Anda di halaman 1dari 3

Manusia sebagai persona

Leo Sutrisno

Ketika kita sepakat memilih strategi kebudayaan untuk membangun


manusia Indonesia masa depan maka konsekuensinya manusia tidak
lagi dipandang sebagai sumber daya [SDM]. Selanjutnya, manusia
harus dipandang sebagai persona.

Ada empat dimensi yang digunakan untuk mencirikan manusia sebagai


persona. Pertama, manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Kedua,
manusia merupakan mahkluk yang unik dan otonom. Ketiga manusia
selalu berelasi dengan yang lain. Dan, keempat manusia adalah
makhluk yang menyejarah.

Manusia sebagai makhluk jasmani tidak dapat dipungkiri.


Keberadaannya langsung dapat dilihat, diamati dari ujung kaki hingga
ujung rambut. Dari kulit paling luar hingga isi bagian dalam usus.

Manusia sebagai makhluk jasmani membawa konsekuensi menempati


ruang. Ia juga perlu makan. Mungkin kita juga dapat menempatkan
sandang di sini. Walaupun, kita tahu ada sejumlah manusia, suku-suku
terpencil, yang kebutuhan sandangnya sangat minimal.

Aspek rohani manusia tidak mudah dipahami karena memang tidak


berwujud. Namun, sering terjadi kita mengambil jarak dari badan kita.
Misal di bulan Puasa ini, walaupun perut ‘menuntut’ untuk diisi, kita
‘berani’ tidak memenuhi tuntutan seperti itu. Walaupun sudah merasa
lelah, kita sering bekerja lembur karena jika itu tidak dilakukan kita
akan menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Kerohanian
manusia sering mengendalikan sifat-sifat jasmaninya. Dengan begitu,
aspek rohani manusia jelas ada.

Manusia sebagai makhluk yang unik dan otonom merujuk pada sifat
individualitas manusia. Unik berarti setiap manusia berbeda dari yang
satu ke yang lain. Tidak ada dua manusia di dunia ini yang sama persis.

Sebagai makhluk yang otonom, manusia memiliki kewenangan


mengatur hidupnya sendiri. Setiap manusia memiliki kehendak bebas.
Keinginan manusia yang selalu berelasi dengan yang lain merujuk
aspek sosialitas manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu bertahan
hidup sendirian di sebuah pulau dalam jangka waktu yang cukup
panjang. Jika itu terjadi maka orang yang bersangkutan akan
mengalami gangguan baik badan maupun jiwa.

Manusia sebagai makhluk yang menyejarah menyangkut historisitas


manusia. Masa lampu seseorang mengendap di masa kininya. Dan,
masa kini akan mengarahkan masa depannya. Dalam diri setiap orang
terdapat percampuran pengalaman antara masa lalu, masa kini, dan
masa depan. Seluruh hidupnya menjadi rekaman masa lalu, masa kini
dan masa yang akan datang.

Inilah keempat dimensi dari pengakuan kita tentang manusia sebagai


persona, sebagai pribadi. Dalam dimensi seperti ini label SDM menjadi
tidak pada tempatnya untuk manusia. Kalau itu masih dipertahankan
maka tindakan itu berarti mendegradasi hakekat manusia. Artinya
manusia tidak lagi dipandang sebagai persona, sebagai pribadi.

Dalam konteks sebagai SDM, pribadi setiap manusia menjadi kabur.


SDM mewakili kelompok manusia. Posisinya di mata para manager
setara dengan sumber dana, sumber sarana dan prasarana serta
sumber-sumber daya yang lain. Manusia sebaga SDM dalam
pandangan para manager sama persis dengan bidak-bidak catur yang
siap dipindah kemana saja sesuai dengan kehendak para manager.

Mari kita lihat di dunia industri. Di situ manusia sungguh ditempatkan


sebagai SDM. Karena itu, mereka yang produktif terus dipupuk hingga
ke puncak. Sebaliknya yang tidak produktif dipangkas, di-pe-ha-ka
tanpa mempedulikan kepentingan pribadi. Karena, pribadi manusia
sudah dianggap tidak ada. Bagi para manager yang penting adalah
bahwa tindakan yang mereka lakukan tidak menyalahi prosedur, titik.

Jika kita memandang manusia harus dipandang sebagai persona maka


tindakan semacam itu tidak dapat diterima begitu saja. Harus ada
pertimbangan yang bersifat personal. Jika tidak maka akan melanggar
HAM. Orang memiliki pilihan tetap di situ dengan gaji yang kecil atau
ke luar, misalnya.
Inilah suatu konsekuensi jika stategi kebudayaan kita pilih untuk
mengisi langkah kedua era reformasi. Manusia hendaknya dipandang
sebagai persona. Semoga!

Anda mungkin juga menyukai