Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam agama Islam dikenal adanya dana sosial yang bertujuan untuk
membantu kaum dhuafa. Sumber utama yang bertujuan untuk tersebut
meliputi zakat, infak, dan shodaqoh, serta dapat ditambahkan wakaf dan dana
investasi kebajikan. Dalam konsep Agama Islam, zakat wajib dibayarkan oleh
umatnya yang telah mampu dengan batas umur tertentu, sedangkan, infak dan
shodaqoh lebih bersifat sukarela. Dana zakat merupakan sumber dana yang
potensial untuk dikembangkan. Sedangkan wakaf dimaksudkan sebagai dana
abdi dan produktif untuk jangka panjang. Umat mayoritas di Indonesia adalah
beragama Islam dan jika separuh dari jumlah tersebut membayar zakat, maka
dapat dibayangkan jumlah dana yang terkumpul.

Jika lebih khusus membahas mengenai potensi dana zakat, manarik


sekali untuk dicermati seberapa jauh sebenarnya masyarakat telah menyadari
bahwa dirinya termasuk wajib zakat atau belum. Akan tetapi informasi yang
akurat yang dapat memberikan penjelasan tersebut belum ada. Hal ini salah
satu penyebab potensi zakat belum dapat dioptimalkan, begitu pula halnya
dengan besarnya zakat yang diberikan oleh masing-masing muzakki tentunya
sangat menarik sekali.

Disisi lain dikenal dengan adanya pajak sebagai salah satu pos
pendapatan utama di Indonesia. Dengan demikian, disiilah letak dilema,
banyak para wajib pajak yang juga merupakan wajib zakat harus membayar
pajak dengan jumlah yang sama. Namun, sejak dikeluarkan Undang-Undang
tentang zakat Nomor 38 Tahun 1999 serta aturan-aturan yang melengkapinya,
maka bukti setoran zakat yang dikeluarkan oleh Badan Amil Zakat dan

1
Lembaga Amil Zakat resmi dapat diperhitungkan sebagai pengurang jumlah
setoran pajak penghasilan.

B. Rumusan Masalah

1. Kapan Awalmula Badan Amil Zakat Itu Diberdirikan?


2. Apa Peranan Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat dalam
Usaha Pemberdayaan Ekonomi Umat?
3. Apa saja Pembagian tugas (Job Description) Pengelola zakat?
4. Apa Saja Syarat Agar Lembaga Amil Zakat dapat dikukuhkan?
5. Apa Kewajiban Lembaga Amil Zakat?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui awal berdirinya Badan Amil Zakat.


2. Untuk Mengetahui Peran BAZ dan LAZ dalam Usaha Pemberdayaan
Ekonomi Umat.
3. Untuk Mengetahui Pembagian Tugas Pengelola Zakat.
4. Untuk Mengetahui Syarat-syarat Lembaga Amil Zakat dapat
dikkuhkan.
5. Untuk Mengetahui Kewajiban Lembaga Amil Zakat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Awal terbentuknya Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat

Sesuai dengan konsep Al-Qur’an, Amil adalah orang-orang yangv


bertugas mengurus zakat, seperti penarik zakat, penulis dan penjaganya. Dan
awal terbentuknya Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat diprakarsai
oleh undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat,
Lahirnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 dilatarbelakangi oleh
kenyataan sosiologis, bahwa masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam.
Dimana Islam telah menentukan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi
oleh para penganutnya. Salah satu kewajiban tersebut yang mempunyai
implikasi sangat luas terhadap kehidupan masyarakat adalah kewajiban untuk
menunaikan zakat

..Lembaga yang secara formal diakui oleh Undang-Undang Nomor 38


Tahun 1999 sebagai lembaga yang berhak mengelola zakat adalah Badan Amil
Zakat dan Lembaga Amil Zakat. Oleh karena itu kedua lembaga ini memiliki
peran dan fungsi yang strategis, baik dilihat dari perspektif pemberdayaan
sosial-ekonomi umat maupun dari hubungan zakat dengan perpajakan.

Pembentukan Badan Amil Zakat merupakan hak otoritatif pemerintah,


sehingga hanya pemerintah yang berhak membentuk B adan Amil Zakat, baik
untuk tingkat nasional sampai tingkat kecamatan. Semua tingkatan tersebut
memiliki hubungan kerja yang bersifat koordinatif, konsultatif, dan
informatif.

3
B. Alokasi zakat dan wakaf di BAZ dan LAZ

Zakat yang sudah dikumpulkan oleh Lembaga Amil Zakat atau Badan
Amil Zakat haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kepentingan mustahiq,
sebagaimana digambarkan daam Al-quran surat At-taubah ayat 60, karena itu
Lembaga Amil Zakat harus dikelola dengan amanah dan jujur, transparan dan
professional.

Harta yang terkumpul dari pengumpulan zakat disalurkan langsung


untuk kepentingan mustahiq, baik yan bersifat konsumtif maupun yang
bersifat produktif. Dalam kaitan penyaluran zakat secara produktif, maka
Lembaga Amil Zakat dan Badan Amil Zakat yang amanah, terpercaya dan
professional diperbolehkan membangun perusahaan, pabrik dan lainnya dari
uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya diberikan kepada
para mustahiq dalam jumlah yang relatif besar, sehingga terpenuhi kebutuhan
mereka dengan lebih leluasa.

C. Peranan Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat dalam


Usaha Pemberdayaan Ekonomi Umat

Zakat merupakan ibadah maaliyah ijtimaiyah yang memiliki posisi


penting dan strategis serta menentukan baik dari sisi ajaran maupun dari sisi
pembangunan kesejahteraan ummat. Kewajiban menunaikan zakat secara
tegas dan mutlak, karena didalamnya terkandung hikmah dan manfaat yang
mulia dan besar bagi semua stakeholders zakat, seperti muzakki, mustahiq
maupun masyarakat secara keseluruhan. Diantara hikmah dan manfaat antara
lain

1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, menumbuhkan


akhlak mulia yang memiliki rasa kepedulian yang dapat
menghilangkan rasa kikir dan rakus
2. Zakat merupakan hak bagi mustahiq yang berfungsi menolong,
membantu dan membina mereka

4
3. Sebagai pilar jama’i antara kelompok aghniya yang hidup
berkecukupan hidupnya dengan para mujahid yang waktunya
sepenuhnya untuk berjuang dijalan Allah.
4. Sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana
ataupun prasarana yang harus dimiliki umat islam
5. Menjadi pilar etika bisnis yang benar, karena zakat tidak akan
diterima dari harta yang didapatkan dengan cara yang bathil.

6. Bagi pembangunan kesejahteraan ummat, zakat merupakan salah


satu instrumen pemerataan pendapatan. Dengan pengelolaan zakat
yang baik dimungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi
sekaligus pemerataan pendapatan ecomomic growth with equity . 1

D.Tingkatan Badan Amil Zakat

Badan Amil Zakat (BAZ) memiliki tingkatan sebagai berikut:

1. Nasional, dibentuk oleh Presiden atas usul menteri Agama.

2. Daerah Provinsi, dibentuk oleh Gubernur atas usul Kepala Kantor


Wilayah Departemen Agama Provinsi.

3. Daerah Kabupaten atau Kota, dibentuk oleh Bupati atau Walikota


atas usul Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau
Kota.

4. Kecamatan, dibentuk oleh Camat atas usul Kepala Kantor Urusan


Agama Kecamatan.

Struktur organisasi Badan Amil Zakat terdiri dari tiga bagian, yaitu
Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas, dan Badan Pelaksana. Kepengurusan
Badan Amil Zakat tersebut ditetapakan setelah melalui tahapan sebagai
berikut:

1
http://usweulpe.blogspot.com/2008/11/pengelolaan-zakat-melalui-baz-dan-laz.html
5
1. Membentuk tim penyeleksi yang terdiri atas unsur ulama,
cendekia, tenaga profesional, praktisi pengelola zakat, Lembaga
Swadaya Masyarakat terkait, dan pemerintah.

2. Menyusun kriteria calon pengurus.

3. Mempublikasikan rencana pembentukan Badan Amil Zakat.

4. Melakukan penyeleksian terhadap calaon pengurus, sesuai dengan


keahliannya.

5. Calon pengurus terpilih kemudian diusulkan untuk ditetapkan


secara resmi.

Pembagian tugas (job Description) Pengelola zakat yaitu :

Status Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab


Kepengurusan

Majelis Pertimbangan 1. Memberikan pertimangan tetang


Badan Amil Zakat pengembangan hukum dan pemahaman-pemaaman
zakat.

2. Membantu pelaksanaan operasional


penyadaran wajib zakat, infak, dan shodaqoh.

3. Memberi pertimbangan akan


kebijakan-kebijakan pengumpulan, pendayagunaan,
dan pengembangan zakat, Infak, dan Shodaqoh.

4. Mengetahui dan mengesahkan


pertanggungjawaban neraca dana BAZ atas dasar
auditing akuntan.

5. Menampung dan menyalurkan


pendapat umat tentang pengelolaan zakat, infak

6
dan shodaqoh.

Majelis Pengawasan 1. Mengawasi pengumpulan dan


BAZ pendayagunaan zakat, infak, dan shodaqoh.

2. Mengawasi pelaksanaan program


pendayagunaan zakat, infak, dan shodaqoh.

3. Menunjuk akuntan untuk mengaudit


pendapatan pendayagunaan dana zakat, infak, dan
shodaqoh.produktif.

4. Mempertanggungjawabkan
pelaksanaan kerjanya kepada ketua umum.

Pengurus harian BAZ 1. Melaksanakan garis-garis kebijakan


BAZ dalam program pengumpulan dan pengelolaan
zakat, infak, dan sodaqoh produktif.

2. Memimpin pelaksanaan program BAZ

3. Merencanakan pengembangan
pengumpulan dana pendayagunaan dana BAZ

4. Bertanggung jawab kepada ketua


tingkat gubernur

Tata Usaha 1. Melaksanakan tata administrasi umum


BAZ

2. Menyediakan bahan untuk

3. Pelaksanaan kegiatan BAZ

4. Menyediakan fasilitas untuk


kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan
sehari-hari

5. Mempertanggungjawabkan segala
kegiatannya kepada pengurus harian

Bendahara 1. Melaksanakan sistem administrasi


7
pengawasan, pengumpulan, dan pendayagunaan
dana BAZ

2. Membukukan pendapatan dan


pendayagunaan dana.

3. Menyusun neraca kwartal tahunan.

4. Menyediakan dana operasional dan


mengatur efisiensi penggunaan anggaran
operasional.

5. Menyediakan pertanggungjawaban
dana BAZ, infak, dan shodaqoh.

6. Mempertanggung jawabkan segala


kegiatan kepada ketua pengurus.

Bidang Perencanaan 1. Menyusun rencana pengumpulan dan


Penelitian dan pendayagunaan zakat .
Pengembangan BAZ
2. Melaksanakan segala program kegiatan
penelitian dan pengembangan sumber dana BAZ,
objek pendagunaan, pengembangan organisasi, dan
pemetaan tahunan muzakki dan mustahik

3. Melakukan penelitian dan


pembangunan masalah-masalah sosial keagaman

4. Menerima dan memberi prtimbangan


usulan dan sasaran dalam pengembangan
pendayagunanaan dana zakat infak, dan Shodaqoh
produktif

5. Mempertanggungjawabkan segala
kegiatan kepada ketua pengurus harian

Bidang Pengumpulan 1. Menyalurkan dana produktif kepada


Zakat, Infak, Dan mustahik melalui bendahara.
Shodaqoh
8
2. Memotong zakat dilaksanakan oleh
petugas khusus.

3. Melaksanakan pendistribusian zakat


Infak dan Shodaqoh sesuai dengan keputusan yang
telah ditetapkan .

4. Mencatat penditribusian dana ZIS

5. Mencatat dana produktif yang diterima


dan yang telah didayagunakan

6. Menyiapkan bahan laporan penyaluran


dana ZIS untuk usaha produktif setiap bulan.

Bidang Pendayagunaan 1. Menerima, meneliti, dan menyeleksi


BAZ permohonan calon mustahik

2. Mencatat mustahik yang memenuhi


syarat menurut kelompoknya masing-masing

3. Menyiapkan rencana keputusan tentang


mustahik yang menerima ZIS untuk mendapatkan
persetujuan dewan pertimbangan

4. Merekomendasi penyaluran ZIS sesuai


dengan keputusan yang telah ditetapkan kepada
ketua umum.

5. Menyiapkan bahan laporan


pendayagunaan ZIS setiap bulan.

Bidang Pengembangan 1. Menyusun rencana pengembangan


bidan pengumpulan, pendistribusian,
pendayagunaan dan pengembangan zakat

2. Melaksanakan bimbingan dan


penyuluhan serta penelitian masalah-masalah UPZ
dalam rangka pengembangan ZIS.

9
3. Menerima dan memberi pertimbangan
dan saran mengenai penyaluran. Pendistribusian,
pendayagunaan dan pengembangan ZIS.

4. Melaporkan hasil penyaluran zakat


setiap bulan.

Tujuan dan Sasaran dalam Pengelola zakat

1. Ikut berpartisipasi mengurangi pengangguran dan kemiskinan

2. Perkoperasian

3. Pendidikan dan bea siswa

4. Program kesehatan

5. Panti Asuhan

6. Sarana Peribadatan

7. Madrasah dan Pondok pesatren

8. Menafkahkan para da’i dan guru ngaji

Pilar utama Manajemen Pengelola dan Pemberdayaan Zakat Akuntabilitas


manajemen BAZ dapat terjadi jika memiliki 3 pilar utama, yaiu :

a. Amanah

Sifat amanah merupakan kunci jaminan mutu dari kepercayaan


masyarakat. Pengelolaan dana umat sangat membutuhkan sikap
amanah. Tidak eksisnya BAZ disebabkan hilangnya rasa kepercayaan
terhadap lebaga.

b. Profesional

Efisiensi dan efektifitas manajemen memerlukan sikap profesional


dari semua pegurus BAZ.

c. Transparan

10
Sistem kontrol yang baik akan terjadi jika jiwa transparansi dalam
pengelolaan dana umat dapat dilaksanakan. Sebab kemudahan akses
para muzaki untuk mengetahui bagaimana dananya diolahkan akan
menambah rasa percaya terhadap lembaga.

Beberapa kriteria yang harus dipunyai oleh pengurus Badan Amil


Zakat antara lain memiliki sifat amanah, mempunyai visi dan misi,
berdedikasi, profesional, berintegrasi tinggi, mempunyasai program kerja dan
tentu saja paham fiqih zakat.

Walaupun Badan Amil Zakat dibentuk oleh pemerintah, tetapi sejak


awal proses pembentukannya sampai kepengurusunnya harus melibatkan
unsur masyarakat. Menurut peraturan hanya posisi sekretariat saja yang
berasal dari pejabat Departemen Agama. Dengan demikian, masyarakat luas
dapat menjadi pengelola Badan Amil Zakat sepanjang kualifikasinya
memenuhi syarat dan lulus seleksi.

Fungsi dari masing-masing struktur di Badan Amil Zakat dapat


diuraikan sebagai berikut:

1. Dewan Pertimbangan berfungsi memberikan pertimbangan, fatwa,


saran, dan rekomendasi tentang pengembangan hukum dan
pemahaman mengenai pengelolaan zakat.

2. Komisi Pengawas memiliki fungsi melaksanakan pengawas


internal atas operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan
Pelaksana.

3. Badan Pelaksana mempunyai fungsi melaksanakan kebijakan


Badan Amil Zakat dalam program pengumpulan, penyaluran, dan
pendayagunaan zakat.

Setelah terbentuk secaa resmi, Badan Amil Zakat mempunyai


kewajiban yang harus dilaksanakan, yaitu:

1. Segera melakukan kegiatan sesuai program kerja yang telah


dibuat.

11
2. Menyusun laporan tahunan termasuk laporan keuangan.

3. Mempublikasikan laporan keungan tahunan yang telah diaudit


oleh akuntan publik atau lembaga pengawas pemerintah yang
berwenag melalui media massa sesuai dengan tingkatannya,
selambat-lambatnya enam bulan setelah tahu buku berakhir.

4. Menyerahkan laporan tahunan tersebut kepada pemerintah dan


Dewan Perwakilan Rakyat sesuai dengan tingkatannya.

5. Merencanakan kegiatan tahunan.

6. Mengutamakan pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat


yang diperoleh di daerah masing-masing sesuai dengan
tinkatannya.

Jika para pengelola Badan Amil Zakat tidak melaksanakan kewajiban


sebagaiamana teresebut di atas, maka keberadaaannya dapat ditinjau ulang.
Mekanisme peninjauan ulang ini dilakukan dengan beberapa tahapan:

1. Diberikan peringatan tertulis oleh pemerintah yang


membentuknya sebanyak maksimal tiga kali.

2. Jika peringatan telah diberikan sebanyak tiga kali dan tidak ada
perbaiikan, pembentukan Badan Amil Zakat tersebut ditinjau ulang serta
pemerintah dapat membentuk kembali Badan Amil Zakat dengan susunan
pengurus baru, sesuai dengan susunan pengurus baru, sesuai mekanisme yang
berlaku.

E.Lembaga Amil Zakat

Sebagaimana Badan Amil Zakat, Lembaga Amil Zakat memiliki


berbagai tingkatan, yaitu:

1. Nasional, dikukuhkan oleh Menteri Agama.

2. Daerah provinsi, dilakukan oleh Gubernur atas usul Kepala


Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi.

12
3. Daerah Kabupaten atau Kota, dilakukan oleh Bupati atau
Walikota atas usul Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi.

4. Kecamatan dikukuhkan oleh Camat atau Walikota atas Kepala


Kantor Departemen Agama Kabupaten Kota.

Untuk dapat dikukuhkan oleh pemerintah, sebuah Lembaga Amil Zakat


harus memenuhi dan melemparkan melampirkan persyaratan sebagai berikut:

1. Akte pendirian (berbadan hukum).

2. Data muzakki dan mustahuk.

3. Daftar susunan pengurus.

4. Rencana program kerja jangka pendek, jangka menengah, jangka


menengah, dan jangka panjang.

5. Neerca atau laporan posisi keuangan.

6. Surat pernyataan bersedia untuk diaudit.

Hanya Lembaga Amil Zakat yang telah dikukuhkan oleh pemerintah


saja yang diakui bukti setoran zakatnya sebagai pengurang penghasilan kena
pajak dari muzakki yang membayar dananya. Bentuk badan hukum untuk
Lembaga Amil Zakat, yaitu yayasan, karena Lembaga Amil Zakat termasuk
organisasi nirlaba, dan badan hukum yayasan dalam melakukan kegiatannya
tidak berorientasi untuk memupuk laba.

Persyaratan data muzakki dan mustahik serta program kerja sebaiknya


berdasrkan hasil survei agar mencerminkan kondisi lapangan. Sedangkan
neraca atau laporan posisi keuangan diperlukan sebagai bukti bahwa Lembaga
Amil Zakat telah mempunyai sistem pembukuan yang baik. Surat pernyataan
bersedia untuk diaudit diperlukan agar prinsip transparasi dan akuntabilitas
tetap terjaga.

Setelah dapat pengukuhan, Lembaga Amil Zakat memilki kewajiban


sebagai berikut:

13
1. Segra melakukan kegiatan sesuai dengan progaram kerja yang
telah dibuat

2. Menyusun laporan, termasuk laporan keuangan.

3. Mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit melalui


media massa.

4. Menyerahkan laporan kepada pemerintah.

Jika sebuah Lembaga Amil Zakat tidak lagi memenuhi persyaratan


pengukuhan dan tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana di atas,
pengukuhannya dapat ditinjau ulang bahkan sampai dicabut. Mekanisme
peninjauan ulang terhadap Lembaga Amil Zakat dilakukan dengan
memberikan pperingatan tertulis sampai tiga kali. Bila tiga kali diperingatkan
secara tertulis tidak ada perbaikan, akan dilakukan pencabutan pengukuhan.

Pencabutan pengukuhan tersebut akan mengakibatkan:

1. Hilangnya hak pembinaan, perlindungan, dan pelayanan dari


pemerintah.

2. Tidak diakuinya bukti setoran zakat yang dikeluarkannya sebagai


pengurang penghasilan kena pajak.

3. Tidak dapat melakkukan pengumpulan dana zakat.

Aturan-aturan seperti diuraikan di atas diberlakukan agar pengolahan


dana-dana zakat, infaq, shadaqah, dan lainnya, baik oleh lembaga yang
dibentuk oleh pemerintah maupun yang sepenuhnya diprakarsai oleh
masyarakat, dapat lebih profesional, amanah, dan transparan sehingga dapat
berdampak positif terhadap pemberdayaan dan kesejahteraan umat.

Tuntutan profesionalisme mengharuskan organisasi pengelola zakat


dikelola secara fokus dan full time. Mereka yang sehari-hari mengurus
organisasi pengelola zakat ini dinamakan Amil Zakat. Sehingga dapat
dikatakan bahwa amil zakat adalah profesi, sebagaimana profesi-profesi lain.
Mereka inilah yang berhak atas bagian zakat (asnaf amilin). 2
2
Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan, Hal 4-9
14
Karakteristik Organisasi Pengelola Zakat

Sebagai organisasi nirlaba, organisasi pengelola zakat juga memiliki


karateristik seperti organisasi nirlaba lainnya, yaitu :

a. Sumberdaya berasal dari para donatur yang mempercayakannya


kepada lembaga. Para donatur tersebut tidak mengharapkan keuntungan
kembali secara materi dari organisasi pengelola zakat.

b. Menghasilkan berbagai jasa dalam bentuk pelayanan kepada


masyarakat. Jasa-jasa tersebut tidak dimaksudkan untuk mendapatkan laba
tetapi tidak semua bersifat Cuma-Cuma atau gratis melainkan dikenakan
biaya.

c. Kepemilikan organisasi pengelola zakat tidak seperti lazimnya


pada organisasi bismis. Biasanya terdap pendiri, yaitu orang-orang yang
sepakat untuk mendirikan organisasi pengelola zakat tersebut pada awalnya.
Pada hakekatnya, organisasi pengelola zakat bukanlah milik pendiri, tetapi
milik umat. Hal ini dikarenakan sumber daya organisasi terutama berasal dari
masyarakat atau umat. Termasuk jika organisasi pengelola zakat tersebut
dilikuidasi, kekayaan yang ada pada lembaga itu tidak boleh dibagikan pada
pendiri.

BAB III

PENUTUP

Dari makalah yang telah kami susun dapat disimpulkan bahwa


walaupun Badan Amil Zakat dibentuk oleh pemerintah, tetapi sejak awal
proses pembentukannya sampai kepengurusunnya harus melibatkan unsur
masyarakat. Menurut peraturan hanya posisi sekretariat saja yang berasal dari
pejabat Departemen Agama. Dengan demikian, masyarakat luas dapat menjadi
pengelola Badan Amil Zakat sepanjang kualifikasinya memenuhi syarat dan

15
lulus seleksi. Dan Struktur organisasi Badan Amil Zakat terdiri dari tiga
bagian, yaitu Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas, dan Badan Pelaksana.

Sedangkan Lembaga Amil Zakat yang telah dikukuhkan oleh


pemerintah saja yang diakui bukti setoran zakatnya sebagai pengurang
penghasilan kena pajak dari muzakki yang membayar dananya. Bentuk badan
hukum untuk Lembaga Amil Zakat, yaitu yayasan, karena Lembaga Amil
Zakat termasuk organisasi nirlaba, dan badan hukum yayasan dalam
melakukan kegiatannya tidak berorientasi untuk memupuk laba.

DAFTRAR PUSTAKA

 Al-Faridy, Hasan Rifa’i. 1996. Panduan Zakat Praktis. Jakarta: Dompet


Duafa.

 Djuanda Gustianb et.al. 2006. Pelaporan Zakat Pengurang Pajak


Penghasilan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 Innoed, H. Amiruddin. 2005. Anatomi Fiqh Zakat. Yogyakarta: Pustaka


Belajar.

16
17