” misalnya. Sehingga dengan demikian diharapkan kontribusi media dapat memberikan

informasi mengenai hal ini secara memadai dan lebih tersebar luas di masyarakat.

>> ----

Hasil dan Pembahasan

Dari sejumlah pemberitaan tentang pelajar SMP dan SMU dalam berpacaran yang dikemas menjadi

fakta dalam pemberitaan oleh para jurnalis media massa versi on-line, dari kurun waktu tahun 2007-

2010 menjadi fakta bahwa perilaku berpacaran pelajar di Indonesia sudah yang pada tingkat yang

mencemaskan.

Sebagai langkah awal pencegahan, diharapkan media memiliki peran edukasi dalam rangka

peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi

komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku

seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang

bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular penyakit

menular seks (PSM).

Oleh karena itu, informasi yang cukup tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi perlu

dibekali kepada para remaja melalui media dengan mengalokasikan waktu khusus untuk program-

program acara psikologi dan kesehatan reproduksi bagi remaja dengan nara sumber yang kompeten di

bidangnya.

Sudah tentu selain pesan-pesan disampaikan melalui media, program Penyuluhan Kesehatan

Reproduksi Remaja (KRR) harus menjadi tanggung-jawab bersama dari berbagai pihak yang terlibat

seperti Kementerian Kesehatan Bidang Promosi kesehatan misalnya, dengan beberapa instansi terkait,

seperti: Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Tim Pembina Unit Kesehatan Sekolah

(UKS), Guru Bimbingan dan Konseling (BK), LSM Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), Perguruan

tinggi penyelenggara Pendidikan Kesehatan, Layanan Puskesmas dan rumah sakit, untuk dapat secara

bersama-sama secara sinergi dan berkelanjutan mendampingi siswa dalam memberikan pelayanan

informasi, konsultasi dan pelayanan medis mengenai kesehatan reproduksi bagi para remaja.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Menyimak banyaknya kasus yang terjadi pada remaja

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Purwadi 4 Seksulitas Dalam Kosmologi

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Oleh: Purwadi

4

Seksulitas Dalam Kosmologi Jawa

This research describes about sexology and cosmology in Javanese culture. Historically Javanese society have colective experience in the realtion between man and woman. Javanese people always use local wisdom in the form ethics or wulang wuruk. There are many symbolic values which has to understand by anyone in a recent community. This orientation is an equilibrium of life between traditional and global view. Javanese culture is a part of world community. A long time ago, Javanese culture had contributed to value of humanity and philosophy development. There are literatures and arts created by Pujangga Jawi that full good principles of life sexuality. Serat piwulang such as Serat Centhini, Candrarini, Sasanasunu, Nitimani, Kamawedha, Dharmarini, Wulangputri, Primbon Jalu Usada and Primbon Wanita Usada, give guidance to everyone, about sexuality ethic.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Purwadi 4 Seksulitas Dalam Kosmologi
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik
Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Kosmologi Jawa menempatkan aspek cinta as-

mara dalam bingkai kesucian, seksualitas berkait-

serta menyejarah yang berjudul Kamasutra.

Tiongkok mempunyai buku Shu Ni Jing, Hung

an dengan sakralitas. Oleh

karenanya dikenal adanya

istilah bibit, bebet, bobot

yang mengandung makna

kualitas mental, moral

dan spiritual (Damardjati

Supadjar, 1987: 56). Ori-

entasinya adalah untuk

mencari wiji sejati, yaitu

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Kosmologi Jawa menempatkan aspek cinta as- mara

Kosmologi Jawa menempatkan aspek cinta asmara dalam bingkai kesucian, seksualitas berkaitan dengan sakralitas.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Kosmologi Jawa menempatkan aspek cinta as- mara

Lou Meng dan Yin Yuan

Thu yang mengupas

ajaran seks secara ham-

pir paripurna. Kitab-

kitab tersebut selalu

menjadi rujukan dan

pedoman bagi mereka

yang belajar seks se-

bagai suatu ilmu.

generasi penerus yang

mempunyai keyakinan dan kepribadian.

Dalam makalah

akan dibahas seluk beluk seksologi Jawa yang

Pembahasan mengenai etika yang berkaitan

dengan seksualitas dalam kosmologi Jawa me-

diambilkan dari sumber-sumber literatur Jawa

kuno. Para cendekiawan Jawa mengungkapkan

mang perlu dilakukan supaya masing-masing

sisi erotis kehidupan manusia dalam bentuk ke-

pihak mempunyai pemahaman. Apabila diteliti

susastraan yang bernilai estetis. Di sana terdapat

secara komparatif, masing-masing bangsa mem-

punyai tradisi yang berkaitan dengan masalah

percintaan. India memiliki buku yang mengupas

keutamaan yang dapat digunakan sebagai kaca

benggala atau referensi dalam kehidupan sehari-

hari.

tentang seksologi secara jelas, detail, transparan

>> ----

Tata Hubungan Pria-Wanita

Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, amung ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang luwih gampang, yen angel angel kelangkung, tan kena tinambak arta.

Ajaran luhur yang dirangkum dalam sekar

asmarandana di atas memuat pesan tentang

syarat utama hubungan pria wanita ketika

hendak membangun sebuah rumah tangga.

Modal utama berumah tangga bukanlah harta

maupun benda, namun tekad hati yang bulat.

Itulah pedoman hidup yang harus diyakini setiap

insan yang akan berkeluarga. Mangun bale

wisma, sekali tergores akan terluka. Jika dimulai

dengan keutamaan akan berbuah kemuliaan

(Siswoharsoyo, 1957: 11).

Kitab Shu Ni Jing memuat tata cara

kehidupan seks dan seni ranjang yang tersusun

dalam kalimat-kalimat indah penuh nuansa

sastra dan simbol-simbol berbagai istilah

untuk menggambarkan alat kelamin manusia

dan kegiatan bersenggama. Buku tersebut

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Kosmologi Jawa menempatkan aspek cinta as- mara

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik merupakan tuntunan yang membawa pada intisari

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

merupakan tuntunan yang membawa pada intisari

kenikmatan senggama. Dalam buku itu diajarkan

teknik-teknik dan rahasia untuk mencapai ke

puncak hubungan seksual. Para pasangan akan

merasakan bagaimana nikmatnya bersenggama

itu, sehingga mereka memahami betapa indahnya

seksual dan pose-pose yang dapat melahirkan

kenikmatan dalam hubungan seks. Semua itu

disusun untuk mendapatkan kenikmatan seksual

secara optimal (Sunoto, 1981: 76). Dalam kitab-

kitab klasik tersebut, hubungan percintaan disebut

dengan berbagai macam istilah seperti among

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik merupakan tuntunan yang membawa pada intisari

Serat Nitimani menuturkan bahwa masyarakat Jawa juga telah lama mengembangkan bentuk-bentuk, teknik, metode, pengobatan, mantra bahkan ilmu pengasihan yang ada kaitannya dengan seksualitas.

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik merupakan tuntunan yang membawa pada intisari

tresna, among asmara,

among sih, among

resmi, among saresmi,

among lulut, salulut,

saresmi, jimak, andon

asmara, andon lulut,

andon resmi, awor

jiwa, aworsih, karon

asmara, karonsih, dan

sacumbana. Semua

bercinta dan kenikmatan hubungan seks.

Hal yang sama juga terdapat di Jawa, yakni

Serat Nitimani dan Serat Kamawedha. Kedua

kitab tersebut memberikan panduan yang cukup

memadai tentang seksualitas Jawa. Sedangkan

dalam kaitan seks dengan pengobatan tradisional

dapat kita jumpai dalam Primbon Jalu Usada

dan Primbon Wanita Usada. Untuk kisah-

kisah petualangan seksual yang moderat dapat

dibaca lebih jauh dalam Serat Centhini yang

ditulis atas prakarsa Sunan Paku Buwana V di

Surakarta pada pertengahan abad ke-18 (Karkono

Kamajaya, 1992: 77). Sementara, kitab-kitab

pelajaran tentang kewanitaan bisa dilihat pada

Serat Candrarini, Serat Wulang Putri, Serat

Darmarini atau juga Serat Nitisastra dan Serat

Yadnyasusila.

Serat Nitimani menuturkan bahwa masyarakat

Jawa juga telah lama mengembangkan bentuk-

bentuk, teknik, metode, pengobatan, mantra

bahkan ilmu pengasihan yang ada kaitannya

dengan seksualitas. Dalam Serat Sasana Sunu

juga diajarkan tata krama dan sopan santun ini

(Yasadipura, 1982: 45)

Di dalam primbon, masyakarat Jawa juga

menyusun dengan ilmu petung yang berkaitan

dengan kehidupan seksual. Yakni ilmu tentang

kalender seksual yakni waktu-waktu terbaik

untuk bercinta, cita rasa perempuan yakni

tempat-tempat sensitif di tubuh perempuan dan

kenikmatan seks berdasar pada bentuk genetikal

perempuan. Di samping itu juga tata krama

istilah itu mengacu

untuk cinta, asmara, kasih, percumbuan dan

seks. Makalah ini akan mengkaji lebih mendalam

masalah seksologi dalam budaya Jawa.

Perlu kiranya diketahui bahwa ada tanda-

tanda awal dari bangkitnya gairah kasih istri

dalam menanggapi tantangan awal gairah kasih

suami, yakni munculnya aroma khas tersebut

adalah aroma jiwa (yang warna aromanya tidak

ada persamaannya dengan aroma apapun) yang

terhembus adalah aroma jiwa yang merupakan

tanda mulai mengalirnya semangat (spirit)

istri yang membukakan seluruh syaraf rasa dan

terbukanya alur/lorong kantung sarung janin

wanita/saluran telur) dan siap bergeraknya indung

telur menuju rahim, sebagai tanda siap dimulainya

penyatuan dua alat vital suami-istri. Meruhi

(melihat langsung dan tidak langsung secara

fisik) yaitu bahwa jangan sampai bertindak tidak

senonoh yang betul-betul merupakan pantangan

yang tidak boleh dilanggar yakni: melihat dengan

mata kepala sendiri wewadi (rahasia/kemaluan)

istri an melihat dengan mata kepala sendiri/

semata-mata ingin melihat kenyataannya air mani

sang istri.

Kedua hal yang sangat rahasia itu sebaiknya

dike¬tahui secara nalar (pengetahuan akal tanpa

menyaksikan dengan mata kepala sendiri), yakni

melalui sumber bacaan/ pustaka yang berkaitan

dengan kehamilan dan kelahiran anak manusia.

Anatomi alat kelamin laki-laki dan wanita beserta

kandungannya (rahim) telah banyak ditulis secara

ilmiah oleh para ahli bidang kesehatan.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik merupakan tuntunan yang membawa pada intisari

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pantangan tersebut memang bukan berlan- daskan kepada

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Pantangan tersebut memang bukan berlan-

daskan kepada pemahaman rasional tetapi berlan-

daskan kepada pemahaman rohaniah, Pengaruh

batiniah yang terdalam yakni munculnya puncak

rasa malu dan kecewa yang amat dalam di relung

hati wanita yang paling halus dan tidak nampak

dipermukaan tampilan wajah wanita, yakni rasa

harga diri yang tergores sebagai bentuk kesadaran

moral dan akhlak, akan sulit dilupakan/diha-

puskan. Rasa kecewa itu akan selalu membekas

dan mempengaruhi terus emosional dari kehor-

matan wanita yang mulia, sebagai ‘pemegang

pintu surga dunia dan akhirat’.

Pengaruhnya akan mengotori cipta batin

kedua belah pihak pada proses kejernihan ba-

wah sadar yang akan muncul pada setiap muncul

keinginan untuk melakukan hubungan nikah ro-

haniah, karena iblis akan merasuki jiwa pihak

suami untuk selalu mengulang-ulang kembali

dan munculnya ide rasional yang dirasuki nafsu

yang mengalahkan nafsi suci yang telah dibersi-

hkan dengan berbagai upaya sukerta (pemuliaan

kehormatan jiwani) dengan langkah tindakan

seperti yang telah diuraikan di beberapa bab se-

belumnya.

>> ----

Seni Kamasutra Jawa

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pantangan tersebut memang bukan berlan- daskan kepada

Orang Jawa Klasik membagi ajaran bercinta menjadi lima titik perhatian, yakni Asmaratura, Asmaraturida, Asmaranala, Asmaradana, Asmaratantra dan Asmaragama.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pantangan tersebut memang bukan berlan- daskan kepada

Pada masa kejayaan kraton Jawa, seksualitas

telah menjadi bagian integral dalam kehidupan

dan dalam ekspresi seni-budaya Jawa. Dalam

hal ini, kita mungkin akan sangat tercengang jika

membaca Serat Centhini (Munarsih, 2004: 12).

Dalam Serat Centhini, masalah seksual ternyata

juga telah menjadi tema-tema sentral yang

diungkap secara verbal atau terbuka tanpa tedeng

aling-aling yang sangat paradoks dengan etika

sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks.

Dalam serat ini, masalah seksual dibicarakan

dalam berbagai versi dan kasus. Seperti misalnya

menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan,

dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks,

gaya (style) persetubuhan, dan lain-lain. Selain

itu masalah seks juga dibicarakan dalam banyak

varian lain, seperti seksual dalam hubungannya

dengan perkawinan, kesetiaan pasangan suami

istri, kisah-kisah perkosaan. Bahkan seks juga

dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan

hidup atau pelampiasan hasrat-hasrat hedonisme.

Bahkan sampai masalah teologi seks, yang

mengaitkan seks dengan asal usul manusia

dan “ilmu kasunyatan” (Otto Sukatno, 2002).

Orang Jawa Klasik membagi ajaran bercinta

menjadi lima titik perhatian, yakni Asmaratura,

Asmaraturida, Asmaranala, Asmaradana,

Asmaratantra dan Asmaragama.

  • 1. Asmara Nala

Disebut juga sengseming nala. Maknanya

kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi

oleh cinta kasih yang muncul dari lubuk hati

masing-masing. Ketika dua insan saling tergetar

jiwanya satu sama lain, maka mereka akan

mendapati bahagia yang sesungguhnya dalam

hubungan karonsih itu. Seks bukan sekedar untuk

menyalurkan hasrat birahi seorang laki-laki

dan perempuan, namun merupakan perpaduan

dua hati yang saling mencinta dan mendamba.

Makin mendalam cinta keduanya, makin dalam

pula rasa kenikmatan seksual yang mereka

peroleh. Ketika sepasang mata jejaka membentur

pandangan sepasang mata seorang gadis, dan

pada hati masing-masing ada getaran aneh yang

menyelinap tanpa bisa mereka kendalikan,

itulah awal benih cinta bersemi. Cinta akan

menimbulkan perasaan gelisah yang indah, yang

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pantangan tersebut memang bukan berlan- daskan kepada

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hanya akan terjawab dengan bertemunya dua

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

hanya akan terjawab dengan bertemunya dua hati

tersebut dalam kasih sayang.

  • 2. Asmara Tura

Disebut juga sengseming pandulu. Maksudnya

kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi

oleh rasa saling tertarik kepada kecantikan dan

ketampanan kedua belah pihak. Ketika cinta

telah bersemi, semuanya tampak indah. Si cewek

syahdu akan membuat kedua pasangan terlena.

Sepasang suami istri yang sedang bercinta, akan

lebih nikmat jika si istri mengimbangi suami

dengan desah-desah yang terkendali.

  • 4. Asmara Dana

Disebut juga sengseming pocapan. Syair, puisi

dan kata-kata mutiara sering kali dilantunkan oleh

sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kata-

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hanya akan terjawab dengan bertemunya dua

kata pilihan itu sungguh mempesona dan punya

daya magis ajaib yang menimbulkan bukit cinta

kasih semakin meninggi. Kelebihan laki-laki

biasanya pada sisi rayuan ini. Pihak perempuan

yang sudah ada benih cinta, biasanya akan

terbius dan menyerahkan jiwa raga sepenuh

kasih.

  • 5. Asmara Tantra

Disebut juga sengseming pangarasan.

Ciuman merupakan mantik birahi yang paling

dahsyat. Kedua insan yang sedang among

tresna tidak akan melupakan ciuman, entah

itu dahi, pipi, mata, bibir, atau bagian tubuh

yang lain. Oleh karena itu, setiap pasangan

suami istri hendaknya mempelajari teknik-

teknik berciuman. Masing-masing jenis ciuman

membawa kenikmatan dan psikologis yang

berbeda. Bau tubuh sang kekasih lebih bermakna

daripada parfum paling wangi sekalipun.

Kecuali tentu saja, seseorang yang memiliki bau

badan yang kurang beruntung. Ia harus sadar

diri menjaga tubuhnya dengan berbagai cara

tertentu agar pasangan tidak muak. Bau badan

yang kurang sedap akan menghilangkan gairah

berciuman dan gairah seksual yang membara.

  • 6. Asmaragama

Disebut juga sengseming salulut. Puncak

yang sebenarnya biasa-biasa saja, namun dalam

pandangan sang jejaka akan tampak cantik

dari karonsih adalah salulut, yakni masuknya

alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin

bagaikan rembulan purnama. Sang perjaka yang

perempuan. Alat kelamin laki-laki sebelum

kecil kerempeng sekalipun, akan tampak bagaikan

Arjuna sedang memanah dalam pandangan si

gadis. Sengseming pandulu arti bahasanya adalah

kebanggaan pandangan. Sebuah pasangan yang

serasi harus saling memiliki rasa kebanggaan

terhadap pasangannya.

  • 3. Asmara Turida

Disebut juga sengseming pamirengan.

Maknanya kedua insan yang bercinta akan semakin

larut dalam asyik masyuk dengan sendau-gurau

mesra yang membuat rangsangan pada gendang

telinga. Suara yang merdu, desah napas yang

masuk ke dalam liang vagina harus dipastikan

empat hal, yakni besar, panjang, keras dan hangat.

Sedangkan alat kelamin perempuan yang mampu

memberikan kenikmatan bagi laki-laki adalah

yang hangat, empuk dan menyerah (Munarsih,

2004 : 34).

Dalam hubungan seksual itu, menurut kitab-

kitab Jawa Klasik, unsur laki-laki adalah upaya

atau alat mencapai kebenaran yang agung.

Sedangkan unsur wanita merupakan prajna atau

kemahiran yang membebaskan. Maka, dipahami

bahwa persenggamaan adalah darma seorang

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik hanya akan terjawab dengan bertemunya dua

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 istri terhadap suami dan sebaliknya merupakan kewajiban

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

istri terhadap suami dan sebaliknya merupakan

kewajiban seorang suami terhadap istrinya.

Di India, terdapat ajaran seni bercinta

Kamasutra. Kamasutra mengajarkan makna

hubungan pria dan wanita ini secara mendalam.

Sampai saat ini paham ini masih menyebar di

nusantara maupun di daerah-daerah lainnya yang

pernah mendapat pengaruh kebudayaan India.

Orang Jawa menganggap karena seksuallah

kehidupan di dunia ada. Maka, seks dianggap

sumber kehidupan, kunci harmoni rumah tangga

dan pencipta keturunan. Maka, seks harus

dipahami dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.

Menurut Asmaragama, semua yang ada itu timbul

dari hubungan kelamin. Bahkan seluruh dunia

diciptakan oleh senggama dewa pencipta dengan

saksinya. Jadi, tanpa bersenggama tidak akan

mungkin lahir dunia ini.

Kama berarti mani, yang merupakan energi

cinta. Sedangkan sutra merupakan derivasi dari

kata sastra yang bermakna ajaran. Kamasutra

berarti ajaran tentang cinta. Maka, dalam dunia

pewayangan dikenal dewa dan dewi cinta

adalah Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Karena

merupakan energi cinta, maka kama harus dijaga

sebaik-baiknya. Meskipun teori ini telah berabad-

abad masuk ke nusantara, tetapi masih sangat

sedikit dikenal.

Istilah kama berkaitan dengan dunia

kesenangan atau kenikmatan. Arti leksikal kama

adalah sperma. Kama salah adalah nama kecil

Batara Kala yang berarti sperma yang salah

watak sebagai berikut: Perempuan dengan buah

dada kecil, sudah kelihatan terurai dan kelihatan

membesar tetapi tidak padat berisi. Atau sudah

kendur sehingga tidak indah lagi dipandang

mata. Di samping itu, pinggulnya juga sudah

tampak mekar. Sebab perempuan yang demikian

menandakan telah melakukan hubungan seksual.

Ia bukan perawan sunthi, rasanya sudah tawar

(Sumidi, 1974: 56).

Hal yang senada dengan hukum sebab akibat

tersebut di atas adalah dalam hal siapa yang

terlebih dahulu berminat atau timbul rasa rindu

dendam (kangen) untuk melakukan saresmi

(nikah rohani). Hal ini perlu penghayatan waktu

atau kecermatan pengamatan untuk memahami

siapa sebenarnya yang terlebih dahulu merasa

kangen itu. Bila dalam hitungan waktu selapan

dina (tiga puluh lima hari) di antara mereka

(suami/istri) tumbuh rasa rindu dendam

terhadap pasangannya, maka bila sang istri yang

terlebih dahulu berminat sekali, dapat diamati

kemungkinannya kelak akan lahir anak laki-laki

(Budiono Heru Satoto dan Soejadi, 2002: 78).

Demikian pula sebaliknya. Pengamatan

dan pencermatan tersebut perlu dihubungkan

pula dengan ketiga hal di atas. Pengamatan dan

pencermatan terhadap tanda-tanda kemungkinan

kelak akan lahir anak perempuan atau laki-laki,

hal itu dapat dicermati melalui sarana alusing

pandulu (kehalusan daya cipta) yakni kekuatan/

kesanggupan perasaan hati (nurani) untuk

meraba. Kehalusan daya cipta ini ada 5 (lima)

alamat. Orang yang suka bermain sperma akan

hal, yakni:

menimbulkan “Batara Kala” berserakan yang

1)

berdasarkan beninging ati (kejernihan hati/

merusak harmoni kehidupan. Dalam kehidupan

kalbu)

sehari-hari, hal tersebut mudah diketemukan

2)

berdasarkan sirnaning kekarepan (hilangnya

dalam dunia kewanitaan. Sifat kekanak-kanakan

kehendak)

biasanya egois, mau menang sendiri, permintaan

3)

berdasarkan sarehing pangganda

harus dikabulkan melebihi keinginan raja. Kalau

diingatkan dia akan menangis. Bila perlu dengan

mengamuk segala rupa agar diperhatikan kehendak

dan keinginannya. Orang yang terjangkit sifat

kama atau kekanak-kanakan itu hidupnya ingin

selalu bersenang-senang, tak mau susah dan

melimpahkan penderitaan pada orang lain dengan

tega.

Seorang lelaki perlu menghindari perempuan

yang diindikasikan memiliki watak yang buruk,

yakni perempuan-perempuan yang memiliki

(mengendapnya imaji-nasi/angan-angan)

4) berdasarkan lereming pancadriya

(ketenangan panca-indera)

5)

berdasarkan jatmikaning solah bawa

(santunnya perbuatan/tingkah laku).

Bila dapat menguasai kelima kehalusan daya

cipta tersebut di atas, maka akan dapat menguasai

kemampuan untuk memahami tanda-tanda

dari sifat benih (manikem) yang sesungguhnya

(Soewandi, 1967: 18). Mengenai proses

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 istri terhadap suami dan sebaliknya merupakan kewajiban

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik kelahiran manusia, dalam budaya Jawa dikenal

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

kelahiran manusia, dalam budaya Jawa dikenal

adanya idiom kakang kawah adi ari-ari. Apakah

benar bahwa segala wujud yang keluar bersama

sang bayi ketika lahir, yakni: kawah (air ketuban),

ari-ari (plasenta), darah dan puser (potongan

pusar), adalah kadang tunggal banyu (saudara

satu sumber air) yang juga mengandung getar

cipta sang ibu, sehingga ia disebut dengan istilah

sedulur papat, kalima pancer, yakni ‘Kakang

kawah, adhiari-ari’. Apakah hanya orang Jawa

saja yang mempercayai bahwa kadang tunggal

banyu tersebut mengandung juga getar cipta ibu

yang memiliki kekuatan gaib, sehingga potholan

(tanggalan) pusar bayi seringkali dipergunakan

untuk mengobati anak-anak yang sakit? Apakah

hal ter-sebut terlalu mengada-ada dan diada-

adakan, terlalu di-besar-besarkan maknanya?

Perlu perenungan dan pengertian yang

mendalam, yang bertolak dari pemahaman

masing-masing orang. Bagi orang yang tak

beriman dan masyarakat modern masalah

tersebut dianggap tidak bermakna, Namun bagi

para sesepuh (orang yang tua pemikirannya)

yang menerima warisan nasihat-nasihat dari

pini sepuhnya (orang yang dianggap dapat

memberi nasehat) atau penasihatnya, masalah

ini dianggap sebagai suatu bentuk penghormatan

kepada Al¬lah Sang Maha Pencipta atas ‘Karya

Cipta’-Nya Yang Agung, yang telah memberikan

kepompong gaib (wadah hidup) kepada sang bayi

selama dalam kandungan ibu, yang terdiri dari

selaput ketuban, air ketuban, ari-ari (plasenta),

dan usus penghubung antara plasenta dan sang

bayi. Karena air ketuban keluar mendahului bayi,

maka ia disebut Kakang (saudara tua), sedangkan

ari-ari yang keluar setelah bayi disebut dhi

(saudara muda).

Darah ibu yang mengikuti kelahiran bayi,

dan potongan puser bayi (pangkal dari usus

plasenta/ari-ari) adalah saudara pengiring atau

penyangganya. Keempatnya disebut sedulur

papat (empat bersaudara), dan kalima pancer

(yang kelima adalah pokok pangkal) yakni sang

bayi sendiri. Sebenarnya secara lebih lengkap

saudara tua (kakang) adalah terdiri dari:

1) Selaput ketuban (saput wungkul) yang

dinamakan kakang Putih. Ujudnya dapat dilihat

setelah bayi lahir dan sisa selaput ketuban yang

mengering dan masih lekat pada kulit bayi akan

berwarna putih seperti bedak (pupur).

2) Mar (getar cipta) dan Was (rasa

kekhawatiran dan cemas) ibu yang muncul

bersamaan saat uwat (mengejan/ mengerahkan

semua tenaga fisik dan rohani, untuk mendorong

keluar sang bayi dari rahim ibu). Bersamaan

dengan tumpahnya Banyu kawah (air ketuban),

yang melicinkan jalan keluar sang bayi melewati

pintu gerbang Guwagarba (kandungan) ibu.

Sedangkan saudara muda (adik) terdiri dari:

1) Ari-ari (plasenta),

2) Getih (darah) ibu saat melahirkan,

3) Puser (potongan tali pusat bayi), dan

4) Pancer (bayang-bayang sang bayi).

Kasih sayang adalah wujud dari perasaan

saling mengasihi, saling menyayangi, menghargai,

menghormati pasangannya (Budiono Heru

Satoto dan Soejadi, 2002). Sementara nafsu

birahi seringkali menjadi nafsu atau keinginan

yang sangat kuat untuk berbuat sekehendak hati

demi mengejar kepuasan diri sendiri sehingga

naelakukan tindakan kasar, brutal, tidak senonoh,

asal puas hati sendiri karena istri dianggapnya

sebagai barang milik pribadi sepenuhnya, yang

dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Dalam

segala hal, hendaknya tetap berpangkal tolak dari

konsep etika yang telah disepakati bersama.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik kelahiran manusia, dalam budaya Jawa dikenal
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik
Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Serat Centhini menguraikan dengan gamblang bab ulah asmara, yang berhubungan dengan letak-

letak genital yang sensitif dalam kaitan permainan seks yang dikaitkan dengan sistem kalender,

pambukaning rahsaning wanita (cara membuka atau mempercepat organisme bagi perempuan), serta

panyegah wedaling rahsa (mencegah atau memperlambat agar sperma tidak cepat keluar), dan lain-lain

(Otto Sukatno, 2002 : 34). Di bawah ini terdapat dialog yang menggambarkan makna seksualitas :

Mereka semua menghormat. Cebolang bertanya lagi, “Apakah wujud aji asmaragama itu?

Bagaimana penerapannya, pengunaan dan wujud dan caranya?” Ki Ajar menjawab dengan manis,

“Aji itu artinya azimat, sebagai hiasan hati, sedangkan kata asmara artinya sengsem rasa senang

dalam hati, sanggama artinya salulut bersama-sama bergelut bercampur atau berkumpul. Jadi

asmaragama artinya pergulatan dan berkumpulnya laki-laki dan perempuan dihias oleh rasa senang

birahi dan cinta.”

Cebolang mendesak dan bertanya lagi, “Mengapa bercampurnya pria dan wanita disertai hiasan?

Bagaimana caranya?”

Ki Ajar tersenyum, jawabnya, “Masalah sahwat itu rahasia, tidak pantas bila dijelaskan dengan

lugas, karena itu uraian tentang bersanggama digubah dengan bentuk pancakara perkelahian,

peperangan. Bila kemaluan laki-laki belum kuat sekali janganlah terburu mengenakannya. Jika tidak

sampai demikian barang kali menipu, akibatnya tidak bahagia, akhirnya kecewa, kadang-kadang

menjadikan enggan bagi wanita, sebab belum puas padahal telah terlanjur membuka kemaluan. Itu

berarti tertimpa bahaya cinta, disebut katitih asmara kalah bercinta sebab belum siap tempur keburu

maju menyerang. Oleh sebab itu tidak berdaya lama, merasa lelah payah, kehilangan kekuatan. Hal

itu semua karena rahsa dan jiwa belum dikuasai oleh ulah Sanghyang Pramana.”

Ketika mendengar kata-kata sang resi, mereka tertawa dalam hati, cocok dengan semua pengalaman

mereka, sulitnya liku-liku bercinta. Cebolang berkata pelan, “Hamba berterus terang, sebenarnya

kawula kerap kali mengalami hal itu. Oleh karena bodoh, kawula tidak berkeliling dan bertanya

mencari sebabnya. Kawula lalu hanya merasa mendongkol, pegal dan sedih tambah-tambah merasa

malu, akhirnya marah-marah tanpa tujuan”.

Dalam Serat Centhini selain diungkap mengenai resep pengobatan seksual, juga diungkap mengenai

doa-doa atau mantra seksual. Itulah salah satu bukti dari ritualisasi pemaknaan dan penandaan seks

ala Jawa yang begitu khas, tetapi rumit dan kompleks. Sebuah penyatuan antara seks yang bersifat

tindakan praksis dengan seks sebagai pengungkapan emosi dan perasaan, yang berada di ranah esoterik

bahkan ideal-spiritual. Karena tanpa laku dan keyakinan, mantra tidak akan memiliki efek dan manfaat

apa-apa, baik bagi diri yang merapalnya maupun orang yang ditujunya.

Selain itu, Kamasutra juga menampilkan wacana ketubuhan secara agak dominan. Disebutkan

beberapa tipe perempuan, seperti tipe perempuan kuda, gajah, dan rusa. Di antara ciri perempuan

kuda adalah badannya sedikit tegap, kulit agak gelap, sorot mata tajam, suara agak berat. Perempuan

demikian memiliki daya seksual yang kuat. Adapun perempuan gajah memiliki ciri badan subur,

bibir tebal, payudara mantak. Perempuan demikian digambarkan dalam permainan seksnya mantap.

Sedangkan perempuan tipe rusa digambarkan memiliki tubuh kecil atau sedang. la terkesan genit

dan lincah, ramah dan menggoda berahi, serta memiliki daya tarik seksual yang sangat romantis.

Sayangnya notabene perempuan jenis ini sulit hamil. Namun jika sekali hamil, anaknya akan beruntun

(Sri Suhandjati Sukri & Sofyan, 1995: 99).

Namun dalam memilih jodoh, sebagaimana kebiasaan yang telah terus-menerus diturunkan dalam,

tradisi Jawa oleh kalangan para pangerannya, yang dalarm sosialitasnya berkembang menjadi orientasi

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Serat Centhini menguraikan dengan gamblang bab ulah

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik idealitas keperempuanan, terdapat satu anggapan bahwa

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

idealitas keperempuanan, terdapat satu anggapan

bahwa perempuan yang sebaiknya dipilih menjadi

istri, sebagaimana yang diuraikan dalam Serat

Centhini yang disitir oleh Sri Suhandjati Sukri

adalah perempuan yang benar-benar berwatak,

yang disebut sama, beda, dana, dhendba, guna,

busana, dan asana. Kalau bisa laki-laki harus

memperoleh perempuan yang memiliki watak

sawanda, saekanpraya, dan sajiwa. Adapun

maksud dari ungkapan-ungkapan tersebut adalah

sebagai berikut :

  • - Sama, yaitu memiliki watak welas asih kepada sesama makhluk hidup.

  • - Beda, yaitu mampu memilah-milah

pasangannya, yakni: bergairah sambil

mengheningkan cipta untuk merasakan dengan

mata batin apakah benih yang tercurahkan itu

nanti benih yang bermutu atau benih yang kurang

bermutu dan; apakah rasa dan gairah sang istri

sudah bangkit secara seimbang dan membalas

segala gairah kasih dari suaminya.

Bangkitnya rasa dan gairah kasih tersebut

dapat disebabkan oleh 2 (dua) hal, yakni pertama,

marahi (menuntun atau memulai) yaitu sebelum

menyatukan tubuh dalam senggama, sang suami

harus tertebih dahulu membuka rasa gairah

istri dengan tindak rayuan yang berupa elusan

dan rabaan halus penuh kasih sayang terhadap

(membedakan, mempertimbangkan atau

segala milik istrinya secara bertahap dari bagian

memilih yang lebih penting) dengan apa yang

atas tubuh sampai ke bagian bawah, tanpa ada

hendak dilakukan.

penolakan dari istri. Tujuan dan manfaatnya

  • - Dana, yaitu suka memberikan kesenangan

adalah untuk menumbuh dan meningkatkan

kepada sesama.

rasa gairah kasih sang istri. Baik sekiranya istri

  • - Dhendha, yaitu dapat menggunakan hukum atas aturan sar nalar sehat untuk melihat mana yang baik dan yang buruk atas dasar empan- empan (tempat, keadaan, situasi, dan kondisi.

  • - Guna, yaitu pandai mengetahui dan mengerti wewenang dan kewajiban terhadap seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perempuan.

  • - Busana (pakaian), yaitu bisa mengetahui dan menerapkan semua apa yang dimiliki sesuai maksud tujuan serta situasi dan kondisinya.

  • - Asana (tempat), yaitu bisa mengerti, membangun, menata dan memelihara agar rumah tampak baik dan menyenangkan hati.

  • - Sawanda (serupa atau sewarna), yaitu mampu

sudah menunjukkan puncak gairahnya, barulah

persetubuhan dimulai dengan segala hening cipta

kedua belah pihak dan bergerak bersama dengan

kendali nafsi secara gerak perlahan penuh rasa

dan kasih tnenuju puncak secara bersama-sama.

Kepuasan jiwa dan badan/ rohani dan

jasmani dalam bentuk kelegaan, kepuasan jiwa,

kekenduran syaraf dan otot-otot amat terasa

nik-mat, bersama senyuman bahagia sejahtera

lahir batin dan basah kuyupnya seluruh badan

oleh keringat yang mengucur deras bersama

terbuangnya segala ketegangan, emosional dan

rasional.

Kiranya perlu ditambahkan pula di sini bahwa

tindakan tidak senonoh untuk meruhi (melihat

menyelatraskan antara keinginan lahir

fisik) yang dipantangkan itu, bisa menimbulkan

dan keinginan batin. Dalam meladeni dan

ide-ide gila pada sang suami misalnya timbul

melayani suami laksana memperlakukan diri

keinginan untuk mengukur berapa dalamnya

sendiri.

atau ingin merasakan seperti apa sebenarnya

  • - Saekapraya, yaitu mampu menyelaraskan

bentuk permukaan kulit bagian dalam dari

keinginan diri dengan keinginan lelaki yang

va¬gina wanita/istri yang sebenarnya, dengan

menjadi suaminya.

cara memasuk-kan salah satu jari tangannya ke

  • - Sajiwa (satu jiwa), yaitu ia memiliki kesetiaan kepada lelskinya, seperti kesetiaannya kepada dirinya sendiri (Otto Sukatno, 2002 : 87).

dalam vagina istri. Hal seperti itu sangat melukai

perasaan istri dan secara fisik sangat berbahaya

karena bisa melukai kulit halus yang penuh

dengan ujung-ujung syaraf perasa yang amat

Dalam

mengolah

asmara

yang

tetap

peka terhadap benda-benda keras seperti kuku

berlandaskan kepada awas

lan

eling, bersih

jari misalnya. Luka yang ditimbulkan itu tidak

ciptanya, harus memperhatikan dan memahami

segala pertanda dari sikap dan keinginan

bisa diketahui karena berada pada bagian dalam,

tetapi akan sangat dirasakan oleh pemiliknya

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik idealitas keperempuanan, terdapat satu anggapan bahwa

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 karena kepekaan syaraf-syaraf perasanya sehingga sangat mengganggu

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

karena kepekaan syaraf-syaraf perasanya

sehingga sangat mengganggu konsentrasi pihak

istri dalam kegiatan sehari-harinya. Akibatnya

adalah pengalaman buruk pada pihak istri yang

bisa menumbuhkan rasa trau¬matic (keadaan

yang menakutkan akibat luka perasaan-nya)

sehingga segala upaya untuk mewujudkan

kembali konsentrasi cipta batinnya selalu gagal

atau membutuh-kan waktu yang lama.

Sebenarnya cipta birawa (keindahan/

ketenangan cipta) berwujud kepuasaan jiwa

dan badan (rohani dan jasmani) dalam bentuk

kelegaan, kepuasan jiwa, kekenduran syaraf dan

otot-otot, nikmat bersama senyuman, bahagia

sejahtera lahir batin. Segalanya menjadi terasa

ringan dan serasa mengapung di awang-awang,

tergolek dalam tidur yang lelap dan nyaman, yang

hanya bisa diraih dengan segala daya upaya yang

panjang dan tidak mudah. Tidak semua orang bisa

menikmatinya, tanpa daya upaya untuk belajar,

berlatih dan memahaminya secara lahir dan batin

(Budiono Heru Satoto dan Soejadi, 2002: 88).

Cipta birawa adalah surga dunia. Bahagia lahir

batin karena lepasnya segala ketegangan fisik,

emosional dan rasional.

Kesimpulan

Pengungkapan aspek seksualitas dalam

kosmologi Jawa dilakukan dengan penuh sopan

santun dan tata krama. Hal ini dapat berguna bagi

masyarakat yang menghendaki keselarasan dalam

berumah tangga. Pasangan suami istri dapat

belajar dari kosmologi Jawa untuk mengayunkan

langkah kakinya sehingga cita-cita keluarga

bahagia dapat terwujud.

Hidup berumah tangga telah diajarkan oleh

para pujangga yang sudah terkenal waskitha,

wicaksana dan tajam mata batinnya. Olah

asmara yang secara simbolik dimuat dalam

tembang asmarandana, hulu-hilirnya adalah dana

asmara, yakni keselarasan hubungan percintaan

sejati suami istri. Lika-liku laki-laki yang teruji

mutu ke-lelaki-annya merupakan muara bagi

perempuan yang teruji bobot ke-empu-annya.

Dalam berbagai literatur Kejawen terdapat

ungkapan yang mengatakan bahwa seberat-berat

beban bumi, masih lebih berat kasih sayang

seorang wanita yang menjadi ibu. Setinggi-

tingginya langit, masih lebih tinggi kehormatan

seorang pria yang menjadi bapak. Oleh karena

itu hubungan suami dan istri dalam kebudayaan

Jawa populer dengan istilah ibu pertiwi bapa

angkasa. Keduanya bersatu padu menjadi garwa,

sigaraning nyawa, jalinan kasih antara jiwa raga

lahir batin.

Perkawinan harmonis adalah perkawinan

yang berhasil membina rumah tangga yang

langgeng, dan bukan hanya berlandaskan cinta

semata. Cinta hanyalah salah satu aspek yang

dapat menimbulkan pemahaman bersama untuk

saling kasih mengasihi dan menjadi alat yang

teguh untuk mengatasi segala kesulitan dalam

menempuh hidup bersama, demi masa depan

yang lebih baik bagi keturunannya. Begitulah

ajaran luhur yang terdapat dalam kosmologi

Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Budiono Heru Satoto dan Soejadi, 2002. Seks Para Leluhur. Yogyakarta : Graha Pustaka.

Damardjati Supadjar, 1987. Unsur Kefilsafatan Sosial yang Terkandung dalam Serat Sastra Gendhing. Yogyakarta: Fak.

Filsafat UGM. Karkono Kamajaya, 1992. Serat Centhini. Yogyakarta : UP Persatuan.

Munarsih, 2004. Serat Centhini Warisan Sastra Dunia. Gelombang Pasang. Yogyakarta.

2004. Feminisme Jawa. Pustaka Raja. Yogyakarta.

, Otto Sukatno, 2002. Seks Para Pangeran, Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa. Yogyakarta : Bentang. Siswoharsoyo, 1957. Serat Guna Cara Agama. Yogyakarta: Percetakan Persatuan. Sri Suhanjati Sukri & Sofyan, 1995. Konsep Wanita dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Gama Media. Soewandi, 1967. Kawruh Salaki Rabi. Surabaya : Citra Murti. Sumidi, 1976. Sekilas Tentang Serat Centhini. Yogyakarta : Taman Siswa. Sunoto, 1981. Keluarga dan Masyarakat Jawa. Yogyakarta : Fak Filsafat UGM. Yasadipura, 1982. Serat Sasana Sunu. alih aksara oleh Sudibjo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

_______

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 karena kepekaan syaraf-syaraf perasanya sehingga sangat mengganggu

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Zuly Qodir 5 Pornografi, Agama

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Oleh: Zuly Qodir

5

Pornografi, Agama dan Kekuasaan

Ada banyak hal yang membuat kita terperangah dengan istilah yang dinamakan pornografi. Dia dianggap sebagai sesuatu yang eksploitatif atas tubuh perempuan, sekaligus sebagai pengumbaran nafsu kejahatan. Tetapi yang lebih membuat kita terperangah ternyata soal yang satu ini senantiasa tidak dapat steril dari masalah agama dan kekuasaan. Pornografi senantiasa identik dengan agama dan rezim kekuasaan. Inilah yang membuat pornografi bukan saja menarik dibahas tetapi sekaligus mengandung kontroversial.

Pornografi Dalam Arus Literasi Media

>>>> Agustus/ Tahun IV / 2010 Jurnal DIALOG Kebijakan Publik Oleh: Zuly Qodir 5 Pornografi, Agama

Jurnal DIALOG

Kebijakan Publik

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa

A. Pendahuluan

>>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa
Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa

Pornografi dalam persepktif agama senantiasa identik dengan “larangan” Tuhan pada umat manusia. Sementara pornografi terkait dengan kekuasaan rezim adalah terkait dengan kontrol dan kerangkeng atas kebebasan naluriah umat manusia.

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik A. Pendahuluan >>>> Agustus/ Tahun IV/ 2010 Pornografi dalam persepktif agama senantiasa

iklan, intertainment, dan seterusnya. Dua

posisi ini membuat diskusi pronografi

seringkali mengalami deadlock, tidak

ada titik terang jalan keluar (diskursif),

bahkan cenderung saling menyalahkan.

Lalu pornografi menjadi perdebatan

yang berbau debat kusir, dimana diantara

para pendukung berada pada posisinya

masing-masing.

Soal pornografi karena itu saya akan

tempatkan pada perspektif “manusia”

bukan Tuhan. Tuhan saya beri posisi

yang sangat tinggi, sehingga tidak

perlu mengurus masalah-masalah

estetika, masalah kesesuaian etika

ataukah pelanggaran etika. Pornografi

saya tempatkan dalam pandangan

manusia yang tentu saja dapat beragama

pemahaman tentang apa itu pornografi

dan bagaimana meresponnsya. Dari sana

saya berharap perdebatan soal pornografi

tidak mandek dan deadlock, tetapi

diskursif dan memberikan bobot pada

masalah kemanusiaan, bukan masalah

ketuhanan.

Dalam tarik menarik tentang pornografi

tersebut, tulisan ini hendak memberikan elaborasi

sekitar pornografi dalam kaitannya dengan agama

dan kekuasaan. Pornografi dalam persepktif agama

senantiasa identik dengan “larangan” Tuhan pada

umat manusia. Sementara pornografi terkait

dengan kekuasaan rezim adalah terkait dengan

kontrol dan kerangkeng atas kebebasan naluriah

umat manusia. Kemudian dimana sebenarnya

letak perdebatan yang menyita perhatian publik

soal porngrafi terjadi akan dicoba dalam urain­

uraian berikut dibawah ini.