Anda di halaman 1dari 3

Strategi kebudayaan

Leo Sutrisno

Dalam dua minggu di sekitar HUT RI yang ke-65 ini, media massa
dipenuhi refleksi tentang kemerdekaan kita. Sejauh pendapat yang
dapat ditangkap, terkesan bahwa banyak anggota masyarakat yang
merasa belum merdeka.

Berbagai ilustrasi dimunculkan. Di antaranya, ada yang mengatakan


“Kita telah merdeka secara politis tetapi belum yang lain”. Ada juga
yang berpendapat bahwa dulu dijajah oleh bangsa lain [Belanda], kini
kita dijajah oleh bangsa sendiri [Landa gosong].

Memang, jika kita cermati, sebagian besar masyarakat kita


merasakan ketidakadilan. Sebagian besar orang Indonesia merasa
teralinisiasi, termarginalisasi, terpinggirkan.

Orang kaya semakin ‘pamer’ kekayaannya. Orang miskin semakin


dihina dan dilecehkan baik secara langsung maupun lewat tampilan
tayangan hiburan di layar kaca. Jurang antara yang kaya dan yang
miskin semakin menganga lebar. Ada alenisiasi di bidang ekonomi.

Dalam bidang politik sama saja. Ada alenisiasi politik. Para politisi
semakin sibuk ‘memikirkan’ keberadaan partainya sendiri.
Kebijakan-kebijakan politis yang mereka buat terasa mengarah pada
partai sendiri ketimbang kepada masyarakat yang lebih luas. Bahkan,
kadang-kadang garis ideology organisasi partai pun diusahakan
‘dibengkokkan’.

Di bidang kebudayaan setali tiga uang. Kebudayaan kita yang sering


disebut mempunyai nilai-nalai luhur ditinggalkan banyak orang. Dan,
pemerintah pun terasa tidak kauasa lagi membendungnya.

Yang paling mencolok mata adalah bahasa nasional kita, bahasa


kenegaraan kita, bahasa Indonesia. Para pejabat tinggi, para selebriti,
para politisi, merasa nyaman jika menggunakan bahasa ‘gado-gado’
Inggris-Indonesia. Dalam situasi resmi kenegaraan pun hujan kata-
kata asing di tengah-tengah pidato dan sambutan dalam bahasa
Indonesia sering terjadi. Tampak kita ingin mengingkari ke-
Indonesiaan kita agar tampak modern.
Walaupun para alim ulama, para pastor, para pendeta, para pandita,
para petinggi agama, para guru dan dosen agama selalu mengajarkan
nilai-nilai keagamaan tiada henti, tidak pelanggaran ajaran agama
juga berlangsung secara terang benderang. Ketidakjujuran,
ketidakadilan, kekerasan terasa semakin meraja lela.

Fenomena semacam ini mungkin menunjukkan bahwa strategi


ekonomi semasa orde baru dalam pembangunan negara kita tindak
cocok. Demikian juga strategi politik yang dikembangkan dalam era
reformasi juga kurang pas bagi masyarakat kita.

Karena itu, kiranya perlu dicari strategi baru dalam pembangunan


kita ke depan. Salah satu yang mungkin baik untuk dipikirkan adalah
strategi kebudayaan.

Dalam strategi kebudayaan, manusia ditempatkan sebagai factor


sentral. Dalam kebudayaan, manusia tidak diberi label Sumber Daya
Manusia [SDM]. Karena, manusia itulah yang akan ‘dibangun’. Dalam
membangun manusia, tidak mungkin manusia itu dijadikan sumber
yang setingkat dengan sumber-sumber yang lain. Justru sebaliknya,
semua sumber yang harus diarahkan kepada pembangunan manusia.

Dalam sudut pandang kebudayaan, negara bukan suatu korporasi.


Karena itu, managemen korporasi harus dikembalikan ke dalam
habitatnya, ke dunia bisnis dan industri. Termasuk label SDM bagi
manusia harus dikembalikan ke dunia bisnis. Negara jangan dikelola
seperti perusahaan.

Strategi kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai sentral dari


pembangunan akan menghasilkan manusia yang berkepribadian kuat
tetapi lentur. Ia menjadi tak tergoyahkan karena pilihan-pilihannya
didasarkan atas otonominya sebagai manusia. Ia menjadi lentur
karena tidak takut akan luntur. Ia ikut arus tetapi tidak terhanyut.

Kiranya, strategi kebugayaan ini dapat dilipih untuk


mewujudkan cita-cita yang dinyataka dalam tema HUT RI
tahun ini yang berbunyi: DENGAN SEMANGAT
PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945, KITA SUKSESKAN
REFORMASI GELOMBANG KEDUA, UNTUK
TERWUJUDNYA KEHIDUPAN BERBANGSA YANG MAKIN
SEJAHTERA, MAKIN DEMOKRATIS DAN MAKIN
BERKEADILAN. Semoga!
Logo :

Anda mungkin juga menyukai