Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

Keanekaragaman hayati disebut juga “Biodiversitas”. Keanekaragaman


atau keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya
perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat
lainnya. Keanekaragaman hayati tidak saja terjadi antar jenis, tetapi dalam
satu jenis pun terdapat keanekaragaman. Adanya perbedaan warna, bentuk,
dan ukuran dalam satu jenis disebut variasi. Untuk mendapatkan gambaran
yang lebih jelas tentang tingkatan keanekaragaman hayati, diantaranya
sebagai berikut:
1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen
Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya
sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing
induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu
individu dalam satu spesies. Perkawinan antara dua individu makhluk hidup
sejenis merupakan salah satu penyebab keanekaragaman hayati. Keturunan
dari hasil perkawinan memiliki susunan perangkat gen yang berasal dari
kedua induk. Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan
menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-
varietas (varitas) yang terjadi secara alami atau secara buatan.
2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis
Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis pada tumbuhan
atau hewan dapat diamati antara lain ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk dan
ukuran tubuh,warna, kebiasaan hidup dan lain-lain. Walaupun hewan-hewan
termasuk dalam satu familia, tetapi diantara mereka terdapat perbedaan-
perbedaan sifat yang mencolok.
3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Di lingkungan manapun di muka bumi ini, maka akan ditemukan
berbagai jenis makhluk hidup. Semua makhluk hidup berinteraksi atau
berhubungan erat dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan hidup
meliputi komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik meliputi
berbagai jenis makhluk hidup mulai yang bersel satu (uni seluler) sampai
makhluk hidup bersel banyak (multi seluler) yang dapat dilihat langsung oleh

1
kita. Komponen abiotik meliputi iklim, cahaya, batuan, air, tanah, dan
kelembaban. Ini semua disebut faktor fisik. Selain faktor fisik, ada faktor
kimia, seperti salinitas (kadar garam), tingkat keasaman dan kandungan
mineral. Di dalam ekosistem, seluruh makhluk hidup yang terdapat di
dalamnya selalu melakukan hubungan timbal balik, baik antar makhluk hidup
maupun makhluk hidup dengan lingkungnnya atau komponen abiotiknya.
Hubungan timbal balik ini menimbulkan keserasian hidup di dalam suatu
ekosistem. Perbedaan letak geografis antara lain merupakan faktor yang
menimbulkan berbagai bentuk ekosistem.
Kelestarian keanekaragaman hayati pada suatu ekosistem akan
terganggu bila ada komponen-komponennya yang mengalami gangguan.
Gangguan-gangguan terhadap komponen-komponen ekosistem dapat
menimbulkan perubahan pada tatanan ekosistemnya. Besar atau kecilnya
gangguan terhadap ekosistem dapat merubah wujud ekosistem secara
perlahan-lahan atau secara cepat pula. Contoh-contoh gangguan ekosistem ,
antara lain penebangan pohon di hutan-hutan secara liar dan perburuan hewan
secara liar dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Gangguan tersebut
secara perlahan-lahan dapat merubah ekosistem sekaligus mempengaruhi
keanekaragaman tingkat ekosistem. Bencana tanah longsor atau letusan
gunung berapi, bahkan dapat memusnahkan ekosistem. Tentu juga akan
memusnahkan keanekaragaman tingkat ekosistem.

Keanekaragaman Hayati Indonesia


Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman
hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan
kutub (iklim kutub). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini
terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti:
ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput,
ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut,
ekosistem savanna, dan lain-lain. Masing-masing ekosistem ini memiliki
keaneragaman hayati tersendiri.

2
Fauna (hewan) di Indonesi memiliki keankaragaman. Hewan-hewan di
Indonesia memiliki tipe Oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia
(Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan. Hewan-hewan di bagian Barat
Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Banyak spesies mamalia yang berukuran besar. Mamalia berkantung
jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
2. Terdapat berbagai macam kera, misalnya: bekantan, tarsius, orang utan.
3. Terdapat hewan endemik, seperti: badak bercula satu, binturong (Aretictis
binturang), monyet (Presbytis thomari), tarsius (Tarsius bancanus), kukang
(Nyeticebus coucang).
4. Burung-burung memiliki warna bulu yang kurang menarik, tetapi dapat
berkicau.
Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian timur, yaitu Irian, Maluku,
Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri hewannya
adalah:
1. Mamalia berukuran kecil
2. Banyak hewan berkantung
3. Tidak terdapat species kera
4. Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam
Sedangkan daerah peralihan meliputi daerah di sekitar garis Wallace
yang terbentang dari Sulawesi sampai kepulauan Maluku, jenis hewannya
antara lain tarsius (Tarsius bancanus), maleo (Macrocephalon maleo), anoa,
dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).
Pada makalah ini kami akan membahas mengenai salah satu
keanekaragaman fauna yang dilindungi di Indonesia yaitu sapi bali dan
banteng.

PEMBAHASAN

A. Sapi Bali (Bos sondaicus)

3
Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi asli
Indonesia, yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah
mengalami proses domestikasi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau
Bali dan Lombok (Wibisono 2009). Selain itu, sapi bali termasuk jenis sapi yang
unik dan hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman
Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon (Saputra 2008). Sapi Bali
dikenal dengan nama Balinese cow atau Bibos javanicus, meskipun sapi Bali
bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus.
Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali
diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos
(Wibisono 2009).

Gambar 1. Sapi Bali (Bos sondaicus) (Wibisono 2009).

1. Morfologi dan Ciri-Ciri Sapi Bali


Menurut Wibisono 2009, sapi Bali asli mempunyai bentuk dan
karakteristik yang sama dengan banteng. Morfologi dan ciri-ciri fisik sapi bali
adalah sebagai berikut :
a. Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis
kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih
“pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah
dewasa Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi
Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata
menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin

4
sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna
hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu
dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosteron.
b. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna
putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam
kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu
putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga.
Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan
bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan
ditemukan sekitar kurang dari 1% . Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus
(halus) pendek-pendek dan mengkilap.
c. Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
d. Badan padat dengan dada yang dalam.
e. Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
f. Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
g. Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis
belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
h. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
i. Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya
untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.

A
B
Gambar 2. A. Sapi Bali Jantan, B. Sapi Bali Betina (Wibinoso, 2009).

2. Kondisi Sapi Bali Sebagai Hewan Asli Indonesia

5
Ternak sapi merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui sebagai
salah satu aset nasional yang sangat berharga. Di antara berbagai jenis sapi yang
ada di dunia, sapi bali (Bibos sondaicus) merupakan jenis sapi yang unggul. Sapi
bali di domestikasi pertama kali di Pulau Bali. Hal ini menunjukkan bahwa sapi
bali sudah dipelihara oleh nenek moyang masyarakat Bali sejak berabad-abad
yang lalu, sehingga ternak ini sudah menjadi ciri khas Daerah Bali. Sapi Bali telah
menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia (Handiwirawan dan Subandriyo
2004), namun yang masih terjamin kemurnian genetiknya adalah yang ada di Bali.
Perkembangan sapi Bali yang sangat cepat dibandingkan dengan breed
sapi potong lainnya di Indonesia, breed ini lebih diminati oleh petani kecil. Di
daerah Bali peranan sapi Bali dapat dikategorikan peranannya secara makro dan
fungsi khusus. Peranannya secara makro adalah sebagai penyedia daging untuk
konsumen, sebagai tenaga kerja dalam memproduksi pangan, sebagai komoditi
antarpulau, sebagai bahan baku industri dan sebagai pendukung keperluan
pariwisata (penyedia daging, hiburan dan pertunjukan). Sapi Bali berperan pada
pendapatan asli daerah, karena peranan subsektor peternakan dalam hal ini cukup
menonjol, belum termasuk tenaga kerja dan pupuknya yang sangat berarti bagi
petani. Sedangkan secara mikro peranannya yaitu sesuai dengan tujuan
pemeliharaannya yaitu sumber pendapatan/penghasilan rumah tangga, sumber
peningkatan pendapatan, sumber pupuk yang potensial, memberikan lapangan
kerja bagi pemeliharanya. Peranan dan fungsi khusus sapi bagi orang Bali adalah
sebagai sarana upacara Pitra Yadnya sebagai pengantar roh ke surga.
Dalam aspek reproduksi terjadi penurunan ‘calf crop’ dari tahun ke tahun.
Pada tahun 1983, 1986, 1987 di Kabupaten Enrekang terjadi penurunan ‘calf
crop’ sebesar 50,20 %, 39,40 % dan 28,10 %, sedangkan di Kabupaten Wajo dari
tahun 1984, 1985, 1986 sampai 1987 ‘calf crop’ masing-masing sebesar 61,20 %,
29,40 %, 27,40 % dan 31,70 % . Menurut beberapa ahli standar rata-rata berat
lahir anak sapi Bali adalah 15,9 kg atau bevariasi antara 12,6-18 kg dan antara
11,0-12,5 kg. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa telah terjadi
penurunan kualitas genetik sapi Bali di Sulawesi Selatan yang dapat disebabkan
oleh banyak faktor yaitu adanya pengeluaran bibit sapi dari Sulawesi Selatan
dengan tinggi badan sapi 105 cm, (kemudian turun menjadi 102 cm) pada umur

6
1,5 - 2,0 tahun dan adanya peraturan pemerintah yang melarang mengeluarkan
sapi potong dari Sulawesi Selatan yang beratnya kurang dari 275 kg.

Gambar 3. Peran sapi bali dibidang peranian (Handiwirawan 2004).

3. Perkembangan dan Persebaran Sapi Bali Saat Ini di Indonesia


Sapi Bali yang berasal dari Pulau Bali dipandang sebagai pusat
perkembangan sekaligus sebagai pusat pembibitan, yang kemudian menyebar dan
berkembang hampir ke seluruh pelosok nusantara. Penyebaran sapi Bali di luar
Pulau Bali merambah ke Sulawesi Selatan pada tahun 1920 dan 1927 (Herweijer
1950 dan Pane 1991), ke Lombok pada abad ke-19 (Hardjosubroto dan Astuti
1993), ke Pulau Timor pada tahun 1912 dan 1920 (Herweijer 1950). Selanjutnya
sapi Bali berkembang sampai ke Malaysia, Philipina dan Australia bagian Utara.
Sapi Bali diintroduksi ke Australia antara tahun 1827-1849 (National Research
Council 1983).
Sejak munculnya penyakit Jembrana pada tahun 1964 hingga saat ini Bali
tidak mengeluarkan sapi pembibitan lagi. Penyebaran yang dilakukan hampir ke
seluruh wilayah Indonesia pada akhir-akhir ini berasal dari daerah Lombok,
Timor dan Sulawesi Selatan melalui berbagai proyek (Pane 1990). Menurut
Guntoro 2002, pada Tahun 1990 jumlah populasi sapi Bali di seluruh Indonesia
mencapai sekitar 3 juta ekor yang tersebar di berbagai provinsi, mulai dari Aceh
hingga Irian Jaya. Dari populasi tersebut sekitar 82% terdapat di 4 provinsi utama,
dengan urutan populasi sebagai berikut Sulawesi selatan sekitar 1.200.000 ekor,
NTT 600.000 ekor, dan provinsi Bali 450.000 ekor. Peringkat berikutnya adalah
NTB yang memiliki sapi Bali sebanyak 350.000 ekor. Berdasarkan Entwistle et al

7
2001, sekitar 2.916.944 ekor terkonsentrasi pada beberapa daerah seperti Bali,
NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sumatera. Sementara pada tahun 2002 seluruh
populasi sapi Bali di Indonesia diperkirakan mencapai hampir 3,5 juta ekor
(Guntoro 2002).
Di antara berbagai bangsa sapi yang terdapat di Indonesia sapi Bali
merupakan salah satu jenis sapi yang terdapat dalam jumlah yang cukup banyak
dan tersebar hampir ke seluruh Indonesia. Penyebaran yang lebih luas terjadi sejak
adanya kebijakan menggalakan penyebaran sapi Bali. Dengan adanya kebijakan
menggalakan penyebaran sapi Bali melalui program intensifikasi dan
ekstensifikasi peternakan, maka diperlukan bibit sapi Bali yang berkualitas baik
dengan jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan sapi pembibitan ini.
Melalui UU Peternakan No.6 tahun 1968 Pemerintah memutuskan bahwa pulau
Bali merupakan sumber bibit sapi Bali murni, sehingga ke pulau ini tidak
diperkenankan memasukkan bangsa sapi lain ke pulau ini.

Gambar 4. Peta Persebaran Sapi Bali (Guntoro 2002)

4. Kelebihan dan Kelemahan Sapi Bali


• Kelebihan Sapi Bali
Pedet Sapi Bali termasuk jenis yang disukai oleh para peternak karena
dwiguna, disamping bisa sebagai sapi pekerja juga sapi pedaging, serta
mempunyai banyak keunggulan seperti :

1. Subur (cepat berkembang biak/ fertilitas tinggi)

8
Sapi bali memiliki penampilan reproduksi dan produksi yang unggul
sebagai jenis sapi tipe pedaging. Secara umum sapi induk betina dapat
melahirkan anak satu ekor per periode melahirkan, dengan bobot lahir
anak sekitar 16.5 ± 1.54 kg untuk anak jantan, dan 15.12 ± 1.44 kg untuk
anak betina, (Pastika & Darmadja 1976). Sedangkan bobot sapihnya (umur
205 hari) sekitar 87.6 ± 7.23 kg untuk yang jantan, dan 77.9 ± 7.53 kg
untuk yang betina. Umur pubertas sapi bali jantan adalah 21 bulan dan
sapi bali betina, sekitar 15 bulan, namun umur betina yang dianjurkan saat
kawin pertama minimal 18 bulan. Lama bunting sekitar 285.59 ± 14.72
hari, dan interval beranak berkisar antara 528 ± 155 hari, (Darmadja
1980). Berat badan pada saat dewasa (umur 3-4 tahun) dapat mencapai
335 ± 75 kg, sedangkan yang betina 247 ± 39 kg.
2. Mudah beradaptasi dengan lingkungannya,
3. Dapat hidup di lahan kritis.
4. Mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.
5. Persentase karkas yang tinggi.
6. Harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat.
7. Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu
jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF (Malignant
Catarrhal Fever). Sapi Nusa Penida juga dapat menghasilkan vaksin
penyakit jembrana.
8. Kandungan lemak karkas rendah.
9. Keempukan daging tidak kalah dengan daging impor.
• Kelemahan Sapi Bali
Dari berbagai kelebihan tersebut, Sapi Bali juga memiliki kelemahan
walaupun hanya sedikit, diantaranya :
1. Pertumbuhan yang lambat
2. Tekstur daging yang alot dan warna yang gelap sehingga kurang baik
digunakan sebagai steak, slice-beef, sate dan daging asap
3. Dapat terserang virus Jembrana yang menyebar melalui media “lalat”.
Tahun 1964 muncul suatu wabah penyakit baru yang dikenal sebagai
penyakit jembrana. Penyakit ini sangat fatal pada sapi Bali, tetapi sapi lain

9
lebih tahan. Puluhan ribu sapi Bali di Bali mati dalam tempo singkat
ketika wabah pertama timbul. Baru pada tahun 1991, sebuah tim penyidik
berhasil mengidentifikasi virus lenti sebagai penyebab penyakit jembrana.
Virus ini masih satu famili dengan (virus) HIV, penyebab penyakit AIDS
pada manusia.
4. Rentan terhadap penyakit ingusan (snot ziekte) atau malignant catarrhal
fever (MCF). Di antara ras sapi, sapi Bali paling peka terhadap infeksi
virus MCF. Penyakit ini tidak menular dari sapi ke sapi, tetapi virus
penyebabnya ditularkan domba (biri-biri) yang bertindak sebagai
pembawa virus, tanpa menderita sakit. Gejala sebelum kematian tidak
tampak sama sekali.
5. Penyakit lain bernama Bali Ziekte karena banyak ditemukan pada sapi
bali. Penyakit disebabkan oleh tanaman yang mampu merusak sel-sel hati
(hepatotoksik) dan menimbulkan dermatitis fotosensitisasi. Pada musim
kemarau, apabila hijauan makanan ternak langka, sapi Bali akan makan
tanaman yang tidak lazim dimakan. Karenanya saat menjelang musim
kemarau sebaiknya ternak sapi Bali diawasi dan dipelihara dengan baik
terutama menyangkut penyediaan pakan.
6. Selain itu yang biasa menyerang sapi Bali berupa penyakit Sura dan
Brucellosis serta penyakit internal lainnya tapi masih dalam stadium yang
tidak membahayakan. Kasus penyakit dan berakibat kematian sangat
minim, kalaupun ada kematian biasanya disebabkan karena salah
penanganan oleh peternak.

5. Metode Peningkatan Kualitas Genetik Sapi Bali


Peningkatan kualitas genetik sapi Bali biasanya dilakukan dengan dua
cara, yaitu secara alami (kawin dengan sapi jantan pemacek) dan dengan
inseminasi buatan (IB). Dalam hal ini, inseminasi buatan dilakukan menggunakan
semen dari jantan sapi Bali unggul. Sedangkan kawin alami dapat dilakukan
dengan pengadaan sapi Bali betina yang baik dan sapi Bali pejantan yang unggul
(Wello 2010). Tetapi, perkawinan secara alami biasanya tidak dihasilkan anak
yang baik, mengingat sapi jantan pemaceknya tidak cukup baik. Untuk

10
mendapatkan anak sapi yang baik, perkawinan dengan inseminasi buatan lebih
menjanjikan mengingat inseminasi buatan menggunakan sperma dari sapi
pejantan unggul (Hidayat 2010). Teknologi inseminasi buatan (IB) ini dipilih
karena dari seekor pejantan IB dapat menghasilkan sekitar 20.000 keturunan
dibandingkan jika secara alami yang hanya 40 ekor dalam setahunnya. Teknologi
ini menuntut suatu jaminan bahwa pejantan yang digunakan harus bermutu unggul
dan tidak menurunkan karakter yang jelek. Oleh karena itu setiap calon pejantan
IB harus menjalani uji zuriat (progeny test) terlebih dahulu. Inseminasi buatan
(IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina
dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan
alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara
alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari,
sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan
hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan
sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara
efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez 1993).
Ada tiga tahapan yang harus dilakukan secara berurutan untuk
meningkatkan kualitas genetik sapi bali (Wello 2010):
Tahap I.
Pada tahap ini dilakukan pembelian dan atau seleksi sapi Bali betina
sebanyak 100-300 ekor sebagai populasi dasar. Kriteria yang digunakan pada
seleksi ini ialah:
- Sapi betina siap kawin
- umur sapi ± 1,5 tahun (umur rata-rata siap kawin).
- berat badan sapi diatas rata-rata berat pada umur 1,5 tahun.
- berasal dari induk yang subur
Disamping kriteria diatas juga diperhatikan anatominya (exterior), kondisi tubuh,
kesehatan dan juga sifat keindukan (mothering ability).

Tahap II.

11
Setelah populasi dasar dipelihara selama 3-4 tahun (penyesuaian
lingkungan), dilakukan seleksi tahap II dengan memilih 90% dari populasi dasar.
Sapi yang tidak terpilih, digemukkan kemudian dijual sebagai sapi finisher. Sapi
betina yang terseleksi dikawinkan dengan pejantan unggul (IB) yang akan
menghasilkan F1. Semua semen yang digunakan adalah semen sapi Bali yang
direkomendasikan oleh Dirjen Peternakan. Diharapkan dengan IB ini minimal
90% yang bunting dan melahirkan dengan baik sehingga akan diperoleh anak sapi
(F1) yang kualitas genetiknya lebih baik dari populasi dasar dan jauh lebih baik
dari sapi rakyat. Secara teoritis akan diperoleh 50% betina dan 50% jantan. Anak
sapi dipelihara bersama dengan induknya sampai pada umur 6-7 bulan, (standar
umur berat sapi umur 200 hari). Mortalitas anak sapi diharapkan maksimal 5%.
Untuk memaksimalkan mutu genetik maka semua anak sapi diberikan pakan
konsentrat, demikian pula induknya, sebab kemampuan genetik hanya bisa
nampak secara maksimal pada fenotipe jika didukung oleh lingkungan yang baik
termasuk kualitas pakan.
Tahap III.
Setelah anak sapi betina mencapai umur 365 hari dan jantan 550 hari maka
dilakukan seleksi terhadap F1. Banyaknya yang akan diseleksi tergantung kepada
kebutuhan, yang dapat dilihat dari 2 aspek yaitu:
1. Keinginan untuk mendapatkan bibit betina yang lebih banyak untuk
mempercepat penyebaran bibit F1.
2. Keinginan untuk meningkatkan kualitas bibit betina lebih banyak dalam
Mini Ranch, yang berarti F1 yang disebarkan ke petani lebih sedikit, dan
lebih banyak F1 sapi betina yang dipertahankan dalam Ranch untuk
menghasilkan F2. Tetapi masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Untuk mendapatkan F2 maka kita melakukan perkawinan
secara ‘Out Breeding’ untuk menghindari ‘Inbreeding’ dengan sistem
‘Back Cross’, selanjutnya dilakukan lagi seleksi seperti pada F1.
Dengan cara seperti diatas kita dapat melanjutkan untuk mendapatkan F3
dan seterusnya agar kelak kita dapat memperoleh bibit-bibit betina elit dan
pejantan unggul. Khusus untuk mendapatkan pejantan unggul sebagai donor
sperma maka seleksi perlu dilanjutkan dengan ‘Progeny test’. Seleksi Tahap I, II,

12
III dan seterusnya dilakukan setiap tahun sehingga peningkatan genetik sapi
petani dapat meningkat terus dan dalam waktu yang sama kita juga berusaha
memperoleh bibit yang lebih baik dalam pusat-pusat pembibitan di setiap
kabupaten.
Manfaat penerapan bioteknologi IB pada ternak (Hafez 1993) adalah
sebagai berikut :
a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan
dalam jangka waktu yang lama;
e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian
walaupun pejantantelah mati;
f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan
karena fisik pejantan terlalu besar;
g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang
ditularkan dengan hubungan kelamin.
Peningkatan kualitas genetik sapi Bali juga dapat dilakukan dengan perkawinan
alami walaupun hasil yang di dapat tidak sebanyak dan secepat jika menggunakan
IB. Perkawinan silang dengan bangsa sapi Bos Taurus dan Bos indicus juga
mampu manghasilkan sapi hasil persilangan yang memiliki produktivitas cukup
baik. Peningkatan kualitas sapi Bali dapat dilakukan dengan menghindari adanya
inbreeding pada perkawinanalamisapi Bali ataupun pada IB.

13
A B
Gambar 5, A. Proses Inseminasi Buatan dan B. Proses kawin alami pada sapi bali (Hafez 1993).
6. Kendala Dalam Peningkatan Kualitas Sapi Bali
Penurunan kualitas genetik pada sapi Bali saat ini menjadi perhatian
khusus untuk dapat meningkatkan kembali produksinya kerena sapi Bali dianggap
sebagai sapi asli Indonesia yang mampu bertahan dan tumbuh dengan baik di
Indonesia. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas genetik
sapi Bali adalah dengan menyilangkan sapi Bali dengan banteng. Banteng
merupakan nenek moyang sapi Bali sehingga upanya penyilangan ini diharapkan
dapat meningkatkan kembali kualitas genetik sapi Bali. Namun terdapat beberapa
kendala dalam sistem ini salah satunya karena jumlah banteng asli Indonesia (Bos
javanicus) yang memiliki daya tahan dan adaptasi yang baik di wilayah tropis
seperti Indonesia semakin berkurang jumlahnya.
Adanya penurunan populasi dan kelangkaan Banteng lebih disebabkan
oleh perburuan liar dan berkurangnya habitat akibat pembukaan lahan untuk
pemukiman dan pertanian. Penurunan populasi juga disebabkan oleh persaingan
dengan binatang lainnya dan pemangsaan yang berlebih oleh Ajag (Cuon alpinus).

14
Kendala lainnya adalah tingkat kematian pedet pra sapih yang mencapai 15
sampai 20 % serta peningkatan kualitas genetik sapi memerlukan jangka waktu
yang lama dan biaya yang cukup besar. Menurut Ternakonline (2010), meskipun
kemampuan reproduksi sapi Bali merupakan yang terbaik diantara sapi-sapi lokal.
Hal ini disebabkan sapi Bali bisa beranak setiap tahun.
Secara umum, ada beberapa cara yang dapat ditempuh dan dikombinasikan
satu dengan yang lain untuk mempercepat peningkatan kualitas genetik dan
sekaligus meningkatkan populasi ternak sapi Bali yaitu (Arismunandar 2009):
1. Melakukan pengebirian terhadap semua sapi jantan atau anak sapi jantan
yang bukan pejantan atau yang tidak akan digunakan sebagai pejantan.
2. Mendatangkan pejantan unggul untuk dijadikan pejantan atau sebagai
donor sperma.
3. Membangun pusat pembibitan pada tingkat kabupaten yang potensil dan
pada tingkat propinsi.
4. Solusi lainnya, dengan menggalakkan Inseminasi Buatan dengan
menggunakan sperma dari pejantan sapi Bali unggul yang ada ataukah
mendatangkan sperma dari pusat IB seperti di Lembang. Selain itu, dengan
menggalakkan Transfer Embrio yang dikombinasikan dengan IB.
Namun mewujudkan kelima poin di atas tidaklah mudah, adanya
kebijakan pemerintah mengenai pengeluaran plasma nutfah atau bibit unggul dari
luar daerah diatur sedikit ketat. Upaya perbaikan mutu genetik sapi Bali yang saat
ini telah dilakukan melalui seleksi dan uji keturunan berhasil mendapatkan sapi
dengan nilai pendugaan yang lebih baik. Pejantan elit yang dihasilkan diharapkan
dapat memperbaiki sapi Bali secara keseluruhan melalui program IB. Peningkatan
produktivitas ternak dapat dilakukan melalui perbaikan mutu pakan dan program
pemuliaan melalui seleksi dan persilangan. Perbaikan mutu pakan dan manajemen
dapat meningkatkan produktivitas, tapi tidak meningkatkan mutu genetik.
Perbaikan produktivitas tersebut sering kali bersifat sementara dan tidak
diwariskan pada turunannya. Perkawinan silang dapat meningkatkan produktivitas
dan mutu genetik, namun membutuhkan biaya besar dan harus dilakukan secara
bijak dan terarah, karena dapat mengancam kemurniaan ternak asli, (Rusfidra
2006).

15
B. Banteng (Bos javanicus)
Banteng Liar atau biasa disebut dengan Banteng saja merupakan hewan
mamalia yang berkerabat dengan sapi. Banteng Jawa (Bos javanicus) merupakan
satu dari 5 (lima) spesies Banteng yang ada di dunia (satu spesies telah punah)
(Alamendah 2010). Banteng (Bos javanicus) terdiri atas tiga subspesies (sub-
jenis) yakni Bos javanicus javanicus (terdapat di Jawa, Madura, dan Bali,
Indonesia), Bos javanicus lowi (terdapat di Kalimantan) dan Bos javanicus
birmanicus (terdapat di Indocina). Banteng merupakan satwa yang dilindungi di
Indonesia. Populasinya semakin mengalami penurunan. Oleh IUCN Redlist,
Banteng dikategorikan dalam status konservasi “Endangered” atau “Terancam
Kepunahan”.

Gambar 6. Banteng (Bos Javanicus) (Alamendah 2010).

Selain Banteng Jawa (Bos javanicus) sedikitnya terdapat 4 spesies banteng


lainnya diseluruh dunia. Satu spesies telah dinyatakan punah. Kelima spesies
Banteng tersebut adalah:
• Bos javanicus (Banteng)
• Bos gaurus (Indian Bison) yang biasa diadu dengan matador di Spanyol
• Bos mutus (Wild Yark)
• Bos souveli (Grey Ox)
• Bos primigenius (Auroch) yang telah punah (Alamendah 2010).

1. Morfologi dan Ciri-Ciri Banteng


Banteng merupakan hewan yang besar, tegap dan kuat dengan memiliki
bahu depan yang lebih tinggi daripada bagian belakang. Pada bagian kepala

16
terdapat sepasang tanduk. Pada bagian tengah dada terdapat gelambir (dewlap)
memanjang dari pangkal kaki depan hingga leher, tetapi tidak mencapai daerah
kerongkongan. Banteng (Bos javanicus) mempunyai tinggi sekitar 160 cm dengan
panjang antara 190-225 cm. Meskipun beberapa banteng mampu memiliki berat
hingga 1 ton tetapi rata-rata banteng jantan memiliki berat berkisar antara 600-800
kg, sedangkan Banteng betina memiliki berat dan ukuran yang lebih kecil.
Banteng memiliki sepasang tanduk dikepalanya yang panjangnya berkisar antara
60-75 cm. Kulit kaki bagian bawah, punuk, dan daerah sekitar mata dan moncong
Banteng (Bos javanicus) berwarna putih. Pada Banteng berkelamin jantan
memiliki kulit berwarna biru kehitam-hitaman atau coklat gelap dengan punuk di
bagian pundak dan tanduk yang melenkung ke atas, sedangkan pada Banteng
betina memiliki kulit berwarna coklat kemerahan tanpa punuk dan tanduk yang
mengarah ke dalam.

A B
Gambar 7. A. Banteng jantan, B. Banteng betina (Huffman 2005).

Banteng mampu hidup hingga berumur 20 tahun dengan masa kedewasaan


ketika berusia 2-3 tahun. Banteng betina mempunyai lama kehamilan hingga 285
hari dan umumnya hanya melahirkan satu anak saja dalam satu masa kehamilan.
Bayi Banteng akan disapih ketika berusia 6-9 bulan. Banteng hidup secara
berkelompok dengan jumlah kawanan antara 2-40 individu dengan satu Banteng
jantan. Banteng-banteng jantan muda hidup sendirian atau dalam kelompok-
kelompok kecil bujang.
Banteng merupakan binatang herbivora yang memakan rumput, dedaunan,
dan buah-buahan. Diperkirakan Banteng sangat menyukai jenis rerumputan dari

17
spesies Ischaemum muticum, Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, dan
Cynodon dactylon. Banteng umumnya aktif baik pada siang ataupun malam hari.
Namun pada wilayah-wilayah yang dekat dengan pemukiman manusia Banteng
cenderung untuk beradaptasi sebagai binatang nokturnal yang aktif pada malam
hari (Saari 2002).

2. Kondisi Banteng Saat Ini di Indonesia


Saat ini populasi banteng yang terdapat di Indonesia hanya terdapat di
area-area yang terisolasi di Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa. Selain itu, karena
populasinya yang dapat dikatakan sangat rendah, maka jarang sekali ditemukan di
hutan-hutan yang bukan merupakan kawasan taman nasional. Penurunan akan
populasi banteng semakin lama semakin menurun. Menurut Jason 2008, di benua
Asia sendiri populasi banteng telah menurun sebesar 80% selama 20 tahun
terakhir. Hal ini telah dialami pada beberapa kawasan taman nasional. Pada
Taman Nasional di daerah Garut, karena terjadi kerusakan hutan seluas 68 ha,
populasi banteng liar Jawa (Bos javanicus javanicus) yang biasa hidup di kawasan
pesisir selatan Jawa Barat sudah tidak ditemukan lagi.
Populasi banteng terus-menerus turun di Taman Nasional Alas Purwo dari
tahun 1999 sampai tahun 2003 dari populasi yang tadinya berjumlah 110 ekor
hingga menurun drastis hingga 17 ekor. Namun, karena terus dilakukan upaya
rehabilitasi terhadap banteng, maka populasi naik hingga 62 ekor walaupun
jumlah tersebut dirasa belum maksimal (Zulka 2009).

3. Perkembangan dan Persebaran Banteng Saat Ini di Indonesia


Populasi banteng Di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) diperkirakan
terdapat 300-700 ekor Banteng (tahun 2003), 200 ekor di Taman Nasional Meru
Betiri (2000), 200 ekor di Taman Nasional Baluran (2002), 80 ekor di Taman
Nasional Alas Purwo (2002). Populasi-populasi yang lebih kecil juga terdapat di
beberapa tempat seperti di Cagar Alam Cikepuh-Cibanteng, Pangandaran,
Malang, dan Kediri.

18
Gambar 8. Peta Persebaran Banteng (Guntoro 2002).

4. Tingkat Kelangkaan Banteng Sebagai Nenek Moyang Sapi Bali


Karena populasi banteng yang terus mengalami penurunan sejak tahun
1996, banteng dinyatakan dalam status konservasi “Endangered” (EN; Terancam
Punah) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Namun,
sampai saat ini hewan ini belum terdaftar dalam CITES (Convention on
International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora) meskipun
sejak 1996 telah diusulkan untuk didaftar dalam CITES Apendiks I. Berdasarakan

19
lampiran peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 7 tahun 1999 tanggal 27
januari 1999, banteng masuk dalam daftar jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang
dilindungi.
Salah satu penurunan populasi dan kelangkaan Banteng lebih disebabkan
karena ulah manusia dan adanya hewan pemangsa di alam bebas yang
mengancam keselamatan hidup banteng. Hal-hal tersebut juga dapat
menyebabkan keluarnya populasi banteng yang tadinya berdiam di kawasan
taman nasional, keluar dari kawasan tersebut.
Tiuria et al 2008, menyatakan beberapa kendala yang menyulitkan
pertambahan populasi satwa liar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perambahan dan gangguan habitat oleh penduduk
2. Kompetisi anatra satwa badak dan banteng dalam hal penggunaan ruang
3. Kulaitas genetik yang makin menurun akibat in breeding
4. Rasio jantan betina yang tidak seimbang
5. Penyakit hewan yang dapat menyebabkan kematian maupun penurunan
kemampuan reproduksi.
Walaupun begitu, upaya rehabilitasi dari penambahan populasi terus
dilakukan, salah satunya adalah dengan melakukan upaya domestikasi terhadap
banteng. Upaya ini telah banyak dilakukan di banyak lokasi, sebagian besar upaya
ini dilakukan di Pulau Bali, dimana telah dilakukan perkawinan antara banteng
dengan sapi daerah lokal, yang keturunannya lebih dikenal dengan sapi bali.
Sampai saat ini telah dihasilkan populasi banteng domestikasi sebanyak kurang
lebih 1,5 juta di pulau tersebut (Huffman 2005).

5. Kesamaan Genetik Banteng Dengan Sapi Bali


Kesamaan genetik antara banteng dan sapi bali dapat dilihat dari:
a) Jenis kromosom yang identik sama antara sapi bali dengan banteng.
b) Kesamaan dalam bentuk tulang kepala.

20
A B
Gambar 9. A. Bentuk tulang kepala Banteng dan B. bentuk tulang kepala Sapi bali.

c) Banteng betina dan sapi bali betina memiliki kesamaan kulit coklat
kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk.
d) Banteng jantan dan sapi bali jantan memiliki kesamaan pada warna bulu
yang lebih gelap dibanding dengan betina, warna berubah dari merah bata
menjadi coklat tua atau hitam setelah mencapai dewasa kelamin sejak umur
1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun, serta tanduk panjang
berkembang ke arah keluar kepala.

B
A

C D

Gambar 10, Persamaan antara A. Banteng betina dan B. Sapi Bali betina.
e) Memiliki bagian putih pada kakiC.yang
Banteng jantan
biasa dan D. kaos
disebut Sapi Bali
kakijantan.
(banteng di
seluruh bagian kaki; sapi bali di bawah persendian carpal dan tarsal).
f) Memiliki cermin putih (white mirror) di bagian pantat.

21
6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sulitnya Persilangan Antara
Banteng Dengan Sapi Bali.
Banteng mempunyai sifat menyukai daerah yang luas dan tidak ada
gangguan alami, daerah yang banyak terdapat garam, daerah moonson forest,
savanna dan blang, suka hidup berkelompok, dan suka melakukan perjalanan jauh
sambil makan, serta kurang tahan terhadap terik matahari sehingga banteng sering
berlindung di bawah pohon rindang dekat padang rumput atau savanna.
Selain itu, banteng juga sulit dihandle sehingga sulit pula untuk dilakukan
peningkatan genetik misalnya melalui inseminasi buatan (IB) dan masa
kebuntingannya cukup lama yaitu 285 hari serta umumnya hanya melahirkan satu
anak saja dalam satu masa kehamilan (Alamnedah 2010).
Kawin alam sebagai alternatif lain untuk meningkatkan populasi agak sulit
diwujudkan mengingat padang penggembalaan yang berfungsi sebagai sumber
makanan, tempat makan, tempat istirahat, tempat perkawinan, tempat melahirkan
dan membesarkan anak lebih banyak tertutup oleh Bambu Jajang (Giganthochloa
apus), Plumping (Panicium repens L.), Telekan (Lantana camara L.) sehingga
banteng tidak dapat melakukan kawin alam. Faktor yang menyebabkan
berkurangnya populasi banteng selain karena faktor utama habitatnya rusak. Juga
karena faktor alam. Banteng tersebut sering kali ditemukan mati terperosok ke
jurang. Hal ini dikarenakan oleh banteng mempunyai daya jelajah yang sangat
jauh, karena tidak mengenal medan, banteng itu seringkali terjebak dan terperosok
jurang hingga mati.

7. Usaha Persilangan Banteng dan Sapi Bali di Indonesia.


Pada bulan Maret 2010 Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan
Disnakeswan kabupaten Pandeglang akan mengembangkan ternak hasil
perkawinan bateng dengan sapi bali. Hasil dari kegiatan ini belum dilapokan.
Namun kegiatan yang dilakukan merupakan solusi yang tepat untuk meningkakan
kualitas sapi bali. Selain di Taman Nasional Ujung Kulon, perkawinn secara
buatan (IB) antara banteng dan sapi bali juga dilakukan di Taman Safari II (TSI
II) Prigen Pasuruan, bahkan oleh kementrian pertanian, kehutanan dan LIPI, TSI

22
II ditunjuk sebagai tempat rekayasa genetika untuk persilangan sapi bali dengan
banteng.

KESIMPULAN
Secara genetik, banteng merupakan nenek moyang sapi bali. Hal ini
terlihat dari adanya kemiripan genetik antara banteng dan sapi bali. Saat ini
banteng terasuk dalam kategori satwa yang dilndungi menurut PP no 7 tahun 1999
dan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) temasuk ke
dalam endarged animal. Persilangan antara sapi bali dengan banteng dapat
dilakukan. Hal ini terlihat dari upaya yang telah dilakukan oleh Taman Nasional
Ujung Kulon dan di Taman Safari Indonesia II untuk melakukan perkawinan
banteng dan sapi bali melalui IB. Namun, sejauh ini perkawinan antara banteng
dan sapi bali belum dilaksanakan secara maksimal di Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan kurangnya data tentang hasil perkawinan tersebut.

SARAN
Untuk mengatasi terjadinya kelangkaan dalam peningkatkan kualitas mutu
genetik , sebaiknya dilakukan:
Menjaga populasi sapi Bali dan banteng dengan tujuan untuk mencegah
agar tidak terjadi kepunahan.
Mengoptimalkan sumberdaya alam hayati secara lestari.
Menjadikan bibit sapi bali dan banteng sebagai plasma nutfah yang harus
dilindungi kualitas genetiknya.
Mengoptimalkan kegiatan pengawinan sapi Bali dan banteng agar kualitas
genetik sapi bali meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

23
Arismunandar. 2009. Potensi dan Keragaman Sumber Daya Genetik Sapi Bali.
[terhubung berkala] http://ciqquittaris.blog.com/ [24 Mei 2010]

Guntoro S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta: Kanisius.

Hafez ESE. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction
in Farm Animals. 6th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.

Hardjosubroto W. dan J.M. ASTUTI. 1993. Buku Pintar Peternakan. Jakarta: PT


Gramedia Widiasarana Indonesia.

Herweizer CH. 1950. Enkele aantekenigen btreffende de geschiedenis van de


runderveeteelt op het Eiland Timor. Hemera Zoa 56: 689.

Hidayat. 2010. Beternak Sapi Bali.


http://uripsantoso.wordpress.com/2010/01/17/beternak-sapi-bali-3/. [24
Mei 2010]

Huffman B. 2005. Adult male banteng :


Bos javanicus.
http://www.ultimateungulate.com/Images/Bos_javanicus/B_javanicus3.ht
ml. [22 Mei 2010].

Meijer WCP. 1962. Das Balirind. A. Ziemsen Verslag, Wittenberg Lutherstandt.

Namikawa T, O Takenaka and K Takahashi. 1983. Hemoglobin Bali (bovine):


βA18(Bl)Lys → his: One of the “missing links” between βA and βB of
domestic cattle exists in the Bali cattle (Bovinae, Bos banteng).
Biochemical Genetics.

[National Research Council]. 1983. Little-Known Asian Animals with a


Promising Economic Future. Washington, D.C.: National Academic
Press.
NOZAWA, K. 1979. Phylogenetic studies on the native domestic
animals in East and Southeast Asia. Proceeding Workshop Animal
Genetic Resources in Asia and Oceania. Tsukuba, 3-7 September 1979.
Tsukuba: Society for the Advancement of Breeding Researches in Asia
and Oceania (SABRAO). Hlm 23-43.
.
Pane I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Pros. Seminar Nasional Sapi
Bali. 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin.
Ujung Pandang.

Payne WJA, and Rollinson, D.H.L. 1973. Bali Cattle. World Anim. Rev. 7, 13–21.

[Pengendali Ekosistem Hutan]. 2009. Laporan Kegiatan Pengamatan


Terkonsentrasi Banteng (Bos javanicus) di Tempat Minum/ Kubangan
STPNW 1 Bengkol. Situbondo: Balai Taman Nasional Baluran.

24
Purwanti M dan Harry. 2006. Upaya Pemuliaan dan Pelestarian Sapi Bali di
Provinsi Bali. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 1 No. 1, Mei 2006.

Rusfidra A, 2006. Dasar Fisiologis Pewarisan Sifat. Bahan ajar Dasar Pemulian
Ternak, Fakultas Peternakan UNAND Padang.

Saari J. 2002. Bos javanicus : Banteng.


http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Bos_ja
vanicus.html. [22Mei 2010].

Saputra E D. 22 Juli 2008. Sapi Bali sebagai plasma nutfah dan peranannya bagi
petani. [terhubung berkala]. http://balivetman.wordpress.com. [19 Mei
2010]

[Ternakonline]. 2010. Bangsa-Bangsa Sapi Potong. [terhubung berkala].


http://ternakonline.wordpress.com/2009/08/15/bangsa-bangsa-sapi-
potong/ [23 Mei 2010]

Timmins, R.J., Duckworth, J.W., Hedges, S., Steinmetz, R. & Pattanavibool, A.


2008. Bos javanicus. In: IUCN 2010. IUCN Red List of Threatened
Species. Version 2010.1. www.iucnredlist.org. [22 Mei 2010].

Tiuria R, Jimmy P, Ripta M, Bambang P, Adhi R. 2008. Kecacingan trematoda


pada badak jawa dan banteng jawa di taman Nasional Ujung Kulon.
Jurnal veteriner juni 2008 vol. 9 no 2: 94-98.

Wello B dan Ismartoyo. 2010. Strategi Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik
Sapi Bali di Sulawesi Selatan. [terhubung berkala]
http;//disnaksulsel.info/index.php?option=com_docman&task=doc..[24
Mei 2010].

Wibisono A. 30 Juni 2009. Silsilah sapi Bali. [terhubung berkala].


http://duniasapi.com. [19 Mei 2010].

Zulka A. 2009. Populasi Banteng Jawa di Alas Purwo Bertambah.


http://www.koran-jakarta.com/berita-detail-terkini.php?id=2586. [22 Mei
2010].

25