Anda di halaman 1dari 6

Wilayah Perbatasan, ‘NKRI’ dan Wacana

Nasionalisme

Dave Lumenta
Pusat Kajian Antropologi (PUSKA Antropologi) - FISIP UI

“Salah satu permasalahan di perbatasan adalah lunturnya rasa


nasionalisme masyarakat di perbatasan” (Rencana Induk Pengelolaan
Perbatasan Negara, Bappenas 2004)

Wilayah perbatasan dari sudut kepentingan negara sering dilihat sebagai


titik persinggungan antara kepentingan kedaulatan nasional dan negara
tetangga, dan karena itu sering dianggap sebagai sebuah wilayah yang
‘rawan’, sebuah halaman belakang (atau depan) yang harus dijaga dari
ancaman luar.

Publik dan media massa pun cenderung memperhatikan wilayah


perbatasan dari persoalan ancaman yang sifatnya eksternal, seperti illegal
logging, penyelundupan manusia, pencurian kekayaan alam maupun
penyerobotan wilayah.1 Sebagai akibatnya, wilayah perbatasan selalu
difahami secara militeristik: difahami secara hitam putih dan didekati
dengan tingkat kecurigaan. Ini hanya merupakan satu sisi dari realita
perbatasan yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan berwarna. Mobilitas
maupun asosiasi lintas-negara yang kerap dilakukan komunitas-komunitas
di perbatasan sering ditafsirkan sebagai gejala yang menyimpang,
sebagai tanda ‘lunturnya rasa nasionalisme’ di perbatasan. (cf. Bappenas
2004) Masyarakat perbatasan selalu dilihat dengan rasa curiga.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki perbatasan


internasional terbanyak di Asia Tenggara.2 Masyarakat yang tidak pernah
melihat atau merasakan hidup di wilayah perbatasan sering
membayangkan bahwa batas negara adalah sesuatu yang ajeg dan pasti.
Bayangan tentang perbatasan dipenuhi dengan imaji-imaji tentang sebuah
pagar yang memanjang. Jarang disadari bahwa perbatasan negara
hanyalah kumpulan-kumpulan garis imajiner yang digambarkan di atas
peta. Ironisnya, garis-garis ini dianggap sakral, baku dan memiliki
kekuatan legal-formal untuk memisahkan kedaulatan teritorial, politis,
ekonomi dan hukum yang membedakan negara satu dari yang lainnya.
Secara budaya, garis perbatasan dipercayai sebagai pembeda identitas
nasional masyarakat negara yang satu dari yang lainnya. Pengetahuan
awam masyarakat Indonesia tentang kesakralan wilayah Indonesia tidak
dapat dipisahkan dari kurikulum pendidikan nasional yang diterjemahkan
dalam pelajaran-pelajaran geografi, kewarganegaraan yang membentuk
persepsi geopolitis anak sejak dini.

1
Obidzinski, et.al. (2005) justru menunjukkan bahwa skala persoalan illegal logging di perbatasan
sangat tidak signifikan dibandingkan masalah illegal logging di dalam wilayah Indonesia sendiri yang
jauh lebih besar.

2
Selain berbatasan di darat dengan Malaysia, Timor Leste dan Papua Niugini, Indonesia memiliki
persinggungan perbatasan maritim maupun batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan Singapura,
India, Thailand, Vietnam, Filipina, Palau, Australia maupun wilayah Pasifik Barat di bawah mandat
Amerika Serikat.
Narasi ideologis negara telah membentuk dan membakukan pemahaman
umum bahwa seolah-olah kesatuan dan keajegan wilayah Indonesia telah
ada sejak dulu (misalnya, kesinambungan Indonesia sebagai turunan
teritorial kerajaan Majapahit - sebuah klaim yang secara akademik maish
dipertanyakan) dan bahwa rakyat Indonesia sudah ‘ditakdirkan’ untuk
bersatu sebagai sebuah bangsa sejak zaman dahulu kala. 3 Narasi-narasi
ini membentuk wacana atau ideologi apa disebut oleh Anderson (1983)
sebagai imagined communities. Representasi visual dari negara adalah
peta (‘tidak ada wilayah, tidak ada negara’)

Perbatasan yang Memotong Ruang Ruang Sosial yang Cair

Proses terbentuknya negara-bangsa (nation-state) di Asia Tenggara


adalah konsekuensi dari pembagian teritori wilayah di masa kolonial.4 Para
penguasa kolonial membagi Asia Tenggara antara abad 19-20
berdasarkan kepentingan ekonomi-politik mereka.5 Ini semua diratifikasi
jauh di London, Paris atau pun Den Haag, tanpa sepengetahuan para
subyek-subyek jajahan mereka. Ketika Belanda dan Inggris menetapkan
perbatasan di pulau Kalimantan, sebuah proses yang memakan waktu
hampir seratus tahun (dari 1846 hingga 1930), mereka lebih terfokus
pada pembagian daerah aliran sungai (DAS).6 Dengan kata lain,
pertimbangan kultural, agama, linguistik, pola mobilitas maupun formasi-
formasi hubungan sosial maupun jaringan perdagangan tradisional tidak
pernah menjadi dasar bagi penentuan batas negara.

Batas-batas negara Asia Tenggara dewasa ini tidak pernah dapat


berpotongan dengan batas-batas sosial-kultural secara persis. Fakta ini
menyebabkan banyaknya kelompok etnis maupun hubungan-hubungan
sosial-ekonomi di Asia Tenggara yang masih tersebar secara lintas batas.
Dengan kata lain, garis perbatasan-lah yang sebenarnya ‘melanggar’
teritori sosial, budaya, ekonomi dan ekologi yang dilaluinya.

Banyak kelompok etnis di Indonesia yang penyebarannya juga mencakup


wilayah negara tetangga karena ruang sosial tradisional juga melampaui
batas negara. Selain batas-batas negara yang membelah dan ‘melanggar’
ruang-ruang hidup komunitas setempat, kondisi Asia Tenggara yang
sangat cair di masa lalu (sebelum negara ada) menyebabkan banyak
munculnya komunitas-komunitas diaspora yang tersebar di beberapa
negara. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa hubungan kultural
maupun sosial di Indonesia memiliki batas yang berbeda dengan batas
formal NKRI. Apakah ini menjadi persoalan – atau justru sebuah aspek
3
Lihat Anderson, B. R. O’G., Imagined Communities, 1983.

4
Sebagai contoh, wilayah Malaysia, Vietnam, Kamboja, Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste maupun
Filipina dewasa ini adalah warisan wilayah administratif yang ditinggalkan oleh Inggris, Perancis,
Belanda, Portugal, Jerman (di Papua) dan Amerika Serikat.

5
Sebagai contoh, perbatasan di Kalimantan ditentukan secara sepihak oleh Belanda pada tahun 1846,
dan akhirnya dinegosiasikan dengan Inggris melalui perundingan yang berjalan sejak 1891 hingga
diratifikasi melalui Traktat London pada 1915.

6
Lihat “Convention Between Great Britain and the Netherlands Defining Boundaries in Borneo - Signed
at London, June 20, 1891” in Staatsblad van het Koninkrijk der Nederlanden, No. 211, 1892; Staatsblad
No. 145, 1916; Openbaar Verbaal No. 85, 1 April 1922, ARA; Openbaar Verbaal No. 50, 27 April 1923,
ARA; Openbaar Verbaal No. 11, 16 August 1930, ARA; Staatsblad No. 86, 1930.
kebhinekaan yang terlupakan?

Kelompok-kelompok Etnik Lintas Batas: Indonesia & Asia Tenggara

Kelompok Indone Malay Filipi Thail Timor PN Myan


Etnis sia sia na and Leste G mar

Melayu
Bajau-Sama
Orang Laut
Bugis*
Dayak Iban
Dayak Lun
Dayeh
Dayak Kayan
Dayak Kenyah
Punan
Tagol - Murut
Bidayuh
Tidong
Sangir
Mandailing*
Aceh*
Dawan / Atoni
Tetum
Wutung
Manem
Yey
Moraori
Kati
Boazi
Ngalum
Teochew*
Hokkien*
Hakka - Khek*
Kanton*
Jawa*
Minang*
Catatan: * kelompok-
kelompok diasporik

Perbatasan sebagai Wilayah Kontestasi Ruang


Narasi resmi negara ini sering mengaburkan fakta bahwa Indonesia
sesungguhnya dibangun di atas keanekaragaman wilayah sosial-budaya
yang sebelum tahun 1945 tidak pernah mengenal konsepsi tentang
negara modern, apalagi batas-batas negara. Dengan kata lain, negara
Indonesia dan identitas sebagai ‘orang Indonesia’ adalah sesuatu yang
baru dan asing. Sebagai contoh, masyarakat Dayak Kenyah di perbatasan
Kalimantan Timur baru mengenal Indonesia sejak 1963.

Jika negara memiliki pemahaman tentang wilayah, identitas dan


penggunaan ruang yang statis, komunitas-komunitas di perbatasan
memiliki pemahaman dan konsepsi teritorial yang dinamis. Ini yang sering
menyebabkan mobilitas dan interaksi lintas-batas yang dilakukan
masyarakat perbatasan dianggap tidak kompatibel dengan konsepsi
teritorial maupun kewarganegaraan yang dianut oleh negara. Ruang sosial
dan ruang negara memiliki dinamika dan posisi subyektifitas yang
tumpang tindih tapi juga sering berbeda.7

Di Kalimantan, suku-suku Dayak Kenyah sejak dulu selalu bermigrasi


sebagai bentuk adaptasi terhadap ekologi, jaringan perdagangan dan
tekanan penduduk, dan ini dilakukan dengan berpindah-pindah antar
sungai di Kalimantan dan Sarawak. Ketika garis batas ditetapkan di masa
kolonial, Belanda berusaha keras menghentikan praktek-praktek migrasi
ini, dan ingin memaksa suku-suku Dayak Kenyah yang ada di wilayah
Apokayan untuk tidak lagi membuka ladang dan berdagang di Sarawak.
Usaha ini tidak sepenuhnya berhasil karena Belanda tidak berhasil
menawarkan alternatif pendapatan yang lain. Pemerintah Indonesia di
Kalimantan Timur dewasa ini juga menghadapi persoalan yang sama.
“Pemerintah bilang bahwa kami tidak boleh lagi seenaknya bepergian ke
Sarawak. Tapi biar bagaimana pun, nenek moyang kami berasal dari
Sarawak, dan masih ada tanah-tanah kami di sana. Kalau pemerintah mau
melarang kami ke sana, itu sama dengan merampas kami punya
sejarah !”, ucap seorang ketua adat di Apokayan.8

Sebagai contoh lain, wilayah kepulauan Riau sejak pertengahan abad 19


telah terintegrasi secara penuh dengan perekonomian Malaya, Kesultanan
Johor dan Singapura. Ketika Kepulauan Riau secara resmi menjadi bagian
dari Indonesia, pemerintah tidak mampu begitu saja memutus hubungan
historis ekonomi pulau Karimun dan Bintan dengan Singapura. Mata uang
Straits Dollar bahkan tetap boleh berlaku sebagai alat transasksi yang sah
(bahkan untuk membayar gaji resmi pegawai negeri Indonesia) hingga
1963. Hingga awal 1980an, kebijakan ketenagakerjaan maupun
keimigrasian yang longgar masih memungkinkan para perantau dari
kepulauan Riau mendapat pekerjaan ‘kelas menengah’ di Malaysia seperti
karyawan perusahaan, supir taksi atau wiraswasta (seperti membuka
kedai makan, bengkel). Tidak sedikit etnis Melayu dari Kepulauan Riau
yang berhasil memperoleh kewarganegaraan Malaysia hingga
pertengahan 1985an. Proses ‘proletarisasi’ di bawah skema
ketenagakerjaan antara RI-Malaysia yang hanya membuka sektor
perkebunan sawit, industri (‘kilang’) maupun sektor domestik (mis.
pembantu rumah tangga) bagi penampungan tenaga kerja Indonesia
7
Lihat Migdal, J., 2004. Boundaries and Belonging: States and Societies in the Struggle to Shape
Identities and Local Practices. Cambridge: Cambridge University Press.

8
Wawancara dengan PeBit Imang, Long Temuyat, Mei 2001.
sebagai buruh berupah rendah, telah mengurangi daya tarik Malaysia
sebagai tempat tujuan kerja bagi banyak remaja Melayu di Riau. Sebagai
akibatnya, banyak remaja di kepulauan Riau sudah tidak memiliki
pengetahuan maupun modal sosial lintas-batas seperti halnya generasi-
generasi sebelumnya, dan tidak lagi menikmati akses mobilitas sosial ke
Singapura dan Malaysia. Negara melalui kebijakan perbatasan yang
semakin formal telah merampas kosmopolitanisme dan akses mobilitas
sosial para pemuda di Riau.9

Berbagai usaha pemerintah dalam menegakkan kedaulatan ‘NKRI’ melalui


kebijakan perbatasan yang ketat dan reduksionistis dalam hal ini sering
bertabrakan dengan kedaulatan ekonomi-sosial-budaya komunitas-
komunitas masyarakat di perbatasan. Apakah NKRI dan nasionalisme
Indonesia harus selalu muncul dalam bentuk yang represif di perbatasan?

NKRI, Nasionalisme

Proses terbentuknya nasionalisme Indonesia sebagai sebuah ideologi


‘komunitas imajiner’ telah diulas oleh Anderson (1983). Satu keunikan dari
perumusan nasionalisme Indonesia pada tahun 1945 adalah karakternya
yang progresif pada masanya: inklusif dan berorientasi ke depan. Para
pendiri negara ini selama masa persidangan BPUPKI pada tahun 1945
menyadari bahwa tingginya keragaman kelompok etnik, bahasa,
kepercayaan dan sejarah lokal tidak memungkinkan Indonesia dibentuk
diatas identitas tunggal berdasarkan ‘etnik’ (mis. seperti Jepang, Jerman),
monarki (mis. Thailand) atau mitos-mitos tentang warisan kerajaan di
masa lalu. Dominasi pemikiran Marx di antara para pendiri negara
Indonesia, terutama Sukarno, mengarahkan mereka untuk mencari format
nasionalisme yang melihat keIndonesiaan dalam bingkai pengalaman
materialisme historis dan analisis kelas, yaitu melalui kesadaran bahwa
pengikat utama keragaman kelompok-kelompok etnik di Indonesia adalah
pengalaman bersama sebagai korban kolonialisme, kesamaan sejarah
sebagai subyek jajahan di bawah Hindia-Belanda.10 Pada tahun 1940-50an,
ada kesadaran kritis bahwa Indonesia merupakan kontrak sosial yang
masih berada dalam proses untuk diwujudkan (‘revolusi belum selesai’).

Substansi dari nasionalisme Indonesia sebagai sebuah kontrak sosial


dengan jelas dijabarkan dalam Pembukaan UUD’45. Kontrak sosial ini
mengandung kesepakatan bahwa tujuan proyek Indonesia didirikan
adalah untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang adil dan makmur,
yang tidak mungkin terwujud dibawah kolonialisme. Tugas terpenting
negara Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
9
Lihat Lumenta & Juniarenta (2009), “Menjadi Remaja di Perbatasan: Studi Kasus di Pulau Karimun,
Kepulauan Riau.”

10
Lihat J.A. Scholte (1997), “Identifying Indonesia”, dalam Images of Malay-Indonesian Identity, M.
Hitchcock & V.T. King (ed.), Kuala Lumpur: Oxford University Press, pp. 1-18. Ini pula yang
menjelaskan mengapa para pendiri negara Indonesia tidak pernah merancang masuknya Timor
Portugis ke dalam proyek negara Indonesia, yang notabene memiliki persamaan kultural dengan
wilayah Nusa Tenggara (Mohammad Hatta-lah yang sangat rajin mengingatkan para anggota BPUPKI
yang lain agar negara Indonesia jangan terjebak politik ekspansionisme semata-mata karena alasan
kesamaan etnik - seperti yang dilakukan oleh Nazi Jerman - yang justru akan menegasikan substansi
dari nasionalisme Indonesia itu sendiri). Sebaliknya, penjajahan Belanda atas Papua dilihat sebagai
legitimasi untuk memasukkan Irian Barat sebagai bagian dari proyek negara Indonesia, karena sama-
sama dijajah oleh Belanda. Di sisi lain, rakyat Aceh memutuskan untuk secara sukarela bergabung
dengan negara Indonesia - karena rakyat Aceh tidak pernah merasa bahwa mereka sukses dijajah oleh
Belanda.
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial. Dengan kata lain, terwujudnya pelayanan sosial yang berkeadilan
adalah tugas terpenting negara Indonesia.

Dalam perkembangan sejarah Indonesia, pembahasan tentang kontrak


sosial ini semakin dilupakan dari wacana ‘nasionalisme’ Indonesia.
Nasionalisme dikerdilkan dan diterjemahkan sebatas hal hal yang
kosmetik, seperti ‘menjaga martabat bangsa’, ‘menjaga keutuhan NKRI’,
‘menjaga baik nama bangsa’, ‘cintailah batik’ dan sebagainya.

Masyarakat perbatasan memiliki posisi unik untuk melihat dan mengkritisi


negara Indonesia yang telah gagal dalam memenuhi kewajiban kontrak
sosialnya. Hal ini terutama dimungkinkan karena masyarakat perbatasan
memiliki kemampuan untuk membandingkan pelayanan sosial yang
diberikan oleh lebih dari satu negara. Banyaknya masyarakat perbatasan
di Kalimantan yang memilih berobat atau bersekolah gratis ke Malaysia
bukanlah wujud dari lunturnya rasa nasionalisme mereka, tapi merupakan
pilihan kritis yang didorong oleh kegagalan negara Indonesia sendiri
dalam memenuhi kontrak sosialnya: mahalnya pelayanan kesehatan,
kurangnya guru, tidak kontekstualnya materi pendidikan dan kebijakan.
Pada tahun 1984 beberapa kepala desa suku Kenyah mengancam Bupati
Bulungan bahwa mereka akan membawa kampung-kampung mereka
pindah ke Sarawak jika pemerintah masih saja memaksakan program
RESPEN dan penyatuan desa. Mereka memiliki alasan kuat untuk menolak
kebijakan negara yang sama sekali tidak mensejahterakan rakyatnya.11

Penutup

Kritik paling berharga yang bisa diberikan masyarakat perbatasan pada


kita yang hidup di pusat negara adalah bahwa negara perlu dinilai dan
diawasi dari seberapa besar komitmennya pada pelayanan sosial
rakyatnya yang merupakan kewajiban paling azasi dari negara.
Masyarakat di perbatasan lah yang memiliki pandangan yang paling jernih
soal bagaimana loyalitas buta pada nasionalisme menjadi tidak relevan
ketika negara gagal dalam pemenuhan kesejahteraan rakyatnya. Selain
itu, bias ideologis yang selalu menempatkan masyarakat perbatasan
sebagai ‘pengkhianat’ nasionalisme dan NKRI perlu diluruskan. Apakah
betul tingkat nasionalisme seorang penduduk perbatasan yang memakai
uang ringgit hanya untuk berbelanja sabun cuci di Malaysia lebih rendah
dibandingkan seorang anggota DPR atau menteri di Jakarta yang
menyimpan ribuan uang dollar dalam rekening bank multinasional?

Menjaga keutuhan NKRI tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat Indonesia


harus diseragamkan. Bukankah lebih penting mengawal tujuan NKRI
didirikan dibandingkan bentuk fisiknya semata?

11
Interview dengan Camat Kayan Hulu, Long Nawang, Mei 2000.