Anda di halaman 1dari 110

MODUL

“PERPAJAKAN”

D3 KEUANGAN DAN PERBANKAN

PENYUSUN :

ADIYAS, SE.,MM.

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL


“VETERAN” JAKARTA
Jl.RS. Fatmawati, Pondok Labu Jakarta Selatan 12450
 021 – 7692856

2010
MODUL

“PERPAJAKAN”

D3 KEUANGAN DAN PERBANKAN

PENYUSUN :

ADIYAS,SE,MM

Nama Mahasiswa :
Nomor Pokok Mahasiswa :
Semester / Kelas :
Nama Dosen :

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL


“VETERAN” JAKARTA
Jl.RS. Fatmawati, Pondok Labu Jakarta Selatan 12450
 021 – 7692856

2010
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha


Esa, atas Rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan Modul
Perkuliahan Perpajakan ini.
Modul Perkuliahan Perpajakan ini berisi ringkasan materi
perpajakan yang sudah disesuaikan dengan Satuan Acara Perkuliahan,
sehingga diharapkan dapat menunjang pencapaian kompetensi keahlian
yang diinginkan.
Penyusun menyadari bahwa modul ini belum sempurna, karena
itu saran dan kritikan dari semua pihak sangat diharapkan guna perbaikan
di masa mendatang.
Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu hingga
tersusunnya modul ini.
Terakhir penyusun berharap semoga modul ini bermanfaat bagi
mahasiswa Program D3 Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi
khususnya dan umumnya bagi paca pembaca sekalian.

Jakarta, Januari 2010

Penyusun

Adiyas, SE.,MM.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

Gambaran Umum UU PPh ……………………………………. 1


Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 21 …………. 11
Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 22 …………. 23
Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 23 …………. 36
Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 24 …………. 42
Kebijakan dan Teknis Perhitungan Penilaian Persediaan,
Penjualan dan Pengalihann Harta ......................…….....…. 47
Kebijakan dan Teknis Perhitungan Penyusutan,
dan Amortisasi Aktiva .........................................……….…. 61
Kebijakan dan Teknis Perhitungan Pajak yang Terutang
(khusus WP Orang Pribadi) ...................................…………. 67
Teknis Perhitungan PPN dan PPnBM .................................. 74
Kebijakan Umum Mengenai PBB ……………………………. 84
Kebijakan Umum Mengenai Bea ……………………………. 90
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan..................... 97

ii
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 1
MODUL PERTEMUAN I
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
GAMBARAN UMUM UNDANG-UNDANG PPh

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Pajak Penghasilan (PPh) merupakan salah satu sumber


penerimaan negara yang berasal dari penghasilan masyarakat. Dalam
proses pemungutan perlu diatur dengan UU agar dapat memberikan
kepastian hukum, sesuai dengan kehidupan dalam negara demokrasi
Pancasila. Dalam sistem peraturan perpajakan yang lama, pengenaan
pajak atas penghasilan diatur dalam beberapa UU, yaitu : Ordonansi
Pajak Perseroan 1925, Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, UU Pajak atas
bunga. Dividen dan Royalti 1970, UU No. 8 tahun 1967.
Sejak akhir tahun 1983 pemerintah mengadakan pembaharuan
peraturan perpajakan di Indonesia/Reformasi perpajakan Maksud dari
pembahuruan pajak itu adalah umtuk menyederhanakan struktur pajak,
seperti jenis-jenis pajak, tarif dan cara pemenuhan kewajiban pajak.
Sistem pemungutan pajak lebih banyak memberikan tanggung jawab
perpajakan pada diri wajib pajak (WP), dengan menganut simtem self-
assesment. UU Perpajakan itu meliputi: UU no. 7 tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan (PPh).
Dalam UU Pajak Penghasilan ini mengatur materi pengenaan
pajak yang pada dasarnya meliputi: subjek pajak (siapa yang akan
dikenakan ), objek pajak (apa yang dikenakan atau penyebab pengenaan

1
pajak) dan tarif pajak sebagai cara penentuan jumlah pajak.Tarif pajak
ditetapkan secara wajar berdasarkan prinsip-prinsip pemerataan dalam
pamungutan pajak dan keadilan dalam pembebanan pajak. Struktur tarif
disederhanakan dan bersifat progresif, artinya semakin tinggi penghasilan
semakin tinggi pula persentase tarif pajak.Sedangkan tatacara
pungutannya diatur dalam UU tersendiri, yaitu dalam UU no.6 Tahun
1983. Tarif untuk orang Pribadi/Perseorangan sama dengan tarif untuk
Badan dengan tingkat tarif maksimal yang lebih rendah daripada tarif
lama.

B. KEBAIKAN-KEBAIKAN SISTEM PERPAJAKAN YANG BARU

Ada bebrapa kelebihan atau kebaikan pada penerapan sistem


perpajakan yang baru, antara lain :
a. Serderhana, bagi Wajib Pajak (WP) akan mudah melakukan
penghitungan jumlah pajak yang harus dibayarnya. Demikian juga bagi
Kantor Pajak, akan mudah menguji perhitungan pajak yang dilakukan
oleh WP.
b. Adil dan merta, tarf pajak diberlakukan sama terhadap tingkat
penghasilan yang sama dari manapun penghasilan itu diterima atau
diperoleh.
c. Meningkatkan kepatuhan wajib pajak, tarif marginal tertinggi adalah
35%. Hal ini akan meningkatkan kesediaan WP untuk membayar
pajak. Meningkatkan kerelaan membayar dan bertambah mudahnya
bagi administrasi pajak untuk menguji akan lebih meningkatkan
kepatuhan WP.
d. Mengurangi pengalihan penghasilan dari badan kepada perorangan
atau sebaliknya sebab pengalihan semacam itu tidak memberikan
manfaat kepada wajib pajak.

2
C. PERBEDAAN SISTEM LAMA DAN SISTEM BARU

Adapun perbedaan sistem perpajakan lama dan sistem baru


mencakup hal-hal berikut ini :

No Bidang Sistem Lama Sistem Baru

1. Struktur peraturan a. peraturan pajak a. disederhanakan


sangat beraneka dengan
ragam sehingga memberlakukan
membingungkan satu peraturan
wajib pajak. PPh.
b. adanya b. Mengeliminir
pembebanan adanya pajak
pajak berganda. berganda.
c. ada beberapa c. hanya ada satu
jenis pajak. jenis pajak.
d. sudah d. Untuk
ketinggalan menyesuaikan
jaman. dengan
Hak & kewjiban perkembangan
WP tidak jelas. zaman.
Hak & kewajiban
WP jelas.

2. Sistem pemungutan a. sangat a. ditentukan


tergantung pada oleh WP
aparat sendiri
perpajakan
b. Official
assessment. b. self assessment.

3
3. Tata cara pemungutan a. berbelit-belit a. lebih sederhana
b. pengisian SPT b. pengisian SPT
hanya sebagai sebagai tindakan
laporan Hk
c. hasil pemungutan c. WP menghitung &
pajak tidak menyetorkan
memadai pajak sendiri
d. WP diperlukan WP diperlakukan
sebagai “objek” sebagai “subjek”

4. Tarif Pajak a. tarif pajak a. tarif pajak berlaku


berbeda antara untuk WP badan &
WP badan & WP WP perseorangan
perseorangan b. tarif pajak
b. tarif pajak cukup diturunkan
tinggi c. menghapus
c. ada berbagai segala bentuk
bentuk insentif insentif pajak
pajak

D. DASAR-DASAR PERPAJAKAN

Definisi dan unsur pajak menurut Prof. Dr. Soemitro, SH. adalah
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.

4
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki
unsur :
1. Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanya
negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan Undang-undang Pajak dipungut atau dengan kekuatan
Undang-undang, serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara
langsung dapat ditunjukkan. Dalam pembayaran pajak tidak dapat
ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh Pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Negara, yakni
pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Adapun fungsi pajak ada dua, yaitu :


1. Fungsi budgeter, pajak merupakan sumber dana bagi pemerintah
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara.
2. Fungsi regulerend (mengatur), pajak sebagai alat untuk mengatur
atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan
ekonomi.

Contoh :
a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras (label
merah) untuk mengurangi konsumsi minuman keras.
b. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah
untuk mengurangi gaya hidup mewah.
c. Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0% untuk mendorong
ekspor produksi Indonesia di pasaran dunia internasional.

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau


perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
1. Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan) sesuai hukum.

5
2. Pemungutan pajak, berdasarkan Undang-undang (syarat yuridis). Di
Indonesia diatur dengan UUD 45, pasal 23 ayat 2 : memberi jabatan
hukum untuk menyatakan keadilan, baik negara dan warganya.
3. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis).
4. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansial).
5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana.

Sedangkan hukum perpajakan dapat dikelompokan menjadi


Hukum Pajak Materil dan Hukum Pajak Formil :
1. Hukum Pajak Materil (langsung), yaitu pajak yang dipikul sendiri oleh
WP dan tidak dapat dibebankan/dilimpahkan kepada orang lain,
seperti Pajak Penghasilan (PPh).
2. Hukum Pajak formil, memuat bentuk/tatacara untuk mewujudkan
hukum materil menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak
materil).

E. PENGELOMPOKAN PAJAK

1. Menurut Golongannya :
a. Pajak langsung, yaitu pajak harus dipikul sendiri oleh WP
dan tidak dapat dibebankan/dilimpahkan kepada orang lain,
seperti Pajak Penghasilan (PPh).
b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya
dapat dilimpahkan kepada orang lain, seperti Pajak Pertambahan
Nilai (PPN).

2. Menurut Sifatnya :
a. Pajak subjektif, yaitu pajak yang bepangkal/berdasarkan
pada subjeknya dalam arti memperhatikan keadaan diri WP,
seperti PPh.

6
b. Pajak objektif, yaitu pajak yang bepangkal/berdasarkan
pada objeknya, tanpa memperhatikan kedaan diri WP, seperti
PPN dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

3. Menurut Lembaga Pemungutannya :


a. Pajak Pusat, dipungut oleh Pemerintah Pusat dan
digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Negara, seperti PPN
& PPnBM, PBB dan Bea materai.
b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh PEMDA dan
digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Daerah.
Pajak Daerah terdiri atas :
- Pajak DATI I (Propensi), seperti Pajak Kendaraan Bermotor
dan Bea Balik Nomor (BBN) Kendaraan Bermotor.
- Pajak DATI II (Kota Madya/Kabupaten), seperti Pajak
Pembangunan, Pajak Penerangan Jalan, dan Pajak Bangsa
Asing (WNA).

F. TATACARA PEMUNGUTAN PAJAK

1. Stelsel Pajak :
Pemungutan pajak dapat dilakukan atas 3 stelsel :
a. Stelsel nyata (riel stelsel).
Pengenaan pajak atas dasar objek (penghasilan yang nyata),
sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun
pajak.
b. Stelsel Anggapan (fictieve Stelsel).
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur
oleh UU misal : penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan
tahun sebelumnya.

7
c. Stelsel Campuran.
Merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan anggapan, Pada
awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan,
kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan
keadaan yang sebenarnya.

2. Azas Pemungutan Pajak :

a. Azas domilisi (azas tempat tinggal).


Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan WP yang
bertempat tinggal diwilayahnya.
b. Azas sumber.
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang
bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal
WP.
c. Azas Kebangsaan.
Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.
Missal : pajak bangsa asing (WNA). Atas azas ini berlaku WP luar
negeri.

3. Sistem Pemungutan Pajak :

a. Offcial Assessment system.


Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang
kepada Pemerintah (fiscus) untuk besarnya pajak yang terutang
oleh WP.
b. Self Assessment Syatem.
Adalah suatu sistem pemungutan pajak memberi wewenang
kepada WP untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang
terutang.

8
c. With Holding Syistem .
Adalah suatu sistem pemungutan pajak memberikan wewenang
kepada pihak ketiga (bukan fiscus dan bukan WP bersangkutan)
untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh WP.

G. TIMBUL DAN HAPUSNYA HUTANG PAJAK

Ada 2 ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak :


1. Ajaran Formil, Utang pajak tibul kaena dikeluarkannya Surat
Keterangan Pajak (SKP) Oleh fiscus. Ajaran ini diterapkan kepada
official assessment system.
2. Ajaran Materil, Utang pajak timbul karena U.U seseorang dikenai
pajak karena keadaan dan perbuatannya. Ajaran ini diterapkan pada
seassessment System.

Sedangkan hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa


hal, yaitu hambatan terhadap pemungutan pajak yang dikelompokan :
1. Perlawanan Pasif .
Masyarakat enggan (pasif ) membayar pajak, yang dapat disebabkan
antara lain :
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
b. Sistem perpajakan yang mungkin sulit dipahami
masyarakat.
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan / dilaksanakan
dengan baik.

2. Perlawanan Aktif.
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditujukan kepada fiscus dengan tujuan untuk menghindari
pajak, bentuknya antara lain :
a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan
tidak melanggar undang-undang.

9
b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan
cara yang melanggar undang-undang. ( menggelapkan pajak ).
H. TARIF PAJAK

Ada 4 tarif pajak, yaitu :


1. Tarif sebanding/proporsional, dikenai pajak, sehingga besarnya
pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai
pajak contoh : untuk penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) didalam
daerah pajak akan dikenakan PPN sebesar 10%.
2. Tarif tetap, tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap
berapapun jumlah yang dikenai pajak yang terutang tetap.
Contoh : Besar tarif bea materai untuk cek dan bilyet giro dengan
nilai berapapun adalah Rp. 1.000,- sekarang naik sejak
tanggal 1 Mei 2000 menjadi Rp.3.000,- dan Rp.6.000,-
3. Tarif Progresif, persentase tarif yang digunakan semakin besar bila
jumlah yang dikenal pajak semakin besar.
Contoh : pasal 17 UU.PPh tahun 1995.
Lapisan penghasilan Kena Pajak (PKP) Tarif
- Sampai dengan Rp.25.000.000,- 10%
- Rp. 25.000.000,- – Rp.50.000.000,- 15%
- diatas Rp.50.000.000,- 30%
Menurut kenaikan persentase Tarif Progresif dibagi :
a. Tarif Progresif Progresif, kenaikan persentase semakin besar.
b. Tarif Progresif Tetap, kenaikan persentase tetap.
c. Tarif Progresif Degresif, kenaikan persentase semakin kecil.
Dengan demikian, tarif pajak menurut pasal 17 UU.PPh tersebut
diatas termasuk Tarif Progresif Progresif.
4. Tarif Degresif, persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila
jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

10
Referensi : UU. No.7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah menjadi
UU. No. 10 tahun 1994 dan diteruskan dengan UU. No. 26
tahun 2000

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 2
MODUL PERTEMUAN II & III
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PEMOTONGAN PPh PASAL 21

ADIYAS, SE, MM.

A. PENGERTIAN PAJAK PENGHASILAN (PPh)

Pajak Penghasilan (PPh) mengandung 2 pengertian. Pertama


mengenai arti pajak itu sendiri dan kedua arti penghasilan. Pengertian
pajak secara bebas sebagai suatu kewajiban kenegaraan berupa
pengabdian serta peran aktif Warga Negara dan anggota masyarakat
untuk membiayai keperluan Negara yang berupa Pembangunan Nasional
yang pelaksanaannya diatur dalam UU dan Peraturan-peraturan untuk
tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.

Sedangkan Penghasilan adalah jumlah uang yang diterima atas


usaha yang dilakukan orang perorangan, badan dan bentuk usaha lainnya
yang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi seperti mengkonsumsikan
dan/atau menimbun serta menambah kekayaan.

Menurut Pasal 4 ayat 1 UU.PPh No.10 Tahun 1994, penghasilan


yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima/diperoleh oleh
wajib pajak, baik berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang

11
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib
pajak (WP).

Jadi pengertian Pajak Penghasilan (PPh) adalah suatu pungutan


resmi yang ditunjukkan kepada masyarakat yang berpenghasilan
atau/atas penghasilan yang diterima diperoleh dalam tahun pajak untuk
kepentingan negara dan masyarakat dalam hidup berbangsa dan
bernegara sebagi suautu kewajiban yang harus dilaksanakannya.

Dengan kata lain jika penghasilan yang diterima bukan


merupakan tambahan kemampuan ekonomis atau tidak dapat menambah
kekayaan WP, maka pengahasilan tersebut adalah penghasilan bukan
objek pajak.

B. SUBJEK PAJAK

Azas yang berkaitan dengan subjek pajak adalah :

1. Azas Domisili yaitu suatu azas pemungutan pajak berdasarkan


domisili/tempat tinggal subjek pajak.
2. Azas Sumber, yaitu azas pemungutan pajak berdasarkan sumber
penghasilan yang diperoleh oleh subjek pajak.
3. Azas Kebangsaan, yaitu azas pemungutan pajak berdasarkan
kewarganegaraan subjek pajak.

Pengertian Subjek Pajak menurut UU.No. 10 tahun 1994 pasal 2


ayat 1,2,3 dan 4, tentang PPh adalah orang pribadi, warisan yang belum
terbagi sebagai satu kesatuan, badan dan bentuk usaha tetap.
Kewajiban pajak subjektif orang pribadi/badan/ warisan dimulai
dan berakhir pada saat :

12
- Orang pribadi dilahirkan, berada atau berniat untuk bertempat tinggal
di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia atau
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
- Badan didirikan atau berkedudukan di Indonesia dan berakhir pada
saat dibubarkan atau tidak lagi berkedudukan di Indonesia.
- Timbulnya warisan dan berakhir pada saat warisan tersebut selesai
dibagi.

Sedangkan yang tidak tergolong sebagai Subjek Pajak adalah :

- Badan Perwakilan Negara Asing


- Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-
pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan
- Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan.
- Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan.

C. OBJEK PAJAK

Secara teoritis objek pajak adalah keadaan-keadaan, peristiwa-


peristiwa atau perbuatan-perbuatan apa saja yang selayaknya dapat
dikenakan pajak.

Sedangkan objek pajak dalam undang-undang no.10 tahun 1994


pasal 4 ayat 1 dan 2, PPh adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan WP yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun. Secara singkat dapat dikatakan bahwa objek pajak
tidak lain adalah penghasilan yang diterima oleh WP.

13
D. PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 (PPh.21)

Sistem pemungutan pajak di Indonesia, khususnya pajak


penghasilan, sekarang berlaku sistem self assessment. Dalam sistem ini
masyarakat diberi kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar
untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri
besarnya jumlah pajak yang terutang. Yang termasuk dengan masyarakat
disini adalah mereka yang termasuk dalam kategori besar berikut :
1. Kategori I adalah mereka yang wajib mengisi dan menyampaikan SPT
Tahunan PPh pasal 21 (form 1721).
2. Kategori II adalah mereka yang wajib mengisi dan menyampaikan
SPT Tahunan PPh WP Perseorangan (Form 1770).
3. Kategori III adalah mereka yang wajib mengisi dan menyampaikan
SPT Tahunan PPh WP Badan (Form 1771).

Disamping penghasilan yang terkena pemotongan PPh pasal 21


diatas, berikut ini adalah penghasilan yang tidak dipotong PPh pasal 21 :
a. Penerimaan dalam bentuk natura.
b. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang
pendiriannya disahkan Menkeu, dan penyelenggara Taspen serta
iuran tabungan hari tua atau tunjangan hari tua kepada badan
penyelenggara Taspen Jamsostek yang dibayar oleh pemberi
kerja.
c. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung pemberi kerja.

1. Tahapan Dan Istilah Dalam Menghitung PPh Pasal 21 :


Dalam melakukan perhitungan besarnya utang pajak PPh pasal 21,
berapa tahapan dan istilah berikut ini perlu dipahami dan dimengerti
dengan baik.

14
Penghasilan Bruto :
Yaitu seluruh penghasilan yang diterima oleh WP sebelum dikurangi
dengan pengurangan-pengurangan yang diperkenankan oleh UU,
berupa biaya jabatan, iuran pensiun dan Penghasilan Tidak Kena
Pajak (PTKP).

Contoh :
Diketahui seorang karyawan mendapatkan gaji pokok Rp. 750.000,-
tunjangan kesejahteraan keluarga Rp. 100.000,- tunjangan
kemahalan Rp. 150.000,- tunjangan jabtan Rp. 100.000,- menempati
rumah berikut mobil dinas yang dinilai sebulannya Rp. 400.000,- dan
mendapatkan iuran asuransi kecelakaan dan asuransi kematian Rp.
25.000,-. Diketahui juga karyawan tersebut memiliki 1 orang anak
dan istrinya tidak bekerja. Maka penghasilan Bruto karyawan
tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
- Gaji Rp. 750.000,-
- Tunjangan kesejahteraan Rp. 100.000,-
- Tunjangan kemahalan Rp. 150.000,-
- Tunjangan jabatan Rp. 100.000,-
- Iuran asuransi kecelakaan & kematian Rp. 25.000,-
Total Penghasilan Bruto Rp. 1.125.000,-

Catatan :
Nilai rumah dinas dan kenderaan tidak dimasukkan dalam
penghasilan bruto karyawan, karena disisi lain perusahaan tidak
memperlakukan natura tersebut sebagai salah satu unsur biaya
perusahaan, sehingga natura tersebut bagi karyawan yang
menerimanya bukan merupakan penghasilan.

Penghasilan Neto :
Penghasilan neto adalah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya
jabatan, iuran pensiun dan tunjangan hari tua. Ketetapan mengenai

15
besarnya Biaya Jabatan, Iuran Pensiun dan Tunjangan Hari Tua
diatur sebagai berikut :
- Biaya Jabatan ditetapkan 5% dari penghasilan bruto, dengan
setinggi-tingginya Rp. 648.000,- setahun atau Rp. 54.000,-
sebulan
- Iuran Pensiun ditetapkan 5% dari penghasilan bruto, dengan
setinggi-tingginya Rp. 216.000 setahun atau Rp. 18.000,-
sebulan.
- Tunjangan Hari Tua pengaturannya sama dengan
penetapan iuran pensiun, namun demikian tidak tertutup
kemungkinan bagi pemberi kerja untuk menetapkan secara
nominal, sepanjang tidak melebihi nilai maksimum seperti yang
ditetapkan untuk besarnya Iuran Pensiun diatas.
- Khusus untuk penerima Pensiun, penetapn besarnya
penghasilan netonya dilakukan dengan cara penghasilan Bruto
(PB) dikurangi dengan iuran pensiun dengan ketetapan yang
sama dengan yang diatas.

Contoh
Dengan soal yang sama pada contoh diatas, maka untuk mencari
besarnya ppenghasilan neto (PN) adalah sebagai berikut :
- Gaji Rp. 750.000,-
- Tunjangan kesejahteraan Rp. 100.000,-
- Tunjangan kemahalan Rp. 150.000,-
- Tunjangan jabatan Rp. 100.000,-
- Iuran asuransi kecelakaan & kematian Rp. 25.000,-
Total Penghasilan Bruto Rp. 1.125.000,-

Pemotongan/Pengurangan :

- Biaya jabatan 5% x 1.125.000,- = Rp. 56.000,-

16
- Biaya jabatan yang diperkenankan = Rp. 54.000,-
- Iuran Pensiun yang diperkenankan = Rp. 18.000,-
- THT 1% x Rp. 750.000,- = Rp. 7.500,- +
Jumlah potongan = Rp. 79.000,
Penghasilan Neto (PN) = Rp. 1.045.500,-

E. PENGHASILAN KENA PAJAK (PKP) DAN PENGHASILAN TIDAK


KENA PAJAK (PTKP)

1. Penghasilan Kena Pajak untuk WP orang Pribadi :

Dalam rangkaian mencari besarnya utang pajak adalah penghasilan


kena pajak (PKP). Untuk mendapatkan besarnya Penghasilan Kena
Pajak (PKP) adalah dengan cara mengurangi Penghasilan Neto (PN)
dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pengaturan
mengenai besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) telah
mengalami perubahan sebanyak empat kali, karena disesuaikan
dengan perubahan harga kebutuhan pokok yang meningkat,
sedangkan nilai uang menurun (inflasi). Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada uraian berikut ini :

Departemen Keuangan Republik Indonesia


Direktorat Jenderal Pajak
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :

I. s/d 1989 2. 1990-94 3.1995-98 4. 1999-04 5. 2005 6. 2006 7. 2009

- Diri WP Pribadi 960.000 1.440.000 1.728.000 2.880.000 12.000.0 13.000.000 15.840.000


- Tambahan WP kawin 480.000 720.000 864.000 1.440.000 00 1.200.000 1.320.000
- Tambahan seorang istri 960.000 1.440.000 1.728.000 2.880.000 1.200.00 13.200.000 15.840.000

17
yang penghasilan 0
digabung penghasilan 480.000 12.000.0
suami 720.000 864.000 1.440.000 00 1.200.000 1.320.000
- Tambahan untuk setiap
anggota keluarga
sedarah & keturunan, 1.200.00
anak angkat yang 0
tanggungan maksimal 3
anak.

Penghasilan Kena Pajak (PKP) Pasal 17 :

Tarif Lama : Tarif Baru :


( Pasal 17, UU PPh 1983) ( Ps. 17 UU no. 10,1994)
0 s/d Rp. 10 jt = 15 % 0 s/d Rp. 25 jt = 10 %
10 jt - Rp. 50 jt = 25 % 25 jt - Rp. 50 jt = 15 %
diatas Rp. 50 jt = 35 % diatas Rp. 50 jt = 30 %

Cara Perhitungan Pajak Terutang :


Misalkan Pajak Terutang nilainya Rp. 80 juta
Tarif lama :
15 % x Rp. 10 juta = Rp. 1.000.000
25 % x Rp. 40 juta = Rp. 10.000.000
35 % x Rp. 30 juta = Rp. 10.500.000 +
Total = Rp. 22.000.000
Tarif Baru :
10 % x Rp. 25 juta = Rp. 2.500.000
15 % x Rp. 25 juta = Rp. 3.750.000
30 % x Rp. 30 juta = Rp. 9.900.000 +
Total = Rp. 15.250.000

2. Menghitung Pajak Terutang :

Langkah terakhir untuk mengetahui berapa besarnya utang pajak


adalah dengan cara mengalikan besarnya Penghasilan Kena Pajak
(PKP) dengan tarif pajak yang berlaku. Untuk memperjelas apa yang
sudah diuraikan diatas, maka berikut ini akan disusun kerangka

18
mengenai perhitungan PPh-21 khusus Wajib Pajak (WP) Orang
Pribadi sebagai berikut :

Penghasilan Bruto (PB) Rp. xxxx


Penghasilan lainnya yang tidak boleh
dikurangikan dari Penghasilan Bruto Rp. xxxx +
Jumlah Penghasilan Bruto (PB) Rp. xxxx

Pengurangan-Pengurangan :
Biaya jabatan 5 % x PB maks. Rp. 648.000 (1.296.000)
Iuran Pensiun 5 % x PB maks Rp. 216.000 ( 432.000)
T.H.T. 5 % x PB maks Rp. 216.000 ( 432.000)
Jumlah pengurangan Rp xxxx

Penghasilan Neto (PN) Rp. xxxx


Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :
Diri WP ……….
Tambahan status kawin ....…….
Tambahan tanggungan ……….

Jumlah P T K P Rp. xxxx


Penghasilan Kena Pajak ( P K P ) Rp. xxxx

Hutang Pajak = PKP/tahun x tarif pajak PPh pasal 17 = Rp. xxxx


(Pajak Progressif)
0 s/d Rp. 25 jt x 10 % = Rp. xxxx
25 jt - Rp. 50 jt x 15 % = Rp. xxxx
diatas Rp. 50 jt x 30 % = Rp. xxxx +
Hutang Pajak PPh-21 = Rp. xxxx

Contoh :

19
Dengan soal yang sama pada contoh sebelumnya, maka untuk
mencari Penghasilan Kena Pajak, yaitu Total Penghasilan Bruto (PB)
dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Selanjutnya Pajak
terutang PPh-21 dapat dihitung :

Total Penghasilan Bruto (PB) = Rp. 1.125.000,-


Total Penghasilan Neto (PN) sebulan = Rp. 1.045.500,-
Total Penghasilan Neto (PN) setahun = Rp. 12.546.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :


Diri Wajib Pajak (WP) = Rp. 1.728.000
Tambahan status kawin = Rp. 864.000
Tambahan tanggungan = Rp. 864.000 +
Total PTKP = Rp. 3.465.000,-

Total Penghasilan Kena Pajak ( P K P ) = Rp. 9.090.000,-

Pajak Terutang PPh-21 /tahun = 10% x 9.090.000 = Rp. 909.000,-


Pajak Terutang PPh-21 /bulan = Rp. 909.000 = Rp. 75.741,67
12
Jadi Pajak Terutang PPh-21 /bulan = Rp. 75.742,-

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


Nomor : KEP-259/PJ/2001
Tentang
Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan yang diterima oleh
Pekerja sampai dengan sebesar Upah Minimum Propinsi (UMP)
Atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK)

Pengenaan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pekerja s.d. UMP atau UMK

20
Dipersamakan dengan Pengenaan PPh Pasal 21 atas Penghasilan
Pekerja
s.d. UMR yakni ditanggung Pemerintah

Berlaku 01 Januari 2001

TARIF PAJAK ATAS PENGHASILAN KENA PAJAK


BAGI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI
(UU RI Nomor 17 Tahun 2000)

PKP > 0 s.d. 25 juta Tarif 5 %


PKP > 25 juta s.d. 50 juta Tarif 10%
PKP > 50 juta s.d. 100 juta Tarif 15%
PKP > 100 juta s.d. 200 juta Tarif 25%
PKP > 200 juta Tarif 35%

Penghasilan tidak kena pajak untuk WP Dalam Negeri


Rp. 2.880.000,-

Contoh :
Penghitungan Pajak Terutang
Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp. 300.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang :

5 % x Rp. 25.000.000,00 = Rp. 1.250.000,00

21
10 % x Rp. 25.000.000,00 = Rp. 2.500.000,00
15 % x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 7.500.000,00
25 % x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00
35 % x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 35.000.000,00 (+)
Rp. 71.250.000,00

TARIF PAJAK ATAS PENGHASILAN KENA PAJAK


BAGI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI DAN BUT
(UU RI Nomor 17 Tahun 2000)

PKP > 0 s.d. 50 juta Tarif 10 %


PKP > 50 juta s.d. 100 juta Tarif 15 %
PKP > 100 juta s.d. 200 juta Tarif 30 %

Tidak diberikan pengurangan PTKP

TARIF PAJAK PENGHASILAN (PPh) WP Pribadi (WP OP)


( UU NO.36 TAHUN 2008 )

(1)Tarif Pajak yang diterapkan atas PKP bagi :


a. WP Orang Pribadi dalam negeri adalah sbb :

NO LAPISAN PENGHASILAN KENA PAJAK TARIF PAJAK


1. 0 s.d Rp 50.000.000,- 5%
2. Diatas Rp 50 juta s.d Rp 250 juta 15%

22
3. Diatas Rp 250 juta s.d Rp 500 juta 25%
4. Diatas Rp 500 juta 30%

b. Pajak Badan dalam negeri dalam Bentuk Usaha Tetap (BUT)


adalah sebesar 28% (dua puluh delapan)

Referensi : Pasal 21 UU.PPh, Kep. Dirjen Pajak No.2 Tahun 199


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 3
MODUL PERTEMUAN IV
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PEMOTONGAN PPh PASAL 22

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

PPh Pasal 22 merupakan pembayaran PPh dalam tahun berjalan


yang dipungut sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang
dan kegiatan usaha dibidang lain.

Dasar Hukum pemungutan PPh Pasal 22 :


- Pasal 22 UU No. 10 tahun 1994
- Keputusan Menkeu No. 599/KMK 04/1994, tanggal 21
Desember 1994.

Pemungutan PPh Pasal 22 :


a. Bank Devisa dan Dirjen Bea dan Cukai, atas impor
barang
b. Dirjen anggaran, bendaharawan pemerintah
(pusat dan daerah), BUMN dan BUMD yang melakukan pembayaran

23
atas pembelian barang dan dananya berasal dari belanja negara
dan/atau daerah
c. Badan usaha yang bergerak dibidang industri
semen, rokok, kertas, baja dan otomatif atas hasil penjualannya di
dalam negeri, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
Termasuk pemungut PPh pasal 22 atas penjualan semen dalam negeri
adalah : Distributor Tunggal/Distributor Utama Semen Produksi : PT.
Semen Cibinong, PT. Semen Indocement, PT. Semen Nusantara.
d. Pertamina dan Badan Usaha selain Pertamina
yang bergerak dibidang BBM jenis Premix dan gas, atas penjualan
hasil produksinya kepada para penyalur dan agennya.
e. Badan urusan logistik (BULOG), atas penyerahan
gula pasir dan tepung terigu kepada para penyalur dan/atau agennya.

B. SUBJEK YANG DIKENAKAN PAJAK

Yang merupakan subjek dari pemungutan PPh 22 adalah :


a. Importir
b. Rekaman Pemerintah
c. Konsumen semen, rokok, kertas, baja dan otomatif
d. Para penyalur dan agen pertamina dan badan usaha selain pertamina
yang bergerak dibidang BBM jenis premix dan gas
e. Para penyalur dan agen BULOG.

C. OBJEK PEMUNGUTAN PAJAK

Yang merupakan objek pemungutan pajak adalah PPh 22 adalah:


a. Impor barang.
b. Penjualan hasl produksi atau penyerahan barang.

24
D. DASAR PEMUNGUTAN

a. Nilai Impor.
b. Harga jual lelang.
c. Harga pembelian.

E. PENGECUALIAN PPh PASAL 22

Yang di kecualikan dari pemungutan PPh pasal 22 adalah :


a. Impor barang-barang yang dibebaskan dari bea masuk yang
dilakukan kedalam kawasan berikat dan Entrepot Produksi untuk
tujuan Ekspor(EPTE) berdasarkan ketentuan peraturan perundangan-
undangan yang berlaku.
b. Impor barang–barang untuk pameran atau keperluan lainnya yang
dipergunakan di Indonesia bersifat sementara dan setelah keperluan
barang dimaksud diekspor kembali, misalnya impor mobil untuk
pameran atau reli dan setelah pameran atau reli selesai, mobil
tersebut diekspor kembali.
c. Pembayaran atas penyerahan barang ( bukan merupakan jumlah
yang dipecah-pecah ) yang jumlahnya kurang dari Rp. 500.000,-.
d. Impor barang-barang dan/atau penyerahan barang-barang yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan tidak terhutang. PPh
pengecualian ini harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas
Pajak PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak .

F. TARIF PEMUNGUTAN

a. Atas Impor

25
a. yang menggunakan Angka Pengenal Importer (API), tarif
pemungutannya sebesar 2,5 % dari nilai impor.
b. Yang tidak menggunakan API, tarif pemungutannya 7,5 % dari
nilai impor.
c. Yang tidak dikuasai, tarif pemungutannya sebesar 7,5 % dari
harga lelang.

b. Atas pemberian barang yang dibiayai dengan APBN atau APBD tarif
pemungutannya sebesar 1,5% dari harga pembelian.
c. Atas penjualan hasil produksi atau penyerahan barang yang dilakukan
oleh:
a. Badan usaha yang bergerak dibidang industri semen, rokok, kerta
baja, dan otomotif, yang ditunjukan oleh Kepala Pelayanan Pajak.
b. Pertamina dan badan usaha selain pertamina yang bergerak
diubidang BBM jenis Premix dan gas.
c. Bulog. Tarif pemungutannya ditentukan berdasar ketentuan yang
ditetapkan pleh Dirjen Pajak ; Pemungutan PPh Pasal 22 atas
penyerahan barang atau penjualan hasil produksi dari Pertamina
dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak dibidang BBM
jenis Premix dan gas dan BULOG bersifal final.

d. Atas Penjualan Premix :


0,25 % dari penjualan untuk SPBU Pertamina dan 0,3% dari
penjualan untuk SPBU swasta.

e. Atas Penyaluran gula pasir dan terigu dari Bulog :


1. Rp. 380,-/ kuintal untuk penjualan gula pasir kepada penyalur.
2. Rp. 270,-/ kuintal untuk penjualan gula pasir kepada grosir.
3. Rp. 650,-/ kuintal untuk penjualan gula pasir kepada pembeli lain.
4. Rp. 53,-/ kuintal untuk penjualan terigu kepada penyalur.
5. Rp. 38,-/ kuintal untuk penjualan kepada grosir.
6. Rp. 91,-/ kuintal untuk penjualan kepada pembeli lain.

26
f. Atas penjualan kendaraan bermotor, semen, rokok, kertas, besi beton
dan baja lembaran lapis seng :
a. 0,45 % x DPP, PPN, untuk penjualan kendaraan bermotor.
b. 0,25 % x DPP, PPN, untuk penjualan semen.
c. 0,1 % x DPP, PPN, untuk penjualan rokok.
d. 0,1 % x DPP, PPN, untuk penjualan kertas.
e. 0,3 % x DPP, PPN, untuk penjualan besi beton.
f. 0,2 % x DPP, PPN, untuk penjualan baja lembaran lapis seng.

g. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang digunakan sebagai dasar
perhitungan bea masuk. Nilai impor dihitung sebagai berikut :
Nilai Impor : Cost Insurance and Freight (CIF + bea masuk +
pungutan pabean lainnya (kalau ada).

G. KEWAJIBAN PEMUNGUTAN PPh PASAL 22

Kewajiban-kewajiban pemungutan PPh pasal sebagai berikut :

1. Memungut PPh Pasal 22 :


a. Untuk impor barang yang tidak diberikan
penundaan/pembebasan bea masuk.
b. Untuk impor barang yang diberikan penundaan/pembebasan bea
masuk pada sat pembayaran penyelesaian impor untuk dipakai
(PIUD).
c. Untuk pembayaran barang yang dananya dari APBN/APBD pada
saat pembayaran.
d. Untuk penjualan hasil produksi Pertamina dan hasil produksi
badan-badan usaha penyediaan premix dan gas, serta
penyerahan gula pasir dan terigu oleh Bulog pada saat
penerbitan surat perintah pengeluaran barang (D.O).

27
e. Untuk penjualan semen oleh Distributor Utama/tunggal pada saat
penjualan.

2. Memberikan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 :


Dikecualikan dari kewajiban tersebut diatas adalah Pertamina, Bulog
dan badan Usaha lainnya penyedia Premix karena pemungutannya
bersifat final.
3. Khusus dalam penjualan rokok, menerbitkan dan nota retur dalam
hal terjadi retur penjualan rokok dan atas retur tersebut tidak dapat
diganti dengan rokok yang sama baik fisik maupun jumlah harganya.
4. Menyetor PPh Pasal 22, selambat-lambatnya 20 hari setelah
berakhirnya masa pajak. Khusus untuk PPh Pasal 22 yang dipungut
Dirjen Bea dan Cukai selambat-lambatnya 1 hari setelah pemungutan
pajak dilakukan.
5. Melaporkan pemungutan PPh Pasal 22, selambat-lambatnya 20
hari setelah berakhirnya masa pajak. Khusus untuk PPh Pasal 22
yang dipungut Dirjen Bea dan Cukai dan Bendaharawan pelaporan
dilakukan selambat-lambatnya 7 hari setelah penyetoran pajak.

H. PPh PASAL 22 BENDAHARAWAN

Sebagai objek pemungutanPPh Pasal 22 adalah penyerahan


barang dan jasa yang dibiayai dari APBN/APBD, sepanjang tidak
termasuk sebagai penghasilan yang dikenakan pemotongan pasal 21, 23,
dan 26. WP yang masuk dalam kategori diatas dapat berupa Badan
maupun Perorangan yang pada prinsipnya merupakan Rekanan
Pemerintah yang menerima pembayaran untuk penyerahan barang dan
jasa yang dibiayai dari APBN/APBD.

1. Mekanisme Pemungutan :

28
a. Pemungutan PPh-22 Bendaharawan terjadi pada saat
pembayaran atau penyerahan barang dan jasa yang dilakukan oleh Dirjen
Anggaran, Bendaharawan rutin dan proyek baik pusat maupun daerah,
serta badan lain yang melakukan pembayaran untuk barang dan jasa dari
belanja negara maupun belanja daerah.
b. dasar pemungutan adalah Penghasilan Neto dari Penyerahan
barang dari/ atau jasa, dimana Penghasilan Neto dihitung berdasarkan
norma Perhitungan yang besarnya 6 % dari harga barang dan jasa.

c. Tarif pemungutan PPh-22 pada umumnya adalah 25 % dari


Penghasilan Neto, sehingga pemungutan dihitung sebagai berikut:

25% X Penghasilan Neto, menjadi 25 % X 6 % X harga barang / jasa


atau
Tarif = 1,5% X Harga / Nilai Pembelian barang

d. Cara menghitung PPh-22 Bendahawan adalah sebagai berikut:


Jika dalam harga/nilai pembelian barang atau jasa sudah termasuk Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan barang Mewah (PPn
BM), maka nilai PPN dan PPnBM harus dikeluarkan terlebih dahulu.
Dengan kata lain, untuk menghitung PPh-22 Bendaharawan, harga/nilai
pembelian barang yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak
adalah harga/nilai barang sebelum PPN dan PPnBM, hal ini dilakukan
untuk menghindari pengenaan pajak berganda.

e. Hal-hal yang dikecualikan dalam pemungutan PPh-22 adalah :


- Untuk pembayaran atas penyerahan barang (bukan jumlah
yang dipecah-pecah) yang meliputi jumlah pembayaran kurang
dari nilai Rp 500.000,-
- Untuk pembayaran atas pembelian bahan bakar minyak, listrik,
gas, air minum, benda-benda Pos, telepon. Pengecualian ini
dinyatakan syah jika diterbitkan dalam Surat Keterangan Bebas
Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh Dirjen Pajak.

29
Contoh Soal PPh–22 Bendaharawan :

PT. Politek melakukan penjualan kepada beberapa instansi


pemerintah, dengan nilai sebagai berikut :
a. Kepada Instansi Pemerintah A, harga barang sudah termasuk
PPh – 22 sebesar Rp.30 juta (pengertian soal ini sama dengan
jumlah uang yang diterima oleh PT. Polietk setelah dipotong
PPh-22 Rp.30 juta.
b. Kepada instansi Pemerintah B, harga barang dengan nilai sudah
termasuk PPN sebesar Rp.110 juta
c. Kepada Instansi Pemerintah C, harga barang dengan nilai sudah
termasuk PPN dan PPn BM tariff 35 % sebesar Rp.150 juta.

Jawaban 1 :
Harga barang /jasa termasuk PPh-22 = Rp. 30.000.000,00
PPh-22 = 1,5 x 30.000.000,- = Rp. 456.852,79 +
98,5
Harga barang sebelum PPh-22 = Rp. 30.456.852,79
Pembuktian :
Harga penyerahan barang = Rp. 30.456.852,79
Penghasilan neto 6% x 30.456.852,79 = Rp. 1.872.411,17
PPh-22. = 25% x 1.872 411,17 = Rp. 456.852,79 -
Jumlah uang yang diterima oleh PT.Politek = Rp. 30.000.000,00

Jawaban 2 :
Harga barang termasuk PPn = Rp. 110.000.000,00
PPn = 10/110 x Rp.110.000.000 = Rp. 10.000.000,00
Harga barang sebelum PPN = Rp. 100.000.000,00
PPh-22 = 1,5% x Rp.100.000.000 = Rp. 1.500.000,00
Jumlah uang yang diterima PT.Politek = Rp. 98.500.000,00

30
Jawaban 3 :
Harga barang termasuk PPh dan
PPnBM 35% = Rp. 150.000.000,00
PPN = 10/145 x 150.000.000 = Rp. 10.344.827,59
PPn BM = 35/145 x 150.000.000 = Rp. 36.206.896,65 –
Harga barang sebelum PPN dan PPnBM = Rp. 103.448.275,90
PPh-22 = 1,5% x 103.448.275,90 = Rp. 1.551.724,10 –
Jumlah uang yang diterima oleh PT.Politek = Rp. 101.896.551,80

Keterangan :
PPh-22 dipungut pada saat pelaksanaan pembayaran oleh
Bendaharawan atau penyerahan barang rekanan. Penyetoran dapat
dilakukan di Bank Persepsi atau Kantor Pos dengan menggunakan
Surat Setoran Pajak (SSP), yang sekaligus merupakan bukti
pemungutan PPh pasal 22.

I. PPh PASAL 22 IMPOR

Yang menjadi objek pemungutan PPh-22 Impor adalah


Penghasilan Netto dan pemasukan barang ke dalam daerah Pabean yang
dilakukan oleh :
- Importir yang memiliki Angka Pengenal Impor (API), Angka
Pengenal Impor Sementara (APIS) dan Angka Pengenal Impor
Terbatas (APIT).
- Importir yang tidak memiliki Angka Pengenal Impor.

1. Mekanise Pemungutan :
a. Pemungutan PPh-22 Impor terjadi pada saat
pembayaran bea masuk.
b. Jika pembayaran bea masuk ditunda atau
dibebaskan, maka PPh-22 terutang dan dilunasi pada saat

31
penyelesaian dokumen pemberitahuan impor untuk dipakai
(PIUD).
c. Dasar perhitungan PPh-22 Impor adalah
Pengenalan Neto dari Pemasukan Barang atau Nilai Impor.
d. Penghasilan Neto bagi pemegang Angka
Pengenal Impor (API) adalah 10% dari Nilai Impor dan
Penghasilan Neto bagi yang tidak memiliki Angka Pengenal Impor
adalah 30% dari Nilai Impor.
e. Nilai Impor adalah nilai berupa uanng yang
menjadi dasar perhitungan bea masuk yaitu: Cost Insurance and
Freight (CIF) ditambah dengan Bea Masuk dan pungutan lainnya
yang `pabean di bidang Impor.
f. Tarif PPh-22 pada umumnya adalah 25%,
sehingga:
- Untuk Importir yang memiliki API: 25% x 10% x Nilai Impor.
- Untuk Importir yang tidak memiliki API: 25% x 30% x Nilai
Impor.
- Atas Impor yang tidak dikuasai: 25% x 30% x Harga Jual
Lelang.

2. Sekilas Tentang Kegiatan Impor dan Perdagangan Luar Negeri :

Impor adalah : Suatu kegiatan memasukan dari negara yang satu


kedaerah pabean negara lainnya dengan
memandang peraturan-peraturan yang berlaku bagi
negara yang saling berhubungan dalam kegiatan
perdagangan luar negeri. Pelaksanaan kegiatan
perdagangan yang memasukan barang dan jasa
kedalam negeri dinamakan Importir yang sudah
meiliki API dan Importir yang tidak memiliki API.

32
Disamping Importir yang sudah terdaftar sebagai Importir, ada juga
yang dikenal dengan sebutan Indentor, yaitu Badan atau perorangan
yang memiliki dana dan meminta jasa Importir untuk mengimporkan
barang yang diinginkan dengan fee yang akan diberikan kepada
Importir.
Pada dasarnya setiap orang dapat menjadi importir, asal memenuhi
syarat-syarat yang sudah ditetapkan, seperti berikut ini:
a. Memiliki NPWP
b. Memiliki SIUPP
c. Memiliki rekening Koran (R/K) di Bank Devisa
d. Jika memungkinkan memiliki Angka Pengenal Impor (API)
e. Sebaiknya dapat menunjukkan bukti adanya hubungan dagang
dengan luar negeri.

3. Importir dan Angka Pengenal Impor (API) :

API tidak lain adalah Kartu pengenal atau identitas yang sebaiknya
dimiliki oleh setiap Perusahaan yang melakukan kegiatan Impor.
Importir yang sudah memenuhi syarat-syarat diatas, maka akan
mendapatkan APIS (Angka Pengenal Impor Sementara) yang
memiliki masa berlaku sampai 2 tahun.

Selama 2 tahun Importir sekurang-kurangnya dapat melakukan


kegiatan Impor sebanyak 4 kali dengan pencapaian nilai transaksi
sekurang-kurangnya US $100,000,- tanpa melakukan pembatalan
perjanjian Impor, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Bagi Perusahaan Asing dibidang Industri yang didirikan dalam rangka


Penanaman Modal Asing (PMA) dan perusahaan asing domestik
dibidang produksi dapat memiliki Angka Pengenal Impor Terbatas
(APIT). Importir dengan APIT dapat melakukan kegiatan impor untuk

33
mesin-mesin, suku cadang, bahan/peralatan bangunan, bahan
baku/bahan penolong yang digunakan untuk proses produksi sendiri.

4. Contoh soal PPh-22 Impor :


Impor lampu hias dari Italia tiba di pelabuhan Tanjung Priok, dengan
nilai FOB = US $ 10,000 (kurs Rp.2400). Tarif Bea masuk dan Bea
masuk tambahan yang berlaku saat itu masing-masing 5% dan 1%.
PPnBM 20%, PPN 10%, Biaya tambang asal Eropa sebesar 5%,
dengan asuransi = 0,5% Penegenal Impor (API) = 2,5%

Untuk mencari besarnya Nilai Impor (C&F/CIF + BM + BMT), terlebih


dahulu harus diketahui besarnya Bea Masuk, sebagai berikut :
Bea Masuk = 5% x (C&F/ /CIF)
Bea Masuk Tambahan = 1% x (C&F/ /CIF)
PPN = 10% x (C&F/CIF+BM+
BMT)
PPnBm = 20% x Nilai Impor
PPh pasal 22 = 2,5 % x Nilai Impor

Catatan :
- Persentase Bea Masuk, dapat dilihat dari buku tariff Bea
Masuk Indonesia.
- Persentase Bea Masuk Tambahan, dapat dilihat pada
Surat Keputusan Menkeu, RI yang berkenaan dengan Bea Masuk
Tambahan.
- C&F adlah kependekan dari Cost and Freight, yang
digunakn apabila asuransi dibayar di dalam negeri.
- CIF adalah kependekan dari Cost Insurance and Freight,
yang digunakan apabila asuransi dibayar di luar negeri.
- Persentase mengenai Biaya Tambang ( Freight ) dapat
dilihat pada Daftar Biaya Tambang.

34
- FOB adalah kependekan dari Freight on Board, yang sama
dengan harga berdasarkan nilai kurs dalam mata uang negara
pengimpor.

FOB = US $ 10.000
Nilai Kurs Rp 2.400 = Rp 24.000.000
Sehingga CIF = Rp 24.000.000
Freight asal Eropa = 5 % x FOB
= 5 % x Rp 24.000.000
= Rp. 1.200.000
Insurance = 0,5% x C&F
= 0,5% x ( 24.000.000 +
1.200.000 )
= Rp 126.000
CIF = 24.000.000 + 1.200.000 + 126.000
= Rp. 25.326.000
Bea Masuk = 5 % x Rp 25.326.000 = Rp 1.266.300
Bea Masuk Tambahan = 1 % x Rp 25.326.000 = Rp 253.260
Nilai Impor = CIF + Bea Masuk + Bea Masuk Tambahan
= 25.326.000 + 1.266.300 + 253.260
= Rp 26.845.560
PPN = 10 % x Rp 26.845.560 = Rp 2.684.556
PPnBM = 20 % x Rp 26.845.560
PPh pasal 22 = 2,5% x Rp 26.845.560 = Rp 671.139

Yang dibayar di Bank Devisa :


Bea masuk = Rp 1.266.300
Bea Masuk Tambahan = Rp 253.260
PPN = Rp 2.684.556
PPn BM = Rp 5.369.112
PPh Pasal 22 = Rp 671.139 +
Jumlah yg dibayar = Rp 1

35
Referensi : UU No.10 tahun 1994 yang diperbaharui dengan UU No.30
tahun 2008 , Kep. Dirjen Pajak No.KEP-147/KMK.04/95

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 4
MODUL PERTEMUAN V
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PEMOTONGAN PPh PASAL 23

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

PPh-23 jika disimpulkan adalah pajak atas penghasilan


sehubungan dengan penghasilan dalam tahun takwim melalui
pemungutan pihak ketiga, berdasarkan tariff atau kalkulasi penetapan
pajak yang harus dibayar oleh WP. Yang dimaksud pihak ketiga adalah
setiap orang atau badan yang diwajibkan untuk memotong PPh-23,
seperti : Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), Badan Pemerintah, WP Badan Dalam Negeri seperti PT, Firma,
CV dan Koperasi, Pemungut Pajak yang telah disetujui dari Dirjen Pajak.

Pemungutan atau Pemotongan PPh Pasal 23

Pemotong PPh-23 adalah pihak-pihak yang membayarkan


penghasilan yang terdiri atas :
1. Badan Pemerintah.

36
2. Subjek Pajak badan dalam negri.
3. Penyelenggara kegiatan.
4. Bentuk usaha tetap.
5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
6. Orang pribadi sebagai WP dalam negeri yang telah
mendapat penunjukkan dari Dirjen Pajak untuk memotong pajak PPh-
23 sesuai Keputusan DJP no. KEP-50/PJ/1994, maka WP orang
pribadi dalam negeri yang sebagai pemotong PPh-23 meliputi :
a. Akuntan, arsitek, dokter, notaries, Pajak Pembuat Akta Tanah
(PPAT), kecuali PPAT tersebut adalah Camat, pengacara dan
konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas.
b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan
pembukuan.

B. SUBJEK PEMUNGUTAN PAJAK

Yang dikenakan pemungutan atau pemotongan adalah WP dalam


negeri atau bentuk usaha tetap yang memperoleh penghasilan yang
berasal dari modal, penyerahan jasa atau penyelenggara kegiatan selain
yang telah dipotong pajak sebagaimana dalam Pasal-23.

C. OBJEK PEMUNGUTAN PAJAK

Objek dari pemungutan PPh Pasal 23 adalah :


1. Dividen
2. Bunga, termasuk premium, diskonto dan imbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian hutang.
3. Royalti
4. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong pajak sebagai
mana dimaksud dalam pasal 21
5. Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi

37
6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
kontruksi, jasa konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong
pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
7. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.

D. PENGECUALIAN PPh PASAL 23

Yang tidak dikenakan pemungutan PPh Pasal 23 antara lain :


1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank
2. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan denggan sewa
guna usaha dengan hak opsi
3. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai
WP dalam negeri, koperasi, yayasan atau organisasi sejenis,
BUMN atau BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan & bertempat kedudukan di Indonesia
4. Bunga obligasi yang diterima perusahaan reksadana
5. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal
adventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang
didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
a. Merupakan perusahaan kecil, menengah atau
menjalankan kegiatan dalam sektor usaha yang ditetapkan
Menkeu RI
b. Sahamnya tidak terdaftar di bursa efek di Indonesia
6. Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi yang dibayarkan oleh koperasi
kepada anggotanya
7. Bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan oleh
Menkeu yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya
berdasarkan Keputusan Menkeu No. 605/KMK 04/1994, batas
seluruh bunga simpanan yang tidak dipotong PPh-23 adalah
sebesar jumlah yang tidak melebihi Rp. 144.000 setiap bulannya

38
dan Kep. Menkeu No. 520/KMK.04/1998, Tgl 18 Desember 1998
adalah tidak melebihi Rp. 240.000,- setiap bul

E. DASAR PEMOTONGAN PPh PASAL 23

Ada 2 dasar pemotongan, yaitu :


1. Dari jumlah bruto, untuk penghasilan berupa :
a. Dividen
b. Bunga, termasuk premium, diskonto dan imbalan
sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang
c. Royalti
d. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong
pajak sebagaimana dimaksud dengan PPh-21
2. Dari perkiraan penghasilan neto, untuk penghasilan berupa :
a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta
b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa
manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan dan jasa lain
selain yang telah dipotong pajak sebagaimana dimaksud
dalam PPh-21.

F. TARIF PEMOTONGAN PPh PASAL 23

1. 15 % dari jumlah bruto atas penghasilan berupa :


a. Dividen
b. Bunga, termasuk premium, diskonto dan imbalan
sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang
c. Royalti
d. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong
pajak sebagaimana dimaksud dengan PPh-21.
2. 15 % dari perkiraan penghasilan neto atas penghasilan berupa :

39
a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta
b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa
manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan dan jasa lain
selain yang telah dipotong pajak sebagaimana dimaksud
dalam PPh-21.

G. PERHITUNGAN PERKIRAAN PENGHASILAN NETO

1. Sewa penggunaan harta bagi WP orang pribadi. Perkiraan


penghasilan neto sebesar 80 % dari jumlah bruto.
2. Sewa penggunaan harta bagi WP Badan dan BUT. Perkiraan
penghasilan neto sebesar 40 % dari jumlah bruto.
3. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen dan jasa
konsultan. Perkiraan penghasilan neto sebesar 40 % dari jumlah
bruto.
4. Imbalan sehubungan dengan jasa perancang bangunan, interior
dan pertamanan, akuntansi dan pembukuan, pembersihan dan
pembasmian hama & penebangan hutan. Perkiraan penghasilan
neto sebesar 40 % dari jumlah bruto.
5. Imbalan sehubungan dengan jasa konstruksi atau pemborong
bangunan Perkiraan penghasilan neto sebesar 10 % dari jumlah
bruto.

Contoh Pembayaran Deviden :


Pada suatu kesempatan, Dodon membayarkan Rp. 2.000.000,- untuk
mobil perusahaan. Harga yang dibayarkan tersebut sesuai dengan
nilai sisanya, sedangkan harga pasar dari mobil tersebut Rp.
10.000.000,-.
Dodon merupakan pemegang saham pada perusahaan tersebut. Dari
kasus ini besarnya deviden terselubung adalah Rp. 8.000.000,
Perusahaan seharusnya memotong pajak penghasilan pasal 23 (PPh-
23) adalah sebagai berikut :

40
PPh-23 = 15% x Rp. 8.000.000,- = Rp. 1.200.000,-

H. PEMOTONGAN PPh PASAL 23 ATAS BUNGA DITETAPKAN


SEBAGAI BERIKUT :

- Dipotong PPh sebesar 15 % dari jumlah bruto (final), atas


bunga dan diskonto yang terutang atau dibayarkan kepada
penerima penghasilan baik orang pribadi maupun badan dalam
negeri dan bentuk usaha tetap.
- Dipotong PPh sebesar 20 % dari jumlah bruto (final), atas
sesuai tarif yang ditetapkan dalam perjanjian penghindaran pajak
berganda (tax treaty), atas bunga dan diskonto yang terutang atau
dibayarkan kepada WP luar negeri, baik orang pribadi maupun
badan selain bentuk usaha tetap.

41
Referensi : Kep. Dirjen Pajak No.KEP-50/PJ./1994; KEP-Menkeu
No.650/KMK.04/1994; UU.No.10 tahun 1994; Kep. Dirjen
Pajak No.KEP-10/PJ./95

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 5
MODUL PERTEMUAN VI
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PEMOTONGAN PPh PASAL 24

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Untuk mendapatkan penghasilan baik dari maupun luar negeri,


negara mengantisipasi bagaimana cara pemungutan pajak yang berkenan
dengan pengadilan yang diterima dari dalam maupun dari luar negeri oleh
WP dalam negeri. Dalam UU no. 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, yang telah diubah terakhir kalinya dengan UU No.10 tahun
1993, ditentukan bahwa WP dalam negeri dikenakan Pajak Penghasilan
atas seluruh penghasilan dimanapun penghasilan tersebut diterima atau
diperoleh, baik di Indonesia maupun penghasilan tersebut diterima di luar
Indonesia.
Dalam pelaksanaan pemungutannya harus dihindari masalah
terjadinya pemungutan pajak berganda. Karena seperti diketahui bahwa
setiap negara diluar Indonesia juga memiliki sistem pemungutan pajaknya
masing-masing, sehingga setiap WP dalam negeri yang juga menerima

42
penghasilan dan luar Indonesia, secara otomatis juga dipotong pajak
diluar Indonesia atas penghasilan yang diterimanya sesuai dengan
ketentuan dari masing-masing negara pemberi kerja.
Untuk mengatasi adanya pemungutan pajak berganda, maka
dalam pasal 24 ini diatur pemungutannya dengan menggunakan Metode
Kredit Terbatas (Ordinary Credit Method), yaitu dengan cara menetapkan
batas maksimum kedit pajak atas pajak yang sudah dibayarkan atau
terutang di luar negeri terhadap pajak terutang di Indonesia.
Mekanisme sederhana dalam pengenaan PPh-24 itu adalah
adanya penggabungan penghasilan yang diperoleh baik di dalam negeri
maupun luar negeri pada tahun pajak yang sama. Penggabungan
penghasilan tersebut adalah penggabungan antara Penghasilan Kena
Pajak (PKP) dari dalam negeri dan PKP dari luar negeri dan bukan
penghasilan kotornya, hal ini penting untuk menjaga agar tidak terjadi
salah pengertian dan perhitungan lebih lanjut.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemotongan
PPh Pasal 24, yaitu :

a. Jumlah pajak yang terutang atas penghasilan


yang diperoleh diluar negeri dapat dikreditkan terhadap pajak terutang
atas seluruh penghasilan dengan ketentuan dimana setinggi-tinggi
sama dengan jumlah pajak yang terutang di luar negeri, tetapi tidak
boleh melebihi jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara
penghasilan darai luar negeri terhadap seluruh PKP dikalikan dengan
jumlah pajak yang terutang pada seluruh PKP, atau dengan rumus :
Penghasilan Luar Negeri
X Pajak Terutang
Pengahsilan Kena Pajak

Catatan :

43
Besarnya PKP didapat dari menjumlahkan seluruh penghasilan baik
dari dalam negeri maupun luar negeri dan jumlah pajak terutang dapat
dicari dengan mengalihkan PKP dengan tarif progresif.
b. Jika usaha dalam negeri mengalami kerugian,
maka setinggi-tingginya pajak sama dengan pajak uang terutang atas
seluruh PKP dalam hal ini PKP lebih kecil dari penghasilan luar negeri.
c. Metode perhitungan diatas juga digunakan untuk
menghitung pajak yang penghasilannya bersumber dari beberapa
negara.
d. Jika terjadi kerugian diluar negeri, kerugian ini
tidak diperhitungkan dalam menghitung besarnya PKP melainkan
penghasilan dari luar negeri pada tahun-tahun berikutnya dapat
dikonpensasikan dengan kerugian tersebut.
e. Jika kredit pajak diluar negeri melebihi jumlah
yang sudah ditetapkan, maka untuk hal ini tidak ada restitusinya,
dengan kata lain jumlah kelebihan kredit pajak tersebut tidak dapat
diperhitungkan dengan pajak penghasilan yang terutang dalam tahun
berikutnya.
f. Pembetulan-pembetulan yang diperlukan oleh WP
harus menggunakan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) untuk tahun
pajak yang bersangkutan.
g. Penetapan PKP pada situasi dimana terjadi
kerugian usaha didalam negeri, maka kerugian tersebut langsung
diperhitungkan untuk menentukan besarnya PKP.
h. Besarnya kredit maksimum atas penghasilan luar
negeri ditetapkan dengan melihat perbandingan terkecil antara jumlah
pajak yang dibayarkan diluar negeri dengan hasil perhitungan menurut
pada point 1 yang diatas.

Contoh Penerapan PPh- 24 :

44
1. Pada tahun pajak 1995, PT. Triasta di
Jakarta menerima penghasilan dari beberapa negara sebagai
berikut :
- Dari Australia sebesar Rp. 2 M, dimana tarif pajak yang
berlaku sebesar 40% (Rp. 800 juta).
- Dari Philipina sebesar Rp. 1 M, dimana tarif pajak yang
berlaku sebesar 30% (Rp. 300 juta).
- Dari Singapura sebesar Rp. 2,5 M, dimana tarif pajak yang
berlaku sebesar 25% (Rp. 625 juta).
- Dari Indonesia sebesar Rp. 3,5 M.

Penetapan kredit pajak dihitung dengan cara berikut :


Laba di Australia Rp. 2 M
Laba di Philipina Rp. 1 M
Laba di Singapura Rp. 2,5 M
Rugi di New Zealand Rp.(tidak ikompensasikan) +
Jumlah PKP luar negeri Rp. 5,5 M
PKP dalam negeri Rp. 3,5 M +
Jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 9 M

PPh terutang, menurut tarif pasal 17 :


10 % X Rp. 25.000.000 = Rp. 2.500.000
15 % X Rp. 25.000.000 = Rp. 3.750.000
30 % X Rp. 8.950.000.000 = Rp. 2.685.000.000 +
Jumlah PPh terutang = Rp. 2.691.250.000

Batas maksimum kredit yang diperkenankan untuk masing-masing


negara :
Untuk Australia :
Rp. 2 M

45
X Rp. 2.691.250.000 = Rp. 598.055.556 (Rp. 800 juta)
Rp. 9 M

Untuk Philipina :
Rp. 1 M
X Rp. 2.691.250.000 = Rp. 299.027.778 (Rp. 300 juta)
Rp. 9 M

Untuk Singapura :
Rp. 2,5 M
X Rp. 2.691.250.000 = Rp. 747.567.445 (Rp. 625 juta)
Rp. 9 M

Jumlah kredit pajak terutang dengan memperhatikan ketetapan


mengenai Batas Kredit Maksimum, maka maksimum kredit pajak
yang dapat dikreditkan adalah sebesar perbandingan terkecilnya.
Untuk Australia Rp 598.055.556,- Philipina Rp 299.027.778 dan
Singapura yang terkecilnya Rp 625.000.000,-

46
Referensi : UU.No.10 tahun 1994; KEP-Menkeu No.640/KMK.04/1994;
diubah menjadi UU.No.36 tahun 2008

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 6
MODUL PERTEMUAN IX
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN :
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PERHITUNGAN PENILAIAN PERSEDIAAN,
PENJUALAN DAN PENGALIHAN HARTA

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Persediaan adalah barang yang dimiliki untuk dijual atau untuk


diproses selanjutnya dijual. Berdasarkan pengertian di atas maka
perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya
memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki
3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang
dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).

47
Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang
sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan
dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam
penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan
Rugi/Laba maupun neraca. Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan
(awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).
HPP = Persediaan awal + Pembelian bersih – Persediaan akhir

Dalam penilaian persediaan barang hanya diperbolehkan


menggunakan harga perolehan. Metode yang dapat dipergunakan untuk
melakukan penilaian persedian dan pemakaian persediaan dalam rangka
perhitungan harga pokok menurut pajak adalah :
- Metode rata-rata
- Metode FIFO (first-in first-out)
B. PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PEMAKAIAN PERSEDIAAN

Penggunaan metode penilaian pemakaian persediaan harus


dilakukan secara taat azas, artinya apabila Wajib Pajak memilih salah satu
cara penilaian pemakaian persediaan untuk menghitung harga pokok
tersebut, maka untuk tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang
sama, hal ini juga dilakukan terhadap sekuritas.

Contoh Perhitungan :
- Persediaan awal = 100 unit (@ Rp. 9,-)
- Pembelian = 100 unit (@ Rp. 12,-)
- Pembelian = 100 unit (@ Rp. 11,25)
- Penjualan / dipakai = 100 unit
- Penjualan / dipakai = 100 unit
1. Perhitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan
metode rata-rata :

PENJUALAN/ SISA/
NO PEMBELIAN
PEMAKAIAN PERSEDIAAN

48
1. 100 x 9,- = Rp. 900,-

100 x 12,- = 200 x 10,5 =


2.
Rp.1.200,- Rp.1.200,-

100 x 11,25 = 300 x 10,75 =


3.
RP.1.125,- Rp.3.225,-

100 x 10,75 = 200 x 10,75 =


4.
Rp.1.075,- Rp.2.150,-

100 x 10,75 = 100 x 10,75 =


5.
Rp.1.075,- Rp.1.075

2. Perhitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan


metode FIFO :

PENJUALAN/
NO PEMBELIAN SISA/ PERSEDIAAN
PEMAKAIAN

1. 100 x 9,- = Rp. 900,-

100 x 12,- = 100 x 9,- = Rp. 900,-


2.
Rp.1.200,- 100 x 12,- = Rp.1.200,-

100 x 9,- = Rp. 900,-


100 x 11,25 =
3. 100 x 12,- = Rp.1.200,-
RP.1.125,-
100 x 11,25 = RP.1.125,-

100 x 9,- = 100 x 12,- = Rp.1.200,-


4.
Rp.900,- 100 x 11,25 = RP.1.125,-

100 x 12,- =
5. 100 x 11,25 = RP.1.125,-
Rp.1.200,-

49
Pernilaian persediaan juga diberlakukan terhadap Wajip Pajak
pedagang Valuta Asing. Hal ini diatur dengan Surat Edaran Dirjen Pajak
No. SE-52/ PJ.42/1999 tanggal 17 November 1999 :
1. Sesuai SK Direksi Bank Indonesia No. 31/171/Kep/Dir Tanggal 17
Desember 1998, yaitu :
a. Pedagang Valuta Asing (PVA) adalah bank bukan bank
devisa atau perusahaan yang telah mendapat izin untuk
melakukan jual beli uang kertas asing (UKA) dan pembelian
traveller’s cheque (TC)
b. Penetapan kurs jual beli UKA diserahkan kepada PVA
sesuai dengan perkembangan pasar
c. PVA diwajibkan menyampaikan laporan bulanan, laporan
tahunan dan laporan khusus kepada Bank Indonesia

2. Wajib Pajak badan yang bergerak di bidang usaha PVA wajib


menyelenggarakan pembukuan (Pasal 28 UU KUP)
3. Penilaian persediaan dan pemakaian persediaan untuk perhitungan
harga pokok valuta asing sebagai barang dagangan bagi Wajib Pajak
yang bergerak di bidang usaha PVA adalah berdasarkan harga
perolehan valuta asing tersebut yang dihitung secara rata-rata atau
FIFO dan harus dilakukan secara taat azas

C. PENJUALAN DAN PENGALIHAN HARTA

Untuk melakukan penilaian harta dalam rangka menghitung


penghasilan sehubungan dengan penggunaan harta dalam perusahaan,
menghitung laba/rugi apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta dan
penghitungan penghasilan dari penjualan barang dagangan dapat
dikelompokan menjadi :
- Harga perolehan / penjualan dalam hal terjadi jual beli
harta

50
- Harga perolehan / penjualan dalam hal terjadi tukar
menukar harta
- Harga perolehan / penjualan dalam hal terjadi pengalihan
hartadalam rangka likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan atau pengambilalihan usaha
- Harga perolehan / penjualan dalam hal terjadi pengalihan
harta karena hibah, bantuan atau sumbangan dan warisan
- Harga perolehan / penjualan dalam hal terjadi pengalihan
harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai
pengganti penyertaan modal

1. Harga perolehan/penjualan dalam hal terjadi jual beli hartal

Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta
ditentukan sebagai berikut :

Yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa


a. Bagi pihak pembeli, harga perolehan harta adalah harga
sesungguhnya yang dibayar, dalam hal ini termasuk harga beli
dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta
tersebut, seperti bea masuk, biaya pengangkutan dan biaya
pemasangan.
b. Bagi penjual, harga penjualan adalah harga sesungguhnya
diterima

Yang dipengaruhi hubungan istimewa


a. Bagi pihak pembeli, harga perolehan harta adalah harga jumlah
seharusnya yang dikeluarkan
b. Bagi pihak penjual, harga penjualan harta adalah harga yang
seharusnya diterima

51
2. Harga perolehan/penjualan dalam hal terjadi tukar menukar harta

Apabila terjadi transaksi tukar menukar harta dengan harta lain, maka
nilai perolehan atau nilai penjualan harta tersebut adalah :
a. Bagi pihak pembeli, harga perolehan harta adalah harga yang
seharusnya dikeluarkan berdasarkan harga pasar
b. Bagi pihak penjual, harga penjualan harta adalah harga yang
seharusnya diterima berdasarkan harga pasar (Pasal 10 ayat 2
UU.PPh)

Contoh :

PT. A PT.B
(Harta X) (Harta Y)
Nilai sisa buku Rp. 10.000.000,- Rp. 12.000.000,-
Harga Pasar Rp. 20.000.000,- Rp. 20.000.000,-

Antara PT.A dan PT. B terjadi pertukaran harta. Walaupun tidak


terdapat realisasi pembayaran antara kedua pihak, tapi karena harga
pasar harta yang dipertukarkan adalah Rp. 20.000.000,- , Harga
tersebut merupakan nilai perolehan yang seharusnya dikeluarkan
atau nilai penjualan yang seharusnya diterima. Selisih antara harga
pasar dengan nilai sisa buku harta yang dipertukarkan merupakan
keuntungan yang dikenakan PPh. PT. A memperoleh keuntungan
sebesar Rp. 10.000.000,- (Rp. 20.000.000 - Rp. 10.000.000) dan
PT.B memperoleh keuntungan sebesar Rp. 8.000.000,- (Rp.
20.000.000 – Rp. 12.000.000).

3. Harga perolehan/penjualan dalam hal terjadi pengalihan


hartadalam rangka likuidasi, penggabungan, peleburan,
pemekaran, pemecahan atau pengambilalihan usaha

52
Untuk memudahkan pemahaman tentang hal ini, perlu diketahui
beberapa istilah berikut :

- Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua


badana tau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya
salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya
yang menggabung

- Peleburan adalah penggabungan dua badan usaha atau


lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi
badan-badan usaha yang bergabung tersebut

- Pemekaran usaha adalah pemisahan satu badan usaha


menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan
badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva
kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa
melikuidasi badan usaha yang lama

Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan pada berbagai


perubahan badan usaha diatas adalah :

a. Jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau


diterima bedasarkan harga pasar. Selisih antara harga pasar
dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan
penghasilan yang dikenakan PPh.

Contoh :

PT. A dan PT. B melakukan peleburan dan membentuk badan


baru, yaitu PT. C. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua
badan tersebut adalah sebagai berikut :

PT. A PT.B
(Harta X) (Harta Y)
Nilai sisa buku Rp. 200.000.000,- Rp. 300.000.000,-
Harga Pasar Rp. 300.000.000,- Rp. 450.000.000,-

53
Pada dasarnya, penilaian harta yang diserahkan oleh PT. A dan
PT. B dalam rangka peleburan menjadi PT. C adalah harga pasar
dari harta. Dengan demikian PT. A mendapat keuntungan sebesar
Rp. 100.000.000,- sedangkan PT. B mendapat keuntungan
sebesar Rp. 150.000.000,-

Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan di bidang


sosial, ekonomi, investasi, moneter dan kebijakan lainnya, Menteri
Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan nilai lain selain
harga pasar, yaitu atas dasar nilai sisa buku (“pooling of interest”).
Berarti PT. C membukukan penerimaan harta dari PT. A dan PT. B
sebesar : Rp. 500.000.000,- (200.000.000 + 300.000.000)
b. Penggunaan Nilai Buku
Secara umum penggabungan, peleburan, pemekaran usaha akan
melibatkan pihak yang mengalihkan harta dan pihak yang
memperoleh harta, sesuai akuntansi komersial metode yang
digunakan dalam konsolidasi yaitu :
- Penyatuan kepentingan (pooling of interest)
- Pembelian (puchasing)

Dalam akuntansi perpajakan digunakan metode pembelian


(purchasing method) atau berdasarkan harga pasar, sedang
metode penyatuan kepentingan dapat digunakan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan.

Keputusan Menteri Keuangan yang diacu yaitu KMK No.


422/KMK.04/1998 Tanggal 9 September 1998 yang telah diubah
dengan KMK No. 469/KMK 04/1998 Tanggal 30 Oktober 1998 dan
terakhir diubah dengan Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE
21/PJ42/1999 Tanggal 26 Mei 1999. Pengaturan tersebut meliputi:
1) Wajib Pajak dapat menggunakan nilai buku dalam pengalihan
harta menurut Keputusan Menkeu diatas adalah :

54
 Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta dalam
rangka penggabungan atau peleburan usaha
 Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta dalam
rangka pemekaran usaha yang akan “Go Public” dengan
melakukan penawaran umum perdana (IPo) di bursa efek

2) Wajib Pajak yang menggunakan nilai buku dalam pengalihan


harta yaitu dalam penggabungan, peleburan atau pemekaran
usaha di atas wajib memenuhi syarat :
 Mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak.
Permohonan izin diajukan kepada Kanwil DJP yang
membawahi KPP WP tersebut terdaftar selambat-
lambatnya 6 bulan sesudah proses penggabungan,
peleburan atau pemekaran usaha dilakukan dalam hal :
• Penggabungan atau peleburan, diajukan oleh WP yang
menerima pengalihan harta
• Pemekaran usaha, diajukan oleh WP yang melakukan
pengalihan harta
WP yang terlambat mengajukan permohonan, tidak akan
dipertimbangkan. Sebaliknya bagi WP yang mengajukan
permohonannya telah memenuhi syarat akan menerima
surat keputusan persetujuan selambat-lambatnya satu
bulan sejak diterimanya permohonan secara lengkap.
Demikian halnya kemungkinan adanya penolakan yang
disertai pula alasan penolakan. Pihak yang memberikan
persetujuan yaitu kepala Kanwil atas nama Dirjen Pajak.
 Telah melunasi seluruh utang pajak dari setiap badan
usaha yang terkait, termasuk cabang/perwakilan yang
terdaftar di KPP-KPP lokasi.
 Laporan keuangan Wajib Pajak khususnya untuk
tahun pajak dilakukannya pengalihan harta harus diaudit
oleh Akuntan Publik.

55
3) Sisa Kerugian Fiskal
 Bagi Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta
dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dapat
mengalihkan kerugian/sisa kerugia fiskal, termasuk
kerugian selisih kurs badan usaha lama yang belum
dikompensasikan dengan syarat :
• WP badan usaha lama harus melakukan revaluasi
aktiva tetap terlebih dahulu, menurut ketentuan yang
berlaku; dan
• WP badan usaha yang lama dalam kondisi aktif
menjalankan kegiatan usahanya; dan
• WP yang menerima pengalihan harta harus tetap aktif
menjalankan kegiatan usahanya sekurang-kurangnya
2 tahun setelah selesainyan proses penggabungan
atau peleburan usaha
 Revaluasi aktiva tetap di atas meliputi sebagian atau
seluruh aktiva tetap sesuai dengan keperluan untuk
menkompensasikan kerugian fiskal semaksimal mungkin
dengan selisih lebih revaluasi aktiva tetap yang dihasilkan.
 Kemungkinan terjadi kompensasi timbal-balik (affset)
utang piutang diantara WP yang melakukan pengalihan
harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha,
maka:
• Penghapusan utang bagi pihak debitur bukan
merupakan penghasilan
• Penghapusan piutang bagi pihak kreditur bukan
merupakan biaya

4) Persetujuan Dirjen Pajak


Pengalihan harta menggunakan nilai buku ternyata tidak
mendapat persetujuan Dirjen Pajak, sehingga pengalihan harta

56
harus dinilai dengan harga pasar dan atas keuntungan yang
diperolehnya dikenakan PPh. Demikian sebaliknya, ternyata
pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku telah
mendapat persetujuan Dirjen Pajak, maka WP yang menerima
pengalihan harus mencatat nilai perolehannya sesuai dengan
nilai buku yang tercantum dalam pembukuan WP yang
melakukan pengalihan buku. WP yang sebelum
penggabungan, peleburan atau pemekaran telah melakukan
revaluasiaktiva tetap, maka nilai buku yang dictat adalah nilai
buku setelah dilakukan revaluasi.

5) Penyusutan dan Amortisasi


Dilakukan atas harta yang dialihkan untuk tahun buku saat itu
secara prorata (perhitungan bulanan) yang didasrkan pada
masa manfa’at yang tersisa sebagaimana tertera pada
pembukuan WP yang melakukan pengalihan harta. Hal
tersebut dihitung sampai bulan dilakukannya pengalihan harta.
Sedangkan untuk pihak yang menerima pengalihan harta
dihitung sebanyak sisa bulan setelah pengalihan menggunakan
metode penyusutan dan amortisasi yang dianut WP yang
bersangkutan.

6) PPh Pasal 25
Kemungkinan pengalihan dilakukan dalam tahun pajak
berjalan, sehingga PPh Pasal 25 WP yang menerima
pengalihan setelah penggabungan atau peleburan usaha tidak
boleh lebih kecil dari penjumlahan PPh 25 dari seluruh WP
yang tergabung. Jika WP penerima pengalihan mengalami
penurunan usaha setelah peleburan, ia berhak mengajukan
pengurangan PPh 25.

57
7) Kewajiban menyampaikan SPT, baik masa atau tahunan bagi
WP yang melakukan pengalihan usaha dalam tahun berjalan
diatur sebagai berikut :
 Kewajiban formal menyampaikan SPT masa atau
tahunan PPh bagi WP yang melakukan pengalihan berakhir
sampai masa pajak dilakukannya pengalihan
 Kewajiban formal menyampaikan SPT masa atau
tahunan PPh bagi WP yang menerima pengalihan dimulai
sejak WP terdaftar di KPP setelah pendirian usaha baru

8) Surat Ketetapan Pajak


Pemeriksaan pajak dilakukan setelah pengalihan terhadap WP
yang melakukan pengalihan berkenaan dengan tahun pajak
sebelum pengalihan, karena itu Surat Ketetapan Pajak,
penagihan dan atau restitusinya diterbitkan atas nama dan
NPWP badan usaha lama cq.nama dan NPWP badan usaha
baru yang menerima pengalihan.

9) Penjualan saham di BEJ


WP yang akan menjual saham di BEJ dalam rangka
pemekaran harus memenuhi ketentuan berikut :
 Mengajukan pernyataan pendaftaran ke BAPEPAM
dalam rangka penawaran umum perdana (IPO) selambat-
lambatnya satu tahun setelah mendapat persetujuan
pengalihan harta dari Dirjen Pajak
 Jangka waktu diatas dapat diperpanjang hingga dua
tahun karena keadaan di luar kekuasaan WP dengan
persetujuan Ka Kanwil DJP
 Jika dalam waktu tiga tahun belum dapat melakukan
penawaran perdana, maka dapat diperpanjang setelah
mendapat persetujuan dari DJP

58
 Apabila ketentuan di atas tidak dapat juga dipenuhi
oleh WP, maka nilai pengalihan yang dihitung berdasarkan
nilai buku harus dihitung ulang berdasarkan nilai pasar.

Sedangkan bagi pemegang saham badan usaha lama harus


memenuhi ketentuan berikut :
 Apabila mereka menerima sejumlah saham baru
sebagai pengganti saham lama dari badan usaha yang
menerima pengalihan, mereka tidak terutang PPh dan nilai
saham baru tersebut dicatat senilai saham lama
 Jika menerima saham baru dan sejumlah uang
sebagai pengganti saham lama, maka nilai uang tersebut
dianggap penghasilan yang dikenakan PPh dengan tarif
umum
 Tapi jika mereka menjual saham lamanya, maka :
• Selisih harga jual dan harga perolehan merupakan
capital gain dan terutang PPh sesuai ketentuan
• Bila selisih tersebut kurang dari nilai perolehan, dapat
dibebankan sebagai biaya dengan syarat mereka
menyelenggarakan pembukuan

10) Pengecualian
WP tersebut dibebaskan dari utang PPh bila pengalihan harta
berupa tanah dan atau bangunan

4. Harga perolehan/penjualan dalam hal terjadi pengalihan harta


karena hibah, bantuan atau sumbangan dan warisan

Bila terjadi pengalihan harta karena hibah yang diterima oleh keluarga
sedarah dalam garis keturunan lurus satu sederajat dan oleh badan
keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan dan bantuan atau sumbangan dengan syarat hibah,

59
sumbangan tersebut tidak ada kaitannya dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak bersangkutan,
serta warisan, maka dasar penilaian atau nilai perolehan bagi pihak
yang menerima adalah :
a. Untuk WP yang menyelenggarakan pembukuan :
Bila memenuhi Pasal 4 ayat 3 huruf a dan b UU.PPh nilai
perolehan sama dengan nilai sisa buku. Tapi bila tidak memenuhi,
maka nilai perolehan sama dengan nilai pasar
b. Untuk WP yang tidak menyelenggarakan pembukuan :
Berarti nilai sisa buku harta tersebut tidak diketahui, maka nilai
perolehan adalah :
 Bila harta berupa tanah dan atau bangunan dan tahun
pengalihannya diketahui, maka :
• Pengalihan s/d tahun 1986, sama nilainya dengan NJOP
yang tercantum pada SPPT PBB tahun 1986, atau
• Pengalihan diatas tahun 1986, sama nilainya dengan NJOP
SPPT PBB tahun pajak diperolehnya harta tersebut, atau
• Bila SPPT PBB tidak ada, nilai perolehan dihitung
berdasarkan SK Ka KPP PBB.
 Bila tahun pengalihan tidak diketahui, maka nilai
perolehan sama dengan NJOP yang tercantum pada SPPT
PBB tahun pajak paling awal atas nama WP yang mengalihkan
harta, jika SPPT PBB juga tidak ada nilai perolehan dihitung
berdasarkan SK Ka KPP PBB.
 Untuk harta selain tanah dan atau bangunan dan nilai
perolehan tidak diketahui, maka dihitung 60% dari harga pasar
wajar saat harta tersebut diterima.

Jika yang menerima hibah tidak tergolong salah satu dari ketentuan
diatas, maka nilai perolehan sama dengan nilai pasar harta tersebut.

60
5. Harga perolehan/penjualan dalam hal terjadi pengalihan harta
termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai
pengganti penyertaan modal

Nilai harta bagi badan penerima pengalihan untuk kategori ini sama
dengan nilai pasar dari harta tersebut.

Referensi : UU.No.10 tahun 1994; Kep. Dirjen Pajak No. KEP-249/


KMK.04/95; Kep. Dirjen Pajak No. KEP-11/PJ./95

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 7
MODUL PERTEMUAN X
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN DAN
AMORTISASI AKTIVA

ADIYAS, SE, MM.

61
A. PENDAHULUAN

Sebetulnya tidak berbeda satu dengan lainnya. Kedua-duanya


merupakan pembebanan/biaya dalam kaitannya dengan penurunan
kegunaan/manfaat secara berkala dari suatu harta tetap yang berwujud
(tangible assets) maupun yang tidak berwujud (intangible assets).
Yang masuk dalam kategori harta tetap adalah aktiva yang
secara relatif tetap atau bersifat permanen yang dibeli oleh perusahaan
dan bukan untuk dijual kembali dalam operasi perusahaan, seperti
peralatan, perabotan, perkakas, mesin-mesin, gedung dan tanah. Ciri
utama dari harta tetap adalah : selain berwujud juga memiliki masa
kegunaan lebih dari 1 tahun dan dapat dipakai berulang-ulang.
Khusus untuk harta tetap berupa tanah tidak dapat disusutkan,
kecuali tanah yang digunakan oleh perusahaan genteng atau
pertambangan yang jilainya semakin berkurang, karena digunakan
memperoleh penghasilan. Nilainya semakin berkurang, karena digunakan
memperoleh penghasilan.
Yang masuk dalam kategori harta tak berwujud adalah suatu ktiva
yang umurnya panjang, yang berguna dalam operasi perusahaan, yang
dimiliki bukan untuk dijual kembali, tetapi tidak mempunyai bentuk fisik,
contohnya hak patent, hak cipta, dan goodwill.
Menurut UU Perpajakan Penghasilan, penyusutan harta tetap dan
amortisasi untuk harta tak berwujud dibedakan dalam beberapa kelompok
berikut :

Tabel : Masa Manfaat & Tarif Penyusutan Harta Berwujud :

Tarif garis Tarif Saldo


Harta Berwujud Masa Manfaat
Lurus Menurun
1 Bukan Bangunan :
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
Kelompok 2 8 tahun 12,5 % 25 %

62
Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %

2 Bangunan :
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak permanen 10 tahun 10 % -
Sumber : UU No. 10 tahun 1994, tentang Pajak penghasilan

Tabel : Masa Manfaat & Tarif Amortisasi Harta tak Berwujud :

Harta Tak Berwujud Masa Manfaat Tarif garis Tarif Saldo


Lurus Menurun
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
Kelompok 2 8 tahun 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %

B. SAAT BERLAKUNYA AMORTISASI :

1. Harta tetap pada umumnya mulai berlaku pada tahun


perolehannya.
2. Harta tetap yang masih dalam proses pengerjaan, saat berlakunya
dimulai pada tahun selesainya pengerjaan.
3. Harta tetap akibat usala leasing, saat berlakunya dimulai pada
tahun harta yang bersangkutan dileasingkan.

C. PENARIKAN HARTA TETAP DARI PEMAKAIAN :

63
Tidak selamanya harta tetap dalam suatu perusahaan dapat
digunakan. Hal ini karena dari harta itu yang sudah tidak dapat
dipertahankan lagi. Hal ini bisa dapat disebabkan karena bencana alam
atau perusahaan dengan sengaja menghentikan sebagian besar
produksinya karena sebab-sebab di luar kekuasaan perusahaan. Sebab-
sebab lainnya mengenai penarikan harta tetap ini adalah dijualnya harta
tersebut, karena sudah tidak efisien lagi dan akan diganti dengan yang
baru.
Dari alasan tersebut, maka penarikan harta tetap dari pemakai
menurut UU pajak penghasilan dibedakan dalam 2 bagian, yaitu :
a. Penarikan harta tetap sebab luar biasa, yang masuk dalam kategori
ini adalah penarikan yang diakibatkan oleh adanya bencana alam
dan hal-hal yang terjadi diluar kekuasaan perusahaan, seperti
penyitaan dan kebakaran. Yang dibebankan sebagian kerugian
dalam periode penarikan harta tersebut adalah sebesar harta sisa
buku menurut UU perpajakan dari harta yang ditarik, sedangkan
hasil penjualan atau penggantian asuransinya merupakan
penghasilan dalam tahun yang bersangkutan.
b. Penarikan harta tetap karena sebab biasa; yang masuk dalam
kategori ini adalah penarikan karena harta tersebut dijual yang
disesuaikan dengan kebutuhan nilai ekonomis dari suatu harta.
Yang menjadi perhatian adalah penerimaan neto dari penjualan
harta tersebut, yaitu selisih antar harta penjualan dengan biaya
yang seharusnya dan benar-benar dikeluarkan berkenan dengan
penjualan tersebut.

D. REVOLUSI HARTA TETAP :

Masalah penyusutan tidak lepas dari masalah revolusi. Revolusi


adalah suatu penyesuaian yang berkenaan dengan adanya perubahan

64
nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing, yang bagi
perusahaan bertujuan untuk mencerminkan kemampuan dan nilai
perusahaan yang sebenarnya. Revolusi harta tetap dapat diartikan
sebagai penyesuaian harta atau nilai perolehan harta tetap berwujud yang
dimiliki dan digunakan dalam perusahaan yang berkenaan dengan adanya
perubahan nilai tukar mata uang asing (US$/USD) terhadap nilai mata
uang rupiah (Rp).

E. CONTOH-CONTOH PERHITUNGAN :

1. Dengan menggunakan Declining Balanced Method


(Metode Saldo yang semakin menurun)

Soal 1 :
PT. Triasta pada tahun 1995 membeli sebuah mesin seharga Rp. 45
juta. Mesin tersebut memiliki masa manfaat tidak lebih dari 3 tahun,
dengan tarif penyusutan sebesar 25%. Berapa besarnya nilai buku dan
penyusutan dari mesin tersebut pada tahun 1997
Penyelesaian :

Tahun 1995, harga pembelian Rp 45.000.000


Penyusutan 25% x Rp 45. Juta Rp. 11.000.000 _
Dasar penyusutan Januari 1996 Rp 33.750.000
Tahun 1996, penyusutan 25% x Rp.33.750.000 Rp. 8.437.500 _
Dasar penyusutan Januari 1997 Rp 25.312.500
Tahun 1997, penyusutan 25% x Rp.25.312.500 Rp. 6.328.125 _
Nilai mesin pada tahun 1997 Rp. 18.984.375

Cara lain yang dapat ditempuh dalam menghitung besarnya nilai


bukun pada tahun “n” adalah dengan cara memasukkannya dalam
rumus :

65
Nb = (1 – Tp)n X Hb
dimana : Nb = Nilai buku
Tp = Tarif penyusutan
Hb = Harga beli (harga pokok)
n = tahun ke “n”
Sehingga untuk mengetahui besarnya penyusutan pada tahun 1997
tersebut adalah :

Nb = (1-0,25)3 x Rp.45.000.000,- = Rp. 18.984,375,-

Sedangkan untuk mencari besarnya nilai penyusutan pada tahun ke


“n” dapat digunakan rumus :

Dn = (Hb X 3n-1) (Tp)n


(rumus ini hanya berlaku untuk tarif penyusutan 25%)

dimana : Dn = depresiasi tahun ke “n”


3n-1 = merupakan factor tarif 25%
Jadi :
Penyusutan 1995 = (45.000.000 X 32-1) (0,252) = Rp 8.437.500
Penyusutan 1996 = (45.000.000 X 33-1) (0,253) = Rp. 6.328.125

2. Dengan menggunakan Straight Line Method


(Metode garis lurus)
Sebuah mesin yang harga perolehnya Rp. 120 juta dengan masa
manfaat 20 tahun menurut metode garis lurus ini penyusutan setiap
tahunnya adalah sebagai berikut :
Rp. 120.000.000 : 20 = Rp. 6.000.000

66
Referensi : UU.No.10 tahun 1994; Kep. Dirjen Pajak No. KEP-
82/KMK.04/95

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 8
MODUL PERTEMUAN XI
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PERHITUNGAN PAJAK YANG
TERHUTANG (KHUSUS WP ORANG PRIBADI)

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Pajak atau lebih tepatnya Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi


adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak (WP) orang pribadi

67
atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak
tertentu. Subjek pajak orang pribadi tersebut dikenakan pajak apabila
menerima atau memperoleh penghasilan. Subjek pajak orang pribadi yang
menerima atau memperoleh penghasilan disebut dengan Wajib Pajak
Orang Pribadi (WP OP).
WP OP dikenai pajak atas penghasilan yang diperoleh atau
diterimanya selama satu tahun pajak atau dapat pula dikenai pajak untuk
penghasilan dalam bagian tahun pajak apabila kewajiban pajak
subjektifnya dimulai atau berakhir dalam tahun pajak.
Tahun pajak adalah tahun takwim, tetapi WP OP dapat
menggunakan tahun buku yang tidk sama dengan tahun takwim,
sepanjang tahun buku tersebut meliputi jangka waktu 12 bulan.
Wajib Pajak Orang Pribadi adalah orang pribadi yang menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk
melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungutan pajak dan
pemotongan pajak tertentu.

B. SUBJEK PAJAK ORANG PRIBADI

Subjek pajak orang pribadi dibedakan menjadi subjek pajak


dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. Subjek pajak orang pribadi
dalam negeri menjadi WP apabila telah menerima atau memperoleh
penghasilan yang besarnya melebihi Penghasilan Kena Pajak (PKP).
Sedangkan subjek pajak orang pribadi luar negeri menjadi WP karena
menerima dan atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari
Indonesia atau menerima dan atau memperoleh penghasilan yang
bersumber dari Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap (BUT) di
Indonesia. Dengan perkataan lain WP adalah orang pribadi yang telah
memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. Sehubungan dengan
pemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), WP OP yang menerima
penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tidak wajib
mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.

68
1. Subjek Pajak Dalam Negeri (WPDN)

Subjek pajak orang pribadi dalam negeri adalah orang pribadi yang
bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia selama lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau orang pribadi yang
dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat
untuk bertempat tinggal di Indonesia. Pada prinsipnya, orang pribadi
yang menjadi subjek pajak dalam negeri adalah orang pribadi yang
bertempat tinggal atau berada di Indonesia, termasuk mereka yang
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia dan ditimbang
menurut keadaan.

Keberadaan di Indonesia selama lebih dari 183 hari tidak harus


berturut-turut, tetapi ditentukan oleh jumlah hari keberadaan orang
tersebut dalam jangka waktu 12 bulan sejak kedatanggannya di
Indonesia. Kepada orang tersebut dikenakan PPh atas penghasilan
yang diterima atau diperoleh, baik dari Indonesia maupun dari luar
negeri (world wide income / azas domisili).

2. Subjek Pajak Luar Negeri (WPLN)

Subjek pajak orang pribadi luar negeri adalah orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia selama tidak
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia atau yang
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan BUT di Indonesia. Atau
orang pribadi yang bertempat tinggal di luar Indonesia yang dapat
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, baik melalui
atau tidak melalui BUT.

69
Apabila WPLN menerima atau memperoleh penghasilan melalui BUT,
maka terhadapnya dikenakan pajak melalui BUT. Orang tersebut
tetap berstatus sebagai WPLN. Dengan demikian, dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya di Indonesia, BUT tersebut menggantikan
orang pribadi sebagai subjek pajak luar negeri.

WPLN hanya dikenakan PPh atas penghasilan yang diterima atau


diperoleh dari Indonesia, baik melalui BUT maupun tanpa melalui
BUT di Indonesia (source principle).

3. Pengecualian Subjek Pajak Luar Negeri

Orang-orang pribadi yang sudah memenuhi syarat sebagai WPLN


tapi dikecualikan dari subjek pajak dan atas penghasilannya tidak
dikenakan pajak di Indonesian adalah pejabat perwakilan diplomatik
dan pejabat organisasi internasional.

Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-


pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan
kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-
sama mereka, tidak termasuk subjek pajak di Indonesia, dengan
syarat sebagai berikut :
a. Bukan WNI
b. Di Indonesia tidak menerima atau memperoleh
penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut
c. Negara tersebut memberi perlakuan timbal balik

Jadi apabila pejabat perwakilan negara lain memperoleh penghasilan


lain di luar jabatannya, maka ia menjadi subjek pajak atas
penghasilan lain tersebut.

70
Yang termasuk pengecualian juga adalah pejabat-pejabat perwakilan
organisasi internasional yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri
Keuangan dengan syarat sebagai berikut ;
a. Bukan WNI
b. Tidak menjalankan usaha, kegiatan atau pekerjaan lain untuk
mendapatkan penghasilan dari Indonesia

C. PENENTUAN PENGHASILAN KENA PAJAK

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak (PKP) bagi WP OP yang


memperoleh penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dengan
menggunakan pembukuan adalah :

PKP = penghasilan neto fiskal – zakat atas penghasilan –


kopensasi kerugian - PTKP

Sedangkan penghitungan PKP bagi WP yang memperoleh


penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dengan menggunakan
pencatatan dan bagi WP yang memperoleh penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan adalah :

PKP = penghasilan neto fiskal – zakat atas penghasilan – PTKP

Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim


atau badan yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai ketentuan agama
untuk diberikan kepada yang berhak.
Zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh WP OP
pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat (BAZNAS) atau lembaga
amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah sesuai dengan

71
bukti setoran yang sah (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat 3
UU No.38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat), dapat dikurangkan dari
PKP. Sedangkan bagi yang menerimanya tidak termasuk dalam
pengertian penghasilan yang dipotong PPh 21.

Contoh :
Tuan Abdullah adalah pegawai yang menerima gaji Rp.8.000.000,-
/bulan. Dia memiliki satu istri dan tiga orang anak. Maka perhitungan
yang harus dilakukan adalah :

Penghasilan bruto (12 x 8.000.000) Rp. 96.000.000,-


Biaya jabatan (5% x 96.000.000) Rp. 1.296.000,- _

Penghasilan neto sebelum zakat Rp. 94.704.000,-


Zakat (2,5% x 94.704.000) Rp. 2.367.600,- _

Penghasilan neto setelah zakat Rp. 92.336.400,


PTKP (K/3) Rp. 18.000.000,- _

PKP Rp. 74.336.400,-


PPh terutang (15% x 74.336.400) Rp. 11.150.460

D. KOMPENSASI KERUGIAN
1. Kompensasi Kerugian Horizontal
WP OP diperkenankan untuk memperhitungkan kerugian yang
diderita pada periode berjalan, antara lain berupa :
a. Kerugian penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan orang pribadi atau yang dimiliki untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan;
b. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing
c. Kerugian yang diderita suatu unit atau cabang usahanya.
Kerugian (fiskal) yang diderita suatu unit atau cabang usaha bisa
dikompensasikan dengan laba (fiskal) dari cabang lain sesama di
Indonesia.
2. Kompensasi Kerugian Vertikal (Tax loss carry Forward)

72
Jika WP OP yang menggunakan pembukuan mengalami kerugian
dapat dikompensasikan dengan penghasilan (neto/laba fiscal) selama
maksimal 5 tahun setelah tahun pajak terjadinya kerugian tersebut.
Jika lewat dari 5 tahun, maka sisa kerugian yang belum
dikompensasikan dianggap daluwarsa. Kerugian tersebut adalah
kerugian menurut fiskal, yaitu penghasilan bruto dikurangi dengan
biaya-biaya yang diperbolehk
E. PAJAK YANG TERUTANG
Perhitungan pajak terutang bagi WP yang memperoleh penghasilan
dari usaha atau pekerjaan bebas dengan menggunakan pembukuan
maupun pencatatan dan Wp yang memperoleh penghasilan sehubungan
pekerjaan adalah :
PPhterutang=PKPx tarif PPh OP – PPh 24 yg telahdikreditkan.
Tarif PPh OP (Pasal 17 UU PPh)

Lapisan PKP Tarif PPh


Sampai dengan Rp. 25.000.000,- 5%
Di atas Rp. 25.000.000,- s/d Rp. 50.000.000,- 10%
Di atas Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 100.000.000,- 15%
Di atas Rp. 100.000.000,- s/d Rp. 200.000.000,- 25%
Di atas Rp. 200.000.000,- 35%

Untuk keperluan penerapan tarif pajak dalam menghitung PPh


terutang, maka PKP dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh.
Mulai tahun pajak 2009 tarif Pasal 17 UU PPh berubah menjadi :

Lapisan PKP Tarif PPh


Sampai dengan Rp. 50.000.000,- 5%
Di atas Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 250.000.000,- 15%
Di atas Rp. 250.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,- 25%
Di atas Rp. 500.000.000, 30%

F. PERHITUNGAN PAJAK YANG KURANG/LEBIH BAYAR

Perhitungan pajak akhir tahun dilakukan dengan mengurangkan


PPh terutang dengan kredit pajak yang telah dibayar oleh WP dalam

73
tahun berjalan, baik melalui pembayaran sendiri maupun melalui
pemotongan/pemungutan pihak lain.
Kurang bayar (PPh Pasal 29 UU PPh) adalah saat dimana PPh
terutang lebih besar daripada Kredit Pajak, sedangkan lebih bayar adalah
saat dimana PPh terutang lebih kecil dari Kredit Pajak yang harus dilunasi
paling lambat tanggal 25 bulan ketiga setelah tahun pajak berakhirnya dan
sebelum SPT tahunan disampaikan.. Perhitungan PPh Kurang/lebih bayar
dapat dilakukan dengan mempergunakan Form 1770 Induk bagian D.

Referensi : UU.No.10 tahun 1994; Kep. Dirjen Pajak No. KEP-


03/PJ/95; diperbaharui dengan UU No.36 Tahun 2008

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 9
MODUL PERTEMUAN XII & XIII
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN DAN TEKNIS PERHITUNGAN PPN DAN PPnBM PPh

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Undang-undang PPN Barang & Jasa PPnBM ( disingkat UU PPN)


mengatur pengenaan atas :

74
1. Pajak Pertambahan Nilai Barang & Jasa (PPN).
2. Pajak. Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

Pajak Pertambahan Nilai merupakan :


1. Pajak tidak langsung.
2. Pajak atas konsumsi dalam negeri.

Kelemahan PPN 1951 (UU. yang lama) antara lain :


1. Adanya pajak berganda.
2. Barmacam-macam tarif (ada 9 macam tarif ), sehingga
menimbulkan kesulitan pelaksanaannya.
3. Tidak mendorong ekspor.
4. Belum dapat mengatasi penyelundupan.

Kelebihan PPN 1984 (Undangan-undangan yang baru), antara


lain :
1. Menghilangkan pajak berganda
2. Tarif tunggal, sehingga memudahkan pelaksanaan.
3. Dapat menghindarkan penyelundupan (lebih mudah
pengawasan).
4. Netral dalam persaingan dalam negeri.
5. Netral dalam perdagangan internasional.
6. Netral dalam pola konsumsi
7. Dapat mendorong ekspor.

B. DASAR HUKUM

Peraturan Perundang-undangan yang mengatur PPN dan PPnBM


adalah UU No.8 Tahun 1983, tentang PPN Barang & Jasa dan PPnBM
sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No.11 Tahun 1994.

75
Lahirnya sistem PPN dan PPnBM ini tentu saja membawa
dampak positif dalam pelaksanaannya, antara lain :
1. PPN dan PPnBM dalam pelaksanaannya bisa menghindari
pengenaan pajak berganda.
2. Dalam ekspor, diberikan pengembalian beban pajak yang
melekat pada waktu perolehan harga barang yang diekspor.
3. Dalam hal impor, jumlah pajak yang dipungut sama dengan
jumlah pajak yang dikenakan atas barang yang diproduksi di dalam
negeri pada tingkat harga yang sama, karena itu menciptakan
persaingan yang sehat untuk keuntungan konsumen.
4. Penerapan sistem tarif yang lebih sederhana atas PPn dan
PPnBM dapat dengan mudah melacak setiap bentuk penyelundupan
pajak.

C. PENGERTIAN PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK


PERTAMBAHAN NILAI

Yang dimaksud dengan pertambahan nilai adalah jumlah antara


biaya yang dikeluarkan dan tingkat laba yang diharapkan dalam suatu
proses produksi. Artinya proses pertambahan nilai selalu timbul karena
adanya biaya-biaya yang dikeluarkan mulai dari bahan baku siap dijual
dengan tingkat laba yang diharapkan.
Dalam proses produksi tentu saja tidak lepas dari faktor-faktor
produksi seperti:
- Harta tetap, dimana ada biaya penyusutan dari harta tetap
tersebut.
- Modal, berkaitan dengan faktor bunga modal yang harus
dibayarkan.
- Tenaga kerja, berkaitan dengan pembayaran upah dan gaji.
- Biaya-biaya kantor dan laba yang diharapkan.

76
Untuk menghitung PPN yang terutang, Pengusaha Kena Pajak
(PKP), harus menghitung selisih antara Pajak Keluaran dengan Pajak
Masukan yang secara sederhana dapat dirumuskan PPN = Pajak
Keluaran – Pajak Masukan. Jika Pajak Keluaran ternyata lebih kecil dari
Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan hak Pengusaha Kena Pajak
yang dapat diminta kembali atau dikompensasikan dengan Jumlah Pajak
yang terutang.

D. BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN DENGAN PPN

1. Barang Kena Pajak (BKP) :


Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang berwujud yang menurut sifat
atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak
bergerak maupun barang tidak berwujud yang dikenakan pajak
berdasarkan Undang-Undang PPN.

2. Pengusaha Kena Pajak (PKP) :

a. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk


apapun yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya
menghasilkan barang melakukan usaha perdagangan,
memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean,
melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah
Pabean.
b. PKP adalah Pengusaha sebagaimana yang dimaksud pada
no. 1 yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak yang
dikenakan pajak berdasarkan UU.PPN, tidak termasuk Pengusaha
Kecil (PK) yang batasannya ditetapkan oleh Menkeu, PK yang
memiliki untuk dikukuhkan menjadi PKP.

3. Jasa Kena Pajak (JKP) :

77
Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan pelayanan
berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang
menyebabkan suatu barang/fasilitas atau kemudahan atau hak
tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk
menghasilkan barang karena pemesan, yang dikenakan pajak
berdasarkan Undang-undang PPN.

E. CARA MENGHITUNG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Ada 2 metode dalam menghitung PPN, yaitu :


1. Metode langsung (direct subtraction method) :
Diperoleh dari : Tarif x pertambahan nilai
Cara ini sulit dilaksanakan.
2. Metode tidak langsung (indirect subtraction method / tax
invoice method) :
Diperoleh dari : Pajak Keluaran – Pajak Masukan

Dalam perhitungan tetap dibahas dengan menghitung PPn


dengan menggunakan metode yang kedua yaitu metode tidak langsung.
Untuk memahami besarnya pertambahan nilai dan besarnya PPN
yang harus dibayarkan, dapat diperhatikan contoh berikut.

Contoh :

1. Bahan baku yang dibeli oleh perusahaan garment berupa


kain dan bahan pembantu lainnya seharga Rp. 500,- Seandainya
biaya-biaya yang timbul dan keuntungan yang diharapkan akibat
produksi tersebut akan menjual hasil produksinya seharga Rp. 450,-
maka perusahaan garment tersebut akan menjual hasil produksinya
seharha Rp. 950,-. Dari contoh ini dapat diketahui bahwa besarnya
Pertambahan Nilai adalah Rp. 450,- yaitu semua biaya dan tingkat

78
laba yang diharapkan selama proses produksi dari bahan mentah
sampai menjadi barang jadi.
a. Jika diketahui tarif PPN 10%, maka kita dapat menghitung
pula besarnya PPN, yakni :
Beli Rp. 500 PPN 10 % = Rp. 50 (Pajak Masukan)
Jual Rp. 950 PPN 10% = Rp. 95 (Pajak Keluaran)
PPN yang harus dibayarkan = Pajak Keluaran – Pajak Masukan.
= Rp. 95 – Rp. 50
= Rp. 45,-
Nilai PPN diatas sama besarnya dengan 10% dari pertambahan
Nilai sebesar Rp. 450,- yaitu : 10% x Rp. 450,- = Rp. 45,-

b. Jika perusahaan garment tersebut hanya mampu menjual


hasil produksinya senilai Rp. 250,- maka perhitungannya adalah
sebagai berikut :
Beli Rp. 500,- PPN 10% = Rp. 50,- (Pajak Masukan)
Jual Rp. 250,- PPN 10% = Rp. 25,- (Pajak Keluaran)
Maka terjadi kelebihan pembayaran PPN sebesar Rp. 25,- yang
merupakan hak dari pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat
diminta kembali atau dikompensasikan untuk pajak yang terutang
untuk masa pajak berikutnya.

Seperti yang diuraikan sebelumnya sistem pemungutan Pajak


pertambahan Nilai (PPN) dilakukan secara bertahap sesuai dengan
tingkat produksi mulai dari bahan baku sampai barang jadi (multi-stages
system) . Berikut ini akan diuraikan penerapan multi-stages system dalam
PPN, sebagai berikut :

Tabel Multi – Stages


Tahap Harga beli Harga jual Pajak Pajak PPN
Produksi Masukan Keluaran
Kapas - 400 - 40 40

79
Benang 400 1.200 40 40 80
Kain 1.200 2.000 120 120 80
Baju 2.000 5.000 200 200 300
Total 3.600 8.600 360 860 500

Dari tabel diatas, petani kapas menjual kapasnya ke produsen


benang dengan harga Rp. 400,- ini menimbulkan pajak keluaran sebesar
Rp. 40,- (10% x Rp. 400) yang juga merupakan jumlah PPN-nya (PPN =
Pajak Keluaran (Rp. 40,-) - Pajak Masukan (Rp. 0,). Bahan baku berupa
kapas yang dibeli oleh produsen benang sebesar Rp. 400,- menimbulkan
pajak masukan sebesar Rp. 40,- (10% x Rp. 400), dari bahan baku
tersebut, ternyata setelah menjadi benang dibutuhkan oleh produsen kain.
Seandainya harga kain setelah jadi sebesar Rp. 2.000,- maka dari
keadaan itu dapat dihitung pajak masukannya sebesar Rp. 120,- dan
pajak keluarannya Rp. 200,- sehingga PPN yang harus dibayarkan pada
tingkat ini adalah sebesar Rp. 80,-. Selanjutnya produsen baju yang
membutuhkan kain sebagai bahan baku, akan membeli kain yang
mengakibatkan timbulnya pajak masukan sebesar Rp. 200,-. Jika ternyata
dalam proses produksi harga baju akan dijual seharga Rp. 5.00,- maka
akan ada pajak keluaran sebesar Rp. 500,- yang juga merupakan PPN
yang dibayarkan oleh konsumen yang membeli baju tersebut.
Dari seluruh rangkaian proses produksi, mulai dari bahan baku
berupa kapas sampai menjadi baju yang siap dijual dipasaran, maka kita
dapat menghitung jumlah PPN yang dibayarkan dalam rangkaian tersebut,
yaitu Rp. 500,- yang merupakan penjumlahan atas PPN tahap pertama
sebesar Rp. 40,- ditambah PPN tahap kedua sebesar Rp. 80,- PPN tahap
ke 3 sebesar Rp. 40,- ditambah PPN tahap ke 4 sebesar Rp. 300,-
Pajak Masukan yang telah dibayarkan pada waktu perolehan
Barang Kena Pajak (BKP) yang langsung diekspor atau diserahkan
kepada Pengusaha Kena Pajak dapat dikreditkan terhadap Pajak
Masukan yang dihitung dengan pedoman sebagai berikut :

80
a. Rumus yang dapat digunakan untuk menetapkan
perkreditan pajak ini adalah :

Penyerahan BKP kepada PKP


X Jumlah Pajak Masukan
Nilai Peredaran Usaha

b. Besarnya perkreditan pajak tidak boleh lebih lebih besar dari


Pajak Masukan atau dapat juga dikatakan bahwa Pajak Masukan
harus lebih besar dari perkreditan pajak.
c. Pajak Masukan atas persediaan BKP yang masih tersedia
dapat dikompensasikan pada masa pajak berikutnya.

Contoh :
1. Dari suatu kegiatan usaha diketahui bahwa PT “X” :
a. Membeli BKP seharga Rp. 15.000.000
b. Ekspor BKP Rp. 5.000.000
c. Menjual BKP ke PKP Rp. 7.500.000
d. Menjual BKP ke bukan PKP Rp. 2.500.000

Pajak Masukan :
10% x Rp. 15.000.000,- Rp. 1.500.000

Pajak Keluaran :
Atas Ekspor 0% Rp. –
Atas PKP 10% x Rp. 7.500.000,- Rp. 7.500.000
Kepada bukan PKP tidak dikenakan pajak Rp. –
Total Pajak Keluaran Rp. 750.000

Pajak Masukan yang dapat dikreditkan :


a. Atas Ekspor :
Rp. 5.000.000
X Rp. 1.500.000,- = Rp. 500.000,-
Rp. 15.000.000

81
b. Atas penjualan kepada PKP :
Rp. 7.500.000
X Rp. 1.500.000,- = Rp. 750.000,-
Rp. 15.000.000

Total Pajak Masukan yang dapat dikreditkan :


= Rp. 500.000 + Rp. 750.000 = Rp.1.250.000,-

Jumlah Pajak yang lebih bayar atau harus disetorkan adalah :


Pajak Masukan yang dapat dikreditkan = Rp. 1.250.000
Pajak Keluaran = Rp. 750.000
Pajak yang lebih dibayar = Rp. 550.000,-

F. TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Ada dua cara yang dilakukan dalam pemungutan PPN, yaitu :


1. Accrual basis, yaitu suatu prinsip pemungutan pajak dengan
cara memungut pajak terutang pada saat penyerahan barang/jasa
kena pajak, impor, meskipun belum diterima pembayarannya.
2. Cash basis, yaitu suatu prinsip pemungutan pajak dengan
cara memungut pajak terutang pada saat penerimaan pembayaran,
meskipun belum menerima barang/jasa kena pajak.

G. PENGERTIAN PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH (PPnBM)

PPnBM merupakan pungutan pelengkapan atas pengenaan PPN.


Dikatakan pelengkapan karena pengenaan PPnBM ini sifatnya adalah
pemungutan satu kali pada sumbernya atas pembeli atau konsumen
barang termasuk dalam kategori barang mewah. Barang mewah yang
dimaksud adalah : barang yang dianggap memiliki daya kemampuan lebih
tinggi sehingga wajar kalau dipungut pajak yang lebih tinggi.

82
Contoh Perhitungan PPN dan PPn BM :
PT “X” membeli barang dan jasa kena pajak (PKP) yang
tergolong mewah dengan harga penyerahannya Rp. 130.000.000,-
1. Jika diketahui bahwa barang mewah yang dimaksud diatas
tergolong tarif PPnBM 20%, berapa jumlah seluruhnya yang harus
dibayarkan oleh PT “X”
2. Jika diketahui bahwa harga BKP yang tergolong mewah
tersebut diatas sudah termasuk PPn10% dan PPnBM 20%, berapakah
harga barang tersebut yang merupakan Dasar Pengenaan Pajak
(DPP) ?

Penyelesaian

4. Harga sebagai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp. 130.000.000


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% Rp. 13.000.000
Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM) 20% Rp. 26.000.000 +
Jumlah yang dibayar oleh PT “X” Rp. 169.000.000,-

5. Untuk kasus no.2 dapat diselesaikan sebagai berikut :

10
PPN = x Rp. 130.000.000 = Rp. 10.000.000
100 + 10 + 20

20
PPnBM = x Rp. 130.000.000 = Rp. 20.000.000
100 + 10 + 20

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = Harga BKP – (PPN + PPnBM)

DPP = Rp.130.000.000 – (Rp. 20.000.000 + Rp. 10.000.000)


= Rp. 100.000.000,-

83
Referensi : UU.No.11 tahun 1994
PP. No. 50 Tahun 1994
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA 10
MODUL PERTEMUAN XIV
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN UMUM MENGENAI PBB

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

84
Sesuai dengan UU No. 12 1994 dan peraturan serta keputusan
Penerapan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), seperti halnya dengan jenis-
jenis pajak lainnya, juga mengalami perubahan-perubahan yang
disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di Indonesia.
Perubahan-perubahan yang dilakukan pada dasarnya
penyederhanaan dari peraturan yang satu ke peraturan yang lainnya.
Penyederhanaan tersebut diatur dalam beberapa jenis pungutan atas
tanah dan bangunan yaitu :
1. Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908
2. Ordonansi Verponding Indonesia 1923
3. Ordonansi Verponding 1928
4. Ordonansi Pajak Kekayaan 1923
5. OrdonansiPajak Jalanan 1932
6. Pasal 14 huruf j, k dan l UU Darurat No. 11 tahun 1957 tentang
Peraturan Umum Pajak Daerah.
7. Peraturan Pemerintah pengganti UU No. 11 tahun 1959 tentang Pajak
Hasil Bumi (IPEDA) dan Peraturan perundang-undangan lain
sepanjang mengenai tanah dan bangunan, dinyatakan tidak berlaku
lagi & diganti dengan pungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

B. OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Yang menjadi objek PBB adalah Bumi dan Bangunan. Yang


dimaksud dengan Bumi adalah Permukaan bumi meliputi tanah dan
perairan pedalaman laut wilayah Indonesai. Sedangkan yang dimaksud
dengan Bangunan adalah Konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan
secara tetap pada tanah dan/atau perairan, sehingga yang termasuk
dalam pengertian bangunan disini yaitu :
1. Jalan lingkungan yang terletak
2. Jalan tol.
3. Kolam renang.
4. Pagar mewah, taman mewah.

85
5. Tempat olah raga.
6. Galangan kapal/dermaga.
7. Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa
minyak.
8. Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

Sedangkan yang tidak tergolong objek PBB antara lain :


1. Yang semata-mata digunakan untuk melayani kepentingan umum
dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan
nasional yang tidak dimaksud untuk memperoleh keuntungan.
2. Untuk kuburan, peninggalan purbakala atau sejenisnya.
3. Hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, taman nasional, tanah
pengembalaan yang dikuasai oleh desa, tanah negara yang belum
dibebani suatu pajak.
4. Untuk perwakilan diplomatik, konsulat, berdasarkan azas perlakuan
timbal balik.
5. Untuk bafan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan
oleh Menteri Keuangan RI.
6. Nilai Jual Pajak Tidak kena Pajak (NJO-PTKP) sebesar 8 juta.
(Th.2000 = Rp 12 juta).

Sebelum ditetapkan sebagai objek PBB, terlebih dahulu dilakukan


penelitian oleh pejabat yang berwenang menurut Undang-undang,
Penelitian Objek PBB dibagi 2 kategori, yaitu :

1. Penelitian tanah :
d. Penelitian objek tanah dilakukan dengan cara
menentukan/menilai harga tanah berdasarkan transaksi
jual beli tanah yang terjadi di wilayah tersebut dengan
mengambil harga jual rata-rata.

86
e. Untuk memudahkan penentuan harga tanah untuk
kepentingan penetapan PBB, maka sedikitnya setiap tahun
DitjenPajak cq. Kakanwil yang bersangkutan menerbitkan
Nilai Jual Objek Pajak sebagai pedoman.
f. Berdasarkan pennilaian/penentuan klasifikasi tanah
tersebut, petugas panilai mencatumkan kelas tanah pada
Surat Pemberitahuan Objek pajak tersebut.

2. Penelitian bangunan :
a. Penilaian objek bangunan dilakukan dengan cara menilai
konstruksi bangunan meliputi antara lain konstruksi landasan,
konstruksi atap, disamping juga memperhatikan segi kualitas
material bangunan dan luas bangunan.
b. Masing-masing konstruksi bangunan mempunyai cara-cara
penilaian tersendiri, dimana akhir penilaian tersebut merupakan
klasifikasi suatu bangunan yang akan dicantumkan pada SPOP
sebagai bahan penetapan Pajak Bumi & Bangunan (PBB).

C. PENETAPAN NILAI PAJAK

Berdasarkan data objek PBB yang dihimpun dalam Surat


Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dan telah diadakan penilaian serta
penentuan klasifikasi tanah dan bangunan, maka diadakan perhitungan/
penetapan sebagai berikut ;

1. Besarnya tarif adalah 0,5% (lima per-seribu).


2. Dasar Pengenaan Pajak (DPP) adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
3. Dasar perhitungan pajak adalah 20 % dari nilai NJOP.
4. Batas Nilai Jual Bangunan Tidak Kena Pajak (NJP-TKP) adalah
Rp.8juta (Rp.10.000.000,- apabila seorang WP mempunyai beberapa
objek pajak, yang diberi NJOP-TKP).

87
Contoh, seperti dikutip dari Penjelasan UU. No 12 tahun 1994 ayat
3, sebagai berikut :

Seorang WP mempunyai 2 objek pajak berupa bumi dan bangunan


masing-masing di desa A dan desa B dengan nilai sebagai berikut :

Desa A :
Nilai jual Objek Pajak Bumi (NJOPB) Rp. 8.000.000
Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp. 5.000.000

Nilai Jual Objek Pajak untuk Perhitungan pajak :


Nilai Jual Objek Bumi Rp. 8.000.000
Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp. 5.000.000 +
NJOP sebagai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp. 13.000.000
NJOP untuk Perhitungan pajak Rp. 8.000.000 _
NJOP-TKP Rp. 5.000.000

Desa B:
Nilai jual Objek Pajak Bumi (NJO PB) Rp. 5.000.000
Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp. 3.000.000

Nilai Jual Objek Pajak untuk Perhitungan Pajak :


Nilai Jual Objek Bumi Rp. 5.000.000
Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp. 3.000.000 +
NJOP sebagai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Rp. 8.000.000
NJOP untuk Perhitungan pajak Rp. - _
NJOP-TKP Rp. 8.000.000

Selanjutnya penetapan besarnya pajak yang terutang harus


diperhitungkan dengan cara, yaitu :
- Untuk tanah = 0,5% x 20% x nilai jual tanah

88
- Untuk bangunan = 0,5% x 20% x (NJ bangunan – NJB-TKP)
Atau
- Untuk tanah dan bangunan = 0,5% x 20% x NJOP sebagai Dasar
Pengenaan Pajak (DPP)

D. SUBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Yang menjadi subjaek/WP PBB adalah orang atau badan yang


secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau memperoleh
manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai dan/atau memperoleh
manfaat atas bangunan, antara lain pemilik, penghuni, pengontrak,
penggarap, pemakai dan penyewa.

Contoh Perhitungan :

Batara sebagai WP memiliki tanah seluas 1000 m2 persegi dengan nilai


jual Rp. 300.000/m2. dari tanah seluas 1000 m2 tersebut bediri sebuah
bangunan 400 m2 dengan nilai jual Rp. 350.000/ m2. Jika ternyata
diketahui dalam lampiran klasifikasi, penggolongan dan ketentuan nilai
jual bumi dan bangunan termasuk dalam kategori NJOP Bumi kelas 24
(dimana NJOP/ m2 antara 262.000 sampai dengan 308.000 atau menurut
ketentuan NJOP bumi adalah Rp. 285.000/ m2 dan NJOP bangunan kelas.
8, sebesar Rp. 365.000/m2, maka besar perhitungan pajak terutang
sebagai berikut :

Nilai Jual Tanah = 1000 m2 x Rp. 285.000 = Rp. 285.000.000


Nilai jual bangunan = 400 m2 x Rp. 265.000 = Rp. 146.000.000 +
Jumlah NJOP = Rp. 431.000.000
Nilai jual bangunan tidak kena pajak = Rp. 8.000.000 _
Jumlah NJOP = Rp. 423.000.000
PBB terutang = 0,5% x 20% x Rp. 423.000.000 = Rp. 423.000,-

89
Referensi : UU.No.12 tahun
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAl 11
”VETERAN” JAKARTA

MODUL PERTEMUAN XV
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
KEBIJAKAN UMUM MENGENAI BEA METERAI

ADIYAS, SE, MM.

90
A. PENDAHULUAN

Objek Bea Materi dan tata cara pelunasannya yang sesuai


dengan ketentuan UU No. 13 tahun 1995 tentang Bea Meterai dan
Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1995 tentang Tarif Bea Meterai dan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24 tahun 2000, tentang
Perubahan Tarif Bea Meterai dan besarnya Pengenaan harga nominal
yang dikenakan Bea Materi yang mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 2000.
Bea Meterai adalah salah satu pajak yang dipungut dan dikelola
oleh negar. Pengertian Bea Materi itu sendiri sebenarnya adalah biaya
pengesahan/penguatan secara umum atas suatu dokumen berharga dan
pentingoleh negara. Bea Meterai dapat diartikan juga suatu pungutan atas
dokumen-dokumen berharga.

B. DOKUMEN-DOKUMEN YANG DIKENAKAN BEA MATERAI

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 17 tentang Bea Meterai,


dokumen-dokumen berharga yang dikenakan Bea Meterai adalah
dokumen-dokumen sebagai berikut :
1. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat untuk
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan kenyataan
atau keadaan yang bersifat perdata.
2. Akta-akta notaris termasuk salinannya
3. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
termasuk rangkapan-rangkapannya.
4. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari 1.000.000,-
- Yang menyebutkan penerimaan uang
- Menyatakan pembukuan uang atau penyimpan uang dalam
rekening bank (R/K)
- Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank
- Berisi pengakuan utang seluruhnya atau sebagian telah
dilunasi.

91
5. Surat berharga, seperti : Wesel, Promes dan aksep yang berharga
nominal lebih dari Rp. 1.000.000
6. Efek dengan nama dan alamat bentuk apapun, sepanjang harga
nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000
7. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian dimuka
pengadilan :
- Surat-surat biasa dan surat ke rumah tanggaan,
- Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai
berdasarkan tujuannya, tapi kemudian digunakan untuk tujuan lain
atau digunakan oleh orang lain dengan maksud yang lain.

C. DOKUMEN-DOKUMEN YANG TIDAK DIKENAKAN BEA MATERAI

Sedangkan dokumen-dokumen yang tergolong tidak dikenakan


bea materai adalah :
1. Surat penyimpanan barang, konosemen, surat angkutan
penumpang dan barang, keterangan pemindahan yang dituliskan
diatas dokumen, bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang, surat
pengiriman barang untuk dijual atas tanggunganpengirim dan surat-
surat swejenis lainnya.
2. Segala bentuk Ijazah
3. Berbagai bentuk tanda terima yang ada kaitannya dengan
hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan
pembayaran seperti : Gaji, Uang tunggu, Tunjangan dan pensiun.
4. Tanda bukti penerimaan uag negara dan kas negara dan kas
negara, kas pemerintah daerah dan bank
5. Kwitansi untuk semua jenis pajak dari kas negara, kas pemerintah
daerah dan bank
6. Tanda bukti penerimaan uang untuk keperluan intern organisasi
7. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang
tabungan kepada penabung bank, koperasi dan badan-badan lainnya
yang bergerak dibidang tersebut

92
8. Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan jawatan pengadaian
9. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama
dan dalam bentuk apapun.

Pemungutan Bea Meterai yang berlaku sekarang adalah hasil


penyederhanaan dari peraturan Bea Meterai 1921 (ABM 1921) dirasakan
sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang, karena terlalu rumit.
Perbandingan antara ABM 1921 dengan UU No. 13 tahun 1985
tentang Bea Meterai adalah sebagai berikut :

- Pada ABM 1921, jenis-jenis pemeteraian terdiri dari Bea


Meterai Umum, Bea Meterai Luas Kertas, Bea Meterai Luar Biasa, Bea
Meterai Tetap dan Bea Meterai Sebanding dengan penetapan tarif
atas Bea Meterai sebanyak 167 macam.
- Pada UU No. 13 tahun 1985 tentang Be Meterai, jenis Bea
Meterai hanya ada satu, yankni, Bea Meterai Tetap dengan 2 macam
tarif.
- Pada UU No. 24 tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea
Meterai dan besarnya batas Pengenaan harga Nominal yang
dikenakan Bea Meterai dengan 2 macam tarif.

D. DASAR HUKUM PELAKSANAAN PEMUNGUTAN BEA MATERAI

Yang menjadi dasar hukum pemungutan Bea Meterai adalah :


1. Undang-Undang No. 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai
2. Paraturan Pemerintah No. 7 tahun 1995 tentang perubahan tarif
Bea Meterai
3. Keputusn Menkeu RI No. 182/KMK.04/1995 tentang pelaksanaan
peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1995 tentang Perubahan tarif Bea
Meterai

93
4. Peraturan Pemerintah RI No. 24 tahun 2000 tentang perubahan
tarif Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang
dikenakan Bea Meterai

E. TARIF BEA MATERAI

1. Tarif untuk seluruh dokumen berharga yang terutang Bea Meterai


dikenakan sebesar Rp.2000,-, sekarang Rp.6.000,- diatas
Rp.1.000.000,-.
2. Tarif untuk dokumen yang nilai nominalnya lebih dari Rp. 250.000,-
tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- dikenakan Bea Meterai Rp. 1000
(Rp. 3.000) dan untuk dokumen yang nilai nominalnya dibawah
Rp.250.000,- tidak terutang Bea Meterai.
3. Bea Meterai atas cek dan bilyet giro ditetapkan tarif sebesar
Rp.1.000,- tanpa batas
4. Nominal dari cek dan bilyet giro tersebut (sekarang Rp.3.000,-).
Selanjutnya lihat keterangan dalam lampiran Peraturan Pemerintah
No. 24 tahun 2000, yang berlaku pada tanggal 1 Mei 2000.

F. SAAT TERUTANG, TATA CARA PENGGUNAAN SERTA


PELUNASANNYA

Saat terutangnya bea meterai adalah pada saat dokumen itu


diserahkan dari satu pihak,saat terutangnya adalah pada saat dokumen
itu selesai dibuat, untuk diluar negeri adalah pada saat digunakan di
Indonesia, pihak yang terutang adalah pihak yang mendapat manfaat dari
dokumen,kecuali pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.
Tata cara penggunaan dan pelunasannya bisa dilakukan dengan
menggunakan benda meterai (kertas meterai dan meterai tempel) atau

94
dengan cara lain seperti dengan cap lunas pada dokumen yang
bersangkutan,bisa juga denganmenggunakan mesin teraan meterai atau
alat lain. Cara menempelkan meterai tempel dan penggunaan kertas
Meterai dilakukan sebagai berikut :
1. Meterai tempel harus direkatkan seluruhnya pada tempat dimana
tanda tangan akan dibubuhkan dengan utuh/tidak rusak diatas
dokumen;
2. Ditanda tangani dengan tinta atau bahan sejenis, tanda tangan harus
mengenai baik Meterai tempel maupun kertas yang bersangkutan;
3. Tanggal, bulan dan tahun harus diisi pada Meterai tempel pada
saat/setelah ditanda tangani;
4. Jika digunakan lebih dari satu Meterai tempel, tanda tangan itu harus,
sebagian pada kertas dan sebagian lagi pada semua Meterai tempel
yang digunakan;
5. Jika syarat diatas tidak dipenuhi untuk keperluan pelunasan dengan
menggunakan Meterai tempel, sanksinya adalah dokumen itu
dianggap tidak berMeterai, dan itu berarti harus dilakukan pemeteraian
ulang ditambah denda 200%;
6. Kertas Meterai hanya boleh digunkan sekali. Jika satu lembar kertas Meterai
tidak cukup untuk memuat seluruh isi dokumen, boleh ditambah dengan kertas
lain tanpa penerimaan Meterai lagi.

G. SYARAT PELUNASAN

Ada dua macam syarat pelunasan bea materai yang dapat


dilakukan, yaitu :
1. Syarat Pelunasan Dengan Cap Lunas :
- Harus mendapat izin dari Dirjen Pajak cq. Direktur PPN/PTLL;
- Tempat pencentakannya secara lisan, belum ada surat edaran
khusus yang mengatur tentang hal ini ditetapkam di PERURI;
- Bea Materai terutang dibayar terlebih dahulu dengan nominal
sebesar jumlah yang ingin dicetak.

95
4. Syarat Pelunasan Dengan Mesin Teraan :
- Harus mendapat izin dari Dirjen pajak baik oleh direktur
PPN/PTLL maupun kantor Pelayanan Pajak (KPP) masing-
masing.
- Penggunaan dokumen minimal 50 lembar perhari.
- Harus melakukan pembayaran terlebih dahulu sebesar minimal
Rp. 5 juta.
- Mesin teraan harus dibeli sendiri, setelah Bea Meterai dibayar,
disegel oleh fiscus sampai jumlah depositnya.
- Bila telahDEPARTEMEN
habis sampai jumlahREPUBLIK
KEUANGAN Bea Meterai yang disetor,
INDONESIA
perpanjangan DIREKTORAT
dapat diajukan dan syarat
JENDERAL PAJAKpembayaran terlebih
dahulu tetap berlaku.
PUSAT PENYULUHAN PERPAJAKAN

PENGUMUMAN
NOMOR : PENG-02/PJ.08/2000
Dengan ditetapkannya peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2000, dengan ini diumumkan
bahwa mulai 1 Mei 2000 semua dokumen yang tentang Bea Materai harus sudah dilunasi dengan tarif
Rp. 3000,00 (tiga ribu rupiah) atau Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut ;

Dokumen yang dikenakan Bea Materai dengan tarif Rp. 6.000,00


Surat Perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat
pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
Akta-akta Notaris termasuk salinanya
Akta-akta yang dibuat oleh Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
termasuk rangkap-rangkapnya;
Surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,0
(satu juta rupiah), yakni :
1). Yang menyebutkan penerimaan uang;
2). Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di
Bank
3) Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank ; atau
4) Yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah
dilunasi atau diperhitungkan;
Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah);
Dokumen yang digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan yaitu :
1). Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
2). Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea materai berdasarkan tujuannya; jika
digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud
semula;
Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah);
Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif
yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
1. Dokumen yang dikenakan Bea materai dengan tarif Rp. 3.000,00
a. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf dan huruf c, di atas yang
mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)
sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah)
b. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf g dan huruf h diatas yang
mempunyai harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah);
c. Cek dan Bilyet Giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal.
2. Dokumen yang dikenakan Bea Meterai
Dokumen sebagaimana dalam angka 1 huruf d dan huruf e diatas yang mempunyai harga nominal
sampai dengan Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah), tidak dikenakan Bea Meterai.
Selain Benda Meterai baru desain tahun 2000 yang akan segera dicetak dan diedarkan.
Benda Meterai cetak tindih tahun 2000 masih dapat digunakan untuk melunasi Bea Meterai yang
terutang sesuai dengan tarif yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2000.

D Demikian untuk diindahkan.

96 Jakarta, 1 Mei 2000


Kepala Pusat
ttd
Nono Hanafi
NIP 060027582
Referensi : UU.No.13 tahun 1985

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAl
”VETERAN” JAKARTA 12
MODUL PERTEMUAN XVI
Perpajakan (3 SKS)

POKOK BAHASAN
BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

97
ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Sesuai dengan Pasal 33 (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa


bumi,air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, maka
sudah sewajarnya jika pemilik atau yang memperoleh hak atas tanah dan
bangunan (yang merupakan bagian dari bumi) menyerahkan sebagian
nilai ekonomis dari perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Pemungutan BPHTB tetap memperhatikan azas keadilan bagi
masyarakat dengan golongan ekonomi lemah dan berpenghasilan rendah
melalui nilai bangunan yang tidak dikenakan perolehan hak atas tanah
dan bangunan pajak.

B, PENGERTIAN BPHTB

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan pajak yang


dikenakan atas perolehan hak atas dan atau (BPHTB) adalah
bangunan,yang selanjutnya disebut pajak. Dengan demikian ,objek pajak
(BPHTB) adalah tanah ,bangunan serta tanah dan bangunan.
Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan meliputi
pemindahan hak atas tanah dan bangunan karena jual beli,tukar
menukar,hibah,hibah wasiat,penyertaan modal dari orang pr\ibadi atau
badan usaha kepada perseroan terbatas atau badan hukum lain yang
berupa tanah atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada
sesama pemegang hak bersama. Selain itu perolehan hak atas tanah dan
atau bangunan juga bisa berasal dari pemindahan hak atas tanah dan
bangunan,karena penunjukkan pembeli dalam lelang,pelaksanaan
putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap serta hadiah.
Perolehan hak atas tanah dan bangunan selain beasal dari
pemindahan bisa juga beasal dari pemberian hak baru
Hak atas tanah dan bangunan meliputi hak milik,hak guna
usaha,hak guna bangunan,hak pakai,hak milik atas satuan rumah susun
atau hak pengelolaan.
Sedangkan perolehan hak atas tanah dan bangunan yang
dikekecualikan dari BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan
bangunan oleh perwakilan diplomatik,konsulat berdasarkan azas
perlakuan timabal balik,negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan
atau perwakilan organisasi internasioal yang ditetapkan olleh Menteri
serta orang pribadi atau badan karena konversi hak dan perbuatan hukum
lain dengan tidak adanya perubahan nama yang dikarenakan adanya
wakaf,warisan dan untuk digunakan kepentingan ibadah.

C. TATA CARA PENGHITUNGAN BPHTB

98
Untuk menentukan besarnya BPHTB adalah :
(Nilai Perolehan- Nilai Perolehan Tidak Kena Pajak) x Tarif Pajak.
Nilai perolehan objek pajak ditentukan berdasarkan cara
dimilikinya hak atas tanah dan bangunan. Jika hak atas tanah dan
bangunan diperileh dari :

- jual beli maka nilai perolehannya adalah harga transaksi.


- tukar menukar maka nilai perolehannya adalah nilai pasar objek pajak.
- Hibah,nilai perolehannya adalah nilai pasar objek pajak.
- pemasukkan dalam pereroan atau badan hukum lainnya nilai perolehan
nya adalah nilai pasar objek pajak.
- pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan maka nilai perolehan
nya adalah nilai pasar objek pajak.
- penunjukkan pembeli dalam lelang,nilai perolehannya adalah harga
transaksi yang tercantum dalam risalah lelang.
- peralihan hak kareana pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai
Kekuatan hukum tetap,nilai perolehannya adalah nilai pasar objek
Pajak.
- pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak,
nilai perolehannya adalah nilai pasar objek pajak.
- pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak,nilai perolehan
nya adalah nilai pasar objek pajak.

Nilai perolehan Objek Pajak diatas dapat diringkas sbb :

Tabel 12.1 Nilai Perolehan Objek Pajak.


Nilai Perolehan Transaksi
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Harga Transaksi Jual beli
Lelang
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Nilai Pasar Tukar Menukar

99
Hibah
Pemasukan ke Perseroan
Pemisahan Hak
Pemberian hak baru

Nilai perolehan objek pajak diatas harus disesuaikan dengan NJOP.


Jika nilai jual objek pajak ternyata lebih besar dari nilai transaks maka yang
digunakan tetap NJOP. Tetapi jika NJOP lebih rendah daripada nilai
perolehan objek pajak maka yang digunakan adalah NJOP.

Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp


60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Perlu menjadi catatan bahwa
NJOPTKP sering mengalami penyesuaian. Tarif Pajak ditetapkan sebesar
5% (lima persen).
Sebagai contoh,pada tgl 1 Maret 2003, Sdr Ahmad membeli sebidang
tanah dengan bangunan yang memiliki nilai Rp 100.000.000,-.
Maka besarnya BPHTB adalah :
Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp 100.000.000,-
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 60.000.000,- -
Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp 40.000.000,-
Pajak terutang = 5% x Rp 40.000.000,- = Rp 2,000.000,-

Perolehan hak atas tanah dan bangunan sebesar Rp 100.000.000,-


Akan dikenakan BPHTB sebesar Rp 2.000.000,-.

D. PENGENAAN BPHTB ATAS PEROLEHAN HAK KARENA HIBAH


WASIAT

Jika perolehan hak atas tanah dan bangunan atas dasar hibah wasiat dan
hibah wasiat ini diterima oleh orang pribadi yang masih dalam hubungan
keluarga sedarah dan garis keturunan lurus satu derajat keatas dan
kebawah termasuk suami/isteri dikenakan 0% dari bea atau pajak atas
perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang seharusnya terutang.
Misalnya,tgl 1 Oktober 2003 Sdr Adrian memperoleh tanah dan
bangunan yang berasal dari hibah wasiat. Nilai dari tanah dan bangunan
adalah sebesar Rp 75.000.000,-
Maka besarnya BPHTB adalah :
Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp 75.000.000,-
Nilai Perolehan Objek Pajak
Tidak Kena Pajak (NJOP-TKP) = Rp 60.000.000,- -
Nilai Perolehan Objek Pajak
Kena Pajak (NJOP-KP) = Rp 15.000.000,-
Pajak terutang = 5% x Rp 15.000.000 = Rp 750.000,-

100
Jika tanah dan bangunan yangdiperoleh Sdr Adrian berasal dari satu
keturunan lurus atau berasal dari istrinya maka atas perolehan tanah dan
bamgunan tidak kena pajak.

Sedangkan jika Sdr Adrian menerima hibah wasiat bukan berasal dari
keturunan lurus maka besarnya BPHTB yang harus dibayarkan adalah :
Rp 375.000(50%x Rp 750.000).

E. PENGENAAN BPHTB PEROLEHAN HAK KARENA PEMBERIAN


HAK PENGELOLAAN
Perolehan hak atas tanah dan bangunan atas dasar pemberian hak
pengelolaan akan dikenakan tarif pajak sebesar 0% (nol persen) dari bea
atau pajak atas perolehan hak atas tanah atau bangunan yang
seharusnya terutang, apabila penerima hak pengelolaan adalah
departemen, Pemda Tingkat I dan Pemda Tingkat II, Lembaga
Pemerintah lainnya dan Perusahaan Umum (Perum) Pembangunan
Perumahan Nasional (Perumnas). Tetapi hal diatas dinyatakan berlaku
jika dinyatakan dengan surat Keterengan Bebas BPHTB yang diterbitkan
oleh Kepala BPHTB yang wilayah kerjanya meliputo letak tanah yang
diberikan Hak Pengelolaan.
Sedangkan jika hak perolehan diberikan kepada selain
Departemen, Pemda Tingkat I,Pemda Timgkat II.Lembaga Pemerintah
lainnya dan Perumnas akan dikenakan tarif 25% (dua puluh lima persen)
Dari bea atau pajak atas perolehan hak atas tanah atau pajak atas
perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang seharusnya terutang.

F. SAAT TERUTANG BPHTB


Saat terutang atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan
dibedakan atas dasar cara dimilikinya hak atas tanah dan bangunan jika
hak atas tanah dan bangunan diperoleh dari :
- jual beli, maka sat terutang BPHTB adalah sejak tgl dibuat dan di
tanda tangani akta
- tukar menukar, maka saat terutang BPHTB adalah sejak tgl dibuat dan
ditandatangani akta.
- hibah, maka saat terutangBPHTG adalah sejak tgl dibuat dan ditanda
tangani akta.
- pemasukan dalam perseroan atau badan jhukum lainnya,maka saat ter-

101
Utang BPHTB adalah sejak tgl dibuat dan ditandatangani akta.
- pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, maka saat teutang
BPHTB adalah sejak tgl dibuat dan ditandatangani akta.
- Lelang, maka saat terutang BPHTB adalah sejak tgl penunjukkan.
pemenang lelang.
- putusan hakim,maka saat terutang BPHTB adalah sejak tgl putusan pe-
Ngadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
- hibah wasiat, maka saat terutang BPHTB adaah sejak tgl yang ber-
sangkutan mendatarkan peraliham haknya kekantor pertanahan.
- Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak,
maka saat terutang BPHTB adalah sejak tgl diterbitkan surat keputus-
an pemberian hak.
- pemberian hak baru diluar pelepasan hak,maka saat terutang BPHTB
adalah sejak tgl diterbitkannya surat keputusanpemberian hak.
- hadiah,maka saat terutang BPHTB adalah sejak tgl dibuat dan ditanda-
tanganinya akta.

Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan


hak. Pajak yang terutang ini selanjutnya harus dilunasi di Bank Persepsi
atau Kantor Pos atau tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan dengan Surat Setoran BPHTB sebelim akta Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT) atau notaris,risalah lelang untuk pembeli
ditandatangani oleh Kepala Kantor Lelang atau Pejabat Lelang,dilakukan
pendaftaran hak oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya
dalam hal pemberian hak baru dan pemindahan hak karena pelaksanaan
putusan hakim atau hibah wasiat.

G. PERMOHONAN KEBERATAN,BANDING,PENGURANGAN DAN


PENGEMBALIAN BPHTB
Wajib pajak (WP) dapat mengajukan keberatan hanya kepada direktur
Jenderal Pajak atas Suatu Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Kurang Bayar (SKBKB),Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), Surat
Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Lebih Bayar
(SKBLB). Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Nihil (SKBN).
Pengajuan keberatan harus dilakukan dalam bahasa Indonesia
dengan mengemukakan jumlah pajak yang terutang menurut perhitungan
WP dengan disertai alasan-alasan yang jelas dan paling lambat 3 (tiga)
bulan sejak tanggal diterima SKBKB atau SKBKBT atau SKBLB atau
SKBN, kecuali apabila WP dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu
tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. Tanda
penerimaan surat Keberatan yang diberikan kekuasaannya. Tanda
Penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Dirjen Pajak
yang ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui

102
pos tercatat menjadi tanda bukti penerimaan Surat Keberatan tsb bagi
kepentingan wajib pajak.
Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (duabelas) bulan
sejak kebertan diterima,harus memberi keputusan atas keberatan yang
diajukan. Keputusan Dirjen Pajak atas keberatan dapat berupa mengabul
kan seluruhnya atau sebagian,menolak atau menambah besarnya jumlah
pajak terutang. Apabila jangka waktu 12 (duabelas)bulan telah lewat dan
dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan,keberatan yang diajukan tsb
dianggap dikabulkan.

H. PERMOHONAN KEBERATAN, BANDING, PENGURANGAN DAN


PENGEMBALIAN BPHTB
WP dapat mengajukan keberatan hanya kepada Dirjen Pajak atas suatu
Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang
Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Nihil (SKBN).
Pengajuan keberatan harus dilakukan dalam bahasa Indonesia
dengan mengemukakan jumlah pajak yang terutang menurut perhitungan
WP dengan disertai alasan-alasan yang jelas dan paling lambat 3 (tiga )
bulan sejak tanggal diterimanya SKBKB atau menunjukan bahwa jangka
waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.
Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Dirjen
Pajak yang ditunjuk untuk itu atau bukti pengiriman Surat Keberatan
memalui pos tercatat menjadi bukti penerimaan Surat Keberatan tsb bagi
kepentingan WP.
Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan
sejak tanggal Surat Keberatan diterima,harus memberi keputusan atas
keberatan diterima, harus memberi keputusan atas keberatan yang
diajukan. Keputusan Dirjen Pajak atas keberatan dapat berupa
mengabulkan seluruhnya atau sebagian,menolak atau menambah
besarnya jumlah pajak terutang. Apabila jangka waktu 12 (dua belas)
bulan telah lewat dan Dirjen Pajak tidak memberi suatu keputusan,
keberatan yang diajukan tsb dianggap dikabulkan.
Jika terhadap keputusan keberatan , WP berhak untuk mengajukan
banding. Banding hanya dapat diajukan kepada Badan Penyelesaian
Sengketa Pajak (BPSP).
Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding diterima
sebagian atau seluruhnya, maka kelebihan pembayaran dikembalikan
dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk selama-
lamanya 24 bulan.

103
WP juga memiliki hak atas pengurangan BPHTB, Pengurangan
BPHTB dapat dilakukan atas permohonan WP jika perolehan BPHTB di
pergunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan yang semata-mata tidak
bertujuan mencari keuntungan. Pengurangan BPHTB atas dua hal diatas
diberikan sebesar 50% dari pajak yang seharusnya terutang.

I. RANGKUMAN :
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak
yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah da atau bangiunan. Untuk
menentukan besarnya BPHTB adalah (Nilai Perplehan-Nilai Perolehan
Tidak Kena Pajak) x Tarif Pajak. Jika perolehan hak atas Tanah dan
Bangunan atas dasar hibah wasiat dan hibah wasiat ini diterima oleh
orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat keatas dan kebawah termasuk suami/isteri
dikenakan 0% dari bea atau pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau
bangunan yang seharusnya terutang. Sedangkan jika yang menerima
hibah wasiat adalah orang pribadi selain keturunan lurus dan badan
hukum tertentu dikenakan sebesar 50% dari bea atau pajak atas
perolehan hak atas tanah dan bangunan yang seharusnya terutang.
Perolehan hak atas tanah dan bangunan atas dasar pemberian hak
pengelolaan akan dikenakan tarif pajak sebesat 0% (nol persen) dan 25%
(dua puluh lima persen).

Daftar Pustaka

1. Casavera, Mudah Mengisi SPT tahunan PPh WP Orang Pribadi


Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, 2008.
2. Dwi Wahyu Siswandi, Panduan Praktis Mengisi SPT Tahunan PPh,
Penerbit Sunray Books,Jakarta, 2008.

104
3. Diana Anastasia,Lilis setiawati, Pedoman Dan Cara Pengisian SPT
PPh Pasal 21, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2009
4. Erly Suardy, Perencanaan Pajak, Penerbit Salemba Empat, PT
Salemba Emban Patria, Jakarta, Jakarta, 2001
5. Muhammad Rusydi ,Petunjuk Pelaksanaan
Pemotongan,Penyetoran &PelaporanPPh-21danPPh-
26,SehubunganDengan Pekerjaan, Jasa Dan Kegiatan
Orang Pribadi,Penerbit PT Indeks Kelompok Gramedia,
Jakarta, 2006
6. Meilani S. Yolina, Dasar-Dasar Akuntansi Perpajakan, Disertai
Contoh, Penerbit Tabora Media, Jakarta, 2009.
7. Supramono,SE,MBA,DBA, Theresia Damayanti,SE, Perpajakan
Indonesia Mekanisme dan Perhitungan,Penerbit Andi
Yogyakarta, 2005.
8. Waluyo, Perpajakan Indonesia, Buku I dan Buku II, Penerbit
Salemba Empat, Jakarta, 2002.
9. Yuda Aryanto, Mahir Mengisi SPT PPh Orang Pribadi, Penerbit
Salemba Mahir Mengisi Empat, Jakarta, 2009.
10. Siti Resmi, Perpajakan: Teori dan Kasus,Buku I,Edisi 5, Penerbit
Salemba Empat, Jakarta, 2009

105