Pendidikan Lingkungan Hidup Kota Bandung, untuk Apa?

(Dimuat Kompas, 8 Februari 2007) Warga kota Bandung, utamanya orang tua murid TK hingga SMU, mungkin harus bersiap merogoh kocek lebih dalam lagi mulai tahun 2007 ini. Pasalnya akan ada mata pelajaran baru berjudul ”Lingkungan Hidup” untuk anak-anak mereka. Dinas Pendidikan Kota Bandung sudah memberlakukan mata pelajaran ini sebagai kurikulum muatan lokal. Ini artinya beban tambahan bagi orang tua: buku-buku baru mungkin harus dibeli, dan pungutan kegiatan sekolah yang berbau-bau lingkungan hidup akan muncul. Selalu ada yang baik dan buruk dari setiap kebijakan baru. Nilai baiknya, kebijakan pemberlakuan mata pelajaran baru ini diniatkan sebagai solusi jangka panjang bagi setumpuk masalah lingkungan hidup yang dihadapi warga kota hari-hari ini: sampah bertebaran di hampir setiap sudut kota, debit air bersih menurun, udara makin panas dan kotor, taman kota hilang berganti dengan pusat perbelanjaan, pepohonan habis berganti dengan pilar bangunan, macet di hampir seluruh ruas jalan. Barangkali karena masalah ini sudah demikian akut maka proses penyusunan dan pemberlakuan kurikulum ini dilakukan dengan serba cepat: dibuat dalam tempo 1-2 bulan dan diberlakukan segera pada tahun ajaran 2006/2007. Kurikulum ini memang punya arti yang cukup penting dari sisi pengembangan praktek kependidikan. Yakni, mematahkan mitos yang selama ini diyakini masyarakat pendidikan bahwa kurikulum lokal harus selalu dimuati dengan mata pelajaran seputar bahasa, dan kesenian daerah. Contoh Sederhana Inisiatif Dinas Pendidikan Kota Bandung juga bisa menjadi contoh sederhana penerapan desentralisasi pendidikan. Daerah boleh menyusun kurikulum versi mereka sendiri berdasarkan situasi khusus daerah yang bersangkutan. Masalah-masalah aktual dan kontemporer semacam lingkungan hidup di tingkat lokal mungkin mendapat tempat dalam kurikulum pendidikan formal. Tapi diluar niat baik itu, kurikulum baru ini masih mengandung sejumlah cacat. Yakni dibangun berdasarkan asumsi dan cara pandang yang keliru tentang apa yang sebenarnya menjadi pokok masalah lingkungan hidup kota ini. Lingkungan hidup dianggap sebagai masalah yang berdiri sendiri, dan kultur masyarakat dianggap sebagai biang keladi kerusakan. Maka perubahan kultur melalui pendidikan formal adalah solusinya. Yang hendak ditransfer kepada anak-anak sekolah adalah adalah kesadaran tentang kebersihan, keindahan dan kelestarian lingkungan hidup kepada anak-anak. Hasil pembelajaran kurikulum ini akan terlihat barangkali sepuluh atau dua puluh tahun kemudian ketika anak-anak ini sudah menjadi warga kota dewasa. Begitu kira-kira asumsi yang dibangun dinas pendidikan kota. Asumsi ini dalam banyak hal berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Kenyataannya adalah kerusakan lingkungan hidup kota Bandung bukan saja

harus disangsikan apakah ia akan memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu. Debit air bersih yang menurun terjadi karena rusaknya daerah tangkapan air. Beeby. Tapi kalau tak banyak berguna. C. ideologi dan kebangsaan: dari penataran P4 puluhan jam. masalah-masalah lingkungan hidup yang berdampak luas dan berskala massif lebih banyak disebabkan oleh buruknya kinerja pelayanan publik pemerintah kota. Barangkali sama seperti dulu ketika anak-anak dicekoki dengan seabrek mata pelajaran tentang moral. Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Misalnya masalah persampahan yang memalukan tempo hari itu. masyarakat sudah rajin membayar retribusi sampah setiap bulan di tempat-tempat pembayaran rekening listrik. Seperti terbaca dari sejumlah kasus. perbaikan kualitas pelayanan publik. kurikulum bekerja di lapangan. hingga Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Implikasi lanjutan dari asumsi yang demikian adalah lingkungan hidup dalam kurikulum didefinisikan sebagai wilayah yang steril. Hendak dikatakan di sini bahwa reinventing government.E.soal kultur. apalagi jika dibangun berdasarkan asumsi-asumsi yang keliru. membangun perilaku. bukan karena perambahan lahan atau penebangan liar oleh penduduk di kawasan itu. lingkungan hidup kota Bandung sudah keburu habis. Lagi-lagi ini bukan soal kultur. lalu untuk apa kurikulum dibuat? *** . Proses itu perlu waktu. Pendidikan lingkungan hidup. tak menyumbang terlalu banyak. Beeby. sementara para guru sibuk mengajar. seolah-olah hanya sekedar mata pelajaran tentang kepencinta-alaman. Hal yang sama juga berlaku untuk soal-soal kemacetan lalu lintas. Jika yang dimaksud dengan kurikulum adalah sekedar daftar mata pelajaran dalam silabus yang dicetak rapi dengan kata pengantar yang muluk. Dari sisi kultur dan perilaku. Yang menjadi soal adalah kebobrokan politik dan manajemen pengelolaan sampah PD Kebersihan dan pemerintah kota. Celakanya sambil menunggu impian itu menjadi kenyataan. green school. selain hanya menunda permasalahan. dalam penelitiannya yang klasik berjudul Assessment of Indonesian Education: A Guide in Planning pada tahun 1979 sudah memberi peringatan soal ini. dan berhenti menetapkan kebijakan publik yang potensial merusak lingkungan kehidupan warga kota jauh lebih efektif.E. tetapi lebih kepada soal kebijakan tata ruang yang terlalu lapar pendapatan asli daerah. Taruhlah kurikulum ini akan berhasil. menanam kembali pohon-pohon. Perlu Waktu Pendidikan memang soal transfer budaya. Begitu kata C. bersih dari kepentingan politik. pelestarian flora dan fauna. atau hilangnya ruang publik dan taman kota. Materi lingkungan hidup dalam kurikulum bersifat konservasionis. atau membuat taman sekolah. dan sepuluh atau dua puluh tahun kemudian Bandung akan diisi oleh warga kota yang sadar lingkungan. dan internalisasi nilainilai baru kepada peserta didik. dan berkembangnya pemukiman-pemukiman mewah di Kawasan Bandung Utara. dan anak-anak mendapat beban mata pelajaran baru.

tetapi 90% warga kota masih tidak peduli dengan pengelolaan sampah rumah tangganya (kalau di rumah saya sudah “zero waste”. selalu saja warga Kota Bandung ini mengeluhkan dan mengkritik banyak hal tentang ketidaknyamanan Kota Bandung. Kota Bandung memperingati Hari Lingkungan Hidup sedunia ini tidak pas pada tanggal 5 Juni yang lalu. Warga kota mengkritik persampahan Kota Bandung. Warga kota mengeluhkan Kota Bandung kekurangan pohon. sampah rumah tidak dibuang ke luar rumah). Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2007 ini Indonesia memilih tema ”Iklim Berubah. Waspadalah terhadap Bencana Lingkungan”. Apa upaya adaptasi ini? Salah satunya adalah membangun kembali iklim mikro Kota Bandung dengan memperbanyak penanaman pohon sebagai pelindung kota. ada 10 pohon lebih). misalnya: Kota Bandung semakin panas dan berdebu.HARI LINGKUNGAN DI KOTA BANDUNG Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 5 Juni telah ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1972. Tetapi kalau kemudian kita balik bertanya kepada diri kita masingmasing: Apa yang telah kita lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini? Apa yang telah anda lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini? Ambil contoh tentang sampah Kota Bandung. kalau mengurangi dampak perubahan iklim dengan adaptasi. Kalau mengurangi ancaman bencana dengan mitigasi. Kemudian tiap tahun di tiap negara di dunia ini memperingati Hari Lingkungan ini dengan tujuan menanamkan kesadaran bahwa kehidupan akan berkelanjutan. Perubahan iklim telah menyebabkan berbagai persoalan lingkungan seperti perubahan pola curah hujan yang telah mengakibatkan banjir dan longsor ataupun musim kemarau berkepanjangan. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita harus melakukan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim ini. Kota Bandung kekurangan pohon. Kota Bandung lautan sampah. dan lain-lainnya. Iklim mikro adalah iklim yang terdapat disekitar dan dibawah rerimbunan . bila lingkungan hidup ini kita lestarikan. Tidak apaapa. Apakah benar iklim herubah? Hasil penelitian para ahli iklim memang mengatakan iklim sedang berubah. Kota Bandung sungainya sekarat. serta munculnya berbagai macam penyakit menular. karena pada hakekatnya setiap hari kita harus sadari sebagai pelaksanaan hari lingkungan. Kalau kita membaca dan mendengar berita di media massa. Hampir seluruh warga mengkritik perihal lingkungan Kota Bandung yang kita cintai ini. tetapi faktanya Ruang Terbuka Hijau Privat Kota Bandung (yaitu Ruang Terbuka Hijau di halaman atau pekarangan milik warga) masih sangat minim (kalau di halaman rumah saya.

Seluas 20% harus dibangun oleh Pemerintah Kota disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik. budaya lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi budaya seluruh warga Kota Bandung untuk mewujudkan visi Kota Bandung menjadi Kota Jasa yang Bermartabat. yang diisi oleh tanaman. sisanya 10% harus dibangun oleh warga di halaman atau pekarangan milik warga disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau Privat. sehingga banyak pengunjung menikmati suasana kesegaran kota. yang proporsi luasannya ditetapkan paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Kota Bandung telah berupaya menjalankan politik pro lingkungan melalui berbagai program antara lain menjaring aspirasi masyarakat terhadap lingkungan (jasmara lingkungan). Yang masih harus terus ditekankan kepada warga Kota Bandung adalah supaya setiap warga Kota Bandung: mau atau tidak mau. Tegallega menjadi kawasan dengan iklim mikro yang baik. 26 Th. baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. semakin banyak pohon akan semakin handal iklim mikro kota. Secara khusus UU ini mengamanatkan perlunya penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di perkotaan. harus mau berbudaya lingkungan. Adaptasi terhadap perubahan iklim ini telah tersirat dalam UU No. Menurut saya.pohon itu sendiri. menjalankan konsep pendidikan lingkungan di sekolah melalui muatan lokal lingkungan hidup. . Walaupun masih ada kendala di sana-sini. 2007 tentang Penataan Ruang. suka atau tidak suka. dan diyakini dapat menjadi benteng terhadap dampak perubahan iklim. Seperti kita lihat sekarang.