Anda di halaman 1dari 44

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

POST MORTEM CHANGES AND


TIME OF DEATH

Disusun Oleh:

Eska perdini s
Ajeng destara
Atria prameswari p
Pranawa SH
Rickky Kurniawan
Nurul Fathiya
Rina Apriliana

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN
MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR.KARIADI
SEMARANG
2009

By : Rickky_Kurniawan@2009 1
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Kematian merupakan fase akhir dalam kehidupan tiap manusia.

Menurut ilmu kedokteran manusia memiliki dua dimensi, yaitu sebagai

individu dan sebagai kumpulan dari berbagai macam sel. Berdasarkan

pengertian tersebut maka kematian dapat dilihat dari dua dimensi yaitu

kematian sel (celluler death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi

setelah kematian manusia sebagai individu (somatic death). Konsumsi

oksigen ke seluruh jaringan tubuh yang terhenti mengakibatkan satu demi

satu sel yang merupakan elemen terkecil dari kehidupan pembentuk

manusia akan mengalami kematian.

Setelah terjadinya kematian, tubuh akan mengalami perubahan-

perubahan, antara lain perubahan kulit muka sebagai akibat dari

berhentinya sirkulasi darah, relaksasi otot, perubahan pada mata,

penurunan suhu tubuh, timbulnya lebam mayat karena adanya gaya

gravitasi, kaku mayat karena penumpukan ADP pada otot-otot,

pembusukan, perubahan pada darah yang dilanjutkan dengan kematian

sel.1

Segala aspek yang berkaitan dengan kematian manusia meliputi

definisi, cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi

setelah mati serta kegunaanya tersebut dipelajari dalam ilmu yang disebut

thanatologi.

By : Rickky_Kurniawan@2009 2
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Thanatologi merupakan ilmu yang sangat penting dikuasai oleh

tenaga medis terutama para profesional yang berkecimpung dalam dunia

kedokteran kehakiman. Dalam ilmu tanatologi dipelajari suatu topik yang

mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi setelah kematian (Post

mortem changes) yang sangat bermanfaat dalam mendiagnosa terjadinya

kematian maupun menentukan saat terjadinya kematian.

Ada 3 manfaat tanatologi, yaitu :

a. Menetapkan hidup atau matinya korban.

b. Memperkirakan lama kematian korban.

c. Menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian korban.

Karena untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai

individu (Somatic death), diperlukan kriteria diagnosis yang benar

berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggungjawabkan secara

ilmiah.

Mengingat pentingnya mempelajari perubahan-perubahan yang

terjadi setelah kematian (Post mortem changes). Maka kami mengangkat

topik ini sebagai topik referat kelompok kami.

2. PERMASALAHAN

a. Apa yang dimaksud dengan kematian dan parameter apa yang

digunakan untuk mendiagnosis kematian?

b. Apa saja perubahan yang terjadi setelah kematian?

c. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi munculnya tanda-tanda

setelah kematian?

By : Rickky_Kurniawan@2009 3
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

3. TUJUAN

a. Untuk mengetahui definisi mati somatik, mati seluler, mati suri, mati

serebri, mati otak (batang otak).

b. Untuk menyatakan cara mendiagnosis kematian.

c. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi setelah kematian dan waktu

kematian

d. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan

setelah kematian

e. Untuk mengetahui perkiraan saat kematian.

By : Rickky_Kurniawan@2009 4
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Mati

Kematian manusia berdasarkan dua dimensi yaitu kematian seluler

(seluler death) akibat ketiadaan oksigen dan kematian manusia sebagai

individu (somatic death). Kematian individu dapat didefinisikan secara

sederhana sebagai terhentinya kehidupan secara permanen (permanent

cessation of life) atau dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya secara

permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru, jantung dan otak

sebagai kesatuan yang utuh yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen.

Sebagai akibat berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka

sel-sel sebagai elemen terkecil pembentuk manusia akan mengalami kematian,

dimulai dari sel-sel paling rendah daya tahannya terhadap ketiadaan oksigen. 1

Mati suri adalah penurunan fungsi organ vital sampai taraf minimal

untuk mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda kliniknya seperti

sudah mati yang sifatnya reversibel.1 Sedangkan mati somatik adalah keadaan

dimana ketika fungsi ketiga organ vital sistem saraf pusat, sistem

kardiovaskuler, dan sistem pernafasan berhenti secara menetap.1

Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible

kecuali batang otak dan serebelum, kedua sistem lain masih berfungsi dengan

bantuan alat.1 Sedangkan mati batang otak adalah kerusakan seluruh isi

neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum.1

Kriteria diagnostik penentuan kematian: 1

By : Rickky_Kurniawan@2009 5
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando

atau perintah, dan sebagainya)

2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang

berada dibawah pengaruh obat-obatan curare.

3. Tidak ada reflek pupil

4. Tidak ada reflek kornea

5. Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan

6. Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong ke

dalam

7. Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang

dimasukkan ke dalam lubang telinga

8. Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup

lama walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas

(50 torr)

Tes klinik ini baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset

koma serta apneu dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes

yang pertama. Sedangkan tes konfirmasi dengan EEG dan angiografi hanya

dilakukan jika tes klinik memberikan hasil yang meragukan atau jika ada

kekhawatiran akan adanya tuntutan di kemudian hari.1

B. Perubahan-perubahan Setelah Kematian dan Faktor-faktor Yang

Mempengaruhinya

I. Perubahan Kulit Muka

Perubahan paska kematian yang dapat terlihat adalah perubahan

yang terjadi pada kulit muka. Perubahan kulit muka terjadi akibat

By : Rickky_Kurniawan@2009 6
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

berhentinya sirkulasi darah maka darah yang berada pada kapiler dan

venula di bawah kulit muka akan mengalir ke bagian yang lebih rendah

sehingga warna raut muka nampak menjadi lebih pucat. Pada mayat dari

orang yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat

tertentu (misalnya keracunan karbon monoksida) warna semula dari raut

muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat.1

II. Relaksasi Otot

a. Relaksasi primer

Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos

akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi

pada stadium itu disebut relaksasi primer.1 Relaksasi perimortal

didapatkan 2 – 3 jam setelah kematian. Sel-sel jaringan otot masih hidup.

Peristaltik usus positif atau masih bergerak. Leukosit darah masih

bergerak. Pupil masih bereaksi. Pada fase ini otot sudah tidak memiliki

rangsangan dari sistem saraf pusat. Akibat tidak adanya impuls listrik dari

sistem saraf pusat maka tidak ada lagi koordinasi otot-otot tubuh yang

selalu berusaha menjaga keseimbangan dalam segala posisi tubuh. Jutaan

sel serabut otot yang selalu berada dalam keadaan siaga dengan selalu

menjaga posisi kontraksi dan relaksasi yang serasi sehingga kestabilan

tubuh selalu terjaga dalam segala posisi tersebut hilang dengan tidak

berfungsinya sistem saraf. Akibat dari peristiwa ini adalah terjadi relaksasi

pada seluruh otot tubuh yang tampak sebagai relaksasi primer.2 Sehingga

tampak rahang bawah akan melorot menyebabkan mulut terbuka, dada

kolap dan bila tidak ada yang menyangga anggota tubuh akan jatuh ke

By : Rickky_Kurniawan@2009 7
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

bawah. Relaksasi yang terjadi pada otot-otot muka akan mengesankan

lebih muda dari umur yang sebenarnya, sedang relaksasi pada otot polos

akan mengakibatkan iris dan spingter ani mengalami dilatasi. Oleh sebab

itu jika ditemukan dilatasi pada anus, harus hati-hati untuk menyimpulkan

sebagai akibat hubungan seksual per ani. Pada fase ini kematian sel belum

terjadi sempurna. Korban masih dalam pengertian mati somatik. 1

b. Relaksasi sekunder

Rigor mortis menghilang secara bertahap sesuai urutan timbulnya.

Relaksasi sekunder ini terjadi karena mulai terjadi lisis dari sel-sel otot

akibat proses pembusukan. Hancurnya sel otot, jaringan otot membuat

tulang-tulang tidak lagi dipertahankan posisinya, kecuali akan dijatuhkann

posisinya karena adanya gaya berat otot dan tulang akibat daya tarik

grafitasi. 2

III. Perubahan pada mata

Perubahan pada mata yaitu kurangnya daya lihat atau adanya

dominasi pada insensitivie cornea dan tetap sifatnya. Refleksi daya liat ini

akan berkurang dengan segera seperti brainstem nucle sehingga

menimbulkan kerusakan ischaemic. Biji atau manik mata tidak reaktif. Biji

mata biasanya berefleksi terhadap posisi netral dari otot biji mata,

kemudian akan berubah sebagai hasil dari kekakuan pada mayat, maka hal

ini tidak secara signifikan sebagai simbol diagnostik dari luka pada otak

atau intoksisasi obat-obatan atau narkotika. Selaput pelangi merespon

stimulasi kimia selama beberapa jam setelah kematian. Dalam

penambahannya terhadap ukuran tetap, biji mata akan mengecil dan

By : Rickky_Kurniawan@2009 8
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

membentuk lingkaran setelah kematian sebagai suatu hasil dari relaksasi.

Dan ini biasanya mudah untuk membedakan dari ketidakteraturan yang

disebabkan oleh ante mortem abnormality dari biji mata atau kelopak

mata. Ketegangan pada mata menurun secara cepat seperti tekanan arterial.

Kelopak mata biasanya tertutup tetapi secara umum tidak sempurna,

kegagalan otot akan menghasilkan oklusi penuh dan ini akan terjadi

penyingkapan.

Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan

kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga

dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotiques). Kekeruhan

kornea terjadi pada lapisan terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan

air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat

dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak

kira-kira 6 jam pasca mati.

Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi

keruh kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus

tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun,

memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada

hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada

retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga

30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya

diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat

dan tepinya tidak tajam lagi.

By : Rickky_Kurniawan@2009 9
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Selama dua jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar

diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang

menjadi leih gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai

bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang

jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5

jam menjadi homogen dan lebih pucat.3

Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan pembuluh

pembuluh besar yang mengalami segmentasi dapat dilihat dengan latar

belakang kuning-kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai

tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati

diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen

pembluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi

gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang

tampak berwarna coklat gelap.4

By : Rickky_Kurniawan@2009 10
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Gambar 1: Factors to consider when interpreting post-mortem results 4

IV. Penurunan Suhu Tubuh

Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan

energy. Kalor dan energy ini terbentuk melalui proses pembakaran

sumber energy seperti glukosa, lemak, dan protein. Sumber energi utama

yang digunakan adalah glukosa. Satu molekul glukosa dapat

By : Rickky_Kurniawan@2009 11
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

menghasilkan energy sebanyak 36 ATP yang nantinya digunakan sebagai

sumber energy dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi otot

dan lain-lain. Energy sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar 38% dari

total energy yang dihasilkan dari satu molekul glukosa (gambar II.1).

Sisanya sebesar 62% energy yang dihasilkan inilah yang dilepaskan

sebagai kalor atau panas.5

Gambar 2. Metabolisme Glukosa 5

Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan

terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium

di sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi,

konduksi, dan pancaran panas. Proses penurunan suhu pada mayat ini

By : Rickky_Kurniawan@2009 12
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

biasa disebut algor mortis. Algor mortis merupakan salah satu perubahan

yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut

post mortem 1,6.

Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat

dengan bentuk sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :

1. Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat, yakni karena

masih adanya proses glikogenolisis dari cadangan glikogen yang

disimpan di otot dan hepar (gambar II.2).

2. Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga

suhu.

Gambar 3. Glikogenolisis5

By : Rickky_Kurniawan@2009 13
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah

itu penurunan menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih

lambat kembali. Jika dirata-rata maka penurunan suhu tersebut antara 0,9

sampai 1 derajat celcius atau sekitar 1,5 derajat Fahrenheit setiap jam,

dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat Celcius atau 98,4

derajat Fahrenheit sehingga dengan dapat dirumuskan cara untuk

memperkirakan berapa jam mayat telah mati dengan rumus (98,4oF - suhu

rectal oF) : 1,5oF. Pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan

thermometer kimia (long chemical thermometer). 1,6

Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu

mayat ini yakni:


1,6
1. Faktor internal

a. Suhu tubuh saat mati

Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati

dengan suhu tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati

ini akan mengakibatkan penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat.

Sedangkan, pada hypothermia tingkat penurunannya menjadi

sebaliknya.

b. Keadaan tubuh mayat

Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat

penurunan suhu tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus,

tingkat penurunannya menjadi lebih cepat.

2. Faktor Eksternal 1,6

a. Suhu medium

By : Rickky_Kurniawan@2009 14
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka

semakin cepat terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan

kalor yang ada di tubuh mayat dilepaskan lebih cepat ke medium

yang lebih dingin.

b. Keadaan udara di sekitarnya

Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih

besar. Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan

konduktor yang baik. Selain itu, Aliran udara juga makin

mempercepat penurunan suhu tubuh mayat

c. Jenis medium

Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat

sebab air merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu

menyerap banyak panas dari tubuh mayat.

d. Pakaian mayat

Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat

semakin cepat. Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat

dengan suhu medium atau lingkungan lebih mudah.

V. LEBAM MAYAT

Lebam Mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem

Suggilation, Hypostasis, Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk

bila terjadi kegagalan sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan

hidrostatik yang menggerakan darah mencapai capillary bed dimana

pembuluh–pembuluh darah kecil afferent dan efferent saling berhubungan.

By : Rickky_Kurniawan@2009 15
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Maka secara bertahap darah yang mengalami stagnasi di dalam pembuluh

vena besar dan cabang-cabangnya akan dipengaruhi gravitasi dan mengalir

ke bawah, ke tempat–tempat yang terendah yang dapat dicapai. Dikatakan

bahwa gravitasi lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma

akhirnya juga mengalir ke bagian terendah yang memberikan kontribusi

pada pembentukan gelembung–gelembung di kulit pada awal proses

pembusukan.

Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit

sebagai perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan

darah terjadi secara pasif maka tempat–tempat di mana mendapat tekanan

lokal akan menyebabkan tertekannya pembuluh darah di daerah tersebut

sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan kulit di

daerah tersebut berwarna lebih pucat. 8

Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam

setelah kematian, Dimana setelah terbentuk hypostasis yang menetap

dalam waktu 10–12 jam ternyata akan memberikan lebam mayat pada sisi

yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada tubuh dari pronasi ke

supinasi (interpostmorchange). 8

Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan

dimulai dengan timbulnya bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam

waktu kurang dari setengah jam sesudah kematian dimana bercak-bercak

ini intensitasnya menjadi meningkat dan kemudian bergabung menjadi

satu dalam beberapa jam kemudian, dimana fenomena ini menjadi

komplet dalam waktu kurang lebih 8–12 jam, pada waktu ini dapat

By : Rickky_Kurniawan@2009 16
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

dikatakan lebam mayat terjadi secara menetap. Menetapnya lebam mayat

ini disebabkan oleh karena terjadinya perembesan darah kedalam jaringan

sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel–sel darah

dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan

kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan

pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak akan

menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat

memberi indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara sempurna. 8

setelah empat jam,kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-

butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah

merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di

sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta

tidak hilang jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik.

Jika pembalikan posisi dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka

lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi terendah, karena darah

sudah mengalami koagulasi. 1

Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat

relatif. Perubahan lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama

sesudah kematian, bila telah terbentuk lebam primer kemudian dilakukan

perubahan posisi maka akan terjadi lebam sekunder pada posisi yang

berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang ganda ini adalah penting

untuk menunjukan telah terjadi manipulasi posisi pada tubuh. Akan tetapi

waktu yang pasti untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah tidak pasti,

Polson mengatakan “ untuk menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu

By : Rickky_Kurniawan@2009 17
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

8 sampai 12 jam”, sedangkan Camps memberi patokan kurang lebih 10

jam. 8

Akan tetapi pada kematian wajarpun darah dapat menjadi

permanent incoagulable oleh karena adanya aktifitas fibrinolisin yang

dilepas kedalam aliran darah selama proses kematian. Sumber dari

fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi kemungkinan berasal dari

endothelium pembuluh darah, dan permukaan serosa dari pleura. Aktifitas

fibrinolisin ini nyata sekali pada kapiler-kapiler yang berisi darah. Darah

selalu ditemukan cair dalam venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung

jawab terhadap lebam mayat.8

Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan

menyebabkan pengendapan darah pada pembuluh darah kecil yang dapat

mengakibatkan pecahnya pembuluh darah kecil tersebut dan berkembang

menjadi petechie (tardieu`s spot) dan purpura yang kadang-kadang

berwarna gelap yang mempunyai diameter dari satu sampai beberapa

milimeter, biasanya memerlukan waktu 18 sampai 24 jam untuk

terbentuknya dan sering diartikan bahwa pembusukan sudah mulai terjadi.

Fenomena ini sering terjadi pada asphyxia atau kematian yang terjadinya

lambat. 8

VI. KAKU MAYAT (RIGOR MORTIS)

Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada

otot yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot,

yang terjadi setelah periode pelemasan/ relaksasi primer. Hal ini

By : Rickky_Kurniawan@2009 18
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

disebabkan karena terjadinya perubahan kimiawi pada protein yang

terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di dalam

pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti

diketahui bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin

dan myosin, dimana kedua jenis protein ini bersama dengan ATP

membentuk suatu masa yang lentur dan dapat berkontraksi (gambar 3).

Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan pada akto-

miosin, diamana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi

menghilang sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak

dapat berkontraksi.9,10

Gambar 4. Mekanisme seluler kontraksi otot

Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu

berbeda-beda, sehingga sewaktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi

asam laktat dan energi pada saat terjadinya kematian somatic, dimana

By : Rickky_Kurniawan@2009 19
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

energy tersebut digunakan untuk resintesa ATP, akan menyebabkan

adanya perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut dapat

menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai nampak pada jaringan otot

yang jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada

kematian karena infeksi, konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu

keliling yang tinggi akan dapat mempercepat terbentuknya kaku mayat,

demikian pula pada mereka yang keadaan gizinya jelek akan lebih cepat

terjadi kaku mayat bila dibandingkan dengan korban yang mempunyai


9
tubuh yang baik.

Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot

masih alkalis. Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemudian

karena adanya perubahan biokimia, yaitu glikogen menjadi asam

sarkolaktik / fosfor. Perubahan protoplasma menjadi asam menyebabkan

otot menjadi kaku (rigor). Relaksasi sekunder terjadi setelah ada

perubahan biokimia, yaitu asam berubah menjadi alkalis kembali saat

terjadi pembusukan.6

Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot (gambar 4), baik otot

lurik maupun otot polos. Dan bila terjadi pada otot rangka, maka akan

didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau menyerupai papan sehingga

dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan tersebut , bila hal

ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin lagi

terjadi kaku mayat.9,11

By : Rickky_Kurniawan@2009 20
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Gambar 5. Kaku mayat pada lengan dan leher

Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan

mencapai puncaknya setelah 10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan

menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang

sesuai denga n urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot-otot wajah, leher,

lengan, dada, perut, dan tungkai.9

Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat

telah terbentuk dengan posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi

petunjuk bahwa pada tubuh korban telah dipindahkan setelah mati. Ini

mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab kematian atau cara kematian

yang sebenarnya. 9

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat :

a. Kondisi otot

- Persediaan glikogen

Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot.

Pada kondisi tubuh sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan

lambat dan lama, juga pada orang yang sebelum mati banyak

makan karbohidrat, maka kaku mayat akan lambat.1

- Gizi

By : Rickky_Kurniawan@2009 21
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan

cepat terjadi.

- Kegiatan Otot

Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal

maka kaku mayat akan terjadi lebih cepat.3,17

b. Usia

- Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung

lama.

- Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi

pada bayi cukup bulan.17,18

c. Keadaan Lingkungan

- Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab

- Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan

berlangsung lama.

- Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat,

tetapi pada suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.

- Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang

terjadi pembekuan atau cold stiffening.3,17,18,19

d. Cara Kematian

- Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih

cepat terjadi dan berlangsung tidak lama.

- Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan

berlangsung lebih lama.

Terdapat kekakuan pada pada mayat yang menyerupai kaku mayat :

By : Rickky_Kurniawan@2009 22
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

- Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan

otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric

spasme sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan

intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer.

Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP

yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau

emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. 8,17,20

Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir

masa hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang

diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam pada

kasus bunuh diri.

- Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot

oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh

(mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati

terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut ototnya memendek

sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut,

membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini

tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup,

intravitalitas, penyebab atau cara kematian.8,17

- Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin

(dibawah 3,5oC atau 40oF), sehingga terjadi pembekuan cairan

tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan

dan otot, bila cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi

tidak dapat digerakan. Bila sendi di bengkokkan secara paksa maka

By : Rickky_Kurniawan@2009 23
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

akan terdengar suara es pecah. Dan mayat yang kaku ini akan

menjadi lemas kembali bila diletakkan ditempat yang hangat,

kemudian rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat

singkat.8,17,18

Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)

− Kurang dari 3 – 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis

− Lebih dari 3 – 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis

− Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian

− Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam

− Rigor mortis menghilang 24 – 36 jam post mortem

VII. Pembusukan Atau Modifikasinya

Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection.

Pembusukan adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang

terjadi sebagai akibat proses autolisis dan aktivitas mikroorganisme,

terutama Clostridium welchii12.

Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi

dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-

enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-

enzim akan mengalami proses autilisis lebih cepat daripada organ-organ

yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan mengalami

autolisis lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak

dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh karena itu pada mayat yang

steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses autolisis ini tetap

By : Rickky_Kurniawan@2009 24
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

terjadi. Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim

yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah

nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu

sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran

sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair12.

Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat

oleh pengaruh suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan

dihambat demikian juga pada suhu tinggi enzim-enzim yang terdapat

pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan terhambat.

Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan

tubuh akan hilang, bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan

tubuh akan segera masuk ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah,

dimana darah merupakan media yang terbaik bagi bakteri untuk

berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan

darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau

emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan.

Bakteri yang sering menyebabkan destruktif ini sebagian besar berasal

dari usus dan yang paling utama adalah Cl. welchii. Bakteri ini

berkembang biak dengan cepat sekali menuju ke jaringan ikat dinding

perut yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini terjadi

oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang terjadi dalam usus

besar) dengan Hb menjadi Sulf-Meth-Hb. Tanda pertama pembusukan

baru dapat dilihat kira-kira 24 jam - 48 jam pasca mati berupa warna

kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa

By : Rickky_Kurniawan@2009 25
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

iliaka kanan dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak

bakteri dan letaknya yang lebih superfisial. Perubahan warna ini secara

bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen sampai ke dada dan

bau busukpun mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat

pada permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar merupakan

organ yang langsung kontak dengan kolon transversum. Pada saat

Cl.welchii mulai tumbuh pada satu organ parenchim, maka sitoplasma

dari organ sel itu akan mengalami disintegrasi dan nukleusnya akan

dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel

menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya12.

Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan

berkembang biak didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang

kemudian mewarnai dinding pembuluh darah dan jaringan sekitarnya.

Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi pembuluh

darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa

merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta

cabang-cabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul

(arborescent pattern atau arborescent mark) yang sering disebut

marbling. Bakteri pembusukan ini banyak terdapat dalam intestinal dan

paru, maka gambaran marbling ini jelas terlihat pada bahu,dada bagian

atas, abdomen bagian bawah dan paha12.

Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada

rongga-rongga jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi

gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat

By : Rickky_Kurniawan@2009 26
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

membesar menyerupai honey combed appearance. Lesi ini dapat dilihat

pertama kali pada hati . Kemudian permukaan lapisan atas epidermis

dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada dibawahnya

dan ini disebut ‘skin slippage’. Skin slippage ini menyebabkan

identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang

terjadi antara epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula

yang bening, fragil, yang dapat berisi cairan coklat kemerahan yang

berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang tidak mengisi secara penuh di

dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya menyerupai

pendulum yang berukuran 5 – 7,5 cm dan bila pecah meninggalkan

daerah yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini

disebabkan oleh karena pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga

cairan lemak keluar ke lapisan dermis oleh karena tekanan gas

pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku, rambut kepala,

aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya

desintegrasi pada akar rambut12.

Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-

gelembung udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang

terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan menyebabkan terabanya

krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang

menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude12.

Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan

muka dapat menggembung, bibir menonjol seperti “frog-like-fashion”,

Kedua bola mata keluar, lidah terjulur diantara dua gigi, ini

By : Rickky_Kurniawan@2009 27
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh keluarganya.

Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat

badan mayat yang tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg

sesudah mati12.

Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas

pembusukan yang terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan

pengeluaran udara dan cairan pembusukan yang berasal dari trakea dan

bronkus terdorong keluar, bersama-sama dengan cairan darah yang

keluar melalui mulut dan hidung. Cairan pembusukan dapat ditemukan

di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan

biasanya cairan pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc12.

Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan

intra abdominal yang meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi

prolaps dan fetus dapat lahir dari uterus yang pregnan. Pada anak-anak

adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan otak menyebabkan

sutura-sutura kepala menjadi mudah terlepas12.

Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang

berbeda-beda. Jaringan intestinal,medula adrenal dan pancreas akan

mengalami autolisis dalam beberapa jam setelah kematian. Organ-organ

dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa merupakan organ yang cepat

mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding lambung

terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah

kematian. Difusi cairan dari kandung empedu kejaringan sekitarnya

menyebabkan perubahan warna pada jaringan sekitarnya menjadi coklat

By : Rickky_Kurniawan@2009 28
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

kehijauan. Pada hati dapat dilihat gambaran honey combs appearance,

limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek, dan otak menjadi

lunak12.

Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan

granula-granula milliary atau ‘milliary plaques’ yang berukuran kecil

dengan diameter 1-3 mm yang terdapat pada permukaan serosa yang

terletak pada endotelial dari tubuh seperti pleura, peritoneum,

pericardium dan endocardium12.

Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:

1. Early : Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan

intestinal, medula adrenal, pankreas, otak, lien, usus, uterus gravid,

uterus post partum, dan darah

2. Moderate : Organ dalam yang lambat membusuk antara lain paru-

paru, jantung, ginjal, diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.

3. Late : Uterus non gravid dan prostat merupakan organ yang lebih

tahan terhadap pembusukan karena memiliki struktur yang berbeda

dengan jaringan yang lain yaitu jaringan fibrousa.12,13

Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh

terutama perirenal, omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi

cairan kuning yang transluscent yang mengisi rongga badan diantara

organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih sulit dilakukan12.

Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan

penting dalam proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah

kematian lalat akan hinggap di badan dan meletakkan telur-telurnya

By : Rickky_Kurniawan@2009 29
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

pada lubang-lubang mata, hidung, mulut dan telinga. Biasanya jarang

pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih sering

meletakkan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur

atau larva lalat didaerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya

kekerasan seksual sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah

menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva ini mengeluarkan enzim

proteolitik yang dapat mempercepat penghancuran jaringan pada tubuh.

Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam pasca

kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan penyebab

kematian karena keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan dengan

cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian karena racun

dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva lalat
12,13
.

Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi

meraka juga memberi informasi penting yang berhubungan dengan

kematian. Insekta dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat

kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh mayat telah dipindahkan dari

satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan bagian mana

yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan

toksikologi bila jaringan untuk specimen standart juga sudah

mengalami pembusukan12.

Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar

antara 70°-100°F (21,1-37,8°C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada

dibawah 50°F(10°C) atau pada suhu diatas 100°F (lebih dari 37,8°C).

By : Rickky_Kurniawan@2009 30
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka proses

pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat

diletakkan pada suhu dingin maka proses pembusukan akan

berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang gemuk proses pembusukan

berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus. Pembusukan

berlangsung lebih cepat karena kelebihan lemak akan menghambat

hilangnya panas tubuh dan pada mayat yang gemuk memiliki darah

yang lebih banyak, yang merupakan media yang baik untuk

perkembangbiakkan organisme pembusukan12.

Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat

menghambat pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang

baru lahir memang terdapat sedikit bakteri sehingga proses pembusukan

berlangsung lebih lambat. Proses pembusukan juga dapat dipercepat

dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum kematian seperti

peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas

pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.12

Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu 13:

1. Wajah membengkak.

2. Bibir membengkak.

3. Mata menonjol.

4. Lidah terjulur.

5. Lubang hidung keluar darah.

6. Lubang mulut keluar darah.

By : Rickky_Kurniawan@2009 31
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

7. Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan

partus (gravid).

8. Badan gembung.

9. Bulla atau kulit ari terkelupas.

10. Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna

kehijauan.

11. Pembuluh darah bawah kulit melebar.

12. Dinding perut pecah.

13. Skrotum atau vulva membengkak.

14. Kuku terlepas.

15. Rambut terlepas.

16. Organ dalam membusuk.

17. Larva lalat13.

Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor interinsik diatas,

selain itu juga dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban

udara dan medium di mana mayat berada. Semakin lembab udara di

sekeliling mayat maka pembusukan lebih cepat berlangsung, sedangkan

pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan medium air

dan pembusukan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada

medium tanah 14.

Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak

dijumpai, namun yang ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-

jenis modifikasi pembusukan antara lain14.

a. Mumifikasi

By : Rickky_Kurniawan@2009 32
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan

yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang

selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Proses mumufikasi

terjadi bila keadaan disekitar mayat kering, kelembaban rendah,

suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri. Terjadinya

beberapa bulan sesudah mati dengan tanda-tanda sebagai berikut

mayat menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna coklat

kehitaman, kulit melekat erat dengan tulang di bawahnya, tidak

berbau, dan keadaan anatominya masih utuh 14,15.

b. Saponifikasi

Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di

dalamsuasana hangat, lembab atau basah. Terjadi karena proses

hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak. Selanjutnya asam lemak

yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi asam lemak

jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak

larut. Terbentuk pertama kali pada lemak superfisial bentuk bercak,

di pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas.

Terjadinya saponikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat

terjadi pada setiap jaringan tubuh yang berlemak dengan tanda-tanda

berwarna keputihan dan berbau tengik seperti minyak kelapa14,15.

VIII. Biokimiawi Darah

Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian,

sehingga analisis darah pasca mati tidak memberikan gambaran

By : Rickky_Kurniawan@2009 33
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut

diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan

permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi

tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam

darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum

ditemkan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk

memperkirakan saat mati dengan lebih tepat.3, 16

IX. Cairan serebrospinal ( CSS )

Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14% menunjukkan

kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari

80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar protein kurang

dari 5 mg% dan 10mg% masing-masing menunjukkan kematian belum

mencapai 10 jam dan 30 jam.3

X. Perubahan pada Lambung

Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga

tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara

makan terakhir dan saat mati. Namun, keadaan lambung dan isinya

mungkin membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya

makanan tetentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam lambung dapat

digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal

telah makan makanan tersebut3.

By : Rickky_Kurniawan@2009 34
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

XI. Reaksi Peri mortal

Pada saat terjadi kematian, di dalam tubuh masih terdapat sel dan

jaringan yang masih sempat melanjutkan beberapa aktivitas, misalnya

sel yang sedang bermitosis masih dapat menyelesaikan pembelahannya.

Tetapi kemudian segala kegiatan yang terjadi pada sel dan jaringan akan

terhenti sama sekali. Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ,

dengan adanya kemajuan dibidang transplantasi organ tubuh, maka

muncullah definisi mati seluler (mati molekuler) yaitu kematian organ

atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis.
3

Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-

beda, sehingga kematian seluler pada tiap organ atau jaringan terjadi

secara tidak bersamaan. Sebagai contoh:

a) Susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam waktu 4 menit

b) Otot masih dapat dirangsang dengan listrik sampai kira-kira 2 jam

pasca mati, dan mengalami mati seluler setelah 4 jam

c) Dilatasi pupil masih dapat terjadi pada pemberian adrenalin 0,1% atau

penyuntikan sulfas atropin 1 % atau fisostigmin 0,5% akan

mengakibatkan miosis hingga 20 jam pasca mati.

d) Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati

dengan cara penyuntikan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin

20%

e) Spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis

f) Kornea masih dapat ditransplantasikan

By : Rickky_Kurniawan@2009 35
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

g) Darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati.

Keadaan tersebut diatas pada mayat dimana masih dapat

menghasilkan gambaran intravital disebut reaksi peri mortal dan

pertamakali didiskusikan pada tahun 1963 oleh Schleyer. 3

Selama ada oksigen yang mempertahankan kehidupan seseorang.

Sel-sel dalam tubuh akan menjadi sehat, metabolisme berjalan normal

serta fungsi lokomotorik berjalan terus. Terdapatnya Oksigen juga akan

memperbaiki kerusakan sel yang disebabkan oleh organisme dan invasi

bakteri pembusukan dapat dihambat. Bila seseorang meninggal dunia

maka siklus oksigen akan terhenti , tubuh akan mengalami berbagai

perubahan jaringan yang disebut perubahan awal kematian atau tanda

kematian tidak pasti. Susunan saraf pusat akan mengalami kemunduran

dengan cepat yang akan menyebabkan perubahan pada tubuh menjadi

insensibel, reflek cahaya dan reflek kornea hilang, aliran darah, gerakan

nafas berhenti, kulit pucat dan otot mengalami relaksasi. Setelah

beberapa waktu akan timbul perubahan pasca mati yang memungkinkan

diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai

tanda pasti kematian berupa lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu

tubuh pembusukan, mumifikasi dan adiposera. 3

Yang dimaksud dengan reaksi peri mortal yaitu reaksi jaringan

tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan

tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap

mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat

menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90 – 120 menit pasca mati

By : Rickky_Kurniawan@2009 36
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60 – 90 menit pasca

mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah

kulit sampai 1 jam pasca mati. 3

XII. Pertumbuhan Rambut

Pengetahuan mengenai rata-rata tumbuh rambut muka memberi

petunjuk dalam membuat perkiraan kapan saat cukur terakhir. Sejak

rambut berhenti pertumbuhannya pada saat kematian maka panjang dari

jenggot mayat mungkin dapat menjadi pemikiran tentang lamanya

waktu antara kematian dan cukur terakhir. Gonzales dkk, pada tahun

1954 mengatakan rata-rata pertumbuhan rambut adalah 0,4mm/ hari,

sedangkan Balthazard seperti yang kutip oleh Derobert dan Le breton

tahun 1951 mengatakan rata-rata pertumbuhan rambut adalah 0,5 mm /

hari, dan menurut Glaister pada tahun 1973 adalah 1–3 mm / minggu,

akan tetapi pada tiap-tiap individu mempunyai perbedaan dalam rata-

rata pertumbuhan dalam area yang sama, juga variasi rata-rata dari satu

tempat ke tempat lain di muka dan juga berbeda dari satu individu ke

individu yang lain. Selain itu variasi musim atau iklim mempengaruhi

metabolisme dari tubuh itu sendiri. Pada pria rata-rata pertumbuhan

rambut pipi adalah 0,25 mm/ hari dalam bulan agustus–oktober di

antartica, akan tetapi pada temperatur iklim di Lautan Pasifik dalam

bulan April adalah 0,325 mm.17

Pertumbuhan panjang jenggot diukur dengan mencukur mayat,

dan meletakkannya diantara slide dan gelas objek yang kemudian

By : Rickky_Kurniawan@2009 37
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

diukur dibawah mikroskop. 80 persent dari rambut-rambut ini akan

menunjukkan panjang yang sama.

Observasi terhadap pertumbuhan rambut jenggot dalam

menentukan saat mati harus dilakukan dalam 24 jam pertama sesudah

kematian karena sesudah ini kulit akan mengkerut dan ini akan

menyebabkan rambut akan lebih menonjol diatas permukaan dalam 48

jam setelah kematian, fenomena ini yang sering dikira bahwa rambut

masih terus tumbuh setelah kematian. 17

XIII. Pertumbuhan Kuku

Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm perhari

dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bia dapat

diketahui saat terakhir yang berangkutan memotong kuku.3

XIV. Kematian Seluler

Kematian seluler / kematian molekuler adalah berhentinya

aktivitas sistem jaringan, sel, dan molekuler tubuh, sehingga terjadi

kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah

kematian somatis21.

Perubahan post mortem merupakan hasil dari degradasi

jaringan yang berkaitan dengan adanya pengeluaran enzim lisosomal

proteolitik dari sel tersebut. Proses ini terjadi secara langsung setelah

kematian dan biasanya diikuti dengan kematian jaringan ataupun organ

yang disebut dengan proses autolisis. Autolisis adalah perlunakan dan

By : Rickky_Kurniawan@2009 38
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril melalui proses

kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-

organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autilisis

lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan

demikian pankreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada

jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme

oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam

kandungan proses autolisis ini tetap terjadi. Proses auotolisis terjadi

sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-

mula yang terkena adalah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin

dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami

kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan

mencair. Autolisis yang terjadi setelah kematian di pengaruhi oleh

faktor-faktor host, yang disertai dengan adanya faktor dari luar antara

lain, bakteri.21,22.

Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat

oleh pengaruh suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan

dihambat demikian juga pada suhu tinggi enzim-enzim yang terdapat

pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan

terhambat.21

Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-

beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan

tidak bersamaan, hal ini penting dalam transplantasi organ. Sebagai

gambaran dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami

By : Rickky_Kurniawan@2009 39
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

mati seluler dalam empat menit, otot masih dapat dirangsang (listrik)

sampai kira-kira dua jam paska mati dan mengalami mati seluler setelah

empat jam, dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1

persen atau penyuntikan sulfas atropin 1 persen kedalam kamera okuli

anterior, pemberian pilokarpin 1 persen atau fisostigmin 0,5 persen

akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam setelah mati. Kulit masih

dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam paska mati dengan cara

menyuntikkan subkutan pilokarpin 2 persen atau asetil kolin 20 persen,

spermatozoa masih dapat bertahan hidup beberapa hari dalam

epididimis, kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih

dapat dipakai untuk transfusi sampai enam jam pasca-mati.21

By : Rickky_Kurniawan@2009 40
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan referat di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yakni:

1. Kematian individu dapat didefinisikan sebagai berhentinya secara

permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru, jantung dan otak.

2. Kriteria diagnostik kematian diantaranya hilangnya respon terhadap

lingkungan, tidak ada gerakan dan postur, tidak ada reflek pupil, tidak ada

reflek kornea, tidak ada respon motorik dan saraf cranial, tidak ada reflek

menelan dan batuk, serta tidak ada reflek vestibulo-okularis dan respon

nafas spontan ketika pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan

napas.

3. Mati suri adalah penurunan fungsi organ vital sampai taraf minimal untuk

mempertahankan kehidupan.

4. Mati somatic adalah keadaan dimana ketika fungsi ketiga organ vital

system saraf pusat, system kardiovaskuler, dan system pernafasan berhenti

secara menetap.

5. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible

kecuali batang otak dan serebelum.

6. Mati batang otak adalah perusakan seluruh isi neuronal intracranial yang

ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum.

7. Perubahan yang terjadi setelah kematian meliputi perubahan pada kulit

muka, relaksai otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh,

By : Rickky_Kurniawan@2009 41
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

timbulnya lebam dan kaku mayat, terjadinya pembusukan, perubahan

biokimia darah dab cairan serebrospinal, serta perubahan kecepatan

pengosongan lambung.

8. Di dalam prakteknya untuk memperkirakan saat kematian yang biasa

dipakai adalah dengan mengukur penurunan suhu mayat, lebam mayat,

kaku mayat, dan pembusukan. Namun, walaupun dimanfaatkan semua

sarana yang ada, penentuan saat kematain yang tepat adalah tidak mungkin

hanya untuk memperkirakan saat kematian yang mendekati ketepatan.

B. Saran

1. Mengingat referat ini hanyalah berdasarkan bahan bacaan maka

diperlukan suatu pengkajian lebih lanjut mengenai perubahan-perubahan

setelah kematian dengan suatu penelitian ilmiah.

2. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi perubahan-

perubahan lain yang terjadi setelah kematian yang dapat digunakan untuk

memperkirakan saat terjadinya kematian.

3. Diperlukan suatu penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui cara

memperkirakan saat kematian yang paling mendekati kebenaran

berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi setelah kematian.

By : Rickky_Kurniawan@2009 42
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan

Penegak Hukum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang. 47-65.

2. http://kakumayat.blogspot.com/2008/11/tugas-kaku-mayat_3702.html

3. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakulatas Kedokteran

Universitas Indonesia.1997. Thanatologi. Halaman 25-35.

4. Dr. Bushan Kapur, Ph.D, FRSC, FACB, FCACB Department of Clinical

Pathology, Sunnybrook Health Science Center, Toronto. Division of Clinical

Pharmacology and Toxicology, The Hospital for Sick Children, Toronto, and

Department of Laboratory Medicine and Pathobiology, Faculty of Medicine,

University of Toronto. CSCC News, vol. 50, no. 2 April 2008.

5. Anonim. Harvesting Energy: Glycolysis and Cellular Respiration. Diunduh

dari http//www.Biochembull.com. diakses tanggal 31 Juli 2009

6. Al Fatih, Muhammad. Algor Mortis. Diunduh dari

http//www.KlinikIndonesia.com. diakses tanggal 31 Juli 2009.

7. http://www.freewebs.com/forensicpathology/lebammayat.htm

8. Idris, M A Dr. Saat kematian. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Bina Rupa

Aksara. 1997 : 53-77.

9. Van De Graff, K M. Muscle Tissue and The Mode of Contraction. Schaum’s

Outline of Human Anatomy. Mc-Graw Hill. 2001 : 51-53.

10. Dix Jay. Time Of Death and Decompotition

11. http://www.freewebs.com/dekomposisi_posmortem/dekomposisi.htm

12. www.klinikindonesia.com

By : Rickky_Kurniawan@2009 43
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

13. Dahlan, Sofwan. Traumatologi, Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman

Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang: Balai Penerbit Universitas

Diponegoro. 2004, Hal 60-62

14. http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/10/thanatologi-prest_ppt.pdf

15. The Journal of Heredity.64:329-330.1973. Genetic Control of Blood

Biochemistry. M.P.Mi, M.N. Rashad and F.K. Koh.

16. http://www.freewebs.com/forensicpathology/pertumbuhanrambutdanperub.ht

17. Dahlan S. Thanatologi. Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas

Diponegoro Semarang. 2007 : 47-65

18. Anonym, perkiraan saat mati diunduh dari

:http//www/forensic/kakumayat.htm Copyright 2005

19. Nishat A. Sheikh Estimation of postmortem interval according to time course

of potassium ion activity in cadaveric spasme synovial fluid. Indian Journal of

Forensic Medicine & Toxicology diunduh dari

:http//www/forensic/journals.php.htm Copyright 2005

20. Anonym, postmortem changes and time of death diunduh dari

http/www.dundee.ac.uk/forensicmedicine/notes/timedeath.

21. http://www.idwikipedia.org/wiki/Tanatologi

22. http://www.freewebs.com/dekomposisi_posmortem/dekomposisi.htm

By : Rickky_Kurniawan@2009 44

Anda mungkin juga menyukai