Anda di halaman 1dari 17

‘

 ‘‘
 ‘


‘ ‘  ‘

Konflik agraria di Indonesia merupakan soal super serius. Namun penyelenggara


negara tak pernah serius menanganinya. Dampaknya, pemenuhan rasa keadilan bagi korban
kian mengawang-awang. Kliping ini mengurai realitas konflik agraria di Indonesia kini.
Konsorsium Pembaruan Agraria merekam 1.753 kasus konflik agrarian struktural, yaitu
kasus-kasus konflik yang melibatkan penduduk berhadapan dengan kekuatan modal dan/atau
instrumen negara. Dengan menggunakan pengelompokan masyarakat dalam tiga sektor,
seperti dikemukakan Alexis Tocqueville (1805-1859), konflik agraria struktural dapat
dinyatakan sebagai konflik kelompok masyarakat sipil "melawan" dua kekuatan lain di
masyarakat, yakni: sektor bisnis dan/atau negara.

Sejak 1970 hingga 2001, seluruh kasus yang direkam KPA tersebar di 2.834
desa/kelurahan dan 1.355 kecamatan di 286 daerah (Kabupaten/Kota). Luas tanah yang
disengketakan tidak kurang dari 10.892.203 hektar dan mengorbankan setidaknya 1.189.482
KK. Kasus sengketa dan/atau konflik disebabkan kebijakan publik. Konflik yang paling
tinggi intensitasnya terjadi di sektor perkebunan besar (344 kasus), disusul pembangunan
sarana umum dan fasilitas perkotaan (243 kasus), perumahan dan kota baru (232 kasus),
kawasan kehutanan produksi (141 kasus), kawasan industri dan pabrik (115 kasus),
bendungan dan sarana pengairan (77 kasus), sarana wisata (73 kasus), pertambangan besar
(59 kasus) dan sarana militer (47 kasus). Posisi negara (yang direpresentasikan lembaga
pemerintah, badan-badan usaha milik negara/daerah, maupun institusi militer) kerap muncul
sebagai "lawan" rakyat.

Tampilnya pemerintah sebagai lawan sengketa rakyat, sering terjadi pada berbagai
jenis sengketa: pembangunan sarana umum dan fasilitas perkotaan, perkebunan besar,
perumahan dan kota baru, bendungan dan sarana pengairan, sarana wisata, areal kehutanan
produksi, dan sarana militer. Menyikapi rentetan peristiwa konflik agraria yang salah satunya
melibatkan militer, misalnya sengketa tanah di Pasuruan. Sudah saatnya pemerintah untuk
mengevaluasi dan mengambil tindakan tegas terkait dengan penguasaan militer di lapangan
agraria, baik untuk kepentingan latihan apalagi untuk kepentingan bisnis militer.

c

‘  ‘   ‘
Êerdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka kemudian muncul suatu perumusan
masalah dalam paper ini yaitu sebatas mengurai konflik agrarian atas hak milik khususnya
yang melibatkan militer dan berkaitan dengan fungsi sosial hak-hak atas tanah.

[
‘ ‘
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah :‘
1.‘ „ntuk mengetahui seberapa jauh hukum agraria berpengaruh terhadap hukum yang
berlaku di Indonesia.
2.‘ „ntuk mengetahui berlakunya hukum agraria di Indonesia
3.‘ „ntuk mengetahui penyelesaian dari konflik agraria.


‘ 
Manfaat penulisan paper ini adalah :
1.‘ Memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan hukum tentang hukum agraria di
Indonesia.
2.‘ Sebagai sumbangan referensi bagi hukum agrarian khususnya di Indonesia.
3.‘ Memberikan pengetahuan serta wawasan baik secara teoritis maupun secara praktis
terutama mengenai hukum agraria.


‘   ‘ ‘
Adapun sistematika penulisan paper ini diantaranya yaitu:
 ‘ Êab I yaitu tentang Pendahuluan tentang penulisan kliping ini, yaitu terdiri dari : latar
belakang masalah, perumusan masalah, tujuan , masalah, sitematika penulisan, dan
teknik pengumpulan data.
 ‘ Êab II yaitu tentang .
 ‘ Êab III yaitu sebagai penutup penulisan kliping ini, terdiri dari kesimpulan dan saran.

·
‘‘ ‘ ‘
Teknik yang digunakan dalam membuat paper ini adalah :
Studi Kepustakaan yaitu dengan membaca buku dan mengkaji buku-buku sumber yang
relevan dengan judul dan permasalahan yang diteliti.

ÿ
 ‘‘
‘ !!‘


‘‘‘  ‘
Definisi hukum agraria (Prof. Êudi Harsono) yaitu ³Hukum agraria adalah
keseluruhan kaidah-kaidah hukum tertulis/ tidak tertulis mengenai bumi, air, dan dalam
batas-batas tertentu ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya.
Pengertian agraria dalam arti luas („„PA) meliputi Ô   
     

     . Dalam batas-batas seperti yang ditentukan dalam pasal 48, bahkan
meliputi juga    . Yaitu ruang di atas bumi dan air yang mengandung: 
 
            




Ô 

 Ô  Ô 

    
         
Ô
 
  
Pengertian agraria dalam arti sempit („„PA) yaitu Ô  meliputi permukaan bumi
(yang disebut ), tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air (pasal 1 ayat 4
jo pasal 4 ayat 1). Dengan demikian pengertian ³tanah´ meliputi permukaan bumi yang ada
di daratan dan permukaan bumi yang berada di bawah air, termasuk air laut.


‘ " ‘  ‘ ‘  ‘

Pengertian ³penguasaan´ dan ³menguasai´ dapat dipakai dalam arti M ‘ dan  Juga
berapek  # ‘dan beraspek .‘ Dalam „„D 1945 dan „„PA pengertian ³dikuasai´
dan ³menguasai´‘dipakai dalam aspek  Ô  , seperti yang dirumuskan dalam pasal 2 „„PA.‘
Hierarkhi hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah Nasional kita,‘yaitu:‘
1.‘ m    
 yang disebut dalam pasal 1, sebagai hak penguasaan atas tanah
yang tertinggi, beraspek perdata dan publik;
2.‘ m 
 
yang disebut dalam pasal 2, semata-mata beraspek publik;
3.‘ m     m yang disebut dalam pasal 3, beraspek perdata dan
publik;
4.‘ m  
   , semuanya beraspek perdata, terdiri atas:
a.‘ m     (pasal 4) sebagai hak-hak‘ individual yang semuanya secara
langsung ataupun tidak langsung bersumber pada Hak Êangsa, yang disebut dalam
pasal 16 dan 53.


- primer : Hak Milik, Hak Guna „saha, Hak Guna Êangunan, yang diberikan oleh
Negara, dan Hak Pakai, yang diberikan oleh Negara (Pasal 16)
- sekunder : Hak Guna Êangunan dan Hak Pakai, yang diberikan oleh pemilik tanah,
Hak Gadai, Hak „saha Êagi-Hasil, Hak Menumpang, Hak Sewa dan lain-lainnya
(pasal 37,41 dan 53)
b.‘ † M, yaitu Hak Milik yang sudah diwakafkan pasal 49;
c.‘ m yang disebut ³Hak Tanggungan´ dalam pasal 25, 33, 39 dan
51.

c
‘   ‘#  ‘  
#  ‘  ‘       
      






 

 
 Ô
 
  

 
 

 



   !  !  

 

   
   
 "  Ô 

       


  "
    Ô  
 
  

Ô
Ô  

 
ÿ
‘  ‘#  ‘  
#  ‘  ‘  ‘   ‘  ‘ (³initial registration´) meliputi tiga bidang
kegiatan, yaitu:
1. bidang fisik atau ³teknis kadastral´
2. bidang yurudis dan
3. penerbitan dokumen tanda-bukti hak.

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali (³initial registration´) dapat dilakukan
melalui 2 cara, yaitu secara 
  dan secara  . Pendaftaran tanah secara
sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara
serentak, yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam
wilayah atau bagian wilayah suatu desa atau kelurahan. „mumnya prakarsanya datang
dari Pemerintah. Contoh pendaftaran tanah secara sistematik adalah yang diatur dalam
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Êadan Pertanahan Nasional nomor 3 tahun
1995 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Secara Sistematik. (Êoedi Harsono,
ibid, 1996 C 22a). Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah
untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam wilayah


atau bagian wilayah suatu desa atau kelurahan secara individual atau massal, yang
dilakukan atas permintaan pemegang atau penerima hak atas tanah yang bersangkutan.


‘  ‘#  ‘  
Ada dua sitem pendaftaran tanah, yaitu sistem pendaftaran akta (³registration of deeds´)
dan sistem pendaftaran hak (³registration of titles´. Title dalam arti hak)


‘ $‘‘  ‘ $ 
Tanah berfungsi sosial. Rumusan konsepsinya komunalistik religious sifatnya ditunjukan
oleh pasal 1 ayat 2. Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya. Pernyatan ini menunjukan sifat Komunalistik konsepsi hukum
Tanah Nasional kita.

x
‘  ‘  ‘ ‘  
Hak-hak penguasaan atas tanah berisikan serangkaian wewenang, kewajiban dan/larangan
bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu dengna tanah yang dihaki.
‘
%
‘    ‘# #  & ‘ ‘
 ' ‘ ‘ ‘  ‘  ‘
Pada hakikatnya pemakaian tanah itu hanya terbatas untuk 2 tujuan. Pertama untuk di-
 kedua tanah dipakai sebagai 

Ô 
  .
‘
 ‘  ‘# ‘ ‘  ‘ ‘ ‘
Hak Milik pada dasarnya 
      Ô  ! 
 
 "  
Ô

! 
   
Dalam   ‘ÿ ‘‘dinyatakan bahwa Hak Milik adalah hak atas tanahyang ³terkuat
dan terpenuh´. Dijelaskan dalam   ‘pasal tersebut,bahwa maksud pernyataan itu
adalah untuk menunjukan, bahwa di antarahak-hak atas tanah Hak Miliklah yang ³ter´-
(dalam arti ³paling´) kuat dan ³ter´ ±penuh. Yaitu mengenai tidak adanya batas waktu
penguasaan tanahnya dan luas lingkup penggunaannya, yang meliputi baik untuk
diusahakan ataupun digunakan sebagai tempat membangun sesuatu.


x
 ‘  ‘# ‘ ‘  ‘ ‘  ‘  ‘# ‘ ‘  ‘  ‘
Hak Guna „saha yang memberi kewenangan memakai tanah untuk‘    Hak
Guna Êangunan memberi kewenangan untuk‘ 
Ô 
   .‘Hak Guna
„saha dan Hak Guna Êangunan sebagai ditentukan dalam‘ „„PA jangka waktu
berlakunya dibatasi, dan dapat diberikan selain‘ kepada warganegara Indonesia, juga
kepada badan-badan hukum‘ Indonesia, baik yang bermodal nasional, asing maupun
paputungan.‘

 ‘  ‘# ‘ ‘  ‘ ‘  ‘


Hak pakai yang keempat diberi
   M atau 
  ‘ 
  Ô 
  Ataupun atas pertimbangan dari sudut‘ 
    dan/atau

   tidak dapat diberikan‘ dengan HM,HG„ atau HGÊ. Hak-hak Pakai yang
sangat khusus ini diberi‘nama sebutan m  .
‘
(
‘ ·‘$ ‘ " ‘ ‘  ‘
Pasal 6 yaitu : ü     
  
   M   
m   
      
"
   #   $%& Dalam
  ‘ fungsi sosial hak-hak atas tanah tersebut disebut sebagai dasar yang
keempat dari Hukum Tanah Nasional. Dinyatakan dalam Penjelasan „mum tersebut: 
Ô
 Ô!            

    
Ô
 Ô!       
   #    
  % 

  

  Ô            
Ô 
  Ô 
   
     
   
 
   M 
     Ô
M Ô  Ô 

"
 
Ô   

       Ô
M   Ô      
 
  
  

  

Ô    Ô
 Ô!

  

    


   
  


    #  %       
  

   

 

  

  '

 
   

  

        
 Ô    
     
   "    (
  
  
Ô  Ô 
 
  # ) *%



-
$‘ ‘   ‘  $ , dinyatakan dalam pasal 1 semua tanah dalam
wilayah Negara kita adalah tanah Êangsa Indonesia (artinya, tanah kepunyaan bersama
para warganegara Indonesia), yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepadanya
dengan suatu Amanat, yaitu ³supaya digunakan untuk mencapai sebesar-besar
kemakmuran rakyat...´ (pasal 33 ayat 3 „„D jo pasal 2 ayat 3 „„PA). Dalam ketentuan
pasal 27,34, dan 40, tanah tidak boleh ³ditelantarkan´. Menurut konsepsi Hukum Tanah
Nasional hak-hak atas tanah bukan hanya berisikan wewenang, sekaligus juga kewajiban
untuk memakai, mengusahakan dan memanfaatkan. Juga menurut konsepsi ini hak-hak
perorangan bersumber pada hak bersama (yaitu Hak Êangsa), dan mengandung unsure
kemasyarakatan. „ntuk itu perlu adanya perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah
yang dimaksudkan dalam pasal 14. dengan menggunakan tanah sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah tersebut, terpenuhilah fungsi sosialnya.
Kepentingan umum harus diutamakan daripada kepentingan pribadi, sesui dengan asas
hukum yang berlaku bagi terselenggaranya berkehidupan-bersama dalam masyarakat.
‘
# "# ‘ $$ ‘ ÿ ‘ ‘ c%c‘ tentang ³Pencabutan Hak-hak atas Tanah dan
Êenda-benda yang ada di atasnya´ (LN 1961-288) mengatur pemberian ganti-kerugian
yang dimaksudkan. Juga dalam # "# ‘ $$ ‘ ÿ‘ ‘ cÿ‘ tentang
³Penataan Ruang´ (LN 1992-115) ada ketentuan dalam pasal 5 ayat 2, bahwa ³Ñ

  Ô

!"Ô 
 
        
 
 & Tetapi kalau
kegiatan pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan itu, 
  Ô 
  Ô 

   
   Ô
 



 
       (pasal 4 ayat 2c). Fungsi sosial hak-hak atas tanah
mewajibkan pada yang mempunyai hak untuk 

    sesuai dengan
keadaanya, artinya:
   serta M dan  "  

    Jika
kewajiban itu sengaja diabaikan maka hal tersebut dapat mengakibatkan hapusnya atau
batalnya hak yang bersangkutan. Dengan demikian tanah tersebut termasuk golongan
yang ü#    )‘ *  ‘   ‘ ÿ(+
‘ Jika tanah Hak-Milik, tanah HG„, tanah
HGÊ ditelantarkan, haknya akan dihapus dan tanah yang bersangkutan jatuh pada
Negara, artinya menjadi tanah Negara kembali (pasal 27 ayat a/3, pasal 34 huruf e dan
pasal 40 huruf e). Ketentuan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Hukum
Adat. Sifat dan tujuan pemberian HGÊ adalah, bahwa yang empunya hak akan
membangun rumah atau bangunan lain diatasnya. Kalau tanahnya dibiarkan kosong tanpa

a
alasan, maka yang demikian itu termasuk dalam pengertian ³ditelantarkan´. Dalam
hubungan ini lihat:
a.‘   ‘   ‘ $$ ‘ %‘  ‘ c‘ tentang Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar (LNRI 1998-51; TLN 3745)
b.‘   ‘   ‘  ‘   ,  ‘ ‘ $$ ‘ ‘ ‘ c‘tentang
pemanfaatan Tanah Kosong „ntuk Tanaman Pangan ( $#‘ $$-‘ ibid. G 8 dan
9, G 11). Dalam konsepsi hukum barat, pengertian fungsi sosial pada hakikatnya
berupa pengurangan atau pembatasan kebebasan individu bagi kepentingan bersama.
Sebaliknya konsep fungsi sosial dalam Hukum Adat dan Hukum Tanah Nasional
merupakan bagiandari alam pikiran asli orang Indonesia. Yaitu bahwa manusia
Indonesia adalah manusia pribadi yang sekaligus mahluk sosial, yang mengusahakan
terwujudnya keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan pribadi
dan kepentingan bersama, kepentingan masyaraktnya. (Êandingkan ‘ !‘
$$ ‘.,!,c‘$‘$$ ‘,!,c‘tentang Asas Pembangunan Nasional,
yang harus ditetapkan dan dipegang teguh dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan nasional, yaitu bahwa:   

Ô   Ô
Ô  


 

Ô 

 

 

 
   
).

G
X‘‘‘‘‘

Hukum Agraria Nasional membagi hak atas tanah dalam dua bentuk:

î‘  ‘   , hak yang bersumber langsung pada hak Êangsa Indonesia, dapat
dimiliki seorang/badan hukum (Hak Milik, Hak Guna „saha, Hak Guna Êangunan,
Hak Pakai);
î‘  ‘# , hak yang tidak bersumber langsung dari Hak Êangsa Indonesia, sifat
dan penikmatannya sementara (Hak Gadai, Hak „saha Êagi Hasil, Hak Menumpang,
Hak Menyewa atas Pertanian).

Kemudian Pasal 16 „„PA hak atas tanah terbagi atas 7, yaitu: Hak Milik;(2) Hak Guna
„saha (HG„); (3) Hak Guna Êangunan (HGÊ); (4) Hak Pakai; (5) Hak Sewa; (6) Hak
Membuka Hutan; (7) Hak Memungut Hasil Hutan; (8) Hak-hak lain yang tidak termasuk
dalam hak-hak tersebut di atas yang akan di tetapkan dengan „„ serta hak-hak yang sifatnya
sementara sebagai yang disebutkan dalam Pasal 53 „„PA.

 ‘‘

Hak milik adalah hak turun temurun (ada selama pemilik hidup dan jika meninggal dunia,
dapat dialihkan kepada ahli waris), terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas
tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 „„PA. Ada 3 hal dasar lahirnya hak milik
atas tanah, yaitu: 1) Menurut hukum adat; 2) Karena ketentuan „„; 3) Karena penetapan
Pemerintah (pasal 22 „„PA). Hapus atau hilangnya hak milik atas tanah, adalah jika: 1)
Menjadi tanah negara dapat terjadi karena: a. pencabutan hak, b. dilepaskan dengan sukarela,
c. dicabut untuk kepentingan umum, d. tanah ditelantarkan, e. dialihkan kepada warga negara
asing; (2) Tanahnya musnah.

u
 ‘  ‘  ‘* +‘

Hak guna usaha (HG„) adalah hak yang diberikan oleh negara kepada perusahaan pertanian,
perusahaan perikanan, perusahaan peternakan dan perusahaan perkebunan untuk melakukan
kegiatan usahanya di Indonesia. HG„ diatur lebih dan dijabarkan lanjut di pasal 28(1), (2),
(3) „„PA. Pemegang HG„ adalah orang perorangan warga negara Indonesia tunggal atau
badan hukum yang didirikan menurut ketentuan hukum negara Republik Indonesia (Pasal 30
„„PA). HG„ dapat beralih menurut Pasal 28(3) „„PA, yang kemudian dipertegas oleh PP
No. 40/1996, khususnya Pasal 16(2), karena:
1. jual beli
2. tukar menukar
3. penyertaan dalam modal
4. hibah
5. pewarisan.

Hapusnya HG„ menurut Pasal 34 „„PA dan Pasal 17 PP No. 40/1996 terjadi karena 7
sebab, yaitu:

1) Êerakhirnya jangka waktu;

2) Tidak terpenuhi syarat pemegangnya;

3) Pencabutan hak;

4) Penyerahan suka rela;

5) Ditelantarkan;

6) Kemusnahan tanahnya;

7) Pemegang HG„ tidak memenuhi syarat dan tidak melepaskannya kepada pihak yang
memenuhi syarat.

c
 ‘  ‘  ‘* +‘

Hak Guna Êangunan (HGÊ) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-
bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun
dan dapat diperpanjang paling lama 20 tahun (Pasal 35 (1,2) „„PA). Subyek hukum yang
dapat mempunyai HGÊ adalah:
1) Warga Negara Indonesia dan;
2) Êadan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia, dan berkedudukan di Indonesia
(Pasal 36 (1) „„PA).

 ‘‘

Hak milik adalah hak turun temurun (ada selama pemilik hidup dan jika meninggal dunia,
dapat dialihkan kepada ahli waris), terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas
tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 „„PA. Ada 3 hal dasar lahirnya hak milik
atas tanah, yaitu: 1) Menurut hukum adat; 2) Karena ketentuan „„; 3) Karena penetapan
Pemerintah (pasal 22 „„PA). Hapus atau hilangnya hak milik atas tanah, adalah jika: 1)
Menjadi tanah negara dapat terjadi karena: a. pencabutan hak, b. dilepaskan dengan sukarela,
c. dicabut untuk kepentingan umum, d. tanah ditelantarkan, e. dialihkan kepada warga negara
asing; (2) Tanahnya musnah.

 ‘  ‘  ‘* +‘

Hak guna usaha (HG„) adalah hak yang diberikan oleh negara kepada perusahaan pertanian,
perusahaan perikanan, perusahaan peternakan dan perusahaan perkebunan untuk melakukan
kegiatan usahanya di Indonesia. HG„ diatur lebih dan dijabarkan lanjut di pasal 28(1), (2),
(3) „„PA. Pemegang HG„ adalah orang perorangan warga negara Indonesia tunggal atau
badan hukum yang didirikan menurut ketentuan hukum negara Republik Indonesia (Pasal 30
„„PA). HG„ dapat beralih menurut Pasal 28(3) „„PA, yang kemudian dipertegas oleh PP
No. 40/1996, khususnya Pasal 16(2), karena:

cc
1. jual beli;

2. tukar menukar;

3. penyertaan dalam modal;

4. hibah;

5. pewarisan.

Hapusnya HG„ menurut Pasal 34 „„PA dan Pasal 17 PP No. 40/1996 terjadi karena 7
sebab, yaitu:
1) Êerakhirnya jangka waktu;
2) Tidak terpenuhi syarat pemegangnya;
3) Pencabutan hak;
4) Penyerahan suka rela;
5) Ditelantarkan;
6) Kemusnahan tanahnya;
7) Pemegang HG„ tidak memenuhi syarat dan tidak melepaskannya kepada pihak yang
memenuhi syarat.

 ‘  ‘  ‘* +‘

Hak Guna Êangunan (HGÊ) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-
bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun
dan dapat diperpanjang paling lama 20 tahun (Pasal 35 (1,2) „„PA). Subyek hukum yang
dapat mempunyai HGÊ adalah:

1) Warga Negara Indonesia dan;

2) Êadan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia, dan berkedudukan di Indonesia
(Pasal 36(1) „„PA). Tanah HGÊ mempunyai sifat dan ciri-ciri yaitu wajib didaftarkan,
dapat beralih, dapat dialihkan, jangka waktunya terbatas, dapat dilepaskan oleh pemilik
HGÊ sehingga menjadi tanah negara dan dapat dijadikan jaminan hutang dengan Hak
Tanggungan.

cÿ
 ‘  ‘

Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai
langsung oleh negara atau tanah milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban
yang ditentukan dalam Keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang
memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya yang bukan perjanjian sewa
menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan
jiwa dan ketentuan undang-undang (Pasal 41(1) „„PA). Sifat dan ciri-ciri Tanah Hak Pakai
yaitu wajib didaftarkan, dapat dialihkan, dapat diberikan dengan cuma-cuma dengan
pembayaran/pemberian jasa berupa apapun, dapat dilepaskan dan dapat dijadikan jaminan
hutang dengan Hak Tanggungan

 ‘/ ‘

Hak sewa adalah merupakan hak pakai yang memiliki ciri-ciri khusus (Penjelasan „„PA
Pasal 10(1)). Sifat dan ciri-ciri Tanah dengan Hak Sewa yaitu tidak perlu didaftarkan, cukup
dengan perjanjian yang dituangkan di atas akta bawah tangan atau akta otentik, bersifat
pribadi (tidak dapat dialihkan tanpa izin pemiliknya, dapat diperjanjikan, tidak terputus bila
Hak Milik dialihkan, dapat dilepaskan dan tidak dapat dijadikan jaminan hutang dengan Hak
Tanggungan.

 ‘ ‘ ‘

Membuka hutan dapat diartikan sama dengan mengelola hutan dalam arti luas, karena
maksud dari pengelolaan hutan menurut Pasal 21 Huruf (b) „„ No. 41/1999 tentang
Kehutanan berkenaan dengan pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan. Hutan
yang tidak dapat dimanfaatkan secara simultan oleh masyarakat adalah hutan kawasan,
seperti hutan lindung, suaka, dan hutan konservasi.


 ‘ ‘ ‘ ‘

Masyarakat hukum adat berhak untuk melakukan pemungutan hasil hutan dalam memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari (Pasal 67 „„ Kehutanan) . Selain itu, masyarakat juga berhak
memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan (pasal
68(2) huruf (a) „„ Kehutanan).

 " ‘ ‘

„„PA memberikan banyak varian tentang macam-macam hak atas tanah, yaitu: Hak Gadai
(pasal 7 „„ No. 56 Prp/1960), Hak Êagi Hasil atas Tanah (PP No. 8/1953), Hak Sewa Tanah
Pertanian (berdasarkan musyawarah mufakat antara pengelola dan pemilik tanah), Hak
Menumpang (Hukum Adat dan Pasal 53 „„PA) dan Hak Pengelolaan (Penjelasan „mum
bagian A II (2) „„PA dan PP No. 40/1996.

   ‘ ‘$ ‘ ‘ ‘   ‘

Hak milik atas tanah secara kolektif tidak diatur dalam undang-undang karena pasal 10
„„PA menjelaskan, subyek hukum yang memiliki hak atas tanah adalah individu dan badan
hukum. Tanah ulayat adat (suku) hingga kini masih mendekati apa yang disebut dengan
kepemilikan hak atas tanah kolektif, namun sepanjang pengambilan hasil serta
pengelolaannya, hal terlihat khusus tanah adat (suku) jumlahnya tidak pernah berkurang.
Karena hal ini tidak dapat dimungkinkan adanya hak individu atas tanah di wilayah tanah
adat (suku).

Hak „layat
Hak „layat merupakan serangkaian hak masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan
tanah dalam wilayahnya yang merupakan pendukung utama penghidupan masyarakat yang
bersangkutan. Hak „layat diisyaratkan sebagai hak penguasaan tertinggi atas tanah yang
merupakan wilayah suatu masyarakat hukum adat (pasal 3 „„PA). Pemegang Hak „layat
adalah masyarakat hukum adat yang bersangkutan sedangkan Pelaksananya adalah Penguasa
Adat masyarakat hukum adat yang bersangkutan, yaitu kepala Adat sendiri atau bersama-
sama para tetua adat masing-masing.

c
Pemerintah mengeluarkan PMNA/KAÊPN No. 5/1999 tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak „layat Masyarakat Hukum Adat. Di dalamnya terkandung kriteria penentu
keberadaan Hak „layat yang terdiri dari 3 unsur yaitu:
a. adanya masyarakat hukum adat tertentu;
b. adanya hak ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup dan tempat mengambil
keperluan hidup masyarakat hukum adat itu;
c. adanya tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan, dan penggunaan tanah
ulayat yang berlaku dan ditaati oleh masyarakat hukum adat itu. Pengakuan terhadap hak
tersebut memberikan penghormatan kepada hak orang lain dan upaya perlindungan
terhadap hak-hak masyarakat adat.

  ‘$‘  ‘

Konflik agraria adalah salah satu tema sentral wacana pembaruan agraria. Christodoulou
(1990) mengatakan, bekerjanya pembaruan agraria tergantung watak konflik yang
mendorong dijalankannya pembaruan. Artinya karakteristik, perluasan, jumlah, eskalasi, dan
de-eskalasi, pola penyelesaian dan konsekuensi yang ditimbulkan oleh konflik-konflik agraria
di satu sisi dapat membawa dijalankannya pembaruan agraria (menjadi alasan obyektif dan
rasional), di sisi lain menentukan bentuk dan metode implementasi pembaruan sendiri.
Konflik agraria mencerminkan keadaan tidak terpenuhinya rasa keadilan bagi kelompok
masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari tanah dan kekayaan alam lain, seperti kaum
tani, nelayan, dan masyarakat adat. Êagi mereka, penguasaan atas tanah adalah syarat
keselamatan dan keberlanjutan hidup. Namun, gara-gara konflik agraria, syarat keberlanjutan
hidup itu porak-poranda. Komitmen politik untuk menyelesaikan segala konflik menjadi
prasyarat yang tidak bisa ditawar. Dalam kerangka politik hukum, sebenarnya kita sudah
punya Ketetapan MPR RI No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan
Sumberdaya Alam. Ketetapan MPR ini dapat menjadi kerangka pokok upaya menyelesaikan
aneka konflik agraria yang diwariskan rezim masa lalu yang telah dan masih berlangsung
hingga kini.

cx
 ‘‘
‘
‘
 ‘

Pengertian benda dalam arti luas:benda adalah segala sesuatu yang dapat dihaki oleh
orang.Dalam arti sempit sebagai barang yang terlihat saja.Macam benda adalah
bezit,levering,verjaring,bezwaring.Golongan benda adalah benda tak bergerak&benda
bergerak.„„ membagi hak manusia:hak kebendaan&hak perseorangan.Hak kebendaan
adalah hak kebendaan memberi manfaat atas benda miliknya sendiri,orang
lain&jaminan.Privilegie adalah hak yang diberikan „„ kepada kreditur yang satu diatas
kreditur yang lain semata-mata berdasarkan sifat piutangnya.Macam privilegie:privilegie
umum dan khusus.Macam jaminan khusus:jaminan yang berkaitan dengan benda dan
perorangan.

Hak yang didahulukan privilegie:gadai dan hipotik.Êezit adalah keadaan lahir dimana
seseorang menguasai benda solah-olah benda itu kepunyaan sendiri.„nsur bezit adalah unsur
keadaan menguasai suatu barang dan kemauan seseorang pemegang barang untuk menguasai
barang itu sebagai pemilik.Fungsi bezit:mendapat perlindungan hukum,sedangkan fungsi
Zakenrechtelijk:bezit akan berubah menjadi hak milik melalui lembaga verjaring jika benda
itu tidak bergerak dan bezit itu berjalan tanpa ada gangguan orang lain.Macam beziter:beziter
yang jujur&tidak jujur.Cara memperoleh bezit:secara ocupatio&traditio.Hak milik adalah hak
yang terkuat karena hak milik orang lain dapat menikmati sepenuhnya.Hak milik menurut
hukum adat:hak untuk memungut hasil sepenuhnya dari suatu barang&menguasai barang itu
secara luas-luasnya.Cara memperoleh hak milik dengan pengambilan,perlekatan,lewat
waktu,pewarisan dan penyerahan.

c-
·!‘‘

1. Chidir Ali, S.H. Mr.Dr. H.F.A. Vollmar. Hukum Êenda. Êandung:


Tarsito.
2. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan Prof. Dr, S.H. Hukum Êenda.
Yogyakarta: Liberty, 2000.
3. Subekti, Prof, S.H. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT
Intermasa, 2003.
4. Subekti, R. Prof, S.H. dan R. Tjitrosudibio. Kitab „ndang-„ndang
Hukum Perdata. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2001.

ca

Anda mungkin juga menyukai