Anda di halaman 1dari 9

Buku Kerja Mahasiswa

MODUL

KARDIOVASKULER

Diberikan pada
Mahasiswa semester 4
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Tahun Akademik 2010 – 2011

SISTEM KARDIOVASKULER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
PENDAHULUAN

Pengelolaan medis terbaik penderita dengan penyakit kardiovaskuler utamanya


tergantung pada suatu penegakan dasar diagnostik yang baik yang diperoleh baik dari
anamnesis maupun dari pemeriksaan fisik. Pada umumnya para dokter akrab dengan
istilah yang dikenal sebagai “five fingers approach” untuk mendiagnosis penyakit
kardiovaskuler yang dipopulerkan oleh Harvey, yang terdiri dari :
1. Anamnesis/ Riwayat penyakit
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan elektrokardiogram
4. Pemeriksaan Rontgen dada
5. Berbagai pemeriksaan laboratorium.
Meskipun berbagai penyakit kardiovaskuler dapat didiagnosis dengan satu alat
pemeriksaan, namun untuk memahami secara paripurna masalah yang diderita oleh
seorang penderita biasanya diperlukan berbagai informasi dari berbagai perangkat
pemeriksaan lainnya. Dalam hal ini berbagai pemeriksaan-pemeriksaan khusus mungkin
diperlukan untuk mempertajam diagnosis dan berguna untuk menetapkan tindakan yang
tepat seperti pemeriksaan kateterisasi jantung, ekokardiografi, skenning radionuklid, uji
latih jantung dengan beban, monitor Holter.
Modul ini terdiri atas modul Penyakit Jantung Bawaan, Sesak Napas dan Nyeri
Dada. Masing-masing modul terdiri dari tiga unit pembelajaran yang secara umum
dilengkapi dengan skenario, strategi pembelajaran, penugasan mahasiswa, panduan untuk
tutor, beberapa alternative pertanyaan dan jawaban serta beberapa rujukan utama.
Skenario berfungsi sebagai perangsang untuk belajar dalam suatu kelompok
diskusi baik dengan maupun tanpa tutor. Mahasiswa diharapkan untuk mengemukakan
berbagai pertanyaan-pertanyaan prinsip sebanyak mungkin dan mencari jawabannya pada
berbagai acuan sewaktu berdiskusi pada pertemuan tutorial pertama. Masalah yang belum
terpecahkan menjadi tujuan pembelajaran pada saat itu dan dijadikan sebagai pekerjaan
rumah dengan cara belajar mandiri, yang hasilnya akan didiskusikan kembali pada
pertemuan kedua. Kalaupun masih ada masalah yang belum terpecahkan maka kelompok
diskusi yang difasilitasi oleh tutor membuat kesepakan dengan pakar untuk pemecahan
masalah baik dalam bentuk diskusi maupun dalam bentuk kuliah pakar pada waktu yang
disepakati.
Sebelum menggunakan buku ini, mahasiswa dan tutor harus membaca strategi
pembelajaran, metode tujuh langkah, Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan
Instruksional Khusus (TIU & TIK), sehingga pelaksanaan diskusi nantinya akan lebuih
efisien dan efektif. Selama pelaksanaan tutorial, peranan seorang tutor untuk
mengarahkan proses pembelajaran dalam diskusi sangat diperlukan.

Makassar, Juni 2010

Tim Penyusun Modul


Sistem Kardiovaskuler

2
TUGAS UNTUK MAHASIWA
1. Setelah membaca dengan teliti skenario di atas anda harus mendiskusikan kasus
tersebut pada satu kelompok diskusi terdiri dari 12 – 15 orang, dipimpin oleh seorang
ketua dan seorang penulis yang dipilih oleh anda sendiri. Ketua dan sekretaris ini
sebaiknya berganti-ganti pada setiap kali diskusi. Diskusi kelompok ini bisa dipimpin
oleh seorang tutor atau dilakukan secara mandiri oleh kelompok.
2. Melakukan aktivitas pembelajaran individual di perpustakaan dengan menggunakan
buku ajar, majalah, slide, tape atau video, dan internet, untuk mencari informasi
tambahan.
3. Melakukan diskusi kelompok mandiri (tanpa tutor) , melakukan curah pendapat bebas
antar anggota kelompok untuk menganalisa dan atau mensintese informasi dalam
menyelesaikan masalah.
4. Berkonsultasi pada nara sumber yang ahli pada permasalahan dimaksud untuk
memperoleh pengertian yang lebih mendalam (tanpa pakar).
5. Mengikut kuliah khusus (kuliah pakar) dalam kelas untuk masalah yang belum jelas
atau tidak ditemukan jawabannya.
6. Melakukan latihan di laboratorium keterampilan klinik dan praktikum di
laboratorium Patologi Anatomi.

PROSES PEMECAHAN MASALAH


Dalam diskusi kelompok dengan menggunakan metode curah pendapat, anda
diharapkan memecahkan problem yang terdapat dalam scenario ini, yaitu dengan
mengikuti 7 langkah penyelesaian masalah di bawah ini :
1. Klarifikasi istilah yang tidak jelas dalam skenario di atas, dan tentukan kata/ kalimat
kunci skenario di atas.
2. Identifikasi problem dasar skenario di atas, dengan membuat beberapa pertanyaan
penting.
3. Analisa problem-problem tersebut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
4. Klasifikasikan jawaban atas pernyataan-pertanyaan tersebut di atas.
5. Tentukan tujuan pembelajaran selanjutnya yang ingin dicapai oleh anda .
Langkah 1 s/d 5 dilakukan dalam diskusi pertama bersama tutor.
6. Cari informasi tambahan tentang kasus di atas di luar kelompok tatap muka.
Langkah 6 dilakukan dengan belajar mandiri.
7. Laporkan hasil diskusi dan sintesis informasi-informasi yang baru ditemukan.
Langkah 7 dilakukan dalam kelompok diskusi dengan tutor.

Penjelasan :
Bila dari hasil evaluasi laporan kelompok ternyata masih ada informasi yang
diperlukan untuk sampai pada kesimpulan akhir, maka proses 6 bisa diulangi, dan
selanjutnya dilakukan lagi langkah 7.
Kedua langkah di atas bisa diulang-ulang di luar tutorial, dan setelah informasi
dirasa cukup maka pelaporan dilakukan dalam diskusi akhir, yang biasanya dilakukan
dalam bentuk diskusi panel dimana semua pakar duduk bersama untuk memberikan
penjelasan atas hal-hal yang masih belum jelas.

METODE 7 LANGKAH
1. Mengklarifikasi hal-hal yang belum diketahui dalam skenario.
Dalam hal ini kelompok akan mendefinisikan istilah-istilah dan konsep yang tidak
jelas agar interpretasi terhadap informasi yang tersedia tidak perlu dipertanyakan lagi.
2. Mendefinisikan masalah.
Kelompok harus dapat mencapai kesepakatan agar setiap fenomena yang saling
berhubungan dapat dijelaskan. Masalah yang ada dapat dibagi menjadi beberapa sub-

3
masalah agar dapat didiskusikan menurut aturan tertentu. Fungsi langkah ini adalah
menuntun proses brainstorming (langkah 3) dan juga diskusi selanjutnya.
3. Menganalisa masalah.
Kelompok mencoba menentukan hal-hal yang dipikirkan oleh anggotanya, apa yang
mereka ketahui atau apa yang mereka anggap mereka ketahui tentang proses dan
mekanisme yanmg mendasari masalah tersebut. Melalui tehnik brainstorming ini,
pengetahuan yang ada sebelumnya diaktivasi agar dasar diskusi tersedia.
4. Membuat daftar penjelasan-penjelasan yang dapat diterima.
Ide-ide dari langkah ke-3 disusun dan diperhatikan secara kritis. Pandangan-
pandangan yang nampaknya seragam dikelompokkan bersama sebagai suatu
kesatuan, sementara pendapat yang berbeda disortir, sehingga akan lebih jelas lagi
apa yang masih harus dipelajari.
5. Merumuskan tujuan pembelajaran.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama atau sebagai hasil analisa masalah harus
dijawab agar tercapai pemahaman yang lebih baik. Tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan tersebut merupakan dasar dari kegiatan belajar yang harus dilaksanakan
pada tahap berikutnya. Fungsi langkah ini adalah menuntun proses belajar mandiri
(active learning).
6. Mencari informasi tambahan di luar kelompok (Active learning).
Berdasarkan langkah ke-5, siswa diwajibkan mencari dan mengumpulkan informasi
pada berbagai sumber acuan (kuliah, perpustakaan, internet,dll). Pada langkah ini,
mahasiswa belajar untuk mengumpulkan informasi yang relevan guna menguasai
masalah.
7. Membuat laporan pada kelompok tentang apa yang diperoleh sewaktu belajar
mandiri.
Sesuai tujuan belajar, mahasiswa akan mendiskusikan hasil kegiatan belajar mandiri.
Langkah ini memiliki 3 fungsi yaitu :
- Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber hingga tiap kesalahan dapat
dikoreksi.
- Menunjukkan dan mendiskusikan hal-hal yang tidak jelas dari bahan yang
dipelajari.
- Memperdalam pengetahuan para siswa dengan cara pertukaran informasi
secara aktif.

JADWAL KEGIATAN
Sebelum dilakukan pertemuan antara kelompok mahasiswa dan tutor, mahasiswa dibagi
menjadi kelompok-kelompok diskusi yang terdiri dari 15-17 orang tiap kelompok.
1. Pertemuan pertama dalam kelas besar dengan tatap muka satu arah untuk penjelasan
dan tanya jawab. Tujuan : menjelaskan tentang modul dan cara menyelesaikan
modul, dan membagi kelompok diskusi. Pada pertemuan pertama buku modul
dibagikan.
2. Pertemuan kedua : diskusi tutorial 1 dipimpin oleh mahasiswa yang terpilih menjadi
ketua dan penulis kelompok, serta difasilitasi oleh tutor Tujuan :
* Memilih ketua dan sekretaris kelompok,
* Brain-storming untuk proses 1 – 5,
* Pembagian tugas
3. Pertemuan ketiga: diskusi tutorial 2 seperti pada tutorial 1. Tujuan: untuk
melaporkan informasi baru yang diperoleh dari pembelajaran mandiri dan melakukan
klassifikasi, analisa dan sintese dari semua informasi.
4. Anda belajar mandiri baik sendiri-sendiri. Tujuan: untuk mencari informasi baru
yang diperlukan,
5. Diskusi mandiri; dengan proses sama dengan diskusi tutorial. Bila informasi telah
cukup, diskusi mandiri digunakan untuk membuat laporan penyajian dan laporan
tertulis. Diskusi mandiri bisa dilakukan berulang-ulang diluar jadwal.

4
6. Pertemuan keempat: diskusi panel dan tanya pakar. Tujuan: untuk melaporkan hasil
analisa dan sintese informasi yang ditemukan untuk menyelesaikan masalah pada
skenario. Bila ada masalah yang belum jelas atau kesalahan persepsi, bisa diselesaikan
oleh para pakar yang hadir pada pertemuan ini. Laporan penyajian dibuat oleh
kelompok dalam bentuk sesuai urutan yang tercantum pada buku kerja.
7. Masing-masing mahasiwa kemudian diberi tugas untuk menuliskan laporan tentang
salah satu penyakit yang memberikan gambaran seperti pada skenario yang
didiskusikan pada kelompoknya. Laporan ditulis dalam bentuk laporan penyajian
dan laporan lengkap.
8. Pertemuan terakhir: laporan kasus dilakukan dalam kelas besar oleh masing-masing
mahasiswa.
Catatan :
• Laporan penyajian kelompok dan perorangan serta semua laporan kasus
masing-masing diserahkan satu rangkap ke sistem melalui ketua kelompok.
• Semua laporan akan diperiksa dan dinilai oleh pakarnya masing-masing.
• Semua mahasiswa wajib menyalin laporan dari kelompok dan mahasiswa
lain untuk dipakai sebagai salah satu bahan ujian.

TIME TABLE
PERTEMUAN
I II III IV V VI VII
Pertemuan I Pertemuan Tutorial I Mandiri Kuliah Tutorial II Pertemuan
(Penjelasan) Mandiri Pengum- kosultasi (Laporan Terakhir
(Brain pulan Praktikum & Diskusi) (Laporan)
Stroming) informasi CSL
Analisa &
sintese

STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Diskusi kelompok tanpa tutor, brainstorming bebas diantara mahasiswa.
2. Kelompok diskusi dipandu oleh tutor untuk menentukan berbagai alternatif
pertanyaan dari masalah yang dikemukakan.
3. Konsultasi dengan pakar untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam terhadap
suatu masalah.
4. Kuliah khusus untuk materi yang baru.
5. Belajar mandiri di perpustakaan atau media elektronik.
6. Melakukan kegiatan di “skill-lab”(CSL)
 Anamnesis (History taking)
 Pemeriksaan fisik (manekin/mahasiswa)
 Perekaman /pembacaan dasar-dasar EKG
 Pembacaan foto thoraks
7. Melakukan kegiatan praktikum.
 Anatomi
 Fisiologi
 Histologi
 Patologi Anatomi
 Mikrobiologi
 Gizi

5
BAHAN BACAAN & SUMBER INFORMASI LAIN
A. Kuliah sistim kardiovaskuler dari berbagai disiplin ilmu.
B. Textbooks/Journals yang berhubungan dengan masalah kardiovaskuler.
1. Levick JR. (2003). An Introduction to Cardiovascular Physiology. 4th
edit.Arnold London.
2. Bickley LS (2003). Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking.
8th edit. Lippicott Williams & Wilkins, Philadelphia.
3. Braunwald E, Zipes DP, Libby P. (2001). Heart Disease A Textbook of
Cardiovascular Medicine. 6th edit. W.B. Saunders Coy, Philadelphia.
4. Fuster V, Alexander RW, O’Rourke RA. (2001). Hurst’s The Heart 10th edit.
International Edit. Mc Graw-Hill, New York
5. Chung EK. (1983). Quick Reference to Cardiovascular Diseases. 2nd
edit.J.B.Lippincot Coy, Philadelphia.
6. Crawford MH (2003). Current Diagnosis &Treatment in Cardiology. 2nd edit
Lange Med Books/McGraw-Hill, New York.
7. Coats A, Cleland JGF. (1997). Controversies in the Management of Heart
Failure. 1st edit. Churchill Livingstone, Edinburg.
8. Branch WT Jr, Alexander RW, Schlant RC, Hurst JW.(2000). Cardiology in
Primary Care. Intern. Edit. McGraw-Hill, New York.
9. Braunwald E, GoldmanL. (2003). Primary Cardiology 2nd Edit. Saunders,
Philadelphia.
10. Hardjoeno H. dkk (2003) : Interpretasi Hasil Tes Laboratorium
Diagnostik.LEPHAS. Makassar.
11. Khan MG. (2003). Cardiac Drug Therapy. 6th edit.Saunders, Philadelphia.

DOSEN PENGAMPU

NO. TELP
NO NAMA ALAMAT
Rumah/flexi HP
1 dr. Ali Aspar Mappahya,SpPD,SpJP Jl. Sunu Komp Unhas A 7 453 453 0811416392
2 dr. Harfiah Djayalangkara Jl Maccini Sawah 442 818 0811443235
3 dr. Arthur Koeswandi Jl. Pongtiku 081342759294
4 Prof..dr. Irawan Yusuf, PhD Komp. Dosen Antang 5058294 08152529560
5 dr. Agnes Kwenang Jl. Sunu Komp Unhas DX 1 434 639 081342347525
6 dr. Baedah Madjid, SpMK Jl. Sunu Komp Unhas AX 13 5702491 0811444326
7 dr. Gatot L Lawrence, SpPA Jl. HOS cokroaminoto 29 B 312 365 0816255306
8 Prof.dr.Peter Kabo, Ph.D, SpFK Jl. Muchtar Lutfi 21 320 348 0816275383
9 Prof.Dr.dr.Boy Pellupessy, SpA (K) Jl. Pengayoman
11 dr. Pendrik, SpPD
10 Prof.Dr.dr.Syakib Bakiri, SpPD 0816250620
12 dr. Ruland DN Pakasi, SpPK (K) Komp. Kes. Banta-bantaeng 872 006 0816255713
13 dr. Arief Gella, SpRad BTN Hamzy 585 235 04115078062
14 dr. Satriono, SpA(K) Jl. Sunu Komp Unhas AX 13 08124124652
15 dr. Nur Alim, SpB
16 dr. Tahir Abdullah Jl. Pongtiku no.2 449 566 081342542689

6
Tujuan Intruksional Umum (TIU):

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu memahami konsep-konsep dasar yang
berhubungan dengan gejala sesak napas dan mampu menegakkan diagnosis beberapa
penyakit kardiovaskular dengan sesak napas sebagai keluhan utama.

SKENARIO 1
Seorang wanita umur 60 tahun mengeluh cepat capek dan sesak napas sewaktu
bergiat. Dia tidak dapat melakukan kegiatan dirumah lebih lama tanpa sering
beristrahat dengan kesukaran bernapas. Pergelangan kaki membengkak pada siang hari
dan berkurang pada malam hari. Pada pemeriksaan dokter, ditemukan adanya
pernapasan cepat, pada pemeriksaan auskultasi didengar adanya bunyi krepitasi. Nadi
reguler dan tekanan darah sistemik dalam batas normal, tetapi terdapat bendungan vena
leher meskipun pada posisi tegak. Ictus cordis teraba dilinea axillaris anterior kiri/ruang
interkostal V. Gambaran Rontgen dada menunjukkan CTR 0,69, dan terlihat adanya
bendungan pembuluh darah paru. Penderita diobati dengan digoxin dan diuretik
sehingga keluhan penderita berkurang.

SKENARIO 2
Seorang perempuan berumur 55 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan
sesak napas bila melakukan kegiatan fisik disertai denyut jantung yang cepat. Pada umur
12 tahun dia menderita demam reuma dan terdengar bising jantung sejak menderita
penyakit tersebut. Irama jantungnya berupa fibrilasi atrium telah ada sejak 2 tahun lalu
yang dapat dikontrol dengan terapi digoxin 4 kali 0,25 mg. Tanda vital : denyut jantung
80 kali permenit, tekanan darah 130/80, respirasi 16 kali permenit Terdengar adanya
bunyi ronchi basah halus pada kedua paru dan bunyi jantung pertama (S1)keras, bunyi
jantung kedua(S2) tunggal disertai opening snap (OS).

SKENARIO 3
Seorang laki-laki umur 67 tahun dibawa keruang gawat darurat dengan keluhan
sesak napas berat. Sejak lama penderita berobat dengan hipertensi tapi tidak teratur dan
telah pernah mengalami infark miokard sebelumnya. Sekitar seminggu sebelum masuk
rumah sakit dia mengeluh nyeri dada substernal lebih dari 30 menit, dan sejak itu dia
mengeluh sering sesak napas yang makin berat. Penderita hanya bisa tidur dengan 3
bantal kepala dan sering terbangun tengah malam akibat sesak napas. Pada
pemeriksaan fisik; tidak demam, tekanan darah 160/100 mmHg, denyut jantung 110
kali/menit, pernapasan 22 kali/menit, dan saturasi O2 88%. Penderita pucat dan
berkeringat dingin. Pada pemeriksaan auskultasi ditemukan adanya ronchi basah pada
kedua basal-medial paru, terdengar S3 dan S4, tidak terdengar bising jantung.
Pada pemeriksaan EKG salah satu kelainan yang ditemukan adalah adanya gelombang
q patologis di sandapan V1-V4.

7
Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu memahami konsep-konsep dasar yang
berhubungan dengan gejala nyeri dada dan mampu menegakkan diagnosis beberapa
penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan nyeri dada sebagai keluhan utama.

SKENARIO 1
Seorang laki-laki umur 55 tahun datang ke klinik dengan keluhan nyeri dada.
Dia mengeluh 6 bulan terakhir mengalami nyeri dada substernal bersifat intermittent
dan menjalar ke lengan kiri. Nyeri pertama kali terjadi ketika melakukan kegiatan dan
menurun ketika istirahat. Dia menyangkal mengalami napas yang pendek, mual, muntah
atau diaforesis. Dia memiliki riwayat penyakit hipertensi dan dislipidemia. Pada riwayat
keluarga diperoleh keterangan bahwa bapaknya meninggal karena infark miokard pada
usia 56 tahun. Dia menghabiskan 50 bungkus rokok per tahun. Pada pemeriksaan fisis
diperoleh tekanan darah 145/95 mmHg, nadi 75 kali permenit dan lainnya dalam batas
normal .

SKENARIO 2
Seorang laki-laki berumur 35 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri dada.
Nyeri dirasakan dibelakang dinding dada dan terasa menusuk. Nyeri ini menyebar ke
punggung dan dirasakan memburuk jika bernapas dalam dan membaik jika bersandar ke
depan. Disamping itu dia mengalami flu-like illness beberapa hari terakhir yang diikuti
dengan demam, hidung beringus dan batuk. Dia tidak memilki riwayat penyakit
sebelumnya dan tidak ada riwayat minum obat. Dia menyangkal bahwa dia merokok,
minum alkohol dan menggunakan obat terlarang. Pada pemeriksaan fisis dia terlihat
mengalami nyeri yang sedang dengan tekanan darah 125/85, nadi 105 kali permenit,
respirasi 18 kali permenit, saturasi oksigen 98%. Sekarang ini dia tidak mengalami
demam. Pada pemeriksaan kepala dan leher diperoleh mukus jernih pada rongga
hidung dan eritema ringan pada orofaring. Lehernya lemas dengan ada limfadenopati
anterior. Pada auskultasi dada, dalam batas normal. Vena jugular tidak melebar.
Pemeriksaan jantung diperoleh takikardi dengan tiga komponen suara dengan intensitas
tinggi. Pemeriksaan abdomen dan ekstremitas normal.

SKENARIO 3
Seorang pengemudi bus umur 60 tahun dibawa keruang gawat darurat dengan
keluhan nyeri yang melewati dinding dada yang berat dan menyebar ke lengan.
Sebelumnya dia merasa sehat, walaupun dia merokok 10 batang tiap hari.
Pada pemeriksaan nampak dia terlihat pucat, dengan kulit dingin dan berkeringat.
Nadinya lemah, dengan sekali-kali ekstrasistole (denyut ventrikuler ektopik) . Tekanan
darah arterial 90/75 mmHg. Bunyi jantung normal. Pada EKG diperoleh gelombang Q
besar dan elevasi segmen ST. Dia dimasukkan ke RS dengan diagnosis kerja infark
miokard karena trombosis arteri koroner. Analisa plasma memperlihatkan peningkatan
enzim jantung (laktat dehidrogenase, kreatinin fosfokinase, aspartartat
aminotranferase).Dia telah diberikan oksigen dan morfin. Infus streptokinase telah
disiapkan untuk melisiskan trombus koroner dan dia juga telah memulai reguler aspirin
dosis rendah.

8
Tujuan Intruksional Umum (TIU):

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu memahami konsep dasar yang
berhubungan dengan penyakit jantung bawaan dan mampu menegakkan diagnosis
beberapa penyakit jantung bawaan tertentu.

KASUS
SKENARIO 1:

Seorang anak perempuan 10 tahun datang dengan keluhan : bibir dan kuku
terlihat kebiruan. Hal ini sudah dialami sejak masa bayi. Bila menangis atau bermain,
anak terlihat bertambah biru. Anak sering jongkok bila capek bermain. Pada
pemeriksaan fisis didapatkan : perawakan kecil dan kurus. Sianosis terlihat di bibir,
ujung lidah, kuku jari tangan dan kaki. Nadi dan tekanan darah normal. Pada
pemeriksaan toraks : aktivitas ventrikel kanan meningkat disertai thrill pada LSB 3. BJ :
1 & 2 murni, intensitas mengeras. Terdengar bising ejesksi sitol derajat 3/6 p.m LSB 4.
A. Femoralis teraba normal. Pada tangan dan kaki terdapat jari – jari tabuh.

SKENARIO 2:

Seorang anak laki – laki 4 tahun datang dengan keluhan sering terlihat sesak dan
mudah capek bila bermain. Hal ini sudah dialami sejak bayi. Anak tidak pernah terlihat
biru. Anak sering menderita batuk – pilek berulang dan berkeringat banyak. Pada
pemeriksaan fisis ditemukan : perawakan kecil dan kurus. Sianosis (-). Nadi dan tekanan
darah normal. Pemeriksaan toraks : terlihat voussure cardiac (+). Aktivitas ventrikel kiri
dan kanan meningkat. Thrill teraba di LSB 4. BJ : 1 & 2 terdengar mengeras. Terdengar
bising pansistol derajat 4/6, p.m. di LSB 4 menyebar ke RSB, Aksiler dan suprasternal. A.
Femoralis teraba normal. Tidak terdapat jari tubuh.

SKENARIO 3 :
Seorang anak perempuan 10 tahun datang dengan keluhan nyeri dan bengkak pada lutut
kiri, demam, jantung terasa berdebar – debar. Hal ini dialami sejak 3 hari yang lalu.
Pada pemeriksaan fisis ditemukan : Sianosis (-), Nadi: 140 x/m, reguler. Tekanan darah
120/60 mmHg. Suhu: 380C DVS normal. Pemeriksaan toraks : Aktivitas ventrikel kiri
meningkat. Thrill teraba di apex. Batas – batas jantung membesar BJ: 1 & 2 murni,
intensitas normal. Terdengar bising sistol – diastole derajat 2 – 3/6, p.m. di apex A.
Femoralis teraba bounding. Tidak terdapat jari tabu. Terdapat tanda – tanda radang
pada lutut kiri (+).