P. 1
Jigsaw

Jigsaw

|Views: 783|Likes:
Dipublikasikan oleh Rudolf Kudubun
COOPERATIVE LEARNING TIPE JGSAW UNTUK MATA DIKLAT TEKNIK PENGUKURAN, TEKNIK PERMESINAN SMK NEERI 3 AMBON
COOPERATIVE LEARNING TIPE JGSAW UNTUK MATA DIKLAT TEKNIK PENGUKURAN, TEKNIK PERMESINAN SMK NEERI 3 AMBON

More info:

Published by: Rudolf Kudubun on Aug 26, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

SKRIPSI

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA DIKLAT TEKNIK
PENGUKURAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF [COOPERATIVE LEARNING] TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS XA SMK NEGERI 3 AMBON

OLEH RUDOLF KUDUBUN

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2010

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA DIKLAT TEKNIK PENGUKURAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF [COOPERATIVE LEARNING] TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS XA SMK NEGERI 3 AMBON

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelag Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas negeri Makassar

RUDOLF KUDUBUN

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2010

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

FAKULTAS TEKNIK
Alamat: Jl. Dg Tata Raya Parang Tambung Makassar Tlp. 0411-864935-861507

LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa skripsi: Nama NIM Jurusan Fakultas Judul : RUDOLF KUDUBUN : 08 220 43 039 : Pendidikan Teknik Mesin : Teknik, Universitas Negeri Makassar : Peningkatan Hasil Belajar Mata Diklat Teknik Pengukuran Melalui Model Pembelajaran Kooperatif [Cooperative Learning] Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas XA SMK Negeri 3 Ambon Telah diterima dan dipertahankan pada hari selasa tanggal 29 juli 2010, dihadapan panitia ujian skripsi berdasarkan surat keputusan dekan fakultas teknik Universitas Negeri Makassar nomor 2561/H36.2/PP/ 2010 tanggal 29 Juli 2010 Dengan susunan panitia sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ketua Bidang Ketua Jurusan Ketua Program studi S1 Pembimbing I Pembimbing II Penguji I Penguji II Prof. Dr. Husain Syam, M.TP., Drs. H. Andi Samsu, M.T., Drs. Kadirman, MS. Ir. Sonny Thioritz, M.Pd. Drs. Suardy, M.T. Dr. Hamzah Nur, S.Pd., M.Pd. Dra. Hj. Asmah Adam, M.Pd. Disahkan Oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (……………………….) (……………………….) (……………………….) (……………………….) (……………………….) (……………………….) (……………………….)

Prof. Dr. Husain Syam, M.TP. NIP: 19660707 1991031 1 003

MOTTO

Takut Akan Tuhan adalah Permulaan Pengetahuan, Tetapi Orang Bodoh Menghina Hikmat dan Didikan Amsal 1 : 7

Kesuksesan Belajar Tergantung pada Terpadunya Telinga, Mata dan Hati Dalam Menggapai Informasi yang Dipelajari

ABSTRAK

Rudolf kudubun, 0822043039. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Mata Diklat Teknik Pengukuran Melalui Model Pembelajaran Kooperatif [Cooperative Learning] Tipe Jigsaw Pada Siswa Kelas XA Teknik Permesinan SMK Negeri 3 Ambon. Skripsi, Strata Satu Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar. Pembimbing I Ir.Sonny Thioritz, M.Pd. dan Pembimbing II Drs. Suardy, M.T. Kata Kunci: Hasil Belajar. Teknik Pengukuran. Kooperatif Tipe Jigsaw Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar teknik pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe jigsaw pada siswa kelas XA teknik permesianan SMK Negeri 3 Ambon. populasi penelitian ini adalah siswa kelas XA Teknik Permesinan, besar populasi 31 orang. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam 8 kali tatap muka pada dua siklus, siklus pertama dan siklus kedua yang terdiri atas tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan meningkat. Dari tes awal secara klasikal sebesar 54,83 persen, meningkat 7,65 persen menjadi 76,65 persen pada siklus pertama dan meningkat 4,65 persen menjadi 81,30 persen pada akhir siklus kedua. Temuan lain adalah minat, keaktifan serta motivasi dalam dua siklus mengalami peningkatan. Berdasakan hasil penelitian ini maka, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe jigsaw efektif untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat teknik pengukuran pada siswa kelas XA teknik permesinan SMK Negeri 3 Ambon.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Penulis Panjatkan Kepada Tuhan yang maha esa atas segala petunjuk dan penyertaanNya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Pelaksanaan penelitian dan skripsi ini, tidak sedikit mengalami hambatan dan kesulitan, namun berkat adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya dapat diselesaikan. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, terutama kedua orang tua dan Bapak Ir. Sonny Thioritz, M.Pd. selaku Pembimbing I dan Bapak Drs. Suardy, M.T. sebagai Pemimbing II tang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menempuh pendidikan sampai pada tahap penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan juga kepada: 1. Bapak Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd., selaku Rektor Universitas Negeri Makassar 2. Bapak Prof. Dr. Husain Syam, M.TP., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar 3. 4. 5. 6. 7. Bapak Drs. H. Andi Samsu, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin Bapak Drs. Kadirman M.S. selaku Ketua Program Studi SI Bapak Dr. Hamzah Nur, S.Pd., M.Pd. selaku penguji I Ibu Dra. Hj. Asmah Adam, M.Pd. selaku penguji II Bapak I Tanamal S.Pd. selaku Kepala SMK Negeri 3 Ambon

8.

Bapak Amri Peluw Selaku ketua Program Studi Teknik Permesinan SMK Negeri 3 Ambon

9.

Bapak J. Dasfordate yang setia membimbing selama penelitian berlangsung

10. Semua dosen jurusan pendidikan teknik mesin fakultas teknik universitas negeri Makassar yang banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis 11. Semua staf dan karyawan fakultas teknik universitas negeri Makassar atas bantuanya selama ini 12. Rekan-rekan mahasiswa jurusan pendidilan teknik mesin fakultas teknik universitas negeri Makassar yang telah memberi bantuan, dorongan dan partisispasi dalam penyelesaian skripsi ini tanpa kecuali 13. Semua pihak yang tidak sempat disebutkan namanya, yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini Semua budi dan bantuan yang tulus yang telah disumbangkan menjadi amal dan mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan penyayang. Amin

Makassar,

Juni 2010

Penulis,

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ……………………………………………. HALAMAN PENGESAHAN…………………………………..... MOTTO............................................................................................. ABSTRAK………………………………………………………… KATA PENGANTAR……………………………………………. DAFTAR ISI ………………………………………………...... DAFTAR GAMBAR …………………………………………... DAFTAR TABEL ……………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………….. BAB I. PENDAHULUAN………………………………………
A. Latar Belakang ………………………………………………...... B. Rumusan Masalah …………………………………………...... C. Tujuan Penelitian …………………………………………….... D. Manfaat Hasil Penelitian ……………………………………....

i ii iii iv v vii ix x xii 1
1 5 5 5

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ……………………………………..
A. Deskripsi Teori ………………………………………………… B. Kerangka Pikir ……………………………………………….….

6
6 19

C. Hipotesis Tindakan ……………………………………………..

20

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……………………….....
A. Jenis Penelitian ………………………………………………….. B. Subjek Penelitian ………………………………………………... C. Desain Penelitian ………………………………………………... D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………. E. Teknik Analisis Data …………………………………………...... F.

21
21 21 21 28 29 30

Indikator Keberhasilan ……………………………………………

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………….……...
A. Hasil Penelitian Siklus Pertama ………………………………….. B. Hasil Penelitian Siklus Kedua ……………………………………. C. Pembahasan Hasil Penelitian ……………………………………..

31
31 42 49

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………….
A. Kesimpulan ……………………………………………………….. B. Saran ………………………………………………………………

51
51 51

KEPUSTAKAAN …………………………………………………. LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………… PERSURATAN RIWAYAT HIDUP

53 55

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar
1 2 3

Nama gambar
Ilustrasi Yang Menunjukan Tim Jigsaw …………............... Skema Kerangka Pikir ……………………………………… Model Siklus Penelitian Tindakan kelas ……………………

Halaman
16 20 22

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel
1

Nama Tabel
Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif Dengan Kelompok Belajar

Halaman

8

2

Konvensional…………………………………………. Langkah-Langkah Pembelajaran kooperatif (Cooperive 11

3

Learning)…………………………………………………………… Perbandingan Empat Pendekatan Pembelajaran Kooperatif .. 12 26

4 5

Skor Kuis Dan Kemajuan ……………………………............ Format Data hasil Belajar Tes Awal, Tes Siklus I dan Tes Siklus II ……………………………………..........................

29 30 30 32 33 33 35 36

6 7 8 9 10 11 12 13

Skor Hasil Belajar dan Kategori ……………………....... Format Observasi Belajar Siswa Setiap Siklus………......... Materi ajar Tiap Kelompok Pada Siklus Pertama……........ Materi ajar Tiap Kelompok Pada Siklus Kedua …….......... Format Distribusi Frekwensi Hasil Tes Awal ………......... Format Distribusi Frekwensi Tes Siklus Pertama ……....... Format Persentase Hasil Belajar Tiap Kelompok ……..... Format Observasi Kegiatan Belajar Siswa Setiap Pertemuan

Pada Siklus Pertama………………………........................ 14 15 Format Distribusi Frekwensi Hasil Tes Siklus Kedua........ Format Persentase Hasil Belajar Tiap Kelompok Pada Siklus Kedua…………............................ 16 Format Observasi Kegiatan Belajar Setiap Pertemuan pada Siklus Kedua ……………………………………..............

37 43

44

45

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran
1

Nama Lampiran
Prestasi Belajar Mata Diklat Teknik Pengukuran Sebelum dan Sesudah Siklus ……………………............................

Halaman

55 56 57

2 3 4

Pembentukan Kelompok atau Tim Jigsaw……………….. Pembentukan Kelompok Ahli ………………………….... Indikator Kegiatan Pengamatan Aktifitas Belajar

Siswa…………………………………………….............. 5 6 7 Hasil Pengamatan atau Observasi Setiap Pertemuan pada Siklus Pertama dan Siklus Kedua…………………………………………………….. Silabus dan RPP …………………………………............ 8 Daftar Hadir semua Pertemuan dan Jadwal Mengajar...... Foto Dokumentasi ……………………………………….. 9 10 Persuratan

58

59 75

93 96

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perkembangan masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik dimasa yang akan datang. Sampai saat ini persoalan pendidikan yang dialami bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan peningkatan manajemen sekolah. Namun, indikator ke arah mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang signifikan. Peran siswa dalam konteks pembelajaran konstruktivisme atau pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah belajar dan mencari sendiri arti dari apa yang mereka pelajari yang merupakan proses penyesuaian konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka dan siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Suatu tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan apabila model pembelajaran yang sesuai dengan materi atau mata diklat yang

dibawakan oleh seorang guru. Dengan demikian

pemilihan sebuah model

pembelajaran merupakan bagian penting dalam merencanakan atau mendesain pembelajaran, agar terjadi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa maupun siswa dengan peralatan praktek. Mata diklat teknik pengukuran adalah salah satu mata diklat dasar kejuruan yang harus dipelajari oleh siswa kelas XA teknik . Perlu diketahui bahwa tujuan dari pada mata diklat teknik pengukuran adalah agar siswa dapat 1), Mengidentifikasi jenis-jenis alat ukur dasar dengan menggunakan daftar alat ukur, 2), Membaca alat ukur dasar menggunakan gambar sesuai dengan ketelitian, 3), Mengkalibrasi alat ukur dasar dengan menggunakan standar normal yang ditentukan, 4), Siswa dapat menggunakan mistar baja, busur derajad dan mikrometer dengan ketelitian 0,1 s/d 0,001 mm. Dalam proses pembelajaran, materi pembelajaran disampaikan dengan cara atau model ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan tugas individu. Hal ini dilakukan karena terbatasnya peralatan praktek ukur teknik pengukuran yang tidak seimbang dengan jumlah siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar sebelumnya pada tahun ajaran 2008/2009 mata diklat teknik pengukuran masih dibawah standar ketuntasan 7,00 dan standar ketuntasan kelas sesuai Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) 70 persen (Dokumen guru mata diklat dan sekolah). Hasil belajar siswa dari 31 orang yang memperoleh nilai diatas 7,00 ada 14 orang atau 45,15 persen, selebihnya 17 orang atau 54,48 persen masih dibawah standar terendah 7,00. Persoalannya, bukan hanya terletak pada jumlah prasarana yang terbatas, namun

perlu dikaji hal apa yang paling mendasar dalam pengaruh rendahnya hasil belajar siswa. Untuk mengatasi persoalan tersebut maka akan dilakukan tindakan sebagai solusi dan memecahkan permasalahan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, perlu diadakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang minat siswa untuk lebih antusias berperan aktif dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui perubahan ke arah perbaikan dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) tipe Jigsaw diharapkan lebih tepat dalam pembelajaran siswa agar hasil belajar dapat ditingkatkan pada mata diklat teknik pengukuran sesuai dengan standar ketuntasan 7,00, karena dengan model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) tipe jigsaw siswa tidak ragu untuk berkomunikasi dengan temanya tentang materi atau pelajaran yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu: kelompok kecil, belajar bersama, dan pengalaman belajar. Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugastugas dalam kelompok. Pembentukan Kelompok Belajar Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa dibagi menjadi dua anggota kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli,

yang dapat diuraikan sebagai berikut: Kelompok kooperatif awal (kelompok asal). Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari 5 – 6 anggota, Setiap anggota diberi urutan peringkat sesuai hasil tes awal, kelompok harus heterogen terutama pada kemampuan akademik. Kelompok ahli anggotanya adalah yang jumlahnya sama pada kelompok asal. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: 1. Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok asal, beranggotakan 5 -6 orang. Setiap siswa diberi urutan berdasarkan hasil tes awal misalnya 1,2,3 dan seterusnya. 2. Membagi wacana / tugas sesuai dengan materi yang diajarkan. Masing-masing kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda. 3. Dalam kelompok ahli, tugaskan agar siswa belajar bersama (memberi dan menerima) untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya. 4. Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana atau tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif asal. Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok asal.

5.

Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.

B. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka persoalan atau permasalahan penelitian ini adalah, Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar teknik pengukuran pada siswa kelas XA teknik Permesinan di SMK Negeri 3 Ambon.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar siswa serta sebagai tambahan masukan kepada kepala sekolah dan guru mata diklat dalam mempertimbangkan penerapan model pembelajaran koopertatif (Cooperative learning) tipe jigsaw pada mata diklat teknik pengukuran pada siswa kelas XA permesinan di SMK Negeri 3 Ambon.

D. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat kepada: Kepala Sekolah: Sebagai bahan masukan dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan hasil belajar
2.

Guru: khususnya guru yang mengajar mata diklat teknik pengukuran mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran kooperatif (Cooperative

Learning) tipe jigsaw dalam proses belajar mengajar untuk mata diklat yang relevan dengan model pembelajaran ini 3. Siswa: untuk meningkatkan hasilt belajar pada mata diklat teknik pengukuran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori 1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) berasal dari kata ”Cooperative” yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai satu kelompok atau tim. Menurut kauchak dan Eggen, dalam Jumadi, (2009:13). Belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan untuk membantu siswa satu dengan siswa yang lain dalam mempelajari sesuatu. Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuanya berbeda. Siswa diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi social dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktifitas belajar siswa. Menurut Slavin (2008: 55), pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen. Hasibuan dan Moedjiona, (1984: 23), juga mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran.

Beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) merupakan strategi yang menempatkan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok yang beranggotakan 4 – 6 orang siswa dengan tingkat kemampuan berbeda yang menekankan kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Didalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 – 6 orang yang sederadjad tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalahuntuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif alam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Selama belajar secara kooperatif siswa tetap tinggal didalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, berdiskusi dan sebagainya. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu diantara teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pelajaran. Dalam

pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa maupun sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai suatu tujuan bersama, maka akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama yang akan bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah. Tabel 1. Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Konvensional Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Konvensional Adanya saling ketergantungan positif, Guru sering membiarkan adanya siswa saling membantu dan saling yang mendominasi kelompok atau memberikan motivasi sehingga ada menggantungkan diri pada kelompok interaksi promotif adanya akuntabilitas individual yang Akuntabilitas mengukur penguasaan individual sering

materi diabaikansehingga tugas-tugas sering sedangkan anggota

pelajaran tiap anggota kelompok dan diborong oleh salah seorang anggota kelompok diberi umpan balik tentang kelompok hasil belajar anggotanya, sehingga kelompok lain hanya mendompleng dapat saling mengetahui siapa yang keberhasilan pemborong memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Kelompok belajar heterogen, baik Kelompok belajar biasanya homongen dalam kempuan akademik, jenis kelamin, ras dan entik dan sebagainya, sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memberikan bantuan dan siapa yang memerlukan bantuan Pimpinan kelompok dipilih secara Pemimpin kelompok sering ditentukan

demokratisatau

bergilir

untuk oleh

guru

atau

kelompok

sering

memberikan pengalaman memimpin dibiarkan untuk memilih pemimpinya bagi para anggota kelompok dengan cara masing-masing Keterampilan sosial yang diperlukan Keterampilan sosial sering tidak secara dalam kerja gotong royong seperti langsung diajarkan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain dan mengelolah konflik secara langsung diajarkan Pada saat belajar kooperatif sedang Pemantauan melalui observasi sering berlangsung guru terus mamantau tidak dilakukan oleh guru pada saat lewat observasi dan melakukan belajar kelompok sedang berlangsung intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok Guru memperhatikan secara proses Guru sering tidak memperhatikan kelompok dan terjadi dalam proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar pada Penekanan sering hanya juga penyelesaian tugas pada kelompok-kelompok belajar Penekanan tidak hanya penyelesaian hubungan tugas tetapi interpersonal

(hubungan

antar pribadi yang saling menghargai) Sumber: Killen dalam Trianto (2007: 43)

Model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya, strata sosial, kemampuan dan ketidakmampuan. Ibrahim, dkk, (2000: 9). Model pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) memberikan peluang kepada siswa yang berbeda

latar belakang dan kondisi untuk saling bekerja, saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan melalui struktur penghargaan kooperatif serta belajar untuk menghargai satu sama lain. Neil Davidson, dalam Jumadi, (2009: 19). Menggariskan tujuh hal yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif yaitu: tugas yang harus dipersiapkan, dibahas dan disimpulkan secara berkelompok, interaksi tatap muka dalam kelompok kecil, suasana bekerja sama dan saling membantu dalam setiap sekelompok, tanggung jawab setiap indivdu yang berarti bahwa keberhasilan kelompok tergantung pada pembelajaran tiap individu dalam kelompoknya, ketergantungan yang positif serta kelompok yang bersifat heterogen dan kemampuan berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Terdapat enam langkah utama didalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif yaitu: pembelajaran dimulai dari guru memyanpaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar, fase ini diikuti oleh penyajian informasi, selanjutnya siswa dikelompokan kedalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan kepada siswa saat bekerja sama untuk meyelesaikan tugas. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari. Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Budiastuti, Widowati dalam Jumadi, (2009: 21). dapat diamati pada tabel berikut:

Tebel 2.

Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Indikator Tingkah Laku Guru tujuan Menyampaikan seluruh tujuan pembelejaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya kelompok agar melakukan transisi secara kelompok-kelompok belajar

Fase ke 1

Menyampaikan

dan memotivasi siswa

2

Menyajikan informasi Mengorganisasikan

3

siswa

kedalam membentuk kelompok dan membantu setiap

kelompok-kelompok

4

belajar efisien Membimbing kelompok Membimbing belajar dan bekerja

pada saat mengerjakan tugas Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari secara individu dan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Mencari cara-cara untuk menghargai upaya

5

Evaluasi

penghargaan atau hasil belajar individu maupun kelompok Sumber: Ibrahim, dkk. (2000: 10)

6

Memberikan

Tabel 3. Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajarn Kooperatif (Cooperative Learning) Tim Ahli Jigsaw Informasi akdemik Investigasi kelompok Informasi akademik Pendekatan struktural Informasi akdemik

STAD Tujuan kognitif Informasi akdemik

Tujuan sosial

sederhana Kerja kerja sama

sederhana tingkat tinggi sederhana Kerja kelompok Kerja sama Keterampilan dalam kelompok Kelompok belajar heterogen orang pola kompleks Kelompok belajar heterogen kompleks sederhana Bervariasi, berdua, bertiga 4-5 berkelompok anggota

kelompok dan dan kerja sama

Struktur tim

Kelompok belajar heterogen anggota

dengan 4 – 5 dengan 4 – 6 dengan 4 – 5 dengan anggota anggota homogen kelompok Biasanya guru Siswa menyelesaikan inkuiri kompleks ahli dalam menggunakan “asal dan ahli” Biasanya guru

Pemilihan kelompok Tugas utama

Biasanya guru Siswa lembar kegiatan saling membantu untuk menuntaskan materi Tes mingguan

Biasanya guru Siswa mengerjakan yang diberikan secara sosial dan kognitif

dapat Siswa mempelajari materi dan kelompok kemudian membantu anggota kelompok asal

menggunakan

Penilaian

dan sebaliknya Bervariasi, dapat Penyelesaian berupa mingguan tes proyek menulis laporan, menggunakan tes esay dan

Bervariasi

Pengakuan Lembar pengetahuan dan publikasi

Publikasi lain

Lembar pengakuan dan publikasi lain

Bervariasi

lain Sumber: Ibrahim, dkk, (2000: 29) Keunggulan yang diperoleh dalam pembelajaran kooperatif diantaranya: siswa tidak terlalu tergantung pada guru akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa yang lain. Mengembangkan kemampuan mengunkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata verbal dan membandingkan dengan ide-ide orang lain. Membantu anak untuk respek kepada orang lain dan menyadari segala keterbatasanya. Membantu memberdayakan semua siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. Suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi

akademik/hasil belajar sekaligus kemampuan sosial. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamanya sendiri dan menerima umpan balik. Meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Model pembelajaran kooperatif juga memiliki keterbatasan, diantaranya: untuk memahami filosofi model pembelajaran kooperatif memang butuh waktu lama. Membutuhkan fasilitas alat dan bahan yang cukup memadai. Saat diskusi kelas atau kelompok terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa lain menjadi pasif.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu: hasil belajar akademik, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik siswa golongan bawah maupun golongan atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, memberi peluang kepada siswa untuk belajar saling menghargai satu sama lain meskipun dari berbagai latar belakang kondisi, pengembangan keterampilan sosial, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi.

2. Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) Tipe Jigsaw
a. Gambaran Umum Jigsaw Jigsaw (Gergaji Bundar ) adalah model pembelajaran yang dikembangkan atau mengambil cara kerja dari gergaji bundar. Dimana, kerja dari gergaji bundar itu sendiri harus terdapat mata gergaji yang lengkap agar mampu mencapai hasil kerja yang baik, demikian dengan pola pembelajaran dengan jigsaw dimana setiap individu harus aktif agar tercapai hasil kelompok mengarah kepada masing-masing individu. Perspektif psikologi sosial tentang belajar menegaskan adanya pergeseran paradigma dari konsep “transmisi pengetahuan expert ke novice” menuju pada suatu konsep “pengkonstruksian aspek sosial pengetahuan” (social construction of knowledge). Dengan pergeseran paradigma ini, rasional pendekatan-pendekatan kelas yang mendorong peningkatan dialog antar para siswa memperkuat kembali ide-ide yang diharapkan yang orientasinya

tentang peer-mediated instruction, meliputi komunitas-komunitas para pebelajar, pembelajaran kolaboratif, pentutoran teman sebaya, dan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada interaksi-interaksi sosial, dinamika kelompok, proses belajar dan pembelajaran, pengakomodasian pendidikan perbedaan-perbedaan pengembangan individu, sosial dan pencapaian personal tujuan-tujuan pebelajar, dan

majemuk,

pengembangan keterampilan-keterampilan akademik dan interpersonal pebelajar. Pendekatan pembelajaran kooperatif berorientasi pada sifat dasar pembelajaran manusia. Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson, dkk dari Universitas Texas dan diadopsi oleh Slavin, dkk di Universitas Jhon Hopkins, Psikolog Aroson yang juga menerapkan ide yang didasari oleh kenyataan bahwa dalam lingkungan kompetitif (negatif interdependent) siswa tidak akan saling memahami satu sama lain. Hal ini disebabkan karena dalam suasana belajar kompetitif, anak-anak berpersepsi bahwa mereka dapat mencapai tujuan jika dan hanya jika teman mereka lainnya tidak bisa mencapai tujuan yang sama. Aronson melihat bahwa perubahan proses pendidikan memerlukan siswa memandang satu sama lain sebagai kolaborator ketimbang sebagai kompetitor. Teknik Jigsaw yang dikembangkan oleh Aroson adalah bagian dari perubahan ini. Trianto (2007: 56). Psikolog lain, Gordon Allport lebih melihat relasi antar kelompok. Dia mengingatkan bahwa dengan hanya menerapkan hukuman, tidak akan berhasil baik mengurangi kecurigaan antar kelompok maupun dalam meningkatkan kadar

penerimaan dan pemahaman antara anggota. Untuk mencegah terjadinya kecurigaan antar etnik dan ras. tiga kondisi yang telah dirumuskan oleh Allport tersebut adalah: (1) kontak langsung antar etnik, (2) sama-sama berperan dalam kondisi yang sama antar anggota dari berbagai kelompok dalam seting tertentu, dan (3) perlunya kesepakatan bersama antar etnik dan ras dalam mewujudkan seting tersebut. I Wayan Santyasa, ( 2008: 13). Model pembelajaran koopertif tipe jigsaw adalah produk perspektif psikologi sosial. Konsep kunci pendekatan tersebut adalah positif interdependent, yang memperhatikan persepsi tentang bagaimana mempengaruhi dan dipengaruhi. Ide ini bermula dari pikiran Deutsch yang menemukan bahwa positif interdependent mengarahkan penampilan superior. Johnson telah memperluas pendekatan ini dengan: (1) mengembangkan cara-cara mendorong positif interdependent, (2) mengusut struktur-struktur pembelajaran kooperatif dalam beberapa seting, (3)

mendiseminasikan konsep-konsep tersebut pada para guru. Sistem Johnson memiliki lima unsur kunci, antara lain: (1) positif interdependent, (2) individual accountability, (3) face-to-face interaction, (4) teaching collaborative skills, dan (5) processing group interaction. I Wayan Santyasa,
Kelompok I 5 – 6 orang siswa

( 2008: 15).
Kelompok III 5 – 6 orang siswa

Kelompok II 5 -6 orang siswa

Kelompok IV 5 -6 orang siswa

Gambar 1. Ilustrasi yang Menunjukan Tim Jigsaw

(Diadaptasi dari Trianto, 2007: 58) b. Langkah-Langkah Pembelajaran Jigsaw Dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw, pebelajar dikelompokkan menjadi empat atau lima orang dalam satu kelompok. Dalam pembagian tugas yang harus dikerjakan oleh pebelajar, terdapat dua jenis kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Jigsaw, adalah sebagai berikut.
1) Guru mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran kooperatif

Jigsaw yang akan digunakan sebagai seting pembelajaran 2) Guru dan siswa menyepakati pembentukan kelompok-kelompok asal 3) Guru dan siswa menyepakati pembagian waktu yang digunakan oleh kelompok asal untuk berdiskusi dan waktu yang digunakan oleh kelompok ahli untuk melakukan pentutoran teman sebaya 4) Kelompok ahli dipersilahkan bekerja pada masing-masing kelompok untuk mendikusikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya selama waktu yang telah disepakati 5) Setelah kelompok ahli selesai membahas tugasnya, masing-masing ahli kembali berkumpul ke kelompok asal 6) Di kelompok asal, masing-masing ahli menjelaskan kepada ahli yang lain secara bergiliran tentang tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing, ahli yang menerima penjelasan mengelaborasi untuk melengkapi tugas ke seluruhan, dalam

hal ini guru hendaknya memperhatikan dan membimbing agar terjadi proses pentutoran secara efektif 7) Guru member kesempatan kepada siswa pada setiap kelompok untuk presentasi hasil diskusinya, kelompok yang lain mencermati, menanggapi, bertanya, menjelaskan, dan menyempurnakan laporan masing-masing 8) Guru mengumpulkan hasil laporan kelompok untuk seanjutnya dikoreksi, dinilai, dan dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan mengumumkan nilai-nilai kelompok, serta memberikan penghargaan kepada kelompok yang paling unggul

3. Pengertian Pengukuran
Kata pengukuran berasal dari kata dasar “ukur” yang artinya sukat dan sukat adalah takaran atau ukuran. Kata ukuran berarti pekerjaan mengukur dan mengukur adalah menghitung ukuran-ukuran (panjang, lebar, tinggi, luas dan sebagainya) dengan alat tertent, atau dapat diartikan menilai mutu dengan cara membandingkan dengan besaran standar. Pengukuran adalah proses, cara atau perbuatan mengukur. Daryanto, (1997: 17). Dan pengukuran dalam arti luas adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Maksud besaran standar adalah objek atau benda ukur. Umar Hamalik dalam psikologi belajar mengajar (1992: 203). Mengatakan bahwa pengukuran adalah usaha untuk mengetahui berapa hal yang dimiliki oleh siswa setelah mempelajari keseluruhan materi yang telah disampaikan kepadanya. Pengukuran yang bersifat kuantitatif adalah untuk mengetahui atau menentukan luas,

dimensi, derajad kesanggupan suatu hal atau benda kerja dengan menggunakan alatalat ukur. Dari pendapat-pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran adalah suatu cara atau perbuatan untuk mengetahui ukuran suatu dimensi atau bidangbidang suatu benda kerja.

B. Kerangka Pikir
Proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dibutuhkan peran aktif dengan didukung perencanaan yang sistematis oleh guru. Guru harus mampu mengembangkan diri dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Guru dituntut untuk dapat menciptakan suasana suasana belajar yang meyenangkan dan kondusif, agar siswa tidak merasa bosan dengan proses pembelajaran yang ada dengan memilih metode pembelajaran yang tepat. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar, kemampuan guru menciptakan suasana dan lingkungan yang menarik serta meyenangkan siswa akan menentukan kualitas hasil belajar. Keberhasilan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa tergantung dari pada kelancaran interaksi komunikasi antara komponen yang berkaitan (siswa dengan guru, siswa dengan siswa maupun siswa dengan prasarana yang tersedia). Telah diketahui pengaruh model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) terhadap siswa dan kondisi-kondisi yang dibutuhkan dalam melaksanakan

pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) yang efektif, khususnya untuk mencapai hasil belajar. Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu model pembelajaran berkelompok yaitu model pembelajaran kooperatif Dalam kegiatan belajar mengajar mata diklat teknik pengukuran dengan model pembelajaran kooperatf (Cooperative Learning) tipe jigsaw siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa yang disebut tim. Tim ini akan bekerja sama untuk menyelesaikan suatu masalah dalam proses pembelajaran. Tiap siswa memberi kontribusi berupa poin yang mereka kumpulkan untuk timnya berdasarkan skor tes.

Mata diklat teknik Pengukuran pada Kelas XA Jurusan Teknik Mesin di SMK Negeri 3 Ambon
Model Pembelajaran Sebelumnya Model Pembelajaran Kooperatif (Coopreative Learning) Tipe Jigsaw Hasil Belajar Analisis Kesimpulan Gambar 2. Skema Kerangka Pikir

Hasil Belajar

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, kajian pustaka maupun kerangka pikir dalam penelitian ini maka digunakan hipotesis sebagai berikut: dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw, dapat meningkattkan hasil belajar mata diklat teknik pengukuran siswa kelas XA jurusan teknik mesin di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Ambon.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang direncanakan dalam beberapa siklus. Apabila dalam beberapa siklus belum dicapai nilai ketuntasan 7,00 maka dilanjutkan ke siklus berikutnya sampai mencapai nilai ketuntasan 7,00. Tindakan yang dilakukan adalah pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw dengan

tahapan-tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi.

B. Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada SMK Negeri 3 Ambon, adapun yang menjadi subjek adalah Siswa kelas XA Kompetensi Kejuruan Teknik Permesinan mata diklat Teknik Pengukuran SMK Negeri 3 Ambon, semester genap tahun ajaran 2009/2010.

C. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan berbasis kelas (Class Action Research) maka prosedur penelitian bersifat sirkular pada kedua siklus yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi.

Perencanaan

Siklus pertama
Terdapat Masalah Pengamatan Refleksi H Hasil baik

Pelaksanaan

Perencanaan Pelaksanaan

Siklus kedua
Terdapat Masalah Pengamatan

Refleksi

H Hasil Baik

Lanjutan [?]

Berhenti

Gambar 3. Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Diadaptasi dari Suharsimi Arikunto, 2009:16)

Secara umum dari siklus I dan siklus II akan di lakukan tindakan pada kegiatan guru menerapkan model pembelajaran berbasis kooperatif, yang meliputi kualitas tingkatan penggunaan model tersebut, dari tingkatan rendah (siklus I), ke tingkatan sedang siklus II, Panduan prosedur kerja yang ditempuh sebagai berikut: 1. a. Siklus Pertama Tahap Perencanaan

Pada tahap ini hal yang harus dilakukan adalah:

1) Menelaah kurikulum kompetensi kejuruan teknik permesinan mata diklat teknik pengukuran SMK Negeri 3 Ambon semester genap. 2) Melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran kompetensi kejuruan teknik pengukuran dan menetapkan pokok bahasan yang akan diteliti. 3) Menyiapkan sumber pembelajaran yang dibutuhkan. 4) Membuat dan mengembangkan skenario pembelajaran. 5) Menyususn format observasi, angket dan evaluasi pembelajaran. b. Tahap Tindakan/pelaksanaan Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah membagi siswa dalam beberapa tim yang heterogen (berbeda jenis kelamin, kemampuan akademik serta suku dan ras) yang beranggotakan 5-6 orang tiap tim. Tim tersebut juga harus terdiri dari seorang anggota yang berprestasi tinggi, seorang anggota berprestasi rendah dan lainnya berprestasi sedang, dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Membuat satu buah kopian dari lembar rangkuman tim untuk setiap 6 siswa dalam kelas. 2) Pada selembar kertas, membuat urutan peringkat siswa didalam kelas dari yang tertinggi sampai yang terendah kinerjanya. 3) Tiap tim harus terdiri dari 5 anggota jika memungkinkan untuk menentukan berapa tim yang akan dibentuk, jumlah yang ada di kelas dibagi empat, hasil bagi tersebut tentunya merupakan jumlah tim beranggotakan empat orang.

4) Dalam membagi siswa ke dalam tim, seimbangkan timnya supaya: (a) tiap tim

terdiri atas kinerjanya berkisar dari yang rendah, sedang dan tinggi dan (b) level kinerja yang sedang dari semua tim yang ada di kelas hendaknya setara. Gunakan daftar peringkat siswa berdasarkan kinerjanya, bagikan huruf tim kepada masingmasing siswa. 5) Mengisi nama-nama siswa dari tiap tim dalam lembar rangkuman tim. 6) Skor awal dapat diberikan dengan cara memberikan kuis atau lembar pertanyaan yang mewakili skor rata-rata siswa. Menyampaikan pelajaran, tiap pelajaran dari jigsaw dimulai dari presentase pelajaran tersebut di kelas, dalam presentase pelajaran ditekankan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyampaikan kepada siswa apa yang akan mereka pelajari dan mengapa hal itu penting. Tumbuhkan rasa ingin tahu siswa dengan cara penyampaian seputar masalah dalam kehidupan nyata dan saran-sarana lainya. 2) Membuat para siswa bekerja dengan tim mereka untuk menemukan konsepkonsep, atau untuk membangkitkan minat mereka terhadap pelajaran. 3) Megulangi tiap persyaratan atau informasi secara singkat. 4) Para siswa punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman satu tim mereka telah mempelajari materinya. 5) Tidak ada yang boleh berhenti belajar sampai semua teman satu tim menguasai pelajaran tersebut.

6) Meminta bantuan dari semua teman satu tim untuk membantu temannya sebelum teman mereka itu bertanya kepada guru. 7) Teman satu tim boleh saling bercerita satu sama lain dengan suara pelan. Selanjutnya para siswa belajar di tim mereka, selama masa belajar tim, tugas para anggota tim adalah menguasai materi yang disampaikan di dalam kelas dan membantu teman sekelasnya untuk menguasai materi tersebut. Para siswa mempunyai lembar kegiatan dan lembar jawaban yang dapat mereka gunakan untuk melatih kemampuan selama proses pembelajaran untuk menilai diri mereka sendiri dan teman sekelasnya. Hanya dua kopian dari lembar jawaban yang diberikan kepada tiap tim, ini akan mendorong teman satu tim untuk bekerja sama. Kemudian guru atau peneliti memberikan test berupa kuis individu, satu kuis tiap anak dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Membagikan kuis dan memberikan waktu yang sesuai kepada para siswa untuk menyelesaikannya. Pada saat ini para siswa harus memperlihatkan apa yang telah mereka pelajari secara individual dan jangan membiarkan siswa bekerja sama mengerjakan kuis tersebut. 2) Biarkan siswa saling bertukar kertas dengan anggota tim lain saat periksa hasil ataupun mengumpulkan kuisnya untuk dinilai setelah kelas selesai. Setelah melakukan tiap kuis, hitung skor kemajuan individual dan skor tim dan berikan bentuk penghargaan kepeda tim dengan skor tertinggi, ini akan membuat jelas hubungan antara melakukan tugas dengan baik dan menerima rekognisi, pada

akhirnya akan meningkatkan motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Para siswa mengumpulkan poin untuk tim mereka. Tabel 4. Skor Kuis dan Kemajuan Skor Kuis Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 10 – 1 poin di bawah skor awal Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal Lebih dari 10 poin di atas skor awal Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) Tujuan dari dibuatnya skor awal dan poin kemajuan adalah untuk memungkinkan semua siswa memberikan poin maksimal bagi kelompok mereka, berapapun tingkat kinerja mereka sebelumnya para siswa memahami bahwa cukup adil membandingkan tiap siswa dengan tingkat kinerja mereka sendiri sebelumnya. karena semua siswa masuk ke dalam kelas dengan perbedaan tingkat kemampuan dan pengalaman. Untuk menghitung skor tim, tiap poin kemajuan semua anggota tim pada lembar rangkuman tim dibagi jumlah total poin kemajuan semua anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir, kemudian dibulatkan semua pecahan. Tiga macam tingkatan penghargaan diberikan di sini, ketiganya didasarkan pada rata-rata skor tim. Poin Kemajuan 5 10 20 30 30

Untuk menghitung skor tim, tiap poin kemajuan semua anggota tim yang hadir dijumlah dalam lembar rangkuman kemudian total poin kemajuan anggota tim dibagi dengan anggota tim yang hadir, maka diperoleh skor rata-rata tim.

c. Tahap Observasi/pengamatan
Pada tahap observasi, guru melakukan observasi terhadap perilaku (keaktifan) siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi berdasarkan indikator berikut: 1. Siswa yang tidak hadir 2. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran 3. Siswa yang mengajukan pertanyaan pada guru 4. Siswa yang menjawab pertanyaan guru 5. Siswa yang mengerjakan latihan-latihan yang diberikan saat uji pemahaman 6. Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan jawaban latihan di papan tulis Tabel 5. Format Observasi Belajar Siswa Setiap Siklus Aspek yang Diamati Pertemuan I siswa [%] siswa II [%] siswa III [%] siswa IV [%]

d. Tahap Refleksi
Hal yang dilakukan pada tahap refleksi adalah:

1) Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan 2) Melakukan diskusi dengan guru mata diklat teknik pengukuran dan mengidentifikasi masalah pada pelaksanaan siklus I 3) Membuat revisi perbaikan pada tindakan di siklus berikutnya

2. Siklus Kedua
Tahap-tahap pelaksanaan siklus kedua sama dengan siklus pertama, akan tetapi pada siklus kedua akan dilakukan perbaikan tindakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama, jadi siklus kedua merupakan kelanjutan dan perbaikan dari pelaksanaan siklus pertama.

D. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik-teknik berikut: Data tentang hasil belajar siswa di peroleh dari test hasil belajar. Observasi perilaku siswa di kelas dapat dilakukan dengan menggunakan catatan atau pengamatan tentang kejadiankejadian yang berkaitan dengan peserta didik selama di kelas. Hasil belajar siswa diperoleh dengan memberikan soal-soal tes baik pada tes awal, tes pada siklus I dan tes pada siklus II. Data hasil belajar tersebut dibuat dalam satu tabel sebagai berikut:

Tabel 6. Format Data Hasil Belajar Tes Awal, Tes Siklus I dan Tes Siklus II Kelas X Teknik Mesin Nilai Tes Awal Nilai Tes Siklus I Nilai Tes Siklus II

No 1 2 3 4 Dst

NIS

Nama Siswa

E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan deskriptif dimana, data observasi dianalisis secara deskriptif kualitatif, dan tentang hasil belajar siswa dianalisis menggunakan statistik deskriptif (yaitu skor rata-rata dan prosentase). Selain itu akan ditentukan pula tabel frekwensi nilai terendah dan nilai tertinggi yang diperoleh siswa pada setiap siklus. Adapun untuk keperluan analisis kualitatif akan digunakan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan

oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Lestari: 2004: 34). sebagai berikut:
Tabel 7. Skor Hasil Belajar dan Kategori No 1 2 3 Skor Hasil Belajar 85 - 100 65 - 84 55 – 64 Kategorisasi Sangat Tinggi/Istimewa Tinggi Sedang

4 5

35 – 54 0 - 34

Rendah Sangat Rendah

F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif (Coopertive Learning) tipe Jigsaw. Ditetapkan berhasil apabila memperlihatkan adanya peningkatan disemua aspek yang diamati, yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Siklus Pertama
Berdasarkan acuan Kurikulum Tingkat Satuam Pendidikan (KTSP) yang menyatakan bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 7,00 adalah batas terkecil siswa lulus sebuah kompetensi dan dinyatakan berhasil dalam melaksanakan kompetensi yang dilakukan sehingga dapat diisyaratkan untuk permintaan industri kerja saat siswa berada dalam masyarakat. Secara umum dapat dilihat perubahan prilaku keseharian siswa di kelas yang dimiliki siswa pada awal perjalanan siklus I

sampai ke akhir siklus II menunjukan angka peningkatan antara lain seperti pada paparan hasil penelitian berikut. Paparan data dan temuan penelitian tentang peningkatan hasil Belajar Mata Diklat Teknik Pengukuran Melalui Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Tipe Jigsaw diuraikan berdasarkan catatan pengamatan dan tes akhir tindakan terhadap pelaksanaan pembelajaran teknik pengukuran di kelas XA teknik permesinan SMK Negeri 3 Ambon dalam dua siklus. Data dan temuan penelitian ini terdiri atas data proses dan data hasil kegiatan pembelajaran. Data proses diperoleh melalui kegiatan siswa ketika sedang melaksanakan proses pembelajaran, data hasil diperoleh dari hasil belajar siswa, baik yang dilakukan secara kelompok maupun individu. paparan ini diperoleh dari catatan pengamatan perkembangan setiap pertemuan pada siklus pertama dan siklus kedua. 1. Rencana Tindakan Siklus Pertama Perencanaan peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran teknik pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe jigsaw dirancang bersama dengan guru mata diklat secara kolaboratif. Mendiskusikan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menerapkan model pembelajaran dimaksud pada mata diklat teknik pengukuran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sesuai dengan silabus dan program pengajaran semester pada semester dua tahun ajaran 2009/2010, serta dari hasil menelaah kurikulum dan konsultasi dengan

guru mata diklat sebelumnya maka ditetapkan kompetensi dasar yang akan digunakan pada siklus pertama dan siklus kedua, seperti pada tabel berikut:

Tabel 8. Materi Ajar Tiap Kelompok Pada Siklus Pertama
No Kelompok Kompetensi Dasar: Materi yang dipelajari

Alat-Alat Ukur Panjang [Linier]. Micrometer 1 Satu [I] Fungsi dan macam-macam micrometer 2 Dua [II] Bentuk dan bagian-bagian micrometer 3 Tiga [III] Pembacaan ukuran micrometer yang mempunyai tabung 4 Empat 5 Lima [IV] [V] dengan speed 1 mm Pembacaan ukuran micrometer dengan speed 0,5 mm Pembacaan ukuran micrometer dengan skala nonius [tingkat ketelitian 0,001 mm]

Tabel 9. Matrei Ajar Tiap Kelompok Pada Siklus Kedua No Kelompok Materi yang dipelajari Kompetensi Dasar: Alat-Alat Ukur Pembanding. Jam ukur [dial indikator] dan pupitas atau dial test indikator 1 Satu [I] Fungsi dan konstruksi pupitas atau dial test indikator 2 Dua [II] Cara kerja dan macam-macam pupitas atau dial test 3 4 5 Tiga [III] Empat [IV] Lima [V] indikator Cara menggunakan pupitas atau dial test indicator Fungsi dan konstruksi pupitas atau dial test indicator Pemakaian dan macam-macam pupitas atau dial test indikator

2. Pelaksanaan Tindakan Siklus Pertama

a.

Pertemuan Pertama

Membagi siswa dalam 5 kelompok heterogen yang beranggotakan 6 orang siswa dan satu kelompok terdiri dari 7 orang siswa karena siswa berjumlah 31 orang dengan melakukan pre tes sebanyak 4 butir soal dengan alokasi waktu 5 menit. Tabel 10. Format Distribusi Frekwensi Hasil Tes Awal Tingkat Skor Katergori Frekwensi Pengusaan 86 - 100 8,5 - 10 Sangat tinggi 76 - 85 6,5 – 8,4 Tinggi 5 siswa 60 - 75 5,5 – 6,4 Sedang 26 siswa 55 - 59 3,5 – 5,4 Rendah 0 - 54 0 – 3,4 Sangat rendah Pada tabel 10 format distribusi frekwensi tes awal yang Persentase 0% 16,12 % 83,86 % 0% 0% dilakukan, sebanyak

4 butir soal dengan alokasi waktu 5 menit. Adapun hasil tersebut adalah sebagai berikut: jumlah siswa yang hadir pada pertemuan pertama ada 26 orang dari 31 siswa atau sebesar 83,86 persen, dan 5 orang mendapat nilai melalui remediasi yang hasilnya sebagai berikut: siswa yang mendapat nilai 0 sampai 54 atau masuk kategori sangat rendah tidak ada, siswa yang mendapat nilai 55 – 59 atau kategori rendah tidak ada, siswa yang mendapat nilai 60 – 75 atau masuk kategori sedang 26 orang

atau 83,86 persen, siswa yang mendapat nilai 76 – 85 atau masuk kategori tinggi ada 5 orang atau 16,12 persen serta siswa yang memperoleh nilai 86 – 100 tidak ada. Nilai rata-rata sebesar 69, nilai maksimum 84, nilai minimum 60 dan rentang nilai 24. b. Pertemuan Kedua Pertemuan pada tahap kedua ini kegiatannya tidak terlalu jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya, langkah-langkah kegiatanya adalah sebagai berikut: 1). Guru

mengulang menjelaskan materi yang telah diberikan dan dibahas dalam kelompok pada pertemuan sebelumnya, 2). Melakukan pengecekan sejauh mana proses

pembelajaran telah berlangsung di antara kelompok-kelompok berupa tes secara lisan, 3). Mengamati kegiatan pembelajaran pada setiap kelompok, 4). Membimbing siswa selama belajar dikelompok, 5). Memberi kesempatan bertanya kepada siswa.

c.

Pertemuan Ketiga Langkah-langkah pada pertemuan ketiga adalah sebagai berikut: 1).

Mengecek tugas yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya, 2). Mengingatkan tentang apa yang akan dilakukan saat ini, 3). Mengecek kehadiran dan yang memiliki bahan ajar 4). Menyimpulkan materi yang telah dibahas di kelompok, 6). Mengamati atau mengobservasi kegiatan kerja kelompok serta individu. d. Pertemua Keempat Pertemuan pada tahap keempat ini kegiatanya adalah sebagai berikut: 1). Menyimpulkan materi yang telah dicapai kelompok, 2). Melakukan tes secara individu maupun kelompok dalam bentuk presentasi sebagai hasil belajar siklus pertama. Hasil pada akhir siklus pertama dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 11. Format Distribusi frekwensi Hasil Tes Siklus Pertama

No 1 2 3 4 5

Tingkat Penguasaan 86 % - 100 % 76 % - 85 % 60% 55% 0% 75 % 59 % 54 %

Skor 8,5 - 10 6,5 – 8,4 5,5 – 6,4 3,5 – 5,4 0 – 3,4

Kategori Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Frekwensi 3 orang 14 orang 14 orang -

Presentase 9,90 % 45,16 % 45,16 % 0% 0%

Dari hasil tes siklus pertama pada tabel 12 dapat dilihat bahwa dari 31 siswa kelas XA teknik permesinan, siswa yang mendapat nilai 86 persen sampai 100 persen atau masuk kategori sangat tinggi ada 3 siswa atau 9,90 % persen, siswa yang mendapat nilai 76 persen sampai 85 persen atau masuk kategori tinggi ada 14 orang atau 45,16 persen, siswa yang mendapat nilai 60 persen sampai 75 persen atau masuk kategori sedang ada 14 orang atau 45,16 persen sedangkan yang masuk kategori rendah dan sangat rendah tidak ada. Rata-rata sebesar 76,65, nilai maksimum 87, nilai minimum 65 dan rentang nilai 22. Perlu diketahui bahwa penilaian kelampok dilakukan sebelum penilaian individu pada tiap akhir siklus dengan alokasi waktu tiap kelompok untuk presentasi adalah 12 menit yang terdiri dari 2 menit untuk menyampaikan hasil diskusi selama belajar kelompok, 2 menit diberikan untuk yang bertanya Tabel 12. Format persentase Hasil Belajar Tiap Kelompok Kelompo k I Indikator Penguasaan materi Bobot 40 Yang Diperole h 38 Total 89

Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi II Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi III Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi IV Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi V Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab

15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30

13 13 25 39 13 12 25 35 12 12 26 35 12 13 24 34 12 13 23 82 84 85 89

3. Pelaksanaan Tahap Observasi / Pengamatan Siklus Pertama

Tabel 13 . Format Observasi Siklus Pertama Aspek yang Diamati pada Siswa Tidak hadir Mengajukan pertanyaan pada guru Menjawab pertanyaan ∑ 5 16 3 Pertemuan I % 16,12 51,61 9,67 ∑ 3 19 5 II % 9,67 61,29 16,12 ∑ 18 9 III % 58,06 29,03 ∑ 2 21 10 IV % 6,45 67,74 32,25 Ratarata [%] 8,06 59,68 21,78

guru Mengerjakan

jawaban

latihan di papa tulis Sering keluar selama proses pembelajaran

2 16

6,45 51.61

4 15

12,90 48.2

5 14

16,12 45,16

6 10

19,35 32,25

13,70 44,30

Pertemuan Pertama Pada tabel 13 kolom pertemuan pertama diperoleh hasil pengamatan siklus pertama sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir ada 5 orang, atau 16,12 persen b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 16 orang, atau 51,61 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 3 orang, atau 9,67 persen d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 2 orang, atau 6,45 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 16 orang, atau 51,61 persen Pertemuan kedua Pada tabel 13 kolom pertemuan kedua diperoleh hasil pengamatan siklus pertama sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir ada 3 orang, atau 9,63 persen b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 19 orang, atau 61,29 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 3 orang, atau 16,12 persen

d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 4 orang, atau 12,90 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 15 orang, atau 48,2 persen

Pertemuan Ketiga Pada tabel 13 kolom pertemuan ketiga diperoleh hasil pengamatan siklus pertama sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir tidak ada b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 18 orang, atau 58,06 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 9 orang, atau 29,03 persen d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 5 orang, atau 16,12 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 14 orang, atau 45,16 persen Pertemuan Keempat Pada tabel 13 kolom pertemuan keemat diperoleh hasil pengamatan siklus pertama sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir ada 2 orang, atau 6,45 persen b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 21 orang, atau 67,74 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 10 orang, atau 32,25 persen

d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 6 orang, atau 19,35 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 10 orang, atau 32,25 persen

4. Refleksi pada Siklus Pertama Kegiatan refleksi yang dilakukan oleh peneliti adalah mengamati seluruh rangkaian kegiatan yang terjadi selama siklus pertama, temuan dan hasil pengamatan penliti dibahas bersama guru kolaborator, misalnya apa yang ditemukan peneliti dalam pengamatan setiap aspek yang dinilai belum maksimal maka perlu mendapat perhatian yang lebih serius pada tahap penelitian berikutnya. Refleksi tindakan siklus pertama mencakup aspek yang diamati pada setiap pertemuan serta nilai tes awal dan tes siklus pertama. Pada tabel 13 pengamatan disetiap aspek pada masing-masing pertemuan perlu ditingkatkan serta pada tabel 11 distribusi hasil tes siklus pertama, siswa yang mendapat nilai 86 sampai 100 atau masuk kategori sangat ada 3 orang atau 9,90 persen, siswa yang memperoleh nilai 76 sampai 85 atau masuk kategori tinggi ada 22 orang atau 70,06 persen berarti masih ada 6 orang siswa yang berada pada kategori sedang sampai sangat rendah. Hasil refleksi ini dapat disimpulkan bahwa belum maksimal dalam meningkatkan hasil belajar terhadap siswa, hal ini dapat terlihat pada hasil belajar yakni hanya 3 orang siswa yang memperoleh nilai baik dan masuk kategori sangat tingggi, meskipun kebanyakan telah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum

(KKM) 7,00, namun akan lebih baik apabila prestasi belajar semakin ditingkatkan karena standar nilai 7,00 adalah standar terendah untuk kompetensi kejuruan. Oleh karena itu, diharapkan pada siklus kedua memberikan perhatian kepada siswa, dan aspek yang diamati terutama bertanya bila tidak mengerti baik ditujukan kepada guru maupun kepada teman sekelompok serta kelompok lain.

B. Hasil Penelitian Siklus Kedua
1. Rencan Tindakan Siklus Kedua Pada siklus kedua diharapkan siswa dapat: 1) Merasa dihargai sehingga aktif didalam kelas dan rajin mengikuti pelajaran 2) Bertanggung jawab metode pembelajaran yang telah disepakati bersama 3) Tidak keluar masuk kelas secara sengaja 4) Tidak mengganggu teman yag lain 5) Tidak melakukan kegiatan lain (berbicara hal-hal selain materi, bermain, mendengarkan musik lewat earphone dan lain-lain) 6) Pada siklus kedu berdasarkan hasil refleksi ditekankan pada aspek bertanya bila tidak mengerti, sedangkan aspek dan kegiatan lain tetap dipertahankan, materi pembelejaran hanya melanjutkan yang telah ditetapkan. 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus Kedua Pelaksanaan pada siklus kedua tidak jauh berbeda dengan tindakan yang telah diberikan pada siklus sebelumnya. Pada siklus kedua aspek yang harus ditekankan

yaitu bertanya bila tidak mengerti hal ini dapat dilihat dari hasil tes siklus pertama dan data observasi.

Tabel 14. Format Distribusi Frekwensi Hasil Tes Siklus Kedua No 1 2 3 4 5 Tingkat Penguasaan 86 % - 100% 76% - 85% 60% - 75% 55% - 59% 0% - 54% Skor 8,5 - 10 6,5 – 8,4 5,5 – 6,4 3,5 – 5,4 0 – 3,4 Kategori sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Frekwensi 10 orang 11 orang 10 orang Persentase 32,25 % 35,47 % 32,25 % 0% 0%

Dari hasil tes pada siklus kedua pada tabel 14 dapat dilihat bahwa dari 31 siswa kelas XA teknik permesinan, siswa yang mendapat nilai 86 persen sampai 100 persen atau masuk kategori tinggi ada 10 orang atau 32,25 persen, siswa yang mendapat nilai 76 sampai 85 atau masuk kategori tinggi ada 11 orang atau 35,47 persen, siswa yang mendapat nilai 60 sampai 75 atau masuk kategori sedang ada 10 orang atau 32,25 persen sedangkan siswa yang mendapat nilai 55 – 59 persen atau masuk kategori rendah dan siswa yang mendapat nilai 0 – 54 persen atau masuk kategori sangat rendah tidak ada.

Tabel 15. Format Persentase Hasil Belajar Tiap Kelompok pada Siklus Kedua Kelompo k

Indikator Penguasaan materi

Bobot 40 15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30 40 15 15 30

Nilai 40 13 13 25 40 13 12 25 40 12 12 26 40 12 13 24 40 12 13 23

Total

I

Kemampuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi

91

II

Kemapuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi

90

III

Kemampuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi

90

IV

Kemampuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab Penguasaan materi

89

V

Kemampuan komunikasi Kemampuan membuat kesimpulan Ketepatan menjawab

88

3. Peksanaan Tahap Observasi/Pengamatan Siklus Kedua Tabel 16. Format Observasi Kegiatan Belajar Siklus Kedua Aspek yang Diamati pada Siswa Tidak hadir Mengajukan pertanyaan pada guru Menjawab pertanyaan guru Mengerjakan jawaban latihan di papa tulis Sering keluar selama proses pembelajaran ∑ 2 21 9 4 10 I % 6.44 67,74 29.03 12,90 32,25 ∑ 26 12 5 8 Pertemuan II III % 83,87 38,70 16,12 25,80 ∑ 23 13 7 4 % 74,19 41,93 22,58 12,90 ∑ 4 16 10 3 RataIV % 14,90 51,61 32,25 9,67 rata [%] 1,61 60,2 40,32 21,00 20,15

Pertemuan Pertama Pada tabel 16 kolom pertemuan pertama diperoleh hasil pengamatan siklus kedua sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir ada 2 orang atau 6,44 persen b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 21 orang atau 67,74 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 9 orang atau 29,03 persen

d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 4 orang atau 12,90 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 10 orang atau 32,25 persen Pertemuan Kedua Pada tabel 16 kolom pertemuan kedua diperoleh hasil pengamatan siklus kedua sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir tidak ada b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 26 orang atau 83,87 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 12 orang atau 38,70 persen d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 5 orang atau 16,12 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 8 orang atau 25,80 persen Pertemuan Ketiga Pada tabel 16 kolom pertemuan ketiga diperoleh hasil pengamatan siklus kedua sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir tidak ada b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 23 atau 74,19 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 13 orang atau 41,93 persen

d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 7 orang atau 72,58 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 4 orang atau 12,90 persen Pertemuan Keempat Pada tabel 16 kolom pertemuan keempat diperoleh hasil pengamatan siklus kedua sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir, tidak ada b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru ada 4 orang atau 14,90 persen c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru ada 16 orang atau 51,61 persen d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis ada 10 orang atau 32,25 persen e. Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran ada 3 orang atau 9,67 persen 4. Refleksi pada Siklus Kedua Pada kesempatan refleksi temuan dan hasil pengamatan peneliti dibahas bersama guru mata diklat sebelumnya. Refleksi tindakan siklus kedua mencakup refleksi terhadap aspek yang tidak mengalami peningkatan, berdasarkan hasil

refleksi terjadi peningkatan pada setiap aspek, sehingga dengan demikian tindakan penelitian kelas tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini skenario pembelajaran dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Jigsaw dengan kompetensi dasar mengukur dengan alat ukur mekanik presisi dan standard kompetensi menggunakan peralatan ukur Linier (Mikrometer) dan Menggunakan Macam-Macam Alat Ukur pembanding (Dial Indikator dan Dial Test Indikator). Perincian penelitian dibagi dalam dua siklus yaitu siklus I ada 4 kali pertemuan dan siklus II ada 4 kali pertemuan. Dari lampiran 1, prestasi belajar mata diklat teknik pengukuran kelas XA teknik permesinan terdapat peningkatan pada setiap siklus maupun tes awal yang dilakukan yaitu:
1. Pada tes awal terdapat rata-rata nilai untuk seluruh siswa sebesar 69 persen, nilai

maksimum 84 persen dan nilai minimum 60 persen serta rentang nilai sebesar 24 persen. Secara klasikal belum mencapai standar yang ditentukan yaitu 69 persen
2. Pada tes siklus pertama sebesar 76,65 persen, rentang nilai 22 persen, nilai

maksimum 87 persen dan nilai minimum 65 persen, berarti ada peningkatan dari tes awal ke tes siklus pertama sebesar 7,65 persen. Secara klasikal sebesar 76 persen.
3. Hasil belajar siklus kedua, nilai rata-rata siswa sebesar 81,30 dengan rentang nilai

26 persen, nilai maksimum 95 dan nilai minimu 69 persen. Dengan demikian ada peningkatan dari tes siklus pertama ke siklus kedua sebesar 4,65 persen. Secara klasikal 81 persen.

Hanya ada 1 siswa yang dinyatakan tidak lulus karena belum mampu mencapai standar ketuntasan belajar kempetensi kejuruan yakni 7,00, sedangkan kemampuannnya hanya mencapai angka 69. Perolehan nilai siswa tersebut dikarenakan kemampuannya dibawah rata-rata, didukung dengan pribadi siswa yang kurang bersahabat dengan teman yang lain, senang menyendiri walaupun teman sedang ceria. berdasarkan hasil pengamatan tersebut maka sengaja dipindahkan ke kelompok lain namun tidak menunjukan perubahan yang diharapkan. Penguasaan meteri dari masing-masing kelompok belum merata, hal ini disebabkan karena tingkat kesulitan materi yang dibahas juga berbeda, serta kemampuan lain seperti ketepatan jawaban dari pertanyaan yang diberikan serta dari indikator lain. Karena siswa tidak terbiasa dengan model pembelajaran yang digunakan maka bias terlihat dengan jelas perbedaan antara harapan dan kenyataan. Untuk peningkatan pada motivasi serta tingkah laku peserta didik dapat dikatakan bahwa mengalami peningkatan Karena dari 8 pertemuan pada 2 siklus terdapat perubahan yang dapat dirincikan sebagai berikut: a. Siswa yang tidak hadir pada siklus pertama adalah 8,06 persen, meningkat 6,45 persen menjadi 1,61 persen pada siklus kedua b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada siklus pertama adalah 59,68 persen, meningkat 0,52 persen menjadi 60,2 persen pada siklus kedua c. Siswa yang menjawab pertanyaan guru pada siklus pertama adalah 21,78 persen, meningkat 18,54 persen menjadi 40,32 persen pada siklus kedua

d. Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis pada siklus pertama adalah 13,70 persen, meningkat 7,3 persen menjadi 21,00 pada siklus kedua e. Siswa yang keluar pada proses pembelejaran siklus pertama adalah 44,30 persen, meningkat 24,15 persen menjadi 20,15 persen pada siklus kedua

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: dengan menerapkan model pembelajar kooperatif (Cooperative Learning) tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar sekaligus motivasi atau minat belajar siswa kelas XA teknik permesinan pada mata diklat teknik pengukuran SMK Negeri 3 Ambon sebagai berikut: pembelajaran dengan menggunakan model pembelajar kooperatif (Cooperative Learning) tipe jigsaw dapat meningkatkan ketuntasan belajar (KKM 7,00). Pada tes awal dengan rata-rata 69, meningkat 7,65 menjadi 76,65 pada tes siklus pertama dan meningkat 4,65 menjadi 81,30 pada tes siklus kedua. Keaktifan, motivasi serta minat belajar meningkat pada setiap pertemuan.
A. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan yang ada maka disarankan kepada:
1. Kepala sekolah sebagai penenyu kebijakan di sekolah agar kiranya lebih

menekankan kepada guru bidang studi yang lain agar mengembangkan penerapan

model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning ) tipe jigsaw dalam upaya meningkatkan hasil belajar.
2. Guru mata diklat teknik pengukuran agar mencoba menerapkan model

pembelajaran kooperatif (Cooperative Learnig) pembelajaran akan lebih efektif bagi siswa.

tipe jigsaw karena dalam

3. Bagi peneliti yang ingin menerapkan model ini hendaknya dapat mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak banyak waktu yang terbuang untuk mengkondisikan siswa di kelas.

KEPUSTAKAAN
Aceng Haetami dan Supriadi, 1991: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, ( http://jurnal.unhalu.ac.id, diakses 21 Juni 2010) Alimin Umar & Nurbaya Kaco. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Makassar: Badan penerbit UNM. Daryanto, 1997: Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Suabaya: PT. Bumi Aksara. Hamzah B. Uno. 2009. Model pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hasibuan, J.J dan Moedjiono. 1984. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. I Wayan Santyasa, 2008: Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Kooperatif, (http://www.scribd.com/doc , diakses 22 juni 2010) Jumadi: 2009. Penerapan Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Instalasi Jaringan Lan SMK Negeri 5 Makassar. Skripsi. Makassar: FT. UNM.

Lestari, 2004: Meningkatkan Pemahaman Konsep Pemecahan Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual pada Siswa Kelas II di SMA Negeri 2 Sinjai, karya Tulis Ilmiah: Makassar: FT. UNM. Marten Lutun Talido: 2008. Penggunaan Metode Demonstrasi Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Pengukuran pada Siswa Kelas 1 Teknik Mesin SMK Kosgoro Pare-Pare: Skripsi. Makassar: FT. UNM. Maria Bergita Ceunfin: 2009. Peningkatan Kompetensi Penggunaan Peralatan Tangan Kerja Kayu Melalaui Metode Demonstrasi dan Latihan Praktek pada Kelas 1 BG SMK Negeri 1 Kefamenanu: Skripsi. Makassar: FT. UNM. Oemar Hamalik, 1992: Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: CV. Sinar baru. Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media. Suharsimi Arikunto. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Suharsimi Arikunto. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Trianto: 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Lampiran 1. Prestasi belajar mata diklat teknik pengukuran sebelum dan sesudah siklus
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 NIS 16132 16548 16549 16550 16551 16553 16554 16555 16556 16557 16558 16559 16560 16561 16562 16563 16564 16565 16566 16567 16568 16570 16571 16572 16573 16574 16575 16576 16577 16578 NamaSiswa A. R. SAMEAPUTTY AGRIAN L. RESDA EJAN TAMNGE ARDI NGONE ARFAN ASWAR KAUNAR BRYAN JOSEPH CHRIS VAN CAPELLE DAHLAN NURLATU DENY USMANI FAUZAN UMAR F. RENYAAN GERALD MANUHUTU HAMDUN ALI BABA IREN BATUWAEL JOHAN HUKOM KARIM KEVIN JOSEPH LASMIN BUTON M. TIBALIMETEN MAIKEL RAHANTEN MISRAN MULIYONO MUH. MARASABESSY RADEN SARAHAN RISCARD SAPURY ROBBY PATTY RUDY BOY S. NUR HINTJAK SISWANTO Skor Hasil Belajar Siswa Tes Awal Siklus I Siklus II 62 65 70 65 69 74 83 85 89 68 70 77 64 72 80 75 80 87 80 85 92 72 78 84 76 79 81 75 80 86 75 83 91 65 73 79 84 88 92 60 71 89 65 68 72 63 68 73 65 78 84 60 67 72 60 65 69 72 76 81 62 68 73 65 80 84 65 69 75 64 76 82 60 66 72 65 69 74 70 78 84 70 78 84 75 84 90 74 86 90

31

16579

YUSRAN THENU

82 69 24 84 60

86 76,65 22 87 65

90 81,30 26 95 69

Secara klasikal Rentang Nilai Nilai Maksimum Nilai Minimum

Lampiran 2. Pembentukan kelompok jigsaw
KEL, NIS 16549 16557 16566 16559 16577 16567 16579 16575 16570 16568 16551 16132 16560 16556 16573 16548 16550 16562 16554 16578 16574 16564 16576 16561 16553 16571 16558 16555 16565 16572 16563 NAMA SISWA EJAN TAMNGE DENY USMANI LASMIN BUTON F. RENYAAN S. NUR HINTJAK M. TIBALIMETEN YUSRAN THENU ROBBY PATTY MISRAN MAIKEL RAHANTEN ARFAN A. R. SAMEAPUTTY G. MANUHUTU DAHLAN NURLATU RADEN SARAHAN AGRIAN L. RESDA ARDI NGONE IREN BATUWAEL BRYAN JOSEPH SISWANTO RISCARD SAPURY KARIM RUDY BOY HAMDUN ALI BABA ASWAR KAUNAR MULIYONO FAUZAN UMAR CHRIS CAPELLE KEVIN JOSEPH M. MARASABESSY JOHAN HUKOM NILAI TEST AWAL 85 75 68 65 75 62 82 70 65 72 64 60 84 76 60 65 60 65 80 74 65 65 68 62 75 65 75 68 62 64 63 JUMLAH ANGGOTA

I

6 Orang Siswa

II

6 Orang Siswa

III

6 Orang Siswa

IV

6 Orang Siswa

V

7 Orang Siswa

Lampiran 3. Pembentukan kelompok ahli NO 1 2 3 4 5 6 NO 1 2 3 4 5 6 NO 1 2 3 4 5 6 NO 1 2 3 4 5 6 NO 1 2 3 NAMA Kelompok Ahli Pertama [I] 16549 EJAN TAMNGE 16567 M. TIBALIMETEN 16575 ROBBY PATTY 16573 RADEN SARAHAN 16564 KARIM 16565 KEVIN JOSEPH Kelompok Ahli Kedua [II] 16579 YUSRAN THENU 16132 A. R. SAMEAPUTTY 16557 DENY USMANI 16550 ARDI NGONE 16574 RISCARD SAPURY 16571 MULIYONO Kelompok Ahli Ketiga [III] 16560 GERALD. MANUHUTU 16562 IREN BATUWAEL 16566 LASMIN BUTON 16568 MAIKEL RAHANTEN 16576 RUDY BOY 16558 FAUZAN UMAR Kelompok Ahli Keempat [IV] 16554 BRYAN JOSEPH 16561 HAMDUN ALI BABA 16559 FREDRIKUS RENYAAN 16551 ARFAN 16556 DAHLAN NURLATU 16555 CHRIS VAN CAPELLE Kelompok Ahli Kelima [V] 16553 ASWAR KAUNAR 16572 MUH. MARASABESSY 16563 JOHAN HUKOM NIS KELOMPOK ASAL I I II III IV V II II I III IV V III III I II IV V IV IV I II III V V V V

4 5 6 7

16577 16570 16548 16578

SATRIO. NUR HINTJAK MISRAN AGRIAN RESDA SISWANTO

I II III IV

Lampiran 4. Data Observasi dan Indikator Kegiatan Belajar Setiap Siklus Data Observasi Kegiatan Belajar Siklus Pertama No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Nama Siswa A. R. SAMEAPUTTY AGRIAN L. RESDA EJAN TAMNGE ARDI NGONE ARFAN ASWAR KAUNAR BRYAN JOSEPH CHRIS VAN CAPELLE DAHLAN NURLATU DENY USMANI FAUZAN UMAR F. RENYAAN GERALD MANUHUTU HAMDUN ALI BABA IREN BATUWAEL JOHAN HUKOM KARIM KEVIN JOSEPH LASMIN BUTON M. TIBALIMETEN MAIKEL RAHANTEN MISRAN MULIYONO MUH. MARASABESSY RADEN SARAHAN RISCARD SAPURY ROBBY PATTY RUDY BOY S. NUR HINTJAK 1 X Aspek yang Diamati Pertemuan I Pertemuan II 2 3 4 5 1 2 3 4 5 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X

X X X

X X X X

30 SISWANTO X X 31 YUSRAN THENU X X X X X X Keterangan, Yang diberi tanda silang adalah indikator yang dilakukan siswa pada saat berlangsung proses pembelajaran Aspek yang Diamati No Nama Siswa Pertemuan III Pertemuan IV 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 A. R. SAMEAPUTTY X X X 2 AGRIAN L. RESDA X X 3 EJAN TAMNGE X X X X 4 ARDI NGONE X X 5 ARFAN X 6 ASWAR KAUNAR X X X 7 BRYAN JOSEPH X X X X X 8 CHRIS VAN CAPELLE X X X X 9 DAHLAN NURLATU X X X 10 DENY USMANI X X X X 11 FAUZAN UMAR X X 12 F. RENYAAN X X 13 GERALD MANUHUTU X X X X 14 HAMDUN ALI BABA X X X X 15 IREN BATUWAEL X 16 JOHAN HUKOM X X X X 17 KARIM X X X 18 KEVIN JOSEPH X 19 LASMIN BUTON X X 20 M. TIBALIMETEN X X 21 MAIKEL RAHANTEN X X X 22 MISRAN X X 23 MULIYONO X X X 24 MUH. MARASABESSY X X X X 25 RADEN SARAHAN X X X 26 RISCARD SAPURY X X 27 ROBBY PATTY X X X 28 RUDY BOY X X 29 S. NUR HINTJAK X X X 30 SISWANTO X X 31 YUSRAN THENU X X X X

Nomor 1 2 3 4 5

Aspek yang Diamati Siswa yang tidak hadir Siswa yang emngajukan pertanyaan pada guru Siswa yang menjawab pertanyaan guru Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran

Data Observasi Kegiatan Belajar Siklus Kedua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Siswa 1 A. R. SAMEAPUTTY AGRIAN L. RESDA EJAN TAMNGE ARDI NGONE ARFAN ASWAR KAUNAR BRYAN JOSEPH CHRIS VAN CAPELLE DAHLAN NURLATU DENY USMANI FAUZAN UMAR F. RENYAAN GERALD MANUHUTU HAMDUN ALI BABA IREN BATUWAEL JOHAN HUKOM KARIM KEVIN JOSEPH LASMIN BUTON M. TIBALIMETEN MAIKEL RAHANTEN MISRAN Aspek yang Diamati Pertemuan I Pertemuan II 2 3 4 5 1 2 3 4 5 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X

23 24 25 26 27 28 29 30 31

MULIYONO MUH. MARASABESSY RADEN SARAHAN RISCARD SAPURY ROBBY PATTY RUDY BOY S. NUR HINTJAK SISWANTO YUSRAN THENU

X X X X

X X X X

X X X X

X X X X X

X X X X

X X X saat

Keterangan, Yang diberi tanda silang adalah indikator yang dilakukan siswa pada berlangsung proses pembelajaran

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Nama Siswa 1 A. R. SAMEAPUTTY AGRIAN L. RESDA EJAN TAMNGE ARDI NGONE ARFAN ASWAR KAUNAR BRYAN JOSEPH CHRIS VAN CAPELLE DAHLAN NURLATU DENY USMANI FAUZAN UMAR F. RENYAAN GERALD MANUHUTU HAMDUN ALI BABA IREN BATUWAEL JOHAN HUKOM KARIM KEVIN JOSEPH LASMIN BUTON M. TIBALIMETEN MAIKEL RAHANTEN MISRAN

Aspek yang Diamati Pertemuan III Pertemuan IV 2 3 4 5 1 2 3 4 5 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X

X

23 24 25 26 27 28 29 30 31

MULIYONO MUH. MARASABESSY RADEN SARAHAN RISCARD SAPURY ROBBY PATTY RUDY BOY S. NUR HINTJAK SISWANTO YUSRAN THENU

X X X X

X X X X X X X X X

X X X X

X X X X X X X X X X

Nomor 1 2 3 4 5

Aspek yang Diamati Siswa yang tidak hadir Siswa yang emngajukan pertanyaan pada guru Siswa yang menjawab pertanyaan guru Siswa yang mengerjakan jawaban latihan di papan tulis Siswa yang sering keluar selama proses pembelajaran

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->