Anda di halaman 1dari 13

Laporan Fakta Analisa

II-1
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

2.1. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bener


Meriah
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bener Meriah pada intinya
adalah perencanaan untuk menentukan pemanfaatan ruang, yang secara
garis besar intinya adalah.

1. Penentuan kawasan lindung dan budidaya.

2. Penentuan kawasan pedesaan, perkotaan, dan kawasan tertentu.

3. Penentuan sistem permukiman, pedesaan, dan perkotaan.

4. Penentuan pengembangan fasilitas dan utilitas wilayah.

5. Penentuan pengembangan sarana dan prasarana wilayah.

6. Penentuan kawasan prioritas.

7. Penentuan struktur dan hirarki kota.

8. Penentuan indikasi program pembangunan.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-2
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

Keseluruhan kegiatan tersebut akan terlihat dan terencana dengan


mempertimbangkan berbagai aspek. Selain secara teknis juga diperlukan
pertimbangan dan analisa non teknis. Adapun aspek yang menjadi
pertimbangan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Bener Meriah adalah.

1. Aspek fisik dan daya dukung lahan.

2. Aspek ekonomi.

3. Aspek demografi.

4. Aspek sosial masyarakat.

5. Aspek kebijaksanaan pembangunan.

Sebagai materi yang paling pokok dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Bener Meriah adalah pembagian dua kawasan, yaitu kawasan
lindung dan budaya.pembagian tersebut dinilai sesuai dengan aturan yang
berlaku dengan mempertimbangkan berbagai hal termasuk kebiasaan
masyarakat yang mendiami wilayah perencanaan.

Berkaitan dengan Rencana Teknik Ruang (RTR) BWK Kute Kering, maka
tinjauan kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bener
Meriah yang akan dibahas selanjutnya yaitu kajian tentang kebijakan-
kebijakan yang dinilai berkaitan dan mendukung Rencana Teknik Ruang
(RTR) BWK Kute Kering.

2.1.1. Kawasan Lindung

Kawasan lindung yang terdapat di Kabupaten Bener Meriah adalah seluas


49.476,33 Ha, dan memiliki proporsi 1,73 % dari luas kawasan lindung yang
ditetapkan dalam RTRW Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-3
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

Berdasarkan kajian, kawasan lindung di wilayah Kabupaten Bener Meriah


terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan di bawahnya meliputi
hutan lindung, serta kawasan yang memberikan perlindungan setempat,
meliputi kawasan cagar budaya, sempadan sungai, dan rawan bencana.

1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan di Bawahnya.

Hutan lindung adalah kawasan yang memiliki sifat khas yang mampu
memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahnya
sebagai pengatur tata air, pencegah banjir, erosi, dan memelihara
kesuburan tanah. Kawasan lindung di Kabupaten Bener Meriah adalah
seluas 47.276,33 Ha.

Dibandingkan dengan luas kawasan lindung secara keseluruhan,


proporsi kawasan hutan lindung ini adalah 95,55 %. Kawasan hutan
lindung terdapat pada bagian timur, yaitu di Kecamatan Pintu Ritme
gayo, Timang Gajah, Kecamatan Bukit, bagian utara Kecamatan Wih
Pesam, dan Kecamatan Permata, serta bagian selatan Kecamatan
Bukit, Bandar, dan Syiah Utama.

2. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Setempat.

Kawasan perlindungan setempat adalah kawasan lindung yang secara


analisis tidak mencapai karakter ruang atau scoring kawasan lindung.
Namun kawasan-kawasan ini dianggap berbahaya atau berpotensi
membahayakan apabila tidak diselamatkan atau dikendalikan, karena
akan dapat member dampak negatif dalam kelangsungan hidup dan
kehidupan masyarakat, serta sangat berpotensi dalam hal kerusakan
lingkungan yang berdampak luas pada kelestarian lingkungan.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-4
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

Kawasan yang termasuk dalam kawasan perlindungan setempat


adalah kawasan sempadan sungai dan kawasan cagar budaya.

- Kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri dan


kanan sungai yang berfungsi mempertahankan kelestarian fungsi
sungai. Luas kawasan sempadan sungai di wilayah Kabupaten
Bener Meriah adalah 2.200 Ha atau 4,45 % dari luas kawasan
lindung keseluruhan.

- Kawasan pelestarian cagar budaya dimaksudkan untuk melindungi


kekayaan budaya bangsa, berupa peninggalan-peninggalan sejarah,
bangunan arkeologi, dan keragaman bentuk geologi yang berguna
untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

3. Kawasan Rawan Bencana Alam

Kawasan rawan bencana alam adalah kawasan-kawasan yang sudah


pernah terkena bencana dan kawasan yang berpotensi menimbulkan
bencana baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Penentuan kawasan ini didasarkan oleh dua hal yaitu hasil analisis fisik
lahan dan hasil observasi lapangan.

2.1.2. Kawasan Budidaya


Penetapan kawasan budidaya dimaksudkan untuk memberikan arahan
pengembangan berbagai kegiatan budidaya sesuai dengan potensi sumber
daya yang ada dengan memperhatikan optimasi pemanfaatannya. Kawasan
budidaya terdiri dari kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan
perindustrian, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman. Luas kawasan
budidaya di wilayah Kabupaten Bener Meriah adalah 95.932,67 Ha, atau
65,97 % dari luas kabupaten secara keseluruhan.

1. Kawasan budidaya pertanian

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-5
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

Penentuan kawasan budidaya pertanian dinilai berdasarkan fisik dasar


wilayah, yaitu ketinggian, kemiringan, jenis tanah, kedalaman efektif,
dan drainase lahan. Selain itu juga dipertimbangkan kecendrungan
kegiatan pertanian yang telah berlangsung lama dan ketergantungan
serta pemahaman masyarakat terhadap kegiatan komoditi pertanian
tertentu.

2. Kawasan budidaya non pertanian

Pengembangan kawasan budidaya non pertanian diarahkan pada


kawasan budidaya yang memiliki potensi sumber daya untuk
dikembangkan di luar kegiatan pertanian dan kehutanan. Kawasan ini
dialokasikan untuk pengembangan kawasan industri dan
pertambangan/penggalian, kawasan permukiman, kawasan
transmigrasi, dan kawasan pariwisata.

3. Kawasan peruntukan lahan hutan produksi

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang


kehutanan, maka hutan dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu hutan
lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi. Dalam peruntukan
lahan yang direncanakan, hutan produksi terdiri dari Hutan Produksi
Terbatas (HPT) dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

2.1.3. Pengembangan Kawasan Perkotaan dan


Perdesaan
Kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan memiliki jenis, sifat, dan
karakter kegiatan yang berbeda. Dengan demikian perlu dilakukan deliniasi

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-6
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

wilayah dalam upaya pengembangan masing-masing kawasan perkotaan


dan perdesaan.

Permukiman perkotaan lebih diarahkan pada masing-masing ibukota


kecamatan, dengan demikian diharapkan masing-masing kota ibukota
kecamatan tersebut lebih berkembang lagi kearah yang lebih baik.

Deliniasi kawasan perkotaan dan perdesaan tersebut dimaksudkan agar


tuntutan pembangunan yang ada terutama dalam hal alokasi jenis dan
jumlah program pembangunan di masing-masing kawasan dapat disesuaikan
dengan karakteristik wilayahnya. Namun demikian pengembangan pada
masing-masing kawasan tersebut harus tetap menjamin interaksi ruang
antar bagian-bagian wilayah.

Arahan kebijakan pemanfaatan kawasan permukiman perkotaan adalah.

1. Struktur tata ruang di wilayah ibukota kecamatan dalam Kabupaten


Bener Meriah sebagian besar berbentuk linier, sehingga dalam
pengembangannya diarahkan berpola konsentris yang lebih terpadu.

2. Peningkatan sarana dan prasarana permukiman, terutama sarana


sosial ekonomi, air bersih, drainase, limbah, persampahan, listrik, dan
telekomunikasi.

3. Disarankan secara bertahap dilakukan penyusunan Rencana Tata


Ruang (RTR) kawasan perkotaan kota kecamatan, Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR), dan Rencana Teknis Tata Ruang (RTTR) kawasan kota
kecamatan.

Arahan kebijakan pemanfaatan kawasan permukiman perdesaan adalah.

1. Pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan, diarahkan pada setiap


mukim, yang direncanakan sebagai sub pusat pengembangan
kecamatan.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-7
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

2. Peningkatan aksesibilitas yang menghubungkan kawasan permukiman


dengan kawasan pertanian dan dengan pusat pemasaran produksi.

3. Peningkatan sarana dan prasarana permukiman, terutama air bersih,


listrik, dan telekomunikasi.

2.1.4. Pengembangan Sistem Kegiatan


Pembangunan
Berdasarkan pengenalan terhadap potensi dan masalah wilayah
perencanaan, maka prioritas pelaksanaan pembangunan di wilayah
Kabupaten Bener Meriah lebih diarahkan pada.

1. Peningkatan dan perluasan pembangunan prasarana ekonomi yang


didukung oleh pembinaan kualitas sumber daya manusia yang dapat
menopang pembangunan daerah.

2. Penyemprnaan sektor-sektor lain secara terpadu dan professional,


dilakukan dengan berkesinambungan dan tuntas, artinya dapat
bermanfaat dalam memenuhi tuntutan kebutuhan suatu wilayah.

3. Peningkatan mutu hasil industry dan peningkatan produksi yang dibina


melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang professional.

4. Pembangunan bidang sosial, meliputi pendidikan, kesehatan,


kesejahteraan social, yang terkait dengan upaya-upaya pengentasan
kemiskinan secara menyeluruh.

Dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah, pengembangan sistem


kota-kota lebih ditekankan pada fungsi dan peranan yang akan diemban
serta hirarki kota-kota tersebut. Berdasarkan pertimbangan terhadap
kemampuan pelayanan suatu kota, kemudahan pelayanan, dan kelengkapan
fasilitas sarana dan prasarana, maka sistem hirarki kota di Kabupaten Bener
Meriah yang direncanakan hingga akhir tahun 2015 adalah.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-8
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

1. Peringkat I : Kota Simpang Tiga Redelong sebagai pusat pelayanan


ibukota kabupaten

2. Peringkat II : Kota Pondok Baru dan Lampahan.

3. Peringkat III: Kota Blang Rakal, Simpang Balik, Buntul kemumu, dan
Samar Kilang.

Dalam upaya pengembangan wilayah Kabupaten Bener Meriah, penekanan


utama pelaksanaan pembangunan hendaknya lebih diarahkan pada
pembangunan yang fokus, berkelanjutan, dan tuntas, dengan melibatkan
partisipasi masyarakat sebagai upaya mensejahterakan masyarakat
Kabupaten Bener Meriah.

2.1.5. Pengembangan Sistem Perwilayahan

Dalam rencana pengembangannya, Kabupaten Bener Meriah dibagi menjadi


3 (tiga) sistem perwilayahan yaitu.

1. SWP I, meliputi wilayah Kecamatan Wih Pesam dan Bukit, dengan


pusat pengembangannya adalah Kota Simpang Tiga Redelong.

2. SWP II, meliputi wilayah Kecamatan Pintu Rime Gayo dan Timang
Gajah, dengan pusat pengembangannya di kota Lampahan.

3. SWP III, meliputi wilayah Kecamatan Syiah Utama, Bandar, dan


Permata, dengan pusat pengembangannya di kota Pondok Baru.

2.1.6. Pengembangan Kawasan Prioritas

Dalam lingkup kepentingan kabupaten, selain kawasan strategis yang lebih


berorientasi pada kepentingan ekonomi, kawasan prioritas juga mencakup

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-9
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

kawasan terpencil/terbelakang, dan kawasan kritis yang tidak semata-mata


mengutamakan kepentingan ekonomi. Kawasan yang perlu diprioritaskan
pengembangannya meliputi kawasan prioritas cepat berkembang, kawasan
prioritas terbelakang, dan kawasan kritis.

1. Kawasan prioritas cepat berkembang.

Kawasan cepat berkembang merupakan kawasan yang telah


menunjukkan pertumbuhan yang pesatdan memiliki potensi untuk
tumbuh dan berkembang dimasa yang akan datang dengan cepat.
Kawasan yang diprioritaskan untuk cepat berkembang dimasa
mendatang adalah pada koridor jalan regional Bireun – Takengon dan
Simpang Teritit – Pondok Baru.

2. Kawasan prioritas terbelakang.

Kawasan yang diaktegorikan sebagai kawasan terbelakang adalah


kawasan yang didasarkan atas criteria-kriteria yang meliputi jumlah
penduduk, perkembangan penduduk, kepadatan penduduk,
persentase desa swasembada, desa tertinggal, persentase desa yang
telah mendapatkan aliran listrik, dan tingkat pelayanan fasilitas.

Berdasarkan hasil penilaian terhadap criteria di atas, wilayah yang


diidentifikasikan sebagai kawasan yang terbelakang meliputi wilayah
utara Kecamatan Pintu Rime Gayo, Permata, dan Syiah Utama.

3. Kawasan Kritis.

Untuk mempertahankan kelestarian lingkungan dan sumber daya


wilayah, kawasan-kawasan kritis perlu mendapatkan perhatian yang
serius. Kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan kritis adalah
wilayah pedalaman yang terkena erosi dan tanah longsor, terutama

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-10
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

pada waktu musim penghujan, serta lahan rawan bencana akibat


kondisi fisik lahan.

Kawasan yang perlu mendapat prioritas utama adalah.

- Kawasan kritis rawan bencana karena kondisi fisik lahan dengan


kemiringan > 40 %, yaitu di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bukit,
Timang Gajah, dan Bandar.

- Kawasan kritis longsor dan erosi, yang disebabkan karena kondisi


tanah yang labil, yaitu di daerah KM 14 sampai KM 18 di Desa Jamur
Ujung.

2.2. Rencana Umum Tata Ruang Kawasan


Perkotaan Redelong

Perencanaan struktur tataruang kawasan perkotaan pada dasarnya disusun


berdasarkan tiga pertimbangan, yaitu aktivitas, tahapan pengembangan,
dan kondisi lingkungan. Struktur tata ruang kawasan Redelong diarahkan
untuk memberikan pelayanan bagi seluruh bagian wilayah perencanaan. Hal
ini dilakukan sebagai upaya untuk mencapai fungsi wilayah perencanaan
kawasan perkotaan Redelong yang merupakan ibukota Kabupaten Bener
Meriah.

Rencana tat ruang kawasan ini diwujudkan dalam bentuk, pembagian Bagian
Wilayah Kota (BWK) dan rencana sistem pusat pelayanan kota.

1. Pembagian Bagian Wilayah Kota (BWK).

Berdasarkan strukrur yang ingin dicapai oleh kawasan perkotaan


Redelong pada masa mendatang, yaitu sebagai pusat Pemerintahan
Kabupaten Bener meriah dan struktur ruang eksisting (jasa dan
perdagangan skala kecamatan) maka struktur ruang kawasan

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-11
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

perkotaan Redelong terdiri dari dua kegiatan utama, yakni kegiatan


Pemerintahan (Civic Center) dan kegiatan jasa dan perdagangan
(Central Business District). Struktur ini juga akan dipengaruhi oleh
keberadaan Bandara Rembele sebagai kegiatan transportasi utama
Kabupaten Bener Meriah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka wilayah perencanaan


kawasan perkotaan Redelong akan dikembangkan menjadi 2 (dua)
Bagian Wilayah Kota (BWK) dan beberapa sub BWK (unit lingkungan)
yang mengelilingi bagian wilayah kota.

A. BWK Simpang Tiga

BWK Simpang Tiga terdiri dari desa Simpang Tiga, Bale redelong,
Babussalam, Blang Sentang, Paya Gajah, Reje Guru, uring, Bathin
Wih Pongas, Tingkem benyer, dan Desa Hakim Tunggul Naru,
dengan pusat kegiatan di Desa Simpang Tiga.

Fungsi dan kegiatan utama yang akan dikembangkan pada BWK ini
adalah pusat perdagangan dan jasa skala kabupaten dan regional,
perumahan beserta kelengkapan sarana dan prasarana
penunjangnya, pelayanan umum (pendidikan, kesehatan,
peribadatan), taman, jalur hijau, dan konservasi/hutan kota yang
berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH) Kota.

B. BWK Kute Kering

BWK Kute kering merupakan kawasan perencanaan untuk


penyusunan Rencana Teknik Ruang (RTR). BWK Kute Kering terdiri

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-12
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

dari desa Kute Kering, Kute Lintang, Serule Kayu, Tingkem Bersatu,
Kute Tanyung, dan Desa Tingkem Asli, dengan pusat kegiatan di
Desa Kute Kering. Fungsi yang akan dikembangkan pada BWK Kute
Kering adalah Kawasan Pemerintahan beserta kelengkapannya
seperti sarana dan prasarana penunjangnya, perdagangan dan jasa
skala lingkungan, perumahan, pelayanan umum, kawasan jalur
hijau yang berfungsi sebagai ruang terbuka Hijau Kota.

2. Sistem Pusat Pelayanan Kota.

Berdasarkan volume, intensitas, dan frekuensi kegiatan, serta


ketersediaan fasilitas dan utilitas kota, maka klasifikasi tingkat pusat-
pusat pelayanan dari sitem pusat-pusat pertumbuhan di kawasan
Perkotaan Redelong dapat diuraikan sebagai berikut.

- Jumlah dan kepadatan penduduk

- Kelengkapan fasilitas (pendidikan, kesehatan, peribadatan)

- Tingkat kegiatan ekonomi yang dicerminkan dari kelengkapan


fasilitas perdagangan/pasar, jasa, maupun industri.

Indikator-indikator tersebut merupakan indikator pengukur tingkat


pertumbuhan. Semakin tinggi nilai indicator tersebut, berarti semakin
tinggi tingkat pertumbuhannya. Berdasarkan indikatortersebut, maka
dapat diuraikan Rencana Sistem Pusat Pelayanan di Kawasan
Perkotaan Redelong.

- Pusat Kota, yaitu merupakan jenjang pertama yang berfungsi


sebagai pusat kota dengan kegiatan yang diarahkan adalah
Perdagangan dan Jasa (pelayanan tingkat kabupaten dan regional)
yang dikembangkan di BWK Simpang Tiga.

PT. Sigma
Ekspresi
Laporan Fakta Analisa
II-13
Rencana Teknik Ruang (RTR) Bagian Wilayah Kota Kute Kering Kab. Bener Meriah

- Sub Pusat Kota, merupakan jenjang kedua yang berfungsi sebagai


sub pusat kota dengan kegiatan yang diarahkan adalah Pusat
Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah yang diarahkan pada BWK
Kute Kering.

- Pusat Lingkungan, merupakan jenjang ketiga yang berfungsi


sebagai pusat lingkungan yang mempunyai jangkauan pelayanan
terbatas pada lingkungan itu sendiri (skala pelayanan
lokal/lingkungan) yang dikembangkan pada setiap BWK.

2.2.1. Rencana Pengembangan Penduduk

Pendistribusian penduduk di kawasan perkotaan Redelong, pada tahun 2015


berdasarkan hasil proyeksi diperkirakan berjumlah 37.846 jiwa, yang dibagi
dalam 2 BWK, yaitu BWK Simpang Tiga sebanyak 25.148 jiwa dengan
kepadatan penduduk 10 jiwa/Ha, dan BWK Kute Kering dengan jumlah
penduduk sebanyak 12.698 jiwa, dengan kepadatan penduduk 14 jiwa/ha.

PT. Sigma
Ekspresi