Anda di halaman 1dari 12

MODUL 3

IDE MENJADI DASAR MUNCULNYA


STUDI KELAYAKAN

Tri Wahyono, SE, MM

PROGRAM KELAS KARYAWAN

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
IDE MENJADI DASAR MUNCULNYA STUDI
KELAYAKAN

Eksplorasi yang dilakukan untuk mendapatkan suatu gagasan menjadi langkah


awal dalam memulai proses studi kelayakan. Setelah menemukan ”peluang” dalam
proses pencarian tersebut, langkah selanjutnya adalah merumuskan gagasan menjadi
bentuk dan konsep sederhana yang dituangkan dalam ”tulisan”. Konsep sederhana ini
dapat dinyatakan dalam tiga bentuk, yaitu :
1. Pendirian usaha baru (create new business)
2. Pengembangan Usaha (deleveloping of business)
3. Pembelian usaha yang sudah ada (business acquisition)

a. Pendirian usaha baru


Maksud pendirian usaha baru adalah bahwa usaha yang akan didirikan benar-
benar tidak pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang baru ini dapat diartikan
“produk” atau “bisnis” baru akrena sebelumnya belum / tidak dimiliki si
penggagas.
b. Pengembangan usaha
Pengembangan usaha berarti usaha yang akan dibangun merupakan bagian dari
entitas usaha yang sudah ada sebelumnya. Pengembangan usaha bisa bersifat
vertical ataupun horizontal.
Pengembangan vertical adalah perluasan usaha dengan cara
membangun unit bisnis baru yang masih memiliki hubungan langsung dengan
benis utamanya (core business). Contoh, bisnis utama adalah produsen mi
instant. Perusahaan lalu mendirikan usaha baru yang bergerak di bidang
agrobisnis untuk menyuplai kebutuhan material mi instant.
Pengembangan horizontal adalah pembanguna usaha baru yang
bertujuan memperkuat bisnis utama untuk mendapatkan keunggulan komparatif,
yang secara line produk tidak memiliki hubungan dengan core bisnisnya.
Misalnya, pengusaha yang memiliki industri dibidang makanan dan minuman
membangun usaha baru dibidang retail (supermarket)
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM
STUDI KELAYAKAN BISNIS
c. Pembelian usaha yang sudah ada
Ide membli “perusahaan” menjadi salah satu alternative gagasan untuk memiliki
bisnis baru. Alternative konsep yang ketiga ini relative lebih mudah dibandingkan
dengan konsep lainnya. Karena usaha sudah ada, bentuk nyata usaha tersebut
sudah dapat dilihat, diobservasi, dan dianalisis. Tingkat risiko sudah dapat
diestimasi dan return-nya dapat diproyeksikan dengan lebih akurat.

Nilai risiko yang dikandung sebuah investasi membuat banyak orang takut dan
enggan mengeluarkan gagasan bisnis. Seandainya ada, biasanya hanya sebatas
gagasan. Saat ngobrol dengan kawan sering kali terlontar gagasan cerdas, tetapi
setelah obrolan selesai gagasan itu hilang begitu saja tanpa bekas; padahal mungkin
gagasan itu menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan kita.
Dengan begitu seringnya gagasan muncul dan seiring itu pula hilang membuat
banyak orang utopis akan gagasan, dan yang lebih ironis lagi menyamakan gagasan
dengan mimpi atau "khayalan". Kondisi ini menjadi tradisi masyarakat berkembang yang
belum banyak mendapatkan bukti empiris tentang keberhasilan sebuah "mimpi" menjadi
"kenyataan". Ini terkait dengan budaya inovatif, kreatif, dan independensi dalam
mengungkapkan gagasan.
Bukti empiris kegagalan dalam mewujudkan sebuah gagasan yang banyak
ditemui di kalangan masyarakat UKM kita sebenarnya bukan kesalahan "gagasan" itu
sendiri. Akan tetapi, cara pandang dan pola pikir pemiliknya yang belum tertata dengan
baik atau, dengan kata lain, belum berpikir secara terstruktur dan sistematis dalam
mengimplementasikan gagasan yang bersifat be has risiko ke dalam investasi yang
penuh risiko.
Saat gagasan mulai diimplementasikan ke dalam realitas, secara tidak sadar
penggagas sedang memasuki dunia risiko. Risiko yang akan dihadapi meliputi risiko
operasional, keuangan, kelembagaan, dan ekstern. Dari keempat risiko tersebut, satu di
antaranya tidak dapat dikendalikan, yaitu risiko ekstern; sedangkan ketiga lainnya dapat
dikendalikan. Risiko terbesar yang sering menyebabkan kegagalan UKM adalah risiko
operasional (penipuan, efisiensi, efektivitas, dan produksi).
Kebanyakan UKM yang memulai bisnis baru tidak dibekali dengan penguasaan
yang cukup memadai mengenai bisnisnya. Esensi bisnis yang seharusnya sudah
dikuasai dengan matang saat memulai bisnis adalah penguasaan terhadap pasar dan
pemasaran produk yang akan dijual, penguasaan terhadap sistem produksi (proses
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM
STUDI KELAYAKAN BISNIS
produksi, teknologi, material, dan kualitas produk yang diharapkan), penguasaan
terhadap manajemen (SDM) yang diperlukan terutama leadership yang sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan mengendalikan orang lain, dan yang paling penting
adalah penguasaan terhadap pengelolaan keuangan, terutama administrasinya.

Di negara-negara maju, yang tingkat pendidikannya sudah baik, keberhasilan


UKM-nya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan UKM di negara-negara berkembang.
UKM di negara maju sudah terbiasa dan mampu menyusun rencana bisnis (business
plan) dengan baik, bahkan untuk memulai bisnis pun sudah menggunakan studi
kelayakan (feasibility study). Oleh karena itu, mereka dapat mengendalikan risiko
dengan baik. Risiko tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikendalikan melalui sebuah
perencanaan dan pengetahuan mendalam tentang objek risiko tersebut (dalam hal ini
business).

Antara ide dan investasi ada biaya dan waktu. Biaya mematangkan ide, yaitu
menambah referensi dan pengetahuan tentang objek ide. Waktu dibutuhkan sejak ide
pertama kali muncul sampai realisasi ide dimulai. Hubungan ini dapat diformulasikan
dengan persamaan I = i + T + C. I adalah investasi, i adalah ide, T adalah waktu, dan C
adalah biaya. Maksudnya, mustahil sebuah investasi muncul begitu saja tanpa diawali
ide. Ide saja tidak akan cukup bila tidak ada jarak waktu yang dibutuhkan untuk
memikirkan dan menyiapkan tahapan-tahapan implementasi ide. Saat mulai
mengumpulkan informasi dan data dibutuhkan biaya. Untuk mendapatkan waktu dan
biaya secara efektif dan efisien dalam merealisasikan ide, langkah tepat yang
seharusnya dilakukan adalah membuat studi kelayakan. Untuk menghindari terjadinya
risiko yang besar diperlukan studi mendalam tentang kemungkinan berhasil atau
tidaknya investasi tersebut.

Setelah mendapatkan gagasan dan menentukan bentuknya: apakah pendirian


usaha baru , pengembangan usaha, atau pembelian usaha yang sudah ada, langkah
selanjutnya adalah menganalisis dengan menggunakan cost and benefit analysis:
perlukah dibuat studi kelayakan untuk mengetahui kelayakan penerapan gagasan
tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT
Studi kelayakan dapat dikerjakan secara perorangan atau tim yang terdiri atas
beberapa orang ahli. Analis studi kelayakan melakukan aktivitasnya berdasarkan Surat
Perintah Kerja (SPK) institusi/calon investor atau atas inisiatif sendiri. Besar-kecilnya
skala proyek berpengaruh terhadap intensitas penyusunan studi kelayakan. Intensitas
studi kelayakan meliputi:
1) besarnya dana yang ditanamkan,
2) tingkat ketidakpastian proyek, dan
3) kompleksitas elemen-elemen yang memengaruhi proyek.

Intensitas studi kelayakan berpengaruh terhadap kebutuhan analis, waktu, dan


biaya. Intensitas studi kelayakan berhubungan positif terhadap jumlah analis, waktu, dan
biaya. Semakin tinggi intensitas studi kelayakan-dana yang akan ditanamkan besar,
tingkat ketidak pastiannya tinggi, dan kompleksitasnya juga tinggi-semakin banyak pula
jumlah analis, waktu, dan biaya. Oleh karena itu, sebelum studi kelayakan dilaksanakan,
sebaiknya lakukan analisis terlebih dahulu: apakah manfaatnya lebih besar
dibandingkan dengan biaya dan waktu yang harus dikeluarkan untuk membuat studi
kelayakan. Berdasarkan itu, barulah disusun analisis biaya dan manfaat.
Analisis biaya dan manfaat disusun untuk mengetahui apakah biaya yang akan
dikeluarkan untuk mendanai pembuatan studi kelayakan lebih besar atau lebih kecil
dibandingkan dengan manfaatnya. Biaya adalah dana yang dikeluarkan untuk
pembuatan studi kelayakan dan manfaat (benefit) adalah probabilitas risiko kegagalan
proyek yang terdiri atas biaya kesempatan (opportunity cost), biaya pendirian (start up
cost), dan biaya modal (cost of capital). Asumsi ekstrem kegagalan proyek adalah 50%.
Apabila terjadi kegagalan proyek, kerugian yang harus ditanggung investor adalah biaya
modal, biaya kesempatan, dan biaya pendirian. Dalam analisis biaya dan manfaat (cost
and benefit analysis = b/c analysis), jika hasilnya lebih besar dari 1, berarti pembuatan
studi kelayakan dianggap layak; sebaliknya, jika kurang dari 1, berarti pembuatan studi
kelayakan dianggap tidak layak dilakukan.

Komponen Biaya dan Manfaat (probabilitas risiko) Studi Kelayakan

No. BIAYA (Cost) MANFAAT (Benefit)


1 Pembentukan tim analis studi kelayakan Opportunity cost
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM
STUDI KELAYAKAN BISNIS
2 Biaya pengumpulan data Start up cost
3 Biaya pengolahan data Cost of capital
4 Biaya penyusunan laporan
5 Biaya presentasi hasil studi kelayakan
6 Honor dan jasa analis

Kriteria B/C Analisis


KRITERIA KESIMPULAN
B/C = lebih besar dari 1 Layak
B/C = lebih kecil dari 1 Tidak layak

Berikut disajikan contoh perhitungan BIC analysis untuk kasus proyek amonium
nitrat.

Contoh Kasus
Penilaian kelayakan pembuatan studi kelayakan pada Proyek Pendirian Pabrik
Amonium Nitrat di Cikampek, Karawang, Jawa Barat.
Berdasarkan perhitungan sementara yang dilakukan dalam prapenelitian studi
kelayakan, diperoleh data sebagai berikut :
1. Proyek akan dibiayai dari fasilitas kredit Perbankan sebesar US$21,000,000.
2. Rencana dana modal (equity) yang akan dikeluarkan calon pemegang saham
sebesar US$14,000,000.
3. Biaya pendirian (start up cost) meliputi antara lain:
1) Legal (biaya perizinan, notaris, dan sebagainya).
2) Stationery, etc. (alat-alat tulis, perlengkapan kantor selama proses
pendirian berlangsung atau sebelum kegiatan operasional resmi berjalan).
3) Brochures (foto dan dokumentasi yang dipergunakan untuk
mendeskripsikan kondisi lahan, material, lokasi, dan lain-lain).
Consultants (dana yang dikeluarkan untuk membiayai konsultan, arsitek, hukum,
teknik, dan lingkungan).
4) Insurance (dana yang dikeluarkan untuk membayar asuransi ke
celakaan, asuransi jiwa pelaksana proyek, dan sebagainya).
5) Rent (dana yang dipergunakan untuk sewa rumah dan bangunan selama
masa pelaksanaan proyek, peralatan, kendaraan, alat-alat berat, dan peralatan
lainnya selama masa pra-operasional).
6) Research and development (biaya penelitian dan pengembangan).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
7) Expensed equipment other (biaya peralatan lainnya).

Untuk mendanai start up cost di atas diperkirakan biaya yang diperlukan adalah
sebesar US$800,000.
Apabila proyek dijalankan dengan asumsi tingkat suku bunga kredit bank
sebesar 10% p.a. atau 0,8% per bulan dan tingkat suku bunga deposito sebesar 6% p.a.
atau 0,5% per bulan, beban yang akan ditanggung perusahaan setiap bulannya adalah
sebagai berikut :
1) Angsuran bunga kredit sebesar US$210,000 (dengan asumsi: Grass
Period kredit selama 2 tahun. Dengan demikian, perusahaan hanya membayar
bunga kredit sebesar yang d~anjikan selama 2 tahun, sedangkan pembayaran
angsuran pokoknya dimulai pada tahun ke-2).
2) Opportunity cost pada equity sebesar US$70,000.
3) Startup cost sebesar US$800,000

Asumsi biaya studi kelayakan adalah US$86,300 dengan rincian sebagai berikut:
1) Honor analis (10% dari start up cost) = US$ 80,000
2) Transportasi = US$ 3,000
3) Administrasi = US$ 2,400
4) Pengumpulan data = US$ 300
5) Penggandaan Laporan = US$ 200
6) Presentasi = US$ 400

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
Jika dibuatkan dengan menggunakan B/C Analysis, contoh kasus di atas
menjadi sebagai berikut :

Tabel 2.1 ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT


No. Kegiatan Wkt Harga Unit Jumlah
($.000)
A MANFAAT
1 Biaya modal (cost of capital) dari 21.000 0.8% 175
kredit bank
2 Opportunity cost dari equity 1 14.000 0.5% 70
3 Start up cost (biaya pendirian) 1 800 1.0% 8
Jumlah 253
B BIAYA
1 Honorarium analis studi kelayakan 1 80 10% 80.00
2 Transportasi 3 1 1 3.00
3 Administrasi 3 0.8 1 2.40
4 Pengumpulan data 3 0.1 1 0.30
5 Penggandaan laporan 1 0.2 1 0.20
6 Presentasi 1 0.4 1 0.40
Jumlah 86.3
C ANALISIS 2.9

Penjelasan :
Rasio B/C Analysis = 2.9

Artinya:
Analisis B/C yang menghasilkan angka BC sebesar 2,9 (lebih besar dari 1) berarti : nilai
kemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk
mendanai pembuatan proposal studi kelayakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan studi kelayakan dapat dibenarkan karena perbandingan antara biaya
pembuatan studi kelayakan dan manfaatnya (nilai probabilitas risiko kerugian apabila
terjadi kegagalan) lebih besar manfaatnya daripada biayanya, dengan perbandingan
antara biaya dan manfaat adalah 1 : 2,9.
Dengan mengeluarkan biaya I satuan akan diperoleh manfaat sebesar 2,9
satuan.

Hasil Analisis :
Ada 2 (dua) kemungkinan yang akan terjadi jika sebelum proyek dijalankan terlebih dulu
dilakukan studi kelayakan, yaitu :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM
STUDI KELAYAKAN BISNIS
1. Proyek tersebut dinyatakan LAYAK, dan berarti proyek tersebut dapat
dilanjutkan. Beban yang harus ditanggung investor bertambah US$86,300 dari nilai
investasi total proyek.
2. Proyek tersebut dinyatakan TIDAK LAYAK, dan berarti proyek tesebut
HARUS DIHENTIKAN. Perusahaan akan kehilangan (loss) sebesar US$86,300 dan
mendapatkan kemanfaatan (benefit) sebesar US$253,000 per bulan (diperoleh dari
penjumlahan biaya modal + opportunity cost dan start up cost per bulan; lihat basil
perhitungan BC Analysis dalam Tabel2.1 sebelumnya!)

Jika TANPA studi kelayakan dan diasumsikan proyek terus dijalankan, ada 2
kemungkinan yang terjadi, yaitu :
1. Proyek BERHASIL, perusahaan tidak ada tambahan biaya untuk pembuatan
studi kelayakan, tapi jika:
2. Proyek GAGAL, perusahaan akan kehilangan (loss) minimal sebesar
US$800,000 (start up cost) ditambah dengan US$175,000 per bulan (cost of capital)
dan ditambah dengan US$70,000 per bulan (opportunity cost). Jumlahnya
bergantung pada bulan keberapa proyek tersebut MACET atau BERHENTI. Makin
lama lag time kegagalan terjadi, biaya yang harus ditanggung oleh investor akan
makin besar.

Studi Kasus 2.1


Pendirian Pasar Grosis Batik dan Tekstil

Pekalongan, yang lebih dikenal dengan kota batik yang berada di daerah pantura
Jawa Tengah, memiliki potensi di bidang batik, tekstil, handicraft, dan perikanan. Daerah
ini dilalui jalur utama Jakarta-Surabaya. Jika dengan perjalanan darat dari Jakarta, kota
ini terletak sebelum kota Semarang. Di Pekalongan ada sekitar 8.000 home industry

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
yang bergerak di bidang pembaikan dan pertenunan.
Saat Pasar Tanah Abang di Jakarta mengalami musibah kebakaran, pengusaha dan
pedagang tekstil, batik, konveksi, bordir, dan tenun dari daerah mengalami kelesuan.
Seorang guru SMA di Pekalongan mempunyai gagasan untuk menggantikan posisi
Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir ke daerah. Pekalongan sebagai kota batik,
tekstil, dan tenun merupakan sumber pemasok terbesar di pasar-pasar grosir baik di
Jakarta maupun di kota-kota besar lainnya, seperti Pasar Klewer di Solo, Pasar
Bringharjo di Yogya, Pasar Turi di Surabaya, dan sebagainya. Gagasannya adalah
membangun pusat grosir batik dan tekstil di Pekalongan. Idenya itu ia jual kepada
beberapa pengusaha/pemodal, namun tidak banyak yang menanggapinya. Untuk
merealisasikannya sendiri jelas tidak mungkin sebab dia tidak memiliki modal, bahkan
tempat tinggalnya pun masih berstatus kontrak. Bagaimana akan membangun sebuah
pasar; tentunya itu merupakan hal mustahil (hanya dalam angan-angan).
Semangatnya tidak cepat padam. Untuk meyakinkan dirinya bahwa ide ini
memang realistis, dia membuat sebuah riset pasar sederhana. Dia membuat kuesioner
dan membagikannya kepada para pedagang dan produsen batik yang ada di sekitar
Pekalongan. Hasilnya ternyata cukup balk; banyak tanggapan positif dari warga
Pekalongan, yang ternyata sama-sama mengharapkan dan memimpikan adanya pasar
batik di Pekalongan. Untuk merealisasikan idenya ini, dia terpaksa mengorbankan
profesi guru yang selama ini digelutinya, menjual sebagian barang-barang yang
dimilikinya, termasuk kendaraan yang selama ini menjadi "kaki". Akhirnya, dengan tekad
yang kuat dan modal yang sangat terbatas dia mengadakan Bazar Batik Ramadhan di
lokasi bekas pabrik tekstil yang sudah bangkrut di sebelah timur kota Pekalongan.
Lokasi ini disewanya dengan harga relatif murah karena selama ini tempat itu tidak
dimanfaatkan pemiliknya. Even ini diselenggarakan menjelang lebaran dan pesertanya
adalah produsen dan pedagang tekstil/batik. Bazar ini sukses dan akhirnya dia
menawari peserta bazar untuk menempati lapak-lapak bekas pameran dengan biaya
murah. Gayung bersambut. Peserta melanjutkan keikutsertaannya untuk berdagang di
lapak-lapak yang didirikan pada bekas pabrik tekstil di jalur pantura Pekalongan.
Selanjutnya, Bapak Soni, si pemilik ide tersebut, melakukan studi kelayakan sederhana
dengan membuat proposal tentang "Pendirian Pusat Grosir". Kuesioner dibagi-bagikan
untuk mendapatkan data dari responden tentang kesediaannya untuk berdagang di
lokasi tersebut. Pepatah mengatakan "di mana ada gula, di situ ada semut ". Adanya
respons pedagang, produsen batik, dan konsumen yang datang dari berbagai daerah
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM
STUDI KELAYAKAN BISNIS
membuat banyak pihak tertarik untuk ikut berinvestasi membangun lokasi ini menjadi
pasar permanen.

Akhirnya, setahun kemudian lokasi tersebut berubah menjadi pasar batik (2000)
dan sekarang sudah memiliki 500 kios/ruko dengan omzet penjualan miliaran rupiah per
hari. Pak Soni telah mampu mengubah hidupnya dari seorang guru yang
berpenghasilan rendah, bahkan rumah pun dahulu belum punya, menjadi pengusaha
dengan penghasilan ratusan juta per tahunnya. Itulah salah satu contoh bahwa investasi
berawal dari sebuah ide.

Studi Kasus 2.2 Pendirian Wartel


Sepasang suami-istri yang tinggal di daerah Cijantung, Jakarta Timur, bekerja
sebagai pegawai negeri di Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Tangerang.
Jarak yang jauh ke tempat kerja dan suasana yang gaduh karena dekat pertigaan jalan
besar membuat mereka memutuskan untuk menyewakan rumah mereka kepada orang
lain. Mereka sendiri mengontrak rumah di Tangerang. Rumah itu mereka kontrakkan
selama 2 tahun dengan biaya kontrak Rp5 juta/tahun, sementara di Tangerang mereka
mengontrak dengan biaya kontrak Rp6 juta/tahun. Akhir tahun 2005, masa kontrak
berakhir.
Orang yang menyewa rumah mereka kemudian mendirikan usaha wartel di sana.
Ternyata usaha itu sangat menguntungkan karena lokasi rumahnya cukup strategis,
antara lain berada di pertigaan jalan utama, dekat dengan perumahan militer,
bersebelahan dengan rumah kos-kosan 25 kamar, dan dekat dengan tempat
pemberhentian (halte) bus. Oleh karena itu, keluarga ini berencana mengelola sendiri
wartel tersebut, dan saat ini sedang bernegosiasi dengan pemilik wartel.
Pemilik wartel menawarkan harga Rp20 juta untuk 2 KBU dengan rincian sebagai
berikut: biaya perizinan pendirian Rp1,5 juta, peralatan wartel Rp10 juta, dan biaya
pembuatan partisi Rp8,5 juta. Setelah terjadi tawar-menawar, diperoleh harga
kesepakatan (deal) sebesar Rp16,5 juta-biaya partisi diturunkan menjadi Rp5 juta.
Keluarga ini berencana menggunakan pinjaman dari bank BPR sebesar Rp10 juta dan
modal sendiri sebesar Rp6,5 juta. Sebenarnya, keluarga ini masih ragu-ragu, apakah
bisnis ini menguntungkan atau merugikan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS
Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu atau tidakkah keluarga tersebut menyusun studi
kelayakan?
Data tambahan: Untuk menyusun studi kelayakan, seorang analis mengenakan tarif
sebesar Rp 1,5 juta sebagai biaya konsultasi, riset pasar, dan pembuatan laporan.

Tes Pemahaman
1. Sebutkan pengertian ide!
2. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor kunci yang merangsang munculnya ide
"peluang" dalam organisasi !
3. Bagaimana hubungan antara ide dan investasi?
4. Apa perbedaan antara risiko ide dan ris ko bisnis?
5. Jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan excess demand! Sebutkan beberapa
jenis modal dan jelaskan perbedaannya!

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Tri Wahyono SE, MM


STUDI KELAYAKAN BISNIS