Anda di halaman 1dari 270
Serial Manhaj Tarbawi AQIDAHAQIDAHAQIDAHAQIDAH MATERI TARBIYAH Aqidah
Serial Manhaj Tarbawi AQIDAHAQIDAHAQIDAHAQIDAH MATERI TARBIYAH Aqidah
Serial Manhaj Tarbawi AQIDAHAQIDAHAQIDAHAQIDAH
Serial Manhaj Tarbawi
AQIDAHAQIDAHAQIDAHAQIDAH

MATERI TARBIYAH

Aqidah

Serial Manhaj Tarbawi AQIDAHAQIDAHAQIDAHAQIDAH MATERI TARBIYAH Aqidah
DAFTAR ISI UrgensiUrgensiUrgensiUrgensi SyahadatSyahadatSyahadatSyahadat ((Ahammiyatus((AhammiyatusAhammiyatusAhammiyatus

DAFTAR ISI

UrgensiUrgensiUrgensiUrgensi SyahadatSyahadatSyahadatSyahadat ((Ahammiyatus((AhammiyatusAhammiyatusAhammiyatus SyahadatainSyahadatain)SyahadatainSyahadatain)))DAFTAR ISI KandunganKandunganKandunganKandungan KalimatKalimatKalimatKalimat SyahadatSyahadatSyahadatSyahadat

KandunganKandunganKandunganKandungan KalimatKalimatKalimatKalimat SyahadatSyahadatSyahadatSyahadat (Madludlu(Madludlu(Madludlu(Madludlu Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)SyahadatainSyahadatain)SyahadatainSyahadatain))) SyaratSyaratSyaratSyarat

SyaratSyaratSyaratSyarat DiterimanyaDiterimanyaDiterimanyaDiterimanya SyahadatainSyahadatainSyahadatainSyahadatain (Syurut(Syurut(Syurut(Syurut QQoQQoobuluobulubulubulu Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain) HalHal-HalHal--Hal-HalHalHal yangyangyangyang

HalHal-HalHal--Hal-HalHalHal yangyangyangyang MembatalkanMembatalkanMembatalkanMembatalkan SyahadatSyahadatSyahadatSyahadatSyahadatain)Syahadatain)Syahadatain)Syahadatain) MaknaMaknaMaknaMakna LaaLaaLaaLaa IlaahaIlaahaIlaahaIlaaha

MaknaMaknaMaknaMakna LaaLaaLaaLaa IlaahaIlaahaIlaahaIlaaha IllallohIllallohIllallohIllallohSyahadatSyahadatSyahadatSyahadat LaranganLaranganLaranganLarangan

LaranganLaranganLaranganLarangan BerhubunganBerhubunganBerhubunganBerhubungan dengandengandengandengan JinJinJinJinIlaahaIlaahaIlaahaIlaaha IllallohIllallohIllallohIllalloh MengenalMengenalMengenalMengenal AllahAllahAllahAllah

MengenalMengenalMengenalMengenal AllahAllahAllahAllah (Ma’rifatullah)(Ma’rifatullah)(Ma’rifatullah)(Ma’rifatullah)dengandengandengandengan JinJinJinJin IlmuIlmuIlmuIlmu AllahAllahAllahAllah

IlmuIlmuIlmuIlmu AllahAllahAllahAllahMengenalMengenalMengenalMengenal AgamaAgamaAgamaAgama

MengenalMengenalMengenalMengenal AgamaAgamaAgamaAgama IslamIslamIslamIslam (Ma’rifatu(Ma’rifatu(Ma’rifatu(Ma’rifatu DinilDinilDinilDinil Islam)Islam)Islam)Islam)IlmuIlmuIlmuIlmu AllahAllahAllahAllah KesempurnaanKesempurnaanKesempurnaanKesempurnaan

KesempurnaanKesempurnaanKesempurnaanKesempurnaan IslamIslamIslamIslam (Syumuliyatul(Syumuliyatul(Syumuliyatul(Syumuliyatul Islam)Islam)Islam)Islam)DinilDinilDinilDinil Islam)Islam)Islam)Islam) MengenalMengenalMengenalMengenal RasulRasulRasulRasul

MengenalMengenalMengenalMengenal RasulRasulRasulRasul (Ta’rifur(Ta’rifur(Ta’rifur(Ta’rifur Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Islam)Islam)Islam)Islam) SetiapSetiapSetiapSetiap UmatUmatUmatUmat

SetiapSetiapSetiapSetiap UmatUmatUmatUmat DiutusDiutusDiutusDiutus RasulRasulRasulRasulRasul)Rasul)Rasul)Rasul) KewaKewajibanKewaKewajibanjibanjiban

KewaKewajibanKewaKewajibanjibanjiban BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada SemuaSemuaSemuaSemua RasulRasulRasulRasulDiutusDiutusDiutusDiutus RasulRasulRasulRasul KebutuhanKebutuhanKebutuhanKebutuhan

KebutuhanKebutuhanKebutuhanKebutuhan ManusiaManusiaManusiaManusia TerhadapTerhadapTerhadapTerhadap RasulRasulRasulRasul (Hajatul(Hajatul(Hajatul(Hajatul InsanInsanInsanInsan IlaIlaIlaIla RasulRasulRasulRasul))))SemuaSemuaSemuaSemua RasulRasulRasulRasul KedudukanKedudukanKedudukanKedudukan RasulRasulRasulRasul

KedudukanKedudukanKedudukanKedudukan RasulRasulRasulRasul (Makanatur(Makanatur(Makanatur(Makanatur Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)InsanInsanInsanInsan IlaIlaIlaIla RasulRasulRasulRasul)))) SifatSifat-SifatSifat--Sifat-SifatSifatSifat

SifatSifat-SifatSifat--Sifat-SifatSifatSifat RasulRasulRasulRasul (Shifatur(Shifatur(Shifatur(Shifatur Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul) TugasTugas-TugasTugas--Tugas-TugasTugasTugas

TugasTugas-TugasTugas--Tugas-TugasTugasTugas RasulRasulRasulRasul (Wazhifatur(Wazhifatur(Wazhifatur(Wazhifatur Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul) KewajibanKewajibanKewajibanKewajiban KitaKitaKitaKita

KewajibanKewajibanKewajibanKewajiban KitaKitaKitaKita TerhadapTerhadapTerhadapTerhadap RasulRasulRasulRasul (Wajibatul(Wajibatul(Wajibatul(Wajibatul MuslimMuslimMuslimMuslim NahwarNahwarNahwarNahwar RasRasRasRasul)ul)ul)ul)Rasul)Rasul)Rasul)Rasul) KekhususanKekhususanKekhususanKekhususan

KekhususanKekhususanKekhususanKekhususan RisalahRisalahRisalahRisalah NabiNabiNabiNabi MuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAWSAWSAWSAW (Khashais(Khashais(Khashais(Khashais RisalahRisalahRisalahRisalah NaNaNaNabibibibi MuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAW)SAW)SAW)SAW)NahwarNahwarNahwarNahwar RasRasRasRasul)ul)ul)ul) KeumumanKeumumanKeumumanKeumuman

KeumumanKeumumanKeumumanKeumuman RisalahRisalahRisalahRisalah NabiNabiNabiNabi MuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAWSAWSAWSAWMuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAW)SAW)SAW)SAW) MaknaMaknaMaknaMakna MuhammadMuhammadMuhammadMuhammad

MaknaMaknaMaknaMakna MuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAWSAWSAWSAW SebagaiSebagaiSebagaiSebagai PenutupPenutupPenutupPenutup ParaParaParaPara NabiNabiNabiNabiMuhammadMuhammadMuhammadMuhammad SAWSAWSAWSAW BuahBuahBuahBuah dandandandan ManfaatManfaatManfaatManfaat

BuahBuahBuahBuah dandandandan ManfaatManfaatManfaatManfaat daridaridaridari MengikutiMengikutiMengikutiMengikuti RasulullahRasulullahRasulullahRasulullah SAWSAWSAWSAW (Nataiju(Nataiju(Nataiju(Nataiju Ittiba’Ittiba’Ittiba’Ittiba’ RasulRasulRasulRasul SAW)SAW)SAW)SAW)ParaParaParaPara NabiNabiNabiNabi HikmahHikmahHikmahHikmah

HikmahHikmahHikmahHikmah DiutusnyaDiutusnyaDiutusnyaDiutusnya ParaParaParaPara RRasulRRasulasulasulRasulRasulRasulRasul SAW)SAW)SAW)SAW) BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada

BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada MalaikatMalaikatMalaikatMalaikatParaParaParaPara RRasulRRasulasulasul BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada

BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada HariHariHariHari AkhirAkhirAkhirAkhirKepadaKepadaKepadaKepada MalaikatMalaikatMalaikatMalaikat BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada

BerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada QadhaQadhaQadhaQadha dandandandan QadarQadarQadarQadarBerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada HariHariHariHari AkhirAkhirAkhirAkhir IhsanIhsanIhsanIhsan Aqidah

IhsanIhsanIhsanIhsanBerimanBerimanBerimanBeriman KepadaKepadaKepadaKepada QadhaQadhaQadhaQadha dandandandan QadarQadarQadarQadar Aqidah

Aqidah

KepadaKepadaKepadaKepada QadhaQadhaQadhaQadha dandandandan QadarQadarQadarQadar IhsanIhsanIhsanIhsan Aqidah
URGENSI SYAHADAT (AHAMMIYATUS SYAHADATAIN) Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam.

URGENSI SYAHADAT (AHAMMIYATUS SYAHADATAIN)

URGENSI SYAHADAT (AHAMMIYATUS SYAHADATAIN) Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita

Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimat syahadatain sering diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai keadaan. Kita menghafal kalimat syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih. Namun, demikian sejauh manakah makna kalimat ini dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari kaum Islam?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku umat Islam yang terpengaruh dengan budaya jahiliyah atau cara hidup Barat, memberi gambaran bahwa syahadah tidak cukup memberi pengaruh. Terbukti tidak sedikit dari umat Islam yang masih melakukan perkara-perkara yang dilarang Allah dan meninggalkan perintah- Nya, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan kepada mereka. Itu adalah contoh dari wujud seseorang yang tidak

Aqidah

atau tidak mensyukuri sesuatu yang diberikan kepada mereka. Itu adalah contoh dari wujud seseorang yang tidak
memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dari syahadah. Kalimat syahadah merupakan

memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dari syahadah.

Kalimat syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadah, rukun Islam lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya syahadah dalam kehidupan individu akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita. Dengan syahadatain terwujudlah sikap ruhani yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal pikiran, serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Tegaknya Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam; dan tegaknya rukun Islam mesti didahului oleh tegaknya syahadah. Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok, yaitu syahadatain, shalat, saum, zakat, dan haji ke Baitulllah.

Di zaman Nabi saw., kalangan masyarakat Arab memahami betul makna syahadatain ini. Terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi saw. bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.” Kemudian Nabi saw. bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu. Justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan patuh kepada Allah swt. saja Dia sadar betul jika ia bersikap seperti itu, maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah untuk mengaplikasikan syahadah.

Sebenarnya, apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan bagi diri mereka. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim (Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Arab jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi, diantaranya ia sebagai Abu Amr (ahli hukum). Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.

Kalimat syahadah mesti dipahami dengan benar karena di dalamnya terdapat makna yang sangat tinggi. Dengan syahadah, kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di akhirat. Syahadah sebagai kunci kehidupan dan tiang dien (agama Islam). Oleh karena itu, marilah kita bersama memahami syahadatain ini.

Aqidah

kunci kehidupan dan tiang dien (agama Islam). Oleh karena itu, marilah kita bersama memahami syahadatain ini.
Syahadat adalah Pintu Masuk ke dalam Islam (Al-Madkhal ila Al-Islam) Sahnya iman seseorang adalah dengan

Syahadat adalah Pintu Masuk ke dalam Islam (Al-Madkhal ila Al-Islam)

Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain. Syahadatain membedakan manusia kepada muslim dan kafir. Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadah Rububiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup. Untuk menjadi muslim, mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.

Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang- orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikut ini pernyataan Rasulullah saw. tentang misi Laa ilaha illallah dan kewajiban manusia untuk menerimanya.

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Aqidah

Laa ilaha illallah dan kewajiban manusia untuk menerimanya. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperiharalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” [QS. Muhammad (47): 19].

Kalimat “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” menunjukan bahwa ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (Laa ilaaha illallah) adalah perbuatan dosa. Karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya kepada Allah semata. Maka, bila seseorang muslim tidak menunaikan shalat, tidak menutup aurat, dan atau terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan Laa ilaaha illallah. Karena dengan sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.

Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illallah dan tidak mau mengesakan Allah.

Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illallah dan tidak mau mengesakan Allah. Aqidah

Aqidah

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “ Laa ilaaha illallah ” (tiada Tuhan yang

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.” [QS. As-Shaffat (37): 35].

Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”Laa ilaaha illallah” tidak semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti tidak mau mengerjakan shalat, tidak menutup aurat, tidak menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya, dan sebagainya.

Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu, yaitu para nabi dan orang yang beriman kepada mereka.

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu): tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran (3): 18].

Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” [QS. Al-A’raf (7): 172].

kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” [QS. Al-A’raf (7): 172]. Aqidah

Aqidah

Syahadat adalah Ringkasan Ajaran Islam (Khulaashah Ta’alim Al-Islam) Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada

Syahadat adalah Ringkasan Ajaran Islam (Khulaashah Ta’alim Al-Islam)

Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap syahadatain. Sebab, seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini.

Ada 3 hal prinsip syahadatain :

A. Pernyataan Laa ilaha illallah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada

Allah saja. Melaksanakan minhajillah (way of life yang ditetapkan Allah) merupakan

ibadah kepada-Nya.

B. Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu

dari Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti Manhaj Allah.

C. Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan

manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakatnya.

Makna Laa ilaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah [QS. Al-Anbiya' (21): 25], dan Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 21].

Manusia diciptakan untuk menghambakan dirinya kepada Allah semata.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Az-Dzariyat (51): 56].

Aqidah

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Az-Dzariyat (51): 56]. Aqidah
Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak

Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [QS. Al-Anbiya’ (21): 25].

Muhammad saw. adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan [QS. Ali Imran (3): 31], dan aktifitas hidup orang yang beriman kepada Allah, hendaknya mengikuti ajaran Muhammad saw.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21].

Meneladani Rasulullah menjadi parameter keimanan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Bukti cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti ajaran Rasulullah saw.

Katakanlah,

“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali Imran (3): 31].

Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah swt. saja.

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah dan tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.

Aqidah

162). Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah dan tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya. Aqidah
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [QS. Ali Imran (3): 19].

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran (3): 85].

“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Jatsiyah (45): 18].

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai- beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [QS. Al-An’am (6): 153].

Aqidah

kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [QS. Al-An’am (6): 153]. Aqidah
Syahadat adalah Dasar Sebuah Perubahan (Asasul Inqilab) Syahadatain mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan,

Syahadat adalah Dasar Sebuah Perubahan (Asasul Inqilab)

Syahadatain mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya. Perubahan itu juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.

Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan derajat kepahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, dan sikap konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.

Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.

Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu, maka syahadatain pun dapat mengubah umat sekarang menjadi baik.

Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang.

“Dan apakah orang yang sudah mati (maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya yakni orang-orang kafir) kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am (6): 122].

Perubahan individu contohnya terjadi pada Mush’ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah Rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Mekkah. Tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang dai, duta Rasul untuk kota Madinah, kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya, Rasulullah membacakan ayat ini.

Aqidah

dai, duta Rasul untuk kota Madinah, kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya, Rasulullah membacakan ayat ini.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” [QS. Al-Ahzab (33): 23].

Reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid [QS. Al-Buruuj (85): 6-10], reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin kepada Allah [QS. Al-Kahfi (18): 2], musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid [QS. Al-Anfal (8): 20].

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata,

, ,

“Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. As-Shaffat (37): 35-37].

“Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” [QS. Al-Buruj (85): 6-10].

Aqidah

maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” [QS. Al-Buruj (85): 6-10].
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi

“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.” [QS. Al-Kahfi (18): 2].

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [QS. Al-Anfal (8): 30].

Syahadat adalah Hakikat Dakwah Para Rasul (Haqiqatu Da’watir Rasul)

Setiap rasul, semenjak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw., membawa misi dakwah yang satu, yaitu syahadah. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah sama dengan apa yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.” [QS. An- Nisa’(4): 163].

Mereka semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya menyembah kepada-Nya. Seperti yang diserukan Nuh a.s. kepada kaumnya.

Aqidah

untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya menyembah kepada-Nya. Seperti yang diserukan Nuh a.s. kepada kaumnya. Aqidah
Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali

Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [QS. Al-A’raf (7): 59].

Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawa mereka menuju kepada pengabdian Allah saja serta membebasakan diri dari kesyirikan.

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” [QS. Al-Mumtahanah (60):

4].

(Catatan: Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah: Ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir. Lihat surat An-Nisa ayat 48).

Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu Allah saja.

orang-orang kafir. Lihat surat An-Nisa ayat 48). Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu

Aqidah

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. Al-Kahfi (18): 110].

Syahadat adalah Kalimat dengan Ganjaran Yang Besar (Fadhailu ‘Azhimah)

Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw. Di antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah saw.

Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa mengatakan tiada ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah hak serta neraka itu hak. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal perbuatannya.” (Bukhari).

Dari Anas, Nabi saw. bersabda, “Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dan di hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum kebaikan. Dan

Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum kebaikan.

Aqidah

keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat zarrah

keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat zarrah kebaikan.” (Bukhari).

Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat. Seperti sabda beliau,

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat?” Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah mengira, ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari).

Sumber: dakwatuna.com

Aqidah

---oo0oo---

la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari). Sumber: dakwatuna.com Aqidah ---oo0oo---
KANDUNGAN KALIMAT SYAHADAT (MADLUDLU SYAHADATAIN) Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena

KANDUNGAN KALIMAT SYAHADAT (MADLUDLU SYAHADATAIN)

KANDUNGAN KALIMAT SYAHADAT (MADLUDLU SYAHADATAIN) Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena bukan

Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena bukan milik Anda,

tentu Anda akan memberitahukan kepada para karyawan kantor itu siapa pemiliknya. Ketika ada yang mengaku sebagai pemiliknya, dengan riang hati Anda segera memberikannya, tanpa terlebih dahulu meminta kesaksian yang serius bahwa uang itu benar-benar miliknya.

Ini berbeda dengan jika Anda menemukan cincn emas murni seberat 50 gram. Anda tentu

tidak serta merta memberikan kepada orang yang mengaku sebagai pemiliknya. Dengan sungguh-sungguh, Anda akan mencari bukti bahwa barang itu benar-benar miliknya. Mungkin mencari-cari bukti materiil berupa kuitansi pembelian –misalnya, mencari saksi, mengangkat sumpah dengan nama Allah, dan hal-hal lain untuk meyakinkan Anda. Setelah itu, baru Anda mengembalikan barang itu dengan tenang.

Tentu saja mudah dipahami, mengapa untuk uang seribu rupiah tidak perlu adanya pernyataan kepemilikan yang serius, sedangkan untuk emas murni 50 gram memerlukannya? Intinya hanya ada pada satu hal, yakni nilai materinya.

Sadarkah kita akan syahadat yang kita baca? Substansi apakah yang kita syahadatkan? Sesungguhnya, berapakah kadar dan nilai substansi itu? Jawabannya tentu saja mudah, bahwa yang kita syahadatkan adalah ihwal pengakuan sebuah hakikat yang mahaprinsip; tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.

Sebuah prinsip dasar yang akan mengubah haluan hidup seseorang. Sebuah prinsip yang membedakan secara diametral antara orang yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengingkarinya, atau antara yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengucapkan secara main-main.

yang mengingkarinya, atau antara yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengucapkan secara main-main. Aqidah

Aqidah

Sesungguhnya, pernyataan syahdat itu erat kaitannya dengan iman, sesuatu yang mendasari semua sikap kita dalam

Sesungguhnya, pernyataan syahdat itu erat kaitannya dengan iman, sesuatu yang mendasari semua sikap kita dalam beragama. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak keliru dalam menjalankan prinsip akidah ini, sehingga kita perlu memahami arti syahadat itu sesungguhnya dan bagaimana korelasinya dengan iman.

MAKNA SYAHADAT

Syahadat atau syahadah berasal dari kata syahida, yang berarti "memberi tahu dengan berita yang pasti" atau "mengakui apa yang diketahui" (Al-Mu'jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur'an tentang kata ini.

Pernyataan (Al-Iqrar) atau Pemberitahuan (Al-I'lan)

Allah SWT berfirman,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang beriman (juga ”

menyatakan yang demikian itu)

(QS. Ali Imran : 18)

Sumpah (Al-Qasam atau Al-Half)

Allah SWT berfirman,

, ,

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.” (QS. Al-Waqi'ah : 74-76)

Aqidah

Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.” (QS. Al-Waqi'ah : 74-76) Aqidah
Janji (Al-Mitsaq atau Al-Wa'd) Allah SWT berfirman, “…Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia (seraya

Janji (Al-Mitsaq atau Al-Wa'd)

Allah SWT berfirman,

“…Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi "

saksi

(QS. Al-A'raf : 172)

Bagaimana hubungan antara syahadat dengan iman? Di samping memiliki makna secara bahasa (etimologi), kata "iman" juga memiliki makna secara syar'i (terminologi).

Secara bahasa, kata "iman" berasal dari kata kerja "amina" yang berarti aman, tenang, dan tidak merasa takut. Dari sini muncul kata "aamana" yang berarti "menjadikan tenang", "percaya", dan "membenarkan". Kata "aamana" inilah yang kemudian melahirkan istilah "iman" (Al-Mu'jam Al-Wasith).

Dari makna tersebut muncullah makna terminologinya –sebagaimana disebutkan oleh para ulama- yakni: tashdiq bi al-janan (pembenaran dalam hati), iqrar bi al-lisan (pernyataan dengan lisan), dan 'amal bi al-arkan (tindakan dengan anggota badan).

Tashdiq bi Al-Janan

Iman adalah pembenaran. Pembenaran yang dimaksud bukan saja pembenaran logika (tashdiq 'aqliy), akan tetapi pembenaran hati (tashdiq qalbiy). Inilah pembenaran yang lahir dari nurani seseorang karena fitrah dan dampak ketenangan yang dirasakan. Oleh karenannya, Abu Bakar RA ketika berbicara tentang adanya tuhan, beliau tidak berbicara dengan dalil yang muluk-muluk. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengenal tuhanku karena tuhanku. Jika bukan karena tuhanku, maka aku tidak mengenal tuhanku." Dengan itulah beliau menjadi pengikut Rasul yang sangat setia, hingga mendapatkan julukan Ash- Shidiq, yangs etia dan membenarkan tanpa pertimbangan.

Logika memang bisa meneguhkan pembenaran, namun hati yang jernih berbicara lebih dari itu. Oleh karenanya, para sahabat yang secara intelektual boleh dikatakan jauh dengan manusia sekarang yang ternyata bisa memiliki iman setegar gunung. Bilal bin Rabah, Khabab bin Ats, Ammar bin Yasir –radhiyallaahu anhum- bukanlah manusia-manusia intelek dan berpengalaman luas. Namun mereka memiliki hati yang bening dan penuh fitrah. Itu sudah cukup untuk mencetak iman yang kuat dan tahan uji. Bahkan betapa banyak orang-orang Quraisy yang membenarkan dalam hatinya karena mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, namun keimanan itu dikalahkan oleh kesombongan dan rasa gengsi.

Aqidah

lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, namun keimanan itu dikalahkan oleh kesombongan dan rasa gengsi. Aqidah
Iqrar bi Al-Lisan Lebih dari sekadar kewajiban iman, ikrar bahkan telah menjadi tuntutan iman. Pengikraran

Iqrar bi Al-Lisan

Lebih dari sekadar kewajiban iman, ikrar bahkan telah menjadi tuntutan iman. Pengikraran bisa saja hanya berujud pernyataan yang tulus kepada Allah SWT, itu pun sudah cukup. Namun bagi sementara orang, bahkan ia ingin keimanannya diketahui khalayak. Lebih dari itu, mereka ingin merasakan "buah pahit" keimanan itu dengan pernyataan.

Seandainya Utsman bin Mazh'un tutup mulut, ia tentu tidak harus menanggung kesakitan yang sangat. Namun inilah iman.

Ia menyaksikan para sahabat yang lain begitu menderita dan tidak bebas bergerak,

sementara dirinya berada dalam jaminan keamanan Wlid bin Mughirah (seorang musyrik).

Ia lalu bergumam, "Demi Allah, ke mana saja aku pergi dalam keadaan aman di bawah

perlindungan seorang musyrik. Sementara para sahabatku dan pemeluk agamaku mendapatkan cobaab dan penderitaan yang tidak menyentuh tubuhku. Sungguh, ini cacat besar dalam jiwaku."

Ia pun bergegas menemui Walid dan berkata, "Wahai Abu Abd Syams, tanggunganmu

telah selesai dan saya ingin mengembalikan jaminanku kepadamu." "Mengapa?" tanya Walid keheranan. "Karena kau disakiti oleh seseorang dari kaumku?" "Bukan, tetapi karena saya ingin di bawah perlindungan Allah saja, tidak ingin perlindungan yang lain," jawab Utsman bin Mazh'un tegas. Selanjutnya, Utsman berkata kepada Walid, "Pergilah kamu ke masjid (Kakbah) dan sampaikan pengembalian perlindunganku secara terbuka sebagaimana kau dulu menjaminku terbuka."

Di masjid, Walid bin Mughirah berkata lantang, "Utsman ini datang kepadaku untuk

mengembalikan perlindungannya." "Benar," jawab Utsman segera. "Ia telah menjadi pelindung yang baik. Akan tetapi, saya lebih suka tidak meminta perlindungan kepada selain Allah. Oleh karena itu, saya kembalikan perlindungan ini kepadanya."

Ketika hendak pergi, Utsman mendengar Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Kilab Al-Qisiy

di majelis yang dipenuhi orang-orang musyrik Quraisy itu, melantunkan syair berikut ini.

Ingatlah bahwa segala sesuatu selain tuhan adalah sia-sia belaka

"Engkau benar," jawab Utsman

Labid pun meneruskannya.

Dan semua kenikmatan, niscaya binasa akhirnya

"Engkau dusta. Nikmatnya ahli surga tidak binasa," teriak Utsman tidak sabar.

Ketika itu Labid marah dan berkata, "Wahai Quraisy, dia tidak pernah menyakiti majelis kalian. Sejak kapan ia berubah?"

Aqidah

marah dan berkata, "Wahai Quraisy, dia tidak pernah menyakiti majelis kalian. Sejak kapan ia berubah?" Aqidah
Seseorang menjawab, "Ia adalah manusia dungu diantara para dungu yang memecah agama kita. Kata-kata itu

Seseorang menjawab, "Ia adalah manusia dungu diantara para dungu yang memecah agama kita. Kata-kata itu tidak akan kau dapatkan dalam jiwamu."

Utsman pun dengan berani membantah omongannya, hingga bersitegang dengan keras. Akhirnya, orang ini begitu emosi dan menampar pipi Utsman hingga matanya menghitam karena kerasnya. Sementara Walid bin Mughirah masih ada di situ dan melihat apa yang terjadi. Ia pun mendekat dan berkata kepada Utsman, "Wahai kemenakanku, matamu mestinya tidak harus menerima musibah serupa itu jika aku masih menjadi pelindungmu."

Dengan tegar Utsman menyahut, "Oh, bukan begitu. Demi Allah, bahkan mataku yang satu menginginkan musibah yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Saya telah nyaman dalam perlindungan Dzat Yang lebih mulia darimu dan lebih melindungi, wahai Abu Abdu Syams."

'Amal bi Al-Arkan

Iman juga menuntut tindakan fisik, karena fisik itulah media untuk mengeksresikan atau mengaktualisasikan kehendak hati. Apa yang akan terjadi, jika kemauan kita berdesakan, sementara fisik tidak mampu mewujudkan?

Sesungguhnya, keimanan yang tidak mencorong fisik untuk berbuat merupakan keimanan yang rapuh, bahkan mungkin dusta.

Apa yang mendorong para sahabat meninggalkan Makkah –kampung halaman dan tanah airnya tercinta- menuju Yatsrib, sebuah tempat yang jauh dan asing dengan nasib yang belum menentu?

Peristiwa hijrah total itu, yang memisahkan mereka dari orang tuanya, suami atau istrinya, harta bendanya, semata menuju Allah SWT. Logika apa yang bisa menjelaskannya selain "iman", sesuatu yang telah menancap kuat dalam dada dan memenuhi kalbu setiap mereka.

Adanya spektrum makna iman yang luas itulah, hingga semua wilayah perasaan, kata- kata, dan tindakan terwarnai olehnya.

Oleh karena itu, tidak mungkin keimanan bisa dinyatakan oleh seorang muslim jika ia belum mau berikrar, bersumpah, dan berjanji setia. Mengingat bahwa substansi syahadat merupakan hakikat yang besar, yang tidak mungkin sekadar dinyatakan oleh lisan tanpa keyakinan kuat dari hatinya.Rasulullah SAW bersabda,

besar, yang tidak mungkin sekadar dinyatakan oleh lisan tanpa keyakinan kuat dari hatinya.Rasulullah SAW bersabda, Aqidah

Aqidah

”Cabang iman itu antara tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan

”Cabang iman itu antara tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha ilallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan di jalan.” (HR. Muslim)

Apabila iman hanya menghasilkan keyakinan dan kepercayaan saja, tanpa dipraktikkan dalam kehidupan nyata dan tanpa dinyatakan dengan kata-kata, itu juga bukan iman yang dikehendaki Rasulullah SAW.

Beliau bersabda,

”Tidaklah disebut iman bila hanya dengan angan-angan dan hiasan. Akan tetapi, iman adalah sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal.” (HR. Al-Baihaqi dan Ad-Dailami)

Berikut ini Allah SWT telah membuat perumpamaan beberapa kaum yang cacat keimanannya, sehingga tertolak seluruh amalnya.

Abu Thalib

Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membela kemenakannya, Muhammad SAW, hingga berkata kepada beliau, "Kemenakananku, pergilah dan katakan apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga selamanya."

Tetapi ketika sakaratul maut menghampiri dirinya dan Rasulullah SAW berusaha menuntun lisannya dengan ucapan, "Paman, ucapkan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang dapat aku jadikan sebagai hujah untuk membela Anda di sisi Allah." Akan tetapi, Abu Thalib bersikukuh menolak untuk mengucapkannya, hingga maut menghampirinya.

Rasulullah SAW masih melakukan upaya, beliau berkata, "Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang." Allah SWT kemudian menurunkan ayat-Nya,

Aqidah

"Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang." Allah SWT kemudian menurunkan ayat-Nya, Aqidah
”Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik

”Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(-nya) sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-taubah : 113)

Dengan turunnya ayat di atas, jelaslah bahwa seseorang yang tidak bersedia mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya akan tertolak amalannya, sebaik apapun kelakuannya.

Iblis

Ia termasuk makhluk ghaib, dari bangsa jin. Karena sifat penciptaannya itu, ia pun bisa berkomunikasi dengan Allah SWT, bertemu dengan para malaikat, dan bahkan mengetahui berbagai rahasia alam yang manusia tidak mengetahui. Dengan begitu, ia menyaksikan makhluk Allah lebih banyak daripada manusia. Akan tetapi, hal itu tidak membuat iblis beriman. Ia jelas meyakini adanya Allah, malaikat, dan tahu persis bahwa Muhammad adalah Rasulullah, karena iblis mengetahui betul bagaimana Jibril menyampaikan wahyu kepada beliau. Akan tetapi, ketika Allah memerintahkan,

sujudlah

Kahfi : 50)

kamu kepada Adam, maka sujudlah merka semua kecuali iblis

(QS. Al-

Akhirnya, iblis pun bersumpah di hadapan Allah SWT untuk menggoda nabi Adam serta anak keturunannya.

”Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf : 16)

Keyakinan iblis tentang keberadaan Allah, malaikat, dan Rasul tidak diikuti dengan sikap yang benar dan lurus. Keyakinan semacam itu sama sekali tidak ada gunanya di sisi Allah SWT. Jadilah iblis penghuni neraka yang kekal selama-lamanya. Allah SWT mengusir iblis dari surga dan akan memasukkannya ke Neraka Jahanam.

Aqidah

neraka yang kekal selama-lamanya. Allah SWT mengusir iblis dari surga dan akan memasukkannya ke Neraka Jahanam.
”Keluarlah kamu dari surga itu dalam keadaan terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa diantara mereka yang

”Keluarlah kamu dari surga itu dalam keadaan terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa diantara mereka yang mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahanam dengan kamu semua.” (QS. Al-A'raf : 18)

Abdullah bin Ubai

Ia adalah seseorang yang sangat dengki dengan Islam, rasulullah SAW, dan kaum Muslimin. Salah satu pemicu kedengkiannya adalah gagalnya dia menjadi pemimpin Madinah karena kedatangan Rasulullah SAW di kota tersebut. Pemicu lainnya adalah penyakit munafik yang melekat dalam hatinya. Ia berpura-pura saleh dalam tindakan dan ucapan, tetapi busuk hatinya.

Abdullah bin Ubai-lah yang pertama kali menawari Rasulullah SAW untuk tinggal di rumahnya selama berada di kota Madinah. Tawaran yang sangat baik dan sopan, tetapi Abdullah bin Ubai mempunyai rencana jahat untuk membunuh Rasulullah SAW jika tinggal di rumahnya itu. Lisan dan amalannya kelihatan baik, ettapi hatinya ingkar. Ketika Abdullah bin Ubai meninggal, maka Allah SWT berfirman,

”Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At- Taubah : 84)

ISTIQAMAH

Keimanan yang kuat suatu saat bukanlah awal dan akhir sekaligus. Mengapa? Karena hidup manusia terus berlangsung melalui berbagai dinamikanya. Cobaan, godaan, kesenangan, penderitaan, kesulitan, dan berbagai nuansa kehidupan terus silih berganti menimpa manusia. Oleh karena itu, ada kalanya orang mengawali hari denganiman, tetapi iman itu luntur di kala siang. Di pagi hari hatinya mantap dengan syariat Allah, namun di waktu asar hatinya telah menyeleweng jauh dari syariat Islamj tersebut. Karenanya, ada tantangan setelah iman telah menancap, yaitu sikap istiqamah. Ia adalah "Luzum ath- tha'ah (konsistensinya ketaatan)," kata Umar bin Khattab.

Suatu ketika Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain."

Beliau menjawab,

Aqidah

Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain." Beliau menjawab, Aqidah
"Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah." Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali

"Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah."

Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali menyatakan persaksian iman, akan tetapi harus diikuti dengan sikap konsisten dalam keimanan untuk selama-lamanya. Konsistensi dalam iman, atau sering disebut sebagai sikap istiqamah, merupakan keharusan untuk menunjukkan bahwa keimanan kita telah masuk ke jiwa secara sempurna, bukan hanya ungkapan lisan semata. Rasulullah menolak masyarakat badui yang menyatakan telah beriman, sedangkan mereka belum konsisten dalam menegakkan konsekuensi keimanan tersebut.

”Orang-orang Arab badui itu berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk," karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu" (QS. Al-Hujurat : 14)

Ayat di atas menunjukkan celaan dan teguran Allah terhadap orang-orang badui yang terlalu mudah mengucapkan kata-kata iman. Pada kenyataannya, Allah tidak akan membiarkan setiap manusia mengatakan dirinya telah beriman, tetapi akan ada ujian yang diberikan kepada setiap pernyataan iman itu.

Allah SWT berfirman,

,

,

”Alif lam mim, apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang- orang yang benar (keimanannya) dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al- Ankabut : 1-3)

orang- orang yang benar (keimanannya) dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al- Ankabut : 1-3)

Aqidah

Sikap istiqamah dalam keimanan telah ditampakkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau tatkala mereka

Sikap istiqamah dalam keimanan telah ditampakkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau tatkala mereka menjalani kehidupan yang penuh tantangan sejak dari di Makkah hingga Madinah. Pembelaan yang prima terhadap nilai keimanan telah mereka tunjukkan dalam ketegaran sikap menghadapi berbagai cobaan, tanpa ada keraguan sedikit pun. Tidak goyah oleh rayuan, tidak mundur oleh tekanan, tidak gamang oleh cercaan, tidak luntur oleh godaan. Inilah konsistensi iman yang telah diukir dalam sejarah perjuangan generasi keemasan Islam.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat : 15)

Allah SWT memberikan penghargaan yang amat tinggi kepada orang-orang beriman yang istiqamah mempertahankan keimanannya. Hal ini karena dalam kenyataan keseharian, tidak mudah untuk bersikap istiqamah. Lebih banyak orang terjebak dalam penyimpangan atau inkonsistensi keimanan, dibandingkan mereka yang menunjukkan kesungguhan menjaga iman.

Kondisi kehidupan kita saat ini, berbagai bentuk penyimpangan telah melanda masyarakat di semua bidang. Dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, hukum, seni dan budaya, tampaklah kenyataan yang tidak menujukkan konsekuensi dari keimanan. Di masjid masyarakat berkumpul untuk menampakkan sisi keimanan kepada Allah, akan tetapi begitu kembali ke kantor, ke pasar, ke masyarakat, seakan-akan keimanan telah tanggal dan tiada bekas yang tampak pada kegiatan hidup mereka.

Sedemikian beratnya untuk bersikap istiqamah demi mempertahankan iman, hingga Allah pun memberikan janji kepada siapa pun yang beriman dan konsistensi dalam keimanan.

,

Aqidah

iman, hingga Allah pun memberikan janji kepada siapa pun yang beriman dan konsistensi dalam keimanan. ,
”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta." (QS. Fushilat : 30-31)

Ayat di atas telah menujukkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan Allah kepada orang-orang beriman yang meneguhkan pendirian, sekaligus janji yang pasti dipenuhi. Paling tidak ada tiga hasil (natijah) sikap istiqamah dalam keimanan yang ditunjukkan Allah dalam ayat di atas.

Keberanian (Asy-Syaja'ah)

Orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam iman, akan muncul sikap berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Terhapuslah sifat kepengecutan dalam setiap orang yang konsisten mempertahankan iman, karena Allah menurunkan malaikat yang menjaga dan membisikkan "janganlah kamu merasa takut." Mereka tidak takut hidupdengan segala resiko kehidupan, sebagaimana mereka tidak takut kematian.

Pada salah satu episode dari Perang Uhud, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!"

Ibnu Hamman Al-Anshari bertanya, "Wahai Rasulullah, selauas langit dan bumi?"

"Benar!" jawab Rasulullah.

Umair Ibnu Hamman berkata, "Sungguh beruntung, sungguh beruntung!"

"Apakah yang mendorongmu berkata demikian?" tanya Rasulullah.

"Aku berharap semoga akau dapat memasukinya,"

"Engkau termasuk orang yang memasukinya," kata Rasulullah.

Selanjutnya, ia mengeluarkan beberapa biji kurma dari skunya untuk dimakan. Setelah itu, ia berkata, "Untuk menunggu sampai habisnya kurma ini, sungguh hidup yang amat panjang."

Aqidah

Setelah itu, ia berkata, "Untuk menunggu sampai habisnya kurma ini, sungguh hidup yang amat panjang." Aqidah
Serta merta ia pun melemparkan buah kurma itu, lalu berangkat ke medan pertempuran hingga terbunuh.

Serta merta ia pun melemparkan buah kurma itu, lalu berangkat ke medan pertempuran hingga terbunuh.

Dalam kisah yang lain, Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Sewaktu kami sedang berhadapan dengan musuh, aku dengar ayahku berkata bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya pintu surga itu ada di bawah naungan pedang."

Waktu itu seorang pemuda yang tampak tidak tertarik, bergegas bangkit dan bertanya, "Hai Abu Musa Al-Asy'ari, apakah engkau benar-benar mendengar Rasulullah bersabda demikian?"

"ya, benar!" jawab Abu Musa. Kemudian pemuda itu balik menuju kawan-kawannya dan berkata, "Aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal saja kepada kalian."

Setelah itu, ia patahkan sarung pedangnya dan segera maju ke barisan musuh dengan pedang, kemudian ia dijumpai telah wafat sebagai syahid."

Tampaklah jiwa perwira, hingga dengan gagah perkasa menjumpai kematian yang mulia sebagai syuhada'.

Ketenangan (Ath-Thuma'ninah)

Orang-orang yang konsisten dalam keimanan akan memperoleh rasa tenang dan gembira dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak diliputi oleh perasaan sedih, cemas, gelisah, dan ketidakpastian, sebab malaikat menjaga mereka dengan membisikkan, "jangalah kamu merasa sedih." Hilanglah kesusahan dan muncullah kegembiraan menghadapi realitas kehidupan.

Betapa banyak masyarakat yang dilanda kecemasan dan ketidaktenangan dalam menghadapi kehidupan. Penyebabnya adalah tekanan ekonomi, harga-harga bahan pokok yang semakin tinggi, hingga berdampak kepada perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan. Bahkan mereka yang telah memiliki kekayaan melimpah, ternyata justru semakin banyak kecemasan mereka simpan. Takut hartanya hilang atau berkurang, khawatir rumahnya dirampok orang, atau cermat menghadapi persaingan kemewahan.

Hanya orang beriman dan istiqamah dalam imanlah yang akan mampu menjalani hidup dengan penuh ketenangan diri. Karena orientasi ukhrawi inilah, yang tidak menjadikan materi sebagai tujuan kehidupan, sehingga mereka bisa menikmati hidup secara lebih bijaksana. Sebagian masyarakat menganggap masa sekarang sebagai zaman edan, yang mengharuskan semua orang mengikuti selera kegilaan zaman agar bisa bertahan dan sukses dalam hidup. Sesungguhnya, prinsip seperti itu hanyalah menunjukkan kegelisahan diri menghadapi persoalan kehidupan.

Aqidah

hidup. Sesungguhnya, prinsip seperti itu hanyalah menunjukkan kegelisahan diri menghadapi persoalan kehidupan. Aqidah
Mereka tidak memiliki pegangan yang pasti, sehingga cenderung labil jika dihadapkan realitas tantangan. Umat beriman

Mereka tidak memiliki pegangan yang pasti, sehingga cenderung labil jika dihadapkan realitas tantangan. Umat beriman memiliki pegangan yang amat kukuh, yakni keyakinan kepada Allah yang akan memberikan balasan berupa kebahagiaan tiada batas di akhirat kelak, sebagaimana ungkapan malaikat "Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

Optimisme (At-Tafa'ul)

Orang-orang yang istiqamah dalam keimanan akan memiliki pandangan hidup yang optimis, terjauhkan dari kecil hati dan pesimisme. Allah telah menjanjikan sebuah penghargaan besar, "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta."

Banyak orang yang bekerja dalam kehidupan dunia untuk tujuan-tujuan praktis keduniaan, sehingga mereka memiliki optimisme hidup, padahal itu sama sekali tidak ada jaminan tentang kehidupan akhirat. Sementara orang-orang yang istiqamah dalam iman, telah dijanjikan kehidupan yang penuh perlindungan, baik di dunia maupun akhirat. Tentu optimisme menghadapi kehidupan harus tumbuh secara optimal, dibandingkan dengan orang-orang yang berpaham serba materi.

Allah memberikan sebuah visi makro dalam membangkitkan semangat manusia beriman, bahwa mereka telah menggenggam jaminan yang akan membuat kehidupan menjadi sedemikian membahagiakan. Adakah bank, asuransi, yang berani memberikan garansi kebahagiaan di dunia hingga akhirat? Hanya Allah yang bisa memberikan jaminan kebaikan hidup, baik di dunia maupun akhirat.

Di sinilah orang-orang yang istiqamah dalam iman mendapatkan optimisme, karena jaminan kebaikan hidup datangnya langsung dari Allah SWT. Optimisme yang terbangun bersifat hakiki, bukan sesuatu yang semu dan menipu. Bukan candu atau opium yang memabukkan atau meninabobokan, sebab setiap keteguhan pasti akan berujung kepastian. Pada ideologi materialisme, yang terbangun adalah harapan-harapan yang bersifat nisbi, serba tidak pasti, sebagaimana nilai materi itu sendiri.

Akhirnya, kebahagiaan benar-benar akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam keimanan. Mereka mendapatkan jaminan kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat sebagai balasan dari konsistensinya dalam mempertahankan keimanan.

Ibnu Katsir dalam menjelaskan surat Fushilat di atas menyebutkan, "Kami, kata malaikat selanjutnya, adalah teman-teman dan pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia menjaga dan melindungimu dengan seizin Allah, tetap menjadi temanmu dalam kehidupan akhirat, menghiburmu dalam kesepian kubur, pada waktu sangkakala ditiup, dan saat kebangkitan. Selain itu, juga akan membawamu melalui sirath menuju gerbang surga."

Aqidah

sangkakala ditiup, dan saat kebangkitan. Selain itu, juga akan membawamu melalui sirath menuju gerbang surga." Aqidah
Adakah kebahagiaan yang lebih dari kondisi tersebut? ---oo0oo--- Sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan

Adakah kebahagiaan yang lebih dari kondisi tersebut?

---oo0oo---

Sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah : Ust. Cahyadi Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono (muchlisin.blogspot.com)

Aqidah

dan Makrifatullah : Ust. Cahyadi Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono (muchlisin.blogspot.com) Aqidah
SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Syurut Qobulu Syahadatain) Syahadah yang diikrarkan seorang muslim tidak hanya sebagai

SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Syurut Qobulu Syahadatain)

SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Syurut Qobulu Syahadatain) Syahadah yang diikrarkan seorang muslim tidak hanya sebagai

Syahadah yang diikrarkan seorang muslim tidak hanya sebagai ibadah lisan yang hanya diucapkan. Ia juga mencakup sikap dan perbuatan. Di mana syahadah menuntut seseorang untuk melakukan dan bersikap sesuai dengan tuntutan syahadah tersebut. Dan agar Syahadah diterima serta seseorang mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadanya dengan syahadahnya itu, maka ada beberapa syarat yang mesti dimiliki oleh seseorang yang telah mengikrarkan syahadahnya. Di antaranya adalah:

1. Ilmu yang menolak kebodohan

Seseorang yang bersyahadah mesti memiliki ilmu tentang syahadatnya. Ia wajib memahami arti dua kalimat ini (Laa Ilaha Illa Allah, Muhammadur rasulullah) serta bersedia menerima hasil ucapannya. Dari kalimat syahadatain tersebut, maka seorang muslim juga harus memiliki ilmu tentang Allah, ma’rifatullah (mengenal Allah), dan ilmu tentang Rasulullah. Mengenal secara baik terhadap Allah dan Rasul-Nya menjadikan seseorang dapat memberikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya tidak mengenal (bodoh) terhadap Allah dan Rasul-Nya menyebabkan seseorang tidak mampu

Aqidah

dan Rasul-Nya. Sebaliknya tidak mengenal (bodoh) terhadap Allah dan Rasul-Nya menyebabkan seseorang tidak mampu Aqidah
menunaikan hak-hak Allah dan Rasul-Nya . Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad:

menunaikan

hak-hak

Allah

dan

Rasul-Nya

.

Allah

SWT

berfirman

dalam

surat

Muhammad:

”Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19).

Orang yang jahil atau bodoh tentang makna syahadatain tidak mungkin dapat mengamalkan dua kalimat syahadat tersebut.

2. Keyakinan yang menolak keraguan

Syahadah yang diikrarkan juga harus dibarengi dengan keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Yakin bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezki, Ma’bud (Yang layak disembah), dan lain sebagainya, serta yakin bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir yang diutus Allah. Seseorang yang bersyahadat mesti meyakini ucapannya sebagai suatu yang diimaninya dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Keyakinan membawa seseorang pada istiqamah dan mendorong seseorang melakukan konsekuensinya, sedangkan ragu-ragu menimbulkan kemunafikan.

Iman yang benar adalah yang tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun tentang ketauhidan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15).

Selain itu, keyakinan kepada Allah SWT menjadikan seseorang terpimpin dalam hidayah. Allah SWT berfirman:

Aqidah

15). Selain itu, keyakinan kepada Allah SWT menjadikan seseorang terpimpin dalam hidayah. Allah SWT berfirman: Aqidah
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.(QS. As-Sajadah: 24).

Keyakinan kepada Allah menuntut keyakinan kepada firman-Nya yang tertulis pada kitab- kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul. Allah SWT menurunkan kitab-kitab itu sebagai petunjuk hidup. Dan di antara ciri mukmin adalah tidak ragu terhadap kebenaran Kitabullah dan yakin terhadap hari Akhir. Sebagaimana dalam firman-Nya:

, , , ,

”Alif laam miin. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang- orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5).

3. Keikhlasan Yang Menolak Kesyirikan

Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya’ atau ada niat lain yang bukan untuk Allah SWT, maka ia akan tertolak. Terlebih lagi ketika nilai tauhid terkotori oleh kesyirikan. Ikhlas dalam bersyahadat merupakan dasar yang paling penting dalam pelaksanaan syahadat.

Syahadat merupakan ibadah, karenanya harus dilakukan dengan ikhlas. Allah SWT berfirman,

Aqidah

pelaksanaan syahadat. Syahadat merupakan ibadah, karenanya harus dilakukan dengan ikhlas. Allah SWT berfirman, Aqidah
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Selain itu, kesyirikan menghapus amal-amal seseorang, betapapun banyaknya amal itu.

”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65).

Dan ibadah yang tidak diniatkan dengan ikhlas tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

”Katakanlah: Sesungguhnya Aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi: 110).

4. As-Shidqu (Benar) Yang Menolak Kebohongan (Dusta)

Dalam pernyataan syahadat muslim wajib membenarkannya tanpa dicampuri sedikit pun dusta (bohong). Ash-Shidqu ma’allah mutlak diperlukan demi menjaga kemurnian tauhid seseorang. Benar adalah landasan iman, sedangkan dusta landasan kufur. Sikap shiddiq akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan kemaksiatan dan

Aqidah

landasan kufur. Sikap shiddiq akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan kemaksiatan dan Aqidah
pengkhianatan. Dusta dan berbohong bertentangan dengan nilai kejujuran, membuat keimanan seseorang ditolak oleh Allah.

pengkhianatan. Dusta dan berbohong bertentangan dengan nilai kejujuran, membuat keimanan seseorang ditolak oleh Allah.

Ciri-ciri taqwa adalah sikap shiddiq (jujur). Sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar: 33).

Orang yang benar dan jujur syahadahnya akan terbukti dalam medan jihad dan Allah membalas mereka, sedangkan orang-orang munafik akan mendapat siksa.

,

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Supaya

Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan

menyiksa

Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:

23-24).

orang

munafik

jika

dikehendaki-Nya,

atau

menerima

taubat

mereka.

Sedangkan ciri kemunafikan adalah dusta. Sebagaimana dalam firman-Nya,

, ,

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu

orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu Aqidah

Aqidah

dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;

dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8-10).

Kebenaran dan kemunafikan diuji melalui cobaan. Untuk dilihat siapa sesungguhnya yang jujur dengan keimanannya.

,

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-

3).

Sikap benar mengajak kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Sifat dusta mengajak kepada keburukan dan keburukan membawa ke neraka. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan kepada surga. Seseorang berlaku jujur sehingga ia dicatat sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang berlaku dusta hingga ia ditulis sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim melakukan hal-hal yang sejalan dengan keyakinannya dan meninggalkan yang meragukannya, sesungguhnya benar itu menenangkan (hati) sedangkan dusta itu meragu-ragukan.

Aqidah

dan meninggalkan yang meragukannya, sesungguhnya benar itu menenangkan (hati) sedangkan dusta itu meragu-ragukan. Aqidah
Rasulullah bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” 5. Mahabbah (Kecintaan) Yang

Rasulullah bersabda,

“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”

5. Mahabbah (Kecintaan) Yang Menolak Kebencian.

Dalam menyatakan syahadat ia mendasarkan pernyataannya dengan cinta. Cinta ialah rasa suka yang melapangkan dada. Ia merupakan ruh dari ibadah, sedangkan syahadatain merupakan ibadah yang paling utama. Dengan rasa cinta ini segala beban akan terasa ringan, tuntutan syahadatain akan dapat dilaksanakan dengan mudah.

Cinta kepada Allah yang teramat sangat merupakan sifat utama orang beriman. Allah berfirman,

”Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah: 165)

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menyebabkan datangnya rasa manis keimanan, sabda Rasulullah saw.,

Al Baqarah: 165) Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menyebabkan datangnya rasa manis keimanan, sabda Rasulullah saw.,

Aqidah

”Ada tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat perkara itu akan mendapatkan manisnya iman; agar

”Ada tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat perkara itu akan mendapatkan manisnya iman; agar Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selainnya. Agar mencintai seseorang atau membencinya karena Allah. Dan agar benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka.” (Muttafaq Alaihi).

Seorang mukmin mendahulukan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad dari kecintaan terhadap yang lain.

”Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24),

6. Menerima Yang Jauh Dari Penolakan.

Muslim secara mutlak menerima nilai-nilai serta kandungan isi syahadatain. Tidak ada keberatan dan tanpa rasa terpaksa sedikit pun. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali Kitabullah dan sunnah Rasul. Ia senantiasa siap untuk mendengar, tunduk, patuh dan taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Mukmin adalah mereka yang bertahkim (berhukum) kepada Rasul Allah dalam seluruh persoalannya kemudian ia menerima secara total keputusan Rasul, tanpa ragu-ragu dan kebenaran sedikit pun.

Aqidah

seluruh persoalannya kemudian ia menerima secara total keputusan Rasul, tanpa ragu-ragu dan kebenaran sedikit pun. Aqidah
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An-Nisa’: 65).

Ciri orang beriman ialah menerima ketentuan dan perintah Allah tanpa keberatan dan pilihan lain.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab: 36).

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash: 68).

Ciri mukmin ialah mendengar dan taat terhadap Allah dan Rasul dalam seluruh masalah hidup mereka.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh“. dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An- Nur: 51).

Aqidah

“Kami mendengar, dan kami patuh “. dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An- Nur: 51).
7. Pelaksanaan Yang Jauh Dari Sikap Statis atau Diam. Syahadatain hanya dapat dilaksanakan apabila diwujudkan

7. Pelaksanaan Yang Jauh Dari Sikap Statis atau Diam.

Syahadatain hanya dapat dilaksanakan apabila diwujudkan dalam amal yang nyata. Maka muslim yang bersyahadat selalu siap melaksanakan ajaran Islam yang menjadi aplikasi syahadatain. Ia menentukan agar hukum dan undang-undang Allah berlaku pada diri, keluarga maupun masyarakatnya.

Perintah Allah untuk bekerja di jalan-Nya dengan perhitungan nilai kerja itu di sisi Allah.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).

Orang yang beramal shalih karena Allah, baik-laki-laki maupun perempuan akan mendapat kehidupan yang baik dan surga Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Syarat-syarat di atas saling terkait dan menjadikan seseorang ridha (menerima) Allah sebagai Tuhannya, Rasul sebagai suri teladannya, dan Islam sebagai jalan hidupnya.

Rasulullah SAW bersabda,

Aqidah

sebagai Tuhannya, Rasul sebagai suri teladannya, dan Islam sebagai jalan hidupnya. Rasulullah SAW bersabda, Aqidah
“Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan, "Saya ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan

“Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan, "Saya ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabi," maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Hakim).

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Aqidah

(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Hakim). ---oo0oo--- Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah ( dakwatuna.com) Aqidah
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SYAHADAT Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SYAHADAT

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat Lailaaha illallahu dan Muhammadur rasulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah selain Allah. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaranNya, dipatuhi perintahnya, dan dijauhi laranganNya. Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah contoh hamba Allah sejati.

Dalam pembukaan surat Al-Israa’, Allah telah mendeklarasikan bahwa Rasulullah saw. adalah hambaNya.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al Israa' (17): 1]

Begitu juga dalam pembukaan surat Al-Kahfi, Allah menegaskan bahwa Rasulullah adalah hambaNya yang mendapat bimbingan Al-Qur’an.

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. [QS. Al-Kahfi (18): 1]

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa makna dua kalimat syahadat –yang intinya adalah tauhid—harus benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan orang yang mengikrarkannya. Dan bagi orang yang mengikrarkan syahadatain itu bentuk pengakuan dirinya sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah, orang yang berikrar tadi tidak ada pilihan kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik dari sisi akidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaknya dalam melakukan tansaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Kenapa? Karena Rasulullah adalah seorang hamba Allah sejati yang memang dibentuk sebagai figur ideal yang wajib dicontoh akhlaknya.

adalah seorang hamba Allah sejati yang memang dibentuk sebagai figur ideal yang wajib dicontoh akhlaknya. Aqidah

Aqidah

Untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw., seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh

Untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw., seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut. Setidaknya ada tiga hal yang bisa membatalkan syahadatnya, yaitu asy-syirku (menyekutukan Allah), al-ilhaadu (menyimpang dari kebenaran), dan an-nifaaku (berwajah dua, menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).

Syirik (menyekutukan Allah)

Definisi syirik adalah lawan kata dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat makhlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara sifat artinya seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain, mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Tidak ada bedanya sama sekali.

Sedangkan syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik dalam pengertian tersebut, secara eksplisit maupun implisit, telah ditolak oleh Islam. Karenanya, seorang muslim harus benar-benar berhat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

Contoh bentuk-bentuk syirik ada banyak. Di antaranya, pertama, menyembah patung atau berhala (al-ashnaam). Allah swt. menyebutnya dalam ayat berikut ini.

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]

Aqidah

maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar,

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” [QS. Maryam (19): 42]

Menyembah matahari adalah bentuk syirik yang kedua. Allah menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan, dan atau bintang.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al A'raaf (7): 54]

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. [QS. Fushshilat (41): 37]

Bentuk syirik yang ketiga adalah menyembah malaikat dan jin.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah- lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu

mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu Aqidah

Aqidah

pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. [QS. Al An'aam

pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. [QS. Al An'aam (6): 100]

,

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”. [QS. Saba' (34): 40-41]

Bentuk syirik keempat adalah menyembah para nabi, seperti Nabi Isa a.s. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah.

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30]

Aqidah

kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30] Aqidah
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al- Masih putera Maryam.” Padahal

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al- Masih putera Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah (5): 72]

Bentuk syirik yang kelima adalah menyembah rahib atau pendeta. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Adi bin Hatim r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka.” Rasululah saw. menjawab, “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?”

Bentuk syirik yang keenam, menyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya, segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thaghuut. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka di antara umat itu ada orang- orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. An-Nahl (16):

36].

Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut. Allah berfirman,

Aqidah

(16): 36]. Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut. Allah
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghuut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 256]

Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut. “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” [QS. Az-Zumar (39): 17]

adalah

kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu, mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman,

Bentuk

syirik

yang

ketujuh

adalah

menyembah

hawa

nafsu.

Hawa

nafsu

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan (25): 43]

Aqidah

hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan (25): 43] Aqidah
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah (45): 23]

Macam-macam Syirik

Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy (tersembunyi).

Syirik

makhlukNya. Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman,

dengan

besar

(asy-syirkul

akbar)

adalah

tindakan

menyekutukan

Allah

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]

Syirik besar ini dibagi dua dimensi: zhahir dan kafiy. Contoh syirik besat yang zhahir adalah seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon- pohon besar, dan manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan). Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah swt.

Adapun syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan.

Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi kakek dan nenek.” Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan

(HR. Turmidzi nomor 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan

Aqidah

si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak dengan

si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak

dengan Abdul Ka’bah dan lain sebagainya.

Adapun contoh syirik kecil zhahir yang berupa perbuatan seperti mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya.

Syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang. Seperti menegakkan shalat dengan tampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertua. Seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang shalih. Padahal

di saat sendirian, shalatnya tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat

berbahaya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan sebab perbuatan hati adalah faktor

yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir.

Allah berfirman,

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man samma’a sammallahu bihii, waman yaraa’ii yaraaillahu bihii (siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)

Aqidah

dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)
Bahaya-bahaya Syirik Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa orang-orang pelaku

Bahaya-bahaya Syirik

Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa orang-orang pelaku syirik.

Pertama, syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman, “Innasy syirka ladzlumun adziim (sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).” [QS. Luqman (31): 13]. Mengapa disebut kezhaliman yang besar? Sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya yang tidak berdaya apa-apa.

Kedua, syirik merupakan sumber khurafat. Sebab, orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah –seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya– bisa memberikan manfaat atau bahaya, berarti ia telah siap melakukan segala khurafat dengan mendatangi para dukun, kuburan-kuburan angker, dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan. Allah berfirman,

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali Imran (3): 151]

Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan si pelakunya. Allah berfirman,

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj (22): 31]

Aqidah

jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj
Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman,

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [QS. Yunus (10): 18]

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]

Allah juga berfirman,

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah

Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Aqidah

Aqidah

Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah

Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al- Maidah (5): 72]

Sebab-sebab Syirik

Ada tiga sebab fundamental munculnya prilaku syirik, yaitu al-jahlu (kebodohan), dha’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).

Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.

Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dha’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cendrung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.

Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman,

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al-A'raf (7): 28]

Aqidah

yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al-A'raf (7): 28]
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [QS. Al-Baqarah (2): 170]

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah (5): 104]

Al-Ilhaadu (Menyimpang Dari Kebenaran)

Istilah Al-Ilhaadu digunakan Al-Qur’an di banyak tempat. Kadang berbentuk kata yulhiduun seperti di surat Al-A’raf (7): 180, An-Nahl (16): 103, dan Fushshilat (41): 40.

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-A'raf (7): 180]

Aqidah

Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-A'raf (7): 180] Aqidah
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `ajam, sedang Al- Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. [QS. An-Nahl (16): 103]

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidaktersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. Fushshilat (41): 40]

Kadang munucul dalam berbentuk kata ilhaad seperti dalam surat Al-Hajj (22): 25 ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”

Dan kadang berbentuk kata multahadaa seperti di surat Al-Kahfi (18): 27 dan Al-Jin (72):

22.

Aqidah

yang pedih.” Dan kadang berbentuk kata multahadaa seperti di surat Al-Kahfi (18): 27 dan Al-Jin (72):
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” [QS. Al-Kahfi (18): 27]

Katakanlah, “Sesungguhnya sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada- Nya.” [QS. Al-Jin (72): 22]

Arti al-ilhaad menurut para ulama

Al-Farra' mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al-Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan, al-mulhid artinya orang yang menyimpang dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya.

Dalam Lisanul Arab dikatakan, al-ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap tindak kedzaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad. Karenanya, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli makanan di Tanah Haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid fil hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.

Imam Ashfahani dalam bukunya Mufradaat Alfazhil Qur'an mengatakan bahwa kata al- ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini –kata Al Ashfahani-- ada dua makna: pertama, ilhad yang identik dengan syirik, bila ini dilakukan maka otomatis seseorang menjadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhidnya. Termasuk sikap ini apa yang diganbarkan dalam firman Allah berikut ini.

"Siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." [QS. Al-Hajj (22): 25]

Aqidah

secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." [QS. Al-Hajj (22): 25] Aqidah
Dalam menafsirkan ayat (dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut

Dalam menafsirkan ayat (dan tinggalkanlah orang-orang yang

menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya), Imam Al-Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: pertama, mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah, dan kedua, menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan keagunganNya (lihat Mufradat Alfaazhul Qur’an halaman 737).

Hakikat Ilhad

Berdasarkan keterangan di atas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang disampaikan para ulama, tampak bahwa istilah ilhad digunakan untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi, setiap penyimpangan dari kebenaran disebut ilhad. Tetapi secara definitif istilah ini khusus digunakan untuk sikap yang menafikan sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah. Dengan kata lain, para mulhidun adalah mereka yang tidak percaya adanya sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah.

Berbeda dengan kafir yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada Allah, menyekutukannya, dan pengingkaran terhadap nikmat-nikmatNya, ilhad lebih kepada pengingkaran sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah saja. Dari sini tampak bahwa tidak setiap kafir itu ilhad. Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al-Furuuq Al- Lughawiyah– orang-orang Yahudi dan Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir, tetapi mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad itu termasuk kafir.

Bahaya-bahaya ilhaad

Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi, yaitu tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Karena ilhad adalah tindakan menafikan sifa-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah, maka dengan melakukan ilhad seseorang telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah baku. Para ulama sepakat bahwa mengingkari salah satu dari dimensi-dimensi tauhid adalah kafir. Karena itu orang-orang mulhid tergolong orang kafir.

Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sfat dan nama-nama Allah berarti seseorang telah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan adanya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an adalah kafir.

Ketiga, bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini sebagai ciptaanNya. Bila ini yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.

Aqidah

yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir. Aqidah
An-Nifaaqu (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir) Imam Al-Ashfahani menerangkan bahwa an-nifaaq diambil dari kata an-nafaq

An-Nifaaqu (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)

Imam Al-Ashfahani menerangkan bahwa an-nifaaq diambil dari kata an-nafaq artinya jalan tembus. Dalam Al-Qur’an dikatakan:

“Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang- orang yang jahil.” [QS. Al-An'aam (6): 35]

Orang Arab berkata, naafaqal yarbu ‘binatang yarbu’ telah melakukan nifak, karena ia masuk ke satu lubang lalu keluar dari lubang yang lain. Dalam pengertian ini kata an- nifaaq digunakan. Sebab orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam, mereka suka menampakkan dirinya sebagai seorang muslim. Sementara ketika bertemu dengan kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke wajah mereka yang asli sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” [QS. At-Taubah (9): 67]

Ciri-ciri orang munafik

Di pembukaan surat Al-Baqarah, setelah menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan ciri-ciri orang-orang kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafik secara panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) di mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka kafir [lihat QS. Al-Baqarah (2): 8- 10]. (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat baik [lihat QS. Al-Baqarah (2): 11-12]. (c) Ketika bertemu dengan orang-orang beriman, mereka menampakan keimanan. Tetapi ketika kembali ke kawan-kawan mereka sesama setan, mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis, mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersama. (e) Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (d) Ibarat orang- orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. masuk ke hati mereka.

Aqidah

turun, mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. masuk ke hati mereka.
Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat

Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada tiga: asy-syriku, al-ilhaadu, dan an- nifaqu. Masing-masing dari komponen tersebut mempunyai tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan Allah, sementara ilhad lebih mengarah kepada sikap menafikan sifat, asma, dan perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya sama: kekafiran.

Sumber: dakwatuna.com

Aqidah

---oo0oo---

kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya sama: kekafiran. Sumber: dakwatuna.com Aqidah ---oo0oo---
MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH Dalam ucapan syahadah yang kita ungkapkan terkandung beberapa pasal yang sering

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH

Dalam ucapan syahadah yang kita ungkapkan terkandung beberapa pasal yang sering dibincangkan.Antaranya ialah kalimah (Laa) yang menafikan langsung ketuhanan dan ciri- ciri ketuhanan segala sesuatu yang wujud di atas alam ini dalam apa juga rupa melainkan ketuhanan Allah SWT dengan segala kesempurnaannya. Penafian yang melibatkan segala sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak kesempurnaannya. Penafian yang melibatkan segala sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak akidah dari segala syubhat ketuhanan selain dari Allah. Tujuannya ialah menta’kidkan bahawa segala-gala arti dan hakikat ketuhanan itu hanyalah ada pada Allah.Dari sini binaan akidah menjadi jelas kepada mukmin.

1. Tiada Ilah selain Allah.

Menafikan seluruh ketuhanan pada yang lain selain Allah. Menafikan kesempurnaan mereka dan menafikan hak pengabdian kepada selain Allah. Mengitsbatkan keesaan dan kesempurnaan semata-mata hanya kepada Allah.

(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. (6:102).

2. Tiada Khalik selain Allah.

Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi dan yang tidak mempunyai anak, serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahanNya, dan Dia lah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna. (QS.25:2)

Aqidah

tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna. (QS.25:2) Aqidah
3. Tiada Pemberi Rizki selain Allah. , Aku tidak sekali-kali menghendaki sembarang rizki pemberian dari

3. Tiada Pemberi Rizki selain Allah.

,

Aku tidak sekali-kali menghendaki sembarang rizki pemberian dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah Dia lah sahaja Yang Memberi Rizki (kepada sekalian mahlukNya, dan Dia lah sahaja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat Kukuh kekuasaanNya.( QS.51:57-58)

4. Tiada Pemilik selain Allah.

,

Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan demi sesungguhnya, Kami telah perintahkan orang-orang yang diberi Kitab dahulu daripada kamu, dan juga (perintahkan) kamu, iaitu hendaklah bertakwa kepada Allah, dan jika kamu kufur ingkar, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah jualah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan (ingatlah) adalah Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. Dan bagi Allah jualah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan cukuplah Allah sebagai Pengawal (yang mentadbirkan dan menguasai segala-galanya).

(QS.4:131-132)

5. Tiada Raja/Tiada Kerajaan selain untuk Allah.

Aqidah

(yang mentadbirkan dan menguasai segala-galanya). (QS.4:131-132) 5. Tiada Raja/Tiada Kerajaan selain untuk Allah. Aqidah
Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi senantiasa mengucap tasbih kepada Allah

Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi senantiasa mengucap tasbih kepada Allah Yang Menguasai (sekalian alam), Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.( QS.62:1)

Oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap subhaanallah), Tuhan yang memiliki dan menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.(

QS.36:83)

Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan (dunia dan akhirat), dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.( QS.67:1)

Dan bagi Allah jualah kuasa pemerintah langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS.3:189)

6. Tiada Pembuat Hukum selain Allah.

Apa yang kamu sembah, yang selain dari Allah, hanyalah nama-nama yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan sembarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

(QS.12:40)

Aqidah

melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS.12:40) Aqidah
(Katakanlah wahai Muhammad) : “Patutkah aku (terpedaya dengan kata-kata dusta syaitan-syaitan itu sehingga aku) hendak

(Katakanlah wahai Muhammad) : “Patutkah aku (terpedaya dengan kata-kata dusta syaitan-syaitan itu sehingga aku) hendak mencari hakim selain dari Allah, padahal Dia lah yang menurunkan kepada kamu kitab Al-Qur’an yang jelas nyata kandungannya satu- persatu (tentang yang benar dan yang salah) ?”. Dan orang-orang yang Kami berikan kitab, mengetahui bahawa Al-Qur’an itu adalah diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenar-benarnya. Oleh itu, janganlah sekali-kali engkau menjadi (salah seorang) dari golongan yang ragu-ragu. (QS.6:114)

Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata. (QS.33:36)

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya,dan Dia lah juga yang memilih (satu-satu dari mahlukNya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan), tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa yang mereka sekutukan denganNya. (QS.28:68)

Aqidah

pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa yang mereka sekutukan denganNya. (QS.28:68)
Kesudahannya Kami jadikan engkau (wahai Muhammad dan utuskan engkau) menjalankan satu Syariat (yang cukup lengkap)

Kesudahannya Kami jadikan engkau (wahai Muhammad dan utuskan engkau) menjalankan satu Syariat (yang cukup lengkap) dari hukum-hukum agama, maka turutlah Syariat itu, dan janganlah engkau menurut hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (perkara yang benar). (QS.45:18)

Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) mendapat faedah di akhirat, Kami akan memberinya mendapat tambahan pada faedah yang dikehendakinya, dan sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) kebaikan di dunia semata-mata, Kami beri kepadanya dari kebaikan dunia itu (sekedar yang Kami tentukan), dan ia tidak akan beroleh sesuatu bahagianpun di akhirat kelak. (QS.42:20)

Dan demikianlah juga (jahatnya) ketua-ketua yang orang-orang musyrik itu jadikan sekutu bagi Allah, menghasut kebanyakan dari mereka dengan kata-kata indah yang memperlihatkan eloknya perbuatan membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka, dan untuk mengelirukan mereka mengenai agama mereka. Dan kalau Allah kehendaki, niscaya mereka tidak melakukannya. Oleh itu biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. (QS.6:137)

Aqidah

niscaya mereka tidak melakukannya. Oleh itu biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. (QS.6:137) Aqidah
7. Tiada Pemerintah selain Allah. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi

7. Tiada Pemerintah selain Allah.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu. Ia bersemayam di atas Arasy, Ia melindungi malam dengan siang yang mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan) matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.

(QS.7:54)

8. Tiada Pemimpin selain Allah.

Allah pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS.2:257)

Aqidah

mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS.2:257)
9. Tiada Yang Dicintai selain Allah. (Walaupun demikian), dan juga diantara manusia yang mengambil selain

9. Tiada Yang Dicintai selain Allah.

(Walaupun demikian), dan juga diantara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah, sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha berat azab siksaNya, (niscaya mereka tidak melakukan kezaliman itu).

(QS.2:165)

10. Tiada Yang Ditakuti selain Allah.

Wahai Bani Israil. Kenangkanlah kamu akan segala nikmat yang telah Kuberikan kepada kamu, dan sempurnakanlah perjanjian (kamu) denganKu, supaya Aku sempurnakan perjanjianKu dengan kamu, dan kepada Akulah sahaja hendaklah kamu merasa gerun takut (bukan kepada sesuatu yang lain). (QS.2:40)

Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah, (dengan adanya sifat-sifat yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat petunjuk. (QS.9:18)

sifat-sifat yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat petunjuk. (QS.9:18) Aqidah

Aqidah

11. Tiada Yang Diharapkan selain Allah. Dan kepada Tuhanmu sahaja hendaklah engkau memohon (apa yang

11. Tiada Yang Diharapkan selain Allah.

Dan kepada Tuhanmu sahaja hendaklah engkau memohon (apa yang engkau gemar dan ingini). (QS.94:8)

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS.18:110)

12. Tiada Yang Memberi Manfaat atau Mudhorat selain Allah.

Dan jika Allah mengenakan (menimpakan) engkau dengan bahaya bencana, maka tidak ada sesiapapun yang dapat menghapuskannya melainkan Dia sendiri, dan jika Ia mengenakan (melimpahkan) engkau dengan kebaikan, maka Ia adalah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS.6:17)

13. Tiada Yang Menghidupkan atau Mematikan selain Allah.

Aqidah

Ia adalah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS.6:17) 13. Tiada Yang Menghidupkan atau Mematikan selain Allah.
Tidakkah engkau (pelik) memikirkan (wahai Muhammad) tentang orang yang berhujah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya)

Tidakkah engkau (pelik) memikirkan (wahai Muhammad) tentang orang yang berhujah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai Tuhannya, karena Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan ? Ketika Nabi Ibrahim berkata : “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan”. Ia menjawab : “Aku juga boleh menghidupkan dan mematikan”. Nabi Ibrahim berkata lagi : “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, oleh itu terbitkanlah dia dari barat ?”. Maka tercenganglah orang kafir itu (lalu diam membisu). Dan (ingatlah), Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS.2:258)

14. Tiada Yang Mengabulkan Permohonan selain Allah.

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka), sesungguhnya Aku (Allah) senantiasa hampir (kepada mereka). Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul. (QS.2:186.)

Dan Tuhan kamu berfirman : “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takabur dari pada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina.

(QS.40:60)

15. Tiada Yang Melindungi selain Allah.

Aqidah

berdoa kepadaKu, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina. (QS.40:60) 15. Tiada Yang Melindungi selain Allah.
Oleh itu apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau terlebih dahulu memohon perlindungan kepada Allah

Oleh itu apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau terlebih dahulu memohon perlindungan kepada Allah dari hasutan Syaitan yang kena rejam. (QS.16:98)

Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, karena dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat. (QS.72:6)

16. Tiada Yang Wakil selain Allah.

Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadap mu), dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu, kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermusyawarat untuk membuat sesuatu) maka bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. (QS.3:159)

Katakanlah : “(Sebenarnya) tidak ada yang kamu tunggu-tunggu untuk kami melainkan salah satu dari dua perkara yang sebaik-baiknya (iaitu kemenangan atau mati syahid), dan kami menunggu-nunggu pula untuk kamu bahawa Allah akan menimpakan kamu dengan azab dari sisiNya, atau dengan perantaraan tangan kami. Oleh itu tunggulah, sesungguhnya kami juga menunggu-nunggu bersama-sama kamu”. (QS.9:52)

Aqidah

perantaraan tangan kami. Oleh itu tunggulah, sesungguhnya kami juga menunggu-nunggu bersama-sama kamu”. (QS.9:52) Aqidah
17. Tiada Daya dan Kekuatan selain Allah. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak

17. Tiada Daya dan Kekuatan selain Allah.

Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS.6:17)

18. Tiada Yang Agung selain Allah.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan- Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. ( QS.2: 255).

19. Tiada Yang Dimohonkan Pertolongannya selain Allah.

Engkaulah sahaja (ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. (QS.1:5)

Aqidah

Allah. Engkaulah sahaja (ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. (QS.1:5)
Dengan memahami laa ilaaha illallah,keyakinanan seorang mutarobbi meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada yang berhak

Dengan memahami laa ilaaha illallah,keyakinanan seorang mutarobbi meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada yang berhak disembah selain Allah,dan menjadikan seluruh kehidupannya hanya untuk beribadah kepaada Nya,sehingga tidak ada sisi kehidupannya yang sia-sia.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com

Aqidah

kepaada Nya,sehingga tidak ada sisi kehidupannya yang sia-sia. ---oo0oo--- Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com Aqidah
LARANGAN BERHUBUNGAN DENGAN JIN Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt

LARANGAN BERHUBUNGAN DENGAN JIN

Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada- Ku. (Adz-dzariyat: 56).

Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.

Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

, ,

Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).

ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).

Aqidah

Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan

Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.

Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.

Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).

Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.

Aqidah

bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan. Aqidah
Beberapa Informasi tentang Jin dari Al-Quran & Hadits a. Jin diciptakan dari api dan diciptakan

Beberapa Informasi tentang Jin dari Al-Quran & Hadits

a. Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia

,

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).

.

Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)

Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.

b. Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan

Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).

musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50). Aqidah

Aqidah

Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para

Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).

c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).

Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.

d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka

diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.

,

Aqidah

yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang

Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).

Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.

Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:

.

Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)

Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).

Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.

Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari

Aqidah

adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari Aqidah
segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan

segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.

Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.

Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:

Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).

Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.

Wallahu a’lam.

Referensi:

1. Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar

2. Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah

3. Tafsir At-Thabari.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Aqidah

Abdurrahman Hasan Habannakah 3. Tafsir At-Thabari. ---oo0oo--- Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com) Aqidah
MENGENAL ALLAH (MA’RIFATULLAH) Mungkin ada di kalangan kaum muslimin yang bertanya kenapa pada saat ini

MENGENAL ALLAH (MA’RIFATULLAH)

MENGENAL ALLAH (MA’RIFATULLAH) Mungkin ada di kalangan kaum muslimin yang bertanya kenapa pada saat ini kita

Mungkin ada di kalangan kaum muslimin yang bertanya kenapa pada saat ini kita masih perlu berbicara tentang Allah padahal kita sudah sering mendengar dan menyebut namaNya, dan kita tahu bahwa Allah itu Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup untuk kita?

Tidak. Jangan sekali-kali kita merasa cukup dengan pemahaman dan pengenalan kita terhadap Allah. Karena, semakin memahami dan mengenaliNya kita merasa semakin dekat denganNya. Selain itu, dengan pengenalan yang lebih dalam lagi, kita bisa terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru tentang Allah dan kita terhindar dari sikap-sikap yang salah terhadap Allah.

Aqidah

dari pemahaman-pemahaman yang keliru tentang Allah dan kita terhindar dari sikap-sikap yang salah terhadap Allah. Aqidah
Ketika kita membicarakan makrifatullah, maknanya kita berbicara tentang Rabb, Malik, dan Ilah kita. Rabb yang

Ketika kita membicarakan makrifatullah, maknanya kita berbicara tentang Rabb, Malik, dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Kata Ilah mengandung arti yang dicintai, yang ditakuti, dan juga sebagai sumber pengharapan. Makna seperti ini ada di dalam surat An- Naas (114): 1-3.

Dengan demikian jelaslah bahwa usaha kita untuk lebih jauh memahami dan mengenal Allah adalah bagian terpenting di dalam hidup ini. Lantas, bagaimana metoda yang harus kita tempuh untuk bisa mengenal Allah? Apa saja halangan yang senantiasa menghantui manusia dari mengenalNya? Benarkan kalimat yang mengatakan, “Kenalilah dirimu niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu.” Dari pengenalan diri sendiri, maka ia akan membawa kepada pengenalan (makrifah) yang menciptakan diri, yaitu Allah. Ini adalah karena pada hakikatnya makrifah kepada Allah adalah sebenar-benar makrifah dan merupakan asas segala kehidupan rohani.

Setelah makrifah kepada Allah, akan membawa kita kepada makrifah kepada Nabi dan Rasul, makrifah kepada alam nyata dan alam ghaib dan makrifah kepada alam akhirat.

Keyakinan terhadap Allah swt. menjadi mantap apabila kita mempunyai dalil-dalil dan bukti yang jelas tentang kewujudan (eksistensi) Allah lantas melahirkan pengesaan dalam mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian diri kita hanya semata-mata kepada Allah saja. Ini memberi arti kita menolak dan berusaha menghindarkan diri dari bahaya-bahaya disebabkan oleh syirik kepadaNya.

Kita harus berusaha menempatkan kehidupan kita di bawah bayangan tauhid dengan cara kita memahami ruang perbahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafush shalih. Kita juga harus memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah, yaitu tauhid asma wa sifat, tauhid rububiah, tauhid mulkiyah, dan tauhid uluhiyah. Dengan pemahaman ini kita akan termotivasi untuk melaksanakan sikap-sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap empat tauhid tersebut.

Kehidupan paling tenang adalah kehidupan yang bersandar terus kecintaannya kepada Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu kita harus mampu membedakan di antara cinta kepada Allah dengan cinta kepada selainNya serta menjadikan cinta kepada Allah mengatasi segala-galanya. Apa yang menjadi tuntutan kepada kita ialah kita menyadari pentingnya melandasi seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan kepada Allah, Rasul, dan jihad secara minhaji.

Di dalam memahami dan mengenal Allah ini, kita seharusnya memahami bahwa Allah sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu-ilmu yang Allah berikan itu menerusi dua jalan yang membentuk dua fungsi yaitu sebagai pedoman hidup dan juga sebagai sarana hidup. Kita juga sepatutnya menyadari kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam pengabdian kepada Allah untuk mencapai tahap takwa yang lebih cemerlang.

kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam pengabdian kepada Allah untuk mencapai tahap takwa yang lebih cemerlang.

Aqidah

Ayat-ayat Allah ada dalam bentuk ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Kedua jenis ayat-ayat Allah ini terbuka

Ayat-ayat Allah ada dalam bentuk ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Kedua jenis ayat-ayat Allah ini terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca dan menelitinya. Namun terdapat berbagai halangan akan muncul di hadapan kita dalam mengenali Allah. Halangan- halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat pribadi kita yang bersumberdari syahwat – seperti nifaq, takabbur, zhalim, dan dusta– dan sifat-sifat yang bersumber dari syubhat – seperti jahil, ragu-ragu, dan menyimpang. Kesemua sifat-sifat fujur itu akan menghasilkan kekufuran terhadap Allah swt.

Ahammiyah Ma’rifatullah (Urgensi mempelajari Makrifatullah)

Riwayat ada menyatakan bahwa perkara pertama yang mesti dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah (awwaluddin ma’rifatullah). Bermula dengan mengenal Allah, maka kita akan mengenali diri kita sendiri. Siapakah kita, di manakah kedudukan kita berbanding makhluk-makhluk yang lain? Apakah sama misi hidup kita dengan binatang- binatang yang ada di bumi ini? Apakah tanggung jawab kita dan ke manakah kesudahan hidup kita? Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali betul Allah sebagai Rabb dan Ilah, Yang Mencipta, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.

Dalil-dalil:

QS. Muhammad (47): 19

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan kalimat “ketahuilah olehmu” bahwasanya tidak ada ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat. Apabila Al-Qur’an menggunakan sibghah amar (perintah), maka menjadi wajib menyambut perintah tersebut. Dalam konteks ini, mengetahui atau mengenali Allah (ma’rifatullah) adalah wajib.

QS. Ali Imran (3): 18

Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia, dan telah mengakui pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu sedang Allah berdiri dengan keadilan. Tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

berilmu sedang Allah berdiri dengan keadilan. Tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha

Aqidah

QS. Al-Hajj (22): 72-73 Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya

QS. Al-Hajj (22): 72-73

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.

QS. Az-Zumar (39): 67

Mereka tidak mentaqdirkan Allah dengan ukuran yang sebenarnya sedangkan keseluruhan bumi berada di dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit-langit dilipatkan dengan kananNya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.

Tema Perbicaraan Makrifatullah – Allah Rabbul Alamin.

Ketika membicarakan ma’rifatullah, artinya kita sedang membicarakan tentang Rabb, Malik, dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Sedangkan kata Ilah mengandungi arti yang dicintai, yang ditakuti, dan juga sebagai sumber pengharapan. Hal ini termaktub dalam surat An-Naas (114): 1-3. Inilah tema yang dibahas dalam ma’rifatullah. Jika kita menguasai dan menghayati keseluruhan tema ini, bermakna kita telah mampu menghayati makna ketuhanan yang sebenarnya.

Dalil-dalil:

QS. Ar-Ra’du (13): 16

Katakanlah, “Siapakah Rabb segala langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Adakah kamu mengambil wali selain dariNya yang tiada manfaat kepada dirinya dan tidak pula dapat memberikan mudarat?” Katakanlah, “Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat? Apakah sama gelap dan nur (cahaya)?” Bahkan adakah mereka mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu yang menjadikan sebagaimana Allah menjadikan, lalu serupa makhluk atas mereka? Katakanlah, “Allah. Allah yang menciptakan tiap tiap sesuatu dan Dia Esa lagi Maha Kuasa.”

QS. Al-An’am (6): 12

Aqidah

“Allah. Allah yang menciptakan tiap tiap sesuatu dan Dia Esa lagi Maha Kuasa.” QS. Al-An’am (6):
Katakanlah, “Bagi siapakah apa-apa yang di langit dan bumi?” Katakanlah, “Bagi Allah.” Dia telah menetapkan

Katakanlah, “Bagi siapakah apa-apa yang di langit dan bumi?” Katakanlah, “Bagi Allah.” Dia telah menetapkan ke atas diriNya akan memberikan rahmat. Sesungguhnya Dia akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan diri mereka, maka mereka tidak beriman.”

QS. Al-An’am (6): 19

Katakanlah, “Apakah saksi yang paling besar?” Katakanlah, “Allah lah saksi di antara aku dan kamu. Diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini untuk aku memberikan amaran kepada engkau dan sesiapa yang sampai kepadanya Al-Qur’an. Adakah engkau menyaksikan bahawa bersama Allah ada tuhan-tuhan yang lain?” Katakanlah, “Aku tidak menyaksikan demikian.” Katakanlah, “Hanya Dia-lah Tuhan yang satu dan aku bersih dari apa yang kamu sekutukan.”

QS. An-Naml (27): 59

Katakanlah, “Segala puji-pujian itu adalah hanya untuk Allah dan salam sejahtera ke atas hamba-hambanya yang dipilih. Adakah Allah yang paling baik ataukah apa yang mereka sekutukan?”

QS. An-Nur (24): 35

“Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi.”

QS. Al-Baqarah (2): 255

“Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia hidup dan berdiri menguasai seluruh isi bumi dan langit.”

Didukung Dengan Dalil Yang Kuat

QS. Al-Qiyamah (75): 14-15

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

Makrifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti kuat yang telah siap disediakan oleh Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk agar manusia berpikir dan membuat penilaian. Oleh karena itu banyak fenomena alam yang dibahas oleh Al-Qur‘an dan diakhiri dengan kalimat pertanyaan: tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mendengar. Pertanyaan-pertanyaan itu mendudukkan kita pada satu pandangan yang konkrit betapa semua fenomena alam adalah di bawah milik dan aturan Allah swt.

Aqidah

kita pada satu pandangan yang konkrit betapa semua fenomena alam adalah di bawah milik dan aturan
Dalil-dalil: Naqli [QS. Al-An'am (6): 19] Katakanlah, “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah,

Dalil-dalil:

Naqli [QS. Al-An'am (6): 19]

Katakanlah, “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah, “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qu’ran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah, “Aku tidak mengakui.” Katakanlah, “Sesungguhnya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”

Aqli, [QS. Ali Imran (3): 190]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Fitri, [QS. Al-A'raf (7): 172]

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan).”

Dapat Menghasilkan: peningkatan iman dan taqwa.

Apabila kita betul-betul mengenal Allah mentadaburi dalil-dalil yang dalam, hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita dekat dengan Allah, Allah lebih dekat lagi kepada kita. Setiap ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah tetap akan menjadi bahan berpikir kepada kita dan penambah keimanan serta ketakwaan. Dari sini akan menghasilkan pribadi muslim yang merdeka, tenang, penuh keberkatan, dan kehidupan yang baik. Tentunya tempat abadi baginya adalah surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah diridhaiNya.

Kemerdekaan [QS. Al-An'am (6): 82]

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan; dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ketenangan [QS. Al-Ra'du (13): 28]

Aqidah

mendapat keamanan; dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Ketenangan [QS. Al-Ra'du (13): 28] Aqidah
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Barakah [QS. Al-A'raf (7): 96]

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Kehidupan Yang Baik [QS. Al-Nahl (16): 97]

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Surga [QS. Yunus (10): 25-26]

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki- Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Mardhotillah [QS. Al-Bayinah (98): 8]

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)

Aqidah

(balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. ---oo0oo--- Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com) Aqidah
Mukadimah ILMU ALLAH Allah swt telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem

Mukadimah

ILMU ALLAH

Allah swt telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem yang menyeluruh. Antara satu sama lain ada perakitan dan manfaatnya sendiri. Allah swt yang menjadikan semua isi alam ini dari yang sekecil-kecilnya hingga yang paling besar, yang nyata dan yang ghaib. Dari sifat pengetahuan Allah swt yang Maha Mengetahui inilah, sehingga Allah swt menjadi sumber ilmu.

Dengan ilmu Allah swt tersebut, kemudian Dia mengajar manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahui menjadi diketahuinya. Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara resmi kepada Rasul-Nya dan ini kemudian menjadi pedoman hidup (minhajul hayah). Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara tidak resmi dan ini menjadi sarana hidup (wasailul hayah).

Kedua ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Islam mendorong kaumnya untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Imam Syafi’i berkata, "Barang siapa menginginkan dunia maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan keduanya, maka diperlukan ilmu keduanya" (Al-Majmu’, Imam An-Nawawi).

Pembahasan

Dalam asmaul husna Allah swt disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Bahwasanya ilmu Allah swt tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang terdahulu, sekarang ataupun yang akan datang, baik yang ghaib maupun yang nyata: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa "

. "Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" (Al Hasyr:22) Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah swt. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap diketahui Allah swt: "Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang" (Al An'am:59)

Hajj:70)

saja yang ada

di

langit

dan

di

bumi.

(Al

Ilmu Allah swt Maha luas, tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah, dan akan terjadi serta yang mengaturnya.

Aqidah

oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah, dan akan terjadi serta yang mengaturnya.
Manusia, malaikat dan makhluq manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk

Manusia, malaikat dan makhluq manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh manusia tak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji. Belum lagi tentang astronomi, berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dsb. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah swt tak akan tertandingi sedikitpun jua.

Allah swt menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah swt, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah swt, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan:

"Katakanlah,

kalau

sekiranya

lautan

menjadi

tinta

untuk

menulis

kalimat-kalimat

Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula" (Al Kahfi:109)

"Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Luqman:27).

Allah swt telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al kaun (universum). Simaklah firman Allah swt berikut ini:

"Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Hasyr: 24).

Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya. "Hai jama'ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan" (Ar Rahman :33). Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin menembus langit diperlukan energi yang besar.

Maka

dengan

Aqidah

segala

bahan-bahan

yang

ada

di

alam

ini

manusia

harus

langit diperlukan energi yang besar. Maka dengan Aqidah segala bahan-bahan yang ada di alam ini manusia

mampu

mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan

mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt telah menciptakan alam beserta isi dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al Qur'an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.

Timbulnya ilmu pengetahuan, disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al Qur'an perintah Allah swt : "Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman" (Yunus: 101)

Hasil dari pemikiran manusia itu melahirkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya yang akan membimbing ke arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.

Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut:

"Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadah secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaany Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu Allah".

"Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya idak lebih dari setitik air".

Manusia sejak zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dsb beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut.

ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dsb beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut. Aqidah

Aqidah

Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa

Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.

Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya red shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.

Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit. Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominir oleh unsur hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan dominan. Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses pengembungan inienergi sinar banyak terpakai dan meteri semakin dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari meteri dan sinar menjadi sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air. Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, matei dan gravitasi dominan, terdapat differensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola gas masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian berdifferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti, dan bintang itupun mulai bercahaya. Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran di ruang angkasa dan makin lama makin besar.

Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah swt:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman" (Al Anbiya: 30)

air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman" (Al Anbiya: 30)

Aqidah

Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan umur batu bulan, telah

Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.

Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa galaxi beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaxi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaxi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya, sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.

Lain daripada itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali kepada situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.

Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gemov dalam bukunya The

bahwa tekanan raksasa yang terjadi pada

permulaan sejarah alam semesta adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya, dan bahwa pengembungan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang terjadi segera setelah tercapai kepadatan maximun yang diizinkan. "

Creation of the Universe, hal. 36:

Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai pada kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh- sungguh amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton, neutron, dan elektron serta partikel dasar lainnya, jadi tak ada satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik maksimum, kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.

Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta adalah ciptaan (makhluq) Allah swt sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt dengan segala sifat kesempurnaan- Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al kaun ini terus mengambil pelajaran dan ibroh yang bermanfaat dari padanya.

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah

Aqidah

tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah Aqidah
sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun

sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah" (Al Mulk: 3,4)

Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda langit sesuai dengan ciptaan dan pengaturan dari Penciptanya. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)" (Ar Rahman:7)

"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (Faathir:41)

Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada ketenangan benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak. Hal ini menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap ummat manusia.

Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara benda-benda bermassa yang bekerja secara luas dalam alam ini. setelah Issac Newton pada tahun 1686 merumuskan hukum gravitasi, maka orang dapat dengan mudah memahami dan menerangkan berbagai peristiwa dalam jagad raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan dengan eksak, kokoh, teratur, rapi dan harmonis, yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk menerima, bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.

"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nati-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. " (Faathir: 43)

Demikianlah, Allah swt telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang, beraturan, sistemik. Maka Dia jualah yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaan-Nya, dan telah dikabarkannya ciptaan Allah swt itu kepada manusia. Manusia telah diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt tiada Tuhan selain-Nya. Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap

akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap

Aqidah

penjuru ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan

penjuru ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.

"Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Fushshilat: 53).

Ayat-Ayat Qauliyah dan Ayat-Ayat Kauniyah.

Allah swt menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan. Pertama, dengan ath thariqah ar rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah.

Kedua, dengan ath thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham kepada makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Kerena tak melalui perantaraan malaikat Jibril maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat- ayat kauniyah.

Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: "kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia", baik yang diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara' hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah swt:

"Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Asy Syura:51)

Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena ma'na wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:

1. Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi. "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila

kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai

" (Al Qashash:7).

2. Insting Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang. "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat- tempat yang dibikin manusia" (An Nahl:68).

Aqidah

sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat- tempat yang dibikin manusia" (An Nahl:68). Aqidah
3. Isyarat , seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih pagi dan

3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih

pagi dan sore. "Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat

kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang" (Maryam:11).

4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah

kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr. "(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka

teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah

" (Al Anfal:12).

5. Bisikan syaithan

Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik" (Al An'am :121).

Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan. Hadits Qudsi juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt, sedangkan redaksinya dari Rasulullah saw), dan hadits Nabawi, (makna dan redaksinya dari Rasulullah saw) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah saw mempunyai nilai wahyu, firman Allah swt:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya" (Al Hasyr:7)

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt berfirman: "Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al ‘Alaq:1-5).

"Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan" (Ar

Ra'du:3)

"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas

dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas Aqidah

Aqidah

sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi

sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir" (Ar Ra'du:4)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. " (Ali Imran:190-191).

Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan merenungkan alam semesta (al kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti:

Kosmologi, Astronomi, Botani, Meteorologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi dsb. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih dsb. Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al kaun) harus mengacu firman Allah swt sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai misal dalam dunia teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita (dalam proses bayi tabung) maka harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa dan diletakkan ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya. Di bidang astronomi tidak boleh diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan menjadi suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila untuk berbuat maksiat. Namun seorang mu'min menjadikan alam semesta untuk tafakur agar dekat dengan-Nya.

Konsep Kebenaran Ilmu

Wahyu (al Qur'an dan as Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqah al muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif pemahaman tidaklah bersifat mutlak. Sedangkan ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi (realtif) dan tajribi (eksprimentatif) atau dengan istilah al haqiqah at tajribiyah. Kebenaran yang mutlak harus dijadikan burhan atau alat untuk mengukur kebenaran yang nisbi, jangan sampai terbalik, justru kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi (relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan keterbatasan manusia. Dalam mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala fenomena yang ada di alam semesta. Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan antara kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau menguji kembali pemahaman

Aqidah

dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau menguji kembali pemahaman Aqidah
manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah swt yang Maha

manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah swt yang Maha Benar, mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.

Hikmah Mengimani Ilmu Allah Swt

Pertama, membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah swt, sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Oleh karena itu manusia tidak ada alasan untuk sombong dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya. Seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber- taqarub kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.

Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt sangat luas, tidak ada satupun (betapa pun kecil dan halusnya) yang luput dari ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah laku, ucapan dan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah swt.

Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah swt tsb dalam kehidupan nyata sehari hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan "diketahui" atau "tidak diketahui" oleh orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah swt Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja.

Di zaman salafus shalih, kita masih ingat kisah seorang gadis shalihah dengan ibunya yang menjual susu. Suatu saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air, agar mendapatkan untung yang lebih. Namun puterinya menolak. "Bukankah Khalifah Umar tidak melihat?" kata sang ibu. "Tapi Tuhannya Umar mengetahui, Bu!" kata putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis shalihah tsb dipinang untuk putera Umar sang Khalifah. Dan kitapun tahu persis bahwa dari seorang wanita shalihah tersebut, akhirnya menurunkan (cucu) tokoh, Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris.

Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu saat Umar bin Khathab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada anak tsb, bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu menolak. "Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas!" kata Umar ra. "Lantas dimana Allah?" tanya anak tersebut.

Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui

Aqidah

akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui Aqidah
ataupun tidak oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya. Sehingga seorang

ataupun tidak oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya. Sehingga seorang al akh ash shadiq akan senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah swt semata, bukan karena murabbinya, apalagi karena calon istri atau pun mertuanya. Tidak bangga karena pujian, tidak merasa lemah karena celaan. Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya (karena mungkin saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita), atau bahkan membahayakan aqidahnya.

"Dan katakanlah; bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At Taubah:105)

akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At

Aqidah

akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At
PENJELASAN RASMUL BAYAN 1. Allah. 1.1. Yang Maha Pencipta. Dalil : • Q. 25:2, Tuhan

PENJELASAN RASMUL BAYAN

1. Allah.

1.1. Yang Maha Pencipta.

Dalil :

• Q. 25:2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak mempunyai anak serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahan-Nya, dan Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna.

1.2. Yang Maha Bijaksana.

Dalil :

• Q. 67:14, Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu mengetahui (segala- galanya)? Sedang Ia Maha Halus urusan pentadbiran-Nya lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya.

2. Jalan Formal.

2.1. Dengan Wahyu.

Penjelasan :

• Secara resminya ilmu Allah kepada makhluk adalah memberikan wahyu kepada para Rasul alaihissalam.

Dalil :

• Q. 3:38, Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya, katanya : “Wahai Tuhanku. Kurniakanlah kepadaku dari sisi-Mu anakt keturunan yang baik, sesungguhnya Engkau senantiasa Mendengar (menerima) doa permohonan”.

2.2. Memerlukan Rasul.

Penjelasan :

Penurunan wahyu ini bukanlah kepada sembarang orang, bahkan kepada mereka yang dipilih oleh Allah untuk melaksanakan tujuan demikian. Para Rasul adalah mereka yang terpilih untuk menerima wahyu-wahyu yang telah diturunkan itu.

Aqidah

tujuan demikian. Para Rasul adalah mereka yang terpilih untuk menerima wahyu-wahyu yang telah diturunkan itu. Aqidah
Dalil : • Q. 42:53, Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada

Dalil :

• Q. 42:53, Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Ingatlah ! Kepada Allah jualah kembali segala urusan.

2.3. Ayat Qauliyah.

Penjelasan :

Wahyu yang diturunkan itu merupakan kitab langsung dari Allah berkenaan dengan suatu perkara yang kita namakan sebagai ayat qauliyah.

Dalil :

• Q. 55:1-2, (Tuhan) Yang Maha Pemurah serta melimpah-limpah rahmat-Nya. Dialah yang telah mengajarkan Al Qur’an.

• Q. 96:1, Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk).

2.4. Berfungsi sebagai Pedoman Hidup.

Penjelasan :

Ilmu-ilmu dari wahyu ini berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia atau minhajul hayat.

Dalil

:

• Q. 3:19, Sesungguhnya agama (yang benar dan diridhai) di sisi Allah ialah Islam. Dan

orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai

agama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya, perselisihan itu pula) semata-mata karena hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka. Dan (ingatlah), siapa yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah amat segera hitungan hisabNya.

• Q. 3:85, Dan siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi.

2.5. Kebenarannya Mutlak.

Dalil :

• Q. 2:147, Kebenaran (yang datangnya kepadamu dan disembunyikan oleh kaum Yahudi

dan Nasrani) itu (wahai Muhammad) adalah datangnya dari Tuhanmu, oleh karena itu

Muhammad) adalah datangnya dari Tuhanmu, oleh karena itu jangan Aqidah sekali-kali engkau termasuk dalam golongan

jangan

Aqidah

sekali-kali

engkau

termasuk

dalam

golongan

orang-orang

yang

ragu-ragu.

• Q. 41:53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi

• Q. 41:53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di

segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi

atas segala sesuatu?

3. Jalan Non Formal.

3.1. Dengan Ilham.

Dalil :

• Q. 90:5, Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?

3.2. Langsung.

Dalil :

• Q. 2:31, Dan ia telah mengajarkan Nabi Adam akan segala nama benda-benda dan

gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman : “Terangkanlah

kepada-Ku nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar”.

• Q. 55:4, Dialah yang telah membolehkan manusia (bertutur) memberi dan menerima kenyataan.

3.3. Ayat Kauniyah.

Dalil :

• Q. 3:190, Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam

dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah) bagi

orang-orang yang berakal.

• Q. 41:53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di

segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

3.4. Berfungsi sebagai Sarana Hidup.

Dalil :

• Q. 11:61, 61. Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shalih. Shalih berkata:

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah

menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena

Aqidah

bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena
itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi

itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."

[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

3.5. Kebenaran Eksperimen.

Dalil :

• Q. 10:36, Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan saja,

(padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (i’tiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang

mereka lakukan.

3.6. Untuk Manusia agar Beribadah.

Dalil :

• Q. 51:56, Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepada-Ku.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com

Aqidah

melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepada-Ku. ---oo0oo--- Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com Aqidah
MENGENAL AGAMA ISLAM (MA’RIFATU DINIL ISLAM) I. MAKNA AD-DIIN Penjelasan Rasmul Bayan Pengertian Ad-Din ternyata

MENGENAL AGAMA ISLAM (MA’RIFATU DINIL ISLAM)

I. MAKNA AD-DIIN

AGAMA ISLAM (MA’RIFATU DINIL ISLAM) I. MAKNA AD-DIIN Penjelasan Rasmul Bayan Pengertian Ad-Din ternyata lebih

Penjelasan Rasmul Bayan

Pengertian Ad-Din ternyata lebih luas dari apa yang kita kenal selama ini, secara etimologi mencakup beberapa hal, antara lain:

• As-Sulthah wal Al-Qahru yang artinya kekuasaan atau memaksa. Dintu al-qauma artinya

aku paksa kaum itu atau aku kuasai.

• Tunduk kepada kekuasaan itu.

• Undang-udang yang bersumber dari kekuasaan tersebut.

• Balasan bagi orang yang taat kepada undang-undang tersebut dan siksa bagi yang tidak taat.

Narasi

Ternyata pengertian Ad-Diin tidak sesederhana yang kita pahami selama ini dan yang beredar di antara masyarakat. Yang sering diartikan sebagai agama yang mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya. Bahkan secara bahasa saja, ad-Din memiliki cakupan arti yang sangat luas, sesuai dengan substansinya. Yang di antaranya:

secara bahasa saja, ad-Din memiliki cakupan arti yang sangat luas, sesuai dengan substansinya. Yang di antaranya:

Aqidah

• As-Sulthah wal Al-Qahru (Kekuasaan atau Memaksa). Seperti kata orang Arab, Dintu al-Qauma artinya aku

As-Sulthah wal Al-Qahru (Kekuasaan atau Memaksa).

Seperti kata orang Arab, Dintu al-Qauma artinya aku paksa kaum itu atau aku kuasai. Maksudnya ketika seseorang memeluk dan mengikuti suatu ad-Diin, ia telah menyerahkan dirinya untuk dikuasai olehnya dan pada gilirannya bersedia dipaksa untuk menjalankan aturan-aturan. Tentu saja hal itu dilandasi oleh keyakinan terhadap kebenaran yang ada padanya dan keyakinan bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya yang berupa kebahagiaan.

Allah berfirman kepada orang-orang kafir, jika mereka mampu mengembalikan ruh ke jasad setelah dicabut dan dipisahkan darinya. Kenyataannya mereka tidak mampu, karena mereka tidak memiliki kekuasaan untuk itu. Allah yang memiliki kekuasaan. Firman Allah,

,

“Maka Mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah:

85-86).

Tunduk kepada Kekuasaan itu.

Konsekuensi dari mengikuti sebuah ad-Diin adalah ketundukan terhadap semua ajaran dan aturannya. Dan seseorang dikatakan tidak menjadi pemeluk agama dengan baik manakala tidak tunduk dan taat menjalankan aturannya. Ini berlaku bagi semua ad-Din atau yang dianggap sebagai ad-Din yang mencakup semua ideologi, aliran, dan kepercayaan. Kenyataannya bahwa semua orang yang mengikuti sebuah ideolog atau kepercayaan, mereka akan tunduk kepada kepercayaannya itu, kendatipun ia –menurut banyak orang- sebagai aliran dan ideologi sesat. Itulah yang terjadi di beberapa aliran, bahkan pengikutnya rela mati selama mereka yakin bahwa hal itu adalah implementasi dair ketundukan.

Undang-udang yang Bersumber dari Kekuasaan tersebut.

Ad-Diin juga indentik dengan semua aturan dan undang-undang dari Sulthah (kekuasaan). Karena setiap kekuasaan pasti mempunyai undang yang berlaku bagi yang dikuasainya demi tercapainya keinginan dari kekuasaan itu.

Allah menceritakan kisah nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya. Yusuf membuat skenerio seolah-olah saudaranya mencuri piala miliknya agar bisa bertemu dengan saudaranya itu. Dan tidak sepatutnya baginya untuk menghukum saudanya itu dengan undang-undang kerjaaan. Allah berfirman,

Aqidah

itu. Dan tidak sepatutnya baginya untuk menghukum saudanya itu dengan undang-undang kerjaaan. Allah berfirman, Aqidah
“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia

“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76).

Allah berfirman,

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (Al-Kafirun: 6)

Kalau dilihat dari sebab turunnya ayat tersebut, yang dikehendaki orang-orang kafir Qurasy bukanlah agar Nabi memeluk agama mereka dan mereka memeluk agama Islam. Akan tetapi cukup dengan menjalankan aturan dan ibadah selama satu tahun secara bergantian.

Balasan bagi Orang yang Taat kepada Undang-undang tersebut dan Siksa bagi yang Tidak Taat.

Ad-Diin juga bermakna balasan bagi siapa yang taat menjalankan aturan itu serata siksa bagi siapa yang tidak taat. Allah berfirman di surat Al-Fatihah, di mana Yaum Ad-Diin artinya hari kiamat dan hari pembalasan. Allah menisbatkan kekusaan kepada hari Pembalasan karena pada hari itu tidak ada lagi klaim kekuasan selain klaim Allah. Karena tidak seorang makhluk pun yang dari melakukan sesuatu tanpa izin Allah.

“Yang menguasai di hari Pembalasan .” (Al-Fatihah: 4).

Aqidah

pun yang dari melakukan sesuatu tanpa izin Allah. “Yang menguasai di hari Pembalasan .” (Al-Fatihah: 4).
II. MAKNA ISLAM Secara etimologis, kata Islam berasal dari salima, kata ini memiliki banyak pengertian,

II. MAKNA ISLAM

Secara etimologis, kata Islam berasal dari salima, kata ini memiliki banyak pengertian, di antaranya:

1. Aslama, artinya menundukkan wajah.

2. Istaslama, artinya berserah diri.

3. Saliim, artinya bersih, sehat, dan suci.

4. Salaam, artinya selamat dan sejahtera.

5. Silmun, artinya perdamaian.

Sedangkan sebagai terminologI, Islam sebagai agama bermakna:

1. Wahyu Allah

2. Agama para nabi dan rasul

3. Minhajul hayah, pedoman hidup.

4. Undang-undang Allah yang ada di Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.

5. Jalan yang lurus

6. Keselamatan di dunia dan akhirat

Dengan pengertian ini, yakni baik secara etimologi dan terminologi, maka Islam adalah:

1. Agama Kebenaran

2. Agama Allah

3. Agama Islam

Sebagai agama yang datang dari Allah yang diperuntukkan sebagai pedoman hidup

menandingi

ketinggiannya.

manusia.

Maka

Islam

adalah

agama

serta

tinggi

dan

tidak

ada

yang

Narasi

Islam secara etimologis memiliki makna salima. Kata ini sendiri mempunyai banyak pengertian. Di antaranya adalah:

1. Menundukkan Diri (Aslama)

Aslama yang artinya menundukkan diri dan wajah. Islam berarti menundukkan diri dan wajah kepada Allah. Wajah merupakan simbul kebanggaan seseorang. Allah berfirman,

berarti menundukkan diri dan wajah kepada Allah. Wajah merupakan simbul kebanggaan seseorang. Allah berfirman, Aqidah

Aqidah

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah,

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Ali Imran: 125).

2. Berserah Diri (Istaslama)

Istaslama berarti berserah diri kepada Allah secara tulus dan taat, karena tidak ada kekuatan dan daya yang dimiliki kecuali kekuatan dan daya itu milik Allah. Dan pada dasarnya semua makhluk berserah diri kepada Allah. Langit dan bumi berserah diri kepada Allah. Allah berfirman,

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya- lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Al-Baqarah: 83).

Ayat tersebut menunjukan bahwa agama Islamlah yang patut menjadi pilihan, sebagimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari :

“Islam itu tinggi tidak ada yang melampui ketinggiannya.”

3. Suci, bersih (Saliimun)

Saliim artinya bersih dan suci. Baik yang berkaitan dengan kebersihan lahir maupun batin. Allah berfirman tentang kondisi hari Kiamat. Di mana manusia tidak akan mendapatkan manfaat dari apa yang dimilikinya di dunia, kecuali yang hatinya bersih dari kesyirikan dan kemunafikan.

manfaat dari apa yang dimilikinya di dunia, kecuali yang hatinya bersih dari kesyirikan dan kemunafikan. Aqidah

Aqidah

”Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (As-Syu’ara: 89). 4. Selamat, sejahtera

”Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (As-Syu’ara:

89).

4. Selamat, sejahtera (Salaamun)

Salaamun artinya keselamatan atau kesejahteraan. Ini bisa dipahami bahwa Islam menjanjikan keselamatan dan kesejahteraan bagi pemeluknya, baik di dunia maupun di akhirat. Keselamatan dan kesejahteraan menjadi ucapan yang disampaikan seseorang kepada saudaranya ketika bertemu.

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’am: 54).

5. Perdamaian (Salmun)

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad: 35).

Dengan pengertian secara etimologis ini dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki sifat yang dibawanya yaitu berserah diri dan mewujudkan perdamaian yang menjadi misi Islam. Hidup dengan damai dalam naungan rahmat Allah

• Wahyu Ilahi

Dari pengertian etimologis ini, maka Islam merupakan suatu manhaj, sistem, dan aturan hidup yang menyeluruh dan lengkap. Yang paling layak untuk memberi jaminan

Aqidah

suatu manhaj, sistem, dan aturan hidup yang menyeluruh dan lengkap. Yang paling layak untuk memberi jaminan
keselamatan dan kesejahteraan bagi pemeluknya. Panduan hidup itu bersumber dari firman Allah dan sunnah Rasulullah.

keselamatan dan kesejahteraan bagi pemeluknya. Panduan hidup itu bersumber dari firman Allah dan sunnah Rasulullah. Ucapan Rasul sebagai pedoman hidup sejatinya adalah wahyu ilahi. Firman Allah,

”Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:

4).

”Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.” (Al-Anbiya”: 7).

• Agama para Nabi dan Rasul

Wahyu yang disampaikan kepada nabi dan rasul itu bersumber dari Allah yang satu, maka esensi dari risalah yang mereka bawa pun satu. Yaitu mengesakan Allah. Maka semua nabi dan rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada manusia itu pun memiliki misi yang sama. Bahwa semua nabi mengemban risalah Islam. Dan akhir dari para rasul itu adalah Muhammad saw.

Allah menjelaskan misi semua rasul itu,

”Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang- orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)

dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36) Aqidah

Aqidah

Bahkan nabi Isa pun tidak penah menyuruh kaumnya untuk mengangkat diri dan ibunya menjadi tuhan

Bahkan nabi Isa pun tidak penah menyuruh kaumnya untuk mengangkat diri dan ibunya menjadi tuhan selain Allah.

Allah berfirman,