Anda di halaman 1dari 30

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori

1. Ilmu Nahwu Shorof

Pengertian Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof

Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof diartikan “kemampuan atau


kesanggupan untuk mempelajari suatu cabang ilmu bahasa Arab yang
mempelajari kaidah-kaidah yang berhubungan dengan susunan kata-kata
dalam kalimat bahasa Arab.1

Tujuan Pengusaan Ilmu Nahwu Shorof

Tujuan utama penguasaan ilmu Nahwu Shorof adalah untuk

memberikan pengetahuan tentang membaca Al-Qur’an hadis dengan

benar. Di samping itu, bertujuan untuk memberikan kaidah-kaidah tata

bahasa Arab yang benar.2

Manfaat Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof

Manfaat menguasai Ilmu Nahwu Shorof yaitu : (1) memahami

susunan kata-kata Arab yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, yang

merupakan sumber utama umat Islam, dengan ilmu Nahwu Shorof ini

seseorang dapat memahami agama yang ditulis dalam bahasa Arab. (2)

untuk dapat menyusun kata-kata Arab dalam susunan yang benar dan sesuai

dengan kaidah-kaidah ilmu Nahwu. (4) untuk menentukan kedudukan-

kedudukan kata dan memahami pengertian suatu kalimat dengan benar.3


1

Ghaziadin Djupri, Ilmu Nahwu Praktis, (Surabaya : Apollo, 2006), hlm. 2


2
Hafizh Dasuki, Ensiklopedi Islam Jilid 4 ( Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1998), hlm.
3
3
Ibid, hlm. 3

19
20

Ruang lingkup Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof

Ruang lingkup yang dipelajari dalam ilmu Nahwu mencakup kalam,


I’rab, Fi’il, Isim-isim dan harf. Kalam mencakup pembagian kalam, tanda Isim,
tanda Fi’il, dan tanda harf. I’rab meliputi : pembagian I’rab, I’rab Isim, I’rab
Fi’il. Tanda-tanda I’rab Rafa’, I’rab Nasbah, tanda I’rab, Khafadl. Fi’il terdiri
dari Fi’il madli, Fi’il Amar, dan Fi’il Mudlari, Isim terdiri dari Isim yang
dirafa’kan meliputi : fa’il, Maf’ul, Mubtada’ dan khabar, Na’at, ‘Athaf, Taukid,
Badal dan Isim-isim yang dinasabkan yang meliputi : Maf’ul bih, Masdar,
Dharaf Makan, Haal, Tamyiz, Istitsna’ Laa, Munada, Maf’ul min Ajlih, Maf’ul
Ma’ah, dan Isim-isim yang dikhafadkan.4
Berdasarkan uraian tersebut di atas, bahwa pembelajaran Nahwu cukup
luas sekali. Adapun masing-masing dari raung lingkup pembelajaran Nahwu
adalah sebagai berikut:
1) Isim ‫( السم‬Kata benda)

Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan

suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya.

Manusia ‫ناس‬ atau ‫جل‬


ُ ‫َر‬ adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan

manusia atau laki-laki, dan Ahmad ‫حمد‬


ْ ‫ أ‬adalah nama untuk individu yang
dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang

paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim

adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata

yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.5

4
Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm. 4
5
Lulu Fikar, Dasar-dasar Ilmu Nahwu, (Jakarta : Gramedia, 2006), hlm 10
21

Isim memiliki beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang

menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim

tersebut adalah:

a) Tanda dari segi artinya

Untuk mengetahui apakah kata tersebut termasuk Isim, dapat

dilihat dari maknanya, atau kata tersebut bisa disandarkan kepada kata

yang lain baik dia itu subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada).

Contohnya ‫ المسافرون عاد‬isim di dini bersandar pada fiíl (kata kerja)

yang menunjukkan ia adalah fail, contoh mubtada ‫خالد‬ ‫مسافر‬.6


b) Tanda dari segi Lafadznya

(1) Tanwin ‫التنوين‬ yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang

ditandai dengan harakat double ‫ـًــ ـٍــ ـٌــ ـ‬. Contohnya, ‫ خالـٌد‬atau

‫زيٍد‬,dan ‫ت‬
ٍ ‫قانتا‬. Maka kata-kata dalam semua contoh ini adalah Isim
karena boleh dimasuki oleh tanwin. Tanwin secara garis besarnya

terbagi menjadi, Pertama: Tanwin tamkin ‫ تمكين‬yaitu tanwin yang

diikutkan kepada isim mu’rab, contoh ‫محمٌد‬. Kedua: Tanwin Tankir

‫تنكير‬ yang mengikuti isim ma’rifah (yang pasti) menjadikannya

nakirah (belum pasti) contoh, ‫سيبويِه‬ (nama ahli nahwu). Ketiga:

Tanwin Muqabalah ‫ المقابلة‬yang diikutkan kepada Jamak muannas


salim (jamak untuk perempuan) contohnya, ‫ت‬
ٍ ‫ قانتا‬disamakan dengan
Nun yang ada pada Jamak Muzakkar Salim (jamak untuk laki-laki)

6
Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm. 5
22

‫قــانتون‬. Keempat: Tanwin Ta’wid ‫( الِعــَوض‬pengganti) yang

diikutkan pada sebagian kata sebagai pengganti terhadap apa yang

dihapus dan dihilangkan, baik sebagai pengganti dari huruf yang

dihilangkan, contohnya ‫ع جــاء‬


ٍ ‫ را‬kata ra’in ditanwinkan sebagai

pengganti huruf ya’ yang dihilangkan, aslinya adalah ‫راعــي‬.


Ataukah pengganti dari kata yang dihapus, misalnya kata-kata yang

terletak setelak Kullu dan Ba’dhu yang terhapus kata yang

disandarkan padanya ّ ‫ منهــم ك ـ‬asalnya


‫ل‬ adalah ‫منهــم واحــد كــل‬.
Ataupun sebagai pengganti dari kalimat yang dihilangkan, contoh

‫( الجامعة في أعمل حينئٍذ وكنت قبل ســنتين زرتنــي‬dua tahun lalu,

engkau menziarahiku dan pada saat itu saya bekerja universitas),

kata Hinaizin ditanwinkan karena menggantin kalimat yang hilang,

asalnya adalah ‫زرتني‬ ‫حينئذ‬.7

(2) Dapat dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam, ‫ألـ‬ pada

awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima

AL, maka kata tersebut adalah Isim. Contohnya, ‫الكاتب‬ = seorang

penulis, ‫المؤمن‬ = orang mukmin, ‫المسافر‬ = orang yang bepergian.

Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata.

(3) Dapat dimasuki oleh Jarr ‫الجر‬. Baik jarr disebabkan oleh adanya
huruf jarr maupun karena Idhafah. Contohnya, ‫ح‬
ِ ‫السط‬ ‫الحراس على‬
‫على‬, kata Sathi dibaca kasrah karena dimasuki oleh huruf jarr yaitu
Ála. Contoh Idhafah ‫ب كتاب‬
ِ ‫الطال‬ kata At Thalibi dibaca kasrah

7
Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 11
23

(jarr) karena bersandar kepada Kitab. Huruf-huruf Jarr adalah ‫من‬


ِ =
dari (permulaan), ‫= إلـــي‬ ke, kepada, ‫عـــن‬
َ = dari (lepas,

meninggalkan), ‫= علي‬ atas, ‫في‬ = di, di dalam, ّ ‫= ُر‬


‫ب‬ barangkali,

kadang-kadang [;sedikit atau banyak], ‫ = الباء‬dengan, ‫ = لكافا‬seperti


[penyerupaan], ‫= اللم‬ untuk. Dan termasuk juga huruf-huruf

sumpah ‫حروف القسم‬, yaitu; ‫ والوا‬hanya untuk Isim Zhahir,[2] ‫الباء‬


untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan ‫التاء‬ khusus dengan kata ‫ال‬.
Contohnya; ‫هتا‬
ِ ‫لل‬ ‫ ِبال‬,‫ل‬
ِ ‫وا‬, semuanya bermakna Demi Allah.
(4) Boleh dimasuki oleh Harf Nida (panggilan) contoh, ‫يا‬ ‫( زيُد‬Hai Zaid)
dimasuki oleh Ya harf nida, contoh lain, ‫هيا‬
ِ ‫عبَدالل‬
(5) Kata tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk Tashgir

‫( التصــــغير‬mengecilkan) contoh, ‫جبﻝ‬ (gunung) menjadi

‫(جبيل‬gunung kecil), contoh lain, ‫ عصفور‬menjadi ‫صْيِفير‬


َ ‫ع‬
ُ.
(6) Kata tersebut dapat dijadikan Musanna (yang menunjukan atas dua)

dan jamak. Contoh, ‫طالبات‬ ،‫ طالبون‬،‫ طلب‬،‫طالبان‬8


2) Fi’il ‫الِفعل‬

Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya

dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam

istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri

dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa

sekarang, dan masa yang akan datang.

Ibid, hlm. 12
24

Contohnya َ ‫َكَت‬
‫ب‬ adalah kata yang menunjukkan makna penulisan

dan terikat dengan masa yang telah lalu, ُ ‫ َيْكُتــ‬adalah


‫ب‬ kata yang

memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan

ْ ‫أكُت‬
‫ب‬ juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat

dengan masa yang akan datang. Demikian juga contoh-contoh lain seperti

‫صر‬
ُ ‫صر ان‬
ُ ‫صَر ين‬
َ ‫ = َن‬menolong, ‫عَلْم‬
ْ ‫عِلم يعَلم ا‬
َ = mengetahui, ‫جَلس يجِلس‬

ْ ‫= اجِلـ‬
‫س‬ duduk, ْ ‫= ضـَرب يضـِرب اضـِر‬
‫ب‬ memukul, ‫= فِهـم يفَهــم افَهـم‬
mengerti, memahami.

Perubahan bentuk dari setiap kata-kata dalam Bahasa Arab

merupakan pembahasan Ilmu Sharaf atau dalam istilah yang lebih luas;

Morphologi. Sedangkan dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan

adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap

kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai

dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam

Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam

tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.9

Fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata

kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang,

dan kata kerja perintah. Fi’il terdiri dari beberapa jenis,10 antara lain:

a) Fi’il Madhi ‫ الفعععل الماضععي‬yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu

pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu

penuturan. Contoh, َ ‫س ـَتعم‬


‫ل‬ ْ ‫ا‬,‫ق‬
َ ‫طَل ـ‬
َ ‫ اْن‬, ‫ سِمع‬, ‫ خطب‬.Tanda-tandanya
dari segi arti yaitu menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang

9
Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm 25
10

Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 15


25

berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Adapun tanda-

tandanya secara Lafdzi yaitu: Pertama: dapat dimasuki oleh Lam ‫ لــ‬.

Kedua: Dapat dimasuki oleh Ta Al Faíl, contoh ِ ‫ت سافر‬


‫ت‬ َ ‫ت سافر‬
ُ ‫سافر‬

. Ketiga: dapat dimasuki oleh Ta ta’nis sakinah, contoh, ْ ‫اســتمع‬


‫ت‬
ْ ‫ت عاد‬
‫ت‬ ْ ‫ت جلس‬
ْ ‫سافر‬. Hukum Fiíl Madhi dalm I’rab adalah Mabni

(tidak berubah harakah akhir hurufnya).

b) Fi’il Mudhari’ ‫ الفعـــل المضـــارع‬yaitu kata kerja yang menunjukkan

pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang)

atau sesudahnya (akan datang). Misalnya ُ ‫ َيصُل‬. Dinamakan Mudhari’


‫ح‬
karena menyerupai isim. Tanda-tanda Mudhari’ adalah dapat dimasuki

oleh sin ‫السين‬ dan saufa ‫ سوف‬. Juga dapat dimasuki oleh huruf jazm

dan Nashb ْ ‫ َلــ‬,‫ن‬


‫ن‬ ْ ‫ َأ‬, ‫ن‬
ْ ‫ إ‬, ‫ لم المــر‬,‫ ل الناهيــة‬,‫لــم‬. Dan kadang

bentuknya Mudhari’ namun berarti Madhi, apabila dimasuki oleh Lam,

misalnya, ‫( لم يحضر‬belum/tidak datang). Hukum I’rab fiíl Mudhari’

adalah Mu’rab (berubah harakah ahir hurufnya) selama tidak dimasuki

oleh Nun Taukid ‫التوكيد‬ ‫ نون‬dan Nun Niswah ‫نون النسوة‬.


c) Fi’il Amar ‫ فعل المر‬yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya

pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang

ayah atau kawan dan lain-lain memerintahkan kepada seseorang untuk

belajar, dia mengatakan = ‫ تعّلْم‬Belajarlah, atau ‫ اقرأ‬bacalah, atau ‫ق‬


ْ ‫طِل‬
َ ‫اْن‬

pergilah. Atau ‫ استغفر‬bertobatlah. Tanda-tanda fiíl amar adalah dapat

dimasuki oleh Nun Taukid ‫ن الّتوكيد‬


َ ‫ ُنو‬adalah huruf Nun pada akhir kata
yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan
26

tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan

Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun

Taukid Khafifah berbaris sukun ‫ن‬


ْ ‫ـ‬, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah

bertasydid dan berharakat fathah ‫ن‬


ّ ‫ ـ ـ‬. atau Ya Al Mukhatabah ‫يــاء‬

‫ المخاطبة‬adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang


kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan

ditujukan kepada perempuan. Contohnya, ‫ومي‬


ْ ‫( = ُق‬Kamu perempuan),

Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki ‫ُقْم‬, dan ‫( = ُاْكُتبي‬Kamu

perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki

‫اكتــب‬. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena
menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua

kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan

masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan. Hukum

fiíl amar dalam I’rab adalah Mabni.11

Dari semua penjelasan di atas tadi, dapat disimpulkan Tanda-tanda


Fi’il yang paling utama, baik Fiíl Madhi, Mudhari’dan Amar secara umum
ketika berada dalam struktur kalimat adalah:
(1) Kata tersebut didahului oleh ‫ قد‬.
(2) Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf Sin ‫ن‬
ُ ‫السي‬
atau Huruf Saufa ‫ف‬
َ ‫سو‬.
(3) Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah ‫ساكَنة‬
ّ ‫ تاُء الّتأنيث ال‬yaitu huruf
Ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk Fi’il
Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang
terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas).

11
Ibid, hlm. 16
27

(4) Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna
tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah ‫ياء المخاطبة‬
atau Nun Taukid ‫ن الّتوكيد‬
َ ‫ُنو‬.
3) Huruf ‫الحرف‬
Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata
yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa
diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il Tanda
Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau
dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kalau kita
mengenal Jim dengan titik di bawah dan Kha dengan titik di atas, kita
mengenal Ha tanpa titik. Demikian juga, kita mengenal jenis kata Isim dan
Fi’il dengan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, maka kita mengenal
jenis kata Huruf tanpa tanda dan tidak menerima tanda-tanda Isim atau
Fi’il.
Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam
sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya,
sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
a) Huruf yang dapat masuk ke Isim maupun Fiíl, dan huruf tersebut tidak

ْ ‫ َه‬dalam ‫هل‬
mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata Hal ‫ل‬

‫اتاك حديث الغاشية‬


b) Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi

serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna ‫ن‬


ّ ‫ إ‬dan Fi ‫في‬, dalam Al

Quran : ّ ‫الذين يقاتلون في سبيله يحب ال إ‬


‫ن‬

c) Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut

mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan

Jazam.12

12
28

4) I’RAB ‫ العراب‬dan BINA ‫البناء‬

a) Al BINA ‫البناء‬

Bina adalah suatu keharusan dimana harakah (baris) akhir dari

suatu kata tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-

faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata, atau simpelnya, Bina

adalah kata yang tidak berubah harakah akhir hurufnya. Contohnya, kata

aina ‫ن‬
َ ‫( أيــ‬dimana) dan amsi ‫س‬
ِ ‫( أْمــ‬kemarin), dimana baris (harakah)

akhirnya tidak akan pernah berubah.

Macam-macam Bina ‫البناء‬

Tanda-tanda bina suatu kata dalam I’rab terbagi menjadi empat, yaitu:
(1) Sukun ‫ن‬
ُ ‫سكو‬
ّ ‫ ال‬yaitu tidak adanya harakah, yang mana terdapat pada
huruf, fiíl serta isim, contoh mabni dengan sukun dari huruf ‫ل‬
ْ ‫ ه‬, dan
dari fiíl, ‫ قْم‬, dan dari isim, ‫ كْم‬.
(2) Fatha ‫ح‬
ُ ‫ الَفْت‬, berbaris atas dengan fatha, hal ini pun terdapat pada Isim,
contohnya ‫ن‬
َ ‫ أيـــ‬, dan Huruf, contohnya ‫ف‬
َ ‫ ســـو‬, juga pada Fi’il,
contohnya, ‫ قاَم‬.
(3) Kasrah ‫سُر‬
ْ ‫ الَك‬berbaris bawah dengan kasrah, terdapat pada Isim,
contohnya ‫س‬
ِ ‫ أْم‬dan huruf, contohnya huruf Lam Al Jarr ‫لِم الجر‬
misalnya dalam kalimat ‫ﻝ ِلَزْيٍد‬
ُ ‫ الما‬.
(4) Dhamma ‫ضّم‬
ّ ‫ ال‬berbaris atas dengan Dhamma, terdapat pada huruf,
contohnya ‫ مْنُذ‬dan isim yang menunjukkan arah misalnya ‫ت‬
ُ ‫ تح‬dengan
syarat harus Idhafah secara makna tanpa Lafadz.
Bentuk-bentuk Mabni, setelah mengetahui macam-macam tanda
bina, seyogyanyalah untuk mengetahui apa-apa saja dari Isim, Fi’il dan

Muhamad Latif Kurniawan, Cara mudah Mempelajari Tata Bahasa Arab ( Nahwu dan
Shorof, (Jakarta : Gema Insani, 2008) hlm. 17
29

Huruf yang Mabni agar tidak salah dalam menempatkan letak serta
hukumnya dalam suatu kalimat.13
6) Huruf ‫ف‬
ُ ‫حُرو‬
ُ ‫ال‬
Semua huruf adalah Mabni, baik dengan Fatha seperti ‫ ثّم‬،‫ ف‬،‫ك‬
َ ،‫َو‬
,maupun Sukun, seperti ْ‫ هل‬،‫ إلى‬،‫ في‬،‫ن‬
ْ ‫ م‬, dan Kasrah seperti ‫ ِبـ )كتبت‬،(‫ﻝ ِلَزْيٍد‬
ُ ‫ِلـ )الما‬
‫ )بالقلم‬, dan juga Dhamma sperti ‫منُذ‬.
7) Af’al ‫الفعال‬
Semua Fi’il adalah Mabni kecuali Fi’il Mudhari’ yang tidak
dimasuki oleh salah satu dari Nun Niswah ‫ نون النسوة‬maupun Nun Taukid ‫ن‬
َ ‫ُنو‬
‫ الّتوكيد‬.
a) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Madhi

(1) Fatha: Jika tidak berhubungan dengan kata apa pun, contohnya ‫ تكلَم‬, ‫سمَع‬

atau Fi’il tersebut bergandengan dengan Ta Ta’nis ‫ تاء التأنيث‬contohnya

ْ ‫ جلس‬, ‫ت‬
‫ت‬ ْ ‫ فهَم‬atau Fi’il tersebut berhubungan dengan Al Alif Al Itsnain

‫ ألف الثنين‬yang menunjukan dua orang, contohnya ‫ سعيا‬،‫ قاما‬،‫ذهبا‬.

(2) Sukun: Apabila fi’il tersebut bergandengan dengan Dhamir yang

kedudukannya adalah marfu’ sebagai subjek misalnya Ta mutakallim

dan sebagainya, atau fi’il tersebut bergandengan dengan Nun Niswah,

contohnya ,‫ ســعْينا‬،‫ ســعْيت‬.‫ن‬


َ ‫ ســمْع‬،‫ن‬
ّ ‫ ســمْعُت‬،‫ ســمْعتما‬, ‫ت‬
ِ ‫ ســمْع‬،‫ت‬
َ ‫ ســمْع‬،‫ سمْعنا‬،‫ت‬
ُ ‫سمْع‬

َ ‫ سعْيُت‬،‫سعْيتما‬.
‫ن‬

(3) Dhamma: Apabila Fi’il tersebut berhubungan dan bergandengan

dengan Wau Al Jama’ah (yang menunjukkan jamak muzakkar

salim=laki-laki), contohnya ‫ فهُموا‬،‫سمُعوا‬.14

b) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Mudhari’

Fi’il Mudhari’ Mabni apabila dimasuki oleh salah satu dari Nun

Taukid dan Nun Niswah, dan tanda binanya adalah, Sukun: Apabila
13
Ibid, hlm. 17
14
Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 20
30

berhubungan dengan Nun Niswah, contohnya ‫ن‬


َ ‫ يــدعْو‬،‫ن‬
َ ‫ يمشـْي‬،‫ن‬
َ ‫ يقــرْأ‬،‫ن‬
َ ‫ يســمْع‬.

Fatha: Apabila berhubungan langsung dengan Nun Taukid yang

disandarkan kepada Mufrad Muzakkar, contohnya, ‫ن‬


ّ ‫ لتدعَو‬،‫ن‬
ْ ‫ِلتسمَع‬.

c) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Amar

Adapun Binanya Fiíl Amar yaitu, Sukun: Apabila huruf terakhirnya


bukan huruf Illat (Alif, Wau dan Ya) dan tidak berhubungan dengan kata
apa pun, contoh ‫ اسمْع‬،‫ افهْم‬, atau berhubungan dengan Nun Niswah, contoh
َ ‫ اســعْي‬،‫ن‬
‫ن‬ َ ‫ ادنــْو‬،‫ن‬
َ ‫أطْعــ‬. Fatha: Apabila berhubungan dengan Nun Taukid,
contohnya ‫ن‬
ّ ‫ن وادع ـَو‬
ْ ‫ ادع ـَو‬،‫ن‬
ّ ‫ اســمَع‬،‫ن‬
ْ ‫افهَم ـ‬. Khazfu Nun (dihilangkan huruf
Nunnya): Apabila berhubungan dengan Alif Itsnain yang menunjukkan
Mutsanna, atau Wau Jamaáh yang menunjukkan Jamak Muzakkar Salim
atau Ya Al Mukhathabah, contohnya, ‫ اقنعي‬،‫ اقنعوا‬،‫ارعيا‬. Khazfu harfu illah
(meniadakan huruf Illatnya): Apabila huruf akhir dari fiíl adalah huruf
illah, contohnya, ‫ش‬
ِ ‫ ام‬،‫ع‬
ُ ‫ اد‬،‫ع‬
َ ‫ار‬.
8) Al Asma ‫السماُء‬
Dhamair ‫ضماِئُر‬
ّ ‫( ال‬Pronauns) atau kata ganti baik orang pertama tunggal
dan sebagainya yang terbagi menjadi Munfashil (terpisah) yang terbagi menjadi
Rafa’dan Nasab (kedudukannya dalam I’rab) contoh Rafa’ ،‫ أنتم‬،‫ أنتما‬،‫ت‬
َ ‫ أن‬،‫ نحن‬،‫أنا‬
ّ ‫ ه‬،‫ هما‬,‫ي‬
‫ن‬ َ ‫ ه‬, ،‫ هْم‬،‫ هما‬،‫ هَو‬, ‫ن‬
ّ ‫ أنت‬،‫ أنتما‬،‫ت‬
ِ ‫ أن‬Contoh Nashab : ،‫ إيــاكم‬،‫ إياكما‬،‫ إّياك‬،‫ إيانا‬،‫إّياي‬
ّ ‫ إيــاك‬،‫ إياكمــا‬،‫ك‬
‫ن‬ ِ ‫ِإيــا‬، .dan Muttashil (berhubungan) juga terbagi menjadi Rafa’,
Nashab, dan Jarr .Contoh Rafa’(‫ قرأنا‬,‫ت‬
ُ ‫ )نا( قرأ‬,(‫تاء‬. Contoh Nashab, ‫ يــاء‬orang
yang berbicara, ‫ كاف‬.‫( سمعني‬lawan berbicara) misalnya ‫حدثك‬. Atau ‫( هاء‬terhadap
orang ketiga tunggal) misalnya, ‫أعطيته‬. Contoh Jarr, Ya (‫( )ياء‬orang

yang berbicara) misalnya ‫ بيتي‬, Ha ‫( هاء‬orang ketiga tunggal) misalnya ‫بيتُه‬. Kaf

‫( كاف‬lawan berbicara) misalnya ‫بيتك‬


31

a) Kata Sambung ‫صععوِل‬


ُ ‫سماُء الَمْو‬
ْ ‫ أ‬seperti ‫( الـذي‬berarti yang untuk sesuatu atau
seorang yang menunjukkan Muzakkar = laki-laki), ‫( التي‬untuk Muannats atau
perempuan), ‫ن‬
َ ‫( الذي‬jamak Muzakkar) ‫ اللواتي‬،‫ت‬
ِ ‫ الل‬،‫( اللتي‬jamak muannas).

b) Kata Tanya ‫ استفهام‬seperti Man=siapa ‫( َمْن‬untuk yang berakal), Ma=apa ‫ما‬


(yang tidak berakal) Mata=kapan ‫( متى‬untuk waktu) Aina=di mana ‫ن‬
َ ‫( أي‬untuk
tempat).
c) Isim yang menunjukkan pada bunyi-bunyian dan suara, seperti suara bayi

dan juga suara binatang, contoh ‫ج‬


ْ ‫ وه‬،‫س‬
ّ ‫س وِه‬
ّ ‫( إ‬suara kambing/mengembik),

‫( هل‬suara kuda), ‫خ‬


ْ ‫( ِك‬suara tangisan bayi). Dan sebagainya.

d) Isim (kata benda) yang mengandung arti fi’íl (kata kerja), contohnya, ‫ مْه‬،‫صْه‬

(cukup!), ‫ي‬
ّ ‫( ح‬terimalah), ‫ف‬
ّ ‫( أ‬makian), ‫ي‬
ْ ‫( و‬makian), ‫ت‬
َ ‫( هيها‬jauh). Dan lain-

lain yang mengandung makna fiíl.

e) Sebagian dari keterangan waktu dan tempat, contoh ‫س‬


ِ ‫ أْم‬،‫ث‬
ُ ‫حْي‬
َ ،‫ن‬
َ ‫ ال‬،‫ إذا‬،‫إْذ‬.

f) Isim yang menunjukkan syarat ‫شْرط‬


ّ ‫سماُء ال‬
ْ ‫ أ‬, contoh ,‫ كيفما‬,‫ حيثما‬,‫ متى‬,‫ مهما‬,‫ن‬
ْ ‫َم‬

ْ ‫أ‬.15
‫ أّيان‬,‫ي‬

9) AL I’RAB ‫العراب‬

I,rab adalah kebalikan dan lawan dari Bina, dimana harakah (baris) akhir

dari suatu kata akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang

merubah harakah dan kedudukan kata dalam kalimat. Yang mana tanda-tanda I’rab

itu terbagi menjadi dua, ada tanda yang asli dan farí (bukan asli).

Tanda Asli dari I’rab adalah Dhamma ‫ الضمُة‬untuk Rafa’, Fatha ‫ الفتحُة‬untuk

Nashab, Kasrah ‫ الكسرة‬untuk Jarr, dan Sukun ‫ السكون‬untuk Jazam. Tanda-tanda ini

ada yang dikhususkan untuk Isim dan Fiíl saja yaitu Rafa’dan Nashab, contohnya

dalam kalimat ‫ن عمله‬


ُ ‫ن يتق‬
ُ ‫ المؤم‬Rafa’ (dibaca dhamma pada ahir harakatnya) kata

Mu’min dan yutqinu dengan Dhamma, contoh lain dari yang Nashab, ‫ن القطاَر لن‬
ّ‫إ‬

15
Muhamad Latif Kurniawan, Op. Cit., hlm. 22
32

‫ يغادَر قبل المساء‬Nashab Isim Qitara karena dimasuki Inna (huruf Nashab isim dan

rafa’khabarnya) dan Fiíl Yughadir dengan Fatha karena dimasuki oleh huruf

nashab yaitu Lan. Dan dari tanda-tanda I’rab tersebut ada juga yang dikhususkan

terhadap isim yaitu Jarr, contohnya ‫ في مسجِد المدينِة عالم‬Kata masjidi dibaca kasrah

karena di dahului huruf Jarr dan kata Madinah di baca kasrah karena Idhafaf.

Adapun tanda Jazam dikhususkannya kepada Fiíl, contohnya ‫ لم يفْز بالنجاح كسوﻝ‬kata

yafuz disukunkan karena dimasuki oleh huruf jazam.

Tanda-tanda Farí dari I’rab yaitu suatu harakat mengganti kedudukan

harakat lainnya seperti kasrah mengganti fatha pada Jamak Muzakkar Salim dan

fatha menggantikan kasrah pada Mamnu’min As sharf. Atau kedudukan harakah

digantikan oleh huruf, misalnya Wau menggantikan dhamma pada jamak muzakkar

salim. Menurut Lulu Fikar16 kesemuanya itu dapat diperincikan secara garis

besarnya (baik harakah yang menggantikan posisi harakah lainnya maupun huruf

yang menggantikan kedudukan dari harakah) di bawah ini:

a) Harakah yang menggantikan kedudukan harakah lainnya

(1) Jamak Muannas Salaim (perempuan) ‫ جمععععع المععععؤنث السععععالم‬yaitu yang


menunjukkan lebih dari dua (muannats) dengan menambahkan Alif ‫ ألف‬dan
Ta ‫ تــاء‬pada akhir katanya. Untuk menjadikan suatu isim mufrad menjadi
jamak muannats salim, maka isim tersebut Pertama: haruslah menunjukkan
kepada nama-nama perempuan, mislanya jamak dari Zainab ‫تالزينبا‬, jamak
dari Hindun ‫ الهندات‬, jamak dari Maryam ‫المريمات‬. Kedua: Isim yang diakhiri
dengan tanda-tanda Ta’nits (feminis) baik Ta , Alif Maqsur dan Mamdud ,
contohnya ‫ فاطمة‬jamaknya adalah ‫ حمزة‬,‫ الفاطمات‬jamaknya adalah ‫ سماء‬, ‫الحمزات‬
jamaknya ‫ كبرى‬, ‫ سماوات‬jamaknya ‫ كبريات‬. Ketiga: Isim dalam bentuk Tashgir,
contohnya kata Dirham yang telah diTashgir menjadi Duraihim maka
jamaknya adalah ‫ ُدريهمات‬. Keempat: Isim yang terdiri dari lima huruf yang

16
Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 23
33

belum pernah didengar Jamak Taksirnya (tidak beraturan), misalnya kata


‫( إسطبل‬kandang kuda) jamaknya ‫إسطبلت‬, dan kata ‫( حّمام‬Wc) jamaknya adalah
‫ حمامات‬. Jamak Muannats Salim ini, apabila kedudukannya Manshub dalam
kalimat maka alamat I’rabnya adalah kasrah menggantikan fatha.
(2) Mamnu’Min As Sharf ‫ الممنععوع مععن الصععرف‬Isim yang tidak diikutkan dengan
Tanwin atau kasrah, olehnya itu apabila ia Majrur karena dimasuki oleh salah
satu huruf Jarr maka I’rabnya adalah Majrur dengan Fatha pengganti
kasrah. Adapun yang termasuk dalam Mamnu’Min As Sharf ini adalah,
Pertama: nama-nama Ajami seperti ‫ إسحاق‬،‫ إبراهيم‬،‫ إسماعيل‬, Kedua: Nama-nama
ajam yang terdiri dari dua kata, misalnya ‫ بعلبك‬،‫حضرموت‬, Ketiga: Isim yang
ditambahkan Alif dan Nun pada akhirnya, misalnya ‫ سلمان‬،‫رضوان‬, Keempat:
Isim yang timbangannya menyerupai timbangan Fiíl, contohnya ،‫ يزيد‬،‫أحمد‬
‫يشــكر‬, Kelima: Adl dalam timbangan Fu’al seperti, ‫صــم‬
َ ‫ع‬
ُ ،‫ ُهبــل‬،‫حــل‬
َ ‫ ُز‬،‫عَمــر‬
ُ,
Keenam: Isim yang bertimbangan Fa’laan ‫ َفْعلن‬misalnya ‫ عطشــان‬،‫غضــبان‬
,Ketujuh: Isim yang bertimbangan Afála ‫ أفعل‬misalnya ‫ أصغر‬،‫ أحمر‬,Kedelapan:
Isim yang di akhir katanya adalah Alif Mamdudah atau Maqshurah,
contohnya ‫ مصــطفى‬،‫ حبلـى‬،‫ أطبــاء‬،‫ أصــدقاء‬،‫ حســناء‬,Kesembilan: Bentuk Muntaha
Jumuk, misalnya ‫ قناديل‬،‫ دوائر‬،‫ عمائر‬،‫مساجد‬. Kata-kata yang termasuk Mamnu’
Min As Sharf ini apabila dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka hukumnya
majrur dengan Fatha pengganti kasrah, namun apabila ia dimasuki oleh AL
atau ia Idhafah (bersandar pada kalimat lain) maka hukumnya tetap majrur

dengan Kasrah, contohnya: ‫المساجِد في‬, karena kata masajid dimasuki oleh
AL.17
b) Harakah digantikan oleh Huruf
(1) Mutsanna ‫ المثنى‬yaitu yang menunjukkan kepada dua (bernyawa atau tidak

bernyawa), antara tunggal dan jamak. Yang ditambahkan Alif ‫ ألف‬dan Nun

‫ نــون‬pada akhir katanya untuk menunjukkan hukumnya sebagai Marfu’,


17
Taufiqul Hakim, Amsilati (Jepara : Darul Falah, 2008), hlm. 28
34

contohnya ‫ رجلن‬, dan menambahkan Ya ‫ ياء‬dan Nun ‫ نون‬pada akhir katanya

yang menunjukkan Jarr atau Nashab, contohnya ‫رجليــن‬. Adapun untuk

mengetahui bentuk-bentuknya adalah pembahasan dalam Ilmu Sharf.

(2) Jamak Muzakkar Salim ‫ جمــع مــذكر ســالم‬yang menunjukkan tiga atau lebih

dengan menambahkan Wau ‫ واو‬dan Nun ‫ نون‬pada kondisi Marfu’ contohnya

‫ مسلمون‬, dan menambahkan Ya ‫ ياء‬dan Nun ‫ نـون‬pada kondisi Majrur dan

Manshub, contohnya ‫مسلمين‬.

(3) Asma Sittah ‫ السماء الستة‬yaitu ‫( أب‬bapak), ‫( أخ‬saudara lk), ‫( حم‬panan), ‫( ذو‬yg

mempunyai), ‫( فو‬mulut), ‫( هن‬sesuatu). Tanda Marfu’nya dengan Wau ‫الواو‬

contohnya ‫ حضر أبو علي‬, Manshub dengan Alif ‫اللف‬, contoh ‫ت أبا علي‬
ُ ‫ ورأي‬, dan

Majrur dengan Ya ‫ الياء‬contohnya ‫ت بــأبي علــي‬


ُ ‫مرر‬. Syarat-syaratnya adalah

haruslah tunggal (mufrad) tidak boleh mutsanna (dua) dan Jamak. Syarat

lainnya adalah harus Idhafah, contohnya ‫حضر أبـوه‬. Dan tidak boleh jika

bentuknya tashgir, contohnya ‫ّأخّيه صغير‬.

c) I’rabnya dengan menghapus atau menghilangkan hurufnya

(1) Al Af’al Al Khmasa ‫ الفعال الخمسة‬yaitu setiap Fi’il yang berhubungan dengan

Alif Itsnain (mutsanna), atau Ya Al Mukhatabah, atau Wau Jama’ah.

Dinamakan Af’al Khamsa karena bentuknya ada lima yaitu, ،‫ يفعلن‬،‫تفعلن‬

‫ تفعلون‬،‫ يفعلون‬,‫تفعلين‬. Hukum I’rab Fi’il yang lima ini adalah menghilangkan

huruf Nunnya apabila Ia Mnshub atau Majzum, contohnya ‫يريد التاجران ان‬

‫ يشــترياهذه الــدار‬dihilangkan Nun pada kata Yasytariyani karena manshub

dengan huruf nashb. Atau majzum karena dimasuki oleh huruf jazm seperti

contoh di bawah ini ‫ل تشتريا هذه الدار‬

(2) Mudhari’ Mu’tal Akhir, yaitu fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya adalah

huruf Illat (alif, wau dan ya). Apabila ia berada pada posisi Majzum maka

hukumnya adalah majzum dengan menghapus huruf illatnya, contohnya ‫يدعو‬


35

dan ‫ يخشى‬apabila dimasuki oleh huruf jazm ‫ع أحــدا‬


ُ ‫ لــم يــد‬dihilangkan huruf

wannya ‫ش أعداءه‬
َ ‫خالد لم يخ‬. Dihilangkan huruf yanya.

I’rab terbagi menjadi tiga macam, yaitu I’rab Dhahir (nampak) ‫إعراب‬

‫ظاهر‬, I’rab Muqaddar (tersembunyi) ‫ إعراب مقدر‬dan I’rab Mahalli ‫إعراب محلي‬

(berdasarkan tempat dan kedudukan dalam kalimat). I’rab Dhahir ‫إعراب ظاهر‬

adalah nampak dan terlihatnya tanda-tanda I’rab seperti kasrah, dhamma dan

fatha pada akhir suatu kata, contohnya ‫ في المساجد‬dimana terlihat dengan jelas

kasrah pada kata masajidi. I’rab Muqaddar yaitu tidak nampaknya tanda-tanda

I’rab dengan jelas pada akhir kata disebabkan oleh beratnya lidah untuk

menyebutkannya atau terdapat uzur dalam penyebutan atau karena maksud

menempatkannya pada suatu posisi dengan harakat yang sesuai ataupun karena

dimasuki oleh huruf jarr tambahan (zaid). Dan semua itu terdapat pada:

(1) Isim Manquush ‫ السم المنقوص‬yaitu isim yang diakhiri dengan huruf Ya dan

huruf sebelumnya kasrah, contoh ‫ القاضــي‬muqaddar atas dhamma dan

kasrah karena berat penyebutannya.

(2) Isim Maqshur ‫ السم المقصور‬yaitu isim yang diakhiri dengan Alif dan huruf

sebelumnya adalah fatha, contohnya ‫ الفَتــى‬dalam kalimat ‫ حضــر الفــتى‬atau

ً ‫ت بفــت‬
‫ى‬ ُ ‫ ومــرر‬I’rabnya adalah dengan menyembunyikan semua harakatnya

karena ada uzur.

(3) Isim yang disandarkan kepadanya Ya Mutakallim, contohnya ‫ كتابي‬semua

harakatnya disembunyikan karena kedudukannya dengan harakat yang

sesuai.

(4) Isim yang dijarr dengan huruf jarr tambahan, contohnya ‫ما حضر من أحٍد‬.

(5) Fi’il Mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf illat, baik huruf akhirnya

adalah Ya dan sebelumnya kasrah misalnya ‫ يبنــي‬،‫ يمشــي‬, ataukah huruf

akhirnya adalah Wau sebelumnya dhamma, contohnya ‫ يغزو‬،‫يدعو‬, maupun


36

huruf akhirnya Alif dan fatha sebelumnya, misalnya ‫ يخشــى‬،‫يرعــى‬, maka

tanda I’rabnya adalah muqaddar karena ada uzur yang menghalangnya.

I’rab Mahalli ‫ إعراب محلي‬yang berdasarkan tempat dan kedudukan

suatu isim dalam kalimat, dan kebanyakan terdapat pada semua isim yang

mabni, contoh dari kata penunjuk ‫ هذا كريم‬, contoh dari kata penghubung ‫أكرمت‬

‫الذي نجح‬.18

(1) Nakirah (‫ )النكرة‬dan Ma’rifat (‫)المعرفة‬

Nakirah (‫ )النكرة‬adalah yang tidak dimaksudkan kepada sesuatu yang

tertentu atau dengan kata lain nakirah adalah sesuatu yang belum tentu dan

pasti, contohnya kata manusia (‫ )إنسان‬dan laki-laki (‫ )رجل‬apabila kedua kata

tersebut belum jelas ketentuannya, manusia yang manakah atau lelaki yang

mana. Sedangkan Ma’rifat (‫ )المعرفة‬adalah susatu yang pasti dan dimaksudkan

kepada susuatu yang tertentu, yang terbagi menjadi tujuh bagian yaitu Dhamir,

álam, kata penunjuk, kata penghubung, kata yang ber alif lam (‫)أﻝ‬, bersandar

pada ma’rifah , munada (panggilan=dimasuki oleh huruf nida).

Dhamir (‫ )ضــمائر‬adalah kata yang menunjukkan kepada mutakallim

(orang pertama tunggal) atau mukhatab (lawan berbicara) dan ghaib (orang

ketiga). Yang terbagi menjadi dhamir Munfashil (terpisah) yaitu dhamir yang

boleh dimulai dengannya pada awal kalimat atau terletak setalh Illa (kecuali).

Dan dhamir muttashil (bersambung) yaitu dhamir yang bersambungan dengan

kata lain, contoh dhamir munfashil, saya (‫)أنا‬, kamu laki-laki (‫ت‬
َ ‫)أن‬, kami/kita (

‫)نحن‬, dia laki-laki (‫)هو‬, dia perempuan (‫)هي‬, mereka (‫ )هم‬kesemuanya adalah

dhamir muttashil yang menempati kedudukan rafa’/marfu’dalam kalimat,

adapaun yang menempati nashab yaitu saya (‫)إّياي‬, kamu (‫)إّياك‬, mereka (‫)إياهم‬

18
Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 30
37

dst. Contoh dhamir muttashil, Ta yang menunjukkan saya (‫ت‬


ُ ‫)تــاء= قــرأ‬, Na

menunjukkan kita (‫ )نا =قرأنا‬dan seterusnya.19

Al ‘alam (‫ )العلعم‬adalah kata yang menunjukkan sesuatu pada zatnya

yang meliputi Kunyah (gelar) yaitu kata yang dimulai dengan ibn, abu atau

umm, contohnya (‫ )أم المـــؤمنين‬,(‫ )ابـــن الـــوردي‬,(‫)أبـــو بكـــر‬. Laqab (gelar) yang

menunjukkan kebaikan atau memuji dan keburukan atau penghinaan,

contohnya (‫= الفاروق‬yang dapat membdakan baik dan buruk) dan (‫= العشى‬yang

cacat matanya). Ataupun nama-nama orang selain kuniyah dan laqab, baik

yang tunggal maupun yang tersusun dari dua kata, contohnya (,(‫ )هنــد‬,(‫أحمـد‬

‫))مكة‬, dan (‫)عبدال‬.

Kata penunjuk (‫ )اسم الشارة‬yaitu kata yang menunjukkan pada sesuatu

yang tertentu baik dekat ataupun jauh, contoh (‫= هذا‬ini lk), (‫= هذ ه‬ini pr), (‫ذلك‬

=itu lk) dan (‫= تلك‬itu pr).

Kata penyambung (‫ )السم الموصول‬yaitu kata yang menunjukkan pada

susuatu yang tertentu yang berhubungan, contohnya (‫= الذي‬yang lk) dan (‫التي‬

=yang pr).

Alif Lam (‫ )أل‬yaitu isim nakirah yang dimasuki oleh alif dan lam, dan

menjadikan sesuatu itu menjadi tertentu (ma’rifat), contohnya kata buku (‫)كتاب‬

yang belum diketahui buku yang mana maka ditambahkan alif dan lam guna

menunjukkan buku tertentu menjadi (‫)الكتاب‬.

Isim yang disandarkan pada isim ma’rifah yaitu isim nakirah

diidhafahkan (disandarkan) pada isim ma’rifat yang menyebabkan isim

tersebut menjadi ma’rifat, contohnya (‫ي‬


ّ ‫= هذا كتاب عل‬ini bukunya Ali), kata kitab

dalam contoh ini adalah nakirah namun karena diidafahkan pada isim ma’rifat

yaitu Al maka kata kitab dengan sendirinya menjadi ma’rifat.

19
Taufiqul Hakim, Op. Cit., hlm 32
38

Munada (‫ )لمنادى عا‬yaitu memanggil dengan maksud menentukannya


ِ ‫)يا عبَدا‬.20
sehingga ia menjadi ma’rifat, contohnya (‫ )يا بائُع‬dan (‫ل‬

11) I’rab Fi’il Mudhari’

I’rab Fi’il Mudhari’ ada tiga yaitu Nashab, Jazam dan Rafa’.

Dinashabkan Mudhari’ apabila dimasuki oleh salah satu dari huruf Nashab

yaitu, An ‫ن‬
ْ ‫ أ‬contohnya َ‫ن َتُموت‬
ْ ‫س َأ‬
ٍ ‫ن ِلَنْف‬
َ ‫ َوَما َكا‬, Lan ‫لن‬, contohnya ‫ل َما‬
ّ ‫صيَبَنا ِإ‬
ِ ‫ُقل ّلن ُي‬

َ ‫ َكَت‬, Izan ‫ إذن‬contohnya ‫ إذن ُأكرَمك‬.‫ أريد أن أزورك‬, Kay ‫كي‬, contohnya
ّ ‫با‬
‫ل‬

‫ تعلمــت كــي اكــون عالمــا‬Fi’il Mudhari’ juga dinashabkan dengan An yang


tersembunyi setelah Lam ‫ِلَتْغِفَر َلُهْم‬, atau Hatta ‫حّتى َتّتِبَع ِمّلَتُهْم‬
َ , atau Fa sababiah ‫لم‬

َ ‫ل فتكس‬
‫ب‬ ْ ‫تعم‬, atau Athaf kepada isim sebelumnya.

Fi’il Mudhari’ itu Majzum apabila didahului oleh salah satu dari

pada huruf jazam, yaitu Lam ‫ لم‬dan Lamma ‫لّما‬,contohnya ‫ي‬


ّ ‫ لما يُعْد عل‬،‫لم يسافْر زيد‬.

Lam Amr ‫ لم المر‬yang menunjukan perintah, contoh ‫ﻝ‬


ِ ‫لتحكْم بيـن النـاس بالعــد‬. La

Nahy ‫ ل الناهيــة‬yang menunjukkan larangan, contohnya ‫ول تبطلــوا صــدقاتكم بــالمن‬

‫والذى‬. Dan Fi’il Mudhari’ juga majzum apabila di masuki oleh salah satu dari

huruh Syarth. Apabila Fi’il Mudhari’ kosong dari huruf Nashab dan Jazam

maka I’rabnya tetaplah Rafa’/ marfu’.21

2. Kemampuan Membaca Al-Qur’an Dan Hadits

a. Pengertian Kemampuan Membaca Al-Qur’an Dan Hadits

Pengertian kemampuan dan membaca, banyak para ahli memberikan

definisi yang berbeda-beda, sehingga akan lebih jelas nilai kemampuan

membaca jika dijelaskan masing-masing pengertiannya terlebih dahulu.

20
Ibid, hlm. 33
21
Ibid, hlm. 32
39

Secara etimologi kemampuan diartikan sebagai kesanggupan,

kecakapan dan kekuatan.22 Sedangkan secara istilah kemampuan adalah

sesuatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh seseorang, artinya pada

tatanan realistis hal itu dapat dilakukan karena latihan-latihan dan usaha-

usaha juga belajar.23

Sumadi Suryabrata mengutip dari Woodworth dan Marquis

mendefinisikan ablility (kemampuan) pada tiga arti, yaitu :

1) Achievment, yang merupakan potensial ability, yang dapat diukur

langsung dengan alat atau test tertentu.

2) Capacity, yang merupakan potensial ability, yang dapat diukur secara

tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan

individu, di mana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara

dasar dengan training yang intensif dan pengalaman.

3) Aptitute, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkapkan atau diukur

dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk itu.24

Dari penghayatan di atas dapat diambil pengertian bahwa kemampuan

adalah potensi yang dimiliki daya kecakapan untuk melaksanakan suatu

perbuatan, baik fisik maupun mental dan dalam prosesnya diperlukan

latihan yang intensif di samping dasar dan pengalaman yang ada.

Adapun pengertian membaca telah banyak para ahli yang

mengemukakan pendapatnya diantaranya adalah sebagai berikut :


22
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi IV, Jakarta, 2005, hlm. 623.
23
Najib Kholid Al-Amir, Mendidik Cara Nabi SAW, Pustaka Hidayah,, Bandung, 2002,
hlm.166.

24
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm.
161.
40

1) Menurut Rahayu S. Hidayat dalam bukunya “Pengetesan Kemampuan

Membaca Secara Komunikatif” membaca adalah melihat dan

memahami tulisan dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi

tersebut menyangkut tiga unsur dalam kegiatan membaca, yaitu

pembaca (yang melihat, memahami dan melisankan dalam hati), bacaan

(yang dilihat) dan pemahaman (oleh pembaca).25

2) Menurut Abdurrahman dalam bukunya “Membina Minat Baca di Jawa

Timur”, mengatakan bahwa membaca adalah suatu ajaran yang lahirnya

komunikasi antara seseorang dan bahan bacaan sebagai bentuk upaya

pemenuhan kebutuhan dan tujuan tertentu.26

3) Membaca Menurut Yus Rusyana dalam bukunya “Bahasa dan Sastra

dalam Gambitan Pendidikan”, mengatakan bahwa membaca atau

kegiatan membaca adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan

bertujuan. Demikian juga yang dimaksud membaca, membaca itu

adalah proses pengenalan simbol-simbol yang berlaku sebagai

perangsang untuk memunculkan dan penyusunan makna, serta dengan

menggunakan makna yang dihasilkan itu pada tujuan.27

Oleh karena itu membaca dipandang sebagai sarana memenuhi

kebutuhan dan sarana untuk mencapai tujuan lewat bahan bacaan atau dapat

dikataan membaca suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan untuk

memperoleh kesan yang hendak disampaikan melalui kata-kata atau bahasa


25
Rahayu S. Hidayat, Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif, Cet. I,
Intermasa, Jakarta, 1990, hlm. 27.
26
Abdurrahman, Membina Minat Baca di Jawa Timur, Pusat Pembinaan Bahasa Depdikbud,
Jakarta, 1985, hlm. 17.
27
Yus Rusyana, Bahasa dan Sastra dalam Gambitan Pendidikan, Diponegoro, Bandung,
1998,hlm.23.
41

tulis.28 Sehingga membaca bukan sekedar mengenal dan mengeja kata-kata,

tetapi jauh lebih dalam lagi yaitu dapat memahami gagasan yang dapat

disampaikan kata-kata yang tampak itu dengan kemampuan melihat huruf-

huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat

simbol-simbol bahasa yang tepat dan memiliki penalaran yang cukup untuk

memahami bacaan.

Dari ketiga pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa

membaca adalah proses berfikir disertai dengan efektifitas yang komplek

yang melibatkan berbagai faktor baik dari luar maupun dari dalam diri

pembaca dengan maksud untuk menerima informasi dari sumber tertulis.29

Adapun pengertian Al-Qur’an ditinjau dari segi kebahasaan, Al-

Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang

dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar)

dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Sedangkan pengertian Hadits

menurut bahasa berarti baru30.

Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an

sebagai berikut:

"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan

kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan

perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang

kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan

28
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Aksara,
Bandung,1987.hlm 8.
29
Ibid, hlm. 9.
30
Wikepedia Indonesia
42

mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah

dan ditutup dengan surat An-Nas"31

Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam

terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah

pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Namun pada saat ini

kata hadits mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan

sunnah, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan

maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan

ataupun hukum32

Setelah diketengahkan beberapa pendapat dan pengertian baik

pengertian kemampuan membaca maupun pengertian Al-Qur’an, penulis

dapat ambil kesimpulan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an adalah

suatu daya yang ada pada diri manusia untuk melaksanakan suatu perbuatan

atau aktifitas yang disertai dengan proses berfikir dengan maksud

memahami yang tersirat dalam hal yang tersurat, melihat pikiran yang

terkandung di dalam kata-kata yang tertulis dalam Al-Qur’an.33

Berpijak pada pengertian di atas, dapat dirumuskan pengertian dari

kemampuan membaca Al-Qur’an dan Hadits yaitu kesanggupan, kecakapan

dan kekuatan seseorang dalam membaca Al-Qur’an dan Hadits secara tartil

dan memahami maksud serta mengerti makna yang terkandung dalam

bacaan dan yang membaca Al-Qur'an adalah ibadah sesuai dengan firman

Allah SWT :

31
Ibid
32
Ibid
33
Ibid, hlm. 3.
43

(4 : ‫ورتل القران ترتيل )المزمل‬


Artinya : “…. dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil” (QS. Al-Muzamil :

4).34

b. Dasar Membaca Al-Qur’an dan Hadits

Yang menjadi dasar membaca Al-Qur’an yang pertama adalah surat

Al-Balad ayat 8-10, yang berbunyi :

(10-8 : ‫الم نجعل له عينين ولسانا وشفتين وهد ينه الّنجد ين )البلد‬
Artinya : “Bukanlah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,
lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan
kepadanya dua jalan”.35

Dasar membaca yang terdapat dalam ayat tersebut adalah mata untuk

melihat teks atau tulisan, lidah dan dua buah bibir untuk melafalkan dan

mengucapkan bacaan, seperti apa yang dikehendaki, untuk dapat

memperoleh informasi baru yang dapat menambah pengetahuan manusia

agar tidak menjadi manusia yang asing akan informasi-informasi baru yang

berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu

pengetahuan.36

Dan dasar yang kedua adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yang berbunyi :

‫ الــذي‬.‫ اقــرأ وربــك الكــرم‬.‫ خلق النسان من علــق‬.‫اقرأ باسم ربك الذي خلق‬

(5-1 : ‫ علم النسان مالم يعلم )العلق‬.‫علم باالقلم‬

34
Al-Qur’an, Surat Muzammil Ayat 4, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf
Asy-syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi.2008 hlm. 988.
35
Al-Qur’an, Surat Al-Balad Ayat 8-10, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf
Asy-syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi, 2008. hlm. 1061.
36
Rahayu S. Hidayat, Op.cit, hlm. 31.
44

Artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,


Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah
dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5).37

Dengan mempelajari makna atau arti ayat di atas, amat jelaslah

bahwa Allah SWT mewahyukan Al-Qur’an pertama kalinya kepada Nabi

Muhammad SAW dengan perintah membaca.

c. Standar Kemampuan Membaca Al-Qur’an dan Hadits

Membaca itu adalah proses yang kompleks dan rumit karena

memerlukan suatu proses, maka tidak mungkin dapat terlepas dari aktivitas

dan seseorang yang mejalankan aktifitas pasti mempunyai tujuan.38

Tujuan membaca dianggap sebagai modal dalam membaca,

sedangkan tujuan membaca dalam menelusuri baris-baris bacaan dapat

mempengaruhi hasil membacanya. Sebagai ilustrasi misalnya bila melihat

seseorang berjalan tanpa tujuan, arah geraknya, kecepatan, lama dan cara

berjalannya tentu berbeda dengan orang yang berjalan dengan tujuan yang

jelas.39

Standar kemampuan membaca yaitu kecepatan membaca dan

pemahaman isi bacaan secara keseluruhan, dimaksudkan kecepatan

membaca (reading speed) seseorang adalah 180 kata permenit.40

37
Al-Qur’an, Surat Al-Alaq Ayat 1-5, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf
Asy- syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi, 2008. hlm. 1079.
38
Rahayu S. Hidayat, Op.cit, hlm. 25.
39
Ibid, hlm. 29.
40
DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca, Angkasa, Bandung, 1980, hlm. 71.
45

Gleen Doman memberikan alasan mengapa anak-anak harus belajar

membaca ketika usia mereka masih sangat muda adalah sebagai berikut :

1) Kemampuan anak untuk menyerap informasi pada usia tiga tahun

sampai sepuluh tahun pada puncaknya dan tidak akan pernah terulang

lagi.

2) Jauh lebih mudah mengajarkan anak membaca pada usia dini daripada

dalam usia lain-lainnya.

3) Anak yang diajar membaca pada usia yang sangat dini dapat menyerap

informasi daripada anak-anak ketika belajar sudah mengalami frustasi.

4) Anak-anak yang belajar membaca ketika masih sangat muda cenderung

lebih mudah mengerti dari pada anak yang tidak membaca seperti itu.

5) Anak-anak yang belajar membaca ketika usianya sangat muda

cenderung membaca lebih cepat dan penuh pemahaman dibadingkan

dengan anak-anak yang lain.41

3. Hubungan Antara Penguasaan Pelajaran Nahwu dan Sharaf

dengan Kemampuan Membaca Al-Qur’an

Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai

bidang studi, membaca bukan mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi

bahasa saja, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan.42

41
Gleen Doman, Mengajar Bayi Anda Membaca, Gaya Favorit Press, Jakarta, 1998, hlm.
94.
42
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta,
Jakarta,
1998, hlm. 207.
46

Kemampuan membaca Al-Qur’an dan Hadits merupakan salah satu faktor

yang sangat penting dalam diri individu yang sangat berpengaruh dalam belajar

nahwu dan sharaf, sebab jika seseorang itu mampu menguasai pelajaran nahwu

dan Sharaf dengan baik maka akan lebih mudah dalam memahami Al-Qur'an

dan Hadits ataupun ilmu-ilmu pengetahuan agama lainnya yang menggunakan

bahasa Arab. Sedangkan apabila seseorang itu kurang mampu menguasai

pelajaran nahwu dan sharaf, maka dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits dan

ilmu-ilmu pengetahuan agama lainnya akan merasa kesulitan dan kemampuan

dalam memahami dan membaca Al-Qur'an menjadi kurang baik.43

Syeh Az-Zarnuji mengemukakan syarat-syarat keberhasilan dalam belajar

sebagai berikut :

‫ول بّد من الجّد والمواظبة والمل زمة لطا لب العلم ول بـّد لطــا لــب العلــم‬

.‫ ول بّد لطا لب العلم من الهّمة العالية فى العلم‬,‫من المواظبة على الّد رس‬
44

Artinya : “Bagi pelajar harus mempunyai kemauan yang keras, bagi pelajar
harus kontinyu dalam belajar, bagi pelajar harus mempunyai cita-
cita yang tinggi dalam mencari ilmu”.

Bagi siswa atau anak didik yang mempelajari nahwu dan sharaf akan

lebih mendorong membaca Al-Qur'an dan Hadits dengan penuh perhatian,

usaha yang sungguh-sungguh dan aktif dalam belajar, maka ia akan

memperoleh kemampuan pemahaman yang baik. Sebaliknya apabila siswa itu

43
Ibid, hlm. 209.
44
Syeh Az-Zarnuji, Al-Ta’limul Muta’alim, Surabaya, Al-Ma’arif, t.th, hlm. 20-23.
47

kurang perhatian, kurang usaha dan kurang aktif dalam belajar, maka

penguasaannya akan kurang baik juga.

Maka pelajaran Nahwu dan Sharaf juga merupakan mata pelajaran yang

masuk dalam pelajaran pendidikan agama Islam yang memiliki tujuan

mendorong, membimbing dan membina kemampuan berbahasa Arab baik

dalam memahami bahasa Arab secara lisan maupun secara tulisan, sehingga

diharapkan akan dapat memahami ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an

dan Al-Hadits. 45

Mempelajari nahwu dan sharaf adalah syarat wajib untuk menguasai isi

Al-Qur’an dan Hadits. Mempelajari bahasa Al-Qur’an berarti mempelajari

nahwu dan sharaf.46 Dengan demikian penguasaan pelajaran nahwu dan sharaf

dengan kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan satu kesatuan dalam

pelajaran pendidikan agama Islam yang memiliki tujuan yang sama yaitu

mendorong, membimbing dan membina akhlak dan perilaku siswa yang

akhirnya siswa diharapkan mampu memahami Al-Qur’an dan Haditst sebagai

ajaran agama Islam.

B. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan Rumusan masalah dan kajian pustaka yang telah diuraikan,

maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

1. Hipotesis Alternatif (Ha)

45
Depag RI, GBPP Baca Tulis Al-Qur’an, Dirjen Kelembagaan Islam, Jakarta, 2000, hlm.
23.
46
Ibid, hlm. 188.
48

“Ada pengaruh yang signifikan antara Penguasaan Ilmu Nahwu Sharaf

terhadap Kemampuan membaca Al qur’an dan Hadits Siswa kelas VIII

MTs.Qudsiyyah Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009”.

2. Hipotesis Nihil (Ho)

“Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Penguasaan Ilmu

Nahwu Sharaf terhadap Kemampuan membaca Al qur’an dan Hadits Siswa

kelas VIII MTs.Qudsiyyah Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009.”